Anda di halaman 1dari 15

Menakar Urgensi Sistem Khilafah di Indonesia1

Donald Qomaidiansyah Tungkagi


Mahasiswa Sekolah Pascasarjana
Universitas Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
donald.tungkagi@gmail.com

Pendahuluan
Hingga kini membicangkan relasi Islam dan politik di Indonesia masih tetap menarik.
Selain karena umat Islam menjadi warga mayoritas di negeri ini, juga karena aspirasi politik
umat Islam di Indonesia tidaklah bersifat homogen. Aspirasi politik umat Islam di Indonesia
sangat heterogen dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Bahkan, semenjak era sebelum
kemerdekaan, aspirasi politik umat Islam di pentas politik nasional tidaklah tunggal. Dan
hingga hari ini, aspirasi politik umat Islam bersifat heterogen dan bahkan terus terjadi
kontestasi di internal umat Islam sendiri.2 Bukti bahwa aspirasi politik umat Islam di
Indonesia tidak bersifat homogen, ini tercatat dalam sejarah dimana terjadi penghapusan
tujuh kata piagam Jakarta dalam Pembukaan UUD 1945 oleh BPUPKI (Badan Penyelidik
Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Ketujuh kata tersebut berbunyi “Kewajiban
menjalankan Syariat Islam bagi para pemeluknya”. Kompromi politik terjadi karena ada
ancaman bahwa Indonesia bagian Timur akan memisahkan diri jika Piagam Jakarta tetap
dicantumkan. Demi menyelamatkan kepentingan bangsa dan kepentingan nasional akhirnya
kelompok Muslim menerima penggantian Piagam Jakarta menjadi, Sila Pertama dari
Pancasila berbunyi: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.3
Era Reformasi telah memberikan ruang begitu besar untuk ekspresi politik di
Indonesia. Pasca reformasi geliat politik umat Islam cenderung meningkat, yang merupakan
dampak dari iklim politik yang terbuka. Ketika di masa Orde Baru dinamika politik dibatasi
oleh kekuatan refresif Negara4, kini ruang ekspresi politik malah terbuka luas bebas. Salah
satu ciri yang membedakan dinamika politik umat Islam pada era Orde Baru dan pasca-
reformasi adalah kontestasi yang terbuka antar berbagai aliran. Terlebih ketika dinamika
gerakan Islam di Indonesia diramaikan dengan hadirnya kelompok-kelompok yang sering
diistilahkan dengan Islam trans-nasional, kontestasi itu menjadi semakin riuh, sehingga
berbagai model pemikiran sama-sama merasa memiliki keabsahan untuk mengampanyekan
pemikiran dan sikap politiknya. Dua di antaranya yang paling menonjol adalah fenomena
Islamisasi di satu sisi, dan sekularisasi di sisi yang lain.5
Kalau dulu, perdebatannya hanya sebatas bentuk negara apakah berlandas syariat
Islam atau demokrasi tanpa memperdebatkan masalah batas wilayah dan nasionalisme. Kini
perdebatan ini semakin riuh dengan hadirnya gagasan Islamisme trans-nasional yang tidak

