Anda di halaman 1dari 87

BAB I

PANCASILA

A. Pancasila sebagai Dasar Negara


Pancasila sebagai dasar Negara yaitu sumber kaidah hukum konstitusional
yang mengatur Negara RI beserta seluruh unsur-unsurnya yaitu rakyat, wilayah dan
pemerintah, Pancasila sebagai dasar Negara dapat disebut ideology Negara.
Setiap negara harus mempunyai dasar negara. Dasar negara merupakan
fundamen atau pondasi dari bangunan negara. Kuatnya fundamen negara akan
menguatkan berdirinya negara itu. Kerapuhan fundamen suatu negara, beraikbat
lemahnya negara tersebut. Sebagai dasar negara Indonesia, Pancasila sering disebut
sebagai dasar falsafah negara (filosofische gronslag dari negara), Staats fundamentele
norm, weltanschauung dan juga diartikan sebagai ideologi negara (staatsidee).
Negara kita Indonesia. Dalam pengelolaan atau pengaturan kehidupan
bernegara ini dilandasi oleh filsafat atau ideologi pancasila. Fundamen negara ini
harus tetap kuat dan kokoh serta tidak mungkin diubah. Mengubah fundamen, dasar,
atau ideology berarti mengubah eksistensi dan sifat negara. Keutuhan negara dan
bangsa bertolak dari sudut kuat atau lemahnya bangsa itu berpegang kepada dasar
negaranya.
Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara yaitu Pancasila sebagai dasar dari
penyelenggaraan kehidupan bernegara bagi negara Republik Indonesia. Kedudukan
Pancasila sebagai dasar negara seperti tersebut di atas, sesuai dengan apa yang tersurat
dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alenia 4 antara lain menegaskan:
“….., maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan itu dalam suatu susunan Negara
Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan
Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalm permusyawaratan perwakilan, serta
dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Dengan kedudukan yang istimewa tersebut, selanjutnya dalam proses
penyelenggaraan kehidupan bernegara memiliki fungsi yang kuat pula. Pasal-pasal
Undang-Undang Dasar 1945 menggariskan ketentuan-ketentuan yang menunjukkan
fungsi pancasila dalam proses penyelenggaraan kehidupan bernegara. Berikut ini

1
dikemukakan ketentuan-ketentuan yang menunujukkan fungsi dari masing-masing sila
pancasila dalam proses penyelenggaraan kehidupan bernegara.
B. Ketentuan-ketentuan Fungsi Sila dalam Pancasila
Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Ketuhanan Yang Maha
Esa, yaitu: kehidupan bernegara bagi Negara Republik Indonesia berdasar Ketuhanan
Yang Maha Esa, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agama serta untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannnya, negara
menghendaki adanya toleransi dari masing-masing pemeluk agama dan aliran
kepercayaan yang ada serta diakui eksistensinya di Indonesia, negara Indonesia
memberikan hak dan kebebasan setiap warga negara terhadap agama dan kepercayaan
yang dianutnya.
Selanjutnya ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Kemanusiaan
yang adil dan beradab, antara lain : pengakuan negara terhadap hak bagi setiap bangsa
untuk menentukan nasib sendiri, negara menghendaki agar manusia Indonesia tidak
memeperlakukan sesama manusia dengan cara sewenang-wenang sebagai manifestasi
sifat bangsa yang berbudaya tinggi, pengakuan negara terhadap hak perlakuan sama
dan sederajat bagi setiap manusia, jaminan kedudukan yang sama dalam hukum dan
pemerintahan serta kewajiban menjunjung tinggi hokum dan pemerintahan yang ada
bafi setiap warga negara.
Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Persatuan Indonesia, yaitu:
perlindungan negara terhadp segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikut melaksanakan ketertiba dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial, negara mengatasi segala paham golongan dan segala paham
perseorangan, serta pengakuan negara terhadap kebhineka-tunggal-ikaan dari bangsa
Indonesia dan kehidupannya.
Selanjutnya ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Kerkyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarata perwakilan, yaitu:
penerapan kedaulatan dalam negara Indonesia yang berada di tangan rakyat dan
dilakukan oleh MPR, penerapan azas musyawarah dan mufakat dalam pengambilan
segala keputusan dalam negara Indonesia, dan baru menggunakan pungutan suara
terbanyak bila hal tersebut tidak dapat dilaksanakan, jaminan bahwa seluruh warga

2
negara dapat memperoleh keadlan yang sama sebagai formulasi negara hokum dan
bukan berdasarkan kekuasaan belaka, serta penyelenggaraan kehidupan bernegara
yang didasarkan atas konstitusi dan tidak bersifat absolute.
Yang terakhir adalah ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila
Keadlan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, antara lain: negara menghendaki agar
perekonomian Indonesia berdasarkan atas azas kekeluaraan, penguasaan cabang-
cabang produksi yang penting bagi negara serta menguasai hajat hidup orang banyak
oleh negara, negara menghendaki agar kekayaan alam yang terdapat di atas dan di
dalam bumi dan air Indonesia dipergunakan untuk kemakmuran rakyat banyak, negara
menghendaki agar setiap warga negara Indonesia mendapat perlakuan yang adil di
segala bidang kehidupan, baik material maupun spiritual, negara menghendaki agar
setiap warga negara Indonesia memperoleh pengajaran secara maksimal, negara
Republik Iindonesia mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran
nasional yang pelaksanaannya ditur berdasarkan Undang-Undang, pencanangan
bahwa pemerataan pendidikan agar dapat dinikmati seluruh warga negara Indonesia
menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga, dan
negara berusaha membentuk manusia Indonesia seutuhnya.
Pengertian Pancasila sebagai dasar negara diperoleh dari alinea keempat
Pembukaan UUD 1945 dan sebagaimana tertuang dalam Memorandum DPR-GR 9
Juni 1966 yang menandaskan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang telah
dimurnikan dan dipadatkan oleh PPKI atas nama rakyat Indonesia menjadi dasar
negara Republik Indonesia. Memorandum DPR-GR itu disahkan pula oleh MPRS
dengan Ketetapan No.XX/MPRS/1966 jo. Ketetapan MPR No.V/MPR/1973 dan
Ketetapan MPR No.IX/MPR/1978 yang menegaskan kedudukan Pancasila sebagai
sumber dari segala sumber hukum atau sumber dari tertib hukum di Indonesia.
Inilah sifat dasar Pancasila yang pertama dan utama, yakni sebagai dasar
negara (philosophische grondslaag) Republik Indonesia. Pancasila yang terkandung
dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 tersebut ditetapkan sebagai dasar negara
pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI yang dapat dianggap sebagai penjelmaan
kehendak seluruh rakyat Indonesia yang merdeka.

Dengan syarat utama sebuah bangsa menurut Ernest Renan: kehendak untuk

3
bersatu (le desir d’etre ensemble) dan memahami Pancasila dari sejarahnya dapat
diketahui bahwa Pancasila merupakan sebuah kompromi dan konsensus nasional
karena memuat nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh semua golongan dan lapisan
masyarakat Indonesia.
Maka Pancasila merupakan intelligent choice karena mengatasi
keanekaragaman dalam masyarakat Indonesia dengan tetap toleran terhadap adanya
perbedaan. Penetapan Pancasila sebagai dasar negara tak hendak menghapuskan
perbedaan (indifferentism), tetapi merangkum semuanya dalam satu semboyan
empiris khas Indonesia yang dinyatakan dalam seloka “Bhinneka Tunggal Ika”.
Penetapan Pancasila sebagai dasar negara itu memberikan pengertian bahwa
negara Indonesia adalah Negara Pancasila. Hal itu mengandung arti bahwa negara
harus tunduk kepadanya, membela dan melaksanakannya dalam seluruh perundang-
undangan. Mengenai hal itu,Kirdi Dipoyudo (1979:30) menjelaskan: “Negara
Pancasila adalah suatu negara yang didirikan, dipertahankan dan dikembangkan
dengan tujuan untuk melindungi dan mengembangkan martabat dan hak-hak azasi
semua warga bangsa Indonesia (kemanusiaan yang adil dan beradab), agar masing-
masing dapat hidup layak sebagai manusia, mengembangkan dirinya dan mewujudkan
kesejahteraannya lahir batin selengkap mungkin, memajukan kesejahteraan umum,
yaitu kesejahteraan lahir batin seluruh rakyat, dan mencerdaskan kehidupan bangsa
(keadilan sosial).”
Sebagai alasan mengapa Pancasila harus dipandang sebagai satu kesatuan yang
bulat dan utuh ialah karena setiap sila dalam Pancasila tidak dapat diantitesiskan satu
sama lain. Prof. Notonagoro melukiskan sifat hirarkis-piramidal Pancasila dengan
menempatkan sila “Ketuhanan Yang Mahaesa” sebagai basis bentuk piramid
Pancasila. Dengan demikian keempat sila yang lain haruslah dijiwai oleh sila
“Ketuhanan Yang Mahaesa”. Secara tegas, Dr. Hamka mengatakan: “Tiap-tiap orang
beragama atau percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, Pancasila bukanlah sesuatu yang
perlu dibicarakan lagi, karena sila yang 4 dari Pancasila sebenarnya hanyalah akibat
saja dari sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara

4
sesungguhnya berisi:
Ketuhanan yang Maha Esa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-
Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-
Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Persatuan Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang
adil dan beradab, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
perwakilan, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan
beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa,
yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan ber-
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
perwakilan.
Isi Pembukaan UUD 1945 adalah nilai-nilai luhur yang universal sehingga
Pancasila di dalamnya merupakan dasar yang kekal dan abadi bagi kehidupan bangsa.
Gagasan vital yang menjadi isi Pancasila sebagai dasar negara merupakan jawaban
kepribadian bangsa sehingga dalam kualitas awalnya Pancasila merupakan dasar
negara, tetapi dalam perkembngannya menjadi ideologi dari berbagai kegiatan yang
berimplikasi positif atau negatif.
C. Tahap berkembangnya Pancasila
Pancasila bertolak belakang dengan kapitalisme ataupun komunisme. Pancasila
justru merombak realitas keterbelakangan yang diwariskan Belanda dan Jepang untuk
mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Pancasila sudah berkembang menjadi
berbagai tahap semenjak ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945,yaitu :
1. Tahun 1945-1948 merupakan tahap politis. Orientasi Pancasila diarahkan pada

5
Aand character building. Semangat persatuan dikobarkan demi keselamatan NKRI
terutama untuk menanggulangi ancaman dalam negeri dan luar negeri. Di dalam tahap
dengan atmosfer politis dominan, perlu upaya memugar Pancasila sebagai dasar
negara secara ilmiah filsafati. Pancasila mampu dijadikan pangkal sudut pandangan
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang dalam karya-karyanya ditunjukkan
segi ontologik, epismologik dan aksiologiknya sebagai raison d’etre bagi Pancasila
(Notonagoro, 1950)
Resonansi Pancasila yang tidak bisa diubah siapapun tecantum pada Tap MPRS No.
XX/MPRS/1966. Dengan keberhasilan menjadikan “Pancasila sebagai asas tunggal”,
maka dapatlah dinyatakan bahwa persatuan dan kesatuan nasional sebagai suatu state
building.
2. Tahun 1969-1994 merupakan tahap pembangunan ekonomi sebagai upaya mengisi
kemerdekaan melalui Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PJP I). Orientasinya
diarahkan pada ekonomi, tetapi cenderung ekonomi menjadi “ideologi”
Secara politis pada tahap ini bahaya yang dihadapi tidak sekedar bahaya latent sisa G
30S/PKI, tetapi efek PJP 1 yang menimbulkan ketidakmerataan pembangunan dan
sikap konsumerisme. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial yang mengancam pada
disintegrasi bangsa.
Distorsi di berbagai bidang kehidupan perlu diantisipasi dengan tepat tanpa perlu
mengorbankan persatuan dan kesatuan nasional. Tantangan memang trerarahkan oleh
Orde Baru, sejauh mana pelakasanaan “Pancasila secara murni dan konsekuen” harus
ditunjukkan.
Komunisme telah runtuh karena adanya krisis ekonomi negara “ibu” yaitu Uni Sovyet
dan ditumpasnya harkat dan martaba tmanusia beserta hak-hak asasinya sehingga
perlahan komunisme membunuh dirinya sendiri. Negara-negara satelit mulai
memisahkan diri untuk mencoba paham demokrasi yang baru. Namun, kapitalisme
yang dimotori Amerika Serikat semakin meluas seolah menjadi penguasa tunggal.
Oleh karena itu, Pancasila sebagai dasar negara tidak hanya sekedar dihantui oleh
bahaya subversinya komunis, melainkan juga harus berhadapan dengan gelombang
aneksasinya kapitalisme.

3. Tahun 1995-2020 merupakan tahap “repostioning” Pancasila. Dunia kini sedang

6
dihadapkan pada gelombang perubahan yang cepat sebagai implikasi arus globalisasi.
Pembukaan UUD 1945 dengan nilai-nilai luhurnya menjadi suatu kesatuan integral-
integratif dengan Pancasila sebagai dasar negara. Jika itu diletakkan kembali, maka
kita akan menemukan landasan berpijak yang sama, menyelamatkan persatuan dan
kesatuan nasional yang kini sedang mengalami disintegrasi. Revitalisasi Pancasila
sebagai dasar negara mengandung makna bahwa Pancasila harus diletakkan utuh
dengan pembukaan, di-eksplorasi-kan dimensi-dimensi yang melekat padanya, yaitu :
Realitasnya: dalam arti bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
dikonkretisasikan sebagai kondisi cerminan kondisi obyektif yang tumbuh dan
berkembang dlam masyarakat.
Idealitasnya: dalam arti bahwa idealisme yang terkandung di dalamnya bukanlah
sekedar utopi tanpa makna, melainkan diobjektivasikan sebagai “kata kerja” untuk
membangkitkan gairah dan optimisme para warga masyarakat guna melihat hari depan
secara prospektif, menuju hari esok lebih baik.
Fleksibilitasnya: dalam arti bahwa Pancasila bukanlah barang jadi yang sudah selesai
dan mandeg dalam kebekuan oqmatis dan normatif, melainkan terbuka bagi tafsir-
tafsir baru untuk memenuhi kebutuhan zaman yang berkembang. Dengan demikian
tanpa kehilangan nilai hakikinya, Pancasila menjadi tetap aktual, relevan serta
fungsional sebagai tiang-tiang penyangga bagi kehidupan bangsa dan negara dengan
jiwa dan semangat “Bhinneka tunggal Ika”
Perevitalisasikan Pancasila sebagai dasar negara dalam, kita berpedoman pada
wawasan :
1. Spiritual, untuk meletakkan landasan etik, moral, religius sebagai dasar dan arah
pengembangan profesi
2. Akademis, menunjukkan bahwa MKU Pancasila adalah aspek being, tidak sekedar
aspek having
3. Kebangsaan, menumbuhkan kesadaran nasionalisme
4. Mondial, menyadarkan manusia dan bangsa harus siap menghadapi dialektikanya
perkembangan dalam mayaraka dunia yang “terbuka”.
D.Pancasila dirumuskan secara resmi dan sah.
- Pancasila yang dibahas, dirumuskan dan disepakati oleh para pendiri Negara
dalam rangka membentuk sebuah Negara nasional, yaitu Negara kesatuan Republik

7
Indonesia. Oleh karena pancasila dirumuskan dan diputuskan dalam sidang-sidang
BadanPenyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia
Kemerdekaan Indonesia (PPKI), nilai-nilai dasar yang terkandung dalam sila-sila
pancasila tersebut secara lahiriah merupakan hasil mufajat para anggota kedua badan
tersebut. Para anggota kedua badan tersebut adalah tokoh-tokoh pergerakan nasional
yang terkemuka dan didukung oleh seluruh rakyat Indonesia.
E. Pancasila sebagai dasar etika politik
Dengan dipilihnya Pancasila sebagai dasar hidup bernegara dan berbangsa
atau sebagai dasar hidup berpolitik, maka politik tidaklah netral, tetapi harus dilandasi
nilai-nilai etis. Itulah salah satu tugas filsafat politik: mencerahi makna berpolitik dan
mengekplisitkan nilai-nilai etis dalam politik yang didasarkan atas Pencasila.
Ada anggapan negatif dan sikap skeptik serta sinis terhadap politik. Ada
kecenderungan untuk menghindar dari politik. Namun perlu dicattat beberapa hal:
pertama, mau tidak mau kita tidak dapat lepas dari politik. Segala kegiatan kita
mengandaikan kerangka Negara dan masyarakat. Kedua, berbagai kesulitan yang
dihadapi dunia modern, seperti peningkatan kesejahteraan, lingkungan hidup,
kesenjangan sosial-ekonomi, pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi tidak dapat dipecahkan dengan meninggalkan politik, tetapi mengadakan
transformasi politik sedemikian rupa, sehingga memungkin kita membentuk dan
mengorganisir kehidupan secara efektif. Ketiga, sikap sinis dan skeptik terhadap
politik, bukan hal yang tak terhindari. Dengan membangun kredibilitas dan kelayakan
suatu model alternatif dan imaginatif institusi politik, ketidakpercayaan akan pilitik
bisa diatasi.
David Held mengartikan politik sebagai berikut: “Politik adalah mengenai kekuasaan,
yaitu mengenai kapasitas pelaku sosial dan institusi sosial untuk mempertahankan
atau mentransformir lingkungannya, sosial dan fisik. Politik menyangkut sumber-
sumber yang mendasari kapasitas ini dan mengenai kekuatan-kekuatan yang
membentuk dan mempengaruhi operasi dari kekuatan itu. Oleh karena itu, politik
adalah suatu fenomena yang diketemukan di dalam dan di antara institusi dan
masyarakat, melintasi kehidupan publik dan privat. Politik terungkap di dalam semua
aktivitas kerjasama, negosiasi dan perjuangan dalam penggunaan dan distribusi
sumberdaya. Politik terlibat dalam semua relasi, institusi dan struktur yang melekat
dalam aktivitas produksi dan reproduksi dalam kehidupan masyarakat. Politik

