Anda di halaman 1dari 11

KLIPING

‘’ INTOLERANSI DAN RADIKALISME

Untuk memenuhi tugas pengganti mata kuliah Pancasila

DISUSUN OLEH :

Rananda Junezar Saputra Aji 472015019


Dewasa ini panggung kehidupan negara Indonesia semakin disesaki dengan
berbagai persoalan hidup bernegara. Salah satu persoalan yang paling berbahaya adalah
nilai-nilai formal dalam institusi negara yang selalu diterima dan diakui oleh masyarakat
luas perlahan mulai digeser secara radikal dan digantikan secara eksklusif dan sepihak
oleh kelompok-kelompok tertentu dengan nilai-nilai atau keyakinan-keyakinan yang
sebenarnya masih belum jelas kajiannya. Tidak jarang akhirnya persolan radikalisme itu
menciptakan beragam persoalan baru sampai pada masyarakat akar rumput bahkan
sebagian masyarakat merasa terancaman akan keamanan hidup bernegara. Kehadiran
radikalisme ke permukaan tentu saja sangat memiriskan sebagian masyarakat mengingat
bahayanya sampai menggerogoti keamanan masyarakat akar rumput dan mengguncang
stabilitas sosial politik yang pada akhirnya mengundang kampanye perlawanan untuk
meredam bahaya turunannya.

Perlawanan radikalisme terhadap negara di sini justru kelihatan semakin miris


mengingat yang tampil justru antara negara dengan anggota masyarakatnya sendiri bahkan
antara masyarakat dengan masyarakat sendiri sehingga tidak heran dampaknya akan
merusak pertumbuhan demokrasi. Sehingga persoalan baru yang kemudian muncul adalah
kelompok-kelompok dengan memakai baju agama atau paham tertentu berambisi
memonopili seluruh ruang publik. Perlawanan terhadap negara dari anggota
masyarakatnya di sini secara radikal tampil secara individu ataupun kelompok yang
biasanya sudah terorganisir sehingga pada akhirnya kampanye perlindungan terhadap hak
asasi manusia menjadi tidak relevan. Di sini akhinya kelihatan dengan radikalisme negara
justru mau tidak mau dipaksa harus memusuhi anggota masyarakatnya sendiri.

Kekerasan terhadap negara dan masyarakat luas yang demikian itu dapat
diterjemahkan sebagai kekerasan individu atau kelompok yang bersifat radikal dengan
iming-iming memperluas jaringan kelompoknya menjadi lebih luas. Iming-iming
kelompok radikalisme ini bergerak menyasar pada masyarakat akar rumput entah itu
generasi muda maupun generasi tua dengan beragam motif seperti sosial, politik dan
ekonomi yang dikemas dalam balutan agama. Sehingga akhirnya agama justru dituduh
sebagai motif radikalisme yang sangat berbahaya untuk menyasar masyarakat akar rumput
sekaligus pada saat yang sama mengganggu keamanan dan stabilitas sosial politik negara.
Agama yang bekerja secara formal sebagai institusi moral dalam lingkungan negara untuk
mengawasi dan menuntun masyarakat luas justru secara salah kaprah digunakan untuk
mengguncang negara itu sendiri. Miskinnya perspektif kritis dalam memahami
keagamaan kemudian diduga menjadi salah satu sumber radikalisme agama. Cara-cara
kolot seperti kekerasan yang sudah lama ditinggalkanpun kemudian kembali dipakai
untuk mengguncang stabilitas negara.

