Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMISAHAN DAN IDENTIFIKASI ASAM AMINO

NAMA NIM KELOMPOK HARI / TGL. PERC. ASISTEN

: YULIANTI : H311 12 014 : II (DUA) : KAMIS / 27 MARET 2014 : SARTIKA

LAPORAN PRAKTIKUM PEMISAHAN DAN IDENTIFIKASI ASAM AMINO NAMA NIM KELOMPOK HARI / TGL. PERC. ASISTEN :

LABORATORIUM BIOKIMIA JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

2014

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa secara umum ada tiga gugus

yang reaktif pada asam amino yaitu gugus karboksil, gugus amino, dan gugus rantai

samping. Ketiga gugus ini dapat diidentifikasi melalui uji spesifik, diantaranya

adalah dengan melalui tes ninhidrin, dan sebagainya. Akan tetapi, selain uji spesifik

berdasarkan ciri khas reaksi kimianya, asam amino dapat pula diidentifikasi bahkan

dipisahkan dengan beberapa metode, salah satunya adalah melalui kromatografi lapis

tipis (KLT) (Fessenden dan Fessenden, 1997).

Pemisahan asam amino dengan metode ini didasari oleh kemampuan suatu

jenis asam amino yang terlarut dalam suatu campuran pelarut tertentu pada fasa

stasioner atau yang lazim disebut sebagai fasa diam, dimana bila suatu zat terlarut

yang terdistribusi dalam dua pelarut dengan volume yang sama dan tidak saling

bercampur sehingga perbandingan konsentrasi zat terlarut di dalam kedua pelarut

seimbang (Poedjiadi, 1994).

Pada kromatografi lapis tipis, yang digunakan sebagai fasa stasioner adalah

suatu lembaran tipis silika gel. Untuk memperoleh pemisahan asam amino yang baik,

dapat digunakan dua fase pelarut, dimana setiap jenis asam amino mempunyai

koefisien partisi tertentu untuk pasangan pelarut tertentu. Perbandingan kecepatan

perpindahan komponen dengan permukaan fasa mobile merupakan dasar untuk

mengidentifikasi komponen-komponen yang dipisahkan. Oleh karena itu melalui

percobaan ini akan dilakukan analisis asam amino dengan menggunakan metode

kromatografi lapis tipis.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

  • 1.2.1 Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini adalah mengetahui dan memahami cara pemisahan

dan identifikasi asam amino dalam suatu sampel melalui metode kromatografi lapis

tipis.

  • 1.2.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah :

    • 1. Menghitung nilai R f dari asam amino glisin, tirosin, asparagin dan larutan sampel.

    • 2. Mengidentifikasi asam amino dalam larutan sampel berdasarkan nilai R f nya.

1.3 Prinsip Percobaan

Identifikasi asam amino berdasarkan perbedaan nilai R f dengan menggunakan

metode kromatrografi lapis tipis yang fase geraknya terdiri dari campuran n-butanol,

asam asetat dan air, dan fase diamnya berupa lapisan tipis alumina.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Asam amino adalah asam karboksilat yang mempunyai gugus amino. Asam

amino sebagai komponen protein mempunyai gugus amina (-NH 2 ) pada atom

karbon α dari posisi gugus karboksil (-COOH). Rumus umum asam amino adalah

(Poedjiadi, 1994) :

R CH COOH
R
CH
COOH

NH 2 Gambar 1. Struktur asam amino

Pada umumnya asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut

organik non polar seperti eter, aseton, dan kloroform. Kelarutan asam amino ini

berbeda dengan asam karboksilat dan amina. Asam amino mempunyai titik lebur

yang tinggi bila dibandingkan dengan asam karboksilat dan amina. Hal ini

menunjukkan bahwa asam amino cenderung mempunyai struktur yang bermuatan

dan mempunyai polaritas tinggi dan bukan sekedar senyawa yang mempunyai

gugus COOH dan gugus NH 2 . Hal ini tampak pula pada sifat asam amino sebagai

elektrolit (Poedjiadi, 1994).

