Anda di halaman 1dari 22

1.

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
a. Permasalahan Air
Menurut Susanto et al. (2015), limbah cair domestik dan
industri (domestic and industrial sewage) merupakan masalah
pencemaran yang paling besar di wilayah perairan Provinsi
Kepulauan Riau, khususnya di Kota Tanjungpinang. Permasalahan
ini disebabkan karena tidak atau kurang memadainya fasilitas untuk
menangani dan mengelola limbah cair domestik dan industri.
Buangan limbah dari kegiatan pabrik atau industri dalam bentuk
padat dan cair sangat potensial mengandung bahan berbahaya dan
beracun. Limbah domestik sebagian besar berasal dari pemukiman
penduduk, rumah makan/restoran dan hotel di sepanjang pantai
dalam bentuk cair dan padat berupa air cucian yang mengandung
detergen, air bekas mandi yang mengandung sabun, minyak goreng
bekas,sisa makanan dan lain-lain. Dampak dari pencemaran limbah
dan domestik terhadap perairan laut dapat menyebabkan
terganggunya biota laut dan ekosistemnya dan apabila tidak
ditangani dengan secepatnya kemungkinan akan memusnahkan
biota laut. Menurut Pujiastusi (2013), pencemaran yang terjadi di
perairan waduk merupakan masalah penting yang perlu
memperoleh perhatian dari berbagai pihak. Pencemaran ini
disebabkan beragamnya sumber pencemaran yang masuk dan
terakumulasi di waduk. Pencemaran ini berasal dari kegiatan
produktif maupun non produktif di upland (lahan atas) dari
permukiman dan dari kegiatan yang berlangsung di badan perairan
waduk sendiri. Jenis bahan pencemar utama yang masuk ke
perairan waduk terdiri terdiri dari beberapa macam. Jenis bahan
tersebut antara lain limbah organik dan anorganik, residu pestisida,
sedimen dan bahan-bahan lainnya.

b. Metode Penanggulangan
Menurut Lasindrang (2014), upaya untuk mengatasi
pencemaran disebabkan oleh industri penyamakan kulit adalah
dengan cara menghilangkan krom dan bahan organik dari limbah
cair industri. Penyamakan kulit yang murah dan alami misalnya
dengan adsorpsi menggunakan adsorben yang berbasis sumber alam
atau limbah,yaitu dengan kitosan dan arang aktif tempurung kelapa.
Kitosan merupakan polimer kationik yang bersifat nontoksik, dapat
mengalami biodegradasi dan biokompatibel. Metode adsorpsi
umumnya didasarkan pada interaksi logam dengan gugus
fungsional yang ada pada permukaan adsorben melalui interaksi
pembentukan kompleks. Kitosan adalah biosorben bahan pencemar
yang efektif karena derajat deasetilasi yang tinggi dan memiliki
gugus amino bebas yang dikandungnya, sehingga bersifat
polikationik yang mempunyai kemampuan untuk mengikat logam,
protein dan zat warna. Menurut Caroline dan Moa (2015),
permasalahan pencemaran air limbah yang mengandung logam
berat, baru – baru ini telah dikembangkan teknologi alternatif yang
dapat membantu proses pengolahan yaitu dengan teknologi
fitoremediasi. Fitoremediasi didefinisikan sebagai pencucian
polutan yang dimediasi oleh tumbuhan, termasuk pohon, rumput-
rumputan, dan tumbuhan air. Pengolahan air limbah dengan
menggunakan teknologi fitoremediasi, tanaman atau tumbuhan
memiliki peranan penting dalam mendukung proses pengolahan,
baik itu tanaman yang hidup di tanah ataupun tanaman yang hidup
di air. Tanaman yang sering digunakan dalam pengolahan air limbah
adalah tanaman yang hidup di air karena proses yang dilakukan
lebih efisien dan tanaman yang dapat bertahan dalam mengolaha air
limbah adalah tanaman air. Keuntungan fitoremediasi adalah dapat
bekerja pada senyawa organik dan anorganik, prosesnya dapat
dilakukan secara insitu dan eksitu, mudah diterapkan dan tidak
memerlukan biaya yang tinggi, teknologi yang ramah lingkungan
dan bersifat estetik bagi lingkungan, serta dapat mereduksi
kontaminan dalam jumlah yang besar. Kerugian fitoremediasi ini
adalah prosesnya memerlukan waktu lama, bergantung kepada
keadaan iklim, dapat menyebabkan terjadinya akumulasi logam
berat pada jaringan dan biomasa tumbuhan dan dapat
mempengaruhi keseimbangan rantai makanan pada ekosistem.
c. Pengertian Bioadsorpsi
Menurut Yunisa et al. (2017), bioadsorpsi merupakan suatu
teknologi untuk menghilangkan ion logam dan polutan dari limbah
dengan menggunakan biomassa sebagai adsorben. Bioadsorpsi
memanfaatkan kemampuan pertukaran ion, pembentukan kompleks
dan penyerapan mikroorganisme untuk menyerap logam berat.
Keuntungan penggunaan proses bioadsorpsi adalah biaya yang
relatif murah, ramah lingkungan, dapat diaplikasikan pada
konsentrasi limbah yang rendah serta kemudahan proses
regenerasinya. Mekanisme bioadsorpsi umumnya didasarkan pada
interaksi kimia fisika antara ion logam dengan gugus fungsional.
Mekanisme ini melibatkan proses passive uptake, dimana pada saat
ion logam berat tersebar pada permukaan sel, ion akan mengikat
pada bagian permukaan sel berdasarkan kemampuan daya afinitas
kimia yang dimilikinya. Menurut Romengga et al. (2012),
bioadsorpsi merupakan suatu metode penghilangan kontaminasi
logam berat yang paling efektif dan efesien. Bioadsorpsi
menggunakan bahan material yang murah,terbiodegradasi,dan
dapat digunakan berulang kali. Pati termodifikasi khususnya pati
taut silang fosfat yang merupakan biomaterial adsorben yang
ekonomis,efektif,dan mudah di aplikasikan. Metode untuk
menghilangkan kontaminasi logam berat di dalam air beberapa telah
dilakukan. Metode tersebut diantaranya adalah
koagulasi,flokulasi,evaporasi,presipitasi,elektro-koagulasi,
pertukaran ion, pemisahan membrane dan bioadsorpsi.

