Anda di halaman 1dari 5

Bab I.

Hasil dan Pembahasan

1. Hasil
Ekstrak ilalang biji jagung

Hari Panjang kecambah (cm) dalam perlakuan


ke Kontrol 1:3 1:9 1:15
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 0 0,2 0 0,3 0 0 0 0 0,1 0,2 0 0 0 0 0 0
3 0,2 0,5 0,2 0,3 0 0,2 0,3 0 - - - - - 0 0 0
4 0,5 1 0,5 0,5 0,2 0,5 0,5 0,2 - - - - - - - -
5 0,7 1,3 0,7 0,7 0,5 0,7 1 0,2 - - - - - - - -
6 1 1,5 1 1 0,7 1 1,3 0,7 - - - - - - - -
7 1,2 1,5 1,3 1,2 1 1,5 1,7 1 - - - - - - - -

Ekstrak akasia biji jagung

Hari Panjang kecambah (cm) dalam perlakuan


ke Kontrol 1:3 1:9 1:15
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 0,5 0,7 0,5 0,4 0,2 0 0,4 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 1 1,2 1,2 1 0,3 0 1 0 0,1 0,2 0 0,1 0 0 0 0
3 1,2 1,5 1,2 0,3 0,3 0 1,5 0,4 0,1 0,2 0 0,1 0,2 0,2 0,1 0,2
4 1,4 1,5 1,3 1,7 0,5 0,3 1,7 0,6 - - - - 0,2 0,2 0,1 0,2
5 1,5 1,7 1,4 2 1 0,3 2 0,8 - - - - - - - -
6 1,5 1,8 1,5 2,4 1,5 0,5 2,4 1 - - - - - - - -
7 2 2 1,7 2,5 1,7 0,5 2,4 1,2 - - - - - - - -

Ekstrak ilalang biji kacang hijau

Hari Panjang kecambah (cm) dalam perlakuan


ke Kontrol 1:3 1:9 1:15
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 0 0,3 1,3 0,4 0 0,5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 0 0,7 2 0,7 0 1,2 0 0,2 0,1 0,2 0,2 0,2 0 0 0 0
3 0 1 2,5 1 0 2 0 0,4 0,1 0,2 0,2 0,2 0 0 0 0
4 0,7 1,3 2,8 1,4 0,2 2,1 0 0,5 - - - - - - - -
5 1 1,5 3 1,7 0,3 2,1 0,2 0,7 - - - - - - - -
6 1,5 2 3,2 2 0,3 2,2 0,3 0,7 - - - - - - - -
7 1,7 2,3 3,5 2,5 0,4 2,2 0,3 0,8 - - - - - - - -
Ekstrak akasia biji kacang hijau

Hari Panjang kecambah (cm) dalam perlakuan


ke Kontrol 1:3 1:9 1:15
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 0 0 1,3 0,3 0,2 1 0,2 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 0 0 2 0,5 0,4 2 0,4 0 0 0 0,2 0,2 0,1 0,1 0,2 0,1
3 0 1 2,5 0,7 0,7 2,7 0,4 0 0,2 0,1 0,3 0,2 0,1 0,1 0,2 0,1
4 0,2 0,3 2,7 0,7 0,8 2,9 0,6 0,1 0,2 0,1 0,3 0,2 - - - -
5 0,5 0,3 2,7 0,9 0,9 3 0,7 0,2 - - - - - - - -
6 0,5 0,5 2,8 1 0,9 3,2 0,7 0,2 - - - - - - - -
7 0,7 0,5 2,9 1,2 1 3,2 0,7 0,3 - - - - - - - -

