Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kegawatdaruratan adalah kejadian yang tidak diduga atau terjadi secara
tiba-tiba, seringkali merupakan kejadian yang berrbahaya (Dorlan, 2011).
Kurang lebih sekitar 160 juta perempuan di seluruh dunia hamil setiap
tahunnya. Pada umumnya kehamilan ini berlangsung dengan aman. Tetapi,
sekitar 1554 menderita komplikasi berat, dengan sepertiganya merupakan
komplikasi yang mengancam jiwa ibu. Komplikasi ini mengakibatkan
kematian lebih dari setengah juta ibu setiap tahun. Kematian ibu atau kematian
maternal adalah kematian seorang ibu sewaktu hamil atau dalam waktu 42 hari
setelah sesudah berakhirnya kehamilan, tidak bergantung pada tempat atau
usia kehamilan. Indikator yang umum digunakan dalam kematian ibu adalah
Angka Kematian Ibu (Maternal Mortality Ratio) yaitu jumlah kematian ibu
dalam 1.000.000 kelahiran hidup. Angka ini mencerminka risiko obstetri yang
dihadapi oleh seorang ibu sewaktu ia hamil. Jika ibu tersebut hamil beberapa
kali, risikonya meningkat dan digambarkan sebagai risiko kematian ibu
sepanjang hidupnya, yaitu pribabilitas menjadi hamil dan probabilitas
kematian karena kehamilan sepanjang masa reproduksi.

B. Rumusan masalah
a. Bagaimana mengetahui konsep gawat darurat dan langkah penilaian ?
b. Bagaimana mengetahui konsep triage ?

C. Tujuan
a. agar mengerti dan memahami konsep gawat darurat dan langkah penilaian
b. agar mengerti dan memahami konsep triage

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Gawat Darurat


Gawat adalah suatu keadaan karena cedera maupun bukan cedera yang
mengancam nyawa pasien. Contoh : penderita sakit kanker
Sedangkan darurat adalah suatu keadaan karena cedera maupun bukan cedera
yang membutuhkan pertolongan segera. Contoh : pasien yang menginjak
paku.
Definisi gawat darurat adalah suatu keadaan karena cedera maupun bukan
cedera yang mengancam nyawa pasien dan membutuhkan pertolongan segera.
Contoh : pasien tang tersedak makanan, penderita dengan serangan jantung.
Dalam menentukan kondisi kasus obstetri yang dihadapi apakah dalam
keadaan gawat darurat atau tidak harus dilakukan pemeriksaan secara
sistematis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan pemeriksaan
obstetrik.

Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan


medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut
(UU No. 44 tahun 2009 tentang RS)
Kondisi gawat darurat adalah suatu keadaan dimana seseorang secara tiba-
tiba dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam anggota
badannya dan jiwanya (akan menjadi cacat atau mati) bila tidak mendapatkan
pertolongan dengan segera
Unit Gawat Darurat (UGD) adalah salah satu bagian di rumah sakit yang
menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera,
yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Di UGD dapat
ditemukan dokter dari berbagai spesialisasi bersama sejumlah perawat dan
juga asisten dokter (wikipedia indonesia).
Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah Instalasi pelayanan rumah sakit yang
memberikan pelayanan pertama selama 24 jam pada pasien dengan ancaman
kematian dan kecacatan secara terpadu dengan melibatkan multidisiplin ilmu

2
B. Tujuan
Tujuan dari pelayanan gawat darurat ini adalah untuk memberikan
pertolongan pertama bagi pasien yang datang dan menghindari berbagai
resiko, seperti: kematian, menanggulangi korban kecelakaan, atau bencana
lainnya yang langsung membutuhkan tindakan
Beberapa tujuan lain dari pelayanan gawat darurat adalah :

 Mencegah kematian dan kecacatan pada penderita gawat darurat


 Menerima rujukan pasien atau mengirim pasien
 Melakukan penanggulangan korban musibah masal dan bencana yang
terjadi dalam maupun diluar rumah sakit
 Suatu layanan UGD harus mampu memberikan pelayanan dengan
kualitas tinggi pada masyarakat dengan problem medis akut