d. (Parafase Dengan Kalimat Sendiri)

1.2 Tujuan
Tujuan dari dilaksanakannya praktikum ini adalah:
- Mempelajari karakteristik penyerapan ion oleh bahan-bahan
tersebut
- Mengukur kapasitas penyerapan ion dari air disekitarnya

1.3 Waktu dan Tempat


MENYESUAIKAN NANTI YA GENK :)))) JANGAN DIISI
DULU OKEH
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1Pencemaran Lingkungan Perairan


a. Definisi Pencemaran Lingkungan Perairan
Menurut Purwanto (2013), polusi atau pencemaran air adalah
penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal, bukan dari
kemurniannya. Air yang tersebar di alam tidak pernah terdapat dalam
bentuk murni, tetapi bukan berarti semua air sudah terpolusi. Air yang
tidak terpolusi tidak selalu merupakan air murni, tetapi adalah air yang
tidak mengandung bahan-bahan asing tertentu dalam jumlah melebihi
batas yang ditetapkan sehingga air tersebut dapat dipergunakan secara
normal untuk keperluan tertentu. Ciri-ciri air yang mengalami polusi
sangat bervariasi tergantung dari jenis air dan polutannya atau
komponen yang mengakibatkan polusi. Air yang sudah terkontaminasi
dengan logam berat merupakan salah satu ciri-ciri air yang sudah
mengalami pencemaran.
Menurut Lensun dan Tumembouw (2013), pencemaran air
sungai sangat ditentukan oleh kegiatan serta manfaat sumber daya air
oleh manusia yang berada di perairan tersebut. Pasal 1 ayat 11 PP. No
82 Tahun 2001 mendefinisikan Pencemaran air adalah masuknya atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke
dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai
dengan peruntukannya. Definisi pencemaran air tersebut dapat
diuraikan sesuai makna pokoknya menjadi tiga aspek penyebab,atau
pelaku dan aspek akibat. perbedaan suhu pada suatu perairan
dipengaruhi oleh empat faktor, yakni variasi jumlah panas yang
diserap,Pengaruh konduksi panas, pertukaran tempat massa air secara
lateral oleh arus dan pertukaran air secara vertical. Kenaikan suhu air
di badan air penerima, saluran air, sungai, danau dan lain sebagainya
akan menimbulkan beberapa akibat,yaitu jumlah oksigen terlarut di
dalam air menurun,kecepatan reaksi kimia meningkat dan kehidupan
ikan dan hewan air lainnya terganggu.
(Parafase dengan kalimat sendiri)

b. Sumber Pencemaran Lingkungan Perairan


Menurut Fajri dan Kasry (2013), aktivitas di sekitar Daerah
Aliran Sungai (DAS) Siak dapat menghasilkan berbagai macam bahan
pencemar (limbah), baik organik maupun anorganik yang secara
langsung maupun tidak langsung masuk ke perairan sungai dan
terakumulasi di muara sungai. Beban pencemaran yang berasal dari
aktivitas masyarakat dan industri tersebut dapat menimbulkan dampak
pencemaran yang serius di perairan muara Sungai Siak. Pencemaran ini
sangat mengancam kehidupan dan keanekaragaman organisme
akuatiknya. Pencemaran Sungai Siak diduga kuat berasal dari kegiatan
domestik, industri, pertanian atau perkebunan. Aktivitas yang
berlangsung dalam perairan sendiri seperti kegiatan transportasi,
pengerukan sungai, abrasi tebing sungai, dan lain-lain, juga
menimbulkan pencemaran perairan sungai yang akan mempengaruhi
kondisi ekologisnya.
Menurut Said (2010), industri kimia berbahaya mengeluarkan
limbah berbahaya yang mengadung senyawa yang bersifat racun (toxic
material) serta logam berat yang bersifat toksik. Air limbah yang
berasal dari industri sangat bervariasi tergantung dari jenis industrinya.
Industri tersebut selain menghasilkan produk yang bermanfaat, juga
menghasilkan produk samping berupa limbah yang berbahaya dan
beracun. Limbah beracun yang dihasilkan industri antara lain dapat
berupa logam berat. Logam berat ini dapat dibagi dalam dua jenis
berdasarkan sudut pandang toksikologi. Jenis pertama adalah logam
berat esensial, dimana keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat
dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang
berlebihan dapat menimbulkan efek racun. Logam berat ini diantaranya
adalah Zn, Cu, Fe, Co, Mn dan lain sebagainya. Jenis kedua adalah
logam berat tidak esensial atau beracun, dimana keberadaannya dalam
tubuh masih belum diketahui manfaatnya atau bahkan dapat bersifat
racun, seperti Hg, Cd, Pb, Cr dan lain-lain.
(Parafase dengan kalimat sendiri)