8
menciptakan dan mengkondisikan semua aspek kehidupan kita. Politik berada pada
inti perkembangan permasalahan dalam masyarakat dan cara kolektif penyelesaian
masalah tersebut.”
Dengan ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara, kehidupan politik memiliki
dimensi etis, bukan sesuatu yang netral. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila
mendorong warganegara untuk berperilaku etis dalam politik.
Apabila nilai-nilai Pancasila itu dapat ditransformasikan ke dalam ethos
masyarakat, maka akan menjadi pandangan hidup. Pandangan hidup dapat dilihat
sebagai suatu cultural software, suatu perangkat lunak budaya. Pandangan hidup
adalah suatu cara memahami dunia dan kehidupan sosial, suatu kosmologi
masyarakat. Sebagai perangkat lunak budaya pandangan hidup berperan dalam
mengkonstruksikan dunia sosial dan politik. Tetapi pandangan hidup itu selalu
berada dalam kontestasi dan negosiasi dengan pandangan hidup lainnya. Cultural
software dikopi dalam setiap individu melalui sosialisasi, interaksi dan komunikasi.
Fungsi cultural software mirip dengan apa yang disebut Gadamer “tradisi”: tradisi
melengkapi kita dengan pra-pemahaman yang memungkinkan kita membuat
penilaian mengenai dunia sosial Sejauh masyarakat memiliki kopi yang kurang lebih
sama, maka pemahaman budaya mereka adalah pemahaman budaya bersama.
F. Pancasila Sebagai Acuan Kritik Ideologi
Agnes Heller membedakan “yang politik” dengan “politik” (politics). Istilah
“yang politik” menunjukkan domain, atau lingkup dimana deliberasi terjadi,
Sedangkan istilah “politik” (politics), merujuk kepada aktivitas yang terjadi dalam
lingkup itu. Ini mempunyai implikasi pada masalah sejauh mana ‘ruang lingkup
politik” (Apakah batas kekuasaan politik?, Siapa memiliki hak untuk melaksanakan
kekuasaan politik itu? Isu-isu apa yang relevan bagi politik Kalau dalam masa
Yunani kuno “yang sosial” dan “yang politik” terjadi tumpang tindih, sementara
dalam modernitas hal itu tidak terjadi.
Para “founding fathers” sejak awal telah melakukan suatu “kritik ideologi”, meskipun
pada jaman itu model alternatif terhadap ideologi-ideologi besar (liberalisme dan
sosialisme) masih terbatas. Ada dua tradisi mengenai konsepsi mengenai “yang
sosial” dan “yang politik” dan interaksi antara keduanya. Politik di dalam demokrasi
liberal kapitalis didasarkan pada premis konsepsi mengenai individu sebagai unit

9
utama moral dan politik. Karenanya hak dan kebebasan didefinisikan lebih dalam
kerangka individual. Hak-hak ini memberikan prioritas kepada kepentingan pribadi
individual di atas kepentingan umum. Asumsinya ialah bahwa individu dengan
usahanya sendiri dapat memenuhi kebutuhannya tanpa terlalu banyak intervensi dari
Negara. Namun dengan berkembangnya demokrasi dan kewarganegaraan, model
liberal dianggap tidak memadai. Kritik terhadap ideologi demikian pada abad ke 19
dilontarkan oleh Marx, yang menyatakan bahwa kewarganegaraan modern lebih
menguntungkan individu dari kelas borjuis. Pada abad ke 20 negara-negara modern
telah menyesuaikan diri dengan kritik ini dengan memperluas “hak-hak sosial” pada
kesehatan, kesejahteraan dan jaminan sosial. Namun Negara haruslah berintervensi
dalam ekonomi dan masyarakat, lebih dari masa sebelumnya. Dengan demikian
“yang politik” lebih masuk ke dalam “yang sosial. Inilah salah satu makna “akhir dari
ideologi”, seperti dikemukakan oleh Daniel Bell. Tak ada lagi ideologi yang murni,
melalu “liberal” atau melulu “sosialis”. Pancasila dan UUD 1945 mencari
keseimbangan dan perpaduan antara keduanya.
Dinamika Pancasila terletak dalam ketegangan antara “ideologi” dan “utopia”.
Pancasila sebagai ideologi memberi arah pembangunan sistem sosial dan politik.
Sistem yang dibangun tidak pernah merupakan perwujudan utuh dari Pancasila, maka
selalu bisa dikritik. Bisa terjadi juga Pancasila Pancasila sebagai “ideologi”
membenarkan dan meneguhkan sistem yang dibangun untuk kepentingan kelompok
tertentu, sehingga menjadi mandeg. Maka atas dasar Pancasila itu pula dapat
dilakukan kritik. Mungkin dapat dikatakan dari perspektif ini Pancasila merupakan
“utopia”. Utopia dapat bersifat “subversif”, menggoncangkan sistem-sistem yang
dibangun berdasarkan orientasi ideologi. Utopia dapat menciptakan kreatifitas dengan
imaginasi sosialnya.
Sebagai kesimpulan, Pancasila dapat dikembangkan menjadi filsafat dalam
tiga arah:
1. Sebagai “Filsafat Pancasila”, yang merupakan refleksi kritis atas dasar hidup
bernegara.
2. Sebagai “Etika Politik” yang merupakan refleksi kritis atas nilai-nilai etis
yang terkandung dalam Pancasila.

10
3. Sebagai “Kritik Ideologi” yang merupakan refleksi kritis dalam mengevaluasi
berbagai ideologi lainnya.
G.Pancasila sebagai ideologi negara
Pengertian Ideologi
Ideologi berasal dari kata idea (Inggris), yang artinya gagasan, pengertian.
Kata kerja Yunani oida = mengetahui, melihat dengan budi. Kata “logi” yang berasal
dari bahasa Yunani logos yang artinya pengetahuan. Jadi Ideologi mempunyai arti
pengetahuan tentang gagasan-gagasan, pengetahuan tentang ide-ide,science of ideas
atau ajaran tentang pengertian-pengertian dasar. Dalam pengertian sehari-hari
menurut Kaelan ‘idea’ disamakan artinya dengan cita- cita.
Dalam perkembangannya terdapat pengertian Ideologi yang dikemukakan
oleh beberapa ahli. Istilah Ideologi pertama kali dikemukakan oleh:
Destutt de Tracy seorang Perancis pada tahun 1796. Menurut Tracy ideologi yaitu
‘science of ideas’, suatu program yang diharapkan dapat membawa perubahan
institusional dalam masyarakat Perancis.
Karl Marx mengartikan Ideologi sebagai pandangan hidup yang dikembangkan
berdasarkan kepenti-ngan golongan atau kelas sosial tertentu dalam bidang politik
atau sosial ekonomi.
Gunawan Setiardjo mengemukakan bahwa ideologi adalah seperangkat ide asasi
tentang manusia dan seluruh realitas yang dijadikan pedoman dan cita-cita hidup.
Ramlan Surbakti mengemukakan ada dua pengertian Ideologi yaitu Ideologi secara
fungsional dan Ideologi secara struktural. Ideologi secara fungsional diartikan
seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama atau tentang masyarakat dan negara
yang dianggap paling baik. Ideologi secara fungsional ini digolongkan menjadi dua
tipe, yaitu Ideologi yang doktriner dan Ideologi yang pragmatis. Ideologi yang
doktriner bilamana ajaran-ajaran yang terkandung di dalam Ideologi itu dirumuskan
secara sistematis, dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh aparat partai atau
aparat pemerintah. Sebagai contohnya adalah komunisme. Sedangkan Ideologi yang
pragmatis, apabila ajaran-ajaran yang terkandung di dalam Ideologi tersebut tidak
dirumuskan secara sistematis dan terinci, namun dirumuskan secara umum hanya
prinsip-prinsipnya, dan Ideologi itu disosialisasikan secara fungsional melalui
kehidupan keluarga, sistem pendidikan, system ekonomi, kehidupan agama dan

11
sistem politik. Pelaksanaan Ideologi yang pragmatis tidak diawasi oleh aparat partai
atau aparat pemerintah melainkan dengan pengaturan pelembagaan (internalization),
contohnya individualisme atau liberalisme. Ideologi secara struktural diartikan
sebagai sistem pembenaran, seperti gagasan dan formula politik atas setiap kebijakan
dan tindakan yang diambil oleh penguasa.
Dengan demikian secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa Ideologi
adalah kumpulan gagasan-gagasan, ide-ide, keyakinan-keyakinan yang menyeluruh
dan sistematis, yang menyangkut berbagai bidang kehidupan manusia.

H. Hakikat Cita-cita Negara


Notonegoro sebagaimana dikutip oleh Kaelan mengemukakan, bahwa Ideologi
negara dalam arti cita-cita negara atau cita-cita yang menjadi dasar bagi suatu sistem
kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa yang bersangkutan pada hakikatnya
merupakan asas kerokhanian yang antara lain memiliki ciri:
Mempunyai derajat yang tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan;
Mewujudkan suatu asas kerokhanian, pandangan dunia, pedoman hidup, pegangan
hidup yang dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarikan kepada generasi
berikutnya, diperjuangkan dan dipertahankan dengan kesediaan berkorban.

I. Pengertian Dasar Negara


Dasar Negara adalah landasan kehidupan bernegara. Setiap negara harus
mempunyai landasan dalam melaksanakan kehidupan bernegaranya. Dasar negara
bagi suatu negara merupakan suatu dasar untuk mengatur penyelenggaraan negara.
Dasar negara bagi suatu negara merupakan sesuatu yang amat penting. Negara
tanpa dasar negara berarti negara tersebut tidak memiliki pedoman dalam
penyelenggaraan kehidupan bernegara, maka akibatnya negara tersebut tidak
memiliki arah dan tujuan yang jelas, sehingga memudahkan munculnya kekacauan.
Dasar negara sebagai pedoman hidup bernegara mencakup cita-cita negara, tujuan
negara, norma bernegara.

J. Latar Belakang Pancasila sebagai Ideologi Negara


1. Sejarah Lahirnya Pancasila sebagai Ideologi dan Dasar Negara

12
Ideologi dan dasar negara kita adalah Pancasila. Pancasila terdiri dari lima
sila. Kelima sila itu adalah: Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan
beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusayawaratan perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.Untuk mengetahui latar belakang atau sejarah Pancasila dijadikan ideologi
atau dasar negara.
Sebelum tanggal 17 Agustus bangsa Indonesia belum merdeka. Bangsa
Indonesia dijajah oleh bangsa lain. Banyak bangsa-bangsa lain yang menjajah atau
berkuasa di Indonesia, misalnya bangsa Belanda, Portugis, Inggris, dan Jepang.
Paling lama menjajah adalah bangsa Belanda. Padahal sebelum kedatangan penjajah
bangsa asing tersebut, di wilayah negara RI terdapat kerajaan-kerajaan besar yang
merdeka, misalnya Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram, Ternate, dan Tidore.
Terhadap penjajahan tersebut, bangsa Indonesia selalu melakukan perlawanan dalam
bentuk perjuangan bersenjata maupun politik.
Perjuangan bersenjata bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah, dalam hal ini
Belanda, sampai dengan tahun 1908 boleh dikatakan selalu mengalami kegagalan.
Penjajahan Belanda berakhir pada tahun 1942, tepatnya tanggal 8 Maret. Sejak saat
itu Indonesia diduduki oleh bala tentara Jepang. Namun Jepang tidak terlalu lama
menduduki Indonesia. Mulai tahun 1944, tentara Jepang mulai kalah dalam melawan
tentara Sekutu. Untuk menarik simpati bangsa Indonesia agar bersedia membantu
Jepang dalam melawan tentara Sekutu, Jepang memberikan janji kemerdekaan di
kelak kemudian hari. Janji ini diucapkan oleh Perdana Menteri Kaiso pada tanggal 7
September 1944. Oleh karena terus menerus terdesak, maka pada tanggal 29 April
1945 Jepang memberikan janji kemerdekaan yang kedua kepada bangsa Indonesia,
yaitu janji kemerdekaan tanpa syarat yang dituangkan dalam Maklumat Gunseikan
(Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintah Militer Jepang di Jawa dan Madura) No.
23.
Dalam maklumat itu sekaligus dimuat dasar pembentukan Badan Penyelidik
Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tugas badan ini adalah
menyelidiki dan mengumpulkan usul-usul untuk selanjutnya dikemukakan kepada
pemerintah Jepang untuk dapat dipertimbangkan bagi kemerdekaan Indonesia.

13
Keanggotaan badan ini dilantik pada tanggal 28 Mei 1945, dan mengadakan sidang
pertama pada tanggal 29 Mei 1945 - 1 Juni 1945. Dalam sidang pertama ini yang
dibicarakan khusus mengenai calon dasar negara untuk Indonesia merdeka nanti.
Pada sidang pertama itu, banyak anggota yang berbicara, dua di antaranya adalah
Muhammad Yamin dan Bung Karno, yang masing-masing mengusulkan calon dasar
negara untuk Indonesia merdeka.
Muhammad Yamin
mengajukan usul mengenai dasar negara secara lisan yang terdiri atas lima hal, yaitu:
1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat
Selain itu Muhammad Yamin juga mengajukan usul secara tertulis yang juga terdiri
atas lima hal, yaitu:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
4.Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Usulan ini diajukan pada tanggal 29 Mei 1945, kemudian pada tanggal 1 Juni 1945,
b. Bung Karno mengajukan usul mengenai calon dasar negara yangterdiri atas lima
hal, yaitu:
1. Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)
2. Internasionalisme (Perikemanusiaan)
3. Mufakat atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan yang Berkebudayaan
Kelima hal ini oleh Bung Karno diberi nama Pancasila. Lebih lanjut Bung Karno
mengemukakan bahwa kelima sila tersebut dapat diperas menjadi Trisila, yaitu:
1. Sosio nasionalisme

14
2. Sosio demokrasi
3. Ketuhanan
Berikutnya tiga hal ini menurutnya juga dapat diperas menjadi Ekasila yaitu
Gotong Royong. Selesai sidang pertama, pada tanggal 1 Juni 1945 para anggota
BPUPKI sepakat untuk membentuk sebuah panitia kecil yang tugasnya adalah
menampung usul-usul yang masuk dan memeriksanya serta melaporkan kepada
sidang pleno BPUPKI. Tiap-tiap anggota diberi kesempatan mengajukan usul secara
tertulis paling lambat sampai dengan tanggal 20 Juni 1945. Adapun anggota panitia
kecil ini terdiri atas delapan orang, yaitu
1. Ir. Soekarno
2. Ki Bagus Hadikusumo
3. K.H. Wachid Hasjim
4. Mr. Muh. Yamin
5. M. Sutardjo Kartohadikusumo
6. Mr. A.A. Maramis
7. R. Otto Iskandar Dinata
8. Drs. Muh. Hatta
Pada tanggal 22 Juni 1945 diadakan rapat gabungan antara Panitia Kecil, dengan para
anggota BPUPKI yang berdomisili di Jakarta. Hasil yang dicapai
antara lain disetujuinya dibentuknya sebuah Panitia Kecil Penyelidik Usul-
Usul/Perumus Dasar Negara yang terdiri atas sembilan orang, yaitu:
1. Ir. Soekarno
2. Drs. Muh. Hatta
3. Mr. A.A. Maramis
4. K.H. Wachid Hasyim
5. Abdul Kahar Muzakkir
6. Abikusno Tjokrosujoso
7. H. Agus Salim
8. Mr. Ahmad Subardjo
9. Mr. Muh. Yamin
Panitia Kecil yang beranggotakan sembilan orang ini pada tanggal itu juga
melanjutkan sidang dan berhasil merumuskan calon Mukadimah Hukum Dasar, yang

15
kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Piagam Jakarta”. Dalam sidang BPUPKI
kedua, tanggal 10-16 juli 1945, hasil yang dicapai adalah merumuskan rancangan
Hukum Dasar. Sejarah berjalan terus. Pada tanggal 9 Agustus dibentuk Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang
menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, dan sejak saat itu Indonesia kosong dari
kekuasaan. Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para
pemimpin bangsa Indonesia, dengan memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan
PPKI mengadakan sidang, dengan acara utama (1) mengesahkan rancangan Hukum
Dasar dengan preambul-nya (Pembukaannya) dan (2) memilih Presiden dan Wakil
Presiden.
Untuk pengesahan Preambul, terjadi proses yang cukup panjang. Sebelum
mengesahkan Preambul, Bung Hatta terlebih dahulu mengemukakan bahwa pada
tanggal 17 Agustus 1945 sore hari, sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan, ada
utusan dari Indonesia bagian Timur yang menemuinya. Intinya, rakyat Indonesia
bagian Timur mengusulkan agar pada alinea keempat preambul, di belakang kata
“ketuhanan” yang berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya” dihapus. Jika tidak maka rakyat Indonesia bagian Timur lebih
baik memisahkan diri dari negara RI yang baru saja diproklamasikan. Usul ini oleh
Muh. Hatta disampaikan kepada sidang pleno PPKI, khususnya kepada para anggota
tokoh-tokoh Islam, antara lain kepada Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wakhid Hasyim
dan Teuku Muh. Hasan.Muh. Hatta berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Islam, demi
persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena pendekatan yang terus-menerus dan
demi persatuan dan kesatuan, mengingat Indonesia baru saja merdeka, akhirnya
tokoh-tokoh Islam itu merelakan dicoretnya “dengan kewajiban menjalankan syariat
Islam bagi pemeluk-pemeluknya” di belakang kata Ketuhanan dan diganti dengan
“Yang Maha Esa”.

BAB II
PANCASILA DALAM UNDANG-UNDANG DASAR 1945

16
UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
PEMBUKAAN
(Preambule)
Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,
maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-
kemanusiaan dan perikeadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang
berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu
gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan
makmur.
Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan
luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia
menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam
suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu su-
sunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada
Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia
dan Ke-rakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
A. Kesimpulan per Alenia pada Pembukaan UUD 1945
Dari keempat alinea pembukaan UUD 1945 tersebut, maka secara sederhana dapat
disimpulkan sebagai berikut: Bagian pertama yang terdiri atas alinea pertama, kedua,
dan ketiga menggambarkan keadaan Indonesia sebelum merdeka sampai dengan saat
kemerdekaan. Bagian kedua yaitu alinea keempat menggambarkan keadaan Indonesia
sesudah kemerdekaannya, yang berisi:
1. Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

17
2. Tujuan Negara.
3. Ketentuan adanya Undang-Undang Dasar.
4. Ketentuan bentuk negara, yaitu republik yang berkedaulatan rakyat.
5. Ketentuan adanya dasar negara/ideologi Negara.
Hakikat pancasila seperti yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang
Dasar 1945 merupakan kesatuan yang bulat dan utuh dari kelima sila, yaitu ketuhanan
yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,
keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ideologi liberalisme banyak dianut oleh negara-negara Barat. contoh- contoh
negara Termasuk Negara Barat adalah Amerika Serikat dan negara-negara Eropa
seperti Inggris, Belanda, Spanyol, Italia dan lain-lainnya. Sedangkan negara-negara
yang menganut ideologi sosialisme adalah Uni Soviet (sekarang Rusia), Cina, Korea
Utara, Vietnam.
B. Persamaan dan Perbedaan pokok antara ideologi negara sosialisme dengan
ideologi negara liberalisme.
1. Negara sebagai penjaga malam. Rakyat atau warganya mempunyai kebebasan
untuk berbuat atau bertindak apa saja asal tidak melanggar tertib hukum.
Mementingkan kekuasaan dan kepentingan negara.
2. Kepentingan dan hak warganegara lebih diutamakan dari pada kepentingan
negara. Negara didirikan untuk menjamin kebebasan dan kepentingan
warganegara. Kepentingan negara lebih diutamakan daripada kepentingan
warga negara. Kebebasan atau kepentingan warganegara dikalahkan untuk
kepentingan negara.
3. Negara tidak mencampuri urusan agama. Agama menjadi urusan pribadi
setiap warganegara. Negara terpisah dengan agama. Warganegara bebas
beragama, tetapi juga bebas tidak beragama. Kehidupan agama juga terpisah
dengan negara. Warganegara bebas beragama, bebas tidak beragama dan
bebas pula untuk propaganda anti-agama
Perbedaan keduanya dapat dilihat dari hubungannya antara negara dengan
warganegara. Dalam negara liberalisme, negara itu diumpamakan se-bagai penjaga
malam atau polisi lalu lintas. Jadi tugas negara hanya menjaga. Rakyat atau warganya

18
mempunyai kebebasan untuk berbuat atau bertindak apa saja asal tidak melanggar
tertib hukum. Pada negara liberalisme,kepentingan dan hak warganegara lebih
dipentingkan daripada kepentingan negara. Negara didirikan untuk menjamin
kebebasan dan kepentingan warganegara.
Dalam negara sosialis, kepentingan negara lebih diutamakan daripada
kepentingan warga negara. Kebebasan atau kepentingan warganegara dikalahkan
untuk kepentingan negara. Jadi negara yang paling utama, sedangkan kepentingan
warga negara nomor dua. Kekuasaan negara sangat besar, sedangkan kekuasaan
warganegara kecil saja.

