Anda di halaman 1dari 26

PENANGANAN DAN PENCEGAHAN KEBAKARAN LAHAN BASAH DI PEMUKIMAN LAHAN BASAH, SUMATERA SELATAN

LAHAN BASAH DI PEMUKIMAN LAHAN BASAH, SUMATERA SELATAN Oleh : RERSYA SALVENOLA PUTRI 10011181621012 PROGRAM STUDI

Oleh :

RERSYA SALVENOLA PUTRI

10011181621012

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

T.A 2017/2018

KATA PENGANTAR

Bencana kebakaran hutan dan lahan merupakan permasalahan serius yang harus dihadapi bangsa Indonesia hampir setiap tahun pada musim kemarau. Kebakaran yang terjadi tidak hanya pada lahan kering tetapi juga pada lahan basah. Adanya pertumbuhan penduduk tentu saja menuntut kebutuhan dasar termasuk tempat tinggal. Ketika lahan di daerah pemukiman sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan yang diminta, maka terjadi peralihan lahan salah satunya lahan basah yang menjadi kawasan pemukiman sebagai salah satu solusi permasalahan tersebut.

Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk: (1) Untuk menambah pengetahuan tentang lahan basah, jenis-jenis lahan basah, pemukiman di lahan basah serta masalah kebakaran lahan di pemukiman lahan basah. (2) Untuk mengetahui penyebab dan dampak kerusakan kebakaran Lahan Basah di Provinsi Sumatera Selatan. (3) Untuk mengidentifikasi dan melakukan pencegahan serta penaggulangan kebakaran Lahan Basah di Provinsi Sumatera Selatan sebagai ahli kesehatan masyarakat. (4) Memberikan kesempatan untuk mengembangkan wawasan serta meningkatkan kemampuan dalam membuat program untuk menyelesaikan suatu masalah terkait masalah kebakaran di lahan basah.

Penulis harapkan makalah ini dapat diterima baik oleh pembaca dan bermanfaat. Penulis yakin masih banyak kesalahan yang kami lakukan dalam penyajian makalah ini, Oleh karena itu saran serta kritik, sebagai pembangun untuk kesempurnaan makalah ini, sangat kami harapkan.

Akhir kata penulis mengucapakan terimakasih.

i

Indralaya, Maret 2018

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

i

Daftar Isi

ii

Daftar Gambar

iv

Daftar Tabel

v

I.

PENDAHULUAN

1

1.1

Latar Belakang

1

1.2

Rumusan Masalah

2

1.3

Tujuan

3

1.3.1

Tujuan Umum

3

1.3.2

Tujuan Khusus

3

1.4

Manfaat

3

1.4.1

Manfaat Umum

3

1.4.2

Manfaat Khusus

3

1.4.2.1

Manfaat Bagi Masyarakat

3

1.4.2.2

Manfaat Bagi Pembuat Program

3

1.4.2.3

Manfaat Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat

4

II.

TINJAUAN PUSTAKA

5

2.1

Definisi Lahan Basah

5

2.2

Jenis-Jenis Lahan Basah

5

2.3

Manfaat Lahan Basah

8

2.4

Pemukiman Lahan Basah

9

2.4.1

Definisi Permukiman

9

2.4.2

Karakteristik Pemukiman Lahan Basah

9

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

10

3.1

Identifikasi Kebakaran Lahan Basah di Sumatera Selatan

10

3.1.1

Penyebab

10

3.1.2

Macam-macam Kebakaran

10

3.1.3

Zona Kebakaran Lahan/Hutan Periode 1 Tahun 1997 di Sumatera Selatan

11

3.2

Dampak Kebakaran Lahan Basah

11

ii

3.3

Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Lahan Basah di Provinsi Sumatera Selatan

 

13

3.3.1

Upaya Pemerintah dalam Menangani Kebakaran Lahan/Hutan

13

3.3.2

Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran

14

3.3.3

Solusi

14

IV.

PENUTUP

17

4.1

Kesimpulan

17

4.2

Saran

19

Daftar Pustaka

20

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Rawa

6

Gambar 2. Paya Air Tawar

6

Gambar 3. Lahan Bergambut

7

Gambar 4. Riparian

7

Gambar 5. Tambak Ikan

7

Gambar 6. Bencana kabut asap akibat kebakaran lahan

12

Gambar 7. Penyiraman dengan metode waterbombing

13

iv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Usulan Pencegahan

15

Tabel 2. Usulan Kerjasama Antar Instansi Untuk Pencegahan Kebakaran Lahan Basah di Sumatera Selatan

16

v

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Luas lahan basah tropis (termasuk gambut) di Sumatera diperkirakan sebesar 6,3 juta hektar atau

33 persen dari total lahan basah di Indonesia (RePPProt 1990). Lahan basah tropis adalah komponen penting dari siklus karbon global dan menjadi perhatian penting bagi the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Lahan basah juga mempunyai peran penting dalam fungsi hidrologi. Penting sebagai daerah tangkapan air, sistem kontrol, pengatur fluktuasi air, pencegah banjir dan pencegah terjadinya penggaraman air (saline water intrusion) (Rieley et al. 1997). Di samping itu, lahan basah air tawar merupakan tempat yang baik untuk beranakpinaknya ikan dan merupakan penghasil ikan baik untuk konsumsi domestik maupun export (Giesen dan Sukotjo 1991, MacKinnon et al. 1996).