c. Penanggulangan Pencemaran Perairan


Menurut Priadi et al. (2014), reverse osmosis meskipun sangat
efektif, merupakan proses yang membutuhkan biaya yang besar.
Presipitasi kimia tidak cocok digunakan jika polutan yang hadir dalam
jumlah banyak dan juga akan menghasilkan banyak lumpur dalam
proses ini. Proses adsorpsi merupakan salah satu metode yang paling
sering dilakukan untuk penyisihan logam beracun dalam air limbah.
Adsorpsi merupakan proses fisik-kimiawi dimana adsorbat, dalam hal
ini pencemar, terakumulasi di permukaan padatan yang disebut
adsorben. Proses adsorpsi cocok untuk air limbah dengan logam
konsentrasi rendah dan industri dengan keterbatasan biaya.
Menurut Oktavia et al. (2012), dampak yang ditimbulkan limbah
cair bagi lingkungan dan juga sektor industri sangat penting,sehingga
perlu dipahami dasar-dasar teknologi pengolahan limbah cair.
Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara
kelestarian lingkungan. Macam teknologi pengolahan air limbah
domestik maupun agroindustri yang dibangun harus dapat dioperasikan
dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Penanganan limbah cair
perikanan seperti penambahan nutrisi (umumnya adalah nitrogen dan
fosfor) sangat jarang terjadi, akan tetapi adanya oksigen merupakan hal
penting untuk suksesnya penanganan limbah cair ini. Proses aerob yang
sering terjadi adalah sistem lumpur aktif, laguna, trickling filter dan
rotating disc contactor.

(Parafase Dengan Kalimat Sendiri)

2.2 Ammonia
a. Definisi Ammonia
Menurut Sumarno dan Muryanto (2015), ammonia
merupakan salah satu nitrogen anorganik terlarut yang dapat
mempengaruhi kualitas suatu perairan. Nitrogen anorganik terlarut
(DIN = dissolved inorganic nitrogen) di perairan dapat berbentuk
gas nitrogen (N2), ammonia tidak terionisasi (NH3),Ammonium
(NH4+), Nitrit (NO2-), Nitrat (NO3-) dan senyawa bentuk lain yang
berasal dari limbah pertanian, pemukiman dan limbah industri.
Ammonia yang tidak terionisasi (NH3) bersifat toksik terhadap
organisme akuatik. Toksisitas ammonia terhadap organisme akuatik
meningkat dengan penurunan kadar oksigen terlarut ,peningkatan
pH,dan suhu air. Sumber utama ammonia di perairan adalah
pemecahan nitrogen organik (protein dan urea) dan nitrogen
anorganik yang terdapat di dalam tanah dan air, yang berasal dari
dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah
mati) oleh mikroba dan jamur.
Menurut Simbolon (2016), amonia (NH3) merupakan salah
satu nitrogen anorganik yang larut dalam air. Senyawa ini berasal
dari nitrogen yang menjadi NH4 pada pH rendah dan disebut
amonium. Amonia dalam air permukaan berasal dari air seni dan
tinja, juga dari oksidasi zat organik secara mikrobiologis yang
berasal dari air alam atau air buangan industri dan aktivitas
masyarakat. Ammonia merupakan salah satu parameter pencemaran
organik di perairan yang dihasilkan melalui proses pembusukan
bahan-bahan organik (eutrofikasi) secara anaerobik oleh mikroba.
Kandungan ammonia yang tinggi pada suatu perairan akan
menyebabkan warna air menjadi keruh dan menghasilkan bau yang
tidak yang tidak sedap.
(Parafase Dengan Kalimat Sendiri)

b. Bentuk-Bentuk Ammonia
Menurut Samsundari dan Wirawan (2013), amoniak terdiri
dari dua bentuk yaitu ammonium (NH4+) dan amoniak tidak
terionisasi (NH3). Jumlah total kedua fraksi tersebut biasa disebut
total amonia atau amoniak. Toksisitas amoniak terhadap hewan
akuatik sangat tergantung pada pH, suhu dan salinitas. pH tinggi
maka persamaan di atas akan bergerak ke arah kiri atau dengan kata
lain kadar NH3 akan naik, begitu pula sebaliknya. Kadar amoniak
dalam air tinggi maka kemampuan ikan untuk mengekskresikan
amoniaknya berkurang. Kadar amoniak dalam air tinggi
menyebabkan naiknya kadar amoniak dalam darah maupun jaringan
tubuh sehingga akan meningkatkan kadar pH darah dan memiliki
efek yang merugikan pada reaksi berbagi enzim dan stabilitas
membran.
Menurut Fauzzia et al. (2013), amoniak mempertahankan
keseimbangan antara bentuk terionisasi (NH4) dan tidak terionisasi
(NH3). Kedua bentuk tersebut dinamakan Total Amonia Nitrogen
(TAN). Amonia nitrogen yang tidak terionisasi (NH3) merupakan
racun bagi organisme akuakultur dan harus dikontrol dalam sistem
produksi. Bakteri yang memegang peranan utama dalam filter
biologi yaitu Nitrosomonas sp dan bakteri Nitrobactre sp.
Nitrosomonas berperan mengoksidasi amoniak menjadi
nitrit,sedangkan Nitrobacter berperan dalam mengoksidasi nitrit
menjadi nitrat.