Persoalan radikalisme ini tidak menafikan lagi sudah sangat menyesaki ruang
publik negara Indonesia, dan semakin berbahaya apabila diabaikan tanpa penyelesaian
secara tuntas oleh negara maupun masyarakat itu sendiri. Negara bersama masyarakatnya
dipaksa harus bersikap kritis dan peka terhadap persoalan radikalisme serta pada saat yang
sama harus berusaha mencari motif-motif pembentuknya dalam upaya penyelesaiannya.
Pada titik ini persoalan radikalisme dengan motif apapun sejauh bergerak menggangu
stabilitas negara merupakan persoalan publik, dan tentu saja akhir-akhir ini gaungnya
sudah semakin menyadari semua anggota masyarakat akan bahaya yang lebih luas bahwa
radikalisme hanya akan menyuburkan kebencian antar sesama dalam masyarakat yang
pada akhirnya menggeser nilai toleransi ke lubang nihilitas atau menjadi intoleransi. Di
situ radikalisme bekerja secara ekstrim menihilkan nilai toleransi antar sesama sehingga
kampanye untuk membendung arus ekstrimisme dan nihilitas nilai toleransi sekaligus
untuk meredam radikalisme menjadi kampanye publik yang sangat wajib untuk
dikembangkan secara luas.

Radikalisme Agama

Gaung dari radikalisme ini sebenarnya sudah lama masuk ke dalam ruang publik
negara Indonesia. Munculnya isu politis mengenai radikalisme agama merupakan
tantangan baru bagi negara maupun seluruh masyarakat itu sendiri untuk menjawabnya.
Radikalisme agama merupakan masalah yang banyak dibicarakan dalam wacana politik
akibat kekuatan potensi media yang menciptakan persepsi masyarakat. Radikalisme
berarti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan social dan
politik dengan cara kekerasan. Secara semantik radikalisme berarti upaya individu atau
kelompok tertentu yang memaksakan paham atau keyakinannya untuk menggantikan
paham atau keyakinan negara. Secara umum radikalisme dikenal sebagai paham yang
menghendaki perubahan secara drastis dengan kecenderungan menggunakan kekerasan
sesuai ideologi yang dianutnya sendiri.

Contoh peragaan kekerasan yang menimpa jemaat Ahmadiyah di Cikeusik


Pandeglang Banten dan pembakaran tiga greja di Temanggung Jawa Tengah merupakan
contoh kekerasan tersebut. Menurut Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama, Ahmad
Bagja, radikalisme muncul karena ketidakadilan yang terjadi di dalam masyarakat.
Kondisi tersebut bisa saja disebabkan oleh negara maupun kelompok lain yang berbeda
paham atau keyakinan. Pihak yang merasa diperlakukan secara tidak adil lalu melakukan
perlawanan. Radikalisme tak jarang menjadi pilihan bagi sebagian kalangan umat
beragama untuk merespons sebuah keadaan. Bagi mereka, radikalisme merupakan sebuah
pilihan untuk menyelesaikan masalah. Namun sebagian kalangan menentang
radikalisme dalam bentuk apapun sebab mereka meyakini radikalisme justru tak
menyelesaikan apapun bahkan akan melahirkan masalah lain yang memiliki dampak
berkepanjangan. Lebih jauh lagi, radikalisme justru akan menjadikan citra agama sebagai
yang tidak toleran dan sarat kekerasan. Faktor-faktor yang diduga menyebabkan gaung
radikalisme semakin keras di telinga masyarakat dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Secara historis dapat melihat bahwa konflik yang ditimbulkan oleh kalangan radikal
dengan seperangkat alat kekerasannya dalam menentang kelompok lain ternyata lebih
berakar pada masalah sosial-politik. Dengan membawa bahasa dan simbol serta slogan-
slogan agama kaum radikalis mencoba mengggalang kekuatan untuk mencapai tujuan
politiknya.

2. Dari faktor keagamaan harus diakui bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme
adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan
untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan
sebagai faktor emosi keagamaannya, walaupun gerakan radikalisme selalu mengibarkan
bendera dan simbol agama seperti dalih membela agama.

3. Faktor kebijakan pemerintah, bahwa ketidakmampuan pemerintahn bertindak


memperbaiki situasi atas berkembangnya frustasi dan kemarahan sebagian umat beragama
yang disebabkan dominasi ideologi. Dalam hal ini elit-elit pemerintah belum mencari akar
yang menjadi penyebab munculnya tindak kekerasan sehingga tidak dapat mengatasi
problematika yang dihadapi oleh masyarakat.

