Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PT. SEMEN PADANG


6 AGUSTUS – 14 SEPTEMBER 2018

BAB IV. TUGAS KHUSUS

“Menghitung kebutuhan air pada unit Gas Conditioning Tower


(GCT) IIIC kondisi (Mill On) dan menghitung Gas Velocity
Electrostatic Precipitator (EP) IIIC ”

4.1 Latar Belakang


Pencemaran udara merupakan salah satu pencemaran yang
dikategorikan sebagai pencemaran yang sangat berbahaya dan
memberikan dampak yang cukup besar. Hal ini dikarenakan partikel
polutan dari pencemaran ini berukuran sangat kecil sehingga tidak disadari
oleh masyarakat. Berdasarkan wujud fisiknya, pencemar-pencemar yang
terdapat di udara tidak hanya berupa gas atau uap, melainkan dapat juga
benda-benda padat sebagai partikel, yaitu berupa debu, asap dan bau.
GCT (Gas Conditioning Tower) adalah menara yang digunakan
untuk mendinginkan gas panas buangan dari Suspension Preheater dan
raw mill. Gas panas tidak dapat langsung dibuang ke lingkungan melalui
stack karena masih mengandung debu. Di Indonesia sesuai dengan
keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.Kep.13/MENLH/3/1995
menetapkan standard konsentrasi debu maksimal keluar lingkungan pada
pabrik semen adalah 80 mg/m3 atau 80 ppm.
Oleh karena itu Gas panas dan debu yang merupakan produk
tersebut harus dipisahkan di Electrostatic Precipitator terlebih dahulu, Gas
panas buangan dari Suspension Preheater dan raw mill ini temperaturnya
berkisar 350-3800C, sedangkan Electrostatic Precipitator dapat bekerja
optimal jika gas panas bersuhu 120-1400C. Maka dari itu, sebelum masuk
Electrostatic Precipitator gas panas didinginkan terlebih dahulu pada
GCT.
4.2 Kasus yang Diamati

Kasus yang diamati dalam tugas khusus ini adalah “Menghitung


kebutuhan air pada unit gas conditioning tower (GCT) IIIC kondisi (Mill
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
6 AGUSTUS – 14 SEPTEMBER 2018

On) dan menghitung gas velocity electrostatic precipitator (EP) IIIC


Indarung IV PT. Semen Padang.

4.3 Uraian Kasus yang Diamati


4.3.1 Gas Conditioning Tower (GCT)
GCT (Gas Conditioning Tower) adalah menara yang digunakan
untuk mendinginkan gas panas buangan dari Suspension Preheater dan
raw mill. Gas panas tidak dapat langsung dibuang ke lingkungan melalui
stack karena masih mengandung debu. Di Indonesia melalui Bapedal
menetapkan standard konsentrasi debu maksimal keluar lingkungan pada
pabrik semen adalah 80 mg/m3 atau 80 ppm.
Prinsip kerja GCT yaitu air dispray menggunakan sejumlah nozzle
sehingga akan terbentuk kabut (atomisasi). Nozzle adalah alat yang
berfungsi mengubah energi tekanan menjadi energi kinetik (kecepatan)
sehingga diperlukan high pressure pump untuk dapat mensuplai air
bertekanan tinggi, umumnya pressure pompa 35-40 bar. Air bertekanan
dengan volume tertentu akan memasuki ruang nozzle yang sempit (orifice)
sehingga akan pecah menjadi sejumlah butiran kecil air (droplet). Tujuan
atomisasi adalah untuk meningkatkan luas permukaan total air yang akan
meningkatkan kecepatan perpindahan panas dari gas ke permukaan droplet
sehingga terjadi penguapan air dan pendinginan gas (evaporative cooling).
Gas keluar GCT ada 2 sumber:
1. Volume gas awal masuk GCT
2. Penambahan volume uap air yang menguap dari water spray

Neraca panas pada GCT

Water consumption di GCT


LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
6 AGUSTUS – 14 SEPTEMBER 2018

Kriteria design GCT

 Kecepatan rata-rata gas di dalam GCT ≈2 m/s


 Waktu tinggal (retention time) gas di dalam GCT 10-12 detik

Gambar 4.1 GCT (Gas Conditioning Tower)


4.3.2 Electrotatic Precipitator
Electrostatic Precipitator (EP) adalah alat yang digunakan untuk
menangkap partikel-partikel (misalnya debu) dengan menggunakan prinsip
elektrostatis. Dari asal katanya, Precipitator adalah alat yang digunakan
untuk mengendapkan sesuatu. Sedangkan Electrostatic adalah sebuah
fenomena listrik dimana muatan listrik berpindah dari satu potensial tinggi
ke potensial rendah tanpa adanya bagian yang bergerak.
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
6 AGUSTUS – 14 SEPTEMBER 2018