Hutan rawa dataran rendah juga penting untuk keanekaragaman hayati (Rieley et al. 1996, Shephard et al. 1997). Hutan gambut umumnya memiliki kayu yang bernilai ekonomi baik untuk kebutuhan lokal maupun national. Nilai penting dari lahan basah seperti yang dijelaskan di atas, diakui oleh komunitas international melalui konvensi Ramsar yang berupaya untuk meningkatkan tindak (aksi) nasional dan kerjasama international dalam konservasi serta pemanfaatan lahan basah secara bijak. Indonesia sebagai anggota dari CBD dan konvensi Ramsar mempunyai komitmen dalam konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara bijaksana. Lahan basah tropis juga penting bagi masyarakat dan berfungsi sebagai sumber mata pencaharian penting. Karena lahan basah menyediakan sumberdaya yang digunakan secara langsung, antara lain kayu kontruksi, bahan baku untuk anyaman tanaman herba untuk konsumsi dan obat-obatan, ikan sebagai sumber protein. Di Sumatera bagian selatan, masyarakat lokal menggantungkan hidupnya dari lahan basah sejak 50 sampai 200 tahun lalu.

Dengan telah berkembangnya lebih dahulu pembangunan di dataran rendah dan dataran tinggi, lahan basah menjadi perhatian penting dalam rencana pembangunan daerah. Di Sumatera, pembangunan di lahan basah mencakup kegiatan pembalakan kayu komersial, kontruksi kanal dan drainase, pertanian, perkebunan, dan pemukiman transmigrasi. Degradasi hutan dan meningkatnya tekanan penduduk dan aksesibilitas adalah hasil dari meningkatnya aktivitas

1

manusia di lahan basah. Kegiatankegiatan tersebut antara lain perikanan, ekstraksi kayu, dan penanaman padi rawa yang dilakukan oleh penduduk yang sudah menetap lama, maupun kaum pendatang.

Penggunaan api yang tidak terkontrol, timbulnya kebakaran, dan penyebarannya berkaitan dengan sebagian besar dari kegiatan-kegiatan pengembangan di lahan basah. Hal tersebut telah menimbulkan kebakaran di sebagian besar areal lahan basah. Kebakaran yang berulang-ulang telah menjadi salah satu ancaman terbesar bagi konservasi lahan basah, pemanfaatan yang lestari dan pemulihan areal yang telah rusak di Indonesia. Kebakaran tersebut disebabkan oleh meluasnya kerusakan hutan (deforestasi) di lahan basah, perubahan sumberdaya dan perubahan adaptasi dalam kehidupan. Kebakaran di areal rawa gambut juga menyebabkan timbulnya masalah gangguan asap, kesehatan, dan jarak pandang di wilayah Asia Tenggara. Diduga pada kebakaran tahun 1997 di Indonesia, antara 0.81 sampai 2.57 Gt karbon dilepas ke atmosfer sebagai akibat dari pembakaran gambut dan vegetasi. Jumlah ini setara dengan 13-40% dari global karbon emisi (Page et al. 2002). Pada periode tersebut, diduga lahan gambut menyumbang 60% dari produksi asap di Asia Tenggara dan mempengaruhi 35 juta orang (ADB/BAPPENAS 1999). Penyebaran asap secara regional telah menjadi perhatian ASEAN Ministrial Meeting ke sembilan tentang Haze (AMMH) dalam memulai ASEAN Peatland Management Initiative (APMI), untuk mengembangkan pengelolaan lahan basah terpadu serta mengurangi risiko kebakaran dalam kaitanya dengan penyebaran asap secara regional.

Kendati berbagai studi kebakaran lahan maupun hutan sudah banyak dilakukan, tapi belum banyak kemajuan yang dicapai untuk mengatasi masalah kebakaran. Kejadian kebakaran kembali terulang dari tahun ke tahun terutama pada musim kemarau. Berkenaan dengan itu, maka sebagai ahli kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengidentifikasi serta memberikan solusi yang integratif yang dapat meminamalisir dampak dari kebakaran lahan basah di pemukiman lahan basah tersebut, khususnya di Provinsi Sumatera Selatan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari lahan basah ?

2. Apa saja jenis-jenis lahan basah ?

2

3.

Manfaat lahan basah ?

4.

Bagaimana pemukiman di lahan basah dan karakteristiknya ?

5.

Bagaimana penyebab dan dampak kebakaran Lahan Basah di Provinsi Sumatera Selatan ?

6.

Bagaimana pencegahan dan penanggulangan kebakaran Lahan Basah di Provinsi Sumatera Selatan menurut anda sebagai ahli kesehatan masyarakat?

1.3

Tujuan

1.3.1

Tujuan Umum

1.

Untuk menambah pengetahuan tentang lahan basah, jenis-jenis lahan basah, manfaat lahan basah, pemukiman di lahan basah serta masalah kebakaran lahan di pemukiman lahan basah.

2.

Untuk mengetahui penyebab dan dampak kerusakan kebakaran Lahan Basah di Provinsi Sumatera Selatan.

