Anda di halaman 1dari 27

KEPERAWATAN JIWA

PERILAKU KEKERASAN

Ns. Faisal Kholid Fahdi, M.Kep

DISUSUN OLEH

1. Muthia Nanda Sari I1032141001 9. Lily Seftiani I1032141021


2. Siska Putri Utami I1032141007 10. Syahroni I1032141023
3. Avelintina B.C I1032141008 11. Deviliani I1032141026
4. Aulia Safitri I1032141010 12. Iqbal Hambali I1032141032
5. Yossy Claudia Evan I1032141011 13. Rima Putri A I1032141043
6. Janssen Pangkawira I1032141013
7. Makhyarotil A I1032141015
8. Nur Indah W I1032141016

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan
makalah ini tepat waktu.

Makalah ini tentang Perilaku Kekerasan yang disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Keperawatan Jiwa.

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ns.Faisal Kholid Fahdi, M.Kep selaku dosen mata kuliah Keperawatan Jiwa yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan demi terselesaikannya makalah ini.
2. Rekan-rekan dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Namun, kami menyadaribahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah


ini. Oleh karena itu, masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa kami
harapkan demi perbaikan makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca baik itu mahasiswa maupun
masyarakat dan dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan yang berguna untuk kita semua. Akhir
kata kami ucapkan terima kasih.

Pontianak, 18 Oktober 2016

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Perkembangan pelayanan kesehatan di Indonesia tidak terlepas dari sejarah
kehidupan bangsa. Setelah Indonesia merdeka, pelayanan kesehatan terhadap masyarakat
dikembangkan sejalan dengan tanggung jawab pemerintah melindungi rakyat Indonesia dari
berbagai masalah kesehatan yang berkembang. Kesehatan adalah hak azazi manusia yang
tercantum juga dalam Undang Undang Dasar tahun 1945. Oleh karenanya pemerintah telah
mengadakan pelayanan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Dampak
perkembangan jaman dan pembangunan dewasa ini juga menjadi faktor peningkatan
permasalahan kesehatan yang ada, menjadikan banyaknya masalah kesehatan fisik juga
masalah kesehatan mental / spiritual.(refrensi)
Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau
mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Purba
dkk, 2008). Menurut Stuart dan Laraia (1998), perilaku kekerasan dapat dimanifestasikan
secara fisik (mencederai diri sendiri, peningkatan mobilitas tubuh), psikologis (emosional,
marah, mudah tersinggung, dan menentang), spiritual (merasa dirinya sangat berkuasa, tidak
bermoral). Perilaku kekerasan merupakan suatu tanda dan gejala dari gangguan skizofrenia
akut yang tidak lebih dari satu persen (Purba dkk, 2008). Perilaku kekerasan merupakan
salah satu jenis gangguan jiwa.
WHO (2001) menyatakan, paling tidak ada satu dari empat orang di dunia mengalami
masalah mental. WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia mengalami
gangguan kesehatan jiwa. Pada masyarakat umum terdapat 0,2 – 0,8 % penderita skizofrenia
dan dari 120 juta penduduk di Negara Indonesia terdapat kira-kira 2.400.000 orang anak
yang mengalami gangguan jiwa (Maramis, 2004 dalam Carolina, 2008). Data WHO tahun
2006 mengungkapkan bahwa 26 juta penduduk Indonesia atau kira-kira 12-16 persen
mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan data Departemen Kesehatan, jumlah penderita
gangguan jiwa di Indonesia mencapai 2,5 juta orang (WHO, 2006).
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti melalui survey awal penelitian di Rumah
Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara bahwa jumlah pasien gangguan jiwa pada tahun 2008
tercatat sebanyak 1.814 pasien rawat inap yang keluar masuk rumah sakit dan 23.532 pasien
rawat jalan. Pada tahun 2009 tercatat sebanyak 1.929 pasien rawat inap yang keluar masuk
rumah sakit dan 12.377 pasien rawat jalan di rumah sakit tersebut. Sedangkan untuk pasien
rawat inap yang menderita skizofrenia paranoid sebanyak 1.581 yang keluar masuk rumah
sakit dan 9.532 pasien rawat jalan. Pasien gangguan jiwa skizofrenia paranoid dan gangguan
psikotik dengan gejala curiga berlebihan, galak, dan bersikap bermusuhan. Gejala ini
merupakan tanda dari pasien yang mengalami perilaku kekerasan (Medikal Record, 2009).
Jumlah pasien yang dirawat pada tribulan keempat (Oktober , November, dan
Desember) 2014, terdapat 1015 pasien (727 laki – laki dan 288 perempuan) pasien yang
MRS. Perilaku kekerasan merupakan diagnosa terbanyak pertama yaitu 538 pasien (53,01%)
terdiri dari pasien laki – laki sebanyak 458 orang dan perempuan sebanyak 80 orang. Terjadi
peningkatan jumlah pasien yang dirawat pada tribulan keempat sebanyak 117 pasien (13%),
dan peningkatan jumlah pasien dengan diagnosa keperawatan perilaku kekerasan sebanyak
56 pasien (11,62%), dengan rata – rata hari rawat pasien dengan diagnosa perilaku kekerasan
adalah 7 - 8 hari (Bidper RSJ RW, 2014).
Peran perawat dalam membantu pasien perilaku kekerasan adalah dengan
memberikan asuhan keperawatan perilaku kekerasan. Pemberian asuhan keperawatan
merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan
pasien, keluarga dan atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Keliat
dkk, 1999).
1.2.Rumusan Masalah
1. Apa defenisi prilaku kekerasan?
2. Apa etiologi prilaku kekerasan?
3. Bagaimana manifestasi prilaku kekerasan?
4. Bagaimana rentang respon marah pada klien dengan perilaku kekerasan?
5. Bagaimana penatalaksanaan prilaku kekerasan?
6. Bagaimana peran perawat dalam prilaku kekerasan?
7. Bagaimana terapi aktivitas kelompok stimulasi?