C. Negara dengan Ideologi Pancasila


1. Hubungan antara warganegara dengan negara adalah seimbang. Artinya, tidak
mengutamakan negara tetapi juga tidak mengutamakan warganegara.
Kepentingan negara dan kepentingan warganegara sama-sama dipentingkan
2. Agama erat hubungannya dengan negara. Negara memperhatikan kehidupan
agama. Agama mendapatkan perhatian penting dari negara. Setiap wargane-
gara dijamin pula kebebasannya untuk memilih salah satu agama yang ada
dan diakui oleh pemerintah. Setiap orang harus beragama, tetapi agama yang
dipilih diserahkan kepada masing-masing warganegara. Atheis atau tidak
mengakui adanya Tuhan, tidak diperbolehkan
Persamaannya, baik Pancasila, liberalisme, maupun sosialisme sama-sama
digunakan sebagai ideologi atau dasar negara. Pancasila digunakan oleh bangsa
Indonesia, liberalisme digunakan oleh bangsa Barat, sosialisme digunakan oleh
negara-negara Sosialis.
D. NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA DAN DASAR
NEGARA
1. Nilai-nilai Pancasila sebagai Ideologi.Nilai-nilai Pancasila yang terkandung di
dalamnya merupakan nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan,
Kerakyatan, dan Keadilan. Nilai-nilai ini yang merupakan nilai dasar bagi
kehidupan kenegaraan, kebangsaan dan kemasyarakatan. Nilai-nilai Pancasila
tergolong nilai kerokhanian yang didalamnya terkandung nilai-nilai lainnya

19
secara lengkap dan harmonis, baik nilai material, nilai vital, nilai kebenaran
(kenyataan), nilai estetis, nilai etis maupun nilai religius.
2. Nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bersifat objektif dan subjektif, artinya
hakikat nilai-nilai Pancasila adalah bersifat universal (berlaku di manapun),
sehingga dimungkinkan dapat diterapkan pada negara lain. Jadi kalau ada
suatu negara lain menggunakan prinsip falsafah, bahwa negara berKetuhanan,
berKemanusiaan, berPersatuan, berKerakyatan, dan berKeadilan, maka negara
tersebut pada hakikatnya menggunakan dasar filsafat dari nilai-nilai Pancasila.

3. Nilai-nilai Pancasila bersifat objektif, maksudnya adalah:


- Rumusan dari sila-sila Pancasila itu sendiri memiliki makna yang terdalam
menunjukkan adanya sifat-sifat yang umum universal dan abstrak karena
merupakan suatu nilai;
- Inti dari nilai Pancasila akan tetap ada sepanjang masa dalam kehidupan
bangsa Indonesia baik dalam adat kebiasaan, kebudayaan, kenegaraan maupun
dalam kehidupan keagamaan;
- Pancasila yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai pokok
kaidah negara yang mendasar, sehingga merupakan sumber dari segala
sumber hukum di Indonesia.
4. nilai-nilai Pancasila bersifat subjektif, terkandung maksud bahwa keberadaan
nilai-nilai Pancasila itu bergantung atau terlekat pada bangsa Indonesia
sendiri. Hal ini dapat dijelaskan, karena:
- Nilai-nilai Pancasila timbul dari bangsa Indonesia, sehingga bangsa Indonesia
sebagai penyebab adanya nilai-nilai tersebut;
- Nilai-nilai Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia, sehingga
merupakan jati diri bangsa yang diyakini sebagai sumber nilai atas kebenaran,
kebaikan, keadilan dan kebijaksanaan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara;
- Nilai-nilai Pancasila di dalamnya terkandung nilai-nilai kerokhanian, yaitu
nilai kebenaran, keadilan, kebaikan, kebijaksanaan, etis, estetis, dan nilai
religius yang sesuai dengan hati nurani bangsa Indonesia dikarenakan
bersumber pada kepribadian bangsa.

20
Sebagai ideologi yang tidak diciptakan oleh negara, menjadikan Pancasila
sebagai ideologi juga merupakan sumber nilai, sehingga Pancasila merupakan asas
kerokhanian bagi tertib hukum Indonesia, dan meliputi suasana kebatinan
(Geistlichenhintergrund) dari Undang-Undang Dasar 1945 serta mewujudkan cita-cita
hukum bagi hukum dasar negara.
Pancasila sebagai sumber nilai mengharuskan Undang-Undang Dasar
mengandung isi yang mewajibkan pemerintah, penyelenggara negara termasuk
pengurus partai dan golongan fungsional untuk memelihara budi
pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang cita-cita moral rakyat yang luhur.
Nilai-nilai Pancasila sebagai Dasar Negara Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar
negara menjadikan setiap tingkah laku dan setiap pengambilan keputusan para
penyelenggara negara dan pelaksana pemerintahan harus selalu berpedoman pada
Pancasila, dan tetap memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur serta
memegang teguh cita-cita moral bangsa.
Pancasila sebagai sumber nilai menunjukkan identitas bangsa Indonesia yang
memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, hal ini menandakan bahwa dengan
Pancasila bangsa Indonesia menolak segala bentuk penindasan, penjajahan dari satu
bangsa terhadap bangsa yang lain dan merupakan cita-cita moral luhur yang meliputi
suasana kejiwaan dan watak dari bangsa Indonesia.
E.Nilai-nilai Pancasila
a. Di bidang Politik misalnya, Pancasila menjadi landasan bagi pembangunan
politik, dan dalam prakteknya menghindarkan praktek-praktek politik tak
bermoral dan tak bermartabat sebagai bangsa yang memiliki cita-cita moral
dan budi pekerti yang luhur. Segala tindakan sewenang-wenang penguasa
terhadap rakyat, penyalahgunaan kekuasaan dan pengambilan kebijaksanaan
yang diskriminatif dari penguasa untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya
merupakan praktek-praktek politik yang bertentangan dengan nilai-nilai
Pancasila.
b. Di bidang Hukum demikian halnya. Pancasila sebagai paradigma
pembangunan hukum ditunjukkan dalam setiap perumusan peraturan
perundang- undangan nasional yang harus selalu memperhatikan dan
menampung aspirasi rakyat. Hukum atau peraturan perundang-undangan yang

21
dibentuk haruslah merupakan cerminan nilai-nilai kemanusiaan, kerakyatan
dan keadilan.
c. Di bidang Sosial Budaya, Pancasila merupakan sumber normatif dalam
pengembangan aspek sosial budaya yang mendasarkan pada nilai-nilai
kemanusiaan, nilai Ketuhanan dan nilai keberadaban.
d. Di bidang Ekonomi, Pancasila juga menjadi lan- dasan nilai dalam
pelaksanaan pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi yang
berdasarkan atas nilai-nilai Pancasila selalu mendasarkan pada nilai
kemanusiaan, artinya pembangunan ekonomi untuk kesejahteraan umat
manusia.
F. SIKAP POSITIF TERHADAP PANCASILA DALAM KEHIDUPAN
BERMASYARAKAT, BERBANGSA, DAN BERNEGARA
Sikap positif terhadap nilai-nilai Pancasila berarti sikap yang baik dalam
menanggapi dan mengamalkan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila, maksudnya
dalam setiap tindakan dan perilaku sehari- hari selalu berpedoman atau berpegang
teguh pada nilai-nilai Pancasila yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Seseorang yang memiliki sikap positif terhadap nilai- nilai Pancasila berarti
orang tersebut konsisten dalam ucapan dan perbuatan serta tingkah lakunya sehari-
hari yang selalu menjunjung tinggi etika pergaulan bangsa yang luhur, serta menjaga
hubungan baik antar sesama warga masyarakat Indonesia dan bangsa lain, dengan
tetap mempertahankan dan menunjukkan jati diri bangsa yang cinta akan perdamaian
dan keadilan sosial.
G. Karakteristik Ideologi Pancasila
Karakteristik yang dimaksud di sini adalah ciri khas yang dimiliki oleh
Pancasila sebagai ideologi negara, yang membedakannya dengan ideologi-ideologi
yang lain. Karakteristik ini berhubungan dengan sikap positif bangsa Indonesia yang
memiliki Pancasila Adapun karakteristik tersebut adalah:
a. Pertama: Tuhan Yang Maha Esa. Ini berarti pengakuan bangsa Indonesia akan
eksistensi Tuhan sebagai pencipta dunia dengan segala isinya. Tuhan sebagai
kausa prima. Oleh karena itu sebagai umat yang berTuhan, adalah dengan
sendirinya harus taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

22
b. Kedua ialah penghargaan kepada sesama umat manusia apapun suku bangsa
dan bahasanya. Sebagai umat manusia kita adalah sama dihadapan Tuhan
Yang Maha Esa. Hal ini sesuai dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Adil dan beradab berarti bahwa adil adalah perlakuan yang sama terhadap
sesama manusia, dan beradab berarti perlakuan yang sama itu sesuai dengan
derajat kemanusiaan.
c. Ketiga, bangsa Indonesia menjunjung tinggi persatuan bangsa. Di dalam
persatuan itulah dapat dibina kerja sama yang harmonis. Dalam hubungan ini,
maka persatuan Indonesia kita tempatkan di atas kepentingan sendiri.
d. Keempat adalah bahwa kehidupan kita dalam kemasyarakatan dan bernegara
berdasarkan atas sistem demokrasi.
e. Kelima adalah Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan dalam
kemakmuran adalah cita-cita bangsa kita sejak masa lampau. Sistem
pemerintahan yang kita anut bertujuan untuk tercapainya masyarakat yang
adil dan makmur.
H.Arti Pentingnya Pancasila dalam Mempertahankan Negara Kesatuan
Republik Indonesia
Sebagai ideologi dan dasar negara, Pancasila mempunyai fungsi sebagai acuan
bersama, baik dalam memecahkan perbedaan serta pertentangan politik di antara
golongan dan kekuatan politik yang ada. Ini berarti bahwa segenap golongan dan
kekuatan yang ada di Indonesia ini sepakat untuk menjaga, memelihara, dan
mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan bingkai Pancasila.
Selain itu secara nyata telah sering diakui adanya upaya-upaya untuk
memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia, misalnya lewat pemberontakan
Madiun 1948 maupun pengkhianatan G 30 S/PKI tahun 1965. Namun kesemuanya
itu dapat digagalkan berkat ke- sepakatan segenap golongan bangsa Indonesia untuk
tetap mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan
landasan dasar dan ideologi Pancasila.

I.Upaya Mempertahankan Ideologi dan Dasar Negara Pancasila

23
Dasar negara Pancasila dapat memenuhi keinginan semua pihak. Dasar negara
Pancasila dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari banyak suku,
agama, dan adat istiadat atau kebudayaan. Dasar negara Pancasila sangatlah lengkap,
berisikan sila-sila sesuai keinginan atau kebutuhan bangsa Indonesia seperti
kebutuhan akan kehidupan yang berketuhanan atau beragama,kemanusiaan,
persatuan, kerakyatan atau demokrasi, dan kebutuhan akan keadilan sosial.
Mempertahankan berarti mengusahakan agar sila-sila dalam Pancasila
dilaksanakan dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.
mempertahankan Pancasila berarti mengusahakan agar dasar negara Republik
Indonesia tidak diganti dengan dasar negara lain.
1. usaha pertama adalah dengan jalan melaksanakan sila-sila Pancasila dalam
kehidupan bernegara.Pemerintah dalam semua tindakannya hendaknya di-
dasarkan atas Pancasila. Secara rinci, pemerintah Republik Indonesia
hendaknya memperhatikan kehidupan beragama, memperhatikan hak-hak
setiap warganegara, menekankan pentingnya persatuan, memperhatikan suara
rakyat dan memperhatikan keadilan sosial.
2. Usaha kedua adalah dengan jalan melaksanakan Pancasila dalam kehidupan
bermasyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat hendaknya
senantiasa memperhatikan kehidupan beragama, memperhatikan hak-hak
orang lain, mementingkan persatuan, menjunjung tinggi demokrasi, dan
memperhatikan keadilan sosial bagi semua anggota masyarakat.
3. Usaha ketiga melalui bidang pendidikan. Pendidikan memegang peranan
penting untuk mempertahankan Pancasila. Dalam setiap jenjang pendidikan
perlu diajarkan Pancasila.
Pancasila sebagai ideologi tidak diciptakan oleh negara, melainkan:
a. dibuat oleh rakyat Indonesia untuk pedoman hidup yang langgeng ;
b. ditemukan dalam hidup sanubari rakyat Indonesia;
c. digali dari harta kekayaan rohani, moral dan budaya masyarakat Indonesia
sendiri;
d. nilai-nilainya mengandung arti yang sangat dalam bagi perjuangan bangsa
Indonesia.
J.Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa merupakan:

24
a. norma dasar yang menjadi pedoman hidup manusia Indonesia;
b. penjabaran dari pola perilaku hidup manusia Indonesia;
c. cara pandang bangsa Indonesia dalam menghadapi kemerdekaan;
d. kristalisasi nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia.
Pandangan hidup bangsa adalah kristalisasi dan institusionalisasi dari nilai-
nilai yang dimiliki yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad untuk
mewujudkannya. Dalam pandangan hidup bangsa terkandung konsepsi dasar
mengenai kehidupan yang dicita-citakan, terkandung dasar pikiran terdalam, gagasan
mengenai wujud kehidupan yang dianggap baik.Pancasila sebagai pandangan hidup
bangsa harus berakar pada pandangan hidup masyarakat dan didukung oleh setiap
warga Negara karena pancasila yang dilaksanakan oleh UUD 1945 serta peraturan
perundang-undangan lainnya menghormati serta menjamin hak serta martabat
kemanusiaannya.
K.Pancasila sebagai dasar negara mengandung arti bahwa Pancasila menjadi:
a. nilai-nilai yang didalamnya mengandung unsur-unsur kenegaraan yang tinggi;
b. suatu asas kerokhanian yang meliputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum
c. sumber acuan dalam menyusun etika kehidupan berbangsa bagi seluruh rakyat
Indonesia;
d. landasan politik yang menghindarkan praktik-praktik politik tak bermoral dan
tak bermartabat.
L.Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia, adalah
- Pancasila memberikan corak yang khas kepada bangsa Indonesia dan tak
dapat dipisahkan dari bangsa Indonesia serta memiliki cirri khas yang membedakan
bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya. Terdapat kemungkinan bahwa tiap-tiap sila
secara terlepas dari yang lain bersifat universal, yang juga dimiliki oleh bangsa lain
didunia ini, akan tetapi kelima sila yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah-
pisah itulah yang menjadi cirri khas bangsa Indonesia.
M.Pancasila sebagai perjanjian luhur adalah
- Perjanjian luhur rakyat Indonesia yang disetujui oleh wakil-wakil rakyat
indoneswia menjelang dan sesudah proklamasi kemerdekaan yang kita junjung tinggi,
bukan sekedar karena ia ditemukan kembali dari kandungan kepribadian dan cita-cita
bangsa Indonesia yang terpendam sejak berabad-abad yang lalu, melainkan karena

25
pancasila itu telah mampu membuktikan kebenarannya setelah diuji oleh sejarah
perjuangan bangsa.
N.Pancasila merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh dari kelima silanya
- dikatakan sebagai kesatuan yang bulat dan utuh karena masing-masing sila
dari pancasila itu tidak dapat dipahami dan diberi arti secara sendiri terpisah dari
keseluruhan sila-sila lainnya. Memahami atau member arti setiap sila secara terpisah
dari sila-sila lainnya akan mendatangkan pengertian yang keliru tentang pancasila.
O.akibat penafsiran pancasila yang berbeda-beda
- bahwa penafsiran pancasila yang berbeda-beda, menurut selera dan
kepentingan sendiri, sama saja dengan membbuat kabur pancasila. Dalam keadaan
seperti itu maka pancasila tinggal menjadi nama tanpa makna, padahal sebagai
pandangan hidup dan dasar Negara, pancasila harus dilaksanakan dan diamalkan
bersama-sama untuk membimbing bangsa Indonesia menuju terwujudnya kehidupan
yang kita cita-citakan bersama.
Hal-hal apa yang perlu kita miliki untuk mempertahankan pancasila adalah
- kita semua perlu memiliki kesatuan bahasa, kesatuan pandangan dan kesatuan gerak
langkah dalam menghayati dan mewujudkan pancasila itu dalam kehidupan
kemasyarakatan dan kenegaraan kita secara nyata.
Pandangan pancasila tentang hubungan manusia dengan masyarakat adalah:
- Pancasila tidak memilih salah satu dari berbagai pandangan seperti individualism,
liberalism, komunisme dan segala bentuk yang bertentangan dengan pancasila,
Pancasila memandang bahwa kebahagiaan manusia akan tercapai jika dapat
dikembangkan hubungan yang selaras, serasi, dan seimbang antara manusia dengan
masyarakatnya.
Pancasila memiliki makna sebagai sumber semangat bagi Undang- Undang
Dasar 1945, bagi penyelenggara negara, para pelaksana pemerintahan termasuk juga
para pengurus partai politik dan golongan fungsional. Makna tersebut menunjukkan
kedudukan Pancasila sebagai:
a. dasar negara;
b. pandangan hidup bangsa;
c. ideologi bangsa;
d. cita-cita hidup bangsa.

