Anda di halaman 1dari 28

WRAP UP SKENARIO 1

BLOK EMERGENSI
“TEKANAN DARAH TINGGI DALAM KEHAMILAN”

KELOMPOK A – 5

Ketua : Indah Pratiwi 1102015097


Sekretaris : Khairifa Adlina Razie 1102015115
Anggota : Ida Nurainun Adjad Makassar 1102012116
Adelin Luthfiana Fajrin 1102015004
Amalia Maulida 1102015019
Andi Aulia Ari Nurdewi 1102015021
Azka Aulia Shafira 1102015042
Azmi Nadia Farah Iffah 1102015043
Dinda Rizqy Dwiputri 1102015061
Dinera Anjani Arsad 1102015062

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2018 – 2019
Skenario 1
TEKANAN DARAH TINGGI DALAM KEHAMILAN
Seorang pasien wanita usia 18 tahun dating ke IGD RS dengan keluhan utama
kepala terasa sakit. Pasien ini dengan kehamilan pertama dan usia kehamilan 32
minggu jika dihitung dari hari pertama haid terakhir. Pasien melakukan ANC ke
Puskesmas sebanyak 4 kalidan terakhir kontrol 1 minggu yang lalu. Berdasarkan
ANC sebelumnya diketahui pasien memiliki tekanan darah tinggi dan sudah
diberikan obat antihipertensi. Selama kehamilan pasien mengalami kenaikan berat
badan 20 kg dan tidak ada edema pada tungkai. Dari riwayat penyakit keluarga
tidak ada keluarga yang menderita penyakit jantung, ginjal, diabetes, dan
hipertensi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit sedang,
tekanan darah 180/ 120, nadi 92x/menit, nafas 22x/menit, suhu 36,3℃. Dari status
obstetric didapatkan tinggi fundus uteri 26 cm dan denyut jantung janin
154x/menit. Tanda-tanda persalinan tidak ada. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan
penunjang USG dengan hasil janin hidup tunggal intra uterin presentasi kepala
dan hasil pemeriksaan laboratorium urin protein positif 3. Dari hasil pemeriksaan
darah didapatkan Hb 10.5 gr%, leukosit 12.000/mm³, trombosit 95.000/mm³.
Kata Sulit:
1. ANC (Ante Natal Care)
Pemeriksaan yang dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin
secara berkala yang diikuti oleh koreksi terhadap kelainan yang
ditemukan.
- Sekali di usia kehamilan hingga 28 minggu
- Sekali di usia kehamilan 28 – 36 minggu
- Dua kali di usia kehamilan > 36 minggu
2. Status Obstetri
Riwayat kehamilan atau persalinan.
Pertanyaan:
1. Mengapa kasus pasien termasuk kasus gawat darurat?
2. Mengapa terjadi proteinuria?
3. Apa faktor risiko tekanan darah meningkat pada kehamilan?
4. Mengapa terjadi trombositopenia?
5. Apa tindakan pertama untuk kasus tersebut?
6. Apa yang terjadi bila keadaan tersebut tidak ditangani segera?
7. Apa saja macam hipertensi pada kehamilan?
8. Apa saja tanda-tanda preeklampsia?
9. Apa kemungkinan diagnosis pasien?
10. Mengapa kepala pasien terasa sakit?

Jawaban:
1. Karena sistol pasien > 170 dan diastol pasien > 110.
2. Vasokonstriksi menyebabkan hipertensi sehingga aliran darah ke ginjal
menurun dan terjadi kerusakan glomerulus.
3. Usia saat hamil yang ekstrim (<20 tahun dan >40 tahun), penyakit ginjal
dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil, obesitas, primigravida,
penderita diabetes, gemeli, adanya riwayat keluarga yang mengalami
preeklampsia.
4. Kerusakan endotel menyebabkan terjadinya pembentukan trombus.
5. Cukup bulan : terminasi kehamilan.
Belum cukup bulan : obat penurun tekanan darah, anti kejang.
6. Dapat menyebabkan kematian ibu dan janin.
7. Preeklampsia : hipertensi dengan tekanan darah > 140/90
mmHg, proteinuria +1, terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu.
Hipertensi Kronik : tekanan darah sistol ≥ 140 dengan diastol
> 90, sebelum usia kehamilan 20 minggu dan bertahan hingga 2 minggu
pasca partus.
Super Imposed Hypertension : hipertensi kronik pada kehamilan yang
disertai dengan proteinuria.
Hipertensi Gestasional : hipertensi pada kehamilan usia 20 minggu
tanpa adanya proteinuria.
Eklampsia : sama halnya seperti preeklampsia dengan
disertai kejang.
8. Ringan : tekanan darah >140/90 mmHg setelah usia kehamilan 20
minggu, proteinuria +1
Meningkat : tekanan darah > 160/110 mmHg, proteinuria > +2,
trombosit <100.000, kreatinin serum > 1,2 mg/dL, nyeri kepala dan
gangguan serebral, edema generalisata.
9. Preeklampsia
10. Hipertensi menyebabkan tekanan pada intra kranium meningkat sehingga
menyebabkan sakit kepana.
Hipotesis:

