Anda di halaman 1dari 8

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan jiwa merupakan suatu keadaan yang memungkinkan untuk terjadinya
perkembangan fisik, intelektual, dan emosional individu secara optimal, sejauh perkembangan
tersebut sesuai dengan perkembangan optimal individu-individu yang lain. Waham merupakan
salah satu jenis gangguan jiwa. Waham terjadi karena munculnya perasaan terancam oleh
lingkungan, cemas, merasa sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi sehingga individu
mengingkari ancaman dari persepsi diri atau objek realitas dengan menyalah artikan kesan
terhadap kejadian, kemudian individu memproyeksikan pikiran dan perasaan internal pada
lingkungan sehingga perasaan, pikiran, dan keinginan negative tidak dapat diterima menjadi
bagian eksternal dan akhirnya individu mencoba memberi pembenaran personal tentang realita
pada diri sendiri atau orang lain ( Purba, 2008 ).
Menurut data WHO pada tahun 2012 angka penderita gangguan jiwa mengkhawatirkan
secara global, sekitar 450 juta orang yang menderita gangguan mental. Orang yang mengalami
gangguan jiwa sepertiganya tinggal di negara berkembang, sebanyak8 dari 10 penderita
gangguan mental itu tidak mendapatkan perawatan. (Kemenkes RI, 2012). Meskipun penderita
gangguan jiwa belum bisa disembuhkan 100%, tetapi para penderita gangguan jiwa memiliki hak
untuk sembuh dan diperlakukan secara manusiawi. UU RI No. 18 Tahun 2014 Bab I Pasal 3
Tentang Kesehatan Jiwa telah dijelaskan bahwa upaya kesehatan jiwa bertujuan menjamin setiap
orang dapat mencapai kualitas hidup yang baik, menikmati kehidupan kejiwaan yang sehat,
bebas dari ketakutan, tekanan dan gangguan lain yang dapat mengganggu kesehatatan jiwa
(Kemenkes, 2014).
Indonesia mengalami peningkatan jumlah penderita gangguan jiwa cukup banyak
diperkirakan prevalensi gangguan jiwa berat dengan psikosis/ skizofrenia di Indonesia pada
tahun 2013 adalah 1. 728 orang. Adapun proposi rumah tangga yang pernah memasung ART
gangguan jiwa berat sebesar 1.655 rumah tangga dari 14, 3% terbanyak tinggal di pedasaan,
sedangkan yang tinggal diperkotaan sebanyak 10,7%. Selain itu prevalensi gangguan mental
emosional pada penduduk umur lebih dari 15 tahun di Indonesia secara nasional adalah 6.0%
(37. 728 orang dari subjek yang dianalisis). Provinsi dengan prevalensi gangguan mental
emosional tertinggi adalah Sulawesi Tengah (11, 6%), Sedangkan yang terendah dilampung (1,2
%) (Riset Kesehatan Dasar, 2013). Berdasarkan data pencatatan Rekam Medis (RM) Rumah
Sakit Jiwa Daerah Surakarta pada periode bulan Januari sampai Maret 2015, ditemukan masalah
keperawatan pada klien rawat inap yaitu Halusinasi 4.021 klien, Resiko Perilaku Kekerasan
3.980 klien, Defisit Perawatan Diri 1.026 klien dan Waham 401 klien.
Adapun standar asuhan keperawatan yang diterapkan pada klien dalam keperawatan jiwa
yaitu strategi pelaksanaan komunikasi teraupetik. Dalam melakukan strategi pelaksanaan
komunikasi teraupetik perawat mempunyai empat tahap komunikasi, yang setiap tahapnya
mempunyai tugas yang harus diselesaikan oleh perawat. Empat tahap tersebut yaitu tahap
prainteraksi, orientasi atau perkenalan, kerja dan terminasi. Dalam membina hubungan teraupetik
perawat- klien, diperlukan ketrampilan perawat dalam berkomunikasi untuk membantu
memecahkan masalah klien. Perawat harus hadir secara utuh baik fisik maupun psikologis
terutama dalam penampilan maupun sikap pada saat berkomunikasi dengan klien (Riyadi, 2009).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi Waham?
2. Bagaimana etiologi terjadinya waham?
3. Bagaimana klasifikasi waham?
4. Bagaimana patofisiologi waham?
5. Bagaimana manifestasi klinis waham?
6. Bagaimana tindakan keperawatan waham?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi waham
2. Mengetahui etiologi terjadinya waham
3. Mengetahui klasifikasi waham
4. Mengetahui patofisiologi waham
5. Mengetahui manifestasi klinis waham
6. Bagaimana tindakan keperawatan waham
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1. Definisi

