Anda di halaman 1dari 6

Oleh : Ustadzah Najmah Sa'iidah Pernikahan, secara syar’i adalah ibadah; dan secara

ma’nawi merupakan penyatuan dua potensi fitrah yang berbeda untuk diikat dan dihimpun
dalam kebersamaan sebagai wujud kecintaan dan pelaksanaan ketaatan kepada Allah swt
dan Rasul-Nya. Pernikahan adalah sebuah amanah langsung dari Allah dan RasulNya, dan
setiap amanat menuntut tanggung jawab. Betapa luar biasanya aqad nikah ini, sekalipun
dengan ucapan yang sederhana, dengan adanya aqad nikah, perbuatan yang semula
diharamkan menjadi halal, perbuatan yang semula bernilai maksiyat, berubah menjadi
ً ‫غلِي‬
ibadah. Dalam kaitan nikah ini Allah berfirman: ََ‫ظا مِ يثَاقًا مِ ْن ُك َْم َوا َ َخ ْذن‬ َ “…. Dan mereka (isteri-
isteri) telah mengambil dari kalian penjanjian yang kuat.” (QS. An-Nisa’: 21) Pernikahan
adalah sebuah perjanjian teguh (mitsaqan ghalizha). Jelaslah bahwa pernikahan ini bukan
suatu senda gurau karena sejajar dengan perjanjian Allah dengan Bani Israil dan sejajar
pula dengan perjanjian Allah dengan para Nabi yang mulia. Dalam perjalanannya Bani
Israil gagal menunaikan amanah karena adanya ketidakjujuran dan khianat terhadap
amanat, sedangkan para Nabi berhasil dengan izin Allah karena dilandasi sifat kejujuran
(shiddiq) dan berlaku benar dalam menu-naikan amanah. Dengan demikian pernikahan itu
bisa gagal ataupun berhasil sangat bergantung pada sifat yang melandasi ikatan dan
bangunan keluarga berdua. Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan amat besar,
sehingga ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik ra
berkata, “Telah bersabda Rasulullah saw : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi
separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang
separuhnya lagi”. (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim). Karenanya pula, Islam sebagai
diin yang sempurna telah mengatur masalah pernikahan dengan sangat rinci, dari mulai
memilih pasangan, khitbah, akad nikah maupun setelah akad nikah, kewajiban suami istri,
termasuk di dalamnya walimatul ‘ursy. Apa yang dimaksud dengan walimatul ‘ursy dan
bagaimana Islam mengatur masalah ini ? Walimatul ‘Ursy Kata walimah (‫ )الوليمة‬diambil dari
kata asal walmun (‫ )الولم‬yang bererti perhimpunan, kerana pasangan suami isteri (pada
ketika itu) berkumpul sebagaimana yang dikatakan oleh imam az-Zuhri dan selainnya.
Bentuk kata kerjanya adalah awlama (‫ )أولم‬yang bermakna setiap makanan yang
dihidangkan untuk menggambarkan kegembiraan (ketika pernikahan). Dan walimatul urus
(‫ )العرس ووليمة‬adalah sebagai tanda pengumuman (majlis) untuk pernikahan yang
menghalalkan hubungan suami isteri dan perpindahan status kepemilikan. (Imam
Muhammad bin Ismail ash-Shan’ani, Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, 3/153-154)
Menurut Imam Ibnu Qudamah dan Syaikh Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim, “Al-Walimah
merujuk kepada istilah untuk makanan yang biasa disajikan (dihidangkan) pada upacara
(majlis) perkawinan secara khusus.” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 15/486 – Maktabah
Syamilah. Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim, Shahih Fiqhus Sunnah wa Adillatuhu wa
Taudhih Mazahib al-Arba’ah, 3/182 – Maktabah at-Tauqifiyyah, Cairo). Kalangan mazhab
Ahmad dan selainnya menyatakan, bahwa walimah merujuk kepada segala bentuk
makanan yang dihidangkan untuk merayakan kegembiraan yang berlangsung. (Ibnu
Qudamah, al-Mughni) Dari penjelasan di atas dapat kita fahami bahwa yang dimaksudkan
dengan walimatul ‘ursy itu adalah jamuan makan yang diadakan untuk merayakan
pernikahan pasangan pengantin. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas
radhiyallahu ‘anhu, di mana beliau berkata, “Ketika tiba waktu pagi hari setelah Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjadi seorang pengantin dengannya (Zainab bin Jahsy),
beliau mengundang masyarakat, lalu mereka dijamu dengan makanan dan setelah itu
mereka pun keluar.” (HR Bukhari). Sabda Nabi SAW kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf ketika
baru saja menikah, “Laksanakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing.”