Usia pasien yang kurang dari 20 tahun merupakan salah satu faktor risiko
terjadinya preeklampsia yang ditandai dengan tekanan darah > 160/110 mmHg
dan proteinuria > positif 2. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah
penanganan ABC (Airway, Breathing, Circulation), pemberian obat
antihipertensi, MgSO4 sebagai antikejang, dan disertai dengan observasi berkala.
Apabila tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan kematian ibu dan
janin.
Sasaran Belajar:
LI. 1. Memahami dan Menjelaskan Hipertensi pada Kehamilan
LO. 1.1. Definisi
LO. 1.2. Epidemiologi
LO. 1.3. Faktor Risiko
LO. 1.4. Klasifikasi
LO. 1.5. Patofisiologi
LO. 1.6. Manifestasi Klinis
LO. 1.7. Diagnosis dan Diagnosis Banding
LO. 1.8. Tatalaksana
LO. 1.9. Komplikasi
LO. 1.10. Prognosis
LO. 1.11. Pencegahan
LI. 1. Memahami dan Menjelaskan Hipertensi pada Kehamilan

LO.1.1. Definisi

Penyakit hipertensi atau yang lebih dikenal dengan darah tinggi adalah suatu
keadaan dimana tekanan darah seseorang adalah ≥ 140 mmHg (tekanan
sistolik) dan ≥ 90 mmHg (tekanan diastolik). (JNC IV, 2003)
Nilai yang lebih tinggi (sistolik) menunjukkan fase darah yang dipompa
keluar oleh jantung, seangkan nilai yang lebih rendah (diastolik)
menunjukkan fase darah kembali ke dalam jantung.
Hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan vascular yang terjadi
sebelum kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada masa nifas.
Ditandai dengan hipertensi dan sering disertai proteinuria, edema, kejang,
koma atau gejala lain.
 Hipertensi ringan = 140/90 dan 149/99
 Hipertensi sedang = 150/100 dan 159/109
 Hipertensi berat = 160/110 atau lebih (Sastrawinata,2005)

LO.1.2. Epidemiologi

Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5 – 15% penyulit kehamilan dan


merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas
ibu bersalin. Di Indonesia mortalitas dan morbiditas hipertensi dalam
kehamilan juga masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan selain oleh etiologi
yang tidak jelas, juga oleh perawatan dalam persalinan masih ditangani oleh
petugas non medik dan sistem rujukan yang belum sempurna.
LO.1.3. Faktor Risiko

Faktor risiko hipertensi dalam kehamilan:


 Primigravida, primipaternitas
 Hiperplasentosis, misalnya: mola hidatidosa, kehamilan multipel,
diabetes mellitus, hidrops fetalis, bayi besar
 Umur yang ekstrim
 Riwayat keluarga pernah preeklampsia/ eklampsia
 Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil
 Obesitas
Faktor risiko untuk perkembangan preeklampsia dan eklampsia:
 Hipertensi kronik
 Primigravida
 Riwayat keluarga pernah preeklampsia/ eklampsia
 Kehamilan gestasi multipel
 Usia yang terlalu muda atau terlalu tua
 Kehamilan mola
 Diabetes mellitus
 Penyakit ginjal kronik
 Jarang atau tidak melakukan pemeriksaan antenatal
LO.1.4. Klasifikasi