3.

Untuk mengidentifikasi dan melakukan pencegahan serta penaggulangan kebakaran Lahan Basah di Provinsi Sumatera Selatan sebagai ahli kesehatan masyarakat.

1.3.2

Tujuan Khusus Memberikan kesempatan untuk mengembangkan wawasan serta meningkatkan kemampuan dalam membuat program untuk menyelesaikan suatu masalah terkait masalah kebakaran di lahan basah.

1.4

Manfaat

1.4.1

Manfaat Umum Dapat terminimalisirnya masalah kebakaran di pemukiman lahan basah provinsi Sumatera Selatan.

1.4.2

Manfaat Khusus

1.4.2.1 Manfaat Bagi Masyarakat

1. Membantu menanggulangi masalah kebakaran di lahan basah.

2. Masyarakat dapat melakukan pencegahan terhadap masalah kebakaran di lahan basah.

1.4.2.2 Manfaat Bagi Pembuat Program

3

1. Pembuat program dapat melakukan pertimbangan atau koreksi terhadap perencanaan dan pengadaan program keselamatan masyarakat yang tinggal di pemukiman lahan basah di Provinsi Sumatera Selatan.

2. Pembuat program dapat mengetahui karakteristik masyarakat serta pemukiman lahan basah atau tempat tinggal mereka terkait dengan keselamatan masyarakatnya di Provinsi Sumatera Selatan

3. Memberikan kesempatan untuk mengembangkan wawasan serta meningkatkan kemampuan dalam pembuat program untuk menyelesaikan suatu masalah terkait masalah kebakaran di lahan basah.

1.4.2.3 Manfaat Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat

1. Diharapkan dapat dijadikan media literatur untuk pembuatan program di tempat lain yang

cocok dengan situasi/kondisi terkait.

2. Diharapkan dapat menjadi informasi tambahan bagi mahasiswa terkait topik risiko pemukiman lahan basah.

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Lahan Basah

Lahan basah atau wetland adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayah-wilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. Lahan basah adalah wilayah rawa, lahan gambut dan air, baik alami maupun buatan, bersifat tetap dan sementara, berair ladung (stagnant, static) atau mengalir yang bersifat tawar, payau, atau asin mencakup wilayah air marin

yang di dalamnya pada waktu surut tidak lebih dari enam meter (Dugan, 1990).

Lahan basah alami adalah lahan yang karena berpengatusan (drainase) buruk, bersifat basah sepanjang waktu, dan kelebihan air (Moorman & van de Wetering, 1985). Terjadi karena iklim basah berkaitan dengan kedudukan lahan yang ketinggian rendah. Lahan basah buatan adalah lahan yang bentuknya sengaja dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat menambat air banyak untuk mempertahankan genangan air pada permukaan tanah. Sering digunkan untuk budidaya padi sawah.

2.2

Jenis-Jenis Lahan Basah

1.

Rawa Rawa adalah lahan genangan air secara ilmiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat. Rawa adalah semua macam tanah berlumpur yang terbuat secara alami, atau buatan manusia dengan mencampurkan air tawar dan air laut, secara permanen atau sementara, termasuk daerah laut yang dalam airnya kurang dari 6 meter. Rawa-rawa yang memiliki penuh nutrisi, adalah gudang harta ekologis untuk kehidupan berbagai macam makhluk hidup. Rawa-rawa berfungsi untuk mencegah polusi atau pencemaran lingkungan alam.

5

2. Gambar 1. Rawa Paya Paya adalah sejenis lahan basah yang terbentuk dari lapangan yang

2.

Gambar 1. Rawa

Paya Paya adalah sejenis lahan basah yang terbentuk dari lapangan yang sering atau selalu tergenang oleh air. Payau adalah rawa dangkal yang terutama ditumbuhi oleh rerumputan

seperti wlingi, mendong, gelagah, atau terna sejenis bakung, teratai dan sebangsanya

bisa jadi merupakan bagian dari ekosistem yang lebih besar, seperti mangrove atau hutan

Payau

rawa gambut. Wilayah yang berpayau-payau ini seringkali kaya akan jenis-jenis ikan, sehingga menjadi habitat yang penting bagi berbagai margasatwa, terutama burung-burung merandai, bebek liar serta angsa liar. Juga buaya, ular sanca dan anaconda.

liar serta angsa liar. Juga buaya, ular sanca dan anaconda. 3. Gambar 2. Paya Air Tawar

3.

Gambar 2. Paya Air Tawar

Gambut Gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk. Oleh sebab itu, kandungan bahan organiknya tinggi. Sebagai bahan organik, gambut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Volume gambut di seluruh dunia diperkirakan sejumlah 4 trilyun m³, yang menutupi wilayah sebesar kurang-lebih 3 juta km² atau sekitar 2% luas daratan di dunia, dan mengandung potensi energi kira-kira 8 milyar terajoule.

