Anda di halaman 1dari 15

REFERAT

RUBELLA dan MORBILI

Disusun oleh:

TEGUH ALMAN F 1310070100102

AFIQ AGUNG A 1310070100080

ADITYA PERMANA 131070100064

RETNO PUSPITA S 1310070100056

HABIBI AL AFGHANI 1310070100053

Preceptor:

dr. Liza Fitria, Sp.A, M.Biomed

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RSUD DR.


AHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI PERIODE 2 JULI 2018 - 8
SEPTEMBER 2018 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
BAITURRAHMAH
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rubella atau Campak Jerman merupakan penyakit anak menular yang


lazim biasanya ditadai dengan gejala utama ruam yang berlangsung 2-3 hari
dan pembesaran limfonodi pascaoksipital, retroaurikuler, dan servikalis

posterior.1 Campak Jerman atau rubela ini biasanya hanya menyerang anak-
anak sampai usia belasan tahun. Tapi, bila penyakit ini menyerang anak
yang lebih tua dan dewasa, terutama wanita dewasa, infeksi kadang kadang
dapat berat, dengan manifestasi keterlibatan sendi dan purpura.

Rubella menjadi penting karena penyakit ini dapat menimbulkan


kecacatan pada janin. Sindroma rubella congenital (Congenital Rubella

Syndrome, CRS).2 Infeksi janin pada usia lebih muda mempunyai risiko
kematian di dalam rahim, abortus spontan dan kecacatan congenital dari
sistem organ tubuh utama. Cacat yang terjadi bisa satu atau kombinasi dari
jenis kecacatan berikut seperti tuli, katarak, mikroftalmia, glaucoma
congenital, mikrosefali, meningoensefalitis, keterbelakangan mental, patent
ductus arteriosus, defek septum atrium atau ventrikel jantung, purpura,
hepatosplenomegali, icterus.

Penyakit Campak sering menyerang anak anak balita. Penyakit ini


mudah menular kepada anak anak sekitarnya, oleh karena itu, anak yang
menderita Campak harus diisolasi untuk mencegah penularan. Campak
disebabkan oleh kuman yang disebut Virus Morbili. Anak yang terserang
campak kelihatan sangat menderita, suhu badan panas, bercak bercak
seluruh tubuh terkadang sampai borok bernanah. Biasanya penyakit ini
timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur
hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan
mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan
dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si bayi dapat
menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia hamil
1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia
menderita morbili pada trimester I, II, atau III maka ia akan mungkin
melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan
BBLR, atau lahir mati atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1
tahun.

1.2 Tujuan

Penulisan referat ini bertujuan untuk menambah pengetahuan pembaca dan


penulis mengenai Imunisasi Morbili dan Rubella mulai dari definisi sampai ke
penatalaksanaan.

1.3 Manfaat
a. Bagi penulis
Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mempelajari,
mengidentifikasi dan mengembangkan teori yang telah disampaikan mengenai
Imunisasi Morbili dan Rubella.

b. Bagi Institusi Pendidikan


Dapat dijadikan sumber referensi atau bahan perbandingan bagi
kegiatan yang ada kaitannya dengan pelayanan kesehatan khususnya yang
berkaitan dengan Imunisasi Morbili dan Rubella.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rubella

2.1.1 Definisi

Rubella merupakan suatu penyakit virus yang umum pada anak dan
dewasa muda, yang ditandai oleh suatu masa prodromal yang pendek,
pembesaran kelenjar getah bening servikal, suboksipital dan postaurikular,
disertai erupsi yang berlangsung 2-3 hari.1

2.1.2 Epidemiologi

Penyakit ini terdistribusi secara luas di dunia. Setiap tahun melalui


kegiatan surveilans dilaporkan lebih dari 11.000 kasus suspek campak, dan
hasil konfirmasi laboratorium menunjukkan 12-39% di antaranya adalah
campak pasti (lab confirmed) sedangkan 16-43% adalah rubella pasti. Dari
tahun 2010 sampai 2015, diperkirakan terdapat 30.463 kasus rubella.2 Di
Indonesia, rubella merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat
yang memerlukan upaya pencegahan efektif. Data surveilans selama lima
tahun terakhir selama lima tahun terakhir menunjukkan 70% kasus rubella
terjadi pada kelompok usia < 15 tahun.3 Selain itu, berdasarkan studi tentang
estumasi beban penyakit CRS (Congenital Rubella Syndrome) di Indonesia
pada tahun 2013 diperkirakan terdapat 2.767 kasus, 82/100.000 terjadi pada
usia ibu 15-19 tahun dan menurun menjadi 47/100.000 pada usia ibu 40-44
tahun.3
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), pada tahun
2015 di Indonesia terlapor kasus rubella sebanyak 2156 kasus. Jika
dibandingkan dengan kasus terlapor pada tahun 2016, Indonesia memiliki
penurunan jumlah kasus menjadi 1238 kasus.4 Kasus Congenital Rubella
Syndrome (CRS) yang terlapor pada tahun 2015 sebanyak 44 kasus dan
meningkat pada tahun 2016 sebanyak 174 kasus.4

