Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum Kimia Fisika

Kinetika Reaksi

Oleh :

Kelas C

Kelompok 1

Anggota Kelompok:

Annisa Savira Sonia 1707113709

Cut Mutia Hidayah 1707123072

M. Dandy Tito Angkoso 1707113728

Program Studi Sarjana Teknik Kimia

Fakultas Teknik Universitas Riau

2018

2
2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan
Kinetika kimia mempelajari laju berlangsungnya reaksi kimia dan energi
yang berhubungan dengan proses tersebut, serta mekanisme berlangsungnya
reaksi. Mekanisme reaksi adalah serangkaian reaksi tahap demi tahap yang terjadi
berturutturut se1ama proses perubahan reaktan menjadi produk, atau urutan
langkah-Iangkah reaksi menuju tersusunnya reaksi total (Siregar, 2008).
Bidang kimia yang mengkaji kecepatan atau laju dari terjadinya suatu reaksi
kimia dinamakan kinetika kimia (Chemical Kinetis). Kata kinetik menyiratkan
gerakan atau perubahan, disini kinetika merujuk pada laju reaksi (reaction rate),
yaitu perubahan konsentrasi reaktan atau produk terhadap waktu (M/s) (Chang,
2005).
Laju reaksi merupakan salah satu pokok bahasan yang memaparkan tentang
seberapa cepat atau lambat suatu reaktan habis atau suatu produk terbentuk
(Manitoba, 2013).

1.2 Tujuan

1. Mempelajari pengaruh perubahan konsentrasi pada laju reaksi.


2. Mempelajari pengaruh suhu pada laju reaksi.

1.3 Manfaat

1. Dapat mengetahui pengaruh perubahan konsentrasi terhadap laju reaksi.


2. Dapat mengetahui pengaruh suhu terhadap laju reaksi.
3

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Laju Reaksi


Bidang kimia yang mengkaji kecepatan atau laju dari terjadinya suatu reaksi
kimia dinamakan kinetika kimia (Chemical Kinetis). Kata kinetik menyiratkan
gerakan atau perubahan, disini kinetika merujuk pada laju reaksi (reaction rate),
yaitu perubahan konsentrasi reaktan atau produk terhadap waktu (M/s) (Chang,
2005).
Setiap reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan umum:

Reaktan Produk ........................................................................... (2.1)

Persamaan ini memberitahukan bahwa, selama berlangsungnya suatu reaksi,


molekul reaktan bereaksi sedangkan molekul produk terbentuk. Sebagai hasilnya,
kita dapat mengamati jalannya reaksi dengan cara memantau menurunnya
konsentrasi reaktan atau meningkatnya konsentrasi produk (Chang, 2005).

A B ............................................................................................. (2.2)

Secara umum, akan lebih mudah apabila menyatakn laju dalam perubahan
konsentrasi terhadap waktu. Jadi, untuk reaksi di atas dapat dinyatakan laju
sebagai (Chang, 2005):

∆[𝐴]
Laju = - ..................................................................................................... (2.3)
∆𝑡

atau,

∆[𝐵]
Laju = ....................................................................................................... (2.4)
∆𝑡

dengan ∆[𝐴] dan ∆[𝐵] adalah perubahan konsentrasi (dalam molaritas) selama
waktu ∆𝑡 . Karena konsentrasi A menurun selama selang waktu tersebut, ∆[𝐴]
merupakan kuantitas negatif. Laju reaksi adalah kuantitas postif, sehingga tanda
minus diperlukan dalam rumus laju agar lajunya positif. Sebaliknya, laju
4

pembentukan produk tidak memerlukan tanda minus sebab ∆[𝐵] adalah kuantitas
positif (konsentrasi B meningkat seiring waktu) (Chang, 2005).
Untuk reaksi yang lebih rumit, penulisan rumus lajunya adalah sebagai
berikut:

2A B ............................................................................................... (2.5)

dua mol A menghilang untuk setiap mol B yang terbentuk-dengan kata lain, laju
hilangnya A adalah dua kali lebih cepat dibandingkan laju terbentuknya B.
Penulisan lajunya,