Ketidakadilan politik dan ketimpangan kemakmuran yang terus melebar sering


kali mendasari penggerakan kaum radikal ekstrimisme. Selain itu juga pengerasan narasi-
narasi keagamaan maupun paham-paham politiknya yang pada akhirnya mendorong
pergeseran nilai-nilai luhur negara Indonesia. Krisis ini terjadi karena hilangnya kesadaran
akan keragaman dalam komunikasi bersama atau dialog atas dasar solidaritas bersama.
Sehingga untuk meruntuhkan narasi-narasi negatif seperti kelompok-kelompok yang
bergerak secara radikal dengan memakai baju agama membutuhkan komitmen politik
bersama baik itu dari negara maupun dari komitmen bersama dari masyarakat. Negara
harus bergerak menekan kelompok-kelompok radikal yang tidak pernah membina
toleransi antar sesama ini.

Sementara itu Wakil Ketua SETARA Institute, Bonar Tigor Naipospos


mengatakan intoleransi merupakan tangga pertama menuju radikalisme dan terorisme.
Intoleransi dan radilkalisme hanya satu langkah menuju terorisme. Sedanghkan kekerasan
yang mengatasnamakan agama berdasarkan catatan Komnas HAM di tahun 2015 terdapat
87 kasus, dibanding tahun sebelumnya terjadi peningkatan signifikan. Komnas HAM
mencatat4 bentuk kekerasan antara lain, (1) perusakan rumah ibadah, (2) pelarangan
terhadap aktifitas keagamaan, (3) diskriminasi dengan alasan agama, (4) pemaksaan
keyakinan tertentu.

Sedangkan dari hasil survei Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme


Yogyakarta misalnya menunjukan pemicu pertikaian antar umat beragama antara lain, (1)
kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang agama yang mereka yakini
sebanyak 42 persen, (2) provokasi pemimpin agama sebanyak 23 persen, (3) aliran agama
sebanyak 16 persen, (4) karena pendirian rumah ibadah sebanyak 4 persen, (5) sedangkan
karena isu kekristenan dan islaminisasi sebanyak 3 persen. Dengan demikian mengikuti
Rowls bahwa masyarakat modern demokratis hanya mungkin bersifat stabil jika
dibangunan atas dasar prinsip toleransi. Doktrin-doktrin komprehensif yang menyangkal
kerja sama secara politis dan sosial serta berusaha memaksakan idelogi atau pahamnya
kepada semua orang seperti radikalisme agama, Rowls namakan pandanagan hidup
irasional. Negara menurut Rowls harus membasmi habis pandangan-pandangan hidup
seperit ini.

o Contoh Kasus :

1. Pura di Lumajang dirusak orang tak dikenal

IDN Times/Ardiansyah Fajar

Tak hanya Lamongan, di hari yang sama, masyarakat Lumajang juga digegerkan
dengan perusakan sebuah Pura di daerah Senduro. Para pelaku menghancurkan setidaknya
tiga arca. "Pelaku ini sepertinya memanfaatkan kasus yang ada sekarang ini. Makanya
harus diusut mulai sekarang. Jangan sampai meluas," tegas Kabid Humas Polda Jatim,
Kombes Pol Frans Barung Mangera saat melakukan konferensi pers, Senin (19/2).

Tak hanya Polda Jawa Timur, Frans mengatakan bahwa kasus ini juga mendapat
perhatian dari Mabes Polri. Wakapolri, Komjen Syafruddin langsung turun ke lapangan
untuk memeriksa kejadian tersebut.

2. Penyerangan terhadap ulama di Lamongan


Dok. IDN Times/Istimewa

Penyerangan terhadap ulama juga menimpa seorang kiai di Lamongan bernama


Abdul Hakam Mubarok pada Ahad (19/2). Korban yang merupakan pengasuh Pondok
Karangasem Paciran Lamongan tersebut diserang oleh seorang pria yang berlagak gila.

