Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM KIMIA DASAR

PERCOBAAN 1
BEBERAPA REAKSI KIMIA

DISUSUN OLEH:

Nama : Dimas Ridwan Firdaus


NPM : 10060318024
Shift/Kelompok : A/5
Tanggal Praktikum : 24 September 2018
Tanggal Pengumpulan : 8 Oktober 2018
Nama Asisten Dosen : Rifa Fauziyah Rabbani, S.Farm

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT A

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

2018 M / 1439 H
PERCOBAAN 1

BEBERAPA REAKSI KIMIA

I. Tujuan Percobaan
 Mengamati perubahan ketika suatu larutan direaksikan dengan larutan
yang berbeda
 Menentukan kandungan air dengan cara gravimetri tidak langsung

II. Prinsip Percobaan


 Reaksi asam dan basa yang mana terjadinya suatu penetralan
 Reaksi pegendapan yang mana apabila reaksi tersebut menghasilkan
endapan
 Pelepasan senyawa air di dalam hidrat melalui pemanasan
 Reaksi redoks yang mana terjadinya perubahan biloks
 Pembentukan senyawa kompleks yang dapat dilihat melalui perubahan
warna zat

III. Teori Dasar

Kimia adalah ilmu tentang susunan, sifat dan reaksi suatu unsur
atau zat ( KBBI edisi kelima) sedangkan reaksi kimia yaitu suatu
proses dimana zat (atau senyawa) diubah menjadi satu atau lebih
senyawa baru (Raymond Chang, Kimia Dasar Jilid 1, 2004 : 70) dan
persamaan reaksi digunakan untuk menggambarkan reaksi kimia.

Persamaan reaksi terdiri dari rumus kimia atau rumus struktur dari
reaktan di sebelah kiri dan produk di sebelah kanan. Antara produk dan
reaktan dipisahkan dengan tanda panah (→) yang menunjukan arah
dan tipe reaksi, persamaan reaksi kimia haruslah seimbang , sesuai
dengan stoikiometri, jumlah atom unsur di sebelah kiri harus sama
dengan jumlah atom yang di sebelah kanan (IUPAC , Compendium of
Chemical Terminology, 1997).

Reaksi kimiapun dibagi dari berbagai macam diantaranya


pembakaran,
penggabungan(sintesis),penguraian,penggantian,metatesis.

1. Pembakaran
Pembakaran adalah reaksi dimana suatu unsur atau senyawa
bergabung dengan oksigen membentuk senyawa yang mengandung
oksigen sederhana sederhana, contohnya CO2, H2O dan SO2.

C3H8 + 5O2 → 3CO2 + 4H2O

2. Penggabungan(sintesis)

Penggabungan(sintesis) adalah suatu reaksi kimia dimana


sebuah zat yang lebih kompleks terbentuk dari dua atau lebih zat
yang lebih sederhana, baik unsur maupun senyawa.

2H2 + O2 → 2H2O

3. Penguraian

Penguraian adalah suatu reaksi dimana suatu zat dipecah


menjadi zat-zat yang lebih sederhana.

2Ag2O → 4Ag + O2
4. Penggantian

Penggantian adalah suatu reaksi dimana sebuah unsur pindahan


unsur lain dalam suatu senyawa.

Cu + 2Ag+ → CO2+ + 2Ag

5. Metatesis

Metatesis adalah suatu reaksi dimana terjadi pertukaran antara


dua reaksi.

AgNO3 + NaCl → AgCl + NaNO3

Suatu reaksi kimia merupakan pengukuran bagaimana konsentrasi


ataupun tekanan zat-zat yang terlibat dalam reaksi seiring berubahnya
waktu, laju reaksi kimia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

1. Konsentrasi
Semakin besar konsentrasi maka tumbukan yang terjadi
semakin banyak sehingga menyebabkan laju reaksi semakin cepat.
Semakin kecil tumbukan yang terjadi antara partikel, maka semakin
kecil konsentrasi sehingga laju reaksipun semakin kecil.

2. Suhu
Apabila suhu pada suatu reaksi yang berklangsung dinaikan
maka menyebabkan partikel semakin aktif bergerak, sehingga
tumbukan yang terjadi semakin sering, menyebabkan laju reaksi
semakin besar. Sebaliknya apabila suhu di turunkan, maka partikel
semakin tak aktif, sehingga laju reaksi semakin kecil.

