Anda di halaman 1dari 123

duestinae89.blogspot.

com

translate by Enoey
duestinae89.blogspot.com
duestinae89.blogspot.com

Prolog
SAAT AKU DUDUK di kelas sembilan, aku harus menulis sebuah laporan
mengenai sebuah puisi. Satu dari barisnya berbunyi, “Jika matamu tidak terbuka,
kau tidak akan pernah tahu bedanya bermimpi dan bangun.” Puisi ini sama sekali
tidak berarti apa-apa bagiku saat itu. Apalagi, ada seorang cowok yang aku suka di
kelas, jadi bagaimana mungkin aku bisa berharap untuk bisa memperhatikan
pelajaran analisis sastra? Sekarang, tiga tahun kemudian, aku sangat memahami apa
maksud puisi itu sebenarnya.

Sebab akhirnya, kehidupanku benar-benar terlihat seperti berada di tepian curam


mimpi. Ada beberapa hari dimana aku merasa aku sudah terbangun dan
menemukan kalau apa yang baru saja terjadi dalam hidupku tidak benar-benar
terjadi. Pastinya aku adalah seorang putri dalam tidur yang mempesona. Beberapa
hari kemudian, mimpi ini – bukan, mimpi buruk – akan berakhir, dan aku akan
mendapatkan pangeranku hingga mendapatkan akhir yang bahagia.

Tapi tidak ada akhir yang bahagia yang bisa ditemukan, paling tidak, tidak ada pada
masa depan yang sudah bisa ditebak. Dan pangeranku? Sebenarnya, ceritanya
panjang. Pangeranku sudah berubah menjadi vampir – seorang Strigoi secara
spesifik. dalam duniaku, ada dua jenis vampir yang tinggal dalam kerahasiaan dari
manusia. Moroi adalah vampir yang hidup, vampir baik yang mempunyai sihir
elemen dan tidak membunuh ketika meminum darah yang mereka butuhkan untuk
bertahan hidup. Strigoi adalah vampir kekal, abadi, dan tidak berperasaan, yang
membunuh siapa saja yang menjadi mangsa mereka. Moroi terlahir, Strigoi dibuat –
dipaksa atau keinginan sendiri – melalui jalan setan.

Dan Dimitri, pria yang aku cintai, telah dirubah menjadi Strigoi dengan paksaan.
Dia dirubah ketika pertarungan terjadi, sebuah misi penyelamatan dimana aku juga
menjadi salah satu bagian di dalamnya. Strigoi menculik Moroi dan dhampir dari
sekolahku, dan kami dijebak untuk menyelamatkan mereka. Dhampir adalah
makhluk setengah vampir-setengah manusia – diberkahi dengan kekuatan dan daya
tahan tubuh manusia, dan gerak refleks dan indra yang tajam dari Moroi. Dhampir
dilatih untuk menjadi pengawal, pengawal eksklusif untuk melindungi Moroi. Itulah
aku. Itulah Dimitri sebelumnya.

Setelah perubahannya, Moroi yang tersisa menganggapnya sudah mati. Dan untuk
keberadaannya, memang begitu adanya. Siapapun yang berubah menjadi Strigoi
akan kehilangan semua rasa kebaikan dan kehidupan yang pernah ia miliki
sebelumnya. Meskipun jika mereka berubah karena keinginan mereka sendiri, tidak
akan berpengaruh. Mereka akan tetap menjadi setan dan kejam, seperti Strigoi
seharusnya. Seseorang dalam diri itu sudah tidak ada lagi, dan sejujurnya, lebih
mudah membayangkan mereka pindah ke surga atau ke kehidupan selanjutnya dari
pada membayangkan mereka mengendap-endap di malam hari untuk mengambil
korban. Tapi aku tidak bisa melupakan Dimitri, atau menerima bahwa esensi
kehidupannya sudah mati. Dia adalah pria yang aku cintai, seseorang yang
dengannya begitu seirama denganku sehingga sangat sulit untuk mengetahui kapan
aku memulai dan kapan dia mengakhiri. Hatiku menolak untuk merelakan
duestinae89.blogspot.com
kepergiannya – meski secara teknis dia sudah menjadi monster, dia masih ada
disuatu tempat di luar sana. Aku juga tidak bisa melupakan percakapan yang pernah
kami lakukan berdua. Kami berdua setuju kalau kami lebih baik mati – benar-benar
mati – daripada berjalan di dunia sebagai Strigoi. Dan sekali aku berduka cita untuk
kebaikan yang hilang dari dalam dirinya, aku sudah memutuskan kalau aku harus
menghargai keinginannya. Meski jika dia tidak mempercayai kata-kata itu lagi. aku
harus menemukannya. Aku harus membunuhnya dan membebaskan jiwanya dari
kegelapan, kehidupan yang tidak alami. Aku tahu bahwa itulah yang Dimitri yang
aku cintai inginkan. Membunuh Strigoi tidaklah mudah. Mereka sangat cepat dan
kuat. Mereka tidak memiliki rasa belas kasihan. Aku sudah membunuh beberapa
dari mereka – sangat gila untuk seseorang yang baru berusia delapan belas tahun.
Dan aku tahu berhadapan dengan Dimitri akan menjadi tantangan terbaikku, secara
fisik maupun emosi.

Faktanya, konsekuensi emosi sudah kutendang secepat mungkin saat aku


memutuskan tindakannku. Mengejar Dimitri berarti melakukan beberapa hal yang
bisa merubah kehidupan ( dan bahkan tidak dihitung dengan fakta kalau bertarung
melawan Dimitri bisa saja seperti menghasilkan kegagalan dalam hidupku). Aku
masih sekolah, hanya beberapa bulan sebelum aku lulus dan menjadi pengawal
sesungguhnya. Setiap hari aku terjebak di Akademi St. Vladimir – sekolah terpencil
dan terlindungi untuk kaum Moroi dan dhampir – yang berarti satu hari lagi yang
berlalu dengan Dimitri yang masih berada di luar sana, hidup dalam pola hidup yang
tidak ia inginkan. Aku sangat mencintainya sehingga membiarkannya. Jadi aku
harus meninggalkan sekolah secepatnya dan keluar diantara para manusia,
menyerahkan kehidupanku disaat hidupku hampir mendapatkan tujuan
sepenuhnya. Meninggalkan juga berarti menyerahkan sesuatu yang lain – atau lebih,
seseorang ; sahabatku, Lissa, yang juga dikenal sebagai Vasilisa Dragomir. Lissa
adalah Moroi, yang terkahir dari garis keturunan kebangsawanannya. Aku sudah
dipersiapkan untuk menjadi pengawalnya setelah kami lulus, dan keputusanku
untuk memburu Dimitri benar-benar menghancurkan masa depanku dengan Lissa.
Aku tidak punya pilihan lain selain meninggalkannya.

Selain persahabatan kami, Lissa dan aku memiliki koneksi yang unik. Setiap Moroi
masing-masing memiliki spesialisasi sihir elemen – tanah, udara, air, atau api.
Hingga selanjutnya, kami mempercayai kalau hanya ada empat elemen. Sampai
kemudian kami menemukan elemen kelima: roh.

Itulah elemen Lissa, dan dengan beberapa pengguna roh di dunia ini, kami berusaha
keras mencari tahu mengenai semua ini. Untuk bagian terbanyak, seperti terikat
terhadap suatu energi. Lissa memiliki kekuatan kompulsi yang mengaggumkan –
kemampuan untuk memaksakan kehendaknya terhadap hampir semua orang. Dia
juga bisa menyembuhkan, dan disitulah dimana sesuatu yang aneh terjadi diantara
kami. Kau lihat, aku secara teknis sudah meninggal dalam kecelakaan mobil yang
membunuh keluarganya. Lissa sudah membawaku kembali dari dunia kematian
tanpa ia sadari, membentuk ikatan terhadap diantara kami berdua. Aku bisa
merasakan apa yang ia pikirkan dan merasakan ketika ia dalam masalah. Kami juga
baru-baru saja mengetahui kalau aku bisa melihat hantu dan roh yang belum
meninggalkan dunia ini, sesuatu yang tidak ingin aku pikirkan dan kuperjuangkan
untuk kuhalangi. Seluruh fenomena ini disebut sebagai dicium bayangan.
duestinae89.blogspot.com
Ikatan dicium bayangan kami membuatku menjadi pilihan ideal untuk menjaga
Lissa, sejak aku bisa tahu kapan saja saat Lissa dalam masalah. Aku berjanji
melindunginya dengan seluruh hidupku, tapi kemudian Dimitri – Dimitri yang
tinggi, tampan, dan kuat – merubah segalanya. Aku berhadapan dengan pilihan yang
sulit: melanjutkan kehidupanku dengan melindungi Lissa atau membebaskan jiwa
Dimitri. Memilih diantara mereka berdua menghancurkan hatiku, meninggalkan
rasa nyeri di dadaku dan air mata. Kebersamaanku dengan Lissa akan menjadi
sangat menyakitkan. Kami sudah menjadi sahabat sejak taman kanak-kanak, dan
keberangkatanku adalah pukulan bagi kami berdua. Adilnya, dia tidak pernah tahu
akan hal ini. Aku menyimpan kisah cintaku dengan Dimitri sebagai rahasia. Dimitri
adalah Instrukturku, tujuh tahun lebih tua dariku, dan ditugaskan sebagai pengawal
Lissa juga. Seperti yang sudah seharusnya, kami sudah berusaha untuk melawan
ketertarikan diantara kami, menyadari kalau kami harus fokus terhadap Lissa
daripada hal yang lain dan kami juga akan mendapatkan banyak maslah dengan
hubungan guru-murid ini.

Tapi menjauhi Dimitri – meski aku juga sudah menyetujuinya – membuatku


membangun dendam tak terkatakan terhadap Lissa. Aku mungkin seharusnya
mengatakan semua ini kepada Lissa dan menjelaskan rasa frustasiku mengenai
rencana kehidupanku. Terkadang , semua ini tidak terlihat adil, ketika Lissa bebas
hidup dan mencintai kapanpun ia mau, sedang aku harus selalu mengorbankan
kebahagiaanku sendiri untuk memastikan dia aman. Dia sahabatku, dan aku tidak
bisa mempertimbangkan pikiran yang bisa menyakitinya. Lissa sangat labil karena
menggunakan sihir roh bisa membuatnya memunculkan sisi negatif yang bisa
membuatnya gila. Jadi aku tetap menahan pikiranku hingga akhirnya mereka
meledak, dan aku meninggalkan Akademi – dan Lissa – tinggal untuk kebaikannya.

Satu dari hantu yang aku lihat – Mason, seorang teman yang terbunuh karena Strigoi
– mengatakan padaku kalau Dimitri sudah kembali ke kampung halamannya:
Siberia. Jiwa Mason sudah menemukan kedamaian dan meninggalkan dunia ini
setelah kejadian itu, tanpa memberikan padaku pertanda apapun di Siberia bagian
mana Dimitri berada. Jadi aku harus memikirkannya secara buta, memberanikan
diri ke dalam dunia manusia dan bahasa yang tidak kukenal untuk memenuhi janji
yang kubuat dengan diriku sendiri.

Setelah beberapa minggu sendirian, aku akhirnya berada di St. Petersburg. Masih
mencari, masih menggelepar – memutuskan untuk menemukannya, meski aku
ketakutan disaat yang sama. Sebab jika aku benar-benar menjalankan rencana gila
ini, jika aku benar-benar membunuh pria yang aku cintai, ini berarti Dimitri benar-
benar akan menghilang dari dunia ini. dan sejujurnya aku tidak yakin untuk tetap
hidup dalam dunia tanpa dirinya.

Tidak satupun dari semua ini terlihat nyata. Siapa yang tahu? Mungkin tidak.
Mungkin ini sebenarnya pernah terjadi pada orang lain. Mungkin ini hanyalah
sesuatu yang aku bayangkan. Mungkin aku akan segera bangun dan menemukan
segalanya tenta Lissa dan Dimitri baik-baik saja. Kami semua bersama-sama, dan
dia ada disana memelukku dan mengatakan kalau segalanya akan baik-baik saja.
Mungkin semua ini hanyalah sebuah mimpi belaka.

Tapi kurasa tidak.


duestinae89.blogspot.com

Satu
AKU SEDANG DIIKUTI.
Sangat ironis, mengingat aku telah mengikuti yang lain selama beberapa minggu
terakhir. Paling tidak ini bukan Strigoi. Aku sudah mengetahuinya. Efek terbaru
menjadi seseorang yang dicium-bayangan adalah kemampuan untuk merasakan
mereka yang belum sepenuhnya mati – sayangnya selalu diiringi rasa mual. Aku
masih menghargai sistem peringatan pertama dari tubuhku itu dan aku sudah
mengurangi perkiraankku mengenai penguntit yang membuntutiku malam ini
bukanlah seorang yang begitu cepat, bukanlah vampir gila yang ganas. Aku sudah
cukup berdebat dengan diriku sendiri tentang semua hal ini dan keinginan untuk
beristirahat malam ini.

Aku menduga penguntitku adalah seorang dhampir seperti aku, mungkin satu dari
orang di klub. Kuakui, orang ini bergerak tidak terlalu tersembunyi seperti yang aku
harapkan dari seorang dhampir. Jejak langkah terdengar jelas menapaki jalan aspal
dari sisi jalan yang gelap dimana aku tengah berjalan, dan aku menangkap kilasan
singkat sebuah sosok bayangan. Masih mempertimbangkan aksi gegabahku malam
ini, seorang dhampir yang paling banyak melakukan kejahatan.

Semua ini berawal di Nightingale. Itu bukanlah nama sebenarnya dari klub tersebut,
hanya sebuah terjemahan. Nama sebenarnya berasal dari bahasa Rusia yang
penyebutannya berada jauh dari kemampuanku untuk mengucapkannya. Kembali ke
Amerika, Nightingale terkenal diantar kaum Moroi kaya yang berkeliling dunia, dan
sekarang aku bisa mengerti kenapa. Tidak peduli jam berapa di setiap harinya,
orang-orang berpakaian seolah mereka ingin ke pesta dansa kerajaan. Dan, seluruh
tempat tersebut sebenarnya terlihat seperti berasal masa lampau, hari kerajaan dari
Rusia, dengan dinding-dinding berwarna gading yang ditutupi oleh perkamen kerja
dan papan hias tembok berwarna emas. Semua ini mengingatkanku pada Istana
Musim Dingin, kediaman kerajaan yang berasal dari zaman ketika Rusia masih
diperintah oleh raja. Aku mempelajarinya sejak datang di Saint Petersburg.

Di Nightingale, tempat lilin yang rumit dipenuhi oleh lilin-lilin sungguhan


bergemerlapan di udara, menerangi seluruh desain ruangan bernuansa emas,
sehingga meskipun cahaya begitu suram, seluruh ruangan berkilauan. Ada sebuah
ruang makan besar yang dipenuhi oleh meja dan meja pojok yang tertutup tirai
beludru, sebaik tempat bar dan kursi panjang dimana orang-orang bisa bergaul. Saat
tengah malam, sebuah band dipersiapkan disana, dan para pasangan bisa menari di
lantai dansa.

Aku tidak terlalu peduli dengan Nightingale ketika aku baru tiba di kota beberapa
minggu yang lalu. Aku menjadi cukup sok tahu dengan berpikir kalau aku bisa
menemukan langsung seorang Moroi yang bisa menunjukkanku dimana kampung
halaman Dimitri di Siberia. Dengan ketidakpunyaan petunjuk apapun mengenai
keberadaan Dimitri yang menghilang di Siberia, menuju kota tempat dimana dia
tumbuh adalah kesempatan terbaikku untuk bisa semakin dekat dengannya. Hanya
saja aku tidak tahu dimana tempatnya, yang mengapa membuatku mencoba
menemukan Moroi untuk membantuku. Ada banyak kota dan komunitas yang
duestinae89.blogspot.com
dipenuhi kaum dhampir di Rusia tapi sangat susah ditemukan di Siberia, yang
membuatku percaya kalau lebih banyak Moroi lokal yang mungkin mengenal tempat
kelahirannya. Sayangnya, semua ini menjadi sia-sia karena Moroi yang hidup di kota
manusia sangat hebat dalam menyembunyikan diri mereka sendiri. Aku memeriksa
apapun yang bisa kupikirkan sebagai kebiasaan Moroi ketika keluar, ternyata hanya
menghasilkan kesia-siaan. Dan tanpa Moroi, aku tidak memiliki jawaban.

Jadi, aku mulai mengintai Nightingale, yang ternyata tidaklah mudah. Sangat sulit
untuk seorang gadis delapan belas tahun untuk berbaur dalam satu dari klub ter-elit
di kota. Aku segera mengetahui kalau pakaian mahal dan tips yang banyak akan
mempermudah jalanku. Pelayan mendatangiku untuk mengenaliku dan jika mereka
berpikir kalau kehadiranku mencurigakan, mereka tidak akan memperdulikannya
dan sangat senang memberikanku meja di sudut ruang yang aku inginkan. Kurasa
mereka mengira aku adalah anak perempuan dari seorang pengusaha kaya atau
politisi. Apapun latar belakangku, aku punya uang untuk berada disana, dan hanya
itu yang mereka pedulikan. Meskipun begitu, malam pertamaku disana sangat
mengecewakan. Nightingale mungkin memang merupakan sebuat tempat kaum
Moroi kaya bergaul, tapi tempat itu juga terisi oleh banyak manusia. Dan
pertamanya, mereka terlihat seperti para pelanggan klub ini. Kerumunan semakin
banyak seiring malam yang semakin larut, dan memandang melalui kumpulan meja
dan orang-orang yang masih duduk-duduk di bar, aku tidak melihat satupun Moroi.
Satu-satunya hal yang bisa kucatat adalah aku melihat seorang wanita dengan
rambut pajang pirangnya berjalan ke maja panjang dengan gengnya. Untuk sesaat,
jantungku berhenti berdetak. Wanita itu mebelakangiku, tapi dia terlihat sangat
mirip dengan Lissa yang membuatku merasa yakin kalau aku telah ditemukan. Hal
yang aneh adalah, aku tidak tahu apakah aku harus merasa senang atau ketakutan.
Aku sangat merindukan Lissa, sangat – dan saat yang sama, aku tidak ingin dia
masuk dalam perjalanan berbahayaku ini. Kemudian wanita itu berbalik. Dan dia
bukan Lissa. Dia bahkan bukan seorang Moroi, hanya manusia. Perlahan, nafasku
kembali normal.

Akhirnya, satu minggu atau rasanya memang seperti itu, aku menemukan incaran
pertamaku. Satu kelompok Moroi wanita datang di waktu jam makan siang yang
sudah sangat terlambat, didampingi oleh dua pengawal, satu laki-laki satu
perempuan, yang duduk dengan sangat resmi dan sunyi di meja saat Moroi mereka
sedang bergosip dan tertawa bersama sampanye siang. Mengenali para pengawal itu
adalah bagian yang bisa mengelabui. Untuk seseorang yang tahu bagaimana rupa
mereka, Moroi sangat mudah dikenali: lebih tinggi dari kebanyakn manusia, pucat,
dan sangat ramping. Mereka juga memiliki cara senyum yang lucu karena menahan
bibir mereka agar taring mereka tidak terlihat. Dhampir, dengan darah manusia
dalam tubuh kami, terlihat, ... sangat manusia.

Begitulah aku terlihat dari mata manusia yang tidak terlatih. Aku setinggi 5,7 kaki
dan ketika para Moroi cenderung terlihat tidak nyata, tubuh seperti model, tubuhku
terbentuk atletis dan berbentuk dibagian dada. Bentuk genetik yang berasal dari
ayah tak dikenal yang berasal dari Turki. Terlalu banyak berada di bawah matahari
memberikanku kulit kecoklatan yang berpasangan dengan rambut hitam yang
panjang sehitam warna mataku.
duestinae89.blogspot.com
Tapi bagi mereka yang dibesarkan di dalam dunia Moroi pasti bisa langsung
mengenaliku sebagai dhampir melalui jarak dekat. Aku tidak yakin apa itu –
mungkin semacam insting yang menarik kami kepada karakter kami dan mengenali
campuran darah Moroi yang ada dalam diri kami.

Bagaimanapun juga, hal itu sangat penting ketika aku terlihat seperti manusia bagi
kedua pengawal itu, jadi aku tidak membunyikan tanda peringatan bagi mereka
berdua. Aku duduk di sudut ruangan, mencomot kaviarku dan berpura-pura sedang
membaca buku. Sebagai catatan, aku rasa kaviar sangat menjijikkan, tapi makanan
ini ada dimanapun di Rusia, khusunya di tempat-tempat berkelas. Kaviar dan
borscht – sejenis sup gula. Aku hampir tidak pernah menghabiskan makananku di
Nightingale dan dengan rakus akan membabat habis McDonald setelah itu,
meskipun restoran McDonald di Rusia sedikit berbeda dengan tempat aku tumbuh
di Amerika. Tapi tetap saja, seorang gadis harus makan. Jadi hal ini menjadi tes
untuk kemampuanku, mempelajari Moroi ketika pengawal mereka sedang tidak
memperhatikan mereka. Tak dapat disangkal, para pengawal memang sedikit santai
selama siang hari, mengingat tidak mungkin ada Strigoi di bawah matahari. Tapi
merupakan kebiasaan bagi para pengawal untuk memperhatikan apapun, dan mata
mereka selalu menyapu seluruh ruangan tanpa henti. Aku sudah berlatih mengenai
hal itu dan aku tahu trik mereka, jadi aku mengatur diriku untuk memata-matai
mereka tanpa terdeteksi.

Wanita itu sering datang, biasanya menjelang sore. St. Vladimir memiliki jam malam
sendiri, tapi Moroi dan dhampir yang hidup diantara manusia sama-sama
beraktivitas pada siang hari atau diantara malam dan siang. Untuk beberapa saat
aku memutuskan untuk mendekati mereka- atau bahkan mendekati para pengawal
mereka. Sesuatu menahanku untuk tidak melakukannya. Jika seseorang mengetahui
dimana kota tampat dhampir tinggal, itu pastilah Moroi laki-laki. Sebagian besar
dari mereka mengunjungi kota para dhampir dengan harapan bisa mendapatkan
sejumlah dhampir wanita murahan. Jadi aku berjanji pada diriku sendiri untuk
menunggu beberapa minggu lagi untuk melihat Moroi laki-laki yang mungkin
datang. Jika tidak, aku akan lihat informasi apa yang bisa diberikan oleh Moroi
wanita itu padaku.

Akhirnya, beberapa hari berlalu, dua Moroi pria mulai menampakkan diri. Mereka
cenderung datang setelah malam tiba, ketika pesta sebenarnya dimulai. Pria itu
sekitar sepuluh tahun lebih tua dariku dan sangat tampan, mengenakan setelan gaya
dan dasi sutra. Mereka membuat diri mereka terlihat berkuasa, orang penting, dan
aku bertaruh semua uangku kalau mereka adalah keluarga bangsawan – khusunya
ketika satu dari mereka membawa pengawal. Pengawalnya berpenampilan sama
seperti mereka, lelaki muda yang mengenakan setelan untuk berbaur tapi masih
tetap berhati-hati mengawasi ruangan sebagai kebiasaan pengawal yang rajin.

Dan ada wanita – selalu wanita. Kedua Moroi itu benar-benar penggoda ulung, terus
saja mencari kesempatan dan menggoda setiap wanita yang mereka lihat – bahkan
manusia. Tapi mereka tidak pernah pulang ke rumah bersama manusia. Itu adalah
hal yang terlarang yang melekat kuat dalam dunia kami. Moroi harus menjaga
dirinya terpisah dari manusia selama berabad-abad, deteksi rasa takut dari kaum
yang tumbuh melimpah dan sangat berkuasa.
duestinae89.blogspot.com
Tapi tentu saja itu bukan berarti laki-laki mau pulang ke rumah sendirian. Setiap
malam, dhampir wanita biasanya muncul – selalu berbeda di setiap malamnya.
Mereka datang dengan mengenakan gaun pendek dan riasan yang tebal, minum
banyak dan selalu tertawa pada setiap apa yang dikatakan pria – meskipun mungkin
hal tersebut sama sekali tidak lucu. Wanita- wanita itu selalu membiarkan rambut
mereka tergerai, tapi sesekali, mereka merubah posisi kepala mereka untuk
menunjukkan leher mereka, yang terlihat memiliki banyak luka. Mereka adalah
pelacur darah, dhampir yang membiarkan kaum Moroi meminum darah mereka
ketika sedang bercinta. Hal itu juga terlarang – meskipun terjadi secara diam-diam.

Aku masih ingin mendapatkan satu Moroi pria yang sendirian, jauh dari pengawasan
pengawal mereka sehingga aku bisa menanyainya. Tapi itu tidak mungkin. Para
pengawal tidak pernah meninggalkan Moroi mereka tanpa pengawasan. Aku bahkan
berniat untu mengikuti mereka, tapi setiap kali kelompok itu meninggalkan klub,
mereka hampir selalu melompat ke dalam limosin – membuatku tidak mungkin
untuk melacak mereka hanya dengan berlari. Ini sangat menganggu pikiranku.

Aku akhirnya memutuskan malam ini untuk mendekati kelompok itu dan
mengambil resiko terdeteksi sebagai dhampir. Aku tidak yakin jika ada orang yang
berasal dari kampus sedang mencariku, atau bahkan kelompok ini peduli siapa aku.
Mungkin aku hanya berpikir terlalu jauh. Jelas sangat mungkin kalau tidak ada satu
orang pun yang peduli tentang seseorang yang dikeluarkan dari sekolah dan
melarikan diri. Tapi jikapun ada seseorang yang mencariku, menurutku sangat
diragukan jika itu berasal dari para pengawal. Meskipun aku sudah delapan belas
tahun, aku tidak mungkin masuk ke dalam kondisi dimana seseorang ditugaskan
khusus untuk mencariku dan mengangkutku kembali ke Amerika. Dan tidak ada
kemungkinan bagiku untuk kembali sebelum menemukan Dimitri.

Lalu, seperti yang sudah kurencanakan sebelumnya, saat aku bergerak ke kelompok
Moroi itu, satu dari dhampir wanita meninggalkan meja dan berjalan ke bar. Para
pengawal mengawasinya, tentu saja, tapi terlihat yakin tentang keselamatannya dan
kembali memperhatikan Moroi mereka. Selama ini, aku selalu berpikir kalau Moroi
pria adalah jalan terbaik untukku mendapatkan informasi mengenai perkampungan
para dhampir dan pelacur darah – tapi mana yang lebih baik untuk mengetahui
lokasi ini dengan menanyakannya langsung kepada pelacur darah yang sebenarnya?

Aku berjalan santai dari mejaku dan menuju bar, seolah aku ingin mengambil
minuman. Aku berdiri disamping wanita yang sedang menunggu bartender dan
mempelajarinya dalam pengamatanku. Dia pirang dan mengenakan gaun panjang
yang ditutupi oleh perhiasan perak. Aku tidak bisa memutuskan kalau pakaiannya
membuat gaun satin hitamku terlihat berkelas atau membosankan. Semua
pergerakannya – bahkan caranya berdiri – sangat anggun, seperti seorang penari.
bartender sedang melayani yang lain, dan aku tahu ini lah saatnya atau tidak sama
sekali. Aku menghadap ke arahnya.

“Apa kau bisa berbahasa Inggris?”

Dia terlonjak kaget dan melihat ke arahku. Dia lebih tua dari yang aku kira, usianya
sepertinya tertutupi oleh riasannya. Mata birunya menebak jati diriku dengan cepat,
mengenaliku sebagai dhampir.
duestinae89.blogspot.com
“Ya,” jawabnya berhati-hati. Bahkan satu kata itu keluar dengan aksen yang khas.

“Aku sedang mencari sebuah kota ... sebuah kota dimana banyak dhampir tinggal, di
daerah Siberia. Apa kau mengerti apa yang aku bicarakan? Aku harus
menemukannya.” Lagi, dia mempelajariku, dan aku tidak bisa membaca ekspresinya.
Dia mungkin pernah menjadi pengawal dari apa yang ditunjukkan melalu wajahnya.
Mungkin dia pernah dilatih sekali dalam hidupnya.

“Jangan,” katanya kasar. “Relakan saja.” dia berpaling, perhatiannya kembali


kepada bartender yang sedang membuatkan koktail biru dengan ceri untuk
seseorang.

Aku menyentuh tangannya. “Aku harus menemukannya. Ada seorang pria ...” aku
tersendat untuk melanjutkan. Terlalu banyak untuk sesi introgasiku. Hanya
memikirkan Dimitri saja sudah membuat jantungku tersangkut ditenggorokanku.
Bagaimana bisa aku menjelaskannya kepada wanita ini? Kalau aku mengikuti
petunjuk yang sedikit, keluar mencari seorang pria yang paling aku cintai di dunia
ini – seorang pria yang sudah berubah menjadi Strigoi yang aku ingin bunuh
sekarang? Bahkan sekarang, aku bisa membayangkan kehangatan dari mata
cokelatnya dengan sempurna dan bagaimana tangannya yang pernah menyentuhku.
Bagaimana bisa aku melakukan apa yang aku lakukan sekarang dengan
menyebrangi lautan?

Fokus. Fokus. Fokus.

Dhampir perempuan itu menatapku balik. “Dia tidak layak untuk itu,” katanya, salah
mengartikan maksudku. Tidak diragukan lagi dia mengira aku adalah gadis yang
sedang patah hati, sedang mengejar pacarku - maksudku pernah menjadi pacarku.

“Kau terlalu muda ... belum terlambat untuk tidak memperdulikan semua hal itu.”
Wajahnya mungkin terlihat dingin, tapi ada kesedihan yang terasa dari balik
suaranya. “Pergi dan lakukan hal lain dengan hidupmu. Menjauhlah dari tempat itu.”

“Kau tahu dimana tempatnya!” aku berseru, terlalu bersemangat sehingga


menunjukkan kalau aku pergi kesana bukanlah untuk menjadi pelacur darah.

“Tolonglah – kau harus katakan padaku. Aku harus kesana!”

“Ada masalah?” Baik dia maupun aku berbalik dan menatap wajah tegas dari salah
satu pengawal. Sial. Dhampir wanita ini memang bukan prioritasnya, tapi mereka
harus memperingatkan seseorang yang menggangunya. Pengawal itu hanya sedikit
lebih tua dariku, dan aku memberikan senyuman manis padanya. Aku mungkin
tidak mengenakan gaun semenarik wanita itu, tapi aku tahu rok pendekku
menunjukkan bagian terbaik dari kakiku. Tentu saja seorang pengawal tidak
memiliki kekebalan terhadap itu kan? Sebenarnya, ia kebal. Ekspresi kerasnya
menunjukkan kalau pesonaku tidak bekerja. Masih, aku berpikir sebaiknya aku
mencoba keberuntunganku dengan pengawal ini sebagai penyelidik.
duestinae89.blogspot.com
“Aku mencoba menemukan sebuah kota di Siberia, sebuah kota tempat dimana para
dhampir tinggal. Apa kau tahu?”

Dia tidak berkedip. “Tidak.”

Luar biasa. Mereka berdua bermain sulit. “Ya, baiklah, mungkin bos mu tahu?” Aku
bertanya sopan, berharap aku terdengar seperti seseorang yang ingin menjadi
pelacur darah. Jika para dhampir itu tidak mau bicara, mungkin satu dari Moroi itu
mau.

“Mungkin dia perlu teman dan mau berbicara denganku.”

“Dia sudah punya teman bicara,” pengawal itu menjawab tegas. “Dia tidak perlu
lagi.”

Aku masih tetap tersenyum. “Apa kau yakin?” aku mendesah. “Mungkin kita harus
menanyakan kepadanya.”

“Tidak,” jawab pengawal. Dalam satu kata, aku mendengar tantangan dan perintah.
Mundur. Dia tidak akan ragu untuk melawan siapa pun yang ia pikir sebagai
pengganggu tuannya – bahkan seoarang gadis dhampir kecil. Aku
mempertimbangkan untuk tetap bersikeras terhadap keinginanku tapi dengan cepat
memutuskan untuk mengikuti peringatan dan langsung mundur.

Aku mengangkat bahu. “Dia yang rugi.” Dan tanpa kata lain, aku berjalan santai ke
mejaku, seolah penolakan itu bukan masalah besar. Sementara itu aku menjaga
nafasku, setengah berharap pengawal itu akan menarikku keluar dari klub dengan
menjambak rambutku. Itu tidak terjadi. Akhirnya setelah aku mengenakan jaketku
dan meletakkan uang di meja, aku melihatnya mengawasiku, mata yang curiga dan
menduga-duga.

Aku meninggalkan Nightingale dengan sikap tidak peduli yang sama, keluar menuju
jalanan yang ramai. Ini sabtu malam, dan ada banyak klub lain dan restoran di
sekitarnya. Para penggemar pesta memenuhi jalanan, sebagian berpakaian mewah
seperti para pelanggan Nightingale; yang lain, remaja seumuranku berpakaian
santai. Antrian panjang diluar klub, suara musik dansa terdengar nyaring dan berat
dengan bunyi bass. Restoran dengan dinding kaca menunjukkan makan malam
elegan dengan meja mewah. Sepanjang jalanku melalui kerumunan orang-orang itu,
aku dikelilingi oleh percakapan dengan bahasa Rusia, aku menolak keinginan untuk
menengok ke belakang. Aku tidak ingin meningkatkan kecurigaan jika dhampir itu
masih mengawasiku.

Ketika aku berputar di jalan yang sepi yang merupakan jalan pintas ke hotelku, aku
bisa mendengar suara pelan dari langkah kaki. Aku dengan pasti memiliki cukup
peringatan dalam diriku kalau pengawal itu memutuskan mengikutiku. Sebenarnya,
tidak ada jalan bagiku untuk membiarkannya mengalahkanku. Aku mungkin lebih
kecil darinya – dan mengenakan gaun dan hak tinggi – tapi aku sudah sering
melawan laki-laki, termasuk Strigoi. Aku bisa menangani laki-laki ini, khususnya jika
aku menggunakan elemen kejutan. Setelah berjalan di sekitar tempat itu cukup lama,
aku menyadarinya dan kejutan itu berputar dan berbalik dengan baik. Aku
duestinae89.blogspot.com
mengambil langkahku dan menatap tajam ke beberapa sudut jalan, satu dari sudut
itu mengarahkanku pada pemandangan gelap, gang yang sepi. Menakutkan, ya, tapi
itu menjadikannya tempat penyergapan yang baik ketika aku masuk ke dalam jalan
keluar. Aku diam-diam melepaskan sepatu hak tinggiku. Mereka berwarna hitam
dengan bahan kulit yang cantik tapi tidak pantas untuk berkelahi, kecuali jika aku
berencana untuk mencongkel mata seseorang dengan tumitnya. Sebenarnya, bukan
ide yang buruk. Tapi, aku tidak semenyedihkan itu. Tanpa sepatu-sepatuku, trotoar
terasa sangat dingin terasa di bawah telapak kakiku yang telanjang mengingat hujan
turun tadi pagi.

Aku tidak perlu menuggu lama. Beberapa saat kemudian, aku mendengar langkah
kaki dan melihat bayangan panjang penguntitku muncul di tanah, muncul di bawah
lampu jalan yang berkedap-kedip di tepian trotoar. Penguntitku berhenti, tidak
diragukan sedang mencariku. Sungguh, kurasa, pria ini tidak waspada. Tidak ada
pengawal yang dalam pengejaran mereka bisa terlihat jelas. Dia harusnya bergerak
dengan lebih sembunyi-sembunyi dan tidak menunjukkan dirinya dengan mudah.
Mungkin latihan pengawal di Rusia tidak sebaik latihan ditempat dimana aku
dilatih.

Tidak, itu tidak benar. Tidak dengan cara Dimitri membasmi musuh-musuhnya.
Mereka memanggilnya dewa di Akademi. Penguntiku mengambil beberapa langkah,
dan saat itulah aku mengambil gerakanku. Aku melompat keluar, tinjuku sudah siap.

“Baiklah,” aku berseru. “Aku hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan, jadi
mundur atau – “ Aku membeku. Pengawal dari klub itu tidak berdiri disana.

Seorang manusia.

Seorang gadis, tidak lebih tua dariku. Dia setinggi aku, dengan rambut pirang
pendek dan jaket panjang berwarna biru laut yang terlihat mahal. Dibalik itu, aku
bisa melihat gaun yang bagus dan sepatu bot kulit yang terlihat mahal seprti
jaketnya. Dari awal aku bisa mengenalinya. Aku pernah melihatnya dua kali di
Nightingale, berbicara dengan Moroi pria. Aku menduga dia hanyalah wanita
kebanyakan yang mereka goda dan dengan cepat mereka tinggalkan. Selebihnya, apa
gunanya manusia untukku?

Wajahnya sebagian tertutup bayangan, tapi bahkan dengan penerangan yang


remang-remang, aku bisa melihat ekspresi kesal di wajahnya. Ini jelas bukan hal
yang aku harapkan.

“Itu kau, kan? dia bertanya. Mengisyaratkan keterkejutan yang lain. Bahasa
Inggrisnya beraksen Amerika sepertiku.

“Kau lah yang meninggalkan sederet tubuh Strigoi di sekitar kota. Aku melihat
punggungmu di klub malam ini dan aku tahu kalau itu kau.”

“Aku ...” Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari bibirku. Aku tidak tahu harus
merespon seperti apa. Seorang manusia berbicara biasa mengenai Strigoi? Tidak
pernah kudengar sebelumnya. Ini bahkan lebih mengherankan dari pada kebenaran
duestinae89.blogspot.com
dikejar Strigoi disini. Aku tidak pernah memiliki pengalaman seperti ini sepanjang
hidupku. Dia terlihat tidak peduli dengan diriku yang heran terbius membatu.

“Dengar, kau tidak bisa semudah itu melakukannya, ok? Apa kau tahu seberapa
banyak masalah yang aku terima karena berhadapan dengan semua kejadian itu?
Semuanya sudah cukup buruk tanpa kau tambahkan kekacauan lagi di dalamnya.
Polisi menemukan mayat yang kau tinggalkan di taman, kau tahu. Kau tidak bisa
membayangkan berapa banyak alasan yang kubuat untuk menutupinya.”

“Siapa ... Siapa kau? Aku bertanya akhirnya. Itu benar. Aku meninggalkan mayat di
taman, tapi serius, apa yang memangnya harus kulakukan? Menyeretnya kembali ke
hotelku dan mengatakan kepada penjaganya kalau temanku kebanyakan minum?

“Sydney,” gadis itu berkata dengan letih. “Namaku Sydney. Aku ahli kimia yang
ditugaskan disini.”

“Ahli apa?”
Dia mendesah nyaring. Dan aku sangat yakin dia memutar matanya. “Tentu saja. Itu
menjelaskan semuanya.”

“Tidak, tidak terlalu,” jawabku, akhirnya bisa mendapatkan ketenanganku kembali.


“Sebenarnya, kurasa kau lah yang harus memberikan banyak penjelasan disini.”

“Dan sikap juga. Apa kau adalah bagian dari tes yang dikirimkan kesini untukku?
Oh, Tuhan. Tentu saja.”

Aku mulai marah sekarang. Aku tidak suka dibuat bingung. Aku jelas tidak suka
dibuat bingung oleh seorang manusia yang membuatku terdengar telah melakukan
kejahatan karena membunuh Strigoi.

“Dengar, aku tidak tahu siapa kau atau bagaimana kau bisa tahu mengenai semua
hal ini, tapi aku tidak ingin berdiri disini dan – “

Rasa mual memenuhiku dan aku menegang, tanganku serta merta memegang pasak
perak yang kusimpan di kantong jaketku. Sydney masih memasang tampang kesal,
tapi ekspresinya tercampur dengan kebingungan sekarang seiring perubahan dalam
posisiku. Dia menilaiku, aku membiarkannya.

“Ada apa?” tanyanya.

“Kau akan memiliki urusan dengan tubuh Strigoi lagi,” kataku, tepat di saat Strigoi
menyerangnya.
duestinae89.blogspot.com

Dua
LEBIH MEMILIH SYDNEY SEBAGAI INCARANNYA ketimbang aku
merupakan serangan yang buruk bagi seorang Strigoi. Akulah yang merupakan
lawannya; dia harusnya membasmiku dulu. Posisi kami menempatkan Sydney di
hadapannya, jadi dia harus membunuh Sydney dulu sebelum dia dapat
membunuhku. Dia mencengkram bahu Sydney dan menyetakkanya ke arahnya. Dia
cepat – mereka memang cepat – tapi aku sedang semangat bermain sekarang.

Tendangan cepat menyentaknya ke arah dinding bangunan di dekatnya dan


membebaskan Sydney dari cengkramannya. Dia mengeram saat terbanting dan
merosot ke tanah, membeku dan terkejut. Bukan hal yang mudah untuk
menjatuhkan seorang Strigoi, tidak dengan gerak refleks mereka yang cepat. Ia tidak
lagi mengincar Sydney dan mengalihkan perhatiannya padaku, mata merah yang
penuh amarah dan bibir yang mengerucut untuk menunjukkan taringnya. Dia
bangkit dari posisi jatuhnya itu dengan kecepatan yang tidak biasa dan menyerbuku
mendadak.

Aku menghindarinya dan mencoba memukulnya saat ia mencoba mmenghindar


sebagai balasannya. Serangannya selanjutnya adalah memerangkapku dalam
tangannya, dan aku tersandung, sedikit menjaga keseimbanganku. Pasakku masih
kugenggam di tangan kanan, tapi aku butuh kesempatan untuk menusuk dadanya.
Strigoi yang pintar akan membelokkan dirinya ketika menyerang untuk melindungi
jantungnya dari penglihatan penyerang. Pria ini hanya melakukan perkerjaan
separuh-separuh, dan jika aku bisa hidup cukup lama, aku lebih menyukai
mendapatkan sebuah kesempatan terbuka.

Sesaat kemudian, Sydney datang dan memukulnya dari belakang. Bukanlah pukulan
yang cukup kuat, tapi itu mengganggu Strigoi itu. Ini adalah kesempatanku. Aku
melompat sekeras yang aku bisa, melemparkan seluruh beratku ke arahnya. Pasakku
menikam jantungnya ketika kami terhempas menabrak dinding. Selalu sangat
sederhana. Kehidupan – atau kehidupan bagi yang telah mati atau apalah itu –
menghilang darinya. Dia berhenti bergerak. Aku menyetakkan pasakku keluar
setelah aku yakin dia benar-benar telah mati dan melihat tubuhnya berderak di
tanah.

Sama seperti semua Strigoi yang sudah kubunuh sebelumnya, aku mendapatkan
perasaan yang aneh. Bagaimana kalau dia adalah Dimitri? aku mencoba
membayangkan wajah Dimitri di tubuh Strigoi ini, mencoba membayangkannya
terbaring sebelum aku. Jantungku terbelit dalam dadaku. Untuk sejenak, gambaran
hal itu muncul disana. kemudian – hilang. Dia hanyalah Strigoi lain.

Dengan cepat ku hilangkan ketidakfokusan ini dan mengingatkan diriku sendiri


kalau aku memiliki hal yang lebih penting untuk kukhawatirkan sekarang. Aku harus
memeriksa Sydney. Bahkan dengan manusia, perasaan alamiku untuk melindungi
tidak bisa kuhilangkan begitu saja.
“Apa kau baik-baik saja?”
duestinae89.blogspot.com
Dia mengangguk, terlihat gemetar tapi tidak terluka. “Kerja bagus,” katanya.

Suaranya seperti berusaha untuk terdengar percaya diri.


“Aku tidak pernah ... aku tidak pernah melihat satu pun dari mereka terbunuh secara
langsung ...”

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya, tapi kemudian, aku masih belum
bisa mengerti bagaimana dia mengetahui segala sesuatu mengenai semua ini terlebih
dahulu. Dia terlihat syok, jadi kuraih tangannya dan mulai membimbingnya.
“Ayolah, ayo kita pergi ke tempat lebih banyak orang.” Kurasa Strigoi yang
bersembunyi disekitar Nightingale bukanlah ide gila. Tempat apa yang lebih baik
untuk menguntit Moroi selain di tempat mereka sering bergaul? Semoga saja
sebagian besar pengawal memiliki insting yang cukup untuk menjaga tugas mereka
di tempat seperti ini.

Saran untuk pergi menyentak Sydney dari kesadarannya. “Apa?” dia berteriak. “Kau
akan meninggalkanya juga?”

Aku melemparkan tanganku. “Apa yang kau harapkan dariku? Kurasa aku bisa
memindahkannya ke belakang tong sampah dan kemudian biarkan sinar matahari
membasminya. Itulah yang biasa kulakukan.”

“Benar. Dan bagaimana jika seseorang datang untuk mengambil sampah? Atau
keluar dari pintu-pintu belakang ini?”

“Baiklah, aku bisa menghancurkannya. Atau membakarnya. Barbeque Vampire,


sejenis hal yang bisa menarik perhatian, kan?”

Sydney mengangguk dengan gusar dan berjalan mengelilingi tubuh itu. Dia
membuat mimik wajah yang aneh ketika dia menatap ke bawah ke arah Strigoi itu
dan meraih dompet kulit besarnya. Dari benda itu, dia membuat sebuah botol kecil.
Dengan gerakan terampil, dia menyiramkan isi botol kecil itu keseluruh tubuh
Strigoi itu kemudian dengan cepat mundur. Ketika tetesannya menyentuh mayat itu,
asap kuning mulai melayang-layang. Asap itu mulai bergerak lambat, menyebar
secara horizontal bukannya vertikal hingga menyelimuti selurut tubuh Strigoi itu.
Kemudian ia mengerut dan mengerut hingga tidak tersisa apa-apa selain sekepal
bola. Beberapa detik kemudian, asap itu benar-benar hilang, meninggalkan
tumpukan debu yang tidak berbahaya.

“Terimakasih kembali,” kata Sydney datar, masih memberikan tatapan tidak


menerima padaku.

“Apa-apaan itu tadi?” aku memekik.

“Tugasku. Bisakah kau memanggilku lain kali jika hal ini terjadi lagi?” Dia mulai
berpaling menjauh.

“Tunggu! Aku tidak bisa memanggilmu – aku tidak tahu siapa dirimu.”
duestinae89.blogspot.com
Dia melirik ke arahku dan menyapukan rambut pirangnya dari wajahnya.
“Benarkah? Kau serius, kan? Kupikir kalian sudah diberitahukan mengenai kami
setelah kalian lulus.”
“Oh, lucu. Aku sebenarnya, mm, belum lulus.”
Mata Sydney melebar.
“Kau melakukan hal...hal itu ...tapi tidak pernah lulus?”

Aku mengangkat bahu dan dia terdiam selama beberapa saat. Akhirnya dia menarik
nafas lagi dan berkata, “ Kurasa kita harus bicara.”

Seolah kami belum pernah melakukannya saja. Bertemu dengannya pastilah hal
yang paling aneh yang pernah terjadi padaku sejak datang ke Rusia. Aku ingin tahu
mengapa dia berpikir kalau aku seharusnya berhubungan dengannya dan bagaimana
dia menghancurkan mayat Strigoi. Dan, saat kami kembali ke jalan yang padat dan
berjalan ke arah sebuah kafe yang ia suka, membuatku terpikir jika dia tahu
mengenai dunia Moroi, berarti ada kemungkinan dia juga tahu dimana desa Dimitri
berada. Dimitri. Dia lagi, sekilas mucul di pikiranku. Aku tidak punya petunjuk jika
dia benar-benar bersembunyi di dekat kampung halamannya, tapi aku tidak punya
tujuan lain. Lagi, perasaan yang aneh melingkupiku. Pikiranku mengabur dengan
wajah Dimitri yang terpasang ditubuh Strigoi yang baru kubunuh: kulit pucat, mata
merah yang kejam ....

Tidak, dengan keras kukatakan pada diriku sendiri. Jangan fokus pada hal itu.
Jangan panik. Sebelum aku bertemu dengan Dimitri yang telah berubah menjadi
Strigoi, aku harus mengeluarkan kekuatan dari ingatanku mengenai dirinya yang
kucintai, dengan mata cokelat teduhnya, tangannya yang hangat, pelukannya yang
membara ...

“Apa kau baik-baik saja ... um, apapun namamu?” Sydney menatapku aneh, dan aku
baru sadar kalau kami sudah berhenti di depan sebuah restoran. Aku tidak tahu
terlihat seperti apa wajahku, tapi pastilah cukup untuk meningkatkan perhatiannya.
Hingga sekarang, kesanku selama perjalanan kami adalah kalau dia ingin berbicara
sedikit mungkin denganku.

“Ya, ya, baik,” jawabku kasar, memasang tampang pengawal di wajahku. “Dan aku
Rose. Apa ini tempatnya?”
Memang ini tempatnya. Dekorasi restoran cerah dan ceria, sekalipun sebuah
tangisan yang jauh dari kemewahan Ninghtingale datang. Kami duduk di kursi kulit
hitam – yang maksudku plastik kulit palsu – di pojokan, dan aku sangat senang
melihat menunya berisikan baik makanan Amerika maupun makanan Rusia.
Daftarnyanya sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan aku hampir menitikkan air
liurku ketika aku melihat ayam goreng tepung. Aku sedang kelaparan setelah tidak
makan di klub, dan pikiran daging goreng kering adalah makanan termewah setelah
berminggu-minggu makan dengan kol dan sekarang dikenal sebagai McDonald‟s.