Gambar 1. Estimasi kasus rubella di Indonesia tahun 2010 – 20154

2.1.3 Etiologi

Rubella disebabkan oleh suatu RNA virus, genus Rubivirus,


famili Togaviridae. Secara fisiko-kimiawi virus ini sama dengan anggota

virus lain dari famili tersebut, tetapi virus rubela secara serologik berbeda.5

Gambar 2. Struktur virus rubella


2.1.4 Patogenesis

Penularan terjadi melalui oral droplet, dari nasofaring atau rute


pernafasan. Selanjutnya virus rubella memasuki aliran darah. Selanjutnya
virus rubella memsuaki aliran darah. Namun terrjadinya erupsi di kulit belum
diketahui patogenesisnya. Viremia mencapai puncaknya tepat sebelum
timbul erupsi kulit. Di nasofaring, virus tetap ada sampai 6 hari setelah
timbulnya erupsi dan kadang lebih lama. Selain dari darah dan nassofaring,
virus rubella telah diisolasi dari kelenjar getah bening, urin, cairan
serebrospinal, ASI, cairan sinovial dan paru. Penularan dapat terjadi sejak 7
hari sebelumnya atau hingga 5 hari sesudah timbulnya erupsi. Daya tular
tertinggi terjadi pada akhir masa inkubasi, kemudian menurun dengan cepat,
dan berlangsung hingga menghilangnya erupsi.

Gambar 3. Perjalanan Rubella6


2.1.5 Manifestasi Klinis1

Tanda-tanda dan gejala Infeksi rubella dimulai dengan adanya demam


ringan selama 1 atau 2 hari (99 - 100 Derajat Fajrenheit atau 37.2 - 37.8 derajat
celcius) dan kelenjar getah bening yang membengkak dan perih, biasanya di
bagian belakang leher atau di belakang telinga. Pada hari kedua atau ketiga,
bintik-bintik (ruam) muncul di wajah dan menjalar ke arah bawah. Di saat
bintik ini menjalar ke bawah, wajah kembali bersih dari bintik-bintik. Bintik-
bintik ini biasanya menjadi tanda pertama yang dikenali oleh para orang tua.
Ruam rubella dapat terlihat seperti kebanyakan ruam yang diakibatkan oleh
virus lain. Terlihat sebagai titik merah atau merah muda, yang dapat berbaur
menyatu menjadi sehingga terbentuk tambalan berwarna yang merata. Bintik
ini dapat terasa gatal dan terjadi hingga tiga hari. Dengan berlalunya bintik-
bintik ini, kulit yang terkena kadangkala megelupas halus. Gejala lain dari
rubella, yang sering ditemui pada remaja dan orang dewasa, termasuk: sakit
kepala, kurang nafsu makan, conjunctivitis ringan (pembengkakan pada
kelopak mata dan bola mata), hidung yang sesak dan basah, kelenjar getah
bening yang membengkak di bagian lain tubuh, serta adanya rasa sakit dan
bengkak pada persendian (terutama pada wanita muda). Banyak orang yang
terkena rubella tanpa menunjukkan adanya gejala apa-apa.