3. Tekanan
Penambahan tekanan dengan memperkecil volume akan
memeperbesar konsentrasi dengan demikian dapat memperbesar laju
konsentrasi reaksi.
4. Luas permukaan
Semakin besar luas permukaan bidang sentuh antara partikel,
maka tumbukan yang terjadi semakin banyak, sehingga menyebabkan
laju reaksi semakin cepat(Nana Sutresna,2006:158-160)

Senyawa hidrat mengandung air dalam bentuk molekul H2O,


maka berat airnya dinyatakan dengan pasti, senyawa hidrat yang
dikenal adalah padatan kristal yang akan kehilangan struktur dasarnya
pada pelepasan molekul air yang terikat. Senyawa hidrat dapat
melepaskan molekul air yang diikatnya melalui proses pemanasan
dengan menghitung massa sebelum dan sesudah pemanasan, maka
jumlah molekul air yang diikat dapat diketahui(Nuryanto S.Pd, 2015 :
56).

Reaksi Pengendapan

Reaksi pengendapan adalah suatu jenis reaksi yang dapat


berlangsung dalam cairan, misalnya air. Suatu reaksi dapat dikatakan
reaksi pengendapan apabila reaksi tersebut menghasilkan endapan.
Endapan yaitu zat padat yang tidak larut dalam cairan tersebut.
Senyawa-senyawa yang sering digunakan dalam reaksi pengendapan
yaitu senyawa-senyawa ionik. Sebagai contoh reaksi antara larutan
timbal nitrat [Pb(NO3)2] yang ditambahkan ke dalam larutan natrium
iodida (NaI) dan terbentuk endapan timbal iodida (PbI2) yang
berwarna kuning. Untuk lebih jelas reaksinya seperti ini,

Pb(NO3)2(aq) + 2NaI (aq) → PbI2(s) + 2NaNO3 (aq)

Reaksi pengendapan yang terjadi menghasilkan endapan timbal


iodida.
Terbentuknya endapan atau tidak dalam suatu reaksi, itu
tergantung kelarutan dari zat terlarut, yaitu jumlah maksimum zat
terlarut yang akan larut dalam sejumlah tertentu pelarut pada suhu
tertentu. Dalam hal ini zat dapat di bagi, yaitu dapat larut, sedikit larut
atau takdapat larut. jika suatu zat dapat larut dalam air maka termasuk
dapat larut, jika tidak dapat larut dalam air maka termasuk sedikit larut
atau takdapat larut. Semua senyawa ionik merupakan elektrolit kuat,
tetapi daya larutnya tidak sama(Chang. R (2003) Kimia Dasar Jilid
Satu Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.).

Teori Asam – Basa


Asam dan basa (alkali) sudah dikenal sejak zaman dahulu. Hal
ini dapat dilihat dari nama mereka. Istilah asam berasal dari bahasa
Latin acetum yang berarti cuka. Unsur pokok cuka adalah asam asetat
H3CCOOH. Istilah alkali diambil dari bahasa Arab untuk abu. Juga
sudah diketahui paling tidak selama tiga abad bahwa hasil reaksi
antara asam dan basa (netralisasi) adalah garam. Teori asam basa
banyak dikemukakan oleh beberapa ahli.

Teori-teori yang mencoba menerangkan sifat-sifat asam basa


merupakan suatu babak yang penting didalam sejarah ilmu kimia.
Lavoisier (1777) menyatakan bahwa semua asam selalu mengandung
suatu unsur dasar yaitu oksigen (nama oksigen diajukan oleh
Lavoisier, diambil dari bahasa Yunani yang berarti “pembentuk
asam”). Davy(1810) menunjukkan bahwa asam muriatat (asam
hidroklorida) hanya memiliki hydrogen dan klor, tidak mengandung
oksigen dan dengan itu menetapkan bahwa hidrogenlah dan bukan
oksigen yang menjadi unsur dasar di dalam asam.
a. Teori Arrhenius.
Dalam teorinya tentang penguraian (disosiasi) elektrolit, Svante
Arrhenius (1884) mengajukan bahwa elektrolit yang dilarutkan di
dalam air terurai menjadi ion-ion, elektrolit yang kuat terurai
sempurna, elektrolit yang lemah hanya terurai sebagian. Suatu jenis
zat yang jika terurai menghasilkan ion hydrogen (H+) di sebut asam,
misalnya HCl.

HCl(aq) → H+(aq) + Cl-(aq)

Basa jika terurai menghasilkan ion hidroksida (OH-)


NaOH(aq) → Na+(aq) + OH-(aq)

Teori Arrhenius juga berhasil menerangkan aktifitas katalis dari


asam dalam reaksi-reaksi tertentu. Asam yang merupakan katalis
paling efektif adalah asam yang mempunyai daya konduksi yang
paling baik, yaitu asam kuat. Semakin kuat asam, semakin tinggi
konsentrasi H+ di dalam larutannya. Ion H+ merupakan katalis yang
sesungguhnya didalam sebagai basa kecuali yang menghasilkan OH-.