26
Salah satu maksud dari nilai-nilai Pancasila bersifat objektif adalah
a. bersifat luwes dan dapat menyesuaikan perkembangan jaman sesuai dengan
perkembangan masyarakat;
b. nilai-nilai Pancasila timbul dari bangsa Indonesia, sehingga bangsa Indonesia
sebagai penyebab adanya nilai-nilai tersebut;
c. objek dari nilai-nilai Pancasila merupakan kehidupan nyata sehari-hari yang
terjadi di masyarakat;
d. rumusan dari sila-sila Pancasila itu sendiri memiliki makna yang terdalam
menunjukkan adanya sifat-sifat yang umum universal dan abstrak;
Salah satu maksud dari nilai-nilai Pancasila bersifat subjektif adalah Bahwa:
a. kekuatan nilai-nilai Pancasila sangat menyentuh perasaan kemanusiaan
bangsa Indonesia yang berakhlak mulia dan berbudi luhur;
b. secara subjektif nilai-nilai Pancasila menyangkut pola perilaku hidup manusia
Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara;
c. nilai-nilai Pancasila timbul dari bangsa Indonesia, sehingga bangsa Indonesia
sebagai penyebab adanya nilai-nilai tersebut
d. Pancasila dibuat dan disusun oleh bangsa Indonesia sejak jaman dahulu dan
berkembang mengikuti jaman
Maksud dari Pancasila sebagai sumber nilai bagi manusia Indonesia adalah
bahwa Pancasila sebagai:
a. pusat pandangan hidup bangsa dalam menjalankan roda pemerintahan negara
dan kehidupan bermasyarakat.
b. sumber kekuatan nilai dalam menghadapi berbagai aspek kehidupan
c. pusat segala tindakan dan perilaku bangsa Indonesia untuk menjalankan
hidupnya dalam masyarakat dan negara;
d. sumber acuan dalam bertingkah laku dan bertindak dalam menentukan dan
menyusun tata aturan hidup berbangsa dan bernegara
P.PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT
Kedudukan dan fungsi Pancasila harus dipahami sesuai dengan konteksnya,
misalnya Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, sebagai dasar filsafat
negara Republik Indonesia, sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia. Seluruh
kedudukan dan fungsi Pancasila itu bukanlah berdiri secara sendiri-sendiri namun

27
bilamana dikelompokan maka akan kembali pada dua kedudukan dan fungsi
Pancasila yaitu sebagai dasar filsafat negara dan hidup bangsa Indonesia.
Pancasila pada hakikatnya adalah sistem nilai (value system) yang merupakan
kristalisasi nilai-nilai luhur kebudayaan bangsa Indonesia sepanjang sejarah, yang
berakar dari unsur-unsur kebudayaan luar yang sesuai sehingga secara
keseluruhannya terpadu menjadi kebudayaan bangsa Indonesia. Hal itu bisa dilihat
dari proses terjadinya Pancasila yaitu melalui suatu proses yang disebut kausa
materialisme karena nilai-nilai dalam Pancasila sudah ada dan hidup sejak jaman dulu
yang tercermin dalam kehidupan sehari- hari.
Jadi nilai-nilai Pancasila itu diungkapkan dan dirumuskan dari sumber nilai
utama yaitu:
a. nilai-nilai yang bersifat fundamental, universal, mutlak, dan abadi dari Tuhan
Yang Maha Esa yang tercermin dalam inti kesamaan ajaran- ajaran agama
dalam kitab suci
b. nilai-nilai yang bersifat kolektif nasional yang merupakan intisari dari nilai-
nilai yang luhur budaya masyarkat (inti kesatuan adat-istiadat yang baik) yang
tersebar di seluruh nusantara.
Q.Rumusan Kesatuan Sila-Sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem
Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan suatu sistem
filsafat. Pengertian sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling
berhubungan, saling bekerjasama untuk satu tujuan tertentu dan secara keseluruhan
merupakan suatu kesatuan yang utuh. Lazimnya sistem memiliki ciri-ciri sebagai
berikut :
a. suatu kesatuan bagian-bagian
b. bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri
c. saling berhubungan dan saling ketergantungan
d. kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama (tujuan sistem)
e. terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks.
Pada hakikatnya setiap sila Pancasila merupakan suatu asas sendiri-sendiri,
fungsi sendiri-sendiri namun demikian secara keseluruhan adalah suatu kesatuan yang
sistematis dengan tujuan (bersama) suatu masyarakat yang adil dan makmur
berdasarkan Pancasila.

28
R.Susunan Kesatuan Sila-Sila Pancasila Yang Bersifat Organis
Isi sila-sila Pancasila pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan peradaban,
dalam arti, setiap sila merupakan unsur (bagian yang mutlak) dari kesatuan Pancasila.
Oleh karena itu, Pancasila merupakan suatu kesatuan yang majemuk tunggal, dengan
akibat setiap sila tidak dapat berdiri sendiri-sendiri terlepas dari sila-sila lainnya. Di
samping itu, di antara sila satu dan lainnya tidak saling bertentangan.
Kesatuan sila-sila yang bersifat organis tersebut pada hakikatnya secara
filisofis bersumber pada hakikat dasar ontologis manusia sebagai pendukung dari inti,
isi dari sila-sila Pancasila yaitu hakikat manusia "monopluralis" yang memiliki unsur-
unsur susunan kodrat jasmani-rohani, sifat kodrat individu- mahluk sosial, dan
kedudukan kodrat sebagai pribadi berdiri sendiri-mahluk Tuhan Yang Maha Esa.
Unsur-unsur itu merupakan suatu kesatuan yang bersifat organis harmonis.
S.Susunan Kesatuan Yang Bersifat Hirarkhis Dan Berbentuk Piramidal.
Hirarkhis dan piramidal mempunyai pengertian yang sangat matematis yang
digunakan untuk menggambarkan hubungan sila-sila Pancasila dalam hal urut- urutan
luas (kuantiitas) dan juga dalam hal isi sifatnya. Susunan sila-sila Pancasila
menunjukkan suatu rangkaian tingkatan luas dan isi sifatnya dari sila-sila sebelumnya
atau di atasnya. Secara ontologis hakikat Pancasila mendasarkan setiap silanya pada
landasan, yaitu : Tuhan, Manusia, Satu, Rakyat, dan Adil. Oleh karena itu, hakikat itu
harus selalu berkaitan dengan sifat dan hakikat negara Indonesia.

Dengan demikian maka, sila pertama adalah sifat dan keadaaan negara harus
sesuai dengan hakikat Tuhan; sila kedua sifat dan keadaan negara harus sesuai dengan
hakikat manusia; sila ketiga sifat dan keadaan negara harus satu; sila keempat adalah
sifat dan keadaan negara harus sesuai dengan hakikat rakyat; dan sila kelima adalah
sifat dan keadaan negara harus sesuai dengan hakikat adil.
Contoh rumusan Pancasila yang bersifat hirarkis dan berbentuk piramidal
adalah : sila pertama. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah meliputi dan menjiwai sila-
sila kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan serta
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
T.Rumusan Hubungan Kesatuan Sila-Sila Pancasila Yang Saling Mengisi Dan

29
Saling Mengkualifikasi
Kesatuan sila-sila Pancasila yang majemuk tunggal, hirarkhis piramidal juga
memiliki sifat saling mengisi dan saing mengkualifikasi. Hal itu dimaksudkan bahwa
setiap sila terkandung nilai keempat sila lainnya, dengan kata lain, dalam setiap sila
Pancasila senantiasa dikualifikasi oleh keempat sila lainnya.
Contoh rumusan kesatuan sila-sila Pancasila yang mengisi dan saling
mengkualifikasi adalah sebagai berikut : sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah
berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan Indonesia, berkerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

KESATUAN SILA-SILA PANCASILA SEBAGAI SUATU SISTEM FILSAFAT


Kesatuan sila-sila Pancasila pada hakikatnya bukanlah hanya merupakan
kesatuan yang bersifat formal logis saja namun juga meliputi kesatuan dasar
ontologis, dasar epistemologi dan dasar aksiologis dari sila-sila Pancasila.
Filsafat Pancasila adalah refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai
dasar negara dan kenyataan budaya bangsa dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-
pokok pengertian secara mendasar dan menyeluruh. Pembahasan filsafat dapat
dilakukan secara deduktif (dengan mencari hakikat Pancasila serta menganalisis dan
menyusunnya secara sistematis) menjadi keutuhan pandangan yang komprehensif dan
secara induktif (dengan mengamati gejala-gejala sosial budaya masyarakat,
merefleksikannya dan menarik arti dan makna yang hakiki dari gejala-gejala itu).
Dengan demikian, filsafat Pancasila akan mengungkapkan konsep-konsep kebenaran
yang bukan saja ditujukan pada bangsa Indonesia, melainkan bagi manusia pada
umumnya.

BAB III
PANCASILA SEBAGAI SUMBER NILAI

A. PENGERTIAN NILAI

30
Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan
berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna
bagi kehidupan manusia.
Adanya dua macam nilai tersebut sejalan dengan penegasan pancasila sebagai
ideologi terbuka. Perumusan pancasila sebagai dalam pembukaan UUD 1945. Alinea
4 dinyatakan sebagai nilai dasar dan penjabarannya sebagai nilai instrumental.
Nilai dasar tidak berubah dan tidak boleh diubah lagi. Betapapun pentingnya
nilai dasar yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 itu, sifatnya belum
operasional. Artinya kita belum dapat menjabarkannya secara langsung dalam
kehidupan sehari-hari. Penjelasan UUD 1945 sendiri menunjuk adanya undang-
undang sebagai pelaksanaan hukum dasar tertulis itu. Nilai-nilai dasar yang
terkandung dalam pembukaan UUD 1945 itu memerlukan penjabaran lebih lanjut.
Penjabaran itu sebagai arahan untuk kehidupan nyata. Penjabaran itu kemudian
dinamakan Nilai Instrumental.
Nilai Instrumental harus tetap mengacu kepada nilai-nilai dasar yang
dijabarkannya Penjabaran itu bisa dilakukan secara kreatif dan dinamis dalam
bentuk-bentuk baru untuk mewujudkan semangat yang sama dan dalam batas-batas
yang dimungkinkan oleh nilai dasar itu. Penjabaran itu jelas tidak boleh
bertentangan dengan nilai-nilai dasarnya.

B.CIRI-CIRI dan MACAM-MACAM NILAI


Sifat-sifat nilai menurut Bambang Daroeso (1986) adalah Sebagai berikut.
a. Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia. Nilai yang
bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal yang dapat diamati hanyalah objek
yang bernilai itu. Misalnya, orang yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah
nilai, tetapi kita tidak bisa mengindra kejujuran itu. Yang dapat kita indra
adalah kejujuran itu.
b. Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita,
dan suatu keharusan sehingga nilai nemiliki sifat ideal (das sollen). Nilai
diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak.
Misalnya, nilai keadilan. Semua orang berharap dan mendapatkan dan
berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan.

31
c. Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia adalah
pendukung
nilai. Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya.
Misalnya, nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang
terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan.

MACAM-MACAM NILAI
Dalam filsafat, nilai dibedakan dalam tiga macam, yaitu
a. Nilai logika adalah nilai benar salah
b. Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah (jelek)
c. Nilai etika/moral adalah nilai baik buruk.
Notonegoro dalam kaelan (2000) menyebutkan adanya 3 macam nilai. Ketiga
nilai itu adalah sebagai berikut.
a. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan jasmani
manusia atau kebutuhan ragawi manusia.
b. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat
mengadakan kegiatan atau aktivitas.
c. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.
Nilai kerohanian meliputi
1. Nilai kebenaran yang bersumber pada akal (rasio, budi, cipta) manusia.
2. Nilai keindahan atau nilai estetis yang bersumber pada unsur perasaan
(emotion) manusia.
3. Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kehendak (karsa,
Will) manusia.

C. PANCASILA SEBAGAI SUMBER NILAI


Makna Nilai dalam Pancasila
a. Nilai Ketuhanan
Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan
keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta. Dengan
nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa
yang ateis. Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan

32
untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta
tidak berlaku diskriminatif antarumat beragama.
b. Nilai Kemanusiaan
Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap
dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan
hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya.
c. Nilai Persatuan
Nilai persatuan indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam
kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Persatuan Indonesia sekaligus mengakui dan menghargai sepenuhnya
terhadap keanekaragaman yang dimiliki bangsa indonesia..
d. Nilai Kerakyatan
Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat,
oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-
lembaga perwakilan.
e. Nilai Keadilan
Nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia mengandung makna
sebagai dasar sekaligus tujuan, yaitu tercapainya masyarakat Indonesia Yang Adil dan
Makmur secara lahiriah atauun batiniah.
D.Nilai Pancasila menjadi Sumber Norma Hukum
Upaya mewujudkan Pancasila sebagai sumber nilai adalah dijadikannya nilai
nilai dasar menjadi sumber bagi penyusunan norma hukum di Indonesia.
Operasionalisasi dari nilai dasar pancasila itu adalah dijadikannya pancasila sebagai
norma dasar bagi penyusunan norma hukum di Indonesia. Negara Indonesia memiliki
hukum nasional yang merupakan satu kesatuan sistem hukum. Sistem hukum
Indonesia itu bersumber dan berdasar pada pancasila sebagai norma dasar bernegara.
Pancasila berkedudukan sebagai grundnorm (norma dasar) atau
staatfundamentalnorm(norma fondamental negara) dalam jenjang norma hukum di
Indonesia. Nilai-nilai pancasila selanjutnya dijabarkan dalam berbagai peraturan
perundangam yang ada. Perundang-undangan, ketetapan, keputusan, kebijaksanaan
pemerintah, program-program pembangunan, dan peraturan-peraturan lain pada

33
hakikatnya merupakan nilai instrumental sebagai penjabaran dari nilai-nilai
dasar pancasila.
Sistem hukum di Indonesia membentuk tata urutan peraturan perundang-
undangan.Tata urutan peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam
ketetapan MPR No. III/MPR/2000 tentang sumber hukum dan tata urutan perundang-
undangan sebagai berikut.
a. Undang-Undang Dasar 1945
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
c. Undang-undang
d. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu)
e. Peraturan Pemerintah
f. Keputusan Presiden
g. Peraturan Daerah
Dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 tentang pembentukan Peraturan
perundang-undangan juga menyebutkan adanya jenis dan hierarki peraturan
perundang-undangan sebagai berikut:
a. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
b. Undang-undang/peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perpu)
c. Peraturan pemerintah
d. Peraturan presiden
e. Peraturan daerah.
Pasal 2 Undang-undang No. 10 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pancasila
merupakan sumber dari segala sumber hukum negara. Hal ini sesuai dengan
kedudukannya sebagai dasar (filosofis) negara sebagaimana tertuang dalam
pembukaan UUD 1945 Alinea IV.

E.Nilai Pancasila menjadi Sumber Norma Etik


Upaya lain dalam mewujudkan pancasila sebagai sumber nilai adalah dengan
menjadikan nilai dasar Pancasila sebagai sumber pembentukan norma etik (norma
moral) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai
pancasila adalah nilai moral. Oleh karena itu, nilai pancasila juga dapat

34
diwujudkan kedalam norma-norma moral (etik). Norma-norma etik tersebut
selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam bersikap dan
bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bangsa indonesia saat ini sudah berhasil merumuskan norma-norma etik
sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku. Norma-norma etik tersebut
bersumber pada pancasila sebagai nilai budaya bangsa. Rumusan norma etik tersebut
tercantum dalam ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan
Berbangsa, Bernegara, dan Bermasyarakat.
Ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 tentang etika Kehidupan Berbangsa,
bernegara,dan bermasyarakat merupakan penjabaran nilai-nilai pancasila sebagai
pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku yang merupakan cerminan
dari nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang sudah mengakar dalam kehidupan
bermasyarakat
a. Etika Sosial dan Budaya
Etika ini bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan
menampilkan kembali sikap jujur, saling peduli, saling memahami, saling
menghargai, saling mencintai, dan tolong menolong di antara sesama manusia dan
anak bangsa.
b. Etika Pemerintahan dan Politik
Etika ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, efisien,
dan efektif; menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan
keterbukaan, rasa tanggung jawab, tanggap akan aspirasi rakyat; menghargai
perbedaan; jujur dalam persaingan; ketersediaan untuk menerima pendapat yang
lebih benar walau datang dari orang per orang ataupun kelompok orang; serta
menjunjung tinggi hak asasi manusia. Etika pemerintahan mengamanatkan agar para
pejabat memiliki rasa kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada
publik, siap mundur apabila dirinya merasa telah melanggar kaidah dan sistem
nilai ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat, bangsa, dan
negara.
c. Etika Ekonomi dan Bisnis
Etika ekonomi dan bisnis dimaksudkan agar prinsip dan perilaku ekonomi,
baik oleh pribadi, institusi maupun pengambil keputusan dalam bidang ekonomi,

35
dapat melahirkan kiondisi dan realitas ekonomi yang bercirikan persaingan yang
jujur, berkeadilan, mendorong berkembangnya etos kerja ekonomi, daya tahan
ekonomi dan kemampuan bersaing, serta terciptanya suasana kondusif untuk
pemberdayaan ekonomi rakyat melalui usaha-usaha bersama secara
berkesinambungan.
d. Etika Penegakan Hukum yang Berkeadilan
Etika penegakan hukum dan berkeadilan dimaksudkan untuk menumbuhkan
keasadaran bahwa tertib sosial, ketenangan, dan keteraturan hidup bersama hanya
dapat diwujudkan dengan ketaatan terhadap hukum dan seluruh peraturan yang ada.
Keseluruhan aturan hukum yang menjamin tegaknya supremasi hukum sejalan
dengan menuju kepada pemenuha rasa keadilan yang hidup dan berkembang di dalam
masyarakat.
e. Etika Keilmuan dan Disiplin Kehidupan
Etika keilmuan diwujudkan dengan menjunjung tingghi nilai-nilai ilmu
pengetahuan dan teknologi agar mampu berpikir rasional, kritis, logis dan objektif.

F.Pelaksanaan demokrasi di Indonesia dilaksanakan dalam berbagai kurun


waktu, yaitu:
a. Kurun waktu 1945 - 1949
Pada periode ini sistem pemerintahan Demokrasi Pancasila seperti yang diamanatkan oleh
UUD 1945 belum sepenuhnya dapat dilaksanakan karena negara dalam keadaan darurat
dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Misalnya, Komite Nasional Indonesia Pusat
(KNIP) yang semula berfungsi sebagai pembantu Presiden menjadi berubah fungsi sebagai
MPR. Sistem kabinet yang seharusnya Presidensil dalam pelaksanaannya menjadi
Parlementer seperti yang berlaku dalam Demokrasi Liberal.

b. Kurun Waktu 1949 - 1950


Pada periode ini berlaku Konstitusi RIS. Indonesia dibagi dalam beberapa negara bagian.
Sistem pemerintahan yang dianut ialah Demokrasi Parlementer (Sistem Demokrasi Liberal).
Pemerintahan dijalankan oleh Perdana Menteri dan Presiden hanya sebagai lambang. Karena
pada umumnya rakyat menolak RIS, sehingga tanggal 17 Agustus 1950 Presiden Soekarno

36
menyatakan kembali ke Negara Kesatuan dengan UUDS 1950.
c. Kurun Waktu 1950 - 1959
Pada periode ini diberlakukan sistem Demokrasi Parlementer yang sering disebut Demokrasi
Liberal dan diberlakukan UUDS 1950.
Karena Kabinet selalu silih berganti, akibatnya pembangunan tidak berjalan lancar,
masing-masing partai lebih memperhatikan kepentingan partai atau golongannya.
Setelah negara RI dengan UUDS 1950 dan sistem Demokrasi Liberal yang dialami
rakyat Indonesia selama hampir 9 tahun, maka rakyat Indonesia sadar bahwa UUDS
1950 dengan sistem Demokrasi Liberal tidak cocok, karena tidak sesuai dengan
jiwa Pancasila dan UUD 1945. Akhirnya Presiden menganggap bahwa keadaan
ketatanegaraan Indonesia membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa dan
negara serta merintangi pembangunan semesta berencana untuk mencapai
masyarakat adil dan makmur; sehingga pada tanggal 5 Juli 1959 mengumumkan
dekrit mengenai pembubaran Konstituante dan berlakunya kembali UUD 1945 serta
tidak berlakunya UUDS 1950.
d. Kurun Waktu 1959 - 1965
Pada periode ini sering juga disebut dengan Orde Lama. UUD yang digunakan adalah UUD
1945 dengan sistem demokrasi terpimpin.
Menurut UUD 1945 presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR, presiden dan
DPR berada di bawah MPR. Pengertian demokrasi terpimpin pada sila keempat
Pancasila adalah dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan, akan tetapi presiden menafsirkan “terpimpin”, yaitu pimpinan terletak di
tangan ‘Pemimpin Besar Revolusi”.
Dengan demikian pemusatan kekuasaan di tangan presiden. Terjadinya pemusatan
kekuasaan di tangan presiden menimbulkan penyimpangan dan penyelewengan
terhadap Pancasila dan UUD 1945 yang puncaknya terjadi perebutan kekuasaan
oleh PKI pada tanggal 30 September 1965 (G30S/PKI) yang merupakan bencana
nasional bagi bangsa Indonesia.
e. Kurun Waktu 1966 - 1998
Periode ini dikenal dengan sebutan pemerintahan Orde baru yang bertekad
melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Secara tegas dilaksanakan sistem Demokrasi Pancasila dan dikembalikan fungsi
lembaga tertinggi dan tinggi negara sesuai dengan amanat UUD 1945.