(Parafase Dengan Kalimat Sendiri)

c. Baku Mutu Ammonia


Menurut Tatangindatu et al. (2013), kadar amoniak yang baik
bagi kehidupan ikan air tawar kurang dari 1 ppm. Kadar amoniak yang
telah melebihi 1,5 ppm, maka perairan tersebut telah terjadi
pencemaran. Baku mutu kualitas air menurut PP No. 82 Tahun 2001
bahwa batas maksimum amoniak untuk kegiatan perikanan bagi ikan
yang peka ≤ 0,02 mg/l. Nilai amoniak di Kelurahan Paleloan telah
melewati batas maksimum baku mutu karena berada pada kisaran 0.13
mg/L - 0.77mg/L. Tingginya jumlah amoniak pada titik 1, diduga
disebabkan oleh tingginya jumlah persentase pemberian pakan dengan
teknik sebar pada areal budidaya ikan di lokasi tersebut yaitu 5% dari
berat tubuh ikan. Tingginya jumlah presentase pemberian pakan ini
tentunya menyebabkan sisa-sisa buangan hasil metabolisme yang
dihasilkan oleh ikan dalam bentuk feses menjadi lebih banyak,
sehingga mempengaruhi tingginya jumlah kadar amoiak.
Menurut Astrini et al. (2014), kisaran rata-rata nilai ammonia di
setiap stasiun pengamatan berkisar antara 0.62 - 5.44 mg/l. Kandungan
amonia telah melampaui baku mutu yang telah ditetapkan ditetapkan
sebesar 0.3 mg/l. Amonia di dalam perairan kemungkinan
menunjukkan permulaan adanya pencemaran yang diindikasikan
dengan timbulnya bau yang menyengat. Tingginya kandungan amonia
di daerah penelitian menunjukkan tingginya kandungan bahan organik.
Senyawa amonia dapat berasal dari kegiatan pertanian, limbah
domestik dan limbah industri yang ada di sekitar lokasi penelitian.

(Parafase Dengan Kalimat Sendiri)

d. Kegunaan Ion Amonium di Perairan


Menurut Merian et al. (2016), hubungan antara parameter
perairan dengan amonia signifikan dan berkolerasi positif. Hubungan
yang signifikan dan berkorelasi positif dengan amonia ditunjukkan oleh
pH dan suhu. Hasil analisis korelasi menunjukkan hubungan keeratan
antara parameter pH terhadap amonia sebesar 16,4% dan korelasi
keeratan antara parameter suhu terhadap amonia adalah 38,7%.
Hubungan positif antara pH dan suhu dengan amonia menjelaskan
bahwa semakin tinggi nilai pH (basa) maka konsentrasi amonia
semakin meningkat. Kenaikan nilai pH dan suhu akan diikuti kadar
amonia yang semakin meningkat.
Menurut Alifatri et al. (2017), amonia merupakan salah satu
parameter penting yang harus diperhatikan dalam melakukan kegiatan
budidaya perikanan khususnya budidaya ikan kerapu. Amonia
merupakan senyawa yang diperlukan ikan kerapu untuk
pertumbuhannya. Kadar amonia yang tinggi diduga disebabkan karena
adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik
dan limpasan pupuk pertanian di lokasi pengamatan. Amonia yang
terukur selama pengamatan kurang baik dalam waktu tertentu dalam
mendukung pertumbuhan ikan kerapu. Kisaran amonia yang baik untuk
pertumbuhan ikan kerapu di tambak adalah 0-0,03 mg/l.

(Parafase Dengan Kalimat Sendiri)

2.3 Bioadsorpsi
a. Definisi Bioadsorpsi
Menurut Ikhwan (2015), bioadsorpsi yaitu penyerapan dengan
menggunakan materi biologi (biomaterial). Penyerapan pada bioadsorpsi
dapat terjadi secara aktif maupun pasif. Bioadsorpsi biasanya
menggunakan tanaman yang sudah tidak digunakan lagi seperti batang
keladi, batang pisang, maupun tumbuhan eceng gondok. Eceng gondok
merupakan gulma atau tumbuhan penggangu yang dapat berubah
statusnya dalam berbagai habitat menurut kepentingan manusia.
Tantangan bagi manusia untuk mengubah eceng gondok yang berstatus
sebagai gulma /penggangu menjadi sumber daya yang berproduktifitas
tinggi.
Menurut Romengga et al. (2012), pada saat ini pencemaran logam
berat menjadi salah satu topik utama pencemaran lingkungan air. Jenis
logam berat dengan toksisitas tinggi yang sering mencemari lingkungan
air salah satunya adalah merkuri. Metode untuk menghilangkan
kontaminasi logam berat di dalam air telah bebarapa dilakukan.
Bioadsorpsi merupakan suatu metode penghilangan kontaminasi logam
berat paling efektif dan efisien. Bioadsorpsi menggunakan bahan material
yang murah, terbiodegradasi dan dapat digunakan berulang kali.
PARAFRASE