1.3.Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui defenisi prilaku kekerasan
2. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi prilaku kekerasan
3. Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi prilaku kekerasan
4. Mahasiswa dapat mengetahui rentang respon marah pada klien dengan perilaku
kekerasan
5. Mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan prilaku kekerasan
6. Mahasiswa dapat mengetahui peran perawat dalam prilaku kekerasan
7. Mahasiswa dapat mengetahui terapi aktivitas kelompok stimulasi
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1.Definisi
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan. Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap
kecemasan / kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman.Perilaku
kekerasan adalah suatu kondisi maladaktif seseorang dalam berespon terhadap marah.
Tindakan kekerasan / perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan
atau menyerang orang lain / lingkungan. Tindak kekerasan merupakan suatu agresi fisik dari
seorang terhadap lainnya (Carpenito, 2000)
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang
tidak konstruktif.Perasaan marah normal bagi tiap individu.Namun, pada pasien perilaku
kekerasan mengungkapkan rasa kemarahan secara fluktuasi sepanjang rentang adaptif dan
maladaptif.Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respons terhadap
kecemasan/kebutuhan yang tidak terpenuhi yang tidak dirasakan sebagai ancaman (Stuart &
Sundeen, 1998). Marah merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktivitas sistem saraf
parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat biasanya ada
kesalahan, yang mungkin nyata-nyata kesalahannya atau mungkin juga tidak. Pada saat
marah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu dan
biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal ini disalurkan maka akan terjadi perilaku
agresif (Purba dkk, 2008).
2.2.Etiologi
2.2.1. Faktor Predisposisi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan menurut
teori biologik, teori psikologi, dan teori sosiokultural yang dijelaskan oleh Purba dkk
(2008) adalah:
a. Teori Biologik
Teori biologik terdiri dari beberapa pandangan yang berpengaruh terhadap
perilaku:
- Neurobiologik
Ada 3 area pada otak yang berpengaruh terhadap proses impuls
agresif: sistem limbik, lobus frontal dan hypothalamus. Neurotransmitter juga
mempunyai peranan dalam memfasilitasi atau menghambat proses impuls
agresif. Sistem limbik merupakan sistem informasi, ekspresi, perilaku, dan
memori. Apabila ada gangguan pada sistem ini maka akan meningkatkan atau
menurunkan potensial perilaku kekerasan. Adanya gangguan pada lobus
frontal maka individu tidak mampu membuat keputusan, kerusakan pada
penilaian, perilaku tidak sesuai, dan agresif.Beragam komponen dari sistem
neurologis mempunyai implikasi memfasilitasi dan menghambat implus
agresif.
- Biokimia
Berbagai neurotransmitter (epinephrine, norepinefrine, dopamine,
asetikolin, dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi atau
menghambat impuls agresif. Teori ini sangat konsisten dengan fight atau
flight yang dikenalkan oleh Selye dalam teorinya tentang respons terhadap
stress.
- Genetik
Penelitian membuktikan adanya hubungan langsung antara perilaku agresif
dengan genetik karyotype XYY.
- Gangguan Otak
Sindroma otak organik terbukti sebagai faktor predisposisi perilaku agresif
dan tindak kekerasan.Tumor otak, khususnya yang menyerang sistem limbik
dan lobus temporal; trauma otak, yang menimbulkan perubahan serebral; dan
penyakit seperti ensefalitis, dan epilepsy, khususnya lobus temporal, terbukti
berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan.
b. Teori Psikologik
- Teori Psikoanalitik
Teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya kebutuhan untuk mendapatkan
kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan
membuat konsep diri rendah.Agresi dan tindak kekerasan memberikan
kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri dan memberikan
arti dalam kehidupannya.Perilaku agresif danperilaku kekerasan merupakan
pengungkapan secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaan dan rendahnya
harga diri.
- Teori Pembelajaran
Anak belajar melalui perilaku meniru dari contoh peran mereka, biasanya
orang tua mereka sendiri.Contoh peran tersebut ditiru karena dipersepsikan
sebagai prestise atau berpengaruh, atau jika perilaku tersebut diikuti dengan
pujian yang positif.Anak memiliki persepsi ideal tentang orang tua mereka
selama tahap perkembangan awal. Namun, dengan perkembangan yang
dialaminya, mereka mulai meniru pola perilaku guru, teman, dan orang lain.
Individu yang dianiaya ketika masih kanak-kanak atau mempunyai orang tua
yang mendisiplinkan anak mereka dengan hukuman fisik akan cenderung
untuk berperilaku kekerasan setelah
dewasa.
- Teori Sosiokultural
Pakar sosiolog lebih menekankan pengaruh faktor budaya dan struktur sosial
terhadap perilaku agresif. Ada kelompok sosial yang secara umum menerima
perilaku kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalahnya.
Masyarakat juga berpengaruh pada perilaku tindak kekerasan, apabila
individu menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan mereka tidak dapat
terpenuhi secara konstruktif.Penduduk yang ramai /padat dan lingkungan
yang ribut dapat berisiko untuk perilaku kekerasan.Adanya keterbatasan
sosial dapat menimbulkan kekerasan dalam hidup individu.
- Budaya sec. teori
2.2.2. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali berkaitan
dengan (Yosep, 2009):
a. Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti
dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian masal dan
sebagainya.
b. Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi.
c. Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak
membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan kekerasan
dalam menyelesaikan konflik.
d. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan dirinya
sebagai seorang yang dewasa.
e. Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan
alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa
frustasi.
f. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan
tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan keluarga.
2.3.Manifestasi Klinis
Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan adalah sebagai
berikut:
a. Fisik
- Muka merah dan tegang
- Mata melotot/ pandangan tajam
- Tangan mengepal
- Rahang mengatup
- Postur tubuh kaku
- Jalan mondar-mandir
b. Verbal
- Bicara kasar .
- Suara tinggi, membentak atau berteriak.
- Mengancam secara verbal atau fisik.
- Mengumpat dengan kata-kata kotor.
- Suara keras.
- Ketus
c. Perilaku
- Melempar atau memukul benda/orang lain
- Menyerang orang lain.
- Melukai diri sendiri/orang lain.
- Merusak lingkungan.
- Amuk/agresif
d. Emosi
Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu, dendam dan jengkel,
tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.
e. Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.
f. Spiritual
Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain,
menyinggung perasaan orang lain, tidak perduli dan kasar.
g. Sosial
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.
h. Perhatian
Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual
2.4.Rentang Respon Marah Pada Klien Dengan Perilaku Kekerasan
Respons kemarahan dapat berfluktuasi dalam rentang adaptif – mal adaptif. Rentang respon
kemarahan dapat dijelaskan sebagai berikut (Keliat, 2011) :
a. Assertif adalah mengungkapkan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan orang lain,
atau tanpa merendahkan harga diri orang lain.
b. Frustasi adalah respons yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau keinginan.
Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan kecemasan. Akibat dari ancaman
tersebut dapat menimbulkan kemarahan.
c. Pasif adalah respons dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan yang
dialami.
d. Agresif merupakan perilaku yang menyertai marah namun masih dapat dikontrol oleh
individu. Orang agresif biasanya tidak mau mengetahui hak orang lain. Dia berpendapat
bahwa setiap orang harus bertarung untuk mendapatkan kepentingan sendiri dan
mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain.
Mengamuk atau perilaku kekerasan adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat disertai
kehilangan kontrol diri. Pada keadaan ini individu dapat merusak dirinya sendiri maupun
terhadap orang lain.
2.5.Penatalaksanaan
2.5.1. Medis
Menurut Yosep ( 2007 ) obat-obatan yang biasa diberikan pada pasien dengan marah
atau perilaku kekerasan adalah :
- Antianxiety dan sedative hipnotics. Obat-obatan ini dapat mengendalikan agitasi
yang akut. Benzodiazepine seperti Lorazepam dan Clonazepam, sering digunakan
dalam kedaruratan psikiatrik untukmenenangkan perlawanan klien. Tapi obat ini
tidak direkomendasikan untuk penggunaan dalam waktu lama karena dapat
menyebabkan kebingungan dan ketergantungan, juga bisa memperburuk simptom
depresi.
- Buspirone obat antianxiety, efektif dalam mengendalikan perilaku kekerasan yang
berkaitan dengan kecemasan dan depresi.
- Antidepresan, penggunaan obat ini mampu mengontrol impulsif dan perilaku
agresif klien yang berkaitan dengan perubahan mood. Amitriptyline dan
Trazodone, menghilangkan agresifitas yang berhubungan dengan cedera kepala
dan gangguan mental organik.
- Lithium efektif untuk agresif karena manik.
- Antipsychotic dipergunakan untuk perawatan perilaku kekerasan.
2.5.2. Keperawatan
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan seorang perawat jiwa pada klien dengan
perilaku kekerasan adalah:
a. Bina hubungan saling percaya. Dalam membina hubungan saling percaya perlu
dipertimbangkan agar klien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan
perawat. Tindakan yang harus perawat lakukan dalam rangka membina hubungan
saling percaya adalah: Mengucapkan salam terapeutik, berjabat tangan,
menjelaskan tujuan interaksi, membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap
kali bertemu pasien.
b. Diskusikan bersama klien penyebab perilakukekerasan saat ini dan yang lalu.
c. Diskusikan bersama klien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan. Diskusikan
tanda dan gejala perilaku kekerasan baik secara fisik, psikologis, sosial, spiritual,
dan intelektual.
d. Diskusikan bersama klien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan pada saat
marah secara sosial atau verbal, terhadap orang lain, terhadap diri sendiri, dan
terhadaplingkungan.
e. Diskusikan bersama klien akibat perilaku kekerasan yang dilakukannya.
f. Diskusikan dengan klien cara mengontrol perilaku kekerasan secara: fisik, obat,
sosial atau verbal, dan spiritual.
g. Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik dengan latihan napas dalam
dan pukul kasur-bantal, olahraga, kemudian susun jadwal latihan napas dalam
dan pukul kasur-bantal serta olahraga.
h. Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara sosial ataupun verbal dengan
menolak dengan baik, meminta dengan baik, mengungkapkan persaan dengan
baik. Kemudian susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal.
i. Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual dengan sholat atau berdoa
sesuai dengan keyakinan dan cara klien kemudian susun jadwal untuk berdoa.
j. Latihan mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum obat secara teratur
dengan prinsip lima benar kemudian susun jadwal minum obat secara teratur.
2.6.Peran Perawat Dalam Perilaku Kekerasan
Perawat dapat mengimplementasikan berbagai intervensi untuk mencegah dan memanajemen
perilaku agresif. Intervensi dapat melalui Rentang Intervensi Keperawatan