37
Dalam pelaksanaannya sebagai akibat dari kekuasaan dan masa jabatan presiden
tidak dibatasi periodenya, maka kekuasaan menumpuk pada presiden, sehingga
terjadilah penyalahgunaan kekuasaan, dengan tumbuh suburnya budaya korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN). Kebebasan bicara dibatasi, praktek demokrasi menjadi
semu. Lembaga negara berfungsi sebagai alat kekuasaan pemerintah.
Lahirlah gerakan reformasi yang dipelopori mahasiswa yang menuntut reformasi
dalam berbagai bidang. Puncaknya adalah dengan pernyataan pengunduran diri
Soeharto sebagai presiden.

f. Kurun Waktu 1998 - sekarang (Orde Reformasi)


Demokrasi yang dikembangkan pada masa reformasi pada dasarnya adalah
demokrasi dengan mendasarkan pada Pancasila dan UUD 1945, dengan
penyempurnaan pelaksanaannya dan perbaikan peraturan-peraturan yang tidak
demokratis, dengan meningkatkan peran lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi negara
dengan menegaskan fungsi, wewenang dan tanggung jawab yang mengacu pada
prinsip pemisahan kekuasaan dan tata hubungan yang jelas antara lembaga-lembaga
eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Demokrasi Indonesia saat ini telah dimulai dengan terbentuknya DPR - MPR hasil
Pemilu 1999 yang telah memilih presiden dan wakil presiden serta terbentuknya
lembaga-lembaga tinggi yang lain.
G.Riwayat perumusan dasar negara
Pancasila secara resmi menjadi dasar Negara Indonesia pada tanggal 18
Agustus 1945 ketika ditetapkannya Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi
negara Indonesia oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). secara rinci,
rumusan Pancasila tercantum di dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai Dasar Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
1. Proses Penyusunan dan Penetapan.
a. Pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(BPUPKI).
Pada tanggal 29 April 1945 dibentuk bPUPKI dan dilantik pada tanggal 28 Mei
1945. dengan terbentuknya badan ini, bangsa Indonesia mendapat kesempatan secara
legal untuk membicarakan dan mempersiapkan keperluan kemerdekaan Indonesia,

38
anta lain mempersiapkan Undang-Undang Dasar yang berisi antara lain dasar negara,
tujuan negara, bentuk negara, dan sistem pemerintahan.
b. Penyusunan Konsep Rancangan Dasar Negara dan Rancangan Undang-Undang
Dasar sebagai konstitusi negara Indonesia merdeka.
Pada tanggal 29 Mei s/d 1 Juni 1945 diselenggarakan sidang BPUPKI yang
pertama. Dalam sidang ini, Ketua BPUPKI dr. K.R.T Radjiman Wedyodiningrat
menyatakan kepada peserta sidang mengenai dasar falsafah apa yang akan dibentuk
bagi negara Indonesia merdeka.
a.) Mr.Muhammad Yamin. → 29 Mei 1945
~Usulan rumusan dasar negara secara lisan:
1. Peri kebangsaan
2. Peri kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri kerakyatan
5. Kesejahteraan rakyat
~Usulan rumusan dasar negara secara tertulis :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kebangsaan Persatuan Indonesia
3. Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan
5. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

b.) Prof.Dr.Mr.R.Soepomo. → 31 Mei 1945


Usulan konsep dasar negara Indonesia :
1. Paham negara persatuan
2. Hubungan negara dan agama
3. Sistem badan permusyawaratan
4. Sosialisme negara
5. Hubungan antarbangsa
c.) Ir. Soekarno. → 1 Juni 1945
Ir. Soekarno mengusulkan dasar negara Indonesia merdeka adalah Pancasila.

39
Rumusan dasar negara Indonesia :
1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau peri kemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan yang berkebudayaan
Rumusan Dasar Negara menurut Jakarta Charter (22 Juni 1945) :
1.Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-
pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

c. Sidang BPUPKI yang kedua tanggal 10 s/d 16 Juli 1945.


Pada sidang pleno kedua BPUPKI membicarakan tentang rancangan undang-
undang dasar Negara Indonesia merdeka dan berhasil membentuk panitia kecil.
Panitia Kecil yang dipimpin oleh Ir. Soekarno, bertugas merumuskan rancangan
Pembukaan undang-undang dasar yang berisi tujuan dan asas Negara Indonesia
merdeka. Panitia Kecil yang dipimpin oleh Prof.Dr.Mr.R.Soepomo, bertugas
merumuskan rancangan batang tubuh undang-undang dasar dan rancangan naskah
proklamasi.
Pada hari kelima sidang ini, yakni tanggal 14 Juli 1945 telah diterima
rancangan dasar Negara sebagaimana tersebut dalam Piagam Jakarta yang
dicantumkan dalam Pembukaan dari rencana UUD yang sedang disiapkan.
d. Penetapan UUD 1945.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, anggota PPKI bersidang menetapkan:
1. Mengesahkan pembukaan dan batang tubuh UUD 1945.
2. Memilih Ir. Soekarno sebagai Presiden RI dan Drs.Moh.Hatta
sebagai Wakil Presiden RI yang pertama.

40
Rumusan dasar Negara yang disahkan dan tercantum dalam Pembukaan UUD
1945, berbunyi sebagai berikut.
a. Ketuhanan Yang Maha Esa.
b. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
c. Persatuan Indonesia.
d. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan.
e. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
H. Hubungan Proklamasi 17 agustus 1945 dengan Pembukaan UUD 1945
Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah pernyataan kemerdekaan, sedangkan
pembukaan UUD 1945 merupakan pernyataan kemerdekaan yang terinci, memuat
pokok-pokok dari adanya cita-cita luhur bangsa Indonesia yang menjadi jiwa dan
semangat serta pendorong ditegakkannya kemerdekaan dalam bentuk NKRI yang
merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur dengan dasar pancasila, oleh karena itu
tidak dapat diubah oleh siapapun juga termasuk MPR hasil pemilu yang berdasarkan
pasal 3 dan pasal 37 UUD 1945 berarti membubarkan Negara Proklamasi 17 Agustus
1945.
Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber pendorong dan sumber cita-cita
perjuangan serta tekad bangsa Indonesia, karena didalam Pembukaan UUD 1945
telah dirumuskan secara jelas bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang bebas,
merdeka, sesuai dengan hak-haknya untuk membentuk Negara yang merdeka,
bersatu, berdaulat yang didalamnya akan diwujudkannya suatu masyarakat adil dan
makmur berdasarkan pancasila ditengah-tengah pergaulan Negara-=Negara didunia
ini berdasarkan kemrdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social, ia merupakan
landasan dan arah perjuangan bangsa.

BAB IV
SEJARAH PEMBENTUKAN DAN SIFAT
UNDANG-UNDANG DASAR 1945

Konstitusi Negara RI ialah undang-undang dasar 1945.

41
A.Sejarah pembentukan UUD 1945
1.Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan
a. Menentukan dasar Negara Indonesia
b. Membentuk panitia kecil yang menampung masalah menetukan bentuk
Negara dan hukum dasar Negara, membentuk panitia persiapan kemerdekaan
Indonesia, membicarakan soal tentara kebangsaan dan keuangan.
c. Membentuk Panitia 9 untuk merancang pernyataan kemerdekaan Indonesia.
d. Membentuk panitia perancang UUD
e. Membentuk panitia pembelaan tanah air
f. Panitia ekonomi dan keuangan
2.Panitia persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
a. Mengesahkan pembukaan
b. Mengesahkan batang tubuh isi UUD
c. Memilih presiden dan wakil presiden
d. Membentuk panitia kecil mengenai hal-hal yang memerlukan perhatian,
partai, penjelasan UUD.
Sejarah Penyusunan UUD 1945
Rumusan UUD 1945 yang ada saat ini merupakan hasil rancangan BPUPKI.
Naskahnya dikerjakan mulai dari tanggal 29 Mei sampai 16 Juli. Jadi, hanya
memakan waktu selama 40 hari setelah dikurangi hari libur. Kemudian rancangan itu
diajukan ke PPKI dan diperiksa ulang. Dalam sidang pembahasan, terlontar beberapa
usulan penyempurnaan. Akhirnya, setelah melalui perdebatan, maka dicapai
persetujuan untuk diadakan beberapa perubahan dan tambahan atas rancangan UUD
yang diajukan BPUPKI. Perubahan pertama pada kalimat Mukadimah. Rumusan
kalimat yang diambil dari Piagam Jakarta," ...dengan kewajiban menjalankan syari'at
Islam bagi pemeluk-pemeluknya" dihilangkan. Kemudian pada pasal 4. Semula hanya
terdiri dari satu ayat, ditambah satu ayat lagi yang berbunyi, "Presiden Republik
Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD". Dan, juga dalam pasal
ini semula tertulis," wakil presiden ditetapkan dua orang" diganti menjadi "satu Wakil
Presiden". Juga pada Pasal 6 ayat 1, kalimat yang semula mensyaratkan presiden
harus orang Islam dicoret. Diganti menjadi," Presiden adalah orang Indonesia asli".
Dan, kata "mengabdi" dalam pasal 9 diubah menjadi "berbakti".

42
Tampaknya, BPUPKI, Panitia Perancang UUD dan juga Muh. Yamin lalai
memasukkan materi perubahan UUD sebagaimana terdapat dalam setiap konstitusi.
Hingga sidang terakhir pada tanggal 14 Juli 1945, BPUPKI sama sekali tidak
menyinggungnya. Walaupun saat itu, sempat muncul lontaran dari anggota
Kolopaking yang mengatakan, " Jikalau dalam praktek kemudian terbukti, bahwa ada
kekurangan , gampang sekali tidak gampang, tetapi boleh diubah kalau perlu".
Usulan mengenai materi perubahan UUD baru muncul justru muncul saat menjelang
berakhirnya sidang PPKI yang membahas pengesahan UUD. Di tanggal 18 Agustus
1945 itu, Ketua Ir Soekarno mengingatkan masalah tersebut. Kemudian forum sidang
menyetujui untuk diatur dalam pasal tersendiri dan materinya disusun oleh Soepomo.
Tak kurang dari anggota Dewantara, Ketua Soekarno serta anggota Soebarjo turut
memberi tanggapan atas rumusan Soepomo. Tepat pukul 13.45 waktu setempat,
sidang menyetujui teks UUD.
Dalam pidato pe-nutupan, Ketua Ir Soekarno menegaskan bahwa UUD ini
bersifat sementara dan, "Nanti kalau kita bernegara didalam suasana yang lebih
tenteram, kita tentu akan mengumpulkan kembali Majelis Permusyawaratan Rakyat
yang dapat membuat UUD yang lebih lengkap dan lebih sempurna." Dari pidato ini,
implisit tugas yang diemban oleh UUD 1945 sebatas mengantar gagasan (konsepsi)
Indonesia masuk dalam wilayah riel bernegara. Setelah itu, akan disusun UUD baru
yang lebih lengkap dan sempurna.
Namun,dalam perjalanan selanjutnya, eksperimen ketatanegaraan tak kunjung
berhasil menetapkan UUD baru. Upaya yang dilakukan sidang Dewan Kontituante
berakhir dengan kegagalan. Walhasil, hingga 1959 belum juga mampu disusun satu
UUD baru yang lebih lengkap dan sempurna. Solusinya, UUD 1945 diberlakukan
kembali. Kesejarahan konstitusi ini, jelas mengakibatkan banyak dampak politis.
Tulisan ini membatasi diri hanya pada kajian sejarah. Utamanya yang berkait dengan
watak asali dari UUD 1945. Apakah dengan dekrit - yang melahirkan kesan
inkonsistensi sikap Soekarno, sifat kesemntaraan UUD 1945 berubah menjadi
definitif atau tetap. Satu dari dua kemungkinan yang jelas akan berakibat serius pada
perjalanan ketatanegaraan selanjutnya.
B. Pengertian Pancasila dan UUD 1945

43
Pancasila adalah landasan filosofis dari Negara Indonesia. Pancasila terdiri
dari dua kata Sansekerta yang terdapat didalam kitab Sutasoma karangan Empu
Tantular pada masa kerajaan Majapahit, yaitu Panca artinya lima, dan Sila artinya
dasar. Jadi, Pancasila itu adalah lima prinsip dasar yang terkait dan tidak dapat
terpisahkan satu sama lainnya, yaitu :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Sedangkan Undang-Undang Dasar 1945 adalah sesuatu draf yang didahului
oleh Preambul, Undang-Undang Dasar 1945 terdiri dari 37 pasal, 4 peraturan
peralihan dan peraturan tambahan. Preambul terdiri dari empat paragraf dan
mengandung kecaman terhadap penjajahan di dunia, merujuk kepada perjuangan
kemerdekaan Indonesia, deklarasi kemerdekaan, dan pernyataan tujuan dasar dan
prinsip-prinsip. Demikianlah pengertian undang-undang menurut kami.
C.Sejarah Perkembangan UUD 1945
Sejarah Tatanegara Republik Indonesia telah mencatat bahwa sejak Negara
Republik Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai dengan
sekarang, sudah tiga Undang-Undang Dasar pernah berlaku dan digunakan sebagai
landasan konstitusional Negara Republik Indonesia. Adapun tiga Undang-Undang
Dasar itu ialah: Undang-Undang Dasar 1945 yang memuat dalam berita Republik
Indonesia tahun II (1945) No. 7., halaman 45 sampai 48, berlaku mulai tanggal 18
Agustus 1945 sampai 17 Agustus 1950; kemudian berlaku kembali sejak 5 Juli 1959
sampai sekarang.
Konstitusi Republik Indonesia Serikat yang diundangkan dalam Lembaran
Negara Nomor 3 tahun 1950, berlaku mulai tanggal 27 Desember 1949 sampai 17
Agustus 1950.
Undang-Undang Dasar sementara yang diundangkan dalam Lembaran Negara
Nomor 56 tahun 1950 sebagai Undang-Undang Nomor 7 tahun 1950, yang berlaku
mulai 17 Agustus 1950 sampai 5 Juli 1959.

44
Jadi dalam sejarah konstitusi, Undang-Undang Dasar 1945 mempunyai
perkembangan yang istimewa jika dibandingkan dengan Undang-Undang Dasar lain
yang pernah berlaku di Indonesia. Keistimewaannya itu diantaranya:
Undang-Undang Dasar 1945 berlaku yang pertama kali setelah Negara Republik
Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, tepatnya berlaku sejak
tanggal 18 Agustus 1945.
Pada saat berlakunya Konstitusi Republik Indonesia Serikat (27 Desember
1949 sampai 17 Agustus 1950) tidak berarti bahwa UUD 1945 tidak berlaku lagi. Ia
tetap berlaku, malahan Undang-Undang ini memakai dengan dua konstitusi, yaitu
UUD 1945 dan Konstitusi Republik Indonesia Serikat[3].
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dapat diadakan penahapan berlakunya
Undang-Undang Dasar 1945 sebagai berikut:
1. Tahap pertama : 18 Agustus 1945-27 Desember 1949
2. Tahap kedua : 27 Desember 1949-17 Agustus 1950
3. Tahap ketiga : 5 Juli 1959-sekarang.

D.Proses Perumusan Dasar Negara Indonesia


Sejarah Pengesahan Pembukaan UUD 1945
Setelah kita amati secara teliti, historis penyusunan UUD 1945 memiliki
karakteristik yang berbeda dengan ketika disusunannya UUD 1945. Rancangan
pembukaan disusun dengan aktivitas historis yang sangat unik, seperti Undang-
undang Dasar menciptakan pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan
dalam pasal-pasalnya. Secara yuridis (hukum), pembukaan (preambule)
berkedudukan lebih tinggi dari pada UUD 1945 karena ia berstatus sebagai pokok
kaidah fundamental (mendasar) daripada Negara Indonesia, sifatnya abadi, tidak
dapat diubah oleh siapapun walaupun oleh MPR ataupun dengan jalan hukum, oleh
karena itu bersifat imperatif[4].
Historis penyusunan dan pengesahan Pembukaan UUD 1945 secara
kronologis dapat digambarkan sebagai berikut :
Tanggal 7 September 1944 adalah janji politik Pemerintahan Balatentara Jepang
kepada Bangsa Indonesia, bahwa Kemerdekaan Indonesia akan diberikan besok pada
tanggal 24 Agustus 1945.

45
Latar belakang : balatentara Jepang menjelang akhir 1944, menderita
kekalahan dan tekanan dari tentara sekutu. tuntutan dan desakan dari pemimpin
Bangsa Indonesia. Tanggal 29 April 1945 pembentukan BPUPKI oleh Gunswikau
(Kepala Pemerintahan Balatentara Jepang di Jawa). Badan ini bertugas untuk
menyelidiki segala sesuatu mengenai persiapan kemerdekaan Indonesia, dan
beranggotakan 60 orang terdiri dari para Pemuka Bangsa Indonesia yang diketuai
oleh Dr. Rajiman Wedyodiningrat, dengan wakil muda Raden Panji Soeroso dan
itibangase Yosio.
Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) Badan ini
dibentuk pada tanggal 29 April 1945 oleh Gunaaikan (kepala Pemerintahan
Balatentara Jepang di Jawa) dengan tugas untuk menyelidiki segala sesuatu mengenai
persiapan kemerdekaan Indonesia, dan kemudian dilantik pada tanggal 29 Mei 1945.
Adapun susunan Keanggotaan BPUPKI adalah sebagai berikut :
Ketua (Kaityoo) : Dokter K. R. T. Rajiman Widyodiningrat
Ketua Muda (Fuku) : Raden Panji Soeroso
Ketua Muda (Fuku) : Itibangase Yosio
Anggota-anggotanya terdiri dari :
Ir. Soekarno
Mr. Muh. Yamin
Ki. Hajar Dewantara
Drs. Muhammad Hatta
KH. Abdulhalim, dan lain-lain.
E.Pengertian, Kedudukan, Sifat dan Fungsi UUD 1945
Pengertian Hukum Dasar
UUD bukanlah hukum biasa, karena merupakan sumber hukum dari setiap
produk hukum. UUD 1945 adalah hukum dasar yang menjadi sumber dasar dari
seluruh peraturan perundang-undangan di NKRI. Pancasila merupakan sumber dari
segala sumber hukum. UUD 1945 merupakan hukum dasar tertulis.
Selain hukum dasar tertulis, juga berlaku hukum dasar tidak tertulis.