Seorang pelayan datang, dan Sydney memesan dengan bahasa Rusia yang fasih. Saat
itu aku hanya menunjuk ke menu saja. Huh. Sydney penuh dengan kejutan.
Mempertimbangkan sikap kasarnya, aku berharap dia menanyaiku langsung
sekarang juga, tapi ketika pelayan itu pergi, Sydney tetap diam, malah memainkan
serbetnya dan menghindari kontak mata. Sangat aneh. Dia sangat terlihat tidak
duestinae89.blogspot.com
nyaman di sekitarku. Bahkan dengan adanya meja diantara kami, seperti dia tidak
bisa lebih jauh lagi. Sekalipun begitu sikap bengisnya barusan tidak bisa dipalsukan,
dan dia tidak mau menyerah mengenai diriku yang menurutnya harus mengikuti
aturan apalah yang dia percayai.
Sebenarnya, dia mungkin sedang bermain berpura-pura malu, tapi aku tidak punya
keraguan untuk mengeluarkan topik yang tidak mengenakkan sekalipun. Faktanya,
itu adalah labelku selama ini.

“Jadi, apa kau sudah siap mengatakan padaku siapa dirimu dan apa yang
sebenarnya terjadi?”

Sydney menengadah. Sekarang kami ada di tempat yang penuh cahaya, aku bisa
melihat mata cokelatnya. Aku juga menyadari kalau dia memilike tato menarik di
bawah pipi kirinya. Tintanya terlihat seperti emas, sesuatu yang belum pernah
kulihat sebelumnya. Tatonya merupakan gabungan motif dari bunga dan daun dan
hanya benar-benar terlihat ketika dia memiringkan kepalanya dengan cara yang
tepat sehingga warna emas itu berkilau terkena cahaya.

“Aku sudah mengatakannya padamu,” katanya. “Aku seorang Alkemis.”


“Dan aku juga sudah katakan padamu, aku tidak tahu apa itu. Apa itu salah satu dari
kata yang berasal dari bahasa Rusia?” Bahkan tidak terdengar seperti bahasa Rusia.

Senyum separuh muncul di bibirnya. “Tidak. Aku yakin kamu belum pernah
mendengar mengenai ilmu alkemi juga sebelumnya, kan?”
Aku mengangguk, dan dia menyangga dagunya dengan tangannya, matanya
menatap ke arah meja lagi. Dia menelan ludah, seolah dia sedang mempersiapkan
dirinya sendiri kemudian kata-kata berhamburan keluar.

“Kembali ke abad pertengahan, ada beberapa orang yang yakin jika mereka bisa
menemukan formula yang benar atau sihir, mereka bisa mengubah timah menjadi
emas. Tidak mengejutkan, mereka tidak bisa melakukannya. Hal ini tidak
menghentikan mereka untuk terus melanjutkan segala macam hal-hal berbau mistik
lain dan semua yang berkaitan dengan kegiatan supernatural, dan bahkan mereka
memang menemukan suatu sihir.” Dia mengerutkan dahi.

“Vampir.”
Aku kembali berpikir mengenai sejarah Moroi di kelas. Abad pertengahan adalah
ketika jenis kami benar-benar mulai menarik diri dari manusia, bersembunyi dan
menjaga satu sama lain. Saat itu lah ketika Vampir benar-benar menjadi mitos
sejauh yang dipercayai dunia, dan bahkan Moroi malah menjadi buruan berharga.

Sydney menyadari pikiranku. “ Dan saat itulah ketika Moroi mulai menjauh. Mereka
memiliki sihir mereka, tapi manusia mulai melebihi mereka. Kita masih
melakukannya.” Kata-kata itu hampir menorehkan senyum di wajahnya. Moroi
kadang memiliki masalah kehamilan, ketika manusia terlihat sangat mudah untuk
dimiliki sesekali.
“Dan Moroi membuat perjanjian dengan para Alkemis. Jika para Alkemis mau
menolong Moroi dan dhampir dan komunitas mereka tetap menjadi rahasi dari
manusia, Moroi akan memberi kami ini.” dia menyentuh tato emasnya.
duestinae89.blogspot.com
“Apa itu?” tanyaku. “Maksudku, disamping wujudnya yang jelas adalah tato.”

Dengan lembut dia mengusap tato itu dengan ujung jarinya dan tidak
menyembunyikan nada sarkastik pada suaranya. “Malaikat penjagaku. Ini benar-
benar emas dan” - dia menyeringai dan menjatuhkan tangannya – “darah Moroi,
sihir air dan bumi.”

“Apa?” suaraku keluar terlalu keras, dan beberapa orang di restoran menoleh ke
arahku. Sydney terus berbicara, suaranya terdengar lebih rendah - dan terasa pahit.

“Aku tidak terlalu takut mengenai hal ini, tapi ini adalah „hadiah‟ untuk kami
melindungi kalian. Sihir air dan tanah mengikat emas ke kulit kami dan memberikan
kami pembawaan yang Moroi miliki – sebenarnya, kedua sihir itu. Aku hampir tidak
pernah sakit. Aku akan hidup dalam waktu yang lama.”

“Kurasa itu terdengar bagus,” kataku tidak yakin.

“Mungkin beberapa. Kami tidak punya pilihan. „karier‟ ini adalah keturunan keluarga
– diturunkan. Kami semua harus belajar mengenai Moroi dan dhampir. Kami
bekerja sebagai penghubung diantara manusia yang membiarkan kami menutupi
keberadaan kalian karena kami lebih mudah bergerak bebas. Kami mendapatkan trik
dan teknik untuk membersihkan tubuh Strigoi – seperti ramuan yang kau lihat.
Sebagai balasannya, kami ingin berada jauh dari kalian sebisa mungkin – karena
itulah mengapa sebagian besar dhampir tidak diberitahukan mengenai keberadaan
kami hingga mereka lulus. Dan Moroi tidak pernah sama sekali.” Dia mendadak
berhenti. Kurasa pelajarannya sudah berakhir.

Kepalaku terasa pusing. Aku tidak pernah, tidak pernah memikirkan hal seperti ini
sebelumnya – tunggu. Pernahkah? Sebagian besar pendidikanku lebih ditegaskan
pada aspek fisik untuk menjadi seorang pengawal: menjaga, bertarung, dll.
Seringkali aku juga mendengar petunjuk tidak jelas pada sesuatu di luar sana di
dunia manusia yang akan menolong menyembunyikan Moroi atau mengeluarkan
mereka dari situasi aneh dan berbahaya. Aku tidak pernah terpikir tentang hal ini
atau mendengar mengenai Alkemis. Jika aku tetap tinggal di sekolah, mungkin aku
akan mendengarnya.

Semua ini mungkin bukalah ide yang disarankan oleh diriku sendiri, tapi sifat
alamiku tidak bisa kompromi.
“Mengapa tetap menjaga sihir di dalam dirimu? Mengapa tidak membaginya dengan
dunia?”

“Sebab ada bagian lain dari tenaga ini. Ini menghentikan kami untuk mengatakan
jenismu yang bisa membahayakan atau menunjukkan identitas mereka.”

Sihir yang mengikat mereka untuk bebricara ... terdengar mencurigakan seperti
kompulsi. Semua moroi bisa menggunakan sedikit kompulsi, dan sebagian besar bisa
menggabungkan komplsi dengan sihir mereka kepada suatu objek untuk
memberikan apa yang mereka inginkan. Sihir Moroi sudah berubah setiap tahunnya,
dan kompulsi sudah dikaitkan dengan sikap yang tidak bermoral sekarang. Aku rasa
tato ini sangat tua, mantera zaman dulu yang turun-temurun selama berabad-abad.
duestinae89.blogspot.com
Aku mengulang apa yang dikatakan Sydney, lebih banyak pertanyaan berputar di
kepalaku.
“Mengapa ... mengapa kalian ingin tinggal menjauh dari kami? Maksudku, bukankah
aku terlihat bisa menjadi sahabat kental selamanya atau apalah ....”
“Sebab itu adalah tugas kami dari Tuhan untuk melindungi sisa-sisa kemanusiaan
dari makhluk jahat di malam hari.” Secara spontan, tangannya menyentuh kepada
sesuatu di lehernya. Benda itu hampir tertutup jaketnya, tapi sebuah bagian dari
tulang dadanya dengan berani menunjukkan sebuah salib emas.

Reaksi awalku tidak terlalu menyenangkan, mengingat aku tidak terlalu religius.
Kenyataannya, aku tidak pernah merasa nyaman berada disekitar orang-orang yang
taat dan percaya. Tiga puluh detik kemudian, keseluruhan pengaruh dari kata-
katanya yang masuk.

“Tunggu sebentar,” aku berseru marah. “Apa kau membicarakan semua tentang
kami – dhampir dan Moroi? Kami semua makhluk jahat di malam hari?”

Tangannya jatuh dari salibnya, dan dia tidak merespon.


“Kami tidak sama dengan Strigoi!” aku memukul meja.

Wajahnya tetap terlihat lunak.


“Moroi minum darah manusia. Dhampir adalah keturunan tidak alami dari mereka
dan manusia.”

Tidak ada yang pernah menyebutku tidak alami sebelumnya, kecuali untuk saat
ketika aku meletakkan saos diatas taco. Tapi sungguh, kami tidak bisa menari salsa,
jadi apa yang harus kulakukan?

“Moroi dan dhampir tidak jahat,” kataku pada Sydney. “Tidak seperti Strigoi”

“Itu benar,” katanya mengakui. “Strigoi lebih jahat.”

“Hey, bukan itu mak –“


Makanan datang kemudian, dan ayam goreng tepung hampir cukup menggangguku
dari kemarahan akibat dibandingkan dengan Strigoi. Kebanyakan semua ini
menundaku dari respon tiba-tiba untuk kata-katanya, dan aku sedikit demi sedikit
memotong lapisanya yang hampir mencair kemudian. Sydney memesan burger keju
dan kentang goreng dan mengigit makanannya dengan lembut.

Setelah menyelesaikan seluruh paha ayam, aku akhirnya mampu melanjutkan


argumen tadi.
“Kami sama sekali tidak sama dengan Strigoi. Moroi tidak membunuh. Kau tidak
punya alasan untuk takut pada kami.” Lagi, aku bukannya mengutarakan
kenyamanan tinggal bersama manusia. Tidak satupun dari jenisku, tidak dengan
cara manusia yang terburu-buru senang dan siap bereksperimen terhadap apapun
yang mereka tidak mengerti.
duestinae89.blogspot.com
“Setiap manusia yang mempelajari kalian tidak akan terhindari pasti juga akan
mempelajari mengenai Strigoi,” katanya. Dia memainkan kentang gorengnya tapi
tidak benar-benar memakannya.

“Mengetahui tentang Strigoi yang memungkinkan manusia untuk melindungi diri


mereka sendiri, pikirkan.”
Mengapa aku bermain sebagai pengacara setan disini?

Dia berhenti memainkan kentang gorengnya dan menjatuhkannya kembali ke


piringnya. “Mungkin. Tapi ada banyak manusia yang akan tergoda dengan pemikiran
hidup dalam keabadian – bahkan jika harganya berarti melayani Strigoi sebagai
bayarannya agar diubah menjadi makhluk dari neraka. Kau harusnya terkejut
bagaimana cara manusia merespon ketika mereka mempelajari tentang vampir.
Keabadian adalah daya tarik terbesar – mengesampingkan kekejaman yang ada
bersamanya. Banyak manusia yang mempelajari Strigoi mencoba untuk melayani
mereka, dengan harapan mereka akan diubah.”

“Itu gila –“ aku berhenti. Tahun lalu, kami menemukan bukti kalau manusia
membantu Strigoi. Strigoi tidak bisa menyentuh pasak perak, tapi manusia bisa, dan
sebagian dari mereka menggunakan pasak itu untuk melawan Moroi. Apakah
manusia-manusia itu sudah dijanjikan untuk hidup dalam keabadian?

“Jadi,” kata Sydney, “Itulah mengapa ini adalah cara terbaik jika kami memastikan
tidak ada yang tahu mengenai satu pun tentang kalian. Kalian ada di luar sana –
kalian semua – dan tidak ada apa pun yang bisa diubah mengenai semua ini. Kau
melakukan tugasmu dengan mencabik-cabi Strigoi, dan kami akan melakukan
pekerjaan kami dan melindungi jenis kami.”

Aku mengunyah sayap ayam dan menahan diriku dari maksud tidak langsung kalau
dia melindungi jenisnya dari orang-orang seperti kami juga. Dari beberapa hal, apa
yang ia katakan menimbulkan sesuatu yang menarik. Tidak mungkin kalau kami bisa
bergerak di dunia ini tanpa terlihat, dan ya, aku mengakui, sangat penting ketika
seseorang bisa menghilangkan mayat Strigoi. Manusia bekerja bersama Moroi
adalah pilihan yang ideal. Beberapa manusia bisa bergerak di dunia dengan bebas,
khusunya jika mereka memiliki sejenis hubungan dan jaringan yang dia jaga secara
tidak langsung.

Aku membeku di tengah kunyahanku, mengingat pikiran terbaruku ketika pertama


kali aku datang kesini dengan Sydney. Aku menolak diriku untuk menelan dan
kemudian mengambil minum dengan tegukkan panjang.

“Ini pertanyaannya. Apa kau punya jaringan di seluruh Rusia?”

“Sayangnya,” katanya. “Ketika Alkemis berusia delapan belas tahun, kami dikirim ke
dalam sebuah pelatihan untuk mendapatkan pengalaman pertama dalam pertukaran
dan membuat koneksi. Aku lebih memilih tinggal di Utah.”

Itu adalah hal tergila yang mungkin pernah kudengar dari seluruh hal yang ia
katakan padaku, tapi aku tidak ingin menunjukkannya. “Koneksi jenis apa yang
sebenarnya kalian lakukan?”
duestinae89.blogspot.com
Dia mengangkat bahu. “Kami mengikuti pergerakan sebagian besar Moroi dan
dhampir. Kami juga tahu banyak mengenai tingkat petinggi pemerintahan resmi –
diantara manusia dan Moroi. Jika ada seorang vampir terlihat diantar manusia,
kami biasanya bisa menemukan seseorang yang penting yang bisa membayar
seseorang atau apapun ... semua itu akan membersihkannya di bawah pengamanan.”

Mengikuti pergerakan Moroi dan dhampir. Kena. Aku mencondongkan tubuhku


mendekatinya dan merendahkan suaraku. Segalanya terlihat berkaitan saat ini.
Aku sedang mencari sebuah desa ... sebuah desa yang dihuni oleh kaun dhampir di
Siberia. Aku tidak tahu namanya.” Dimitri hanya pernah menyebutkan nama desa
itu sekali, dan aku lupa. “Namanya terdengar seperti ... Om?”

“Omsk,” dia memperbaiki penyebutanku.


Tubuhku tegak. “Kau tahu tentang desa ini?”

Dia tidak langsung menjawab, tapi matanya mengkhianatinya. “Mungkin.”

“Kau tahu!” aku berseru. “Kau harus mengatakan padaku dimana tempatnya. Aku
harus kesana”

Wajahnya berubah. “Apa kau akan menjadi ... bagian dari mereka?”

Jadi Alkemis tahu mengenai pelacur darah. Tidak mengejutkan. Jika Sydney dan
kelompoknya tahu hal lain mengenai dunia vampir, mereka juga pasti tahu tentang
hal ini juga.

“Tidak,” kataku angkuh. “Aku hanya harus menemukan seseorang.”

“Siapa?”

“Seseorang.”
Jawaban itu hampir membuatnya tersenyum. Mata cokelatnya terlihat berpikir
seiring dia mengunyah kentang gorengnya. Dia hanya menggigit dua kali burger
kejunya, dan makanan itu hanya menjadi dingin. Aku ingin memakannya dengan
dasar yang kuat.

“Aku akan segera kembali,” katanya kasar. Dia berdiri dan menyebrangi ruangan ke
pojokan yang sepi di kafe itu. Membuat sebuah handphone dari dompet sihir itu, dia
membalikkan badannya dari ruangan dan menelepon.

Aku menghabiskan ayamku kemudian dan menolong diriku sendiri dengan


mengambil kentang gorengnya semenjak benda itu terlihat berkurang dan berkurang
seolah Sydney ingin melakukan apapun dengan mereka. Ketika aku makan, aku
mempertimbangkan kemungkinan sebelum diriku sadar, mengira aku akan
menemukan kota Dimitri tinggal semudah ini. Dan sekali aku berada disana ...
apakah akan menjadi semudah ini? Apakah dia ada disana, hidup dalam bayangan
dan berburu mangsa? dan ketika berhadapan dengannya, bisakah aku benar-benar
menancapkan pasakku ke jantungnya? Gambaran tidak diinginkan itu muncul lagi,
Dimitri dengan mata merah dan –
duestinae89.blogspot.com
“Rose?”
Aku mengerjap. Aku benar-benar sudah menghayal terlalu jauh, dan Sydney sudah
kembali. Dia kembali duduk di hadapanku.

“Jadi, ini terlihat –“ Dia berhenti sejenak dan menatap ke bawah. “Apa kau
memakan kentang gorengku?”

Aku tidak punya petunjuk dari mana dia mengetahuinya, mengingat dia memesan
dalam porsi yang banyak. Aku hampir tidak membuat jejak sama sekali.
Membayangkan aku mencuri kentang goreng mungkin bisa dijadikan bukti bahwa
aku bisa menjadi makhluk jahat di malam hari, aku berkata dengan fasih, “Tidak.”

Dia merengut sesaat, mempertimbangkan, dan kemudian berkata, “Aku tahu ada
dimana kota itu. Aku pernah kesana sebelumnya.”

Aku mengejang. Oh Tuhan. Ini semua benar-benar terjadi, setelah seluruh minggu
pencarianku. Sydney akan mengatakan dimana tempat itu dan aku bisa pergi dan
mencoba lebih dekat dengan bab terkacau dalam hidupku.

“Terima kasih, trimakasih banyak –“

Dia mengangkat tangannya untuk membuatku diam dan aku menyadari betapa
kacaunya dia terlihat sekarang.

“Tapi aku tidak akan mengatakannya padamu dimana tempatnya.”

Mulutku menganga. “Apa?”

“Aku akan mengantarkanmu sendiri kesana.”


duestinae89.blogspot.com

Tiga
“TUNGGU – APA?” AKU BERSERU.
Bukan itu rencananya. Itu bahkan tidak termasuk dalam rencana sama sekali. Aku
telah mencoba pindah melalui Rusia dengan setersembunyi yang aku bisa. Ditambah
lagi, aku benar-benar tidak nyaman dengan pemikiran tentang memiliki seorang
teman seperjalanan – khususnya karena dia muncul dengan perasaan benci padaku.
Aku tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Siberia –
beberapa hari, kurasa – dan aku tidak bisa membayangkan menghabiskan waktu-
waktu itu dengan mendengarkan Sydney yang membicarakan tentang betapa tidak
alami dan jahatnya diriku.

Menelan sikapku yang bisa menyakiti hati orang lain, aku menunjukkan alasan.
Paling tidak, akulah yang meminta tolong disini.
“Itu tidak perlu,” kataku, memaksakan bibirku tersenyum. “Tawaranmu sangat
menyenangkan, tapi aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Sebenarnya,” jawabnya kering, “tidak bisa seperti itu. Dan bukannya aku ingin
terlihat baik. Hal itu bahkan bukan pilihanku. Itu adalah perintah dari atasanku.”

“Terdengar akan menyulitkanmu. Mengapa kau tidak mengatakannya saja padaku


dimana letaknya, dan melupakannya saja setelah itu?”

“Kau jelas tidak kenal kepada siapa aku bekerja.”

“Tidak butuh. Aku menolak kekuasaan selama ini. Tidak sulit ketika kau
mencobanya sesekali.”

“Ya? Bagaiamana hal itu bekerja padamu ketika kau ingin menemukan desa itu?”
tanyanya mengejek. “Dengar, jika kau ingin kesana, hanya ini satu-satunya jalan.”

Baiklah – itulah jalan satu-satunya untuk pergi kesana yaitu menggunakan Sydney
sebagai sumber informasiku. Aku bisa saja kembali untuk mengamati Nightingale ...
tapi itu akan membutuhkan waktu lama untuk bisa mendapatkan pencapaian seperti
ini. Lagi pula, dia ada disini, di hadapanku dengan informasi yang aku butuhkan.

“Mengapa?” tanyaku. “Mengapa kau ingin pergi bersamaku?”

“Aku tidak bisa mengatakan alasannya mengapa. Digaris bawahi : Mereka yang
menyuruhku seperti itu.”

Manis sekali. Aku menatapnya, mencoba menebak apa yang sedang terjadi disini.
Mengapa bisa siapapun – membiarkan manusia sendirian dengan tangan mereka di
dunia Moroi – peduli kemana satu orang vampir remaja pergi? Aku tidak merasa
kalau Sydney memiliki motif tersembunyi – kecuali jika dia adalah artis yang sangat
sangat bagus. Jelas sekali orang-orang yang dimaksudkan Sydney memiliki rencana,
dan aku tidak suka dipermainkan dalam rencana orang lain. Disaat yang sama, aku
duestinae89.blogspot.com
cemas dengan keterlibatan ini. Setiap hari yang kulalui hanyalah hari-hari dimana
aku tidak menemukan Dimitri.

“Seberapa cepat kita bisa berangkat?” aku bertanya akhirnya. Sydney, menurutku,
adalah pegawai administrasi.

Dia menunjukkan ketidakahlian dalam hal mengikutiku. Tentu saja tidak akan
menjadi sesusah itu untuk menyingkirkannya ketika kami sudah cukup dekat dengan
kota kelahiran Dimitri. Dia terlihat kecewa dengan responku, hampir terlihat kalau
dia berharap aku akan menolak dan kemudian ia akan terlepas dari permasalahan
ini. Dia lebih tidak ingin ikut daripada aku. Ia membuka dompetnya dan mengambil
handphonenya lagi, mengutak-atiknya selama beberapa menit, dan akhirnya
menghasilkan jadwal kereta. Dia menunjukkanku jadwal untuk hari esok.
“Apa kau mengerti dimana tempatnya?”

Aku mempelajari layar itu dan mengangguk. “Aku tahu dimana stasiun itu. Aku bisa
kesana.”

“Ok.” Dia berdiri dan meletakkan beberapa uang tunai di atas meja. “Aku tunggu kau
besok.” Dia mulai berjalan pergi dan kemudian melirik kembali ke arahku. “Oh, dan
kau bisa ambil sisa kentang gorengku.”

Pertama kali aku datang ke Rusia, aku tinggal di asrama putri. Aku tentu saja punya
uang untuk tinggal dimana pun, tapi aku ingin tetap berada di luar perhatian.
Disamping itu, kemewahan bukanlah hal pertama yang terlintas dalam pikiranku.
Ketika aku mulai pergi ke Nightingale, aku menemukan kalau susah bagiku untuk
kembali ke asrama yang dipenuhi oleh siswa penjelajah ketika aku mengenakan gaun
mahal. Jadi aku tinggal di hotel mewah sekarang, lengkap dengan laki-laki yang
selalu membukakan pintu dan Lobi berlantaikan pualam. Lobi itu sangat besar
sampai aku berpikir kalau seluruh asrama bisa masuk ke dalamnya. Mungkin dua
asrama. Kamarku besar dan berlebihan juga, aku sangat bersyukur bisa segera
sampai di kamarku dan melepaskan sepatu hak tinggi dan gaunku. Dengan sedikit
penyesalan dan kepedihan, aku sadar kalau aku harus meninggalkan gaun-gaunku
yang kubeli di Saint Petersburg. Aku ingin meringankan beban bawaanku ketika aku
harus mengelilingi negara ini, dan meskipun tasku besar, hanya ada beberapa
bawaan yang bisa kubawa. Oh baiklah. Gaun-gaun itu akan menjadi kebahagian
bagian wanita yang membersihkan kamarku, aku tidak meragukannya. Ornamen
yang akan kubawa dan kubutuhkan hanyalah nazarku, anting-anting yang terlihat
seperti mata berwarna biru. Ini adalah pemberian ibuku, yang juga merupakan
pemberian ayahku. Aku selalu mengalungkannya di leherku.

Kereta kami ke Moskow akan berangkat pagi-pagi sekali, dan kemudian kami akan
menaiki kereta yang akan melintasi negara ke Siberia. Aku ingin beristirahat yang
cukup dan siap untuk segala hal. Sekali aku mengenakan piamaku, aku meringkuk di
bawah selimut berat di ranjangku dan berharap aku akan segera tidur. Bukannya
tidur, pikiranku malah berputar dengan semua yang baru saja terjadi. Kondisi
Sydney adalah sesuatu yang ganjil namun masih bisa kutangani. Selama kami
terjebak di dalam transportasi umum, dia bisa menuntunku ke arah cengkraman
pemimpin misteriusnya. Dan dari apa yang ia katakan mengenai jadwal perjalanan,
duestinae89.blogspot.com
sepertinya hanya akan membutuhkan waktu dua hari saja untuk mencapai desa itu.
Dua hari bisa jadi lama atau sebentar.

Maksudku aku bisa berhadapan dengan Dimitri dalam waktu beberapa hari lagi ...
dan kemudian apa? Bisakah aku melakukannya? Bisakah aku mmembawa diriku
untuk membunuhnya? Dan meskinpun aku sudah memutuskan untuk
melakukannya, sudahkan aku memiliki kemampuan untuk melawannya? Pertanyaan
yang sama yang kutanyakan pada diriku sendiri selama dua minggu terakhir ini terus
dan terus menggangguku. Dimitri mengajari semua yang aku tahu, dan dengan gerak
refleksnya yang tinggi sebagai seorang Strigoi, dia mungkin benar-benar akan
menjadi dewa seperti yang selalu kukatakan ketika aku bercanda dengannya.
Kematian adalah kemungkinan paling nyata bagiku.
Tapi khawatir pun tidak akan menolong sekarang, melihat ke jam dinding di kamar,
aku mengetahui kalau aku masih bangun dalam posisi terbaring ini hampir selama
satu jam. Itu tidak baik. Aku butuh dalam kondisi puncak. Jadi aku melakukan
sesuatu yang aku ketahui tidak baik untuk kulakukan, tapi selalu bekerja untuk
membuat pikiranku keluar dari kekhawatiranku - sebagian besar dikarenakan aku
memasuki pikiran orang lain.

Masuk ke dalam kepala Lissa hanya membutuhkan sedikit konsentrasi dalam


bagianku. Aku tidak tahu jika aku bisa melakukannya ketika kami terpisah sangat
jauh, tapi aku menemukan kalau prosesnya tidak berbeda dari apa yang kulakukan
ketika aku masih berada di sampingnya.
Masih pagi buta di Montana, dan Lissa tidak punya kelas hari ini mengingat ini hari
Sabtu. Sepanjang waktuku dulu, aku bekerja sangat keras untuk membentuk dinding
tidak terlihat diantara kami, hampir menghalangi pikiran dan perasaanya keluar.
Sekarang, berada di dalam dirinya, semua rintangan menurun, dan emosinya
menubrukku seperti gelombang pasang. Dia sedang marah. Sangat marah.

“Mengapa dia berpikir kalau dengan hanya menggerakkan jarinya saja, dia bisa
membuatku pergi kemanapun dia inginkan, kapanpun dia inginkan?” Lissa
mengeram.

“Karena dia sang ratu. Dan karena kau sudah membuat perjanjian dengan setan.”
Lissa dan pacarnya, Christian, sedang bersantai dia loteng kapel sekolah. Segera
setelah aku mengenali situasinya, aku hampir menarik diriku keluar dari kepalanya.
Mereka berdua memiliki banyak cara untuk membuat acara „romantis‟ disini, dan
aku tidak ingin berada di sekitar mereka ketika pakaian segera di renggut terlepas.
Untungnya – atau mungkin tidak – rasa kesal Lissa mengatakan padaku kalau tidak
ada seks hari ini, tidak dengan suasana hatinya yang jelek.

Sebenarnya terlihat ironis. Peran mereka berdua bertukar. Lissa yang sedang marah
dan Christian berperan tenang dan menyejukkan, mencoba untuk tampil kalem demi
kebaikan Lissa. Dia duduk di lantai, bersandar ke dinding, ketika Lissa duduk di
depannya, kakinya membuka dan tangannya memeluk Lissa. Lissa membaringkan
kepalanyanya ke dada Christian dan menarik nafas panjang.
“Selama beberapa minggu terakhir, aku sudah melakukan apapun yang ia minta!
„Vasilisa, tolong tunjukkan tamu bangsawan idiot berkeliling kampus.‟ „Vasilisa,
tolong melompatlah ke dalam pesawat di akhir minggu jadi aku bisa
memperkenalkanmu pada beberapa petugas resmi membosankan di istana.‟
duestinae89.blogspot.com
„Vasilisa, tolong masukan para siswa muda ke dalam pekerjaan sukarelawan. Itu
akan terlihat bagus.‟” Mengesampingkan rasa frustasi Lissa, aku tidak bisa menolak
sedikit hiburan yang kulihat ini. Dia bisa menirukan suara Ratu Tatiana dengan
sempurna.

“Kau melakukan yang terakhir dengan ikhlas,” Cristian mengingatkan.


“Ya ... mengingatkan untuk menjadi ikhlas. Aku membencinya yang mencoba
memerintah setiap bagian dalam hidupku sekarang.”

Christian mencondongkan kepalanya dan mencium pipi Lissa. “Seperti kataku tadi,
kau membuat perjanjian dengan setan. Kau kekasihnya sekarang. Dia ingin
memastikan kalau kau membuatnya terlihat baik.”

Lissa cemberut. Meskipun kaum Moroi hidup di tengah-tengah kota manusia dan
merupakan pekerja dalam pemerintahan manusia itu sendiri, mereka juga diatur
oleh raja atau ratu yang dipilih dari dua belas keluarga bangsawan Moroi. Ratu
Tatiana – seorang Ivashkov – merupakan pemimpin sekarang, dan dia memiliki
minat yang khusus kepada Lissa yang merupakan keturunan terakhir dari keluarga
Dragomir. Oleh karena itu, Tatiana membuat kesepakatan dengan Lissa. Jika Lissa
tinggal di istana setelah lulus dari Akademi St. Vladimir, ratu akan mengatur agar ia
bisa masuk di Universitas Lehigh di Pennysylvania. Lissa sangat cerdas dan
pemikiran untuk tinggal di rumah Tatiana akan sangat adil jika ditukar dengan
universitas yang lebih besar, lebih berkelas, dan merupakan kebalikan dari pilihan
kaum Moroi lain untuk pergi ke universitas yang lebih kecil (untuk alasan
keamanan).

Seperti yang Lissa ketahui, syarat itu terikat dengan kesepakatan yang sudah ia buat.
“Dan aku hanya duduk dan terima saja,” kata Lissa. “Aku hanya tersenyum dan
berkata „Ya, yang mulia. Apapun yang kau inginkan, yang mulia.‟”

“Kalau begtu katakan padanya kalau kesepakatan batal. Kau akan berumur 18 tahun
dalam beberapa bulan lagi. Bangsawan atau tidak, kau tidak di bawah aturan wajib
lagi. Kau tidak harus pergi ke sekolah yang lebih besar. Kita hanya akan pergi, kau
dan aku. Pergi ke kampus manapun yang kau inginkan. Atau tidak perlu pergi sama
sekali. Kita bisa kabur ke Paris atau semacamnya dan bekerja di kafe kecil. Atau
menjual seni yang buruk di jalanan.”

Kata-kata itu membuat Lissa tertawa, dan dia meringkuk mendekati Christian.
“Benar. Aku sudah bisa melihat dengan jelas betapa sabarnya kau menunggui
pelanggan. Kau akan dipecat di hari pertama kau bekerja. Lihat, sepertinya jalan
satu-satunya untuk kita bertahann hidup adalah aku pergi ke kampus dan
menyokong kebutuhan kita berdua.”

“Ada jalan lain untuk pergi ke kampus, kau tahu.”

“Ya, tapi tidak satu pun dari jalan itu terdengar baik,” katanya prihatin. “Tidak
mudah memang. Ini jalan satu-satunya. Aku hanya berharap aku bisa
mendapatkannya dan berdiri di hadapannya sebentar lagi. Rose akan
melakukannya.”
duestinae89.blogspot.com
“Rose akan membuat dirinya sendiri dipenjara untuk pengkhianatan yang ia lakukan
saat pertama kali ia melaksanakan apa yang Tatiana inginkan.”

Lissa tersenyum sedih. “Ya. Dia akan seperti itu.” Senyuman itu berubah menjadi
nafas panjang. “Aku sangat merindukannya.”

Christian menciumnya lagi. “Aku tahu.” Ini adalah percakapan yang sering mereka
lakukan, tidak satu pun yang berubah karena perasaan Lissa padaku tidak pernah
memudar.

“Dia baik-baik saja, kau tahu. Dimanapun dia berada, dia baik-baik saja.”
Lissa menatap kosong ke kegelapan loteng. Satu-satunya cahaya datang dari kaca
jendela mozaik yang membuat seluruh tempat di loteng terlihat seperti di dalam
dongeng. Tempat itu sudah dibersihkan – oleh Dimitri dan aku sebenarnya. Baru
beberapa bulan yang lalu, tapi debu dan kotak-kotak mulai bersatu lagi. Pendeta
disini adalah pria yang baik tapi banyak mengoleksi tikus. Lissa tidak menyadari hal
ini. Pikirannya masih terfokus padaku.

“Kuharap begitu. Kuharap aku punya satu petunjuk – petunjuk apapun – dimana
dirinya berada. Aku terus berpikir jika ada suatu apa pun yang terjadi pada dirinya,
jika dia – “ Lissa tidak bisa menyelesaikan pikirannya. “Aku akan tetap berpikir
kalau aku bisa tahu bagaimana caranya. Kalau aku bisa merasakannya. Maksudku,
aku tahu koneksi itu hanya terjadi satu arah ... itu tidak pernah berubah. Tapi aku
harusnya bisa tahu jika sesuatu terjadi padanya, benarkan?”

“Aku tidak tahu,” jawab Christian. “Mungkin. Mungkin juga tidak.” Laki-laki lain
mungkin akan mengatakan sesuatu yang sangat manis dan membuat wanita merasa
nyaman, meyakinkan mereka dengan jawaban iya, iya, tentu saja dia tahu. Tapi ini
adalah bagian alami dari diri Christian untuk bersikap jujur meski kejam. Lissa
menyukai hal itu darinya. Begitu juga aku. Semua itu tidak selalu bisa membuatnya
menjadi teman yang menyenangkan, tapi pada akhirnya kau akan tahu kalau dia
tidak pernah membohongimu.

Lissa menghela nafas lagi. “Adrian bilang Rose baik-baik saja. Dia mengunjungi
mimpinya. Aku akan memberikan apapun untuk bisa melakukan hal itu. Sihir
penyembuhku semakin membaik, dan aku bisa sedikit mengenali aura sekarang.
Tapi belum apapun mengenai mimpi.”

Mengetahui Lissa merindukanku ternyata menyakitiku dan hampir lebih sakit


ketimbang dia menulis surat untukku. Aku tidak pernah ingin menyakitinya.
Meskipun ketika aku kesal dengan perasaan kalau dia mengontrol hidupku. aku
tidak pernah membencinya. Aku mencintainya seperti saudaraku sendiri dan tidak
mampu mengerti dengan pikiran kalau dia menderita karena kepentinganku
sekarang. Bagaimana mungkin segala sesuatu menjadi kacau diantara kami?

Dia dan Christian melanjutkan kegiatan duduk mereka dalam keheningan yang
nyaman, melukis kekuatan dan cinta satu sama lain. Mereka memiliki apa yang
pernah kumiliki dengan Dimitri dulu, sebuah rasa ketika kami menjadi satu dan tak
terpisahkan sehingga kata-kata tak lagi dibutuhkan. Christian menjalankan jari-
jarinya melalui rambut Lissa, dan berhubung aku tidak bisa melihat dengan jelas
duestinae89.blogspot.com
melalui kedua mata Lissa, aku bisa membayangkan bagaimana rambut yang
berwarna pucat akan berkilat diterpa cahaya pelangi yang dihasilkan oleh kaca
jendela mozaik. Dia menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinga Lissa
dan kemudian merebahkan kepala Lissa ke belakang, membuat bibirnya menyentuh
bibir Lissa. Ciuman itu dimulai dengan lembut dan manis dan kemudian perlahan
meningkat, kehangatan menyebar dari bibirnya ke bibir Lissa.

Oo, pikirku. Ini mungkin waktunya untukku pergi. Tapi Lissa mengakhirinya
sebelum aku keluar.

“Ini waktunya,” katanya dengan menyesal. “kita harus pergi.”

Mata biru-berlian Christian mengatakan hal yang sebaliknya. “Mungkin ini waktu
yang tepat untuk tidak menuruti kemauan sang ratu. Kau bisa tinggal disini –
merupakan jalan yang bagus untuk membentuk karaktermu.”

Lissa memelototinya dan kemudian menyampirkan sebuah ciuman di dahi Christian


sebelum ia berdiri. “Bukan itu alasan yang membuat kau ingin aku tetap tinggal
disini, jadi bahkan jangan coba untuk bermain denganku.

Mereka meninggalkan kapel dan Christian mengomel tentang menginginkan sesuatu


yang lebih dari sekedar bermain yang berakhir dengan pelototan lagi. Mereka
menuju gedung administrasi, yang tempatnya berada di jantung kampus kelas atas.
Mengesampingkan warna merah pertama dari musim semi, semuanya terlihat sama
seperti saat aku pergi – paling tidak tampilan luarnya. Batuan gedung menyisakan
keagungan yang mengesankan. Pepohonan tua yang tinggi masih tetap mengamati
disekitarnya. Namun, di dalam hati setiap staf dan siswa, ada yang telah berubah.
Setiap orang membawa luka dari serangan itu. Banyak dari orang-orang kami yang
terbunuh, dan ketika kelas dimulai dan berlangsung lagi, semua orang masih
berduka. Lissa dan Christian sampai ke tujuan mereka: gedung administrasi. Lissa
tidak tahu alasan kenapa ia dipanggil, hanya Tatiana ingin agar dia bertemu dengan
beberapa pria bangsawan yang baru saja tiba di akademi. Berhubung Lissa sudah
sering dipaksa untuk bertemu begitu banyak orang oleh Tatiana, Lissa tidak terlalu
memikirkannya. Dia dan Christian melangkah masuk ke kantor utama, ketika
mereka bertemu dengan kepala sekolah Kirova yang sedang duduk dan ngobrol
dengan seorang Moroi dewasa dan seorang gadis seusia kami.

“Ah, Nona Dragomir. Disana kau ternyata.”

Aku sering mendapat masalah dengan Kirova ketika aku masih berstatuskan sebagai
siswa, namun melihatnya lagi membuatku merasa bernostalgia. Mendapatkan
hukuman karena memulai perkelahian di kelas terdengar lebih baik daripada
berkeliaran melalui Siberia untuk menemukan Dimitri. Kirova masih memiliki
tampilan serius seperti biasa, kaca mata yang sama seimbang di ujung hidungya. Pria
dan gadis itu berdiri, dan Kirova menunjuk ke arah mereka.

“Ini adalah Eugene Lazar dan putrinya Avery.” Kirova kembali menatap Lissa. “ini
Vasilisa Dragomir dan Christian Ozera.”
duestinae89.blogspot.com
Sedikit penilaian yang seimbang terjadi setelah itu. Lazar adalah nama bangsawan,
tapi itu tidak mengejutkan terlebih karena Tatiana yang mengadakan pertemuan ini.
Tuan Lazar memberikan Lissa sebuah senyum pemenang ketika ia menjabat tangan
nya. Dia terlihat sedikit terkejut ketika bertemu Christian, tapi senyumnya masih
tetap berada di wajahnya. Tentu saja, reaksi seperti itu bukanlah hal yang aneh.

Ada dua cara untuk menjadi Strigoi: dengan pilihan atau dengan paksaan. Seorang
Strigoi bisa mengubah orang lain – manusia, Moroi, atau dhampir – dengan
meminum darah mereka dan kemudian meminumkan darahnya sendiri kepada
mereka. Itulah yang terjadi pada Dimitri. Cara lain untuk menjadi Strigoi tergolong
unik bagi kaum Moroi – dan itu terjadi karena pilihan. Moroi yang sengaja memilih
untuk membunuh seseorang dengan meminum darah mereka sampai kering juga
bisa berubah menjadi Strigoi. Biasanya, Moroi hanya minum sedikit darah, bukan
jumlah yang bisa menyakiti manusia yang melakukannya dengan sukarela. Tapi
menghisap sebanyak-banyaknya merupakan pengambilan hidup orang lain dengan
paksa. Sebenarnya, itu mengubah Moroi ke sisi yang lebih gelap, menghancurkan
sihir elemen mereka dan mengubah mereka menjadi mayat hidup. Itulah yang
dilakukan orang tua Christian. Mereka sukarela membunuh dan menjadi Strigoi
untuk mendapatkan hidup abadi. Christian tidak pernah menunjukkan hasrat untuk
menjadi Strigoi, tapi semua orang berpikir seolah dia akan melakukannya. (Tidak
dapat disangkal, perangainya yang buruk tidak membantu penilaian orang lain).
Banyak dari kerabat dekatnya - walaupun seorang bangsawan – juga diperlakukan
tidak adil dengan diajuhi pula. Namun dia dan aku sudah menjadi tim ketika
membasmi sebagian besar Strigoi selama penyeranga. Kabar itu menyebar dan
menaikkan reputasinya.

Kirova adalah seseorang yang tidak pernah membuang waktu dengan formalitas,
jadi dia langsung pada pokok pembicaraan.

“Tuan Lazar akan menjadi kepala sekolah yang baru disini.”


Lissa masih tersenyum sopan padanya, tapi kepalanya langsung tersentak ke arah
Kirova. “Apa?”

“Aku akan turun jabatan,” jelas Kirova, suaranya datar dan tanpa ekspresi yang
cukup untuk menyaingi pengawal manapun. “meskipun aku masih tetap akan
melayani sekolah ini sebagai seorang guru.”

“Kau akan mengajar?” Christian tidak percaya. Kirova menatapnya dingin.

“Ya, Ozera. Itulah keinginanku yang sebenarnya ketika ke sekolah ini dulu. Aku
yakin jika aku mencoba dengan keras, aku bisa mengingat bagaimana cara
melakukannya.”

“Tapi kenapa?” tanya Lissa. “Kau melakukan pekerjaan dengan baik.” Sebenarnya
lebih atau kurang dari itu. Meskipun aku sering berdebat dengan Kirova – biasanya
tentang aku yang melanggar peraturan – aku masih menghormatinya. Lissa juga.

“Aku sudah memikirkan tentang pengunduran diri selama ini,” jelas Kirova.
“Sekarang terlihat sebagai waktu yang tepat untuk melakukannya, dan Tuan Lazar
merupakan seseorang yang sanggup menjadi pengurus.”
duestinae89.blogspot.com
Lissa sangat bagus dalam membaca seseorang. Kurasa itu merupakan bagian dari
efek sihir roh, serta dengan membuat penggunanya menjadi sangat, sangat
karismatik. Lissa berpikir jika Kirova sedang berbohong, dan begitu pula aku. Jika
aku mampu membaca pikiran Christian, kurasa dia juga merasakan hal yang sama.
Penyerangan di akademi membuat banyak orang merasa panik, bangsawan
khususnya, meskipun masalah yang menimbulkan penyerangan itu sudah cukup
lama diselesaikan. Aku menduga kalau tangan Tatiana sedang bekerja disini,
memaksa Kirova untuk turun jabatan dan membuat bangsawan menggantikannya,
dengan demikian kaum bangsawan akan merasa lebih baik.

Lissa tidak membiarkan pikirannya muncul, dan dia kembali menatap Tuan Lazar.
“Kalau begitu, senang bertemu denganmu. Saya yakin Anda akan melakukan
pekerjaan dengan baik. Katakan saja bila ada yang bisa saya bantu.” Dia sedang
memaikan peran putri yang terhormat dengan sempurna. Bertingkah laku sopan dan
manis adalah satu dan banyak bakat yang ia miliki.

“Sebenarnya,” kata Tuan Lazar, “ada.” Dia memiliki suara berat dan cepat, seperti
memenuhi ruangan. Dia menunjuk ke arah putrinya.

“Aku berharap kau bisa menemani Avery berkeliling dan membantunya menemukan
jalan-jalannya. Dia telah lulus tahun lalu tapi dia akan membantuku menjalankan
tugasku. Namun aku yakin dia lebih suka menghabiskan waktunya dengan seseorang
yang seumuran dengannya.”

Avery tersenyum dan untuk pertama kalinya, Lissa benar-benar memperhatikannya.


Avery adalah gadis yang cantik. Mempesona. Lissa juga sangat cantik, diantara
rambutnya yang indah dan mata hijau giok yang ia warisi dari keluarganya. Aku rasa
Lissa ratusan kali lebih cantik daripada Avery, tapi disamping gadis yang lebih tua,
lissa merasa rendah diri. Avery tinggi dan ramping seperti kebanyakan Moroi yang
lain, tapi ia memiliki lekukan seksi di tubuhnya. Dadanya, seperti milikku, sangat
diidamkan di kalangan Moroi, dan dengan rambut cokelat panjang dan mata biru
keabu-abuannya melengkapi tampilannya.

“Aku berjanji tidak akan begitu menyakitkan, kok,” kata Avery. “Dan jika kau mau,
aku akan memberikan beberapa tips rahasia di dalam kehidupan istana. Kudengar
kau akan pindah kesana.”

Secara spontan, pertahanan Lissa bangkit. Dia sadar apa yang sedang terjadi.
Tatiana tidak hanya mendepak Kirova, dia juga mengirimkan penjaga untuk Lissa.
Seorang teman sempurna dan cantik yang akan memata-matai Lissa dan berusaha
untuk melatih Lissa agar sesuai dengan standar Tatiana. Kata-kata Lissa sangat
sopan ketika ia berbicara dengan sempurna, tapi jelas suaranya menujukkan
penolakkan yang tajam.

“Sangat bagus sekali,” katanya. “Aku sangat sibuk akhir-akhir ini, tapi kita bisa
mencoba mencari waktu untuk melakukannya.”
Baik ayah Avery maupun Kirova tidak menyadari maksud kata-kata itu, tapi sesuatu
tersirat dari mata Avery yang mengatakan pada Lissa kalau ia mengarti maksud
perkataan Lissa.
duestinae89.blogspot.com
“Terima kasih,” kata Avery. Kecuali aku salah, ada rasa sakit di wajahnya.
“Aku yakin kita akan merencanakan sesuatu bersama.”

“Bagus, bagus,” kata Tuan Lazar, jelas telah lupa dengan drama gadis-gadis.
“Mungkin kau bisa menunjukkan kamar tamu kepada Avery? Dia tinggal di sayap
timur.”

“Tentu,” kata Lissa, berharap dia tidak melakukan hal lain lagi. Lissa, Christian, dan
Avery hendak pergi ketika dua pria memasuki ruangan. Satu adalah seorang Moroi,
sedikit lebih muda daripada kami, dan yang satunya adalah dhampir berumur dua
puluh tahunan – seorang pengawal, dari apa yang terlihat, tampangnya serius.

“Ah, disana kau rupanya,” kata Tuan Lazar, memberi isyarat kepada pria-pria itu
untuk masuk. Dia menaruh tangannya ke bahu anak lelaki itu. “Ini anakku, Reed.
Dia di kelas menengah dan akan masuk di akademi ini juga. Dia sangat bersemangat
mendengar semua ini.‟

Sebenarnya, Reed terlihat sangat tidak bersemangat. Dia jelas pria yang paling
tidak ramah yang pernah kulihat. Jika aku pernah ingin memainkan peran sebagai
remaja yang tidak puas, aku bisa belajar semuanya yang harus ku tahu dari Reed
Lazar. Dia memiliki tampilan dan wajah yang tampan seperti Avery, tapi karakter
mereka dirusak dengan seringaian yang terlihat permanen menempel di wajah
Reed. Tuan Lazar memperkenalkan yang lain kepada Reed. Reed hanya merespon
dengan sura parau, “Hai.”

“Dan ini Simon, pengawal Avery.” lanjut Tuan Lazar.

“Tentu saja ketika berada di kampus, dia tidak perlu bersama Avery sepanjang
waktu. Kau tahu bagaimana situasinya. Tapi aku yakin kau akan melihatnya di
sekitar kampus.”

