Anda di halaman 1dari 154

i

Biologi Reproduksi Ikan

buku ajar

ii
Biologi Reproduksi Ikan

Is Yuniar

Hang Tuah University Press

2017
iii
Biologi Reproduksi Ikan

Penyusun:
Is Yuniar

Perancang Sampul:
Hari Bagus Soenarja

Penerbit:
Hang Tuah University Press
Jl. Arif Rahman Hakim 150 Surabaya 60111
Telp. (031) 5945864, 5945894 Fax.(031)5946261
Http://www.hangtuah.ac.id
E-mail: yuniar_uht@yahoo.com

Cetakan:
I. Surabaya
II. Surabaya

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT)

Biologi Reproduksi Ikan/Is Yuniar

Cet.21-Surabaya: Hang Tuah University Press, 2017


ix + 138 hlm.; 14.5 x 21.5 cm

ISBN 978-979-3153-78-0
I. Biologi ReproduksiivIkan
1. Judul.
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang maha Esa atas
terselesainya penulisan buku ajar yang berjudul “BIOLOGI
REPRODUKSI IKAN”. Penulisan buku ajar ini bertujuan untuk
melengkapi bahan kuliah dalam mata Genetika & Reproduksi yang
merupakan mata kuliah prasyarat untuk mengambil mata kuliah
Manajemen Produksi Benih dan sebagai acuan bagi mahasiswa
yang ingin mendalami pengetahuan tentang kegiatan/proses
reproduksi pada ikan, diantaranya pembentukan gamet di organ
reproduksi, perkembangan gonad, dan tingkah laku ikan dalam
kegiatan reproduksinya.

Dalam proses pembuatan buku ajar ini dilengkapi dengan mind


mapping dari topik utama Biologi Reproduksi Ikan, sehingga
pembaca lebih mudah memahami alur pemikiran dan keterkaitan
antara satu bab dengan bab yang lain.

Buku ajar ini membahas tentang seksualitas ikan, menentukan jenis


kelamin ikan dari ciri-ciri seksual sekunder, tingkah laku ikan
sebelum terjadi kegiatan reproduksi, saat reproduksi (pemijahan)
dan pasca reproduksi. Habitat untuk memijah tergantung dari
masing-masing spesies ikan.

v
Dalam kegiatan manajemen pembenihan ikan mengikuti tahapan
dalam siklus hidup ikan di alam. Siklus hidup ikan meliputi stadia
induk, telur, larva, benih, juvenil, remaja, dewasa dan induk.

Dalam reproduksi ikan ini, didasarkan pengamatan / kondisi di


alam, dari literatur dan dari hasil penelitian para pelaku di bidang
perikanan.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Ir. Nuhman, M.Kes.


sebagai editor yang berperan dalam penyusunan penulisan buku
ajar ini. Penyusun juga mengucapkan terima kasih pada Hang Tuah
Press sehingga buku ajar ini diharapkan dapat tersebar lebih luas
dan dimanfaatkan lebih banyak pihak.

Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu
dalam penulisan buku ini. Akhirnya penulis mengharapkan semoga
buku ini ada manfaatnya, terutama bagi mahasiswa dan pembaca
secara umum yang interes terhadap bidang perikanan.

Surabaya, 1 April 2017

Is Yuniar

vi
KATA PENGANTAR

Reproduksi Ikan merupakan salah satu ilmu dasar untuk


mendukung pemahaman terhadap mata kuliah Manajemen
Produksi Benih Ikan. Dalam menunjang mata kuliah ini diperlukan
suatu bahan ajar untuk memudahkan mahasiswa dalam
mempelajari bidang ini.

Dengan dibuatnya Buku Ajar “Biologi Reproduksi Ikan” ini akan


menambah khasanah ilmu perikanan yang memang masih relatif
rendah.

Buku ajar ini diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami


kegiatan/proses reproduksi pada ikan. Mengingat spesies ikan
mencapai puluhan ribu (40.000 spesies) yang masing-masing
memiliki tingkah laku reproduksi yang spesifik, namun pada
prinsipnya ada golongan ikan yang memiliki kemiripan dalam
kegiatan reproduksinya.

Buku ajar ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar ikan yang


dapat memudahkan pembaca untuk memahami materi.

Diharapkan buku ajar ini, dapat sebagai bekal pengetahuan dasar


di bidang perikanan khususnya budidaya perairan, serta dipakai
untuk menyertai bahan kuliah lain.
vii
Materi dalam buku ajar ini , didasarkan pada SAP mata kuliah
Genetika dan Reproduksi sehingga dapat memfasilitasi mahasiswa
dalam mengembangkan daya nalar dan keinginan untuk selalu
mencari sumber informasi lain yang akan melengkapi
pengetahuannya.

Surabaya, 1 April 2017

Dekan FTIK

Dr.Viv Djanat Prasita, M.App.Sc

viii
DAFTAR ISI

halaman
PRAKATA ........................................................................................ iii
KATA PENGANTAR ......................................................................... vii
DAFTAR ISI ................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR .......................................................................... xii
BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................... 1
1.1. Latar Belakang .................................................................... 2
1.2 Biologi Reproduksi berkaitan dengan Fekunditas. ............... 5
1.3 Biologi Reproduksi berkaitan dengan usia/umur ertama kali
mencapai dewasa. .............................................................. 6
1.4 Biologi Reproduksi berkaitan dengan tempat pemijahan/
perkembangbiakan. ............................................................ 6
1.5. Biologi Reproduksi berkaitan dengan kelompok perkawinan8
1.6. Biologi Reproduksi berkaitan dengan Sikap induk pada anak8
1.7. Biologi reproduksi berkaitan dengan spesies/jenis ikan ....... 9
1.8. Biologi reproduksi ikan berkaitan dengan jenis kelamin ikan9
1.9. Biologi Reproduksi berkaitan dengan daur hidup ikan ....... 10
1.10. Biologi Reproduksi berkaitan dengan faktor internal dan
eksternal ........................................................................... 10
BAB II ANATOMI DAN ORGAN REPRODUKSI IKAN......................... 13
2.1 Seksualitas ........................................................................ 14
2.2. Sifat Seksual Primer........................................................... 15
2.3. Sifat Seksualitas Sekunder................................................. 18
BAB III IKAN HERMAFRODIT .......................................................... 28
3.1. Hermafrodit Sinkroni ........................................................ 29
3.2. Hermafrodit Protandri ...................................................... 29
3.3. Hermafrodit Protogini ....................................................... 30
3.4 Ikan hermafrodit .............................................................. 31

ix
BAB IV FEKUNDITAS ...................................................................... 32
4.1. Fekunditas Ikan ................................................................. 33
4.2. Macam-macam fekunditas ................................................ 33
4.3. Hubungan Fekunditas dengan ras, ukuran telur, pemijah
berganda, umur, berat. ..................................................... 36
4.3.1 Fekunditas dengan ras ............................................. 36
4.3.2 Fekunditas dengan ukuran telur .............................. 37
4.3.3. Fekunditas pemijah berganda.................................. 37
4.3.5 Fekunditas dengan berat. ......................................... 39
4.4. Sistem pengelompokkan telur ikan berdasarkan jumlah
kuning telur ...................................................................... 41
4.4.1. Oligolecithal .......................................................... 41
4.4.2. Telolecithal ............................................................. 41
4.4.3. Macrolecithal ......................................................... 41
4.5 Sifat telur .......................................................................... 42
BAB V PERKEMBANGAN GONAD .................................................. 43
5.1. Ovogenesis ....................................................................... 45
5.2. Spermatogenesis .............................................................. 55
BAB VI PEMBUAHAN.................................................................. 563
BAB VII SIKLUS HIDUP IKAN........................................................... 63
7.1. Induk ................................................................................ 64
7.2. Telur (Zigot) = embrio........................................................ 65
7.3. Larva ................................................................................. 67
7.4. Benih ................................................................................ 69
7.5. Juvenil ............................................................................... 69
7.6. Dewasa .............................................................................. 70
BAB VIII SIKLUS REPRODUKSI IKAN................................................. 71
8.1. Siklus Pemijahan ................................................................ 71
8.2. Siklus Reproduksi Tahunan Ikan ......................................... 72
8.3. Musim Pemijahan .............................................................. 73
8.4. Interaksi gonad, lingkungan dan sistem hormon................. 78
8.5. Hubungan Siklus Pemijahan dengan Lingkungan ................ 78

x
BAB IX TINGKAH LAKU PEMIJAHAN IKAN ...................................... 83
9.1. Tingkah laku pemijahan ikan ............................................. 84
9.2. Pra Pemijahan ................................................................... 84
9.3. Pemijahan......................................................................... 85
9.4. Pasca Pemijahan ............................................................... 86
9.5. Komponen yang terlibat dalam reproduksi ikan ................ 86
9.6. Feromon ........................................................................... 89
9.7. Pengenalan Seks dan Perubahan Tingkah Laku Seksual ..... 89
BAB X POLA PEMIJAHAN IKAN..................................................... 93
10.1. Pola Pemijahan (Reproduksi) Ikan .................................... 94
10.2. Kesempatan Melakukan Pemijahan.................................. 94
10.3. Pasangan dalam Pemijahan.............................................. 97
10.4. Jenis Kelamin Ikan ............................................................ 98
10.5. Partenogenetik ................................................................. 99
10.6. Karakteristik Jenis Kelamin Sekunder ................................ 99
10.7. Persiapan Sarang Pemijahan ........................................... 100
10.8. Tempat Terjadinya Pembuahan....................................... 100
10.9. Pengasuhan oleh Induk ................................................... 100
10.10Habitat Pemijahan ......................................................... 100
BAB XI IKAN AIR TAWAR ............................................................ 103
11.1. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) ............................ 103
11.2. Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum) ........... 107
11.3 Ikan Tawes (Barbodes gonionotus) ................................. 110
11.4 Ikan Patin (Pangasius sp) ................................................ 114
11.5. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) .................................... 118
11.6 Ikan Cupang (Betta sp.) .................................................. 123
11.7. Ikan Lele (Clarias sp.)...................................................... 127
11.8. Ikan Sepat Siam (Trichogaster pectoralis) ............................ 131

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Mind Mapping Biologi Reproduksi Ikan ................ 12


Gambar 2.1. Anatomi dan morfologi organ reproduksi ikan lele15
Gambar 2.2. Organ reproduksi ikan jantan . ............................. 17
Gambar 2.3. Ikan Nila (atas) dan Nila betina (bawah) ............... 19
Gambar 2.4. Ikan Rodeus amarus dengan ovipositornya .......... 20
Gambar 2.5. Ikan Nocomis biguttatus ...................................... 21
Gambar 2.6. Ikan Semotilus atromaculatus jantan ................... 21
Gambar 2.7. Ikan Amia calva (tanda bulatan hitam) ............... 222
Gambar 2.8. Ikan Gambusa afinis ............................................. 22
Gambar 2.9. Ikan Elasmobranchii jantan .................................. 23
Gambar 2.10. Ikan Lebistes ........................................................ 23
Gambar 2.11. Ikan Ceratias sp (deep-sea angler fish) ................. 24
Gambar 2.12. Ikan Xiphophorus (atas betina)............................ 25
Gambar 3.1. Ikan Serranus cabrilla ........................................... 29
Gambar 3.2. Ikan kakap putih (Lates calcarifer) ....................... 30
Gambar 3.3. Belut sawah (Monopterus albus). ......................... 30
Gambar 5.1. Oogenesis dan spermatogenesis .......................... 54
Gambar 6.1. Zigot hasil pembuahan ......................................... 56
Gambar 6.2. Perkembangan embrio pada ikan......................... 61
Gambar 7.1. Perkembangan Telur ikan Trout ........................... 67
Gambar 9.1. Intervensi lingkungan dalam kegiatan pemijahan . 87
Gambar 9.2. Peran hormon dalam proses ovulasi .................... 88
xii
Gambar 9.3. Kegiatan Parental Care/Pengasuhan dari induk .... 91
Gambar 10.2 Ikan Lamprey (Petromyzon) ................................. 95
Gambar 10.3. Ikan knifefish (Ikan belida) ................................... 95
Gambar 10.4. Ikan Rivulines ...................................................... 96
Gambar 10.5. Ikan Lungfish/ Ikan paru paru .............................. 96
Gambar 10.6 Perkembangan telur pada GVBD ........................ 103
Gambar11.1. Ikan Gurami (Osphronemus guramy).................. 103
Gambar 11.2. Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum)107
Gambar 11.3. Ikan Tawes (Barbodes gonionotus) ..................... 110
Gambar 11.4. Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) ............... 114
Gambar 11.5. Ikan Nila (Oreoshromis niloticus) ........................ 118
Gambar 11.6. Ikan Cupang (Betta splendens) ........................... 123
Gambar 11.7. Ikan lele (Clarias sp) ........................................... 127

xiii
xiv
BAB I
PENDAHULUAN

Kerangka Isi
Buku Ajar Biologi Reproduksi Ikan ini menjelaskan berbagai aspek
yang berperan dalam reproduksi ikan, baik faktor internal dan
eksternal. Faktor internal meliputi seksualitas ikan, perkembangan
gonadnya, dan faktor eksternal meliputi lingkungan yang
berpengaruh terhadap kegiatan reproduksi meliputi: keberadaan
lawan jenis, suhu, aroma tanah, substrat. Secara alami ikan
memiliki suatu kebiasaan/ tingkah laku spesifik menjelang kegiatan
reproduksi/ perkawinan. Pada prapemijahan, ada ikan yang
melakukan pembuatan sarang, yang dilakukan oleh si jantan, pada
pasca pemijahan, ada ikan yang melakukan penjagaan dan
pembersihan terhadap telur-telur yang telah dibuahi dsb.

Standar Kompetensi :
Setelah mempelajari buku ini diharapkan pembaca mampu
memahami aspek-aspek yang g berperan dalam kegiatan
reproduksi ikan, secara internal, eksternal dan tingkah laku dalam
reproduksi ikan menjelang pemijahan, selama pemijahan dan pasca
pemijahan.

1
Kompetensi Dasar:
Setelah membaca buku ini pembaca mampu menjelaskan proses
reproduksi pada ikan dan faktor-faktor yang mempengaruhi
kegiatan reproduksinya hingga 90% benar.

Indikator:
Dapat mendiskripsikan kegiatan reproduksi pada ikan dan
mengkomunikasikan keterkaitan faktor-faktor yang terlibat dalam
kegiatan reproduksinya.

1.1. Latar Belakang


Ikan adalah salah satu hewan air yang sama dengan makhluk hidup
lain yaitu melakukan reproduksi untuk meneruskan keturunan agar
spesies ikan tersebut tidak punah.

Pada ilmu perikanan, sistem reproduksi pada ikan jauh berbeda


dengan sistem reproduksi hewan pada umumnya, mengingat
reproduksi ikan terjadi pada perairan sehingga memiliki keunikan
diantaranya tingkah laku ikan menjelang pemijahan.

2
Ikan tergolong vertebrata, bersifat poikilotermik (berdarah dingin)
yang hidup di air dan bernafas dengan insang. Golongan ikan ini
memiliki jenis yang beraneka ragam, ada yang menyebutkan 27.000
spesies di seluruh dunia, bahkan ada yang memperkirakan sebesar
40.000 jenis.

Dari spesies ikan yang begitu besar, perlu untuk meneruskan keturunannya. Di
alam, masing-masing spesies akan memijah dengan spesiesnya sendiri. Dalam
hal ini si ikan memiliki insting untuk dapat menemukan pasangannya.

Apa itu Reproduksi?


Reproduksi adalah suatu proses biologis dalam memproduksi
organisme baru. Dalam hal ini sebagai cara dasar mempertahankan
diri yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan; setiap individu
organisme adalah sebagai hasil dari suatu proses reproduksi oleh
pendahulunya.
Reproduksi adalah proses alam dalam usaha pengabadian spesies
dan proses pemunculan spesies dengan ciri atau sifat yang
merupakan kombinasi perubahan genetik.
Reproduksi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan
keturunan sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya atau
kelompoknya. tidak setiap individu mampu menghasilkan
keturunan, tetapi setidaknya reproduksi akan berlangsung pada
sebagian besar individu yang hidup di permukaan bumi ini. Kegiatan
reproduksi pada setiap jenis hewan air berbeda-beda, tergantung
kondisi lingkungan tertentu setiap tahun.

3
Ikan memiliki variasi yang luas dalam strategi reproduksi agar
keturunannya mampu bertahan hidup.

Ada tiga strategi reproduksi yang paling menonjol : 1) memijah


hanya bilamana energi (lipid) cukup tersedia : 2) memijah dalam
proporsi ketersediaan energi : dan 3) memijah dengan
mengorbankan semua fungsi yang lain, jika sesudah itu individu
tersebut akan mati.

Berdasarkan ketiga strategi itu, maka ikan memiliki ukuran dan


jumlah telur yang berbeda, tergantung tingkah laku dan habitatnya.
Sebagian ikan memiliki jumlah telur yang banyak, namun ukurannya
kecil, sebagai konsekuensi dari sintasan yang rendah. Sebaliknya,
ikan yang memiliki jumlah telur yang sedikit, ukuran atau diameter
setiap telurnya dipastikan akan berukuran besar, dan kadang
memerlukan perawatan yang lebih dari induknya.

Berdasarkan strategi reproduksi yang dimiliki oleh ikan maka


dikenal tipe reproduksi sexual dengan fertilisasi internal dan
reproduksi sexual dengan fertilisasi eksternal.

Reproduksi seksual dengan fertilisasi internal, dilakukan dengan


menempatkan sperma ke dalam tubuh betina sehingga mengurangi
kemungkinan kekeringan atau mengatasi kekurang dekatan sperma
dan telur sehingga fertilisasi dapat berlangsung, sedangkan

4
fertilisasi eksternal, merupakan penggabungan dua gamet ( sperma
dan telur ) di luar tubuh masing-masing induk secara terkoordinasi.

1.2 Biologi Reproduksi berkaitan dengan Fekunditas.


Berapa banyak telur yang dapat dihasilkan dan seberapa ukuran
telur yang mampu dihasilkan oleh seekor induk ikan? Tergantung
spesies. Jumlah atau banyaknya telur yang dihasilkan setiap kg
berat badan ikan disebut fekunditas relatif.
Ukuran telur ikan digolongkan menjadi 3 yaitu :
1. Telur ukuran kecil dengan garis tengah 0,3 – 0,5 mm,
fekunditasnya biasanya banyak (100.000 – 300.000 butir) dan
tingkat kepedulian induknya kecil (negative parental care).
Contohnya : ikan bandeng (Chanos chanos), ikan tawes
(Punctius gonionotus), ikan tuna (Thunnus sp), dll.
2. Telur ukuran sedang dengan garis tengah 0,8 – 1,1 mm,
fekunditasnya sedang (100.000 – 300.000 butir) dan tingkat
kepedulian induknya sedang. Contohnya : ikan manvis
(Pterophylum spp), ikan discus (Symphysodon discus).
3. Fekunditasnya kecil (5.000 – 50.000 butir) dan tingkat
kepedulian induk besar (Positive parental care). Contohnya :
ikan gurame (Osphronemus gouramy), ikan lele (Clarias spp),
ikan nila (Tilapia niloticus), ikan mujair (Tilapia mossambica).

5
1.3 Biologi Reproduksi berkaitan dengan usia/umur pertama kali
mencapai dewasa.
Tiap spesies ikan mencapai tahap kedewasaan (mencapai
kematangan gonad pertama kali, pada umur yang berbeda-beda).
Demikian juga pada spesies yang sama, antara jantan dan betina
mencapat tingkat kedewaasaan juga berbeda-beda. umumnya ikan
jantan lebih cepat mencapai kedewasaan daripada ikan betina.
Sebagai contoh, pada ikan mas jantan kurang dari 1 tahun sudah
mencapai dewasa, sedangkan ikan betina dewasa pada usia 1,5
tahun.

1.4 Biologi Reproduksi berkaitan dengan tempat pemijahan/


perkembangbiakan.
Spesies ikan akan melakukan aktivitas mempersiapkan tempat
pemijahannya. Sesuai dengan kebiasaannya di alam, induk ikan
akan mencari tempat yang dapat menjamin keturunannya
mendapatkan tempat yang aman. Diantara kegiatan persiapan
tersebut a.l.:
a. Membuat lubang di permukaan
Membuat lubang di permukaan dengan tujuan agar anaknya
mudah mendapatkan udara. Contoh: ikan lele, membuat lubang
dekat dengan permukaan. Induk jantan dan betina akan
menjaga lubang tersebut. Ikan lele melakukan pemijahan
secara berpasangan dan menjaga telurnya.
b. Membuat lubang di dasar
Ikan sapu sapu (sucker mouth) melakukan kegiatan membuat
lubang di dasar sebelum melakukan pemijahan.

