Anda di halaman 1dari 29

PORTOFOLIO KASUS BEDAH

“HERNIA INGUINALIS LATERAL”

Disusun oleh :

dr. Debi Lailatul Rahmi

Pendamping :

dr. Andriyani Putri

dr. Nike Anggreni

Konsulen pembimbing :

dr. Irsal Munandar, Sp.B

RSUD AROSUKA

KABUPATEN SOLOK

2018
BORANG PORTOFOLIO

Nama Peserta : dr. Debi Lailatul Rahmi

Nama Wahana : RSUD Arosuka

Topik : Hernia Inguinalis Lateralis

Tanggal (Kasus) : 26 Juli 2018

Nama Pasien : Tn.J

Tanggal Presentasi : September 2018

Nama Pendamping : dr. Andriany Putri dan dr. Nike Anggreni

Tempat Presentasi : Ruang Komite Medik RSUD Arosuka

Objektif Presentasi : - Keilmuan

- Diagnostik

- Kasus medik

Bahan Bahasan : Kasus

Cara Membahas : Presentasi dan diskusi

2
BAB I

LAPORAN KASUS

IDENTITAS

Nama : Tn. J

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Umur : 63 Tahun

Alamat : Surian

Pekerjaan : Petani

Masuk Rumah Sakit : 24 Juli 2018

ANAMNESIS

Pasien laki-laki,63 tahun datang ke Poli Bedah umum dengan :

Keluhan utama :

 Benjolan di kantong kemaluan kanan.

Riwayat Penyakit Sekarang :

 Keluhan benjolan di kantong kemaluan kanan dirasakan memberat dalam ±5


bulan SMRS. Lebih kurang sebesar telur angsa.

 Benjolan hilang timbul, benjolan muncul dipicu oleh batuk, bersin, atau
mengejan dan mengangkat beban berat. Benjolan dapat dimasukkan kembali
sendiri oleh pasien, lebih mudah pada posisi berbaring.

 Saat ini pasien masih dapat buang angin, dan BAB seperti biasa 1 kali setiap 1-2
hari. Tidak terdapat keluhan nyeri perut, mual, dan muntah.

 Nyeri dan kemerahan pada kantong kemaluan tidak ada, serta demam tidak ada.

3
 Awalnya benjolan muncul sejak ± 4 tahun yang lalu di sela paha kanan saja.
Benjolan hilang timbul, timbul saat pasien mengangkat beban berat dan
menghilang saat berbaring. Semakin lama benjolan semakin turun ke kantong
kemaluan kanan, dan awalnya berukuran kecil semakin lama membesar, namun
tetap bisa dimasukkan kembali. Pasien mengaku tidak pernah merasakan
keluhan BAB ataupun nyeri pada benjolan.

 BAK frekuensi dan warna seperti biasa.

Riwayat Penyakit Dahulu :

 Riwayat batuk menahun tidak ada.

 Riwayat sembelit menahun tidak ada.

 Riwayat penyakit prostat dan kencing tidak lampias tidak ada.

Riwayat Penyakit Keluarga

 Tidak ada anggota keluarga menderita penyakit yang sama

 Tidak ada anggota keluarga menderita penyakit hipertensi, diabetes melitus,


maupun penyakit jantung.

Riwayat Kebiasaan :

 Pasien bekerja sebagai tani, berkebiasaan mengangkat beban saat bekerja.

Pemeriksaan fisik

 Keadaan umum : sedang

 Kesadaran : composmentis

Tanda-tanda vital :

 Tekanan Darah : 110/70 mmHg

 Nadi : 80 kali/menit
4
 Frekuensi nafas : 20 kali/menit

 Suhu : 36,7oc

Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Leher : pembesaran KGB (-/-), JVP tidak meningkat

Cor :

inspeksi : ictus cordis tidak terlihat

palpasi : ictus cordis teraba di ICS V linea mid-clavicularis sinistra

perkusi : kiri ; ICS V 2 jari lateral linea midclavicularis sinistra

kanan ; ICS V linea sternalis dextra

auskultasi : S1 S2 reguler.murmur (-)

Pulmo :

inspeksi : simetris kanan dan kiri dalam keadaan statis dan dinamis

palpasi : vocal fremitus sama pada kedua lapang paru

perkusi : sonor di kedua lapang paru

auskultasi : vesikuler (+/+) rhonci (-/-) wheezing (-/-)

Abdomen :

inspeksi : distensi (-)

auskultasi : bising usus (+) normal

palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-)

perkusi : tympani

Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 dtk, edema (-/-)


5
Status lokalis

Genitalia : at regio inguinalis-scrotalis dextra

- tampak benjolan memanjang dari inguinal hingga scrotum,


berukuran 10x10x10 cm, warna sama dengan kulit sekitar, hiperemis
(-).