b. Teori Bronsted-Lowry.
Disamping keberhasilan dan manfaatnya, teori Arrhenius
mempunyai beberapa keterbatasan. Salah satu diantaranya adalah teori
ini tidak mengenal senyawa lain sebagai basa kecuali yang
menghasilkan OH-. Hal ini menjadi penyajian ionisasi larutan
amoniak dengan pelarut air sebagai berikut :

NH4OH (aq) → NH+(aq) + OH-(aq)


Tetapi zat NH4OH (ammonium hidroksida) tidak pernah ada, zat
tersebut tidak dapat diisolasi dalam bentuk murni seperti natrium
hidroksida(NaOH).Selain itu, sejak zaman Arrhenius reaksi-reaksi
sudah dilakukan dalam pelarut bukan air seperti ammonia cair.
Beberapa dari reaksi-reaksi tersebut kelihatannya mempunyai sifat-
sifat reaksi asam basa. Ternyata OH- tidak ada karena tidak ada atom
oksigen dalam susunan tersebut. Misalnya ammonium khlorida dan
natrium amida bereaksi didalam ammonia cair, sebagai berikut :

Reaksi lengkap : NH4Cl + NaNH2 → NaCl + 2NH3


Reaksi ion : NH4+ + Cl- + Na+ + NH2-→ Na+ + Cl- + 2NH3
Reaksi ion bersih : NH4+ + NH22 → 2NH3

Reaksi ion bersih dapat dianggap suatu reaksi asam-basa dengan


NH4+ analog dengan H+ dan NH2- dengan OH-. Reaksi tersebut dapat
dijelaskan melalui teori yang diajukan secara terpisah oleh J.N.
Bronsted di Denmark dan T.M Lowry di inggris tahun 1923. Menurut
teori Bronsted-Lowry, suatu asam adalah donor proton suatu basa
adalah akseptor (penerima) proton.(Petrucci, Ralph H.1986.Kimia
Dasar Jilid 2.Halaman 260-262).
·
1. PH(derajat keasaman)
pH atau derajat keasaman digunakan untuk menyatakan tingkat
keasaaman atau basa yang dimiliki oleh suatu zat, larutan atau benda.
pH normal memiliki nilai 7 sementara bila nilai pH > 7 menunjukkan
zat tersebut memiliki sifat basa sedangkan nilai pH< 7 menunjukkan
keasaman. pH 0 menunjukkan derajat keasaman yang tinggi, dan pH
14 menunjukkan derajat kebasaan tertinggi. Umumnya indicator
sederhana yang digunakan adalah kertas lakmus yang berubah
menjadi merah bila keasamannya tinggi dan biru bila keasamannya
rendah.
Selain menggunakan kertas lakmus, indicator asam basa dapat
diukur dengan pH meter yang bekerja berdasarkan prinsip
elektrolit/konduktivitas suatu larutan. Sistem pengukuran pH
mempunyai tiga bagian yaitu elektroda pengukuran pH, elektroda
referensi dan alat pengukur impedansi tinggi. Istilah pH berasal dari
"p", lambang matematika dari negative logaritma, dan "H", lambang
kimia untuk unsur Hidrogen. Defenisi yang formal tentang pH adalah
negative logaritma dari aktivitas ion Hydrogen. pH adalah singkatan
dari power of Hydrogen.

pH = -log[H+]

2. Indikator
Indikator asam-basa adalah zat warnanya berubah bergantung
pada pH larutan indikator asam-basa digunakan untuk menentukan
sifat keasaman atau kebasaan suatu larutan. Larutan asam mempunyai
pH <7, larutan netral mempunyai pH=7, dan larutan basa
mempunyai pH>7. Semua indikator asam-basa merupakan asam
lemah atau basa lemah yang dapat memperlihatkan perbedaan warna
didalam larutan asam atau basa.

Trayek atau daerah perubahan warna adalah daerah batas pH


yang merupakan daerah transisi perubahan warna. Indikator yang
berbeda mempunyai trayek perubahan warna yang berbeda. Sebagai
contoh, larutan lakmus akan berwarna merah pada pH <5,5 dan
berwrna biru pada Ph >8. Pada larutan dengan pH = 5,5 – 8, warna
lakmus adalah antara pH = 5,5 dan pH=8. Sebuah indikator biasanya
hanya menunjukan sebuah rentang pH tertentu dan tidak menunjukkan
sebuah nilai pH yang pasti. Karenanya, diperlukan indikator lain
untuk mempersempit rentang perkiraan pH sampel yang diuji.
Untuk mengetahui sifat asam atau basa suatu zat tidak dapat
dilakukan langsung dengan mencicipi atau memegangnya. Mencicipi
atau memegang zat secara langsung sangat bebahaya. Contohnya
asam sulfat H2SO4, yang dalam kehidupan sehari-hari digunakan
sebagai air aki. Bila tangan atau kulit terkena asam sulfat, akan
melepuh seperti luka bakar dan bila mata terkena asam sulfat akan
buta. Cara yang tepat untuk menentukan sifat asam atau basa suatu zat
adalah dengan menggunakan zat petunjuk yang disebut indikator tadi
(Sukardjo. 2009 :179).

