Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN ACUTE RESPIRATORY DISTRES SINDROME

(ARDS)

DOSEN PEMBIMBING : Ns.Vino Rika S.Kep M.Kep

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK III

ANNISA M

FEBRIO ESA PUTRA

LINDUNG TRIYUNI OETARY

NOPI IRHAMNI

STIKES SYEDZA SAINTIKA

PADANG

2017
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah Swt karena berkat rahmat dan
karunia-Nya kita bisa menyelesaikan makalah ini. Makalah ini kami buat guna memenuhi
tugas dari dosen mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat1.

Tugas ini membahas tentang “Asuhan Keperawatan Acute Respiratory Distres


Sindrom”, semoga dengan makalah yang kami susun ini, kita sebagai mahasiswa dapat
memahami dan memperluas ilmu pengetahuan kita.

Kami tau makalah yang kami buat ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu
kami mengharapkan kritik dan saran dari Bapak/Ibu selaku dosen pembimbing kami, karena
kritik dan saran itu dapat membangun kami dari yang salah menjadi benar.

Semoga makalah yang kami susun ini dapat berguna dan brmancaat bagi kita. Akhir
kata kami ucapkan terimakasih.

Padang, 09 Oktober 2017

Penulis

i
Daftar Isi

Kata pengantar .......................................................................................................................i

Daftar isi.................................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang ..........................................................................................................1


1.2 Rumusan masalah ......................................................................................................2
1.3 Tujuan ........................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Acut Respiratory Distress syndrome(ARDS) ..........................................3


2.2 Apa Etiologi dari ARDS? ..........................................................................................3
2.3 Bagaimana patofiologi ARDS?..................................................................................4
2.4 Apa saja manifestasi klinis dari ARDS? ....................................................................5
2.5 Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari ARDS? ......................................................5
2.6 Apa saja penatalaksanaan dari ARDS? ......................................................................6
2.7 Apa ASKEP dari ARDS?...........................................................................................7

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulam ................................................................................................................14

3.2 Saran ...........................................................................................................................14

Daftar Pustaka ........................................................................................................................15

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG MASALAH


Dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan dalam globalisasi khususnya
di bidang kesehatan bahwa banyak hal yang perlu diperhatikan dalam mencegah berbagai
penyakit salah satunya ARDS yaitu merupkan Gangguan paru yang progresif dan tiba-tiba
ditandai dengan sesak napas yang berat, hipoksemia dan infiltrat yang menyebar dikedua
belah paru akibat kondisi atau kejadian berbahaya berupa trauma jaringan paru baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Sindrom gagal pernafasan merupakan gagal pernafasan mendadak yang timbul pada
penderita tanpa kelainan paru yang mendasari sebelumnya. Sindrom Gawat Nafas Dewasa
(ARDS) juga dikenal dengan edema paru nonkardiogenik merupakan sindroma klinis yang
ditandai penurunan progresif kandungan oksigen arteri yang terjadi setelah penyakit atau
cedera serius. Dalam sumber lain ARDS merupakan kondisi kedaruratan paru yang tiba-tiba
dan bentuk kegagalan nafas berat, biasanya terjadi pada orang yang sebelumnya sehat yang
telah terpajan pada berbagai penyebab pulmonal atau nonpulmonal. Beberapa factor
pretipitasi meliputi tenggelam, emboli lemak, sepsis, aspirasi, pankretitis, emboli paru,
perdarahan dan trauma berbagai bentuk. Dua kelompok yang tampak menjadi resiko besar
untuk sindrom adalah yang mengalami sindrom sepsis dan yang mengalami aspirasi sejumlah
besar cairan gaster dengan pH rendah. Kebanyakan kasus sepsis yang menyebabkan ARDS
dan kegagalan organ multiple karena infeksi oleh basil aerobic gram negative. Kejadian
pretipitasi biasanya terjadi 1 sampai 96 jam sebelum timbul ARDS.
ARDS pertama kali digambarkan sebagai sindrom klinis pada tahun 1967. Ini meliputi
peningkatan permeabilitas pembuluh kapiler pulmonal, menyebabkan edema pulmonal
nonkardiak. ARDS didefinisikan sebagai difusi akut infiltrasi pulmonal yang berhubungan
dengan masalah besar tentang oksigenasi meskipun diberi suplemen oksigen dan pulmonary
arterial wedge pressure (PAWP) kurang dari 18 mmHg.
ARDS sering terjadi dalam kombinasi dengan cidera organ multiple dan mungkin
menjadi bagian dari gagal organ multiple. Prevalensi ARDS diperkirakan tidak kurang dari
150.000 kasus pertahun. Sampai adanya mekanisme laporan pendukung efektif berdasarkan
definisi konsisten, insiden yang benar tentang ARDS masih belum diketahui. Laju mortalitas
tergantung pada etiologi dan sangat berfariasi. ARDS adalah penyebab utama laju mortalitas
di antara pasien trauma dan sepsis, pada laju kematian menyeluruh kurang lebih 50% – 70%.