- perabaan konsistensi lunak, tidak lebih hangat dibanding kulit


sekitar, nyeri (-), fluktuasi (-), tes transluminasi (-), tes zieman (+)
reponible (+)

- BU (+)

Pemeriksaan Penunjang

1. Laboratorium
Pemeriksaan 23 Juli 2018 Nilai Normal
Darah Rutin
Hemoglobin 14,9 g/ml 13-17 g/dL
Hematokrit 40% 37-47 %
Leukosit 7380 /mm 5.000-10.000 /mm
Trombosit 215.000/mm 150-450 ribu
Hemostasis
Bleeding time 2’30” 1-3
Cloting time 5’ 1-6
Metabolisme
GD random 82 mg/dL <200 mg/dL
Fungsi Ginjal
Ureum 26 mg/dL 13-43 mg/dL
Kreatinin 1,0 mg/dL 0,6-1,1 mg/dL
Diagnosis banding : Hidrocele dextra

Diagnosis kerja : Hernia inguinalis lateral dextra reponible.

Penatalaksanaan :

- Operatif : Hernioraphy.

- Non operatif : - IVFD asering 8 jam/kolf

Prognosis

6
- Quo ad vitam : ad bonam

- Quo ad functionam : ad bonam

Laporan operasi

Tanggal operasi : 25-07-2018


Diagnosis pra bedah : Hernia inguinalis lateral dextra reponible
Diagnosis pasca bedah : Hernia inguinalis lateral dextra
Nama operasi : Hernioraphy + pemasangan mesh
Laporan operasi - Posisi supine, dekontaminasi lapangan operasi

- Insisi skin cruse inguinal dextra, buka ??

- ?? apponeurosis m. obliqus eskterna

- Identifikasi funiculus ??

- Fiksasi kantong hernia .... kantong, lakukan


herniotomi

- Pasang mesh

- Jahit luka .....

7
8
Dokumentasi :

9
10
Follow up :

26-07-2018
S/ nyeri post op (+) perdarahan (-) P/
demam (-) - IVFD asering 8 jam/kolf
- Cefotaxim 2x1 gram (iv)
O/ KU Kes TD N R S - Ketorolac 2x1 amp (iv)
sdg cm 120/70 82 20 36,5 - Ranitidin 2x1 amp (iv)
Cor BJ I-II reguler - Mobilisasi
Pulmo vesikuler +/+ - Diet MB
Abd. Supel BU (+)
Luka post op tertutup verban.
Hematom (-) Rembesan (-)

A/ Post op hernioraphy H-1

27-07-2018 P/
S/ nyeri post op berkurang, - IVFD asering 8 jam/kolf
perdarahan (-) demam (-) - Cefotaxim 2x1 gram (iv)
- Ketorolac 2x1 amp (iv)
O/ KU Kes TD N R S - Ranitidin 2x1 amp (iv)
sdg cm 130/70 80 18 37 - Mobilisasi
- Diet MB
Cor BJ I-II reguler
Pulmo vesikuler +/+ Acc rawat jalan
Abd. Supel BU (+) Th pulang :
Luka post op :pus (-) hematom (-) - - cefixim 2x100 mg
- - Paracetamo 3x500 mg
A/ Post op hernioraphy H-2

11
Objetif pembelajaran

12
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Hernia berasal dari bahasa latin “rupture”. Hernia merupakan protrusi atau
penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding atau rongga
yang bersangkutan. Hernia dapat terjadi di mana-mana, tetapi defek ini lebih sering
terjadi pada dinding abdomen terutama pada regio ingunal.1,2,3

Hernia dinding abdomen hanya muncul pada bagian aponeurosis dan facia yang
tidak dilapisi striated muscle, diantaranya inguinal, femoral, area umbilikus, linea alba,
dan bagian bawah garis semilunar, dan sisi yang insisi sebelumnya.2