Keliat (2010) mendefinisikan waham sebagai suatu keyakinan yang salah yang
dipertahankan secara kuat/terus menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Menurut
Stuart & Laraia (2005), waham dalah kepercayaan yang salah terhadap obyek dan tidak
konsisten dengan latar belakang intelektual dan budaya. Selain itu, waham disebut juga
dengan keyakinan yang salah, tidak sesuai dengan kondisi obyektif, dipertahankan terus
menerus. Keliat (2010) mendefinisikan waham sebagai suatu keyakinan yang salah
yang dipertahankan secara kuat/terus menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Menurut Stuart & Laraia (2005), waham dalah kepercayaan yang salah terhadap obyek
dan tidak konsisten dengan latar belakang intelektual dan budaya. Selain itu, waham
disebut juga dengan keyakinan yang salah, tidak sesuai dengan kondisi obyektif,
dipertahankan terus menerus. Perubahan proses pikir adalah keadaan di mana individu
mengalami suatu gangguan dalam aktivitas mental seperti berpikir sadar, orientasi
realitas, pemecahan masalah, penilaian dan pemahaman yang berhubungan dengan
koping (Carpenito, 2006).
2.2 Patofisiologi
a. Fase Lack of Human need
Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhn-kebutuhan klien baik secara fisik
maupun psikis. Secar fisik klien dengan waham dapat terjadi pada orang-orang
dengan status sosial dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin
dan menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mendorongnya
untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga klien yang secara sosial dan
ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan antara Reality dengan selft ideal sangat
tinggi. Misalnya ia seorang sarjana tetapi menginginkan dipandang sebagai
seorang dianggap sangat cerdas, sangat berpengalaman dn diperhitungkan dalam
kelompoknya. Waham terjadi karena sangat pentingnya pengakuan bahwa ia eksis
di dunia ini. Dapat dipengaruhi juga oleh rendahnya penghargaan saat tumbuh
kembang ( life span history ).
b. Fase lack of self esteem
Tidak ada tanda pengakuan dari lingkungan dan tingginya kesenjangan antara self
ideal dengan self reality (kenyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan
yang tidak terpenuhi sedangkan standar lingkungan sudah melampaui
kemampuannya. Misalnya, saat lingkungan sudah banyak yang kaya,
menggunakan teknologi komunikasi yang canggih, berpendidikan tinggi serta
memiliki kekuasaan yang luas, seseorang tetap memasang self ideal yang
melebihi lingkungan tersebut. Padahal self reality-nya sangat jauh. Dari aspek
pendidikan klien, materi, pengalaman, pengaruh, support system semuanya sangat
rendah.
c. Fase control internal external
Klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini atau apa-apa yang ia
katakan adalah kebohongan, menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan
kenyataan. Tetapi menghadapi kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang sangat
berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan
diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena kebutuhan tersebut
belum terpenuhi sejak kecil secara optimal. Lingkungan sekitar klien mencoba
memberikan koreksi bahwa sesuatu yang dikatakan klien itu tidak benar, tetapi
hal ini tidak dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan keinginan
menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif tetapi tidak mau
konfrontatif berkepanjangan dengan alasan pengakuan klien tidak merugikan
orang lain.
d. Fase environment support
Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam lingkungannya
menyebabkan klien merasa didukung, lama kelamaan klien menganggap sesuatu
yang dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang.
Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri dan tidak berfungsinya norma
( Super Ego ) yang ditandai dengan tidak ada lagi perasaan dosa saat berbohong.
e. Fase comforting
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya serta menganggap
bahwa semua orang sama yaitu akan mempercayai dan mendukungnya.
Keyakinan sering disertai halusinasi pada saat klien menyendiri dari
lingkungannya. Selanjutnya klien lebih sering menyendiri dan menghindar