Kuharap tidak. Dia sama sekali tidak terlihat tidak senang seperti Reed, tapi dia pasti
memiliki sifat alami keras kepala yang berlebihan bahkan daripada pengawal yang
lain. Mendadak aku seperti merasa kasihan kepada Avery. Jika orang itu adalah
satu-satunya orang yang menemaninya, aku akan sangat menginginkan agar bisa
berteman dengan seseorang seperti Lissa. Namun Lissa dengan jelas tidak ingin
menjadi bagian dari rencana Tatiana. Dengan percakapan kecil, dia dan Christian
menemani Avery ke kamar tamu dan kemudian segera meninggalkannya.

Normalnya, Lissa akan tetap tinggal untuk menolong Avery membereskan kamarnya
dan menawarkan makan malam bersama kemudian. Tidak kali ini. Tidak dengan
maksud tersembunyi yang menggemparkan. Aku kembali ke tubuhku sendiri,
kembali ke hotel. Aku tahu harusnya aku tidak mempedulikan kehidupan akademi
lagi dan tidak merasa kasihan kepada Avery. Namun berbaring disini dan menatap di
kegelapan, aku tidak bisa tidak merasa sedikit bangga di dalamnya – dan ya, sangat
egois – puas dengan pertemuan ini: Lissa tidak akan berbelanja sahabat baru dalam
waktu dekat ini.
duestinae89.blogspot.com

Empat
DIWAKTU YANG LAIN DALAM hidupku, aku pasti sangat senang menjelajah
Moskow. Sydney sudah merencanakan perjalanan kami sehingga ketika kereta kami
datang, kami memiliki beberapa jam waktu luang sebelum kami harus naik kereta
berikutnya ke Siberia. Ini memberi kami kesempatan untuk berkeliling dan mencari
makan malam, meskipun dia ingin memastikan kalau kami aman di dalam stasiun
sebelum di luar sana menjadi gelap. Selain sifat keras kepalaku yang mengesankan
dan tanda molinjaku, dia tidak memiliki alasan untuk menggangguku.

Membuatku tidak terlalu memikirkan bagaimana cara kami menghabiskan waktu


senggang. Selama aku bisa semakin dekat dengan Dimitri, apapun tidak menjadi
masalah. Jadi Sydney dan aku berjalan tanpa tujuan, tetap berada di jalan yang
terang dan ngobrol sedikit. Aku tidak pernah ke Moskow. Ini kota yang cantik,
berkembang, dan dipenuhi manusia dan perdagangan. Aku bisa menghabiskan
seluruh waktu disini dengan berbelanja dan mencoba semua restoran. Tempat-
tempat yang selama ini kudengar sepanjang hidupku – Kremlin, Red Square, Bolshoi
Theatre – semua ada di ujung jariku. Selain betapa kerennya tempat-tempat ini, aku
sebenarnya mencoba menyelaraskan pemandangan dan suara selama beberapa saat
sebab itu mengingatkanku pada ... Dimitri.

Dia pernah menceritakan padaku tentang Rusia sepanjang waktu dan pernah
bertaruh kalau aku akan senang berada disini.

“Bagimu, ini mungkin seperti kisah dongeng,” kata Dimitri padaku dulu. Saat
sebelum kami melakukan latihan di musim gugur terakhir lalu, hanya sesaat
sebelum salju pertama jatuh.

“Maaf, Komrad,” jawabku, meraih rambut belakangku untuk ku ikat ke atas. Dimitri
suka melihat rambutku terurai, tapi dalam latihan bertarung? Rambut panjang jelas
adalah sebuah gangguan. “Borg dan musik ketinggalan zaman bukan bagian dari
akhir bahagia seperti yang pernah aku bayangkan.”

Dia memberiku satu dari senyuman lebarnya yang jarang sekali terjadi, membuat
sudut matanya mengerut lembut. “Borscht, bukan borg. Dan aku tahu selera
makanmu. Jika kau cukup lapar, kau akan memakannya.”

“Jadi kelaparan itu penting agar dongeng ini bisa berhasil?” Tidak ada yang bisa
lebih menyenangkan bagiku daripada menggoda Dimitri. Sebenarnya, selain
berciuman dengannya.

“Aku sedang membicarakan tentang negaranya. Bangunan. Pergi ke salah satu kota
besar – seperti ke tempat yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Setiap orang di
Amerika berlomba membangun hal yang sama – selalu dalam ukuran besar, blok
yang kokoh. Mereka melakukan hal cepat dan mudah. Tapi di Rusia, ada bangunan-
bangunan yang tercipta seolah mereka merupakan bagian dari seni. Mereka memang
duestinae89.blogspot.com
seni – bahkan jumlahnya lebih dari normal, membangun setiap hari. Dan tempat
seperti Instana Musim Dingin dan Gereja Troitsky di Saint Petersburg? Semua itu
akan menghisap habis nafasmu.”

Wajahnya terlihat berseri-seri dengan kenangan dari tempat-tempat yang pernah ia


lihat, kesenangan itu membuat wajahnya terlihat semakin tampan. Kupikir ia bisa
menamai penanda daerah setiap hari. Jantungku terbakar di dalam diriku, hanya
dengan melihatnya. Dan kemudian, sama seperti yang biasa kulakukan ketika aku
khawatir berubah menjadi tolol atau penuh perasaan, aku membuat lelucon untuk
mengalihkan perhatian menjauh dan menyembunyikan perasaanku. Itu akan
mengembalikkannya ke pekerjaannya dan kami akan segera berlatih.

Sekarang, berjalan di jalanan kota dengan Sydney, aku berharap aku bisa kembali
bercanda dan mendengarkan Dimitri terus berbicara menenai kampung
halamannya. Aku akan memberikan segalanya untuk bisa bersama Dimitri disini,
tempat ia pernah berada. Dia benar tentang bangunan-bangunannya. Tentu saja,
sebagian besar adalah tiruan blok-blok dari apapun yang bisa kau temukan di
Amerika atau di tampat lain di dunia, tapi sebagian sangat menawan – dicat dengan
warna-warna terang, dipercantik dengan kubah berbentuk bawang yang aneh namun
indah. Saat itu, semuanya benar-benar terlihat seperti berasal dunia lain. Dan
selama itu pula, aku terus berpikir kalau seharusnya Dimitri ada di sampingku,
menunjuk ke arah tempat-tempat itu dan menjelaskan mereka padaku. Kami
harusnya memliki sebuah pintu gerbang romantis. Dimitri dan aku bisa makan di
sebuah restoran eksotis dan kemudian berakhir di lantai dansa di malam hari. Aku
bisa mengenakan satu dari gaun rancangan mewah yang sudah aku tinggalkan dia
hotel Saint Petersburg. Begitulah yang seharusnya terjadi. Seharusnya tidak seperti
ini, aku di tengah para manusia yang menatap marah.

“Tidak nyata, ya? Seperti sesuatu dari sebuah cerita.” Suara Sydney mengejutkanku,
dan aku sadar kami sudah hampir berhenti di stasiun kereta kami. Ada banyak
stasiun seperti ini di Moskow. Suara Sydney yang seperti gema dari percakapanku
dengan Dimitri mendirikan bulu romaku – sebagian besar karena dia benar. Stasiun
tidak memiliki kubah berbentuk bawang tapi masih terlihat seperti keluar dari buku
dongeng, seperti persilangan antara kastil Cinderella dan rumah kue. Stasiun ini
memiliki atap yang berbentuk lengkungan dan menara-menara di salah satu
ujungnya. dindingnya yang putih diselingin dengan batu bata cokelat dan mozaik
hijau, hampir membuatnya terlihat berbelang. Di Amerika, beberapa orang mungkin
menganggapnya norak. Bagiku, ini begitu indah.

Aku merasa air mataku bergulir di mataku saat aku membayangkan apa yang
mungkin Dimitri akan katakan tentang bangunan ini. Dia mungkin akan menggilai
bangunan ini sama seperti ia menggilai semua hal lain disini. Sadar kalau Sydney
sedang menunggu sebuah respon, aku menelan kembali rasa dukaku dan
memainkan peran remaja yang cuek.
“Mungkin sesuatu dari sebuah cerita tentang sebuah stasiun kereta.”

Dia melengkungkang alisnya, terkejut dengan keacuhanku, tapi dia tidak


mempertanyakannya. Siapa yang bisa bicara? Mungkin jika aku tetap bertingkah
sarkastik, dia akhirnya marah dan meninggalkanku. Entahlah, kadang aku ragu
kalau aku bisa beruntung. Aku bahkan hampir yakin kalau ketakutannya terhadap
duestinae89.blogspot.com
penguasanya menguasai perasaan yang lain, sehingga dia mungkin harus
menghormatiku
Kami mendapatkan akomodasi kereta kelas satu, yang mana ternyata lebih kecil
daripada yang aku harapkan. Ada kombinas tempat tidur-tempat duduk di setiap
sisinya, sebuah jendela, dan sebuah TV yang menempel di dinding. aku berharap itu
bisa menolong untuk melalui waktu, tapi aku seringkali mendapatkan masalah
menonton televisi Rusia – Tidak hanya karena bahasanya tapi juga karena beberapa
acara yang sungguh aneh. Masih, Sydney dan aku akan medapatkan area kami
masing-masing, bahkan jika ruangannya lebih nyaman daripada yang kami inginkan.

Warnanya mengingatkanku tentang pola mewah yang sama yang pernah kulihat
disepanjang kota. Meski ruangan di luar kabin kami berwarna cerah dan karpet
merah dan kuning dan sebuah sulur kuning dan nyata melilit di tengah-tengahnya.
Di dalam ruangan kami, bangkunya ditutupi oleh bantal beludru kecil berwarna
jingga. Dan tirainya serasi dengan warna emas dan peach membuat cetakan timbul
di tenagh-tengah kain dengan pola sutera. Berada diantara semua itu dan hiasan
meja di tengah-tengah kabin, semuanya hampir terlihat seperti berwisata di dalam
istana berukuran mini.

Hari sudah gelap ketika kereta meninggalkan stasiun. Untuk alasn apapun, kereta
Lintas-Siberia selalu meninggalkan Moskow pada malam hari. Belum terlalu malam,
tapi Sydney berkata kalau dia ingin tidur, dan aku tidak ingin membuatnya semakin
kesal daripada sekarang. Jadi kami mematikan semua lampu dan membiarkan
lampu baca kecil tetap menyala di sebelah tempat tidurku. Aku membeli majalah di
stasiun kereta tadi dan bahkan jika aku tidak mengerti bahasa majalah itu, gambar
kosmetik dan pakaian-pakaiannya menghilangkan semua rintangan. Aku
membalikkan halaman-halamannya sepelan yang aku bisa, mengagumi atasan
musim panas dan gaun-gaun dan membayangakan kapan – jika pernah – aku bisa
mulai mengkhawatirkan hal-hal seperti itu lagi. Aku tidak lelah ketika aku berbaring
meskipun begitu, toh aku tertidur juga.

Aku sedang bermimpi tentang ski air ketika tiba-tiba gelombang dan matahari
disekelilingku memudar dan berganti dengan ruangan yang dipenuhi rak demi rak
buku yang berjajar. Meja dengan komputer berbaris di ruangan dan disini ada rasa
tenang yang merayapiku. Aku ada di perpustakaan di Akademi Vladimir.

Aku mengerang. “Oh, ayolah. Tidak hari ini.”

“Kenapa tidak hari ini? Kenapa tidak setiap hari?”

Aku berbalik dan menemukan diriku sendiri sedang menatap wajah tampan milik
Adrian Ivashkov. Adrian adalah seorang Moroi, keponakan kesayangan sang ratu,
dan seseorang yang aku tinggalkan dalam kehidupanku dulu ketika aku kabur dalam
misi bunuh diri ini. Dia memiliki mata hijau-jamrud yang indah yang bisa membuat
sebagian besar gadis jatuh pingsan, khususnya sejak mata itu dipasangkan dengan
rambutcokelat bergaya urakan. Dia jatuh cinta padaku dan itulah alasan mengapa
aku punya banyak uang dalam perjalanan ini. Aku berbicara sangat manis ketika
meminta kepadanya.
duestinae89.blogspot.com
“Benar,” aku mengakui. “Maksudku aku harusnya bersyukur kau hanya muncul
sekali seminggu.”

Dia menyeringai dan duduk dengan kursi yang dihadapkan terbalik. Dia tinggi,
seperti Moroi kebanyakan, dengan bentuk tubuh yang ramping dan berotot. Cowok
Moroi tidak pernah terlalu gendut. “Tidak bertemu membuat cinta semakin
berkembang di hati, Rose. apa kau tindak ingin memelukku untuk
membuktikannya.”

“Kita tidak meakukan hal yang berbahaya seperti itu, jangan khawatir.”

“Aku tidak bisa berharap kalau kau akan mengatakan dimana kau sekarang kan?”

“Tidak akan.”
Selain Lissa, Adrian adalah satu-satunya pengendali sihir roh yang diketahui
keberadaannya dan diantara bakatnya adalah muncul dalam mimpiku – seringkali
tidak diundang – dan berbicara padaku. kekuatannya tidak pernah benar-benar bisa
membiarkannya tahu dimana aku berada sekarang, dan aku menganggapnya sebagai
berkah.

“Kau membunuhku, Rose,” katanya mendramatisasi. “Setiap hari sangat


menyakitkan tanpa dirimu. Kosong. sendirian. Aku memikirkanmu, membayagkan
apakah kau masih hidup.”
Dia membesar-besarkan kata-katanya, konyol adalah salah satu sifatnya. Adrian
jarang sekali menanggapi sesuatu dengan serius dan selalu memiliki sikap cuek. Roh
juga memiliki kecenderungan untuk membuat pemiliknya tidak stabil dan selama ia
melawannya, ia tidak akan terpengaruh. Di bawah melodrama itu, kurasa aku
merasakan setitik kebenaran dari kata-katanya. Tidak peduli seberapa dangkal
tampilan yang ia tunjukkan, dia benar-benar peduli padaku.

Aku menyilangkan tanganku. “Baiklah, aku masih hidup, jelas. Jadi kurasa kau bisa
membiarkanku tidur.”

“Berapakali harus kukatakan padamu? Kau sedang tidur.”

“Dan belum-belum aku sudah merasa capek bericara padamu.”

Itu membuatnya tertawa. “Oh, aku benar-benar merindukanmu.” Senyumnya


mengabur. “Dia juga merindukanmu.”

aku berjengit. Dia. Dia bahkan tidak perlu mengatakannya namanya. Tidak ada
pertanyaan tentang siapa yang ia maksudkan. Lissa.

Bahkan menyebutkan namanya dalam pikiranku menyakitiku, khususnya setelah


melihatnya malam lalu. Memilih diantara Lissa dan Dimitri adalah pilihan terberat
dalam hidupku, dan waktu-waktu yang telah kulalui tidak mempermudah semua itu.
Aku mungkin memilih Dimitri, tapi berada jauh dari Lissa terasa seperti tanganku
terputus, apalagi karena koneksi kami memastikan kenyataan kalau kami tidak
benar-benar terpisah. Adrian memberiku tatapan cerdik seolah dia bisa menebak
pikiranku.
duestinae89.blogspot.com
“Apa kau menggunakan koneksi itu untuk melihatnya?”

“Tidak,” kataku, menolak mengakui kalau aku baru saja menemuinya malam
kemarin. Biarkan Adrian berpikir kalau aku telah bebas dari semua itu. “Itu bukan
hidupku lagi. “

“Benar. Hidupmu berkisar tentang misi-misi berbahaya yang harus dihapai dengan
siap siaga.”

“Kau tidak akan mengerti apapun selain mabuk, merokok,, atau bermain
perempuan.”

Dia menggelengkan kepalanya. “Kau satu-satunya yang aku inginkan, Rose.”

Sayangnya, aku mempercayainya. sangat mudah bagi kami untuk mendapatkan


orang lain. “Baiklah, kau bisa tetap menjaga perasaan itu, tapi kau harus menunggu.”

“Berapa lama?”

Dia menanyaiku hal ini terus-terusan, dan setiap kali aku menegaskan berapa lama
semua ini akan berlangsung dan bagaimana dia telah membuang waktunya.
memikirkan kemungkinan kepemimpinan Sydney, aku ragu-ragu malam ini.

“Aku tidak tahu.”

Harapan mekar di wajah Adrian. “Itu adalah hal yang paling optimis yang pernah
kau katakan padaku sejauh ini.”

“Jangan terlalu banyak berharap dari semua ini. Aku tidak tahu, mungkin bisa satu
hari atau satu tahu. Atau tidak pernah.”

Seringaian jahatnya kembali muncul dan bahkan aku harus mengakui dia terlihat
tampan. “Aku akan berharap kalau hanya membutuhkan satu hari.”

Memikirkan Sydney membawa sebuah pertanyaan dalam pikiranku, “ Hey, apa kau
pernah dengan tentang para Alkemis?”

“Tentu,” katanya

Tipikal. “Tentu kau tahu”

“Kenapa? Apa kau berlari ke tempat mereka?”

“Sejenis itu.”

“Apa yang sudah kau lakukan?”

“Kenapa kau berpikir kalau aku telah melakukan sesuatu?”


duestinae89.blogspot.com
Dia tertawa. “Alkemis hanya muncul ketika masalah terjadi, dan kau membawa
masalah kemanapun kau pergi. Berhati-hatilah. Mereka fanatik agama.”

“Terdengar ekstrim,” kataku. Kesetiaan Sydney tidak terlihat menunjukkan sesuatu


yang buruk.

“Hanya saja jangan biarkan mereka membuatmu mengikuti kepercayaan mereka.”


Dia mengedip. “Aku suka melihatmu penuh dosa seperti biasa.”
Aku mulai menceritakan Sydney yang mungkin berpikir kalau aku melewati ambang
keselamatan, tapi ia mengakhiri mimpi ini dan mengirimku kembali tidur.

Kecuali, bukannya melanjutkan mimpiku sendiri, aku terbangun. Disekitarku, kereta


berdengung indah serasi dengan kecepatan kami melewati pinggiran kota Rusia.
Lampu bacaku masih hidup, cahayanya terlalu terang untuk matakku yang
mengantuk. Aku meraihnya dan mematikkanya kemudian aku menyadari kalau
tempat tidur Sydney kosong. Mungkin di kamar mandi, pikirku. Namun aku merasa
gelisah. Dia dan kelompok Alkemisnya masih merupakan misteri dan tiba-tiba aku
merasa khawatir kalau dia mungkin punya rencana jahat yang sedang berlangsung.
Apakah dia sedang melakukan pertemuan dengan penghubungnya? Aku
memutuskan untuk menemukannya.

Sejujurnya, aku sama sekali tidak tahu dimana bisa menemukannya di sebuah kereta
sebesar ini, tapi logika tidak pernah menghalangiku sebelumnya. Tidak ada alasan
bagi logika-logika itu untuk muncul sekarang. Syukurlah, setelah menyelipkan kaki-
kakiku di sepatuku dan melangkah keluar koridor yang berhadapan dengan kabin
kami, aku menemukan kalau aku tidak perlu terlalu jauh mencari.

Sepanjang koridor berbaris jendela-jendela, semuanya terbungkus dengan tirai


mewah dan Sydney berderi dengan punggung menghadap ke arahku, menatap
ksosong keluar jendela, sebuah selimut menyelimutinya. Rambutnya berantakan
karena tidur tadi dan terlihat kurang bercaya di penerangan yang tidak terlalu bagus.

“Heu ... “ Aku memulai ragu-ragu. “Apa kau baik-baik saja?”

Dia perlahan membalik badannya ke arahku. Satu tangan memegang selimut; tangan
yang satunya sedang bermain dengan sebuah salib yang tergantung di lehernya. Aku
mengingt komentar Adrian tentang agama.

“”Aku tidak bisa tidur,” katanya terus terang.

“Apakah ... apakah itu karena aku?” Ia memutar badannya ke arah jendela sebagai
satu-satunya jawabannya.

“Dengar,” kataku, merasa tidak berdaya. “Jika ada sesuatu yang bisa kulakukan ...
maksudku selain kembali dan membatalkan perjalanan ini ...”

“Aku bisa mengatasinya,” katanya. “Semua ini hanya begitu asing buatku. Aku
berurusan dengan jenis kalian sepanjang waktu, tapi aku tidak benar-benar punya
urusan denganmu, kau tahu?”
duestinae89.blogspot.com
“Kita mungkin bisa mendapatkan sebuah kamar untukmu sendiri, jika itu bisa
menolong. Kita bisa menemukan seorang pelayan dan aku punya uang.”

Dia menggelengkan kepalanya. “Kita hanya perlu anya beberapa hari, jadi itu semua
tidak perlu.”

Aku tidak tahu apalagi yang harus kukatakan. Memiliki teman seperjalanan seperti
Sydney adalah gangguan terbesar dia skema rancangan rencanaku, tapi aku tidak
ingin melihanya menderita. Melihatnya memainkan salib itu, aku mencoba berpikir
mengenai sesuatu yang bisa kuucapkan untuk menenangkan hatinya.
Menghubungkan cara pandang kami mengenai Tuhan mungkin adalah sebuah cara
untuk bisa mendekatkan kami, tapi terkadang, aku merasa jika aku mengatakan
kepadanya bagaimana setiap hari aku berdebat dengan Tuhan dan meragukah
keberadaan-Nya bisa menolong menghapus imej ku sebagai makhluk setan – dari
reputasi kegelapan.

“Ok,” kataku akhirnya. “Katakan padaku jika kau berubah pikiran.” Aku kembali ke
tempat tidurku dan yang mengherankan, bukannya mengkhawatirkan Sydney yang
berdiri di ruang tengah semalaman, aku malah jatuh tertidur dengan cepatnya.
Namun, ketika aku terbangun di pagi hari, dia telah bergulung di tempat tidurnya,
sangat nyenyak. Sepertinyanya, rasa lelahnya yang membuatnya tertidur lebih kuat
daripada rasa takutnya padaku. Aku bangun perlahan dan mengganti kaos dan
celana pendekku yang kutinggalkan di atas tempat tidur. Aku lapar dan menduga
kalau Sydney akan lebih lama tidur jika aku tidak berkeliaran di sekelilingnya.

Restorannya berada di gerbong sebelah dan terlihat seperti sesuatu yang berasal dan
film tua. Taplak meja berwarna burgundy elegan menutupi meja-meja, dan kuningan
dalam kayu berwarna gelap, disertai sedikit warna cerah berupa mozaik dari seni
gravir kaca, memberikan perasaan antik diseluruh ruangan ini. Semua ini terlihat
lebih mirip dengan restoran yang kutemukan di salah satu jalan di Saint Petersburg
daripada gerbong makan kereta. Aku memesan sesuatu yang samar-samar
mengingatkanku pada roti prancis, kecuali karena yang ini ada keju di dalamnya.
Ada sosis dalam makanan ini, yang sebenarnya selalu kutemukan selama ini
kemanapun aku pergi. Aku hampir selesai makan ketika Sydney berjalan masuk.
Ketika aku bertemu dengannya pertama kali, aku berpikir kalau blus dan celananya
adalah kostumnya untuk ke Nightingale saja. Aku akhirnya menemukan kalau
ternyata itu memang gaya sehari-harinya. Dia membuatku menjadi satu dari orang-
oraang yang tidak memiliki jeans dan kaos sendiri. Dia terlihat kusut ketika berdiri
di lorong malam tadi, tapi sekarang dia mengenakan celana panjang hitam rapi dan
sweater berwarna hijau gelap. Aku mengenakan kemeja abu-abu lengan panjang
musim panas dan merasa seperti orang bodoh disampingnya. Rambutnya tersisir
rapi dan gaya tapi sedikit terlihat berantakan yang kuduga tidak dapat ditanggulangi
seberapa keras pun ia mencoba. Setidaknya aku memiliki rambut yang ku ikat kuda
yang licin untukku hari ini.

Di duduk di seberangku dan memesan telur dada ketika pelayan lewat dengan
bahasa Rusia.

“Bagaimana kau bisa melakukannya?” tanyaku.


duestinae89.blogspot.com
“Apa, Rusia?” Dia mengangkat bahu. “Aku harus mempelajarinya. Dan beberapa
bahasa lain.”

“Wow.” Aku juga mengambil beberapa bahasa asing di kelas tambahan dan berujung
pada kekacauan pada setiap pelajaran itu. Aku tidak pernah terlalu memikirkannya
saat itu, tapi sekarang, karena perjalanan ini dan karena Dimitri, aku sungguh
berharap aku bisa belajar bahasa Rusia. Kurasa belum terlambat dan aku harus
belajar beberapa frasa selama aku disini, tapi tetap ... itu adalah tugas yang
menakutkan.

“Kau pastinya harus belajar banyak hal untuk pekerjaan ini,” aku merenung,
memikirkan apa artinya menjadi bagian dari kelompok rahasia yang melintang
secara internasional dan berinterakasi dengan beberapa negara. Sesuatu yang lain
melintas di pikiranku. “Dan bagaimana dengan barang-barang yang kau gunakan
pada Strigoi? Yang bisa menghancurkan tubuh mereka?”

Dia tersenyum. Hampir. “Sebenarnya, aku sudah mengatakan padamu kalau para
Alkemis memulai kelompok dari sekumpula manusia yang mencoba membuat racun,
kan? Itu adalah bahan kimia yang kami temukan untuk menyingkirkan tubuh Strigoi
dengan cepat.”

“Bisakah ini digunakan untuk membunuh Strigoi?” tanyaku. Menyiram Strigoi


dengan cairan penghancur akan lebih mudah daripada cara biasa: memenggal
kepala, mnghujam jantung mereka, atau membakar.

“Kurasa tidak. Hanya bekerja pada mayatnya saja.”

“Sial,” kataku. Aku berandai-andai jika dia memiliki racun itu di pergelangan
tangannya tapi aku memutuskan kalau jumlah perttanyaanku pada Sydney sudah
cukup unutk hari ini. “Apa yang akan kita lakukan setelah kita sampai di Omsh?”

“Omsk,” dia mengoreksi. “Kita akan mendapatkan sebuah mobil dan menyetri
sepanjang sisa perjalanan.”

“Apa kau pernah kesana? Ke desa itu?”

Dia mengangguk. “Sekali.”

“Seperti apa kelihatnnya?” tanyaku, terkejut mendengar nada sayu yang keluar dari
suaraku sendiri.

Mengesampingkan pencarianku untuk menemukan Dimitri, ada sebuah bagian dari


dalam diriku hanya ingin lebih dekat dengan segala sesuatu tentangnya. Aku ingin
tahu semua hal tentang dirinya yang belum aku ketahui sebelumnya. Jika sekolah
memberikanku izin untuk menyentuh barang miliknya, aku akan tidur dengan
mereka setiap malam. Kamarnya dibersihkan dengan sangat cepat. Sekarang aku
hanya bisa mengumpulkan bagian-bagian dirinya, meskipun harus menimbun
informasi sedikit demi sedikit yang entah bagaiman bisa membuatku merasakan
keberadannya.
duestinae89.blogspot.com
“Terlihat seperti kota dhampir yang lain, kurasa.”

“Aku tidak pernah mengunjungi satupun dari kota-kota itu.”

Pelayan meletakkan telur dadar Sdney di mejanya dan dia berhenti sejenak dengan
garpunya yang mengambang di udara.
“Benarkah? Kupikir kalian semua .... sebenarnya, aku tidak tahu.”

Aku mengangguk. “Aku berada di akademi hampir di sepanjang hidupku. Banyak


atau sedikit.” Pelarian dua tahunku di dunia manusia tidak termasuk hitungan.

Sydney menguyah perlahan. Aku dengan senang hati bertaruh ia tidak akan bisa
menghabiskan telur dadar itu. Dari apa yang aku lihat di malam pertama dan ketika
kami menunggu kereta kemarin, dia hampir tidak terlihat makan apapun. Seolah dia
bertahan hidup dari udara saja. Mungkin ini hal-hal yang berkaitan dengan Alkemis.
Sepertinya lebih banyak karena itu hal yang berkaitan dengan Sydney.

“Kota itu dipenuhi oleh separuh manusia dan separuh dhampir, tapi para dhampir
membaur. Mereka memiliki kelompok bawah tanah yang ptidak disadari oleh para
manusia.”

Aku selalu membayangkan bagaimana seluruh cabang kebudayaan berjalan, tapi aku
tidak tahu bagaimana hal tersebut bisa cocok dengan kodisi kota.

“Dan?” tanyaku. “Seperti apa cabang kebudayaannya?”

Dia meletkkan garpunya. “Bisa dikatakan kau lebih baik mengokohkan dirimu
sendiri.”
duestinae89.blogspot.com

Lima
SISA PERJALANAN dilalui tanpa ada kejadian berarti. Sydney sama sekali tidak
pernah kehilangan rasa ketidaknyamanan yang ia perlihatkan ketika berada di
sekitarku, tapi terkadang, saat aku mencoba memahami televisi Rusia, dia
meluangkan waktu untuk menjelaskan padaku apa yang sedang disiarkan. Ada
beberapa perbedaan budaya antara pertunjukkan ini dengan acara yang biasa kami
berdua kenal selama ini, jadi kami punya kesamaan dalam hal ini. Sesekali, dia
memperlihatkan senyuman untuk sesuatu yang kami rasa lucu, dan aku merasakan
ada seseorang dalam diri Sydney yang mungkin bisa menjadi sangat ramah untuk
dijadikan sebagai teman. Aku tahu tidak mungkin aku bisa mencari pengganti Lissa,
tapi kupikir beberapa bagian dalam diriku masih terisi kekosongan dalam hubungan
persahabatan yang terbuka ketika aku meninggalkan Lissa.

Sydney tidur siang sepanjang hari, dan aku mulai berpikir kalau dia hanya
mengalami insomnia dengan pola tidur yang ajaib. Dia juga masih melakukan
perlakuan aneh terhadap hidangan, yang berat hati menyentuh makanannya sendiri.
Dia selalu membiarkanku mengambil makanannya yang selalu lebih baginya dan
sedikit petualangan dengan hidangan Rusia. Aku harus melakukan percobaan saat
aku pertama kali datang kesini dan rasanya menyenangkan memiliki panduan dari
seseorang yang - meskipun bukan orang lokal daerah ini - tahu lebih banyak
mengenai negara ini lebih dari aku.

Pada hari ketiga dalam perjalanan kami, kami sampai di Omsk. Omsk adalah kota
yang lebih besar dan indah daripada yang aku bayangkan selama ini tentang Siberia.
Dimitri selalu menggodaku yang membayangkan Siberia seperti Antartika, ia
mengatakan kalau semua itu salah dan aku bisa bilang sekarang kalau ia benar -
paling tidak itu yang terlihat sejauh ini pada bagian selatan dari daerah ini. Cuacanya
tidak terlalu berbeda dengan cuaca yang pernah kurasakan di Montana baru-baru
ini, udara musim semi yang sejuk kadang-kadang dihangatkan oleh matahari.

Sydney mengatakan padaku ketika kami sampai disana, dia telah mendapatkan
tumpangan dari Moroi yang ia kenal. beberapa tinggal di kota, berbaur dengan
populasi yang padat. Namun sebelum hari dimulai, kami menemukan sebuah
masalah. Tidak ada Moroi yang mau mengantar kami ke desa. Rupanya, jalannya
berbahaya. Strigoi sering berkeliaran di sekitar daerah itu ketika malam, berharap
menangkap Moroi atau dhampir. Semakin banyak Sydeny menjelaskan semua ini,
semakin aku khawatir terhadap rencanaku. Sepertinya, tidak terlalu banyak Strigoi
di kampung halaman Dimitri. Menurut Sydney, mereka bersembunyi di pinggirang
batas kota, tapi beberapa tinggal disana secara permanen. Jika itu yang terjadi
sebenarnya, harapanku untuk menemukan Dimitri hancur sudah. Semuanya
berubah semakin buruk seiring penjelasan Sydney mengalir menjelaskan situasi.

“Banyak sekali Strigoi yang melakukan perjalanan di kota untuk mencari mangsa,
dan desa hanyalah tempat mereka singgah sementara saja,” jelas Sydney. “Jalannya
terpencil, jadi beberapa Strigoi akan tinggal sebentar dan mencoba untuk
mendapatkan mangsa yang mudah. Kemudian mereka pindah.”
duestinae89.blogspot.com
“Di Amerika, Strigoi seringkali bersembunyi di kota-kota besar,” kataku gelisah.
“Mereka melakukan hal itu juga disini. Akan sangat mudah bagi mereka untuk
mendapatkan korban tanpa diketahui.”

Ya, semua ini jelas merenggut semua rencanaku. Jika Dimitri tidak tinggal di kota
ini, aku akan mendapatkan masalah serius. Aku tahu Strigoi suka kota besar, tapi
entah mengapa, sebelumnya aku sangat yakin kalau Dimitri akan kembali ke tempat
dimana ia dulu tumbuh.

Tapi jika Dimitri tidak ada disini ... tiba-tiba, besarnya daerah Siberia seolah
menamparku. Aku sudah mempelajari Omsk bahkan bukanlah kota terbesar di
daerah ini dan bahkan menemukan satu Strigoi pun disini pastilah sangat susah.
mencarinya di beberapa kota yang lebih besar? Semuanya akan menjadi sangat,
sangat jelek jika firasatku selama ini ternyata salah.

Sejak bersikukuh untuk menemukan Dimitri, aku jarang memiliki saat-saat lemah
dimana aku memiliki separuh keyakinan kalau aku tidak akan pernah
menemukannya. Kenyataan kalau Dimitri adalah Strigoi masih saja menyiksaku.
Aku juga masih dikunjungi oleh bayangan lain ... bayangan bagaimana rupa ia dulu
dan kenangan dari waktu yang pernah kami habiskan bersama.

Kurasa ingatan yang berharga dan terbaikku adalah saat-saat sebelum ia berubah
menjadi Strigoi. Kenangan itu merupakan satu dari saat-saat ketika aku menghisap
efek jahat dari sihir roh dari Lissa. Aku menjadi lepas kendali, tidak mampu
mendapatkan genggaman. Aku sangat takut menjadi seorang monster, takut kalau
aku bisa membunuh diriku sendiri seperti apa yang terjadi dengan pengawal lain
yang juga dicium-bayangan.

Dimitri berhasil membuatku sadar kembali, meminjamkanku kekuatannya. Aku


menyadari kemudian betapa kuatnya hubungan kami, bagaimana kami bisa saling
mengerti satu sama lain dengan sempurna. Aku pernah skeptis terhadap orang-
orang yang menjadi belahan jiwa pada masa lalu, tapi pada saat itu, aku baru
menyadari kalau itu benar. Dan dari datangnya hubungan emosi, datanglah
hubungan fisik. Dimitri dan aku akhirnya menyerah pada ketertarikan kami satu
sama lain. Kami telah bersumpah kalau kami tidak akan pernah melakukannya, tapi
... perasaan kami terlalu kuat. Menjauhkan diri satu sama lain berubah menjadi
sesuatu yang tidak mungkin. Kami telah bercinta dan itu adalah pengalaman
pertamaku. Terkadang aku merasa yakin kalau hal itu adalah kali terakhir aku
melakukannya juga.

Apa yang kami lakukan terasa luar biasa dan aku tidak mampu memisahkan antara
kesenangan fisik dan kesenangan emosional. Setelah itu, kami berbaring di kabin
kecil selama kami memberanikan diri melakukannya, dan semua itu juga
mengagumkan. Saat itu merupakan satu dari beberapa kenangan dimana aku
merasa benar-benar memilikinya.

“Apa kau ingat sihir gairah milik Viktor?” tanyaku, meringkuk mendekati dirinya.

Dimitri menatapku, seolah aku sudah gila. “Tentu saja.”


duestinae89.blogspot.com
Victor Dashkov adalah seorang Moroi bangsawan yang sudah menadi sahabat bagi
Lissa dan keluargannya. Sedikit yang kami tahu kalau dia diam-diam mempelajari
roh selama bertahun-tahin dan telah mengidentifikasi Lissa sebagai pengguna roh
bahkan sebelum Lissa sendiri mengetahuinya. Dia menyiksa Lissa dengan semua
permainan pikiran yang hampir membuat Lissa merasa sudah gila. Rencananya
sepenuhnya memuncak saat ia menculik Lissa dan menyiksanya hingga Lissa
mengobati penyakit yang akan membunuhnya.

Victor sekarang berada di penjara seumur hidup, baik untuk apa yang sudah ia
lakukan terhadap Lissa maupun karena rencana pengkhianatan untuk melakukan
pemberontakan terhadap pemerintahan Moroi. Dia adalah satu dari beberapa orang
yang mengetahui hubunganku dengan Dimitri, sesuatu yang membuatku khawatir
hingga detik ini. Dia bahkan memanfaatkan hubungan kami dengan membuat sihir
hasrta – sebuah kalung yang di dalamnya dimasukkan sihir bumi dan kompulsi.
Sihir itu penuh dengan kekuatan yang berbahaya yang membuatku Dimitri dan aku
menyerah pada insting terdasar kami. Kami berhasil menarik diri pada detik-detik
terakhir, dan hingga di malam kami berada di kabin, aku percaya kalau ketertarikan
kami bergabung maka akan membentuk ketertarikan fisik yang tinggi pada akhirnya.

“Aku tidak pernah sadar kalau semua ini berubah menjadi lebih baik,” aku
mengatakannya setelah kami benar-benar tidur bersama. Aku merasa sedikit malu
membicarakan hal ini. “Aku telah memikirkan semua ini sepanjang waktu ... apa
yang terjadi diantara kita.”

Dia berpaling ke arahku, menarikku untuk menutupi tubuhnya . Kabin terasa dingin,
tapi ranjangnya memiliki selimut yang hangat. Kurasa kami bisa memasang pakaian
kami, tapi itu adalah hal terakhir yang ingin kulakukan. Kulit yang saling
bersentuhan terasa begitu menyenangkan.

“Aku juga melakukannya.”


“Kau juga?” tanyaku kaget. “Kupikir .... aku tidak tahu. Kupikir kau sangat disiplin
untuk hal itu. Kupikir kau mencoba untuk melupakannya.” Dimitri tertawa
kemudian mencium leherku.

“Rose, bagaimana bisa aku melupakan saat telanjang bersama seseorang secantik
dirimu? Aku terjaga selama beberapa malam, mengulang setiap detilnya. Kukatakan
pada diriku sendiri kalau semua itu salah, tapi kau begitu tidak mungkin untuk
dilupakan.” Bibirnya bergerak di tulang selangkaku dan tangannya mengusap
pinggulku. “kau terpatri dalam pikiranku selamanya. Tidak ada apapun, apapun di
dunia ini yang bisa mengubahnya.”

Dan kenangan seperti itulah yang membuatku sulit untuk memahami pencarian ini
yang mengharuskan ku untuk membunuhnya, meskipun dia adalah Strigoi. Toh,
saat yang sama, justru karena hal itulah aku harus menghancurkan dirinya. Aku
harus mengingatnya sebagai seorang pria yang mencintaiku dan merengkuhku di
ranjang yang hangat. Aku harus ingat kalau pria itu tidak ingin berubah menjadi
seorang monster.

Aku terlalu senang ketika Sydney menunjukkan mobil yang baru ia beli, khususnya
karena aku yang memberikan uang untuk membeli mobil itu.
duestinae89.blogspot.com
“Kita akan pergi dengan benda itu?” aku berseru. “Apa benda itu bisa bergerak?”
Perjalanan ini akan memakan waktu 7 jam.

Dia memberiku tatapan terkejut. “Apa kau serius? Apa kau tahu mobil apa ini? Ini
Citroën 1972. Mobil ini luar biasa. Apa kau tidak mengerti betapa sulitnya
mendapatkan benda ini kembali ke kota ini di zaman Soviet? Aku tidak percaya pria
itu menjualnya. Dia tidak mengerti apapun.”

Aku tahu sedikit tentang zaman Soviet dan lebih sedikit tentang mobil klasik, tapi
Sydney menarik tudung merah mengkilapnya seolah dia sedang jatuh cinta. Siapa
yang menyangka? Dia adalah penggila mobil yang aneh. Mungkin benda ini berharga
hanya saja aku yang tidak bisa menghargainya. Aku lebih cenderung kepada mobil
sport keluaran terbaru yang mulus. Supaya adil, mobil ini tidak ada penyok atau
karatan, mengesampingkan tampilannya yang kuno, mobil ini terlihat bersih dan
terawat.

Jika mungkin, ekspresinya menjadi lebih tidak percaya. “tentu!”

Dan memang seperti itu. Mesin hidup dengan dengung yang mantap dan dengan
cepat, aku mulai mengerti dengan daya tarik mobil ini bagi Sydney. Dia ingin
mengemudia dan aku mendebatnya kalau uang ku lah yang dipakai untuk membeli
mobil ini. Melihat ekspresi memelas dari wajahnya, akhirnya aku memutuskan
untuk tidak berdiri diantara dia dan mobil itu.

Aku senang kami segera berangkat. Hari sudah hampir senja. Jika jalan memang
berbahaya seperti yang dikatakan orang-orang, kami tidak ingin berada disini ketika
gelap. Sydney setuju tapi dia mengatakan kalau kami akan melalui sebagian besar
perjalanan sebelum matahari terbenam dan kemudian menginap di tempat yang ia
kenal. Kami akan berangkat ketujuan kami di pagi hari. Semakin cepat kami
mendekati Omsk, semakin terpencil lahannya. Sepanjang aku mempelajarinya, aku
mulai mengerti mengapa Dimitri mencintai daerah ini. Tempat ini memiliki sebuah
dataran hijau kerdil, nyata, yang dibawa musim semi , dan ada sesuatu yang indah
sekaligus menyeramkan ketika melihat keliaran tak tersentuh dari tempat ini.
Tempat ini mengingatkanku pada Montana dalam beberapa hal yang memiliki
kualitas yang pasti yang hanya dimiliki oleh tempat ynag menakjubkan ini.

Aku tidak bisa berkata apa-apa selain akhirnya menggunakan ketertarikan Sydney
pada mobil sebagai bahan percakapan.

“Kau tahu banyak tentang mobil?” tanyaku.

“Sedikit,” katanya. “ayahku adalah seorang alkemis dalam keluarga kami, tapi ibuku
adalah seorang mekanik.”

“Benarkah?” tanyaku, terkejut. “Sepertinya ... tidak umum.” Tentu saja, aku adalah
orang yang dengan keras berbicara tentang aturang gender. berhubung hidupku
didedikasikan untuk berkelahi dan membunuh, aku tidak benar-benar bisa
mendapatkan pekerjaan wanita tradisional lain.
duestinae89.blogspot.com
“dia sangat pandai dan banyak mengajariku. Aku tidak keberatan melakukan hal itu
untukku hidup. Tidak keberatan juga pergi kuliah.” Ada sedikit nada pahit dalam
suaranya. “Kurasa ada banyak hal yang kuharap bisa aku lakukan.”

“Kenapa tidak?”

“Aku menjadi keturunan keluarga Alkemis berikutnya. Saudara perempuanku


...sebenarnya, dia lebih tu, dan biasanya anak tertua yang akan melakukan pekerjaan
itu. Tapi, dia sejenis ...tidak berguna.”

“Itu sangat kasar.”

“Ya, mungkin. Tapi dia tidak bisa menangani hal ini. Ketika mengatur koleksi lip
glossnya, dia tidak terhentikan. Tapi mengatur jaringan dan aksi orang-orang
didalamnya? Tidak, dia tidak akan mampu melakukannya. Ayah bilang aku adalah
satu-satunya yang mampu melakukan semua ini.”

“Paling tidak itu pujian.”

“Kurasa.” Sydney terlihat sangat sedih sekarang , membuat merasa bersalah dan
ingin menghiburnya.

“Jika kau bisa kuliah, apa yang ingin kau pelajari?”

“Arsitektur Yunani dan Roma.” Kuputuskan kemudian kalau berada di belakang


putaran kisah itu adalah hal baik, sebab mungkin aku akan mengemudikan mobil di
jalanan. “Benarkah?”

“Apa kau tahu tentang hal itu?”

“Um, tidak.”

“Sangat mengagumkan.” Ekspresi sedih digantikan oleh satu dari hasrat – dia
terlihat terpikat sama seperti ketika dia memuja mobil tadi. Aku mengerti mengapa
dia menyukai stasiun kereta.

“Kecerdikan ini diambil sebagian dari sana ...well, hanya saja tidak nyata. Jika para
Alkemis tidakmau mengirimku kembali ke Amerika setelah ini, aku berharap aku
bisa ditugaskan ke Yunani atau Italia.”

“Itu pasti keren.”

“Ya.” Senyumnya memudar. “Tapi tidak ada garansi kamu akan mendapatkan apa
yang kamu inginkan dalam pekerjaan ini.” Dia terpuruk dalam kesunyian setelah itu
dan kuputuskan untuk membujuknya ke dalam percakapan kecil sudah cukup.
Kutinggalkan ia dengan pikirannya sendiri tentang mobil klasik dan arsitektur ketika
pikiranku melayang ke dalam topikku sendiri. Strigoi. Kewajiban. Dimitri. Selalu
Dimitri ...
duestinae89.blogspot.com
Sebenarnya, Dimitri dan Lissa. Semua ini adalah undian yang selalu menambahkan
rasa sakitku. Hari ini, ketika mobil klasik ini menidurkanku ke dalam sebuah
kelinglungan, Lissa lah yang ingin kukunjungi, terima kasih banya kepada Adrian
yang sering mengunjungi mimpiku.

Malam di Rusia mearti pagi buta di Montana. tentu, apalagi sekolah menjalankan
jadwal malam, secara teknis matahari yang bersinar dianggap malam disana. Sudah
dekat jam tidur, dan setiap orang harus segera kembali ke asrama mereka masing-
masing.

Lissa bersama Adrian, berada di ruangan Adrian di rumah tamu. Adrian, seperti
Avery, sudah lulus, tapi sebagai satu-satunya pengguna sihir roh yang diketahui, dia
tinggal di sekolah dan bekerja bersama Lissa. Mereka menghabiskan malam yang
panjang dan melelahkan berkeja dalam sihir berjalan di dalam mimpi dan duduk
dilantai dengan saling berhadapan. Dengan menarik napas panjang, Lissa
tersungkur dan terbaring, menggarukkan tangannya ke kepalanya.

“Ini sia-sia,” dia mengerang. “Aku tidak akan pernah bisa mempelajarinya.”

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti, sepupu.” Suara Adrian sangat usil seperti
biasa, tapi bisa kukatakan kalau ia lelah juga. Mereka tidak ada keterkaitan keluarga
sebenarnya: ituhanyalah sapaan bagi keluarga bangsawan yang biasa mereka
gunakan.

“Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa melakukannya.”

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku hanya memikirkannya, dan ... well,
itu terjadi.” Ia menurunkan bahunya dan mengeluarkan rokok yang selalu ia bawa.
“Apa kau keberatan?”

“Ya,” jawab Lissa. Aku kaget saat Adrian menyimpan rokok itu kembali. Apa-apaan
ini? Dia tidak pernah bertanya padaku apakah aku keberataan atau tidak katika ia
ingin merokok- yang selalu membuatku keberatan. Kenyatannya, selama ini, aku
bersumpah dia melakukannya untuk membuatku kesal, yang sebenarnya tidak
berarti bagiku. Adrian sudah pernah melalui segala hal ketika cowok-cowok lain
mencoba untuk memikat gadis-gadis yang mereka suka dengan memilih mereka.

Dia mencoba menjelaskan prosesnya. “Aku hanya memikirkan siapa yang aku
inginkan dan mendadak ... aku tidak tahu. Membentangkan pikiranku menuju
mereka.”

Lissa duduk bersila. “Terdengar seperti bagaimana Rose menjelaskan cara ia


membaca pikiranku.”

“Mungkin prinsipnya sama. Dengar, kau perlu beberapa lama untuk mempelajari
aura. Hal ini juga tidak berbeda. Dan dirimu bukan satu-satunya orang yang belajar
dengan tertaih-tatih. Akulah yang akhirnya hanya belajar menyembuhkan guratan-
guratan kecil sedangkan kamu mengembalikan orang yang telah mati, yang mana –
anggap aku gila – sangat susah.” Dia berhenti sejenak. “Tentu saja, beberapa akan
mendebatku kalau aku sudah gila.”
duestinae89.blogspot.com
Mengartikan aura, Lissa belajar dari Adrian dan memanggil kemampuan untuk
melihat daerah yang bercahaya yang mengelilingi setiap benda yang bernyawa. Aura
Adrian terlihat sangat jelas, dikelilingi oleh cahaya emas. Menurut Adrian, aura Lissa
berwarna sama. Tidak ada Moroi lain yang memiliki warna emas murni seperti itu.
Lissa dan Adrian menyimpulkan kalau ini merupakan warna khusus untuk pengguna
roh.

Adrian tersenyum, menebak apa yang dilakukan Lissa. “Bagaimana kelihatannya?”

“Sama.”

“Lihat betapa hebat kau sekarang? Bersabarlah dalam hal mimpi.”

Lissa sangat menginginkan untuk bisa berjalan dalam mimpi seperti yang bisa
Adrian lakukan. Mengesampingkan kekecewaan Lissa, aku senang ia tidak dapat
melakukannya. Kunjungan Adrian dalam mimpiku sudah cukup berat untukku.
Melihat Lissa bisa membuatku ...well, aku tidak sepenuhnya yakin, tapi itu akan
mendinginkan suasana, perangai yang keras yang kucoba perbaiki di Rusia, sangat
keras.

“Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaannya,” kata Lissa dengan suara kecil. “Aku
tidak bisa terima dengan ketidaktahuan.” Ini adalah pembicaraan yang sama dengan
Christian.

“Aku melihatnya kemarin. Dia baik-baik saja. Dan aku akan melakukannya lagi
segera.”

Lissa mengangguk. “Apa menurutmu dia akan melakukannya? Apa kau rasa dia bisa
membunuh Dimitri?”

Adrian butuh waktu lama untuk menjawab. “Kurasa dia bisa. Pertanyaannya adalah
kalau Dimitri membunuhnya dalam proses itu.”

Lissa tersentak dan aku sedikit terkejut. Jawabannya tanpa basa-basi sama seperti
yang diberikan oleh Christian.

“Tuhan, aku selalu berharap ia tidak memutuskan untuk pergi mengejar Dimitri.”

“Berharap itu sia-sia sekarang. Rose harus melakukannya. Itulah satu-satunya cara
untuk mendapatkan ia kembali.” Dia berhenti sejenak. “ Itulah satu-satunya cara
agar dia bisa melupakan segalanya.”

Adrian terkadang mengejutkanku, tapi kali ini ia berhak mendapat hadiah. Lissa
berpikir kalau mengejar Dimitri adalah hal bodoh dan merupakan upaya bunuh diri.
Aku tahu Sydney juga akan setuju jika aku mengatakan sejujurnya tentang
perjalanan ini. Tapi Adrian ... konyol, dangkal, cowok pesta, mengerti? Mempelajari
dirinya melalui mata Lissa, aku sadar kalau Adrian memang mengerti. Dia tidak
menyukainya dan aku bisa mendengar nada terluka dari kata-katanya. Dia peduli
padaku. Aku memiliki perasaan yang kuat untuk orang lain yang menyebabkan
duestinae89.blogspot.com
dirinya terluka. Dan kemudian ... dia sungguh-sungguh percaya kalau aku telah
melakukan hal yang benar – satu-satunya hal yang bisa aku lakukan.
Lissa melihat jam dinding. “Aku harus pergi sebelum jam malam. Aku mungkin
harus belajar untuk tes sejarah juga.”

Adrian menyeringai. “Belajar itu berlebihan. Coba temukan seseorang yang pintar
dan contek saja jawabannya.”

Lissa berdiri. “Apa kau ingin mengatakan kalau aku tidak pintar?”

“Tentu tidak.” Adrian juga berdiri dan pergi untuk mengisi dirinya sendiri dengan
minuman dari bar yang ia simpan sendiri. Pengobatan sendiri adalah cara
menyimpang yang ia lakukan untuk menjaganya dari efek pengguna sihir roh, dan
jika dia telah menggunakan roh sepanjang malam, dia akan membutuhkan kebiasan
buruknya untuk mematikan rasa. “Kau adalah orang tercerdas yang pernah kukenal.
Tapi itu bukan berarti kau harus melakukan pekerjaan yang tidak penting.”

“Kau tidak bisa sukses dalam hidup jika tidak berusaha. Mencontek dari orang lain
tidak akan membawamu kemana-mana.”

“Terserahlah,” katanya menyeringai. “Aku selalu mencotek selama sekolah dan lihat
apa yang sudah aku lakukan sekarang.”

Dengan memutar mata, Lissa memberikannya pelukan perpisahan dengan cepat dan
kemudia pergi. Setelah dia keluar dari pandangan Adrian, senyum Lissa memudar.
Nyatanya, pikirnannya berubah menjadi gelap. Mengungkit masalah aku telah
membangkitkan perasaan dalam pikiran Lissa. Dia mengkhawatirkan aku – sangat
khawatir. Dia mengatakan pada Christian kalau dia merasa bersalah dengan apa
yang terjadi diantara kami berdua, tapi kekuatan itu tidak mengenaiku hingga
sekarang. Dia dipenuhi oleh rasa bersalah dan kebingungan, terus merutuki dirinya
sendiri atas apa yang telah dia lakukan. Dan di atas semua itu, dia merindukanku.
Dia memiliki perasaan yang sama denganku - seperti salah satu bagian dari dirinya
menghilang.

Adrian tinggal di lantai empat, dan Lissa lebih memilih berjalan lewat tangga
ketimbang naik lift. Sepanjang itu, seluruh pikirannya disapu oleh kekhawatiran.
Khawatir karena dia belum menguasai sihir roh sepenuhnya. Khawatir padaku.
Khawatir kalau dia sebenarnya masih belum bisa menghindari efek gelap dari
penguasaan roh yang membuatya berpikir jika akulah yang menyerap efek itu sama
seperti yang Anna lakukan. Dia hiduap berabad-abad lalu dan terikat dengan St.
Vladimir, pendiri sekolah. Anna menyerap efek jahat roh dari Vladimir - dan
menjadi gila.

Di lantai kedua, Lissa mendengar suara teriakan dari pintu yang memisahkan tangga
dan ruang tengah. Merasa kalau hal itu tidak ada hubungannya dengan dirinya, Lissa
ragu-ragu. Rasa penasaran memenuhi dirinya. Beberapa saat kemudian, diam-diam
dia mendorng pintu untuk membukanya dan melangkah masuk ke dalam ruang itu.
Suara itu berasal dari sekitar sudut ruangan. Dia hati-hati mengintip sekitarnya –
sebenarnya tidak ia inginkan. Dia mengenali suara itu.
duestinae89.blogspot.com
Avery Lazar berdiri di ruangan itu, tangannya di pinggang ketika ia menatap tajam
ayahnya. Ayahnya berdiri di depan pintu yang merupakan ruang tidurnya. Sikap
mereka kaku dan terlihat bermusuhan, dan api kemarahan berderak di antara
mereka.

“Aku ingin melakukan apa yang aku inginkan,” ia berteriak. “Aku bukan budakmu.”
“Kau putriku,” katanya denga suara tenang dan meremahkan. “Meskipun saat ini aku
berharap kau bukan anakku.”

Ouch. Baik Lissa maupun aku terkejut.

“Jadi mengapa kau membuatku tetap tinggal di liang neraka ini? Biarkan aku
kembali ke istana!”

“Dan semakin mempermalukanku? Kita baru saja keluar tanpa merusak reputasi
keluarga ini – sedikitnya. Tidak mungkin aku mau mengirimkanmu kesana sendirian
dan membiarkanmu melakukan segala hal yang cuma Tuhan yang tahu.”

“Kalau begitu kirim aku ke ibuku! Switzerland lebih baik dari pada tempat ini.”

Ada jeda di sana. “Ibumu ... sedang sibuk.”

“Oh, manis sekali,” kata Avery, suaranya berat dengan nada sarkasme di dalamnya.
“Itu adalah cara yang sopan untuk mengatakan kalau dia tidak menginginkanku. Aku
tidak kaget. Aku pernah mengganggunya dengan lelaki yang tidur dengannya.”

“Avery!” Suara ayahnya nyaring dan marah. Lissa tersentak dan melangkah mundur.

“Pembicaraan ini selesai. Kembali ke kamarmu dan sadarlah sebelum seseorang


melihatmu. Kuharap kau ada dalam jamuan makan pagi besok, dan kuharap kau bisa
sedikit lebih hormat. Kita memiliki beberapa tamu penting.”

“Ya, dan hanya Tuhan yang tahu kalau kita terus saja memalsukan penampilan.”

“Masuk ke kamarmu,” dia mengulang. “ Sebelum aku memanggil Simon dan


menyuruhnya untuk menyeretmu kesana.”

“Ya, Tuan,” kata Avery tersenyum simpul. “Segera, Tuan. Apapun yang kau katakan,
Tuan.”

Bersamaan dengan itu, ayah Avery membanting pintu. Lissa menyembunyikan


dirinya di sudut ruangan, masih tidak percaya dengan apa yang lelaki itu katakan
kepada anaknya sendiri. Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan disana.
Kemudian, Lissa mendengar suara langkah kaki- mendekatinya. Avery mendadak
berhenti di sudut ruangan dan berhenti tepat di depan Lissa, menatap kami untuk
pertama kalinya.

Avery sedang mengenakan gaun pendek ketat yang terbuat dari kain berwarna biru
yang bersinar keperakkan di terpa cahaya. Rambutnya tergantung panjang dan tidak
tertata dan air mata berceceran dai mata biru-abu-abunya yang menghancurkan
duestinae89.blogspot.com
riasan yang ia kenakan. Aroma alkohol tercium jelas dan keras. Dia tergesa-gesa
menyapukan tangannya ke matanya, jelas sekali kalau ia malu terlihat seperti ini.

“Well,” katanya datar. “Kurasa kau menikmati drama keluarga kami.”

“Lissa merasa bersalah tertangkap menguping pembicaraan mereka. “A – Aku minta


maaf. Aku tidak bermaksud menguping. Aku hanya lewat ...”

Avery tertawa kasar. “Sebenarnya, aku rasa itu bukan masalah. Semua orang di
ruangan ini mungkin mendengar pembicaraan kami.”

“Maafkan aku,” ulang Lissa.


“Tidak perlu. Kau tidak melakukan kesalahan apapun.”
“Tidak ... maksudku, aku ikut prihatin ketika dia ... kau tahu, mengatakan hal seperti
itu padamu.”
“Itu adalah bagian dari menjadi keluarga „baik‟. Setiap orang punya kerangkan di
lemari mereka.” Avery menyilangkan tangannya dan bersandar ke dinding.
meskipun sedang marah dan berantakkan, dia masih tetap kelihatan cantik. “Tuhan,
terkadang aku membenci ayahku. Bukan bermaksud menghina, tapi tempat ini
sangat membosankan. Aku menemukan beberapa kakak kelas pria untuk di ajak
jalan malam ini, tapi ... mereka juga sangat membosankan. Satu-satunya hal yang
bagus dari mereka adalah bir mereka.”

“Mengapa ... mengapa ayahmu membawamu kesini?” tanya Lissa. “Mengapa kau
tidak ... entahlah, pergi kuliah?”

Avery tertawa kasar. “Dia tidak cukup percaya padaku. Ketika kami berada di istana,
aku berhubungan dengan seorang cowok tampan yang bekerja di sana – jelas bukan
bangsawan, tentu saja. Ayah sangat marah dan takut orang-orang mengetahuinya.
Jadi, ketika ia mendapat pekerjaan disini, dia membawaku bersamanya agar bisa
terus mengawasiku – dan menyiksaku. Kupikir dia takut aku akan kabur bersama
manusia jika aku kuliah.” Dia mengehela nafas. “Aku bersumpah pada Tuhan, jika
Reed ada disini, aku pasti sudah langsung kabur.”

Lissa tidak berkata-kata dalam waktu yang lama. Dia memikirkan sikapnya selama
ini uyang terus menghindari sikap gigih Avery untuk dekat dengannya. Dengan
semua perintah sang ratu yang diberikan kepada Lissa akhir-akhir ini, apa yang
terjadi pada Avery adalah pemikiran yang bagus sebagai jalan satu-satunya bagi
Lissa untuk melawan balik dan menghentikan sang ratu yang terus mengontrol
dirinya. Tapi sekarang, dia berpikir jika dia salah mengenai Avery. Avery bukanlah
mata-mata dari Tatiana. Dia tidak terlihat seperti seseorang yang ingin membentuk
Lissa untuk menjadi bangsawan sempurna. Sebagian besar, Avery terlihat seperti
seorang gadis yang sedih dan terluka yang hidupnya berputar tak terarah. Seseorang
yang juga terus diperintah seperti dirinya.

Dengan nafas berat, Lissa buru-buru mengucapkan kalimatnya. “Apa kau ingin
makan siang bersamaku dan Christian besok? Tidak ada yang keberatan jika kau
mau datang saat jam makan siang kami. aku tidak bisa janji ini akan menjadi, um,
semenyenangkan yang kamu inginkan.”
duestinae89.blogspot.com
Avery tersenyum lagi, tapi kali ini, lebih terlihat seperti senyuman pahit. “Well,
rencanaku yang lain adalah mabuk sendirian di dalam kamarku.” Dia mengangkat
sebuah botol yang terlihat seperti whiskey dari dalam tas kecilnya. “Mencetak
beberapa barang sendiri.”

Lissa tidak begitu yakin dengan jawaban itu. “Jadi ... aku akan bertemu denganmu
saat makan siang?”

Sekarang Avery terlihat ragu. Tapi perlahan, harapan yang samar bersinar dan rasa
tertarik muncul di wajahnya. Konsntrasi, Lissa berusaha untuk melihat aura Avery.
Dia kesulitan untuk pertama kalinya, mungkin agak berkurang dari latihan bersama
Adrian tadi. Tapi ketika akhirnya mampu mendapatkan aura Avery, dia melihat
beragam warna: hijau, biru, dan emas. Tidak biasa. Sekarang lebih cenderung
berwarna merah, seperti yang sering terjadi kepada orang yang sedang marah. Tapi
tepat di hadapan mata Lissa, warna merah oitu memudar.

“Ya,” Avery berkata akhirnya. “Itu pasti menyenangkan.


“Kurasa hanya sejauh itu yang bisa kita lakukan hari ini.”

Di belahan dunia yang lain, suara Sydney mengeluarkanku dari pikiran Lissa. Aku
tidak tahu seberapa lama aku bermimpi siang hari ini, tapi Sydney sudah berganti
jalan dari jalan utama dan mengantar kami ke kota kecil yang benar-benar persis
seperti gambaran Siberia yang pernah aku bayangkan. Faktanya, „kota‟ sungguh
sangat berlebihan. Hanya ada beberapa rumah, sebuah toko, dan sebuah pom
bensin. Area ternak memanjang di sekitar bangunan dan aku melihat lebih banyak
kuda daripada mobil. Beberapa orang yang sedang menatap kami terlihatkagum.
Langit berubah berwarna jingga tua, dan matahari mulai merapat sedik demi sedikit
ddi horizon. Sydney benar. Hari mulai malam dan kami harus singgah.

“Kaita hanya beberapa jam saja lagi,” lanjutnya. “Waktu perjalanan kita sudah bagus
dan kita harus secepatnya berangkat pada saat pagi hari.” Dia menegmudikan mobil
menuju sebuah desa – yang mana hanya memakan waktu beberapa menit - dan
memarkir tepat di depan sebuah rumah putih sederhana dengan sebuah lumbung
gandum di sebelahnya. “Disini kita bermalam.”

Kami keluar dari mobil dan mendekati rumah. “Apa mereka temanmu?”

“Bukan. Aku tidak pernah mengenal mereka. Tapi mereka mengharapkan kita.”

Semakin banyak koneksi misterius dari para Alkemis. Pintu membuka


menampakkan seorang manusia yang berumur dua puluh tahunan yang
memperingatkan kami agar secepatnya masuk ke dalam. Dia hanya berbicara
beberapa kata dalam bahasa Inggris, tapi keahlian menerjemahkan Sydney
membawa kami masuk. Sydney lebih ramah dan menarik dari pada biasanya,
mungkin karena tuan rumah ini bukan keturunan vampir ganas. Kau tidak akan
berpikir kalau menumpang di sebuah mobil sepanjang hari akan sangat melelahkan,
tapi aku merasa sangat letih dan cemas karena harus memulai perjalan besok pagi-
pagi. Jadi setelah makan malam dan sedikit menonton TV, Sydney dan aku pergi ke
ruangan yang dipersiapkan untuk kami. Kamar ini kecil dan sederhana tapi
memiliki dua ranjang kembar yang ditutupi oleh selimut tebal dan halus. Aku
duestinae89.blogspot.com
merapat di selimutku, bersyukur untuk rasa lembut dan hangatnya dan mengira-
ngira jika aku akan bermimpi tentang Lissa atau Adrian.

Aku tidak bermimpi. Ya aku terbangun dalam gelombang rasa mual yang mengitari
diriku – rasa mual yang mengatakan padaku kalau ada Strigoi yang sedang
mendekat.
duestinae89.blogspot.com

Enam
AKU MELESAT TEGAK, SETIAP BAGIAN dalam diriku terbangun dan
waspada. Tidak ada cahaya lampu kota yang menembus melalui jendela hingga
membuatku butuh beberapa detik untuk membiasakan diri melihat dalam gelap.
Sydney meringkuk di kasurnya, wajahnya terlihat damai ketika ia tidur, tidak seperti
biasanya.

Dimana Strigoi itu? Jelas tidak di dalam kamar kami. Apa dalam rumah ini? Semua
orang bilang kalau jalan menuju kota kelahiran Dimitri sangat berbahaya. Namun,
aku jadi berpikir kalau Strigoi juga akan memburu Moroi dan dhampir – meskipun
manusia juga merupakan bagian besar dari diet mereka. Berpikir tentang pasangan
yang ramah yang menerima kami ke dalam rumahnya, membuatku merasa dadaku
mengeras. Tidak mungkin aku membiarkan sesuatu terjadi pada mereka.

Aku menyelinap keluar diam-diam dari tempat tidur, aku menggenggam erat
pasakku dan merangkak dari kamar tanpa membangunkan Sydney. Tidak ada
satupun yang bangun dan segera setelah aku sampai di ruang tamu, rasa mual itu
hilang. Ok. Strigoi itu tidak berada di dalam rumah, yang berarti hal bagus. Mereka
ada di luar, rupanya di samping rumah dekat kamarku. Masih bergerak perlahan,
aku keluar dari pintu depan rumah dan berjalan di sudut rumah, setenang malam
disekitarku.

Rasa mual itu semakin kuat ketika aku mendekati gudang dan aku tidak bisa
melakukan apa-apa terhadap rasa mual itu, tapi aku merasa puas. Aku akan
mengejutkan Strigoi ini yang mungkin berpikir bisa menyelinap masuk ke rumah
kecil manusia di desa untuk makan malam. Ada. Tepat didekat pintu masuk gudang,
aku bisa melihat bayang panjang bergerak. Kena, pikirku. Aku persiapkan pasakku
dan mulai bergegas maju – dan kemudian sesuatu memukul pundakku.

Aku tersandung, heran, dan menatap tajam wajah Strigoi itu. Di ujung mataku, aku
melihat bayangan di gudang berubah menjadi Strigoi lain dan melangkah ke arahku.
Panik melanda diriku. Ada dua dan sistem pendeteksi rahasiaku tidak mampu
membedakannya. Semakin buruk saja, mereka mendapatiku tengah ambruk.

Sebuah pikiran terlintas dipikiranku: Bagaimana jika satu dari mereka adalah
Dimitri? Bukan. Paling tidak, yang paling dekat bukan Dimitri. Dia seorang wanita.
Aku belum merasakan Strigoi yang kedua. Dia menuju ke sisiku yanglain dengan
sangat cepat. Aku harus berurusan dengan gangguan ini secara langsung, dan
menyingkirkan yang wanita dengan pasakku, berharap bisa melukainya, tapi dia
mengelak begitu cepat sampai aku kesulitan melihat pergerakannya. Dia memukul
ke arahku hampir terlihat sangat sangat santai. Aku tidak terlalu cepat bereaksi dan
melayang menuju Strigoi yang lain – laki-laki dan jelas bukan Dimitri.

Aku merespon dengan cepat, melompat, dan menendangnya. Aku mengeluarkan


pasakku, menciptakan jarak diantara kami tapi ini hanya berhasil sediki ketika yang
wanita datang dari belakang dan menyambarku, menyentak tubuhku ke arahnya.
Aku menangis tertahan dan merasakan tangannya di tenggorokanku. Aku sadar, dia
duestinae89.blogspot.com
mungkin akan memutuskan leherku. Teknik yang cepat, cara mudah untuk Strigoi
ketika mereka ingin menyeret korban mereka untuk dimangsa.

Aku berjuang, medesak-desak tangannya sedikit demi sedikit, tapi ketika Strigoi
yang lain mendekati kami, aku tahu semua itu sia-sia. Mereka berhasil
mengejutkanku. Mereka berdua. Merka sangat kuat.

Rasa panik melanda dalam diriku, rasa takut yang luar biasa dan putus asa. Aku
selalu taku setiap kali aku berkelahi dengan Strigoi, tapi ketakutan kali ini sudah
melewati titik terparah. Rasa takut yang tidak fokus dan di luar kendali, dan
menduga kalau rasa ini dikarenakan kegilaan dan kegelapan yang kuserap dari Lissa.
Perassan itu meledak dalam diriku dan aku bertanya-tanya apakah ketakutan itu
akan menghancurkanku sebelum Strigoi yang melakukannya. Aku sedang berada
dalam situasi sekarat berbahay yang nyata sekarang – dan membiarkan Sydeny dan
yang lain terbunuh. Pikiran marah dan sedih mencekikku.

Kemudia, tiba-tiba, bumi seakan meledak dan terbuka. Bentuk tembus pandang,
bercahaya lembut dalam kegelapan, bermunculan dimana-mana. Sebagian terlihat
seperti manusia normal. Yang lain terlihat mengerikan, wajah mereka kurus kering
seperti tengkorak. Hantu. Roh. Mereka mengelilingi kami, kehadiran mereka
membuat rambutku berdi dan mengirimkan rasa sakit kepala yang luar biasa melalu
tengkorak kepalaku.

Para hantu itu berbalik ke arahku. Aku pernah mengalami ini sebelumnya, di
pesawat, ketika penampakan itu menyerbu dan mengancam untuk membunuhku.
Aku mempersiapkan diriku sendiri, mencoba berusaha mati-matian untuk
menmpulkan kekuatan untuk membangun pengahalang yang akan menutup diriku
dari dunia roh. Itu adalah keahlian yang sudah aku pelajari ketikaaku biasanya
berada disuatu tempat dan tidak ada kerjaan. Keputusasaan dan kepanikan situasi
ini sudah memecahkan pengedalian diriku. Parahnya, darah mengental dalam
tubuhku, aku mengucapkan harapan egois lagi kalu Mason tidak menemukan
ketenangan dan meninggalkan dunia ini. Aku akan merasa lebih baik andai saja
hantu Mason ada disini.

Kemudian aku sadar kalau aku bukanlah target mereka. Para hantu mengitari kedua
Strigoi itu. Roh tidak memiliki bentuk padat, tapi setiap mereka menyentuh dan
melalui diriku, aku merasa seperti diterpa es. Strigoi wanita tiba-tiba mulai
melambai-lambaikan tangan untuk menangkis penampakan itu, mengeram dan
marah dan hampir terlihat seperti ketakutan. Kemunculan para hantu tidak mampu
untuk menyakiti Strigoi, tapi mereka jelas sangat mengganggu – dan menghilangkan
fokus mereka.

Aku menghunjam jantung Strigoi laki-laki itu bahkan sebelum ia melihat


kedatanagnku. Mendadak, para hantu yang mengelilingi Strigoi laki-laki itu bergerak
ke arah Strigoi wanita. Yang satu ini lumayan, aku mengakuinya. Meskipun ia
berjuang untuk menagkis roh-roh itu menjauh, dia masih bisa menangkis
seranganku dengan cukup baik. pukulan keberuntungan darinya memberikan
ledakan bintang dimataku dan mengirimku ke dinding gudang. Aku masih
merasakn induksi-hantu yang menyebabkan sakit kepala meledak-ledak dalam
kepalaku , tapi ternyata kepala yang menabrak ke gudang pun tidak bisa
duestinae89.blogspot.com
menyembuhkannya. Mengejutkan, pusing, aku kembali ke arahnya dan melanjutkan
perlawananku agar bisa menusuk jantungnya. Dia menjaga agar dadanya jauh dari
jangkauanku – paling tidak sampai satu dari hantu yang mengerikan khususnya
mengacaukan penjagaannya. Gangguan sementara itu memberiku kesempatan, dan
aku mengnjum jantungnya juga. Dia jatuh ke tanah - meninggalkanku sendiri
dengan para roh.

Dengan Strigoi, para hantu jelas ingin menyerang meraka. Denganku, lebih banyak
terlihat seperti di pesawat. Mereka terlihat terpesona olehku, putus asa untuk
mendapatkan perhatian dariku. Hanya saja, dengan puluhan hantu yang
berkerumun, seolah aku seperti diserang juga.

Dengan putus asa, aku mencoba lagi untuk memanggil pelindungku kembali, untuk
memblokir para hantu jauh dariku seperti yang pernah aku lakukan dulu. Usaha itu
menyiksa. Entah bagaimana, emosi tidakstabilku membawa roh berdatangan dan
ketika aku sudah sedikit lebih tenang sekarang, kontrol ketidakstabilanku semakin
kuat membawa mereka datang kesini. Kepalaku terus saja berdenyut. Sambil
mengertakkan gigi-gigiku, aku memfokuskan sedikit demi sedikit kekuatanku untuk
memblokir ke luar para hantu itu.

“Pergi,” desisku. “Aku tidak perlu kalian lagi.”

Untuk sejenak, usahaku sepertinya sia-sia. Kemudian, perlahan, satu demi satu, roh-
roh itu mulai memudar. Aku merasa pengendalian yang sudah aku pelajari sebelum
perlahan melesat ke tempat lain. Segera, tidak ada apapun lagi disekitarku selain
diriku sendiri, kegelapan, dan gudang – dan Sydney.

Aku menyadari kehadirannya ketika aku tersungkur di tanah. Dia berlari keluar
rumah dengan memakai piama, wajahnya pucat. Berlutut di sampingku, dia
membantuku duduk, ketakutan nampak dari wajahnya.

“Rose! apa kau baik-baik saja?”

Aku merasa setiap keping energi dalam otak dan tubuhku telah terhisap habis. Aku
tidak mampu bergerak. Aku tidak mampu berpikir.

“Tidak,” kataku padanya.


dan kemudian aku pingsan.

Aku memimpikan Dimitri lagi, tangannya yang memelukku dan wajah yang tampan
bersandar padaku untuk menyemangatiku seperti yang selalu ia lakukan ketika aku
sakit. Memori masa lampau mendatangiku, kami berdua menertawakan beberapa
leucon. Terkadang, dalam mimpi ini, dia membawaku pergi. terkadang, kami tengan
mengendarai mobil. Sesekali wajahnya akan mulai berbah menjadi gambaran
menakutkan Strigoi ynag selalu mennyiksaku. Kemudian dengan cepat aku
memerintahkan pikiranku untuk menghapun bayangan itu pergi.

Dimitri telah sering kali manjagaku dan selalu ada disaat aku membutuhkannya.
Meskipun kedua hal itu sudah tidak ada lagi. Kuakui, dia tidak berakhir di ruang
kesehatan sebanyak aku. Dan hal itu hanyalah keberuntunganku. Bahkan jika dia
duestinae89.blogspot.com
sedang terluka, ia tidak akan pernah mau mengakuinya. Dan ketika aku bermimpi
dan berhalusinasi, gambaran yang datang padaku adalah ketikan beberapa kali aku
bisa menjaganya.

Hanya sebelum sekolah diserang, Dimitri termasuk di dalam bagian ujian denganku
dan rekan-rekan novisku untuk melihat seberapa baik kami bereaksi terhadap
serangan kejutan. Dimitri begitu sulit untuk dihadapi dan bahkan tidak mungkin
untuk dikalahkan, meskipun ia mendapat beberapa lebam beberapa kali. Aku berlari
ke arahnya dia tempat latihan sekali selama tes ini berlangsung, terkejut melihat
luka di pipinya. Terlihat tidak parah tapi ada banyak darah yang keluar.

“Apa kau sadar kalau kau bisa berdarah hingga mati?” seruku. Sedikit berlebihan
tapi tetap saja aku melakukannya.

Dia menyentuh pipinya dengan cueknya dan terlihat sadar akan luka yang ia dapat
dari pertama. “ Aku tidak akan melangkah terlalu jauh. Ini bukan apa-apa.”

“Itu bukan apa-apa sampai kau terkena infeksi!”

“Kau tahu itu tidak mungkin,” katanya keras kepala. Itu benar. Moroi - selain
terjangkin penyakit langka, seperti yang dialami Victor – sangat susah terserang
penyakit. Kami para dhampir mewarisi hal itu dari mereka, sama seperti tato milik
Sydney yang memberinya perlindungan. Meskipin begitu, aku tidak akan
membiarkan Dimitri berdarah terlalu banyak.

“Ayo,” kataku, menunjuk ke kamar mandi kecil di ruangan itu. Suaraku sedikit sengit
dan aku terkejut ketika dia menurutinya.

Setelah membasahi sebuah handuk, dengan lembut aku membersihkan wajahnya.


Dia terus saja memprotes pada walnya tapi akhirnya ia jatuh diam. Kamar mandi itu
kecil, dan kami hanya beberapa inci satu sama lain. Aku bisa mencium bau bersih
memabukkan dari dirinya dan mempelajari setiap detil wajah dan tubuh kuatnya.
Jatungku berdetak cepat didadaku, tapi kami harus bersikap baik, jadi aku mencoba
tampil tenang dan bijaksana. Dia tenang juga, tapi ketika aku menyapu rambut
belakng di samping telinganya untuk membersihkan wajahnya, dia tersentak. Ujung
jariku menyentuh kulitnya dan mengirimkan gelombang kaget melalui diriku, dan
dia merasakan hal yang sama. Dia menangkap tanganku dan menjauhkannya dari
wajahnya.
“Cukup,” katanya, dengan suara serak. “Aku baik-baik saja.”
“Apa kau yakin?” tanyaku. Dia masih belum melepaskan tanganku. Kami sangat,
sangat dekat. Kamar mandi kecil itu seperti sudah siap meledak dengan adanya
aliran listrik dahsyat diantara kami berdua. Aku tahu ini akan segera berakhir tapi
aku benci jika harus melepaskannya. Tuhan, terkadang sangat sulit untuk menjadi
bertanggungjawab.

“Ya,” katanya. Suaranya lembut dan aku tahu dia tidak marah padaku. Dia hanya
takut, takut betapa kami hanya perlu waktu sebentar untuk menyalakan api diantara
kami. Seperti sebelumnya, aku merasa kehangatan menyelimutiku, hanya dengan
merasakan tangannya. Menyentuhnya membuatku merasa lengkap, seperti
menemukan orang yang tepat untukku selama ini.
duestinae89.blogspot.com
“Terima kasih, Roza.”
Dia melepaskan tanganku dan kami pergi, sama-sama kembali ke aktifitas kami
masing-masing. Tapi perasaan yang kudapat dari kulit dan rambutnya bertahan
berjam-jam padaku setelah itu ...

Aku tidak tahu mengapa aku memimpikan kenangan itu setelah diserang didekat
gudang. Rasanya aneh kalau aku memimpikan menjaga Dimitri ketika aku lah yang
perlu dirawat. Kurasa tidak jadi masalah ingatan apa yang datang, selama ada
Dimitri di dalamnya. Dimitri selalu membuatku merasa lebih baik, bahkan dalam
mimpi sekalipun, memberiku kekuatan dan keteguhan hati.

Tapi saat aku berbaring mengigau dan antara sadar dan tidak, wajah
menenangkannya sesekali bercampur dengan mata merah yang mengerikan dan
taring. Aku merengek, berjuang keras untuk menjauhkan bayangan itu. Dilain
waktu, dia tidak terlihat seperti Dimitri. Dia berubah menjadi lelaki yang tidak aku
kenal, seorang Moroi tua denga rambut yang hitam dan mata licik, perhiasan emas
berkilauan di leher dan telinganya. Aku menangis memanggil Dimitri lagi, dan
akhirnya, wajahnya kembali hadir, damai dan indah.

Pada satu titik, gambaran itu berubah lagi. kali ini wajah seorang wanita. Jelas, dia
bukan Dimitri, tapi ada sesuatu dari mata cokelatnya yang mengingatkanku padany.
Dia lebih tua, empat puluh tahunan kira-kira, dan seorang dhampir. Dia meletakkan
kain dingin di dahiku dan aku sadar kalau aku tidak lagi bermimpi. Tubuhku sakit
dan aku sedang berada di ranjang yang asing, di ruangan yang asing. Tidak ada
tanda-tanda Strigoi. Apakah aku juga bermimpi?

“Jangan coba bergerak,” kata wanita itu dengan aksen Rusia yang kental. “Kau
mendapat beberapa pukulan.”

Mataku melebar saat gambaran di gudang itu kembali padaku, hantu-hantu yang
kupanggil. Itu bukan mimpi.

“Dimana Sydney? Apa dia baik-baik saja?”


“Dia baik-baik saja. Jangan khawatir.” Kadang suara wanita ini mengisyaratkan
padaku kalau aku bisa mempercayainya.

“Dimana aku?”
“Di Baia.”

Baia, Baia. Entah dimana, di dalam kepalaku, nama itu terdengar tidak asing. Tiba-
tiba semuanya terjawab. Dulu, dulu sekali, Dimitri pernah mengatakannya. Dia
hanya pernah menyebutkan nama kotanya sekali dan bahkan meskipun aku telah
mencoba, aku tidak pernah bisa mengingatnya. Sydney tidak pernah mengatakan
nama kotanya. Tapi sekarang kami disini. Di kampung halaman Dimitri.

“Kau siapa?” tanyaku.


“Olena,” jawabnya. “Olena Belikova.”
duestinae89.blogspot.com

Tujuh
TERASA SEPERTI DI PAGI NATAL.
Aku biasanya tidak terlalu percaya pada Tuhan atau taqdir, tapi sekarang aku serius
berpikir ulang. Setelah pingsan, Sydney rupanya menelpon dalam keadaan panik dan
seseorang yang ia kenal di Baia mendatangi kami – mempertaruhkan nyawanya
dalam kegelapan – untuk menyelamatkan kami dan membawa kami ke tempat aku
bisa disembuhkan. Tidak diragukan lagi alasan mengapa aku mendapatkan sensasi
samar berada di mobil selama aku mengigau; karena itu bukanlah bagian dari
mimpi.

Dan kemudian, entah bagaimana, dari semua dhampir yang berada di Baia, aku
ditolong oleh ibunya Dimitri sendiri. Itu sudah cukup untuk membuatku
mempertimbangkan bahwa mungkin memang benar ada kekuatan yang lebih besar
dari pada diriku yang bekerja di alam ini. Tidak ada satupun yang
memberitahukanku dengan jelas bagaimana semua ini bisa terjadi, tapi aku segera
menyadari kalau Olena Belikova memiliki reputasi dari semua penyembuh di kota ini
– dan bahkan bukanlah termasuk penyembuh dengan sihir. Dia pernah mengikuti
pelatihan medis dan merupakan salah satu dhampir – dan bahkan beberapa Moroi –
yang pergi ke daerah ini ketika mereka ingin menghindari perhatian manusia. Masih.
Kebetulan yang menakutkan dan aku tidak bisa menolak untuk berpikir kalau ada
sesuatu yang terjadi yang masih belum bisa aku mengerti. Untuk sekarang, aku
tidak terlalu khawatir tentang bagaimana dan mengapa situasiku menjadi seperti ini.
Aku terlalu sibuk menatap dengan mata yang lebar kesekitarku dan orang-orang
yang berada disini. Olena tidak hidup sendiri. Semua saudara perempuan Dimitri –
tiga dari mereka – tinggal di rumah ini juga bersama anak-anak mereka. Kemiripan
dalam keluarga ini juga mengejutkan. Tidak satupun dari mereka yang benar-benar
mirip dengan Dimitri, tapi disetiap wajah mereka aku bisa menemukan Dimitri.
Mata itu. Senyuman itu. Bahkan rasa humornya. Melihat mereka menarik kembali
ingatan tentang Dimitri yang menghilang – dan memperparah keadaan dalam waktu
yang sama. Kapanpun aku melihat mereka di luar dari fungsi perangkat
penglihatanku, kurasa aku melihat Dimitri. Seperti sebuah rumah kaca, dengan
refleksi yang berserakan dimana-mana.

Bahkan rumahnya membuatku merinding. Tidak ada tanda-tanda yang jelas kalau
Dimitri pernah tinggal disini, tapi aku terus berpikir, disinilah tempat ia tumbuh. Dia
berjalan di lantai ini, menyentuh dinding-dinding ini .... Saat aku berjalan dari
kamar ke kamar, ku sentuh juga dinding-dinding itu, mencoba menarik energi
Dimitri dari benda-benda itu. Aku membayangkan ia duduk-duduk di sofa,
beristirahat sepulang sekolah. Aku bertanya-tanya, apakah ia pernah meluncur di
tangga ini ketika masih kecil. Gambaran itu terasa sangat nyata sehingga aku harus
terus mengingatkan diriku sendiri kalau Dimitri sudah lama tidak kembali ke tempat
ini.

“Kau memiliki kekuatan pemulihan yang luar biasa,” catatan Olena di pagi
berikutnya setelah ia membawaku bersamanya. Dia memberikan tatapan
persetujuan ketika aku menghirup sepiring blini. Blini itu adalah pancake super tipis
yang ditumpuk dan dilapisi mentega dan selai.
duestinae89.blogspot.com
Tubuhku selalu meminta banyak makanan untuk memulihkan kembali kekuatanku.
Dan aku membayangkan, selama aku tidak mengunyah dengan mulut terbuka atau
apapun sejenisnya, aku tidak punya alasan untuk merasa bersalah karena makan
banyak.

“Kupikir kau sudah mati ketika Abe dan Sydney membawamu kesini.”
“Siapa?” tanyaku diantara gigitan makanan yang kukunyah.

Sydney duduk di meja itu beserta seluruh sisa keluarga ini, hampir tidak menyentuh
makanannya seperti biasa. Dia tampak gelisah dikelilingi oleh rumah penuh dengan
dhampir, tapi ketika pertama kali aku turuh pagi ini, aku yakin sekali melihat
kelegaan di matanya.

“Abe Mazur,” kata Sydney. Kecuali aku salah, beberapa orang di meja ini saling
bertukar lirikan.

“Dia adalah seorang Moroi. Aku ... aku tidak tahu seberapa parah kau terluka malam
kemarin, jadi aku memanggilnya. Dia menyetir bersama para pengawalnya. Dialah
yang membawamu kesini.”

Para pengawal. Berarti jamak. “Apa dia seorang bangsawan?” Mazur bukanlah nama
bangsawan, tapi hal itu juga tidak bisa menjamin garis keturunan seseorang. Dan
ketika aku mencoba mempercayai jaringan dan koneksi Sydney terhadap orang-
orang berkuasa, aku tidak bisa membayangkan mengapa seorang bangsawan mau
keluar dari tempat yang aman demi aku. Mungkin dia berhutang budi dengan para
Alkemis.

“Tidak,” katanya terus terang. Aku mengerutkan dahi. Seorang yang bukan
bangsawan dengan lebih dari satu pengawal? Sangat aneh. Jelas sekali Sydney tidak
akan beribicara lebih lagi – paling tidak sampai sekarang.

Aku menelan semulut penuh blini dan mengembalikan perhatianku kembali ke


Olena.
“Terimakasih telah mengajakku kemari.”

Kakak tertua Dimitri, Karolina, juga duduk di meja itu, bersama bayi perempuannya
dan anak lelakinya, Paul. Paul berusia sekitar sepuluh tahun dan terlihat terpesona
olehku.

Saudara remaja Dimitri, Viktoria, juga disana. Dia tampak sedikit lebih muda dariku.
Saudara perempuan ketiga Belikov bernama Sonya dan sudah pergi bekerja sebelum
aku bangun. Aku harus menunggu jika ingin bertemu dengannya.

“Apakah kau membunuh dua Strigoi sendirian?” Paul bertanya padaku.


“Paul,” tegur Karolina. “Itu bukan pertanyaan yang bagus.”
“Tapi merupakan salah satu hal yang menarik,” kata Viktoria sambil menyeringai.
Rambut cokelatnya diselingi oleh helaian emas, tapi mata gelapnya berkilau dan
sangat mirip dengan Dimitri ketika ia sedang senang, sehingga menarik hatiku.
duestinae89.blogspot.com
Sekali lagi, aku merasakan sensasi mengejek kalau Dimitri ada disini tapi tidak
berada disini.

“Dia melakukannya,” kata Sydney. “Aku melihat mayatnya. Seperti biasanya.” Dia
memakai ekspresi lucu yang terlihat menyakitinya dan tertawa. “Paling tidak aku
meninggalkan mereka dimana kau bisa langsung menemukan mereka sekarang.”
Humorku mendadak redup.

“Apa ada orang ... manusia yang menyadari atau mendengar?”


“Aku sudah memusnahkan tubuhnya sebelum satu orang pun melihat,” katanya.
“Jika ada orang mendengar apa pun ... Well, tempat-tempat terpencil seperti itu
selalu diisi dengan cerita takhayul dan hantu. Mereka tidak benar-benar memiliki
data-data faktual tentang vampir, tapi disana selalu ada kepercayaan tentang
kekuatan gaib dan ada sesuatu yang berbahaya di luar sana. Sedikit yang mereka
ketahui.”

Dia mengatakan “cerita hantu” tanpa ada perubahan ekspresi di wajahnya. Aku
bertanya-tanya apa dia melihat roh-roh semalam tapi akhirnya aku memutuskan
kalau dia tidak mungkin melihatnya. Dia keluar rumah mendatangi ku saat sudah
berada di bagian akhir pertarungan dan jika mengingat adanya indikasi bukti-bukti
di masa lampau, tidak ada satu orang pun yang bisa melihat roh yang kulihat –
kecuali Strigoi, ternyata.

“Kau pastinya telah dilatih dengan baik dulu,” kata Karolina, mengubah posisi
sehingga bayinya bersandar di bahunya. “Kau terlihat masih harus berada di
sekolah.”

“Aku baru saja keluar,” kataku, menatap Sydney.

“Kau orang Amerika,” kata Olena tanpa berbelit-belit. “Apa yang bisa membawamu
sampai kemari?

“Aku ... aku mencari seseorang,” kata yang bisa kukeluarkan setelah beberapa saat
keraguanku. Aku takut mereka akan menanyakan setiap detil atau menduga kalau
dia adalah seorang pelacur-darah juga, tapi kemudian, pintu dapur terbuka dan
nenek Dimitri, Yeva, masuk. Sebelumnya dia telah menjulurkan kepalanya dari awal
dan sumpah, ia membuatku takut. Dimitri pernah bilang padaku kalau dia adalah
semacam penyihir dan aku bisa percaya hal itu. Dia terlihat seperti singa Gazil tua
dan sangat kurus, dan ajaibnya angin tidak bisa meniup dirinya hingga terbang. Dia
hampir setinggi lima kaki dan kepalanya ditutupi oleh rambutnya yang berwarna
abu-abu sebagian. Tapi sebenarnya matanyalah yang membuatku takut. Sisanya
terlihat lemah tetapi mata gelap itu sangat tajam dan waspada dan terlihat bosan
melihat ke dalam jiwaku. Bahkan tanpa penjelasan Dimitri, aku pasti akan langsung
menduga kalau dia adalah penyihir. Dia adalah satu-satunya orang di dalam
keluarga ini yang tidak bisa berbahasa Inggris.

Dia duduk di satu kursi kosong dan Olena buru-buru melompat untuk
mengambilkan blini. Yeva mengumamkan sesuatu dalam bahasa Rusia dan
membuat yang lain terlihat tidak nyaman. Bibir Sydney berkedut membentuk
duestinae89.blogspot.com
senyuman kecil. Mata Yeva menatapku ketika ia berbicara dan aku melirik kesana-
kemari untuk meminta terjemahannya.
“Apa?” tanyaku.

“Nenek bilang kau tidak mengatakan seluruh cerita yang sebenarnya tentang
mengapa kau berada disini. Kata nenek, semakin lama kau menunda untuk
mengatakannya, semakin buruk hasilnya,” Viktoria menjelaskan. Dia kemudian
memberikan Sydney pandangan meminta maaf. “Dan dia juga ingin tahu kapan si
Alkemis pergi.”

“Secepatnya,” kata Sydney datar.

“Well, mengapa aku disini ... ceritanya panjang.” Bisakah aku menceritakan
semuanya sejelas-jelasnya? Yeva mengatakan sesuatu dan Olena menawabnya
dengan erangan. Kepadaku ia berbicara dengan lembut: “Abaikan dia, Rose. Suasana
hatinya sedang tidak bagus. Mengapa kau disini adalah urusanmu – meskipun aku
yakin Abe akan menanyakanmu hal yang sama.” Dia mengerenyit sedikit dan aku
diingatkan oleh pandangan orang-orang di meja itu. “Kau harus ingat untuk
berterima kasih kepadanya. Dia terlihat sangat mengkhawatirkanmu.”

“Aku juga ingin bertemu dengannya,” aku bergumam, masih penasaran dengan
pengawalan dirinya, Moroi bukan bangsawan yang memberikanku tumpangan dan
tampaknya membuat semua orang tidak tenang. Bersemangat untuk menghindari
pembicaraan mengenai mengapa aku ada disini, aku buru-buru mengubah topik
pembicaraan.

“Aku juga ingin sekali berkeliling Baia. Aku tidak pernah berada di tempat seperti ini
sebelumnya – dimana ada banyak sekali dhmapir tinggal, maksudku.”

Wajah Viktoria berubah cerah. “Aku bisa menemanimu berkeliling – jika kau yakin
sudah merasa baikan. Atau jika kau tidak harus pergi sekarang.”

Dia percaya aku hanya singgah disini, sama seperti sebelumnya. Jujur, aku sama
sekali tidak yakin apa yang harus aku lakukan lagi, sekarang sepertinya terlihat kalau
Dimitri tidak ada di daerah ini. Aku melirik Sydney, bertanya.

Dia mengangkat bahunya. “Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak akan
pergi kemanapun.” Aku menemukan ada sedikit kebingungan disana. Dia
membawaku kesini atas perintah atasannya – tapi sekarang apa? Nah, itu akan
menjadi perhatian kami untuk nanti. Segera setelah aku menghabiskan makananku,
Viktoria praktis menyeretku ke luar, seolah aku adalah hal menarik yang terjadi di
sekitar sini sementara, Yeva tidak mengalihkan pandangannya ke arahku selama ia
menghabiskan makanannya dan meskipun ia tidak mengatakan hal apa pun,
kecurigaannya bahwa ia tidak percaya satu pun kata-kata yang kuucapkan jelas
tampak dari pandangannya. Aku mengajak Sydney beralan-jalan keluar, tapi dia
menolak, memilih mengunci dirinya di kamar dan membaca tentang candi di Yunani
atau mengontrol dunia dengan teleponnya atau melakukan apa pun yang pernah ia
lakukan.
duestinae89.blogspot.com
Viktoria bilang kalau pusat kota tidak jauh dari dimana mereka tinggal dan sangat
mudah jika kesana dengan berjalan kaki. Harinya cerah dan sejuk, dengan sinar
matahari yang cukup untuk membuat suasana di luar menjadi nyaman.

“Kami tidak memiliki banyak pengunjung,” ia menjelaskan. “Kecuali Moroi pria, tapi
kebanyakan mereka tidak tinggal lama.”

Dia tidak menambahkan penjelasan itu, tapi aku menduga-duga maksud di


dalamnya. Apakah para Moroi pria ini pergi kesini untuk beraksi dengan dhampir
wanita? Aku dibesarkan dengan pemikiran mengenai wanita-wanita ini, dhampir
yang memilih untuk tidak menjadi pengawal adalah dhampir hina dan kotor. Satu
yang kutemui di Nightingale jelas merupakan gambaran pelacur darah, tapi Dimitri
meyakinkanku kalau tidak semua dhampir wanita seperti itu. Setelah bertemu
keluarga Belikov, aku mempercayainya.

Setelah kami hampir sampai di pusat kota, segera aku menemukan mitos yang lain
hancur juga. Orang-orang selalu membicarakan tentang pelacur darah yang tinggal
di sebuah perkemahan atau kelompok yang hidup bersama, tapi hal itu tidak ada
disini. Baia bukanlah kota yang besar, tidak seperti St. Petersburg atau bahkan
Omsk, tapi ini adalah kota sungguhan dengan banyak populasi manusia di
dalamnya. Hampir tidak ada perkemahan pedesaan atau pemukiman peternakan.
Semua pengaturan kota normal dan menakjubkan, dan ketika kami sampai di pusat
kota, toko kecil dan restoran berbaris di sisinya, sangat terlihat seperti tempat lain di
dunia ini dimana manusia tinggal. Modern dan biasa, hanya dengan sedikit sentuhan
desa.

“Dimana semua dhampir?” aku bertanya-tanya dengan suara keras. Sydney pernah
berkata kalau ada kehidupan rahasia vampir, tapi aku tidak menemukan tanda-
tanda apapun mengenai keberadaan mereka.

Viktoria tersenyum. “Oh mereka disni. Kami punya banyak bisnis dan tempat lain
yang tidak diketahui manusia.” Saat aku memahami kalau para dhampir tidak
terdeteksi di kota besar, rasanya luar biasa untuk menyamakan pemikiran seperti itu
disini. “Dan banyak dari kami yang tinggal dan bekerja dengan manusia.” Dia
menunjuk sebuah tempat seperti toka obat dengan dagunya. “Itu tempat Sonya
bekerja sekarang.”

