Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan.


 Dapat membedakan larutan standar primer dan larutan standar sekunder.
 Dapat melakukan standarisasi larutan.
 Menentukan kadar asam asetat yang terdapat dalam asam cuka yang beredar
di pasaran.

1.2 Dasar Teori


1.2.1 Larutan standar
Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya diketahui secara
pasti atau dapat pula diartikan sebagai bahan kimia yang digunakan untuk
menetapkan konsentrasi larutan standar sekunder atau larutan yang harga
konsentrasinya masih dapat berubah karena pengaruh lingkungan.
Dengan demikian, maka dikenal ada dua jenis larutan, yaitu larutan
standar primer dan larutan standar sekunder. Larutan baku primer berfungsi
untuk membakukan atau untuk memastikan konsentrasi larutan tertentu, yaitu
larutan atau pereaksi yang ketepatan/kepastian konsentrasinya sukar diperoleh
melalui pembuatannya secara langsung. Larutan yang sukar dibuat secara
kuantitatif ini selanjutnya dapat berfungsi sebagai larutan baku ( disebut
larutan baku sekunder).
Zat yang digunakan sebagai zat baku primer harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
 Kemurniannya tinggi ( pengotornya tidak lebih dari 0,02%)
 Stabil
 Memiliki bobot molekul atau bobot ekuivalen tinggi
 Larutannya bersifat stabil (HAM, 2006:124 )
1.2.2 Dasar Volumetri dan Titik Ekuivalen
Volumetri atau titrimetri adalah analisis jumlah berdasarkan pada
pengukuran volume larutan pereaksi (larutan penitar/titran/larutan baku) yang
direaksikan dengan larutan contoh/sampel yang ditentukan kadarnya (titrit).
Pelaksanaan pengukuran volume ini disebut titrasi atau penitraan, yaitu
larutan penitar ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam larutan contoh atau
sampel sampai terjadi titik akhir titrasi (Chon & Krisnandi,1982:1)
Titik ekuivalen adalah titik akhir titrasi, yaitu dimana suatu titrasi akan
dihentikan karena telah mencapai suatu kesetaraan. Untuk mengetahui kapan
suatu titrasi dikatakan setara ialah bila pada larutan titrit telah terjadi
perubahan warna. Hal ini disebabkan karena penambahan indikator sebagai
larutan petunjuk.

1.2.3 Indikator PP
Indikator PP adalah asam dwiprotik yang tak berwarna. Mula-mula zat
ini berdiososiasi menjadi suatu bentuk tak berwarna dan kemudian dengan
kehilangan proton kedua, menjadi ion dengan sistem konjugasi maka timbulah
warna merah. Untuk asam lemah, PH titik kesetaraan diatas 7 dan biasanya
dipilih phenoptalein. Untuk basa lemah, dimana PH titik kesetaraan dibaawah
7, biasanya digunakan metil merah atau metil jingga. Untuk asam kuat dan
basa kuat biasanya dipilih metil merah, bromo timol biru, dan phenolptalein.

1.2.4 Titrasi Asam – Basa (Asidimetri – Alkaimetri)


Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri melibatkan titrasi
basa bebas. Basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam
lemah dengan suatu asam standar (asidimetri) dan titrasi asam bebas atau asam
yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah dengan suatu
basa standar (alkalimetri). Reaksi-reaksi ini melibatkan bersenyawanya ion
hidrogen untuk membentuk air (Basset, 1984:170).

Pengenceran adalah proses penambahan pelarutan terhadap larutan.


Tujuan pengenceran adalah untuk memperkecil konsentrasi larutan. Pada
peristiwa pengenceran jumlah zat terlarut tidak berubah. Sedangkan volume
larutan berubah, akibatnya % volumenya akan kecil (Harjadi, 1990:130).

Asam dan basa mempunyai sifat tertentu yang dapat mempermudah


kita untuk mengenalnya. Misalnya larutan suatu asam mempunyai rasa asam.
Sebaliknya basa memilki rasa sepat. Sifat-sifat lain dari asam dan basa adalah
pengaruhnya pada indikator, suatu zat kimia yang warnanya tergantung dari
kebasaan dan keasaman larutan (Brady, 1999:179).