Pada umumnya asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut

organik nonpolar seperti eter, aseton dan kloroform. Sifat asam amino ini berbeda

dengan sifat asam karboksilat maupun sifat amina. Asam karboksilat alifatik

maupun aromatik umumnya kurang larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut

organik. Demikian pula asam amino pada umunya tidak larut dalam air, tetapi larut

dalam pelarut organik. Perbedaan sifat antara asam karboksilat dan amina terlihat

pula pada titik leburnya. Asam amino mempunyai titik lebur yang lebih tinggi bila

dibandingkan dengan asam karboksilat atau amina. Kedua sifat fisika ini

menunjukkan bahwa asam amino cenderung mempunyai struktur yang bermuatan

dan mempunyai polaritas tinggi (Poedjiadi, 1994).

Terdapat dua puluh asam amino alami yang lazim. Kedua puluh asam amino

alami yang lazim, memiliki rangka yang terdiri dari gugus asam karboksilat dan

gugus yang terikat secara kovalen pada atom pusat (karbon alfa). Dua gugus lainnya

pada karbon alfa ialah hidrogen dan gugus R yang merupakan rantai samping asam

amino. Sifat kimia gugus rantai sampinglah yang menyebabkan perbedaan sifat asam

amino (Fessenden dan Fessenden, 1997).

Asam amino penyusun protein dapat digolongkan berdasarkan berbagai

kategori. Berdasarkan komposisi kimia gugus R, asam amino dapat digolongkan

menjadi asam amino alifatik (glisin, alanin, valin, leusin, isoleusin), asam amino

hidroksil (serin, treonin), asam amino sulfur (sistein, metionin), asam amino

aromatik (fenilalanin, tirosin, triptofan), asam amino asam (asam aspartat, asparagin,

asam glutamat, glutamin), asam amino basa (arginin, histidin, lisin) dan asam amino

imino (prolin). Sedangkan pembagian asam amino berdasarkan polaritas molekulnya,

yaitu asam amino polar dengan gugus R polar (C-O, C-N, O-H) seperti glisin, sistein,

asam glutamat, serin, tirosin, treonin, asam aspartat, glutamin, histidin, arginin,

asparagin dan lisin. Sedangkan golongan asam amino nonpolar dengan gugus R

nonpolar (C-C, C-H) seperti valin, alanin, leusin, metionin, prolin, isoleusin,

fenilalanin dan tirosin. Asam-asam amino juga dapat digolongkan berdasarkan

kemampuan sintesis tubuh manusia dan hewan yaitu asam amino non-esensial

(alanin, prolin, glisin, serin, sistein, tirosin, asparagin, glutamin, asam aspartat dan

asam glutamat) dan asam amino esensial (arginin, histidin, isoleusin, leusin, lisin,

metionin, fenilalanin, treonin, triptofan dan valin) (Toha dan Hamid, 2001).

Ada beberapa metode analisis asam amino, misalnya metode gravimetri,

kalorimetri, mikrobiologi, kromatografi dan elektroforesis. Salah satu metode yang

banyak memperoleh pengembangan adalah metode kromatografi (Poedjiadi, 1994).

Ada beberapa macam kromatografi diantaranya kromatografi kertas,

kromatografi lapis tipis (KLT), dan kromatografi penukar ion. Kromatografi lapis

tipis (KLT) biasanya menggunakan aluminium oksida, serbuk selulosa atau silika gel

sebagai absorben yang berupa ½ lapis tipis yang diletakkan di atas selembar kaca.

Seperti halnya pada kromatografi kertas, larutan yang mengandung beberapa asam

amino diteteskan di atas adsorben dan dibiarkan bergerak. Pemisahan asam amino

didasarkan pada perbedaan kecepatan bergerak asam-asam amino tersebut pada pH

tertentu. Harga Rf yaitu ciri khas suatu asam amino pda pelarut tertentu. Penentuan

macam asam amino dapat pula dilakukan dengan menghitung harga Rf

masing-masing asam amino, kemudian dibandingkan harga Rf asam amino yang

terdapat pada tabel yang telah ada (Poedjiadi dan Supriyanti, 2007).

Fase stasioner dapat berupa padatan maupun cairan, sedangkan fase bergerak

dapat berupa cairan maupun gas. Dalam semua teknik kromatografi, zat-zat terlarut

yang dipisahkan bermigrasi sepanjang kolom, dan tentu saja laju pemisahan terletak

dalam laju perpindahan yang berbeda untuk larutan yang berbeda. Harga R f dapat

disefenisikan sebagai berikut (Day dan Underwood, 2002) :

Harga R f =

Jarak yang digerakkan oleh senyawa dari titik asal

Jarak yang digerakkan oleh pelarut dari titik asal

Harga-harga R f untuk senyawa-senyawa murni dapat dibandingkan dengan

harga-harga standar. Senyawa standar biasanya memiliki sifat-sifat kimia yang mirip

dengan senyawa yang dipisahkan pada kromatogram. Adapun faktor-faktor yang

mempengaruhi harga R f yaitu (Day dan Underwood, 2002):

  • 1. Strukur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan.

