Anda di halaman 1dari 7

SATUAN ACARA PENYULUHAN

1. Topik : Pencegahan pre diabetes tersier


2. Pokok Bahasan : Diabetes Mellitus dan Gangren
3. Subpokok Bahasan : Cara mengatasi kaki Dm dengan Gangren
4. Sasaran : Masyarakat umum
5. Waktu dan Tempat
 Tempat : Gedung C Poltekkes Kemenkes Palangkaraya
 Tanggal : Rabu, 19 september 2018
6. Alokasi Waktu : 15 menit
7. Penyuluh : PENI EKI LORENCIA, RIKI, ROMITA
8. Metode : Ceramah dan Tanya Jawab
9. Media : Leaflet dan Poster
10. Tujuan
 Tujuan Umum :
Setelah mengikuti ceramah, dan tanya jawab selama 15 menit diharapkan
peserta didik mampu menjelaskan tentang diabetes mellitus dan gangren
Tujuan Khusus :
Setelah ceramah dan tanya jawab selama 15 menit diharapkan peserta didik
mampu :
 Menjelaskan pengertian diabetes mellitus dan gangren
 Menjelaskan penyebab diabetes mellitus dan gangren
 Menjelaskan klasifikasi diabetes mellitus dan gangren
 Menjelaskan tanda dan gejala diabetes mellitus dan gangrene

11. Materi
( terlampir )
12. Tahap Kegiatan Penyuluhan
Metode &
Tahap Kegiatan Pengajar Kegiatan Peserta Didik
Media
Pembuka-  Memperkenalkan diri  Menjaw Ceramah dan
an  Menyamakan persepsi ab salam tanya jawab
(2 menit)  Menyampaikan maksud dan  Memper
tujuan dilaksanakannya hatikan dan menjawab
pengajaran pertanyaan
 Menggali pengetahuan
audiensi
 Kontrak waktu

Penyajian  Menjelaskan  Menyim Ceramah dan


(11 menit pengertian diabetes mellitus ak penjelasan tanya jawab
pengajaran) dan gangren  Mengaju
 Menjelaskan kan pertanyaan seputar
penyebab diabetes mellitus materi
dan gangren
 Menjelaskan
klasifikasi diabetes mellitus
dan gangren
 Menjelaskan
tanda dan gejala diabetes
mellitus dan gangren
 Menjelaskan
tentang insulin
 Menjelaskan
kegunaan insulin
 Menjelaskan
macam-macam insulin
Penutup  Memberi kesimpulan materi  Memperhatikan  Tanya
(2 menit)  Melakukan evaluasi penjelasan jawab
 Menutup acara penyuluhan  Menjawab pertanyaan
dari penyuluh

14. Evaluasi :
a) Evaluasi terstruktur
 Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum dan saat
penyuluhan
 Pelaksanaan penyuluhan sesuai yang telah dirumuskan pada SAP
 Audiensi hadir di ruang penyuluhan di ruang 29 RSSA
 Jumlah audiensi yang datang minimal 50 % dari total keluarga pasien di
ruang 29 RSSA
 Kesimpulan penyuluh termasuk kesiapan modul termasuk kesiapan modul
dan media yang akan digunakan
 Kesiapan audiensi meliputi kesiapan menerima penyuluhan
b) Evaluasi proses diharapkan
 Audiensi antusias terhadap materi penyuluhan
 Audiensi tidak meninggalkan tempat penyuluhan
 Audiensi mengajukan pertanyaan sesuai dengan materi yang disampaikan
penyuluh
 Penyuluh menjelaskan atau menyampaikan materi dengan jelas dan dengan
suasana rileks
c) Evaluasi hasil yang diharapkan
Audiensi dapat menjelaskan menjelaskan pengertian, penyebab, klasifikasi,
tanda dan gejala, penatalaksanaan gangren di rumah, dan pencegahan diabetes
mellitus dan gangrene.
MATERI PENYULUHAN
DIABETES MELLITUS DAN GANGREN

1. Pengertian diabetes mellitus dan gangren


Diabetes mellitus merupakan kumpulan gejala yang timbul pada sesesorang
karena gangguan keseimbangan karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan
oleh kekurangan insulin secara absolut maupun relatif. Sehingga meyebabkan
terjadinya hiperglikemia dan glikosuria. Pada keadaan normal glukosa diatur
sedemikian rupa oleh insulin yang diproduksi oleh sel β pancreas. Sehingga
kadarnya dalam darah selalu dalam keadaan normal. Baik keadaan puasa maupun
sesudah makan, kadar gula darah selalu stabil sekitar 70 sampai 110 mg/dl. Pada
keadaan diabetes mellitus, tubuh relatif kekurangan sekresi insulin maupun aktivitas
insulin akibatnya pengaturan gula darah menjadi meningkat. Walaupun kadar gula
darah selalu tinggi, terjadi juga pemecahan lemak dan protein menjadi gula
(glukoneogenesis) di hati yang tidak dapat dihambat karena insulin sekresinya
relatif berkurang sehingga gula darah semakin meningkat.
Gangren diabetik adalah gangren yang dijumpai pada penderita DM. Sedangkan
gangren sendiri adalah kematian jaringan oleh karena obstruksi pembuluh darah
yang memberikan makanan kepada jaringan tersebut. Gangren merupakan salah
satu bentuk komplikasi dari penyakit DM. Gangren diabetik ini dapat terjadi pada
pasien bagian tubuh yang terendah diujung terutama pada ekstremitas bawah.