(Hadis Riwayat al-Bukhari). Anas ra berkata : “Ketika Rasulullah SAW menikahi seorang
perempuan, beliau meminta aku supaya mengundang beberapa orang (lelaki) untuk
makan.” (HR Bukhari) Walimatul ‘ursy ini juga merupakan salah satu uslub untuk
mengumumkan pernikahan kepada khalayak, agar tidak menimbulkan syubhat (kecurigaan)
dari masyarakat yang mengira orang yang sudah melakukan akad nikah tersebut melakukan
perbuatan yang tidak dibolehkan syara’. Disamping pernikahan merupakan perbuatan yang
haq untuk diumumkan dan layak diketahui masyarakat, juga dapat menjadi perangsang
bagi orang-orang yang lebih suka membujang agar segera menikah. Dalil tentang
keharusan untuk menghilangkan yang subhat adalah penjelasan Rasulullah terhadap orang-
orang yang mencurigainya tatkala beliau bersama istrinya Shafiyyah bint Huyay;
Diriwayatkan dari ’Ali bin Abi al-Husayn (ia menuturkan): ”Bahwa Shafiyyah binti Huyay,
salah seorang istri Nabi SAW, telah memberitahu kepadanya, sementara Rasusullah saw
sedang melakukan i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.
Shafiyyah lantas bercakap-cakap dengan Nabi saw beberapa saat pada waktu isya. Setelah
itu, Shafiyyah berdiri untuk kembali maka Rasulullah pun berdiri dan mengantarnya.
Hingga saat sampai di pintu mesjid dekat tempat tinggal Ummu Salamah, istri Nabi saw,
ada orang dari kalangan Anshor melewati mereka. Kedua orang itu pun mengucapkan
salam kepada Nabi saw. Mereka kemudian bergegas pergi. Rasulullah saw berseru kepada
keduanya: ”Pelan-pelan saja sesungguhnya ini adalah Shafiyyan binti Huyay”. Kedua orang
itu pun berkata: ”Mahasuci Allah! Duhai Rasulullah”. Apa yang dikatakan oleh Nabi saw
telah membuat keduanya merasa berdosa. Nabi pun bersabda: ”Sesengguhnya syetan
menggoda anak Adam melalui peredaran darahnya. Dan aku khawatir, setan akan
menyelusupkan prasangka buruk ke dalam hati kalian berdua.” (Muttafaq ’alayhi) Dari
Aisyah RA, bahwa Nabi SAW bersabda: ”Umumkan (syiarkan) nikah ini dan adakanlah di
masjid-masjid, dan pukullah untuknya rebana-rebana” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, hadits
Hasan) Mengumumkan (menyiarkan) pernikahan boleh dilaksanakan dengan cara apapun
tergantung kemampuan masing-masing, karena hal ini berkaitan dengan masalah teknis
(uslub). Yang pasti tujuannya adalah memberi tahu kepada orang disekitar kita, tetangga,
kerabat, kenalan, dll, mengenai telah berlangsungnya pernikahan. Jika belum mampu
menyelenggarakan undangan makan (walimah), menyiarkan akad bisa dilakukan dengan
cara bersilaturrahmi ke kerabat atau kenalan sambil memperkenalkan pasangan, mencetak
kartu dan mengirimkannya atau dengan cara lainnya. Hanya saja yang dicontohkan oleh
Rasulullah saw adalah mengumumkan akad dengan cara mengundang orang-orang serta
meyediakan hidangan untuk para undangan, atau dengan kata lain dengan cara
mengadakan walimatul-ursy. Walimah dalam hal ini tidak dimaksudkan untuk berpesta
pora dan bermegah-megahan, tetapi yang ingin dicapai dari walimah tersebut adalah
mengumumkan pernikahan dan wujud syukur dari mempelai dan keluarga karena telah
menyempurnakan separuh dari agama, terlebih lagi jika mendapatkan istri yang sholihah,
sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW, yang diriwayatkan oleh Tabrani dan
Hakim “ Barangsiapa yang diberi rizki oleh Allah seorang istri yang sholeh, sesungguhnya
telah ditolong separuh agamanya, dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh
lainnya”. Selain itu walimah juga bertujuan untuk memohon do’a dari para undangan, agar
pernikahan tersebut mendapat keberkahan dan menjadi keluarga yang sakinah mawaddah
dan rahmah. Walimah juga dapat dianggap sebagai wasilah untuk mensyiarkan hukum-
hukum Allah, sebagai satu rangkaian yang menyertai pernikahan dan mempunyai tujuan
yang mulia, yaitu beribadah kepada Allah dan mengharapkan ridho Allah SWT. Walimah
Menurut Tuntunan Syari’at “Imam Ahmad berkata, “Walimah itu hukumnya sunnah”.
Menurut jumhur, walimah itu disunnahkan (mandub). Jumhur mengatakan hukumnya
sunnah berdasarkan pendapat asy-Syafi’i rahimahullah.” (Subulus Salam, jil. 2). Demikian
pula pendapat Ibnu Qudamah rahimahullah: “Tiada perbedaan pendapat di antara ahli
ilmu, bahawasanya hukum walimah di dalam majlis perkawinan adalah sunnah dan
disyari’atkan (sangat dituntut), bukan wajib.” (Ibnu Qudamah, al-Mughni) Walimah
dilaksanakan dan diselenggarakan oleh Suami. Ini adalah sebagaimana perbuatan yang
telah dilakukan Rasulullah SAW dan diikuti oleh para sahabat-sahabatnya yang lain. Dari
Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Ketika Rasulullah SAW menikahi seorang
perempuan, beliau mengutus aku untuk mengundang beberapa orang untuk makan.” (HR
Bukhari, Tirmidzi) Juga dari Anas ra, Abdurrahaman berkata : “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya aku baru saja menikah dengan seorang wanita dengan mahar satu nawat
emas (emas sebesar biji kurma)”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Semoga Allah memberkahimu, adakanlah walimah walau pun hanya dengan menyembelih
seekor kambing”.” (HR Bukhari, no. 5169). Walau pun begitu, tidak disyaratkan dalam
walimah harus dengan menyembelih seekor kambing tetapi ia dilakukan sesuai dengan
kemampuan suami. Karena Rasulullah SAW sendiri pernah melaksanakan walimah untuk
Shafiyah dengan menyediakan campuran kurma tanpa biji yang dicampur dengan keju dan
tepung di atas sumbangan para sahabat yang hadir. (HR Bukhari) Mengingat pentingnya
posisi walimah sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT dan juga sebagai bukti
kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, maka dalam pelaksanaannya haruslah sesuai
dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, tidak dibolehkan menyimpang dari
aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya. Karenannya Islam telah
mengaturnya dengan sedemikian rinci, antara lain : 1. Prosesi walimah haruslah bersih
dari hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan Islam. Terhindar dari hal-hal yang
mengandung kemusyrikan atau khurafat. Di dalam masyarakat kita saat ini terdapat
beberapa adat dan kebiasaan dalam melaksanakan rangkaian prosesi pernikahan yang
dapat menjerumuskan pelakunya kepada tindakan penyekutuan terhadap Allah SWT.
Semua amal yang akan merusak aqidah dan bertentangan dengan Islam harus ditinggalkan.