Klasifikasi yang di pakai di Indonesia adalah berdasarkan Report of


the National High Blood Pressure Education Program Working Group on
High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2001, ialah:
1. Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan
20 minggu atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis setelah umur
kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca
persalinan.
2. Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan
disertai dengan proteinuria.
3. Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai dengan kejang-kejang
dan/atau koma.
4. Hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsia adalah hipertensi
kronik yang disertai tanda-tanda atau hipertensi kronik disertai proteinuria.
5. Hipertensi gestasional adalah hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa
disertai proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pasca
melahirkan atau kehamilan dengan tanda-tanda preeklamsia tanpa
proteinuria. (Prawirohardjo, 2008)
Preeklampsi adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu
kehamilan disertai dengan proteinuria. Preeklamsia dibedakan menjadi
preeklamsia ringan dan preeklampsia berat. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Hipertensi adalah tekanan darah sistolik dan diastolik ≥140/90 mmHg.
Pengukuran darah dilakukan sebanyak 2 kali pada selang waktu 4 jam-6 jam.
2. Proteinuria adalah adanya 300 mg protein dalam urin selama 24 jam atau
sama dengan ≥1+ dipstic.
3. Edema, sebelumnya edema tungkai dipakai sebagai tanda-tanda preeklamsi
tetapi sekarang edema tungkai tidak dipakai lagi, kecuali edema generalisata.
Selain itu bila di dapatkan kenaikan berat badan >0,57kg/minggu.
(Prawirohardjo, 2008)
Preeklampsia ringan adalah suatu sindroma spesifik kehamilan dengan
menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh
darah dan aktivasi endotel.
Preeklampsia berat adalah preeklamsia dengan tekanan darah sistolik
≥ 160 mmHg dan tekanan diastolik ≥ 110 mmHg disertai proteinuria > 5 g/24
jam. Preeklamsia berat dibagi menjadi:
a. Preeklamsia berat tanpa impending eklampsia
b. Preeklamsia berat dengan impending eclamsia, disebut impending
eclamsia bila preeklamsia disertai gejala-gejala subjektif berupa nyeri
kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium, dan
kenaikan progresif tekanan darah.

LO.1.5. Patofisiologi

Penyebab hipertensi dalam kehamilan hingga kini belum diketahui


dengan jelas. Banyak teori telah dikemukakan tentang terjadinya hipertensi
dalam kehamilan, tetapi tidak ada satu pun teori tersebut dianggap mutlak
benar. Teori-teori yang sekarang banyak dianut adalah:

 Teori kelainan vaskularisasi plasenta


Pada kehamilan normal, rahim dan plasenta mendapatkan aliran darah
dari cabang-cabang arteri uterina dan arteri ovarika yang menembus
miometrium dan menjadi arteri arkuata, yang akan bercabang menjadi
arteri radialis. Arteri radialis menembus endometrium menjadi arteri
basalis memberi cabang arteri spiralis. Pada kehamilan terjadi invasi
trofoblas kedalam lapisan otot arteri spiralis, yang menimbulkan
degenerasi lapisan otot tersebut sehingga terjadi distensi dan vasodilatasi
arteri spiralis, yang akan memberikan dampak penurunan tekanan darah,
penurunan resistensi vaskular, dan peningkatan aliran darah pada utero
plasenta. Akibatnya aliran darah ke janin cukup banyak dan perfusi
jaringan juga meningkat, sehingga menjamin pertumbuhan janin dengan
baik. Proses ini dinamakan remodelling arteri spiralis. Pada preeklampsia
terjadi kegagalan remodeling menyebabkan arteri spiralis menjadi kaku
dan keras sehingga arteri spiralis tidak mengalami distensi dan
vasodilatasi, sehingga aliran darah utero plasenta menurun dan terjadilah
hipoksia dan iskemia plasenta.
 Teori iskemia plasenta, radikal bebas, dan disfungsi endotel
o Iskemia
Plasenta dan pembentukan Radikal Bebas Karena kegagalan
Remodelling arteri spiralis akan berakibat plasenta mengalami
iskemia, yang akan merangsang pembentukan radikal bebas, yaitu
radikal hidroksil (-OH) yang dianggap sebagai toksin. Radiakl
hidroksil akan merusak membran sel yang banyak mengandung
asam lemak tidak jenuh menjadi peroksida lemak. Periksida lemak
juga akan merusak nukleus dan protein sel endotel.
o Disfungsi Endotel
Kerusakan membran sel endotel mengakibatkan terganggunya fungsi
endotel, bahkan rusaknya seluruh struktur sel endotel keadaan ini
disebut disfungsi endotel, yang akan menyebabkan terjadinya:
 Gangguan metabolisme prostalglandin, yaitu menurunnya
produksi prostasiklin (PGE2) yang merupakan suatu vasodilator
kuat.
 Agregasi sel-sel trombosit pada daerah endotel yang mengalami
kerusakan. Agregasi trombosit memproduksi tromboksan
(TXA2) yaitu suatu vasokonstriktor kuat. Dalam Keadaan
normal kadar prostasiklin lebih banyak dari pada tromboksan.
Sedangkan pada pre eklamsia kadar tromboksan lebih banyak
dari pada prostasiklin, sehingga menyebabkan peningkatan
tekanan darah.
 Perubahan khas pada sel endotel kapiler glomerulus (glomerular
endotheliosis).
 Peningkatan permeabilitas kapiler.
 Peningkatan produksi bahan-bahan vasopresor, yaitu endotelin.
Kadar NO (vasodilator) menurun sedangkan endotelin
meningkat.
 Peningkatan faktor koagulasi
 Teori intoleransi imunologik antara ibu dan janin
Pada perempuan normal respon imun tidak menolak adanya hasil
konsepsi yang bersifat asing. Hal ini disebabkan adanya Human
Leukocyte Antigen Protein G (HLA-G) yang dapat melindungi trofoblas
janin dari lisis oleh sel natural killer (NK) ibu. HLA-G juga akan
mempermudah invasi sel trofoblas ke dalam jaringan desidua ibu. Pada
plasenta ibu yang mengalami preeklampsia terjadi ekspresi penurunan
HLA-G yang akan mengakibatkan terhambatnya invasi trofoblas ke
dalam desidua. Kemungkinan terjadi Immune-Maladaptation pada
preeklampsia.
 Teori adaptasi kardiovaskular
Pada kehamilan normal pembuluh darah refrakter terhadap bahan
vasopresor.
Refrakter berarti pembuluh darah tidak peka terhadap rangsangan vasopr
esor atau dibutuhkan kadar vasopresor yang lebih tinggi untuk
menimbulkan respon vasokonstriksi. Refrakter ini terjadi akibat adanya
sintesis prostalglandin oleh sel endotel. Pada preeklampsia terjadi
kehilangan kemampuan refrakter terhadap bahan vasopresor sehingga
pembuluh darah menjadi sangat peka terhadap bahan vasopresor
sehingga pembuluh darah akan mengalami vasokonstriksi dan
mengakibatkan hipertensi dalam kehamilan.
 Teori genetik
Ada faktor keturunan dan familial dengan model gen tunggal. Genotipe
ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan secara
familial jika dibandingkan dengan genotipe janin. Telah terbukti bahwa
ibu yang mengalami preeklampsia, 26% anak perempuannya akan
mengalami preeklampsia pula, sedangkan hanya 8% anak menantu
mengalami preeklampsia.
 Teori defisiensi gizi
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa defisiensi gizi berperan
dalam terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Penelitian terakhir
membuktikan bahwa konsumsi minyak ikan dapat mengurangi resiko
preeklampsia. Minyak ikan banyak mengandung asam lemak tidak jenuh
yang dapat menghambat produksi tromboksan, menghambat aktivasi
trombosit, dan mencegah vasokonstriksi pembuluh darah.
 Teori stimulasi inflamasi
Teori ini berdasarkan bahwa lepasnya debris trofoblas di dalam sirkulasi
darah merupakan rangsangan utama terjadinya proses inflamasi. Berbeda
dengan proses apoptosis pada preeklampsia, dimana pada preeklampsia
terjadi peningkatan stres oksidatif sehingga produksi debris trofoblas dan
nekrorik trofoblas juga meningkat. Keadaan ini mengakibatkan respon
inflamasi yang besar juga. Respon inflamasi akan mengaktifasi sel
endotel dan sel makrofag/granulosit yang lebih besar pula, sehingga
terjadi reaksi inflamasi menimbulkan gejala-gejala preeklampsia pada
ibu.

