Anda di halaman 1dari 10

Efek Perubahan Tekanan Udara di ketinggian pada Tubuh Manusia

Julio Atlanta Chandra


102014089
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
e-mail: juliocandera@yahoo.com

Pendahuluan

Respirasi adalah pertukaran gas, yaitu oksigen (O²) yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme
sel dan karbondioksida (CO²) yang merupakan hasil dari metabolisme tersebut yang kemudian
dikeluarkan dari tubuh melalui paru. Dalam proses respirasi ini berperan berbagai macam organ
yang berfungsi untuk mengangkut udara dan sebagai alat pertukaran udara.

Di organ-organ tersebut pun tentunya akan berhubungan dengan bagian-bagian lain yang
kemudian akan membentuk suara, berperan dalam proses menelan, dan proses batuk. Maka
dari itu dalam makalah ini, penulis akan menjelaskan struktur makro dan mikro dari organ
pernafasan, serta mekanisme pernafasan.

Srtuktur Makroskopik

Secara sistematis sistem pernafasan dibagi menjadi dua, yaitu saluran pernafasan atas dan
saluran pernafasan bawah. Organ saluran pernafasan atas terletak di luar toraks, atau rongga
dada, sementara saluran pernafasan bawah terletak hampir seluruhnya di dalam toraks. Saluran
pernafasan atas terbagi atas bagian hidung, nasofaring, orofaring, laringofaring, dan laring.
Lalu, saluran pernafasan bagian bawah terbagi atas trakea, semua segmen percabangan
bronkus, dan paru-paru. Sedangkan jika dilihat dari fungsinya, sistem pernafasan juga
mencakup beberapa struktur aksesori, termasuk rongga mulut, sangkar iga, dan diafragma.1

I. Saluran Nafas Bagian Atas

Saluran nafas bagian atas ini berfungsi untuk menghangatkan, menyaring, dan melembabkan
udara yang masuk ke dalam tubuh. Organ saluran nafas bagian atas adalah sebagai berikut:
Rongga Hidung (Cavum Nasalis)

Gambar 1. Rongga hidung

Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis). Rongga hidung berlapis
selaput lendir, di dalamnya terdapat kelenjar minyak (kelenjar sebasea) dan kelenjar keringat
(kelenjar sudorifera). Selaput lendir berfungsi menangkap benda asing yang masuk lewat
saluran pernapasan. Selain itu, terdapat juga rambut pendek dan tebal didalam cavum nasi yang
disebut vestibulum yang berfungsi menyaring partikel kotoran yang masuk bersama udara.2 Di
dinding lateralnya terdapat 3 tonjolan tulang yaitu chonca nasalis superior (epitel khusus),
choncha nasalis medius dan chonca nasalis inferior (epitel bertingkat thorak bersilia bersel
goblet). Dimana chonca nasalis inferior terdapat banyak plexus venosus yang disebut sweet
bodies, yang berfungsi untuk menghangatkan udara pernapasan melalui hidung. Di sebelah
posterior rongga hidung terhubung dengan nasofaring melalui dua lubang yang disebut
choanae. Sedangkan yang berhubungan dengan lubang hidung anterior atau kearah wajah
disebut nares. Penyangga hidung terdiri dari tulang dan tulang rawan hialin. Rangka bagian
tulang terdiri dari os nasale, processus frontalis os maxillaris dan bagian nasal os frontalis.
Rangka tulang rawan hialinnya terdiri dari cartilago septum nasi, cartilago lateralis nasi dan
cartilago ala nasi major at minor.3 Otot yang melapisi hidung merupakan bagian dari otot
wajah. Otot hidung tersusun dari musculus nasalis dan musculus depressor septum nasi.3

Perdarahan hidung bagian luar disuplai oleh cabang-cabang arteri facialis, arteri dorsalis nasi
cabang arteri opthalmika dan arteri infraorbitalis cabang arteri maxillris interna. Pembuluh
baliknya menuju vena facialis dan vena opthalmica. Sedangkan perdarahan untuk rongga
hidung terdiri dari arteri ethmoidalis anterior dan posterior, arteri sphenopalatina cabang
maxillaris interna, arteri palatina mayor dan arteri labialis superior. Dan vena-vena pada rongga
hidung akan membentuk plexus cavernosus yang terdiri dari vena sphenopalatina, vena facialis
dan vena ethmoidalis anterior dan berakhir di vena opthalmica.2