Namun, saksi mata yang berada di lokasi mengatakan bahwa tampilan pelaku tak
seperti orang gila karena tak tampak kumal. Bahkan, gigi dan baju yang dipakainya
tampak bersih. Yang lebih janggal, pelaku diketahui sudah mondar-mandir di lokasi sejak
beberapa hari sebelumnya.

Sempat menuai amarah massa, pria berambut cepak itu pun diamankan di Mapolsek
Paciran. Informasi terakhir, pria tersebut dibawa ke RS Bhayangkara untuk diperiksa
kejiawaannya.

3. Perusakan masjid di Tuban

Belum usai kasus perusakan gereja di Yogya dan pengusiran Bikhsu di Tangerang,
penyerangan tempat ibadah kembali terjadi. Kali ini, masjid Baiturrahim di Tuban, Jawa
Timur diserang sekolompok orang.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera
mengatakan, perusakan masjid terjadi pada Selasa (13/2) pukul 01.00 WIB. Pada pukul
03.00 WIB, Polres Tuban langsung mengamankan para pelaku yang berjumlah dua
orang.
Satu pelaku bernama M Zaenudin (40) warga Desa Karangharjo RT 02 RW 01,
Kecamatan Kragan, Rembang, Jawa Tengah. Zaenudin diamankan di Polda Jatim karena
indikasi gangguan jiwa, satu lain masih dalam penangangan Polres Tuban.

Sebelum kejadian, pelaku Zaenudin pada malam hari mencari-cari seorang Kiai Pondok
Al Ishlahiyah, Gus Mad. Seorang warga, Muhammad, sempat menanyakan tujuan
pelaku mencari-cari hingga ke belakang masjid. Namun, pelaku malah marah dan
memukul Muhammad.

Pelaku kemudian pemecahan kaca masjid, hingga masyarakat sekitar menangkapnya.


Pelaku kemudian diserahkan kepada kepolisian setempat. Dalam proses pemeriksaan,
kepolisian menemukan buku-buku ilmu sufi dan buku makrifat. Namun dugaan ilmu
menyimpang dan lain-lain masih dikembangkan Polda Jatim.

4. Ancaman bom di kelenteng Kwan Tee Koen Karawang

Selain penyerangan gereja, pada hari yang sama juga terjadi ancaman ledakan bom di
Kelenteng Kwan Tee Koen, Karawang, Jawa Barat. Tersangka bernama Dadang
Purnama alias Daeng alias Dawer Bin Adang Rahmat.

Kapolres Karawang AKBP Hendy F Kurniawan mengatakan ancaman bom bermula dari
kedatangan Dawer ke kelenteng, untuk memberikan Alquran kecil kepada pengurus
kelenteng pada Minggu 11 Februari 2018, sekitar pukul 05.15 WIB.

Setelah membuka Alquran, Handy mengatakan, pengurus menemukan selembar kertas


berisi ancaman bom dan permintaan puluhan juta rupiah. Kertas tersebut bertuliskan,
"Rp63.000.000, Sejarah Pembodohan Uang. Sudah terungkap sekarang mending loe TF
: ke Rek gua 1091620125 (BCA) atau GUA BOM ini tempat loe'."
Setelah menyelidiki kasus ini, Senin (12/2), sekitar pukul 01.00 WIB polisi menangkap
Dawer di rumah orang tuanya di Babakan Sananga Timur, RT 001 RW 004, Kelurahan
Adiarsa Timur, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Polisi menyita sejumlah barang bukti dari penangkapan pelaku yang kelahiran Cirebon,
1 September 1993 itu, di antaranya satu Alquran kecil sampul warna merah yang
ditemukan di kelenteng), uang selembar pecahan Rp10 ribu, satu lembar kertas berisi
ancaman, dan satu buku berjudul Aku Cinta Islam.

5. Serangan Gereja Santa Lidwina Sleman

Kasus kekerasan agama terjadi di Yogyakarta. Seorang pemuda bersenjata pedang


menyerang jemaat di Gereja Santa Lidwina, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping,
Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada Minggu (11/2).