6

Gambar 3. Lahan bergambut 4. Riparian Mintakat riparian atau wilayah riparian adalah zona peralihan antara

Gambar 3. Lahan bergambut

4. Riparian Mintakat riparian atau wilayah riparian adalah zona peralihan antara sungai dengan daratan. Wilayah ini memiliki karakter yang khas, karena perpaduan lingkungan perairan dan daratan. Salah satunya, komunitas tumbuhan pada mintakat ini dicirikan oleh tumbuhan yang beradaptasi dengan perairan, yakni jenis-jenis tumbuhan hidrofilik (vegetasi riparian). Mintakat riparian bersifat penting dalam ekologi, pengelolaan lingkungan dan rekayasa sipil, terutama karena peranannya dalam konservasi tanah, keanekaragaman hayati yang dikandungnya, serta pengaruhnya terhadap ekosistem perairan.

dikandungnya, serta pengaruhnya terhadap ekosistem perairan. Gambar 4. Riparian 5. Lahan basah buatan Lahan basah

Gambar 4. Riparian

5. Lahan basah buatan Lahan basah buatan dari beberapa contoh banyak dibuat untuk menampung air. Selain itu lahan basah buatan bisa juga digunakan untuk pengelolaan limbah dan pemurnian air. Lahan basah buatan yang ditujukan untuk pemurnian sarana sanitasi, dari dampak zat-zat berat dan racun dan memanfaatkan kembali air limbah untuk kebutuhan sehari-hari. Contoh : padang golf, kolam ikan dsb.

memanfaatkan kembali air limbah untuk kebutuhan sehari-hari. Contoh : padang golf, kolam ikan dsb. Gambar 5.

Gambar 5. Tambak Ikan

7

2.3

Manfaat Lahan Basah

1.

Lahan Basah Pemasok Air Bersih Sebagaimana diketahui, dari total air yang terdapat di bumi hanya 3% saja yang berupa air tawar. Itupun sebagaian besar berupa air beku. Padahal, manusia membutuhkan antara 20-50 liter air perharinya untuk memenuhi segala kebutuhan dasarnya mulai dari minum, memasak, hingga mandi. Lahan basah menjadi wilayah yang kaya akan air tawar. Lahan basah menampung air hujan hingga dapat dimanfaatkan manusia bahkan membantu peresapan air ke dalam tanah sebagai cadangan air bersih di dalam tanah bagi manusia.

2.

Lahan Basah Menyaring Air dari Limbah Berbahaya Aktifitas manusia menghasilkan banyak limbah berbahaya. Tidak sedikit limbah-limbah berbahaya tersebut yang kemudian tercampur ke dalam air. Akibatnya, air menjadi tidak layak untuk dikonsumsi. Lahan basah dengan berbagai macam jenis tanaman yang tumbuh di dalamnya mampu menyaring dan membersihkan air dari limbah-limbah yang berbahaya.

3.

Lahan Basah Sumber Pakan Manusia Padi sebagai penghasil beras tumbuh di sawah. Berbagai lahan pertanian yang mengandalkan saluran irigasi. Ikan yang setiap orang mengkonsumsinya hingga rata-rata 19 kg/tahun, tumbuh dan berkembangbiak di rawa-rawa, hutan bakau, hingga muara sungai. Sawah, irigasi, rawa-rawa, hutan bakau, hingga muara sungai adalah sedikit contoh kawasan lahan basah yang keberadaannya menopang ketersediaan pangan bagi manusia.

4.

Lahan Basah Pusat Keanekaragaman Hayati Lahan basah menjadi tempat hidup bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewan. Sedikit 100.000 spesies air tawar mendiami lahan basah. Jutaan jenis burung air (di Indonesia saja tercatat hampir 400-an spesies) tergantung pada kelestarian lahan basah. Tumbuh-tumbuhan banyak hidup di lahan basah.

5.

Lahan Basah Peredam Bencana Alam Lahan gambut, rawa-rawa, dan jenis lahan basah lainnya mampu menampung, menyerap, dan mengelola air hujan hingga tidak menjadi bencana banjir. Kemampuan menampung air hujan inipun mencegah terjadinya bencana kekeringan. Lahan basah mampu berperan sebagai peredam berbagai bencana alam yang mengintai manusia.

6.

Lahan Basah Memerangi Perubahan Iklim

8

Lahan gambut, salah satu jenis lahan basah, mampu mengikat dan menyimpan karbon (salah satu pemicu perubahan iklim) hingga 2 kali lipat dibandingkan seluruh hutan di dunia. Lahan basah di daerah pesisir seperti mangrove, mampu meredam badai dan tsunami.

7.

Lahan Basah Sumber Mata Pencarian Puluhan juta orang menggantungkan hidupnya dari perikanan yang sebagian besar terdapat di lahan basah. Berbagai jenis kayu bangunan, tanaman obat, pakan ternak dihasilkan dari lahan basah yang dikelola secara berkelanjutan dan lestari.

2.4

Pemukiman Lahan Basah

2.4.1

Definisi Permukiman

Permukiman (human settlement) adalah tempat/ruang untuk hidup dan kehidupan bagi kelompok manusia (Doxiadis, 1971). Menurut Doxiadis, permukiman dapat berjalan baik jika terkait dengan beberapa unsur seperti alam (nature), manusia (man), kehidupan sosial (society), ruang (shell), dan hubungan (networks). Pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau hunian dan

tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan (UU No. 4 Tahun 1992, tentang Perumahan dan Pemukiman).