6
c. Mencari daerah bervegetasi
Pada ikan yang sifat telurnya menempel, memerlukan media
untuk menempelkan telurnya, Sebagai contohnya adalah ikan
mas.
d. Membuat sarang di dasar
Sebagai contoh adalah ikan mujair dan tilapia
e. Di kolom air
umumnya pada ikan air laut.
f. Membuat sarang mirip sarang burung
Sebagai contoh ikan gurame. Ikan jantan gurame akan
melakukan kegiatan pembuatan sarang yang terdiri dari akar-
akar pohon kelapa, rumput-rumput kering dan sebagainya,
sehingga terbentuk sarang, mirip sarang burung.
g. Pada genangan baru yang timbul karena musim penghujan
(jadi daerah banjiran).
i. Pada tempat yang ada aliran air, contohnya nilem, tawes.
j. Pada dasar perairan, contohnya ikan sapu-sapu yang
membuat lubang di dasar kolam/seperti terowongan.
k. Di permukaan, dengan membuat sarang di permukaan,
misalnya ikan sepat
l. Di lubang-lubang di tepi perairan, contohnya ikan lele, ada
juga , berupa lubang-lubang yang dibuat oleh ikan jantan,
contolnya ikan tilapia. Ikan gurame membuat sarang di
tepi kolarn di tempat lain yang dibuat dari rumput kering
yang disusun seperti sarang burung manyar. Yang jantan
yang membangun dan seekor jantan dapat melayani
beberapa betina.

7
m. Di daerah yang bervegetasi air, ikan-ikan yang bisa
menempelkan telur di daerah vegetasi, misalnya ikan mas,
cat fish europian (Pangasius) memiliki telur dengan daya
rekat tinggi.
1.5. Biologi Reproduksi berkaitan dengan kelompok perkawinan
1. Ada ikan yang memijah secara berpasang-
pasangan (Lele dan gurame)
2. Ikan memijah secara beramai-ramai (massal)
contohnya ikan mas, nila, tawes.

1.6. Biologi Reproduksi berkaitan dengan Sikap induk pada anak


1. parental care
Ikan yang tergolong parental care umumnya tidak hanya
melindungi dari gangguan musuh tetapi juga sambil
menyediaan lingkungan yang sebaik mungkin untuk anak
yang sedang dilindungi. Misalnya mengibas-ibaskan sirip
ekor sehingga dapat meningkatkan oksigen terlarut,
meletakkan telur dalam sarang, dll.
Biasanya jumlah telur-telur yang induknya melakukan
parental care dicirikan dengan jumlah telur relatif sedikit,
sehingga untuk mempertahankan jumlah larva, anak ikan
yang hidup, si induk melakukan parental care
2. Non parental care
Pemeliharaan diserahkan pada lingkungan. Biasanya induk
yang cenderung non parental care sangat selektif terhadap
musim dan tempat. Biasanya tidak memijah pada musim

8
kemarau tetapi pada musim hujan, karena pada musim
hujan, areal terendam lebih luas, banyak tersedia pakan
alami sehingga anak-anak ikan/ larva mendapat jaminan
hidup yang baik dari lingkungannya. Golongan ikan yang
non parental care dicirikan dengan jumlah telur yang relatif
banyak. Contoh ikan tawes 1 jt/kg BB induk, mas 80.000-
100.000/kg BB induk.

1.7. Biologi reproduksi berkaitan dengan spesies/jenis ikan


Pengenalan jenis ikan berdasarkan ciri-ciri morfologi
penting dipahami. Untuk menghindari kesalahpahaman
terhadap jenis ikan perlu menggunakan nama ilmiah. Pada
ikan dengan spesies yang berbeda mempunyai kebiasaan
yang berbeda. Tanda-tanda pengenalan jenis harus
dicocokkan dengan anatomi dan morfologi dari sesuatu
jenis ikan yang akan dipelajari, agar nama jenis (spesies)
nya tidak salah. Disusul dengan pembedaan ikan jantan dan
betinanya. Kesalahan dalam membedakan jenis kelamin
dalam suatu spesies, akan menyebabkan kegagalan dalam
perkawinannya kelak.

1.8. Biologi reproduksi ikan berkaitan dengan jenis kelamin ikan.


Umumnya ikan jantan memiliki warna yang lebih cerah
dibanding ikan betina, hal ini sebagai upaya untuk menarik
perhatian lawan jenisnya. Antara ikan jantan dan ikan

9
betina dalam satu spesies dapat dibedakan dari morfologi
tubuhnya, yang dikatakan sebagai sexual dimorfisme.

1.9. Biologi Reproduksi berkaitan dengan daur hidup ikan


Pemahaman terhadap daur hidup spesies ikan yang terjadi
di alam aslinya akan membantu memahami kondisi
lingkungan yang dibutuhkan pada sebagian atau seluruh
daur hidupnya. Sebagai contoh: Ikan sidat sebagai ikan
anadromus, ketika musim pemijahan akan kembali ke laut
dalam.

1.10. Biologi Reproduksi berkaitan dengan faktor internal dan


eksternal
Di alam, ikan akan melakukan kegiatan reproduksi
tergantung musim, biasanya pada awal musim hujan.
Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi ikan
melakukan kegiatan reproduksi diantaranya adalah faktor
lingkungan meliputi: salinitas, cahaya, suhu, hujan,
fotoperiode (lamanya periode terang dan gelap), kualitas
air (pH, kesadahan), keberadaan substrat.
Faktor internal meliputi faktor genetik, cukup umur (telah
mencapai tingkat kedewasaan), kecukupan hormon
gonadotrophin, kelengkapan organ reproduksi, dan sehat.
Faktor internal dan eksternal akan bersinergi untuk
memberi sinyal kepada hipothalamus untuk merangsang
hipofisa menghasilkan hormon gonadotropin. Kebutuhan
hormon untuk dapat berlangsungnya kegiatan

10
bereproduksi merupakan interaksi dari faktor lingkungan,
sistem syaraf dan sistem hormon.

Rangkuman
Reproduksi adalah suatu proses biologis dalam memproduksi
organisme baru. Reproduksi adalah suatu proses biologis dalam
memproduksi organisme baru. Reproduksi pada ikan dipengaruhi
faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi:
perkembangan gonad, seksualitas ikan sedangkan faktor eksternal
meliputi keberadaan lawan jenis, suhu, daerah pemijahan,
keberadaan substrat.

Tes
1. Apa tujuan ikan melakukan reproduksi?
2. Jelaskan mekanisme proses reproduksi pada ikan dengan
melibatkan faktor internal dan eksternal?

Daftar Pustaka

Woynarovich E, Horvath L. 1980. The Artificial Propagation of


Warm Water Finfishes. A Manual Extension. Food And
Agriculture. Organization of The United Nation.
Basuki, F. 1999. Dasar-Dasar Teknik Pembenihan Ikan. Badan
Penerbit Universitas Diponegoro (Edisi Satu).
Yamashita, M. 2000. Toward modeling of a general mechanism of
MPF Formation during oocyte maturation in vertebrates.
Zooll Sci 17 : 841-851.
Nagahama, Y 1997. I7α,20β-dihydroxy-4-pregnen-3-one, a
maturation-inducing hormone in fish oocytes . Mechanisms
of synthesis and action. Steroid 62 : 190-196
11
Gambar 1.1. Mind Mapping Biologi Reproduksi Ikan

12
BAB II
ANATOMI
DAN ORGAN REPRODUKSI IKAN

Standar Kompetensi:
Setelah mempelajari bab ini diharapkan pembaca mampu
memahami anatomi dan morfologi organ reproduksi ikan jantan,
dan ikan betina. Dapat membedakan jantan dan betina
berdasarkan ciri seksual primer dan sekunder

Kompetensi Dasar:
Setelah membaca bab ini pembaca mampu menjelaskan perbedaan
anatomi dan morfologi organ reproduksi pada ikan jantan dan ikan
betina hingga 90% benar.

Indikator:
Dapat mendiskripsikan ciri-ciri ikan jantan dan ikan betina
berdasarkan anatomi dan organ reproduksiny, dan keterkaitan ciri-
ciri seksual primer dan sekunder.

13
2.1 Seksualitas

Sebagian besar spesies ikan adalah gonokoristik (dioecious), di


mana sepanjang hidupnya memiliki jenis kelamin yang sama.
Gonokoristik terdiri atas dua kelompok: 1) kelompok yang tidak
berdifferensiasi, artinya pada waktu juvenil, jaringan gonad dalam
keadaan belum dapat di identifikasi (jantan atau betina) ; 2)
kelompok yang berdiffrensiasi artinya sejak stadia juvenil sudah
tampak jenis kelamin ( jantan atau betina).

Secara umum seksualitas ikan dibedakan: Ikan jantan, ikan betina.


Ikan jantan dicirikan dengan kemampuan ikan untuk menghasilkan
gamet jantan (spermatozoa) dan Ikan betina dicirikan dengan
kemampuan ikan untuk menghasilkan gamet betina (ovum). Untuk
membedakan ikan jantan dan ikan betina dapat secara langsung
melihat organ reproduksinya dengan cara membedah dan melihat
gonad yang dimiliki ikan. Umumnya gonad ikan bentuknya
memanjang, longitudinal dan berjumlah satu pasang, terletak di
bawah gelembung renang. Pada beberapa ikan golongan catfish
gonad jantan berbentuk pipih seperti pita dan bergerigi, sehingga
bila dilakukan striping pada ikan jantan, sperma (milt) sulit keluar.
Pada ikan mas gonad ikan jantan berbentuk seperti tabung,
sehingga mudah keluar.
Secara tidak langsung untuk menentukan jenis kelamin dengan
melihat ciri-ciri seksual sekunder, yaitu terhadap performa ikan
dengan melihat warnanya, ukuran, dan ciri-ciri lain yang dimiliki.

14
2.2. Sifat Seksual Primer
Sifat seksual primer pada ikan tandai dengan adanya organ yang
secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu
ovarium dan p embuluhnya pada ikan betina, dan testis dengan
pembuluhnya pada ikan jantan. Dilakukan dengan cara membedah
rongga perut, hingga dapat ditemukan gonad jantan (testis) dengan
salurannya atau gonad betina (ovarium) dan salurannya.

Gambar 2.1. Anatomi dan morfologi organ reproduksi ikan lele

Alat kelamin betina, yaitu ovarium. Ovarium pada Elasmoranchi


padat, tapi kurang kompak, terletak pada anterior rongga
abdomen. Pada saat dewasa yang berkembang hanya ovarium
kanan. Pada Teleostei tipe ovariumnya sirkular dan berjumlah
sepasang.

Saluran reproduksi Elasmoranchi berjumlah sepasang, bagian


anteriornya berfusi yang memiliki satu ostium yang dikelilingi oleh
fimbre-fimbre.

15
Oviduk ikan, sempit pada bagian anterior dan posteriornya.
Pelebaran selanjutnya pada uterus yang bermuara di kloaka. Pada
teleostei punya oviduk pendek dan berhubungan langsung dengan
ovarium. Pada bagian posterior bersatu dan bermuara pada satu
lubang.

Alat kelamin jantan meliputi kelenjar kelamin dan saluran kelamin.


Kelenjar kelamin jantan disebut testis. pembungkus testikular yang
mengelilingi testis, secara luas menghubungkan jaringan-jaringan
testis, membentuk batasan-batasan lobular yang mengelilingi
germinal epitelium. Spermatozoa dihasilkan dalam lobul yang
dikelilingi sel-sel sertoli yang mempunyai fungsi nutritif.

Saluran sperma terdiri dari dua bagian : pertama berbatasan


dengan testis, berguna untuk membuka lobul ( juxta testicular part)
dan bagian lainnya adalah saluran sederhana yang menghubungkan
bagian posterior testis ke genital papila. pada beberapa ikan,
misalnya pada ikan salmon, tidak memiliki kantong seminal, tetapi
bagian luar saluran sperma terdapat sel-sel yang berfungsi
mengatur komposisi ion-ion seminal dan mengekresi hormon.

16
sumber: australia,useum. australianmuseum.net.au
Gambar 2.2. Organ reproduksi ikan jantan (testis dan salurannya).

Testis adalah organ reproduksi jantan yang terdapat berpasangan


dan terletak di bawah tulang belakang. Testis ikan berbentuk
seperti kantong dengan lipatan-lipatan, serta dilapisi dengan suatu
lapisan sel spermatogenik (spermatosit).

Sepasang testis pada jantan tersebut akan mulai membesar pada


saat terjadi perkawinan, dan sperma jantan bergerak melalui vas
deferens menuju celah/ lubang urogenital.

Testis berjumlah sepasang, digantungkan pada dinding tengah


rongga abdomen oleh mesorsium. Bentuknya oval dengan
permukaan yang kasar. Kebanyakan testisnya panjang dan
seringkali berlobus.

17
Saluran reproduksi, pada Elasmoranchi beberapa tubulus mesonefrus, bagian
anterior akan menjadi duktus aferen dan menghubungkan testis dengan
mesonefrus, yang disebut dutus deferen. Bagian posterior duktus
aferen berdilatasi membentuk vesikula seminalis, dari sini akan
terbentuk kantung sperma.

Dutus deferen akan bermuara di kloaka. Pada Teleostei saluran


dari sistem ekskresi dan sistem reproduksi menggunakan lubang
yang sama.

2.3. Sifat Seksualitas Sekunder


Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai
untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina. Satu spesies ikan
yang mempunyai morfologi yang dapat dipakai untuk
membedakan jantan dan betina dengan jelas, maka spesies itu
bersifat seksual dimorfisme. Namun, apabila satu spesies ikan
dibedakan jantan dan betinanya berdasarkan perbedaan warna,
maka ikan itu bersifat seksual dikromatisme.

Pada umumnya ikan jantan mempunyai warna yang lebih cerah dan
lebih menarik dari pada ikan betina.

18
Gambar 2.3. Ikan Nila (atas) dan Nila betina (bawah)

Pada dasarnya sifat seksual sekunder dapat dibagi menjadi dua


yaitu :
a) Sifat seksual sekunder yang bersifat sementara, hanya muncul
pada waktu musim pemijahan saja. Misalnya “ovipositor”, ikan
Rhodeus amarus yaitu alat yang dipakai untuk menyalurkan telur ke
bivalvia, adanya semacam jerawat di atas kepalanya pada waktu
musim pemijahan.

19
Sumber: dita2indesign.sourceforge.net

Gambar 2.4. Ikan Rodeus amarus dengan ovipositornya

Banyaknya jerawat dengan susunan yang khas pada spesies


tertentu bisa dipakai untuk tanda menentukan spesies, contohnya
ikan Nocomis biguttatus dan Semotilus atromaculatus jantan.

20
Sumber: gallery.nanfa.org
Gambar 2.5. Ikan Nocomis biguttatus

Sumber: fish.dnr.cornell.edu

Gambar 2.6. Ikan Semotilus atromaculatus jantan

b) Sifat seksual sekunder yang bersifat permanen atau tetap, yaitu


tanda ini tetap ada sebelum, selama dan sesudah musim
pemijahan. Misalnya tanda bulatan hitam pada ekor ikan Amia
calva jantan, gonopodium pada Gambusia affinis, clasper pada

21
golongan ikan Elasmobranchia, warna yang lebih menyala pada ikan
Lebistes, Beta dan ikan-ikan karang, ikan Photo cornicus yang
berparasit pada ikan betinanya dan sebagainya.

Sumber: briancoad.com
Gambar 2.7. Ikan Amia calva (tanda bulatan hitam)

Sumber; pinalcountyaz.gov
Gambar 2.8. Ikan Gambusa afinis

22
Gambar 2.9. Ikan Elasmobranchii jantan

Sumber: Britannia.com
Gambar 2.10. Ikan Lebistes sp.

23
Ciri seksual sekunder terdiri dari 2 jenis:
a. Tidak berhubungan dengan kegiatan reproduksi
Contoh:
- Bentuk tubuh (ukuran ikan betina lebih besar).
Pada ikan Ceratias sp betina memiliki ukuran tubuh lebih
besar dibanding jantan. Perbandingannya 10 kali lipat dari si
jantan.

Gambar 2.11. Ikan Ceratias sp (deep-sea angler fish)

- Sirip ekor lebih panjang pada ikan plati pedang jantan


(Xiphophorus helleri).

24
- Warna tubuh lebih cemerlang pada ikan Lepomis Humilis jantan.

Gambar 2.12. Ikan Xiphophorus helleri (atas betina, bawah jantan)

b. Alat bantu pemijahan

25
Contoh:
- Gonopodium pada ikan seribu (Lebistes reticulatus) jantan.
- Modifikasi sirip dada heteorchir pada ikan Xenodexia sp jantan
untuk memegang gonopodium pada kedudukannya sehingga
memudahkan masuk ke ovidak betina
- Sirip perut yg termodifikasi menjadi myxopterygium (clasper)
pada Elasmobranchii jantan menjamin fertilisasi internal.
- Tenaculum (semacam clasper yang terdapat pada bagian atas
kepala) pd ikan Chimaera jantan.
- Ovipositor pada ikan Rhodes amarus dan Careproctus.
b. Puncak pemijahan (nauptial tubercle) ikan jantan terdapat
benjolan pada sirip ekor tepat sebelum musim pemijahan dan
hilang setelah pemijahan pada ikan minnow (Osmerus).
c. Warna (=sifat sex dikromatisme)ikan jantan memiliki warna
lebih cemerlang. Pada ikan Lepomis lumilis jantan terdapat
bintik jingga yg lebih terang dan banyak. Pinggiran sirip ekor
ikan mujair jantan warna merah.

Rangkuman
Ikan dibedakan seksualnya menjadi 2, yaitu jantan fungsional dan
betina fungsional. Penentuan jantan dan betina dapat dilakukan
dengan melihat ciri seksual primer dan ciri seksual sekunder. Pada
ciri seksual sekunder, ada yang bersifat permanen dan terlibat
langsung dalam kegiatan reproduksi, dan ada yang tidak. Ada juga
yang muncul hanya menjelang kegiatan reproduksi.

26
Tes
1. Jelaskan mengapa disebut ikan betina
2. Jelaskan contoh ikan yang memiliki alat tambahan untuk
melakukan kopulasi?

Daftar Pustaka

Effendi, Ikhsan. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka


Nusantara: Jakarta
Ahmad Jauzi. 2005. Akuakultur. PT. Vivtoria Kreasi Mandiri: Jakarta
Nyabakken, James. W. 1992. Biologi Laut. Gramedia Pustaka:
Jakarta

27
BAB III

IKAN HERMAFRODIT

Standar Kompetensi:
Setelah mempelajari bab ini diharapkan pembaca mampu
memahami bahwa ada ikan yang mampu menghasilkan sel gamet
jantan, dan sel gamet betina, secara bersamaan atau secara
bergantian.

Kompetensi Dasar:

Setelah membaca bab ini pembaca mampu menjelaskan perubahan


jenis kelamin ikan. Ketika mencapai dewasa pertama kali jantan
selanjutnya menjadi betina, atau sebaliknya dan kedua-duanya
dapat berfungsi bersamaan.

Indikator:
Dapat mendiskripsikan perubahan jenis kelamin ikan, dan
mengkomunikasikan perubahan jenis kelamin terjadi setelah
mencapai kedewasaan pertama kali.

Selain kelompok gonokoristik, juga dikenal istilah hermafrodit yaitu


di dalam tubuh individu ditemukan dua jenis gonad. Bila kedua
jenis gonad berkembang secara serentak dan mampu berfungsi ,
keduanya dapat matang bersamaan atau bergantian maka jenis
hermafrodit ini disebut hermafrodit sinkroni. Hermafrodit
28
protandri, bila mencapai kedewasaan pertama kali berkelamin
jantan namun seiring dengan berjalannya waktu akan berubah
kelamin menjadi betina . Selain itu ada hermafrodit protogini yaitu
bila pada awal kematangan gonad, berkelamin betina dan seiring
dengan berjalannya waktu akan berubah menjadi jantan.

