Anda di halaman 1dari 8

A.

Definisi

Harga diri seseorang di peroleh dari diri sendiri dan orang lain.
Gangguan harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih sayang, perilaku
orang lain yang mengancam dan hubungan interpersonal yang buruk. Tingkat
harga diri seseorang berada dalam rentang tinggi sampai rendah. Individu yang
memiliki harga diri tinggi menghadapi lingkungan secara aktif dan mampu
beradaptasi secara efektif untuk berubah serta cenderung merasa aman. Individu
yang memiliki harga diri rendah melihat lingkungan dengan cara negatif dan
menganggap sebagai ancaman.(Keliat, 2011).
Harga diri rendah adalah semua pikiran, keyakinan dan kepercayan yang
merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi
hubungannya dengan orang lain. Harga diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi
dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri,
dengan orang terdekat dan dengan realitas dunia ( Stuart & Gail, 2006 ).
Harga diri rendah adalah penilaian individu tentang pencapaian diri
dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Pencapaian
ideal diri atau cita-cita atau harapan langsung menghasilkan perasaan bahagia (
Keliat, 2005 ).
Harga diri rendah dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap
diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah
dapat terjadi secara situasional (trauma) atau kronis (kritik diri yang telah
berlangsung lama) dapat di ekspresikan secara langsung atau tidak langsung (
Stuart & Sundeen,2006 ).
Dari beberapa pengertian diatas penulis mengambil kesimpulan bahwa
gangguan harga diri rendah merupakan perasaan tidak berguna, tidak berharga,
tidak berarti dan perasaan rendah hati yang berjalan secara terus menerus akibat
evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan yang dimiliki.
B. Patofisiologi
Hasil riset (Malhi,2008) menyimpulkan bahwa harga diri rendah
diakibatkan oleh rendahnya cita-cita seseorang. Hal ini mengakibatkan
berkurangnya tantangan dalam mencapai tujuan. Tantangan yang rendah
menyebabkan upaya yang rendah. Selanjutnya hal ini menyebabkan penampilan
seseorang yang tidak optimal.

Dalam tinjauan life span history klien, penyebab terjadinya harga diri
rendah adalah pada masa kecil sering disalahkan, jarang diberikan pujian atas
keberhasilannya. Saat individu mencapai masa remaja dikeberadaannya kurang
dihargai, tidak diberikan kesempatan dan tidak diterima. Menjelang dewasa awal
sering gagal disekolah, pekerjaan, atau pergaulan. Harga diri rendah muncul saat
lingkungan cenderung mengucilkan dan menuntut lebih dari kemampuannya.

1. Faktor predisposisi
Faktor predisposisi terjadinya harga diri rendah adalah penolakan orang tua yang
tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab
personal, ketergantungan orang lain, ideal diri yang tidak realistis.
2. Faktor presipitasi
Terjadinya harga diri rendah biasanya adalah kehilangan bagian tubuh,
perubahan penampilan garing bentuk tubuh, kegagalan atau produktifitas yang
menurun.

Secara umum, gangguan konsep diri harga diri rendah ini dapat terjadi secara
situasional atau kronik. Secara situasional misalnyakarena trauma yang muncul
secara tiba-tiba misalnya harus dioperasi, kecelakaan, perkosaan, atau dipenjara
termasuk dirawat dirumah sakit bisa menyebabkan harga diri rendah disebabkan
karena penyakit fisik atau pemasangan alat bantu yang membuat klien tidak
nyaman. Penyebab lainnya adalah harapan fungsi tubuh yang tidak tercapai serta
perlakuan petugas kesehatan yang kurang menghargai klien dan keluarga. Harga
Diri Rendah kronik, biasanya dirasakan klien sebelum sakit atau sebelum
dirawat klien sudah memiliki pikiran negative dan meningkat saat dirawat.
Baik faktor predisposisi maupun presipitasi diatas bila memengaruhi seseorang
dalam berpikir, bersikap maupun bertindak , maka dianggap akan memengaruhi
terhadap koping individu tersebut sehingga menjadi tidak efektif (mekanisme
koping individu tidak efektif). Bila kondisi pada klien tidak dilakukan intervensi
lebih lanjut dapat menyebabkan klien tidak mau bergaul dengan orang lain
(isolasi social : menarik diri), yang menyebabkan klien asik dengan dunia dan
pikirannya sendiri sehingga dapat muncul risiko prilaku kekerasan.

