Anda di halaman 1dari 3

DM tipe 1 adalah penyakit autoimun kronis yang berhubungan dengan kehancuran selektif sel

beta pankreas yang memproduksi insulin. Timbulnya penyakit klinis merupakan tahap akhir dari
kerusakan sel beta yang mengarah ke tipe 1 DM. Berbagai lokus gen telah dipelajari untuk menentukan
hubungan mereka dengan DM tipe 1. Antigen yang terlibat dalam tipe 1 DM meliputi antigen 64kD, asam
glutamat dekarboksilase (GAD) dan antigen sitoplasma sel islet. Antibodi sel islet (ICA) mengikat
komponen sitoplasma sel islet pada bagian pankreas manusia dan endapan antibodi 64kDa merupakan
protein 64kDa dari ekstrak sel islet. Sedangkan antibodi 64kDa yang ditampilkan untuk menjadi sel beta
tertentu di dalam islet, beberapa sera ICA positif telah dijelaskan untuk bereaksi dengan semua sel islet.
Antigen target dari Antibodi 64kDa diidentifikasi sebagai GAD enzim. Sel Islet tertentu pada baris sel beta
memproduksi antibodi IgG yang terikat ke antigen sitoplasma sel islet yang ditemukan. Anehnya semua
monoklonal antibodi yang diproduksi oleh baris, dikenali GAD target autoantigen. Dengan demikian, GAD
mungkin target antigen utama pada DM tipe 1, makanya antibodi untuk GAD dijadikan penanda sensitif
untuk perkembangan diabetes, walaupun antibodi GAD ada dalam individu yang rentan secara genetik
tetapi yang tidak mungkin untuk mengembangkan disease.

Gambar 1. Patomekanisme terjadi DM tipe 1


Destruksi progresif sel-sel beta mengarah pada defisiensi insulin progresif. Insulin
merupakan hormon anabolik utama. Sekresi normal sebagai respons terhadap makanan secara
istimewa dimodulasi oleh mekanisme neural, hormonal dan berkaitan substrat yang
memungkinkan pengendalian penyusunan bahan makanan yang dikonsumsi sebagai energi
unutuk penggunaan segera atau dimasa mendatang; mobilisasi energi selama keadaaan puasa
tergantung pada kadar insulin plasma yang rendah.
Kendatipun defisiensi insulin merupakan cacat primer, beberapa perubahan sekunder
yang melibatkan hormon stress (epinefrin, kortisol, hormon pertumbuhan dan glukagon)
memperbesar kecepatan dan beratnya dekompensasi metabolik. Peningkatan konsentrasi plasma
dari hormon kontra-regulasi ini memperberat kekacauan metabolik dengan mengganggu sekresi
insulin selanjutnya (epinefrin), mengantagonisme kerja insulin (epinefrin, kortisol, hormon
pertumbuhan), serta mempermudah glikogenolisis, glukoneogenesis, lipolisis dan ketogenesis
sambil menurunkan penggunaan glukosa serta clearance ginjal. Semua perubahan normal ini
kembali normal dengan terapi insulin yang adekuat. Namun dapat dilakukan supresi selektif
beberapa hormon kontra-regulasi. Misalnya supresi glukagon, hormon pertumbuhan dan aliran
darah organ dalam oleh diabetes, memperlambat kecepatan perkembangan ke arah ketoasidosis,
serta mempermudah pengendalian metabolik.
Defisiensi insulin bersama dengan kadar epinefrin, kortisol, hormon pertumbuhan dan
glukagon plasma yang berlebihan, berakibat pada produksi glukosa yang tak terkendali serta
gangguan penggunaanya; akibatnya timbul hiperglikemi dan peningkatan osmolalitas.
Kombinasi defisiensi insulin dan peningkatan kadar plasma hormon kontraregulasi juga
bertanggung jawab atas percepatan lipolisis dan ganguan sintesis lipid, yang berakibat
peningkatan kadar plasma lipid total, kolesterol, trigliserid dan asam lemak bebas. Keadaan
hormonal yang saling mempengaruhi antara defisiensi insulin dan kelebihan glukaakan
menmbulkan jalan pintas bagi asam lemak bebas untuk membentuk keton; kecepatan
pembentukan keton ini, terutama betahidroksibutirat dan asetoasetat, melampui kapasitas
pengunaan perifer serta ekskresi ginjal. Akumulasi asam keton ini menimbulkan asidosis
metabolik serta pernafasan kompensasi yang cepat sebagai usaha mengekskresi kelebihan CO 2
(pernafasan kussmaul). Aseton yang dibentuk melalui konversi non-enzimatik asetoasetat,
bertanggung jawab atas timbulnya bau buah yang karakteristik pada pernafasan ini. Keton
diekskresi ke dalam kemih bersama-sama dengan kation, yang selanjutnya meningkatkan
kehilangan air dan elektrolit. Dengan dehidrasi progresif, asidosis, hiperosmolaritas dan
berkurangnya penggunaan oksigen otak, maka terjadi gangguan kesadaran dan pasien akhirnya
jatuh ke dalam koma. Dengan demikian, defisiensi insulin menimbulkan suatu stasus katabolik
yang dalam-suatu kelaparan berat- dimana semua gambaran klinis awal dapat dijelaskan atas
dasar perubahan metabolisme perantara yang talah diketahui. Keparahan dan lamanya gejala
mencerminkan derajat insulinopenia. (Richard E.Behrman, 1992)
Adanya gangguan dalam regulasi insulin, khususnya pada DM tipe 1 dapat cepat menjadi
diabetik ketoasidosis manakala terjadi : 1). Diabetes tipe 1 yang tidak terdiagnosa 2).
Ketidakseimbangan jumlah intake makanan dengan insulin 3). Adolescen dan pubertas 4).
Aktivitas yang tidak terkontrol pada diabetes 5). Stres yang berhubungan dengan penyakit,
trauma, atau tekanan emosional.