2.4.2 Karakteristik Pemukiman Lahan Basah

Untuk pemukiman lahan basah di Sumatera Selatan, penduduk banyak membangun rumah berbentuk panggung. Banyak pemukiman/rumah yang dibangun di bantaran lahan basah dengan orientasi ke jalan dan membelakangi lahan basah sebagai akibat dari berkembangnya jalan raya. Masyarakat yang tinggal di pemukiman lahan basah biasanya memanfaatkan lahan basah sekitar untuk kegiatan sehari-hari seperti mandi, mencuci, mengambil air untuk keperluan rumah, serta

pembuatan jamban. Lahan basah juga dijadikan sebagai mata pencarian penduduk setempat. Seperti dengan adanya pembudidayaan ikan dengan memanfaatkan lahan, pembukaan lahan pertanian.

9

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Identifikasi Kebakaran Lahan Basah di Sumatera Selatan

3.1.1 Penyebab

Kebakaran lahan maupun hutan di Indonesia umumnya (99,9%) disebabkan oleh manusia, baik disengaja maupun akibat kelalaiannya. Sedangkan sisanya (0,1%) adalah karena alam (petir,

larva gunung berapi). Penyebab kebakaran oleh manusia dapat dirinci sebagai berikut :

Sebab utama dari kebakaran adalah pembukaan lahan yang meliputi:

1. Pembakaran lahan yang tidak terkendali sehingga merembet ke lahan lain.

2. Pembukaan lahan tersebut dilaksanakan baik oleh masyarakat maupun perusahaan. Namun bila pembukaan lahan dilaksanakan dengan pembakaran dalam skala besar, sehingga kebakaran tersebut sulit terkendali.

3. Pembukaan lahan dilaksanakan untuk usaha perkebunan, HTI, pertanian lahan kering, sonor dan mencari ikan.

4. Pembukaan lahan yang paling berbahaya adalah di daerah rawa/gambut.

Sebab lain, yang meliputi akar permasalahanya, adalah :

1. Penggunaan lahan yang menjadikan lahan rawan kebakaran, misalnya di lahan bekas HPH, di daerah yang beralang-alang dan di daerah HTI.

2. Konflik antara pihak pemerintah, perusahaan dan masyarakat karena status lahan sengketa.

3. Tingkat pendapatan masyarakat yang relatif rendah, sehingga terpaksa memilih alternatif yang mudah, murah dan cepat untuk pembukaan lahan.

4. Kurangnya penegakan hukum terhadap perusahaan yang melanggar peraturan pembukaan lahan tanpa bakar

Sebab lainnya, seperti :

1. Unsur kesengajaan

2. Kelalaian masyarakat : misalnya puntung rokok, kegiatan berburu dan mencari ikan serta membuat pondok lalu meninggalkan bekas api.

3.1.2 Macam-Macam Kebakaran

10

1. Sebagian kebakaran di Sumsel adalah bermanfaat bagi petani kecil, namun kebakaran tersebut merupakan kepakaran kecil yang hanya bertahan selama satu sampai dengan tiga jam saja di siang hari.

2. Pembukaan lahan oleh perkebunan besar masih menggunakan pembakaran dan megakibatkan kebakaran besar. Hutan primer di Sumsel sudah hampir habis. Dapat terlihat beberapa contoh dari kebakaran akibat land clearing seperti masih banyak terjadi di Riau, Sumatera Utara, Jambi yang semuanya melanggar hukum. Kebakaran ini dapat berlangsung selama beberapa hari baik pada siang dan malam hari.

3. Kebakaran tidak terkendali dengan banyak asap. Terakhir kali terjadi pada tahun 1997, pada waktu El Nino dan masa rawat kebakaran. Sebagian besar masalah terjadi di lahan rawa,

4. Terutama lahan gambut di Sumsel, Jambi, Kalimantan Tengah dan Irian Jaya. Kebakaran itu dapat bertahan lebih dari satu bulan.

3.1.3 Zona Kebakaran Lahan/Hutan Periode 1 Tahun 1997 di Sumatera Selatan

1. Lahan Rawa/Gambut yang tersisa di OKI hampir semuanya rusak pada tahun 1997. Kebakaran lahan gambut ini menyebabakan adanya polusi asap di Palembang selama bulan September dan November.

2. Beberapa kebakaran di ujung lahan rawa/gambut di MUBA atau sebelah utara Karang Agung.

3. Kebakaran yang dilakukan untuk konversi menjadi perkebunan sawit dekat Muara Rupit yang merupakan hutan rawa gambut di dataran rendah.

4. Lahan basah primer dilahan kering dibuka dan dibakar, berada disebelah timur sungai Musi yang termasuk dalam Kabupaten Musi Rawas

3.2 Dampak Kebakaran Lahan Basah

Setiap tahun ada kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Sumatera Selatan, namun yang paling besar adalah pada musim kemarau panjang yang terjadi setiap 3-5 tahun antar bulan Juli dan Oktober. Kebakaran telah merugikan berbagai pihak, terutama masyarakat di tingkat Sumatera

Selatan, Indonesia, maupun Internasional, serta perusahaan swasta dan pemerintah. Oleh karena itu telah disepakati bahwa kebakaran lahan maupun hutan merupakan masalah kita semua.