  • 2. Sifat dari penyerapan dan derajat aktifitasnya.

  • 3. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap.

  • 4. Pelarut (dan derajat kemurniannya) fase gerak.

  • 5. Derajat kejenuhan dari uap dalam mana bejana pengembangan yang digunakan.

  • 6. Teknik percobaan.

  • 7. Jumlah cuplikan yang digunakan.

  • 8. Suhu.

  • 9. Kesetimbangan.

Analisis asam amino primer dapat menggunakan derivatisasi prakolom. Tetapi

ini hanya untuk asam amino primer sehingga tidak mungkin dilakukan oksidasi asam

amino sekunder menjadi asam amino primer sebelum melalui kolom. Bila oksidasi

ini dilakukan, dapat terjadi kerusakan (Rediatning dan Kartini, 1987).

Glisin merupakan asam amino yang paling sederhana dan dapat berdisosiasi

membentuk suatu anion glisin H 2 N-CH 2 -CO 2 - , yang dapat bertindak sebagai ligan

terhadap kation logam transisi. Glisin digolongkan kepada ligan bidentat, ligan semi,

dan ligan negatif, karena mempunyai pasanganelektron bebas dalam atom N dan

pasangan elektron dalam atom O sebagai kelebihan elektron (Sudjana dkk., 2002).

Lebih dari dua protein asam amino, alanin dan glisin, yang dibiosintesis oleh

eksploitasi α-pusat PLP kimia. Pada dasarnya asam α-amino dapat dibuat dari asam

α-keto jika sesuai dengan aminotransferase yang tersedia. Piruvat merupakan suatu

metabolit yang ada dimana-mana dan sesuai dengan asam amino, alanin tersedia dari

transaminasi menggunakan aminotransferase khusus yang sesuai (Hughes, 2009).

BAB III

METODE PERCOBAAN

  • 3.1 Bahan Percobaan

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan sampel,

larutan glisin 0,01 M, larutan tirosin 0,01 M, larutan asparagin 0,01 M,

eluen (n-butanol-asam asetat-air), larutan ninhidrin 0,2 %, plat kromatografi lapis

tipis (KLT), aseton, selotip dan tissue roll.

  • 3.2 Alat Percobaan

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah chamber, pipa kapiler,

gelas ukur 10 mL, botol semprot, pinsil, penggaris, gunting, inkubator, pingset,

gegep dan pipet tetes.

  • 3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Pembuatan eluen

Dibuat larutan eluen dengan menggunakan larutan nbutanol, asam asetat, dan

air dengan perbandingan 2,5 : 0,6 : 2,6 v/v. Kemudian eluen dimasukkan ke dalam

chamber, dikocok sebentar, kemudian ditutup dan ditunggu sampai jenuh ± 30 menit.

3.3.2 Penotolan Sampel

Pada plat KLT yang sebelumya telah digunting sesuai ukuran chamber

(3 x 7 cm), dikeringkan kemudian dibuat garis batas bawah dan batas atas ± 1 cm,

dibuat titik-titik pada garis batas bawah yang merupakan tempat penotolan larutan

asam amino glisin, tirosin, asparagin, dan sampel. Setelah itu, semua larutan asam

amino dan larutan asam amino sampel ditotolkan pada titik yang telah dibuat pada

plat KLT dengan menggunakan pipa kapiler yang sebelumnya berada dalam aseton.

Selanjutnya dikeringkan pada suhu kamar.

3.3.3 Proses Elusi

Jika eluen telah jenuh, Plat KLT dielusi ke dalam chamber dengan hati-hati

agar garis batas bawah tidak tercelup ke dalam eluen. Elusi dihentikan jika eluen

menempuh jarak yang telah ditentukan sebelumnya (garis batas atas). Dikeluarkan

plat dari chamber dan dikeringkan. Selanjutnya kromatogram disemprot dengan

larutan ninhidrin, kemudian dikeringkan dalam inkubator dengan suhu kurang lebih

60 0 C selama beberapa menit. Setelah kering diberi tanda pada noda yang timbul

pada kromatogram dengan pensil. Ditentukan nilai R f dari masing-masing noda pada

kromatogram.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

  • 4.1 Hasil Pengamatan

Pada percobaan ini, dilakukan pemisahan dan identifikasi asam amino pada

suatu larutan sampel dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis. Dari

percobaan yang telah dilakukan diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 1. Data hasil pengamatan

NO

Larutan Sampel

Jarak Eluen (cm)

Jarak Noda (cm)

Rf (cm)

1.