2. Pembahasan
Alelopati merupakan suatu tipe persaingan yang dapat bersifat
interspesifik maupun intraspesifik. Suatu jenis tumbuhan tertentu dapat
mengeluarkan senyawa kimia. Senyawa kimia tersebut memiliki
kemampuan untuk menghambat partumbuhan dan perkembangan
tanaman lain yang tumbuh bersaing dengan tumbuhan tersebut di satu
wilayah. Peristiwa ini dikenal dengan istilah alelopati. Menurut
Indriyanto (2006: 213) Alelopati dapat berupa penghambatan secara
langsung maupun tidak langsung suatu senyawa kimia yang dibentuk
oleh tumbuhan tertentu.
Berdasarkan hasil percobaan yang telah praktikan lakukan dengan
4 perbandingan yaitu: kontrol, 1:3, 1:9, 1:15 (air: ekstrak
ilalang/akasia) pada biji jagung dan kacang hijau. Dari data hasil
terlihat bahwa biji yang ditambah air dan ekstrak dengan perbandingan
1:3 dan 1:9 rata-rata mengalami pertumbuhan namun pertambahan
tingginya tidak maksimal , sedangkan pada biji jagung dan kacang
hijau yang ditambah air dan ekstrak dengan perbandingan 1:9 dan 1:15
rata-rata banyak yang tidak mengalami pertumbuhan, berbeda dengan
biji kacang hijau dan jagung dengan perlakuan sebagai kontrol yang
mampu tumbuh dengan baik. Dari hasil ini terlihat bahwa alelopati
benar-benar bisa menghambat bahkan dapat mematikan tumbuhan lain
yang terkena zat alelopati tersebut.
Dari hasil yang didapat bisa dikatakan sesuai dengan literatur yang
ada yang mengatakan bahwa tanaman ilalang dan akasia mengandung
senyawa yang dapat menghambat tumbuhan lain. Menurut Naughton
(1990: 132) Beberapa jenis tanaman yang dapat menghasilkan
senyawa alelokimi diantaranya adalah Pinus merkusii, Imperata
silindrica, Musa spp, dan Acacia mangium. Senyawa alelokimia yang
dihasilkan tumbuhan tersebut berpengaruh terhadap terhambatnya
penyerapan hara, pembelahan sel-sel akar tumbuhan, menghambat
respirasi akar, menghambat sintesa protein, serta mampu menurunkan
daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan dan dapat
mengahambat aktivitas enzim.
Alelokimia pada tumbuhan terdapat di organ, bisa di akar, batang,
daun, bunga dan atau biji. Organ pembentuk dan jenis alelokimia
bersifat spesifik pada setiap spesies. Umumnya, alelokimia merupakan
metabolit sekunder yang dikelompokkan menjadi 14 golongan, yaitu
asam organik larut air, lakton, asam lemak rantai panjang, quinon,
terpenoid, flavonoid, tanin, asam sinamat dan derivatnya, asam
benzoat dan derivatnya, kumarin, fenol dan asam fenolat, asam amino
nonprotein, sulfida serta nukleosida (Sukman,1991)
Dari percobaan yang telah parktikan lakukan terjadi beberapa
kesalahan yang menyebabkan hasil tidak sesuai dengan yang
diinginkan yaitu kesalahan dalam perbanding antara air dan ekstrak
ilalang ataupun ekstrak akasia. seharusnya yang lebih banyak adalah
air bukan ekstra alelopatinya. Hal ini juga yang menyebabkan banyak
biji jagung dan kacau hijau tidak tumbuh.

Bab II. Kesimpulan

Dari hasil pengamatan yang diperoleh saat melakukan percobaan maka


kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu bahwa alelopati dapat diartikan sebagai
suatu fenomena yang terjadi di alam yang dapat menghambat pertumbuhan dan
perkembangan suatu jenis tanaman. Tanaman alelopati tersebut menghasilkan
senyawa alelokimia yang mempengaruhi organisme lain disekitarnya bisa
dikatakan beracun.

Bab III. Refleksi

1. Pengetahuan dan pengalaman apa yang didapat selama praktikum ?


Jawab: Dari praktikum yang telah dilaksanakan yaitu mengenai
“Alelopati” dapat diketahui bahwa ada tumbuhan yang mengahasilkan zat
alelokimia yang dapat mengahambat pertumbuhan dan perkembangan
tanaman lain yang berada disekitarnya.
2. Kendala disaat praktikum ?
Jawab: Kesulitan yang praktikan alami yaitu sulitnya mendapatkan
ekstrak dari tumbuhan akasia dan ilalang dikarenakan sulitnya
menghaluskan kedua tanaman tersebut.
3. Saran untuk perbaikan pelaksanaan praktikum mendatang?
Jawab: Sebaiknya untuk praktikum selanjutnya senyawa alelokimia yang
digunakan telah disediakan dengan baik dan benar agar didapatkan hasil
yang valid.

DAFTAR PUSTAKA

Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: Bumi Aksara

Naughton.1990. Ekologi Umum. Yogyakarta: UGM Press

Sukman, Y., & Yakub. 1991. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Jakarta:
Rajawali Pers
LAMPIRAN

Biji kacang hijau kontrol 1: 9 ekstrak akasia dan


ilalang pada jagung

1:15 ekstak akasia biji jagung Biji jagung kontrol


dan 1:3 ekstrak ilalang