1. Gangguan terhadap kesehatan.

11

Kebakaran hutan dan lahan 2015 di Indonesia telah menimbulkan asap yang meliputi 11 provinsi terutama di Sumatera dan Kalimantan, juga negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Filipina. Dampak timbulnya asap yang berlebihan selama kebakaran berlangsung telah menimbulkan berbagai penyakit seperti, gangguan pernapasan, asma, bronchitis, pneumonia, kulit dan iritasi mata. Di Kalimantan Tengah dilaporkan ± 23.000 orang masyarakat yang menderita penyakit pernapasan, di Jambi ± 35.358 orang, di Sumatera Barat ± 47.565 orang dan di kota Padang dilaporkan ± 22.650 orang (Suratmo,1999). Dampak asap dari kebakaran harus dirasakan tiap tahun karena kebakaran terjadi hampir tiap tahun di musim kemarau hingga sekarang.

2. Terganggunya aktivitas sehari-hari. Asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan secara otomatis mengganggu aktivitas manusia sehari-hari, apalagi bagi yang aktivitasnya dilakukan di luar ruangan.

3. Penurunan kualitas fisik lahan basah. Diantaranya penurunan porositas total, penurunan kadar air tersedia, penurunan permeabilitas dan meningkatnya kerapatan lindak.

4. Kehilangan aneka jenis tumbuhan dan flora. Terbunuhnya satwa liar dan musnahnya tanaman baik karena kebakaran, terjebak asap atau rusaknya habitat.

5. Lahan basah menjadi kering.

6. Bisa menimbulkan korban.

habitat. 5. Lahan basah menjadi kering. 6. Bisa menimbulkan korban. Gambar 6. Bencana kabut asap akibat

Gambar 6. Bencana kabut asap akibat kebakaran lahan

12

Menurut BBC-Indonesia.com mengenai kebakaran tahun 2015. Kebakaran hutan dan lahan basah di Sumatera Selatan sudah berlangsung sekitar dua minggu terus menerus. Tapi belum ada permintaan ke BNPB untuk melakukan waterbombing (pengguyuran air) maupun hujan buatan. Belum diberlakukannya status darurat kabut asap. Sehingga pemadaman waterbombing maupun hujan buatan tidak bisa dilakukan.

waterbombing maupun hujan buatan tidak bisa dilakukan. Gambar 7. Penyiraman dengan metode waterbombing Dan

Gambar 7. Penyiraman dengan metode waterbombing

Dan penanggulangan hanya bisa dilakukan dari darat. Artinya lahannya masih dibakar terus, upaya pemadaman hanya bisa dilakukan dari darat. Padahal lokasi kebakaran di tengah atau aksesnya sulit dijangkau dari darat. Satu-satunya (upaya pemadaman efektif) hanya dari udara dengan pengeboman air dan hujan buatan.

Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Sealatan, mengatakan bahwa jarak pandang di Sumatera Selatan berkisar antara 500-3500 meter, tapi tak pernah lebih tinggi dari 5000 meter, sementara jarak pandang yang normal adalah 10 kilometer. Pada pagi hari sempat drop sampai 500 meter.

3.3 Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Lahan Basah di Provinsi Sumatera Selatan

3.3.1 Upaya Pemerintah dalam Menangani Kebakaran Lahan/Hutan

1. Dikeluarkan SK No. 38/KB. 110/SK/Dj. Bun/05.95 tanggal 5 Mei 1995 tentang Pembukaan Lahan Tanpa Bakar, maka perusahaan diharuskan untuk mengisi surat pernyataan dari perusahaan perkebunan untuk tidak membuka lahan dengan membakar.

2. Dibentuk Pusat Pengendalian (PUSDAL) dan Pusat Komando Pelaksana (SATLAK) usaha pencegahan kebakaran hutan.

3. Upaya lainnya :

13

a. Peningkatan SDM.

b. Membentuk sistem informasi manajemen kebakaran hutan dan lahan.

c. Peningkatan perlengkapan sarana dan prasarana.

d. Sosialisasi dan penyuluhan bagi masyarakat.

3.3.2 Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran

Dua sistem dalam mengatasi kebakaran :

1.

Sistem Pencegahan:

 

a. Memikirkan tindakan sebelum terjadi masalah antara lain jalan masuk ke lokasi

kebakaran, sumber air dan masyarakatnya.

 

b. Penyuluhan/latihan : Penyebaran Komik, Pemutaran Film, Audiensi dengan saksi hidup korban kebakaran, Kampanye radio, Pemasangan rambu.

2.

Sistem Pengendalian :

 

a. Ada sistem organisasi, komunikasi radio.

 

b. Pelatihan bukan hanya peralatan.

c. Rencana aksi : Menyiapkan kelompok-kelompok terlatih.

d. Peralatan pengelolaan kebakaran hutan.

 

3.3.3

Solusi

1.

Untuk

sementara

pembukaan

lahan

dengan

pembakaran masih dibutuhkan untuk

menunjang ekonomi di Sumatera Selatan, terutama oleh rakyat, maka yang diperlukan

adalah

upaya

pengelolaan

pembakaran

yang dilaksanakan secara terkendali dan

bertanggung-jawab.