Menurut peplau dan sulvan harga diri berkaitan dengan pengalaman


interpersonal, dalam tahap perkembangan dari bayi sampai lanjut usia seperti
good me, bad me, not me, anak sering dipersalahkan, ditekan sehingga perasaan
amannya tidak terpenuhi dan merasa ditolak oleh lingkungan dan apabila koping
yang lingkungan social akan mempengaruhi individu, pengalaman seseorang
dan adanya perubahan social seperti perasaan dikucilka,ditolak, oelh lingkungan
social, tidak dihargai akan menyebabkan stress dan menimbulkan perilaku akibat
harga diri rendah

C. Etiologi
Gangguan harga diri rendah menurut ( Carpenito, 2007 ) dapat terjadi secara:
Kronis dan situasional. Harga diri rendah kronis adalah keadaan individu
mengalami evaluasi diri negatif yang mengenai diri sendiri atau kemampuan
dalam waktu lama, misalnya kegagalan untuk memecahkan suatu masalah atau
berbagai stress berurutan dapat mengakibatkan harga diri rendah kronik.
Sedangkan harga diri rendah situasional adalah suatu keadaan ketika individu
yang sebelumnya memiliki harga diri positif mengalami perasaan negatif
mengenai diri dalam berespons terhadap suatu kejadian ( kehilangan,
perubahan ).
Harga diri rendah biasanya terjadi karena adanya kritik diri sendiri dan orang
lain, yang menimbulkan penurunan produktifitas yang berkepanjangan, yang
dapat menimbulkan gangguan dalam berhubungan dengan orang lain dan dapat
menimbulkan perasaan ketidakmampuan dari dalam tubuh, selalu merasa
bersalah terhadap orang lain, mudah sekali tersinggung atau marah yang
berlebihan terhadap orang lain, selalu berperasaan negatif tentang tubuhnya
sendiri. Karena itu dapat menimbulkan ketegangan peran yang dirasakan kepada
klien yang mempunyai gangguan harga diri rendah. Harga diri rendah juga
selalu mempunyai pandangan hidup yang pesimis dan selalu beranggapan
mempunyai keluhan fisik, pandangan hidup yang pesimis dan selalu
beranggapan mempunyai keluhan fisik, pandangan hidup yang bertentangan,
penolakan terhadap kemampuan yang dimiliki, dapat
menimbulkan penarikan diri secara sosial, yang dapat menimbulkan
kekhawatiran pada klien ( Stuart & Gail, 2007 ).
Klien yang mempunyai gangguan harga diri rendah akan mengisolasi diri
dari orang lain dan akan muncul perilaku menarik diri, gangguan sensori
persepsi halusinasi bisa juga mengakibatkan adanya waham ( Stuart & Gail W,
2007 ).

D. Faktor Harga Diri Rendah


Faktor yang mempengaruhi harga diri rendah yaiitu :
1. Faktor prediposisi
a. Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua,
harapan orang tua yang tidak realitas, sekolah,ditolak,perkerjaan. Faktor
yang mempengengaruhi performa peran adalah stereotip peran gender,
tuntutan peran kerja, harapan peran budaya
b. Faktor yang mempengaruhi indentitas pribadi meliputi ketidakpercayaan
orang tua, tekanan dari kelompok sebaya dan perubahan struktur social.
2. Faktor presipitasi
Ketegangan peran oleh stress yang berhubungan dengan frustasi yang
dialami dalam peran/posisi, halusinasi pendengaran dan penglihatan ,
kebingungan tentang seksualitas diri sendiri, kesulitan membedakan diri
sendiri dengan orang lain, ganguan citra tubuh , mengalami dunia seperti
dalam mimpi.
E. Manifestasi Klinis
- Perasaan malu pada diri sendiri akibat penyakit dan akibat terhadap
tindakanpenyakit. Misalnya malu dan sedih karena rambut menjadi
rontok (botak) karena pengobatan akibat penyakit kronis seperti kanker.
- Rasa bersalah terhadap diri sendiri misalnya ini terjadi jika saya tidak ke
rumah sakit menyalahkan dan mengejek diri sendiri.
- Merendahkan martabat misalnya, saya tidak bisa, saya tidak mampu,
saya memang bodoh dan tidak tahu apa-apa.
- Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri, klien tidak mau bertemu
orang lain, lebih suka menyendiri.
- Percaya diri kurang, klien sukar mengambil keputusan yang suram
mungkinmemilih alternatif tindakan.
- Mencederai diri dan akibat harga diri rendah disertai dengan harapan
yang suram mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.