C. Langkah-langkah Penilaian awal Gawat Darurat


Penilaian awal adalah langkah pertama untuk menentukan dengan cepat
kasus obstetri yang membutuhkan pertolongan segera dan mengidentifikasi
penyulit (komplikasi) yang dihadapi.
Pemeriksaan yang dilakukan dalam penilaian awal ialah sebagai berikut :
1. Periksa Pandang
a. Menilai kesadaran penderita : pingsan/koma, kejang-kejang, gelisah,
tampak kesakitan.
b. Menilai wajah penderita : pucat, kemerahan, banyak berkeringat.
c. Menilai pernapasan
Pernafasan dinilai yaitu lambat atau cepatnya pernafasan.
Pernafasaan yang normal pada orang Dewasa : 12-20x/menit, anak-anak :
15-30x/menit, bayi : 25-40 x/menit.
Menghitung pernafasan penderita anda lakukan dengan cara lihat,
dengar dan raba. Hitung jumlahnya setiap kali dada/perut berkembang
selama periode 30 detik, kemudian kalikan 2 .

3
Dalamnya pernafasan memberi petunjuk terhadap banyaknya udara
pada saat menghirup. Untuk mengukur kedalaman bernafas yaitu dengan
cara meletakan tangan di atas dada penderita dan merasakannya, juga
dapat dengan merasakan gerakan perut.
d. Menilai perdarahan dalam kemaluan
2. Periksa Raba
a. Kulit
Warna kulit dapat berubah karena kelainan jantung , paru, ataupun
permasalahan lainnya , contoh : Pucat, mungkin disebabkan oleh syok/
serangan jantung. Mungkin juga disebabkan karena ketakutan, pingsan
atau kelainan emosi. Kemerah-merahan, mungkin disebabkan karena
tekanan darah yang tinggi, penyalahgunaan alkohol (mabuk ) , tersengat
matahari, serangan demam ,atau pada penyakit infeksi. Kebiru-biruan
adalah selalu masalah serius, tampak pertama kali pada ujung jari dan
sekitar mulut. Umumnya, disebabkan karena kadar CO2 seperti pada
syok, serangan jantung atau keracunan. Kekuning-kuningan mungkin
disebabkan karena penyakit hati . Kehitaman atau warna biru tua yang
setempat ( lokal) adalah hasil dari darah merembes atau meresap di
bawah kulit. Biasanya disebabkan oleh cedera atau infeksi.
Jika penderita berkulit gelap, kita dapat memeriksa perubahan
warna kulit pada bibir, kuku, telapak tangan , cuping telinga, daerah putih
pada mata, permukaan sebelah dalam pada kelopak mata, gusi atau lidah
Kulit biasanya kering, apabila kulit lembab atau basah itu mungkin
menunjukkan syok, kegawatdaruratan panas atau kegawatdaruratan pada
diabetes.
b. Nadi : lemah/kuat, cepat/normal.
Berikut ini merupakan jumlah denyut nadi normal per menit:
 Bayi sampai usia 1 tahun: 100-160 kali per menit.
 Anak usia 11-17 tahun: 60-100 kali per menit
 Dewasa: 60-100 kali per menit.
c. Kaki/tungkai bawah : bengkak
3. Tanda vital

4
· Tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan.
Hasil penilaian awal ini,
berfokus pada apakah pasien
mengalami syok hipovolemik, syok
septic, syok jenis lain, koma, kejang-
kejang atau koma disertai kejang-
kejang, menjadi dasar pemikiran
apakah kasus mengalami perdarahan,
infeksi, hipertensi/preeklamsia/
eklamsia atau penyulit lain. Dasar
pemikiran
ini harus dilengkapi dan diperkuat dengan melakukan pemeriksaan klinik
lengkap, tertapi sebelum pemeriksaan klinik lengkap selesai dilakukan, langkah-
langkah untuk melakukan pertolongan pertama sudah dikerjakan sesuai hasil
penilaian awal, misalnya ditemukan kondisi syok, pertolongan pertama untuk
melakukan syok sudah harus dilakukan.