Persarafan otot-otot hidung oleh nervus facialis pada bagian motoriknya. Kulit sisi medial
punggung hidung sampai ujung hidung dipersarafi oleh cabang-cabang infratrochlearis dan
nasalis externus nervus opthalmicus/ N. V.1; kulit sisi lateral hidung dipersarafi oleh cabang
infraorbitalis nervus maxillaris/ N. V. 2. Sedangkan untuk rongga hidung dipersarafi oleh
nervus 1, nervus V, nervus ethmoidalis anterior, nervus infraorbitalis dan nervus canalis
pterygoidei.2

Faring

Pada faring terdapat tiga otot lingkar/sirkular yakni musculus contrictor pharingis inferior,
musculus contrictor pharingis medius dan musculus constrictor pharingis superior, serta tiga
otot yang masing-masing turun dari processus styloideus, torus tubarius cartilaginis tubae
auditiva dan palatum molle, yakni musculus stylopharingeus, musculus salpingopharingeus
dan musculus palatopharingeus.

Nasofaring

Nasofaring bersama orofaring, dan laringofaring merupakan bagian dari faring. Faring sendiri
merupakan percabangan dua saluran yakni traktus digestivus dan traktus respiratorius. Faring
berperan dalam proses menelan makanan. Rongga nasofaring ini tidak pernah tertutup, berbeda
dari orofaring dan laringofaring. Nasofaring berhubungan dengan rongga hidung melalui
choanae. Sedangkan yang berhubungan dengan orofaring melalui isthimus pharingeum. Pada
nasofaring ini terdapat pharyngeal tonsil dan tuba eustachius. Nasofaring ini tersusun atas epitel
bertingkat torak bersilia bersel goblet.2

Orofaring

Orofaring merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring, disini terdapat pula pangkal
lidah. Pada dinding lateralnya terdapat tonsilla palatina yang masing-masingnya terletak
disinus tonsillaris. Berhubungan dengan rongga mulut melalui isthmus oropharingeum.
Makanan dalam bentuk bolus dari rongga mulut didorong masuk ke orofaring. Bolus menekan
uvula (tekak) sehingga menutup saluran menuju ke hidung. Hal ini menjaga supaya makanan
yang masuk tidak keluar ke hidung. Proses dilanjutkan dengan menurunnya epiglotis yang
menutup glotis. Bolus melalui laringofaring dan masuk ke esophagus.Orofaring tersusun atas
epitel berlapis gepeng tidak bertanduk.2
Laringofaring

Pada laringofaring ini terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan. Laringofaring
terdiri dari epitel bervariasi tetapi sebagian besar terdiri dari epitel berlapis gepeng tidak
bertanduk. Laringofaring akan berhubungan dengan laring melalui aditus laringis.

Laring

Laring sering disebut kotak suara, nama yang menunjukan salah satu fungsinya, yaitu berbicara
adalah saluran pendek yang menghubungkan faring dengan trakea. Laring memungkinkan
udara mengalir di dalam struktur ini, dan mencegah benda padat agar tidak masuk ke dalam
trakea. Laring merupakan suatu saluran yang dikelilingi oleh tulang rawan. Terdiri atas
cartilago threoidea, cartilago cricoidea dan cartilago arytaenoid yang merupakan tulang rawan
hialin dan cartilago epiglotis, cartilago cuneiformis dan cartilago corniculata yang merupakan
tulang rawan elastis.3