Gambar 2-1. Tipe hernia dinding abdomen2

Pada hernia abdomen, penonjolan peritoneum yang berisi alat visera dari rongga abdomen melalui defek atau bagian yang lemah (locus

minoris resistance) dari lapisan muskulo aponeurotik dinding perut yang dicetuskan oleh peningkatan tekanan intra abdominal yang berulang atau

berkelanjutan.1,2,3

13
Bagian – bagian hernia: 2
1) Kantong hernia ; pada hernia
abdominalis berupa peritoneum
parietalis. Tidak semua hernia
memiliki kantong, misalnya
hernia incisional, hernia adiposa,
hernia intertitialis. Gambar 2-2. Bagian-bagian hernia
2) Isi hernia ; berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia,
misalnya usus, dan omentum.
3) Pintu hernia ; merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong
hernia.
4) Leher hernia ; bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong
hernia.

B. EPIDEMIOLOGI
Tujuh puluh lima persen dari semua kasus hernia di dinding abdomen muncul
didaerah sekitar inguinal. Hernia inguinal indirek lebih banyak daripada hernia inguinal
direk yaitu 2:1, hernia femoralis lebih mengambil porsi yang lebih sedikit.1,2

Hernia femoralis kejadiannya kurang dari 10 % dari semua hernia tetapi 40%
dari itu muncul sebagai kasus emergensi dengan inkarserasi atau strangulasi. Meskipun
kasus hernia femoralis pada pira dan wanita adalah sama, insiden hernia femoralis
dikalangan wanita 4 kali lebih sering dibandingkan pria, karena secara keseluruhan
sedikit insiden hernia inguinalis pada wanita.1,2

C. ANATOMI
Dinding abdomen

Lapisan-lapisan dinding abdomen terdiri dari (luar ke dalam):1,2,3

1. Kulit; garis-garis lipatan kulit alami berjalan konstan dan hampir horizontal di
sekitar tubuh. Secara klinis hal ini penting karena insisi sepanjang garis lipatan ini

14
akan sembuh dengan sedikit jaringan parut sedangkan insisi yang menyilang garis-
garis ini akan sembuh dengan jaringan parut yang menonjol.

Gambar 2-3. 9 Lapisan dinding abdomen2

2. Fascia superficialis, terdiri dari fascia camperi dan fascia scarpae.


a. Lapisan luar, Panniculus adiposus (fascia camperi): berhubungan dengan
lemak superficial yang meliputi bagian tubuh lain dan mungkin sangat tebal.
b. Lapisan dalam, Stratum membranosum (fascia scarpae): stratum
membranosum tipis dan menghilang di sisi lateral dan atas. Di bagian
inferior, stratum membranosum berjalan di depan paha dan di sini bersatu
dengan fascia profunda pada satu jari di bawah ligamentum inguinale.

3. Otot dinding anterior abdomen, antara lain: muskulus obliquus externus


abdominis, muskulus obliquus internus abdominis, muskulus transversus
abdominis. Otot dinding anterior abdomen:
a. Musculus obliquus externus abdominis; merupakan lembaran otot yang
dibentuk oleh dua lapisan: superfisial dan profunda menjadi aponeurosis
obliquus externus. Aponeurosis obliqus eksternus menjadi batas superfisial
dari kanalis inguinalis. Ligamentum inguinal terletak dari spina iliaca
anterior superior ke tuberculum pubicum. Ligamentum inguinale (Poupart)

15
merupakan penebalan bagian bawah aponeurosis muskulus obliqus
eksternus.
b. Muskulus obliquus internus abdominis; merupakan lembaran otot yang
terletak di profunda muskulus obliquus externus abdominis. Serabut tendon
yang terbawah bergabung dengan serabut-serabut yang sama dari muskulus
transversus abdominis membentuk conjoined tendon.

c. Muskulus transversus abdominis ; merupakan lembaran otot yang terletak di


profunda muskulus obliquus internus abdominis dan serabut-serabutnya
berjalan horizontal ke depan. Serabut tendo yang terbawah bersatu dengan
serabut tendo yang sama dari muskulus obliquus internus abdominis
membentuk conjoined tendon.

4. Fascia transversalis merupakan lapisan fascia yang membatasi muskulus


transversus abdominis. Ligamentum Cooper terletak pada bagian belakang ramus
pubis dan dibentuk oleh ramus pubis dan fascia. Ligamentum Cooper adalah titik
fiksasi yang penting dalam metode perbaikan laparoscopic sebagaimana pada titik
McVay.