 

2.

Upaya pencegahan kebakaran lahan dan hutan diantaranya :

a. Pemberdayaan masyarakat lewat lembaganya.

b. Penegakkan hukum.

c. Kegiatan patroli.

d. Mengembangkan usaha tani terpadu yang menggunakan teknologi pembakaran secara terkendali dan tanpa asap, seperti yang telah dikembangkan oleh masyarakat sumatera selatan sejak dahulu.

e. Upaya penyuluhan dan sosialisasi mengenai bahaya kebakaran baik melalui media elektronik, cetak, pendekatan langsung ataupun rambu-rambu.

14

f. Diperlukan bantuan peralatan pemadaman ringan dan sederhana yang dapat digunakan

oleh masyarakat desa.

g. Diperlukan mengembangkan upaya sertifikasi untuk perusahaan yang tidak

menggukanan pembakaran, seperti eko-labelling.

h. Perlu diteliti alternatif lain (pajak lingkungan) untuk pencegahan pembukaan lahan

dengan sistem bakar oleh perusahaan perkebunan besar/HTI.

3. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan forum komunikasi yang melibatkan

semua pihak yang terkait untuk diskusi dan meciptakan aksi bekerjasama, yaitu dengan

melibatkan : Instansi pemerintah dan instansi non pemerintah yaitu dari perusahaan swasta,

LSM, masyarakat, akademisi, dan pers.

Tabel 1. Usulan Pencegahan

 

Kegiatan

Pelaksana

1. Penyuluhan / Latihan

- LSM

- Penyebaran Komik

- Pemerintah

- Pemutaran Film

- Masyarakat

- Audiensi dengan saksi hidup korban kebakaran

- Swasta

- Kampanye radio

- Pemasangan rambu

2. Patroli

 

- Pemerintah (KSDA)

 

-

Rutin

- Masyarakat

-

Khusus

3. Pembukaan Lahan

 

- Sosialisasi bahaya

- Kebakaran

- Pertanian mandiri

- Diubah jadi lahan

- Perkebunan

- Budidaya gelam

- Perketat pengawasan dan sanksi

- Libatkan masyarakat

4. Aktivitas Pencarian Ikan

 

-

Ganti api dengan strum / aki

5. Ketidak sengajaan /Rokok

- Pelibatan masyarakat

-

Sosialisasi

15

 

- Penyuluhan

- Penegakkan hukum

- Moral

6.

Ketidakjelasan status lahan

- Penyesuaian tata guna lahan / peta antar instansi terkait dan masyarakat.

- Kejelasan batas-batas di lapangan.

Tabel 2. Usulan Kerjasama Antar Instansi Untuk Pencegahan Kebakaran Lahan Basah di Sumatera Selatan

Instansi

Usulan

1. PEMERINTAH

a. Bantuan masalah teknis dan pendanaan.

b. Perubahan penggunaan lahan-lahan sonor menjadi areal pertanian intensif atau perkebunan.

c. Meningkatkan saran dan prasarana untuk masyarakat.

d. Mengefektifkan kerja penyuluhan di lapangan.

e. Kemudahan akses untuk memperoleh data/informasi/peta.

f. Kerjasama antar instansi terkait dalam pembuatan “Satu” peta penggunaan / kepemilikan lahan dan memperjelas secara detil

2. AKADEMISI/PENELITI

a. Mencari teknologi tepat guna, khususnya pertanian intensif di areal rawa

b. Penyuluhan, pelatihan.

c. Technical Assistant.

d. Penyediaan data / informasi / peta

3. SWASTA

a. Investasi di areal lahan basah, kerjasama dengan masyarakat. b. Memperjelas batas-batas perusahaan bekerjasama dengan masyarakat, guna mengurangi potensi konflik.

4. LSM

a. Pendampingan dan penyuluhan intensif di lapangan. b. Menjadi alat kontrol bagi masyarakat, perusahaan dan pemerintah.

5. MASYARAKAT

a. Memberikan dukungan secara nyata. b. Memperjelas batas-batas areal kepemilikan masyarakat.

16

IV.

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Lahan basah atau wetland adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Lahan basah ada terbentuk secara alami maupun buatan.

2. Jenis-jenis lahan basah antara lain : rawa, paya, gambut, repairan, lahan basah buatan.

3. Manfaat lahan basah : lahan basah pemasok air bersih, lahan basah menyaring air dari

limbah berbahaya, lahan basah sumber pakan manusia, lahan basah pusat keanekaragaman hayati, lahan basah peredam bencana alam, lahan basah memerangi perubahan iklim, lahan basah sumber mata pencarian.

4. Pemukiman lahan basah memiliki karakteristik sebagai contoh pemukiman lahan basah di Sumatera Selatan, penduduk banyak membangun rumah berbentuk panggung. Banyak pemukiman/rumah yang dibangun di bantaran lahan basah dengan orientasi ke jalan dan membelakangi lahan basah sebagai akibat dari berkembangnya jalan raya. Masyarakat yang tinggal di pemukiman lahan basah biasanya memanfaatkan lahan basah sekitar untuk

kegiatan sehari-hari seperti mandi, mencuci, mengambil air untuk keperluan rumah, serta pembuatan jamban. Lahan basah juga dijadikan sebagai mata pencarian penduduk setempat. Seperti dengan adanya pembudidayaan ikan dengan memanfaatkan lahan, pembukaan lahan pertanian.