D. Penilaian Klinik Lengkap


Penilaian kliniK lengkap meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik
umum, dan pemeriksaan obstetric termasuk pemeriksaan panggul secara
sistematis meliputi sebagai berikut.
1. Anamnesis
Diajukan pertanyaan kepada pasien atau keluarganya beberapa hal
berikut dan jawabannya dicatat dalam catatan medik.
a. Masalah/keluhan utama yang menjadi alasan pasien dating ke klinik.
b. Riwayat penyakit/masalah tersebut termasuk obat-obatan yang sudah
didapat
c. Tanggal hari pertama haid yang terakhir dan riwayat haid
d. Riwayat kehamilan sekarang
e. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu termasuk kondisi
anaknya

5
f. Riwayat penyakit yang pernah diderita dan riwayat penyakit dalam
keluarga Riwayat pembedahan
g. Riwayat alergi terhadap obat

2. Pemeriksaan Fisik Umum


a. Penilaian keadaan umum dan kesadaran penderita
b. Penilaian tanda vital (Tekanan darah, nadi, suhu dan pernapasan)
c. Pemeriksaan kepala dan leher
d. Pemeriksaan dada (pemeriksaan jantung dan paru-paru)
e. Pemeriksaan perut (kembung, nyeri tekan atau nyeri lepas, tanda
abdomen akut, cairan bebas dalam rongga perut)
f. Pemeriksaan anggota gerak (antara lain edema tungkai dan kaki)

3. Pemeriksaan Obstetri :
a. Pemeriksaan vulva dan perineum
b. Pemeriksaan vagina
c. Pemeriksaan serviks
d. Pemeriksaan rahim (besarnya, kelainan bentuk, tumor dan sebagainya)
e. Pemeriksaan adneksa
f. Pemeriksaan his (frekuensi, lama, kekuatan relaksasi, simetri, dan
dominasi fundus)
g. Pemeriksaan janin:
1) Didalam atau diluar rahim
2) jumlah janin
3) presentasi janin dan turunnya presentasi seberapa jauh
4) posisi janin, moulase, dan kaput suksedaneum
5) Bagian kecil janin disamping presentasi (tangan, tali pusat, dan lain-
lain)
6) Anomali kongenital pada janin
7) Taksiran berat janin
h. Janin mati atu hidup, gawat janin atau tidak

6
4. Pemeriksaan Panggul :
a. Penilaian pintu atas panggul :
1) Promontorium teraba atau tidak
2) Ukuran konjugata diagonalis dan konjugata vera
3) penilaian linea inominata teraba berapa bagian atau teraba seluruhnya
b. Penialaian ruang tengah panggul :
1) Penilaian tulang sacrum (cekung atau datar)
2) Penilaian dinding samping (lurus atau konvergen)
3) Penilaian spina ischiadika (runcing atau tumpul)
4) Ukuran jarak antaspina iskiadika distansia interspinarum)
c. Penilaian pintu bawah panggul :
1) Arkus pubis (lebih besara atau kurang dari 90°)
2) Penilaian tulang koksigis (ke depan atau tidak)
3) Penilaian adanya tumor jalan lahir yang menghalangi persalinan
pervaginam
4) Penilaian panggul (panggul luas, sempit atau panggul patologik)
d. Penilaian imbang feto-pelvik : (imbang feto-pelvik baik atau disproporsi
sefalo-pelvik)

5. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium sangat membantu dan menentukan baik
dalam penanganan kasus perdarahan, infeksi dan sepsis, hipertensi dan
preeklamsia/eklamsia, maupun kasus kegawatdaruratan yang lain.

6. Pemeriksaan Darah
Darah diambil untuk pemeriksaan berikut (disesuaikan dengan
indikasi klinik).
a) Golongan darah dan cross match
b) Pemeriksaan darah lengkap termasuk trombosit.