Strategi Preventif Strategi Antipatif Strategi Pengurungan


Kesadaran diri Komunikasi Manajemen Krisis
Pendidikan Klien Perubahan Lingkungan Selusion
Latihan Asertif Tindakan Perilaku
Fisikofarmakologi
a. Kesadaran diri
Perawat harus menyadari bahwa stress yang dihadapinya dapat mempengaruhi
komunikasinya dengan klien. Bila perawat tersebut merasa letih, cemas, marah atau
apatis maka akan sulit baginya untuk membuat klien tertarik.
b. Pendidikan klien
Pendidikan yang diberikan mengenai cara berkomunikasi dan cara ekspresikan marah
yang tepat. Banyak klien yang mengalami kesulitan mengekspresikan perasaannya,
kebutuhannnya, hasrat dan bahkan kesulitan berkomunikasi semua ini kepada orang lain.
c. Latihan asertif
Kemampuan dasar interpersonal yang harus dimiliki perawat
- Berkomunikasi secara langsung dengan setiap orang
- Mengatakan tidak untuk sesuatu yang tidak beralasan
- Sanggup melakukan komplain
- Mengekspresikan penghargaan dengan tepat
d. Komunikasi
Starategi berkomunikasi dengan klien perilaku agresif
- Bersikap tenang
- Bicara lembut
- Bicara tidak dengan cara menghakimi;
- Bicara netral dan dengan cara yang kongkrit;
- Hindari intensitas kontak mata langsung;
- Demontrasikan cara mengontrol situasi tanpa kesan berlebihan
- Fasilitasi pembicaraan klien
e. Perubahan lingkungan
Unit keperawatan sebaiknya menyediakan berbagai aktivitas seperti: membaca, grup
program yang dapat mengurangi perilaku klien yang tidak sesuai dan meningkatkan
adaptasi sosialnya.
f. Tindakan perilaku
Pada dasarnya membuat kontrak dengan klien mengenai perilaku yang dapat di terima
dan yang tidak dapat diterima, konsekuensi yang di dapat bila kontarak dilanggar dan apa
saja kontribusi perawat selama perawatan.
g. Psikofarmakologi
Antianxienty dan Sedative-Hipnotis. Obat-obatan ini dapat mengendalikan agitasi yang
akut. Benzodiazepines seperti Lorazepam, sering digunakan dalam kedarutan psikiatrik
untuk menenangkan perlawanan klen.
h. Managemen Krisis
Bila pada waktu intervensi awal tidak berhasil, maka di perlukan intervensi yang lebih
aktif. Prosedur penanganan kedaruratan psikiatri:
- Identifikasi pemimpin tim krisis. Sebaiknya dari perawat karena bertanggung jawab
selam 24 jam.
- Bentuk tim krisis. Meliputi, dokter, perwat, dan konselor.
- Beritahu petugas ke amanan jika perlu. Ketua tim harus menjalankan apa saja yang
menjadi tugas selama penanganan klien.
- Jauhkan klien lain dari lingkungan.
- Lakukan pengekangan, jika memungkinkan
i. Seclusian
Pengekangan fisik merupakan tindakan keperawatan yang terakhir. Ada dua macam,
pengekangan fisik secara mekanik (menggunakan manset, sprei pengekang) atau isolasi
(menempatkan klien dalam seseuatu ruang dimana klien tidak dapat keluar atas semuanya
sendiri).
Jenis pengekangan mekanik:
- Camisole (jaket pengekangan)
- Manset untuk pergelangan tangan
- Manset pergelangan kaki,
- Menggunakan sprei
Indikasi pengekangan
- Perilaku amuk yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.
- Perilaku agitasi yang tidak dapat di kendalikan dengan pengobatan.
- Ancaman terhadap integrasi fisik yang berhubungan dengan penolakan klien untuk
ber istirahat, makan dan minum. (Yosep, 2009)
2.7.Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi
Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami.
Kemampuan persepi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini,
diharapkan respons klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif.
Aktivitas berupa stimulus dan persepsi. Stimulus yang disediakan : membaca artikel /
majalah / buku / puisi, menonton acara TV (ini merupakan stimlus yang disediakan);
stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi klien yang
maladaptif atau disruktif misalnya kemarahan, kebencian, putus hubungan, pandangan
negatif pada orang lain dan halusinasi. Kemudian dilatih persepsi klien terhadap stimulus
(Keliat & Akemat, 2004)
Sholikhah (2013) melakukan penelitian tentang pengaplikasian terapi aktivitas kelompok
stimulasi persepsi pada pasien perilaku kekerasan. Didapatkan hasil peningkatan kemampuan
mandiri pada klien perilaku kekerasan yang diberikan TAK stimulasi persepsi. kemandirian
seorang pasien dapat tercapai apabila ia telah mampu untuk untuk berpikir dan berbuat yang
bersifat konstruktif bagi kehidupannya sendiri dan orang lain. Karena itu terapi aktivitas
kelompok menjadi salah satu terapi modalitas yang sangat penting untuk dilaksanakan karena