b. Jenis-jenis Bioadsorpsi
Menurut Yuliusma et al (2013), terdapat dua jenis adsorpsi yaitu
adsorpsi fisika dan kimia. Adsorpsi fisika terjadi karena adanya gaya Van
der Waals antara adsorbat dengan permukaan adsorben. Adsorpsi fisika
ikatannya relatif lemah, bersifat reversibel dan dapat membentuk lapisan
multilayer. Adsorpsi kimia terjadi karena terbentuk ikatan kovalen atau ion
antara adsorbat dengan adsorben. Adsorpsi kimia ikatannya kuat, tidak
reversibel dan membentuk lapisan monolayer.
Menurut Bahri (2014), mekanisme adsorpsi ada dua macam yaitu
adsorpsi kimia dan adsorpsi fisika. Adsorpsi fisika dicirikan dengan
molekul-molekul yang teradsorpsi pada permukaan adsorben dengan
ikatan yang lemah gaya Van der Waals dan ikatan hidrogen. Adsorpsi
bersifat reversibel sehingga molekul-molekul yang teradsorpsi mudah
dilepaskan kembali dengan cara menurunkan tekanan gas atau konsentrasi
zat terlarut. Adsorpsi kimia dicirikan melibatkan ikatan kovalen dimana
terjadi pemutusan dan pembentukan ikatan. Nilai panas adsorpsi
mempunyai kisaran nilai yang sama dengan energi untuk berlangsungnya
reaksi kimia.
PARAFRASE

c. Mekanisme Penyerapan Polutan


Menurut Komarawidjaja (2017), terdapat mekanisme yang bisa
menjelaskan proses adsorpsi ion logam berat dalam tanah, yaitu pertukaran
kation/ cation exchange (non-specific adsorption) dan adsorpsi spesifik
(specific adsorption). Pertukaran kation berarti pertukaran antara kation
logam berat dengan anion koloid tanah. Kebanyakan logam berat bertahan
sebagai kation dalam tanah dan kemampuan adsorpsinya tergantung dari
densitas muatan negatif (anion) pada permukaan koloid tanah. Muatan
negatif permukaan diimbangi oleh kation dengan jumlah yang sama untuk
menjaga keelektronetralan. Logam berat dalam tanah umumnya berbentuk
kation (ion positif) dan akan diikat oleh anion (ion-ion negatif) dari
partikel tanah. Adsorpsi spesifik merupakan pertukaran kation logam berat
dan kebanyakan anion dengan ligand permukaan untuk membentuk
sebagian ikatan kovalen.
Menurut Nursyamsi et al. (2011), adsorpsi adalah suatu proses
pemisahan bahan dari campuran gas atau cair. Bahan yang harus
dipisahkan ditarik oleh permukaan sorben padat dan diikat oleh gaya-gaya
yang bekerja pada permukaan tersebut. Proses adsorpsi terjadi pada
permukaan pori-pori dalam butir adsorben. Transfer massa logam dari
cairan ke dalam pori-pori butir adsorben tersebut akan mengalami
beberapa proses. Proses-proses tersebut diantaranya, yang pertama
perpindahan massa dari cairan ke permukaan butir, yang kedua difusi dari
permukaan butir ke dalam butir melalui pori, yang ketiga perpindahan
massa dari cairan dalam pori ke dinding pori dan yang keempat adsorpsi
pada dinding pori. Adsorben alami yang dapat digunakan dalam
pengolahan limbah cair antara lain adalah zeolit, arang aktif, limbah teh
dan kulit kacang.
PARAFRASE

d. Kekurangan Bioadsorpsi
Menurut Murti et al. (2013), pengolahan tersier untuk
menghilangkan polutan dalam air limbah dapat dilakukan dengan cara
proses oksidasi, filtrasi membran dan adsorpsi. Adsorpsi diketahui
merupakan metode yang paling efisien untuk menghilangkan warna, bau,
minyak dan organik dari air limbah. Karbon aktif menjadi adsorben yang
paling banyak dipakai karena kemampuan adsorpsinya yang sangat bagus,
tetapi kelemahannya adalah harganya yang mahal. Perlu dilakukan
pencarian alternatif adsorben dengan harga yang lebih murah, diantaranya
dengan memanfaatkan abu terbang bagas. Abu terbang bagas adalah
limbah industri gula yang dihasilkan dari pembakaran bagas di dalam
boiler.
Menurut Wardalia (2016), arang sekam padi merupakan adsorben
yang cukup baik namun memiliki kelemahan. Kelemahan dari adsorben
organik adalah kapasitas penyerapannya yang rendah. Kapasitas adsorpsi
dapat ditingkatkan dengan cara membentuk karakteristik adsorben sekam
padi dengan cara melakukan proses aktivasi serta mengubah ukuran
partikel adsorben tersebut. Proses aktivasi secara umum dapat
dikelompokan menjadi dua metode yaitu aktivasi secara fisik dan aktivasi
secara kimia. Proses aktivasi dilakukan untuk memeperbaiki sifat
permukaan dari suatu bahan serta mengubah kualitas dari adsorben yang
dihasilkan.
PARAFRASE

e. Kelebihan Bioadsorpsi
Menurut Fitriani et al. (2016), proses adsorpsi diartikan sebagai
proses penyerapan suatu zat lain. Proses ini hanya terjadi pada permukaan
zat tersebut. Zat yang mengadsorbsi disebut adsorben dan zat yang
teradsorbsi disebut adsorbat. Adsorpsi memiliki beberapa kelebihan jika
dibandingkan dengan metode lainnya. Kelebihan adsorpsi diantaranya
biaya yang diperlukan relatif murah, prosesnya relatif sederhana,
efektivitas dan efisiensinya tinggi serta adsorbennya dapat digunakan
berulang-ulang (regenerasi).
Menurut Lesbani et al. (2013), penanggulangan cemaran logam-
logam merupakan studi yang terus berkembang hingga saat ini. Salah satu
teknik yang dapat digunakan adalah adsorpsi. Adsorpsi memiliki
kelebihan bila dibandingkan dengan teknik lain. Kelebihan teknik adsorpsi
dalam penanggulangan cemaran logam-logam adalah pengerjaannya yang
mudah, biaya yang murah, relatif aman dari kontaminasi zat-zat kimia
serta tidak memberikan polusi bagi lingkungan. Metode adsorpsi pada
prinsipnya menggunakan adsorben sebagai penyerap adsorbat.
PARAFRASE