Gambar 4.2 Electrostatic Precipitator


4.3.2.1 Komponen Electrostatic Precipitator (EP)
Electrostatic Precipitator (EP) secara garis besar terdiri dari 3
(tiga) komponen utama yaitu Discharge Electrode, Collection
Electrode dan Hammering Device.
1. Discharge Electrode (DE) adalah elektroda yang dialiri listrik
arus DC tegangan tinggi negatif sehingga menghasilkan medan
listrik negatif.
2. Collection Electrode (CE) adalah elektroda yang di-tanahkan.
3. Hammering Device (HD) adalah alat yang digunakan untuk
melepaskan debu/partikel yang menempel pada Collecting
Electrode.
4.3.2.2 Cara Kerja Electrostatic Precipitator :
1. Melewatkan gas buang (flue gas) melalui suatu medan listrik
yang terbentuk antara discharge electrode dengan collector
plate, flue gas yang mengandung butiran debu pada awalnya
bermuatan netral dan pada saat melewati medan listrik,
partikel debu tersebut akan terionisasi sehingga partikel debu
tersebut menjadi bermuatan negatif (-).
2. Partikel debu yang bermuatan negatif (-) selanjutnya
menempel pada pelat-pelat pengumpul (collector plate) yang
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
6 AGUSTUS – 14 SEPTEMBER 2018

bermuatan (+). Debu yang dikumpulkan di collector plate


dipindahkan kembali secara periodik dari collector plate
melalui suatu getaran (rapping). Debu ini kemudian jatuh ke
bak penampung, dan ditransport ke silo menggunakan screw
conveyor.
4.3.2.3 Gas velocity
Kecepatan migrasi partikel adalah kecepatan gerak partikel
ketika diberi muatan negatif bergerak menuju elektroda plat
pengumpul. Variabel yang mempengaruhinnya yaitu kuat medan
listrik dan viskositas gas. sehingga kecepatan migrasi partikel
dapat dinyatakan dengan persamaan:

(2 KO P EC EP )
ω=

Dimana :

KO = Permittivity (8,85x10−12 ) F/m


P = Tekanan (atm)
EC = Kuat medan listrik (V/m)
EP = kuat medan precipitator (V/m)
EC= EP = E
µ = viskositas gas (Pa.s)

Adapun persamaan lain untuk mencari gas velocity, yaitu :

ω = - Q/ A ln (1-η)
Dimana :

ω = gas velocity (m/s)


Q = laju aliran gas (m3/s)
A = luas media collecting (m2)
η = efisiensi
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
6 AGUSTUS – 14 SEPTEMBER 2018

4.4 Pengambilan dan Pengolahan Data


4.4.1 Pengambilan Data
Adapun data-data yang digunakan dalam perhitungan ini
adalah :
1. Data design alat yang di ambil dari CBM
Tabel 4.1 Data Design alat
Parameter Data
Laju alir ID Fan 174 m3/detik
Efisiensi ID Fan 80 %
Laju alir Booster Fan 61,9 m3/detik
Efisiensi Booster Fan 78,8 %
Laju alir Mill Fan 141,74 m3/detik

Tabel 4.2 Data Spesifikasi Electrostatic Precipitator IIIC

spesifikasi chamber 1 chamber 2


Volume gas ke EP 5800 m3/menit 7100 m3/menit
Total collecting area 10823 m2 10823 m2
Efisiensi 99,964 % 99,945 %
Tekanan 50 mmWG 50 mmWG
2. Data dari Cental Contro Panel (CCP)
Data dari ruang Cental Contro Panel (CCP) di ambil pada
tanggal 01 september 2018
Tabel 4.3 Data CCP
Parameter Data
Bukaan Dumper ID Fan 90 %
Bukaan Dumper Booster Fan 45 %
Bukaan Dumper Mill Fan 76 %
Laju alir string B 173,6 ton/jam
Temperatur Inlet GCT 375 ºC
Temperatur Outlet GCT 110 ºC
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
6 AGUSTUS – 14 SEPTEMBER 2018

Tabel 4.4 Data Tegangan dan arus pada EP


aktual Design
Chamber field Tegangan arus Tegangan arus
(kV) (mA) (kV) (mA)
1 54 511 100 800
chamber 1
2 60 727 100 800
rata-rata 57 619 100 800
1 54 829 90 1300
chamber 2
2 56 815 90 1300
rata-rata 55 822 90 1300

3. Data Pendukung
Adapun data pendukung dalam perhitungan ini adalah
Tabel 4.5 Data pendukung
Parameter Data
Densitas Udara 1,2 kg/m3
Cp udara campuran 0,24 kcal/kgºC
Cp air 1 kcal/kgºC
Cp raw mix (Hand book) 0,245 kcal/kgºC
Cp Uap air 0,45 kcal/kgºC