1 Makalah ini disampaikan dalam acara diskusi bertema “Demokrasi vs Khilafah: Membedah Fakta
dan Utopia Perspektif Ilmiah” di ruang kelas SPs UIN Jakarta.
2 Ahmad Fuad Fanani & Muhd. Abdullah Darraz, “Membaca Ulang Ekspresi Politik Umat Islam:
Sebuah Pengantar”, Maarif vol. 8, no. 2 (Desember 2013), h. 1.
3 Ahmad Fuad Fanani & Muhd. Abdullah Darraz, “Membaca Ulang Ekspresi Politik Umat Islam:
Sebuah Pengantar”, h. 4.
4 Di bawah kebijakan rust en orde Orde Baru, Islam Politik, dianggap bertanggung jawab atas
kekacauan di masa lalu, sehing menjadi korban pertama represi politik. Meskipun kelompok-kelompok Islam
memberikan dukungan penting terhadap Angkatan Darat dalam menumbangkan Orde Lama, namun tindakan
yang dijalankan Orde Baru selama lebih dari dua decade tidak memungkinkan keterlibatan Islam dalam
pelaksanaan kekuasaan negara. Baca, Yudi Latif, Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia
Muslim Indonesia Abad Ke-20, edisi digital (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi, 2012) h. 621
5 Pradana Boy ZTF, “Masa Depan Politik Kaum Islamis di Indonesia”, Maarif vol. 8, no. 2 (Desember
2013), h. 38.
hanya mengkampanyekan penegakan syariat Islam melainkan juga menentang –
mengharamkan—nasionalisme dan demokrasi karena dianggap diluar dari tradisi Islam.
Gagasan ini paling getol disuarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan jargon
khasnya penegakan Khilafah Islamiyah di seluruh wilayah umat Islam. Melalui media-media
mereka mengkampanyekan keharusan membentuk sistem pemerintahan tunggal di dunia
dalam wujud Khilafah. Kelompok ini juga paling sering mengkritik kebijakan pemerintah
Indonesia karena dinilai tidak bersesuaian dengan syariat Islam. Yang terbaru mereka
mengkritik kebijakan pemilukada serentak 9 Desember 2015, dengan menyebarkan tulisan
berjudul “pepesan kosong Pilkada serentak” yang sempat menuai kontroversi dan ditanggapi
tokoh Muslim bahkan yang simpati kepada mereka, karena dinilai terdapat kecenderungan
untuk mengkampanyekan golput (tidak memilih).
Berdasarkan konteks tersebut, tulisan ini bermaksud membahas dialektika dan
dinamika politik Islam kontemporer di Indonesia dengan menampilkan ekspresi politik dari
kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), serta menganalisis urgensi sistem khilafah di
Indonesia. Untuk hal ini salah satu caranya adalah dengan meletakkan subyek dalam
perspektif historis dan komparatif dengan memahami watak pemikiran politiknya. Secara
historis akan ditinjau sejauhmana perkembangan dan keberhasilan pergulatan gagasan
penerapan legalisasi syariat Islam (Negara Islam) secara formal di Indonesia, kemudian
secara singkat dikomparasikan dengan gagasan negara-bangsa dengan perangkatnya berupa
demokrasi dan nasionalisme di Indonesia. Karena itu, setidaknya akan ditinjau pula
kandungan ideologis dan kerangka konstitusional sebagai faktor-faktor yang penting dalam
menentukan watak sistem khilafah. Dengan demikian maka sebuah tinjauan umum mengenai
teoritisasi politik Islam bisa bermanfaat sebagai untuk pemahaman yang lebih baik mengenai
inti masalah ini.

Formalisasi Syariah Dilintasan Sejarah Indonesia


Penting untuk di ingat bahwa penyebaran agama Islam di Indonesia berbeda dengan
daerah muslim yang lain, tanpa terjadi konflik yang berujung pada pengaharusan
peperangan.6 Sejak awal penyebaran Islam di Indonesia, telah terjadi relasi yang begitu khas
antara Islam dan tradisi sehingga melahirkan corak keberagamaan Islam di Nusantara. Para
Wali Songo sebagai pihak yang paling berjasa dalam penyebaran agama Islam di Indonesia
dalam dakwanya tidak serta menghilangkan tradisi masyarakat, justru berbaur dengan
masyarakat. Inilah yang menurut para ahli membuat Islam mudah diterima di Indonesia.
Ketiadaan benturan yang begitu berarti dalam dakwah Walisongo di Indonesia karena
format yang dipakai adalah tradisi sufistiknya. Dalam bahasa lain proses Islamisasi seperti ini
oleh T.W Arnold disebut sebagai mengambil bentuk penetrasi secara damai (penetration
pasifique).7 Tradisi sufistik budaya ini bahkan dikembangkan dalam pola akulturasi dengan
kekuasaan formal dan kebudayaan lokal. Kalau tradisi “halal-haram” diterapkan begitu saja
dalam formalitas budaya, agama akan mengalami keterasingan dan kekeringan. Karena itu,
para Wali memilih jalan sufistik menuju Tuhan. Bahkan dalam kontribusinya terhadap
pengelolaan kekuasaan di zaman dinasti Islam awal di Jawa, ketika secara de jure Raden
Fattah menjadi raja, namun secara de facto para Wali yang memimpin spiritualitas bangsa.8