Pengertian UUD 1945


Naskah awal, yang terdiri dari: Pembukaan UUD 1945

46
Batang tubuh UUD 1945 Terdiri dari: 16 bab, 37 pasal, 4 pasal peraturan peralihan
dan 2 ayat aturan tambahan. Dan berisi 2 bagian pokok, yaitu:
1. Sistem Pemerintahan Negara
2. Hub. Negara dengan warga negara dan penduduk Indonesia.

Penjelasan UUD 1945


Amandemen UUD 1945 yang ditetapkan MPR-RI

Kedudukan UUD 1945


Cita-cita Hukum Negara Republik Indonesia (penjelasan umum No. III)
a. Hukum Dasar tertulis yakni UUD 1945
b. Hukum dasar tak tertulis (penjelasan umum No. II), 1 dan 2. Sebagai norma hukum
- UUD 1945 bersifat mengikat.
1. pemerintah
2. setiap lembaga Negara
3. setiap lembaga masyarakat
4. setiap warga negara
- Berisi norma-norma
a. harus dilaksanakan
\ b. harus ditaati
2. Sebagai hukum dasar
- UUD 1945 merupakan sumber hukum tertinggi bagi
a. produk-produk hukum
b. kebijaksanaan pemerintah
- Sebagai alat kontrol
Hukum Dasar tidak tertulis : Konvensi

Sifat UUD 1945


a. merupakan aturan-aturan pokok yang bersifat:
1. garis besar sebagai instruksi:
a. kepada pemerintah pusat dan lain-lain penyelenggara Negara

47
b. menyelenggarakan kehidupan Negara dan menyelenggarakan kesejahteraan
social
2. Penyelenggaraan aturan pokok itu dengan hukum dalam tingkat yang lebih rendah
(UU) karena lebih mudah cara:
a. membuatnya
b, mengubahnya
c. mencabutnya
b. Singkat dan supel
1. untuk dapat mengikuti dinamika kehidupan masyarakat
2. tidak lekas ketinggalan zaman
Fungsi UUD 1945
- Mengatur bagaimana kekuasaan negara disusun, dibagi dan dilaksanakan.
- Menentukan dengan jelas apa yang menjadi hak dan kewajiban negara, aparat
negara dan warga negara.
Makna pembukaan UUD 1945
- Merupakan sumber motivasi dan perjuangan serta tekad bangsa Indonesia
untuk mencapai tujuan nasional.
- Merupakan sumber cita hukum dan moral yang ingin ditegakkan.
Mengandung nilai-nilai universal dan lestari
F.Makna alinea-alinea dalam pembukaan UUD 1945
Alinea Pertama
a. Mengungkapkan suatu dalil obyektif, bahwa penjajahan tidak sesuai dengan
perikeadilan dan perikemanusiaan.
b. Mengungkapkan pernyataan subyektif, yaitu aspirasi bangsa Indonesia untuk
membebaskan diri dari penjajah.
Alinea Kedua
a. Mengungkapkan cita-cita nasional bangsa Indonesia, yaitu negara Indonesia
yang berdaulat, adil dan makmur.
b. Menunjukkan adanya ketepatan dan ketajaman penilaian.
Alinea Ketiga
a. Memuat motivasi spiritual yang luhur dan merupakan pengukuhan atas
Proklamasi kemerdekaan.

48
b. Menunjukkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Alinea Keempat
a. Menegaskan tujuan dan prinsip dasar untuk mencapai tujuan nasional.
b. Menegaskan bahwa bangsa Indonesia menpunyai fungsi yang sekaligus
menjadi tujuan.
c. Menegaskan bahwa negara Indonesia berbentuk Republik.
d. Menegaskan bahwa negara Indonesia mempinyai dasar falsafah Pancasila.
G.Pokok-pokok Pikiran Dalam Pembukaan UUD 1945
a. Negara melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia berdasarkan
Persatuan (Sila III Pancasila).
b. Negara mewujudkan Keadilan Sosial (Sila V Pancasila).
c. Negara yang Berkedaulatan Rakyat (Sila IV Pancasila).
d. Ketuhanan YME dan Kemanusiaan yang adil dan beradab (Sila I dan II
Pancasila).
Hubungan Pokok-pokok Pikiran Dalam Pembukaan UUD 1945 dengan
Batang Tubuh UUD 1945 Pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945
dijelmakan dalam pasal-pasal UUD 1945.Suasana kebatinan UUD 1945 serta Cita
Hukum UUD 1945 bersumber atau dijiwai oleh dasar falsafah Pancasila.
H.Tujuh Kunci Pokok sistem Pemerintahan Negara RI
a. Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum.
b. Pemerintahan berdasar atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat
absolutisme.
c. Kekuasaan negara yang tertinggi dilaksanakn MPR.
d. Presiden adalah penyelenggara pemerintahan negara yang tertinggi di bawah
MPR.
e. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR.
f. Menteri negara adalah pembantu presiden, menteri negara tidak bertanggung
jawab kepada DPR.
g. Kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas.
I.Hubungan Negara Dengan Warga Negara dan HAM Menurut UUD 1945
Menurut UUD 1945, hubungan negara dengan warga negara erat kaitannya
dengan hak asasi manusia.

49
Warga negara ialah orang-orang Indonesia dan orang-orang lain yang
bertempat tinggal di Indonesia, meyakini Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap
setia kepada negara RI.
Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang-orang asing yang
bertempat tinggal di Indonesia. Ikatan seseorang yang menjadi warga negara
menimbulkan suatu hak dan kewajiban.
Lambang-lambang Persatuan Indonesia
Bendera Negara Indonesia adalah Sang Merah Putih.
Bahasa negara adalah Bahasa Indonesia.
Lambang negara adalah Garuda Pancasila, dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.
Lagu Kebangsaan negara Indonesia adalah Indonesia Raya.
Perubahan UUD 1945
Untuk merubah UUD 1945 sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR harus
hadir. Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah
anggota yang hadir.
Kedudukan Aturan Peralihan Dan Aturan Tambahan
Dengan dikukuhkannya Dekrit Presiden 5Juli 1959, tentang berlakunya kembali
UUD 1945, pasal-pasal Aturan Peralihan dan Aturan Tambahan tidak berlaku lagi.
Kecuali Pasal II aturan Peralihan yang berbunyi : Segala badan negara dan peraturan
yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut UUD
ini.
J.Pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945
Makna melaksanakan pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen:
a. Secara murni, sesuai dengan jiwa dan semangatnya dan sesuai makna yang
tersirat dan tersurat secara harfiah.
b. Secara konsekuen: bersikap tetap pada norma-normanya, tidak berniat untuk
menyimpang.
K.Penyimpangan terhadap pancasila dan UUD 1945
1. Ideologi: Pancasila tidak diartikan secara utuh sebagai suatu kesatuan
melainkan diperas menjadi satu sila/dasar/inti, penetapan kondisi untuk
penerapan marxisme di Indonesia.

50
2. Politis: pemerintahan yang bersifat otoriter dan tidak dimungkinkannya suatu
control, Politik luar negeri yang tidak bebas aktif
3. Hukum: adanya produk-produk legislative yang bertentangan dengan makna
UUD 1945, diintroduksikannya gagasan hukum revolusi.
L.UUD 1945 SEBAGAI HUKUM DASAR YANG TERTULIS
a. UUD 1945 sebagai hukum dasar yang tertulis artinya sebagai hukum yang
tertinggi (tertulis)
b. UUD 1945 sebagai sumber hukum artinya semua peraturan yang berlaku
harus bersumber pada UUD 1945 dan akhirnhya harus dipertanggung
jawabkan kembali kepada UUD 1945.
c. UUD 1945 sebagai hukum yang mengikat artinya mengikat pemerintah dan
lembaga Negara, lembaga masyarakat Indonesia.
M.HUKUM DASAR TIDAK TERTULIS (KONVENSI)
Hukum dasar yang tidak tertulis dapat kita temukan pada penjelasan UUD 1945
adalah:
a. Aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek
penyelenggaraan Negara, umumnya disebut konvensi.
b. Konvensi menurut UUD 1945 harus memenuhi syarat: tidak bertentangan
dengan isi, arti, maksud UUD 1945.
c. Terjadi berulang kali dan dapat diterima oleh masyarakat.
d. Konvensi hanya terjadi pada tingkat nasional saja karena konvensi adalah
aturan dasar yang tidak tertulis.
N.GBHN Dalam UUD 1945
1. Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai haluan Negara tentang
pembangunan nasional adalah bagian dari garis-garis besar haluan Negara
sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 UUD 1945 “ Oleh karena MPR
memegang kedaulatan negara, maka kekuasaannya tidak terbatas, mengingat
dinamika masyarakat, sekali dalam 5 tahun Majelis memperhatikan segala
yang terjadi dan segala aliran-aliran pada waktu itu dan menentukan haluan-
haluan apa yang hendaknya dipakai untuk di kemudian hari.
2. GBHN adalah haluan Negara penyelenggaraan Negara dalam garis-garis besar
sebagai pernyataan kehendak rakyat secara menyeluruh dan terpadu yang

51
ditetapkan MPR untuk 5 tahun guna mewujudkan kesejahteraan rakyat yang
berkeadilan.dan berfungsi sebagai tolak ukur bagi penyelenggaraan
pemerintahan negara

BAB V
HAK ASASI MANUSIA

A.Pengertian

HAM / Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia
sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat

52
siapa pun. Sebagai warga negara yang baik kita mesti menjunjung tinggi nilai hak
azasi manusia tanpa membeda-bedakan status, golongan, keturunan, jabatan, dan lain
sebagainya.

B.Pembagian Bidang, Jenis dan Macam Hak Asasi Manusia Dunia :

1. Hak asasi pribadi / personal Right


- Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pndah tempat
- Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat
- Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan
- Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan
kepercayaan yang diyakini masing-masing

2. Hak asasi politik / Political Right


- Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan
- hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan
- Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik lainnya
- Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi

3. Hak azasi hukum / Legal Equality Right


- Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan
- Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / pns
- Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum

4. Hak azasi Ekonomi / Property Rigths


- Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli
- Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak
- Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll
- Hak kebebasan untuk memiliki susuatu
- Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak

5. Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights


- Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan

53
- Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan dan
penyelidikan di mata hukum.

6. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right


- Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan
- Hak mendapatkan pengajaran
- Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat

Hak asasi manusia, sebagaimana yang dipahami di dalam dokumen-dokumen


hak asasi manusia yang muncul pada abad kedua puluh seperti Deklarasi Universal,
mempunyai sejumlah ciri menonjol. Pertama, supaya kita tidak kehilangan gagasan
yang sudah tegas, hak asasi manusia adalah hak. Makna istilah ini tidak jelas -- dan
akan menjadi salah satu obyek penelitian saya -- namun setidaknya kata tersebut
menunjukkan bahwa itu adalah norma-norma yang pasti dan memiliki prioritas tinggi
yang penegakannya bersifat wajib.

Kedua, hak-hak ini dianggap bersifat universal, yang dimiliki oleh manusia
semata-mata karena ia adalah manusia. Pandangan ini menunjukkan secara tidak
langsung bahwa karakteristik seperti ras, jenis kelamin, agama, kedudukan sosial, dan
kewarganegaraan tidak relevan untuk mempersoalkan apakah seseorang memiliki
atau tidak memiliki hak asasi manusia. Ini juga menyiratkan bahwa hak-hak tersebut
dapat diterapkan di seluruh dunia. Salah satu ciri khusus dari hak asasi manusia yang
berlaku sekarang adalah bahwa itu merupakan hak internasional. Kepatuhan terhadap
hak serupa itu telah dipandang sebagai obyek perhatian dan aksi internasional yang
sah.

Ketiga, hak asasi manusia dianggap ada dengan sendirinya, dan tidak
bergantung pada pengakuan dan penerapannya didalam sistem adat atau sistem
hukum di negara-negara tertentu. Hak ini boleh jadi memang belum merupakan hak
yang efektif sampai ia dijalankan menurut hukum, namun hak itu eksis sebagai
standar argumen dan kritik yang tidak bergantung pada penerapan hukumnya.

Keempat, hak asasi manusia dipandang sebagai norma-norma yang penting.


Meski tidak seluruhnya bersifat mutlak dan tanpa perkecualian, hak asasi manusia

54
cukup kuat kedudukannya sebagai pertimbangan normatif untuk diberlakukan di
dalam benturan dengan norma-norma nasional yang bertentangan, dan untuk
membenarkan aksi internasional yang dilakukan demi hak asasi manusia. Hak-hak
yang dijabarkan di dalam Deklarasi tersebut tidak disusun menurut prioritas; bobot
relatifnya tidak disebut. Tidak dinyatakan bahwa beberapa di antaranya bersifat
absolut. Dengan demikian hak asasi manusia yang dipaparkan oleh Deklarasi itu
adalah sesuatu yang oleh para filsuf disebut sebagai prima facie rights.

Kelima, hak-hak ini mengimplikasikan kewajiban bagi individu maupun


pemerintah. Adanya kewajiban ini, sebagaimana halnya hak-hak yang berkaitan
dengannya, dianggap tidak bergantung pada penerimaan, pengakuan, atau penerapan
terhadapnya. Pemerintah dan orang-orang yang berada di mana pun diwajibkan untuk
tidak melanggar hak seseorang, kendati pemerintah dari orang tersebut mungkin
sekaligus memiliki tanggung jawab utama untuk mengambil langkah-langkah positif
guna melindungi dan menegakkan hak-hak orang itu. 6

Akhirnya, hak-hak ini menetapkan standar minimal bagi praktek


kemasyarakatan dan kenegaraan yang layak. Tidak seluruh masalah yang lahir dari
kekejaman atau pementingan diri sendiri dan kebodohan merupakan problem hak
asasi manusia. Sebagai misal, suatu pemerintah yang gagal untuk menyediakan
taman-taman nasional bagi rakyatnya memang dapat dikecam sebagai tidak cakap
atau tidak cukup memperhatikan kesempatan untuk rekreasi, namun hal tersebut tidak
akan pernah menjadi persoalan hak asasi manusia.

C.Pemenuhan Hak Asasi Manusia dalam Konteks Perundang-undangan


Hak Asasi Manusia adalah Seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara,
hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan
martabat manusia
[Pasal 1.1 UU No. 39 tahun 1999]
 Hak-hak yang sama dan tidak dapat dicabut kembali

 Yang berasal dari martabat yang melekat pada manusia

55
 dimiliki semua manusia

 Merupakan landasan bagi Kebebasan, Keadilan, dan Perdamaian di dunia

D.Karakteristik HAM
 Dijamin secara internasional

 Dilindungi oleh hukum

 Titik berat pada harkat & martabat mns

 Melindungi individu & kelompok

 Tidak dapat dicabut

 Setara dan inter-dependen

 Universal

Hukum dan HAM


 Sangat penting untuk melindungi HAM dengan peraturan Hukum supaya
orang tidak terpaksa memilik pemberontakan sebagai usaha terahhir
menentang tirani dan penindasan (butir 3 Mukadimah DUHAM)

Namun penyelesaian masalah HAM tidak selalu ditunjang hukum seperti


penyelesaian masalah hukum, kecuali hak-hak tertentu yang telah dirumuskan dalam
hukum, termasuk mekanismenya
Sehingga HUKUM seharusnya berfungsi sebagai

 Alat pengendalian sosial (social control)

 Alat penyelesaian sengketa (dispute settlement mechanism)

 Alat rekayasa sosial (a tool of social engineering)

Pelanggaran HAM adalah Setiap perbuatan orang/kelompok, dise-ngaja


maupun tidak, yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi,
&/menca-but HAM seseorang/ kelompok orang yang dijamin UU ini, dan tidak

56
mendapatkan penyelesaian hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme
hukum yang berlaku.

E.Landasan berpikir HAM

 Pengakuan atas harkat dan martabat yang melekat, hak-hak yang setara dan
tidak terpisahkan dari semua orang

 Pengabaian terhadap HAM telah mengakibatkan terjadinya perilaku kejam


dan tidak manusiawi

 Manusia harus dilindungi agar tidak terpaksa melakukan pemberontakan


terhadap tirani dan penindasan

 Kesetaraan antar semua manusia di muka bumi, sehingga perkembangan


sosial dan standar kehidupan yang lebih bebas dapat dicapai

 Diperlukan adanya common standard tentang HAM bagi semua orang dan
bangsa

 Setiap negara berkewajiban untuk memastikan di lindungi dan dimajukannya


HAM

Kondisi penegakan HAM di Indonesia saat ini:


 Kondisi sosial politik yang tidak menentu

 Tingginya tingkat kesenjangan ekonomi

 Tingginya tingkat korupsi

 Kelemahan proses penerapan hukum

 Belum meratanya pemahaman akan MAKNA dan IMPLMENTASI HAM


oleh para penyelenggaraan pemerintahan dan juga warga masyarakat

Instrumen Utama Nasional HAM


 Amandemen II UUD 1945

 UU no. 39 tahun 1999 tentang HAM

57
 UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadialan HAM

 UU No. 7 tahun 1984 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala


Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan

 UU no. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

HAM dalam Konstitusi


 Pasal 27 :

– hak atas persamaan kedudukan di dalam hukum & pemerintahan

– Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak

 Pasal 28 :

– hak untuk berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pikiran

– Hak untuk hidup

 Hak untuk membentuk keluarga

 Hak anak

 Hak atas pendidikan

 Hak atas jaminan dan kepastian hukum

 Hak atas pekerjaan dan gaji yang layak

 Hak turut serta dlm pemerintahan

 Hak beragama dan berkepercayaan

 Hak atas kebebasan berserikat dan berpendapat

 Hak atas informasi & untuk berkomunikasi

 Hak atas pelindungan pribadi

 Hak untuk bebas dr penyiksaan

 Hak atas kesehatan

58
 Hak untuk mempunyai hak milik pribadi

 Hak untuk bebas dari perlakuan diskriminatif

F.Ketentuan Dasar dalam UU no. 39 TAHUN 1999


 Negara mengakui dan menjunjung tinggi HAM dan kebebasan dasar manusia

 Perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan HAM trutama menjadi


tanggung jawab Pemerintah

 Setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat yang sama dan
sederajat

 Setiap orang berhak atas perlindungan HAM tanpa diskriminasi

 Kelompok masyarakat rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan


yang lebih berkenaan dengan kekhususannya

 Perbedaan dan kebutuhan masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan


dioindungi oleh Hukum, Masyarakat dan Pemerintah

Muatan HAM dalam UU no. 39 TAHUN 1999


 Pengakuan Negara akan Hak Asasi dan Kebebasan dasar manusia
(fundamental rights and freedom)