Berbeda dengan rubeola, tidak ada fotofobia. Angka sel darah putih normal
atau sedikit menurun, trombositopeni jarang, dengan atau tanpa purpura.
Terutama pada wanita yang lebih tua dan wanita dewasa, poliartritis dapat
terjadi dengan artralgia, pembengkakan, nyeri dan efusi tetapi biasanya tanpa
sisa apapun. Setiap sendi dapat terlibat, tetapi sendi- sendi kecil tangan paling
sering terkena. Lamanya biasanya beberapa hari; jarang artritis ini menetap
selama berbulan-bulan. Parestesia juga telah dilaporkan. Pada satu epidemi
orkidalgia dilaporkan pada sekitar 8% orang laki-laki usia perguruan tinggi yang
terinfeksi.
Masa inkubasi1

Masa inkubasi adalah 14-21 hari. Dalam beberapa laporan lain waktu
inkubasi minimum 12 hari dan maksimum 17 sampai 21 hari. Tanda yang
paling khas adalah adenopati retroaurikuler, servikal posterior, dan di belakang
oksipital. Enantem mungkin muncul tepat sebelum mulainya ruam kulit. Ruam
ini terdiri dari bitnik-bintik merah tersendiri pada palatum molle yang dapat
menyatu menjadi warna kemerahan jelas pada sekitar 24jam sebelum ruam.

Masa prodromal1

Pada anak biasanya erupsi timbul tanpa keluhan sebelumnya; jarang disertai
gejala dan tanda masa prodromal. Namun pada remaja dan dewasa muda masa
prodromal berlangsung 1-5 hari dan terdiri dari demam ringan, sakit kepala,
nyeri tenggorok, kemerahan pada konjungtiva, rinitis, batuk dan limfadenopati.
Gejala ini segera menghilang pada waktu erupsi timbul. Gejala dan tanda
prodromal biasanya mendahului 1-5 hari erupsi di kulit. Pada beberapa
penderita dewasa gejala dan tanda tersebut dapat menetap lebih lama dan
bersifat lebih berat. Pada 20% penderita selama masa prodromal atau hari
pertama erupsi timbul suatu enantema, tanda Forschheimer, yaitu makula atau
petekiia pada palatum molle. Pembesaran kelenjar limfe bisa timbul 5-7 hari
sebelum timbul eksantema, khas mengenai kelenjar suboksipital, postaurikular
dan servikal dan disertai nyeri tekan.

Masa eksantema1

Seperti pada rubeola, eksantema mulai retro-aurikular atau pada muka


dan dengan cepat meluas secara kraniokaudal ke bagian lain dari tubuh. Mula-
mula berupa makula yang berbatas tegas dan kadang-kadang dengan cepat
meluas dan menyatu, memberikan bentuk morbiliform. Pada hari kedua
eksantem di muka menghilang, diikuti hari ke-3 di tubuh dan hari ke-4 di
anggota gerak. Pada 40% kasus infeksi rubela terjadi tanpa eksantema.
Meskipun sangat jarang, dapat terjadi deskuamasi posteksantematik.
Limfadenopati merupakan suatu gejala klinis yang penting pada rubela.
Biasanya pembengkakan kelenjar getah bening itu berlangsung selama 5-8 hari.
Pada penyakit rubela yang tidak mengalami penyulit sebagian besar penderita
sudah dapat bekerja seperti biasa pada hari ke-3. sebagian kecil penderita masih
terganggu dengan nyeri kepala, sakit mata, rasa gatal selama 7-10 hari.

2.1.6 Diagnosis1

Diagnosis klinis sering kali sukar dibuat untuk seorang penderita oleh karena tidak
ada tanda atau gejala yang patognomik untuk rubela. Seperti dengan penyakit
eksantema lainnya, diagnosis dapat dibuat dengan anamnesis yang cermat. Rubela
merupakan penyakit yang epidemik sehingga bila diselidiki dengan cermat, dapat
ditemukan kasus kontak atau kasus lain di dalam lingkungan penderita.sifat demam
dapat membantu dalam menegakkan diagnosis, oleh karena demam pada rubela
jarang sekali di atas 38,5ºC. Pada infeksi tipikal, makula merah muda yang menyatu
menjadi eritema difus pada muka dan badan serta artralgia pada tangan penderita
dewasa merupakan petunjuk diagnosis rubela. Perubahan hematologik hanya sedikit
membantu penegakan diagnosis. Peningkatan sel plasma 5-20% merupakan tanda
yang khas. Kadang-kadang terdapat leukopenia pada awal penyakit yang dengan
segera segera diikuti limfositosis relatif. Sering terjadi penurunan ringan jumlah
trombosit.

Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan serologik yaitu adanya


peningkatan titer antibodi 4 kali pada hemaglutination inhibition test (HAIR)
atau ditemukannya antibodi Ig M yang spesifik untuk rubela. Titer antibodi mulai
meningkat 24-48 jam setelah permulaan erupsi dan mencapai puncaknya pada
hari ke 6-12. selain pada infeksi primer, antibodi Ig M spesifik rubela dapat
ditemukan pula pada reinfeksi. Dalam hal ini adanya antibodi Ig M spesifik
rubela harus di interpretasi dengan hati- hati. Suatu penelitian telah
menunjukkan bahwa telah tejadi reaktivitas spesifik terhadap rubela dari sera
yang dikoleksi, setelah kena infeksi virus lain.

Membedakan rubella dengan campak, demam scarlet dan penyakit ruam


lainnya (misalnya infeksi eritema dan eksantema subitum) perlu dilakukan
karena gejalanya sangat mirip. Ruam makuler dan makulopapuler juga terjadi
pada sekitar 1-5% penderita dengan infeksi mononucleosis (terutama jika
diberikan ampisilin), juga pada infeksi dengan enterovirus tertentu dan sesudah
mendapat obat tertentu. Diagnosa klinis rubella kadang tidak akurat. Konfirmasi
laboratorium hanya bisa dipercaya untuk infeksi akut. Infeksi rubella dapat
dipastikan dengan adanya peningkatan signifikan titer antibodi fase akut dan
konvalesens dengan tes ELISA, HAI, pasif HA atau tes LA, atau dengan adanya
IgM spesifik rubella yang mengindikasikan infeksi rubella sedang terjadi.

Sera sebaiknya dikumpulkan secepat mungkin (dalam kurun waktu 7-10


hari) sesudah onset penyakit dan pengambilan berikutnya setidaknya 7-14 hari
(lebih baik 2- 3 minggu) kemudian. Virus bisa diisolasi dari faring 1 minggu
sebelum dan hingga 2 minggu sesudah timbul ruam. Virus bisa ditemukan dari
contoh darah, urin dan tinja. Namun isolasi virus adalah prosedur panjang yang
membutuhkan waktu sekitar 10-14 hari.

2.1.7 Diagnosa Banding1

Penyakit yang memberikan gejala klinis dan eksantema yang


menyerupai rubela adalah :

a.Penyakit virus : campak, roseola infantum, eritema mononukleosis infeksiosa


dan Pityriasis rosea

b.Penyakit bakteri : scarlet fever (Skarlatina).


c. Erupsi obat : ampisilin, penisilin, asam salisilat, barbiturat, INH, fenotiazin dan
diuretik tizid.

Bercak erupsi rubela yang berkonfluensi sulit dibedakan dari morbili, kecuali bila
ditemukan bercak koplik yang karakteristik untuk morbili. Erupsi rubela cepat
menghilang sedangkan erupsi morbili menetap lebih lama. Bila terjadi kemerahan difus
dan tampak bercak-bercak berwarna lebih gelap diatasnya, perlu dibedakan dari scarlet
fever. Tidak seperti scarlet fever, pada rubela daerah perioral terkena.

Erupsi pada infeksi mononukleosis dapat menyerupai rubela derajat berat,


namun penyakit itu dimulai dengan difteroid atau Plaut-Vincent-like tonsilitis, demam
lebih tinggi, pembesaran kelenjar getah bening umum serta pembesaran hepar dan
limpa. Pada sifilis stadium dua ditemukan juga eksantema yang menyerupai rubela,
disertai pembesaran kelenjar getah bening umum, kadang-kadang perlu pemeriksaan
serologik untuk sifilis. Erupsi obat menyerupai rubela yang dapat disertai pembesaran
kelenjar getah bening disebabkan terutama oleh senyawa hidantoin. Pada kasus yang
meragukan dapat dilakukan pemeriksaan hemogram dan serologik.

2.1.8 Penatalaksanaan

Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk rubella. Gejala biasanya akan membaik
dan hilang tanpa pengobatan dalam waktu 7-10 hari.1,7 Jika tidak terjadi komplikasi
bakteri, pengobatan adalah simtomatis. Adamantanamin hidrokhlorida (amantadin)
telah dilaporkan efektif in vitro dalam menghambat stadium awal infeksi rubella pada
sel yang dibiakkan. Upaya untuk mengobati anak yang sedang menderita rubela
kongenital dengan obat ini tidak berhasil. Karena amantadin tidak dianjurkan pada
wanita hamil, penggunaannya amat terbatas. Interferon dan isoprinosin telah
digunakan dengan hasil yang terbatas.
2.1.9 Pencegahan