Ada 3 macam hermafrodit:


3.1. Hermafrodit Sinkroni
Apabila didalam gonad individu terdapat sel kelamin betina dan sel
kelamin jantan yang dapat masak bersamaan
Contoh: Serranus cabrilla

(sumber:fisingcy.com)

Gambar 3.1. Ikan Serranus cabrilla

3.2. Hermafrodit Protandri


yang berarti di dalam tubuh ikan tersebut mempunyai gonad yang
mengadakan deferensiasi dari fase jantan ke betina
29
Contoh: Ikan kakap (Lates calcarifer),terjadi setelah ikan mencapai
ukuran 3 kg.

Sumber: www1.ocn.ne.jp

Gambar 3.2. Ikan kakap putih (Lates calcarifer)

3.3. Hermafrodit Protogini


yang merupakan keadaan sebalik dari hermaprodi protandri yaitu
proses diferensiasinya berjalan dari fase betina ke fase jantan
(Effendie, 2002).

Gambar 3.3. Belut sawah (Monopterus albus).

30
3.4 Ikan hermafrodit
Kerapu macan termasuk hermafrodit protogini, pada berat 4kg
keatas, ikan kerapu macan sebagai betina, kemudian pada berat 8
kg ke atas berubah menjadi jantan pada fase inilah ikan kerapu
macan terjadi masatransisi. Belum ada teknologi khusus yang
dapat digunakan untuk menentukan waktu yang tepat si ikan akan
menjadi jantan. Selama ini berdasarkan berat ikan dan umur ikan.

DAFTAR PUSTAKA
Bachtiar, Y. 2006. Panduan Lengkap Budidaya Lele Dumbo. Agro
Media Pustaka, Jakarta.Boyd. Water Quality in Ponds for
Aquaculture, Birmingham Publishing Co.,
Birmingham,Alabama, USA.
Effendi,M.I., 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara:
Jakarta
Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Gufron, A dan AB. Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air Dalam
Budidaya Perairan. PT Rineka Cipta. Jakarta.
Gusrina. 2008. Budidaya Ikan Jilid 1, 2, 3. Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan.Jakarta.
Jangkaru, Z. 1994. Pembesaran Ikan Air Tawar Di Berbagai
Lingkungan Pemeliharaan.Penebar Swadaya. Jakarta.
Murhananto. 2002. Pembesaran Lele Dumbo di Pekarangan. Agro
Media Pustaka. Jakarta.
SNI : 01 - 6484.2- 2000. Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus x
C. fuscus) Kelas BenihSebar. Badan Standar Nasional.
Zonneveld, N., Huisman, E.A., Boon, J.H. 1991. Prinsip-prinsip
Budidaya Ikan. Gramedia. Jakarta

31
BAB IV
FEKUNDITAS

Standar Kompetensi:
Setelah mempelajari bab ini diharapkan pembaca mampu
menjelaskan pengertian tentang fekunditas.

Kompetensi Dasar:
Setelah membaca bab ini pembaca mampu menjelaskan berbagai
batasan tentang fekunditas, hingga 90% benar.

Indikator:
Dapat mendiskripsikan fekunditas pada ikan yang melakukan
kegiatan reproduksi sekali seumur hidup atau bertahap, dan
hubungan fekunditas dengan umur, berat, ras, ukuran telur,
pemijah berganda.

32
4.1. Fekunditas Ikan

Pengetahuan mengenai fekunditas merupakan salah satu aspek


yang memegang peranan penting dalam biologi perikanan.
Fekunditas ikan telah dipelajari bukan saja merupakan salah satu
aspek dari natural history, tetapi sebenarnya ada hubungannya
dengan studi dinamika populasi, sifat-sifat rasial, produksi dan
persoalan rekruitmen (Bagenal dalam Effendi, 2002).

Dari fekunditas secara tidak langsung kita dapat menaksir jumlah


anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan pula jumlah
ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Dalam hubungan ini
tentu ada faktor-faktor lain yang memegang peranan penting dan
sangat erat hubungannya dengan strategi reprodusi dalam rangka
mempertahankan kehadiran spesies itu di alam.

Selain itu, fekunditas merupakan suatu subyek yang dapat


menyesuaikan dengan bermacam-macam kondisi terutama dengan
respons terhadap makanan. Jumlah telur yang dikeluarkan
merupakan satu mata rantai penghubung antara satu generasi
dengan generasi berikutnya.

4.2. Macam-macam fekunditas


Telah banyak usaha-usaha untuk menerangkan dan membuat
definisi mengenai fekunditas. Mungkin definisi yang paling dekat
dengan kebenarannya adalah seperti apa yang terdapat pada ikan

33
Salmon (Onchorynchus sp). Ikan ini selama hidupnya hanya satu
kali memijah dan kemudian mati.

Semua telur-telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan


itulah yang dimaksud dengan fekunditas. Tetapi karena spesies ikan
yang ada itu bermacam-macam dengan sifatnya masing-masing,
maka beberapa peneliti berdasarkan kepada definisi yang umum
tadi lebih mengembangkan lagi definisi fekunditas sehubungan
dengan aspek-aspek yang ditelitinya. Misalnya kesulitan yang
timbul dalam menentukan fekunditas itu ialah komposisi telur yang
heterogen, tingkat kematangan gonad yang tidak seragam dari
populasi ikan termaksud, waktu pemijahan yang berbeda dan lain-
lainnya. Bagenal (1978) dalam Effendi (2002) membedakan antara
fekunditas yaitu jumlah telur matang yang akan dikeluarkan dengan
fertilitas yaitu jumlah telur matang yang dikeluarkan oleh induk.

Menurut Nikolsky (1963) dalam Effendi (2002) jumlah telur yang


terdapat dalam ovari ikan dinamakan fekunditas individu,
fekunditas mutlak atau fekunditas total. Dalam hal ini
memperhitungkan telur yang ukurannya berlain-lainan. Oleh karena
itu dalam memperhitungkannya harus diikutsertakan semua ukuran
telur dan masing-masing harus mendapatkan kesempatan yang
sama. Konsekuensinya harus mengambil telur dari beberapa bagian
ovari (kalau bukan dengan metoda numerikal). Kalau ada telur yang
jelas kelihatan ukurannya berlainan dalam daerah yang berlainan
dengan perlakuan yang sama harus dihitung terpisah. Tetapi pada
tahun 1969, Nikolsky selanjutnya menyatakan bahwa fekunditas

34
individu adalah jumlah telur dari generasi tahun itu yang akan
dikeluarkan tahun itu pula.

Fekunditas individu akan sukar diterapkan untuk ikan-ikan yg


mengadakan pemijahan beberapa kali dalam satu tahun, karena
mengandung telur dari berbagai tingkat.

Royce (1972) dalam Effendi (2002) menyatakan bahwa fekunditas


total ialah jumlah telur yg dihasilkan ikan selama hidup. Fekunditas
relatif adalah jumlah telur per satuan berat atau panjang.

Ikan-ikan yang tua dan besar ukurannya mempunyai fekunditas


relatif lebih kecil, umumnya fekunditas relatif lebih tinggi
dibandingkan fekunditas individu. Fekunditas relatif akan menjadi
maksimum pada golongan ikan yang masih muda.

Lowe dan Garki (1975) dalam Effendi (2002) menyatakan bahwa


fekunditas pada ikan Tilapia sp. ialah jumlah anak ikan yg
dihasilkan selama masa hidup individu itu.
Sehubungan dengan sifat ikan mujair yg mengerami anak-anaknya
di dalam mulut, maka Bagenal dalam Effendi (2002) mengusulkan
istilah fekunditas untuk ikan mujair sbb :
a. “ovarian fecundity” yaitu jumlah telur matang yg ada dalam
ovarium sebelum dikeluarkan dalam pemijahan.
c. “brooding fecundity” jumlah telur yg sedang dierami di
dalam mulutnya.

35
Ikan yg termasuk ke dalam golongan vivipar, yaitu ikan yg
melahirkan anak-anaknya mempunyai tiga macam fekunditas yaitu :
1. “prefertilizwd fecundity” yaitu jumlah telur di dalam
ovarium sebelum terjadi pembuahan.
2. “fertilized fecundity” yaitu jumlah telur yg dibuahi di dalam
ovarium.
3. “larva fecundity” ialah jumlah telur yg sudah menetas
menjadi larva tetapi belum dikeluarkan.
4. fekunditas dengan panjang. fkunditas panjang
kemungkinan akan tetap sama. fakunditas mutlak f = al (b)

4.3. Hubungan Fekunditas dengan ras, ukuran telur, pemijah


berganda, umur, berat.

4.3.1 Fekunditas dengan ras

Fekunditas stok yang berbeda dari spesies yang sama telah dipakai
untuk pembeda ras oleh banyak peneliti. Ras yang berbeda
mempunyai sifat fekunditas yang tidak sama demikian juga ukuran
besar telurnya. Maka spesies yang berasal dari satu daerah
penangkapan dapat diketahui dari jumlah telurnya. Berdasarkan hal
ini, populasi dapat diketahui homogen atau heterogen. Ikan-ikan
dari satu spesies hidup dalam berbagai habitat seperti sungai yang
berbeda atau dalam perairan yang, berbeda garis lintang mungkin
mempunyai perbedaan telur dalam fekunditasnya.

36
4.3.2 Fekunditas dengan ukuran telur

Ukuran telur biasanya dipakai untuk menentukan kualitas yang


berhubungan dengan kandungan kuning telur dimana telur yang
berukuran besar menghasilkan larva berukuran besar daripada yang
berukuran kecil. Dalam membuat perbandingan ukuran telur
dengan fekunditas harus berasal dari ovari yang sama tingkat
kematangannya.
Sering diduga bahwa fekunditas dengan ukuran telur berkorelasi
negatif. Pada ikan yang berpijah ganda didapatkan bahwa telur
yang dikeluarkan pada pemijahan kemudian berukuran kecil.
Walaupun tidak terdapat pada semua ikan namun didapatkan
bahwa ukuran telur dan ukuran panjang ikan berkorelasi positif,
dimana hal ini diikuti o!eh ikan yang berukuran besar berpijah
terlebih dahulu.

4.3.3. Fekunditas pemijah berganda

Ikan yang berpijah berulang-ulang dalam waktu lama akan


melibatkan persoalan telur cadangan dan telur yang sudah
berkembang. Kriterianya yaitu ada tidaknya kuning telur. Jumlah
telur yang mempunyai kuning telur yang dihitung fekunditasnya
untuk musim itu. Kriteria ini menurut Bagenal (1978) dalam Effendi
(2002) telah digunakan oleh beberapa penulis De Sylva (dalam
Bagenal, 1978) telah berhasil menduga jumlah angkatan (batch)
dan jumlah telur tiap angkatan.

37
Apabila ikan mempunyai telur yang terdiri dari beberapa kelompok,
maka kelompok telur yang sudah berkembang akan dikeluarkan
pada suatu saat. Dengan membandingkan jumlah telur yang sudah
mempunyai kuning telur dengan jumlah telur yang sudah sangat
berkembang, dianggap dapat memberikan jumlah telur pada
kelompok yang dikeluarkan tiap musim.

4.3.4. Fekunditas dengan umur.


Pada beberapa species ikan, hubungan fekunditas dengan umur
tidak selalu sama dalam arti bahwa umur itu ada yang tidak
berpengaruh pada fekunditas, ada yang pengaruhnya sedikit dan
ada pula yang pengaruhnya secara positip. Hal yang demikian itu
benar apabila yang dilihatnya hanya hubungan antara fekunditas
dengan umur saja tanpa melihat parameter lainnya. Variasi
fekunditas individu itu sangat besar, meliputi setiap pengaruh
termasuk juga umur. Ikan yang untuk pertama kalinya memijah
(recruit spawners) fekunditasnya tidak besar seperti fekunditas ikan
yang telah memijah beberapa kali tetapi berat tubuhnya sama.
Hal ini sesuai dengan sifat umum, bahwa fekunditas ikan akan
bertambah selama pertumbuhan. Ikan yang besar telurnya akan
lebih banyak dari pada ikan yang lebih kecil. Tetapi korelasi ini ada
batasnya dimana akan ada penurunan jumlah walaupun ikan itu
bertambah besar atau tua.
Ikan yang siklus hidupnya panjang seperti ikan sturgeon atau ikan
mas, akan memperlihatkan penambahan jumlah telur yang cepat
pada waktu umur-umur muda dan kemudian akan diikuti dengan
kecepatan pertambahan yang semakin berkurang dan terus

38
menurun mencapai keadaan yang tetap. Adapun variasi jumlah
telur ikan yang di dapat pada saat ini disebabkan karena variasi
kelompok ukuran.
Jumlah ukuran ikan yang besar hanya sedikit dan biasanya
memperlihatkan pertambahan kecepatan fekunditas. Hal ini
sebenarnya akibat perbaikan makanan. Tetapi pada ikan-ikan yang
ukurannya terlampau besar, fekunditasnya secara relatif lebih
sedikit. Ada korelasi antara fekunditas dengan umur dan juga
dengan berat.

4.3.5 Fekunditas dengan berat.

Fekunditas mutlak sering dihubungkan dengan berat, karena berat


lebih mendekati kondisi ikan itu daripada panjang. Namun dalam
hubungan fekunditas dengan berat terdapat beberapa kesukaran.
Berat akan cepat berubah pada waktu musim pemijahan. Misalnya
ikan salmon dan sidat yang melakukan ruaya sebelum berpijah,
mereka tidak lagi mengambil makanan, jadi berpuasa sampai ke
tempat pemijahan. Material untuk pertumbuhan gonadnya diambil
dari jaringan somatik. Oleh karena itu apabila mengikut sertakan
korelasi fekunditas dengan berat somatik didalam membandingkan
satu populasi dengan populasi atau diantara dua musim harus
berhatihati.

Jika fekunditas mutlak secara matematis dikorelasikan dengan


berat total termasuk berat gonad akan menimbulkan kesukaran
secara statistik. Sebabnya akan termasukkan telur dalam jumlah
39
yang lebih besar dari ikan yang sebenarnya berfekunditas kecil. Juga
kesulitan yang sama akan timbul apabila fekunditas dihubungkan
dengan faktor kondisi, karena dalam faktor kondisi itu yaitu:

100W
K=
L3

melibatkan berat total ikan itu. Disebabkan oleh kesulitan ini, maka
banyak penulis menggunakan fekunditas relatif, yaitu berat telur
persatuan berat ikan. Namun menggunakan fekunditas relatifpun
mendapatkan kesukaran juga, karena tidak dapat dipakai
membandingkan satu populasi dengan lainnya atau keadaan dari
satu tahun ke tahun lainnya.

Semula penggunaan fekunditas itu untuk menyatakan hasil yang


menduga bahwa korelasi antara fekunditas dengan berat adalah
linier, yang perumusannya adalah:

F = a + bW.

Dalam beberapa hal menggunakan rumus tersebut hasilnya baik,


tetapi beberapa penulis mendapatkan bahwa korelasi antara
fekunditas dengan berat adalah tidak linier. Dalam hubungan ini
perlu diperhatikan bahwa berat gonad pada awal kematangan
berbeda dengan berat akhir dari kematangan itu karena
perkembangan telur yang dikandungnya. Selama dalam proses
perkembangan tersebut terjadi pengendapan kuning telur yang

40
berangsur-angsur serta terjadi hidrasi pada waktu hampir
mendekati pemijahan.

4.4. Sistem pengelompokkan telur ikan berdasarkan jumlah


kuning telur

4.4.1. Oligolecithal

Telur yang mengandung kuning telur sangat sedikit


jumlahnya. Contoh ikan yang mempunyai telur demikian
adalah Amphioxus.

4.4.2. Telolecithal

Telur telolecithal mengandung sejumlah kuning telur lebih


banyak dari pada telur oligolecithal. lkan yang mempunyai
telur telolecithal banyak terdapat di daerah yang bermusim
empat, misalnya pada ikan Sturgeon.

4.4.3. Macrolecithal

Telur yang mempunyai kuning telur relatif banyak dengan


keping cytoplasma di bagian kutub animanya. Kebanyakan
ikan memiliki golongan ini.

41
4.5 Sifat telur
Telur ikan ada yang bersifat menempel, melayang,
mengapung. Sebagai contoh telur ikan mas adalah menempel
pada substrat. Telur ikan mas berbentuk bulat, berwarna
bening, berdiameter 1,5-1,8 mm, dan berbobot 0,17-0,20 mg.
Ukuran telur bervariasi, tergantung dari umur dan ukuran
atau bobot induk.

Rangkuman
Fekunditas ikan berhubungan erat dengan ras, ukuran telur,
pemijahan berganda, umur, dan berat.

Tes
1. Jelaskan yang dimaksud dengan fekunditas relative terhadap
berat, beri contohnya.

Daftar Pustaka
Effendie, M.I .1979. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri,
Bogor.
Effendie,M.I., 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara:
Jakarta
Sumantadinata, K. I 983. Perkembanganbiakan lkan-Ikan
Pemeliharaan di Indonesia. Sastra Husada.

42
BAB V
PERKEMBANGAN GONAD

Standar Kompetensi :

Setelah membaca bab ini diharapkan pembaca akan dapat


memahami proses pembentukan ovum mulai dari oogonia sampai
ovum (oogenesis) dan proses pembentukan spermatozoa mulai dari
spermatogonium sampai spermatozoa, termasuk proses
pembelahannya (spermatogenesis).

Kompetensi Dasar:
Setelah membaca bab ini pembaca mampu menjelaskan proses
/tahapan pembentukan ovum dan tahapan pembentukan
spermatozoa ikan hingga 90% benar.

Indikator:
Dapat mendiskripsikan proses pembentukan ovum dan
spermatozoa.

43
5.1. Oogenesis
Perkembangan sel telur (oosit) diawali dari germ cell yang terdapat
dalam lamela dan membentuk oogonia. Oogonia yang tersebar
dalam ovarium menjalankan suksesi pembelahan mitosis dan
ditahan pada "diploten" dari profase meiosis pertama. Pada stadia,
ini oogonia dinyatakan sebagai oosit primer. Oosit primer
kemudian berkembang dan tumbuh yang meliputi dua fase.
Pertama adalah fase previtelogenesis, ketika ukuran oosit
membesar akibat pertambahan volume sitoplasma (endogenous
vitelogenesis), namun belum terjadi akumulasi kuning telur. Kedua
adalah fase vitelogenesis, ketika terjadi akumulasi material kuning
telur yang disintesis di hati, kemudian dilepas dalam darah dan
dibawa ke dalam oosit secara mikropinositosis.
Peningkatan ukuran indeks gonad somatik atau perkembangan
ovarium disebabkan oleh perkembangan stadia oosit. Pada saat
perkembangan oosit terjadi perubahan morfologis yang mencirikan
stadianya. Menurut Nagahama (1983) stadium oosit dapat
dicirikan berdasarkan volume sitoplasma, penampilan nukleus dan
nukleolus, serta keberadaan butiran kuning telur. Berdasarkan
kriteria ini, oosit dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kelas.
Yamamoto dalam Nagahama (1983) membaginya ke dalam 8 kelas,
yaitu stadia kromatin-nukleolus, perinukleolus (yang terdiri atas
awal dan akhir nukleolus), stadium oil drop stadium yolk primer,
sekunder, tertier, dan stadium matang.

Proses perkembangan gonad dan ovulasi pada ikan diatur oleh

44
sistem hormon. Hormon estrogen, terutama estradiol 17 β
mempengaruhi sintesis vitelogenin di hati dan hormon
gonadotrofin berfungsi mempercepat proses kematangan akhir
oosit dalam persiapan ovulasi ataupun spermiasi.

Ovarium pada Elasmoranchi padat, tapi kurang kompak, terletak


pada anterior rongga abdomen. Pada saat dewasa yang
berkembang hanya ovarium kanan. Pada Teleostei tipe ovariumnya
sirkular dan berjumlah sepasang.

Saluran reproduksi Elasmoranchi berjumlah sepasang, bagian


anteriornya berfusi yang memiliki satu ostium yang dikelilingi oleh
fimbre-fimbre.

Ovidak ikan, sempit pada bagian anterior dan posteriornya.


Pelebaran selanjutnya pada uterus yang bermuara di kloaka.
PadaTeleostei punya oviduk pendek dan berhubungan langsung
dengan ovarium. Pada bagian posterior bersatu dan bermuara pada
satu lubang.