6 Untuk pembahasan ini, bukan berarti penulis mengaminkan perkataan para orientalis barat yang mengatakan
Islam disebarkan dengan “pedang” (peperangan). Dalam sejarah penyebaran Islam sejak jaman Rasulullah saw,
memang terjadi beberapa kali peperangan, namun bukan itu inti ajaran Islam. Hal ini terlihat ketika peristiwa
fathu makkah, saat pasukan Muslim berhasil menguasai kota makkah, Nabi mengatakan hari ini bukan hari
pembalasan melainkan hari kasih sayang (hadza yaumul marhamah).
7 T.W Arnold, “The Spread of Islam in the Malay Archipelago”, sebagaimana dikutip Bahtiar Effendy, Islam
dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia, edisi digital (Jakarta: Yayasan Abad
Demokrasi, 2011), h. 36.
Telah disinggung sebelumnya bahwa, sejak proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia dikumandang Sukarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, kontestasi gagasan
mengenai bentuk Negara ini turut mengemuka. Meski sempat terjadi kompromi yang
berimbas pada penghapusan Piagam Jakarta, perang wacana antara pengusung penerapan
syariat Islam hingga yang menolaknya di Indonesia tidak pernah sepi hingga kini. Dalam
sebuah catatannya, Abdurahman Wahid mengatakan ketika para anggota Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) memutuskan untuk menerima gagasan persamaan status
hukum bagi semua warga negara RI, melalui pencoretan Piagam Jakarta, ini praktis
mematikan (minimal untuk sementara) gagasan Negara Islam, kemudian menggantikannya
dengan istilah “Negara Pancasila.”9
Bahkan sepuluh tahun sebelum Proklamasi, dalam muktamar di Banjarmasin pada
tahun 1935, Nahdlatul Ulama telah menetapkan sebuah landasan kokoh bagi tegaknya bangsa
dengan memutuskan untuk tidak mendukung terbentuknya Negara Islam melainkan
mendorong umat Islam untuk mengamalkan ajaran agamanya demi terbentuknya masyarakat
yang Islami dan sekaligus membolehkan pendirian negara bangsa.10
Meski begitu dalam perjalanan bangsa ini, gagasan Negara Islam muncul kembali
dengan berbagai variannya, ada yang menginginkan formalisasi syariat berbentuk Negara
Islam dan ada yang memperjuangkan sebuah negara tunggal berbentuk Khilafah Islamiyah.
Kemerdekaan Indonesia sempat terusik dengan berbagai pemberontakan-pemberontakan
yang beberapa diantara menggusung ide negara Islam. Pemberontakan yang cukup
berpengaruh adalah pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan Negara
Islam Indonesia (NII). Bahkan NII pernah menjadi suatu gerakan yang berusaha membangun
supremasi Islam, hingga akhirnya mereka memproklamasikan diri sebagai sebuah negara
pada 7 Agustus 1949, dan berhasil mempertahankan eksistensinya hingga 13 tahun lamanya
(1949-1962). Kekuatan inipun dibungkam pemerintah melalui kekuatan militer karena dinilai
makar terhadap pemerintahan yang sah.
Para penyeru Negara berbasis syariat Islam berpandangan bahwa merealisasikan
aspirasi mereka dalam kanca politik nasional secara formal merupakan sebuah kenicayaan,
sebab sebagai mayoritas kemerdekaan negeri ini merupakan jasa dari masyarakat muslim
Indonesia. Inilah yang melanggengkan seruan penerapan syariat Islam sejak dari Orde Lama,
Orde Baru, hingga era Reformasi. Sedangkan disisi lain sebagian kelompok muslim dan
nasionalis berpandangan bahwa demi menjaga stabilitas, negara ini harus berlandaskan
negara bangsa bukan berlandaskan agama. Bagi mereka penarikan Piagam Jakarta dari
Pembukaan UUD 1945 adalah konsekuensi logis dari consensus nasional bahwa Indonesia
bukan negara agama. Indonesia bukan pula negara sekuler. Indonesia adalah negara
multireligius dan multietnis yang tidak mengistimewakan agama dan suku tertentu. Oleh
karena itu, bagi mereka Pancasila sudah berkesesuaian dengan ajaran Islam. Syariat Islam
juga tidak perlu dicantumkan secara formal sebagai dasar negara maupun dalam hukum
formal negara. Bagi kelompok ini, meskipun Indonesia bukan negara Islam, namun negara
tidak membatasi aspirasi umat Islam dan memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk
berkembang serta menjamin hak-hak sosial dan politiknya.11