“Sekarang?”

“Sekarang dia sedang hamil.” Viktoria memutar matanya. “Aku akan membawamu
menemuinya, tapi dia jadi pemarah belakangan ini. Kuharap bayinya segera
dilahirkan.” Dia menghentikan penjelasannya sampai disitu dan aku lagi-lagi
bertanya-tanya tentang dinamika hubungan dhampir dan Moroi disini. Viktoria
sangat mudah untuk disukai dan hanya dalam waktu satu jam kami saling cocok
seolah kami sudah kenal lama. Mungkin hubunganku dengan Dimitri mengikatku
pada keluarganya juga.

Pikiranku terpotong ketika seseorang memanggil nama Viktoria. Kami berbalik dan
melihat seorang dampir pria yang imut menyebrang jalan. Rambutnya berwarna
perunggu dan matanya gelap, umurnya kira-kira ada diantara usiaku dan Viktoria.
duestinae89.blogspot.com
Dia membicarakan sesuatu dengan santai kepadanya. Dia tersenyum pada pria itu
dan kemudian menunjuk padaku, memperkenalkanku dalam bahasa Rusia.
“Ini Nikolai,” kata Viktoria dalam bahasa Inggris.
“Senang berkenalan denganmu,” katanya, juga mengubah bahasanya. Dia sepertinya
memberikan penilaian capat terhadapku seperti yang biasa dilakukan laki-laki, tapi
ketika ia memalingkan wajahnya ke Viktoria, sangat jelas siapa yang sebenarnya ia
sukai.
“Kau harusnya membawa Rose ke pesta Marina. Acaranya Minggu malam.” Dia
ragu-ragu, berubah sedikit malu-malu. “Kau akan pergi, kan?”

Viktoria terlihat memikirkan dan aku sadar kalau dia jelas mengerti tentang
perasaan Nikolai.
“Aku akan datang, tapi ...” dia berpaling ke arahku. “Apa kamu masih tinggal disini?”

“Aku tidak tahu,” jawabku jujur. “Tapi aku akan datang jika aku masih disini. Pesta
apa?”

“Marina itu teman sekolah,” jelas Viktoria. “Kami hanya perlu kumpul-kumpul dan
berpesta sebelum kami kembali.”

“Ke sekolah?” tanyaku bodoh. Entah mengapa, bagiku tidak pernah terbayangkan
dhampir di luar sini bersekolah.

“Kami sedang liburan sekarang,” kata Nikolai. “Untuk hari Paskah.”

“Oh,” sudah akhir April, tapi aku tidak tahu kapan tepatnya hari paskah jatuh pada
tahun ini. Aku sudah tidak mengikuti hari apa hari ini. Hari Paskah belum terjadi,
jadi sekolah mereka pastilah mengambil liburan di minggu sebelum hari Paskah. St.
Vladimir mengambil liburan Paskah sesudahnya.

“Dimana sekolahmu?”
“Sekitar tiga jam dari sini. Bahkan lebih terpencil dari tempat ini.” Viktoria
mengubah mimik wajahnya.

“Baia tidak seburuk itu,” goda Nikolai.

“Mudah bagimu berkata begitu. Kau toh pada akhirnya akan pergi dan melihat
tempat-tempat baru dan menyenangkan.”

“Apa kau tidak bisa melakukannya?” tanyaku pada Viktoria.


Dia merengut, tiba-tiba merasa tidak nyaman. “Sebenarnya, aku bisa ... tapi bukan
seperti itu cara yang kami lakukan disini – paling tidak, tidak di keluargaku. Nenek
memiliki ... beberapa pendapat yang kuat tentang pria dan wanita. Nikolai akan
menjadi seorang pengawal, tapi aku akan tetap tinggal disini bersama keluargaku.”

Nikolai mendadak memiliki penilaian baru. “Apa kau seorang pengawal?”

“Ah, bagaimana ya...” sekarang aku lah yang merasa tidak nyaman.
duestinae89.blogspot.com
Viktoria berbicara sebelum aku menemukan kata-kata yang ingin kuucapkan. “Dia
telah membunuh dua Strigoi di luar kota. Sendirian.”

Nikolai terlihat kagum. “Kau seorang pengawal.”

“Sebenarnya, tidak ... aku sudah pernah membunuh sebelumnya, tapi sesungguhnya
pekerjaanku belum disumpah sebagai pengawal.” Aku berpaling dan mengangkat
rambutku untuk menunjukkan leherku. Selain tanda molinjaku, aku juga memiliki
tato berbentuk bintang kecil yang artinya aku pernah berperang. Mereka berdua
tersentak dan Nikolai mengatakan sesuatu dalam bahasa Rusia.

Aku menutupinya dengan rambut lagi dan melihat mereka kembali. “Apa?”

“Kau ...” Viktoria menggigit bibirnya, matanya merenung ketika mencari-cari kata-
kata yang ingin ia ucapkan. “yang tidak diperjanjikan? Aku tidak tahu bahasa
Inggrisnya bagaimana.”

“Yang tidak diperjanjikan?” ulangku. “Kurasa ... tapi secara teknis bukankan semua
wanita seperti itu ada disini?”

“Meskipun jika kami bukanlah pengawal, kami masih bisa diberi tanda yang
menunjukkan kelengkapan pelatihan kami. Meskipun bukan tanda yang dijanjikan.
Kau yang sudah membunuh banyak Strigoi dan tidak memiliki kesetian kepada
sekolah atau pengawal ...” Viktoria mengangkat bahu. “Kami menyebutnya yang
tidak diperjanjikan – itu adalah hal yang aneh.”

“Hal itu juga dianggap aneh di tempat aku berasal,” aku mengakui. Sungguh tidak
pernah terdengar sebelumnya. Sangat banyak sehingga kami tidak memiliki istilah
untuk menyebutkan hal tersebut. Hanya saja dianggap sebagai belum selesai.

“Aku harus membiarkan kalian pergi,” kata Nikolai, mata mabuk cintanya kembali
ke Viktoria. “Tapi aku sudah pasti akan melihat kalian di pesta Marina kan?
Mungkin lebih cepat?”

“Ya,” Viktoria setuju. Mereka mengucapkan salam dalam bahasa Rusia dan
kemudian Nikolai melompat melewati jalan dengan mudah, berkah tubuh atletis
pengawal dengan latihan. Sedikit mengingatkanku pada Dimitri.

“Aku pasti sudah menakutinya,” kataku.


“Tidak, dia berpikir kalau kau menakjubkan.”

“Tidak semenakjubkan dirimu menurut dia.”

Alis Viktoria naik. “Apa?”


“Dia menyukaimu ... maksudku, mencintaimu. Apa kau tidak menyadarinya?”

“Oh. Kami hanya teman.” Aku sadar dari sikapnya, Viktoria bersungguh-sungguh
dengan kata-katanya. Dia benar-benar tidak peduli dengan cowok itu, yang berarti
tidak bagus. Nikolai cowok yang tampan dan ramah. Kubiarkan rasa kasihanku pada
duestinae89.blogspot.com
Nikolai pergi, aku kembali ke topik pengawal lagi. Aku penasaran tentang perbedaan
sikap disini.

“Kau bilang kau tidak bisa ... tapi apa kau ingin menjadi pengawal?”
Dia ragu-ragu. “Aku belum pernah benar-benar memikirkannya. Aku mendapatkan
latihan yang sama di sekolah dan aku senang bisa mempertahankan diri. Tapi aku
lebih memilih menggunakannya untuk melindungi keluargaku daripada Moroi.
Kurasa terdengar seperti ...” Dia berhenti sejenak untuk memikirkan kata-kata yang
tepat lagi. “ ... diskriminasi? Tapi, laki-laki yang akan menjadi pengawal dan wanita
tinggal di rumah. Hanya kakakku yang pergi.”

Aku hampir tersandung. “Kakakmu?” tanyaku, menjaga suaraku sestabil mungkin.

“Dimitri,” katanya. “Dia lebih tua dariku dan sudah menjadi pengawal selama ini.
Dia di Amerika sebenarnya. Kami belum pernah bertemu dia lagi untuk waktu yang
lama.”

“Huh.” Aku merasa jahat dan bersalah. Bersalah karena aku merahasiakan
kebenaran dari Viktoria dan yang lainnya. Jahat karena ternyata tidak ada satupun
dari kampung halamanku yang mau mengabarkan berita itu ke keluarganya. Viktoria
tersenyum mengingat kenangannya sehingga tidak menyadari perubahan suasana
hatiku.

“Paul sebenarnya terlihat sangat mirip dengan Dimitri seusianya. Aku akan
menunjukkan gambarnya – dan yang terbaru juga. Dimitri sangat tampan. Sebagai
kakakku maksudku.”

Aku sangat yakin melihat foto Dimitri sewaktu kecil akan merobek-robek hatiku.
Seperti sebelumnya, semakin banyak Viktoria berbicara mengenai dirinya, semakin
sakit yang kurasakan. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi dan
meskipun sudah beberapa tahun sejak ia bertemu dengannya, sangat jelas dia dan
seluruh keluarganya sangat merindukan Dimitri. Sekarang hal itu tidak lagi
mengejutkan. (Dan sungguh, siapa yang tidak bisa mencintai Dimitri?) Hanya satu
hari bersama mereka sudah menunjukkan padaku betapa dekat hubungan mereka
semua. Aku tahu dari cerita Dimitri kalau dia juga merindukan keluarganya.

“Rose? Apa kau baik-baik saja?” Viktoria mengintip ke arahku, khawatir, mungkin
karena aku tidak mengatakan apa pun lagi di sepuluh menit terakhir.

Kami sudah berkeliling dan hampir sampai dirumah. Melihat ke arahnya,


keterbukaannya, wajah yang ramah dan mata yang teramat mirip dengan mata
Dimitri, aku sadar kalau aku punya tugas sebelum kembali pergi mencari Dimitri,
dimanapun ia berada. Aku menelan ludah.

“Aku ... ya. Kurasa ... kurasa aku perlu berbicara denganmu dan seluruh
keluargamu.”
“Ok,” katanya, kekhawatiran masih ada di suaranya.
Di dalam rumah, Olena sedang sibuk di dapur dengan Karolina. Kupikir mereka
sedang membuat rencana untuk makanan nanti malam, mengejutkan mengingat
kami baru saja sarapan besar. Aku jelas bisa beradaptasi dengan cara mereka makan
duestinae89.blogspot.com
disini. Di ruang tamu, Paul sedang membuat tempat pacuan kuda dengan lego. Yeva
duduk di kursi batu dan muncul sebagai nenek paling klise di dunia saat sedang
merajut kaus kaki. Kecuali tidak terlihat seperti seorang nenek yang bisa
mengutukmu dengan sekali lirikan.

Olena sedang berbicara dngan Karolina dalam bahasa Rusia tapi kemudia n ia
mengubahnya dalam bahasa Inggris ketika ia melihatku.

“Kalian berdua kembali lebih cepat daripada dugaanku.”


“Kami melihat-lihat kota,” jawab Viktoria. “Dan ... Rose ingin berbicara padamu.
Pada kita semua.”

Olena menatapku bingung dan khawatir sama seperti Viktoria tadi. “Ada apa?”

Semua mata keluarga Belikov yang memandangku membuat jantungku berdebar-


debar di dadaku. Bagaimana aku melakukannya? Bagaimana aku bisa menjelaskan
sesuatu yang tidak pernah kukatakan selama berminggu-minggu? Aku tidak bisa
terima kalau aku harus memasukkan mereka – atau diriku sendiri – untuk melalui
semua ini. Ketika Yeva bergegas masuk, membuat semua hal menjadi tambah buruk.
Mungkin dia mendapat tanda-tanda mistik kalau sesuatu yang besar akan
diungkapkan.

“Kita harus duduk,” kataku.

Paul tinggal di ruang tamu, untuk hal itu aku merasa bersyukur. Aku sangat yakin
aku tidak tahu bagaimana menyampaikan hal ini dengan anak kecil – yang terlihat
mirip seperti Dimitri - yang menatapku.

“Rose, ada apa?” tanya Olena. Dia terlihat manis dan, yah ... keibuan, yang
membuatku hampir menangis. Kapanpun aku marah dengan ibuku sendiri karena
tidak pernah berada di sisiku atau melakukan tugas seorang ibu dengan baik, aku
selalu membandingkannya dengan beberapa gambaran ideal seorang ibu – seorang
ibu yang seperti ibunya Dimitri, aku sadari hal itu.

Saudara-saudara perempuan Dimitri juga sama khawatirnya, seolah aku adalah


seseorang yang telah lama mereka kenal. Penerimaan dan perhatian meraka
membuat mataku lebih terbakar, padahal mereka baru bertemu diriku pagi ini. Yeva
memasang ekspresi asing di wajahnya, namun – hampir terlihat seperti sedang
mengharapkan sesuatu yang ia tunggu-tunggu selama ini.

“Sebenarnya ... alasan mengapa aku datang kesini, ke Baia, adalah untuk mencari
kalian.” Hal itu tidak sepenuhnya benar. Aku datang untuk mencari Dimitri. aku
tidak pernah terpikir untuk mencari keluarganya, tapi sekarang, aku sadar itu lah
yang terbaik yang bisa aku sampaikan.

“Kalian tahu, Viktoria sudah membicarakan tentang Dimitri sebelumnya.” Wajah


Olena cerah ketika aku menyebut nama putranya. “Dan ... aku sudah – er, kenal dia.
Dia pernah menjadi pengawal di sekolahku. Guruku, sebenarnya.”
duestinae89.blogspot.com
Karolina dan Viktoria menyela . “Bagaimana keadaannya?” tanya Karolina. “Sudah
lama sekali sejak kami bersamanya. Apa kau tahu kapan ia akan datang berkunjung
kesini?”

Aku bahkan tidak bisa berpikir tentang bagaimana menjawab pertanyaan itu, jadi
aku tetap memaksa diriku untuk meneruskan ceritaku sebelum aku kehilangan
keberanian di depan seluruh wajah yang penuh cinta kasih ini. Saat kata-kata keluar
dari mulutku, seolah kata-kata itu berasal dari orang lain dan aku hanya menonton
dari jauh.

“Sebulan yang lalu ... sekolah kami diserang oleh Strigoi. Penyerangan yang sangat
mengerikan ... Segerombolan besar Strigoi. Kami kehilangan banyak orang – Moroi
dan dhampir, keduanya.”

Olena menjerit dalam bahasa Rusia. Viktoria bersandar padaku.


“St. Vladimir?”

Aku terhenti bercerita, terkejut. “Kau pernah mendengarnya?”

“Semua orang mendengar kabarnya,” kata Karolina. “Kami semua tahu apa yang
terjadi. Itu sekolahmu? Kau ada disana malam itu?”
Aku mengangguk.

“Pantas saja kau punya banyak tanda molinja,” Viktoria menghela nafas sambil
berandai-andai.
“Dan disanalah Dimitri sekarang?” tanya Olena. “Kami kehilangan kabar kemana
tugas ia selanjutnya.”
“Um, ya ...” Lidahku serasa tebal di tenggorokanku. Aku tidak bisa bernafas. “Aku
ada di sekolah saat penyerang malam itu terjadi,” aku membenarkan. “Dan disanalah
Dimitri. Dia adalah satu dari pemimpin pasukan pada pertarungan ... dan cara ia
bertarung ... dia ... dia sangat berani ... dan ...”

Kata-kataku terputus hingga disitu, tapi pada intinya, yang lain menangkap maksud
apa kelanjutannya.
Olena terkesiap dan berbisik lagi dengan bahasa Rusia. Aku mendengar kata
“Tuhan”. Karolina duduk membeku, tapi Viktoria bersandar padaku. Mata mereka
yang sangat mirip dengan mata Saudara lelaki mereka menatapku dengan sungguh-
sungguh, sama seperti ketika mata Dimitri mendorongku untuk berkata jujur,
sesakit apapun kejujuran itu.

“Apa yang terjadi?” Tanyanya menuntut. “Apa yang terjadi pada Dimitri?”
Aku membuang muka dari wajahnya, mataku melayang ke ruang keluarga. Di
dinding yang jauh, aku menangkap kilau sebuah rak buku yang diisi dengan buku tua
bersampul kulit. Ada tulisan bercetak emas timbul di punggung bukunya. Sangat
acak, tapi aku mendadak ingat kalau Dimitri pernah menyebutkan tentang hal itu.
Itu adalah buku-buku novel petualangan tua yang di koleksi ibuku, begitu ia pernah
bilang dulu. Sampulnya sangat indah dan aku menyukainya. Jika aku bisa berhati-
hati, Olena akan meminjamkan mereka padaku suatu hari. Pemikiran tentang
Dimitri yang duduk di depan rak buku itu, berhati-hati memindahkan halaman-
duestinae89.blogspot.com
halamannya – dan oh, dia sangat berhati-hati – hampir saja membuatku lupa.
Pernahkah terjadi dimana ia mengembangkan rasa cintanya kepada novel koboinya.
Aku melupakannya. Pikiranku terganggu sejenak. Awalnya aku tidak mungkin
mampu mengatakan hal yang sebenarnya pada mereka. Emosiku tumbuh sangat
kuat. Ingatanku membanjiri tubuhku ketika aku berjuang melawan untuk
memikirkan sesuatu – apapun – yang tidak terkait dengan pertarungan mengerikan
itu.

Kemudian aku melirik ke arah Yeva lagi, dan sesuatu tentang kengerian dirinya,
ekspresi tahu yang tidak dapat dijelaskan mendorongku berani. Aku harus
melakukannya. Aku berpaling kepada yang lain.

“Dia bertarung dengan sangat berani pada pertempuran itu, dan setelah itu, dia
menolong memimpin misi penyelamatan untuk menyelamatkan orang-orang yang di
tangkap Strigoi. Dia juga sangat mengagumkkan disana, hanya ... dia ...”
Aku berhenti lagi dan sadar air mata sudah jatuh menyusuri pipiku. Dalam
pikiranku, aku sedang mengulang kembali adegan mengerikan di gua itu, dengan
Dimitri yang sangat dekat dengan kebebasan dan kemudian ditangkap Strigoi di
menit-menit terakhir. Menjauhkan pikiran itu pergi, aku menarik nafas lagi. Aku
harus menyelesaikannya. Aku berhutang kepada keluarganya.

Tidak ada cara sopan untuk mengatakannya. “Satu dari Strigoi ada disana ... dia
menyergap Dimitri.”

Karolina membenamkan wajahnya di bahu ibunya, dan Olena tidak berusaha


menutupi air matanya. Viktoria tidak menangis, tapi wajahnya hilang dalam
kediaman yang sempurna. Dia bekerja keras menjaga emosinya di pipinya, sama
seperti yang dilakukan Dimitri. Dia mencari wajahku, ingin tahu lebih jelas.
“Dimitri telah meninggal,” katanya.

Itu adalah pernyataan, bukan pertanyaan, tapi dia menatapku untuk meminta
kebenaran dari kata-katanya. Aku bertanya-tanya apakah aku memberikan sesuatu,
seperti sebuah isyarat kalau masih ada cerita setelah itu. Atau mungkin dia hanya
ingin memastikan kata-katanya. Itulah yang akan dikatakan oleh pihak Akademi
pada mereka, apa yang akan dikatakan para pengawal pada mereka – meski hal itu
bukanlah kebohongan yang enak untuk dilakukan. Dimitri pastilah ingin seluruh
kebenaran dan keluarganya juga begitu.

“Tidak,” kataku, dan detak jantungku, berharap lepas di wajah setiap orang – paling
tidak sampai aku bisa berbicara lagi. “Dimitri menjadi Strigoi.”
duestinae89.blogspot.com

Delapan
REAKSI DIANTARA ANGGOTA KELUARGA DIMITRI campur aduk.
Sebagian menangis. Sebagian mematung. Dan sebagian lagi – khususnya Yeva dan
Viktoria – dengan tenang menerimanya dan tetap menjaga agar emosi mereka tidak
nampak di wajah mereka, sama seperti yang selalu Dimitri lakukan. Itu membuatku
sedih sebanyak air mata yang kukeluarkan; karena sangat mengingatkanku pada
Dimitri. Diantara mereka semua, Sonya yang hamil – yang datang di menit-menit
pertama setelah berita itu pecah –memiliki reaksi fisik yang paling terlihat. Dia
berlari tersedu-sedu ke kamarnya dan tidak keluar lagi.

Namun tidak perlu waktu lama bagi Yeva dan Olena untuk memunculkan aksi
mereka. Mereka berbicara dalam bahasa Rusia dengan cepat, jelas sedang
merencanakan sesuatu. Beberapa kali menelepon dan Viktoria bertugas untuk
mencari apa yang disuruh. Tidak satupun yang terlihat membutuhkan aku, jadi aku
lebih banyak berkeliling rumah dan mencoba untuk tidak ikut campur kegiatan
mereka. Aku menemukan diriku sendiri tengah mempelajari rak buku yang kulihat
sebelumnya, menjalankan tanganku sepanjang punggung buku kulit itu, Judulnya
dalam tulisan Cyrillic, tapi itu tidak masalah. Menyentuh buku-buku itu dan
membayangkan Dimitri pernah memeluknya dan membacanya membuatku merasa
semakin dekat dengannya.

“Sedang mencari bacaan ringan?” Sydney berjalan mendekat dan berdiri di


dampingku. Dia tidak berada disini sebelumnya tapi pasti sudah mendengar
beritanya.

“Sangat ringan, mengingat aku tidak mengerti satupun dari buku-buku ini,”
jawabku. Aku menunjuk dengan isyarat ke arah anggota keluarga yang sibuk. “Apa
yang terjadi disini?”

“Mereka sedang merencanakan pemakaman Dimitri,” Sydney menjelaskan. “Atau


sebenarnya acara mengenang dirinya.”

Aku tidak setuju, “Tapi ia tidak mati –“


“Shh.” Sydney memotong kaa-kataku dan isyarat tajam dan melirik khawatir ke arah
yang lain yang sedang buru-buru bekerja. “Jangan katakan itu.”

“Tapi itu benar,” aku mendesis balik.


Dia menganggukan kepalanya. “Tidak bagi mereka. Di luar sini ... di desa ini ... tidak
ada kata dalam keadaan di tengah-tengahnya. Kau hidup atau kau mati. Mereka
tidak akan mengakuinya sebagai salah satu dari ... makhluk itu.” Dia tidak bisa
menyembunyikan rasa jijik yang keluar dari suaranya. “Untuk semua maksud dan
tujuan, dia telah meninggal bagi mereka. Mereka akan berkabung dan
merelakannya. Begitu juga harusnya dirimu.” Aku tidak menyerangnya karena sikap
kasarnya karena aku tahu dia tidak bermaksud begitu. Begitulah cara ia
menyempaikannya.
duestinae89.blogspot.com
Masalahnya adalah, dalam keadaan di tengah-tengah itu sangat jelas bagiku, dan
tidak mungkin bagiku untuk melupakannya. Belum.

“Rose ...” Sydney memulai setelah beberapa detik keheningan. Dia tidak menatap
mataku. “Maaf.”

“Maksudmu, untuk Dimitri?”


“Ya ... aku tidak tahu. Aku tidak pernah benar-benar bersikap baik padamu.
Maksudku, aku tidak bersikap kalau aku merasa nyaman berada disekitar jenismu,
tapi kalian semua masih ... sebenarnya, bukan manusia, jelas sekali. Tapi ... aku tidak
tahu. Kalian masih punya perasaan; kalian masih mencintai dan terluka. Dan ketika
kita datang kesini, kau membawa berita mengerikan itu di dalam dirimu, dan aku
bahkan tidak membuatnya lebih mudah untukmu. Jadi aku minta maaf untuk semua
itu. dan aku minta maaf karena memikirkan hal buruk tentangmu.”

Awalnya, kupikir dia sedang membicarakan tentang pemikiran kalau aku adalah
iblis, tapi kemudian aku mengerti. Selama ini ia telah berpikir kalau aku benar-benar
datang kesini untuk menjadi pelacur-darah dan sekarang percaya kalau
menyampaikan berita kepada keluarga Dimitri adalah satu-satunya tujuanku. Aku
tidak mencoba untuk membenarkannya.

“Terimakasih, kau tidak bisa mengetahuinya. dan sejujurnya, jika aku berada di
posisimu ... entahlah. Aku rasa aku akan melakukan hal yang sama.”

“Tidak,” katanya. “Kau tidak akan melakukanya. Kau selalu baik kepada orang lain.”

Aku memberinya tatapan tidak masuk akal. “Pernahkah kau bepergian dengan orang
lain di beberapa hari terakhir ini? Di kampung halamanku, aku punya reputasi yakni
tidak selalu bisa bersikap baik. Aku punya pendirian dan aku tahu itu.”

Dia tersenyum. “Ya, kau punya. Tapi kau juga mengatakan hal yang sebenarnya
kepada orang-orang ketika kau harus melakukannya. Mengatakan kepada keluarga
Belikov apa yang telah kau lakukan ... entahlah, itu tentu sangat berat. Dan apa pun
yang kau katakan, kau bisa bersikap sopan dan menjauh agar membuat semua orang
merasa nyaman. Hampir sepanjang hari.”

Aku sedikit kaget. Begitukah aku terlihat? Perempuan jalang yang terburu-buru dan
mencoba untuk berpikir tentang perilakuku dengannya beberapa hari yang lalu. Aku
sudah sering saling bertahan dan menyerang dengannya, tapi diantara sikapku sejak
kami bertemu, aku harusnya bersikap ramah.

“Terimakasih,” kataku, tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan.


“Apa kau sudah melihat Abe? Ketika kau berkelilng kota?”
“Tidak,” kataku, menyadari kalau aku sudah terlupa dengan kabar penyelamat
misteriusku itu. “Haruskah aku melakukannya?”
“Kupikir dia akan menemukanmu.”
“Siapa dia? Mengapa ia menyelamatkan kita ketika kau mengatakan padanya kalau
aku sedang terluka?”
Sydney ragu-ragu dan kupikir aku akan memberikan usaha diam ntuk Alkemis
beberapa saan. Kemudian, setelah melirik sekeliling dengan khawatir, dia berkata
duestinae89.blogspot.com
dalam suara rendah, “Abe bukan bangsawan, tapi dia beanr-benar pria penting. Dia
juga bukan orang Rusia, tapi dia sering di negara ini, selalu dalam kodisi bisnis –
baik legal maupun ilegal, kurasa. Teman-temannya adalah kalangan penting kaum
Moroi dan terkadang dia terlihat mengontrol para Alkemis juga. Aku tahu dia
terlibat dalam proses pembuatan tato kami ... tapi bisnisnya lebih dalam dari pada
itu. Kami punya nama panggilan di belakang punggungnya ... Zmey.”

“Zma apa?” aku jarang mendengar kata itu. Terdengar seperti „zz‟ mungkin. Jelas
sekali belum pernah kudengar sebelumnya.

Dia memberiku senyum kecil di sela-sela kebingunganku. “Zmey dalam bahasa Rusia
berarti „ular‟. Tapi bukan sembarang ular.” Matanya manatap tajam saat ia
mempertimbangkan penjelasan yang lebih baik. “Seringkali nama itu digunakan
dalam banyak cerita mitos. Terkadang pahlawan ular raksasa yang berperang. Juga
ada beberapa cerita tentang para penyihir dengan darah ular yang mereka panggil.
Ular dari kebun surga? Yang membuat Hawa jatuh? Juga disebut Zmey.”

Aku merinding. Ok, cerita itu sedikit gila, tapi terlihat pas dengan tempat ini. Para
alkemis sepertinya memiliki ikatan dengan para pemimpin dan pemilik kekuasaan,
dan Abe rupanya memegang pengaruh besar pada mereka.

“Apakah Abe yang memintamu untuk mengikutiku ke Baia? Alasan para Alkemis
yang membuatmu sampai kesini?”

Lagi, dia terdiam, kemudian mengangguk. “Ya ... ketika aku menelepon di malam
kita ketika berada di St. Petersburg, aku bilang kalau ada yang sedang melakukan
pencarian. Abe memberi perintah melalui para Alkemis agar aku mendampingimu
hingga dia bisa bertemu dengan kita disini. Dia sepertinya sedang mencarimu untuk
kepentingan seseorang.”

Aku membeku. Ketakutanku berubah menjadi nyata. Orang-orang mencariku. Tapi


siapa? Jika Lissa yang menyuruh pencarian itu, aku pastilah bisa merasakannya
ketika aku mengunjungi pikirannya. Aku juga merasa kalau ini bukan tindakan
Adrian, tidak dari cara dia memperlihatkan rasa putus asanya dan ketidaktahuannya
tentang dimana aku berada. Ditambah lagi, dia terlihat menerima alasanku dalam
pencarian ini.

Jadi siapa yang sedang mencariku? Dan untuk alasan apa? Orang yang bernama Abe
ini terdengar seperti orang yang memiliki kedudukan tinggi – sekalipun ia adalah
seseorang yang terlibat dalam bisnis yang curang – seseorang yang mungkin
memiliki hubungan dekat dengan sang ratu atau orang lain yang sama hampir sama
pentingnya. Diakah yang memerintahkan untuk menemukanku dan membawaku
kembali? Atau – mempertimbangkan seberapa besarnya kebencian sang ratu padaku
– apakah dia diperintahkan untuk memastikan kalau aku tidak kembali? Apakah aku
ssedang berurusan dengan seorang pembunuh bayaran? Jelas sekali Sydney terlihat
menghargainya dengan campuran aneh antara ketakutan dan rasa hormat.

“Mungkin aku tidak ingin bertemu dengannya,” kataku.


duestinae89.blogspot.com
“Menurutku dia tidak akan menyakitimu. Maksudku, jika dia ingi melakukannya, dia
pasti sudah melakukannya. Tapi berhati-hatilah. Dia selalu memainkan beberapa
permainan dalam sekali waktu. Dan dia punya cukup perjanjian rahasia untuk
menandingi para Alkemis.”

“Jadi kau tidak mempercayainya?” Dia memberiku seringai menyedihkan saat ia


berbalik menjauh. “Kau lupa: aku tidak mempercayai satu pun dari kalian.”

Ketika Sydney menghilang, aku memutuskan untuk pergi keluar, jauh dari
penderitaan dan kegiatan di dalam rumah. Aku duduk di tangga paling atas di
serambi belakang, melihat Paul bermain. Dia sedang membangun sebuah benteng
untuk beberapa mainan tokoh aksinya. Ketika rasa sensitif terhadap kesedihan di
dalam keluarganya merebak, sangat sulit baginya untuk bisa memahami “kematian”
dari satu-satunya paman yang baru ia temui beberapa kali. Berita itu tidak berarti
banyak baginya, tidak seperti kami.

Dengan waktu yang cukup banyak dalam genggamanku di sepanjang sisa hari ini,
aku memutuskan untuk melakukan pemeriksaan cepat ke dalam kepala Lissa. Selain
diriku sendiri, aku penasaran tentang bagaimana keadaannya dengan Avery Lazar.

Ketika keinginan lisa sedang baik, dia masih memiliki rasa kuatir karena membawa
Avery bersamanya untuk makan siang. Namun sebelum semua kekhawatiran itu
berlanjut, dia secara terkejut merasa senang melihat Avery yang bisa berbaur dengan
sempurna, memesona Adrian dan Christian. Tak dapat disangkal, Adrian selalu
tertarik dengan wanita cantik manapun. Christian lebih sulit untuk luluh, tapi dia
bahkan terlihat mulai menyukai Avery – mungkin karena Avery terus saja menggoda
Adrian. Siapapun yang bisa membuat lelucon atas Adrian memiliki peringkat tinggi
dalam daftar Christian.

“Jadi, jelaskan,” kata Avery, memainkan makanan di garpunya. “Kau hanya, apa,
berkeliling di akademi ini seharian? Apa kau mencoba untuk mengulang pengalaman
masa SMA mu?”

“Tidak mengulang,” jawab Adrian angkuh. “Aku jelas dulu sudah menguasai
sekolahku. Kata-kataku adalah titah dan diriku begitu dikagumi – semua itu
bukanlah hal yang mengejutkan.” Disampingnya, Christian tersedak makanannya.

“Jadi ... kau sedang mencoba untuk menghidupkan kembali masa-masa berjayamu
itu. Semua itu sudah hilang berlalu sejak hal itu terjadi, kan?”

“Tidak seperti itu,” kata Adrian. “Aku seperti anggur yang bagus. Semakin enak
seiring bertambahnya usia. Yang terbaik yang akan datang.”

“Sepertinya hal itu akan semakin tua setelah beberapa lama,” kata Avery, sepertinya
tidak terpengaruh dengan pemaksaan pengibaratan anggur. “Aku jelas sekali bosan,
dan bahkan menghabiskan sebagian waktuku membantu ayahku.”

“Adrian tidur hampir sepanjang waktu,” catat Lissa, mencoba untuk tetap
menunjukkan wajah datarnya.
duestinae89.blogspot.com
“Jadi dia sebenarnya tidak perlu khawatir untuk menemukan sesuatu.”

“Hey, aku menghabiskan banyak dari porsi waktuku yang berarti untuk
membantumu berlatih misteri dari kekuatan roh.” Adrian mengingatkannya.

Avery memajukan tubuhnya, penasaran memenuhi wajah cantiknya. “Jadi itu benar-
benar nyata? Aku pernah mendengar beberapa cerita tentang roh ... tentang
bagaimana kalian bisa menyembuhkan orang?”

Kata-kata itu mempengaruhi Lisa untuk merespon. Dia tidak yakin kalau dia pernah
menggunakan sihirnya untuk menjadi bahan pembicaraan terbuka sekarang.
“Diantara hal-hal lain. Kami masih mencobanya.”

Adrian lebih bernafsu untuk membahasnya dibandingkan Lissa – mungkin dengan


harapan untuk menarik perhatian Avery – dan memberikan ringkasan cepat dari
kemampuan siir, seperti aura dan kompulsi. “Dan,” dia menambakan, “Aku bisa
mengunjungi orang-orang dalam mimpi mereka.”

Christian mengangkat tangan. “Berhenti. Aku bisa merasakan akan ada komentar
tentang bagaimana wanita-wanita sudah bermimpi tentang dirimu. Aku baru maka,
kau tau!”

“Aku tidak berencana untuk mengatakan al itu,” kata Adrian. Tapi dia terlihat seola
dia berharap kalau dialah yang pertama kali memikirkan ide candaan itu. Aku tidak
bisa menahan rasa geliku. Adrian selalu terlihat kurang ajar dan bermulut usil di
depan umum ... dan kemudian, dalam mimpiku, dia menunjukkan sisi serius dan
suka khawatir. Dia lebih rumit dari pada yang dipikirkan orang lain.

Avery menatap lantai. “Teman. Dulunya kupikir menggunakan sihir udara itu keren.
Kurasa sekarang tidak lagi.” Tiba-tiba angsin sepoi-sepoi meniup rambut
belakangnya, membuatnya terlihat seperti ketika dia sedang berpose untuk
pemotretan pakaian renang. Dia memberikan senyuman mempesona. Yang kurang
anyalah fotografernya saja.

Suara bel membuat mereka semua berdiri. Cristian menyadari kalau ia tela
meninggalkan PR nya di kelas lain dan bergegas pergi untuk mengambilnya –
setelah memberikan ciuman perpisahan kepada Lissa tentu saja.

Kepergian Adrian juga hampir sama cepatnya. “Para guru akan mulai memberikan
pandangan kotor padaku jika aku berada disekitar sini ketika kelas dimulai.” Dia
memberikan Lissa dan Avery salam membungkuk kecil.
“Sampai jumpa di lain waktu, gadis-gadis.”

Avery, yanng tidak peduli tentang bagaimana pikiran para guru, berjalan dengan
Lissa ke kelasnya selanjutnya. Wajah gadis yang lebih tua terlihat berpikir. “Jadi ...
kau benar-benar bersama Christian?” Jika Avery melihat separuh hal yang sudah
kulihar antara Christian dan Lissa lakukan melalui ikatan kami, pasti tidak akan ada
pertanyaan.

Lissa tertawa. “Ya, kenapa?”


duestinae89.blogspot.com
Avery ragu-ragu, kesal dengan rasa penasaran Lissa. “Sebenarnya ... aku mendengar
kalau kau ada hubungan dengan Adrian.”

Lissa hampir berhenti berjalan. “Dimana kau mendengar hal itu?”

“Di istana. Sang ratu bilang betapa bahagiannya dia karena kalian berdua menjadi
pasangan dan bagaimana kalian selalu bersama.”

Lissa mengerang. “Itu karena kapanpun aku pergi ke istana, dia mengundang Adrian
juga dan kemudian mengirim kami berdua untuk melakukan hal-hal untuk dirinya.
Itu terjadi karena kami tidak punya pilihan ... nah, maksudku jangansalah paham
padaku. Aku tidak keberatan menghabiskan waktu dengannya, tapi alasan mengapa
kami selalu bersama adalah karena Tatiana yang mengaturnya.”

“Meskipun begitu Ratu terlihat begitu menyukaimu. Dia membiarakanmu sepanjang


waktu, tentang betapa betapa banyak potesi yang kau miliki dan betapa bangganya ia
padamu.”

“Kurasa dia bangga karena bisa memanipulasi diriku. Ppergia kesana itu
menyakitkan. Dia jelas juga mengabaikan kenyataan kalau aku berpacaran dengan
Christian atau selalu mengambil kesempatan kapanpun untuk bisa masuk menghina
Christian.” Ratu Tatiana, sama seperti yang lain, tidak bisa memaafkan orang tua
Christian yang secara sukarela berubah menjadi Strigoi.

“Maaf,” kata Avery, terlihat seolah dia sangat merasa bersalah. “Aku tidak
bermaksud membawa tema pembicaraan yang buruk seperti itu. Aku anya ingin tahu
apakan Adrian belum punya pacar atau tidak, hanya itu.”

Lissa tidak marah pada Avery. Kemarahannya sudah berubah untuk sang ratu, saat
bagaimana ia mengira kalau setiap orang akan bertindak seperti yang ia inginkan
dan berdansa saat ia memerintahkannya. Dunia Moroi memang dipimpin oleh
seorang raja atau seorang ratu sejak pertama kali, dan terkadang, Lissa berpikir kala
sudah saatnya untuk berubah. Mereka memerlukan sebuah sistem dimana setiap
orang memiliki kesamaan hak untu bicara – bangsawan atau bukan bangsawan.
Bahkan para dhampir.

Semakin banya dia memikirkan hal ini, semakin bertambah pula dia merasa
emosinya memaku dirinya, kemarahan danrasa frustasi membara yang sebenarnya
lebih terlihat seperti diriku daripada dirinya. Rasa ini membuat Lissa terkadang
ingin berteriak, berjalan ke arah Tatiana dan mengatakan padanya kalau perjanjian
batal. Tidak ada kampus manapun yang sepadan dengan semua ini. Bahkan
mungkin dia akan mengatakan pada Tatiana kalau ingilah waktunya untuk revolusi,
saatnya untuk menggulingkan keterbelakangan Moroi – Lissa berkedip, heran
melihat dirinya sendiri yang gemetar. Darimana datangnya emosi itu? Kemarahan
pada Tatiana adalah satu hal, tapi semua ini ...? Dia belum pernah kehilangan
kontrol dalam masalah amarahnya sejak pertama kali menggunakan roh. Dengan
menarik nafas yang dalam, dia mencoba untuk menggunakan beberapa teknik yang
sudah ia pelajari untuk menenangkan dirinya sehingga Avery tidak akan mengetahui
tentang kegilaannya yang hampir muncul.
duestinae89.blogspot.com
“Aku hanya tidak suka orang-orang yang membicarakanku, hanya itu,” kata Lissa
akhirnya.
Avery tidak terlihat menyadari perubahan emosi Lissa. “Nah, jika ini membuatmu
merasa lebih baik, tidak semua orang berpikir hal itu tentang dirimu. Aku pernah
bertemu seorang gadis ... Mia? Ya, itulah namanya. Hanya bukan bangsawan.” Nada
suara berbeda dalam ucapan Avery menunjukkan kalau ia memiliki pandangan yang
sama dengan sebagian besar bangsawan lain terhadap Moroi „biasa‟.

“Dia menertawakan kabar tentang kebersamaan kau dan Adrian. Katanya hal itu
sangat konyol.” Lissa hampir tersenyum karena itu. Mia pernah menjadi saingan
Lissa dan merupakan seorang cewek sombong egois. Tapi setelah Strigoi membunuh
ibunya, Mia berubah menjadi galak, patuh, yang membuatku dan Lissa merasa
sangat senang. Mia tinggal di istana dengan ayahnya, diam-diam berlatih bertarung
sehingga dia bisa melawan Strigoi suatu saat nanti.

“Oh,” kata Avery tiba-tiba. “Itu Simon. Aku harus pergi.” Lissa menatap keseberang
aula dan melihat pengawal Avery yang keras itu. Simon mungkin tidak seperti
saudara laki-laki Avery, Reed, tapi dia masih memiliki kesamaan dalam hal kaku dan
masam ketika pertamakali Lissa bertemu dengannya. Meskipun begitu, Avery
terlihat baik-baik saja bersama dengannya.

“Baiklah,” jawab Lissa. “Aku akan menemuimu nanti.”


“Oh tentu saja,” jawab Avery lalu mulai berbaloik.

“Oh, dan Avery?”


Avery melirik Lissa, “Ya?”
“Adrian masih sendiri.”

Avery hanya menjawab dengan seringaian cepat sebelum dia menyusul untuk
bergabung bersama Simon. Kembali ke keluarga Belikova di Baia, acara mengenang
akan dimulai. Para tetangga dan teman-teman, semua dhampir, perlahan
berdatangan, kebanyakan membaw amakanan. Ini adalah saat pertamaku berada
dalam komunitas dhampir, meskipun tidak terlihat semisterius yang pernah
digambarkan Sydney. Dapur berubah menjadi ruang perjamuan, dengan setiap
permukaan meja pajangan dan meja besar ditutupi oleh makanan. Beberapa
makanan yang aku kenal, dan ada banyak makanan penutup – kue-kue kering
ditutupi kacang dan membeku yang menyebarkan aroma baru keluar dari
panggangan. Beberapa makan belum pernah aku lihat sebelumnya dan tidak yakin
kalau aku ingin melihatnya lagi. Khususnya ada semangkuk kol berlumpur yang
membuatku untuk menolaknya. Tapi sebelum kami makan, setiap orang pergi keluar
dan berkumpul dalam lingkaran di halaman belakang. Ini adalah tempat satu-
satunya yang bisa menampung orang sebanyak ini. Seorang pendeta kemudian
datang, seorang manusia. Membuatku terkejut sedikit, tapi aku seharusnya
bertindak wajar ketika tinggal di kota manusia, dhampir akan mendatangi gereja
manusia. Dan bagi sebagian besar manusia, dhampir terlihat sama seperti mereka,
jadi pendeta itu tidak ragu kalau dia sedang melakukan panggilan dari rumah seperti
biasa.
duestinae89.blogspot.com
Segelintir Moroi yang aku lihat di kota juga berdatangan, tapi mereka juga bisa lebih
atau kurang mirip dengan manusia – pucat – jika mereka bisa berhati-hati dengan
taring mereka. Manusia tidak berharap untuk bisa melihat dunia supernatural, jadi
pikiran mereka jarang menjadikannya sebagai pilihan, meskipun ketika hal tersebut
tepat berada di depan hidung mereka sendiri.

Semuaorang menjadi hening. Matahari sudah terbenam sekarang, dengan warna


jingga api terbakar dia langit barat, dan bayangan jatuh diantara kami semua.
Pendeta memulai acara pemakaman dalam bahasa Rusia, menyanyikan lagu-lagu
pujian yang terdengar wajar di halaman yang gelap.

Semua acara gereja yang pernah aku datangi dalam bahasa Inggris, tapi aku bisa
melihat bagaimana semua ini terasa sama. Setiap kali, mereka yang berkumpul akan
mengaminkan diri. Aku tidak memahami tata caranya, jadi aku hanya melihat dan
menunggu, membiarkan suara sedih pendeta mengisi jiwaku. Perasaanku untuk
Dimitri melilit dalam tubuhku seolah sebuah badai membesar dan aku mencoba
keras untuk menyimpannya, menguncinya dalam hatiku. ketika acara itu akhirnya
selesai, ketegangan yang menakutkan yang telah menelan orang-orang itu
menghilang. Orang-orang bergerak lagi, memeluk satu persatu keluarga Belikov dan
menjabat tangan pendeta. Dia kemudia pergi setelah itu.

Makanan akhirnya menyusul, Piring-piring terisi terus dan masing-masing orang


duduk diamanpun mereka bisa menemukan tempat yang nyaman, baik di dalam
rumah atau di halaman belakang. Tidak satupun dari tamu-tamu itu yang benar-
benar mengenalku dan keluarga Dimitri terlalu sibuk untuk memperhatikanku.
Mereka berlari kesanakemari dan mencoba untuk membuat semuara orang merasa
nyaman.

Sydney bersamaku hampir disepanjang waktu, dan selama pembicaraaan ringan


kami, aku merasa nyaman dengan kehadirannya. Kami duduk di lantai ruang tamu,
bersandar di dinding dekat rak buku. Dia memilah-milah makanannya, seperti biasa,
yang membuatku tersenyum. Ada sesuatu yang menenangkan melihat kebiasaan
yang familiar itu.

Ketika makan malam selesai, orang-orang kemudian berbincang-bincang dalam


kelompok-kelompok kecil. Aku tidak bisa mengerti satupun yang mereka katakan,
tapi aku tetap mendengar namannya disebut-sebut: Dimitri, Dimitri.
mengingatkanku pada bisikkan yang bisa kumengerti datang dari para hantu selama
kunjungan mereka. Rasanya seperti ditindas dan menyesakkan, kekuatan dari
namanya menekan jantungku. Dimitri, Dimitri. Setelah beberapa saat, semua itu
berkembang semakin banyak. Sydney melangkah pergi sebentar, jadi aku pergi
keluar untuk mendapatkan udara segar. Beberapa orang membuat api unggung kecil
dan duduk mengelilinginya, masih membicarakan Dimitri, jadi aku pergi ke arah
halaman depan. Aku berjalan di pinggir jalan, tidak ingin berjalan terlalu jauh.
Suasana malam terasa hangat dan bersih, dengan bulan danbintang-bintang
terbakar terang di kegelapan yang membentang di atasku.

Perasaanku kusut dan sekarang ketika aku cukup jauh dari yang lain, aku
membiarkan sedikit meledakkan emosiku yang terpendam, keluar bersama air mata
sunyi yang keluar dari pipiku. Ketika aku berada di luar berjarak dua rumah dari
duestinae89.blogspot.com
rumah keluarga Belikov, aku duduk di trotoar, beristirahat dan menikmati
keheningan di sekitarku. Namun, kedamaikan tidak berumur panjang,
pendengaranku yang tajam menangkap suara yang datang dari rumah keluarga
Belikov. Tiga sosok muncul. Satu, tinggi dan ramping, seorang Moroi, dan yang lain
adalah dhampir. Aku menatap mereka ketika sosok bertiga itu berhenti di
hadapanku. Tidak mengganggu secara formal, aku menyadari diamana aku sekarang
berada, menatap kedua mata gelap Moroi itu. Aku tidak menyadari kelompok ini di
acara tadi – tapi aku mengenali Moroi ini dari tempat lain. Aku memberikan sebuah
senyumah setengah masam.

“Abe Mazur, ku kira.”


duestinae89.blogspot.com

Sembilan
“KUPIKIR KAU ITU CUMA MIMPI,” KATAKU.
Mereka semua tetap berdiri, para dhampir menyebar di sekeliling Moroi mereka
sebagai bentuk formasi perlindungan. Abe adalah wajah yang paling asing yang aku
lihat setelah aku masuk dan keluar dari kesadaranku setelah pertempuran di
lumbung kala itu. Dia lebih tua dariku, hampir sebaya dengan Olena. Rambutnya
hitam dan seperti bulu kambing, dan mengenai kulit kecoklatannya yang ia miliki.
Jika kau pernah melihat orang-orang berkulit cokelat atau hitam sedang sakit dan
menjadi pucat, nah hampir seperti itulah kulitnya terlihat. Ada beberapa pigmen
warna dalam kulitnya, tapi ditegaskan dengan warna pucat yang intens. Yang paling
mencengangkan darinya adalah pakaiannya. Dia mengenakan jas panjang berwarna
gelap yang seolah meneriakkan kata „uang‟, dipasangkan dengan syal kashmir
berwarna merah. Di bawahnya, aku bisa melihat sedikit warna emas, sebuah rantai
yang dicocokkan dengan anting bulat yang dia pakai di salah satu telinganya. Kesan
awalku ketika melihat flamboyan ini adalah seorang bajak laut atau germo. Sesaat
kemudian, aku mengubah pikiranku. Sesuatu tentang dirinya mengatakan kalau dia
adalah jenis lelaki yang bisa menghancurkan tempurung lutut siapa saja yang
menghalangi jalannya.