Tanda-tanda harga diri rendah


- Mengejek dan mengkritik diri.
- Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri sendiri.
- Mengalami gejala fisik, missal : tekanan darah tinggi, gangguan
penggunaan zat.
- Menunda keputusan.
- Sulit bergaul.
- Menghindari kesenangan yang dapat memberi rasa puas.
- Menarik diri dari realitas, cemas, panik, cemburu, curiga, halusinasi.
- Merusak diri : harga diri rendah menyokong klien untuk mengakhiri
hidup.
- Merusak atau melukai orang lain.
- Perasaan tidak mampu.
- Pandangan hidup yang pesimistis.
- Tidak menerima pujian.
- Penurunan produktivitas.
- Penolakan terhadap kemampuan diri.
- Kurang memperhatikan perawatan diri.
- Berpakaian tidak rapih.
- Berkurang selera makan.
- Tidak berani menatap lawan bicara.
- Lebih banyak menunduk.
- Bicara lambat dengan nada yang lemah.
F. Masalah keperawatan
- Harga diri rendah kronis.
- koping individu tidak efektif.
- Isolasi social.
- Perubahan persepsi sensori : halunasi.
- Risti perilaku kekerasan.

G. Tindakan keperawatan
- Mengindentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki
klien, dengan cara mendiskusikan bahwa klien masih memiliki sejumlah
kemampuan dan aspek positif seperti kegiatan pasien dirumah, adanya
keluarga dan lingkungan terdekat klien.
- Memberi pujian yang realistik/ nyata dan hindarkan penilaian negative
setiap kali bertemu dengan klien membantu klien menilai kemampuan
yang dapat digunakan saat ini.
- Menyebutkan dan memberi penguatan terhadap kemampuan yang
diungkapkan klien.
- Perlihatkan respon yang positif dan menjadi pendengar yang aktif.
- Membantu klien memilih/menetapkan kegiatan sesuai dengan
kemampuan dengan cara mendiskusikan beberapa aktivitas yang dapat
dilakukan dan dipilih sebagai kegiatan yang akan dilakukan sehari-hari.
- Bantu klien menetapkan aktivitas mana yang dapat dilakukan secara
mandiri, mana aktivitas yang memerlukan bantuan minimal dari keluarga
dan aktivitas dan apa saja yang perlu bantuan penuh dari keluarga atau
lingkungan terdekat klien.
- Berikan contoh cara melaksanakan aktivitas yang dapat dilakukan klien.
Susun bersama klien dan buat daftar aktivitas atau kegiatan sehari-hari.
- Melatih kegiatan klien yang sudah dipilih sesuai kemampuan dengan cara
memperagakan beberapa kegiatan yang akan dilakukan pasien.
- Berikan dukungan dan pujian yang nyata setiap kemajuan yang
diperlihatkan klien.
- Membantu klien dapat merencanakan kegiatan sesuai kemampuannya
yaitu memberi kesempatan kepada klien untuk mencoba kegiatan yang
telah dilatihkan.
- Beri pujian atas aktivitas atau kegiatan yang dapat dilakukan klien setiap
hari.
- Tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan perubahan setiap
aktivitas.
- Susun daftar aktivitas yang sudah dilatihkan bersama klien dan keluarga.
- Berikan kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah pelaksanaan
kegiatan.
- Yakinlah bahwa keluarga mendukung setiap aktivitas yang dilakukan
klien.
H. Tindakan dan peran keluarga dalam meningkatkan harga diri klien.
- Meningkatkan harga diri klien.
- Menjalin hubungan saling percaya.
- Memberi kegiatan sesuai kemampuan klien.
- Meningkatkan kontak dengan orang lain.
- Menggali kekuatan klien.
- Dorong mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
- Bantu melihat prestasi dan kemampuan klien.
- Bantu mengenal harapan.
- Mengevaluasi diri.
- Membantu klien mengungkapkan upaya yang bias digunakan dalam
menghadapi masalah.
- Menetapkan tujuan yang nyata.
- Membantu memilih cara yang sesuai untuk klien.
- Bantu klien untuk mengubah prilaku negatif dan mempertahankan
prilaku positif.
- Sikap keluarga; empati, mengontrol klien, memberi pujian pada klien.