2. Penyebab Diabetes Melitus


DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat
menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang
peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap sebagai
kemungkinan etiologi DM yaitu :
a. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan
sel beta melepas insulin.
b. Faktor-faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang
dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang
diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan.
c. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang
disertai pembentukan sel-sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan
kerusakan sel - sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta
oleh virus.
d. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan
terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran
sel yang responsir terhadap insulin.

3. Tanda dan gejala diabetes mellitus dan gangren


Gejala-gejala diabetes mellitus yaitu poliuria, polifagi, polidipsi, lemas, berat
badan menurun. Bila dibiarkan berlarut-larut berakibat kegawatan diabetes mellitus
berupa ketoasidosis yang sering menimbulkan kematian.
Tanda dan gejala gangren yaitu sakit pada daerah yang bersangkutan, Daerah
menjadi pucat, kebiruan dan berbecak ungu, Lama-kelamaan daerah tersebut
berwarna hitam, Tidak teraba denyut nadi (tidak selalu), Bila diraba terasa kering
dan dingin, Pinggirnya berbatas tegas, Dan akhirnya perasaan nyeri/sakit lambat
laun berkurang dan akhirnya menghilang. Gangren kering ini bisa lepas sendiri dari
jaringan yang utuh.

4. Klasifikasi
a. Klasifikasi diabetes mellitus
 DM Tipe I
Penderita sangat bergantung terhadap insulin karena terjadi proses
autoimun yang menyerang insulinnya. DM tipe I merupakan jenis DM
yang diturunkan (inherited).
 DM Tipe II
Jenis DM ini dipengaruhi baik oleh keturunan maupun factor
lingkungan. Seseorang mempunyai risiko yang besar untuk menderita
NIDDM jika orang tuanya adalah penderita DM dan menganut gaya
hidup yang salah.
 DM Gestasional
DM jenis ini cenderung terjadi pada wanita hamil dan dalam
keluarganya terdapat anggota yang juga menderita DM. Faktor risikonya
adalah kegemukan atau obesitas.
 DM Sekunder
Merupakan DM yang berkaitan dengan keadaan atau sindrom lain
(pancreatitis, kelainan hormonal, dan obat-obatan).
b. Klasifikasi Gangren Kaki Diabetik
Wagner ( 1983 ) membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan, yaitu:
 Derajat 0  Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan
kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti “ claw,callus “.
 Derajat I  Ulkus superfisial terbatas pada kulit.
 Derajat II  Ulkus dalam menembus tendon dan tulang.
 Derajat III  Abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis.
 Derajat IV  Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau
tanpa selulitis.
 Derajat V  Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai
5. Pencegahan gangren
Luka gangren bisa dicegah dengan beberapa tips sebagai berikut:
a. usahakan hampir tiap hari mencuci dan menggosok punggung dan badan kaki
menggunakan tangan. hal ini bertujuan agar ketika ternyata terjadi luka baru
yang kecil bisa di deteksi secara dini sehingga bisa dilakukan perawatan secara
dini, hal ini mampu mencegah untuk berkembang menjadi gangren diabetikum.
b. mengontrol gula darah dikisaran 200 pada GDA meski lebih baik lagi jika
dibawah 200. hal ini bertujuan jika gula darah lebih dari 200 maka akan sangat
berpotensi menjadikan luka semakin memburuk.
c. memakai alas kaki entah itu sandal atau sepatu karena pada penderita diabetes
akan beresik adanya gangguan saraf tepi, dengan maksud pada pasien diabetes
akan cenderung lebih kebal dari rangsangan nyeri, sebagai contoh ketika
terkena luka tusuk kecil dikaki akan tidak terasa karena saraf tepi yang pada
orang normal ketika terkena luka tusuk akan terasa nyeri dan reflek mengangkat
kaki namun pada pasien diabetes kronis tidak akan begitu, sehingga luka yang
kecil cenderung tidak diketahui. maka perlu menghindari dengan memakai alas
kaki tersebut.
d. hindari untuk beraktifitas ke sawah ladang atau tempat yang rawan terjadi luka
dikaki, karena pada pasien diabetes ternyata sekarang sudah banyak diderita
semua kalangan, bukan hanya kalangan menengah ke atas bahkan tidak sedikit
petani yang menderita diabetes, sehingga bagi petani yang mengalami diabetes
untuk perlu hati-hati ketika ke sawah atau ladang kalau perlu hindari.
e. jika sudah terlanjur terdapat luka kecil di kaki. maka ketika tidur atau berbaring
atau duduk santai maka usahakan kaki ditaruh dengan posisi lebih tinggi
dibanding tubuh dengan katalain bisa di ganjel dengan bantal atau benda yang
lain. hal ini bertujuan untuk mengurangi penumpukan kadar gula di kaki,
karena seperti hukum gravitasi, berat jenis gula lebih tinggi, sehingga gula
didalam tubuh cenderung akan turun kebawah, jika bagian tubuh yang terbawah
adalah kaki, maka gula akan cenderung menumpuk dikaki, hal ini yang
memperburuk luka, maka dari itu usahakan kaki ditaruh pada posisi lebih tinggi
agar luka yang terdapat dikaki tidak diikuti dengan penumpukan gula darah
dikaki.