Menyediakan sesajen misalnya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, dihiasi
dengan ritual tertentu yang merupakan adat suatu daerah yang mengandung makna
tertentu, seperti menginjak telur, sawer dan sebagainya. Atau perhitungan calon
pengantin apakah jodohnya baik atau buruk, dengan perhitungan weton (tanggal lahir
keduanya) atau kebiasaan menentukan hari baik untuk pesta, perhitungan ini dilakukan
oleh seorang dukun atau ’orang pintar’. “Barang siapa yang mendatangi dukun atau
paranormal dan percaya kepada ucapannya maka ia telah mengkufuri apa yang telah
diturunkan oleh Allah kepada Muhammad Saw.” (HR. Abu Daud). 2. Tidak menghadirkan
hiburan yang dilarang oleh Allah SWT, terlebih lagi jika disertai minum-minum atau makan
yang diharamkan Allah SWT. Sekalipun memang adanya hiburan bukan merupakan suatu
yang dilarang, asalkan tidak bertentangan dengan aturan Islam. Dari Amir bin Sa’ad dia
berkata: “Saya masuk ke rumah Quradhah bin Ka’ab ketika hari pernikahan Abu Mas’ud Al-
Anshori. Tiba-tiba beberapa anak perempuan bernyanyi-nyanyi.” Lalu saya bertanya;
bukankah anda berdua adalah shahabat Rasulullahsaw dan pejuang Badar, mengapa ini
terjadi di hadapan anda? Maka jawab mereka: “Jika anda suka, maka boleh anda
mendengarnya bersama kami, dan jika anda tidak suka maka boleh anda pergi. Karena
kami diberi kelonggaran untuk mengadakan hiburan pada acara perkawinan.” (HR. Nasa’I
dan Hakim). ‘Aisyah mengiringi Fathimah binti As’ad dengan disertai pula oleh Nabith bin
Jabir Al-Anshari pada hari-hari pengantinnya ke rumah suaminya. Lalu Nabi saw bersabda:
“Wahai “Aisyah mengapa tidak kamu sertai dengan hiburan? Sesungguhnya orang-orang
Anshar senang hiburan.” (HR. Bukhari, Ahmad dll). Hanya saja hiburan ini wajib dijauhkan
dari hal-hal yang dilarang, seperti; bercampur baur antara laki-laki dan perempuan
(ikhtilath), tarian dan gerakan yang dapat membangkitkan syahwat (pornoaksi), perkatan
(syair) yang keji dan kotor yang tidak pantas untuk didengar. Demikian pula penggunaan
alat musik, patut diperhatikan lagu atau instrumen yang dihasilkannya, tidak mengandung
nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam, seperti musik degung (disertai keyakinan akan
keberkahan dari lagu-lagu yang dimainkan), organ tunggal dengan lagi-lagu cinta yang
merangsang, dll. Sebaliknya hiburan yang disajikan selayaknya dapat menggugah para
hadirin untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, menggugah semangat untuk
berkorban dan berjihad di jalan Allah , atau lagu-lagu yang dapat menumbuhkan kecintaan
kepada Allah dan RasulNya, mengingat akan kebesaran dan kenikmatan Allah SWT, seperti
halnya irama nasyid. Karena itu walimah tidak hanya digunakan sebagai sarana untuk
berkumpul dan memenuhi undangan makan, sekaligus juga dapat memberi nilai tambah
terhadap para hadirin untuk menjadi hamba Allah yang lebih bersyukur atas segala
kenikmatan yang telah dianugerahkan kepada semuanya, termasuk keberkahan dari acara
walimah tersebut. 3. Adanya pengantin, khususnya pengantin perempuan yang berdandan
cantik dan dilihat oleh seluruh tamu undangan, termasuk laki-laki. Tindakan ini merupakan
pelanggaran terhadap hukum tabarruj (terlebih lagi jika pengantin perempuan tidak
menutup aurat). Islam memerintahkan kepada para perempuan untuk menutup aurat
dengan sempurna (QS An Nur 31 dan Al Ahzab 59) serta melarang melakukan tabarruj,
dengan larangan yang tegas dalam situasi apapun tanpa kecuali. Allah SWT berfirman:
”Janganlah kalian bertabaruj seperti orang-orang jahiliyah yang terdahulu” (TQS. Al-
ahzab:33). Rasulullah saw bersabda: ”Siapa saja wanita yang memakai wewangian
kemudian melintas di suatu kaum (laki-laki) agar mereka menghirup wangi wanita itu,
maka dia adalah pezina (pelacur)”. Dalil-dalil diatas dan banyak lagi dalil yang lainnya
secara gamblang menunjukkan larangan bertabaruj, karena itu maka tabarruj hukumnya
adalah haram, Keharamannya ini bersifat umum, tidak terkecuali terhadap pengantin dan
tamu undangan. Atas dasar ini, setiap perhiasan yang tidak biasa –umumnya dikenakan
pengantin-, memoles wajahnya dengan warna-warni tertentu, yang dapat menarik
pandangan laki-laki dan dapat menampakkan kecantikan wanita adalah termasuk tindakan
tabarruj, jika pengantin perempuan muncul di hadapan pria asing (bukan mahromnya).