akan membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah perilaku yang
destruktif dan maladaptif, jika hal ini tidak dilaksanakan maka akan memperlambat proses
penyembuhan pasien. Wibowo (2012) juga melakukan penelitian tentang pemberian terapi
aktivitas kelompok stimulasi persepsi pada pasien perilaku kekerasan. Dengan memberikan
TAK stimulasi persepsi klien dapat mengenali perilaku kekerasan yang dilakukan dan
akhirnya dapat mengontrol perilaku tersebut. Terapi aktivitas kelompok adalah salah satu
terapi modalitas yang sangat penting untuk dilaksanakan karena akan membantu anggotanya
berhubungan dengan orang lain serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptif, jika
hal ini tidak dilaksanakan maka akan memperlambat proses penyembuhan pasien.
2.7.1. Sesi Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi
Menurut Keliat & Akemat (2004) terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi ada 5
sesi yaitu :
a. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi sesi 1 Mengenal perilaku kekerasan
yang biasa dilakukan
Pada sesi pertama tujuan yang diharapkan adalah klien dapat menyebutkan
stimulasi penyebab kemarahanya, klien dapat menyebutkan respon yang
dirasakan saat marah (tanda dan gejala marah), klien dapat menyebutkan reaksi
yang dilakukan saat marah (perilaku kekerasan), klien dapat menyebutkan akibat
perilaku kekerasan. Alat yang dibutuhkan papan tulis/flipchart/whiteboard,
kapur/spidol, buku catatan, pulpen dan jadwal kegiatan klien. Pada sesi ini
metode yang digunakan adalah dinamika kelompok, diskusi, tanya jawab dan
bermain peran/stimulasi.
Adapun langkah kegiatan pada sesi pertama yaitu:
1. Persiapan
- Memilih pasien yang sudah kooperatif
- Mengingatkan kontrak dengan klien.
- Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
- Salam terapeutik pada klien.
- Klien dan terapeutik menggunakan papan nama.
- Menanyakan perasaan klien hari ini.
- Menanyakan apakah ada kejadian perilaku kekerasan : penyebab,
tanda dan gejala.
3. Kontrak
- Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu mengenal perilaku kekerasa yang
biasa dilakukan
- Menjelaskan aturan main (klien yang ingin meninggalkan kelompok
harus meminta ijin terlebih dahulu pada terapis, klien mengikuti
kegiatan dari awal sampai selesai selama 45 menit).
4. Tahap kerja
- Mendiskusikan penyebab marah.
- Mendiskusikan tanda dan gejala yang dirasakan klien saat terpapar
oleh penyebab marah sebelum perilaku kekerasan terjadi.
- Mendiskusikan perilaku kekerasan yang pernah dilakukan klien
(verbal, merusak lingkungan, menciderai/memukul orang lain dan
memukul diri sendiri).
- Membantu klien memilih salah satu perilaku kekerasan yang paling
sering dilakukan untuk diperagakan.
- Melakukan bermain peran/stimulasi untuk perilaku kekerasan yang
tidak berbahaya (terapis sebagai sumber penyebab dan klien yang
melakukan perilaku kekerasan).
- Menanyakan perasaan klien setelah selesai bermain peran/stimulasi.
- Mendiskusikan dampak atau akibat perilaku kekerasan.
- Memberikan reinforcement pada peran serta kilen.
- Dalam menjalankan kegiatan upayakan semua klien terlibat.
- Beri kesimpulan penyebab,tanda dan gejala perilaku kekerasan dan
akibat perilaku kekerasan.
- Menanyakan kesediaan klien untuk mempelajari cara baru yang sehat
menghadapi kemarahan.
5. Tahap terminasi
- Evaluasi : menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK dan
memberikan reinforcement positif terhadap perilaku klien yang positif
.
- Tindak lanjut : menganjurkan klien menilai dan mengevaluasi jika
terjadi penyebab marah yaitu tanda dan gejala.
- Kontrak yang akan datang : menyepakati cara baru yang sehat
mencegah perilaku kekerasan serta kontrak waktu dan tempat TAK
berikutnya.
b. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi sesi 2 mencegah perilaku kekerasan
fisik
Pada sesi kedua tujuannya adalah klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang
biasa dilakukan klien, klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dapat
mencegah perilaku kekerasan dan klien dapat mendemonstrasikan dua kegiatan
fisik yang dapat mencegah perilaku kekerasan. Alat yang diperlukan adalah
kasur/kantong tinju/gendang, papan tulis/flipchart/whiteboard, buku catatan dan
pulpen dan jadwal kegiatan klien. Metode yang digunakan ialah dinamika
kelompok, diskusi, tanya jawab dan bermain peran/stimulasi.
Langkah kegiatan pada sesi kedua yaitu:
1. Persiapan
- Mengingatkan kontrak dengan klien.
- Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