LO.1.6. Manifestasi Klinis

Manifestasi preeklamsia ringan:


 Tekanan darah ≥ 140 mmHg/ 90 mmHg
 Proteinuria ≥ 300 mg/ 24 jam atau ≥ 1 + dipstik
 Edema
Manifestasi preeklamsia berat:
 Tekanan darah ≥ 160 mmHg/ ≥ 110 mmHg
 Proteinuria > 5 g/ 24 jam atau 4 +
 Oliguria
 Gangguan visus dan serebral
 Nyeri epigastirum
 Hemolisis mikroangiopatik
 Trombositopenia berat
 Gangguan fungsi hepar
 Pertumbuhan janin intrauterin terhambat
 Sindrom HELLP
LO.1.7. Diagnosis dan Diagnosis Banding

A. Anamnesis
Evaluasi pada penderita hipertensi adalah dengan melakukan
anamnesis tentang keluhan pasien, riwayat penyakit dahulu dan
penyakit keluarga, pemeriksaan fisis serta pemeriksaan penunjang.
Anamnesis meliputi:
1. Lama menderita hipertensi dan derajat tekanan darah
2. Indikasi adanya hipertensi sekunder
- Keluarga dengan riwayat penyakit ginjal
- Pemakaian obat-obatan analgesic dan obat/bahan lain
3. Faktor-faktor risiko
4. Gejala kerusakan organ

B. Pemeriksaan Fisik
1. Pengukuran tekanan darah
- Pengukuran rutin di kamar periksa dokter / rumah sakit
- Pengukuran 24 jam

C. Pemeriksaan Penunjang
1. Tes darah rutin
2. Proteinuria kuantitatif
3. Hitung darah perifer lengkap (DPL)
4. Golongan darah ABO, Rh, dan uji pencocokan silang
5. Fungsi hati (LDH, SGOT, SGPT)
6. Fungsi ginjal (ureum, kreatinin serum)
7. Profil koagulasi (PT, APTT, fibrinogen)
8. USG (terutama jika ada indikasi gawat janin/pertumbuhan
janin terhambat)

 Penegakan Diagnosis Preeklampsia


Hipertensi adalah tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmHg sistolik
atau 90 mmHg diastolik pada dua kali pemeriksaan berjarak 15 menit
menggunakan lengan yang sama. Definisi hipertensi berat adalah
peningkatan tekanan darah sekurang-kurangnya 160 mmHg sistolik atau
110 mmHg diastolik. Mat tensimeter sebaiknya menggunakan tensimeter
air raksa, namun apabila tidak tersedia dapat menggunakan tensimeter
jarum atau tensimeter otomatis yang sudah divalidasi. Laporan terbaru
menunjukkan pengukuran tekanan darah menggunakan alat otomatis
sering memberikan hasil yang lebih rendah. Berdasarkan American
Society of Hypertension ibu diberi kesempatan duduk tenang dalam 15
menit sebelum dilakukan pengukuran tekanan darah pemeriksaan.
Pengukuran dilakukan pada posisi duduk posisi manset setingkat dengan
jantung, dan tekanan diastolik diukur dengan mendengar bunyi korotkoff
V (hilangnya bunyi). Ukuran manset yang sesuai dan kalibrasi alat juga
senantiasa diperlukan agar tercapai pengukuran tekanan darah yang tepat.
Pemeriksaan tekanan darah pada wanita dengan hipertensi kronik harus
dilakukan pada kedua tangan, dengan menggunakan hasil pemeriksaan
yang tertinggi.