5. Lemak extraperitoneal; merupakan selapis jaringan ikat yang mengandung lemak


dan terletak diantara fascia transversalis dan peritoneum parietale.

6. Peritoneum parietale; merupakan membrana serosa tipis (pelapis dinding


abdomen) dan melanjutkan diri ke bawah dengan peritoneum parietale yang
melapisi rongga pelvis.

Canalis Inguinalis

Kanalis inguinalis mengandung korda spermatika pada pria dan ligamentum


rotundum pada wanita. Kanal ini terletak secara oblik diantara lingkaran inguinal dalam
atau interna, yang berasal dari fasia transversalis, dan lingkaran inguinal superfisial atau
eksterna yang berasal dari aponeurosis oblikus eksterna.1,2,3

16
tas-batas Kanalis Inguinalisterior ; Aponeurosis M.Obliquus eksteraus abdominis, di
bagian lateralnya dibentuk oleh M.Obliquus internus.
- Posterior ; di bagian lateralnya dibentuk oleh aponeurosis M.Transversus abdominis
dan fascia transversalis. Di bagian medialnya dibentuk oleh aponeurosis
M.obliquus internus.
- Superior ; dibentuk oleh serat-serat M.Obliquus internus bagian bawah yang
berbentuk busur serta M. Transversus Abdominis dan aponeurosisnya.
- Inferior ; dibentuk oleh ligamentum inguinalis poupart serta ligamentum lacunare
Gimbernat
Gambar 2-4. Kanalis inguinalis 3
Segitiga Hasselbach

Segitiga Hasselbach dibentuk oleh ligamen inguinal pada sisi lateral, selubung rektus di bagian medial, dan pembuluh darah

epigastrik inferior pada sisi superior. Hernia direk terjadi jika ada penonjolan terhadap dinding kanalis inguinalis pada segitiga Hasselbach

(medial sampai inferior pembuluh darah epigastrik). Sehingga, hernia direk adalah penonjolan peritoneum melewati fasia transversalis

(berdekatan dengan korda spermatika). Kantung hernianya keluar kanal bersamaan dengan korda spermatika melewati lingkaran externa

menuju ke skrotum. Kantung hernia indirek umumnya ditemukan pada aspek anteromedial korda spermatika.1,2,3

Gambar 2-5. Segitiga hasselbach

D. ETIOLOGI
Hernia dapat terjadi karena anomali kongenital atau didapat. Berbagai faktor
penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia di anulus internus yang
cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Selain itu diperlukan

17
pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup
lebar itu. Penyebab terjadinya hernia1,2,3,4:

1) Hernia kongenital

a) Hernia kongenital sempurna : bayi sudah menderita hernia kerena adanya


defek pada tempat-tempat tertentu.

b) Hernia kongenital tidak sempurna : bayi dilahirkan normal (kelainan


belum tampak) tapi dia mempunyai defek pada tempat - tempat tertentu
(predisposisi) dan beberapa bulan (0 - 1 tahun) setelah lahir akan terjadi
hernia melalui defek tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan
intraabdominal (mengejan, batuk, menangis).

2) Aquisial adalah hernia yang buka disebabkan karena adanya defek bawaan tetapi
disebabkan oleh fakor lain yang dialami manusia selama hidupnya, antara lain :

a) Tekanan intraabdominal yang tinggi.

b) Kelemahan otot dinding abdomen atau jaringannya. Hal ini dapat terjadi
pada Atrofi karena proses penuaan, kurang olah raga, kehamilan
multipel, penyakit-penyakit kronis.

E. PATOFISIOLOGI
Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke - 8 dari
kehamilan, terjadinya desensus testikulorum melalui kanal tersebut. Penurunan testis itu
akan menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga terjadi tonjolan peritoneum yang
disebut dengan prosesus vaginalis peritonea. Bila bayi lahir umumnya prosesus ini telah
mengalami obliterasi, sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut.
Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup, karena testis yang kiri turun terlebih
dahulu dari yang kanan, maka kanalis inguinalis yang kanan lebih sering terbuka.
Dalam keadaan normal, kanal yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan.1,2
1. Kantung hernia yang telah ada (preformed sac)

18
Pada anak - anak penyebab utama yang terjadi pada hernia adalah patensi dari
processus vaginalis. Kegagalan penutupan processus vaginalis sebagian ataupun seluruh
lumen dapat menyebabkan terjadinya hernia inguinalis pada anak-anak.