Peristiwa ini menyebabkan Romo Prier dan dua jemaatnya serta seorang polisi
mengalami luka berat akibat sabetan senjata tajam. Pelajar berinisial S asal Banyuwangi,
Jawa Timur itu akhirnya dilumpuhkan polisi dengan senjata api di bagian kaki dan perut.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutkan, S diduga terpengaruh radikalisme hingga


melakukan aksi penyerangan ke tempat ibadah. Dia pernah tinggal di Poso dan
Magelang. Dia juga pernah membuat paspor untuk pergi ke Suriah, tapi gagal.
Kepolisian masih menyelidiki kemungkinan S bekerja sendiri (lone wolf) atau terlibat
jaringan teroris lain. Kondisi S saat ini belum dapat dimintai keterangan karena
mengalami luka tembak yang cukup parah.

6. Persekusi terhadap Biksu di Tangerang

Kasus kekerasan agama pertama sepanjang 2018 yakni persekusi terhadap Biksu
Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di Desa Caringin Kecamatan Legok, Kabupaten
Tangerang, Banten, pada Rabu (7/2) dan baru viral di media sosial pada 9-10 Februari
lalu.

Sekelompok orang tiba-tiba menggerebek kediaman Mulyanto. Mereka menuding sang


biksu sering mengadakan kegiatan ibadah agama Buddha di rumahnya. Yang lebih
ekstrem lagi, orang-orang itu menuding ada upaya dari Mulyanto untuk mengajak warga
sekitar berpindah agama.

Dari video yang beredar hingga viral itu, Mulyanto kemudian diminta membuat surat
pernyataan dan meninggalkan rumahnya pada 4 hingga 10 Februari 2018. Di bagian
akhir video, ia mengaku siap diproses secara hukum jika terbukti melanggar surat
pernyataan tersebut.

Romo Kartika yang mewakili pemuka agama Buddha membantah akan dilakukan
kegiatan ibadah di Desa Babat. Ia juga membantah akan dibangun Vihara di area
tersebut.

Ia menjelaskan setiap Minggu Biksu Mulyanto mendapat kunjungan dari warga dari luar
Desa Babat, karena ingin memberikan bekal makanan. Mulyanto pun membalasnya
dengan mendoakan orang-orang yang telah memberikan bekal makanan itu. Romo
Kartika mengakui ada kekeliruan, sehingga terdapat mispersepsi terhadap kegiatan
Biksu Mulyanto.

Sedangkan, petinggi di desa tersebut mengklaim mereka tidak anti terhadap warga dari
agama lain. Bahkan, mereka menyebut sejak dulu selalu bersikap toleran terhadap
pemeluk agama lain baik itu Nasrani, Buddha atau Khonghucu.

7. Dua serangan brutal terhadap tokoh Islam

Setara Institut menyebutkan terjadi dua serangan brutal terhadap tokoh agama. Pertama
penganiayaan ulama sekaligus Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) HR Prawoto,
oleh orang tak dikenal pada Kamis (1/2), hingga nyawanya tak dapat diselamatkan.

Kedua, penganiayaan pada ulama, tokoh NU, sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al
Hidayah Cicalengka Bandung, Jawa Barat, KH Umar Basri pada Sabtu (27/1).

Kesimpulan
Negara Indonesia sejak lama sudah berdiri kokoh di atas ideologi sepanjang
masanya Pancasila. Gerakan untuk kembali menghayati pancasila menjadi gerakan untuk
membongkar akar persoalan radikalisme di negara Indonesia. Penghayatan terhadap nilai
Persatuan seluruh Indonesia dalam biblis pancasila dapat mengembalikan rasa toleransi
akan perbedaan dan keberagaman yang pada akhirnya mendorong lahirnya sikap toleransi,
dan kerjasama antar beragama unsur kepercayaan. Upaya untuk membangun kepercayaan
antara tokoh-tokoh agama atau tokoh-tokoh masyarakat agar rukun juga dengan dialog-
dialog perdamaian untuk memberi pemahaman kepada kelompok-kelompok radikal yang
miskin perspektif akan seluruh agama yang tumbuh kembang dan diakui secara formal
oleh negara.