Laring berada diantara orofaring dan trakea, dianterior laringofaring. Tersusun atas epitel
bertingkat thorak bersilia bersel gepeng kecuali ujung plika vokalis meerupakan epitel berlapis
gepeng tidak bertanduk. Laring dapat ditutup oleh katup pangkal tenggorok (epiglotis).
Epiglotis atau kartilago epligotik adalah kartilago yang paling atas, bentuknya seperti lidah dan
keseluruhannya dilapisi oleh membran mukosa. Selama menelan, laring bergerak ke atas dan
epiglotis tertekan ke bawah menutup glotis.1 Gerakan ini mencegah masuknya makanan atau
cairan ke dalam laring. 4

Dibagian bawah epiglotis terdapat dua lipatan mukosa yang menonjol ke arah lumen laring.
Pasangan lipatan mukosa bagian atas menutupi ligamentum ventriculare dan membentuk plica
vestibularis, celah antara kedua plica ventricularis disebut rima vestibuli. Pasangan lipatan
mukosa dibagian bawah menutupi ligamentum vocale dan membentuk plica vocalis yang
berkaitan dengan pembentukan suara. Kedua plica vocalis ini bersama permukaan medial
kedua cartilago arytaenoid membentuk rima glotidis/glotis. Dimana terdapat bagian yang
sejajar dengan ligamnetum vocale terdapat otot skelet yang disebut musculus vokalis yang
berfungsi untuk mengatur ketengan pita suara dan ligamentum sehingga udara yang melalui
pita suara dpat menimbulkan suara dengan nada yang berbeda-beda.5

II. Saluran Nafas Bagian Bawah

Trakea
Trakea merupakan pipa silinder dengan panjang kurang lebih 11cm, berbentuk ¾ cincin tulang
rawan seperti huruf C. Bagian belakang dihubungkan oleh membran fibroelastik yang
menempel pada bagian depan oesofagus. Trakea berjalan dari cartilago cricoidea ke bawah
pada bagian depan leher dan di belakang manubrium sterni, berakhir pada setinggi angulus
sternalis (taut manubrium dengan corpus sterni) tempatnya berakhir, membagi menjadi
bronkus kiri dan kanan. Di dalam leher, trakea disilang di bagian depan oleh isthmus glandula
thyroidhea dan beberapa vena. Trakea terdiri dari 16-20 cartilago berbentuk C yang
dihubungkan oleh jaringan fibrosa. Konstruksi trakea sedemikian rupa sehingga tetap terbuka
pada semua posisi kepala dan leher.6

Trakea diperdarahi oleh arteri thyreodea inferior sedangkan ujung thoracalnya didarahi oleh
cabang arteri bronchiales. Persarafan trakea berasal dari cabang tracheal nervus vagi, nervus
recurrens dan truncus symphaticus.6

Bronkus

Trakea yang berbifurkasio menjadi dua bagian, yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri. Bronkus
kanan lebih lebar, pendek, dan lebih vertikal dari bronkus kiri. Setiap bronkus sekitar setengah
dari diameter trakea dan terdiri dari kartilago yang sama, hanya dengan skala lebih kecil, yang
dihubungkan dengan jaringan fibrosa. Dindingnya dilapisi hanya sedikit otot polos dan dilapisi
epitel bersilia yang mengandung kelenjar mukus dan serosa. Struktur bronkus sama dengan
trakea, hanya dindingnya lebih halus, kedudukan bronkus kiri lebih mendatar dibandingkan
bronkus kanan sehingga bronkus kanan lebih mudah terserang penyakit.6

Kedua bronkus yang terbentuk dari belahan dua trakea pada ketinggian kira-kira vertebra
torakalis kelima mempunyai struktur serupa dengan trakea dan di lapisi oleh jenis sel yang
sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan ke samping ke arah tampak paru-paru.
Bronkus kanan lebih pendek dan lebih lebar daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi dari arteri
pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang yang disebut bronkus pulmonaris. Bronkus
terminalis masuk ke dalam saluran yang agak lain yang disebut vestibula, dan disini membran
pelapisnya mulai berubah sifatnya, lapisan epitelium bersilia diganti dengan sel epitelium yang
pipih. Dari vestibula berjalan beberapa infundibula dan di dalam dindingnya dijumpai kantong-
kantong udara itu. Kantong udara atau alveoli itu terdiri atas satu lapis tunggal sel epitelium
pipih, dan disinilah darah hampir langsung bersentuhan dengan udara suatu jaringan pembuluh
darah kapiler mengitari alveoli dan pertukaran gas pun terjadi.6