- Salam terapeutik pada klien.
- Klien dan terapeutik menggunakan papan nama.
- Menanyakan perasaan klien hari ini.
- Menanyakan apakah ada kejadian perilaku kekerasan : penyebab, tanda
dan gejala.
3. Kontrak
- Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu cara fisik mencegah perilaku
kekerasan.
- Menjelaskan aturan main (klien yang ingin meninggalkan kelompok
harus meminta ijin terlebih dahulu pada terapis, klien mengikuti kegiatan
dari awal sampai selesai selama 45 menit).
4. Tahap kerja
- Mendiskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan oleh klien : kegiatan
rumah tangga, olahraga dan harian.
- Menjelaskan kegiatan fisik yang dapat digunakan untuk menyalurkan
kemarahan secara sehat : tarik nafas dalam, menjemur/memukul
kasur/bantal, menyikat kamar mandi, main bola,senam, memukul bantal
pasir tinju dan memukul gendang.
- Membantu klien memilih dua kegiatan yang dapat dilakukan.
- Bersama klien mempraktikan dua kegiatan yang dipilih.
- Menanyakan perasaan klien setelah mempraktikan cara penyaluran
kemarahan.
- Memberikan pujian pada peran serta klien.
- Upayakan semua peserta berperan aktif.
5. Tahap terminasi
- Evaluasi : menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK ,
menanyakan ulang cara baru yang sehat mencegah perilaku kekerasan.
- Tindak lanjut : menganjurkan klien menggunakan cara yang telah
dipelajari jika stimulus penyebab perilaku kekerasan dan melatih secara
teratur cara yang telah dipelajari.
- Kontrak yang akan datang : menyepakati waktu dan tempat TAK
berikutnya.
c. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi sesi 3 mencegah perilaku kekerasan
sosial
Pada sesi ketiga tujuan yang ingin dicapai adalah klien dapat mengungkapkan
keinginan dan permintaan tanpa memaksa dan klien dapat mengungkapkan
penolakan dan rasa sakit hati tanpa kemarahan. Alat yang dibutuhkan ialah
papan tulis/flipchart/whiteboard, Buku catatan dan pulpen, jadwal kegiatan
klien. Metode yang digunakan ialah dinamika kelompok, diskusi dan tanya
jawab dan bermain peran/stimulasi.
Langkah kegiatan pada sesi ketiga ialah:
1. Persiapan
- Mengingatkan kontrak dengan klien .
- Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
- Salam terapeutik pada klien.
- Klien dan terapeutik menggunakan papan nama.
- Menanyakan perasaan klien hari ini .
- Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah serta
perilaku kekerasan.
- Tanyakan apakah kegiatan fisik untuk mencegah perilaku kekerasan yang
sudah dilakukan.
3. Kontrak
- Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu cara sosial untuk mencegah perilaku
kekerasan.
- Menjelaskan aturan main (klien yang ingin meninggalkan kelompok
harus meminta ijin terlebih dahulu pada terapis, klien mengikuti kegiatan
dari awal sampai selesai selama 45 menit).
4. Tahap kerja
- Mendiskusikan dengan klien cara bicara jika ingin meminta sesuatu dari
orang lain.
- Menuliskan cara-cara yang disampaikan klien.
- Terapis mendemonstrasikan cara meminta sesuatu tanpa paksaan yaitu “
saya perlu/ingin/minta…yang akan saya gunakan untuk…”.
- Memilih dua orang klien sacara bergilir mendemonstrasikan ulang cara
pada poin 3.
- Ulangi 4 sampai semua klien mencoba.
- Memberikan pujian padaperan serta klien.
- Terapis mendemonstrasikan cara menolak dan menyampaikan sakit hati
pada orang lain yaitu “ saya tidak dapat melakukan…” atau “ saya tidak
menerima dikatakan …” atau saya kesal dikatakan seperti …”
- Memilih dua klien secara bergilir mendemonstrasikan ulang cara pada
poin 7.
- Ulangi 8 sampai semua klien mencoba.
- Memberikan pujian pada peran serta klien.
5. Tahap terminasi
- Evaluasi : menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK ,
menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah
dipelajari, memberikan pujian atas jawaban yang benar.
- Tindak lanjut : menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan
interaksi sosial asertif jika stimulus penyebab perilaku kekerasan terjadi,
menganjurkan klien melatih kegiatan fisik dan interaksi sosial yang
asertif secara teratur.
- Kontrak yang akan datang : menyepakati waktu dan tempat. TAK
berikutnya
d. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi sesi 4 mencegah perilaku kekerasan
spiritual
Pada sesi keempat tujuan yang ingin dicapai adalah klien dapat melakukan
ibadah secara teratur. Alat yang dibutuhkan yaitu papan
tulis/flipchart/whiteboard, buku catatan dan pulpen dan jadwal kegiatan klien.