Perkembangan telur di dalam ovarium berlangsung melalui bebera-


pa stadia sebagai berikut :
Stadia 1 : Bakal sel telur yang masih kecil disebut ovogonium
(archovogonium). Ukuran sel sama kecil dengan sel-sel
tubuh lainnya (8 – 12 µ). Sel ini memperbanyak diri
dengan pembelahan mitosis.
Stadia 2 : Sel telur tersebut tumbuh menjadi ukuran 12-20µ dan
folikel mulai terbentuk disekeliling sel telur. Folikel

45
tersebut fungsinya memberi makanan dan melindungi
telur yang sedang berkembang itu, sehingga diniding
sel telur tampak rangkap.
Stadia 3 : Pada stadia ini sel telur tumbuh menjadi lebih besar lagi
sampai sebesar 40-200µ dan tertutup di dalam follikel.
Stadia 1, 2 dan 3 ini merupakan tahapan sebelum pengumpulan
makanan (nutrient) di dalam telur itu (tahap pre-
vitellogenesis).
Stadia 4 : Pada stadia ini dimulai pembentukan dan pengumpulan
kuning telur (yolk) yang disebut proses “vitellogenesis”.
Sel telur trus tumbuh menjadi berukuran 200 – 350µ. Di
dalam sitoplasmanya terkumpul butir-butir lemak
(lipoid).
Stadia 5 : Menandai fase ke 2 dar vitellogenesis. Sitoplasma
sekarang penuh dengan butir-butir lipoid dan mulailah
pembentukan kuning telur. Ukuran sel telur menjadi
350-500μ.
Stadia 6 : Ini merupakan fase ketiga dari proses vitellogenesis,
dimana lempeng-lempeng kuning telur mendesak butir-
butir lipoid ke tepi sel, sehigga terbentuk dua buah
cincin. Nukleoli yang berperan dalam pembentukan
protein da pengumpulan makanan terlihat menempel
pada dinding/membren nukleus. Ukuran telur sekarang
600 – 900μ
Stadia 7 : Proses vitellogenesis selesai, telur menjadi berukuran
900-1000µ. Ketika pengumpulan kuning telur berakhir,
nucleoli tertarik ke dalam pusat nucleus. Mikropil (yaitu
lubang kecil pada dinding sel telur, sebagai jalan masuk
bagi sperma) terbentuk pada stadia ini.

46
Stadia 4,5,6 dan 7 disebut stadia vitellogenesis, terbentuk kuning
telur yang berkumpul di dalam sel telur itu. Telur ini sekarang
secara material telah lengkap. Untuk sampai pada stadia ini, ikan
betina memerlukan makanan yang banyak mengandung protein
serta suhu lingkingan pada kisaran yang cocok.
Setelah selesainya stadia 7 itu, telur tetap pada keadaan ini untuk
waktu beberapa bulan tanpa perubahan, dan disebut fase
“dormant” atau “istirahat” atau dikenal sebagai telur matang
gonad.

Fase dormant ini akan berakhir dan terjadilah ovulasi jika terjadi
keadaan lingkungan yang cocok, atau sebaliknya telur fase dormant
tersebut akan mengalami kerusakan dan di serap bila kondisi yang
cocok tidak kunjung datang dalam waktu yang cukup lama.
Ovulasi ialah keadaan dimana telur-telur di dalam ovarium telah
lepas dari dinding dan jatuh ke dalam rongga ovarium itu. Jika
keadaan ini telah terjadi, maka bila perut ikan diurut ke arah lubang
kelamin, telur-telur tersebut akan keluar dengan lancar. Proses
ovulasi ini dikendalikan atau dipengaruhi oleh hormon gonadotrofin
di dalam tubuh ikan. Sedangkan proses pembentukan hormon
tersebut dipengaruhi oleh kondisi alam/lingkungan.

47
Gambar 3. 1 Gambar the fate of development eggs

48
5.2. Spermatogenesis
Perkembangan gamet jantan dari spermatogonium menjadi
spermatozoa melalui dua tahap spermatogenesis dan
spermiogenesis. Spermatogenesis adalah tahap perkembangan
spermatogonium menjadi spermatid disebut spermatogenesis,
sedangkan spermiogenesis adalah metamorfosa spermatid menjadi
spermatozoa. awal spermatogenesis ditandai dengan
perkembangan spermatogonia beberapa kali melalui pembelahan
mitosis, untuk memasuki tahap spermatosit primer, selanjutnya
terjadi pembelahan meiosis, dimulai dengan kromosom
berpasangan, yang diikuti dengan duplikasi membentuk tetraploid
sekunder yang diploid . Satu spermatosit sekunder diploid
membelah diri menjadi dua spermatid haploid.
Testis adalah organ reproduksi jantan yang terdapat berpasangan
dan terletak di bawah tulang belakang. Testis ikan berbentuk
seperti kantong dengan lipatan-lipatan, serta dilapisi dengan suatu
lapisan sel spermatogenik (spermatosit).

Sepasang testis pada jantan tersebut akan mulai membesar pada


saat terjadi perkawinan, dan sperma jantan bergerak melalui vas
deferens menuju celah/ lubang urogenital.

Testis berjumlah sepasang, digantungkan pada dinding tengah


rongga abdomen oleh mesorsium. Bentuknya oval dengan
permukaan yang kasar. Kebanyakan testisnya panjang dan
seringkali berlobus.

49
Saluran reproduksi, pada Elasmoranchi beberapa tubulus mesonefrus, bagian
anterior akan menjadi duktus aferen dan menghubungkan testis dengan
mesonefrus, yang disebut dutus deferen. Bagian posterior duktus
aferen berdilatasi membentuk vesikula seminalis, dari sini akan
terbentuk kantung sperma.
Ductus deferen akan bermuara di kloaka. Pada Teleostei saluran
dari sistem ekskresi dan sistem reproduksi menggunakan lubang
yang sama.

Proses ini diawali dengan pembentukan spermatogonium berubah


jadi spermatocyt primer kemudian berkembang menjadi
spermatocyt sekunder à spermatid à spermatozoa à
spermatophore (spermatozoa tapi masih ada dalam vas deferens).

Tempat Proses Spermatogenesis: Proses ini diawali dari


spermatogonium sampai spermatocyt sekunder terjadi pada
saluran efferent. Selanjutnya spermatid sampai spermatozoa
terjadi pada ujung saluran efferent. Spermatophore terjadi pada
saluran utama sperma sampai dengan vas deferent.
Biasanya sperma yang telah masak akan mengalami kondisi dorman
dan apabila di luar tubuh memungkinkan maka sperma akan
dikeluarkan bersama degan cairan sperma yang disebut plasma.
Plasma dihasilkan oleh tubuli seminiferi dan kelenjar tambahan
yang disebut sebagai vesikula seminalis. Secara umum gabungan
dari sperma dan plasma disebut sebagai semen. Plasma berfungsi
sebagai penyangga (buffer). Selama dalam saluran efferent (yaitu
fase spermatocyt sampai sperma) hidupnya dipelihara oleh sel-sel
sertoli yang berfungsi memberikan makanan, menciptakan kondisi

50
yang aman untuk calon-calon sperma. Sperma ikan selama di
dalam tubuh dalam kondisi pasif, akan tetapi jika dikeluarkan dari
tubuh ikan akan segera bergerak aktif (apabila telah kontak dengan
air).
Penyebab aktifitas sperma: Untuk ikan air tawar yaitu tekanan
hypotonis air, dan pada ikan air asin yaitu tekanan hypertonis air.

NaCl: cairan yang menyamakan tekanan sel dengan tekanan luar,


ada batas kejenuhan perubahan tekanan terhadap pergerakan
sperma. Jika terlalu tinggi (lebih dari jenuh) akan mati.

Struktur spermatozoa:

1. Kepala: Mengandung lapisan tipis sitoplasma dan sebuah


inti yang hampir mengisi seluruh bagian kepala. Pada
Elasmobranchii dan Rana ada Acrosoma (tudaung depan
pada sperma). Pada Teleostei pada bagian kepala
(belakang) diselaputi oleh tududng perisai yang disebut
tudung belakang. Pada tudung belakang ini melekat
sentriol depan dan filament porous (untuk mengatur
rangsang).
2. Leher: Ada di belakang kepala, didalamnya terdapat:
sentriol depan dan filament porous bagian depan
3. Badan : di belakang leher, pada badan terdapat sentriol,
filament porous dan mitokondria
4. Ekor: terdiri dari bagian ujung di bagian utama. Pada
bagian ujung hanya mengandung sitoplasma dan bagian
utama terdapat filament diselingi sedikit sentriol, Filamen
porous adalah kerangka lunak, saraf penggerak. Aktifitas

51
sperma berlangsung sangat singkat, diperkirakan waktunya
0,5 menit sampai beberapa menit, sedang jumlah
spermatozoon untuk setiap cc semen/mani berkisar antara
10.000 – 20.000 juga hal ini tergantung kekentalan semen.
Abnormalitas pada sperma:
1. Sperma dapat berbentuk abnormal
Sperma dapat berbentuk lain dari biasa, hal ini karena
kegagalan spermiogenesis (dari spermatid jadi sperma).
Contoh: Kepala dua, ekor bercabang dua, kepala
besar/kecil. Ekor kusut.
2. Kerapatan sperma
Kerapatan sperma dalam tiap cc semen akan menentukan
kemandulan, hal ini disebabkan rendahnya jumlah sperma
akan mengganggu keberhasilan pembuahan.
3. Gerakan sperma
Sifat gerakan sperma menentukan juga kemandulan ikan,
jika gerakan terlalu lambat atau gerakan tidak menentu
arahnya maka pembuahan sulit berlangsung.
Ketahanan di luar tubuh:
Spermatozoa mudah sekali terganggu oleh suasana lingkungan yang
berubah antara lain:
1. Terlalu rendah/tingginya suhu medium akan merusak
pertumbuhan dan kemamuan membuahi.
2. Perubahan pH akan merusak spermatozoa, pH terlalu
asam/basa akan mematikan spermatozoa

52
Rangkuman:
Proses ovogenesis dimulai dari oogonium berkembang menjadi
oosit primer, kemudian oosit sekunder, ootit dan ovum yang siap
diovulasikan. Proses spermatogenesis dimulai dari
spermatogonium, spermatosit primer, kemudian menjadi
spermatosit skunder, spermatid, dan akhirnya menjadi
spermatozoa.

Tes :
1. Jelaskan tahapan perkembangan hingga menjadi
spermatozoa?
2. Bagaimana struktur spermatozoa
3. Apa kriteria spermatozoa yang abnormal?
Daftar Pustaka:
Nagahama, 1
Waynarovich E. and Horvath, L. (1980): The Artificial Propagation of
warm water fishes a manual for extension FAO fish tech
paper 201:183 Pp.

http://intanriani.wordpress.com/pembentukan-gamet-jantan-
spermatogenesis/
http://iqbalali.com/2008/02/01/spermatogenesis-vs-oogenesis/
http://sandurezu.wordpress.com/2010/06/07/spermatogenesis/
http://www.docstoc.com/docs/7099115/SPERMATOGENESIS-DAN-
OOGENESIS
http://www.scribd.com/ainirutser/d/57122105-Sperm-a-to-Genesis
http://www.fao.org/docrep/005/AC742E/AC742E04.htm diunduh
pada tanggal 11 Juli 2012 pukul 05.00 wib.

53
Gambar 5.1. Oogenesis dan spermatogenesis

54
BAB VI
PEMBUAHAN

Standar Kompetensi:
Setelah mempelajari bab ini diharapkan pembaca mampu
memahami proses pembuahan pada ikan.

Kompetensi Dasar:
Setelah membaca bab ini pembaca mampu menjelaskan macam-
macam proses pembuahan pada ikan hingga 90% benar.

Indikator:
Dapat mendiskripsikan proses pembuahan dan mengkomunikasikan
perkembangannya.

Reproduksi seksual pada vertebrata diawali dengan perkawinan


yang diikuti dengan terjadinya fertilisasi. Fertilisasi tersebut
kemudian menghasilkan zigot yang akan berkembang menjadi
embrio.

Fertilisasi pada vertebrata dapat terjadi secara eksternal atau


secara internal. Fertilisasi eksternal merupakan penyatuan sperma
dan ovum di luar tubuh hewan betina, yakni berlangsung dalam
suatu media cair, misalnya air. Contohnya pada ikan (pisces) dan
amfibi (katak). Fertilisasi internal merupakan penyatuan sperma
55
dan ovum yang terjadi di dalam tubuh hewan betina. Hal ini dapat
terjadi karena adanya peristiwa kopulasi, yaitu masuknya alat
kelamin jantan ke dalam alat kelamin betina. Fertilisasi internal
terjadi pada hewan yang hidup di darat (terestrial), misalnya hewan
dari kelompok reptil, aves dan mamalia. Namun ada sebagian dari
golongan pisces yang melakukan pembuahan di dalam.

Gambar 6.1. Zigot hasil pembuahan

Ikan merupakan kelompok hewan ovipar, ikan betina dan ikan


jantan tidak memiliki alat kelamin luar. Ikan betina tidak
mengeluarkan telur yang bercangkang, namun mengeluarkan ovum
yang tidak akan berkembang lebih lanjut apabila tidak dibuahi oleh
sperma. Ovum tersebut dikeluarkan dari ovarium melalui oviduk
dan dikeluarkan melalui anus. Saat akan bertelur, ikan betina

56
mencari tempat yang rimbun oleh tumbuhan air atau diantara
bebatuan di dalam air.

Bersamaan dengan itu, ikan jantan juga mengeluarkan sperma dari


testis yang disalurkan melalui saluran urogenital (saluran kemih
sekaligus saluran sperma) dan keluar melalui anus, sehingga terjadi
fertilisasi di dalam air (fertilisasi eksternal). Peristiwa ini terus
berlangsung sampai ratusan ovum yang dibuahi melekat pada
tumbuhan air atau pada celah-celah batu.

Telur-telur yang telah dibuahi tampak seperti bulatan-bulatan kecil


berwarna putih. Telur-telur ini akan menetas dalam waktu 24 – 40
jam (tergantung suhu perairan).

Anak ikan yang baru menetas akan mendapat makanan pertamanya


dari sisa kuning telurnya, yang tampak seperti gumpalan di dalam
perutnya yang masih jernih. Dari sedemikian banyaknya anak ikan,
hanya beberapa saja yang dapat bertahan hidup.

Tingkah laku pemijahan yang umum terjadi di ikan cichlid adalah


mereka menyimpan telurnya di dalam mulut, yang kemudian
dipelihara sampai anaknya sudah mampu untuk mencari makan
sendiri.

Parenting habits ini dilakukan oleh ikan yang mempunyai nilai


fekunditas kecil.

Reproduksi merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan


hidup suatu organisme. Apabila ada suatu organisme yang tidak
melakukan reproduksi, dapat dipastikan akan menganggu
keseimbangan alam. Terkait dengan rantai makanan, apabila salah

57
satu mata rantai tersebut hilang, mengakibatkan
ketidakseimbangan proses alam ini, terutama ekosistemnya.

Ikan melakukan reproduksi secara eksternal. Dalam hal ini, ikan


jantan dan betina akan saling mendekat satu sama lain kemudian si
betina akan mengeluarkan telur. Selanjutnya si jantan akan segera
mengeluarkan spermanya, lalu sperma dan telur ini bercampur di
dalam air. cara reproduksi ini dikenal sebagai oviparus, yaitu telur
dibuahi dan berkembang di luar tubuh ikan.

Ikan terkenal sebagai mahluk yang mempunyai potensi fekunditas


yang tinggi dimana kebanyakan jenis ikan yang merupakan
penghasil telur beribu-ribu bahkan berjuta-juta tiap tahun.

Cara reproduksi ikan yang ada antara lain :

1. Ovipar, sel telur dan sel sperma bertemu di luar tubuh dan
embrio ikan berkembang di luar tubuh sang induk. Contoh :
ikan pada umumnya

2. Vivipar, kandungan kuning telur sangat sedikit, perkembangan


embrio dapat suplai makanan dari induk. Anak ikan keluar dari
tubuh induknya menyerupai induk dewasa

3. Ovovivipar, sel telur cukup banyak mempunyai kuning telur,


Embrio berkembang di dalam tubuh ikan induk betina, tidak
mendapat suplai makan dari induk dan anak ikan menyerupai
induk dewasa. Contoh : ikan-ikan live bearers

Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan seksual ikan antara


lain spesies, ukuran, dan umur. Secara umum ikan-ikan yang
mempunyai ukuran maksimum kecil dan jangka waktu hidup yang
relatif pendek, akan mencapai kematangan kematangan seksual
58
lebih cepat dibandingkan ikan yang mempunyai ukuran maksimum
lebih besar.

Proses fertilisasi/pembuahan pada ikan ada 2 cara, yakni


pembuahan di dalam (internal fertilization) dan pembuahan di
luar (external fertilization). Namun demikian kebanyakan jenis ikan
melakukan pembuahan diluar (external fertilization).

Ikan yang melakukan pembuahan diluar disebut ikan jenis ovipar. Ikan jenis
ovipar mengeluarkan telur dari dalam tubuhnya untuk dibuahi oleh
si jantan. Proses pembuahan sel telur (oosit) oleh sel sperma
berlangsung di luar tubuh ikan dimana sperma memasuki sel telur
melalui sebuah lubang yang disebut dengan mikrofil. Umumnya
hanya satu sperma yang dapat masuk ke dalam sebuah sel telur.
Oosit yang telah dibuahi oleh sel sperma disebut zigot. Sebaliknya
ikan yang melakukan pembuahan di dalam disebut ikan jenis
ovovivipar. Ikan jenis ini berkembang biak dengan cara melahirkan.
Pembuahan terjadi di dalam tubuh ikan betina (internal
fertilization).

Embrio berkembang di dalam tubuh induk betina, kemudian


melahirkan anak yang sudah berwujud mirip dengan induknya. Ikan
yang berkembangbiak secara ovovivipar adalah ikan dari famili
Poecilidae, seperti platy, guppy, dan molly.

Kelangsungan hidup anakan memang baik, tetapi jumlah anakan


yang dihasilkan setiap kelahiran tidak dapat banyak karena daya
dukung induk terbatas.
59
Proses kawinnya ikan didahului dengan pematangan sel-sel telur pada betina
dan sel-sel sperma dalam testis pada ikan jantan. Selanjutnya proses
kawin(spawning) pada ikan ini berlangsung secara alamiah/insting

Diketahui ada cara lain dalam perkembangbiakan ikan yang


direkayasa oleh manusia. Prosesini disebut induced spawning. Namun
proses ini umumnya adalah untuk mematangkan gonad pada ikan yang
dirangsang sedemikian rupa sehingga ikan mudah mengeluarkan
telurnya dan mempercepat proses fertilisasi.

Pada sebagian besar ikan, betina dan jantan merupakan individu


terpisah. Akan tetapi, pada beberapa famili, seperti Sparidae dan
Serrinadae, jantan dan betinanya bisa terdapat pada satu invidu
sehingga mereka dapat melakukan pembuahan sendiri. Fenomena
ini dikenal sebagai hermaphroditic. Pada hermaphroditic, telur dan
sperma sama-sama dihasilkan (baik pada waktu sama, maupun
berbeda), selanjutnya mereka kawin dengan jenis hermafrodit
lainnya.
Pembuahan sendiri secara eksternal bisa terjadi pada ikan
hermaphrodit yang akanmengeluarkan telur dan sperma secara
simultan. Pada jenis hermafrodit yang lain pembuahan internal
sendiri juga berlangsung.

60
sumber: akuakultur.blogspot.com

Gambar 6.2. Perkembangan embrio pada ikan

Rangkuman
Proses pembuahan pada ikan yaitu diawali dengan bertemunya
ovum dengan spermatozoa. Sel-sel spermatozoa akan me. Di
perairan sel spermatozoa akan menuju ovum dengan bantuan
feromon yang dikeluarkan sel telur, hanya satu sel spermatozoa
yang beerhasil masuk melalui lubang mikrofil, selanjutnya terjadi
peleburan dari nukleus betina dan nukleus jantan, dan akan
menjadi zigot.

61
Tes
1. Bagaimana tahapan perkembangan zigot sampai menetas?

DAFTAR PUSTAKA
Aras Syazili, 2011, Embrio ikan. , aquacultur.blogspot.com
/2011/04/embrio-ikan.html. Diunduh pada 24 Juni 20112
pukul 03.00

62
BAB VII
SIKLUS HIDUP IKAN

Standar Kompetensi:
Setelah mempelajari bab ini diharapkan pembaca mampu
memahami tahapan siklus hidup ikan di alam, meliputi induk, telur,
larva, benih, juvenil,remaja, dewasa, induk.