Bronkioulus
Bronkiolus adalah percabangan dari bronkus. Saluran ini lebih halus dan dindingnya lebih tipis.
Bronkiolus kiri berjumlah dua. Sedangkan bronkiolus kanan berjumlah tiga. Percabangan ini
membentuk cabang yang lebih halus seperti pembuluh.6

Setelah melalui saluran hidung dan faring, tempat pernapasan dihangatkan dan dilembabkan
dengan uap air, udara inspirasi berjalan menuruni trakea, melalui bronkiolus terminalis,
bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, sakus alveolaris dan alveolus. Antara trakea dan
dan sakus alveolaris terdapat 23 kali percabangan pertama saluran udara. percabangan pertama
saluran udara merupakan zona konduksi yang menyalurkan udara kelingkungan luar. Bagian
ini terdiri dari bronkus, bronkiolus terminanalis. Tujuh percabangan berikutnya merupakan
zona peralihan dari zona respirasi, tempat terjadinya pertukaran gas dan terdiri dari bronkiolus
respiratoriusm duktus alveolaris, sakus alveolaris dan alveoli.6

Dinding bronkus dan bronkiolus dipersarafi oleh susunan saraf otonom. Ditemukan banyak
reseptor muskarinik dan perangsangan kolinergik mengakibatkan bronkokontriksi. Disel mast,
otot polos dan epitel bronkus didapatkan reseptor adregenik β1 dan β2. Banyak dari reseptor
tersebut tidak mempunyai persarafan. Sebagian reseptor terletak pada ganglia ujung saraf
kolinergik dan menghambat penglepasan asetilcolin.7

Paru-paru

Paru terletak di kedua sisi jantung di dalam rongga dada dan dikelilingi serta dijaga oleh
sangkar iga. Bagian dasar paru terletak di atas diafragma; bagian apeks paru (ujung superior)
terletak setinggi klavikula. Paru-paru kanan terdiri dari tiga lobus (superior, medial dan
inferior). Paru-paru kiri terdiri dari dua lobus (superior dan inferior). Selaput pembungkus
paru-paru disebut pleura.7

Pleura viseralis erat melapisi paru-paru, masuk ke dalam fisura, dan dengan demikian
memisahkan lobus saru dari yang lain. Membran ini kemudian dilipat kembali di sebelah
tampak paru-paru dan membentuk pleura parietalis, dan melapisi bagian dalam dinding dada.
Pleura yang melapisi iga-iga ialah pleura kostalis, bagian yang menutupi diafragma ialah pleura
diafragmatika, dan bagian yang terletak di leher ialah pleura servikalis. Pleura ini diperkuat
oleh membran yang kuat bernama membran suprapleuralis (fasia sibson) dan di atas membran
ini terletak arteri subklavia.7

Di antara kedua lapisan pleura itu terdapat sedikit eksudat untuk meminyaki permukaannya
dan menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada yang sewaktu bernapas
bergerak. Dalam keadaan sehat, kedua lapisan itu satu dengan yang lain erat bersentuhan.
Ruang atau rongga pleura itu hanyalah ruang yang tidak nyata, tetapi dalam keadaan tidak
normal udara atau cairan memisahkan kedua pleura itu dan ruang diantaranya menjadi jelas.
Pleura disusun oleh jaringan ikat fibrosa dengan serat elastin dan kolagen dan sel fibroblas,
dilapisi oleh sel mesotel.7

Otot-otot Pernafasan

Gerakan diafragma menyebabkan perubahan volume intratorakal sebesar 75 % selama inpirasi


tenang. Otot diafragma melekat di sekeliling bagian dasar rongga toraks, membentuk kubah di
atas hepar dan bergerak ke bawah saat berkontrkasi.