2. Peningkatan Tekanan intra abdomen.


Bila tekanan intra abdomen meningkat, maka dinding abdomen akan meregang
dan kemudian menjadi robek sehingga timbul hernia. Batuk,, kehamilan ganda,
mengedan, mengangkat beban yang berat dapat menyebabkan peningkatan tekanan
intraabdomen menyebabkan kelemahan daerah inguinal.
Hal tersebut mendasari Shutter Mechanism, mekanisme ini terjadi pada saat otot
abdomen berkontraksi pada saat meningkatnya tekanan intra abdomen. Saat M.Obliquus
internus dan Transversus abdominis berkontraksi, serabut otot yang paling bawah
membentuk atap mioaponeurotik pada kanalis inguinalis. Conjoined tendon yang
melengkung meliputi spermatic cord yang berkontraksi mendekati ligamentum
inguinale sehingga melindungi fascia transversalis. Kontraksi ini terus bekerja hingga
mendekati cincin interna dan berfungsi menahan tekanan intraabdomen. Kontraksi M.
transverses abdominis menarik dan meregang annulus internus, iliopubic tract dan
fascia transversalis menebal sehingga cincin menutup seperti spincter. Pada saat yang
sama M. obliquus eksternus berkontraksi sehingga aponeurosisnya yang membentuk
dinding anterior kanalis inguinalis menjadi teregang dan menekan cincin interna pada
dinding posterior kanalis yang lemah. Proses ini memegang peranan penting dalam
pencegahan terjadinya hernia. Bila kompetensi fascia transversalis mencapai batas
maksimal dan disertai dengan patensi dari processus vaginalis maka terjadi hernia.

3. Kelemahan otot dinding abdomen atau jaringannya.


Hal ini dapat terjadi pada atrofi karena proses penuaan, kurang olah raga, kehamilan
multiple.

F. JENIS-JENIS HERNIA :
1. Menurut terlihat dan tidaknya :2
a. Hernia externs, misalnya hernia inguinalis, hernia scrotalis, dan sebagainya.
b. Hernia interns misalnya hernia diafragmatica, hernia obturatoria.
19
2. Menurut sifatnya : 1,2,3,4
c. Hernia reponibel adalah bila isi hernia dapat keluar masuk. Isi hernis keluar jika
berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak
ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
d. Hernia irreponibel adalah bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan ke
dalam rongga.

3. Menurut keadaannya : 1,2,3,4


a. Hernia inkarserata adalah hernia ireponibel yang disertai gangguan pasasse. Bila
isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali kedalam rongga perut disertai
akibat yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi.

b. Hernia strangulata adalah hernia ireponibel yang disertai gangguan vaskularisasi.


Jika bagian usus yang mengalami hernia terpuntir atau membengkak, dapat
mengganggu aliran darah normal dan pergerakan otot serta mungkin dapat
menimbulkan penyumbatan usus dan kerusakan jaringan. Ditandai dengan nyeri
dan tanda-tanda inflamasi.

4. Menurut lainnya : 1,2,3,4


a. Hernia petit yaitu hernia di daerah lumbosacral.
b. Hernia spigelli yaitu hernia ini dapat terjadi apabila adanya suatu defek pada
fascia spigelian yaitu pada sudut lateral dari M.Rectus abdominis, pada bagian
yang berbentuk semilunaris
e. Hernia richter yaitu hernia dimana hanya sebagian dinding usus yang terjepit.
f. Hernia Insisional, merupakan hernia iatrogenic yang terjadi pada 2- 10% dari
operasi abdomen karena terjadinya kerusakan dari penutupan fascia pada operasi
g. Hernia scrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke scrotum secara
lengkap.
h. Hernia littre adalah hernia yang isinya adalah divertikulum meckeli.