2.4 Agen Bioadsorpsi (Adsorben)


a. Sekam Padi
Menurut Nurhasni et al. (2014), salah satu adsorben yang
menjanjikan adalah limbah organik. Limbah organik tersebut meliputi
limbah tanaman jagung, padi, pisang dan lain-lain. Limbah organik
tersebut yang menarik adalah penggunaan sekam padi. Sekam padi
memiliki sifat yang rendah nilai gizinya, tahan terhadap pelapukan,
memiliki kandungan abu yang tinggi, bersifat abrasif, menyerupai
kandungan kayu, serta memiliki kandungan karbon yang cukup tinggi.
Ketersediaan limbah sekam padi cukup banyak di segala tempat di sekitar
penggilingan padi dan pemanfaatan limbah tersebut masih terbatas.
Menurut Hidayati et al. (2016), sekam padi menjadi salah satu
alternatif bahan baku adsorben yang potensial. Beberapa keunggulan yang
dimiliki oleh sekam padi sebagai kandidat adsorben diantaranya adalah
tidak larut dalam air, memiliki stabilitas kimia yang baik dan kekuatan
struktur yang baik karena memiliki kandungan silika yang tinggi. Sekam
padi merupakan bahan baku yang murah dan mudah diperoleh karena
ketersediaannya melimpah. Sekam padi disintesis terlebih dahulu menjadi
karbon sebelum dijadikan adsorben. Sekam padi mengandung selulosa,
hemiselulosa dan lignin yang saling berikatan satu sama lainnya
membentuk suatu struktur matrik yang sangat stabil.
PARAFRASE

b. Jerami Padi
Menurut El Baidho et al. (2013), jerami pada merupakan salah satu
bahan yang kaya akan gugus hidroksil. Jerami padi kaya akan gugus
hidroksil karena memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi, yakni
mencapai 30-40%. Keberadaan jerami padi di indonesia sendiri cukup
melimpah, karena makanan pokok di negara ini adalah beras. Produksi
padi yang meningkat mengakibatkan limbah jerami padi yang dihasilkan
juga meningkat. Limbah-limbah tersebut hanya tertumpuk dan belum
termanfaatkan secara maksimal. Limbah jerami padi dapat dimanfaatkan
dengan menjadikannya sebagai bahan baku adsorben xanthate. Kandungan
selulosa yang cukup tinggi pada jerami padi menyebabkan ia kaya akan
gugus hidroksil, sehingga ia dapat digunakan sebagai adsorben logam
berat (khususnya timbal).
Menurut Safrianti et al. (2012), upaya mengurangi pencemaran
logam berat timbal (Pb) yang semakin meningkat di lingkungan, diarahkan
pada penggunaan bahan yang mudah didegradasi. Metode yang dapat
digunakan salah satunya adalah dengan metode adsorpsi. Jerami padi
merupakan salah satu limbah pertanian yang memiliki komponen utama
karbohidrat (selulosa dan hemiselulosa), lignin dan silika. SeIuIosa
memiIiki gugus fungsi yang dapat meIakukan pengikatan dengan ion
Iogam.
PARAFRASE

c. Serabut Kelapa
Menurut Rahayu et al. (2014), struktur sabut dan tempurung kelapa
tersusun atas natural sellulose (sellulose, lignin, dan hemi sellulose).
Selulosa ini secara alami memberi struktur berpori sehingga dapat
digunakan sebagai media adsorpsi. Penggunaan tempurung/sabut kelapa
yang diolah menjadi karbon (arang) aktif diketahui menunjukkan
kemampuan yang baik sebagai adsorben. Kemampuan tersebut
diantaranya untuk menjerap gas atau bau (deodorisasi) dan warna
(decolorisasi). Sejauh ini tempurung atau sabut kelapa digunakan sebagai
adsorben setelah melalui perlakuan awal diarangkan (karbonasi) lalu
diaktifasi.
Menurut Istighfarini et al. (2017), proses adsorpsi diharapkan dapat
menyisihkan ion-ion logam berat dari larutan. Bahan yang dapat
digunakan sebagai adsorben salah satunya adalah sabut kelapa. Sabut
kelapa dari buah kelapa biasanya dimanfaatkan sebagai kerajinan tangan
seperti sapu, bahan bakar tungku rumah tangga, matras sabut kelapa
(pengganti rumput sintetis lapangan futsal dari sabut kelapa) dan
bioetanol. Sabut kelapa juga dapat dimanfatkan sebagai adsorben karena
mengandung lignin, selulosa, dan hemiselulosa yang dapat menyerap ion
logam. Adsorben sabut kelapa telah berhasil menurunkan kadar Fenol
sebesar 98,49% pada limbah arifisial.
PARAFRASE