 Penentuan Proteinuria
Proteinuria ditetapkan bila ekskresi protein di urin melebihi 300 mg
dalam 24 jam atau tes urin dipstik > positif 1. Pemeriksaan urin dipstik
bukan merupakan pemeriksaan yang akurat dalam memperkirakan kadar
proteinuria. Konsentrasi protein pada sampel urin
sewaktu bergantung pada beberapa faktor, termasuk jumlah urin. Kuo
melaporkan bahwa pemeriksaan kadar protein kuantitatif pada hasil
dipstik positif 1 berkisar 0-2400 mg/24 jam, dan positif 2 berkisar 700-
4000mg/24jam. Pemeriksaan tes urin dipstik memiliki angka positif palsu
yang tinggi, seperti yang dilaporkan oleh Brown, dengan tingkat positif
palsu 67-83%. Positif palsu dapat disebabkan kontaminasi duh vagina,
cairan pembersih, dan urin yang bersifat basa. Konsensus Australian
Society for the Study of Hypertension in Pregnancy (ASSHP) dan
panduan yang dikeluarkan oleh Royal College of Obstetrics and
Gynecology (RCOG) menetapkan bahwa pemeriksaan proteinuria dipstik
hanya dapat digunakan sebagai tes skrining dengan angka positif palsu
yang sangat tinggi, dan harus
dikonfirmasi dengan pemeriksaan protein urin tampung 24 jam atau rasio
protein banding kreatinin. Pada telaah sistematik yang dilakukan Côte
dkk disimpulkan bahwa pemeriksaan rasio protein banding kreatinin
dapat memprediksi proteinuria dengan lebih baik.
 Penegakkan Diagnosis Preeklampsia
Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa preeklampsia didefinisikan
sebagai hipertensi yang baru terjadi pada kehamilan / diatas usia
kehamilan 20 minggu disertai adanya gangguan organ. Jika hanya
didapatkan hipertensi saja, kondisi tersebut tidak dapat disamakan
dengan peeklampsia, harus didapatkan gangguan organ spesifik akibat
preeklampsia tersebut. Kebanyakan kasus preeklampsia ditegakkan
dengan adanya protein urin, namun jika protein urin tidak didapatkan,
salah satu gejala dan gangguan lain dapat digunakan untuk menegakkan
diagnosis preeklampsia, yaitu:
o Trombositopenia: trombosit < 100.000 / mikroliter
o Gangguan ginjal: kreatinin serum >1,1 mg/dL atau didapatkan
peningkatan kadar kreatinin serum pada kondisi dimana tidak ada
kelainan ginjal lainnya
o Gangguan liver: peningkatan konsentrasi transaminase 2 kali normal
dan atau adanya nyeri di daerah epigastrik / regio kanan atas
abdomen
o Edema Paru
o Didapatkan gejala neurologis: stroke, nyeri kepala, gangguan visus
o Gangguan pertumbuhan janin yang menjadi tanda gangguan sirkulasi
uteroplasenta: Oligohidramnion, Fetal Growth Restriction (FGR)
atau didapatkan adanya absent or reversed end diastolic velocity
(ARDV)
 Penegakkan Diagnosis Preeklampsia Berat
Beberapa gejala klinis meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada
preeklampsia, dan jika gejala tersebut didapatkan, akan dikategorikan
menjadi kondisi pemberatan preeclampsia atau disebut dengan
preeklampsia berat. Kriteria gejala dan kondisi yang menunjukkan
kondisi pemberatan preeklampsia atau preklampsia berat adalah salah
satu dibawah ini:
o Tekanan darah sekurang-kurangnya 160 mmHg sistolik atau 110
mmHg diastolic pada dua kali pemeriksaan berjarak 15 menit
menggunakan lengan yang sama
o Trombositopenia: trombosit < 100.000 / mikroliter
o Gangguan ginjal: kreatinin serum >1,1 mg/dL atau didapatkan
peningkatan kadar kreatinin serum pada kondisi dimana tidak ada
kelainan ginjal lainnya
o Gangguan liver: peningkatan konsentrasi transaminase 2 kali normal
dan atau adanya nyeri di daerah epigastrik / regio kanan atas
abdomen
o Edema Paru
o Didapatkan gejala neurologis: stroke, nyeri kepala, gangguan visus
o Gangguan pertumbuhan janin menjadi tanda gangguan sirkulasi
uteroplasenta: Oligohidramnion, Fetal Growth Restriction (FGR)
atau didapatkan absent or reversed end diastolic velocity (ARDV)
Beberapa penelitian terbaru menunjukkan rendahnya hubungan antara
kuantitas protein urin terhadap luaran preeklampsia, sehingga kondisi
protein urin masif (lebih dari 5 g) telah dieleminasi dari kriteria
pemberatan preeklampsia (preeklampsia berat). Kriteria terbaru tidak lagi
mengkategorikan lagi preeklampsia ringan, dikarenakan setiap
preeklampsia
merupakan kondisi yang berbahaya dan dapat mengakibatkan
peningkatan morbiditas dan mortalitas secara signifikan dalam waktu
singkat.
 Diagnosis eklampsia:
o Didahului oleh gejala preeklamsia.
o Disertai kejang menyeluruh dan koma. Kejang tersebut dapat terjadi
pada saat sebelum, selama dan setelah persalinan.
o Tidak ada kemungkinan penyebab lain (misalnya epilepsi,
perdarahan subarakhnoid, dan meningitis)
 Diagnosis hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsia:
o Ibu dengan riwayat hipertensi kronik (sudah ada sebelum usia
kehamilan 20 minggu)
o Tes celup urin menunjukkan proteinuria > + 1 atau trombosit <
100.000 sel/uL pada usia kehamilan > 20 minggu
 Diagnosis hipertensi gestasional:
o Tekanan darah ≥ 140/90 mmHg
o Tidak ada riwayat hipertensi sebelum hamil, tekanan darah normal di
usia kehamilan <12 minggu.
o Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin).
o Dapat disertai tanda dan gejala preeklampsia, seperti nyeri ulu hati di
trombositopenia.
o Diagnosis pasti ditegakkan pasca persalinan.
 Diagnosis banding:
o Antiphospholipid Antibody Syndrome and Pregnancy
o Antithrombin Deficiency
o Aortic Coarctation
o Autoimmune Thyroid Disease and Pregnancy
Wanita hamil dengan TD
>140/90 mmHg