Glisin

 
  • 4 0,8

0,2

2.

Tirosin

  • 4 1,1

 

0,275

3.

Asparagin

 
  • 4 1,2

0,3

4.

Sampel

 
  • 4 0,8

0,2

  • 4.2 Reaksi

Reaksi yang terjadi adalah : O OH C C OH C O ninhidrin
Reaksi yang terjadi adalah :
O
OH
C
C
OH
C
O
ninhidrin
R CH COOH NH 2
R
CH
COOH
NH 2
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Pada percobaan ini, dilakukan pemisahan dan identifikasi asam
O HO C R CH C O H C O
O
HO
C
R
CH
C
O
H
C
O

hidrindantin

NH 3

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Pada percobaan ini, dilakukan pemisahan dan identifikasi asam

CO 2

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Pada percobaan ini, dilakukan pemisahan dan identifikasi asam
O OH C C OH C O
O
OH
C
C
OH
C
O

NH

3

O O C C C N C C C OH O
O
O
C
C
C
N
C
C
C
OH
O

biru

4.3 Pembahasan

O HO C C H C O 3H O 2
O
HO
C
C
H
C
O
3H
O
2
O OH C C OH C O NH 3 O O C C C N C

Pada percobaan ini, tahap pertama yang dilakukan adalah kertas kromatografi

digunting dengan ukuran 3 x 7 cm, Pada kertas kromatografi kita membuat garis

yang digunakan

sebagai

tempat menotol larutan asam amino dan sampel yang

berjarak 1 cm dari tepi bawah kertas kromatografi. Kertas kromatografi ini

adalah fase diam dalam percobaan ini. Lalu dikeringkan dalam inkubator,

tujuannya yaitu untuk mengaktifkan lapisan KLT agar kertas tersebut benar-

benar kering karena suspensi absorbannya terbuat dari air (fase diam).

Eluen sebagai fase gerak dibuat dengan campuran n-butanol, asam asetat dan

air dengan urutan perbandingan 25 : 6 : 26 v/v atau masing-masing 2,5 ml:0,6 ml:

2,6 ml. Selanjutnya eluen dimasukkan ke dalam chamber, eluen dibuat benar-benar

jenuh terhadap chamber untuk mempercepat proses elusi. Digunakan campuran

n-butanol, asam asetat, dan air sebagai eluen karena ketiga bahan tersebut memiliki

kepolaran, dan memiliki perbedaan titik dielektrik. Air lebih polar dari pada

n-butanol dan n-butanol lebih polar jika dibandingkan dengan asam asetat. Prinsip

percobaan KLT ini didasarkan pada sifat fisik dan kimia asam amino. Sifat fisik

ditunjukkan oleh kecepatan bergerak pada fase diam dari kertas kromatografi dan

sifat kimianya berdasarkan pada warna yang timbul ketika disemprot dengan larutan

ninhidrin.

Asam amino glisin, tirosin, asparagin dan sampel ditotolkan pada kertas

kromatografi yang berjarak 1 cm dari bawah kertas dengan menggunakan pipa

kapiler. Penotolan sampel dilakukan dengan menggunakan pipa kapiler yang

sebelumnya telah dibilas dengan aseton. Aseton merupakan salah satu larutan yang

sering digunakan untuk membersihkan alat sebab sifatnya yang nonpolar sehingga

dapat membersihkan bahan-bahan nonpolar pada alat. Selain itu, sifatnya yang

mudah menguap dapat mempercepat pengeringan alat, sehingga sangat membantu

[[

pengeringan untuk alat seperti pipa kapiler. Penotolan untuk setiap larutan tidak

boleh dilakukan 2 kali karena dapat mempengaruhi hasil yang diperoleh. Selanjutnya