“Mimpi, eh? Itu, ...” Moroi itu berbicara dengan sedikit senyum yang tersembunyi,
“... adalah sesuatu yang jarang kudengar. Sebenarnya, tidak pernah sama sekali.” Dia
berpikir ulang. “Aku kadang-kadang muncul dalam mimpi buruk orang-orang.” Dia
bukan orang Amerika ataupun Rusia; aku tidak bisa memastikan asal logat
bicaranya.

Apa dia sedang mencoba membuatku terpesona atau mengintimidasiku dengan


reputasi buruknya yang besar? Sydney tidak pernah merasa takut padanya, tentu
saja, tapi dia jelas sekali waspada terhadap orang ini.

“Nah, aku duga kau sudah tahu siapa aku,” kataku. “Jadi, pertanyaannya sekarang
adalah, apa yang sedang kau lakukan disini?”

“Tidak,” katanya, senyumannya mengeras. “Pertanyaannya adalah, apa yang kau


lakukan disini?”

Aku menunjuk ke belakang, ke arah rumah, mencoba bereaksi setenang mungkin.


“Aku akan pergi ke pemakaman.”

“Bukan itu alasan mengapa kau datang ke Rusia.”

“Aku datang ke Rusia untuk menyampaikan kepada keluarga Belikov kalau Dimitri
sudah meninggal, melihat tidak ada yang merasa ingin melakukannya.” Alasan itu
menjadi penjelasan yang berguna bagiku untuk berada disini, tapi ketika Abe
memperhatikanku, rasa merinding menyapu punggungku, sama seperti ketika Yeva
menatapku. Sama seperti wanita tua gila itu, dia tidak mempercayaiku, dan lagi-lagi
aku merasakan ujung bahaya dari kebalikan kepribadian riangnya.
duestinae89.blogspot.com
Abe menganggukan kepalanya, dan sekarang senyumannya menghilang sama sekali.
“Itu juga bukan alasannya. Jangan berbohong padaku, gadis kecil.”

Aku merasakan kemarahanku naik. “Dan jangan menanyaiku, orang tua. Tidak
sampai kau siap mengatakan padaku mengapa kau dan asistenmu ini
membahayakan nyawa kalian dengan menyetir turun ke jalan untuk menjemput
Sydney dan aku.” Para dhampir Abe menegang saat aku menyebutkan kata „orang
tua‟, tapi aku terkejut, dia ternyata tersenyum lagi – meski senyumannya tidak
mencapai kedua matanya.

“Mungkin aku hanya ingin menolong.”


“Tidak dari apa yang aku dengar. Kau lah yang menyuruh para Alkemis untuk
mengirimkan Sydney bersama kesini.”

“Oh?” Dia menaikkan alis matanya. “Diakah yang mengatakan hal itu? Mmmm ... itu
adalah bagian dari perilaku buruk yang ia miliki. Atasannya tidak akan bertidak
seperti itu. Tidak sama sekali.”

Oh, sial. Aku berbicara tanpa berpikir. Aku tidak ingin Sydney terlibat masalah. Jika
Abe benar-benar sejenis mafia kaum Moroi – bagaimana Sydney memanggilnnya?
Zmey? Sang Ular? – aku tidak ragu kalau dia bisa berbicara dengan Alkemis lain
untuk membuat hidup Sydney semakin susah.

“Aku memaksanya untuk mengatakan hal itu,” aku berbohong. “Aku ... aku
mengancamnya di kereta. Bukan hal yang sulit. Dia sudah takut sampai mati
padaku.”

“Aku tidak ragu kalau ia takut. Mereka semua takut pada kita, terikat berabad-abad
dengan tradisi dan bersembuyi di belakang salib mereka untuk melindungi diri -
meskipun kelebihan mereka di dapat dari tato-tato mereka. Dalam banyak hal,
mereka memiliki kesamaan sifat denganmu sebagai dhampir – bukanlah hal yang
penting.” Dia menatap kosong ke arah bintang ketika ia berbicara, seperti seorang
filsuf yang sedang merenungkan misteri dari alam semesta. Entah bagaimana,
membuatku semakin marah. Dia menanggapi semua ini sebagai lelucon, ketika
sangat jelas kalau dia sedang memiliki beberapa rencana yang berkaitan dengan
diriku. Aku tidak suka menjadi bagian dari rencana orang lain – khususnya ketika
aku tidak tahu apa rencananya.

“Ya, ya, aku yakin kita bisa mengobrol tentang Alkemis dan bagaimana kau
mengatur mereka setiap malam ,” tukasku. “Tapi aku masih ingin tahu apa yang kau
inginkan dariku.”

“Tidak ada,” katanya dengan mudah.


“Tidak ada? Kau melalui banyak masalah untuk memerangkapku bersama Sydney
dan mengikuti kesini tanpa alasan.”

Dia kembali menunduk dan ada kilatan berbahaya dari matanya. “Kau tidak menarik
bagiku. Aku punya bisnis sendiri yang akan ku kerjakan. Aku datang atas nama
orang yang tertarik padamu.”
duestinae89.blogspot.com
Aku menengang, dan akhirnya, ketakutan yang sebenarnya mengaliri diriku. Sial.
Ada yang mencariku. Tapi siapa? Lissa? Adrian? Tatiana? Lagi-lagi, yang terakhir
membuatku gugup. Yang lain akan mencariku karena mereka peduli padaku. Tapi
Tatiana ... Tatiana takut aku kawin lari dengan Adrian. Sekali lagi aku memikirkan
kalau dia menginginkan aku ditemukan, dikarenakan dia ingin yakin kalau aku tidak
akan kembali. Bagiku Abe adalah sejenis orang yang bisa menghilangkan keberadaan
orang lain.

“Dan apa yang mereka inginkan? Apa mereka ingin aku pulang?” tanyaku, mencoba
untuk tidak terlihat takut. “Apa kau pikir kau hanya perlu datang kesini dan bisa
menarikku pulang ke Amerika?”

Senyum rahasia Abe kembali. “Kau pikir aku hanya akan menarikmu kembali?”
“Yah,” ejekku, kembali tanpa berpikir, “Kau tidak bisa melakukannya sendiri. Kalian
semua yang disini bisa. Sebenarnya, mungkin. Aku mungkin bisa melawan mereka
semua.”

Abe tertawa nyaring untuk pertama kalinya, suara dari orang kaya dengan nada
rendah karena benar-benar merasa geli. “Kau memang hidup dengan reputasi
kurang ajarmu. Menarik.” Bagus. Abe mungkin saja memiliki seluruh informasi
tentang diriku disuatu tempat. Dia mungkin saja tahu sarapan apa yang aku suka.
“Aku akan melakukan pertukaran denganmu. Katakan mengapa kau kesini, dan aku
akan mengatakan padamu mengapa aku kesini.”

“Aku sudah mengatakannya padamu.” Sekilas, tawa itu menghilang. Dia mengambil
langkah mendekati tempat aku duduk, dan aku melihat para pengawalnya
meneggang.
“Dan aku sudah bilang padamu untuk tidak berbohong padaku. Kau punya alasan
mengapa kau ada disini. Aku perlu tahu apa itu.”

“Rose? Bisakah kau kemari?” Dari rumah keluarga Belikov, suara jernih Viktoria
memecah malam. Aku melirik ke belakang, kulihat ia berdiri di depan pintu masuk.
Tiba-tiba, aku ingin segera menjauh dari Abe. Ada sesuatu yang mengerikan di balik
wajah ceria dan mencolok itu dan aku tidak ingin menghabiskan menit-menit yang
lain bersamanya. Dengan melompat bangun, aku mulai berbalik menuju rumah,
setengah berharap kalau lebih baik para pengawalnya datang untuk menculikku
daripada kata-kata Abe menjadi kebenaran. Orang-orang itu tetap diam ditempat
mereka, tapi mata mereka mengawasiku. Senyum aneh Abe kembali ke wajahnya.

“Maaf, aku tidak bisa tinggal dan mengobrol,” kataku.


“Tidak apa-apa,” jawabnya anggun. “Kita akan punya waktu lagi nanti.”
“Sepertinya tidak,” kataku. Dia tertawa, dan aku tergesa-gesa mengikuti Viktoria ke
rumah, merasa tidak aman sampai aku bisa menutup pintu.

“Aku tidak suka lelaki itu.”


“Abe?” tanyanya. “Kupikir dia temanmu.”
“Tidak. Dia sejenis mafia, kan?”
“Mungkin saja,” katanya, seolah itu bukan masalah. “Tapi dialah alasan mengapa
kau ada disini.”
duestinae89.blogspot.com
“Ya, aku tahu tentang dia yang datang menyelamatkan kami.” Viktoria menggeleng.

“Tidak, maksudku kesini. Kurasa ketika kau ada di mobil, kau terus saja berkata,
„Belikov, Belikov‟. Abe menduga kau mengenal kami. Itulah mengapa ia
membawamu ke rumah kami.”

Awalnya hal itulah yang mengherankanku. Aku tengah memimpikan Dimitri, jadi
tentu saja aku menyebutkan nama terakhirnya. Tapi aku tidak tahu bagaimana aku
bisa berakhir disini. Kupikir karena Olena memiliki kemampuan perawatan.
Kemudian Viktoria menambahkan hal yang paling mengejutkan. “Ketika dia sadar
kami tidak mengenalmu, dia ingin membawamu ketempat yang lain – tapi nenek
bilang kami harus menjagamu. Kurasa dia mendapatkan mimpi kedatanganmu
kepada kami sebelumnya.”

“Apa?” Yeva yang gila dan mengerikan? “Yeva memimpikan aku?”

Viktoria mengangguk. “Itu adalah kemampuan yang ia miliki. Apa kau yakin kau
tidak mengenal Abe? Waktunya terlalu berharga untuk berada disini tanpa alasan.”

Olena buru-buru menghampiri kami sebelum aku bisa menjawab. Dia menangkap
tanganku.
“Kami mencarimu. Kenapa kamu pergi sangat lama?” Pertanyaan ini langsung
ditujukan kepada Viktoria.

“Abe sedang –“
Olena menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Ayo. Semua orang menunggu.”

“Untuk apa?” tanyaku, membiarkan dia menarikku melalui rumah menuju halaman
belakang.
“Aku harusnya mengatakannya padamu,” jelas Viktoria, bergegas menyusul. “Ini
bagian dimana setiap orang duduk dan mengingat Dimitri dengan menceritakan
dirinya.”

“Tidak seorangpun yang pernah melihatnya dalam waktu yang lama, kami tidak tahu
apa saja yang terjadi padanya,” kata Olena. “Kami ingin kau mengatakannya pada
kami.”

Aku tersentak. Aku? Aku menolak hal itu, khususnya ketika kami muncul di halaman
dan aku melihat semua wajah yang mengelilingi api unggun. Aku tidak mengenal
satu pun dari mereka. Bagaimana bisa aku membicarakan Dimitri? Bagaimana bisa
aku menunjukkan apa yang sesungguhnya ada dalam hatiku? Setiap orang terlihat
mengabur satu sama lain, dan kupikir aku akan pingsan.

Untuk sementara, tidak satupun dari mereka menyadari kehadiranku. Karolina


sedang berbicara, bayinya ada ditangannya. Setiap kali dia berhenti berbicara, yang
lain akan tertawa.

Viktoria duduk di atas selimut yang menutupi tanah dan menarikku di sampingnya.
Sydney bergabung bersama kami setelah itu.
duestinae89.blogspot.com
“Apa yang mereka bicarakn?” Aku berbisik. Viktoria mendengarkan kakaknya
berbicara untuk beberapa saat dan kemudian bersandar padaku.

“Dia sedang menceritakan Dimitri saat masih kecil, bagaimana dia selalu memohon
kepadanya dan teman-temannya agar diperbolehkan bermain bersama mereka.
Umurnya enam tahun dan mereka semua berumur delapan tahun dan tidak ingin dia
ikut mereka.” Viktoria berhenti lagi untuk mendengarkan bagian selanjutnya dari
cerita itu. “akhirnya, Karolina mengatakan padanya dia bisa bergabung dengan
mereka apabila dia setuju untuk menikahi boneka mereka. Jadi Karolina dan teman-
temannya mendandani ia dan boneka-boneka itu berkali-kali dan terus mengadakan
upacara pernikahan. Dimitri menikah paling tidak sepuluh kali saat itu.”

Aku tidak bisa menahan tawa saat aku membayangkan, Dimitri yang seksi
membiarkan dirinya didandani oleh kakaknya. Dia mungkin menghadapi acara
pernikahan dengan boneka itu seserius dan setenang ketika dia menjalankan tugas
pengawal. Yang lain berbicara, dan aku mencoba memahami terjemahannya. Semua
cerita berisikan kebaikan dan kekuatan watak Dimitri. Bahkan ketika tidak
berhadapan dengan yang tidak mati, Dimitri selalu ada disana untuk menolong yang
membutuhkan. Hampir semua orang bisa menceritakan kembali kapan Dimitri
melangkah untuk menolong orang lain, keluar seusuai keyakinannya untuk
melakukan segalan kebenaran yang ia percayai, bahkan dalam situasi yang beresiko
untuknya sekalipun. Hal itu tidak mengejutkanku. Dimitri selalu melakukan hal yang
benar.

Dan itulah sikapnya yang membuatku begitu mencintainya. Aku memiliki sikap yang
mirip dengannya. Aku juga akan segera turun tangan ketika orang lain
membutuhkanku, kadang-kadang ketika sebenarnya aku tidak perlu ikut terlibat.
Yang lain mangangapku gila karena hal itu, tapi Dimitri mengerti diriku. Dia selalu
bisa memahamiku, dan bagian dimana kami harus bekerja sama adalah bagaimana
cara mengendalikan emosi dengan alasan dan perhitungan yang tepat yang
merupakan kebutuhan menurutkan kata hati dan bisa menjatuhkan kami dalam
situasi berbahaya. Aku merasa bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang bisa
mengerti aku sepertinya dirinya.

Aku tidak menyadari betapa kuat air mata yang turun di pipiku hingga semua orang
menatapku. Awalnya, kupikir mereka menganggapku gila karena menangis, tapi
kemudian aku sadar kalau seseorang sudah menanyakan satu pertanyaan padaku.

“Mereka ingin kau menceritakan tentang Dimitri di hari-hari terakhirnya,” kata


Viktoria. “Katakan pada kami seusatu tentang dirinya. Apa yang telah ia lakukan.
Bagaimana ia terlihat.”

Aku mengenakan lengan bajuku untuk membersihkan wajahku dan memalingkan


pandanganku, fokus pada api unggun. Aku pernah berbicara di hadapan orang lain
tanpa ragu-ragu sebelumnya, tapi kali ini berbeda.

“Aku ... aku tidak bisa,” kataku pada Viktoria, suaraku tegang dan lembut. “ Aku
tidak bisa membicarakan dirinya.” Dia meremas tanganku.
duestinae89.blogspot.com
“Tolonglah. Mereka perlu mendengar cerita tentang dirinya. Mereka harus tahu.
Cukup ceritakan apapun pada kami. Bagaimana ia terlihat?”

“Dia .... dia saudaramu. Kau tahu.”


“Ya,” katanya lembut. “Tapi kami ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang
dirinya.”

Mataku masih terasa berada dalam api, memandang bagaimana kobaran api unggun
menari-nari dan berganti warna dari jingga ke biru. “Dia ... Dia adalah laki-laki
terbaik yang pernah aku temui.”

Aku berhenti untuk menenangkan diriku sendiri dan Viktoria menggunakan


kesempatan itu untuk menerjemahkan kata-kataku ke dalam bahasa Rusia. “Dan dia
adalah satu dari penjaga terbaik. Maksudku, dia lebih muda jika dibandingkan
dengan mereka kebanyakan, tapi semua orang tahu siapa dirinya. Mereka semua
tahu catatan keberhasilannya, dan banyak sekali orang-orang yang mengandalkan
sarannya. Mereka memanggilnya sang Dewa. Dan kapanpun pertempuran terjadi ...
atau bahaya ... dia selalau menjadi yang pertama berada disana. Dia tidak pernah
lari. Dan beberapa bulan yang lalu, ketika sekolah kami diserang ...” Aku merasa
tercekik ketika membicarakannya. Keluara Belikov sudah pernah mengatakan kalau
mereka mengetahui penyerangan itu – kalau semua orang mengetahuinya – dan dari
semua wajah yang ada disini, itu benar. Aku tidak ingin menguraikan cerita malam
itu, hal mengerikan yang aku lihat.

“Malam itu,” aku melanjutkan, “Dimitri bergegas menghadapi Strigoi. Dia dan aku
bersama-sama ketika kami sadar kalau mereka menyerang. Aku ingin tinggal dan
menolongnya, tapi dia tidak membiarkanku. Dia hanya memintaku untuk pergi,
untuk berlari dan memperingatkan yang lain. Dan dia tinggal di belakang – tanpa
tahu berapa banyak Strigoi yang harus ia hadapi selama aku pergi meminta bantuan.
Aku masih tidak tahu berapa banyak ia sudah berkelahi – tapi mereka bergerombol.
Dan dia menghadapi mereka semua sendirian.”

Aku memberanikan diri menatap wajah-wajah di sekelilingku. Semua orang diam


dan tidak bergerak sehingga membuatku penasaran apakah mereka bernafas atau
tidak. “Itu sangat berat bagiku,” kataku pada mereka. Tanpa sadar, suaraku jatuh
menjadi bisikan saat mengucapkan hal itu.

Aku harus mengulangnya lebih keras lagi. “Itu sangat berat bagiku. Aku tidak ingin
meninggalkannya, tapi aku tahu aku harus melakukannya. Dia sudah mengajariku
banyak hal, tapi satu hal terbesar yang ia ajarkan adalah melindungi yang lain.
Adalah tugasku untuk memperingatkan yang lain, meskipun aku ingin tinggal
bersamanya. Sepanjang jalan, hatiku terus berkata, „berbalik, berbalik. Kembali
kepadanya!‟ Tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan – dan aku juga selalu tahu
ada bagian dari dirinya yang mencoba membuatku aman. Dan jika peran kami
bertukar pun ... aku akan melakukan hal yang sama untuk menyuruhnya lari juga.”

Aku menarik nafas, kaget karena aku menunjukkan begitu banyak perasaanku. Aku
kembali pada tujuanku. “Meskipun ketika penjaga yang lain bergabung dengannya,
Dimitri tidak pernah mundur. Dia malah lebih banyak menghadapi Strigoi
duestinae89.blogspot.com
dibandingkan yang lain.” Christian dan aku sebenarnya yang melakukan
pembunuhan terbanyak. “Dia ... dia sangat luar biasa.”

Di sisa cerita, aku mengatakan pada mereka apa yang sudah kuceritakan pada
keluarga Belikov. Hanya saja kali ini aku sebenarnya berusaha untuk menjelaskan
sesedikit mungkin, mengatakan cerita yang samar tentang bagaimana berani dan
hebatnya ia. Kata-kata itu menyakiti ku ketika aku berbicara, dan hampir terasa lega
membiarkan nya diucapkan. Aku terus menjaga kenangan di malam itu untuk
berada dekat denganku. Tapi akhirnya, aku harus menceritakan pada mereka
tentang gua itu. Dan itulah ... itulah saat terburuk.

“Kami menjebak para Strigoi di sebuah gua. Gua itu hanya memiliki dua pintu
masuk, dan kami mendatangi mereka dari kedua pintu masuk itu. Sebagian dari
orang-orang kami terperangkap, dan ada banyak Strigoi lebih dari yang kami
bayangkan. Kami kehilangan orang-orang ... tapi kami akan kehilangan lebih banyak
orang lagi jika Dimitri tidak ada disana. Dia tidak pergi sampai semua orang keluar.
Dia tidak peduli dengan resiko untuk dirinya sendiri. Dia hanya tahu kalau dia harus
menyelamatkan yang lain ...” Aku pernah melihat di matanya, keteguhan hati itu.
Rencana kami akhirnya adalah mundur sesegera yang bisa kami semua lakukan, tapi
aku merasakan kalau dia ingin tinggal dan membunuh setiap Strigoi yang bisa ia
temukan. Tapi dia juga mengikuti perintah, akhirnya mulai mundur saat yang lain
aman. Dan di saat-saat terakhir itu, hanya sesaat sebelum Strigoi mengigitnya,
Dimitri menatap mataku dangan tatapan penuh cinta yang membuat seisi goa terasa
penuh dengan cahaya. Ekspresinya seolah bicara tentang apa yang kami bicarakan
sebelumnya: Kita akan bersama, Rosa. segera. Kita hampir mendapatkannya. Dan
tidak ada apapun yang bisa memisahkan kita lagi ....

Meskipun begitu, aku tidak menyebutkan bagian itu. Ketika aku telah menyelesaikan
sisa dongengku, wajah-wajah itu terlihat suram tapi penuh dengan rasa khidmat dan
hormat. Dekat di belakang kerumunan, aku baru menyadari kalau Abe dan
penjaganya mendengarkan juga. Ekspresinya tidak terbaca. Sulit, tapi bukan marah
maupun takut. Cangkir kecil mulai diputar ke sekeliling kelompok itu satu persatu
dan seseorang memberikannya padaku. Seorang dhampir yang tidak kukenal, satu
dari laki-laki yang hadir, berdiri dan mengangkat cangkirnya ke udara. Dia berbicara
dengan keras dan hormat, dan aku mendengar nama Dimitri disebutkan beberapa
kali. Ketika dia selesai, dia minum dari cangkir itu. Semua orang juga melakukan hal
yang sama, jadi aku juga mengikuti. Dan hampir tercekik sampai mati. Rasanya
seperti api dalam bentuk cairan. Aku memerlukan setiap ons kekuatanku ketika aku
menelannya dan tidak menyemburkannya keselilingku.

“Ap ... apa ini?” tanyaku, terbatuk-batuk.


Viktoria menyeringai. “Vodka.”

Aku meneliti gelas itu. “Tidak, buka vodka. Aku pernah minum Vodka sebelumnya.”

“Bukan Vodka Rusia.”


Sebenarnya memang belum pernah. Aku berjuang untuk menghabiskan sisa Vodka
di cangkir itu untuk menghormati Dimitri, meskipun aku punya perasaan kalau dia
berada disini, dia akan menggelengkan kepalanya padaku. Kupikir aku sudah cukup
menjadi sorotan setelah ceritaku selesai, tapi ternyata tidak. Setiap orang terus saja
duestinae89.blogspot.com
bertanya padaku. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang Dimitri, lebih banyak
tentang bagaimana kehidupannya. Mereka juga ingin tahu tentang hubunganku dan
Dimitri sebagai pasangan. Mereka semua sudah menduga kalau Dimitri dan aku
sudah saling jatuh cinta – dan mereka tidak masalah dengan hal itu. Aku ditanyai
bagaimana kami bertemu, berapa lama kami sudah bersama ...

Dan sepanjang waktu, orang-orang terus mengisi ulang cangkirku. Memutuskan agar
tidak terlihat idiot lagi, aku terus minum sampai aku akhirnya bisa minum Vodka itu
tanpa batuk atau meludah. Semakin banyak aku minum, semakin nyaring dan
semakin bergerak cerita yang kusampaikan. Lenganku mulai terasa geli dan bagian
dari diriku tahu kalau semua ini mungkin ide yang buruk. Ok, diriku sepenuhnya
menyadarinya. Akhirnya, orang-orang mulai pergi. Aku tidak tahu jam berapa
sekarang, tapi kurasa ini sudah tengah malam. Mungkin lewat dari itu. Aku berdiri
tegak, menyadari kalau tenryata lebih susah dari yang aku harapkan. Dunia terasa
bergoyang dan perutku terasa tidak bahagia menjadi bagian dari diriku. Seseorang
memegangi tanganku dan membantuku berdiri seimbang.

“Tenang,” kata Sydney. “Jangan dipaksakan.” Perlahan, dengan hati-hati, dia


menuntunku menuju rumah.
“Tuhan,” aku mendesah. “Apakah mereka menggunakan benda itu untuk bahan
bakar roket?”
“Tidak ada yang menyuruhmu meminumnya.”
“Hey, jangan berkhotbah. Lagipula, aku harus bersikap sopan.”
“Tentu,” katanya.

Kami berhasil masuk ke dalam dan kemudian menaiki tangga menuju kamar Olena
yang disiapkan untukku menjadi pekerjaan yang tidak mungkin. Setiap langkah
terasa nyeri.

“Mereka semua mengetahui tentang hubunganku dengan Dimitri,” kataku, berpikir


apakah aku mengatakannya dengan suara yang tenang. “Tapi aku tidak pernah
mengatakan pada mereka kalau kamu bersama.”

“Kau tidak perlu mengatakannya. Semuanya sudah tertulis di wajahmu.”


“Mereka bereaksi seolah aku adalah jandanya atau sejenisnya.”
“Kau mungkin terlihat seperti itu.” Kami mencapai kamarku dan dia menolongku
duduk di ranjang. “Tidak banyak dari orang-orang disini yang menikah. Jika kau
pernah bersama seseorang dengan cukup lama, mereka akan menganggap hal
tersebut hampir sama dengan menikah.”

Aku menarik nafas lelah dan menatap tanpa fokus terhadap sesuatu. “Aku sangat
merindukannya.”
“Aku turut berduka cita,” katanya.
“Akankah perasaan ini bisa membaik?” Pertanyaan ini terlihat membuatnya terkejut.
“Aku ... aku tidak tahu.”
“Apa kau pernah jatuh cinta?”
Dia menggelengkan kepalanya, “Tidak.”
Aku tidak yakin apakah hal itu membuatnya beruntung atau tidak. Aku tidak yakin
apakah semua hari yang cerah yang aku miliki bersama Dimitri setimpal dengan rasa
sakit yang aku rasakan sekarang. Sesaat kemudian, aku tahu kebenarannya.
duestinae89.blogspot.com
“Tentu saja setimpal.”
“Huh?” tanya Sydney.
Aku sadar telah mengatakan pikiranku dengan nyaring. “Tidak apa-apa. Hanya
berbicara pada diriku sendiri. Aku sepertinya harus tidur.”
“Apa kau perlu sesuatu yang lain? Apa kau sakit?”
Aku menilai rasa mual di perutku. “Tidak, tapi terima kasih.”
“Ok.” Dan dengan sikap acuhnya yang biasa, dia pergi, mematikan lampu dan
menutup pintu.

Aku pikir aku akan pingsan setelah itu. Jujur, aku ingin begitu. Hatiku telah terbuka
terlalu banyak dengan menceritakan Dimitri malam ini dan aku ingin rasa sakitnya
pergi. Aku ingin kegelapan dan lupa. Malahan, mungkin karena aku telah kebal
dengan hukuman, hatiku memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan ini dan
merobek-robeknya sehingga jelas terbuka.
Aku pergi mengunjungi Lissa.
duestinae89.blogspot.com

Sepuluh
MASING-MASING ORANG SEPERTINYA BISA BERGAUL dengan baik saat
makan siang bersama Avery sehingga kelompok itu kembali berkumpul lagi pada
malam harinya dan melakukan semacam kegiatan liar bersama.

Lissa sedang memikirkan hal itu saat dia tengah duduk dalam pelajaran pertama di
kelas bahasa Inggris di pagi berikutnya. Mereka begadang malam tadi, diam-diam
keluar setelah jam malam telah berlalu. Ingatan itu menorehkan senyuman di wajah
Lissa, meskipun dia sedang mencoba untuk tidak menguap. Aku tidak bisa menahan
sedikit rasa iriku. Aku tahu Avery lah yang bertanggung jawab atas kebahagiaan
Lissa ini, dan ini menggangguku sampai ketingkat orang picik. Namun,
persahabatan baru yang ditawarkan Avery juga membuatku merasa sedikit bersalah
karena telah meninggalkan Lissa. Lissa menguap lagi, sangat susah berkonsentrasi
pada „The Scarlet Letter‟ ketika sedang terlibat pertarungan dengan rasa pusing
akibat mabuk semalam. Avery kelihatannya terus menuangkan minuman tanpa
henti. Adrian tentu langsung mengambilnya, tapi Lissa menjadi sedikit ragu-ragu.
Dia sudah menghentikan masa-masanya berpesta sekian lama, tapi akhirnya ia
menyerah malam tadi dan minum bergelas-gelas anggur lebih banyak dari pada yang
seharusnya ia minum. Sangat berbeda dengan situasiku dengan „si vodka‟, cukup
ironis. Kami berdua sama-sama terlalu menurutkan kata hati, meskipun kami
terpisah bermil-mil jauhnya.

Tiba-tiba, sebuah suara melengking menderu di udara. Kepala Lissa mendongak


bersamaan dengan semua kepala yang ada di kelas ini. Di sudut ruangan, sebuah
lampu alarm kebakaran kecil menyala dan memberi pertanda peringatan. Seperti
biasa, beberapa siswa mulai bersorak ketika sebagian lagi berpura-pura ketakutan.
Sisanya hanya terlihat kaget dan menunggu.

Pengajar Lissa juga terlihat sedikit bingung, dan setelah penilaian cepat, Lissa yakin
kalau ini bukanlah alarm yang sudah direncanakan. Guru-guru biasanya
mengangkat kepala mereka saat ada latihan, dan Ibu Malloy tidak mengenakan
ekspresi lelah seperti biasanya yang di tunjukkan seorang guru saat mencoba
membayangkan berapa banyak waktu yang akan digunakan latihan kali ini yang
akan memotong jam pelajaran mereka.

“Berdiri dan kesanalah,” kata Ibu Malloy dengan kesal, memegang sebuah papan
penjepit kertas. “Kalian tahu kemana kalian harus pergi.” Prosedur latihan
kebakaran sangat standar.

Lissa mengikuti yang lain dan berjalan berdampingan dengan Christian. “Apa kau
yang melakukannya?” godanya.

“Tidak. Aku sih berharap begitu. Kelas ini sudah hampir membunuhku.”
“Kau? Aku sudah mendapatkan sakit kepala yang paling parah di sepanjang
hidupku.”
duestinae89.blogspot.com
Christian memberikan seringaiannya yang biasa. “Biarkan itu menjadi pelajaran
bagimu, Nona kecil pemabuk.” Lissa mengubah mimik mukanya sebagai balasan dan
memberikan sedikit pukulan ringan. Mereka sampai ke ruang pertemuan di
lapangan dan bergabung di barisan yang mereka coba bentuk. Ibu Malloy datang dan
memeriksa setiap orang dengan papan penjepitnya, puas karena tidak ada satu pun
yang tertinggal.

“Kurasa ini tidak direncanakan sebelumnya,” kata Lissa.


“Setuju,” jawab Christian. “Yang berarti meskipun tidak ada api, kemungkinan akan
memakan waktu yang cukup lama.”
“Nah, kalau begitu. Tidak ada gunanya menunggu, kan?” Christian dan Lissa
berbalik terkejut mendengar suara di belakang mereka dan melihat sosok Avery
disana. Dia mengenakan gaun rajut berwarna ungu dan sepatu tinggi berwarna
hitam yang terlihat sangat tidak cocok dengan rumput yang basah.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Lissa. “Kupikir kau ada di kamarmu.”

“Terserahlah. Di sana sangat membosankan. Aku harus datang untuk membebaskan


kalian, teman.”

“Kau yang melakukannya?” tanya Christian, sedikit kagum.


Avery mengangkat bahunya. “Sudah kubilang, aku sedang bosan. Sekarang, ayo pergi
sementara disini masih rusuh.”

Christian dan Lissa bertukar pandang. “Sebenarnya,” kata Lissa lambat, “Kurasa
mereka sudah mengabsen ...”

“Cepat!” kata Avery. Kegembiraannya menular dan terasa kuat, Lissa bergegas di
belakang Avery, Christian diseret. Dengan semua siswa yang berdesak-desakkan,
tidak satupun yang menyadari kalau mereka memotong jalur menuju kampus –
hingga mereka mencapai bagian luar dari rumah tamu. Simon berdiri bersandar
pada pintu dan Lissa menegang. Mereka ketahuan.

“Semuanya sudah diatur?” Avery bertanya padanya.


Simon, jelas tipe yang kuat dan pendiam, memberikan anggukan sekilas saat ia
menjawab sebelum berdiri dengan tegap. Dia memasukkan tangannya ke dalam
kantong jasnya dan berjalan menjauh. Lissa mentapnya, terkagum-kagum.

“Dia ... dia membiarkan kita pergi? Dan apakah dia juga ikut campur dalam
kekacauan ini?” Simon bukanlah seorang guru di kampus ini, tapi tetap saja bukan
berarti dia boleh membiarkan siswa membolos dari kelas dengan alarm kebakaran
palsu.

Avery menyeringai nakal, melihat dia pergi. “Kami telah lama bersama-sama. Dia
punya banyak hal yang lebih baik untuk dilakukan daripada menjadi penjaga kita.”

Avery menuntun mereka ke dalam, tapi bukannya pergi ke kamarnya, mereka


memotong jalan ke daerah berbeda dari bangunan itu dan pergi ke tempat yang aku
kenali: kamar Adrian.
duestinae89.blogspot.com
Avery menggedor pintu. “Hey, Ivashkov! Buka!”

Lissa menutupi mulutnya dengan tangannya untuk mengecilkan suara tawanya.


“Benar-benar trik bagus untuk sembunyi-sembunyi. Semua orang bisa mendengar
suaramu.”

“Aku ingin ia mendengarku,” Avery membela diri. Dia terus saja menggedor pintu
dan berteriak, dan akhirnya, Adrian menjawab. Rambutnya berdiri dalam posisi
yang aneh dan dia punya lingkaran hitam di bawah matanya. Dia minum dua kali
lebih banyak dari pada Lissa malam kemarin.

“Apa ...” Adrian mengerjapkan matanya. “Bukankah kalian seharusnya ada di kelas?
Oh Tuhan. Aku belum cukup tidur, kan?”

“Biarkan kami masuk,” kata Avery, mendorong untuk masuk. “Kami perlu tempat
berlindung dari kebakaran disini.”

Avery menghentakkan dirinya di sofa Adrian, membuat dirinya merasa seperti di


rumah sendiri saat Adrian terus saja menatapnya. Lissa dan Christian bergabung
dengannya.

“Avery menyalakan alarm kebakaran,” Lissa menjelaskan.


“Kerja bagus,” kata Adrian, menjatuhkan diri ke kursi berbulunya. “Tapi mengapa
kalian harus kesini? Apa hanya ini satu-satunya tempat yang tidak terbakar?”
Avery mengerjapkan bulu matanya ke Adrian. “Apa kau tidak senang melihat kami?”

Adrian menatap Avery, menilai sesaat. “Selalu senang melihat mu.”


Lissa yang biasanya sangat kaku dengan hal-hal semacam ini, namun sesuatu
mengenai hal ini membuatnya tergelitik. Sangat liar, sangat konyol ... sebuah
terobosan dari seluruh kekhawatirannya selama ini.

“Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk menyadari ulah kalian. Mereka bisa saja
membiarkan semua orang masuk sekarang.”

“Mereka bisa,” Avery setuju, meletakkan kakinya ke atas meja kopi. “Tapi aku
memiliki kekuasaan yang bagus untuk melakukkannya, ketika alarm yang lain mati
di sekolah saat mereka membuka pintu.”

“Bagaiman bisa kau melakukannya?” tanya Christian.


“Rahasia penting.” Adrian menggosok-gosok matanya dan benar-benar geli dengan
semua ini, meskipun dia harus mendadak bangun.

“Kau tidak bisa menarik tuas alarm sepanjang hari, Lazar.”


“Sebenarnya, aku mempunyai kekuasaan yang bagus sehinngga sekali mereka
merasa masalah alarm kedua sudah selesai, alarm ketiga akan berbunyi.”

Lissa tertawa keras, meskipun kebanyakan dikarenakan oleh reaksi para lelaki dan
sedikit karena pemberitahuan Avery. Christian, yang sangat cocok dengan
pemberontakan anti sosial, telah menjebak orang-orang dalam api. Adrian
menghabiskan hampir sepanjang harinya dengan mabuk dan terantai dengan rokok.
duestinae89.blogspot.com
Untuk gadis imut dan supel seperti Avery, ternyata bisa membuat mereka heran,
sesuatu yang benar-benar luar biasa telah terjadi. Avery terlihat puas karena telah
melakukan hal yang lebih dibandingkan mereka.

“Jika sesi introgasi sudah selesai sekarang,” katanya, “bukankah kau seharusnya
menawarkan tamumu semacam penyegaran?”

Adrian berdiri dan menguap. “Baiklah. Baiklah, cewek kurang ajar. Aku akan
membuat kopi.”

“Dengan sedikit tambahan?” Avery mencondongkan kepalanya ke arah rak minuman


Adrian.

“Kau bercanda?” kata Christian. “Apa kau masih punya pikiran yang waras yang
tertinggal?”

Avery mengitari rak itu dan mengambil suatu botol. Dia memegang benda itu ke
arah Lissa. “Kau mau?”

Bahkan pemberontakkan pagi Lissa punya batas. Sakit kepala karena anggur
semalam masih berdenyut-denyut di tengkoraknya. “Ugh, tidak.”

“Pengecut,” kata Avery. Dia berbalik ke arah Adrian. “Kalau begitu, tuan Ivashkov,
kau lah yang terbaik dalam hal menuangkannya ke gelas. Aku selalu suka secangkir
kopi yang dicampur sedikit dengan brandy.”

Tidak lama setelah itu, aku mengabur menjauh dari kepala Lissa dan kembali
beputar ke dalam kepalaku sendiri, kembali ke dalam kegelapan tidur dan mimpi
yang biasa. Mimpi itu berdurasi pendek, mengingat saat ini ada sebuah ketukkan
keras segera menarikku ke dalam kesadaran.

Mataku perlahan terbuka, dan rasa sakit yang panas dan dalam menerjang melalui
punggung ke belakang tengkorakku – aku yakin ini merupakan efek setelah
meminum vodka beracun itu. Lissa yang mabuk tidak ada hubungannya denganku.
Aku mulai menutup mataku, ingin tengelam kembali ke dasar dan membiarkan tidur
menyembuhkan rasa sakitku. Kemudian, aku mendengar ketukkan lagi – dan
semakin buruk, seluruh tempat tidurku bergoncang dengan kasar. Seseorang
menendangnya. Kembali membuka mata lagi, aku berbalik dan menemukan diriku
menatap mata gelap tajam milik Yeva. Jika Sydney telah bertemu banyak dhampir
seperti Yeva, aku bisa mengerti mengapa ia berpikir kalau kaum kami adalah
monster dari neraka. Ia mengerutkan bibirnya dan menendang tempat tidur lagi.

“Hey,” tangisku. “Aku sudah bangun, oke?”

Yeva memberengutkan sesuatu dalam bahasa Rusia, dan Paul mengintip kesekeliling
dari belakang Yeva, menerjemahkan. “Dia bilang, kau tidak bisa dibilang bangun
sampai kau benar-benar keluar dari tempat tidur dan berdiri.”

Dan tanpa peringatan lagi, wanita tua yang sadis itu kembali menendang-nendang
ranjangku. Aku tersentak berdiri, dan dunia terasa berputar di sekelilingku. Aku
duestinae89.blogspot.com
sudah mengatakan sebelumnya, tapi kali ini aku sungguh-sungguh ingin
melakukannya: Aku tidak akan mau minum lagi. Tidak ada hal bagus yang bisa
kudapat dari hal ini. Selimut terlihat sungguh menggoda untuk tubuhku yang sakit-
sakit, tapi beberapa tendangan dari ujung sepatu bot Yeva membuatku berdiri dari
ranjang itu.

“Ok, Ok. Apa kau senang sekarang? Aku sudah bangun.” Ekspresi Yeva tidak
berubah, tapi paling tidak dia berhenti menendang. Aku berbalik menatap Paul. “Apa
yang terjadi?”

“Nenek bilang kalau kau harus ikut dengannya.”


“Kemana?”
“Dia bilang kau tidak perlu tahu.”

Aku hampir saja ingin mengatakan kalau aku tidak akan mengikuti wanita tua gila
ini kemanapun, tapi setelah satu kali menatap wajah menakutkannya, kupikir aku
lebih baik pergi. Aku tidak ingin membuatnya mengubah orang-orang menjadi
kodok.

“Baiklah,” kataku. “Aku akan siap setelah aku mandi dan berganti baju.”
Paul menerjemahkan kata-kataku, tapi Yeva menggelengkan kepalanya dan bicara
lagi.
“Dia bilang tidak ada waktu,” jelasnya. “Kita harus segera pergi sekarang.”

“Bisakah paling tidak aku menggosok gigiku?”


Dia mengizinkan permintaan kecil itu, tapi mengganti baju sepertinya tidak
termasuk dalam pertanyaan itu. Tapi hanya itu yang terasa masuk akal. Setiap
langkah yang kupijakkan terasa memusingkan dan aku mungkin akan pingsan
karena melakukan sesuatu yang rumit seperti berpakaian atau tidak berpakaian.
Pakaianku tidak bau atau kotor; hanya saja terlihat kusut karena aku jatuh tertidur
dengan pakaian ini.

Ketika aku sudah berada di lantai bawah, kulihat belum ada satu pun yang bangun
kecuali Olena. Dia sedang mencuci piring sisa makan semalam dan terlihat terkejut
melihatku bangun. Aku juga kaget.

“Apa kau tidak terlalu cepat bangun hari ini?” tanyanya.


Aku berbalik dan melihat kilatan jam dapur. Aku terkesiap. Ternyata baru empat jam
aku tidur.

“Oh Tuhan. Apakah Matahari sudah terbit?” Luar biasa, Matahari sudah terbit.
Olena menawariku untuk sarapan, tapi lagi-lagi Yeva mengulangi perintahnya kalau
waktu kami sempit. Perutku terasa secara bersamaan menginginkan dan membenci
makanan, jadi aku tidak bisa bilang kalau tidak makan adalah hal yang bagus atau
sebaliknya.

“Terserahlah,” kataku. “Kita pergi saja dan menyelesaikan apa yang kau inginkan.”
Yeva berjalan ke arah ruang tamu dan kembali beberapa saat kemudian dengan
sebuah tas besar. Tanpa diduga dia menyerahkan benda itu padaku. Aku
duestinae89.blogspot.com
mengangkat bahu dan mengambilnya, menggantungnya di salah satu bahuku. Jelas
ada suatu benda di dalamnya, tapi tidak terlalu berat.

Dia pergi lagi ke kamar yang lain dan kembali dengan menggendong tas yang lain.
Aku mengambil yang ini juga dan menggantungnya di bahu yang sama,
menyeimbangankan keduanya. Yang satu ini lebih berat, tapi punggungku tidak
terlalu merasa keberatan. Ketika dia lagi-lagi pergi untuk ketiga kalinya dan kembali
dengan sebuah kotak raksasa, aku mulai merasa kesal.

“Benda apa ini?” Aku menuntut dan mengambil benda itu dari tangannya. Rasanya
ada batu bata di dalamnya.

“Nenek ingin kau membawa beberapa barang,” Paul memberitahuku.


“Ya,” aku menggertakkan gigi. “Aku kira berat benda-benda ini sekitar lima puluh
pound.”
Yeva kembali memberiku satu kotak lagi yang ia letakkan di atas yang besar. Tidak
terlalu berat tapi dalam hal ini aku sejujurnya tidak merasa masalah. Olena
memberiku tatapan simpati, menggelengkan kepalanya, dan kembali ke sisa
makanannya dalam diam, sepertinya tidak akan membantah apa yang dilakukan
Yeva.

Yeva beranjak pergi setelah itu dan aku mengikutinya dengan patuh, mencoba untuk
memegang kotak-kotak itu sekaligus menjaga agar tasnya tidak melorot dari
pundakku. Ini bawaan yang cukup berat, satu dari bagian tubuhku yang sedang
melayang-layang tidak menginginkannya, tapi aku cukup kuat sehingga aku tidak
masalah sekalipun ia membawaku ke kota atau kemanapun ia menuntunku. Paul
berlari di sampingku, sepertinya keberadaanya agar membuatku tahu jika aku juga
harus membawa apapun yang ditemukan Yeva di jalanan.

Sepertinya musim semi datang lebih cepat dari pada di Montana. Langitnya cerah
dan matahari pagi sudah memanaskan benda-benda disini dengan cepat. Hampir
sama dengan cuaca musim panas, tapi rasanya ini cukup jelas untuk diketahui.
Pastinya cuaca ini sangat tidak nyaman bagi para Moroi untuk jalan-jalan.

“Apa kau tahu kemana kita akan pergi?” tanyaku pada Paul.
“Tidak,” jawabnya riang.
Untuk seseorang yang begitu tua, Yeva bisa bergerak dengan langkah yang bagus,
dan aku menemukan diriku yang berjalan terburu-buru mengikutinya bersama
dengan barang bawaanku. Saat itu, dia melirik ke belakang dan berkata sesuatu pada
Paul untuk diterjemahkan, “Dia kaget karena kau tidak bisa bergerak lebih cepat.”

“Ya, aku sebenarnya juga kaget karena tidak ada orang lain yang membawa satu pun
dari benda ini.”
Dia menerjemahkan lagi: “Dia bilang jika kau benar-benar seorang pembunuh
Strigoi terkenal, maka membawa barang berat harusnya bukanlah sebuah masalah.”

“Oh, ayolah,” kataku. “Kemana sebenarnya kita pergi?”


Tanpa melirik ke belakang, Yeva menggumamkan sesuatu.
“Nenek bilang paman Dimka tidak pernah mengeluh seperti itu,” kata Paul. Semua
ini bukan salah Paul, dia hanyalah penyampai pesan. Namun, setiap kali ia
duestinae89.blogspot.com
berbicara, aku ingin menendang bokongnya. Meskipun demikian, aku tetap
membawa barang-barang itu dan tidak lagi berkata apapun di sisa perjalanan kami.
Yeva benar dalam satu hal. Aku adalah pemburu Strigoi dan dia juga benar kalau
Dimitri tidak akan pernah mengeluh tentang beberapa tingkah seorang wanita tua
gila. Dia akan menyelesaikan tugas ini dengan sabar.

Aku mencoba memanggilnya dalam pikiranku dan menarik kekuatan darinya. Aku
memikirkan saat-saat kami di kabin lagi, memikirkan bagaimana bibirnya
menikmati bibirku dan aroma menyenangkan dari kulitnya ketika aku semakin
mendekati dirinya. Aku bisa mendengar suaranya sekali lagi, berbisik di telingaku
kalau dia mencintaiku, kalau aku begitu cantik, kalau aku adalah satu-satunya
baginya .... Memikirkannya tidak mengurangi ketidaknyamanan perjalananku
bersama Yeva, tapi cukup membuatnya terasa sedikit lumayan.

Kami berjalan hampir satu jam lebih sebelum mencapai sebuah rumah kecil, dan aku
siap untuk jatuh dalam kelegaan, dibasahi keringat. Rumah itu hanya satu lantai,
dibuat dengan kayu cokelat sederhana yang sudah dimakan cuaca. Namun,
jendelanya dikelilingi oleh tiga sisi dengan daun jendela yang ditutupi lembaran
indah dengan sentuhan cita ras tinggi berwarna putih. Hampir sama dengan warna
yang digunakan oleh bangunan-bangunan di Moskow dan St. Petersburg yang
pernah kulihat. Yeva mengetuk pintunya. Awalnya hanya ada keheningan, dan aku
mulai panik, memikirkan kalau kami harus bebalik dan pulang.

Akhirnya, seorang wanita menjawab dari balik pintu – seorang Moroi wanita.
Umurnya sekitar 3o tahunan, sangat cantik, dengan tulang pipi yang menonjol dan
rambut berwarna pirang-stroberi. Dia berteriak kaget melihat Yeva, tersenyum dan
menyapa dalam bahasa Rusia. Melirik ke arah Paul dan aku, wanita itu segera
dengan cepat menarik dirinya mundur dan memberi isyarat agar kami masuk.

Dia mengubah bahasanya menjadi bahasa Inggris segera setelah menyadari kalau
aku orang Amerika. Semua orang-orang dua bahasa ini luar biasa. Bukan sesuatu
yang sering aku temui di Amerika. Dia menunjuk ke meja dan berkata padaku untuk
meletakkan semuanya disana, yang aku lakukan dengan ikhlas.

“Namaku Oksana,” katanya, menjabat tanganku. “Suamiku, Mark, ada di kebun dan
akan segera masuk.”
“Aku Rose,” kataku padanya.

Oksana menawari kami kursi. Punyaku adalah kursi kayu dengan sandaran tegak,
tapi pada saat itu, aku merasa seperti menduduki tempat tidur. Aku menarik napas
senang dan menyapu keringat di alisku. Sementara itu, Oksana mengeluarkan
barang-barang yang sudah aku bawa. Tas itu penuh dengan sisa makanan dari
pemakaman. Kotak paling atas berisikan beberapa piring-pinring dan jambangan,
yang menurut penjelasan Paul, adalah benda-benda yang dipinjam dari Oksana
beberapa waktu yang lalu. Oksana akhirnya sampai pada kotak paling bawah, dan
tolong aku, benda itu berisikan batu bata merah untuk kebun.

“Kau pasti bercanda,” kataku. Di seberang ruang tamu, Yeva terlihat sangat puas.