1
Perbedaan sindrom klinis tentang berbagai etiologi tampak sebagai manifestasi patogenesis
umum tanpa menghiraukan factor penyebab.

1.2.RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan Acut Respiratory Distress syndrome?
2. Apa Etiologi dari ARDS?
3. Bagaimana patofiologi ARDS?
4. Apa saja manifestasi klinis dari ARDS?
5. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari ARDS?
6. Apa saja penatalaksanaan dari ARDS?
7. Apa ASKEP dari ARDS?

1.3.TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa/i dapat meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan serta untuk
pegangan dalam memberikan bimbingan dan asuhan keperawatan pada klien dengan ARDS
serta Untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan gawat darurat.
2. Tujuan Khusus
a. Agar mahasiswa/i mampu memahami dan menjelaskan dan tentang ARDS
b. Agar mahasiswa memahami konsep dari ARDS
c. Agar mahasiswa mampu membuat Asuhan Keperawatan pada penderita ARDS
d. Agar mahasiswa mampu mengaplikasikan nya di dalam kehidupan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.PENGERTIAN
Gagal nafas akut /ARDS adalah ketidakmampuan sistem pernafasan untuk
mempertahankan oksigenasi darah normal (PaO2), eliminasi karbon dioksida (PaCO2) dan
pH yang adekuat disebabkan oleh masalah ventilasi difusi atau perfusi (Susan Martin T,
1997)
Gagal nafas akut/ARDS terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap karbondioksida
dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju komsumsi oksigen dan pembentukan karbon
dioksida dalam sel-sel tubuh. Sehingga menyebabkan tegangan oksigen kurang dari 50
mmHg (Hipoksemia) dan peningkatan tekanan karbondioksida lebih besar dari 45 mmHg
(hiperkapnia). (Brunner & Sudarth, 2001)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa ARDS ( Gagal nafas Akut )
merupakan ketidakmampuan atau kegagalan sitem pernapasan oksigen dalam darah sehingga
pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru - paru tidak dapat memelihara laju
konsumsi oksigen dan pembentukan karbondioksida dalam sel –sel tubuh.sehingga tegangan
oksigen berkurang dan akan peningkatan karbondioksida akan menjadi lebih besar.

2.2.ETIOLOGI
1. Depresi Sistem saraf pusat
Mengakibatkan gagal nafas karena ventilasi tidak adekuat. Pusat pernafasan yang
menngendalikan pernapasan, terletak dibawah batang otak (pons dan medulla) sehingga
pernafasan lambat dan dangkal

2. Kelainan neurologis primer


Akan memperngaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat pernafasan
menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf spinal ke reseptor
pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan medulla spinalis, otot-otot
pernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi pada pernapasan akan
sangatmempengaruhiventilasi.