Otot inspirasi penting lainya adalah muskulus interkostalis eksternus yang berjalan dari iga ke
iga secara miring kearah bawah dan kedepan. Iga- iga berputar seolah – olah bersendi di bagian
punggung, sehingga ketika otot interkostalis eksternus berkontraksi, iga-iga dibawahnya akan
terangkat. Gerakan ini akan mendorong sternum ke luar dan memperbesar diameter
anteroposterior rongga dada.

Apabila otot ekspirasi berkontrakasi, terjadi penurunan volume intratorakal dan ekspirasi
paksa. Kemampuan ini dimiliki oleh otot – otot interkostalis internus karena otot ini berjalan
miring ke arah bawah dan belakang dari iga ke iga, sehingga pada waktu berkontrkasi akan
menarik rongga dada ke bawah, kontrkasi otot dinding abdomen anterior juga ikut membantu
proses ekspirasi dengan cara menarik iga – iga ke bawah dan ke dalam serta dengan
meningkatkan tekanan intra abdominal yang akan mendorong diafragma ke atas.8

Perubahan Tekanan Terhadap Transport O2 & CO2

Tujuan utama bernapas adalah secara kontinyu memasuk O2 segar untuk diserap oleh darah
dan mengeluarkan CO2 dari darah. Darah bekerja sebagai sistem transpor untuk O2 dan CO2
antara paru dan jaringan, dengan sel jaringan mengekstraksi O2 dari darah dan mengeliminasi
CO2 ke dalamnya.9

Gas Mengalir Menuruni Gradient Tekanan Parsial

Pertukaran gas di tingkat kapiler paru dan kapiler jaringan berlangsung secara difusi pasif
sederhana O2 dan CO2 menuruni gradient tekanan parsial.

Tekanan Parsial
Udara atmosfer adalah campuran gas : udara kering tipikal mengandung 79% nitrogen (N2)
dan 21% O2 , dengan presentasi CO2, uap H2O, gas – gas lain dan polutan hampir dapat
diabaikan. Secara keseluruhan, gas – gas ini menimbulkan tekanan atmosfer total sebesar 760
mmHg di permukaan laut. Tekanan total ini sama dengan jumlah tekanan yang disumbangkan
oleh masing – masing gas dalam campuran. Tekanan yang ditimbulkan oleh gas tertentu
berbanding lurus dengan presentasi gas tersebut dalam campuran udara total. Setiap molekul
gas, berapapun ukurannya, menimbulkan tekanan yang sama; sebagai contoh, sebuah molekul
N2 menimbulkan tekanan yang sama dengan sebuah molekul O2. Karena 79% udara terdiri
dari N2, maka 79% dari 760 mmHg tekanan atmosfer, atau 600 mmHg, ditimbulkan oleh
molekul – molekul N2 , demikian juga, karena O2 membentuk 21% atmosfer, maka 21% dari
760 mmHg tekanan atmosfer, atau 160 mmHg, ditimbulkan oleh O2. Tekanan ayng
ditimbulkan secara independen oleh masing - masing gas dalam suatu campuran gas yang
disebut gas parsial, yang dilambangkan oleh Pgas, Karena itu, tekanan parsial O2 dalam udara
atmosfer , PO2 , normalnya 160 mmHg. Tekanan parsial CO2 atmosfer, PCO2, hampir dapat
diabaikan (0.23 mmHg).9

Gas-gas yang larut dalam cairan misalnya darah / cairan tubuh lain juga menimbulkan tekanan
parsial. Semakin besar tekanan parsial suatu gas dalam cairan, semakin banyak gas tersebut
terlarut. 9

Gradien Tekanan Parsial

Perbedaan tekanan parsial antara darah kapiler dan struktur sekitar dikenal dengan nama
gradient tekanan parsial. Terdapat gradient tekanan parsial antara udara alveolus dan darah
kapiler paru. Demikian juga terdapat gradient tekanan parsial antara darah kapiler sistemik dan
jaringan sekitar. Suatu gas selalu berdifusi menuruni gradien tekanan parsialnya dari daerah
dengan tekanan parsial tinggi ke daerah dengan tekanan parsial rendah, serupa dengan difusi
menuruni gradient konsentrasi.9