Oksana terlihat senang dengan pemberian itu. “Oh, Mark akan senang memiliki ini.”
duestinae89.blogspot.com
Dia tersenyum padaku. “Kau sangat baik mau membawakan barang-barang ini
sepanjang jalan.”
“Senang membantu,” kataku kaku.

Pintu belakang terbuka, dan seorang pria berjalan masuk – Mark, dugaanku. Dia
tinggi dan berotot, rambut abu-abunya mengindikasikan kalau usianya jauh lebih
tua dari Oksana. Dia mencuci tangannya di dapur dan berbalik untuk bergabung
bersama kami. Aku hampir tercekat saat aku melihat wajahnya dan menemukan
sesuatu yang lebih aneh ketimbang perbedaan usia. Dia seorang Dhampir. Untuk
sesaat, aku berandai kalau dia adalah orang lain dan bukan suaminya, Mark. Tapi
itulah nama yang diapakai Oksana untuk memperkenalkan dirinya, dan kebenaran
itu menamparku: seorang Moroi dan dhampir menikah sebagai pasangan. Tentu
saja, jenis kami memang sering berhubungan. Tapi menikah? Hal tersebut
merupakan skandal dalam dunia Moroi.

Aku mencoba untuk menyembunyikan kekagetan di wajahku dan bersikap sesopan


yang aku bisa. Oksana dan Mark terlihat sangat tertarik padaku, meski Oksana yang
lebih banyak berbicara. Mark hanya menonton, rasa penasaran memenuhi wajahnya.
Rambutku terurai, jadi tatoku tidak akan membuka status tidak-terjanjikan ku.

Mungkin dia hanya penasaran bagaimana seorang gadis Amerika bisa keluar
sendirian di tengah-tengah tempat antah berantah ini. Mungkin dia berpikir kalau
aku adalah pekerja pelacur darah yang baru.

Setelah meminum gelas ketiga air putihku, aku mulai merasa lebih nyaman. Saat
itulah Oksana mengatakan kalau kami seharusnya makan, dan saat itu pula, perutku
sudah siap untuk makanan itu. Oksana dan Mark menyiapkan makan bersama,
mengacuhkan semua tawaran bantuan yang diberikan.

Melihat pasangan itu bekerja sangat mengagumkan. Aku tidak pernah melihat tim
yang begitu saling melengkapi dan memahami. Mereka tidak pernah mengahalangi
jalan satu sama lain, dan tidak perlu berbicara untuk mendiskusikan apa yang harus
mereka kerjakan selanjutnya. Mereka sudah tahu. Meskipun berada di daerah
terpencil, isi dapurnya terlihat modern dan Oksana menepatkan sebuah piring yang
berisikan kentang goreng di dalam mikrowave. Punggung Mark mengghadap Oksana
ketika ia sedang menggeledah isi kulkas, tapi segera saat Oksana ingin memulai,
Mark berkata,
“Tidak usah, tidak perlu waktu lama.”
Aku mengerjapkan mata, kaget, melirik balik dan terus menatap mereka berdua. Dia
bahkan tidak perlu melihat kapan Oksana akan memulai. Kemudian aku mengerti.

“Kalian terikat,” aku berseru.


Mereka berdua menatapku dengan keterkejutan yang sama. “Ya. Apa Yeva tidak
mengatakannya padamu?” Tanya Oksana.

Aku menembakkan pandangan cepat ke arah Yeva, ia lagi-lagi memasang tampang


kepuasan terhadap diri sendiri yang menyebalkan di wajahnya.

“Tidak. Yeva sangat terburu-buru pagi ini.”


duestinae89.blogspot.com
“Hampir semua orang si sekitar sini mengetahuinya,” kata Oksana lagi, kembali
bekerja.

“Jadi ... jadi kau adalah pengguna roh.”


Kata-kata itu membuatnya berhenti sejenak lagi. Dia dan mark bertukar pandangan
kaget.
“Itu,” katanya, “bukanlah sesuatu yang diketahui banyak orang.”
“Sebagian besar orang berpikir kalau kau tidak memiliki spesialisasi, kan?”
“Bagaimana kau tahu?”

Karena itulah yang jelas terjadi antara aku dan Lissa. Cerita tentang ikatan selalu ada
di dongeng-dongeng Moroi, tapi bagaimana ikatan tersebut terbentuk masih menjadi
misteri. Umumnya mereka percaya kalau hal itu “hanya terjadi begitu saja”. Seperti
Oksana, Lissa biasanya dipandang tidak memiliki spesialisasi – seseorang yang sama
sekali tidak memiliki kemampuan spesial dengan satu elemen. Kami menyadari hal
itu sekarang, tentu saja, ikatan itu hanya bisa digunakan oleh pengguna roh, ketika
mereka menyelamatkan nyawa orang lain.

Sesuatu dalam suara Oksana mengatakan kalau dia tidak terlalu kaget kalau aku
mengetahuinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia menyadarinya, namun
aku begitu kaku dan mematung karena penemuanku itu sehingga tidak bisa berkata
apapun. Lissa dan aku belum pernah sama sekali mertemu dengan pasangan terikat
yang lain. Hanya ada dua yang kami ketahui, mereka adalah legenda Vladimir dan
Anna. Dan cerita tersebut diselimuti oleh sejarah tak lengkap selama berabad-abad,
membuat kami semakin susah untuk memisahkan kenyataan dari fiksi yang ada.
Fakta yang mengarah ke hal lain adalah kami mengetahui pengguna roh yang lain,
yakni Nona Karp – mantan guru yang menjadi gila – dan Adrian. Sampai sekarang,
Adrian adalah penemuan terbesar kami, pengguna roh yang lebih atau kurang stabil
– tergantung darimana kau melihatnya.

Ketika makanan sudah siap, obrolan roh tidak lagi muncul. Oksana memimpin
percakapn, terus konsisten pada topik yang ringan dan menggunakan kedua bahasa.
Aku mempelajari dirinya dan Mark saat aku makan, melihat tanda-tanda dari
ketidakwarasan. Aku tidak melihat apapun. Mereka terlihat sangat nyaman dengan
sempurna, orang-orang biasa yang terlihat sempurna. Jika aku tidak tahu apa yang
sudah aku lakukan, aku tidak memiliki alasan untuk menduga apapun. Oksana tidak
terlihat depresi atau merana. Mark sepertinya tidak mewarisi kegelapan yang jahat
yang terkadang menyusup ke dalam diriku.

Perutku menyambut makanan dengan suka cita, dan rasa sakit kepalaku
menghilang. Meskipun saat yang sama, sensasi yang aneh menyapu diriku. Rasanya
membingungkan, seolah berkibar dikepalaku, dan gelombang rasa panas dan
kemudian dingin mengaliriku. Perasaan itu menghilang secepat ia datang dan
kuharap ini adalah efek sakit terakhir dari vodka setan yang kuminum malam tadi.

Kami selesai makan dan aku melompat untuk membantu. Oksana menggelengkan
kepalanya. “Tidak, tidak perlu. Kau harus pergi dengan Mark.”

“Hah?”
Mark mengusap wajahnya dengan lap tangan dan berdiri. “Ya. Mari pergi ke kebun.”
duestinae89.blogspot.com
Aku mulai mengikutinya, kemudian berhenti sebentar melirik ke arah Yeva. Aku
berharap dia mengahajarku karena meninggalkan piring sisa makanan. Malahan,
aku tidak menemukan pandangan sombong atau pandangan tidak setuju.
Ekspresinya seperti ... sudah tahu. Hampir seperti berharap. Sesuatu tentangnya
membuat bulu kudukku merinding, dan aku mengingat kembali apa yang dikatakan
Viktoria padaku: Yeva sudah pernah bermimpi tentang kedatanganku.

Kebun yang ditunjukkan Mark lebih besar daripada yang aku harapkan, dikelilingi
oleh pagar yang rimbun dan dibatasi oleh jajaran pepohonan. Daun baru
mengantung di pepohonan itu, menutupi hawa panas yang tidak nyaman. Banyak
sekali semak dan bunga yang siap untuk mekar, dan disini, disana, tunas yang baru
sedang dalam perjalanan menuju kedewasan. Sangat indah, dan aku membayangkan
Oksana ikut campur dalam hal ini. Lissa mampu menumbuhkan tumbuhan dengan
sihir roh. Mark memberikan isyarat ke arah bangku dari batu. Kami duduk
berdampingan dalam diam.

“Jadi,” katanya. “Apa yang ingin kau ketahui?”


“Wow. Kau tidak membuang-buang waktu.”
“Aku tidak melihat adanya perbedaan dalam hal ini. Kau pastilah punya banyak
pertanyaan. Aku akan menjawab sebaik yang aku bisa.”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku. “Kalau aku juga dicium-bayangan. Kau sudah
tahu, kan?”
Dia menganguk. “Yeva yang memeberitahukannya pada kami.” Ok, itu mengejutkan.

“Yeva?”
“Dia bisa merasakan sesuatu .... sesuatu yang sebagian besar dari kita tidak bisa
merasakan. Meskipun begitu, dia tidak selalu mengerti apa yang dia rasakan. Dia
hanya tahu kalau ada perasaan yang aneh terhadapmu, dan dia hanya pernah
merasakan hal tersebut pada satu orang. Jadi dia membawamu kepadaku.”

“Kelihatannya dia bisa melakukan semuanya tanpa menyuruhku untuk membawa


semua benda-benad rumah tangga itu.”

Kata-kata itu membuatnya tertawa. “Jangan diambil hati. Dia hanya mengujimu. Dia
ingin melihat apakah kau pantas sebagai pasangan cucunya.”

“Apa bedanya? Dimitri sudah meninggal sekarang.” Aku hampir tercekik ketika
mengucapkan kalimat itu.

“Benar, tapi baginya, hal itu masih penting. Dan omong-omong, dia berpikir kalau
kau pantas.”

“Dia menunjukkan hal tersebut dengan cara yang lucu. Maksudku, selain membawa
ku bertemu denganmu maksudku.”

Dia tertawa lagi. “Bahkan tanpa dirinya, Oksana akan tahu siapa dirimu segera
setelah dia bertemu denganmu. Menjadi dicium-bayangan membuat kita memiliki
efek aura.”
duestinae89.blogspot.com
“Jadi dia bisa melihat aura juga,” aku berguman. “Apalagi yang bisa ia lakukan? Dia
pastinya bisa menyembuhkan, atau kau tidak mungkin menjadi dicium bayangan.
Apa dia memiliki kompulsi yang hebat? Bisa berjalan dalam mimpi?”

Hal itu membuatnya waspada. “Kompulsinya sangat kuat, ya itu memang benar ...
tapi apa maksudmu dengan berjalan dalam mimpi?”

“Seperti ... dia bisa memasuki pikiran orang lain ketika orang tersebut sedang tidur.
Pikiran siapapun – tidak hanya pikiranmu. Kemudian mereka bisa berbicara, seolah
mereka benar-benar bertemu. Temanku bisa melakukannya.”

Ekspresi Mark menunjukkan kalau ini berita baru baginya. “Temanmu? Belahan-
ikatanmu?”

Belahan-ikatan? Aku tidak pernah mendengar istilah itu sebelumnya. Terdengar


aneh diucapkan, tapi itu menunjukkan sesuatu.

“Bukan ... Pengguna sihir roh yang lain.”


“Yang lain? Berapa banyak yang kau kenal?”
“Tiga, teknisnya. Sebenarnya empat sekarang, termasuk Oksana.”
Mark berbalik, menatap kosong ke arah sekelompok bunga berwarana merah muda.

“Ada banyak ... menakjubkan. Aku pernah bertemu pengguna sihir roh yang lain,
dan itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Dia juga terikat dengan penjaganya.
Penjaga itu meninggal, dan hal tersebut membuatnya hancur. Dia masih menolong
kami ketika Oksana dan aku mencoba mengetahui hal ini.”

Aku sering melempar diriku dalam kematianku sendiri selama ini, dan aku takut
dengan nasib Lissa. Namun tidak pernah sekalipun aku berpikir bagaimana jadinya
pada ikatan itu. Apakah ikatan itu akan berpengaruh pada orang lain? Apakah akan
seperti memiliki lubang yang menganga, saat kau menjadi terikat secara dalam dan
perasaan dengan orang lain (mencintai orang lain)?

“Dia juga tidak pernah menunjukkan kalau ia bisa berjalan dalam mimpi,” lanjut
Mark. Dia tertawa kecil lagi, garis persahabatan bercahaya mengitari mata birunya.

“Kupikir aku bisa membantumu, tapi mungkin kau berada disini untuk
membantuku.”

“Aku tidak tahu,” kataku ragu. “Kurasa kalian lebih banyak memiliki pengalaman
daripada kami.”

“Dimana belahan-ikatanmu?”

“Di Amerika.” Aku tidak harus menjelaskan panjang lebar, tapi entah bagaimana,
aku harus mengatakan keseluruhan kebenarnya padanya.

“Aku ... Aku meninggalkannya.”


duestinae89.blogspot.com
Dia mengerutkan dahi. “Meninggalkan karena kau hanya sedang bepergian? Atau
meninggalkannya yang berarti menelantarkannya?”

Menelantarkan. Kata itu seperti tamparan di wajahku, dan tiba-tiba, segala yang bisa
aku bayangkan adalah hari terakhir ketika aku melihatnya, ketika aku
meninggalkannya menangis.

“Ada yang harus aku lakukan,” kataku mengelak.


“Ya, aku tahu. Oksana sudah mengatakkannya padaku.”
“Mengatakan apa?”

Sekarang dia ragu. “Dia harusnya tidak melakukannya ... dia mencoba untuk tidak
melakukannya.”

“Melakukan apa?” aku berseru, tidak nyaman dengan alasan yang tidak bisa aku
jelaskan.

“Dia, sebenarnya ... dia menyapu pikiranmu. Selama makan tadi.”

Aku berpikir lagi dan tiba-tiba teringat rasa geli di dalam kepalaku, rasa panas yang
berputar-putar di otakku.

“Apa maksudnya sebenarnya?”

“Sebuah aura bisa mengatakan kepada pengguna roh tentang kepribadian seseorang.
Tapi Oksana bisa menggali lebih dalam lagi, masuk ke dalam dan sebenarnya
membaca informasi yang lebih spesifik tentang orang tersebut. Terkadang dia bisa
mengikat kemampuan tersebut dengan kompulsi ... tapi hasilnya menjadi sangat,
sangat kuat. Dan salah. Itu bukanlah hal yang benar untuk dilakukan kepada orang
yang tidak terikat denganmu.”

Perlu waktu beberapa saat untukku memproses informasi itu. Baik Lissa maupun
Adrian tidak bisa membaca pikiran orang lain. Paling dekat, Adiran hanya bisa
datang ke pikiran seseorang, dan itu namanya berjalan dalam mimpi. Lissa tidak
bisa melakukannya, bahkan tidak bisa padaku. Aku bisa merasakannya, tapi tidak
bisa sebaliknya.

“Oksana bisa merasakan ... oh, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Ada
kenekatan dalam dirimu. Kau sedang dalam pencarian. Ada rasa dendam yang
sungguh-sungguh yang tertulis di seluruh jiwamu.” Dia tiba-tiba meraih dan
mengangkat rambutku, menunjuk pada leherku.

“Sesuai seperti yang kupikirkan. Kau belum di sumpah.”


Aku menarik kepalaku ke belakang. “Mengapa hal itu menjadi masalah? Seluruh isi
kota dipenuhi oleh dhampir yang tidak menjadi pengawal.” Aku masih berpikir kalau
Mark adalah pria yang baik, tapi diceramahi selalu membuatku kesal.

“Ya, tapi mereka memilih untuk tinggal. Kau ...dan orang-orang sepertimu ... kau
selalu waspada terhadap sesuatu. Kau terobsesi memburu Strigoi sendirian, dengan
duestinae89.blogspot.com
kepribadian yang diatur untuk membenarkan hal yang salah bahwa seluruh ras
membahayakan kita. Hal itu hanya akan membawa masalah. Aku melihatnya setiap
kali.”

“Setiap kali?” tanyaku kaget.

“Menurutmu mengapa jumlah pengawal semakin berkurang? Mereka pergi agar bisa
memiliki rumah dan keluarga. Atau mereka pergi begitu saja sepertimu, masih
bertarung tapi tidak diperintah oleh siapapun – kecuali mereka dipekerjakan sebagai
bodyguard atau pemburu Strigoi.”

“Dhampir dipekerjakan ...” Aku mendadak mulai memahami bagaimana seorang


yang bukan bangsawan seperti Abe memiliki banyak pengawal. Sepertinya uang bisa
membuat apapun terjadi.

“Aku tidak pernah mendengar hal semacam itu sebelumnya.”

“Tentu saja tidak. Kau pikir para Moroi dan pengawal yang lain akan membiarkan
kebenaran ini tersebar? Berharap hal tersebut bisa membayang-bayangi kenyataan
di hadapanmu sebagai sebuah pilihan?”

“Aku tidak melihat ada yang salah dalam memburu Strigoi. Kita selalu bertahan,
bukan menyerang ketika berhadapan dengan Strigoi. Mungkin jika lebih banyak
dhampir yang mau mengejar mereka, mereka tidak akan lagi menjadi masalah.”

“Mungkin, tapi ada cara berbeda untuk mewujudkan hal itu, sebagian lebih baik
daripada yang lain. Dan ketika kau pergi ke luar seperti kau sekarang – dengan hati
yang dipenuhi penderitaan dan rasa dendam? Itu tidak akan menjadi jalan yang
terbaik. Itu akan membuatmu tergelincir. Dan pengaruh jahat dari menjadi dicum-
bayangan akan semakin memperumit masalah.

Aku menyilangkan tangan di depan dadaku dan menatap keras ke depan. “Ya,
sepertinya tidak banyak yang bisa aku lakukan tentang pengaruh jahat itu.”

Dia berbalik menatapku, ekspresi terkejut sekali lagi. “Mengapa kau tidak meminta
belahan-ikatanmu menyembuhkan kegelapan itu darimu?”
duestinae89.blogspot.com

Sebelas
AKU MENATAP MARK SELAMA beberapa detik. Akhirnya, dengan bodohnya,
aku bertanya, “Apa baru saja kau bilang...menyembuhkan?

Mark menatapku dengan keterkejutan yang sama. “Ya, tentu saja. Dia bisa
menyembuhkan hal lain kan? Mengapa yang ini tidak bisa?”
“Sebab ...” aku mengerutkan dahi. “Hal itu tidak ada gunanya. Kegelapan itu
...semua efek jahat...semua itu datang dari Lissa. Jika dia bisa menyembuhkannya
begitu saja, mengapa dia tidak menyembuhkan dirinya sendiri?”

“Sebab ketika kegelapan itu berada di dalam dirinya, kegelapan itu sudah terlalu
melekat pada dirinya. Terlalu terikat dalam dirinya. Dia tidak dapat
menyembuhkannya dengan cara yang biasa ia lakukan ketika ia menyembuhkan jal
lain. Tapi ketika belahan jiwamu menarik kegelapannya ke dalam dirimu, kegelapan
itu akan menjadi penyakit yang biasa ia sembuhkan.”

Jantungku berdegup keras dalam dadaku. Apa yang ia sarankan begitu mudah dan
menggelikan. Tidak, hanya menggelikan. Semua it tidak mungkin setelah semua hal
yang sduah kami lalui kalau Lissa bisa menyembuhkan amaran dan depresi sama
seperti dia melakukannya pada penyakit flu ata kaki yang patah. Victor Dashkov,
mengesampingkan rencana jahatnya, sudah mengetahu sejumlah informasi roh dan
sudah menjelaskannya kepada kami semua. Empat elemen yang lain lebih berupa
elemen fisik dalam kehidupan, tapi elemen roh datang dari pikiran dan jiwa.
Menggunakan begitu banyak energi mental – sehingga mampu untuk melakukan
sejumlah hal-hal yang mengagumkan – tidak bisa dilakukan tanpa adanya efek yang
merusak. Kami sudah bertarung dengan efek-efek jahat itu dari awal, pertama
adalah Lissa kemudian kepadaku. Mereka tidak bisa begitu saja menghilang.

“Jika semua itu memungkinkan,” kata pelan,” lalu setiapa orang bisa melakukannya.
Nona Karp tidak akan kehilangan akal sehatnya. Anna tidak akan bunuh diri. Apa
yang baru saja kau katakan terlalu mudah untuk dilakukan.” Mark tidak mengenal
siapa saja yang aku bicarakan, tapi jelas orang-orang itu tidak menghalangi apa yang
ingin ia ekspresikan.

“Kau benar. Tidak mudah sebenarnya. Penyembuhan itu membutuhkan


keseimbangan dengan hati-hati, lingkaran kepercayaan dan kekuata dari dua orang.
Oksana dan aku perlu waktu lama untuk mempelajari penyembuhan ini ... melewati
tahun-tahun yang sulit ...”

Wajahnya menggelap, dan aku hanya bisa membayangkan bagaimana kelihatannya


tahun-tahun yang sulit itu. Waktuku yang singkat bersama Lissa sudah cukup buruk.
Mereka haru hidup dengan semua ini dalam waktu yang lebih lama dari detik-detk
yang kami lalui. Sungguh merupakan hari-hari yang tidak tertahankan. Perlahan,
mengimajinasikan, aku memberanikan diri untuk mempercayai kata-katanya.
“Tapi sekarang kalian baik-baik saja kan?”
“Hmm.” Ada kerlipan dalam senyum masam di bibirnya. “Sulit untukku mengatakan
kalau kami sudah benar-benar baik-baik saja. Hanya ada beberpa hal yang bisa ia
duestinae89.blogspot.com
lakukan, tapi itu membuat hidup kami lebih teratur. Dia memberikan jarak waktu
penyembuhan, dan itu membatasi keseluruhan tenaganya.

“Apa maksudmu?”
Dia mengangkat bahu. “Dia masih bisa melakukan hal lain ... menyembuhkan,
kompulsi ...tapi tidak dalam level yang bisa ia tangan jika ia tidak
menyembuhkanku.”

Harapanku goyah. “Oh. Kalau begitu ... aku tidak dapat melakukannya. Aku tidak
dapat melakukannya pada Lissa.”

“Dibandingkan dengan apa yang sudah ia lakukan padamu? Rose. Aku merasa dia
berpikir kala ini adalah pertukaran yang adil.”

Aku kembali memikirkan pertemuan terakhir kami. Aku mengingat tentang


bagaimana aku meninggalkannya disana, mengacuhkan ia yang memohon padaku.
Aku mengingat hal-hal rendah yang ia alami dalam ketidakhadiranku. Aku
mengingat bagaimana ia menolak menyembuhkan Dimitri ketika aku berpikir kalau
masih ada harapan untuk Dimitri. Kami berdua telah menjadi teman yanbg buruk.
Aku menggelengkan kepala.
“Aku tidak tahu.” kataku dalam suara kecil. “Aku tidak tahu apakan da mau
melakukannya.”

Mark memberikan tatapan penilaian yang lama, tapi dia tidak mekasaku. Dia
melirik ke arah matahari, hampir seperti mengatakan jam berapa dengan cara itu.
dia mungkin memang melakukannya. Dia pernah memiliki perasaan berjuang dalam
kegilaan dalam dirinya.
“Yang lain akan bertanya-tanya apa yang sedang kita lakukan. Sebelum kita pergi ...”
Dia merogoh sakunya dan menarik sebuah cincin perak kecil dengan bentuk yang
sederhana.

“Mempelajari penyembuhan itu akan memakan waktu yang lama. Yang paling
membuatku khawatir adalah suasana hatimu yang selalu waspada. Kegelapan itu
hanya akan membuat hal itu semakin buruk. Ambil ini.”

Dia mengulurkan cincin itu padaku. Aku ragu-ragu dan kemudian aku meraihnya.
“Apa ini?”
“Oksana memasukkan sihir roh ke dalam cincin ini. Ini jimat penyembuh.”

Sekali lagi, rasa kaget menyerangku. Selalu saja, benda jimat dari Moroi dengan
elemen di dalamnya. Pasak di isi dengan keempat sihir elemen kehidupan, membuat
mereka menjadi benda yang mematikan bagi Strigoi. Victor juga menyihir sebuah
kalung dengan sihir tanah, menggunakan dasar alam dari tanah untuk mengubah
kalung itu menjadi jimat gairah. Bahkan tato milik Sydney juga merupakan semacam
jimat. Aku mengira kalau tidak ada alasan bagi roh untuk tidak bisa membuat benda
jimat juga, tapi hal itu tidak pernah terpikir olehku sebelumnya, mungkin karena
kekuatan Lissa masih terlalu baru dan terlalu asing.

“Apa yang bisa dilakukan benda ini? Maksudku, penyembuhan seperti apa?”
duestinae89.blogspot.com
“Ini menolongmu mengendalikan suasana hatimu. Benda ini tidak bisa
menghilangkannya, tapi ini bisa mengurangi efeknya – menolongmu untuk berpikir
lebih jernih. Memungkinkan mu untuk terhindar dari masalah. Oksana membuatkan
ini untukku untuk menolongki saat masa penyembuhan.” Aku hendak memakainya
di jariku, tapi ia menggelengkan kepalanya.

“Simpan ini untuk saat dimana kau merasa tidak dapat mengendalikan dirimu lagi.
Sihirnya tidak bisa bertahan selamanya. Sihirnya akan memudar sama seperti jimat
yang lain.”

Aku menatap cincin itu, pikiranku tiba-tiba terbuka berbagai kemungkinan baru.
Beberapa saat kemudian, aku memasukkannya kedalam saku jaketku.

Paul menjulurkan kepalanya dari balik pintu.


“Nenek ingin pergi sekarang,” katanya padaku. “Dia ingin tahu mengapa kau begitu
lama dan dia bertanya mengapa kau membuat seseorang setua dia menunggu dan
menderita dengan punggungnya.”

Aku mengingat seberapa cepat Yeva berjalan ketika aku bertahan untuk
mengikutinya bersama barang-barang bawaanku. Punggungnya tidak terlihat buruk
bagiku, tapi lagi, aku ingat kalau Paul hanyalah penyampai pesan dan aku
mengurangi komentarku terhadapnya.

“Ok, aku akan segera kesana.” Ketika Paul mengilang, aku menggelengkan kepalaku.
“Sulit untuk menjadi berharga.” aku bergerak ke arah pintu, kemudian melirik ke
arah Mark, pikiran acak mengaliriku.

“Kau mengatakan padaku kalau melakukan apa yang dhampir disini lakukan adalah
hal buruk ...tapi kau juga bukan penjaga.”

Dia tersenyum padaku lagi, satu dari senyum yang menyiratkan kesedihan,
senyuman masam. “Dulu aku pernah menjadi penjaga. Kemudian Oksana
menyelamatkan nyawaku. Kami terikat dan bahkan saling jatuh cinta. Aku tidak bisa
terpisah darinya setelah itu, dan para penjaga juga sudah memecatku. Aku harus
pergi.”

“Apakah sulit meninggalkan mereka?”

“Sangat. Perbedaan usia kami semakin membuat hubungan kami menjadi skandal.”
Rasa dingin mengaliri diriku. Mark dan Oksana adalah perwujudan dari dua bagian
kehidupanku. Mereka berjuang melawan ikatan dicium bayangan sama seperti Lissa
dan aku lakukan dan juga menghadapi hukuman untuk hubungan mereka seperti
apa yang aku dan Dimitri rasakan. Mark melanjutkan, “Tapi terkadang, kita harus
mendengarkan hati kita. Dan meskipun aku harus pergi, aku tidak beradadi luar
sana meresikokan diriku sendiri mengejar Strigoi. Itu berbeda – jangan lupakan hal
itu.”

Pikiranku terhuyung-huyung ketika aku kembali ke rumah Belikov. Tanpa batu bata,
perjalanan pulang terasa lebih mudah. Memberikanku kesempatan untuk
duestinae89.blogspot.com
merenungkan kata-kata Mark. Aku merasa seperti menerima informasi seumur
hidup dalam percakapan satu jam.

Olena sedang berada dalam rumah, mengerjakan tugas-tugas normalnya, memasak


dan bersih-bersih. Saat aku dengan jujur tidak pernah ingin menghabiskan hari-
hariku melakukan sejenis perkerjaan rumah tangga seperti itu, aku harus mengakui
kalau ada sesuatu yang menenangkan ketika selalu memiliki seseorang di sekitarmu,
siap untuk memasak dan mengkhawatirkanku untuk hal-hal dasar sehari-hari. Aku
tahu kalau ini murni hasrat yang egois, karena aku tahu kalau ibu kandungku sedang
melakukan hal-hal penting dalam hidupnya. Aku tidak seharusnya menghakiminya.
Namun, merasakan Olena memperlakukan seperti anak perempuanya sendiri ketika
dia sudah mengetahui siapa diriku, membuatku merasakan apa itu kehangatan dan
perhatian .

“Apa kau lapar?” ia secara otomatis bertanya padaku. Kurasa satu dari ketakutan
terbesar dalam hidupnya adalah jika seseorang mungkin kelaparan di dalam
rumahnya. Kebiasaan Sydney yang selalu terlihat tidak nafsu makan telah menjadi
kekhawatiran Olena tanpa henti,

Aku menyembunyikan senyumanku. “tidak, kami sudah makan di rumah Mark dan
Oksana.”
“Ah, dari sana kau ternyata? Mereka adalah orang-orang yang baik.”
“Dimana semua orang?” tanyaku. Rumah ini sepi, tidak seperti biasanya.
“Sonya dan Karolina bekerja. Viktoria pergi ke rumah temannya, tapi dia akan
senang karena kau sudah kembali.”
“Bagaimana dengan Sydney?”
“Dia baru pergi beberapa saat yang lalu. Dia bilang dia kembali ke Saint Petersburg.”
“Apa?” aku berseru. “Pergi demi kebaikan? Hanya seperti itu?” Sydney memiliki sifat
yang agak kasar, tapi ini terlalu kasar bahkan untuk orang seperti dia.
“Para alkemis ... sebenarnya, merekalah yang selalu membuat rencana.” Olena
memberikan sepoton kertas. “Dia meninggalkan ini untukmu.”

Aku mengambil catatan itu dan buru-buru membukanya. tulisan Sydney sangat rapi
dan teratur. Entah bagaimana hal ini tidak mengejutkanku.

Rose,
Aku minta maaf aku harus pergi begitu cepat, tapi ketika Alkemis
menyuruhku untuk melompat ... yah, aku lompat. Aku menumpang sebuah
kendaraan kembali ke kota petani tampat kita pernah tinggal waktu itu jadi
aku bisa mengambil si ‘Bencana Merah’, dan kemudian aku akan sampai ke
Saint Petersburg. Rupanya, setelah sekarang kau sudah diantarkan ke Baia,
mereka tidak ingin aku berada disini lagi.
Aku berharap aku bisa mengatakan lebih banyak tentang Abe dan apa
yang ia inginkan padamu. Meskipun aku dizinkan pun, tidak cukup banyak hal
yang dikatakan. Dalam beberapa hal, dia sama misteriusnya bagiku. Seperti
duestinae89.blogspot.com
yang selalu kukatakan, sebagian besar bisnis yang ia lakukan adalah ilegal – baik
diantara manusia maupun kaum Moroi. Saat-saat ia secara langsung
berhubungan dengan oran lain adalah ketika ada sesuatu yang berhubungan
dengan bisnis – atau kalau ada kasus yang sangat, sangat spesial. Kupikir kau
adalah satu dari kasus itu, dan meskipun dia tidak berniat untuk
mencelakaimu, dia mungkin ingin menggunakanmu untuk kepentingan dirinya
sendiri. Bisa jadi keinginannya sesederhana seperti menginginkanmu untuk
dikontrak sebagai penjaganya, melihat dirimu yang begitu liar. Mungkin dia
ingin menggunakan dirimu untuk mendapatkan seseorang. Mungkin ini semua
adalah bagian dari rencana orang lain, seseorang yang bahkan lebih misterius
dari dirinya. Mungkin dia sedang melakukan kepentingan seseorang. Zmey bisa
jadi sangat berbahaya atau sejenisnya, semua itu tergantung dengan apa yang
sedang ia kerjakan.
Aku tidak pernah berpikir aku cukup peduli untuk mengatakan hal ini
kepada seorang dhampir, tapi berhati-hatilah. Aku tidak tahu apa rencanamu
sekarang, tapi aku punya firasat kalau masalah sedang mengikutimu. Hubungi
aku jika ada sesuatu yang bisa kubantu, tapi jika kau kembali ke kota untuk
berburu Strigoi, jangan tinggalkan mayat lagi tanpa dibersihkan!

Untuk semua yang terbaik,

Sydney

P.S. “Si Bencana Merah’ adalah nama yang kuberikan pada mobil itu.
P.P.S. Hanya karena aku menyukaimu, itu tidak berarti aku berhenti
menganggapmu sebagai makhluk jahat dari malam. Karena kau memang seperti
itu.

Nomor ponselnya tertera di bagian bawah, aku tidak bisa menahan senyumku
membaca surat itu. Karena kami menumpang Abe dan para pengawalnya saat ke
Baian, Sydney harus meninggalkan mobilnya, yang mana membuatnya trauma
hampir sama banyaknya dengan rasa traumanya terhadap Strigoi. Kuharap para
Alkemis membiarkannya memiliki mobil itu. Aku menggelengkan kepalaku, lebih
memilih geli ketimbang memikirkan peringatannya terhadap Abe. Si Bencana
Merah. Saat aku menaiki tangga ke arah kamarku, senyumku memudar.
Mengesampingkan sikapnya yang kasra, aku akan merindukan Sydney. Dia mungkin
tidak bisa disebut sebagai teman – atau begitukan ia? – dalam waktu yang singkat
ini, aku akan menghargainya selama sepanjang hidupku. Aku tidak punya banyak hal
duestinae89.blogspot.com
seperti itu lagi yang tersisa. Aku merasa terapung-apung, tidak yakin akan hal yang
akan ku lakukan. Aku datang kesini untuk membawa kedamaian bagi Dimitri dan
hanya berakhir dengan membawa kesedihan bagi keluarganya. Dan meskipun apa
yang dikatakan setiap orang benar, aku tidak akan menemukan banyak Strigoi disini,
di Baia. Entah bagaimana, aku tidak bisa membayangkan Dimitri, berkeluyuran di
jalanan dan perkebunan untuk memangsa sesekali. Meskipun sebagai Strigoi – dan
kata itu membunuhku hanya dengan memikirkannya saja – Dimitri pastilah
memiliki tujuan. Jika dia sama sekali tidak kembali untuk melihat keluarganya di
kampung halamannya, kemudian dia melakukan hal-hal klain yang lebih berguna –
sebanyak yang bisa dilakukan Strigoi. Komentar Sydney di catatan membuktikan
apa yang selalu aku dengar terus menerus: Strigoi ada di kota. Tapi kota mana?
Dimana Dimitri berada? Sekarang aku lah yang tidak memiliki tujuan. Di atas
semuanya, aku mengulang kata-kata Mark. Apakah aku berada dalam misi gila?
Apakah aku sudah bertindak bodoh dengan mengejar kematianku sendiri? Atau aku
bertindak bodoh mengajar .... hal yang tidak ada? Apakah aku konyol menghabiskan
sisa hariku dengan keluyuran? Sendirian? Duduk di tampat tidurku, aku merasa
suasana hatiku terjungkir balik dan aku tahu aku harus mengalihkan pikiranku
sendiri. Aku terlalu mudah terkena emosi gelap selama Lissa menggunakan sihir roh;
aku tidak perlu untuk semakin mendorong mereka keluar. Aku memakai cincin yang
diberkan Mark padaku, berharap benda ini akan membawa semacam kejernihan
dan ketenangan padaku. Aku tidak merasakan perbedaan, dan memutuskan untuk
mencari kedamaian dari tempat yang sama yang selalu aku lakukan: pikiran Lissa.

Dia bersama Adrian, dan mereka berdua sedang berlatih sihir roh lagi. Setelah
beberapa benjolan awal di dalam prosesnya, Adrian sedang membuktikan kecepatan
belajarnya dalam hal menyembuhkan. Itu adalah saat pertama kalinya dari kekuatan
Lissa untuk ditunjukkan, dan hal ini selalu membuatnya kesal kalau melihat Adrian
membuat kemajuan dengan apa yang ia ajarkan dibandingkan sebaliknya.

“Aku akan memberikan banyak hal untuk kau sembuhkan,” katanya, meletakkan
tanaman kecil dalam pot di atas meja. “Kecuali kita mulai mengoyak-ngoyak mangsa
atau sesuatu.”

Adrian tersenyum. “Aku pernah menggoda Rose dengan kata-kata itu, bagaima aku
bisa membuanya kagum dengan menyembuhkan hal yang diamputasi atau sesuatu
yang sama tidak jelasnya.”

“Oh, dan aku yakin dia mempunyai tanggapan yang cerdas untukmu setiap kali kau
menggodanya.”

“Ya, ya, dia memang melakukannya,” wajah Adrian terlihat begitu mengasihi ketika
dia mengingat kembali memori itu. Ada sebagian kegilaan dari diriku yang selalu
penasaran untuk mendengar apa yang mereka bicarakan tentang ku .... meskipun
diwaktu yang sama, aku selalu merasa bersalah saat ada getar kesedihat saat namaku
disebutkan.

Lissa mengerang dan merenggangkan tubuhnya di karpet lantai. Mereka ada di kursi
panjang di asrama, dan jam tidur segera tiba, “Aku ini berbicara padanya, Adrian.”
duestinae89.blogspot.com
“Kau tida bisa melakukannya,” katanya. Ada nada serius yang tidak biasa di dalam
suaranya. “Aku tahu dia masih memeriksa ke dalam pikiranmu - dan itu adalah cara
palingdekat untuk bisa berbicara dengannya. Dan sejujurnya? Itu tidaklah begitu
buruk. Kau bisa mengatakan langsung bagaimana perasaanmu dengan jelas
padanya.”

“Ya, tapi aku ingin mendengar ia berbicara balik padaku seperti yang kau lakukan
dalam mimpimu.”

Ini membuatnya tersenyum lagi. “Dia cukup banyak berbicara, percayalah padaku.”
Lissa duduk tegak. “Lakukan sekarang.”

“Melakukan apa?”
“Pergi kunjungi mimpinya. Kau selalu mencoba menjelaskannya padaku, tapi aku
tidak pernah benar-benar melihatnya. Biarkan aku melihatnya.”

Dia menatap diam, kehilangan kata-kata. “Itu sejenis aktivitas seks yang tidak
normal.”

“Adrian! Aku ingin mempelajarinya, dan kita sudah mencoba berbagai hal. Aku bisa
merasakan sihir disekelilingmu kadang-kadang. Lakukan saja, ok?”

Adrian mulai memprotes lagi tapi kemudian menahan komentarnya setelah


mempelajari wajah Lissa beberapa saat. Kata-kata Lissa sangat tajam dan menuntut
– sangat tidak berkarakter untuk orang seperti Lissa.

“Ok. Aku akan mencobanya.”

Pada akhirnya, seluruh ide agar Adrian mencoba untuk masuk ke dalam kepalaku
saat aku sedang melihatnya melalu kepala Lissa adalah hal yang tidak mungkin. Aku
tidak terlalu yakin apa yang bisa diharapkan dari Adrian. Aku selalu bertanya-tanya
apakah ia harua jatuh tidur atau paling tidak menutup matanya untuk
melakukannya. Tapi sepertinya tidak. Dia malahan menatap diam, matanya menjadi
kosong saat pikirannya meninggalkan dunia disekelilingnya. Melalui mata Lissa, aku
bisa merasakan sebagian sihir terpancar dari dirinya dan auranya, dan Lissa
mencoba menganalisa setiap helainya. Lalu, tanpa peringatan, semua sihir itu
menghilang. Dia mengerjap dan menggelengkan kepala.

“Maaf. Aku tidak bisa melakukannya.”

“Mengapa tidak?”
“Mungkin karena ia sedang bangun. Apa kau belajar sesuatu dari melihat?”
“Sedikit. Mungkin akan lebi berguna jika kau benar-benar menghubunginya.” Lagi,
Lissa mengeluarkan nada marahnya.

“Dia bisa berada dimana saja di dunia ini kau tahu, dalam jam waktu mana pun.”
Suaranya melemah karena menguap. “Mungkin kita bisa mencoba di jam berbeda.
Aku bisa menemuinya .... sebenarnya, hampir sama dengan jam sekarang. Atau
terkadang aku medapatkannya di pagi buta.”
duestinae89.blogspot.com
“Dia bisa jadi bisa ditemui sebentar lagi,” kata Lissa.
“Atau dalam jadwal siang manusia di beberapa bagian di dunia.”

Rasa antusias Lissa menurun. “Benar. Itu juga.”

“Bagaimana bisa kalia tidak pernah terlihat sedang melakukan sesuatu?”


Christian berjalan memasuki ruangan, terlihat geli melihat Lissa duduk di lantai dan
Adrian yang tergeletak di atas sofa. Berdiri di belakann Christian, seseorang yang
tidak pernah kupikirkan bisa aku lihat segera. Adrian, yang bisa mendeteksi wanita
bermil-mil jauhnya, juga mendadak menyadari pendatang baru di ruangan itu.

“Dimana kau dapatkan gadis di bawah umur itu?” tanyanya.


Christian memberi tatapan peringatan pada Adrian.

“Ini Jill.” Jill Mastrano membiarkan dirinya di dorong ke depan, mata hijau
terangnya tidak memungkinkan selebar itu saat ia melihat ke sekelilingnya.

“Jill, ini Lissa dan Adrian.”


Jill adalah satu dari orang-orang terakhir yang kuharapkan bisa terlihat disini. Aku
pernah bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Dia di kelas sembilan, yang
berarti dia berada disini di kampus atas di musim gugur. Dia memiliki bantuk tubuh
super-ramping yang sama seperti yang dimiliki Moroi kebanyakan, tapi tubuhnya itu
dipasangkan dengan tinggi yang mengagumkan bahkan dengan standar vampir. Itu
membuatnya semakin ramping. Rambutnya cokelat muda bergelombangnya terurai
di tengah-tengah punggungnya dan akan sangan terlihat cantik – jika dia belajar
bagaimana menatanya dengan pantas. Untuk sekarang, terlihat acak-acakan, dan
keseluruhan kesanya – sebenarnya imut – terlihat canggung.

“H-hai,” katanya, menatap dari satu wajah ke wajah yang lain. Sejauh yang ia
perhatikan, orang-orang ini adalah para selebritis kelas atas kaum Moroi. Dia
hampir pingsan ketika pertama kali dia bertemu denganku dan Dimitri, terima kasih
pada reputasi kami. Dari ekspresinya sekarang, dia tengah berada dalam kondisi
yang sama.

“Jill ingin belajar bagaimana menggunakan kekuatannya untuk kebaikan daripada


melawan setan,” kata Christian dengan sebuah kedipan yang berlebihan. Itu adalah
leluconnya untuk emnagatakn kalau Jill ingin belajar bagaimana berkelahi dengan
menggunakan sihirnya. Dia pernah mengekspresikan ketertarikannya itu padaku,
dan kukatakan padanya untuk menemui Christian. Aku senang dia memberanikan
diri untuk mengikuti nasihatku. Christian adalah seleb kampus juga, sekalipun ia
termasuk dari yang tidak terkenal.

“Anggota baru lagi?” tanya Lissa, menggoyang-goyangkan kepalanya. “Kupikir kau


akan bisa mempertahankan yang satu ini?”

Jill menatap Christian bingung. “Apa maksudnya?”

“Setelah penyerangan, banyak orang yang berkata kalau mereka ingin belajar
bertarung dengan sihir,” jelas Christian. “Jadi mereka menemuiku, dan kami bekerja
duestinae89.blogspot.com
sama ... sekali dua kali. Kamudian setiap orang mulai menghilang sekali latihannya
mulai keras, dan kemudian menyadari kalau mereka harus terus berlatih.”
“Itu tidak menolong, kau memang guru yang kejam,” tuduh Lissa.
“Dan jadi sekarang kau merekrut beberapa anak-anak,” kata Adrian sungguh-
sungguh.
“Hey,” kata Jill marah. “Aku empat belas tahun.” Tiba-tiba dia bersemangat
memberanikan diri berbicara dengan tegas pada Adrian. Adrian menggap hal itu
lucu, seperti yang biasa ia lakukan pada hal lain.
“Salahku,” kata Adrian. “Apa elemenmu?”
“Air.”
“Api dan air, ya?” Adrian meraih kedalam sakunya dan menarik selembar uang
seratus dollar. Dia melambaikannya dan berbicara langsung. “Sayang, aku akan
memberimu sebuah perjanjian. Jika kau bisa membuat se ember air muncul dan
menumpahkannya di atas kepala Christian, aku akan memberikan mu ini.”

“Kutambahkan sepuluh.”tawa Lissa.

Jill terlihat tegang, tapi aku menduga hal itu karena Adria memanggilnya „sayang‟.
Aku sering mengabaikan apa yang dilakukan Adrian sehingga mudah bagiku untuk
lupa kalau ia adalah lelaki yang seksi.Christian mendorong Jill menuju pintu.

“Abaikan mereka. Mereka hanya iri karena pengguna roh tidak bisa pergi menyerang
di dalam pertarungan seperti yang bisa kita lakukan.” Dia berlutut ke arah Lissa di
lantai dan memberinya ciuman singkat.

“Kami berlatih dia ruang atas, tapi aku harus mengantarnya pulang sekarang.
Ketemu besok lagi ya.”

“Kau tidak perlu melakukannya,” kata Jill. “Aku bisa pulang sendiri . Aku tidak ingin
menyebabkan masalah.”

Adrian berdiri. “Kau tidak perlu pulang sendiri. Jika ada seseorang yang akan maju
dan menjadi ksatrian dengan baju baja berkilau disini, dia pastilah diriku. Aku akan
mengantarkanmu dan meninggalkan burung-burung cinta ini dia sarang burung
cinta mereka.” Dia memberikan hormat dengan cara membungkuk pada Jill.

“Mari?”
“Adrian –“ kata Lissa, nada yang tajam dalam suaranya.
“Oh ayolah,” kataya, memutar matanya. “Toh aku juga harus kembali – kalian
berdua tidak ada gunanya saat jam malam dimulai. Dan sejujurnya, berikan aku
sedikit kepercayaan disini. Aku juga punya batas.” Dia memberi kan tatapan penuh
arti pada Lissa, satu berarti mengatakan pada Lissa kalau dia idiot karena berpikir
Adrian akan menggoda Jill. Lissa menatap Adrian selama beberapa saat dan sadar
kalaupria itu benar. Adrian dulunya memang bajingan dan tidak pernah menjadikan
ketertarikannya padaku sebagai sebuah rahasia, tapi mengantarkan Jill ke rumah
bukanlah bagian dari godaan menyenangkan. Dia benar-benarn ingin bersikap baik.

“Baiklah,” kata Lissa. “Aku akan menjumpaimu besok. Senang bertemu denganmu,
Jill.”
duestinae89.blogspot.com
“Aku juga,” sahut Jill. Dia memberanikan diri tersenyum pada Christian.
“Terimakasih lagi.”

“Kau sebaiknya menunjukkan keahlianmu di latihan kita berikutnya,” Christian


memperingatkan.

Adrian dan Jill mulai melangkah pergi dari pintu, saat Avery masuk melaluinya.

“Hey, Adrian.” Avery memberikan Jill sekali lirikan. “Siapa gadis di bawah umur mu
ini?”
“Bisakah kalian berhenti memanggilku seperti itu?” seru Jill.
Adrian menunjuk pada Avery. “Hush. Aku akan beurusan denganmu nanti, Lazar.”
“Aku jelas mengharapkan hal itu juga,” dia berbicara dengan suara berirama. “Aku
akan membiarkan pintunya tidak terkunci.”

Jill dan Adrian pergi, dan Avery duduk didekat Lissa. Dia terlihat cukup mabuk, tapi
Lissa tidak mencium bau alkohol dari dirinya. Lissa dengan cepat mempelajari kalau
sebagian dari diri Avery selalu gembira dan riang, tidak menghiraukan keadaannya
yang mabuk.

“Apakah kau sungguh-sungguh mengundang Adrian ke kamarmu nanti?” tanya


Lissa. Dia berbicara untuk menggoda nya tapi seseungguhnya ia sedang mereka-reka
apakah ada sesuatu yang terjadi pasa mereka berdua. Dan ya, itumembuat kami
berdua penasaran.

Avery mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Mungkin. Terkadang kami bersama saat
kalian berdua bermain di tempat tidur kalian. Kau tidak cemburukan?”

“Tidak,” Lissa tertawa. “Hanya penasaran. Adrian adalah cowok yang baik.”

“Oh?” tanya Christian. “Defenisi „baik‟.”