Sebelum usia kehamilan Setelah usia kehamilan


20 minggu 20 minggu

Proteinuria baru /
peningkatan proteinuria,
Tanpa proteinuria Proteinuria Tanpa proteinuria
terjadi peningkatan TD
atau sindrom HELLP

Preeklampsia
superimposed hipertensi
Hipertensi kronik kronik Preeklampsia Hipertensi gestasional

LO.1.8. Tatalaksana

Pencegahan dan Tatalaksana terhadap Kejang


 Bila terjadi kejang, perhatikan jalan napas, pernapasan (oksigen), dan
sirkulasi (cairan intravena).
 MgSO4 diberikan secara intravena kepada ibu dengan eklampsia
(sebagai tatalaksana kejang) dan preeklampsia berat (sebagai
pencegahan kejang).
 Pada kondisi di mana MgSO4 tidak dapat diberikan seluruhnya,
berikan dosis awal (loading dose) lalu rujuk ibu segera ke fasilitas
kesehatan yang memadai.
 Lakukan intubasi jika terjadi kejang berulang dan segera kirim ibu ke
ruang ICU (bila tersedia) yang sudah siap dengan fasilitas
ventilator tekanan positif.
Tatalaksana terhadap Hipertensi

 Ibu dengan hipertensi berat selama kehamilan perlu mendapat terapi


antihipertensi.
 Pilihan antihipertensi didasarkan terutama pada pengalaman dokter dan
ketersediaan obat. Beberapa jenis antihipertensi yang dapat digunakan:
o Antihipertensi golongan ACE inhibitor (misalnya kaptopril), ARB
(misalnya valsartan), dan klorotiazid dikontraindikasikan pada ibu
hamil.
o Ibu yang mendapat terapi antihipertensi di masa antenatal
dianjurkan untuk melanjutkan terapi antihipertensi hingga
persalinan
o Terapi antihipertensi dianjurkan untuk hipertensi pascasalin berat.
Sikap terhadap Kehamilan
Berdasarkan William Obstetrics, ditinjau dari umur kehamilan dan
perkembangan gejala-gejala preeklamsia berat selama perawatan; maka sikap
terhadap kehamilannya dibagi menjadi:
 Aktif (Agressive Management): Berarti kehamilannya segera diakhiri
/ diterminasi bersamaan dengan pemberian pengobatan
medikamentosa.
 Konservatif (Ekspektatif): Berarti kehamilan tetap dipertahankan
bersamaan dengan pemberian pengobatan medikamentosa.
Indikasi perawatan aktif adalah bila didapatkan satu atau lebih keadaan
dibawah ini:

Pada ibu
 Umur kehamilan ≥ 37 minggu. Lockwood dan Paids mengambil
batasan umur kehamilan > 37 minggu untuk preeklamsia ringan dan
umur kehamilan ≥ 37 minggu untuk preeklamsia berat.
 Adanya tanda-tanda gejala Impending Eclampsia
 Kegagalan terapi pada perawtan konservatif, yaitu: keadaan klinis dan
laboratorik memburuk.
 Diduga terjadi solusio plasenta.
 Timbul onset persalinan, ketuban pecah, atau perdarahan.