5. Identifikasi Kebakaran Lahan Basah di Sumatera Selatan

a. Penyebab : pembakaran lahan yang tidak terkendali sehingga merembet ke lahan lain., konflik antara pihak pemerintah, perusahaan dan masyarakat karena status lahan sengketa, tingkat pendapatan masyarakat yang relatif rendah, sehingga terpaksa memilih alternatif yang mudah, murah dan cepat untuk pembukaan lahan, kurangnya penegakan hukum terhadap perusahaan yang melanggar peraturan pembukaan lahan tanpa bakar, unsur kesengajaan, kelalaian masyarakat : misalnya puntung rokok, kegiatan berburu dan mencari ikan serta membuat pondok lalu meninggalkan bekas api.

b. Dampak : gangguan terhadap kesehatan, Terganggunya aktivitas sehari-hari, Penurunan kualitas fisik lahan basah, Kehilangan aneka jenis tumbuhan dan flora, Lahan basah menjadi kering, Bisa menimbulkan korban.

17

c.

Upaya pencegahan dan penanggulangan :

1) Pemerintah : Dikeluarkan SK No. 38/KB. 110/SK/Dj. Bun/05.95 tanggal 5 Mei 1995 tentang Pembukaan Lahan Tanpa Bakar, Dibentuk Pusat Pengendalian (PUSDAL) dan Pusat Komando Pelaksana (SATLAK), Peningkatan SDM, Membentuk sistem informasi manajemen kebakaran hutan dan lahan, Peningkatan perlengkapan sarana dan prasarana, Sosialisasi dan penyuluhan bagi masyarakat. 2) Sistem Pencegahan : Memikirkan tindakan sebelum terjadi masalah antara lain jalan masuk ke lokasi kebakaran, sumber air dan masyarakatnya. Penyuluhan/latihan :

Penyebaran Komik, Pemutaran Film, Audiensi dengan saksi hidup korban kebakaran, Kampanye radio, Pemasangan rambu. 3) Sistem Pengendalian : Ada sistem organisasi, komunikasi radio. Pelatihan bukan hanya peralatan. Rencana aksi : Menyiapkan kelompok-kelompok terlatih. Peralatan pengelolaan kebakaran hutan.

d. Solusi : upaya pengelolaan pembakaran yang dilaksanakan secara terkendali dan bertanggung-jawab, pemberdayaan masyarakat lewat lembaganya, penegakkan hukum., mengembangkan usaha tani terpadu yang menggunakan teknologi pembakaran secara terkendali dan tanpa asap, upaya penyuluhan dan sosialisasi mengenai bahaya kebakaran (melalui media elektronik, cetak, pendekatan langsung ataupun rambu-rambu), diperlukan bantuan peralatan pemadaman ringan dan sederhana yang dapat digunakan oleh masyarakat desa, diperlukan mengembangkan upaya sertifikasi untuk perusahaan yang tidak menggunakan pembakaran (seperti eko-labelling), perlu diteliti alternatif lain (pajak lingkungan) untuk pencegahan pembukaan lahan dengan sistem bakar oleh perusahaan perkebunan besar/HTI, kerjasama dengan berbagai pihak (seperti instansi pemerintah dan instansi non pemerintah yaitu dari perusahaan swasta, lsm, masyarakat, akademisi, dan pers).

18

4.2 Saran

1. Makalah ini diharapkan dapat memberi masukan atau alternatif pilihan-pilihan dalam rangka ikut menanggulangi masalah kebakaran hutan dan lahan.

2. Penegakan hukum di lapangan harus lebih diperkuat. Pemerintah harusnya menerbitkan undang-undang khusus mengenai tindak pidana pembakaran hutan dan lahan sehingga dapat menjadi upaya preventif maupun represif dalam penanggulangan masalah kebakaran hutan dan lahan. Dikarenakan peraturan yang ada dirasa kurang efektif dalam menanggulangi masalah pembakaran hutan dan lahan.

3. Peningkatan peran masyarakat sekitar pemukiman lahan basah demi meningkatkan pengawasan terhadap pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

19

DAFTAR PUSTAKA

Lahan Basah. 5 Maret 2018. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Lahan_basah

Juliar, Septian. “Penanganan dan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan”. 5 Maret 2018.

Victory, Dany. “Tipe Lahan Basah”. 7 Maret 2018.

Alamendah. “Manfaat Lahan Basah Bagi Masa Depan Manusia”. 7 Maret 2018.

FFPCP. 2001. Pengelolaan Kebakaran Lahan dan Hutan di Sumatera Selatan : Tanggung Jawab Kita Bersama. Palembang : FFPCP

Notohadiprawiro, Tejoyuwono. “Pola Kebijakan Pemanfaatan Sumberdaya Lahan Basah, Rawa dan Pantai”. 10 Maret 2018. T_Notohadiprawiro-2006-faperta.ugm.ac.id

20