O2 dan CO2

Komposisi udara alveolus tidak sama dengan komposisi udara atmosfer karena dua alasan.
Pertama, segere setelah udara atmosfer masuk ke saluran napas, pajanan ke saluran napas yang
lembab menyebabkan udara tersebut jenuh dengan H2O. Seperti gas lainnya, uap air
menimbulkan tekanan parsial. Pada suhu tubuh, tekanan parsial H2O adalah 47 mmHg.
Humidifikasi udara yang dihirup ini pada hakekatnya “mengencerkan” tekanan parsial gas –
gas inspirasi sebesar 47 mmHg. Karena jumlah tekanan – tekanan parsial harus sama dengan
760 mmHg. Dalam udara lembab, PH2O = 47 mmHg, PN2 = 53 mmHg dan PO2 = 150
mmHg.9

Kedua O2 alveolus juga lebih rendah daripada O2 atmosfer karena udara segar yang masuk
bercampur dengan sejumlah besar udara lama yang tersisa dalam paru dan dalam ruang rugi
pada akhir ekspirasi sebelumnya. Pada akhir inspirasi, kurang dari 15% udara di alveolus
adalah udara segar. Akibatnya pelembapan dan logis jika kita berpikir bahwa O2 akan
meningkat selama inspirasi karena datangnya udara segarb dan menurun selama ekspirasi.
Namun fluktuasi yang terjadi kecil saja karena dua sebab. Pertama, hanya sebagian kecil dari
udara alveolus total yang dipertukarkan setiap kali bernapas. Volume udara inpirasi kaya O2
yang relative lebih kecil cepat bercampur dengan volume udara alveolus yang tersisa dengan
jumlah yang jauh lebih banyak. Karena itu, O2 udara inspirasi hanya sedikit meningkatkan
kadar PO2 alveolus total. Bahkan peningkatan O2 yang kecil ini berkurang oleh sebab lain.
Oksigen secara terus menerus berpindah melalui difusi pasif menuruni gradien tekanan
parsialnya dari alveolus ke dalam darah. O2 yang tiba di alveolus dalam udara yang baru
diinpirasikan hanya mengganti O2 yang berdifusi keluar alveolus masuk ke kapiler paru.
Karena itu, O2 alveolus relative konstan pada setiap 100 mmHg sepanjang siklus pernapasan.
Karena O2 darah paru seimbang dengan O2 alveolus, maka O2 darah yang meninggalkan paru
juga cukup konstan pada nilai yang sama ini. Karena itu, jumlah O2 dalam darah yang tersedia
ke jaringan hanya bervariasi sedikit selama siklus pernapasan.9

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disipulkan bahwa keluhan sering pusing dan sulit bernafas
seperti pada skenario dipengaruhi oleh mekanis pernafasan yang mencakup otot-oto
pernafasan, perubahan tekanan, inspirasi-ekspirasi, pengaturan pusat pernafasan, kapasitas
paru dan juga pengaruh tekanan terhadap transport O2 dan CO2 serta dipengaruhi oleh struktur
organ pernafasan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Asih NGY, Effendy C. Keperawatan medikal bedah: klien dengan gangguan sistem
pernafasan. Jakarta: Penerbit EGC; 2006.

2. Singh I. Teks dan atlas histologi manusia. Jakarta: Binarupa Aksara; 2006; 115-20.

3. Drake RL, Vogl W, Mitchell AWM. Gray’s anatomy for students. 1st ed. Philadelpia:
Elsevier Churchill Livingstone; 2005; 102-52.
4. Woodburne RT. Essential of human anatomy. 6th ed. New York: Oxford Universty;
2007; 181-200.

5. Sloane E. Anatomi dan fisiologi. Jakarta: Penerbit EGC; 2007; 266-8.

6. Gibson J. Fisiologi dan anatomi modern untuk perawat. Jakarta: Penerbit EGC; 2006.

7. Woodson G.E. Upper airway anatomy and function. Philadelphia: Lippincot Williams
& Wilkins; 2005; 479-86.

8. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: Penerbit EGC; 2006; 498-
9.

9. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: Penerbit EGC; 2008; 669-708.