7
Kadar hemoglobin dan hematokrit penting dalam kasus
perdarahan. dalam perdarahan akut kadar Hb dapat lebih tinggi, tetapi
dalam kenyataannya jauh lebih rendah. Dalam kasus sepsis kadar Hb
penting dalam kapasitasnya untuk mengangkut oksigen guna
mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat, sehingga harus
diupayakan kadar Hb > 10 gr% dan Ht >30%.
Jumlah dan hitung jenis leukosit berguna untuk memprediksi
infeksi, walaupun kenaikan jumlah leukosit tidak spesifik untuk infeksi.
Pada kasus demam tanpa tanda-tanda, lokasi infeksi, bila jumlah leukosit
>15.000/mm3 berkaitan dengan infeksi bakteri sebesar 50%. Selain itu,
jumlah leukosit juga menjadi suatu komponen criteria dalam SIRS
(Systemik Inflammatory Response Syndrome) suatu istilah untuk
menggambarkan kondisi klinik tertentu yaitu pengaktifan inflammatory
cascade dan dianggap ada apabila terdapat 2 kelainan dari 4 yaitu : 1)
suhu tubuh, 2) Frekuensi jantung, 3) frekuensi napas, 4) jumlah leukosit.
Jumlah trombosit meningkat pada peradangan dan menurun pada DIC
(disseminated intravascular coagulation).
c) Pemeriksaan ureum dan kreatinin untuk menilai fungsi ginjal dan
dehidrasi berat
d) pemeriksaan glukosa darah
e) Pemeriksaan pH darah dan elektrolit (HCO3, Na, K, dan Cl)
f) Pemeriksaan koagulasi
g) Pemeriksaan fungsi hati, bilirubin, dalam evaluasi gagal organ ganda
h) Kultur darah untuk mengetahui jenis kuman

7. Pemeriksaan Air Kemih


Dilakukan pemeriksaan air kemih lengkap dan kultur. Dalam
kondisi syok biasa produksi air kemih sedikit sekali atau bahkan tidak ada.
Berat jenis air kemih meningkat lebih dari 1.020

8
E. Pengertian triage
Triage adalah suatu konsep pengkajian yang cepat dan terfokus dengan
suatu cara yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan
serta fasilitas yang paling efisien dengan tujuan untuk memilih atau
menggolongkan semua pasien yang memerlukan pertolongan dan menetapkan
prioritas penanganan
korban sebelum ditangani, berdasarkan tingkat kegawatdaruratan trauma
atau penyakit dengan mempertimbangkan prioritas penanganan dan sumber
daya yang ada.
Triage adalah suatu sistem pembagian/klasifikasi prioritas klien
berdasarkan berat ringannya kondisi klien/kegawatannya yang memerlukan
tindakan segera. Dalam triage, perawat dan dokter mempunyai batasan waktu
(respon time) untuk mengkaji keadaan dan memberikan intervensi secepatnya
yaitu ≤ 10 menit.
Triage berasal dari bahasa prancis trier bahasa inggris triage dan
diturunkan dalam bahasa Indonesia triase yang berarti sortir. Yaitu proses
khusus memilah pasien berdasar beratnya cedera ataupenyakit untuk
menentukan jenis perawatan gawat darurat. Kiniistilah tersebut lazim
digunakan untuk menggambarkan suatu konseppengkajian yang cepat dan
berfokus dengan suatu cara yangmemungkinkan pemanfaatan sumber daya
manusia, peralatan sertafasilitas yang paling efisien terhadap 100 juta orang
yang memerlukanperawatan di UGD setiap tahunnya. (Pusponegoro, 2010)

F. Tujuan Triage
Tujuan utama adalah untuk mengidentifikasi kondisi yang mengancam
nyawa. Tujuan kedua adalah untuk memprioritaskan pasien menurut ke
akutannya, untuk menetapkan tingkat atau derajat kegawatan yang
memerlukan pertolongan kedaruratan. Dengan triage tenaga kesehatan akan
mampu:

9
 Menginisiasi atau melakukan intervensi yang cepat dan tepat kepada
pasien
 Menetapkan area yang paling tepat untuk dapat melaksanakan pengobatan
lanjutan
 Memfasilitasi alur pasien melalui unit gawat darurat dalam proses
penanggulangan/pengobatan gawat darurat.

G. Fungsi Triage
 Menilai tanda-tanda dan kondisi vital dari korban.
 menetukan kebutuhan media
 menilai kemungkinan keselamatan terhadap korban.
 menentukan prioritas penanganan korban.
 memberikan pasien label warna sesuai dengan skala prioritas.