8 M. Luqman Hakiem, “Memahami Sufisme Politik Gusdur,” dalam Ebook Catatan Gusdur, (Bandung:
PersEbook369, t.t), h. 21.
9 Abdurahman Wahid, “Dapatkan NU Berperan dalam Politik Nasional”, dalam Ebook Catatan
Gusdur, (Bandung: PersEbook369, t.t).
10 Abdurahman Wahid, “Musuh Dalam Selimut”, Pengantar dalam Abdurahman Wahid (ed), Ilusi
Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, (Jakarta: The Wahid Institute, 2009), h. 8.
11 Ahmad Fuad Fanani & Muhd. Abdullah Darraz, , h. 4-5.
Pasca tumbangnya Orde Baru, ditandai dengan dimulainya era reformasi kini tampak
beberapa ormas maupun parpol berpaham Islamisme12 yang bermunculan dan membawa misi
yang sama yakni formalisasi syariat Islam. Diantara sekian ormas yang sejalur dalam
perjuangan formalisasi syariah di Indonesia, salah ormas yang cukup getol dan vocal karena
didukung dengan beberapa media adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sedikit berbeda
dengan kelompok lainnya, kelompok ini dikenal dengan jargon penegakan Khilafah
Islamiyah sebagai bentuk pemerintahan tunggal seluruh negara muslim di dunia. Kalau
dilihat dari poin dasar perjuangannya, sebenarnya bukan merupakan gerakan baru di
Indonesia. Apa yang diusung HTI, pada dasarnya sama dengan yang diusung gerakan Darul
Islam (DI), dimana mereka juga berusaha mengubah negara bangsa menjadi negara agama,
mengganti ideology negara Pancasila dengan Islam versi mereka, atau bahkan
menghilangkan NKRI dan menggantinya dengan Khilafah Islamiyah.
Perjuangan formalisasi syariat Islam di Indonesia memang tidak pernah sepi, meski
sejarah telah memberikan pelajaran akan kegagalan mereka berkali-kali. Pertanyaannya
apakah gagasan tersebut kali ini akan berhasil, ataukah hanya akan menambah daftar panjang
gagasan utopis di Indonesia? biar sejarah yang menjawab.
Mengapa demikian? Karena hampir seluruh analis politik Indonesia, termasuk para
Indonesianis, tidak yakin jika diminta memprediksi pergerakan politik Indonesia. kata-kata “I
am not sure” acapkali terdengar. Hal ini disebabkan dinamika politik Indonesia seringkali
bergerak tidak linier.13 Sedangkan menganalisis politik di Indonesia tidak akan pernah lepas
dari menganalisis nalar politik mayoritas masyarakatnya beragama Islam yang terfragmentasi
dalam beberapa lembaga-lembaga agama.

Membaca HTI, Ideologi dan Khilafahnya


Islam sebagai agama merupakan sistem nilai yang mencakup segala apek kehidupan
manusia. Ia tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur
hubungan manusia dengan sesamannya dan dengan alam lingkungannya. Salah satu ajaran
Islam itu diyakini berhubungan dengan kehidupan politik.14 Adanya pandangan bahwa Islam
merupakan instrumen ilahiah untuk memahami dunia, telah mendorong sejumlah pemeluknya
untuk percaya bahwa Islam mencakup cara hidup yang total. Penubuhannya dinyatakan
dalam syariah (hukum Islam). Bahkan sebagian kalangan Muslim melangkah lebih jauh dari
itu: mereka menekankan bahwa “Islam adalah sebuah totalitas yang padu yang menawarkan