Avery merengkuh tangan Lissa dan mulai memeberi tanda centang pada setiap kata
yang ia sebutkan dengan jari-jarinya.
“Ketampananya menghancurkan, lucu, kaya, berkeluarga dengan sang ratu ...”
“Kau sudah memilih warna baju pengantinmu?” tanya Lissa, masih dengan tertawa.
“Belum,” sahut Avery. “Aku masih menguji airnya. Aku sedang mengira-ngira dia
bisa menjadi mudah untuk diikat dengan ikat pinggang Avery Lazar, tapi dia itu
cowok yang sulit dibaca.”
“Aku sungguh tidak ingin mendengar hal ini,” kata Christian.

“Terkadang dia bertingkah seolah mencintai mereka dan meninggalkan mereka. Di


waktu yang lain, dia muram seolah sedang patah hati dengan cara yang romantis.”
Lissa bertukar lirikan penuh arti dengan Christian saat Acery tidak menangkapnya
ketika ia sedang asik bicara.

“Ngomong-ngomong, aku tidak berada disini untuk berbicara tentang dia. Aku disini
untuk mengatakan tentang kau dan aku meninggalkan tempat ini.” Avery
melingkarkan tangannya pada Lissa yang hampir jatuh terbaring.
duestinae89.blogspot.com
“Pergi dari mana? Dari asrama?”
“Tidak. Dari sekolah ini. Kita akan pergi dalam acara liar akhir minggu di istana.”
“Apa, akhir minggu ini?” Lissa merasa dia berada tiga langkah di belakang, dan aku
tidak menyalahkannya.
“Mengapa?”

“Sebab itu hari Paskah. Dan yang mulia ratu merasa kalau hal itu akan menjadi
„indah‟ jika kau bisa mergabung dengannya dalam liburan kali ini.” Suara Avery
terdengar agung dan tinggi.
“Dan, sejak aku bergaul denganmu, Ayah memutuskan kalau aku telah bersikap baik
sekarang.”

“Bajingan yang nggak sadar, kasihan,” Christian mengeluh.


“Jadi dia bilang aku bisa pergi denganmu.” Avery melirik Christian. “Kau juga bisa
pergi, kurasa. Sang Ratu bilang Lissa boleh membawa seorang teman – dengan
tambahan diriku, tentu saja.”

Lissa menatap wajah Avery yang berseri-seri dan tidak membagi rasa antusianya
padanya.

“Aku benci kalau harus pergi ke istana. Tatiana hanya terus menyuruh-nyuruh,
mengatakan apa yang ia pikirkan seolah itu adalah nasihat yang berguna. Rasanya
selalu mebosankan dan menyedihkan sekarang.” Lissa tidak menambahkan kalau dia
pernah sekali merasa istana itu menyenangkan – ketika aku pergi bersamanya.

“Itu karena kau belum pergi denganku. Aku akan menjadi terobosan! Aku tahu
dimana semua hal-hal menyenangkan. Dan aku bertaruh Adrian juga akan datang.
Dia bisa mendorong jalannya ke hal apapun. Ini akan menjadi semacam kencan
ganda.”

Perlahan, Lissa mulai mengakui kalau kali ini akan menjadi menyenangkan. Dia dan
aku pernah menemukan sedikit „hal menyenangkan‟ yang tersembunyi dari
permukaan mengkilap dalam kehidupan istana. Setiap kunjungannya yang lainnya
sama saja seperti yang ia gambarkan – pengap dan dan berbau bisnis. Tapi sekarang,
pergi dengan Christian dan Avery yang liar dan spontan? Akan menjadi hal yang
potensial.

Hingga Christian mengacaukannya. “Well, jangan hitung aku dalam daftar yang
ikut,” katanya. “Jika kau hanya bisa membawa satu orang, bawalah Jill.”
“Siapa?” tanya Avery.
“Gadis di bawah umur,” jelas Lissa. Dia menatap Christian dengan heran. “Demi
Tuhan mengapa aku harus membawa Jill? Aku baru bertemu dengannya.”
“Sebab dia sebenarnya serius mempelajari bagaimana mempertahankan diri. Kau
harus memperkenalkan ia kepada Mia. Mereka sama-sama pengguna air.”

“Benar,” kata Lissa mengerti. “Dan fakta kalau kau membenci acara di istana tidak
bisa diubah?”
“Well....”
“Christian!” Lissa mendaka menjadi marah. “Mengapa kau tidak melakukan ini
untukku?”
duestinae89.blogspot.com
“Karena aku benci cara Ratu jalang itu menatapku,” katanya.

Lissa masih belum merasa yakin. “Ya, tapi ketika kita lulus, aku akan tinggal disana.
Kau juga akan pergi ke sana.”

“Ya, well, kalau begitu anggap kau memberi liburan awal untukku.”
Rasa kesal Lissa tumbuh. “Oh, aku mengerti sekarang. Aku harus menerima semua
ucapan sampah selama ini, tapi kau tidak mau pergi untukku.”

Avery melirik mereka dan berdiri. “Aku akan meninggalkan kalian anak-anak untuk
menyelesaikan masalah ini dengan cara kalian. Aku tidak peduli apakah si gadis di
bawah umu atau Christian yang akan pergi, selama kau ada disana Lissa.” Dia
manatap tajam ke arah Lissa. “Kau akan pergi, kan?”

“Ya, aku akan pergi.” Jika apapun dari penolak Christian mendadak memacu Lissa
lebih jauh.
Avery menyeringai. “Menakjubkan. Aku akan pergi duluan dari sini, tapi kalian
berdua haruslah berciuman dan berbaikan setelah aku pergi.”

Kakak Avery, Reed tiba-tiba muncul di pintu. “Apa kau siap?” Reed bertanya pada
Avery. Setiap kali dia berbicara, suaranya selalu terdengar seperti sebuah omelan.
Avery memberikan sekilas tatapan kemenangan.

“Lihat? Kakakku yang sopan, datang menjemputku sebelum ibu asrama mulai
meneriakiku untuk pergi. Sekarang Adrian harus menemukan cara baru yang lebih
menarik untuk membuktikan jiwa ksatrianya.”

Reed tidak terlihat angat sopan ataupu ksatria, tapi kurasa dia sungguh baik mau
menjemput dan mengantar Avery ke kamarnya. Pemilihan waktunya selalu saja
menakutkan sebenarnya. Mungkin Avery benar tentang kakanya itu, dia tidaklah
seburuk yang orang-orang pikirkan.

Segera seteal Avery pergi, Lissa mengambalikan perhatiannya pada Adrian.


“Apa kau benar serius menyuruhku membawa Jill daripada membawamu?”
“Yep,” sahut Christian. Dia mencoba untuk berbaring di pangkuan Lissa, tapi Lissa
mendorongnya menjauh. “Tapi aku akan menghitung setiap detiknya sampai kau
kembali.”

“Aku tidak percaya kau menganggap semua ini lelucon.”


“Aku tidak menganggapnya seperti itu,” katanya. “dengar, bukan maksudku untuk
tidak mau bekerjasama denganmu, Ok? Tapi sungguh ... aku hanya tidak ingin
berurusan dengan segala macam hal yang berhubungan dengan drama istana. Dan
ini akan bagus untuk Jill.” Dia cemberut. “Kau tidak punya masalah untuk menolak
dia kan?”

“Aku bahkan tidak mengenalnya,” sahut Lissa. Dia masih marah – sangat marah dari
apa yang aku harapkan, yang artinya sangat aneh.

Christian menggenggam tangan Lissa, dengan wajah yang seriur. Mata biru yang
dicintai Lissa mampu meredakan sedikit kemarahan dalam diri Lissa.
duestinae89.blogspot.com
“Kumohon, aku tidak sedang mencoba membuatmu marah. Jika hal ini benar-benar
penting ....”

Hanya seperti itu, kemarah Lissa merebak hilang. Rasanya mendadak, seperti ada
semacam tombol perubah. “Tidak, tidak. Aku tidak maslaah membawa Jill –
meskipun aku tidak yakin apakah dia akan bergabung dengan kami dan melakukan
apapun yang ada dalam pikiran Avery.”

“Berikan Jill pada Mia. Dia akan menjaganya di akhir minggu itu.”

Lissa mengangguk, bertanya-tanya mengapa Christian begitu tertarik pada Jill. “Ok.
Tapi kau tidak melakukan hal ini karena kau tidak menyukai Avery kan?”

“Tidak, aku suka Avery. Dia membuatmu lebih banyak tersenyum.”


“Kau yang membuatku tersenyum.”
“Itulah kenapa kutambahkan kata „lebih‟.” Christian mencium tangan Lissa dengan
lembut.
“Kau menjadi begitu bersedih setelah kepergian Rose. Aku senang kau mau bergaul
dengan orang lain – maksudku, semua kebutuhan yang tidak bisa kaudapatkan
dariku.”
“Avery bukan pengganti Rose,” jawab Lissa cepat.
“Aku tahu. Tapi dia mengingatkan ku pada Rose.”
“Apa? Mereka tidak memiliki kesamaan sedikit pun.”
Christian menegakkan tubuhnya dan duduk di samping Lissa, mengistirahatkan
wajahnya di pundak Lissa. “Avery seperti Rose dulu, sebelum kalian berdua pergi.”

Baik Lissa maupun aku terhenti sejenak merenungkan hal itu. Apakah dia benar?
Sebelum kekuatan roh Lissa mulai nampak, dia dan aku hidup dalam gaya hidup
gadis pesta. Dan ya, separuhnya dari waktu itu, akulah yang selalu memberikan ide
gila untuk menemukan waktu yang menyenangkan dan membuat kami masuk dalam
masalah. Tapi apakah aku benar-benar terlihat seperti Avery kala itu?

“Tidak akan ada Rose yang lain,” kata Lissa sedih.


“Tidak,” Christian membenarkan. Dia memberikan ciuman singkat dan lembut di
bibirnya. “Tapi akan terus ada teman baru.”

Aku tahu dia benar, tapi aku tidak bisa menolak untuk merasa sedikit cemburu. Aku
juga tidak bisa menghentikan sedikit rasa khawatirku. Semburan kemaran singkat
yang dialami Lissa sejenis kesedihan. Aku bisa memahami betapa ia berharap
Christian bisa menemaninya, tapi tingakh sedikit menyebalkan – dan rasa-hampir-
cemburunya pada Jill pun juga aneh. Lissa tidak punya alasan untuk meragukan
perasaan Christian, jelas tidak perlu apalagi pada seseorang seperti Jill. Suasana hati
Lissa mengingatkanku pada diriku dulu.

Lebih banyak terlihat karaena dia terlalu lelah, tapi sebagian firasatku – mungkin ini
bagian dari ikatan kami – mengatakan padaku ada sesuatu yang salah pada dirinya.
Seperti sensai yang cepat berlalu, yang tidak bisa aku benar-benar pahami, seperti
air yang mengalis di jari-jariku. Namun, firasatku selalu benar sebelumnya, dan
kuputuskan untuk lebih sering memeriksa keadaan Lissa. __
duestinae89.blogspot.com

Dua Belas
MERASA DITINGGALKAN LISSA dengan lebih banyak pertanyaan daripada
jawaban, dan tanpa adanya rencana aksi selanjutnya, aku praktis melanjutkan hidup
dengan tetap tinggal bersama keluarga Belikov untuk beberapa hari berikutnya. Aku
jatuh dalam rutinitas normal mereka, lagi-lagi aku kaget dengan bagaimana
mudahnya aku melakukannya. Aku berusaha keras untuk membuat diriku berguna,
melakukan tugas sehari-hari yang mereka izinkan untuk kulakukan dan bahkan
sampai melakukan hal yang begitu jauh dari bayanganku dengan menjaga bayi
(sesuatu yang tidak membuatku nyaman, mengingat sebagai calon penjaga, aku
tidak memiliki waktu lebih untuk melakukan perkejaan paruh waktu selesai sekolah
sebagai pengasuh bayi). Yeva mengawasiku sepanjang waktu, tidak pernah
mengatakan apapun tapi selalu terlihat seolah dia tidak setuju. Aku tidak yakin
apakah ia menginginkan aku pergi atau apakah memang begitu ia selalu terlihat.
Namun yang lain tidak pernah menanyaiku sama sekali. Mereka terlihat senang
memiliku di sekitar mereka dan membuatnya semaki tampak jelas di setiap kali
mereka melakukan sesuatu. Viktoria khususnya, yang merasa bahagia.

“Aku berharap kau bisa kembali ke sekolah bersama kami,” kata Viktoria suatu
malam. Dia dan aku sudah menghabiskan banyak waktu bersama.

“Kapan kau akan pulang?”


“Senin, tepat setelah hari Paskah.”

Aku mersakan sedikit kesedihan menggolara dalam diriku. Apakah aku masih berada
disini atau tidak aku akan merindukan dirinya.

“Oh, Tuhan. Aku tidak menyangka akan secepat itu.”

Keheningan kecil jatuh diantara kami; kemudian dia menatapku lama. “Pernahkan
kau berpikir ... well, pernahkan mungkin kau berpikir tentang kembali ke St. Basil
dengan kami?”

Aku menatap. “St. Basil? Sekolah mu namanya menggunakan saint juga?” Tidak
semuanya seperti itu. Adrian berasala dari sebuah sekolah di Timur Pasifik bernama
Alder.

“Kepala sekolah kami seorang pendeta dari manusia,” katanya sambil menyeringai.
“Kau bisa mendaftar disana. Kau bisa menyelesaikan tahun terakhirmu – aku yakin
mereka akan menerimamu.”

Dari semua pilihan gila yang pernah aku pertimbangkan dalam perjalanan ini – dan
percaya padaku, aku sudah mempertimbangkan banyak sekali hal gila – ada satu
yang tidak pernah melintas dalam pikiranku. Aku masuk sekolah lagi. Aku sangat
yakin tidak ada apapun lagi yang bisa aku pelajari – well, setelah bertemu Sydney
dan Mark, sangat jelas memang ada beberapa hal lain yang masih perlu dipelajari.
Namun, mempertimbangkan apa yang aku inginkan untuk kulakukan dengan
hidupku, aku tidak terpikir kalau menjalani semester lain dengan Matematika dan
duestinae89.blogspot.com
IPA bisa berarti lebih buatku. Dan selama latihan menjadi penjaga yang kuterima
selama ini, aku lebih banyak melakukan persiapan untuk ujian di akhir tahun. Entah
bagaimana, aku meragukan ujian-ujian itu dan tantangan-tantangan yang akan
datang akan sangat jauh dari apa yang sudah aku alami dengan Strigoi.

Aku menggelengkan kepalaku. “Kurasa tidak. Kupikir aku sudha cukup berurusan
dengan sekolah. Lagipula, sekolahnya pasti dalam bahasa Rusia.”

“Mereka akan menerjemahkannya untukmu,” sebuah seringaian nakal menyala di


wajahnya. “Selain, bahasa menendang dan memukul.” Senyumnya memudar
menjadi ekspresi yang terlihat lebih bijaksana. “Tapi serius, jika kau tidak
menyelesaikan sekolah dan kau tidak ingin menjadi pengawal ... mengapa kau tidak
tinggal disini saja? Maksudku, tinggalah di Baia. Kau bisa tinggal bersama kami.”

“Aku tidak akan menjadi pelacur darah,” jawabku spontan.


Sebuah tatapan aneh melintasi wajahnya. “Bukan itu yang aku maksudkan.”

“Seharusnya aku tidak mengatakannya. Maaf.” Aku merasa jahat dengan jawaban
spontan itu. Saat aku terus mendengar gosip tentang pelacur darah di kota, aku
hanya melihat satu atau dua, dan jelas sekali wanita di keluarga bukan termasuk
jjenis itu. Kehamilan Sonya memang sesuatu yang masih misteri, namun bekerja di
toko obat tidak menunjukkan aktivitas mesum. Aku sudah sedikit mempelajari
mengenai situasi Karolina. Ayah dari anak-anaknya adalah seorang Moroi yang jelas
sekali merupakan hubungan yang sungguh-sungguh. Dia tidak merendahkan dirinya
dengan bersama pria itu, dan pria itu pun tidak memanfaatkannya. Setelah bayinya
lahir, mereka berdua memutuskan berpisah, tapi dengan jalan persahabatan.
Sekarang Karolina tengah menjalani hubungan dengan seorang penjaga yang
berkunjung setiap kali ia harus pergi.

Beberapa pelcaur darah yang pernah kulhat di sekitar kota sangat mirip dengan
gambaran yang ada di kepalaku. Pakaian dan dandanan mereka meneriakkan seks.
Memar di leher mereka jelas sekali menunjukkan kalau mereka tidak masalah
membiarkan pasangan mereka meminum darah selama bercinta, yang jelas
merupakan hal paling rendah yang bisa dilakukan para dhampir. Hanya manusia
yang boleh memberikan darahnya kepada Moroi. Jenisku tidak. Membiarkan hal ini
terjadi – khusunya selama aktivitas bercinta – seperti yang sudah kubilang, sangat
rendah. Haling paling kotor dari yang kotor.

“Ibu akan senang kalau kau tetap tinggal. Kau bisa mendapatkan pekerjaan juga.
Jadilah bagian dari keluarga kami.”

“Aku tidak bisa menggantikan tempat Dimitri, Viktoria,” jawabku lembut.


Dia meraih dan meremas hangat tanganku. “Aku tahu. Tidak ada satupun orang
yang mengharapkanmu untuk jadi dia. Kami menyukaimu karena dirimu, Rose.
Keberadaanmu disini terasa sangat benar – ada alasan mengapa Dimka memilih
bersamamu. Kau cocok disini. “

Aku mencoba untuk membayangkan kehidupan yang ia gambarkan. Terdengar ...


mudah. Nyaman. Tidak ada kekhawatiran. Cukup tinggal bersama sebuah keluarga
bahagia, tertawa dan keluar bersama setiap malam. Aku bisa melanjutkan hidupku
duestinae89.blogspot.com
sendiri, tidak perlu membuntutiorang lain sepanjang waktu. Aku akan mempunyai
saudara perempuan. Tidak akan ada pertempuran – kecuali untuk bertahan. Aku
bisa menyerah untuk melanjutkan rencana membunuh Dimitri – yang aku tahu akan
membunuhku juga, secara fisik maupun jiwa. Aku bisa memilih jalur yang logis,
membiarkannya pergi dan menerima kenyataan kalau dia sudah mati. Namun, ....
jika aku melakukannya, mengapa tidak kembali saja ke Montana? Kembali ke Lissa
dan Akademi?

“Aku tidak tahu,” sahutku pada Viktoria akhirnya. “Aku tidak tahu apa yang harus
kulakukan.” Obrolan ini terjadi tepat setelah makan malam dan dia melirik ke arah
jam ragu-ragu.

“Aku tidak ingin meninggalkanmu, terutama karena kita tidak punya banyak waktu
bersama, tapi ... aku harus segera menemui seseorang ...”

“Nikolai?” godaku.
Dia menggelengkan kepalanya, dan aku mencoba menyembunyikan rasa
kekecewaanku. Aku pernah melihatnya beberpaa kali dan dia tumbuh menjadi
sangat pantas untuk dicintai sekarang. Sayang sekali Viktoria tidak bisa
menumbuhkan perasaan kepadanya. Meskipun, aku pernah bertanya-tanya apa ada
sesuatu yang mungkin menahannya - atau seseorang.

“Oh, bukan,” jawabku sambil menyeringai. “Siapa dia?”


Dia tetap menjaga agar wajahnya terlihat datar, imitasi ekspresi Dimitri. “Seorang
teman,” jawabnya.

“Seseorang dari sekolah?”


“Tidak.” desahnya. “Dan itulah masalahnya. Aku akan sangat merindukannya.”

Senyumku memudar. “Aku bisa membayangkannya.”


“Oh,” dia terlihat malu. “Bodohnya aku. Maksudku, aku mungkin tidak akan
melihatanya untuk sementara waktu ... tapi aku akan bertemu dengannya lgi. Tapi
Dimitri telah tiada. Kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. sebenarnya,
kata-katanya itu tidak semuanya benar. Tapi, aku tidak mengatakan itu padanya.
Malah aku hanya berkata, “Ya.”

Aku terkejut, dia memelukku. “Aku tahu seperti apa rasanya cinta itu. Dan
kehilangan ... aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Yang hanya
bisa kuucapkan adalah kami ada disini untukmu. Kami semua, Oke? Kau tidak bisa
menggantikan Dimitri, tapi kau terasa seperti saudara perempuan kami.”

Dia menganggapku saudaranya sehingga membuatku tegang dan hangat pada saay
bersamaan.

Dia harus pergi setelah itu untuk bersiap-siap menemui kencannya. Segera dia
mengganti pakaian dan berdandan – jeals lebih dari sekedar teman biasa – dan
segera melangkah ke arah pintu. Aku merasa senang karena aku tidak ingin ia
melihat air mata yang dibawa oleh kata-katanya ke mataku. Aku menhabiskan
waktukku sebagai anak tunggal. Lissa adalah seseeorang yang hampir terasa seperti
saudara bagiku. Aku selalu berpikir kalau Lissa adalah satu-satunya yang bisa
duestinae89.blogspot.com
kuanggap begitu; satu-satunya yang telah aku hilangkan sekarang. Mendengar
Viktoria memanggilku sebagai saudaranya... menggerakkan sesuatu di dalam diriku.
Sesuatu yang menagtakan padaku kalau aku punya teman dan tidak sendirian. Aku
melangkah turun ke arah dapur setelah itu dan segera Olena menemaniku. Aku
tengah mengobrak-abrik makananku.

“Apakah aku mendengar Viktoria yang pergi?” tanyanya.


“Ya, dia pergi menemui seorang teman.” Sebagai bentuk menjagaan kepercayaan
seseorang, aku menjaga ekspresiku agar tetap terlihat netral. Tidak mungkin aku
menjelaskan alasan Viktoria keluar.

Olena mendesah, “Padahal aku ingin dia membantuku berbelanja sesuatu di kota.”
“Aku akan melakukannya,” kataku dengan senang hati, “Setelah aku mendapatkan
sesuatu untuk dimakan.”

Dia memberiku senyuman menenangkan dan membelai pipiku. “Kau punya hati
yang baik, Rose. Aku bisa mengerti mengapa Dimka mencintaimu.” Rasanya sangat
mengagumkan, betapa diterimanya hubunganku dengan Dimitri disini. Tidak
satupun dari mereka mempermasalahkan perbedaan usia kami atau hubungan guru-
murid. Seperti yang pernah kukatakan pada Sydney, seolah aku adalah jandanya
atau sejenisnya dan kata-kata Viktoria tentang aku yang seharusnya tinggal disini
kembali berputar dalam kepalaku. Cara Olena menatapku membuatku merasa kalau
aku benar-benar putrinya, dan sekali lagi aku merasa sudah mengkhianati ibuku
sendiri.

Ibuku mungkin akan menghina aku dan Dimitri. Dia mungkin akan menganggapku
tidak pantas dan berkata kalau aku terlalu muda. Atau mungkinkah seperti itu?
Mungkin aku lan yang terlalu kasar membayangkannya. melihatku berdiri di depan
lemari yang terbuka, Olena menggelengkan kepalanya sambil menyalahkan diori
sendiri, “Tapi kau harus makan dulu.”

“Cemilan saja,” aku meyakinkannya. “Jangan repot-repot.” Dia akhirnya


mengiriskan sepotong besar roti hitam yag dia buat sebelumnya hari ini dan
meletakkan semangkuk mentega karena dia tahu betapa aku senang sekali mengolesi
tiap potongan rotiku.Karolina pernah menggodaku kalau orang Amerika mungkin
akan kaget jika tahu apa yang ada di dalam kandungan roti itu, jadi aku tidak pernah
menanyakan apapun. Entah bagaimana, rasanya manis dan asam di saat yang
bersamaan, dan aku menyukainya.

Olena duduk di hadapanku dan melihatku makan. “Ini adalah makanan favoritnya
ketika ia masih kecil.”
“Dimitri?”
Dia mengangguk. “Kapanpun dia istirahat dari sekolah, hal pertama yang ia lakukan
adalah meminta roti itu. Aku harus membuat satu loyang roti untuk dirinya sendiri
hampir setiap kali ia makan. Anak-anak perempuan tidak [ernah begitu banyak
memakannya.”

“Cowok selalu makan l;ebih banyak,” sejujurnya, aku hamp[ir bisa menyaingi nafsu
makan mereka semua.
duestinae89.blogspot.com
“Benar,” katanya geli. “Tapi aku bahkan mencapai tujuanku ketika aku membuatnya
mulai membuat roti itu untuk dirinya sendiri. Kukatakan padanya, jika dia akan
memakan semua masakanku, dia lebih baik tahu seberapa banyaknya hal yang harus
dilakukan untuk membuatnya.”

Aku tertawa, “Aku tidak bisa bayangkan Dimitri membuat roti.”

Dan akhirnya, segera setelah kata-kata itu keluar, aku berpikir ulang. Asosiasi
instanku tentang Dimitri bahwa dia selalu kuuat dan sengit; itu adalah daya tariknya
yang seksii, individu yang bertempur seperti seorang dewa datang dalam pikiranku.
Namun, sekarang kelembutan dan kebijaksanaan Dimitri bercampur dengan garis
mematikan itu sehingga membuatnya begitu sangat menaggumkan.

Tangan yang sama yang memegang psak dan menggunakannya dengan tepat dan
dengan hati-hati menyisiri rambutku agar tidak menutupi wajahku.

Matanya yang lihai mengenali bahaya apapun di suatu tempat ternyata bisa
menghormatiku dengan tatappan kagum dan memuja, seolah aku adalah wanita
tercantik dan terhebat di dunia.

Aku mendesah, termakan oleh rasa sakit yang pahit dalam dadaku yang terasa
menajdi hal biasa bagiku sekarang. Hal yang rasanya begitu bodoh, membuat satu
loyang roti dari semua hal lain. Tapi begitulah yang pernah terjadi. Aku selalu
emosional setiap kali memikirkan Dimitri.

Mata Olena menatapku, manis dan menghibur. “Aku paham,” katanya, menebak
pikiranku. “Aku tahu jelas apa yang tengah kau rasakan.”

“Apakah semakin lama akan terasa semakin mudah?” tanyaku.


Tidak seperti Sydney, Olena punya jawaban.
“Ya. Tapi kau tidak akan pernah menjadi orang yang sama.”
Aku tidak tahu apakah aku harus merasa nyaman dengan kata-kata itu atau tidak.

Setelah aku menyelesaikan makananku, dia memberiku daftar belanjaan, aku


melangkah bebas menuju pusat kota, senag berada di luar dan bergerak. Tidak
melakukan apapun sangat tidak cocok denganku. Saat aku berada di dalam toko
bahan makanan, aku kaget melihat Mark. Aku mengira dia dan Olenna tidak terlalu
sering mengunjungi kota. Aku tidak akan melakukannya jika jadi mereka, menginat
mereka menanam sendiri makanan mereka dan hidup dari ladang. Dia memberiku
senyuman yang hangat.

“Aku bertanya-tanya sebelumnya apakah kau masih berada di sini.”


“Ya,” aku memegang keranjangku. “Hanya berbelanja untuk keperluan Olena.”
“Aku senang kau masih disini,” katanya. “Kau terlihat lebih ... damai.”
“Kurasa cincinmu membantuku. Paling tidak dengan kedamaiannya. Benda ini tidak
bisa menyelesaikan banyak hal sejauh keputusan yang harus diambil.”

Dia mengerutkan dahi, memindahkan susu kaleng yang ia pegang dari satu tangan
ke tangan yang lain. “Keputusan apa?”
duestinae89.blogspot.com
“Apa yang harus aku lakukan sekarang. Kemana akan pergi.”
“Kenapa tidak tinggal disini?”

Rasanya mengerikan, sangat mirip dengan percakapanku tadi dengan Viktoria. Dan
responku juga hampir sama. “Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan jika aku
tinggal disini.”

“Dapatkan pekerjaan. Tinggallah bersama keluarga Belikov. Kau tahu mereka


menyayangimu. Kau sangat cocok bersama keluarga mereka.”

Perasaan hangat dan dicintai kembali hadir, dan lagi-lagi, aku mencoba
membayangkan diriku bersama mereka, bekerja di sebuah toko seperti ini atau
menunggui meja.

“Aku tidak tahu,” jawabku. Aku memiliki catatan yang kurang baik. “Aku hanya tidak
tahu apakan hal seperti itu cocok buatku.”

“lebih baik daripada pilihan alternatif yang lain,” ia memperingatkan. “Lebih baik
daripada berlarian tanpa memiliki tujuan yang jelas, melemparkan dirimu sendiri
untuk mengahdapi bahay. Tidak ada pilihan sama sekali disana ...”

Namun, itulah alasan mengapa aku mendatangi Siberia sebeagai tujuan pertama dari
rencanaku. Suara hatiku mencaci maki diriku sendiri. Dimitri, Rose. Apa kau sudah
melupakan Dimitri? Apakah kau lupa bagaimana kau datang kesini hanya untuk
membebaskannya, seolah dia yang menginginkannya? Atau benarkah itulah yang
dinginkannya? Mungkin dia menginginkan aku untuk tetap aman. Aku sungguh
tidak tahu, dan tanpa ada pertolongan dari Mason lagi, pilihanku malah semakin
kacau. Memikirkan Mason mendadakn mengingatkanku pada suatu hal yang telah
lama terlupakan.

“Ketika kita ngobrol sebelumnya, kita membecirakan apa yang bisa dilakukan Lissa
dan Oksana. Tapi bagaimana denganmu?”

Mark menajamkan matanya, “Apa maksudmu?”


Ppernahkah kau ... pernahkah kau bertemu,um, hantu?”

Beberapa saat berlalu, dan kemudian ia menarik nafas. “Kuharap hal itu tidak terjadi
padamu.” Sangat mengeherankan ketika aku merasa leganya mengetahaui kalau aku
tidak sendirian dalam pengaman berhantuku ini. Meskipun sekarang aku mengerti,
pernah mengalami kematian dan pernah menjalani dunia orang mati membuatku
menjadi target roh. Hal ini masih menjadi satu dari hal gila menjadi dicium
bayangan.

“Apakah ini terjadi tanpa kau inginkan?” tanyaku.


“Awalnya. Kemudian aku belajar mengendalikannya.”
“Aku juga,” tiba-tiba aku mengingat kejadian di lumbung waktu itu. “Sebenarnya,
tidak semuanya benar,” segera kurendahkan suaraku. Aku tergesa-gesa merangkum
apa yang terjadi dalam perjalananku kesini bersama Sydney. Aku tiidak pernah
membicarakannya dengan orang lain.
“Kau tidak boleh lagi melakukannya,” katanya keras.
duestinae89.blogspot.com
“Tapi aku tidak bermaksud melakukannya! Itu terjadi begitu saja.”
“Kau panik. Kau butuh pertolongan, dan ada bagian dari dirimu yang memanggil
roh-roh di sekelilingmu. Jangan lakukan itu. Itu tidak bear, akan membuatmu
mudah kehilnagna kendali.”
“Aku bahkan tidak tahu bagaimana caraku melakukannya.”

Seperti yang sudah kubilang, kehilangan kendali. Jangan pernah membiarkan


kepanikan menguasi bagian terbaik dari dirimu.” Seorang wanita tua melewati kami,
sebuah skarf menutupi kepalanya dan sebuah keranjang sayur melingkari
tangannya. Aku menunggu sampai dia menghilang sebelum bertanya lagi pada Mark,
“Mengapa mereka mau bertempur untukku?”
“Sebab yang telah mati membenci Strigoi. Strigoi itu tidak alami, tidak hidup
ataupun mati – hanya eksistansinya berada di antara keduanya. Ssama seperti saat
kita merasakan setan, begitulah halnya para hantu merasakan Strigoi.”
“Kelihatannya mereka bisa menjadi senjata yang bagus.”
Wajah itu, yang biasanya santai dan terbuka, mengerutkan dahi. “Itu berbahaya.
Orang-orang seperti kau dan aku sudah pernah berjalan di tepian kegelapan dan
kegilaan. Memanggil yang telah mati secara terbuka hanya akan membawa kita lebih
dekat untuk jatuh dari tepian itu dan akhrnya kita akan kehilangan akal sehat.” Dia
melirik jam tangannya dan mendesah. “Dengar, aku harus pergi, tapi aku serius,
Rose. Tinggalah disini. Menjauhlah dari masalah. Lawan strigoi jika mereka
mendatangimu, tapi jangan mencari mereka dengan membabi buta. Dan jelas,
tinggalkan masalah hantu itu.”

Banyak sekali nasihat yang tidak yang tidak yakin bisa kuikuti nantinya. Tapi aku
berterima kasih padanya dan mengirimkan salamku untuk Oksana sebelum
mengirimkan salamku untuk Oksana sebelum membayar dan pergi juga. Aku
menuju jalan pulang ke arah rumah Olena ketika aku memutari sebuah sudut gang
dan hampir berjalan tepat di sebelah Abe.

Dia berpakaian mewah seperti biasanya, mengenakan jas mahal dan skarf kuning
emas yang sepadan dengan perhiasan emas yang ia pakai. Penjaganya berkeliaran di
sekitar tempatini dan dia bersandar di dinding bata sebuah bangunan .
“Jadi inilah mengapa kau datang ke Rusia. Untuk pergi ke pasar seperti seorang
petani.”
“Tidak,” kataku. “Tentu saja tidak.”
“Hanya berkunjung ke tempat indah kalau begitu?‟
“Tidak. Aku hanya ingin berguna. Berhentilah mencoba mendapatkan informasi
dariku. Kau tidak sepintar yang kau kira.”
“Itu tidak benar.” jawabnya.
“Dengar, aku sudah mengataknnya padamu. Aku datang kesini untukku mengatakan
berita itu pada keluarga Belikov. Jadi kembalilah dan katakan pada siapapun kau
bekerja untuk menerima hal itu.”
“Dan aku sudah mengatakan padamu untuk tidak berbohong padaku,” katanya. Lagi,
aku melihat campuran aneh antara bahaya dan gurauan.

“Kau tidak mengerti bagaimana aku sudah cukup sabar menghadapimu. Dengan
orang lain aku pasti sudah mendapatkan informasi di malam pertama aku
membutuhkannya.”
duestinae89.blogspot.com
“Beruntungnya aku,” aku mengejek balik.
“Apa sekarang? Apa kau akan membawaku ke lorong bawah dan memukuliku hingga
aku mengatakan alasan mengapa aku disini? Kau tahu, aku kehilangan ketertarikan
dalam seluruh rutinitas gaya keroyokan menakutkan khas bos-bos ini.”

“Dan aku kehilnagn kesabaranku untukmu,” katanya. Ada sedikit candaan dan saat
ia berdiri di depanku, aku tidak bisa menolak untuk memberikan penilaian tentang
tubuhnya yang ternyata lebih bagus ketimbang moroi kebanyakan. Sebagian besar
moroi, menolak untuk bertempur, tapi aku tidak akn terkejut jika Abe bertindak
kasar seperti kebanyakan orang atau penjaganya punyai.

“Dan sejujurnya, aku sudah tidak lagi peduli alasan kau ada disini kau cuma perlu
pergi. Sekarang.”
“Janga mengancamku, orang tuua. Aku akan pergi kapanpun aku mau.” Lucu, aku
baru saja berjanji pada Mark kalau aku masih belum tahu apakah aku bisa tinggal di
Baia. Tapi saat Abe menekanku, aku malah ingin menancapkan kakiku disini.

“Aku tidak tahu apa yang kau coba jauhkan dariku, tapi aku tidak takut padamu.” Itu
tidak semuanya benar.
“Kau harusnya takut,” jawabnya balik dengan puas.
“Aku bisa menjadi teman yang sangat baik atau musuh yang sangat jahat. Aku bisa
membuatnya sepadan kalau kau pergi. Kita bisa membuat penawaran.”

Hampir ada sebuah kilatan kesenangan di matanya saat ia berbicara. Aku ingat
Sydney pernah menggambarkan bagaimana ia memanipulasi orang lain, dan aku
merasa inilah cara ia hidup, untuk bernegosiasi, memberikan pertukaran untuk
mendapatkan apa yang ia inginkan.

“Tidak,” kataku. “Aku akan meninggalkan mereka saat aku siap. Dan tidak ada
apapun yang bisa kau atau siapapun yang mempekerjakanmu lakukan untuk
memaksa ku pergi.” Berharap aku terlihat meyakinkan, aku berbalik menjauh.

Dia meraih dan mencengkram bahuku, menarikku kembali, hampir membuatku


menjatuhkan belanjaanku. Aku mulai memasang posisi menyerang ke depan sebagai
bentuk mode penyeranganku, tapi para penjaganya sudah berada di sekitarnya
dengan secepat kilat. Aku tahu kalau aku tidak akan bisa melawan terlalu jauh.

“Waktumu sudah habis disini,” desis Abe. “Di Baia. Di Rusia. Kembalilah ke
Amerika. Aku akan memberikan semua uang yang butuhkan, tiket kelas utama,
apapun.”

Aku melangkah mundur menjauhinya, membelakangi dengan hati-hati, “Aku tidak


butuh bantuanmu atau uangmu – hanya Tuhan yang tahu dari mana semua itu
berasal.” Sekelompok orang menuju ke arah kami dari seberang jalan, tertawa dan
mengobrol, aku semakin mundur lebih jauh, jelas Abe tidak akan memulai suatu
adegan yang memiliki bonus banyak saksi. Itu membuatku lebih berani, yang
rasanya terlihat bodoh dalam posisiku.

“Dan aku sudah bilang padamu: Aku akan pulang kapanpun aku mau.” Mata Abe
berpindah ke arad para petani yang mendekat itu, dan dia segera mundur bersama
duestinae89.blogspot.com
penjaganya. Senyum yang membuat merinding itu terpatri d wajahnya. :Dan aku
sudah bilang pasamu. Aku bisa menjadi teman yang sangat baik atau musuh yang
sangat jahat. Pergilah dari Baia sebelum kau menemukan yang mana dari diriku
yang akan kau lihat.”

Dia berbalik dan pergi, membuatku sangat lega. Aku tidak ingin ia melihat seberapa
banyak ketakutan yang tertinggal di wajahku oleh kata-kata yang ia tinggalkan.

Aku segera tidur malam itu, mendadak merasa menjadi anti-sosial. Aku berbaring
disana selama beberapa saat, memindahkan halaman demi halaman majalah yang
tidak bisa kubaca, dan dengan menakjubkan aku menemukan diriku terus merasa
lelah. Kurasa pertemuanku dengan Mark dan Abe membuat merasa sangat lelah.

Kata-kata Mark tentang tetap tinggal telah menamparku untuk dengan rumah
setelah percakapanku dengan Viktoria. Ancaman yang samar Abe telah menaikkan
rasa pertahananku, membuatku waspada pada siapapun yang bekerja dengan Abe
untuk membuatku meninggalkan Rusia. Pada titik tertentu, aku menduga-duga
apakah dia sungguh-sungguh akan kehilangan kesabarannya dan berhenti mencoba
tawar-menawar?

Aku beralih tidur dan perasaan yang ku kenal dalam mimpi Adrian yang nyaman
mengelilingiku. Sudah sangat lama sejak terakhir kali hal ini terjadi dan aku
sebenarnya berpikir kalau dia mendengarkanku saat aku menyuruhnya menjauhiku
sebelumnya. Tentu, aku selalu mengatakan hal itu padanya. Ini waktu jeda yang
cukup lama tanpa adanya kunjungan, dan sebanyak aku membenci untuk
mengakuinya, aku merindukannya.

Latar yang dia pilih kali ini adalah bagian dari perabot Akademi, daerah berkayu
dekat sebuah kolam. Semuanya terlihat hijau dan bermekaran, dan matahari
menyinari kami. Aku menduga kreasi Adrian ini bertolak belakang dengan cuaca
yang sebenarnya sedang terjadi di Montana, tapi seperti biasa, dia yang
mengendalikan. Dia bisa melakukan apapun yang ia inginkan.

“Dhampir kecil,” katanya, tersenyum. “Sudah lama tidak berjumpa.”


“Kupikir kau sudah selesai denganku.”
“Tidak akan pernah berakhir denganmu,” jawabnya, memasukkan tangannya ke
kantong dan berjalan ke arahku. “Meskipun ..., sebenarnya, aku tidak bermaksud
untuk menjauh kali ini. Tapi, yah, aku harus memastikan kalau kau masih hidup.”
“Hidup dan baik-baik saja.”

Dia tersenyum padaku. Matahari membuat rambut cokelatnya berkilat, memberikan


highlight chesnut-emas di rambutnya.

“Bagus. Kau terlihat lebih bagus daripada yang pernah kulihat selama ini,” matanya
beralih dari wajahku ke bawah, ke arah tanganku yang sedang beristirahat di
pangkuanku.

“Apa ini?” cincin Oksana terpasang disana, meskipun cincin itu tidak memiliki
banyak hiasan, logamnya berkilat terang diterpa sinar matahari. Mimpi ini begitu
duestinae89.blogspot.com
aneh. Meskipun Adrian dan aku tidak bersama, namun jelas cincin itu mengikutiku
masuk dan cukup menjaga kekuatannya sehingga bisa dirasakan Adrian.
“Sebuah Jimat. Berisikan roh.” seperti aku, ini jelas adalah sesuatu yang tidak
pernah ia pikirkan sebelumnya. Ekspresinya semakin penasaran.

“Dan benda ini bisa menyembuhkan, kan?” Ini melindungi auramu dari kegelapan.”
“Sedikit,” kataku, merasa tidak nyaman dengan pendapatnya. Aku mepeaskan cincin
itu dan memasukkannnya ke dalam kantungku. “Hanya sementara. Aku bertemu
dengan pengguna roh lain dan seorang dhampir yang juga dicium-bayangan.”

Keterkejutan bertambah di wajahnya,”Apa? Dimana?”

Aku mengigit bibirku dan menggelengkan kepala.


“Sial, Rose! Ini penemuan besar. Kau tahu bagaimana Lissa aku mencari pengguna
sihir roh. Katakan padaku dimana mereka.”

“Tidak. Mungkin nanti. Aku tidak ingin kalian mengejarku.” Dari semua yang aku
tahu, mereka sudah mengejarku, menggunakan Abe sebagai suruhan mereka.

Mata hijaunya berkilat marah. “Dengar, anggaplah untuk sementara waktu dunia
tidak selalu berpusat padamu, oke? Ini tentang Lissa dan aku, tentang memahami
sihir gila yang ada di dalam diri kami. Jika kau tahu orang-orang yang bisa
membantu kami, kai juga harus tahu.”

“Mungkin nanyi,” aku mengulangi dengan dingin. “Aku akan segera pindah –
kemudian aku akan mengatakannya padamu.”
“Mengapa selalu begitu sulit?”
“Karena kau menyukaiku yang seperti itu.”
“Pada saat ini? Tidak terlalu.” Ini satu dari komentar bercanda khas Adrian yang
selalu ia buat, tapi baru saja, sesuatu tentang ini mengangguku. Untuk suatu alasan,
aku mendapat perasaan yang sangat sangat kecil kalau aku tiba-tiba tidak lagi
menarik untuknya.

“Cobalah sabar,” kataku padanya. “Aku yakin kalian berdua punya hal lain untuk
dikerjakan. Dan Lissa terlihat cukup sibuk dengan Avery.” Kata-kata itu keluar tanpa
bisa kucegah, dan sedikit rasa pahit dan iri yang kurasakan saat melihat mereka di
malam yang lalu muncul dalam nada bicaraku.

“Adrian menaikkan alisnya. “Tuan dan nyonya, dia mengakuinya. Kau sudah
memata-matai Lissa – aku sduah tahu itu.”

Aku membuang muka. “Aku hanya ingin tahu kalau dia juga masih hidup.” seolah
aku bisa pergi kemanapun di dunia ini dan tidak tahu hal itu terjadi.

“Memang. Hidup dan sehat, sama sepertimu. Er .... lebih baik.” Adrian merengut.
“Terkadang aku merasakan sesuatu yang aneh dari dirinya. Dia tidak terlihat benra-
benar baik-baik saja atau auranya akan sedikit berkerlap-kerlip. Tidak pernah terjadi
terlalu lama, tapi aku masih khawatir.” Seseuatu dalam suara Adrian melembut.
“Avery juga mengkhawatirkannya, jadi Lissa berada di tangan yang baik. Avery
cukup mengagumkan.”
duestinae89.blogspot.com
Aku menatapnya pedas dan tajam. “Mengagumkan? Apa kau menyukainya atau
sejenisnya?” aku tidak melupakan komentar Avery tentang meninggalkan pintu tidak
terkunci untuk dirinya.

“Tentu saja aku menyukainya. Dia orang yang baik.”


“Bukan, maksudku suka. Bukan menyukai.”
“Oh, aku menegrti,” katanya, memutar matany. “Kami memutuskan pengertian
„suka‟ dalam tahapan sekolah dasar.”
“Kau tidak menjawab pertanyaanya.”
“Sebenarnya, seperti yang sudah kukatakan, dia adalah orang yang baik. Pintar.
Mudah diajak bergaul. Cantik.”

Sesuatu dalam caranya saat mengatakan „cantik‟ menggangguku. Aku memalingkan


pandanganku lagi, memainkan nazar biru di leherku untuk menyembunyikan
perasaanku. Adrian sudah menebaknya.

“Apa kau cemburu, dhampir kecil?”


Aku menatap balik ke arahnya. “Tidak. Jika aku bisa cemburu padamu, aku mungkin
akan menjadi gila dari dulu, memikirkan semua perempuan yang kau permainkan.”

“Avery bukan jenis perempuan yang bisa dipermainkan.” Lagi, aku mendengar rasa
sayang itu dalam suaranya, pengibaratan itu. Ini seharusnya tidak menggangguku.
Harusnya aku senang kalau ia tertarik degan wanita lain. Dari semua itu, aku sduah
mencoba meyakinkanya untuk meninggalkanku sendirian untuk waktu yang lama.
Satu dari bagian syarat darinya ketika memberikanku uang untuk perjalanan ini
adalah membuatku berjanji untuk memberikannya satu kali kesempatan yang adil
untuk berpacaran dengannya ketika – dan jika – aku kembali ke Montana. Jika dia
sudah bersama Avery, itu akan mejadi satu hal yang tidak perlu ku khawatirkan lagi.

Dan sejujurnya, jika dia adalah gadis lain selain Avery, aku mungkin tidak akan
keberatan. Tapi entah bagaimana, pikiran tentang bagimana ia telah memikat Adrian
rasanya sudah cukup keterlaluan. Apakah sudah tidak cukup buruk bagiku setelah
kehilangan Lissa? Bagaimana mungkin satu wanita dengan sangat mudah
mengambil posisiku? Dia mencuri sahabat baikku, dan sekarang pria yang
bersumpah dan berlutut kalau aku adalah satu-satunya yang dia inginkan dengan
serius sudah berpikir untuk menggantikan aku.

Kau sudah menjadi orang yang munafik, sebuah suara jaht berbicara di dalam
kepalaku. Mengapa kau harus merasa ada yang salah ketika ada seseorang yang
datang dalam kehidupan mereka? Kaulah yang membuang mereka. Baik Lissa
maupun Adrian. Mereka punya hak untuk melanjutkan hidup.

Aku berdiri dengan marah. “Dengar, aku sudah cukup berbicara padamu malam ini.
Maukah kau membiarkanku pergi dari mimpi ini? Aku tidak akan mengatakan
padamu dimana diriku berada. Dan aku tidak tertarik untuk mendengarkan tentang
bagaiman mempesonanya Avery dan bagaimana ia lebih baik dari diriku.”

“Avery tidak akan pernah bertindak seperti anak kecil,” katanya. “Dia tidak akan
begitu menyakit hati seseorang yang cukup peduli untuk memeriksa keadaannya.
duestinae89.blogspot.com
Dia tidak akan menolakku untuk memperoleh kesempatanku untuk belajar lebih
banyak tentang sihirku karena dia menjadi gila kalau-kalai seseorang akan
mengacaukan usaha gilanya untuk mengejar kematian pacarnya.”

“Jangan sebut aku anak kecil,” aku balik berteriak. “Kau seegois biasanya. Ini selalu
tentang dirimu – bahkan dalam mimpi ini sekalipun. Kau memerangkapku disini
meski hal ini bertentangan dengan keinginanku, apakah aku setuju atau tidak,
karena ini menyenangkan buatmu.”

“Baik,” katanya, suaranya dingin. “Aku akan mengakhiri semua ini. dan aku akan
mengakhir semua yang ada diantara kita. Aku tidak akan kembali lagi.”
“Bagus. Kuharap kau serius dengan ucapanmu itu kali ini.”

Mata hijaunya adalah hal terakhir yang aku lihat sebelum aku terbangun di
ranjangku sendiri. Aku duduk, terengah-engah. Hatiku terasa seperti hancur, dan
aku hampir berpikir kalau aku mungkin akan menangis. Adrian benar – aku
bertingakh seperti anak kecil. Aku menyakitinya ketika ia tidak pantas mendapatkan
perlakuan seperti itu. Sekalipun begitu ... aku tidak mampu untuk menguasai diriku.
Aku kehilangan Lissa. Aku bahkan kehilangan Adrian. dan sekaran orang laing
tangah mengambil tempatku, seseorang yang tidak akan melarikan diri seperti diriki.

Aku tidak akan kembali.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa dia sungguh-sungguh kali ini.