3
3. Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks
Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan ekspansi paru.
Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari, penyakit pleura atau trauma
dan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas.

4. Trauma
Disebabkan oleh kendaraan bermotor dapat menjadi penyebab gagal nafas.
Kecelakaan yang mengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan perdarahan dari hidung
dan mulut dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas atas dan depresi pernapasan.
Hemothoraks, pnemothoraks dan fraktur tulang iga dapat terjadi dan mungkin meyebabkan
gagal nafas. Flail chest dapat terjadi dan dapat mengarah pada gagal nafas. Pengobatannya
adalah untuk memperbaiki patologi yang mendasar.

5. Penyakit akut paru


Pneumonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau pnemonia
diakibatkan oleh mengaspirasi uap yang mengritasi dan materi lambung yang bersifat asam.
Asma bronkial, atelektasis, embolisme paru dan edema paru adalah beberapa kondisi lain
yang menyababkan gagal nafas.

2.3.PATOFISIOLOGI
Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas kronik dimana
masing masing mempunyai pengertian yang berbeda. Gagal nafas akut adalah gagal nafas
yang timbul pada pasien yang parunya normal secara struktural maupun fungsional sebelum
awitan penyakit timbul. Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan
penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik, emfisema dan penyakit paru. Pasien mengalami
toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapnia yang memburuk secara bertahap. Pada gagal
nafas kronik struktur paru alami kerusakan yang ireversibel.
Indikator gagal nafas telah frekuensi pernafasan dan kapasitas vital, frekuensi
penapasan normal ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari20x/mnt tindakan yang dilakukan
memberi bantuan ventilator karena “kerja pernafasan” menjadi tinggi sehingga timbul
kelelahan. Kapasitasvital adalah ukuran ventilasi (normal 10-20 ml/kg).

4
Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi yang tidak adekuat dimana terjadi
obstruksi jalan nafas atas. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan terletak di
bawah batang otak (pons dan medulla).
Pada kasus pasien dengan anestesi, cidera kepala, stroke, tumor otak, ensefalitis,
meningitis, hipoksia dan hiperkapnia mempunyai kemampuan menekan pusat pernafasan.
Sehingga pernafasan menjadi lambat dan dangkal. Pada periode postoperatif dengan anestesi
bisa terjadi pernafasan tidak adekuat karena terdapat agen menekan pernafasan dengan efek
yang dikeluarkan atau dengan meningkatkan efek dari analgetik opiood. Pneumonia atau
dengan penyakit paru-paru dapat mengarah ke gagal nafas akut.

2.4.MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis utama pada kasus ARDS :
1. Peningkatan jumlah pernapasan(Hiperventilasi)
2. Klien mengeluh sulit bernapas, retraksi dan sianosis
3. Pada Auskultasi mungkin terdapat suara napas tambahan
4. Penurunan kesadaran mental
5. Takikardi, takipnea
6. Dispnea dengan kesulitan bernafas
7. Terdapat retraksi interkosta
8. Sianosis
9. Hipoksemia
10. Auskultasi paru : ronkhi basah, krekels, stridor, wheezing
11. Auskultasi jantung : BJ normal tanpa murmur

2.5.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan laboratorium
1. Pemeriksaan fungsi ventilasi
2. Pemeriksaan status oksigen
3. Pemeriksaan status asam-basa
4. Arteri gas darah (AGD) menunjukkan penyimpangan dari nilai normal pada PaO2,
PaCO2, dan pH dari pasien normal; atau PaO2 kurang dari 50 mmHg, PaCO2 lebih dari 50
mmHg, dan pH < 7,35.
5. Oksimetri nadi untuk mendeteksi penurunan SaO2

5
6. Hitung darah lengkap, serum elektrolit, urinalisis dan kultur (darah, sputum) untuk
menentukan penyebab utama dari kondisi pasien.
7. Sinar-X dada dapat menunjukkan penyakit yang mendasarinya.
8. EKG, mungkin memperlihatkan bukti-bukti regangan jantung di sisi kanan, disritmia.
9. Pemeriksaan hasil Analisa Gas Darah :
10. Pemeriksaan Rontgent Dada :