Kompetensi Dasar:
Setelah membaca bab ini pembaca mampu menjelaskan macam-
macam tahapan dalam siklus hidup ikan hingga 90% benar.

Indikator:
Dapat mendiskripsikan masing-masing tahapan dalam siklus hidup
ikan.

Tahapan Siklus Hidup Ikan

· Siklus hidup ikan di alam meliputi stadia induk, telur, larva,


benih, juvenil, remaja, dewasa dan induk.

63
7.1. Induk
· Stadia induk adalah ikan yang memiliki kemampuan untuk
bereproduksi. Dalam stadia ini, gonad ikan betina sudah
dapat memproduksi telur dan gonad ikan jantan sudah
dapat memproduksi sperma. Ikan dengan stadia demikian
sudah dapat melakukan aktivitas reproduksi (pemijahan).
· Selain keberadaan telur dan sperma dalam tubuh, induk
betina dan induk jantan dibedakan yakni ikan betina
umumnya memiliki alat kelamin berupa lubang, sedangkan
induk ikan jantan berupa tonjolan. Induk ikan betina
umumnya juga memiliki perut yang buncit dan bila diraba
pada bagian tersebut terasa lembek dan tidak keras,
sedangkan induk ikan jantan relatif ramping, warna tubuh
yang khas, seperti dahi yang lebih menonjol (bengkung),
sirip punggung yang lebih panjang, warna dan pola warna
yang lebih cemerlang dan menarik, serta yang lebih aktif
dan galak .
· Induk dalam melanjutkan keturunannya bisa bersifat
parental care atau non-parental care . Induk ikan budidaya
yang bersifat parental care (aktif atau pasif) adalah induk
yang menjagai keturunannya (telur, larva, atau benih),
sedangkan yang bersifat non parental care adalah induk
yang tidak peduli terhadap keturunannya. Parental care
pasif diwujudkan oleh induk dalam memproduksi telur yang
berukuran cukup sebagai sumber energi bagi embrio dan
larva dalam memulai kehidupan. Bentuk parental care pasif

64
lainnya adalah adanya zat racun pada telur sehingga
dihindari oleh ikan predator (pemangsa).
· Pada parental care aktif, induk jantan maupun betina
secara aktif menjaga telur, larva atau benih. Sifat penjagaan
tersebut dilakukan sejak pemilihan dan penyiapan tempat
dan substrat untuk menempelkan telur, mengumpulkan
dan membuat sarang hingga mengoksigenasi telur dengan
cara mengipasi telur menggunakan sirip dada dan ekor,
membersihkan substrat telur dan larva menggunakan mulut
dan sirip dada, menjaga dan mengusir predator,
menginkubasi telur dan larva di dalam mulut ( mouth
breeder ), atau menempatkan telur di tempat tersembunyi
dan aman.
7.2. Telur (Zigot) = embrio
· Stadia telur (yang dibuahi) adalah output dari aktivitas
pemijahan dan ketika menetas berubah menjadi stadia
larva. Telur ikan setelah keluar dari tubuh induk bersifat
melekat (adesif) dan tidak melekat (nonadesif). Telur yang
melekat memiliki lapisan pelekat pada dinding cangkangnya
dan menjadi aktif ketika terjadi kontak dengan air. Sifat
pelekatan telur dibagi menjadi dua macam, yaitu pada
objek (substrat) dan antar telur sehingga membentuk
rumpun atau masa telur.
· Tempat pelekatan (substrat) telur berupa benda keras dan
lunak. Substrat benda keras seperti batu, pipa paralon, dan
kaca akuarium biasanya digunakan untuk penempelan telur
ikan siklid seperti ikan diskus, manvis, louhan, nila dan

65
mujair. Benda lunak seperti ijuk, akar eceng gondok, daun
tanaman air dan lempeng akar pakis sering digunakan
sebagai substrat penempelan telur ikan mas, lele, neon
tetra, dan mas koki.
· Telur yang bersifat tidak melekat dapat dibedakan menjadi
beberapa tipe berdasarkan berat jenisnya terhadap air,
yaitu mengapung dipermukaan air, melayang di dalam
kolam air, dan menggelinding di dasar wadah.
· Telur yang dibuahi selanjutnya berkembang menjadi
embrio dan menetas menjadi larva, sedangkan telur yang
tidak dibuahi (mati). Untuk perkembangan, digunakan
energi yang berasal dari kuning telur ( yolk sac ) dan
kemudian butir minyak ( oil globule ). Oleh karena itu,
kuning telur terus menyusut sejalan dengan perkembangan
embrio. Embrio terus berkembang dan membesar sehingga
rongga telur menjadi sesak olehnya dan bahkan tidak
sanggup lagi mewadahinya maka dengan kekuatan pukulan
dari dalam oleh pangkal sirip ekor, cangkang telur pecah
dan embrio lepas dari kungkungan menjadi larva (menetas).

66
Gambar 7.1. Perkembangan Telur ikan trout

7.3. Larva
· Larva adalah anak ikan yang berukuran sangat kecil dan
belum memiliki bentuk morfologi yang definitif (seperti
67
induknya). Larva masih dalam proses perkembangan
(development) menuju bentuk yang definitif. Pada saat
tersebut, larva belum memiliki organ tubuh yang lengkap,
bahkan organ yang sudah ada pun masih bersifat sederhana
(primitif) sehingga belum berfungsi maksimal. Larva adalah
anak ikan yang memiliki morfologi, anatomi, dan fisiologi
yang masih sederhana dan terus berkembang menuju
kesempurnaan.
· Untuk keperluan perkembangan, larva membawa cadangan
energi tersebut (endogenous feeding) untuk perkembangan
organ tubuh. Oleh karena itu, kuning telur dan butir minyak
akan menyusut dan habis sejalan dengan perkembangan
organ tubuh larva. Sebelum kuning telur habis, larva
diharapkan sudah bisa memangsa dan mengonsumsi serta
mencerna pakan dari luar ( exogenous feeding ). Dengan
demikian, terjadi overlap antara endogenous feeding
dengan exogenous feeding ). Apabila terjadi gap antara
endogenous feeding dengan exogenous feeding,
kemungkinan besar larva akan mati.
· Dengan ukuran tubuh larva yang kecil dan bukaan mulut
larva juga kecil, dibutuhkan pakan larva yang berukuran
lebih kecil dari bukaan mulut tersebut. Pakan larva ikan
umumnya berupa pakan alami, biasanya dari golongan
zooplankton. Hampir semua larva ikan, baik ikan herbivora,
omnivora, maupun karnivora bersifat predator ( predatory
stage ). Oleh karena itu, pakan alami larva umumnya
berupa zooplankton.

68
7.4. Benih
· Benih adalah anak ikan yang memiliki bentuk tubuh
definitive seperti induknya. Benih berbeda dengan
induknya dalam ukuran dan tingkah laku reproduksinya
saja. Tingkah laku makan ( feeding habits ) ikan stadia ini
sudah mengarah kepada jeniis makanan seperti yang
dikonsumsi secara alami oleh induknya. Perilaku makan
ikan herbivora sudah mulai tampak pada stadia benih,
padahal pada stadia larva masih bersifat karnivora (
predatory stage ).
· Laju pertumbuhan ikan stadia benih mulai meningkat dan
akan melesat lebih cepat lagi pada stadia juvenil. Oleh
karena itu, pada fase ini faktor pakan dan pemberian pakan
serta lingkungan, terutama oksigen terlarut ( dissolved
oxygen, DO), amoniak, karbondioksida dan suhu harus
diperhatikan. Pakan (secara kuantitas dan kualitas) yang
dikonsumsi oleh ikan akan dimetabolisir sehingga
menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan buangan
metabolisme (amoniak dan karbondioksida).
7.5. Juvenil
· Juvenil adalah ikan yang memiliki bentuk tubuh seperti
induknya, tetapi lebih kecil dan organ reproduksinya masih
dalam perkembangan sehingga belum berfungsi. Pada
stadia ini, laju pertumbuhan ikan berada dalam kecepatan
yang maksimum sebelum melambat ketika memasuki
stadia dewasa. Hal ini disebabkan hampir seluruh energi

69
yang diperoleh dari makanan digunakan untuk keperluan
pertumbuhan daging (somatic).
7.6. Dewasa
· Organ reproduksi ikan dewasa dan ikan induk sudah
berfungsi sehingga berpotensi melakukan reproduksi dalam
rangka melanjutkan keturunan. Pada stadia ini, laju
pertumbuhan daging (somatic) ikan melambat karena
sebagian energi yang diperoleh dari aktivitas feeding
digunakan untuk pertumbuhan reproduktif (generatif)
seperti perkembangan, pertumbuhan dan pematangan
gonad serta aktivitas dan tingkah laku reproduktif lainnya
seperti pencarian pasangan kawin, percumbuan dan
sebagainya.

Rangkuman:
Tahapan siklus hidup ikan di alam, meliputi induk, telur, larva,
benih, juvenil,remaja, dewasa, induk.

Tes:

2. Jelaskan masing-masing tahapan siklus hidup ikan di alam.!

Daftar Pustaka

Waynarovich E. and Horvath, L. (1980): The Artificial Propagation of


warm water fishes a manual for extension FAO fish tech
paper 201:183 Pp.

70
BAB VIII
SIKLUS REPRODUKSI IKAN
Standar Kompetensi:
Setelah mempelajari bab ini diharapkan pembaca mampu
memahami siklus reproduksi ikan yang merupakan sinkronisasi dari
sifat endogenous dengan lingkungan yang mempengaruhi
perkembangan gonad.

Kompetensi Dasar:
Setelah membaca bab ini pembaca mampu menjelaskan
keterkaitan sifat endogenous dengan faktor lingkungan sebagai
pemicu dalam kecepatan perkembangan gonad, sehingga dapat
terjadi reproduksi sebagai siklus tahunan hingga 90% benar.

Indikator:
Dapat mendiskripsikan perkembangan gonad dan
mengkomunikasikan keterkaitan sifat endogenous, lingkungan dan
kecepatan perkembangan gonad.

8.1 Siklus Pemijahan

Siklus reproduksi / pemijahan ikan berhubungan erat dengan


perkembangan gonad, terutama ikan betina. Secara umum tahap-
tahap perkembangan gonad ikan jantan adalah spermatogonia,
spermatosit primer, spermatosit sekunder spermatid, metamorfose

71
dan spermatozoa. Volume gonad ikan jantan bisa mencapai 5%
dari bobot total tubuhnya. Sedangkan tahap perkembangan ikan
betina meliputi oogonia, oosit primer, oosit sekunder dan ova atau
telur.

Karena siklus reproduksi terkait erat dengan perkembangan gonad


ikan betina, maka pembahasan tentang siklus reproduksi lebih
ditekankan pada kematangan gonad ikan betina dan faktor-faktor
yang mempengaruhinya. Periode antara siklus reproduksi ke siklus
reproduksi berikutnya tergantung tingkat kematangangonad yang
sudah dicapai. Ada yang membutuhkan waktu singkat namun ada
juga membutuhkan waktu yang lama hingga tahunan. Faktor
eksternal memegang peranan yang penting, terutama ketersediaan
pakan yang ada di lingkungan.

8.2. Siklus Reproduksi Tahunan Ikan


Ikan mempunyai siklus reproduksi tahunan yang memacu
perkembangan gonad dan dipertahankan siklusnya selama ikan
masih mampu bereproduksi.

Siklus reproduksi ikan bersifat endogenous dan ketika


disinkronisasikan dengan musim akan memberi isyarat pada otak
untuk merespon kondisi lingkungan tersebut. Cahaya dan suhu
merupakan faktor lingkungan penting yang menginisiasi dan
mengatur kecepatan perkembangan gonad. Faktor tersebut bekerja
sebagai isyarat yang memperantarai perbedaan setiap fase dari
siklus reproduksi ikan
72
Sinyal atau isyarat yang mengkoordinasikan dan
mensinkronisasikan ritme reproduksi tahunan dengan ritme
lingkungan dalam setiap tahun bertindak sebagai kalender yang
sesuai dengan perubahan-perubahan suhu, pencahayaan dan
ketersediaan makanan bagi larva dalam setiap musim yang berbeda
setiap tahun
Ikan yang memiliki periode pemijahan musiman mempunyai suatu
penanda jam internal ketika musim pemijahan datang (Gambar 1)

8.3. Musim Pemijahan


Proses pemijahan adalah proses yang ditujukan oleh suatu spesies
ikan dalam bentuk tingkah laku melakukan perkawinan. Pada ikan
air tawar yang hidup di perairan tropis, terlihat bahwa musim
memijah ikan lebih panjang waktunya. Setiap individu lain, namun
demikian masih tetap terlihat adanya puncak-puncak musim
memijah dalam setiap periode waktu tertentu (Peter dan Hontela
dalam Deswita 1995). Dalam proses reproduksi, sebelum terjadi
pemijahan gonad semakin besar dan berat.

Berat gonad akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah


kemudian menurun dengan cepat selama pemijahan sampai selesai
(Effendie, 1997). Abidin (1996) menyatakan selama dalam proses
perkembangan baik dalam tahap pertumbuhan maupun tahap
pematangan gonad atau produksi, gonad ikan akan mengalami
perubahan-perubahan, seperti perubahan berat, volume serta
perubahan morfologi. Perubahan-perubahan ini sering dipakai
sebagai indikator dalam menentukan tingkat perkembangan gonad
dalam proses oogenesis pada ikan betina atau spermatogenesis
73
pada ikan jantan. Bye (1984) menyatakan bahwa umumnya species
ikan menunjukkan siklus reproduksi tahunan (annual), tengah
tahunan (binual) dan siklus reproduksi akan tetap berlangsung
selama fungsi reproduksi masih normal.

Ikan adalah hewan air yang melaksanakan kegiatan reproduksi


secara temporal. Pemijahan ikan kebanyakan bersifat musiman,
sementara beberapa jenis diantaranya dapat memijah beberapa
kali dalam setahun. Pemijahan periodik setiap spesies ikan
dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, baik suhu ataupun cahaya
berpengaruh pada organ-organ indera dan selanjutnya
mempengaruhi berturut-turut sistem syaraf pusat, hipotalamus,
hipofisis dan akhirnya memacu perkembangan gonad

Faktor endogen yang terutama melibatkan peran hormon-hormon


yang berkaitan dengan organ-organ reproduksi menimbulkan ritme
internal atau circannual periodicity yang mengatur (paling tidak
sebagian) reproduksi musiman

Proses perkembangan alat reproduksi ikan dan pemijahannya


secara alami merupakan respon terhadap rangsangan lingkungan.
Faktor lingkungan seperti suhu, curah hujan, fluktuasi penyinaran
ataupun sirkulasi air merupakan faktor yang sangat berperan dalam
pengaturan aktivitas reproduksi musiman ikan

Faktor-faktor yang mempengaruhi siklus reproduksi ikan di perairan


terdiri dari faktor fisika, kimia dan biologi. Untuk ikan di daerah

74
tropis faktor fisika yang utama mengontrol siklus reproduksi adalah
substrat dan arus, faktor kimia adalah gas-gas terlarut; pH,
nitrogen, metabolik, alkalinity, kesadahan dan zat buangan yang
berbahaya bagi kehidupan ikan di perairan. Selanjutnya faktor
biologi di bagi atas faktor biologi dalam dan faktor biologi luar.
Faktor biologi dalam meliputi faktor fisiologi individu dan respon
terhadap berbagai faktor lingkungan. Faktor biologi luar yang
penting adalah predator dan kompetisi sesama spesies ikan
tertentu atau dengan spesies lain.

Berdasarkan dinamika perkembangan oosit, Wallace dan Selma


(1980) dan De Vlamming dalam Syandri (1993) mengklasifikasikan
pola perkembangan gonad ikan Teleostei ada tiga type yaitu:
· Tipe Sinkronisme total, oosit dalam ovari dibentuk dalam waktu
yang bersamaan, tumbuh bersama-sama melalui tahapan
perkembangan dan tidak ditemukan adanya oosit pada tingkat
perkembangan yang berbeda.
· Type ovari demikian ditemukan pada species yang bersifat
anadromus dan katadromus yang mempunyai musim
pemijahan sangat terbatas dan harus bermigrasi cukup jauh
untuk mencapai lokasi pemijahan
· Tipe Sinkronisme kelompok, ditemukan paling tidak dua
populasi yang berbeda pada tingkat perkembangan oosit yang
berbeda. Kebanyakan species Cyprinidae mempunyai pola
perkembangan ovari yang demikian.
· Tipe Asinkronisme, ditemukan oosit pada tingkat
perkembangan yang berbeda, sementara oosit baru terus

75
muncul. Ditemukan pada spec ies ikan yang memijah sepanjang
tahun.

Lowe Me Connel (1975) menyatakan bahwa berdasarkan kepada


pola pemijahannya, ada 4 tipe reproduksi ikan air tawar yang
mengisi perairan tropis yaitu :
· Tipe “Big Bang Spawner” yaitu species ikan yang memijah satu
kali seumur hidupnya.
· Tipe “Total Spawner” yaitu golongan ikan yang mengeluarkan
telurnya secara keseluruhan pada satu kali memijah. Tipe
reproduksi seperti ini mempunyai fekunditas yang tinggi dan
musim pemijahan yang terbatas.
· Tipe “Partial Spawner” atau “Multiple Spawner” yaitu ikan yang
berpijah di sungai dikaitkan dengan fluktuasi tingginya
permukaan air akibat hujan atau banjir. Beberapa ikan dari
famili Cyprinidae, Characoida e dan Siluridae tergolong pada
pemijahan ini.
· Tipe “Small Brood Spawner” yaitu golonga n ikan air tawar yang
mempunyai fekunditas sangat sedikit dan umumnya species
ikan yang melindungi telur dan anak di dalam mulutnya.

Dalam pemijahan di alam, telur dibuahi oleh sperma dalam air


setelah dikeluarkan oleh induk betina. Proses ini biasanya didahului
oleh aktivitas percumbuan oleh kedua induk ikan tersebut.
Pemijahan induk ikan secara alamiah bisa berlangsung secara
berkelompok atau berpasangan.

76
8. 4. Interaksi gonad, lingkungan dan sistem hormon

Ada 3 komponen yang mempengaruhi proses pemijahan pada ikan,


yaitu gonad, sistem hormon dan lingkungan. Ketiga komponen ini
saling mempengaruhi satu sama lainnya.
· Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar suatu
proses pemijahan dapat berlangsung, yaitu :
· Individu ikan jantan dan betina sudah matang gonad. Ikan yang
siap untuk dipijahkan sudah berada pada tingkat kematangan IV
(Effendie, 1997). Tingkat kematangan gonad dari suatu individu
dapat ditunjukan dengan melihat alat kelamin ataupun
morfologi dari tubuh ikan yang akan dipijahkan.
· Adanya rangsangan lingkungan. Hal ini berhubungan timbulnya
ransangan hormon dalam tubuh ikan untuk memijah. Menurut
Harvey dan Hoar (1979), kondisi lingkungan seperti hujan,
habitat, oksigen terlarut, suhu, cahaya, fisika kimia air lainnya
akan merangsang otak untuk memerintahkan kelenjar
hipothalamus dan hipofisa mensekresikan atau melepas
hormon dalam merangsang p emijahan ikan
· Adanya rangsangan dari lawan jenis. Menurut Effendie (2004),
dalam proses pemijahan, keberadaan lawan jenis kelamin akan
merangsang induk ikan untuk memijah. Rangsangan ini
disebabkan oleh feromen, yaitu suatu zat yang dikeluarkan oleh
ikan yang berlawanan jenis kelaminnya tersebut.
· Adanya substrat. Pada ikan yang memiliki sifat telur menempel,
adanya subtrat pemijahan dapat merangsang terjadinya
pemijahan (Effendie, 2004).

77
8. 5. Hubungan Siklus Pemijahan dengan Lingkungan
8.5.1 Stimulasi Cahaya
Pembesaran secara bertahap perkembangan gonad induk ikan yang
memasuki masa pra-pemijahan tergantung fotoperiode
(pencahayaan lingkungan secara alami) dan suhu.

Fotoperiode panjang (siklus terang lebih lama dari pada siklus


gelap) menginduksi pengaruh pemauan proses perkembangan
gonad ikan. Fotoperiode pendek (siklus gelap lebih lama dari pada
siklus terang) menyebabkan kerusakan siklus pemijahan yang
menjurus pada regresi /atresia gonad.