Klasifikasi hernia inguinalis

a. Hernia Inguinalis Direkta (Medialis)


20
Hernia ini merupakan jenis akuisita disebabkan oleh faktor peningkatan tekanan
intraabdomen kronik dan kelemahan otot dinding di trigonum Hesselbach.
Trigonum Hesselbach merupakan daerah dengan batas:
· Inferior: Ligamentum Inguinale.
· Lateral: Vasa epigastrika inferior.
· Medial: Tepi m. rectus abdominis.
Dasarnya dibentuk oleh fascia transversalis yang diperkuat serat aponeurosis
m.transversus abdominis.

b. Hernia Inguinalis Indirekta (lateralis)


Hernia ini disebut lateralis karena keluar dari lateral pembuluh epigastrika
inferior. Dikenal sebagai indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran, yaitu
annulus dan kanalis inguinalis. Dapat terjadi secara kongenital atau akuisita:
1) Hernia inguinalis indirekta kongenital.
Terjadi bila processus vaginalis peritonei pada waktu bayi dilahirkan
sama sekali tidak menutup. Sehingga kavum peritonei tetap berhubungan dengan
rongga tunika vaginalis propria testis.
2) Hernia inguinalis indirekta akuisita.
Terjadi bila penutupan processus vaginalis peritonei hanya pada suatu
bagian saja. Sehingga masih ada kantong peritoneum yang berasal dari processus
vaginalis yang tidak menutup pada waktu bayi dilahirkan. Sewaktu-waktu
kentung peritonei ini dapat terisi dalaman perut,

c. Hernia Pantalon
Merupakan kombinasi hernia inguinalis lateralis dan medialis pada satu sisi.
Kedua kantung hernia dipisah oleh vasa epigastrika inferior. Keadaan ini
ditemukan kira-kira 15% dari kasus hernia inguinalis. Diagnosis umumnya sukar
untuk ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, dan biasanya baru ditemukan sewaktu
operasi.

Klasifikasi hernia inguinal Nyhus 1,2,3,4

21
G. DIAGNOSA
Manifestasi klinis

Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada
hernia inguinalis reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan di lipat paha
yang muncul waktu berdiri, batuk, bersin, mengangkat benda berat atau mengedan, dan
menghilang saat berbaring. Pasien sering mengatakan sebagai turun berok. Hernia
inguinal sering terlihat sebagai tonjolan intermitten yang secara berangsur,-angsur
meningkat dalam ukuran. Mual, muntah, afflatus dan tidak BAB timbul jika terjadi
inkarserasi, serta nyeri jika terjadi strangulasi karena nekrosis atau gangren.1,4

Pemeriksaan fisik

Pada inspeksi hernia inguinalis lateralis tampak sebagai benjolan lonjong yang
berjalan dari kraniolateral ke kaudomedial di inguinal, sedangkan hernia inguinalis
medialis benjolannya oval atau bulat. Gambaran yang menyokong adanya hernia indirek
mencakup turunnya kedalam skrotum, yang sering ditemukan dalam hernia indirek,
tetapi tak lazim dalam hernia direk. Pada palpasi, jari telunjuk diletakkan disisi lateral
kulit skrotum dan dimasukkan sepanjang kanalis inguinalis. Pada umumnya pada jari
tangan pemeriksa didalam kanalis inguinalis, maka hernia inguinalis indirek maju

22
menuruni kanalis pada samping jari tangan, sedangkan penonjolan yang langsung
keujung jari tangan adalah khas dari hernia direk.1,4

Tiga teknik pemeriksaan sederhana, Cara pemeriksaannya sebagai berikut 1,4:


Pemeriksaan Finger Test :
1. Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.
2. Dimasukkan lewat skrotum melalui
anulus eksternus ke kanal inguinal.
3. Penderita disuruh batuk:
 Bila impuls diujung jari
berarti hernia inguinalis lateralis.
 Bila impuls disamping jari hernia

inguinnalis medialis.
Gambar 2-6. Finger test

Pemeriksaan Zieman Test :


1. Posisi berbaring, bila ada benjolan
masukkan dulu (biasanya oleh penderita).
2. Hernia kanan diperiksa dengan tangan
kanan.
3. Penderita disuruh batuk bila rangsangan
pada :
 jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis.
 jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis.
 jari ke 4 : Hernia Femoralis.
Gambar 2-7. Zieman test

Pemeriksaan Thumb Test :


 Anulus internus ditekan dengan ibu jari

dan penderita disuruh mengejan


 Bila keluar benjolan berarti Hernia
Inguinalis medialis.
 Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia

Inguinalis Lateralis.