Tetapi jika pengantin perempuan hanya menampakkan diri terhadap tamu undangan
perempuan, tidaklah termasuk tabaruj, dan hanya dikategorikan sebagai berhias dan
memakai perhiasan yang hukumnya adalah mubah. Karena itu guna menghindari
pelanggaran terhadap hukum tabaruj ini, maka sudah semestinya tamu laki-laki terpisah
dengan tamu perempuan secara mutlak. 4. Meminta para tamu undangan untuk
mengenakan busana yang syar’i, yang menutup seluruh auratnya. Allah Swt berfirman,
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya,
dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang ( biasa
) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan
janganlah menampakkan perhiasannya.” ( QS. An Nuur [24] : 31 ). 5. Islam melarang
penyelenggaraan walimah yang hanya mengundang orang-orang tertentu saja, yaitu hanya
mengundang orang kaya dan terhormat dan tidak mengundang para fakir miskin, sekalipun
masih termasuk kerabat atau tetangga. Mengenai hal ini Rasulullah SAW menjelaskan di
dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh ra, bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda: ”Makanan yang paling jelek adalah pesta perkawinan yang tidak mengundang
orang yang mau datang kepadanya (miskin), tetapi mengundang orang yang enggan datang
kepadanya ((kaya). Barang siapa tidak memperkenankan undangan maka sesungguhnya
telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR Muslim). Dalam hadits yang lain dikatakan
bahwa “Sejelek-jelek makanan ialah makanan walimah yang hanya mengundang orang
yang kaya tetapi meninggalkan orang-orang miskin “(HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra) 6.
Islam melarang kondisi campur baur antara tamu undangan, sehingga memungkinkan
terjadinya interaksi (ikhtilat) antara tamu laki-laki dan tamu perempuan yang bukan
mahram sambil bersenda gurau dan membicarakan hal-hal yang tidak syar’i. Guna
menghindari hal tersebut, maka yang dilakukan adalah memisahkan secara sempurna
antara tamu laki-laki dengan tamu perempuan. Sehingga kondisinya adalah pengantin
perempuan dengan kerabat dan para tamu yang perempuan, sedangkan pengantin laki-laki
dengan kerabat dan tamu laki-laki, dengan tempat makan dan pelaminan yang berbeda.
Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa uslub, misalnya walimahnya diselenggarakan pada
waktu yang berbeda antara yang laki-laki dan perempuan, atau dengan menggunakan dua
tempat atau dua gedung yang berbeda, atau bisa juga dengan tempat yang sama tapi
dipisah dengan tabir sempurna antara laki-laki dan perempuan, sehingga tidak terjadi
pertemuan dalam satu ruangan di antara laki-laki dan perempuan. Berkaitan dengan
pemisahan antara laki-laki dan perempuan ini, karena memang pada dasarnya dalam
kehidupan masyarakat Islam di masa Rasulullah SAW dan sepanjang kurun sejarah Islam,
kehidupan laki-laki dan perempuan terpisah satu dengan lainnya. Dalil-dalil tentang hai ini
banyak sekali , diantaranya adalah dari Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik RA
bahwa neneknya Malikah pernah mengundang Rasulullah SAW untuk menikmati jamuan
makanan yang dibuatnya. Lalu Rasulullah SAW memakannya kemudian berkata: “Berdirilah
kamu agar aku mendoakan bagi kamu…” hingga perkataan Anas bin Malik, “Maka berdirilah
Rasulullah SAW dan berbarislah aku dan seorang anak yatim di belakang beliau, dan
perempuan tua di belakang kami.” Adapun Abu Dawud telah meriwayatkan, Rasulullah
Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Barisan yang terbaik untuk lelaki adalah barisan
terdepan, ( yang paling jauh dari barisan perempuan) dan barisan yang paling baik untuk
perempuan adalah di barisan belakang, dan yang terburuk adalah di depan (paling dekat
dengan barisan lelaki)." [HR Abu Dawud] Diriwayatkan oleh Aisyah ra, beliau berkata: "Aku
selalu bermain dengan teman-temanku dan tatkala Rasulullah masuk, mereka (teman-
temanku) akan pergi dan apabila beliau SAW keluar, mereka akan kembali seperti semula”
(HR Abu Dawud). Sedangkan terkait dengan pernikahan atau walimatul ‘ursy, beberapa
dalil menjelaskan keterpisahan ini. Dari Aisyah ra berkata: "Rasulullah mengawiniku pada
usia tujuh tahun dan kami mengadakan hubungan di usia sembilan tahun dan tatkala aku
berpindah ke Madinah, segolongan perempuan mempersiapkan ku untuk majlis perkawinan
ku dan tidak pernah sekali-kali mereka maupun aku, bercampur dengan lelaki di dalam
rumah yang dipenuhi perempuan. Pihak perempuan menyambutku dan pihak lelaki
menyambut Rasulullah dan kemudian kami masuk ke rumah." (HR. Abu Dawud).
“Sesungguhnya Nabi SAW pernah mukim di antara Khaibar dan Madinah selama tiga malam
dimana ia mengadakan pesta menjelang berumah tangga dengan Shafiyah , kemudian aku
mengundang kaum muslimin untuk menghadiri walimah …..Lalu kaum muslimin bertanya
….. Kemudian tatkala Nabi SAW mendengarnya, ia melangkah ke belakang dan menarik
tabir. (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad) 7. Penyelenggaraan walimah memudahkan para
undangan untuk bisa makan dan minum dengan cara yang Islami. Tidak diperbolehkan
makan dan minum dengan berdiri. Hal ini berdasarkan larangan dari Rasulullah Saw. Dari
Anas dan Qatadah, Rasulullah Saw bersabda, ”Sesungguhnya beliau melarang seseorang
minum sambil berdiri, Qotadah berkata, ”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab:
“Itu kebih buruk lagi”. ( HR. Muslim dan Turmidzi ). Hadits yang lain dari Abu Hurairah,
Rasulullah Saw bersabda, “Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka
hendaknya ia muntahkan !” ( HR. Muslim ). Maka penyelenggara walimah tidak
diperbolehkan mengadakan standing party. Harus disiapkan tempat duduk untuk seluruh
tamu yang hadir. Demikianlah, Islam telah mengatur masalah walimatul ‘ursy ini dengan
sedemikian rinci. Aturan ini menjadi panduan bagi umat Islam, sehingga menjadi
pernikahan yang penuh dengan rahmat Allah SWT dan keberkahan Allah SWT selalu
tercurah bagi pengantin serta anak keturunanya kelak. Tatacara ini telah sangat jelas dan
dilandasi dalil-dalil syara’, karenanya kaum muslim wajib terus berupaya untuk mengubah
kebiasaan masyarakat yang bertentangan dengan syariat Islam serta mensyiarkan ajaran
Islam mengenai penyelenggaraan walimah ini. Walaupun mayoritas masyarakat belum
terbiasa dengan tata cara walimah demikian, merasa asing atau aneh, tapi yakinlah
lambat laun menjadi terbiasa seiring dengan kegigihan kita dalam mensosialisasikannya.
Semoga setiap usaha kita dalam mensyiarkan ajaran Allah Dan RasulNya mendapatkan
imbalan yang berlipat ganda disisiNya. Wallahu a’lam bishshawwab.

Make Google view image button visible again: https://goo.gl/DYGbub