 Kewajiban dan Tanggung jawab Peme-rintah (eksekutif, legislatif, yudikatif)


untuk melindungi, memajukan, menegakkan dan memenuhi HAM

 Termasuk langkah imlementasi yang efektif dalam segala bidang

Pembatasan
Hak dan kebebasan dasar hanya dapat dibatasi:
 Oleh dan berdasarkan undang-undang

 Semata-mata untuk menjamin penga-kuan dan penghormatan terhadap HAM


dan kebebasan orang lain, juga

59
 Kesusilaan, ketertiban umum dan kepentingan bangsa.

Hak setiap individu & kelompok


 Berpartisipasi dalam perlindungan, penegakan dan pemajuan HAM

 Menyampaikan laporan mengenai pelanggaran HAM

 Mengajukan usulan mengenai perumusan dan kebijakan yang berkenaan


dengan HAM

 Melakukan penelitian, pendidikan dan penyebarluasan informasi tentang


HAM

Kelompok HAM dalam UU 39 tahun 1999


.1. Hak untuk hidup:
2. Hak berkeluarga dan melanjutkan
keturunan
3. Hak mengembangkan diri
4. Hak memperoleh keadilan
5. Hak atas Kebebasan Pribadi
6. Hak Atas Rasa Aman
7. Hak atas kesejahteraan
8. Hak turut serta dalam pemerintahan

Hak Perempuan
 Hak atas keterwakilan dalam pemilu dan kepartaian

 Hak atas kewarganegaraan bila menikah dengan warganegara lain

 Hak atas pendidikan

 Hak atas perlindungan khusus dalam pekerjaan

 Hak untuk melakukan perbuatan hukum sendiri

 Hak atas kesetaraan dalam perkawinan

 Hak-hak Anak

60
 Hak atas perlindungan

 Hak untuk hidup

 Hak atas perawatan & bantuan khusus bila mengalami cacat mental/ fisik

 Hak beragama

 Hak atas perlindungan hukum dari segala bentuk kekerasan

 Hak atas pendidikan

 Hak atas informasi sesuai dengan tingkat intelektualitasnya

 Hak bermain, berkreasi dan berekspresi

 Hak atas kesehatan

 Hak untuk dilindungi dari eksploitasi ekonomi dan seksual, perdagangan anak
dan NAPZA

 Hak untuk tidak dijatuhi hukuman mati

 Hak atas keadilan

Hak-hak ekonomi, sosial & budaya


 Hak yang setara antara perempuan dan laki-laki

 Hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak

 Hak untuk mendirikan serikat perkerja

 Hak-hak dalam keluarga & perkawinan

 Hak atas kehidupan yang layak

 Hak atas pendidikan

 Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya

Hak untuk memperoleh informasi

61
Hak-hak sipil & politik
 hak untuk menentukan nasib sendiri

 non – diskriminasi

 kesetaraan antara perempuan dan

 hak untuk hidup

 hak untuk bebas dari penyiksaan

 hak atas kebebasan dasar

 hak atas kebebasan bergerak, berpindah & bertempat tinggal

 hak atas keadilan dalam proses peradilan

 hak untuk berkeluarga

 hak untuk berkeyakinan dan beragama,

 hak untuk berkumpul dan berserikat

G.Perangkat HAM Internasional (International Bill of Human Rights)


 Universal Declaration of Human Rights/ UDHR (1948)

 International Covenant on Civil and Political Rights/ICCPR (1966)

 International Covenant on Economic, Social & Cultural Rights/ICESR (1966)

 Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against


Women/ CEDAW (1979)

 Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading


Treatment or Punishment/CAT (1984)

 International Convention on the Elimination of All Forms of Racial


Discrimination/CERD (1965)

 Convention on the Rights of the Child / CRC (1989)

Dalam Kerangka Otonomi Daerah

62
 HAM harus difahami secara utuh untuk menghindari mispersepsi akan konsep
& implementasi HAM

 Para pembuat keputusan harus terlebih dahulu memahami HAM

 Perlindungan HAM wajib diberikan pada setiap orang (non-diskriminatif)

 Upaya peningkatan HAM harus dilakukan secara progresif

UU no. 32 tahun 2004


 Memberikan keluasan kewenangan pada daerah untuk mengatur dan mengem-
bangkan diri sendiri;

 Didasarkan pada berkembangnya tuntutan untuk mengubah sistem yang


berorientasi dan beraksis ke ‘pusat’

 Namun kurang dilengkapi dengan perangkat hukum yang memadai untuk


menciptakan keadilan bagi semua (justice for all)

 Merupakan pengakuan akan adanya kebhinekaan dan potensi daerah, dan


menyadari kesalahan masa lalu untuk ‘menyeragamkan’

 Menekankan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan


dan keadilan;

 Harus difahami secara komprehensif dan bukan secara parsial

Fungsi Lembaga Publik dalam Pemenuhan HAM


 Para pimpinan (formal-informal) di daerah harus berorientasi pada HAM

 Pemenuhan HAM harus dilandasi upaya sinergistik antar lembaga publik dan
LSM

 Partisipasi publik merupakan kata kunci untuk pemberdayaan masyarakat

 Memerlukan adanya informed and educated public

Pemerintah di daerah
– Mengupayakan agar peraturan daerah selaras dengan UU nol. 39 tahun
1999

63
– Mendorong agar aparat pemerintah memahami dan berorientasi pada
HAM dalam pengambilan keputusan

– Melakukan sosialisasi pada masyarakat dan aparat mengenai HAM

– Mendorong agar kelompok2 masy. ter-utama bisnis berorientasi pada


HAM

Departemen Kehakiman dan HAM


 Mendorong pemenuhan HAM dalam pelaksanaan hukum khususnya dalam
lingkungan peradilan;

 Membangun jaringan untuk melakukan sosialisasi HAM baik dengan


pemerintah di daerah maupun kelompok masyarakat;

 Melakukan penelitian dan pengembangan bidang HAM

Komnas HAM
 Pengkajian

 Penelitian

 Penyuluhan

 Pemantauan dan

 Mediasi tentang HAM

 Serta melakukan penyelidikan dalam kasus-kasus Pelanggaran HAM Berat

Orsos/Ormas/LSM
 Mendorong dan bekerjasama dengan pemerintah melakukan upaya secara
bertahap untuk memenuhi HAM;

 Memberikan masukan dan kritik pada pemerintah dalam upaya meningkat-kan


pemenuhan HAM;

 Melakukan advokasi pada publik mengenai HAM

Upaya mendorong per-UU-an yg sinkron dan berorientasi HAM

64
 Melakukan kajian terhadap produk per-UU-an

 Menyusun & mengusulkan academic draft mengenai per-UU-an baru atau


revisi atas per-UU-an yang tidak berorientasi pada HAM

 Melakukan pelatihan pada legal drafter untuk menyusun per-UU-an yang


berorientasi pada HAM

Asas perundang-undangan
UNIVERSAL & NASIONAL
 Lex posteriori derogat legi priori

 Lex specialis derogat legi generali

 Lex superiori derogat legi inferiori

SPESIFIK
 Mengacu pada nilai-nilai dan tradisi yang positif

 Berlandaskan kebutuhan & aspirasi masyarakat lokal

H.elemen-elemen dasar bagi pembentukan institusi nasional HAM


1. Independen.
Sebuah lembaga yang efektif adalah lembaga yang mampu bekerja secara Terpisah
dari pemerintah, partai politik, serta segala lembaga dan situasi yang mungkin dapat
mempengaruhi kinerjanya. Untuk itu, pembentukan institusi nasional HAM haruslah
independen. Independen disini tidak diartikan sama sekali tidak ada hubungan dengan
pemerintah, akan tetapi dimaksudkan tidak adanya intervensi pemerintah maupun
pihak lain dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya.
2. Yurisdiksi yang jelas dan wewenang yang memadai.
3. Kemudahan Akses.
4. Kerjasama.
5. Efisiensi Operasional.
6. Pertanggungjawaban.

I.Prinsip HAM dlm Pancasila & UUD 1945

65
 Universalitas; berlaku umum

 Indivisibilitas; hak perorangan & masy. Sbg kesatuan yg tak terpisahkan.

 Objektivitas; adanya penilaian objektif atas pelaksanaan HAM di suatu


negara.

 Balance; keseimbangan antara hal individu & sosial.

 Kompetensi nasional; Pelaksanaan HAM tgjwb nas.

 Negara Hukum; pelaksanaan HAM dituangkan dlm aturan hukum.

66
67
J.PERKEMBANGAN HAM
Pengakuan terhadap HAM, diawali dgn bbrp dokumen sbb:
1. Magna Charta Inggris (1215)

- Raja tdk boleh memungut pajak tanpa meminta persetujuan Dewan Penasehat
Raja,

- Org, tdk boleh ditangkap, dipenjara, disiksa, disingkirkan /disita miliknya tanpa
cukup alasan mnrt hkm Negara
2. Hobbeas Corpus Act di Inggris (1660);

a. Jika diminta, hakim hrs dpt menunjukkan org yg ditangkapnya lengkap dgn
alasan dari penangkapan itu.

b. Org yg ditangkap hrs diperiksa maximal dlm dua hari sesudah ia ditangkap.

c. Apabila pejabat polisi menahan org, dan org tsb terbukti tdk bersalah,maka kpd
org tsb hrs dibayar.

3.. Bill of Rights di Inggris (1689);

Kekuasaan berpindah dari raja ke parlemen, dan jaminan bagi warga negara
Inggris.

4. Declaration of Independence di AS (1776)

deklarasi Proklamasi AS terkenal krn ttg pernyataan hak asasi manusia.

5. Declaration des droit de I’home me at du citoyen di Perancis (1789) yi. Pengakuan


atas HAM di Perancis.

6. Empat kebebasan Roosevelt(1941)

1. Freedom of speech and expreesion

2. Freedom of Religion.

3. Freedom of Want.

4. Freedom from Fear.

68
7. The Universal Declaration of Human Rights (1948).

K.Macam-macam HAM

Dlm The Universal Declaration of Human Rights, di cantumkan macam-macam hak


asasi:

1. Personal Rights

2. Propety Rights

3. Legal Equality of Rights

4. Political Rights

5. Judicature and Custody Rights

6. Education Rights

7. Wages and Occupation Rights

8. Social and Cultural Rights

69
BAB VI
DEMOKRASI

A. Arti Demokrasi

Terdiri dari kata “demos” = rakyat dan “kratein” = mengatur/memerintah

Formula Gettysburg dari Abraham Lincoln:“government of the people, by the people


and for the people” Artinya ada 3 unsur sentral demokrasi sebagai suatu bentuk
pemerintahan: pemerintahan berasal dari rakyat, dilaksanakan oleh rakyat, dan
untuk kepentingan rakyat

Demokrasi adalah suatu sistem penyelesaian konflik dengan cara damai melalui:

1. Perdebatan dan pembahasan di parlemen

2. Pengambilan keputusan bersama dengan cara VOTING.

Parlemen adalah wadah bagi perdebatan dan perjuangan untuk menentukan


jalan kebijakan politik di masa depan

Aktor-aktornya adalah partai politik yang saling bersaing secara damai


melalui pemilu

Menurut Henry B. Mayo, demokrasi didasari oleh beberapa nilai sbb:

1. Menyelesaikan perselisihan dgn damai dan secara melembaga

2. Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dlm suatu masyarakat yg


sedang berubah

3. Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur

Perdebatan Tentang Demokrasi


 Demokrasi merupakan sebuah sistem nilai dan sistem politik yang telah teruji
dan diakui sebagai bentuk yang paling reaslistik dan rasional untuk
mewujudkan tatanan sosial, ekonomi dan politik yang adil, egaliter dan
manusiawi.

70
 Dalam prakteknya, demokrasi pada saat ini dimanipulasi hanya sebatas
prosedural-formal, tetapi secara substansif demokarsi menjadi bias.

Apa yang dimaksud Demokrasi?


 Abraham Lincoln pada tahun 1863 merumuskan suatu demokrasi sebagai
“pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat (government of the
people, by the people ang for the people)”.

 Josef Schumpeter mendefinisikan demokrasi sebagai ”pengaturan


kelembagaan untuk mencapai keputusan-keputusan politik di dalam individu-
individu, melalui perjuangan memperebutkan suara rakyat pemilih,
memperoleh kekuasaan untuk membuat keputusan.

 Larry Diamond, Juan J Linz dan Seymor Martin Lipset memaknai demokrasi
sebagai “ suatu sistem pemerintahan yang memenuhi tiga syarat pokok:

1. Kompetisi,
2. Parisipasi politik,
3. Kebebasan sipil dan politik.
pem. oleh rakyat dg kekuasaan tertinggi di tangan rakyat dan dijalankan langsung
oleh wakil-wakil yg dipilih melalui Pemilu yg bebas

 Kedaulatan rakyat

 Kekuasaan mayoritas yg konsen dng hak2 minoritas

 Adanya jaminan HAM

 Pemilu yg bebas & jujur

 Prinsip egaliter

 Pembatasan pemerintahan scr konstitusional.

 Pluralisme sosial, ekonomi & politik.

 Nilai toleransi, kerjasama & mufakat scr optimal.

71
B.Esensi Mendasar Demokrasi
 Pemerintahan oleh rakyat baik secara langsung maupun melalui wakil-
wakilnya yang dipilih.

 Demokarsi juga bisa dimaknai sebagai bentuk masyarakat yang menghargai


hak-hak asasi manusia secara sesama, menghargai kebebasan dan mendukung
teloransi, khusunya terhadap pandangan-pandangan kelompok minoritas.

C.Beberapa model demokrasi


 Demokrasi langsung (direct democracy): Suatu bentuk pemerintahan di mana
hak untuk membuat keputusan-keputusan politik dijalankan secara langsung
oleh seluruh warga negara yang bertindak berdasarkan prosedur mayoritas.

 Demokrasi tidak langsung (indirect democracy or representative democracy):


Suatu bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusan-keputusan
politik dijalankan oleh sedikit orang yang dipilih oleh rakyat melalui
pemilihan umum.

Konsep-konsep dalam demokrasi


 Negara hukum (Rule of law)

 Kedaulatan Rakyat

 Kekuasaan mayoritas dan hak-hak minortas

 Pembatasan kekuasaan eksekutif

Nilai-nilai fundamental demokrasi


 Hak-hak asasi

 Kebebasan asasi

 Keadilan

 Persamaan

 Keterbukaan

72
D.Nilai-nilai operasional yang mendasari terciptanya demokrasi
 Menyelsaikan persoalan secara damai dan melembaga (institutionalized
peaceful settlement of conflict).

 Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam suatu masyarakat


yang sedang berubah (peaceful change n a changing cociety).

 Menyelenggarakan pergantian pemimpin secara teratur (orderly sucession of


rulers).

 Membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum (minimum of coercion).

E.Ideologi & Karakteristiknya

73
Jenis Politik Ekonomi Sos.Bud Religi

Fasisme Otokratis Korporatisme Minus kebebasan Kultus pemimpin

Rasialis negara

Theokrasi Monarkhi Distribusi dr pemimpin Moral-relijus Agama negara

Sosialisme Demokrasi-sosial Pemerataan Anti rasial -Sekuler

-Relijius

Kapitalisme Demokrasi liberal -hak pribadi Kebebasan individu Sekuler

-pasar bebas

Komunisme -totaliter -sama rata sama rasa Masyarakat tanpa kelas -tolak agama.

-dominasi negara -tolak pasar bebas -Materialisme

F.Partai Politik
 Carl. J. Friedrich: Partai politik adalah “sekelompok manusia yang
terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan

74
penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan, berdasarkan
penguasaan ini memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang
bersifat ideologis maupun materil.”

 Miriam Budiharjo (1999): Partai politik adalah suatu kelompok yang


terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai dan cita-cita
yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik
dan merebut kedudukan politik --biasanya secara konstitusional -- untuk
melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.

Prinsip yang penting:

 Partai politik harus memperlihatkan keberlanjutan dalam organisasinya.

 Sebuah partai politik adalah suatu organisasi yang masa hidupnya tidak
tergantung pada masa hidup pemimpin-pemimpinnya saat itu.

 Definisi Umum:

 Partai politik dalam arti non-hukum adalah suatu organisasi swasta yang
dibentuk oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat yang memiliki
kepentingan yang sama yang mengorganisir diri untuk mencapai tujuan
bersama.

 Berlaku untuk semua partai politik yang ada tanpa memandang kerangka
kerjanya, struktur, ideologi, budaya dan sejarah masyarakat di mana ia berada.

G. Macam-macam Demokrasi
a. Kita mengenal macam-macam demokrasi.
Dalam buku yang diterbitkan Unesco tentang Democracy in a world of
tensions, yang memuat suatu simposium atau himpunan pandangan-pandangan
para ahli di seluruh dunia, di sini Prof. Logemann memberikan sumbang annya
dengan membentangkan beberapa macam demokrasi sebagai berikut:
1) Demokrasi sederhana, yaitu demokrasi yang terdapat di desa-desa, demokrasi
berdasarkan gotong-royong dan musyawarah. Dalam melaksanakan
demokrasi sederhana selalu diadakan pembicaraan-pembicaraan,

75
berlangsung sampai terjadi kesepakatan yang bulat, sehingga dengan
musyawarah ini terdapat persamaan paham mengenai sesuatu hal guna
kepentingan bersama.
2) Yang dimaksud dengan demokrasi Barat ialah demokrasi dianut oleh
negara-negara Eropa Barat dan Amerika. Sistem demokrasi ini mendasarkan
atas liberalis-atau kemerdekaan perseorangan, yang bersifat individual.
3) Demokrasi Kapitalis
Terutama kaum komunis menyebut demokrasi Barat sebagai demokrasi
kapitalis: meskipun warga negara berhak untuk memilih dan dipilih dalam
pemilihan umum, akan tetapi kaum kapitalis ternyata telah memiliki suatu
pengaruh besar terhadap paham umum (publik opinion).

Sistem Referendum
Lain hal misalnya yang terjadi di kanton negara Swiss atau di Mir (desa) di Rusia,
dimana suara rakyat didengar dengan sistem referendum, pe- rnungutan suara
dilakukan secara langsung dengan mengumpulkan rakyat bersama di suatu tempat
tertentu.
1) Di Indonesia, referendum diadakan dalam rangka perubahan UUP 1945
berdasarkan Pasal 37 UUD 1945.
Menurut Ketetapan MPR No. I/MPR/1983 Pasal 105. apabila ada kehendak
Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk mengajukan usul Perubahan UUD
1945. maka usul tersebut harus diajukan oleh sekurang-kurangnya 4 Fraksi
seutuhnya (dalam MPR terdapat 5 Fraksi) dengan daftar nama dan tanda
tangan seluruh anggotanya.
2) Apabila kehendak untuk mengusulkan perubahan UUD 1945 disetujui oleh
MPR, maka maielis menugaskan Presiden/Mandataris untuk melaksanakan
referendum, sesuai dengan undang-undangnya.
Ketentuan tentang referendum ditegaskan lagi dalam Ketetapan MPR No.
IV/MPR/1983 tentang referendum yang menegaskan :
a) Apabila MPR berkehendak untuk mengubah UUD 1945, terlebih dahulu
harus meminta pendapat rakyat melalui referendum.

