Anda di halaman 1dari 5

Bab II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Berbentuk Problem Posing

Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk belajar

dalam kelompok-kelompok kecil, dimana kelompok tersebut terjadi interaksi antar anggota

kelompok untuk memecahkan suatu permasalahan yang diberikan. Menurut Abdurrahman dan

Bintoro (2000) dalam Nurhadi dkk (2004:61) pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang

secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh

antar sesama siswa sebagai latihan hidup di dalam masyarakat. Kemudian Slavin (2008:4)

menjelaskan pembelajaran kooperatif sebagai berikut.

”Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran


dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling
membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam kelas
kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan,
dan berargumentasi untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan
menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing”

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen

penting yang saling terkait. Menurut Sanjaya (2008:310-311) ada empat prinsip penting dalam

pembelajaran kooperatif antara lain, prinsip ketergantungan positif, tanggung jawab

perseorangan, interaksi tatap muka, partisipasi dan komunikasi.

Berikut adalah penjelasan prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif.

1. Saling Ketergantungan Positif


Pada pembelajaran kooperatif, keberhasilan suatu kelompok ditentukan oleh usaha tiap

anggota kelompoknya, dengan demikian tiap anggota kelompok akan saling bekerja sama,

Sanjaya (2008:310) mengatakan ”tugas kelompok tidak mungkin dapat diselesaikan manakala

ada anggota yang tidak dapat menyelesaikan tugasnya, dan semua ini memerlukan kerja sama

yang baik dari masing-masing anggota kelompok”. Sehingga keberhasilan seorang anggota

kelompok juga dipengaruhi oleh usaha anggota kelompok yang lain. Inilah yang dimaksud saling

ketergantungan positif.

2. Tanggung Jawab Perseorangan

Tiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan

kelompok, Sanjaya (2008:310) mengatakan ”karena keberhasilan kelompok tergantung pada

setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jeawab sesuai

dengan tugasnya”.

3. Interaksi Tatap Muka

Pembelajaran kooperatif memunginkan tiap anggota kelompok saling bertatap muka

untuk saling memberikan informasi dan saling bertukar pengetahuan, sehingga terjadi interaksi

secara langsung antar anggota kelompok.

4. Partisipasi dan Komunikasi

Keberhasilan kelompok dalam pembelajaran kooperatif sangat ditentukan oleh partisipasi

tiap anggotanya, sehingga dalam kelompok akan tercipta komunikasi antar anggota.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dalam

pembelajaran kooperatif siswa akan berinteraksi, bersosialisasi, dan bekerja sama dengan siswa

lain dalam kelompok belajarnya. Dimana setiap siswa dalam kelompok belajar tersebut memiliki

saling ketergantungan positif, tanggung jawab dan saling berinteraksi serta berpartisipasi untuk

keberhasilan kelompok tersebut. Jadi dengan pembelajaran kooperatif ini diharapkan siswa dapat

lebih aktif dan terlidat dalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran dikelas tidak hanya

didominasi oleh guru dan guru merupakan sumber belajar satu-satunya bagi mereka. Tetapi

siswa akan berinteraksi dengan siswa lain untuk saling bertukar informasi dan pengetahuan

sedangkan guru akan menjadi fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk belajar bukan lagi

mengajar siswa seperti yang selama ini terjadi. Pembelajaran seperti inilah yang dikehendaki

oleh KTSP.

B. Pembelajaran Problem Posing

Menurut Sutiarso (1999:16) Problem Posing merupakan istilah dari bahasa Inggris,

sebagai padanan kata dalam bahasa Indonesia yang berarti merumuskan soal atau pembentukan

soal/masalah. Sedangkan menurut Azhar (2001:22) Problem Posing merupakan suatu bentuk

pendekatan pembelajaran yang menekankan pada kegiatan merumuskan (membentuk) soal yang

memungkinkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal. Jadi Problem

Posing merupakan model pembelajaran yang mengharuskan siswa menyusun pertanyaan sendiri

atau memecah suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana yang mengacu

pada penyelesaian soal tersebut dan menjawab soal yang sudah dibuat tersebut. Model

pembelajaran problem posing ini mulai dikembangkan di tahun 1997 oleh Lyn D. English, dan

awal mulanya diterapkan dalam mata pelajaran matematika. Selanjutnya, model ini
dikembangkan pula pada mata pelajaran yang lain. Pada prinsipnya, model pembelajaran

problem posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para siswa untuk

mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri.

As’ari (2000:43) Menjelaskan langkah-langkah problem posing sebagai berikut.

1. Guru menyiapkan bahan atau alat pembelajaran, yaitu menyiapkan semua keperluan untuk

kegiatan pembelajaran, seperti RPP, materi, dan lembar kerja Problem Posing.

2. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, maksudnya adalah menjelaskan tujuan yang ingin

dicapai oleh siswa setelah proses pembelajaran selesai.

3. Guru menjelaskan meteri pembelajaran, yaitu guru menjelaskan materi yang sudah

disiapkan kepada seluruh siswa secara garis besar.

4. Guru memberikan contoh membuat soal, yaitu guru memberikan contoh kepada siswa

bagaimana cara membuat soal/pertanyaan.

5. Guru meberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat soal dan jawaban dari situasi

yang diberikan, yaitu guru mempersilahkan siswa berdiskusi dan membaca literatur lain

untuk membuat pertanyaan dan jawaban yang sesuai dengan materi yang sedang dipelajari.

6. Guru mempersilakan tiap-tiap kelompok belajar untuk menyelesaikan soal yang dibuat

kelompok lain dan menyampaikannya pada seluruh siswa, dan kelompok yang memberikan

pertanyaan menanggapi apabila ada, serta mencocokkan jawaban antara kelompok yang

memberikan pertanyaan dan kelompok yang mendapat pertanyaan.

7. Penghargaan kelompok, yaitu guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang

pertanyaan dan jawabannya paling baik, dan pada saat diskusi semua anggota kelompok

berpartisipasi. Penghargaan dapat berupa ucapan selamat atau bisa juga berupa benda.
Berdasarkan langkah-langkah pembelajaran tersebut guru tidak lagi mendominasi dan

menjadi sumber belajar satu-satunya bagi siswa dalam proses pembelajaran, karena dengan

penerapan pembelajaran kooperatif Problem Posing siswa dituntut harus membuat pertanyaan

dan mendiskusikannya dengan kelompok belajarnya serta mencari alternatif jawaban dari soal

yang diajukan oleh kelompok lain, sehingga siswa akan memiliki kesempatan untuk mengajukan

pertanyaan dan memberikan tanggapan atau jawaban terhadap pertanyaan yang timbul, selain iti

siswa juga akan terbiasa untuk berpikir dan berinteraksi dengan siswa lain dalam proses

pembelajaran. setiap kelompok akan berusaha membuat pertanyaan dan jawaban dengan sebaik

mungkin, karena diakhir pembelajaran guru akan memberikan penghargaan pada kelompok yang

paling baik. Dengan demikian permasalahan saat proses pembelajaran yang ada pada kelas XI

IPS 2 akan teratasi.