23
Gambar 2-8. Thumb Test

Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium4
Untuk mendukung kearah adanya inkarserata atau strangulasi, sebagai berikut:
 Leukocytosis dengan shift to the left yang menandakan strangulasi.
 Elektrolit, kadar kreatinin yang tinggi akibat muntah-muntah dan menjadi
dehidrasi.
2. Pemeriksaan Radiologis4
Pemeriksaan radiologis tidak diperlukan pada pemeriksaan rutin hernia.
Ultrasonografi dapat digunakan untuk membedakan adanya massa pada lipat paha
atau dinding abdomen dan juga membedakan penyebab pembengkakan testis

H. PENATALAKSANAAN
Para ahli bedah merekomendasikan operatif untuk penatalaksanaan definitif
hernia inguinalis mengingat adanya pelebaran progresif dan kelemahan, serta potensi
inkaserasi dan strangulasi.1,2,3,4
Penatalaksanaan hernia inguinalis bergantung sifat reducible atau irreducible
ataupun strangulasi. Pada umumnya semua hernia harus diterapi dengan operasi. Karena
potensinya menimbulkan komplikasi inkarserasi atau strangulasi lebih berat
dibandingkan resiko yang minimal dari operasi hernia. Akan tetapi, pada hernia
inguinalis reducible dengan pembukaan annulus yang besar dan kantung hernia yang
relatif kecil, resiko strangulasi sangat kecil, penggunaan sabuk penopang (trusses and
surgical belt) dapat berguna untuk menahan penonjolan hernia. Hal ini dilakukan bila
tindakan pembedahan tidak dapat dilakukan atau ditunda. Selain itu, segala aktivitas
yang dapat meningkatkan tekanan intraabdomen harus dihindari seperti mengangkat
benda-benda berat, mengedan.1,2
Pada hernia irreducible dilakukan terapi konvensional dengan menggunakan
analgetik dan muscle relaxant untuk mendorong penonjolan ke dalam abdomen. Apabila
terapi konvensional tidak berhasil, tindakan operasi harus segera dilakukan. Keadaan
strangulasi dapat menyebabkan gangren pada usus dalam waktu sekitar 6 jam.
Terkadang ditemukan keadaan hernia irreducible yang melebihi waktu 6 jam tanpa
disertai tanda klinis strangulasi, dapat dilakukan operasi elektif pada pasien ini.2

24
Konservatif :2
- Reposisi bimanual : tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong sedangkan
tangan kanan mendorongnya ke arah cincin hernia dengan tekanan lambat dan
menetap sampai terjadi reposisi
- Reposisi spontan pada anak : menidurkan anak dengan posisi Trendelenburg,
pemberian sedatif parenteral, kompres es di atas hernia, kemudian bila berhasil,
anak boleh menjalani operasi pada hari berikutnya.

Operatif :
Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan hernioplasti. Pada
herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka
dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlengketan, kemudian direposisi. Kantong hernia
dijahit ikat setinggi mungkin kemudian dipotong. 1,2,3
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus
dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya
dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan herniotomi. Dikenal berbagai metode
hernioplastik seperti memperkecil anulus inguinalis internus dangan jahitan terputus,
menutup dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan m. tranversus
internus abdominis dan m. oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama
conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut metode Bassini, atau
menjahitkan fasia tranversa m. transversus abdominis, m.oblikus internus abdominis
keligamentum cooper pada metode Mc Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi residif
berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti mersilene,prolene mesh atau
marleks untuk menutup defek.1,2
Pada anak-anak dilakukan herniotomi tanpa hernioraphy karena masalahnya
pada kantong hernia sedangkan keadaan otot-otot abdomen masih kuat (tidak lemah),
maka dilakukan pembebasan kantong hernia sampai dengan lehernya, dibuka dan
dibebaskan isi hernia, jika ada perlekatan lakukan reposisi, kemudian kantong hernia
dijahit setinggi-tinggi mungkin lalu dipotong. Karena herniotomi pada anak-anak sangat
cepat dan mudah, maka kedua sisi dapat direparasi sekaligus jika hernia terjadi bilateral.
Tujuan pembedahan hernioplasti adalah untuk mencegah penonjolan melalui
orifisium myopektineal. Integritas orifisium myopektineal dapat diperbaiki melalui dua