kertas yang sudah ditotolkan dengan larutan dikeringkan pada suhu kamar. Setelah

kering kertas kromatografi lapis tipis dimasukkan ke dalam chamber. Pada saat

dimasukkan dalam chamber totolan pada kertas kromatografi diupayakan tidak

tercelup dalam eluen agar asam amino tidak larut pada eluen sehingga dapat

berpisah. Proses elusi dilakukan sampai eluen mencapai jarak tertentu yang telah

diberi tanda dan setelah sampai plat KLT dikeringkan pada suhu kamar agar pelarut

menguap sempurna sehingga noda yang terbentuk tidak melebar. Setelah plat

benar-benar kering, disemprotkan larutan ninhidrin 0,2 %. Ninhidrin digunakan

karena dapat memberikan reaksi spesifik terhadap asam amino dengan membentuk

warna tertentu bagi asam amino tertentu. Setelah itu, kertas kromatografi dikeringkan

dalam inkubator agar benar-benar kering agar diperoleh warna yang lebih jelas.

Kemudian noda yang terbentuk ditandai lalu dihitung nilai R f masing-masing noda.

Noda yang terbentuk pada plat tidak terpisah dengan baik, hal ini disebabkan karena

penotolan yang dilakukan terlalu banyak.

Berdasarkan hasil perhitungan nilai R f , maka diperoleh nilai R f yang bervariasi

antara satu asam amino dengan asam amino yang lainnya. Nilai R f praktek untuk

setiap asam amino glisin adalah 0,2 cm, tirosin adalah 0,275 cm, asparagin adalah

0,3 cm dan larutan sampel adalah 0,2 cm. Sedangkan, R f standar yaitu asam amino

glisin adalah 0,26 cm, tirosin adalah 0,45 cm dan asparagin adalah 0,50 cm. Dengan

demikian terdapat perbedaan antara nilai R f teori dengan nilai R f praktek. Hal ini

mungkin disebabkan karena kurang telitinya pada saat melakukan pratikum, dan juga

karena alat-alat serta bahan-bahan percobaan yang digunakan kurang steril sehingga

terdapat perbedaan antara praktek dengan teori.

Dari hasil perhitungan nilai R f dapat dilihat bahwa pada sampel hanya asam

amino glisin yang teridentifikasi, sedangkan asam amino tirosin dan asparagin tidak

teridentifikasi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  • 5.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan :

1. Nilai

R f untuk

asam amino glisin

adalah 0,2 cm, asam amino tirosin adalah

0,275 cm, asam amino asparagin adalah 0,3 cm dan larutan sampel adalah 0,2 cm

2. Berdasarkan nilai R f yang diperoleh, maka dapat diidentifikasi bahwa larutan

sampel mengandung asam amino glisin.

  • 5.2 Saran

    • 5.2.1 Saran Untuk Laboratorium

Bahan yang sudah mau habis sebaiknya di siapkan misalnya asam asetat.

  • 5.2.2 Saran Untuk Percobaan

Sebaiknya digunakan juga metode yang lain untuk mengidentifikasi asam

amino, agar pengetahuan yang diperoleh lebih banyak.

  • 5.2.3 Saran Untuk Asisten

Sebaiknya

jangan

bepergian

selama

praktikum,

agar

praktikan

dapat

menanyakan hal yang tidak diketahui selama praktikum berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

Day, R.A., dan Underwood, A.L., 2001, Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Fessenden, R.J., dan Fessenden, J.S., 1997, Dasar- Dasar Kimia Organik, Erlangga, Jakarta.

Hughes, A.B., 2009, Amino Acids, Peptides and Proteins in Organic Chemistry, WILEY-VCH, Australia.

Poedjiadi, A., 1994, Dasar-dasar Biokimia, UI-Press, Jakarta.

Rediatning,

W.,

dan

Kartini,

N.,

1987,

Analisis

Asam

Amino

Dengan

Kromatografi Cairan Kinerja Tinggi Secara Derivatisasi Prakolom

dan Pascakolom, Proceedings ITB, 20(1,2): 41-59.

Sudjana, E., Abdurachman, M., dan Yuliasari, Y., 2002, KarakteriSasi Senyawa Kompleks Logam Transisi Cr, Mn, dan Ag Dengan Glisin Melalui Spektrofotometri Ultraungu dan Sinar Tampak, Jurnal Bonatura, 4(2):

 

69-86.

Toha,

A.,

dan

Hamid,

A., 2001,

Biokimia : Metabolisme Biomolekul, Alfabeta,

Bandung.