Ada banyak asam dan basa organik lemah yang bentuk tak terurainya
dan ioniknya memilki warna berbeda. Molekul tersebut bisa digunakan untuk
menentukan penambahan titran telah mencukupi dan dinamakan indikator
visual. Contohnya indikator P. Nitrofenol yang merupakan asam lemah. Contoh
lain adalah phenopthalien merupakan asam diprotik dan tidak berwarna serta
terurai menjadi warna merah. Metil orange yang banyak digunakan, merupakan
basa dan berwarna kuning dalam bentuk molekulnya. Penambahan proton
menghasilkan kation yang berwarna merah muda (Day dan underwood,
1999:153).

Dalam titrasi, suatu larutan yang harus dinetralkan, misalnya asam


dimasukkan ke dalam wadah atau tabung larutan lain, yaitu basa dimasukkan ke
dalam buret, lalu dimasukkan ke dalam asam, mula-mula cepat, kemudian tetes
demi tetes, sampai titik setara dari titrasi tersebut tercapai. Salah satu usaha
untuk mencari titik setara adalah melalui perubahan warna dari indikator asam
dan basa. Titik dimana indikator berubah warna pada titrasi disebut titik akhir
titrasi (end point). Yang diperlukan adalah memadankan titik akhir indikator
dengan baik atau titik setara pada penetralan. Ini dapat tercapai apabila kita
dapat menemukan indikator yang perubahan warnanya terjadi dalam selang pH
yang meliputi pH sesuai dengan titik setara (Petrucci, 1985:310).

Titrasi dalam penambahan secara cermat volume selalu setiap suatu


larutan yang mengandung zat A yanh konsentrasinya diketahui kepada larutan
kedua yaitu zat B yang konsentrasinya belum diketahui yang akan mengandung
reaksi antara keduanya secara kuantitatif. Selesainya suatu reaksi yaitu pada
titik akhir, ditandai dengan semacam perubahan fisis, misalnya warna
campuran yang bereaksi. Titik akhir titrasi dideteksi yang tidak berwarna
dengan menambahkan indikator. Berfungsi sebagai pengubah warna pada titik
akhir titrasi. (Oxtobby, 2001:115).

Suatu metode titrimetrik untuk analisis didasarkan pada suatu reaksi


kimia, seperti :

aA + tT → produk

Dimana a molekul analit A bereaksi dengan t molekul reagensia T.


Reagensia T disebut titran, ditambahkan sedikit demi sedikit, biasanya dari
buret dalam bentuk larutan yang konsentrasinya diketahui. Larutan kedua ini
disebut larutan standar dan konsentrasinya diketahui oleh suatu proses yang
disebut standarisasi. Penambahan titran diteruskan sampai telah dimasukkan
sejumlah T yang secara kimia setara dengan A. Maka dikatakan telah tercapai
titik ekivalensi dititrasi itu. Untuk mengetahui kapan penambahan titrasi itu
harus dihentikan, ahli kimia dapat menggunakan suatu zat yang disebut
indikator yang menanggapi munculnya kelebihan titran dengan perubahan
warna. Titik dalam titrasi saat indikator berubah warna disebut titik akhir titrasi
(Day dan Underwood, 1999:49).

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, dalam stoikiometri titrasi, titik


ekivalen dari reaksi netralisasi adalah titik pada reaksi dimana asam dan basa
keduanya setara, yaitu dimana keduanya tidak ada yang berlebihan. Asidimetri
adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa.
Sedangkan alkalimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan
menggunakan larutan baku asam. Oleh karena itu, keduanya disebut juga titrasi
asam-basa. Titrasi asam basa menggunakan indikator sebagai penanda titik
ekivalen. Warna indikator dalam asam dinamakan warna asam, sedangkan pada
larutan basa disebut warna basa (Anonim, 20015:1).

