Anda di halaman 1dari 3

Nama : Rengko Panusunan Malau

NIM : 3311811031
Tugas : Membuat Resensi

Data / Identitas Film


Judul Film : Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI
Sutradara : Arifin C. Noer
Produser : G. Dwipayana
Penulis : Arifin C. Noer
Nugroho Notosusanto
Pemeran : Bram Adrianto
Syubah Asa
Ade Irawan
Amoroso
Katamsi
Umar Kayam
Didi Sadikin
Kies Slamet
Sofia WD
Wawan Wanisar
Musik : Embie C. Noer
Sinematografi : Hasan Basri
Penyunting : Supandi
Perusahaan produksi : PPFN
Tanggal rilis : 1984 (Indonesia)
Durasi : 271 menit
Negara : Indonesia
Bahasa Bahasa : Indonesia
Anggaran : Rp800 juta

Sinopsis
Di awali dengan keadaan Presiden Soekarno yang sedang sakit parah, dan di tambah keadaan
negara yang bisa di bilang keadaan demokrasinya sedang gagal. "di gambarkan dengan
gelandangan sana sini yang tidur di pinggir jalan" dengan keadaan membludaknya kemiskinan
inilah PKI yang mempunyai kekuatan politik besar mendapat dukungan dari rakyat politik dan
dengan cepat mempunyai jutaan anggota pada tahun 1965
Presiden Soekarno yang sedang sakit parah juga di manipulasi PKI dengan merekayasa cerita.
berdasarkan dokumen Gilchirist yang palsu, bahwa. dewan jendral sedang mempersiapkan
kudeta bila Ir.Soekarno mati, Kemudian PKI berencana melakukan ini sebagai alasan dalam
menjalankan kudetanya. "di perlihatkan dalam film ini, pelatihan prajurit-prajurit PKI untuk
melakukan kudetanya"
Pada malam 30 september - 1 Oktober, Tujuh unit anggota dikirim untuk menculik ke Tujuh
jendral yang di bilang terkait dengan Dewan Jendral, ke 6 jendral dan 1 perwira di tangkap,
disiksa dengan keji, di bunuh, dan di buang ke sumur kecil di Lubang buaya "jakarta", hanya satu
jendral yang lolos dari penculikan, yaitu jendral Nasution (lolos dengan melompati pagar).
Selanjutnya, semua unit anggota Letnan Kolonel Untung (PKI) mengambil alih kantor RRI
(Radio Republik Indonesia) dan memaksa staf di sana untuk membaca pidato Untung yang
menyatakan bahwa G30S telah bergerak untuk mencegah kudeta oleh "Dewan Jenderal" dan
mengumumkan pembentukan "Dewan Revolusi". Anak buah G30S/PKI lain pergi ke istana
untuk mengamankan presiden tapi menemukan bahwa presiden telah pergi meninggalkan istana.
Pidato radio lain kemudian segera dibacakan, menguraikan komposisi Dewan Revolusi yang
baru dan mengumumkan perubahan hirarki Angkatan Darat. Para pemimpin G30S mulai
merencanakan pelarian mereka dari Halim, yang harus dilakukan secepatnya.
Soeharto, saat itu membantah pengumuman Untung, menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada
Dewan Jenderal dan membuat catatan-catatan tambahan tentang hakikat G30S. Karena ada
kekosongan kekuasaandengan meninggalnya Yani, Soeharto mengambil kendali sementara
Angkatan Darat dan mulai merencanakan serangan-balik dengan semua anggota
kepercayaannya, namun bagaimanapun dia tidak mau memaksakan pertempuran. Dia malah
menyatakan bahwa ia akan memberikan pengumuman lewat radio, yang disampaikan setelah
pasukan yang setia kepadanya merebut kantor RRI. Pengumuman ini menguraikan situasi kala
itu, menggambarkan G30S sebagai kontra-revolusioner, dan menyatakan bahwa Angkatan Darat
akan berurusan dengan kudeta ini. Tak lama kemudian para pemimpin kudeta melarikan diri dari
Halim, dan pasukan Soeharto merebut kembali pangkalan udara tersebut. Beberapa waktu
kemudian, pasukan di bawah kepemimpinan Soeharto menyerang sebuah markas G30S atau
PKI. Sementara tentara yang berafiliasi dengan PKI melawan,pimpinan Partai lolos dan
melarikan diri,
Seharto kemudian segera dipanggil ke istana kedua di Bogor untuk berbicara dengan Pres.
Soekarno. presiden mengatakan bahwa ia telah menerima jaminan dari Marsekal Udara bahwa
Angkatan Udara tidak terlibat dalam kudeta ini. Soeharto membantah pernyataan tersebut,
mencatat bahwa persenjataan gerakan ini adalah seperti orang-orang dari Angkatan Udara.
Pertemuan ini akhirnya menghasilkan konfirmasi pengangkatan Soeharto sebagai pemimpin
Angkatan Darat, bekerja sama dengan Pranoto Rekso samodra. Dalam investigasi mereka
terhadap peristiwa kudeta ini, Angkatan Darat menemukan kamp di Lubang Buaya - termasuk
tubuh para jenderal, yang dikeluarkan dari sumur sembari Soeharto menyampaikan pidato
menggambarkan kudeta ini dan peran PKI di dalamnya. Jenazah para jenderal kemudian
dimakamkan di tempat lain dan Soeharto memberikan pidato hagiografi, di mana ia mengutuk
G30S PKI dan mendesak masyarakat Indonesia untuk melanjutkan perjuangan jenderal-jenderal
yang telah meninggal tersebut.
Kelebihan dari Film
 Menurut saya sangat bagus, karna memang di ambil dari sejarah yang bisa kita serap
intisarinya serta mencotohnya agar kita selanjutnya tidak jatuh ke lubang yang sama,
 Adegannya seperti nyata sangat menggambarkan kedaan kala itu. kemiskinan,
penyiksaan, suasana rapat PKI, sampai pembunuhan para jendral.
Kekurangan dari Film Dan Perbandingan
 Adegannya masih mengandung unsur Kekerasan dan kata-kata Kasar, jadi masih belum
boleh di tonton anak di bawah 18 tahun.
 di bandingkan dengan film jaman sekarang yang di tambah animasi serta effect-effect
keren kualitas gambar HD dengan effect 3D, mungkin ini yang menjadi kekurangan film
G30S PKI ini, jadi kebanyakan kurang di minati remaja, bahkan menontonnya saja butuh
unsur paksaan dari pihak pemerintah tetapi nilai plus dari film ini ada di bagian ahir film,
dimana pada bagian itu di sertakan Video dokumen asli pengangkatan mayat-mayat para
jendral dari dalam sumur di lubang buaya. sangat jarang ada film sejarah yang
menyertakan dokumen aslinya seperti film ini.