1 ∆[𝐴]
laju = - 2 ..................................................................................................... (2.6)
∆𝑡

atau,

∆[𝐵]
laju = .......................................................................................................... (2.7)
∆𝑡

2.2 Hukum Laju Reaksi


Hukum laju reaksi meliputi pembahasan jumlah keadaan transisi atau
kompleks teraktivasi. Keadaan transisi menerangkan atom-atom pada keadaan
kritis dan konfigurasi pada energi potensial barier tertinggi yang memisahkan
antara reaktan dan produk. Dari beberapa keadaan transisi ada langkah-langkah
reaksi tetapi hanya keadaan transisi yang mempunyai energi bebas tertinggi yang
signifikan. Karakteristik ini mengikuti aturan keadaan transisi, menunjukkan
bahwa setiap langkah tunggal didalam mekanisme reaksi dinamakan sebagai
langkah pengontrolan laju reaksi. Penggunaan lain adalah pembatasan laju reaksi
walaupun sedikit dikenal tapi ada, dan IUPAC merekomendasikan standarisasi
dari pengontrolan laju reaksi (Siregar, 2008).
Hukum laju reaksi membahas komposisi keadaan transisi dari
pengontrolan langkah laju reaksi, yaitu spesis berupa atom yang terkandung dan
terjadi perubahan muatan ion, jika ada. Sebagai tambahan, dapat memberitahukan
apakah ada pengulangan kesetimbangan yang mendahului langkah-langkah
pengontrolan laju reaksi. Kadang-kadang, salah satu pengontrolan ini dapat
5

dipelajari, termasuk senyawa antara dalam kasus mengidentifikasi keadaan


optimum (Siregar, 2008).
Walaupun kondisi isotermal diatur dalam kumpulan percobaan yang
diberikan, variasi suhu dalam keberhasilan dari pengukuran yang disajikan yang
selanjutnya memberikan informasi. Data ini menghasilkan besaran untuk
parameter aktivasi, yaitu berupa entropi aktivasi (∆S), entalpi aktivasi (∆H) dan
energi aktivasi (Ea). Sepertinya laju reaksi berubah sempurna bila digunakan
dalam tekanan tinggi, data ini menghasilkan volume aktivasi (∆𝑉) (Siregar,
2008).
Besarnya laju reaksi dan mekanisme reaksi dapat ditentukan. Meliputi laju
reaksi dibawah kondisi tertentu, konstanta laju reaksi dan energi aktivasi. Yang
lainnya disimpulkan berdasarkan kelangsungan data percobaan, seperti komposisi
keadaan transisi dan langkah pengontrolan laju reaksi sebenarnya. Masih ada yang
lain, yaitu kepolaran, pengaturan stereokimia atom-atom dan perluasan putusnya
ikatan dan penggabungan ikatan kembali (Siregar, 2008).

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi


Dalam kinetika kimia ini dikemukakan cara menentukan laju reaksi dan
faktor apa yang mempengaruhinya (Syukri, 1999).
1. Katalis.
Katalisator adalah zat yang mempercepat reaksi, tetapi tidak ikut
bereaksi. Adanya katalis akan menurunkan energi aktivasi (Ea) dari suatu
reaksi, sehingga lebih mudah dilampaui oleh molekul - molekul reaktan
akibatnya reaksi menjadi lebih cepat.
Paling sedikit ada satu reaktan dalam suatu reaksi. Untuk terbentuknya
suatu produk akibat reaksi katalisis atau auto-katalisis. Adakala suatu
produk boleh menghambat suatu reaksi, hal ini tidak diinginkan, karena
reaksi tidak menyajikan hasil yang sempurna.
Suatu katalis dapat mempengaruhi laju reaksi. Salah satunya membuat
semua usaha untuk mengetahui apakah suatu katalis penting adanya.
Pengaruh pengotoran tidak dapat diperhitungkan tanpa pengontrolan
percobaan.
6