1.2.5 Pengertian Asam Asetat


Asam asetat adalah salah satu contoh dari asam karboksilat yang
mempunyai gugus fungsi –COOH yang disebut gugus karboksil. Karena
merupakan gugus dari gugus karbonil (-CO-) dan gugus hidroksil (-OH). Aam
asetat juga disebut sebagai senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai
pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan asam cuka memiliki rumus
Emoiris C2H4O2. Rumus ini sering kali ditulis dalam bentuk CH3COOH atau
CH3CO2H. Asam Asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan
higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16,6oC
Asam Asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana.
Setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air meruakan sebuah asam
lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO- Asam
Asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting
Berdasarkan BSN, kadar asam asetat yang baik untuk dikonsumsi tubuh
adalah 3% maksimum 60 mg/kg (Wikipedia, 2015)
1.2.6 Pengertian Asam Oksalat
Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus
H2C2O4 dengan nama sistematis asam etanadioat. Asam dikarboksilat paling
sederhana ini biasa digambarkan dengan rumus HOOC-COOH.
Merupakan asam organik yang relatif kuat, 10.000 kali lebih kuat
daripada asam asetat. Di-anionnya, dikenal sebagai oksalat, juga agen
pereduktor.
Banyak ion logam yang membentuk endapan tak larut dengan asam
oksalat, contoh terbaik adalah kalsium oksalat(CaOOC-COOCa), penyusun
utama jenis batu ginjal yang sering ditemukan (Wikipedia,2015).
1.2.7 Pengertian NaOH
Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik, soda
api, atau sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium
Hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air.
Natrium hidroksida membentuk larutanalkalin yang kuat ketika dilarutkan ke
dalam air. Ia digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan
digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur
kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida
adalah basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia.
Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam
bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50% yang biasa disebut
larutan Sorensen. Ia bersifat lembap cair dan secara spontan menyerap karbon
dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan
panas ketika dilarutkan, karena pada proses pelarutannya dalam air bereaksi
secara eksotermis. Ia juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan
NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutanKOH. Ia tidak
larut dalam dietil eter dan pelarut non-polar lainnya. Larutan natrium
hidroksida akan meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas
(Wikipedia,2015).
BAB II
METODOLOGI

1.3 Alat Dan Bahan


1.3.1 Alat yang digunakan :
 Labu ukur 100 ml
 Erlenmeyer 250 ml
 Buret
 Pipet ukur 10 ml
 Pipet volume 10 ml
 Gelas kimia 250 ml
 Piknometer
 Kaca arloji
 Bulp
 Corong
 Neraca digital
 Spatula
 Batang pengaduk
 Statif

1.3.2 Bahan yang digunakan :


 Padatan NaOH
 Padatan Asam Oksalat
 Indikator PP
 Sampel Cuka
 Aquadest
2.3 Prosedur Kerja
2.3.1 Standarisasi NaOH 0,1 N dengan asam oksalat
1. Memipet 10 ml NaOH 0,1 N dengan menggunkan pipet ukur dan
menambahkan 3 tetes indikator PP
2. Menitrasi dengan menggunkan penitrat asam oksalat 0,1 N hingga
terjadi perubahan warna larutan menjadi merah muda
3. Mencatat volume penitrat yang digunakan
4. Melakukan percobaan secara duplo
5. Menentukan konsentrasi NaOH dengan rumus :
V1 x N1 = V2 x N2 ……………………………………………………………….(1)

2.3.2 Penentuan kadar asam asetat dalam cuka perdagangan


1. Memipet 10 ml larutan cuka perdagangan dengan pipet ukur dan
memasukkan ke dalam labu ukur 100 ml kemudian menambahkan
aquadest hingga tanda batas.
2. Memipet 10 ml larutan tersebut dengan pipet ukur, dan memasukkan
ke dalam erlenmeyer 250 ml, kemudian menambahkan 3 tetes
indikator PP.
3. Menitrasi dengan NaOH yang telah distandarisasi hingga terjadi
perubahan warna larutan menjadi merah muda.
4. Melakukan percobaan pada masing-masing sampel secara duplo.
5. Menghitung kadar asam asetat dalam asam cuka.
6. Dengan rumus :

% asam asetat = ……….……..(2)


2.4 Diagram Alir
2.4.1 Standarisasi NaOH 0,1 N dengan asam oksalat
Memipet 10 ml NaOH 0,1 N dengan menggunkan pipet ukur dan
menambahkan 3 tetes indikator PP

Menitrasi dengan menggunkan penitrat asam oksalat 0,1 N hingga terjadi


perubahan warna larutan dari merah muda menjadi bening

Mencatat volume penitrat yang digunakan, lalu melakukan percobaan secara


duplo

Menentukan Konsentrasi NaOH

2.4.2 Penentuan kadar asam asetat


Memipet 10 ml larutan cuka perdagangan dengan pipet ukur dan
memasukkan ke dalam labu ukur 100 ml kemudian menambahkan aquadest
hingga tanda batas.

Memipet 10 ml larutan tersebut dengan pipet ukur, dan memasukkan ke


dalam erlenmeyer 250 ml, kemudian menambahkan 3 tetes indikator PP.