12 Islamisme adalah ide tentang keniscayaan hubungan antara agama dan keseluruhan aspe kehiduoan
Muslim, termasuk kehidupan sosial politik. Islamisme dapat mengambil bentuk sikap dan tindakan. Kalau
terjadi pada tingkat tindakan, maka disebut sebagai tindakan Islamis (Islamist acts). Kalau terjadi pada tingkat
sikap, maka disebut sikap Islamis (Islamist attitudes). Yang berkaitan dengan sikap Islami ini setidaknya
mencakup sikap terhadap kelompok-kelompok Islam yang memperjuangkan Islamisme, disebut kelompok-
kelompok Islamis; dan sikap terhadap agenda-agenda yang mencerminkan Islamisme disebut agenda-agenda
Islamis. Lihat Saiful Mujani, dkk, Benturan Peradaban: Sikap dan Perilaku Islamis Indonesia terhadap
Amerika Serikat, (Jakarta: Penerbit Nalar, 2005), h. 32.
13 Sukardi Rinakit, “Mencari Indonesia,” Pengantar dalam Piet H. Khaidir, Nalar Kemanusiaan Nalar
Perubahan Sosial, (Jakarta: Teraju, 2006), h. xxiii.
14 Diskursus mengenai politik merupakan wacana yang tak pernah lepas dari pembicaraan orang.
Topik pembicaraan biasanya senantiasa berkisar seputar masalah negara, sistem pemerintahan, sosok penguasa
dan segala sesuaut yang berhungan dengan kekuasaan, atau dalam istilah yang lebih teknis politik adalah upaya
untuk mencapai, menjalankan dan mempertahakan kekuasaan. Selanjutnya dalam politik juga dibicarakan
berbagai unsur, seperti lembaga yang menjalankan aktivitas pemerintahan, masyarakat sebagai pihak yang
berkepentingan, kebijkansanaan dan hukum-hukum yang menjadi sarana pengaturan masyarakat dan cita-cita
yang hendak dicapai. Informasi lebih lanjut lihat, Maurice Duverger, Sosiologi Politik, (Jakarta: Rajawali,
1985), h. V.
pemecahan terhadap semua masalah kehidupan.”15 Tentang sikap ini Nazih Ayubi member
gambaran bahwa mereka
“...Percaya akan sifat Islam yang sempurna dan menyeluruh sehingga, menurut mereka, Islam
meliputi tiga “D” yang terkena itu (din, agama; dunya, dunia; dan dawlah, negara). … [karena itu]
Islam adalah sebuah totalitas yang padu yang menawarkan pemecahan terhadap semua masalah
kehidupan. Islam harus diterima dalam keseluruhannya, dan harus diterapkan dalam keluarga,
ekonomi dan politik. [bagi kalangan Muslim ini] realisasi sebuah masyarakat Islam dibayangkan
dalam penciptaan sebuah negara Islam, yakni sebuah “negara ideologis” yang didasarkan kepada
ajaran-ajaran Islam yang lengkap...’16
Dari keterangan tersebut dapat ditilik garis besar dari terdapat anggapan dari kelompok
ini bahwa adalah sebuah keniscayaan untuk membentuk negara berlandaskan agama (Islam)
di dunia, sebagai wujud penerimaan Islam secara keseluruhan (kaffa). Landasan pikir seperti
menjadikan kelompok ini menolak sistem yang dinilai bertentangan dengan Islam, seperti
sistem nation state (negara bangsa) misalnya. Kelompok ini cenderung mengkampanyekan
konsep Islam sebagai tawaran menggantikan konsep negara bangsa, seperti yang dilakukan
HTI, dengan menawarkan konsep khilafah.
Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang bergerak di luar parlemen. Politik
merupakan kegiatannya dan Islam adalah mabda (ideologinya). Partai ini didirikan di al-
Quds, Palestina pada 1953 oleh Taqiyuddin An-Nabhani dengan maksud untuk melanjutkan
kembali kehidupan Islam di bawah Daulah Khilafah Islamiyah. Partai politik dan gerakan
dakwah ini mendasarkan perjuangannya pada thariqah dakwah Rasulullah yang tidak pernah
berkompromi dengan kekufuran yang ada.17
Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada awal decade tahun 1980-an. Namun ada yang
beranggapan bahwa ide-ide Hizb telah hadir di Indonesia sejak Taqiyudin an-Nabhani
mengunjungi Indonesia pada tahun 1972. Sayangnya tidak dapat dijelaskan lebih rinci daerah
dan gerakan dakwah mana saja yang sempat dikunjungi oleh Amir pertama HT ini. Sulit
sekali menelusuri sejarah perjalanan HTI di era dekade 1970-an, karena mereka sendiri
belum ada menulis perihal kapan ide-ide HT masuk ke Indonesia, boleh dikatakan serba
misteri. Justru lebih mudah mendapatkan data-data sejarah jamaah tarbiyah (PKS) ketimbang
HTI. Aktivitas HTI hanya bisa kita lacak pada tahun 1982. Hizbut Tahrir dibawa ke Indonesia
oleh Abdurrahman al Baghdadi, pimpinan Hizbut Tahrir di Australia, yang pindah ke Bogor
atas undangan KH Abdullah bin Nuh, kepala Pesantren Al-Ghazali. Seperti halnya Gerakan
Tarbiyah, gerakan ini yang disebarkan melalui jaringan “dakwah kampus”.18
Menurut HTI, kaum Muslim diseluruh dunia wajib berada dalam satu negara dan wajib
pula hanya ada satu khalifah bagi mereka. Secara syar’i kaum Muslim di seluruh dunia haram
memiliki lebih dari satu negara dan lebih dari seorang khalifah. Kewajiban ini pula berlaku
terhadap sistem pemerintahan khilafah sebagai sistem kesatuan dan haram menjadikannya
sebagai sistem federasi. 19 Dasar hukum yang digunakan adalah sebagaimana hadist yang
diriwayatkan Imam Muslim:
“Dari Abdullah bin Amru bin al-‘Ash yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. pernah
bersabda: Siapa saja yang telah membaiat seorang imam/khalifah, lalu ia telah memberinya
genggaman tangannya dan buah hatinya, hendaklah ia menaatinya sesuai dengan
kemampuannya. Kemudian jika datang orang lain yang hendak merebut kekuasaannya maka
penggallah orang itu.” (HR Muslim)