Pada orang yang rentan, proteksi pasif dari atau pelemahan penyakit dapat
diberikan secara bervariasi dengan injeksi intramuskuler globulin imun serum
(GIS) yang diberikan dengan dosis besar (0,25-0,50 mL/kg atau 0,12-0,20 mL/lb)
dalam 7-8 hari pasca pemajanan. Efektivitas globulin imun tidak dapat diramalkan.
Tampaknya tergantung pada kadar antibodi produk yang digunakan dan pada
faktor yang belum diketahui. Manfaat GIS telah dipertanyakan karena pada
beberapa keadaan ruam dicegah dan manifestasi klinis tidak ada atau minimal
walaupun virus hidup dapat diperagakan dalam darah. Bentuk pencegahan ini
tidak terindikasi, kecuali pada wanita hamil nonimun.

Program vaksinasi atau imunisasi merupakan salah satu upaya pencegahan


terhadap rubella. Di Amerika Serikat mengharuskan untuk imunisasi semua laki-
laki dan wanita umur 12 dan 15 bulan serta pubertas dan wanita pasca pubertas
tidak hamil. Imunisasi adalah efektif pada umur 12 bulan tetapi mungkin tertunda
sampai 15 bulan dan diberikan sebagai vaksin campak-parotitis-rubella (measles-
mumps-rubella [MMR]).8

2.2 Campak

2.2.1 Definisi

Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat menular yang disebabkan
oleh virus. Campak disebut juga rubeola, morbili, atau measles. Penyakit ini
ditularkan melalui droplet ataupun kontak dengan penderita. Penyakit ini
memiliki masa inkubasi 8-13 hari. Campak ditandai dengan gejala awal demam,
batuk, pilek, dan konjungtivitis yang kemudian diikuti dengan bercak kemerahan
pada kulit (rash). Dampak penyakit campak di kemudian hari adalah kurang gizi
sebagai akibat diare berulang dan berkepanjangan pasca campak, sindrom radang
otak pada anak diatas 10 tahun, dan tuberkulosis paru menjadi lebih parah setelah
sakit campak berat. 2)

2.2.2 Epidemiologi

Campak merupakan penyakit endemik di banyak negara terutama di negara


berkembang. Angka kesakitan di seluruh dunia mencapai 5-10 kasus per
10.000 dengan jumlah kematian 1-3 kasus per 1000 orang. Campak masih
ditemukan di negara maju. Sebelum ditemukan vaksin pada tahun 1963 di
Amerika serikat, terdapat lebih dari 1,5 juta kasus campak setiap tahun.
Mulai tahun 1963 kasus campak menurun drastis dan hanya ditemukan kurang
dari 100 kasus pada 1998. 1

Di Indonesia, campak masih menempati urutan ke-5 dari 10 penyakit utama


pada bayi dan anak balita (1-4 tahun) berdasarkan laporn SKRT tahun
1985/1986. KLB masih terus dilaporkan. Dilaporkan terjadi KLB di pulau
Bangka pada tahun 1971 dengan angka kematian sekitar 12%, KLB di Provinsi
Jawa Barat pada tahun 1981 (CFR=15%), dan KLB di Palembang, Lampung,
dan Bengkulu pada tahun 1998. Pada tahun 2003, di Semarang masih tercatat
terdapat 104 kasus campak dengan CFR 0%. 1

2.2.3Pencegahan

1. Pencegahan Penularan

Pencegahan dapat dilakukan dengan melalui tindakan Health Promotion, baik

pada hospes maupun lingkungan dan perlindungan khusus terhadap penularan.

a. Health Promotion terhadap host.


b. Pencegahan virus campak menular melalui percikan air ludah penderita

campak

c. Mengisolasi setelah muncul rash pada 4 hari kontak agar mencegah

penularan.

2. Pencegahan Penyakit

Pencegahan penyakit campak dibagi dalam beberapa tahap sebagai berikut:

a. Bila terjadi kontak dengan penderita campak dibawah 3 hari Langsung

memberikan imunisasi campak dapat memberikan kekebalan apabila belum

timbul gejala penyakit.

b. Bila terjadi kontak dengan penderita campak setelah 3-6 hari Memberikan

imuno globulin 0,25ml/kgBB.Pada individu immuno compromized yang

diberikan adalah imuno globulin 0,5ml/kgBB dengan dosis maksimal 15 ml

atau IGIV 400mg/kgBB.8)

2.3 Imunisasi

2.3.1 Rubella

2.3.2 Campak