Langkah kegiatan pada sesi keempat adalah:
1. Tahap Persiapan
Mengingatkan kontrak dengan klien yang telah diikuti serta menyiapkan alat
dan tempat.
2. Tahap Orientasi
- Salam terapeutik pada klien.
- Klien dan terapeutik menggunakan papan nama.
- Menanyakan perasaan klien hari ini .
- Menanyakan apakah ada penyebab marah, tanda dan gejala marah serta
perilaku
- kekerasan.
- Tanyakan apakah kegiatan fisik dan interaksi sosial yang asertif untuk
mencegah
- perilaku kekerasan sudah dilakukan.
3. Kontrak
- Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu kegiatan ibadah untuk mencegah
perilaku
- kekerasan
- Menjelaskan aturan main (klien yang ingin meninggalkan kelompok
harus
- Meminta ijin terlebih dahulu pada terapis, klien mengikuti kegiatan dari
awal sampai selesai selama 45 menit).
4. Tahap kerja
- Menanyakan agama dan kepercayaan masing-masing klien.
- Mendiskusikan kegiatan ibadah yang biasa dilakukan masing-masing
klien.
- Menuliskan kegiatan ibadah masing-masing klien.
- Meminta klien untuk memilih salah satu kegiatan ibadah
- Meminta klien mendemonstrasikan kegiatan ibadah yang dipilih
- Memberi pujian pada penampilan klien
5. Tahap terminasi
- Evaluasi : menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK ,
menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah
dipelajari, memberikan pujian atas jawaban yang benar.
- Tindak lanjut : menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan
interaksi sosial asertif dan kegiatan ibadah jika stimulus penyebab
kemarahan terjadi serta memasukan kegiatan ibadah pada jadwal
kegiatan harian klien
- Kontrak yang akan datang : menyepakati untuk belajar cara baru yang
lain yaitu meminum obat dan menyepakati waktu dan tempat TAK
berikutnya.
e. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi sesi 5 mencegah perilaku kekerasan
dengan patuh minum obat
Pada sesi kelima bertujuan agar klien dapat menyebutkan keuntungan patuh
minum obat, klien dapat menyebutkan akibat/kerugian tidak patuh minum obat,
klien dapat menyebutkan lima benar cara minum obat. Alat yang digunakan
papan tulis/flipchart/whiteboard, buku catatan. Pulpen, jadwal kegiatan klien
dan beberapa contoh obat. Metode yang digunakan ialah dinamika kelompok,
diskusi, tanya jawab dan bermain peran/stimulasi.
Langkah kegiatan pada sesi kelima adalah:
1. Persiapan
- Mengingatkan kontrak dengan klien.
- Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
2. Orientasi
- Salam terapeutik pada klien.
- Klien dan terapeutik menggunakan papan nama.
- Menanyakan perasaan klien hari ini.
- Menanyakan apakah ada kejadian perilaku kekerasan : penyebab, tanda
dan
- gejala.
3. Kontrak
- Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu patuh minum obat untuk mencegah
perilaku kekerasan
- Menjelaskan aturan main (klien yang ingin meninggalkan kelompok
harus
- Meminta ijin terlebih dahulu pada terapis, klien mengikuti kegiatan dari
awal sampai selesai selama 45 menit).
4. Tahap kerja
- Menjelaskan macam obat yang diminum klien: nama dan warna
(upayakan tiap klien menyampaikan).
- Mendiskusikan waktu minum obat yang biasa dilakukan klien.
- Menjelaskan lima benar minum obat : benar obat, benar waktu minum
obat, benar orang yang minum obat, benar cara minum obat dan benar
dosis obat.
- Minta klien menyebutkan lima benar minum obat dengan benar secara
bergiliran.
- Berikan pujian pada klien yang benar.
- Mendiskusikan perasaan klien sebelum minum obat (catat di
whiteboard).
- Mendiskusikan peranan klien setelah teratur minum obat (catat di
whiteboard).
- Menjelaskan keuntungan patuh minum obat, yaitu salah satu cara
mencegah perilaku kekerasan/kambuh.
- Menjelaskan akibat tidak patuh minum obat, yaitu kejadian perilaku
kekerasan/kambuh.
- Minta klien menyebutkan kembali keuntungan patuh minum obat, yaitu
kejadian perilaku kekerasan/kambuh.
- Memberi pujian setiap kali klien benar.
5. Tahap terminasi
- Evaluasi : menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK ,
menanyakan jumlah cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah
dipelajari, memberikan pujian atas jawaban yang benar.
- Tindak lanjut : menganjurkan klien menggunakan kegiatan fisik dan
interaksi sosial asertif, kegiatan ibadah dan minum obat jika stimulus
penyebab kemarahan terjadi serta memasukan minum obat pada jadwal
kegiatan harian klien.
- Kontrak yang akan datang : mengakhiri pertemuan untuk TAK perilaku
kekerasan dan di sepakati jika klien perlu TAK yang lain.
BAB III