15 Bahtiar Effendy, Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia,
edisi digital (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi, 2011), h. 8.
16 Nazih Ayubi, Political Islam: Religion and Politics in the Arab World, h 63-64, sebagaimana dikutip
Bahtiar Effendy, Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia, h. 8.
17 Ahmad Arifan, “Paham Keagamaan Hizbut Tahrir Indonesia,” dalam JURNAL STUDI SOSIAL,
Th. 6, No. 2, (Nopember, 2014) h. 94.
18 Ahmad Arifan, “Paham Keagamaan Hizbut Tahrir Indonesia,” ..Ibid h. 94
19 Hizbut Tahrir, Ajhizatu ad-Daulah al-Khilâfah. Penerjemah Yahya A.R, Struktur Negara Khilafah:
Pemerintahan dan Administrasi. (Jakarta: HTI-Press, 2006), h. 60.
Atas keyakinan bahwa Daulah Islam adalah khilafah, yaitu kepemimpinan
tunggal/umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia. Maka secara ideologi, HTI dengan tegas
mengharamkan kepemimpinan yang lainnya,20 bahkan HTI disinyalir tidak segan untuk
melakukan tindakan kekerasan. Sebab menurut mereka ini telah berdasarkan perintah
Rasulullah saw:
“Jika dua orang Khalifah dibaiat maka bunuhlah yang paling akhir dari
keduanya.” (HR Muslim)
Sistem pemerintahn khilafah yang dimaksud HTI adalah berdasarkan pedoman Nabi
(khilafah ‘ala minhaj al-Nubuwah).21 Bagi mereka sistem khilafah berbeda dengan seluruh
bentuk pemerintahan yang dikenal di seluruh dunia; baik dari segi asas yang mendasarinya,
dari segi pemikiran, pemahaman, maqayis, dan hukum-hukumnya untuk mengatur berbagai
urusan. sistem khilafah dianggap berbeda karena sistem pemerintahan Islam bukan sistem
kerajaan, bukan sistem imperium (kekaisaran), bukan sistem federasi, dan bukan pula sistem
republik.22 Secara konsepsi, khilafah menurut HTI adalah sebagaimana yang dijelaskan di
dalam al-Quran, sunnah, ijma’ dan qiyas. Konsep tersebut termanifestasi secara ideal pada
masa al-khulafa’ al-Rasyidun.
Bagi HTI Islam merupakan Ideologi politiknya, sekaligus melegitimasi khilafah
sebagai pelaksana hukum-hukum syariat Islam dengan pemikiran-pemikiran yang
didatangkan oleh Islam dan hukum-hukum yang disyariatkannya serta untuk mengemban
dakwah Islam ke seluruh dunia dengan mengenalkan dan mendakwahkan Islam sekaligus
berjihad. Menurut mereka jabatan khilafah tidak sama dengan kenabian, khilafa merupakan
jabatan duniawi bukan jabatan ukhrawi. Khilafah ada untuk menerapkan agama Islam
terhadap manusia dan untuk menyebarkannya di tengah-tengah umat manusia.23
Pendiri Hizbut Tahrir, Taqiyudin An-Nabhani, dalam kitab Mafahim Hizbut Tahrir yang
menjadi landasan Hizbut Tahrir, dengan jelas menentang jenis penafsiran dan petakwilan
hukum Islam yang dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman. Bagi mereka
tindakan ini yang justru menjauhkan Islam dari kehidupan. Menurut mereka hal itu
merupakann usaha menginterpretasikan Islam dengan cara yang bertentangan dengan hakikat
ajarannya. Semua itu menjadi sebab semakin jauhnya kaum Muslim dari pemahaman yang
benar terhadap Islam, bahkan pada akhirnya Islam dijauhkan dari pengamalan
ajaranajarannya. Termasuk disini adalah penentangan mereka terhadap kaidah-kaidah-kaidah
yang menjadi patokan banyak ulama sunni.
…., adalah suatu keharusan bagi para aktivis pembaharuan untuk menerapkan hukum-hukum
Islam sesuai dengan makna ajaran yang sebenarnya, tanpa memperhatikan keadaan masyarakat,
waktu, maupun tempat. Namun kenyataannya mereka tidak berbuat demikian. Mereka malah
melangkah lebih jauh dengan menginterpretasikan hukum-hukum Islam agar sesuai dengan
kondisi sekarang. Bahkan kesalahan yang mereka lakukan sudah melampui batas, baik dalam
masalah umum maupun dalam hal-hal yang terperinci. Mereka mengeluarkan kaidah-kaidah
kulliyat (umum) dan hukum-hukum yang terperinci sesuai dengan pandangan tersebut. Misalnya
dengan membuat kaidah umum yang salah seperti: La yumkiru ahkami bi taghayyiru zamani