interaksi sosial ( Isolasi sosial ).
f. Fase improving
Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi, setiap waktu
keyakinan yang salah pada klien akan meningkat. Tema waham yang muncul
sering berkaitan dengan traumatik masa lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak
terpenuhi ( rantai yang hilang ). Waham bersifat menetap dan sulit untuk
dikoreksi. Isi waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain. Penting
sekali untuk mengguncang keyakinan klien dengan cara konfrontatif serta
memperkaya keyakinan relegiusnya bahwa apa-apa yang dilakukan menimbulkan
dosa besar serta ada konsekuensi sosial.
2.3 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis berdasarkan jenis waham :
a. Waham kebesaran, yaitu individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau
kekuasaan khusus dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh: “Saya ini pejabat di kementerian kesehatan lho.”
b. Waham curiga, yaitu individu meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang
berusaha merugikan/mencederai dirinya dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan. Contoh: “Saya tahu seluruh saudara saya ingin
menghancurkan hidup saya karena mereka iri dengan kesuksesan saya.”
c. Waham agama, yaitu individu memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara
berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi sesuai dengan kenyataan. Contoh,
“saya nabi ke 26 dalam agama islam.”
d. Waham somatik, yaitu individu meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya
terganggu atau terserang penyakit dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai
dengan kenyataan. Contoh, “ saya sakit kanker setiap hari.” (Kenyataannya pada
pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan tanda-tanda kanker)
e. Waham nihilistik, yaitu individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di
dunia/meninggal dan diucapkan berulang kali, tapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Misalnya, “Ini kana lam kubur ya, semua yang ada disini adalah roh-roh.”
Data-data yang perlu dikaji untuk klien dengan waham kebesaran adalah (Keliat,
2010): klien memiliki pikiran/isi pikir yang berulang-ulang diungkapkan dan
menetap, klien takut terhadap objek atau situasi tertentu atau cemas secara berlebihan
tentang tubuh atau kesehatannya, klien pernah merasakan bahwa benda-benda di
sekitarnya aneh dan tidak nyata, klien pernah merasakan bahwa ia berada di luar
tubuhnya, klien pernah merasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lain, klien
berpikir bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol oleh orang lain atau kekuatan dari
luar, klien menyatakan bahwa ia memiliki kekuatan fisik atau kekuatan lainnya atau
yakin bahwa orang lain dapat membaca pikirannya.
2.4. Tindakan Keperawatan pada Waham Kebesaran

a. Tujuan

Tujuan dari intervensi keperawatan yaitu klien dapat berorientasi kepada realitas
secara bertahap, klien dapat memenuhi kebutuhan dasar, klien mampu berinteraksi
dengan orang lain dan lingkungan, klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar
(Keliat, 2010).

b. Tindakan Keperawatan

Tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu bina hubungan saling percaya, bantu
orientasi realita, diskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak terpenuhi
sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah, tingkatkan aktivitas yang
dapat memenuhi kebutuhan fisik dan emosional klien, berdiskusi tentang kemampuan
positif yang dimiliki, bantu melakukan kemampuan yang dimiliki, berdiskusi tentang
obat yang diminum,melatih minum obat yang benar.
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Purba, dkk, ( 2008 ). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Masalah Psikososial dan
Gangguan jiwa. Medan : USU Press.

Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar2012. Jakarta: Kemenkes RI.

Kemenkes RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Jakarta: Kemenkes RI.

Depkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan pengembangan
Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.