 

LEMBAR PENGESAHAN

MAKASSAR, 15 APRIL 2014

ASISTEN

PRAKTIKAN

SARTIKA

YULIANTI

Lampiran I

Bagan Kerja

  • 1. Pembuatan Eluen

n-butanol Asam asetat air  Dipipet dengan perbandingan 2,5 ml : 0,6 ml : 2,6 ml
n-butanol
Asam asetat
air
Dipipet dengan perbandingan 2,5 ml : 0,6 ml : 2,6 ml ke dalam
tabung reaksi
Dimasukkan ke dalam chamber
Dikocok sebentar
Ditutup dan ditunggu sampai jenuh selama 30 menit
Eluen
  • 2. Penotolan Sampel

Plat KLT

 
 

Plat KLT yang telah ditotol

berada dalam aseton.

Digunting sesuai ukuran chamber ( 3 x 7 cm )

dikeringkan kemudian dibuat garis batas bawah dan batas atas ± 1 cm

dibuat titik-titik pada garis batas bawah yang merupakan tempat

penotolan larutan asam amino glisin, tirosin, asparagin, dan sampel

Larutan asam amino dan sampel ditotolkan pada titik yang telah dibuat

pada plat KLT dengan menggunakan pipa kapiler yang sebelumnya

Dikeringkan pada suhu kamar.

3. Proses Elusi

Plat KLT yang telah ditotol

 
 

Dielusi ke dalam chamber berisi eluen yang telah jenuh dengan hati-hati

 

agar garis batas bawah tidak tercelup ke dalam eluen

Dihentikan jika eluen menempuh jarak yang telah ditentukan sebelumnya

Plat dikeluarkan dari chamber dan dikeringkan

Kromatogram disemprot dengan larutan ninhidrin

dikeringkan dalam inkubator dengan suhu ± 60 0 C selama beberapa

 

menit

Setelah kering diberi tanda pada noda yang timbul pada kromatogram

 

dengan pensil

 

Ditentukan nilai R f dari masing-masing noda pada kromatogram.

Data

   

Lampiran 2

Perhitungan Nilai Rf

Hasil yang diperoleh :

Jarak eluen

 

= 4 cm

Jarak noda

 
 

Glisin

= 0,8 cm

Tirosin

= 1,1 cm

Asparagin

= 1,2 cm

Larutan Sampel

= 0,2 cm

Perhitungan

 

Jarak noda dari tempat penotolan

R

f

=

Jarak yang ditempuh eluen

 

0,8 cm

 

R f glisin

= 

=

0,2 cm

 

4 cm

 

1,1 cm

 

R f tirosin

=

 = 0,275 cm

 

4

cm

1,2 cm

 

R f sampel I

=  =

0,3 cm

 

4

cm

0,8 cm

 

R f sampel

=  = 0,2

cm

 

4

cm

Lampiran 3

Tabel nilai Rf 20 asam amino

No

Asam Amino

Nilai Rf

 
  • 1 Histidin

0.11

 
  • 2 Glutamin

0.13

 
  • 3 Lisin

0.14

 
  • 4 Arginin

0.20

 
  • 5 Asam aspartat

0.24

 
  • 6 Glisin

0.26

 
  • 7 Serin

0.27

 
  • 8 Asam glutamat

0.30

 
  • 9 Treonin

0.35

10

Alanin

0.38

11

Sistein

0.40

12

Prolin

0.43

13

Tirosin

0.45

14

Asparagin

0.50

15

Metionin

0.55

16

Valin

0.61

17

Triptofan

0.66

18

Fenilalanin

0.68

19

Isoleusin

0.72

20

Leusin

0.73

Lampiran 4

Foto Hasil Percobaan

Lampiran 4 Foto Hasil Percobaan Gambar 1. Proses elusi plat KLT Glisin Tirosin Batas elusi Sampel

Gambar 1. Proses elusi plat KLT

Lampiran 4 Foto Hasil Percobaan Gambar 1. Proses elusi plat KLT Glisin Tirosin Batas elusi Sampel
Glisin
Glisin
Tirosin
Tirosin
Lampiran 4 Foto Hasil Percobaan Gambar 1. Proses elusi plat KLT Glisin Tirosin Batas elusi Sampel
  • Batas elusi

    • Sampel

      • Asparagin

Gambar 2. Plat KLT hasil pengamatan