20 Hizbut Tahrir, Ajhizatu ad-Daulah al-Khilâfah, h. 77.


21 Mengenai Khilafah bermanhaj kenabian ini menurut mereka berdasarkan Sabda Rasulullah saw:
“Di tengah-tengah kalian terdapat masa Kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia
mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa Kekhilafahan
yang mengikuti manhaj Kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat
masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan yang zalim yang
berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk
mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan diktator yang menyengsarakan, yang berlangsung
selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya.
Selanjutnya akan muncul kembali masa Kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian.” Setelah itu Beliau
diam. (HR Ahmad). Hizbut Tahrir, Ajhizatu ad-Daulah al-Khilâfah, Ibid..
22 Lebih rinci silahkan baca Hizbut Tahrir, Ajhizatu ad-Daulah al-Khilâfah, h. 20-23.
23 Hizbut Tahrir, Ajhizatu ad-Daulah al-Khilâfah, h. 77-78.
(Tidak ditolak adanya perubahan terhadap hukum, dengan adanya perubahan zaman), atau
Al-‘adatu muhakkamatun (Adat-istiadat dapat dijadikan patokan hukum). dan sebagainya.
….Disamping itu mereka juga mengeluarkan fatwa tentang hukum-hukum yang tidak
berlandaskan hukum syara’, malah bertentangan dengan nash al-Quran yang qath’i. ….Selain itu,
mereka pun melontarkan fatwa yang membolehkan penghentian pelaksanaan hukum hudud, serta
membolehkan mengambil undang-undang pidana dari luar Islam. Demikianlah, mereka telah
membuat hukum-hukum yang bertentangan dengan syari’at Islam dengan dalih untuk
menyesuaikan diri terhadap situasi dan kondisi. Hukum syara’, menurut mereka, harus mampu
menyesuaikan diri dengan situasi, kondisi dan tempat.24
Dalam kitab yang sama pula, Taqiyuddin mengkritik interpretasi jihad yang dari
kalangan umat Islam yang menafsirkan bahwa jihad bermakna peperangan defensif
(bertahan), bukan peperangan ofensif (bertahan). Bagi Hizbut Tahrir, ini pemahaman yang
keliru sebab pemahaman semacam ini menyalahi makna dan hakikat jihad yang sebenarnya.
Jihad bagi Hizbut Tahrir adalah aktivitas memerangi pihak manapun yang berdiri menentang
dakwah Islam, baik yang menyerang Islam lebih dahulu (jihad defensif) atau yang tidak
(jihad ofensif). Dengan kata lain, jihad adalah menyingkirkan segala bentuk rintangan yang
menghambat dakwah Islam. Jihad juga memiliki makna seruan dan dakwah kepada Islam
serta berperang demi tegaknya dakwah, yaitu jihad fi sabilillah.
Sejarah menunjukkan, tatkala kaum Muslim hendak menguasai bangsa Persia, Romawi, Mesir,
Afrika Utara, dan Andalusia serta bangsa-bangsa yang lainnya, mereka mengadakan penyerbuan
ke wilayah itu karena dakwah memang membutuhkan adanya jihad, agar dakwah tersebar di
negeri-negeri tersebut.25
Penentangan Hizbut Tahrir terhadap paham-paham yang dinilai tidak bersesuaian
dengan Islam –dalam interpretasi mereka – juga menjadi bagian dari perjuangan menegakkan
khilafah di muka bumi. Menurut mereke semua ideologi yang ada selain Islam itu
bertentangan dengan Islam dan hukum-hukumnya. Untuk itu Hizbut Tahrir bahkan
menghukumi haram bahkan kufur upaya mengambil dan meyebarluaskannya serta dan
membentuk organisasi/partai berdasarkan ideologi-ideologi tersebut adalah termasuk
tindakan yang diharamkan. Dalam konteks Indonesi menurut HTI, sistem demokrasi, negara
bangsa, Pancasila, dan nasionalisme adalah sistem kufur. Ia adalah hasil buatan manusia dan
bukan merupakan hukum-hukum syar’i, serta tidak boleh diterima. Melaksanakan sistem
demokrasi berarti melaksanakan sistem kufur.26 Lebih dari itu, organisasi/partai umat Islam
wajib berdasarkan Islam semata, baik ide maupun metodenya. Umat Islam haram membentuk
organisasi/ partai atas dasar ide seperti itu, serta umat Islam juga haram menjadi anggota
ataupun simpatisan partai-partai di atas karena semuanya merupakan partai-partai kufur yang
mengajak kepada kekufuran.
Tidak hanya itu, tasawuf juga telah ditegaskan oleh HTI tidak lepas dari keharaman.
Tasawuf menurut mereka bukan bagian integral dari Islam, tasawuf mereka anggap berasal
dari India. Tidak murni ajaran Islam. Menurut Ketua DPD HTI Malang raya, Abdul Malik,
pembinaan spriritual untuk aktivis HTI bukan dengan tasawuf tapi cukup dengan al-Qur’an:
“Tasawuf itu bukan dari islam, tasawuf itu adalah perkawinan antara islam, ketika islam ke
india. Berarti itu bukan murni dari islam. Sebenarnya pembinaaan spiritual untuk para
kader Hizb cukup apa yang ada pada hadist Rasulullah dan cukup apa yang ada pada
Qur’an, selesai. kita punya buku min muqawimat nafsiyah islamiyah (pilar-pilar pengokoh
nafsiyah islamiyah). orang yang ingin bergabung dengan Hizbut Tahrir harus mengkaji kitab
itu sampai selesai.”27 Pandangan ini kemudian ditegaskan dalam pasal 10 di RUU Daulah
khilafah versi mereka: “Seluruh kaum Muslim memikul tanggung jawab terhadap Islam.