Menitrasi dengan NaOH yang telah distandarisasi hingga terjadi perubahan


warna larutan menjadi merah muda.

Melakukan percobaan pada masing-masing sampel secara duplo.


BAB III
DATA DAN HASIL PENGAMATAN

1.1 Data Pengamatan

1.1.1 Standarisasi NaOH 0,1 N dengan Asam Oksalat


a. NaOH
Tabel 2. Standarisasi NaOH
KONSENTR
VOLUME Pengamatan
VOLUM KONSENTRA ASI NaOH
NO ASAM
E NaOH SI NaOH RATA-
OKSALAT
RATA
Perubahan warna
1 9,6 ml 0,096 N dari merah muda
menjadi bening
10 ml 0,0955 N
Perubahan warna
2 9,5 ml 0,095 N dari merah muda
menjadi bening

1.1.2 Penentuan Kadar Asam Asetat dalam Cuka Perdagangan


Tabel 3. Kadar Asam Asetat dalam Cuka Perdagangan

PER Pengamatan
KADAR KADAR
SAMPE COB VOLUME
NO ASAM RATA-
L CUKA AA NaOH
ASETAT RATA
N
1 43,6 ml 24, 9828% Perubahan
warna dari
1 DIXI 24, 9828%
2 43,6 ml 24, 9828% bening menjadi
merah muda
2 79 1 14 ml 8, 022% 8, 0793%
Perubahan
warna dari
2 14 ml 8, 1366%
bening menjadi
merah muda

1.1.3 Hasil Perhitungan


Tabel 4. Tabel Hasil Perhitungan
SAMPEL PERCO KADAR ASAM KADAR RATA-
NO VOLUME NaOH
CUKA BAAN ASETAT RATA

1 43,6 ml 24, 9828%


1 DIXI 24, 9828%
2 43,6 ml 24, 9828%

1 14 ml 8, 022%
2 79 8, 0793%
2 14 ml 8, 1366%

3.2 PEMBAHASAN

Praktikum penentuan kadar asam asetat yang terdapat dalam asam cuka
betujuan untuk, dapat melakukan standaraisasi larutan, dapat membedakan larutan
standar primer serta sekunder, dan menentukan kadar asam asetat dalam cuka yang
beredar di pasaran. Praktikum ini melibatkan beberapa proses, seperti pengenceran,
titrasi dan standarisasi larutan. Pengenceran dilakukan untuk memperkecil kesalahan
pada saat titrasi, karena semakin encer asam cukanya, maka hasilnya pun akan
semakin teliti. Selain itu pengenceran cuka bertujuan agar jumlah kandungan ion
asam asetat. Sehingga pengenceran juga bermanfaat untuk menghemat bahan kimia
yang digunakan untuk titrasi.

Tujuan pertama, standarisasi NaOH yang digunakan sebagai penitar bertujuan


untuk memastikan konsentrasi NaOH tepat atau mendekati 0,1 N.Standarisasi NaOH
menggunakan H2C2O4 0,1 N. Titrasi oleh basa kuat menyebabkan larutan hasil titirasi
sedikit bersifat basa, karena basa kuat dominan dibandingkan asam asetat yang
lemah. Titrasi dibantu oleh suatu larutan petunjuk yaitu indikator PP yang jangkauan
Ph antara 8,3 - 10. Pada saat ion basa kuat yang dalam hal in i adalah NaOH
mengubah semua ion asam asetat yang terdapat pada erlenmeyer, maka indikator
akan berubah warna menjadi merah muda sebab telah terjadi titik kesetaraan antara
ion basa kuat dengan iom asam asetat dalamerlenmeyer.Sebelum melakukan
percobaan, perlu melakukan standarisasi larutan NaOH yang digunakan sebagai
penitar dengan tujuan memastikan konsentrasi NaOH mengenai kebenaran yang
tertulis pada label. Standarisasi menggunakan asam karboksilat (C2H2O4) yang
merupakan asam lemah yang tidak terpengaruh oleh lingkungan. Hasil standarisasi
NaOH adalah 0,0955 N.
Tujuan kedua, membedakan larutan standar primer dan sekunder. Asam
oksalat bertindak sebagai larutan standar primer karena asam oksalat
mengandung zat padat murni yang konsentrasinya diketahui secara tepat
melalui perhitungan massa, sedangkan NaOH bertindak sebagai larutan standar
sekunder karena konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan tepat. Konsentrasi
larutan ini ditentukan dengan pembakuan menggunakan larutan baku primer,
dengan melakukan titrasi.
Sampel yang digunakan dalam penentuan kadar asam asetat adalah cuka
merek dixi dan segitiga 79.Dari masing-masing cuka diperoleh kadar asam asetat
sebesar 24.9828 % pada cuka dixi dan 8,0793 % pada cuka segitiga 79.Pada lebel
masing-masing cuka tertera kadar asam asetat dalam cuka ialah 25% yang hampir
sama dengan kadar asam asetat dalam cuka merek dixi.Namun,hasil yang didapat
pada cuka segitiga 79 sangatlah jauh berbeda .Hal ini dapat disebabkan karena sampel
cuka segitiga 79 telah mengalami oksidasi.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Dari hasil percobaan, dapat disimpulkan bahwa :
 Larutan Asam Oksalat sebagai larutan standar primer
Larutan NaOH sebagai larutan standar sekunder
 Konsentrasi NaOH setelah distandarisasi adalah 0,0955 N
 Kadar asam asetat pada cuka merk Dixi sebesar 24,9828 %
Kadar asam asetat pada cuka merk segitiga 79 sebesar 8,0793 %