Pada janin
 Adanya tanda-tanda fetal distress (gawat janin)
 Adanya tanda-tanda Intrauterine Growth Restriction (IUGR)
 NST nonreaktif dengan profil biofisik abnormal
 Terjadinya oligohidramnion

Pada laboratorium

Adanya tanda-tanda “Sindroma HELLP” (Hemolysis, Elevated Liver


Enzyme, Low Platelets Count ) merupakan suatu variasi dari preeklamsi
berat yang disertai trombositopenia, hemolisis dan gangguan fungsi hepar.

Perawatan konservatif (ekspektatif): bila kehamilan preterm ≤ 37 minggu


tanpa disertai tanda-tanda impending eclampsia dengan keadaan janin baik.
Diberi pengobatan yang sama dengan pengobatan medikamentosa pada
pengelolaan secara aktif.
LO.1.9. Komplikasi

 Iskemia uteroplasenta
o Pertumbuhan janin terhambat
o Kematian janin
o Persalinan prematur
o Solusio plasenta
 Spasme arteriolar
o Perdarahan serebral
o Ablasio retina
o Tromboemboli
o Gangguan pembekuan darah
o Buta kortikal
 Kejang dan koma
o Trauma akibat kejang
o Aspirasi cairan, darah, muntahan yang berakibat gangguan
pernafasan

LO.1.10. Prognosis

Preeklampsia diperkirakan berakibat kematian maternal sebesar 14%.


Kematian tersebut diakibatkan disfungsi sel endotel sistemik, vasospasme
yang menyebabkan kegagalan organ, komplikasi susunan saraf pusat,
komplikasi pada ginjal, gangguan koagulasi, dan solusio plasenta.
Kemungkinan preeklampsia berulang adalah 10%. Apabila wanita tersebut
mengalami preeklampsia dengan komplikasi, maka kemungkinan untuk
berulang di kehamilan berikutnya menjadi lebih besar. Jika kejadian
preeklampsianya lebih dini, maka kemungkinan berulangnya juga lebih
bagus.
LO. 1.11. Pencegahan

Pencegahan preeklampsia
 Nonmedikal
o Tirah baring untuk yang berisiko tinggi preeklapsia (tidak terbukti
mencegah terjadinya preeklampsia dan mencegah persalinan
preterm)
o Diet ditambah suplemen yang mengandung minyak ikan yang kaya
dengan asam lemak tidak jenuh, misalnya omega-3 PUFA,
antioksidan : vitamin C,E,β-karoten, CoQ10, N-asetilsistein, asam
lipoik dan elemen logam berat : zinc, magnesium, kalsium
 Medikal
o Kalsium : 1.500-2.000 mg/hari
o Zinc 200 mg/hari
o Magnesium 365/hari
o Obat anti trombotik yang dianggap dapat dapat mencegah
preeklampsia adalah aspirin dosis rendah rata-rata di bawah
100mg/hari atau dipyridamole
o Antioksidan : vit. C, vit E, β-karoten, CoQ10, N-asetilsistein, asam
lipoik
Daftar Pustaka

Bobak dkk. 1995. Keperawatan maternitas. Jakarta: EGC.

Cunningham, F. G. (2005).Obstetri Williams.Jakarta: EGC. Edisi: 21

Mansjoer Arif dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media
Aesculaplus.

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetry Jilid I. EGC: Jakarta

Myrtha, Risalina. 2015. Penatalaksanaan Tekanan Darah pada Preeklampsia.


CDK-227/ Vol. 42 No. 4.

Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Diagnosis dan Tatalaksana


Preeklampsia 2016.

Pedoman Pengobatan Dasar Puskesmas 2008.

Prawirohardjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP – SP.

Pritchard JA, MacDonald PC, Gant NF. Williams Obstetrics, 20th ed. R Hariadi,
R Prajitno Prabowo, Soedarto, penerjemah. Obstetri Williams. Edisi 20. Surabaya:
Airlangga University Press, 2001; 456-70.

Winkjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBPSP


Chalik TMH. Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Widya Medika,
1997; 109-26.