2. Temperatur
Menaikkan suhu berarti menambahkan energi, sehingga energi
kinetik molekulmolekul akan meningkat. Akibatnya molekul-molekul yang
bereaksi menjadi lebih aktif mengadakan turnbukan. Dengan kata lain,
kenaikan suhu menyebabkan gerakan molekul makin cepat sehingga
kemungkinan tumbukan yang efektif makin banyak terjadi.
3. Intensitas Radiasi.
Sinar matahari atau sinar lampu juga dapat mempengaruhi laju reaksi.
Umumnya pengaruh ini sedikit diperhatikan hanya untuk mempelajari
pengaruh fotokimia. Kekuatan sinar di dalam spektrofotometri yang
menggunakan sinar monokromatik tidak diharapkan. Tetapi jika berkas
sinar putih jatuh lurus ke atas sampel seperti didalam dioda
spektrofotometer perlu diperhatikan.
4. Sifat-Sifat Pelarut.
Laju reaksi tergantung dari kepolaran pelarut, viskositas, jumlah donor
elektron, dan sebagainya. Penambahan suatu elektrolit dapat memperkecil
atau menaikkan suatu laju reaksi (pengaruh garam), dan demikian pula
adanya buffer.
Setiap dari variabel-variabel ini akan dibahas dalam buku ini. Dimulai
dengan konsentrasi, karena penentuan bentuk hukum laju reaksi dalam
besaran konsentrasi dan variabel yang lain dijaga konstan. Kemungkinan
ketergantungan konsentrasi dalam langkah suatu reaksi berhubungan dengan
perjalanan langkah reaksi elementer menuju senyawa antara. Beberapa
pengarang, terutama ahli biokimia, menyatakan kinetika mekanisma reaksi
sebagai mekanisma kimia. Selanjutnya, mekanisma reaksi dapat pula
menggambarkan stereokimia beserta aliran elektronnya.
5. Konsentrasi
Makin besar konsentrasi zat reaktan berarti besar kemungkinan
terjadinya tumbukan yang efektif, sehingga laju reaksinya akan semakin
cepat. Tumbukan yang efektif adalah tumbukan antar molekul yang
menghasilkan reaksi, dan hanya dapat terjadi bila molekul yang
bertumbukan tersebut memiliki energi aktivasi yang cukup. Energi aktivasi
7

adalah energi minimum yang harus dimiliki molekul agar tumbukannya


menghasilkan reaksi.

2.4. Orde Reaksi


Orde reaksi adalah jumlah eksponen faktor konsentrasi yang terdapat dalam
hukum laju reaksi itu. Dari persamaan reaksi dalam pers. (1.10) diberikan hukum
laju reaksi dalam pers. (2.8) (Siregar, 2008).

5Br- + BrO3- + 6H+ → 3Br2 + 3H2O ................................................................ (2.8)

d[BrO ]3
r=- = k [BrO3-] [Br-] [H+]2 ................................................................. (2.9)
𝑑𝑡

Keseluruhannya, orde reaksi adalah empat yaitu orde satu terhadap [BrO3-]
dan [Br-], kemudian orde dua terhadap [H+] (Siregar, 2008).
Reaksi antara iodin dan benzilkromium kompleks, ArCH2CrLn2+ (L = suatu
ligan) diberikan dalam pers, (1.12) dengan hukum laju reaksi diberikan oleh pers.
(1.13) (Siregar, 2008).

ArCH2CrLn2+ + I2 → ArCH2I + CrLn2+ + I- .................................................. (2.10)

r = k [ArCH2CrLn2+]3/2[I2]1/2 .......................................................................... (2.11)

Menurut definisi diatas, maka orde reaksi ini adalah orde dua (3/2 + 1/2).
Jelasnya, reaksi ini bukan reaksi bimolekuler, ilustrasi diatas menyatakan bahwa
ada perbedaan antara orde reaksi dan molekularitas. Pernyataan sebelumnya
menerangkan eksponen dalam persamaan kecepatan reaksi, sedangkan berikutnya
menyatakan jumlah spesi terlarut dalam reaksi elementer. Orde reaksi ditentukan
dari percobaan kinetik, yang akan dijelaskan dalam bab berikutnya. Term
molekularitas berhubungan dengan langkah reaksi kimia dan tidak diikuti
penyederhanaan dan tidak meragukan orde reaksi (Siregar, 2008).
Definisi formal dari orde reaksi mematuhi konsentrasi substansi i. Ci adalah:

∂log r
Orde spesi i = (∂logCi)Cj ................................................................................. (2.12)
8

dimana Cj adalah konsentrasi reagensia lainnya dan persamaan ini berlaku untuk
kasus reaksi yang kompleks dan tidak berlaku untuk kasus reaksi sederhana
seperti persamaan (2.8) dan (2.9) (Siregar, 2008).