Indikator asam basa biasanya dibuat dalam bentuk larutan.


Dalam titrasi asam basa, sejumlah kecil larutan indikator ditambahkan
kedalam larutan yang ditritasi dalam bentuk lain kemudian
dikeringkan dan terciptalah yang disebut sebagai kertas lakmus. Jika
kertas ini dibasahi dengan larutan yang sedang diuji, terjadi warna
yang dapat digunakan sebagai penentu pH larutan.

Indikator asam basa umumnya digunakan jika penentuan pH


yang diteliti tidak terlalu dipikirkan.Namun pengukuran pH yang
paling tepat dilakukan adalah dengan alat ukur yang disebut pH meter.
(Petrucci.1987 : 309).

Reaksi Redoks

Redoks adalah istilah yang menjelaskan berubahnya bilangan


oksidasi (keadaan oksidasi) atom-atom dalam sebuah reaksi kimia.Hal
ini dapat berupa proses redoks yang sederhana seperti
oksidasi karbon yang menghasilkan karbon dioksida, atau
reduksi karbon oleh hidrogen menghasilkan metana (CH4), ataupun ia
dapat berupa proses yang kompleks seperti oksidasi gula pada tubuh
manusia melalui rentetan transfer elektron yang rumit.
Istilah redoks berasal dari dua konsep, yaitu reduksi
dan oksidasi. Ia dapat dijelaskan dengan mudah sebagai berikut:

 Oksidasi menjelaskan pelepasan elektron oleh


sebuah molekul, atom, atau ion
 Reduksi menjelaskan penambahan elektron oleh
sebuah molekul, atom, atau ion.

Walaupun cukup tepat untuk digunakan dalam berbagai tujuan,


penjelasan di atas tidaklah persis benar. Oksidasi dan reduksi tepatnya
merujuk pada perubahan bilangan oksidasi karena transfer elektron
yang sebenarnya tidak akan selalu terjadi. Sehingga oksidasi lebih
baik didefinisikan sebagai peningkatan bilangan oksidasi, dan reduksi
sebagai penurunan bilangan oksidasi. Dalam praktiknya, transfer
elektron akan selalu mengubah bilangan oksidasi, namun terdapat
banyak reaksi yang diklasifikasikan sebagai "redoks" walaupun tidak
ada transfer elektron dalam reaksi tersebut (misalnya yang melibatkan
ikatan kovalen).

Pembentukan Gas

Pembentukan gas berawal dari reaksi kimia yang bergantung


dari sifat alaminya salah satu reaksi kimia yang membentuk gas yaitu
amonium klorida (NH4Cl) dengan larutan Natrium Hidroksida
(NaOH) kemudian dipanaskan dalam tabung reaksi maka akan
menghasilkan gas amoniak (NH3). Adanya pembentukan gas(tercium
aroma gas) itu bisa dijadikan sebagai tolok ukur bahwa terjadinya
suatu reaksi kimia
Pembentukan Senyawa Kompleks

Senyawa kompleks adalah senyawa yang tersusun dari suatu ion


logam pusat dengan satu atau lebih ligan yang menyumbangkan
pasangan elektron bebasnya kepada ion logam pusat. Donasi pasangan
elektron ligan kepada ion logam pusat menghasilkan ikatan kovalen
koordinasi sehingga senyawa kompleks juga disebut senyawa
koordinasi.

Ligan adalah molekul sederhana yang dalam senyawa kompleks


bertindak sebagai donor pasangan elektron (basa Lewis). ligan akan
memberikan pasangan elektronnya kepada atom pusat yang
menyediakan orbital kosong. interaksi antara ligan dan atom pusat
menghasilkan ikatan koordinasi.

IV. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah tabung
reaksi, pipet tetes, pipa kaca penyalur gas, gelas kimia 100 ml, sendok,
eksikator, bunsen, timbangan(neraca), Tang pemegang krus, sepaket
krus(tutup dan badan krus), segitiga krus.
Bahan yang digunakan adalah kertas lakmus, label, indikator,
HCL, CH3COOH, NaOH, H2C2O4, H2SO4, Fe2+, NaCl, AgNO3, BaCl2,
K2CrO4, K2CrO4, K2CrO7, Al2(SO4)3, NH4OH, (NH4)2SO4, Ba(OH)2,
CaCO3.