Pengaruh stimulasi perubahan pencahayaan lingkungan


(fotoperiode) diterima sel fotoreseptor retina mata ikan, kemudian
impuls cahaya tersebut diteruskan ke organ pineal yang terdapat
pada bagian atas diensefalon otak ikan. Organ pineal bertindak
sebagai transducer neuroendocrinal (sinyal yang dapat mengubah
informasi isyarat cahaya masuk menjadi isyarat untuk memproduksi
hormon), yang selanjutnya sinyal ini diteruskan ke hipotalamus.

Stimulasi cahaya lingkungan dalam mempengaruhi pemacuan


sekresi hormon yang diproduksi pada hipotalamus untuk
menginduksi pelepasan hormon gonadotropin pada hipofisis
terhadap pemasakan gonad.

78
Secara alami, faktor-faktor lingkungan seperti cahaya, suhu, curah
hujan dan sirkulasi air sangat mempengaruhi aktivitas pemijahan
induk-induk ikan yang telah masak gonad. Interaksi antara
stimulus eksternal yang menggerakkan sinyal-sinyal hormonal
dalam pengaturan siklus reproduksi tahunan ikan berfungsi sebagai
pemacu untuk melepaskan hormon yang diproduksi pada sumbu
hipotalamus-hipofisis-gonad yang terkait dengan pembentukan
sperma dan telur.

Faktor kunci penting adalah ada atau tidaknya penghambatan


sekresi Gonadotrophine Releasing Hormone (GnRH) yang
diproduksi sel neurosekretorik hipotalamus akibat pengaruh faktor
lingkungan merupakan mekanisme jalur pengaturan tahapan
perkembangan gonad ikan

Gonad sebagai organ reproduksi ikan memiliki beberapa fungsi


penting yang berkaitan dengan produksi hormon-hormon steroid,
produksi gamet maupun untuk menginduksi dan mempermudah
terjadinya pemijahan ikan. Gonad jantan (testis) dan gonad betina
(ovarium) penting dalam melangsungkan proses-proses reproduksi
ikan yang dimulai dari perkembangan setiap fase gametogenesis
(spermatogenesis dan oogenesis) sampai dengan fertilisasi antara
spermatozoa dan ovum.

Testis pada ikan Teleostei berjumlah sepasang dan dibentuk oleh


tubulus longitudinalis. Umumnya testis ikan ditopang secara
memanjang oleh mesorchia ginjal pada bagian atas rongga tubuh,

79
dan testis ikan terletak di sepanjang daerah ginjal sampai ke lubang
urogenital papila dihubungkan oleh vas deferens yang merupakan
saluran keluarnya spermatozoa

Testis tersusun atas tubulus seminiferus dan sel-sel interstitialis (sel


Leydig) yang terletak diantara tubulus-tubulus tersebut. Pada ikan,
pemberian nama sel Leydig sering digunakan dalam istilah biologi
reproduksi mamalia yang dianggap homolog dengan lobule
boundary cells yang terdapat diantara tubulus seminiferus (Hoar,
1984). Tubulus seminiferus, terdiri atas : (1) tunika jaringan
penyambung fibrosa ; (2) lamina basalis yang merupakan dinding
dasar tempat melekatnya sel-sel spermatogonia (sel-sel folikel
testis) dan (3) epitel germinativum.

Epitel germinativum ini terdiri atas sel Sertoli dan primordial germ
cells (sel germinal testis). Sel Sertoli mempunyai fungsi nutritif yakni
memberikan nutrien-nutrien yang diperlukan untuk perkembangan
sel-sel spermatogenik dan fungsi endokrin yakni mensekresikan
suatu protein pengikat androgen (ABP : Androgen Binding Protein)
yang berperan untuk mengikat dan mengkonsentrasikan
testosteron yang penting untuk melangsungkan proses-proses
spermatogenesis
Primordial germ cells merupakan calon sel spermatogenik yang
terletak diantara lamina basalis dan lumen tubulus seminiferus. Sel-
sel ini berkembangbiak beberapa kali dan berdiferensiasi sampai
membentuk spermatozoa dalam proses spermatogenesis.
Ketika dimulai proses spermatogenesis, sel Sertoli membentuk

80
siste-siste (merupakan siste seminiferus) bersamaan dengan
perubahan bentuk dari spermatogonia sekunder menjadi
spermatosit primer. Siste-siste ini berdiferensiasi secara sinkronis
menjadi spermatosit sekunder, spermatid dan akhirnya menjadi
spermatozoa
Sel Leydig merupakan tempat penyimpanan kolesterol-kolesterol
dalam bentuk droplet-droplet lipid (butiran lemak) dalam
sitoplasmanya. Kolesterol tersebut merupakan prekursor (bahan
baku) untuk selanjutnya diubah menjadi progesteron dan akhirnya
diubah menjadi testosteron oleh proses enzimatik setelah diinduksi
LH (Luteinizing Hormone).

Ringkasan
Siklus reproduksi ikan yang merupakan sinkronisasi dari sifat
endogenous dengan lingkungan yang mempengaruhi
perkembangan gonad.

Tes
1. Faktor endogenous yang dapat mempengaruhi perkembangan
gonad ikan, bagaimana mekanismenya?
2. Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam
terjadinya siklus reproduksi. Bagaimana prosesnya?

Daftar Pustaka

Affandi, R., D.S. Safei, M.F. Rahardjo, dan Sulistiono. 1992. Fisiologi
Ikan; Pencernaan. PAU Ilmu Hayat IPB. 215
Ellis, A.E. 1988. Fish Vaccination. Academic Press. 255 h.

81
http://putraderita.blogspot.com/2012/03/peranan-hormon-dari-
luarinjeksi-pada.html. Diunduh tanggal 25 Juni 2012 pukul
20.00 wib
Effendi, I. 2004. Pengantar Budidaya . Penerbit Penebar Swadaya.
Jakarta

82
BAB IX
TINGKAH LAKU PEMIJAHAN IKAN

Standar Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini diharapkan pembaca mampu
memahami tingkah laku pemijahan pada ikan meliputi: pra
pemijahan, pemijahan, dan pasca pemijahan (spawning).

Kompetensi Dasar:
Setelah membaca bab ini pembaca mampu menjelaskan tingkah
laku pemijahan pada ikan meliputi, pra pemijahan, pemijaahan dan
pasca pemijahan hingga 90 % benar

Indikator:
Dapat mendiskripsikan pola tingkah laku pemijahan pada ikan yang
tergolong pra pemijahan, pemijahan dan pasca pemijahan dan
mengkomunikasikan keterkaitan sifat ikan dengan aktivitasnya pada
masing-masing fase.

83
9.1. Tingkah laku pemijahan ikan
Sebagaimana diketahui bahwa kegiatan reproduksi dapat dibagi
menjadi tiga fase yaitu fase pra pemijahan, fase pemijahan, fase
pasca pemijahan. Berdasarkan hal ini maka tingkah
laku ikan itu dapat Pula dibagi menjadi tiga yaitu tingkah laku pada
fase pra pemijahan, tingkah laku ikan pada fase pemijahan dan
tingkah laku ikan pada fase pasca pemijahan. Tingkah laku
reproduksi ini berhubungan erat dengan sifat ikan itu sendiri.
Apakah ikan itu melakukan perlindungan terhadap keturunannya
atau tidak. Tingkah laku ikan yang menjaga keturunannya dapat
dikatakan relatif lebih banyak variasinya dari pada ikan ovipar,
terutama tingkah laku pasca pemijahan.

9.2. Pra Pemijahan


Macam-macam tingkah laku ikan pada fase pra pemijahan
diantaranya ialah: aktifitas mencari makan, ruaya,
pembuatan sarang, sekresi feromon (pengenalan lawan
jenis, mencari pasangan), gerakan-gerakan rayuan dan lain-
lain. Pada ikan yang bertelur di sarang, maka kegiatan pra
pemijahan meliputi pembuatan sarang busa (pada ikan
sepat), sarang dari anyaman rumput-rumput kering dan
akar (pada ikan gurame). Ikan cupang jantan akan
menampilkan atraksi-atraksi yang atraktif di depan betina,
diantaranya membuka tutup insangnya sambil digetar-

84
getarkan hingga insangnya yang berwarna merah akan
nampak jelas.
Pada sebagian ikan yang lain, pada fase ini si jantan akan
membersihkan permukaan substrat sebagai tempat
menempelnya telur dengan cara meniup-niupkan udara
dari mulutnya.

9.3. Pemijahan
Tingkah laku ikan pada fase pemijahan diantaranya ialah:
Bersamaan dengan pengeluaran produk seksual ada ikan
yang melakukan sentuhan bagian-bagian tubuh, gerakan
eksotik dengan menggetarkan seluruh bagian tubuh,
gerakan pembelitan tubuh ikan jantan atau ikan betina oleh
ikan jantan, penyimpanan telur oleh ikan jantan atau ikan
betina ke dalam sarang, gua, bagian pada tubuh, pada busa,
tumbuh-tumbuhan dan lain-lain.
Pada waktu pemijahan ini si ikan betina berenang lebih
cepat, diikuti ikan jantan, hingga nampak seperti berkejar-
kejaran. Sekali waktu ikan betina akan melompat-lompat
dan diikuti pengeluaran telurnya (spawning) disusul si
jantan mengeluarkan spermanya dekat dengan sel telur
dikeluarkan. Hal ini dimungkinkan agar proses pembuahan
dapat terjadi dengan baik.

85
9.4. Pasca Pemijahan
Tingkah laku ikan pada fase pasca pemijahan diantaranya
ialah penyempurnaan penutupan sarang, penjagaan sarang
yang berisi telur yang telah dibuahi atau telur yang sedang
berkembang, menjauhi daerah pemijahan dan lain-lain.
Semua tingkah laku ikan itu merupakan resultante sejumlah
rangsangan motoris yaitu rangsangan eksternal dan
rangsangan internal berasal dari sekresi hormon,
sedangkan rangsangan luar berasal dari berbagai macam
sumber seperti faktor lingkungan, zat kimia dan lain-lain
yang dimediasikan melalui organ-organ sensori dari visual.
Begitu ikan memperlihatkan suatu tindakan sebenarnya
merupakan suatu fenomena yang dinamik, termasuk
tingkah laku "hibernasi" dan "aestivasi" musim panas.

Sebagai tambahan terhadap fungsi dalam pengaturan


tingkah laku, sistem hormon juga mengatur perkembangan
sifat seksual sekunder yang berhubungan erat dengan
interaksi tingkah laku. Yang memegang peranan penting
dalam sifat seksual sekunder ini adalah steroid_yang
dihasilkan gonad. Hal ini meliputi pewarnaan tubuh dalam
pemijahan sebagai daya tarik pasangannya, persaingan
antara ikan-ikan jantan, mempertahankan isolasi
reproduksi dan bentuk-bentuk structural pada tubuh yang
mrliputi timbulnya semacam jerawat di atas kepala pada
masa pemijahan , modifikasi sirip seperti gonopodium ikan

86
famili poeciliidae temasuk sifat seksual pada ikan yang
dipengaruhi steroid.

9. 5. Komponen yang terlibat dalam reproduksi ikan


Gonad, Sinyal Lingkungan, Sistem Hormon

sumber: FAO

Gambar 9.1. Intervensi lingkungan dalam kegiatan pemijahan

87
Gambar 9.2. Peran hormon dalam proses ovulasi

88
9.6. Feromon
Feromon adalah bahan kimia disekresi dan disampaikan ke reseptor
pembau dengan reaksi yang spesifik. Fungsi feromon ikan dapat
dibagi tiga,yakni:
(1) Sebagai alarm dan pengenalan spesies,
(2) Untuk pengenalan seks dan perubahan tingkah laku seksual,
(3) Untuk pengenalan wilayah

9.7. Pengenalan Seks dan Perubahan Tingkah Laku Seksual

Teleostei dan beberapa elasmobranch melakukan komunikasi


dengan sinyal kimia untuk mengontrol fertilitas, koordinasi seksual,
dan koordinasi tingkah laku seksual. Pada beberapa spesies, ikan
jantan tertarik untuk berintegrasi dengan betina melalui bau.
Steroid seks merupakan salah satu bahan kimia yang secara
spontan membangkitkan afinitas elektrik organolfaktori. Pada ikan
mas misalnya, jantan dewasa dapat membedakan ikan betina
matang gonad melalui feromon yang terkandung dalam cairan
ovary yang dilepaskan sesaat setelah ovulasi. Substansi daya tarik
dari gonad umumnya bersumber dari feromon seks yang terlarut
dalam air. Ikan guppy (Poecilia reticulate) jantan tertarik pada air
yang sebelumnya ditempati betina, terutama oleh betina yang
sedang bunting. Feromon seks juga menyebabkan sinkronisasi
pelepasan sperma dari jantan dan telur dari betina ikan karper
(Cyprinus carpio) sehingga pembuahan dapat terjadi secara efektif.

89
Induk dalam melanjutkan keturunan bisa bersifat parental care atau
non parental care
Parental care pada ikan : Induk ikan secara aktif menjaga telur,
larva bahkan benih.

90
Gambar 9.3. Kegiatan Parental Care/Pengasuhan dari induk

91
Rangkuman:
Tingkah laku reproduksi pada ikan meliputi: pra pemijahan,
pemijahan, dan pasca pemijahan (spawning). Kegiatan pra
pemijahan meliputi: pembuatan sarang, pencarian daerah
pemijahan yang sesuai, mencari pasangan, dll, sedangkan pada
kegiatan pemijahan meliputi gerakan-gerakan perayuan yang
dilakukan jantan, hingga si betina mengeluarkan telur-telurnya
diikuti si jantan mengeluarkan spermanya. Pada kegiatan pasca
pemijahan meliputi penjagaan telur-telur yang sudah dibuahi atau
si kedua induk segera pergi.

Tes
2. Kegiatan parental care yang dilakukan ikan dalam bentuk apa
saja?
3. Bagaimana interaksi pengaruh lingkungan, ikan yang matang
gonad dan hormon, sehingga terjadi kegiatan pemijahan?

Daftar Pustaka
http://www.fao.org/docrep/005/AC742E/AC742E00.HTM diunduh
tanggal 20 Juni 2012 pukul 10.00 wib.
Waynarovich E. and Horvath, L. (1980): The Artificial Propagation of
warm water fishes a manual for extension FAO fish tech
paper 201:183 Pp.

92
BAB X
POLA PEMIJAHAN IKAN
Standar Kompetensi
Setelah mempelajari bab ini diharapkan pembaca mampu
memahami pola pemijahan/ spawning pada ikan, meliputi
kesempatan melakukan pemijahan, pasangan dalam pemijahan,
kepastian jenis kelamin ikan, partenogenesis, karakteristik jenis
kelamin sekunder, persiapan sarang pemijahan, tempat terjadinya
pembuahan, pengasuhan oleh induk.

Kompetensi Dasar:
Setelah membaca bab ini pembaca mampu menjelaskan tingkah
laku pemijahan pada ikan meliputi, pra pemijahan, pemijaahan dan
pasca pemijahan hingga 90 % benar

Indikator:
Dapat mendiskripsikan pola tingkah laku pemijahan pada ikan yang
tergolong pra pemijahan, pemijahan dan pasca pemijahan dan
mengkomunikasikan keterkaitan sifat ikan dengan aktivitasnya pada
masing-masing fase.

93
10.1. Pola Pemijahan (Reproduksi) Ikan

Tingkah laku dan proses reproduksi pada ikan merupakan hal yang
sangat menarik untuk dipelajari. Beberapa pola pemijahan
(perkawinan) ikan berdasarkan jumlah pemijahan dalam satu
tahun, pemilihan pasangan, jenis kelamin, pembuatan dan tipe
sarang, serta pemeliharaan anak dan lainnya. Tentu saja
mekanisme pemijahan pada ikan tidaklah sederhana, tetapi
dipengaruhi banyak faktor baik internal maupun eksternal.

10.2. Kesempatan Melakukan Pemijahan.

a. Semelparous (memijah sekali kemudian mati)


Contoh: ikan salmon, lampreys, river eels (sidat/pelus),
some knifefish (ikan pisau-pisau).

efendybloger.blogspot.com

Gambar 10.1. Ikan Salmon (Onchorynchus sp)

94
Gambar 4.2 Ikan Lamprey (Petromyzon)

fishingmania.mywapblog.com
Gambar 10.3. Ikan knifefish (Ikan belida)

b. Iteroparous (memijah beberapa kali sepanjang hidupnya)


Memijah sepanjang tahun, pemijahan hanya dilakukan
sekali setiap tahun, tetapi dengan masa pemijahan yang
panjang. Pematangan telur tidak terjadi secara bersamaan,
sehingga telur yang dikeluarkan dan menetas pun tidak
bersamaan.
contoh: ikan-ikan rivulines.

95
by Loureiro, M. fishbase.us

Gambar 5. Ikan Rivulines

c. Pemijahan dilakukan beberapa kali dalam satu tahun


contoh: sebagian besar ikan asuk dalam kategori ini
Elasmobranchii (ikan bertulang rawan), lungfishes (ikan
berparu-paru), perciforms, Betta spp. (ikan cupang).

ulysitompul.blogspot.com

Gambar 6. Ikan Lungfish/ Ikan paru paru

96
10.3. Pasangan dalam Pemijahan.
a. Promiscuous: ikan jantan dan betina masing-masing
memiliki beberapa pasangan dalam satu musim pemijahan.
Jadi ikan jantan akan membuahi beberapa ikan betina dan
ikan betina akan dibuahi oleh beberapa pejantan. Contoh:
herring, livebearers, sticklebacks, surgeon fish.

b. Polygamous Polygyny: ikan jantan memiliki beberapa


pasangan dalam satu musim pemijahan.
contoh: sebagian besar jenis chichlids (mujaer), serranidae,
angelfish (maanvis), gurami.

c. Polyandry : ikan betina memiliki beberapa pasangan dalam


satu musim pemijahan. contoh: anemone fishes (nemo).

d. Monogamy : ikan memijah dengan pasangan yang sama


selama beberapa periode pemijahan. contoh: serranus
(jenis beronang), beberapa jenis cichlid (misalnya ikan
Oscar), jawfish, hamlets, cat fish (lele)

10.4. Jenis kelamin Ikan


a. Gonochoristic : jenis kelamin jelas dan tidak berubah ketika
ikan sudah matang kelamin.
contoh: sebagian besar ikan masuk kategori ini
(elasmobranchii, cypriniformes, salmoniformes).
b. Hermaphroditic : kemungkinan terjadi perubahan kelamin
setelah pematangan gonad.

97
- Simultaneous (satu individu ikan mempnyai dua jenis
kelamin yaitu jantan dan betina). Contoh: rivulus,
hamlet, serranus.
- Sequential (ikan mengalami perubahan kelamin dari
jantan ke betina, atau sebaliknya).
- Protandrous (ikan pada awalnya berjenis kelamin
betina, kemudian berubah menjadi jantan.
contoh: Anemone fishes, Lates calcalifer (ikan kakap).
- Protogynous (jenis kelamin awal betina, kemudian
berubah menjadi jantan)
contoh: Angelfishes, Ephinephelus sp.

10.5. Partenogenetik (Terjadi perkembangan telur tanpa


pembuahan).
a. Gynogenetic: ikan jantan tidak membuahi ikan betina, tetapi
hanya mengaktifkan telurnya saja.
contoh: Poeciliopsis, Poecilia Formosa (jantan tidak
berkontribusi terhadap material genetik, hanya sebagai
trigger).
b. Hybridogenetic: ikan jantan membuahi ikan betina pada satu
musim pemijahan, tetapi tidak pada musim pemijahan
berikutnya.
contoh: Poeciliopsis.

10.6. Karakteristik Jenis Kelamin Sekunder


a. Monomorphic
b. Sexually dimorphic
c. Polymorphic

98
10.7. Persiapan Sarang Pemijahan
a. Tidak membuat sarang, dilakukan oleh ikan yang cenderung
meyerakkan (menyebarkan) telurnya ke perairan. contoh:
ikan salmon, ikan tawes dan nilem.
b. Membuat dan menjaga sarangnya, contoh: ikan gobi,
gurami, cichlid (mujaer).