2.5 Kinetika Kimia


Kinetika kimia mempelajari laju berlangsungnya reaksi kimia dan energi
yang berhubungan dengan proses tersebut, serta mekanisme berlangsungnya
reaksi. Mekanisme reaksi adalah serangkaian reaksi tahap demi tahap yang terjadi
berturutturut se1ama proses perubahan reaktan menjadi produk, atau urutan
langkah-Iangkah reaksi menuju tersusunnya reaksi total (Siregar, 2008).
Cabang ilmu kimia yang khusus mempelajari tentang laju reaksi disebut
kinetika kimia. Tujuan utama kinetika kimia ialah menjelaskan bagaimana laju
bergantung pada konsentrasi reaktan dan mengetahui mekanisme suatu reaksi
berdasarkan pengetahuan tentang laju reaksi yang diperoleh dari eksperimen
(Oxtoby, 2001).
Laju reaksi merupakan laju pengurangan reaktan tiap satuan waktu, atau laju
pembentukan produk tiap satuan waktu. Secara umum, bila A ~ B, maka laju
reaksi (V) dapat dinyatakan dengan rumus (Siregar, 2008):

d [A]
v=- ........................................................................................................ (2.13)
𝑑𝑡

atau

d [B]
v=+ ....................................................................................................... (2.14)
𝑑𝑡

2.6 Penentuan Konstanta Laju Reaksi


Penentuan konstanta laju reaksi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
(Siregar, 2008):
a. Dari Persamaan Hukum
9

Laju Persamaan hukum laju dapat digunakan untuk menentukan harga k


dengan menggambar grafik In [A] versus t ,sehingga akan diperoleh gradien atau
(tg a), yaitu k dengan intersep ln A. Misalnya untuk reaksi orde satu :
In At = In A0- k t ............................................................................................ (2.15)

b. Dari Persamaan Arrhenius


Hubungan antara laju reaksi dengan temperatur dinyatakan dalam
persamaan Arrhenius :

In k = In A - Ea RT ........................................................................................ (2.16)
Dimana:
k = konstanta laju reaksi
A = konstanta Arrhenius (tergantung frekuensi tumbukan)
Ea = Energi Aktivasi
R = tetapan gas umum
T = temperatur rnutlak (oK)
Persamaan tersebut digambarkan dalam grafik sebagai berikut :

Gambar 2.1 Hubungan Laju Reaksi dengan Temperatur

2.7 Energi Aktivasi


Suatu reaksi terjadi bila energi tumbukan antara molekul-molekul reaktan
melampaui energi pengaktifan (energi minimum yang harus dimiliki molekul agar
tumbukannya menghasilkan reaksi) dan orientasi moiekul-molekul harus sesuai
untuk terjadinya reaksi (Kristianingrum, 2003).

2.8 Teori Laju Reaksi


A. Teori Tumbukan
10

Reaksi terjadi karena adanya molekul - molekul yang saling


bertumbukan secara efektif, yaitu tumbukan antar molekul yang
orientasinya sesuai dan rnemungkinkan untuk menghasilkan produk
(Kristianingrum, 2003).
B. Teori Keadaan Transisi
Bila terjadi tumbukan antar molekul reaktan akan diperoleh suatu
keadaan transisi antara (intermediet) yang mempunyai energi sangat tinggi,
sehingga menyebabkan molekul yang menghasilkan kompleks teraktivasi.
Kompleks ini tidak stabil dan dengan segera berubah menjadi produk
(Kristianingrum, 2003)
11

DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond.2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti edisi ketiga jilid 2. Jakarta:
Erlangga.
Oxtoby, dkk.2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern edisi keempat jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Syukri S, 1999. Kimia Dasar jilid 2. ITB, Bandung.