2.6.PENATALAKSANAAN
Tujuan utama pengobatan adalah untuk memperbaiki masalah ancama kehidupan dengan
segera, antara lain :
1. Terapi Oksigen
Oksigen adalah obat dengan sifat terapeutik yang penting dan secara potensial
mempunyai efek samping toksik. Pasien tanpa riwayat penyakit paru-paru tampak toleran
dengan oksigen 100% selama 24-72 jam tanpa abnormalitas fisiologi yang signifikan.
2. Ventilasi Mekanik
Aspek penting perawatan ARDS adalah ventilasi mekanis. Terapi modalitas ini
bertujuan untuk memmberikan dukungan ventilasi sampai integritas membrane alveolakapiler
kembali membaik.
3. Positif End Expiratory Breathing (PEEB)
Ventilasi dan oksigen adekuat diberikan melaui volume ventilator dengan tekanan dan
kemmampuan aliran yang tinggi, di mana PEEB dapat ditambahkan. PEEB di pertahankan
dalam alveoli melalui siklus pernapasan untuk mencegah alveoli kolaps pada akhir ekspirasi.
4. Memastikan volume cairan yang adekuat
Dukungan nutrisi yang adekuat sangatlah penting dalam mengobati pasien ARDS,
sebab pasien dengan ARDS membutuhkan 35 sampai 45 kkal/kg sehari untuk memenuhi
kebutuhan normal.
5. Terapi Farmakologi
Penggunaan kortikosteroid dalam pengobatan ARDS adalah controversial, pada
kenyataanya banyak yang percaya bahwa penggunaan kortikosteroid dapat memperberat
penyimpangan dalam fungsi paru dan terjadinya superinfeksi. Akhirnya kotrikosteroid tidak
lagi di gunakan.
6. Pemeliharaan Jalan Napas
Selang endotrakheal di sediakan tidak hanya sebagai jalan napas, tetapi juga berarti
melindungi jalan napas, memberikan dukungan ventilasi kontinu dan memberikan kosentrasi

6
oksigen terus-menerus. Pemeliharaan jalan napas meliputi : mengetahui waktu penghisapan,
tehnik penghisapan, dan pemonitoran konstan terhadap jalan napas bagian atas.
7. Pencegahan Infeksi
Perhatian penting terhadap sekresi pada saluran pernapasan bagian atas dan bawah
serta pencegahan infeksi melalui tehnik penghisapan yang telah di lakukan di rumah sakit.
8. Dukungan nutrisi
Malnutrisi relative merupakan masalah umum pada pasien dengan masaalah kritis.
Nutrisi parenteral total atau pemberian makanan melalui selang dapat memperbaiki malnutrisi
dan memmungkinkan pasien untuk menghindari gagal napas sehubungan dengan nutrisi
buruk pada otot inspirasi.

2.7.ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
 Pengkajian primer
1. Airway : Mengenali adanya sumbatan jalan napas
 Peningkatan sekresi pernapasan
 Bunyi nafas krekels, ronki dan mengi
 Jalan napas adanya sputum, secret, lendir, darah, dan benda asing,
 Jalan napas bersih atau tidak

2. Breathing
 Distress pernapasan : pernapasan cuping hidung, takipneu/bradipneu, retraksi.
 Frekuensi pernapasan : cepat
 Sesak napas atau tidak
 Kedalaman Pernapasan
 Retraksi atau tarikan dinding dada atau tidak
 Reflek batuk ada atau tidak
 Penggunaan otot Bantu pernapasan
 Penggunaan alat Bantu pernapasan ada atau tidak
 Irama pernapasan : teratur atau tidak
 Bunyi napas Normal atau tidak