25
cara sesuai dengan konsep Fruchaud, yaitu (1) penutupan aponeurosis orifisium
myopektineal, dan (2) penggunaan prostetik sintetik untuk menutup defek pada fasia
transversalis. Kedua metode ini dapat dikombinasikan.2
Hernioplasti penting artinya didalam mencegah terjadinya residif, berbagai metode
hernioplastik,seperti: 1,2,3
 Bassini, dahulu merupakan metode yang sering digunakan, dengan memperkecil
annulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat
fascia transversa, dan menjahitkan pertemuan m. transversus abdominis dan m.
obliquus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum
inguinale Poupart.
 Mc Vay, dengan menjahitkan fascia transversa, m. transverses abdominis dan
pedikel aponeurosis dari batas inferior m. obliquus externus dengan ligamentum
Cooper
 Lichtenstein, menggunakan propilene (bahan sintetik) menutup segitiga
Hasselbach dan mempersempit anulus internus.

Tidak ada satupun tehnik yang dapat menjamin bahwa tidak akan terjadi residif.
Yang penting diperhatikan ialah mencegah terjadinya tegangan pada jahitan dan
kerusakan pada jaringan. Umumnya dibutuhkan plastik dengan bahan prostesis mesh.

Gambar 2-9. Polypropilene mesh

26
Gambar 2-10. Teknik Lichenstein tension-free repair with mesh

Dikenal dengan tension-free repair with mesh pada teknik Lichtenstein dan
Rutkow yang merupakan kelompok operasi hernia yang tidak menjahit lapisan fascia
untuk memperbaiki defek, tetapi menempatkan sebuah prostesis, yaitu Mesh. Mesh ini
dapat memperbaiki defek hernia tanpa menimbulkan tegangan dan ditempatkan di
sekitar fascia. Hasil yang baik diperoleh dengan teknik ini dan angka kekambuhan
dilaporkan kurang dari 1 persen. Beberapa ahli bedah meragukan keamanan jangka
panjang penggunaan implant prosthesis, khususnya kemungkinan infeksi atau
penolakan. Akan tetapi pengalaman yang luas dengan mesh telah mulai menghilangkan
anggapan ini, dan teknik ini terus populer.2,3
I. KOMPLIKASI
Komplilkasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi
hernia dapat tertahan dalam kantong hernia pada kasus ireponibel; ini dapat terjadi kalau
isi terlalu besar, atau terjadi perlekatan. Pada hernia inkarserata yang mengandung usus
akan terjadi obstruksi usus kemudian dapat terjadi gangguan keseimbangan cairan,
elektrolit dan asam basa. Isi hernia dapat “tercekik” oleh cincin hernia sehingga
menimbulkan gejala obstruksi sederhana. Bila cincin hernia sempit, kurang elastis atau
kaku, sering terjadi jepitan parsial. Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan
perfusi ke jaringan isi hernia. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi
udem organ atau struktur di dalam hernia. Timbulnya udem mengakibatkan jepitan
semakin bertambah sehingga suplai darah terhambat. Akibatnya jaringan isi akan
27
nekrosis dan hernia akan berisi cairan transudat serosanguinis. Bila isi jaringan adalah
usus, bisa terjadi perforasi yang menimbulkan abses lokal, fistel, hingga peritonitis.
Pada pemeriksaan local ditemukan benjolan yang tidak dapat dimasukkan kembali
disertai nyeri tekan, penderita akan mengeluh nyeri hebat dan dapat ditemukan tanda
peritonitis atau abses local. Dalam hal ini hernia strangulata merupakan
kegawatdaruratan dan butuh penanganan segera.1,2

28
DAFTAR PUSTAKA

1. R. Sjamsuhidajat. Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi I.


Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. 1997. Hal 700-18

2. Mark.a. malangoni, Raymond. J. Gagliardi. Sabiston Textbook


of Surgery. 17th ed, Elsevier Saunders; 2004. Chapter 42,
Hernias ; p.1199-1218

3. Justin P. Wagner, F. Charles Brunicardi, Parviz K. Amid, and


David C. Chen. Schwartz’s Principles of Surgery.10th ed, Mc
Graw Hill; 2015. Chapter 37, Inguinal hernia; p.1495-94.

4. A. Mansjoer, Suprohaita, W.K. Wardhani, W. Setiowulan. Kapita


Selekta Kedokteran. Edisi III, Jilid II. Penerbit Media
Aesculapius, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 2000. Hal 313-17

29