H. PrinsipTriage
Di rumah sakit, didalam triase mengutamakan perawatan pasien
berdasarkan gejala. Perawat triage menggunakan ABCD keperawatan seperti
jalan nafas, pernapasan dan sirkulasi, serta warna kulit, kelembaban, suhu,
nadi, respirasi, tingkat kesadaran dan inspeksi visual untuk luka dalam,
deformitas kotor dan memar untuk memprioritaskan perawatan yang diberikan
kepada pasien di ruang gawat darurat. Perawat memberikan prioritas pertama
untuk pasien gangguan jalan nafas, bernafas atau sirkulasi terganggu. Pasien-
pasien ini mungkin memiliki kesulitan bernapas atau nyeri dada karena
masalah jantung dan mereka menerima pengobatan pertama. Pasien yang
memiliki masalah yang sangat mengancam kehidupan diberikan pengobatan
langsung bahkan jika mereka diharapkan untuk mati atau membutuhkan
banyak sumber daya medis. (Bagus, 2007).
Menurut Brooker, 2008. Dalam prinsip triage diberlakukan system
prioritas, prioritas adalah penentuan/penyeleksian mana yang harus
didahulukan mengenai penanganan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa
yang timbul dengan seleksi pasien berdasarkan :

10
 Ancaman jiwa yang dapat mematikan dalam hitungan menit.
 Dapat mati dalam hitungan jam.
 Trauma ringan.
 Sudah meninggal.

Pada umumnya penilaian korban dalam triage dapat dilakukan dengan:

 Menilai tanda vital dan kondisi umum korban


 Menilai kebutuhan medis
 Menilai kemungkinan bertahan hidup
 Menilai bantuan yang memungkinkan
 Memprioritaskan penanganan definitive
 Tag Warna

I. Klasifikasi dan Penentuan Prioritas


Berdasarkan Oman (2008), pengambilan keputusan triage didasarkan pada
keluhan utama, riwayat medis, dan data objektif yang mencakup keadaan
umum pasien serta hasil pengkajian fisik yang terfokus. Menurut
Comprehensive Speciality Standard, ENA tahun 1999, penentuan triase
didasarkan pada kebutuhan fisik, tumbuh kembang dan psikososial selain pada
factor-faktor yang mempengaruhi akses pelayanan kesehatan serta alur pasien
lewat sistem pelayanan kedaruratan. Hal-hal yang harus dipertimbangkan
mencakup setiap gejala ringan yang cenderung berulang atau meningkat
keparahannya.
Prioritas adalah penentuan mana yang harus didahulukan mengenai
penanganan dan pemindahan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa yang
timbul.Beberapa hal yang mendasari klasifikasi pasien dalam sistem triage
adalah kondisi klien yang meliputi :
a. Gawat, adalah suatu keadaan yang mengancam nyawa dan kecacatan
yang memerlukan penanganan dengan cepat dan tepat
b. Darurat, adalah suatu keadaan yang tidak mengancam nyawa tapi
memerlukan penanganan cepat dan tepat seperti kegawatan

11
c. Gawat darurat, adalah suatu keadaan yang mengancam jiwa disebabkan
oleh gangguan ABC (Airway / jalan nafas, Breathing / pernafasan,
Circulation / sirkulasi), jika tidak ditolong segera maka dapat meninggal
/ cacat (Wijaya, 2010)

Berdasarkan prioritas perawatan dapat dibagi menjadi 4 klasifikasi :

Tabel 1. Klasifikasi Triage

KLASIFIKASI KETERANGAN

Gawat darurat (P1) Keadaan yang mengancam nyawa / adanya gangguan ABC dan perlu
tindakan segera, misalnya cardiac arrest, penurunan kesadaran, trauma
mayor dengan perdarahan hebat

Gawat tidak darurat Keadaan mengancam nyawa tetapi tidak memerlukan tindakan darurat.
(P2) Setelah dilakukan diresusitasi maka ditindaklanjuti oleh dokter
spesialis. Misalnya ; pasien kanker tahap lanjut, fraktur, sickle cell dan
lainnya