4. Data Asumsi
Adapun data yang di asumsikan dalam perhitungan ini adalah
Tabel 4.6 Data Asumsi
Parameter Data
Efisiensi Mill Fan 80 %
Persen raw mix masuk GCT 7%
Temperatur air masuk GCT 28 ºC
Temperatur reference 25 ºC
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
6 AGUSTUS – 14 SEPTEMBER 2018

4.4.2 Hasil Pengolahan Data


4.4.2.1 Kebutuhan air di Gas Conditioning Tower IIIC
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan di dapatkan
hasil sebagai berikut :
Tabel 4.7 Kebutuhan air di GCT IIIC
No Hasil Total
1 Laju alir gas panas inlet 61748,424 m3/jam
2 Massa gas panas inlet 74098,1088 kg/jam
3 Massa raw mix inlet 12152 kg/jam
4 Kebutuhan air di GCT 9,0102 m3/jam

4.4.2.2 Gas Velocity dalam Electrostatic Precipitator IIIC


Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan di dapatkan
hasil sebagai berikut :
Tabel 4.2 Gas velocity dalam EP IIIC
Gas velocity design aktual

chamber 1 0,0708 m/s 0,1159 m/s

chamber 2 0,0821 m/s 0,1079 m/s

4.5 Pembahasan
4.5.1 Kebutuhan air di Gas Conditioning Tower IIIC
Gas Conditioning Tower merupakan tempat berlansungnya
proses perpindahan panas. Perpindahan panas merupakan suatu
keadaan dimana terjadi perubahan temperatur ataupun perubahan
fasa. Didalam Gas Conditioning Tower terjadi kontak lansung
antara gas panas dan air pendingin, sehingga sebagian air akan
menguap.
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
6 AGUSTUS – 14 SEPTEMBER 2018

Gas panas yang masuk ke Gas Conditioning Tower IIIC


berasal dari penarikan ID fan pada Suspension Preheater string B,
kemudian gas panas di tarik oleh Mill fan menuju ke Raw mill
4R2 dan Booster fan menuju ke Coal mill 4K3, sisa dari gas
panas tersebut masuk ke GCT IIIC .
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan di dapatkan
laju alir gas panas yang masuk ke Gas Conditioning Tower IIIC
adalah sebanyak 61748,424 m3/jam yang terdiri dari gas panas
sebanyak 74098,1088 kg/jam dan partikel raw mix sebanyak
12152 kg/jam. Untuk menurunkan temperatur gas panas dari
375ºC ke 110ºC dibutuhkan air sebanyak 9,0102 m3/jam.
Kebutuhan air dipengaruhi oleh laju alir dan temperatur gas
panas. Semakin besar laju alir gas panas dan semakin tinggi
temperaturnya maka kebutuhan air pendingin semakin banyak.
4.5.2 Gas Velocity dalam Electrostatic Precipitator IIIC
Perbandingan gas velocity desain dan gas velocity aktual dapat
dilihat pada grafik berikut :

0.14
0.115884398
0.12 0.10789483
Gas Velocity (m/s)

0.1
0.082062437
0.08 0.070822258 design
0.06 aktual
0.04
0.02
0
chamber 1 chamber

Gambar 4.3 Perbandingan gas velocity desain dan aktual


Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat perbandingan
antara gas velocity desain dan gas velocity aktual. Dimana pada
desain di dapatkan gas velocity pada chamber 1 yaitu 0,0708 m/s
dan pada chamber 2 0,0821 m/s, sedangkan gas velocity aktual
pada chamber 1 yaitu 0,1159 m/s dan pada chamber 2 yaitu 0,1079
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
6 AGUSTUS – 14 SEPTEMBER 2018

m/s . Berdasarkan hasil tersebut gas velocity aktual lebih besar dari
pada gas velocity desain. Hal ini sudah sesuai dengan standar gas
velocity yaitu 0,5 – 1,5 m/s. Sumber : (thai & chun).

4.6 Kesimpulan dan Saran


4.6.1 Kesimpulan
Kebutuhan air di GCT IIIC di pengaruhi oleh laju alir gas panas
dan temperatur inlet. Semakin banyak gas panas dan semakin tinggi
temperaturnya maka kebutuhan air semakin banyak.
1. Untuk mendinginkan gas panas sebanyak 61748,424
m3/jam dibutuhkan air sebanyak 9,0102 m3/jam pada
temperatur masuk 375ºC dan temperatur keluar 110ºC
2. Gas velocity pada EP aktual lebih besar dari pada EP desain
dimana pada chamber 1 yaitu 0,1159 m/s dan pada
chamber 2 yaitu 0,1079 m/s. Gas velocity EP aktual masih
sesuai dengan standar yaitu 0,5 – 1,5 m/s (thai & chyun
associated industry).