5.2 SARAN
Dalam praktikum kali ini, disarankan agar alat dan bahan yang digunakan saat
praktikum dalam keadaan baik dan lengkap agar lebih dapat mempercepat
jalannya praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Apa itu Asidimetri dan Alkalimetri ? http : //id.answers.yahoo.com


diakses pada tanggal 2 Desember 2015.

Basset, J.dkk. 1984. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Buku
kedokteran EGC.

Brady, James. E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara:
Jakarta.

Chon, Ahmad dan Krisnandi, E. 1982. Penentuan Praktikum Kimia Analis Jumlah
II Titrimetri. Depertemen Perindustrian Sekolah Menengah Analis Kimia:
Bogor.

Day, R. A. Jr dan A. L. Underwood. 1999. Kimia Analisis Kuantitatif. Erlangga:


Jakarta.

HAM, Mulyono. 2006. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Bumi Aksara :


Jakarta

Harjadi, W. 1999. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia: Jakarta.

Oxtobby, David. W. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern. Erlangga: Jakarta.

Petrucci, Ralph. H. 1985. Kimia Dasar. Erlangga: Jakarta.

Wikipedia. Asam Asetat. https://id.wikipedia.org/wiki/Asam_asetat diakses


pada tanggal 5 Desember 2015

Wikipedia. Asam Oksalat. https://id.wikipedia.org/wiki/Asam_oksalat diakses pada


tanggal 14 Desember 2015

Wikipedia. NaOH. https://id.wikipedia.org/wiki/Natrium_hidroksida diakses pada


tanggal 14 Desember 2015
PERHITUNGAN

2. Standarisasi NaOH dengan Asam Oksalat


a. Larutan NaOH
Diket : V penitrat = 9,6 ml&9,5 ml
V NaOH = 10 ml
N penitrat = 0,1N
Dit : N NaOH……???
Jawab :
v1 . N1 = V2 . N2
9,6 . 0,1 = 10 . N2
N2 = 0,096 N
v1 . N1 = V2 . N2
9,5 . 0,1 = 10 . N2
N2 = 0,095 N

N NaOH rata-rata = = 0,0955 N

1. Penentuan kadar Asam asetat


a. Cuka merk Dixi
Diket : Faktor pengencer (Fp) = 100/10
BM Asam asetat = 60
N NaOH = 0,0955 N
V NaOH=

Voleme sampel = 10ml


Dit : % Asam asetat……???

% Asam asetat = x 100%

= x 100%

= 24,9828 %

b. Cuka Segitiga 79
Dik : Faktor pengencer (Fp) = 100/10
BM Asam asetat = 60N
NaOH = 0,0955 N
V NaOH =

Volume Sampel = 10 ml
Dit : % Asam asetat……???
(PERCOBAAN 1)

% Asam asetat = x 100%

= x 100%

=8,022 %

(PERCOBAAN 2)

% Asam asetat = x 100%

= x 100%
=8,1366 %

Kadar rata-rata = = = 8,0793%

GAMBAR ALAT

Aquadest Kaca Arloji Bulp


Neraca Digital

Erlenmeyer Corong
Pipet Ukur

Gelas Kimia Buret Spatula Piknometer