Darurat tidak gawat Keadaan yang tidak mengancam nyawa tetapi memerlukan tindakan
(P3) darurat. Pasien sadar, tidak ada gangguan ABC dan dapat langsung
diberikan terapi definitive. Untuk tindak lanjut dapat ke poliklinik,
misalnya laserasi, fraktur minor / tertutup, sistitis, otitis media dan
lainnya

Tidak gawat tidak Keadaan tidak mengancam nyawa dan tidak memerlukan tindakan
darurat (P4) gawat. Gejala dan tanda klinis ringan / asimptomatis. Misalnya
penyakit kulit, batuk, flu, dan sebagainya

a. Sistem Klasifikasi
Sistem klasifikasi menggunakan nomor, huruf atau tanda. Adapun
klasifikasinya sebagai berikut :

12
Prioritas 1 atau Emergensi

 Pasien dengan kondisi mengancam nyawa, memerlukan evaluasi dan


intervensi segera
 Pasien dibawa ke ruang resusitasi
 Waktu tunggu 0 (Nol)

Prioritas 2 atau Urgent

 Pasien dengan penyakit yang akut


 Mungkin membutuhkan trolley, kursi roda atau jalan kaki
 Waktu tunggu 30 menit
 Area Critical care
Prioritas 3 atau Non Urgent
 Pasien yang biasanya dapat berjalan dengan masalah medis yang
minimal
 Luka lama
 Kondisi yang timbul sudah lama
 Area ambulatory / ruang P3
Prioritas 0 atau 4 Kasus kematian
 Tidak ada respon pada segala rangsang
 Tidak ada respirasi spontan
 Tidak ada bukti aktivitas jantung
 Hilangnya respon pupil terhadap cahaya

b. Sistem Triage
Non Disaster : Untuk menyediakan perawatan sebaik mungkin bagi setiap
individu pasien
Disaster: Untuk menyediakan perawatan yang lebih efektif untuk pasien
dalam jumlah banyak

13
Beberapa petunjuk tertentu harus diketahui oleh perawat triage yang
mengindikasikan kebutuhan untuk klasifikasi prioritas tinggi. Petunjuk
tersebut meliputi :
1) Nyeri hebat
2) Perdarahan aktif
3) Stupor / mengantuk
4) Disorientasi
5) Gangguan emosi
6) Dispnea saat istirahat
7) Diaforesis yang ekstrem
8) Sianosis
9) Tanda vital di luar batas normal

Proses triage dimulai ketika pasien masuk ke pintu UGD. Perawat triage
harus mulai memperkenalkan diri, kemudian menanyakan riwayat singkat dan
melakukan pengkajian, misalnya melihat sekilas kearah pasien yang berada di
brankar sebelum mengarahkan ke ruang perawatan yang tepat.

Pengumpulan data subjektif dan objektif harus dilakukan dengan cepat,


tidak lebih dari 5 menit karena pengkajian ini tidak termasuk pengkajian
perawat utama. Perawat triage bertanggung jawab untuk menempatkan pasien
di area pengobatan yang tepat; misalnya bagian trauma dengan peralatan
khusus, bagian jantung dengan monitor jantung dan tekanan darah, dll. Tanpa
memikirkan dimana pasien pertama kali ditempatkan setelah triage, setiap
pasien tersebut harus dikaji ulang oleh perawat utama sedikitnya sekali setiap
60 menit.

Untuk pasien yang dikategorikan sebagai pasien yang mendesak atau


gawat darurat, pengkajian dilakukan setiap 15 menit / lebih bila perlu.Setiap
pengkajian ulang harus didokumentasikan dalam rekam medis.Informasi baru
dapat mengubah kategorisasi keakutan dan lokasi pasien di area
pengobatan.Misalnya kebutuhan untuk memindahkan pasien yang awalnya

14
berada di area pengobatan minor ke tempat tidur bermonitor ketika pasien
tampak mual atau mengalami sesak nafas, sinkop, atau diaforesis. (Iyer, 2004).