76
b) Referendum dilaksanakan oleh Presiden/Mandataris MPR yang diatur
dengan undang-undang.
3) Dengan adanva Ketetapan MPR No. 1V/MPR/1983 tentang Refe rendum, maka
kemungkinan perubahan UUD 1945 berdasarkan pasal 37 menjadi semakin kecil.
Demokrasi Timur
l) Dalam demokrasi Timur, di Rusia misalnya, manusia dianggap seba-gai alat atau
mesin yang secara otomatis dapat diubah. dididik dan dibentuk agar menjadi
manusia yang sempurna.
2) Demokrasi di Negara Komunis, Demokrasi Timur
Kaum komunis mengatakan hanya demokrasi mereka adalah yang paling murni. akan
tetapi sebcnarnva lidak demikian. Di negara komunis terdapat hanya salu partai,
sedang partai lainnya dilarang untuk berdiri. Demokrasi di negara komunis
padahakikatnyahanya'diialan-kan oleh partai komunis saja. Di dalam politbureau
duduklah para pemimpin partai komunis yang menganggap sebagai wakil kaum
proletar.
3) Tujuan Demokrasi Timur
Tujuan demokrasi Timur ini sama dengan tujuan demokrasi Barat, yaitu
menyempurnakan manusia secara perseorangan. Demokrasi Barat memandang
manusia sebagai manusia merdeka dan mempunyai zetlbstzweek; sedang demokrasi
Timur memandang manusia sebagai alat untuk disempurnakan.
4) Hakikat Demokrasi Timur
Demokrasi Timur beranggapan bahwa untuk mencapai penyempurnaan manusia
haruslah dengan jalan paksaan, dimana manusia dianggap sebagai alat mesin yang
dapat dibuat menurut kehendak pimpinan kaum komunis.
5). Demokrasi Timur menganut paham Marxisme atau wetenschappelijk socialisme
(sosialisme ilmu pengetahuan); sebagai lawan dari wetenschappelijk
socialisme ialah utopistisch socialisme (sosia-lismeutopis). Marxisme atau
wetenschappelijk socialisme berdasarkan ilmu pengetahuan tertentu. Sedang
utopistisch socialisme tidak mempunyai sandaran ilmu pengetahuan, jadi hanya
lerlelak dalam angan-angan saja.
Demokrasi Tengah

77
1 ) Yang dimaksud dengan demokrasi Tengah, fasisme dan nazisme di , Italia dan
Jerman pada masa pemerintahan Mussolini dan Hitler.
2) Manusia demokrasi Tengah
Dalam demokrasi Tengah manusia sebagai individu tidak penting, yang dipandang
penting adalah bangsa seluruhnya. Dalam masyarakat demokrasi Tengah,
manusia secara perseorangan tidak berarti sama sekali yang penting ialah bangsa
secara keseluruhan.
3) Demokrasi Tengah bertujuan bukan penyempurnaan tiap individu, akan tetapi orang
secara perseorangan tidak dianggap penting, yang dipentingkan ialah bangsa, yaitu
rakyat secara keseluruhan.
Demokrasi Terpimpin
Geleide democratie ialah demokrasi terpimpin menurut Ir. Soekarno. Sedang menurut
Dr. Moh. Hatta maksudnya demokrasi terdidik; kedua tafsiran ini arti dan maksudnya
sama saja.
Dengan demokrasi teipimpin atan demokrasi terdidik diattikan bahwa herhubung
dengan terdapatnya jarak yang memisahkan para pemimpin kaum intelek) yang
telah mampu/belum untuk demokrasi: oleh karananya untuk melaksanakan demokrasi
para pemimpin harus memimpin atau mendidik rakyat berdemokrasi.
H.Demokrasi Dalam Sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia
1. UUD 1945 dalam Pasal 1 ayat (1) menegaskan bahwa Negara Indonesia ialah negara
kesatuan yang berbentuk Republik
Pasal 1 ayat (2) menyatakan, bahwa kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan
dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.
2. Sejak awal hidup bernegara, kehidupan Demokrasi di Indonesia ("bulat air di pembuluh,
(bulat kata di mufakat") telah dirumuskan dalam UUD (Proklamasi tahun 1945 Pasal 1
ayat (21: "Kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat" (sebelum amandemen).
3. Bagi Indonesia, Demokrasi Pancasila, adalah demokrasi yang khas bagi bangsa
Indonesia sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Dasar 1945.
4. Di dalam Pembukaan UUP 1945, prinsip demokrasi dinyatakan dengan jelas dan tegas
dalam Alinea Keempat sebagai berikut: "... maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan
Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk

78
dalam i susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan
berdasar kepada; ... kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijakan dalam
parmusyawaratan/perwakilan ..."; di dalam Batang 'Tubuh, pftsal 1 ayatJ2) yang
berbunyi, "Kedaulatan ada di tangan rakyat. dan dilaksanakan menurut UUD; di
dalam Penjelasan UUP 1945 Bab Umum ditekankan bahwa salah satu pokok pikiran
yang tcrkandung dalam Pembukaan UUD adalah pokok pikiran negara yang
berkedaulatan rakyat berdasarkan kerakyatan dan permusyaratan/perwakilan. Hal ini
ditekankan lagi dalam Penjelasan Pasal 1, yaitu bahwa Pasal ini mengandung isi pokok
pikiran kedaulatan Rakyat. Di samping itu, di dalam Penjelasan Pasal 23 ayat (I)
mengenai anggaran pendapatan dan belanja dikatakan, "dalam negara demokrasi atau
dalam negara yang berdasarkan kedaulatan rakyat, seperti Republik Indonesia,
anggaran pendapatan dan belanja itu ditetapkan dengan undang-undang.
5. Pengertian demokrasi dapat dibedakan dalam dua aspek, yaitu demokrasi sebagai
substansi atau isi (pengertian materiil) dan demokrasi sebagai bentuk atau cara
pengambilan keputusan (pengertian formal).
6. Demokrasi Pancasila dalam arti substansi merupakan suatu pengertian umum dari
Demokrasi Pancasila, yakni demokrasi yang harus menyatu atau dijiwai oleh sila-
sila lainnva: demokrasi yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, demokrasi yang
berkemanusiaan yang adil dan beradab, demokrasi yang harus memperkukuh
persatuan Indonesia, dan demokrasi untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.
7. Pengertian Demokrasi Pancasila dalam arti formal sebagai bentuk atau cara
pengambilan keputusan yang lazimnya disebut demokrasi politik, pada dasarnya
tercermin dari sila ke-4: yakni kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijakan dalam
permusyawaratan/perwakilan.
8. Meskipun dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa pengambilan
keputusan oleh MPR dilakukan dengan suara terbanyak. Namun. ini tidak berarti
bahwa pengambilan keputusan itu harus melalui voting.
9. Istilah kerakyatan atau demokrasi menunjukkan bahwa segala sesuatu berasal dari
rakyat. dilaksanakan oleh rakyat. dan diperuntukkan bagi rakyat. Perwakilan
menunjukkan bahwa demokrasi yang dianut bangsa Indonesia pada dasarnya
dilaksanakan melalui wakil-wakil dari rakyat.

79
10. Pengambilan keputusan yang ditempuh melalui permusyawaratan perwakilan.
sejauh mungkin dilaksanakan untuk mencapai mufakat.
Mengenai pelaksanaan prinsip permusyawaratan untuk mufakat dan
perkembangannva sejak Demokrasi Terpimpin hingga Demokrasi Pancasila dapat
melihatnya dari TAP MPRS No. V1II/MPRS/1965 jo. TAP MPRS No. XXXV II/
MPRS/1968 jo. TAP MPRS No. V/MPRS/1973; selanjulnya Ketetapan-ketetapan
MPR tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan Rakyat TAP No.
I/MPR71973 jo. TAP MPR No. I/ MPR/1978 jo. TAP MPR No. I/MPR/1983).
11. Pelaksanaan Demokrasi Pancasila diselenggarakan dalam wujud 7 kunci pokok
sistem pemerintahan negara, seperti terdapat di dalam Penjelasan Undang-Undang
Dasar 1945, serta pelaksanaan selanjutnya didsarkan atas peraturan perundang-
undangan yang ada.
12. Salah satu wujut nyata dari pelaksanaan demokrasi adalah terselenggaranya
Pemilihan Umum memilih wakil-wakil rakyat duduk di lembaga-lembaga
perwakilan seperti MPR, DPR, dan DPRD, yang harus terlaksana secara tertib,
teratur dan adil.
13. Seperti telah disinggung di bagian muka, Demokrasi Pancasila bukan
saja berarti demokrasi politik melainkan juga mencakup demokrasi
ekonomi, dan demokrasi sosial, demokrasi untuk mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
14. Betapa pentingnya Demokrasi Pancasila bagi bangsa Indonesia terlihat pula bahwa
salah satu Asas Pembangunan Nasional di dalam Garis-garis Besar Haluan
Negara adalah Asas Demokrasi Pancasila.

I.Fungsi Partai Politik


1. Partai politik mengekspresikan suatu kehendak politik dan menyumbang pada
penyusunan dan pembahasan program-program partai, ideologi, pendapat, opsi, solusi
dan visi partai tentang perkembangan masyarakat secara umum di masa mendatang

2.Dengan melakukan hal ini, mereka membantu pengelolaan konflik yang ada yang
mencakup agravasi, eskalasi atau peleburan konflik-konflik, serta pada akhirnya
membantu penciptaan konflik-konflik baru. Melalui kontinuitas organisasinya mereka
membantu menstabilkan ketertiban politik suatu masyarakat

80
3.Partai-partai politik harus memperjuangkan dan membela kepentingan khusus
mereka dan pada saat yang sama bekerja mengupayakan pengintegrasian
kepentingan-kepentingan lain. Mereka harus mewakili kepentingan anggotanya dan
pada saat yang sama memaksimalkan jumlah suara dari masyarakat umum sehingga
juga mewakili aspirasi pemilih yang non-anggota dan publik pada umumnya. Dengan
demikian mereka membantu penyeimbangan kepentingan-kepentingan yang beragam
dan seringkali saling bertentangan itu
4. Pada tingkatan program partai politik harus maju dengan rancangan-rancangan
baru yang inovatif untuk masa depan masyarakat dan pada saat yang sama
menemukan solusi-solusi untuk masalah-masalah yang ada di dalam sistem yang
lama. Keberadaan program partai juga akan memiliki efek menanamkan semacam
disiplin dan fokus sampai tingkat tertentu dalam hal kegiatan anggota (misalnya,
program yang jelas akan mencegah anggota bekerja dan berjalan tanpa arah).

5.Partai-partai politik merupakan agen sosialisasi yang penting bagi warganegara.


Mereka membentuk dan mempengaruhi opini publik tentang gejala-gejala politik,
isu-isu dan masalah-masalah, serta memainkan peran sentral dalam diskusi-diskusi
politik dan lahirnya opini-opini. Mereka mempengaruhi dan seharusnya
mempromosikan kepentingan warganegara di dalam urusan-urusan publik serta
kesadaran politik.

BAB VII

81
BANGSA DAN NEGARA

A.Pemahaman Tentang Bangsa, Negara, Hak dan Kewajiban Warga Negara


 Pengertian Bangsa

A. Bangsa adalah orang-orang yang memiliki kesamaan asal keturunan,


adat, bahasa dan sejarah serta berpemerintahan sendiri.

B. Bangsa adalah kumpulan manusia yang biasanya terikat karena


kesatuan bahasa dan wilayah tertentu di muka bumi.

 Pengertian Negara

Negara adalah suatu organisasi dari sekelompok atau beberapa kelompok


manusia yang bersama-sama mendiami satu wilayah tertentu dan mengakui adanya
satu pemerintahan yang mengurus tata tertib serta keselamatan sekelompok atau
beberapa kelompok manusia.

 Unsur sebuah negara:

a. Konstitutif, terdiri dari: wilayah, rakyat, dan pemerintahan yang


berdaulat.

b. Deklaratif, yaitu pengakuan dari bangsa/negara lain.

B.HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA DI INDONESIA


 Pancasila merupakan pandangan hidup dan falsafah berpikir bangsa
Indonesia. Oleh karena itu, konsep tentang hak dan kewajiban warga negara
tentunya mengacu pada hal tersebut.

 Setiap Warga Negara memiliki hak yang wajib dijamin dan dipenuhi oleh
pemerintah.

 Hak seorang warga negara dibatasi oleh hak-hak yang dimiliki warga negara
yang lain, dan berpatokan pada koridor peraturan hukum yang berlaku.

 Hak-hak yang harus dimiliki warga negara pada dasarnya mencerminkan


penghormatan dan jaminan terhadap hak-hak asasi manusia, seperti:

82
 Bangsa Indonesia menghormati dan menjamin hak-hak dari warga negaranya.
Hal ini tertuang baik dalam Pancasila maupun UUD 1945, sebagaimana
berikut ini:

 Hak beragama (pasal 29 ayat 1 UUD 1945)

 Hak berpendapat, mengungkapkan pemikiran, berkumpul dan


berserikat (pasal 28 UUD 1945)

 Hak kesamaan di depan hukum dan pemerintahan (pasal 27 ayat 1


UUD 1945)

 Hak atas penghidupan yang layak (pasal 27 ayat 2 UUD 1945), dst.

 Disamping memiliki hak, warga negara tentunya juga memiliki sejumlah


kewajiban, sebagai cermin nasionalisme bahkan semangat patriotisme, seperti:

 Kewajiban untuk melakukan bela negara.

 Kewajiban untuk mematuhi peraturan dan norma yang berlaku,

 Bahkan, contoh seperti membayar pajak merupakan cermin keseharian yang


dapat memberikan ilustrasi dari kewajiban yang dimiliki seorang warga
negara.

 Warga negara yang baik merupakan warga negara yang memahami hak dan
kewajibannya, menuntut hak secara proporsional/seimbang dengan kewajiban
yang telah dijalankannya.

E.MATERI AMENDEMEN UUD 1945


1. Amandemen Pertama (1999), arahnya membatasi kekuasaan Presiden dan
memperkuat Kedudukan DPR

2. Amandemen kedua (2000), meliputi masalah wilayah negara dan Pemerintah


Daerah

3. Amandemen ketiga (2001), meliputi asas-asas Landasan Bernegara,


Kelembagaan negara dan hubungan antar lembaga negara, serta tentang
Pemilihan Umum

83
4. Amandemen keempat (2002), Ketentuan tentang Lembaga Negara,
penghapusan DPA, Pendidikan dan Kebudayaan, Perekonomian dan
Kesejahteraan Sosial.

F.LATAR BELAKANG AMANDEMEN UUD 1945


1. Sistem ketatanegaraan yang terlalu bertumpu pada MPR, berakibat pada tidak
adanya check and balance pada institusi ketatanegaraan

2. Kekuasaan presiden yang terlalu dominan (executive heavy)

3. Terdapat pasal-pasal dalam UUD 1945 yang menimbulkan multi tafsir

4. Benyaknya kewenangan presiden untuk mengatur hal penting dengan UU


(kewenangan legislasi), sehingga inisiatif pengajuan RUU selalu berasal dari
presiden

G.TUJUAN AMANDEMEN UUD 1945


1. Menyempurnakan aturan dasar tatanan negara agar mempu mencapai tujuan
nasional

2. Menyempurnakan aturan dasar mengenai pelaksanaan kedaulatan rakyat

3. Menyempurnakan aturan dasar mengenai perlindungan HAM

4. Menyempurnakan aturan dasar mengenai penyelenggaraan negara yang


demokratis dan modern

5. Menyempurnakan aturan dasar mengenai perwujudan kesejahteraan

H.POKOK-POKOK PIKIRAN BARU YANG DIADOPSI KE DALAM


KERANGKA UUD 1945
1. Penegasan dianutnya cita demokrasi dan nomokrasi secara sekaligus dan
saling melengkapi secara komplamenter;

2. Pembagian kekuasaan dan prinsip “checks and balances”

3. Pemurnian sistem pemerintah presidensial

84
4. Penguatan cita persatuan dan keragaman dalam wadah Negara Kesatuan
Republik Indonesia

I.PRINSIP DASAR KESEPAKATAN MPR dalam Amandemen UUD 1945


1. Tidak mengubah pembukaan UUD 1945

2. Tetap mempertahankan bentuk negara kesatuan RI

3. Tetap mempertegas sistem pemerintahan presidensil

4. Meniadakan penjelasan UUD 1945 dan memasukan hal-hal normatif dalam


pembukaan ke dalam pasal-pasal UUD 1945

5. Amandemen UUD 1945 dilakukan dengan cara adendum

DAFTAR PUSTAKA
Abdulkadir Besar, 2005. Pancasila, Refleksi Filsafat, Transformasi Ideologik,
Niscayaan Metoda Berpikir, Pustaka Azhary. Jakarta.

85
Eka Dharmaputera, 1982. Pancasila: Idealitas dan Modernitas, BPK Gunung Mulia.
Jakarta.

Elly M.Setiadi, 2003. Panduan Kuliah Pendidikan Pancasila untuk Perguruan Tinggi,
Gramedia. Jakarta.

Hardono Hadi, 1991. Hakikat Muatan Pancasila, Kanisius. Yogyakarta.

Kaelan, 2004. Pendidikan Pancasila, ‘Paradigma’. Yogyakarta.

Kattsoff, Louis O., 1992. Pengantar Filsafat, dierjemahkan oleh Soejono Soemargono,
cetakan kelima, Tiara Wacana. Yogyakarta.

M. Abdul Karim, 2002. Menggali Muatan Pancasila dalam Perspektif Islam, Surya
Raya dan UIN SUKA Press, Yogyakarta.

Notonagoro, 1971. Pancasila Secara Ilmiah, Pancuran Tujuh. Jakarta.

Slamet Sutrisno dan Suhadi, 1983. Bunga Rampai Pancasila, Pandangan Filsafat,
Liberty. Yogyakarta.

Sunoto, 1985. Mengenal Filsafat Pancasila III Pendekatan Melalui Etika Pancasila,
cetakan ketiga, Hanindita. Yogyakarta.

Tim PSP UGM, 2002. Pancasila sebagai Candra Jiwa Bangsa-Jurnal PSP UGM.
Yogyakarta.

Yapeta, 1995. Garuda Emas Pancasila Sakti, Yapeta. Jakarta.

Ibrahim dan Heri Santoso, 2006. Pancasila

86
Djamal,D.1986.Pokok-Pokok Bahasan Pancasila.Bandung: Remadja Karya.
Laboratorium Pancasila. 1981. Pancasila dalam Kedudukan dan Fungsinya sebagai
Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia. Surabaya: Usaha Nasional.
Tim Penulis Jurusan PMPKN. 1987. Pancasila Dasar Negara dan Pandangan Hidup
Bangsa Indonesia. Malang : IKIP Malang
Kansil,C.S.T.Prof.Drs,S.H ,Kansil S.T. Christine,S.H,M.H,2006. Modul Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan,Pradya Paramita,Jakarta Kansil,C.S.T.Prof.Drs,S.H,
1998.Sejarah Perjuangan Pergerakan kebangsaan Indonesia, erlangga, Jakarta,
Kansil,C.S.T.Prof.Drs,S.H, 1070-1985.Sistem pemerintahan di Indonesia, Aksara
Baru, Jakarta,

87