KASUS

Klien bernama Ny. S, 33 tahun, jenis kelamin perempuan, agama islam, pendidikan
terkahir SMP. Dalam pengkajian ini ditemukan sebuah kasus perilaku kekerasan yang terjadi
pada Ny.S yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Singkawang diruang Melati pada tanggal 1
oktober 2016. Pada pengkajian yang dilakukan perawat pada tanggal 1 oktober 2016
pukul 09.00 WIB pengkajian diperoleh dari anamnesa pasien, pemeriksaan fisik dan
rekam medis. Dalam pengkajian yang didapatkan : Klien Ny S mengalami gangguan
jiwa, klien pernah mengalami aniaya fisik yang dilakukan suaminya. Klien mempunyai
pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan yaitu dimusuhi adik suaminya karena
keguguran, ditinggal pergi suaminya ke Jawa dan melakukan proses cerai. Klien setelah
cerai tinggal dengan orang tuanya klien merasa malu dengan keadaannya, klien lebih
suka menyendiri, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain. Klien sering marah-marah,
teriak-teriak, mondar-mandir dirumah. Klien merasa tidak dihargai oleh masyarakat
dikarenakan mengalami gangguan jiwa dan klien mengatakan malu serta jengkel jika ngobrol
dengan tetangga sehingga untuk sekedar berinteraksi klien engan melakukannya. Klien malu
dengan tetangganya, klien jengkel dan malas berkomunikasi dengan orang lain. Peran serta
dalam kegiatan masyarakat klien jarang terlibat dalam kegiatan masyarakat karena klien
merasa tidak dihargai oleh masyarakat. Klien sering menyendiri, tidak mau bergaul, orang
yang paling dekat dengan klien adalah ibu kandungnya karena ibunya sangat perhatian dan
sayang dengan klien. Tetapi ayah dan saudaranya kurang memperhatikannya. Anggota
keluarga tidak ada yang mengalami penyakit seperti klien.. Saat masuk ke ruangan jiwa
klien tidak mudah peracaya sama siapapun sering marah –marah, teriak dan mondar mandir
tidak jelas sehingga menganggu pasien lainnya. Klien juga malas untuk minum obat nya
sehingga menyulitkan untuk proses penyembuhannya.
SAP : pemaparan roleplay secara garis besar.

BAB IV
PENUTUP

4.1.Kesimpulan
Perilaku kekerasan adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai
atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku
tersebut (Purba dkk, 2008). Menurut Stuart dan Laraia (1998), perilaku kekerasan dapat
dimanifestasikan secara fisik (mencederai diri sendiri, peningkatan mobilitas tubuh),
psikologis (emosional, marah, mudah tersinggung, dan menentang), spiritual (merasa
dirinya sangat berkuasa, tidak bermoral). Perilaku kekerasan merupakan suatu tanda dan
gejala dari gangguan skizofrenia akut yang tidak lebih dari satu persen (Purba dkk, 2008).
Perilaku kekerasan merupakan salah satu jenis gangguan jiwa. Respons kemarahan dapat
berfluktuasi dalam rentang adaptif – mal adaptif. Rentang respon kemarahan dapat
dijelaskan sebagai berikut (Keliat, 2011) yaitu Assertif, Frustasi Pasif dan Agresif .
Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan seorang perawat jiwa adalah bina hubungan
saling percaya, diskusikan bersama klien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan yang
lalu, Diskusikan bersama klien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan, Diskusikan
bersama klien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan pada saat , Diskusikan bersama
klien akibat perilaku kekerasan yang dilakukannya, diskusikan dengan klien cara
mengontrol perilaku kekerasan,latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik dengan
latihan napas dalam,latihan mengontrol perilaku kekerasan secara sosial ataupun
verbalLatihan mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual, latihan mengontrol
perilaku kekerasan dengan patuh minum obat secara teratur .
4.2.Saran
Perawat perlu menerapkan terapi pada klien yang mengalami perilaku kekerasan
dan diperlukan konsep dan teori oleh seorang perawat. Informasi atau pendidkan
kesehatan berguna untuk klien dengan perilaku kekerasan serta dukungan psikologik
sangat berguna untuk klien.
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. EGC, Jakarta.

Keliat & Akemat, B. A. 2004, Keperawatan Jiwa Terapi Aktivitas Kelompok,


EGC, Jakarta.
Perwiranti, Dias Ganes. 2013. Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Sesi 2
Terhadap Kemampuan Mengontrol Emosi Pada Klien Perilaku Kekerasan Di Rsjd Dr.
Amino Gondohutomo Semarang. (http:// e-skripsi.stikesmuh-pkj.ac.id, diakses 18 Oktober
2016)
Purba, dkk. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Masalah Psikososial dan Gangguan
Jiwa. Medan: USU Press

Sholikhah, Siti. 2013. Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Tingkat
Kemandirian Pada Pasien Perilaku Kekerasan Di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya.
(http:// stikesmuhla.ac.id, diakses 18 Oktober 2016)

Stuart dan Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3 alih bahasa Achir Yani. S.
Jakarta: EGC.
Wibowo, Feri. 2012. Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Terhadap Tingkat
Kemandirian Pada Pasien Perilaku Kekerasan Di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya.
(http://ejournal.stikestelogorejo.ac.id, diakses 18 Oktober 2016)
Yosep, Iyus, S.kp, M. Si. 2009. Keperawatan Jiwa, edisi revisi., Bandung: PT. Refika Aditama.