Bila kondisi pasien ketika datang sudah tampak tanda - tanda objektif
bahwa ia mengalami gangguan pada airway, breathing, dan circulation, maka
pasien ditangani terlebih dahulu. Pengkajian awal hanya didasarkan atas data
objektif dan data subjektif sekunder dari pihak keluarga. Setelah keadaan
pasien membaik, data pengkajian kemudian dilengkapi dengan data subjektif
yang berasal langsung dari pasien (data primer).

Alur dalam proses triase.

1. Pasien datang diterima petugas / paramedis UGD.


2. Diruang triase dilakukan anamnese dan pemeriksaan singkat dan cepat
(selintas) untuk menentukan derajat kegawatannya oleh perawat.
3. Bila jumlah penderita/korban yang ada lebih dari 50 orang, maka triase
dapat dilakukan di luar ruang triase (di depan gedung IGD).
4. Penderita dibedakan menurut kegawatnnya dengan memberi kode warna:
a. Segera-Immediate (merah). Pasien mengalami cedera mengancam
jiwa yang kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera.
Misalnya:Tension pneumothorax, distress pernafasan (RR<
30x/mnt), perdarahan internal, dsb.
b. Tunda-Delayed (kuning) Pasien memerlukan tindakan defintif
tetapi tidak ada ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan
laserasi terkontrol, fraktur tertutup pada ekstrimitas dengan
perdarahan terkontrol, luka bakar <25% luas permukaan tubuh,
dsb.
c. Minimal (hijau). Pasien mendapat cedera minimal, dapat berjalan
dan menolong diri sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya :
Laserasi minor, memar dan lecet, luka bakar superfisial.

15
d. Expextant (hitam) Pasien mengalami cedera mematikan dan akan
meninggal meski mendapat pertolongan. Misalnya : Luka bakar
derajat 3 hampir diseluruh tubuh, kerusakan organ vital, dsb.
e. Penderita/korban mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan
warna : merah, kuning, hijau, hitam.
f. Penderita/korban kategori triase merah dapat langsung diberikan
pengobatan diruang tindakan UGD. Tetapi bila memerlukan
tindakan medis lebih lanjut, penderita/korban dapat dipindahkan
ke ruang operasi atau dirujuk ke rumah sakit lain.
g. Penderita dengan kategori triase kuning yang memerlukan
tindakan medis lebih lanjut dapat dipindahkan ke ruang observasi
dan menunggu giliran setelah pasien dengan kategori triase merah
selesai ditangani.
h. Penderita dengan kategori triase hijau dapat dipindahkan ke rawat
jalan, atau bila sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka
penderita/korban dapat diperbolehkan untuk pulang.
i. Penderita kategori triase hitam dapat langsung dipindahkan ke
kamar jenazah. (Rowles, 2007).

16
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Definisi gawat darurat adalah suatu keadaan karena cedera maupun bukan
cedera yang mengancam nyawa pasien dan membutuhkan pertolongan segera.
Contoh : pasien tang tersedak makanan, penderita dengan serangan jantung.
Dalam menentukan kondisi kasus obstetri yang dihadapi apakah dalam
keadaan gawat darurat atau tidak harus dilakukan pemeriksaan secara
sistematis meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan pemeriksaan
obstetrik.
Triage adalah suatu konsep pengkajian yang cepat dan terfokus dengan
suatu cara yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan
serta fasilitas yang paling efisien dengan tujuan untuk memilih atau
menggolongkan semua pasien yang memerlukan pertolongan dan menetapkan
prioritas penanganan

B. Saran
Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami kegawatdarurat
dan langkah penilaian .
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini ,
oleh karena itu penulis engharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
makalah ini , diharapkan dengan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca

17
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.

Prof. Dr. Winjosastro Hanifa, SpOG.2005. Ilmu Kebidanan, Cetakan ketujuh,


Edisi Ketiga, Jakarta : Pustaka Sarwono Prawirohadjo. Yayasan Bina.

Prof.Dr. Heller Luz. 1997. Gawat Darurat Ginekologi dan Obstetri, cetakan
kelima, Edisi pertama, Jakarta : Buku Kedokteran.

Prof. Dr. Basri Saifuddin, SpOG, Mph.2002. Buku panduan Praktis Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatus, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirahardjo.

Randy, Candra. 2012. Konsep Triase. Available at

18

Beri Nilai