3. Circulation
 Penurunan curah jantung : gelisah, letargi, takikardia
7
 Sakit kepala
 Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah, kacau mental, mengantuk
 Papiledema
 Penurunan haluaran urine

4. Disability
 Keadaan umum : GCS, kesadaran, nyeri atau tidak
 adanya trauma atau tidak pada thorax
 Riwayat penyakit dahulu / sekarang
 Riwayat pengobatan
 Obat-obatan / Drugs

b. Pemeriksaan fisik
1. Mata
 Konjungtiva pucat (karena anemia)
 Konjungtiva sianosis (karena hipoksia)
 Konjungtiva terdapat pethechia (karena emboli lemak atau endokarditis)

2. Kulit
 Sianosis perifer (vasokontriksi dan menurunnya aliran darah perifer)
 Sianosis secara umum (hipoksemia)
 Penurunan turgor (dehidrasi)
 Edema periorbital

3. Jari dan kuku


 Sianosis
 Clubbing finger

4. Mulut dan bibir


 Membrane mukosa sianosis
 Bernafas dengan mengerutkan mulut

5. Hidung
 Pernapasan dengan cuping hidung

8
6. Vena leher : Adanya distensi/bendungan
7. Dada
 Retraksi otot bantu pernafasan (karena peningkatan aktivitas pernafasan, dispnea, atau
obstruksi jalan pernafasan)
 Pergerakan tidak simetris antara dada kiri dengan kanan
 Tactil fremitus, thrill, (getaran pada dada karena udara/suara melewati saluran /rongga
pernafasan)

8. Pola pernafasan
 Pernafasan normal (eupnea)
 Pernafasan cepat (tacypnea)
 Pernafasan lambat (bradypnea)

c.Rencana Keperawatan

NO DIAGNOSA NOC NIC


1 Ketidakefektifan pola nafas Status pernafasan: -Manajemen jalan nafas
berhubungan dengan Ventilasi  Buka janlan
Hiperventilasi Kriteria Hasil: nafas dengan
Batasan Karakteristik:  Frekuensi teknik chin lift
 Bradipnea pernafasan dan jaw trust
 Dispnea  Irama  Posisikan pasien
 Penurunan kapasitas pernafasan untuk
tidal  Volume tidal memaksimalkan
 Takipnea  Kapasitas vital ventilasi
 Penggunaan otot  Hasil rontgen  Masukkan alat
bantu nafas dada Naso Pharingeal
Airway atau Oro
Pharingeal
Airway
 Motivasi klien
untuk bernafas

9
pelan,dalam,berp
utar dan batuk
 Auskultasi suara
nafas
-Terapi Oksigen
 Bersihkan mulut
dan hidung dan
sekresi trakea
 Batasi aktivitas
merokok
 Berikan oksigen
tambahan
 Monitor aliran
oksigen
 Monitor posisi
perangkat
-Pngaturan posisi
 Tempatkan
paisen ditempat
tidur
 Berikan matras
yang lembut
 Dorong pasien
terlibat dalm
pengaturan
posisi
 Dorong latihan
ROM aktif dan
pasif
 Tinggikan
kepala dari
tempat tidur

10
2 Gangguan pertukaran gas Respon penyapihan -Monitor pernafasan
berhubungan dengan ventilasi mekanik  Monitor
ketidakseimbangan vntilasi Kriteria Hasil: kecepatan, irama
perfusi  Tingkat dan kedalaman
Batasan karakteristik: pernafasan nfas
 Dyspnea spontan  Monitor suara
 Gas darah arteri  Saturasi oksigen nafas tabahan
abnormal  Kesulitan  Monitor pola
 Hipoksia bernafas sendiri nafas
 Hipoksemia  Volume tidal  Monitor saturasi
 Sianosis  kegelisahan oksigen
 Pasang sensor
pemantauan
oksigen
-Manajemen asam basa
 Pertahankan
kepatenan jalan
nafas
 Posisikan klien
mendapatkan
ventilasi yang
adekuat
 Monitor gas
darah arteri
 Monitor
konnsumsi
oksigen
 Monitor status
hemodinamik
-Manajemen syok
 Monitor tanda-
tanda vital
 Ambil gas darah