10.8. Tempat Terjadinya Pembuahan


a. External: pembuahan terjadi diluar tubuh induknya, telur
keluar dari tubuh ikan betina kemudian akan disemprot oleh
sperma ikan jantan.
b. Internal:pembuahan terjadi didalam tubuh ikan betina.
contoh:elasmobranch, livebearers.
c. Buccal (in the mouth): pembuahan terjadi di mulut ikan
betina (tapi bukan oral sex lho), telur yang dikeluarkan
betina dimasukkan dalam mulutnya kemudian disemprot
sperma pejantan tangguh. Biasanya telur yang telah
menetas akan tetap berada di mulut induknya selama waktu
tertentu. contoh: beberapa jenis cichlids, ikan arwana.

10.9. Pengasuhan oleh Induk


a. Induk tidak mengasuh anaknya, contoh: sebagian besar
species ikan
b. Ikan jantan menjaga dan mengasuh anaknya, contoh: ikan
cupang (Betta sp.), sea catfishes, greenlings
c. Betina mengasuh anaknya:

99
Ovipar tanpa pengasuhan pasca pemijahan, contoh:
Oreochromis
Ovovivipar tanpa disertai pengasuhan setelah pemijahan,
contoh: rock fishes (Sebastes)
Vivipar tanpa disertai pengasuhan setelah pemijahan,
contoh: elasmobranch, Poecillia
d. Pengasuhan bersama ikan jantan dan betina, contoh: discus,
cichlasoma
e. Bantuan oleh juvenil lainnya: beberapa jenis cichlid Afrika.

10.10. Habitat Pemijahan:


a. Litofil
b. Pelagofil
c. Fitofil
d. Bentofil

100
Gambar 10.6. Perkembangan telur pada fase GVBD

Telur ikan pada kondisi Geminal Vesicle Breakdown (GVBD) pada


ikan yang memiliki habitat pelagofil dan pada ikan benthofil.

Rangkuman:
Pola pemijahan/ spawning pada ikan, meliputi kesempatan
melakukan pemijahan ada yang hanya satu kali seumur hidup, ada
yang beberapa kali dalam setahun. Pasangan dalam pemijahan,
pada ikan ada yang monogami ada yang poligami. Kepastian jenis
kelamin ikan (gonochorisme) ada yang sudah diketahui pada saat
masih muda, ada yang baru diketahui menjelang dewasa.

101
Tes:
4. Apa yang dimaksud dengan gonochorisme
5. Bagaimana proses perubahan jenis kelamin pada ikan
hermafrodit?

Daftar Pustaka:
Waynarovich E. and Horvath, L. (1980): The Artificial Propagation of
warm water fishes a manual for extension FAO fish tech
paper 201:183 Pp.
http://genomics.aquaculture-europe.org../ cryocyte.ocean.org.il.
Diunduh pada tanggal 1 Juli 2012. pukul 12.00 wib.

102
BAB XI
IKAN AIR TAWAR

11.1. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)

Gambar 11.1 Ikan Gurami (Osphronemus goramy)

a. Klasifikasi:
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Famili : Osphronemidae
Genus : Osphronemus
Spesies : Osphronemus goramy
Nama binomial Osphronemus goramy

103
b. Tingkah laku pemijahan:
Pada kegiatan pra pemijahan: Jantan akan mempersiapkan
sarang berupa anyaman dari rumput-rumput kering, hingga
membentuk seperti sarang burung. Ketika menjelang
pemijahan ikan jantan akan melakukan kegiatan perayuan
pada ikan-ika betina yang sudah matang gonad. Setelah
pemijahan berakhir, induk jantan melakukan pemijahan
dengan induk yang lain dalam satu siklus reproduksi

Ciri-ciri induk betina dan jantan:

a. Betina b. Jantan
- Berumur antara 2-5 tahun. - Dahi menonjol.
- Dahi menonjol. - Dasar sirip dada terang
- Dasar sirip dada terang gelap keputihan.
kehitaman. - Dagu kuning.
- Dagu putih kecoklatan. - Jika diletakkan pada tempat
- Jika diletakkan pada tempat datar datar ekor akan naik.
ekor hanya bergerak-gerak. - Jika perut distriping
- Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan sperma
mengeluarkan cairan. berwarna putih.

c. Fekunditas: 100.000 butir/kg BB


d. Pola pemijahan : Pemijahan dilakukan beberapa kali dalam
satu tahun.
104
e. Pasangan dalam Pemijahan: Polygamous polygyny :
perbandingan antara induk jantan dan betina adalah 1:4,
kemampuan jantan untuk mengawini lebih dari satu induk
dalam satu kali siklus pemijahan.
f. Jenis kelamin Ikan
Gonochoristic : jenis kelamin jelas dan tidak berubah ketika
ikan sudah matang kelamin.
g. Karakteristik Jenis Kelamin Sekunder :Monomorfik
h. Habitat Pemijahan: perairan dengan air jernih, tenang dan
mengalir kecil sehingga suplai oksigen juga terpenuhi
i. Rangsangan Lingkungan: petrichor, aliran air/ air hujan,
vegetasi (daun keladi)
j. Tingkah laku pemijahan: Induk jantan akan membuntuti
ikan betina dan menciumi bagian ventral ikan betina,
hingga melakukan gerakan bergulingan, menghadang dari
depan.
k. Tempat Terjadinya Pembuahan
Eksternal: pembuahan terjadi diluar tubuh induknya, telur
keluar dari tubuh ikan betina kemudian akan disemprot
oleh sperma ikan jantan di sarang yang sudah dibuat.
l. Pengasuhan oleh Induk (Parental care):
Setelah pemijahan berakhir, induk betina akan menutupi
sarang dengan rumput kering dan si betina menjaga di
depan sarang. Pada saat menjaga calon anaknya ini, induk
betina akan mengipas-ipaskan sirip terutama sirip ekornya
ke arah sarang dan gerakan ini akan meningkatkan
kandungan oksigen terlarut dalam air .

105
m. Lama pemijahan: Dalam keadaan normal, proses
pemijahan biasanya berlangsung selama dua hari setelah
sarang selesei dibuat. Pemijahan dapat terjadi sore hari,
sekitar pukul 13.00 – 17.00 hingga menjelang malam.

n. Daftar Pustaka:
Goernaso, 2005. Fisiologi Hewan. Universitas Terbuka.
Jakarta.
Gusrina, 2008. Budidaya Ikan untuk SMK . Pusat Perbukuan
DepartemenPendidikan Nasional.Jakarta. Guzfir,
2009.
Suyanto, SR. 1991. Klasifikasi Ikan Bawal . http://guzfir.
blogspot.com. diunduh tanggal 25 Juni 2012

106
11.2. Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum)

Gambar 11.2. Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum)

a. Klasifikasi: (Saanin, 1968)

Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Cypriniformes
Famili : Characidae
Genus : Colossoma
Spesies : Colossoma macropomum

c. Pola pemijahan: Telurnya menyebar, pemijahannya


beramai-ramai alias massal. Bereproduksi pada awal dan
selama musim hujan.
d. Jenis kelamin: Berdasarkan ciri seksual sekunder, dapat
ditentukan jenis kelamin, terutama morfologi dan warna
(dikromatisme).
107
e. Fekunditas relatif: 100.000 butir/kg BB
f. Ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina
adalah sebagai berikut:

a. Betina b. Jantan
- Mulai matang gonad 2 – 4 tahun dengan - postur ikan jantan relatife lebih
berat 3 – 4 kg langsing, panjang danoperculumnya
- perut buncit, lembek dan lubang kelamin agak kasar (Abbas, 2001)
berwarna kemerahan - Jantan: perut langsing, warna merah,
- induk ikan betina memiliki postur tubuh bila diurut dari perut kearah kelamin
melebar dan pendek, operculum halus keluar cairan berwarna
dan warna kulit lebih gelap putih/sperma.
- Perut dan bibir urogenitalnya berwarna
merah atau kemerah-merahan. Perut
lembek dan lubangkelamin agak
membuka.

g. Kesempatan Melakukan Pemijahan: sekali setahun atau


lebih. Pemijahan dilakukan pada musim hujan.
i. Pasangan dalam Pemijahan: Polygamous polygyny :
Sebaiknya perbandingan antara induk jantan dan betina
adalah 1:1,
j. Jenis kelamin Ikan:
Gonochoristic : jenis kelamin jelas dan tidak berubah ketika
ikan sudah matang kelamin.

108
k. Karakteristik Jenis Kelamin Sekunder : dikromatisme
l. Habitat Pemijahan: Daerah yang paling disukai adalah hulu
sungai yang biasanya pada musim kemarau kering,
sedangkan pada musim hujan tergenang.

m. Tingkah laku pemijahan: Hidup secara bergerombol di


daerah yang airnya tenang. Sebelum musim kawin tiba,
induk yang sudah matang akan mencari tempat yang cocok
untuk melakukan reproduksi. Saat pemijahan berlangsung,
induk jantan akan mengejar induk betina. Induk betina kerap
kali akan membalas dengan cara menempelkan perut ke
kepala induk jantan. Apabila telah sampai puncaknya, induk
betina akan mengeluarkan telur dan induk jantan akan
mengeluarkan sperma.

Daftar Pustaka:

Arie, Usni.2000. Budidaya Bawal Air Tawar. Jakarta : Penerbit


Swadaya
Balai Informasi Penyuluh Pertanian Magelang, Departemen
Pertanian, http://www.deptan.go.id, Maret 2001.
Khairul Amri, Khairul dan Khairuman, 2008. AgroMedia Pustaka,
Jakarta.
Rahman,Nur. 2011. Diakses 4 Desember 2012. Klasifikasi Dan
Deskripsi Ikan Bawal Air Tawar.
http://nurrahman08.student.ipb.ac.id/2011/09/29/klasifikasi
-dan-deskripsi-ikan-bawal-air-tawar-colossoma-
macropomum/
Saanin. H., 1968. Identifikasi dan Klasifikasi Ikan-ikan di Indonesia.

109
11.3 Ikan Tawes (Barbodes gonionotus)

Gambar 11.3 Ikan Tawes (Barbodes gonionotus)


a. Klasifikasi:
Pyllum: Cordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: Cypriniformes
Famili: Cyprinidae
Genus : Barbodes
Species: Barbodes gonionotus
Nama Asing : java carp, silver barb
Nama Lokal: tawes, taweh atau tawas, lampam
jawa
Keterangan: Tawes merupakan salah satu ikan asli Indonesia yang,
banyak ditemukan di Pulau jawa. Hal ini juga yang menyebabkan
tawes memiliki nama ilmiah Puntius javanicus. Namun, berubah
menjadi Puntim gonionotus, dan terakhir berubah menjadi
Barbodes gonionotus. Species : Barbonymus gonionotus (Bleeker,
1850)

110
b. Pola Pemijahan:
Memijah pada musim penghujan dan bergerombol.
c. Ciri-ciri induk betina dan jantan:

a.Betina b.Jantan
- induk tawes betina umur kurang - memijah pada umur kurang lebih 1
lebih 1,5 tahun. tahun,
- Perutnya mengembang kearah - Bila perut diurut dari arah kepala ke
genetal (pelepasan) bila diraba anus akan keluar cairan berwarna
lebih lembek keputih-putihan (sperma)
- Lubang dubur berwarna agak - Tutup insang bila diraba terasa
kemerah-merahan kasar
- Tutup insang bila diraba lebih
licin
- Bila perut diurut dari arah
kepala ke anus akan keluar
cairan kehitam-hitaman.

d. Kesempatan melakukan pemijahan:sepanjang tahun, di


musim hujan
· Fekunditas: Jumlah telur yang dapat dihasikan sekitar 1000
butir/gram berat badan. Telur mengendap pada dasar
perairan (demersal) dan menetas dalam waktu 13-20 jam
Umumnya induk betina dapat mengahsilkan telur hingga
111
20.000 butir/ekor/ Induk yang digunakan untuk pemijahan
harus sehat, tidak mengalami cacat fisik, baik bentuk badan
maupun sisiknya (Nugroho & Kristanto 2008: 119--120).
d. Jenis kelamin ikan (gonochorisme)
e. Karakteristik Jenis kelamin Sekunder
f. Habitat pemijahan: sungai, rawa, perairan tawar, airnya
jernih, tenang dan mengalir kecil shingga suplai oksigen juga
terpenuhi. Suhu 22-28 OC, pH 7
g. Rangsangan Lingkungan: vegetasi, aliran air/ air hujan.
h. Tingkah laku pemijahan: Di perairan umum memijah pada
musim penghujan.
i. Tempat Terjadinya Pembuahan, di permukaan, terutama
betina suka melompat-lompat ke udara
j. Pengasuhan oleh Induk (Parental care)
k. Lama pemijahan: Pemijahan ikan tawes biasanya terjadi pada
malam hari, yaitu pukul 19.00--22.00.

Daftar Pustaka:

Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P. Agromedia


Pustaka, 2008
Sumber: http://www.dkp.go.id
Anonimous, 2001. Balai Informasi Penyuluh Pertanian Magelang;
Departemen Pertanian, http://www.deptan.go.id, Maret
2001.
http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc
=3a8 diunduh pada 24 Juni 2012

CAB International. 2006. Barbonymus gonionotus (Bleeker, 1850).


2006: 1 hlm.
112
http://www.cabicompendium.org/NamesLists/AC/Full/PUNTGO.ht
m, 3 Juli 2010, pk. 10.10.
Fujaya, Y. 2002. Fisiologi ikan: Dasar pengembangan teknologi
perikanan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta: vii + 204 hlm.
Torres. 2010. Barbonymus gonionotus (Bleeker, 1850). April 2010: 1
hlm.
http://www.fishbase.org/physiology/MorphDataSummary.
php?genusname=Barbonymus&speciesname=gonionotus&
autoctr=290, 1 Juli 2010, pk. 13.01.

113
11.4 Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus)

Gambar 11.4. Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus )

a. Klasifikasi:

Pyllum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: OstariophysiCypriniformes
Famili: Pangasidae
Genus : Pangasius
Species: Pangasius hypophthalmus

Nama Inggris: Catfish; Nama Lokal: Patin Siam.


Jenis ikan patin di Indonesia cukup banyak, diantaranya Pangasius
poluranodo (ikan juaoro), Pangasius macronema (ikan rius, riu,
lancang), Pangasius micronemus (wakal, riu scaring) Pangasius
nasutus (pedado) dan Pangasius nieuwenhuisil (lawang).

b. Pola pemijahan: Di alam memijah tergantung musim,


memijah secara massal.

114
c. Ciri-ciri induk ikan:

a. Betina b. Jantan
- Induk betina yang sudah matang - Jantan yang sudah matang
gonad yaitu umur kurang lebih 3 gonad yaitu umur minimal 2
tahun, berat minimal 1,5 – 2 tahun, berat 1,5 – 2 kg/ekor,
kg/ekor, perut membesar ke arah kulit perut lembek dan tipis,
anus, perut terasa empuk dan alat kelamin membengkak dan
halus saat diraba, kloaka berwarna merah tua, keluar
membengkak dan berwarna merah cairan sperma berwarna putih
tua, kulit di bagian perut lembek jika perut diurut ke arah anus.
dan tipis, keluar beberapa butir
telur berbentuk bundar dan
berukuran seragam jika bagian
sekitar kloaka ditekan.

d. Kesempatan melakukan pemijahan: termasuk ikan yang


kawin musiman biasanya pada musim hujan (Bulan
November – Maret), Perbandingan induk jantan dan
betina adalah 3 : 2.

e. Jenis kelamin ikan (gonochorisme)


f. Karakteristik Jenis kelamin Sekunder

115
g. Fekunditas: telur induk betina 10% dari berat tubuh
induk. 120 000 - 200 000 butir /ekor . 8500 butir /kg BB

h. Habitat Pemijahan: Ikan patin di alam bebas biasanya


sembunyi di dalam liang – liang di tepi sungai atau kali dan
menetap di dasar perairan (domersal). Ikan ini baru keluar
dari liang pada malam hari (nocturnal).Di alam ikan patin
bersifat karnivora, tetapi di tempat pemeliharaan
(budidaya) bersifat omnivora (pemakan segala).
i. Rangsangan Lingkungan: air yang digunakan harus bersih,
jernih, dan mengalir terus – menerus guna menyuplai
oksigen serta menggerakkan telur yang sedang ditetaskan.
Kedua, suhu udara dan suhu air di unit pembenihan harus
stabil tidak berfluktuas.
j. Tingkah laku pemijahan
k. Tempat Terjadinya Pembuahan: Air tawar dan payau
dengan aliran air yang tenang, terutama di sungai-sungai
berlumpur atau berpasir.
l. Pengasuhan oleh Induk (Parental care)
m. Lama pemijahan: -
n. Daftar Pustaka:

Djariah, A.S. 2001. Budi Daya Ikan Patin. Kanisius.


Yogyakarta. 87 hal.
Fujaya, Y. 2004. Fisiologi Ikan. Dasar Pengembangan
Teknik Perikanan. Rieka Cipta, Jakarta. 179 hal.
Nurhasanah.1997.Petunjuk teknis pembenihan ikan patin
indonesia Pangasius djambal. IRD dan Pusat Riset
Perikanan Budidaya Badan Riset Kelautan dan
Perikanan. Karya Pratama. Jakarta.
Rustidja. 2004. Pembenihan Ikan-Ikan Tropis, Fakultas
Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.

116
Sumandinata, K. 1983. Pengembangbiakan Ikan-Ikan
Peliharaan di Indondesia. PT. Sastra Hudaya. Bogor.

Sunarma, A. 2004. Teknik Pembenihan Ikan Patin Siam


(Pangasius hypopthalamus). BBPBAT. Sukabumi.
Susanto, H. dan Khairul Amri. 2002. Budidaya Ikan Patin.
Penebar Swadaya. Jakarta.90 hal
. 2001. Budidaya Ikan Patin, Jakarta:
Penebar Swadaya.
http://fauzan-mustopa.blogspot.com/2010/10/ikan-patin-
siam-pangasius-hypophthalmus.html

117
11.5. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Gambar 11.5 Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

a. Klasifikasi:

Filum : Chordata
Sub-Filum : Vertebrata
Kelas (class) : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis sp

Terdapat 3 jenis nila yang dikenal, yaitu: nila biasa, nila merah
(nirah) dan nila albino.
Ikan Nila pada umumnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

118
· Bentuk badan pipih kesamping memanjang;
· Garis-garis pada sirip ekor berwana merah sejumlah 6-12
buah;
· Pada sirip pungung terdapat garis-garis miring; dan
· Mata tampak menonjol & besar, tepi mata berwarna putih.
· Mempunyai garis vertikal sepanjang tubuh 9-11 buah;

b. Pola pemijahan: perbandingan betina dan jantan untuk


pemijahan adalah 3:1. Termasuk Polygamous Polygyny
Induk nila ukuran 250 – 400 gram/ekor siklus pemijahannya
10 – 12 hari, jika sudah > 500 g, siklusnya berubah menjadi
20-25 hari. Ciri telah terjadi pemijahan adalah
terbentuknya lekukan-lekukan berbentuk bulat didasar
kolam dengan diameter 30-50 cm.
c. Ciri-ciri induk ikan:

Betina: Jantan:
- mulai memijah pada umur 6 s/d 8 - Dagu berwarna kemerahan atau
bulan kehitaman
- Kedewsaan pertama tercapai pada - Sirip dada berwarna cokelat Perut
umur 4-6 bulan dengan bobot pipih, (Normal, kemps) dengan
100-250 g. warna kehitaman, jika dipijat
- Dagu berwarna putih. Sirip dada mengeluarkan cairan.
berwarna kehitaman. - Alat kelamin berbentuk beruncing.
- Perut berwarna putih & mengem Mempunyai 2 buah lubang yaitu

119
bang & jika dipijat tidak menge- anus & urogenital (urine &
luarkan cairan. sperma).
- Alat kelamin berbentuk bulan
sabit.
- Mempunyai 3 buah lubang yaitu
anus, genital/telur & lubang
urine.alam.

d. Kesempatan melakukan pemijahan: Nila termasuk ikan


yang dapat memijah sepanjang tahun , Jenis ikan ini dapat
memijah 6-7 kali/tahun.dan
e. Perbandingan jantan betina:
memasangkan induk jantan dengan betina dengan
perbandingan 1:3.
f. Fekunditas:
Seekor induk betina dapat menghasilkan telur sebanyak
1000 - 1500 butir
g. Jenis kelamin ikan:
Gonochorisme
h. Karakteristik Jenis kelamin sekunder:
i. Habitat Pemijahan:
airnya jernih, tenang dan mengalir kecil sehingga suplai
oksigen juga terpenuhi
j. Rangsangan Lingkungan: aroma tanah, pengaliran air baru,
dasar tanah berpasir.
k. Lamanya pemijahan sampai benih lepas dari perawatan
induk adalah sekitar 14 hari (Djarija, 1994).
l. Tingkah laku pemijahan:
Saat pemijahan ikan jantan akan membuat sarang dan
menjaganya. Telur yang telah dibuahi dierami oleh induk
120
betina di dalam mulutnya. Penjagaan oleh betina masih
terus dilanjutkan sampai seminggu setelah telur-telur
tersebut menetas.
Proses pemijahan dimulai dengan pembuatan sarang oleh
ikan jantan berupa lekukan berbentuk bulat dengan
diameter sebanding seukuran tubuhnya di dasar perairan
dalam daerah teritorial (Suyanto, 1988).
Ikan betina yang siap memijah akan mengeluarkan telur di
lubang yang telah dipersiapkan oleh jantan dan telur-telur
tersebut akan dibuahi oleh ikan jantan. Setelah telur
dibuahi, telur tersebut akan dikumpulkan oleh ikan betina
dan dierami di dalam mulut sampai menetas.
m. Tempat terjadinya pembuahan:
Ikan betina yang siap memijah akan mengeluarkan telur di
lubang yang telah dipersiapkan oleh jantan dan telur-telur
tersebut akan dibuahi oleh ikan jantan. Setelah telur
dibuahi, telur tersebut akan dikumpulkan oleh ikan betina
dan dierami di dalam mulut sampai menetas.
Buccal (in the mouth): pembuahan terjadi di mulut ikan
betina (tapi bukan oral sex lho), telur yang dikeluarkan
betina dimasukkan dalam mulutnya kemudian disemprot
sperma pejantan tangguh. Biasanya telur yang telah
menetas akan tetap berada di mulut induknya selama
waktu tertentu. contoh: beberpa jenis cichlids, ikan arwana.

n. Pengasuhan oleh induk Parental care:

Saat pemijahan ikan jantan akan membuat sarang dan


menjaganya. Telur yang telah dibuahi dierami oleh induk
betina di dalam mulutnya. Penjagaan oleh betina masih

121
terus dilanjutkan sampai seminggu setelah telur-telur
tersebut menetas. Lama pengeraman di dalam mulut
berkisar antara 1 – 2 minggu tergantung suhu air. Setelah
larva dilepas oleh induk betina, larva-larva tersebut akan
kembali ke dalam mulut induk betina apabila ada bahaya
yang mengancam.
o. Lama pemijahan:
Pemijahan sebagiand emi sebagian (partial spawner =
heterochronal) pada ikan dapat berlangsung sampai
beberapa hari. Lamanya pemijahan sampai benih lepas dari
perawatan induk adalah sekitar 14 hari (Djarija, 1994).