d. Ampas Tebu
Menurut Suhendarwati et al. (2013), bagasse atau ampas tebu adalah
zat padat yang didapatkan dari sisa pengolahan tebu pada industri
pengolahan gula pasir. Ketersediaan ampas tebu sangatlah melimpah tetapi
pemanfaatannya kurang optimal. Ampas tebu memiliki potensi sebagai
adsorben sangat baik sesuai dengan penelitian yang menunjukkan
efisiensi dekolorasi lebih besar dari adsorben dengan bahan baku lainnyaa.
Ampas tebu yang dijadikan karbon aktif ini dapat dimanfaatkan. Karbon
aktif adalah senyawa karbon yang telah diproses dengan cara aktivasi
sehingga senyawa tersebut memiliki pori dan luas permukaan yang sangat
besar dengan tujuan untuk meningkatkan daya adsorpsinya.
Menurut Yoseva et al. (2015), ampas tebu (sugarcane bagasse) pada
umumnya digunakan sebagai bahan bakar boiler untuk menghasilkan
energi yang diperlukan pada proses pembuatan gula sehingga pada
prosesnya akan menghasilkan cukup banyak ampas. Serat ampas tebu
terdapat selulosa yang mengandung gugus aktif karboksil dan lignin yang
mengandung gugus fenolat. Penggunaan arang ampas tebu untuk
mengubah karakteristik air gambut dan meningkatkan kualitasnya menjadi
air bersih belum pernah dilaporkan. Upaya yang dapat dilakukan untuk
memperbaiki kualitas air gambut, yaitu dengan proses adsorpsi
menggunakan arang ampas tebu sebagai adsorben. Kemampuan biomassa
ampas tebu ditingkatkan dengan cara aktivasi secara karbonisasi.
PARAFRASE
DAFTAR PUSTAKA