11
arteri dan
oksigenasi
jaringan
 Monitor
timbulnya gejala
gagal nafas
 Monitor EkG
sesuai kebutuhan
 Monitor tekanan
oksimetri
3 Disfungsi respons Respon penyapihan -Penyapihan ventilator
penyapihan ventilator ventilasi mekanik mekanik
berhubungan dengan Batasan karakteristik:  Monitor klien
riwayat kegagalan berulang  Tingkat dari infeksi
dalam upaya penyapihan pernafasan sebelum
Batasan karakteristik: spontan penyapihan
 Ketidaknyamanan  Irama  Suction jalan
bernafas pernafasan nafas bila
 Merasa perlu spontan diperlukan
meningkatkn oksigen  Kedalaman  Monitor gejala
 Peningkatan fokus pernafasan kelelahan otot
pada pernafasan spontan pernafasan
 Sedikit peningkatan  Suara nafas  Gunakan teknik
pernafasan dari niai tambahan relaksasi yang
dasar  Gerakan dinding sesuai
dada asimetris  Bantu klien
membedakan
pernafasan
spontan dan
mekanik
-Ekstubasi endotrakeal
 Posisikan pasien
untuk

12
memaksimalkan
penggunaan otot
ventilator
 Monitor distress
pernafasan
 Monitor tanda-
tanda vital
 Observasi tanda
sumbatan jalan
nafas
-Manajemen jalan nafas
buatan
 Monitor adanya
keluhan nyeri
 Melakukan
penyedotan
endotrakeal jika
diperlukan
 Lakukan
pemeriksaan foto
torax
 Monitor suara
ronki,crackles
dijalan nafas
 Monitor
penurunan
ekspirasi dan
peningkatan
tekanan inspirasi

13
BAB III
PENUTUP
4.1. KESIMPULAN
ARDS adalah kondisi kedaruratan paru yang tiba-tiba dan bentuk kegagalan nafas
berat, hipoksemia dan infiltrat yang menyebar dikedua belah paru biasanya terjadi pada orang
yang sebelumnya sehat yang telah terpajan pada berbagai penyebab pulmonal atau non-
pulmonal ( Hudak, 1997 ).
Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas kronik dimana
masing masing mempunyai pengertian yang berbeda. Gagal nafas akut adalah gagal nafas
yang timbul pada pasien yang parunya normal secara struktural maupun fungsional sebelum
awitan penyakit timbul. Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan
penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik, emfisema dan penyakit paru. Pasien mengalami
toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapnia yang memburuk secara bertahap. Pada gagal
nafas kronik struktur paru alami kerusakan yang ireversibel.
Adapun manifestasi klinis yang terjadi pada klien ARDS yaitu sesak nafas,sianosis,
hipoksemia,hipoksia jaringan,takipnea,bradipnea,adanya suara nafas tambahan seperti ronki
dll.

4.2. SARAN
Kami sebagai penulis makalah ini berharap sekali kepada pembaca bahwa kami
menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan.
Untuk itu kami berharap kritik dan saran atau masukan kepada kami selaku pembuat makalah
agar dapat lebih baik lagi.

14
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito,Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan.EGC. Jakarta.


Hudak, Gall0. 1997. Keperawatan Kritis. Pendekatan Holistik.Ed.VI. Vol.I. EGC.
Jakarta.
Nanda international,Diagnosa keperawatan definisi dan klasifikasi 2015-2017 edisi 10
Nursing intervention classification(NIC) edisi bahasa indonesia edisi ke enam
Nursing outcomes classification(NOC) pengukuran outcomes kesehatan edisi ke lima

15