Daftar Pustaka:

http://juprimalino.blogspot.com/2012/01/habitat-dan-reproduksi-
ikan-nila-gift.htmlb diunduh tanggal 15 Juli 2012
Adi Sucipto, 2012. Tukar pasangan dan produksi benih ikan nila.
http://www.adisucipto.com/2012/02/tukar-pasangan-dan-
produksi-benih-ikan-nila/ diunduh pada 24 Juni 2012

Kuncoro, E.B. 2002. Ikan Siklid. Jakarta: Penebar Swadaya.

Suyanto, R. 1994. Nila. Jakarta ; Penebar Swadaya.

122
11.6 Ikan Cupang (Betta slendens)

Gambar 11.6 Ikan Cupang (Betta slendens)

a. Klasifikasi:
Fillum : Chordata
Subfillum : Craeniata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Actinopterygii
Superordo : Teleostei
Ordo : Percomorphoidei
Family : Anabantidae
Genus : Betta
pesies : Betta splendens

123
b. Tingkah laku pemijahan:
Proses pemijahan cupang diawali dengan sibuknya ikan jantan
mengeluarkan buih busa dari mulutnya lalu diletakkan pada
permukaan sebagai sarang telur. Setelah itu pejantan akan
mencari betina yang siap untuk dijadikan pasangan. Setelah
didapatkan pasangan yang cocok, maka betina akan
mengeluarkan sel telur diikuti dengan pelepasan sel sperma
oleh jantan.
Telur yang sudah dibuahi akan dibawa oleh jantan menuju buih
yang ada di permukaan. Dalam masa sampai penetasan, ikan
jantan akan menjaga telur sampai benar-benar menetas,
bahkan sampai anakan cupang tersebut mandiri. Jika ada buih
yang pecah, maka jantan akan segera membuat buih busa yang
sama sehingga telur benar-benar bisa menetas.
c.Ciri-ciri induk ikan:

a. Betina b. Jantan
- ciri-ciri kematangan gonad Kematangan gonad dari ikan
dilihat dari besarnya perut cupang ini dilihat dari
betina banyaknya bintik hitam yang
terdapat pada sirip
punggung jantan.
Umur cupang yang siap untuk
melakukan pemijahan
adalah 6-7 bulan.

124
d. Kesempatan melakukan pemijahan:
e. Jenis kelamin ikan (gonochorisme)
f. Karakteristik Jenis kelamin Sekunder:

g. Habitat Pemijahan: Kolam airnya jernih, tenang dan


mengalir kecil sehingga suplai oksigen juga terpenuhi
h. Rangsangan Lingkungan: tumbuhan mengapung.
i. Tingkah laku pemijahan:
Jika bintik hitam banyak, maka ikan cupang jantan sudah
siap untuk melakukan pemijahan. Selain itu ikan jantan
akan terlihat sibuk dalam mempersiapkan sarang tempat
penetasan telur.
j. Tempat Terjadinya Pembuahan: terjadilah fertilisasi
eksternal
k. Pengasuhan oleh Induk (Parental care). Jantan membuat
sarang busa, ketika pemijahan terjadi jantan membantu
menempelkan telur-telur yang telah dibuahi dengan
meniup-niupkan telur ke arah sarang busa.
l. Lama pemijahan: beberapa jam, dan bertahap

125
DAFTAR PUSTAKA

Daelami, D. 2001. Usaha Pembenihan Ikan Hias Air Tawar. Jakarta :


Penebar Swadaya.
Id.wikipedia.org/wiki/cupang.

Yuniar, Is., 2003. Pemberian hormon metiltestosteron sebagai


upaya maskulinisasi ikan cupang anakan (tidak
dipublikasikan)
Yuniar, Is., 2003. Pengaruh suhu dan hormon metiltestosteron
terhadap rasio jantan dan betina yang dihasilkan. (Tesis).

126
11.7. Ikan Lele (Clarias sp.)

Gambar 11.7. Ikan Lele (Clarias sp.)

a. Klasifikasi
Kerajaan: Animalia.
Filum: Chordata.
Kelas: Atinopterygii.
Ordo: Siluriformes.
Famili: Clariidae.
Genus: Clarias (Scopoli, 1777)

b. Pola pemijahan:
Di alam ikan lele dapat memijah spenajang tahun,
monogami.

c. Ciri-ciri induk ikan:

127
a. Betina b. Jantan
- Kepalanya lebih besar - Kepala indukan jantan lebih
dibanding induk lele jantan, kecil dari indukan ikan lele
warna kulit dada agak terang, betina, warna kulit dada
kelamin berbentuk oval atau indukan jantan agak tua bila
bulat daun, berwarna dibanding indukan betina.
kemerahan, lubangnya agak - kelamin jantan menonjol,
lebar, letaknya di belakang memanjang ke arah belakang,
anus, gerakannya lambat, terletak di belakang anus, dan
tulang kepala pendek dan warna kemerahan, gerakan
agak cembung, perutnya lebih indukan jantan lincah, tulang
gembung dan lunak, bila kepala pendek dan agak
diurut dari bagian perut ke gepeng, perut indukan jantan
arah ekor indukan betina akan lebih langsing dan kenyal bila
mengeluarkan cairan dibanding indukan ikan lele
kekuning-kuningan berupa sel betina, bila diurut dari bagian
ovum perut ke arah ekor indukan lele
- jantan akan mengeluarkan
cairan putih kental
(spermatozoa) serta kulit
jantan yang lebih halus
dibanding betina.

d. Kesempatan melakukan pemijahan: sepanjang tahun.


e. Jenis kelamin ikan : (gonochorisme)

128
f. Karakteristik Jenis kelamin Sekunder: genital pore dan
genital papilla
g. Habitat Pemijahan: sungai yang tidak berarus deras,
perairan umum/genangan air yang tenang.
h. Rangsangan Lingkungan: air baru, sarang berupa lubang
yang sudah dibuat si jantan.
i. Tingkah laku pemijahan;
Proses pemijahan diawali dengan berenangnya betina
mendekati jantan. Keduanya melakukan sentuhan tubuh
secara berkali-kali. Setelah itu mereka berdua
menciptakan pergerakan dengan cara mengibaskan ekor
mereka. Keduanya lalu bekerja sama menggali lubang
pada kerikil yang bersih sampai diameternya mencapai
30 cm. Dalam porses matting betina mendorong kepala
mereka ke pusat tubuh jantan sampai pada keadaan
seperti terikat. Keduanya tetap dalam posisi ini dalam 10
menit sampai betina lepas dari ikatan. Hal ini akan
terjadi secara berulang sampai betina membuat lubang
sebagai tanda siap untuk mengeluarkan sel telur. Setelah
lubang dibuat, maka betina akan bergerak menuju
jantan dan mengajaknya ke tempat lubang yang telah
dibuat.
j. Tempat Terjadinya Pembuahan:
Setelah itu akan terjadi proses matting lagi kemudian
betina akan mengeluarkan telur pada lubang diikuti
jantan yang mengeluarkan sperma. Setelah telur
dikeluarkan, betina akan membuat lingkaran tempat
telur berada, lalu jantan akan menjaga telur-telur
tersebut dengan cara berenang di sekitar sarang telur.

129
k. Pengasuhan oleh Induk (Parental care):
Penjagaan telur
l. Lama pemijahan: Proses mating bisa terjadi berkali-kali,
sehingga secara keseluruhan proses reproduksi ikan lele
bisa berlangsung selama 20 jam.

Daftar Pustaka

Wikipedia. 2007. Lele. Jakarta: Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas


berbahasa Indonesia. www.wikipedia.org (12 April 2007).

Wolfgang, R. 2007. Catfish. www.planetcatfish.com (21 September


2007).

130
11.8. Nama Ikan: Sepat Siam (Trichogaster pectoralis)

a. Klasifikasi:

Phyllum : Chordata
Kelas: Pisces
Ordo: Anabantoidae
Famili: Belontiidae
Genus: Trichogaster
Species: Trichogaster pectoralis
nama Asing: snakeskinned gouramy,
spotted gouramy
nama Lokal: sepat siam

Morfologi:

Sepat siam mirip dengan gurami, tetapi memiliki ukuran tubuh yang
lebih kecil. Terdapat bintik hitam di bagian tengah batang ekornya,
131
lehingga ikan ini disebut sebagai spotted gouramy. Selain itu, warna
tubuhnya yang belang-belang seperti kulit ular membuat ikan ini
juga diberi nama snakeskinned gouramy. Sementara itu, julukan
sepat siam diberikan karena selain banyak terdapat di
Siam,Thailand diduga berikan karena bentuk tubuhnya yang lebih
besar dibandingkan dengan spat jenis lainnya.

b. Pola Pemijahan: Pemijahan berpasangan, diawali dengan


pembuatan sarang, penjagaan telur oleh jantan,
pengusiran betina, dan siap memakan anak-anaknya.
Biasanya pemijahan terjadi pada musim kemarau, karena
sarang busanya tidak rusak oleh arus air hujan.

c. Ciri-ciri induk ikan:

a. Betina b. Jantan
- umur telah mencapai 7 -sirip punggungnya panjang,
bulan. bentuk sirip punggungnya
- sirip punggung membulat dan lancip
pendek, tidak mencapai -Tinggi tubuhnya relatif lebih
dasar pangkal sirip ekor. tinggi dibanding betina.
- tinggi badan tidak setinggi - Warna lebih cerah
jantan

132
d. Kesempatan melakukan pemijahan:
e. Jenis kelamin ikan (gonochorisme)
f. Fekunditaas:
Sekali memijah biasanya betina akan mengeluarkan 150–
200 butir telur.
g. Habitat Pemijahan: sepat siam ini membutuhkan air
tenang tidak menyukai air yang deras. rawa, dari rawa
yang berair tawar sampai rawa yang berair payau
h. Rangsangan Lingkungan: tumbuhan air yang
mengapung seperti eceng gondok, rawa-rawa, danau,
sungai dan parit-parit yang berair tenang; terutama
yang banyak ditumbuhi tumbuhan air[
i. Tingkah laku pemijahan: membuat sarang busa yang
dilakukan ikan jantan.
Ikan sepat siam ini pada waktu pemijahan akan
membuat gelembung busa pada substart. ikan jantan
akan membuat sarang busa atau sarang gelembung dari
air ludahnya, sebagai tempat memijah dan menyimpan
telur hingga menetas nanti. Percumbuan dan
pemijahan akan berlangsung di sarang ini, dan sesudah
telur dikeluarkan dan dibuahi, sepat betina akan diusir
keluar oleh si jantan.
j. Tempat Terjadinya Pembuahan: di dekat sarang busa
k. Pengasuhan oleh Induk (Parental care): telur dijaga si
jantan. Beberapa hari berikutnya burayak (anak-anak
ikan) mulai aktif berenang. Pada saat itu hendaknya
ikan jantan dipisahkan dari anak-anaknya, agar
burayak-burayak itu tidak dimakannya.

133
l. Lama pemijahan: beberapa jam

m. Daftar Pustaka:

http://zonaikankita.blogspot.com/2012/02/sepat-mutiara-
trichogaster-leeri.html diunduh pada tanggal 24
Juni 2012
http://hobiikan.blogspot.com/2009/12/kolam-pemijahan-
ikan-sepat-siam.html tanggal 24 Juni 2012
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/04/siklus-
reproduksi-ikan.html. Diunduh tanggal 24 Juni
2012 pukul 01.30 wib
http://ml.scribd.com/doc/53752503/Reproduksi-pada-Ikan.
Diunduh pada tanggal 24 Juni 2012, pukul 03.00
wib
http://manusia-uchiha.blogspot.com/2011/12/habitat-
pemijahan-pada-ikan.html. Dunduh pada Tanggal
24 juni 2012
http://www.fishingcy.com/photos/saltfish/hannos.jpg .
Diunduh pada tanggal 24 juni 2012
http://rexson-napitupulu.blogspot.com/2011/10/sistem-
reproduksi-ikan.html tanggal 24 Juni 202
http://riskyhandayani.wordpress.com/2011/05/07/ 24 Juni
2012

Tugas: Buat klasifikasi pada ikan jenis yang lain mulai dari: pola
pemijahan, habitat pemijahan, kesempatan melakukan pemijahan.

134
Glosarium

Buncak : tumpukan (nomina)


Dewasa : de.wa.sa [a] (1) sampai umur tertentu telah mencapai
kematangan kelamin; Ikan dikatakan dewasa apabila gonad sudah
fungsional, bila jantan mampu menghasilkan spermatozoa, dan bila
betina mampu menghasilkan sel telur .
Dikromatisme : dari perbedaan warna dapat menentukan jenis
kelami jantan dan betina
Dikromatisme : dari perbedaan warna dapat menentukan jenis
kelami jantan dan betina
Elasmobranchi : golongan ikan bertulang rawan
Fertilisasi : pembuahan
Gamet: sel sperma atau telur, terutama yg matang dan sudah
berfungsi dl pembiakan secara seksual (n Bio)
Gonad: organ hewan yg menghasilkan gamet-gamet; kelenjar
kelamin (n Bio)
Hermafrodit : makhluk (manusia, hewan, tumbuhan) yg berkelamin
dua jenis, jantan dan betina sekaligus.
Kematangan gonad: menunjukkan suatu tingkatan kematangan
sexual ikan
Kolom air : badan air arah vertikal
Ovarium : ova.ri.um [n ] alat kelamin dalam yg membentuk sel
telur
Oviduk : saluran pengeluaran produk gamet betina
Lubang urogenital: satu lubang yang digunakan bersama-sama,
untuk pengeluaran urine dan gamet
Ovipositor: ovi.po.si.tor (n Zoo) struktur atau alat khusus pada ikan
untuk bertelur
Parental care: pengasuhan induk ikan kepada keturunannya, dapat
berupa penjagaan, memasukkan larva ke dalam mulut dll.
Performa : penampilan (nomina)

135
petrichor : khas. aroma yang menyertai pertama hujan setelah
lama hangat musim kering . atau bau menyenangkan yang
menyertai hujan pertama setelah musim kering ".
Poikiloterm : poi.ki.lo.term [n] vertebrata berdarah dingin yg
menyesuaikan suhu darahnya secara bebas dan harmonis dng suhu
lingkungannya.
Reproduksi ikan : pengembangbiakan ikan
Reproduksi aseksual : perbanyakan makhluk hidup tanpa terjadinya
fusi dari benih jantan dan benih betina
Reproduksi seksual : perbanyakan melalui penggabungan benih
jantan dan benih betina
Sarang busa: busa yang dihasilkan dari air liur ikan sepat atau ikan
cupang, yang fungsinya untuk menempelkan telur-telur yang telah
dibuahi
Musim pemijahan: suatu masa waktu tertentu dimana ikan-ikan
melakukan pemijahan, biasanya terjadi pada awal musim hujan.
Seksualitas : sek.su.a.li.tas [n] (1) ciri, sifat, atau peranan seks; (2)
dorongan seks; (3) kehidupan seks
Sintasan : survival rate= daya hidup
Sucker mouth : mulut penghisap bagi ikan sapu-sapu / pembersih
kaca
Testis: alat kelamin laki-laki yg menghasilkan mani; buah zakar
(nomina)
Tingkah laku reproduksi : kelakuan/ tingkah polah yang
ditunjukkan ikan menjelang kegiatan reproduksi
Vegetasi : ve.ge.ta.si [n] kehidupan (dunia) tumbuh-tumbuhan atau
(dunia) tanam-tanaman: hubungan antara -- dan iklim sangat erat
Vertebrata : ver.te.bra.ta [n Bio] binatang yg bertulang belakang
(spt binatang menyusui dan burung)

136
Indeks

anadromus, 11 iteroparous, 104


anterior, 51 kesadahan, 11
buccal, 109 larva, 78
ciri seksual primer, 15 lobular, 18, 56
clasper, 25 macrolecithal, 45
cleavage, 73 meschorchium, 56
dewasa, 6 mesovarium, 56
diensefalon, 89 messenterium, 56
dioecious, 16 monomorphic, 108
diploten, 50 non parental care, 9
eksternal fertilization, 71 nukleolus, 51
Elasmobranchii, 19 nukleus, 51
embrio, 67 oligolecithal, 44
epitel germinativum, 91 oogenesis, 50
fase dorman, 62 oogonia, 82
fekunditas, 41 oosit primer, 82
feromon, 100 ovarian fecundity, 39
fertilisasi, 5 oviduk, 20
fotoperiode, 11 ovipar, 67
genital papila, 18 oviparus, 69
gonadotrofin, 11 ovipositor, 22
gonokoristik, 31 ovogonium, 59
gynogenetic, 108 ovovivipar, 72
hermafrodit, 31 ovum, 16
hibernasi, 97 parenting habit, 68
hipertonis, 63 pasca pemijahan, 95
hipofisa, 85 poikiloterm, 3
hipotalamus, 85 polyandry, 107
Hybridogenetic, 108 polygamous, 106
hypotonis, 63 polymorphic, 108
internal fertilization, 71 pra pemijahan, 95

137
previtellogenesis, 53 primer, 55
promiscuous, 106 spermatosit primer, 50
protogini, 34 spermatozoa, 16
protogynous, 108 stimulasi cahaya, 89
reproduksi, i, 1 stripping, 17
salmon, 18 sucker mouth, 7
sel leidig, 92 tenaculum, 29
sel sertoli, 92 total spawner, 87
semelparous, 103 tubular, 56
semen, 64 urogenital, 68
sexual, 5 uterus, 20
sexually dimorphic, 108 vas deferens, 52
sinkroni, 31 vesikula seminalis, 21
sitoplasma, 53 vitellogenesis, 54
sosog, 113 vitelogenin, 51
spawning ground, 137 viviparus, 71
spermatogonium, 49 zigot, 67
spermatosit

138
139
140