Alifatri, L. O., S. Hariyadi dan H. A. Susanto. 2017. Analisis daya


dukung lahan untuk pengembangan budidaya kerapu di perairan
tambak Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang. Jurnal Ilmu
Pertanian Indonesia (JIPI). 22(1): 52-66.
Atrini, A. D. R., M. Yusuf dan A. Santoso. 2014. Kondisi perairan
terhadap struktur komunitas makrozoobenthos di muara Sungai
Karanganyar dan Tapak, Kecamatan Tugu, Semarang. Journal
Of Marine Research. 3(1): 27-36.
Bahri, S. 2014. Pengaruh adsorben bentonit terhadap kualitas pemucatan
minyak inti sawit. Jurnal Dinamika Penelitian Industri. 25(1):
63-69.
Caroline, J dan G. A. Moa. 2015. Fitoremediasi logam timbal (Pb)
menggunakan tanaman melati air (Echinodorus palaefolius)
pada limbah industri peleburan tembaga dan kuningan. Seminar
Nasional Sains dan Teknologi Terapan. Halaman: 733-744.
El Baidho, Z., T. Lazuardy., S. Rohmania dan I. Hartati. 2013. Adsorpsi
logam berat Pb dalam larutan menggunakan senyawa xanthate
jerami padi. Prosiding SNST Fakultas Teknik. 1(1): 43-47.
Fauziah, M., I, Rahmawati dan N.Widiasa. 2013. Penyisihan dan
kekeruhan pada sistem resirkulasi budidaya kepiting dengan
teknologi membran biofilter. Jurnal Teknologi Kimia dan
Industri. 2(2): 155-161.
Fitriani, I., A. Fadli dan Zultiniar. 2016. Kinetika adsorpsi pada
penjerapan ion timbal (Pb+2) terlarut dalam air menggunakan
partikel tricalcium phosphate. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas
Teknik Universitas Riau. 3(1): 1-6.
Hidayati, A. S. D. S. N., Juliananda dan B. Ismuyanto. 2016. Adsorpsi
kesadahan (Ca) menggunakan adsorben berbasis sekam padi.
Jurnal Teknik Kimia USU. 5(3): 1-6.
Ikhwan, Z. 2015. Efektifitas bio sorben keladi, eceng gondok dan batang
pisang pada kandungan fosfat limbah laundry. Jurnal Kesehatan
Masyarakat Andalas. 10(1): 45-51.
Istighfarini, S. A. E., S. Daud dan Hs. Edward. 2017. Pengaruh massa
dan ukuran partikel adsorben sabut kelapa terhadap efisiensi
penyisihan Fe pada air gambut. Jurnal Online Mahasiswa
Fakultas Teknik Universitas Riau. 4(1): 1-8.
Komarawidjaja, W. 2017. Paparan limbah cair industri mengandung
logam berat pada lahan sawah di Desa Jelegong, Kecamatan
Rancaekek, Kabupaten Bandung. Jurnal Teknologi Lingkungan.
18(2): 173-181.
Lasindrang, M. 2014. Adsorpsi pencemaran limbah cair industri
penyamakan kulit oleh kitosan yang melapisi arang aktif
tempurung kelapa. Jurnal Tekno Sains. 3(2): 81-166.
Lensun, M dan S. Tumembouw. 2013. Tingkat pencemaran air Sungai
Tondano di Kelurahan Ternate Baru Kota Manado. Budidaya
Perairan. 1(2): 43-48.
Lesbani, A., S. Yusuf dan Y. Iswanti. 2013. Studi kompetisi interaksi
besi (II) dengan seng (II) pada asam humat. Jurnal Penelitian
Sains. 16(1): 1-5.
Merian, R. D., Mubarak dan S. Sutikno. 2016. Analisis kualitas perairan
muara Sungai Dumai ditinjau dari aspek fisika, kimia dan
biologi. Dinamika Lingkungan Indonesia. 3(2): 107-112.
Murti, R. S., C. M. H. Purwanti dan Suyatini. 2013. Adsorpsi amonia dari
limbah cair industri penyamakan kulit menggunakan abu
terbang bagas. Majalah Kulit, Karet dan Plastik. 29(2): 85-90.
Fajri, N. E dan A. Kasry. 2013. Kualitas perairan muara Sungai Siak
ditinjau dari sifat fisik-kimia dan makrozoobenthos. Berkala
Perikanan Terubuk. 41(1): 38-52.
Nurhasni, Hendrawati dan N. Saniyyah. 2014. Sekam padi untuk
menyerap ion logam tembaga dan timbal dalam air limbah.
Jurnal Kimia Valensi. 4(1): 36-44.
Nursyamsi, D., R. Artanti., A. Kurnia dan Y. Hindarwati. 2011.
Efektivitas koagulan dan adsorben alami dalam pengolahan
limbah cair elektroplating tercemar logam berat karsinogenik.
Jurnal Teknik Hidraulik. 2(1): 1-96.
Oktavia, D. A., D. Mangunwidjaja., S. Wibowo., T. C. Sunarti dan M.
Rahayuningsih. 2012. Pengolahan limbah cair perikanan
menggunakan konsorsium mikroba indigenous proteolitik dan
lipolotik. AGROINTEK. 6(2): 65-71.
Priadi, C. R., Anita, P. N. Sari dan S. S. Moersidik. 2014. Adsorbsi
logam seng dan timbal pada limbah cair industri keramik oleh
limbah tanah liat. Reaktor. 15(1): 10-19.
Pujiastuti,P., B. Ismail dan Pranoto. 2013. Kualitas dan beban
pencemaran perairan Waduk Gajah Mungkur. Jurnal
EKOSAINS. 5(1): 59-75.
Purwanto, D. 2013. Pegembangan media komik IPA terpadu tema
pencemaran air sebagai media pembelajaran untuk siswa SMP
kelas VII Didik. Jurnal Pendidikan Sains. 1(1): 71-76.
Rahayu, L. H., S. Purnavita dan H. Y. Sriyana. 2014. Potensi sabut dan
tempurung kelapa sebagai adsorben untuk meregenerasi minyak
jelantah. Momentum. 10(1): 47-53.
Romengga, J., T. T. Irawadi dan S. Sugiarti. 2012. Bioadsorpsi Hg (II)
oleh pati sagu taut silang fosfat. Jurnal Teknologi dan Industri
Pangan. 23(2): 140-145.
Safrianti, I., N. Wahyuni dan T. A. Zaharah. 2012. Adsorpsi timbal (II)
oleh selulosa limbah jerami padi teraktivasi asam nitrat:
pengaruh pH dan waktu kontak. Jurnal Kimia Khatulistiwa.
1(1): 1-7.
Said, N. I. 2010. Metoda penghilangan logam berat (As, Cd, Cr, Ag, Cu,
Pb, Ni dan Zn) di dalam air limbah industri. Jurnal Air
Inodnesia. 6(2): 136-148.
Samsundari, S dan G.A.Wirawan. 2015. Analisis penerapan biofilter
dalam sistem resirkulasi terhadap mutu kualitas air budidaya
ikan sidat (Anguilla bicolor). Jurnal Gamma. 8(2): 86-97.
Simbolon, A. R. 2016. Pencemaran bahan organik dan eutrofikasi di
Perairan Cituis, Pesisir Tangerang. Jurnal Pro-Life. 3(2): 108-
118.
Suhendarwati, L., B. Suharto dan L. D. Susanawati. 2013. Pengaruh
konsentrasi larutan kalium hidroksida pada abu dasar ampas
tebu teraktivasi. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan.
1(1): 19-25.
Sumarno, D dan T. Muryanto. 2015. Penentuan kandungan ammonia (N-
NH3) berdasarkan hasil analisa kandungan ammonium (N-NH4)
di Daerah Aliran Sungai (DAS) Poso Kabupaten Poso Sulawesi
Tengah. Buletin Teknik Litkayasa Sumberdaya dan
Penangkapan.13(2): 113-118.
Susanto, A., H. Pratomo dan A. Rahman. 2015. Analisis cemaran limbah
industri dan domestik terhadap biota laut di perairan Kota
Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. Analisis Cemaran
Limbah Industri. 8(2): 143-150.
Tatangindatu, F., O. Kalesaran dan R. Rompas. 2013. Studi parameter
fisika kimia air pada areal budidaya ikan di Danau Tondano,
Desa Paleloan, Kabupaten Minahasa. Budidaya Perairan. 1(2):
8-19.
Wardalia. 2016. Karakterisasi pembuatan adsorben dari sekam padi
sebagai pengadsorp logam timbal pada limbah cair. Jurnal
Integrasi Proses. 6(2): 83-88.
Yoseva, P. L., A. Muchtar dan H. Sophia. 2015. Pemanfaatan limbah
ampas tebu sebagai adsorben untuk peningkatan kualitas air
gambut. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau. 2(1): 56-62.
Yuliusman, W. W. Purwanto dan Y. S. Nugroho. 2013. Pemilihan
adsorben untuk penjerapan karbon monoksida menggunakan
model adsorpsi isotermis langmuir. Reaktor. 14(3): 225-233.
Yunisa, T. R., N. S. Susanto., T. Estiasih dan N. I. Panca. 2017. Potensi
daun lidah mertua (Sansevieria trifasciata) sebagai biosorben
logam timbal. Jurnal Pangan dan Agroindustri. 5(4): 66-70.