24 Taqiyudin An-Nabhani, Mafahim Hizbut Tahrir, Penerjemah Abdullah, cet-6 (Jakarta: Hizbut Tahrir
Indonesia, 2007) h. 11-12.
25 Taqiyudin An-Nabhani, Mafahim Hizbut Tahrir, h, 18-19.
26 Abdul Qadim Zallum, Demokrasi sistem Kufur, (Bogor: Pustaka Thariqul izzah, 2007), h. 1
27 Ahmad Arifan, “Paham Keagamaan Hizbut Tahrir Indonesia,” ..Ibid h. 97.
Islam tidak mengenal rohaniawan. Dan negara mencegah segala tindakan yang dapat
mengarah pada munculnya mereka dikalangan kaum Muslim.”28
Hizbut Tahrir meyakini bahwa daulah Islam bukanlah khayalan sebab bagi mereka
sejarah telah membuktikan itu. Dimana sepanjang sejarah Islam, bentuk negara khilafah
dengan segala variannya menjadi pilihan bentuk paling ideal, paling tidak bagi kepentingan
umat Islam. Dari segi luasnya wilayah yang dikuasai, Islam dengan sistem khilafah telah
berhasil menjadi sebuah imperium terluas sepanjang kekuasaan manusia, membentang luas
mulai dari Spayol, Eropa, Semenanjung Arab, sebagai Afrika dan bahkan India dan Cina. 29
Dalam kitab Ad-Daulah Al-Islamiyah, Taqiyuddin An-Nabhani menegaskan bahwa akan
keberhasilan tegaknya khilafah ini.
Daulah Islam bukanlah khayalan seseorang yang tengah bermimpi, sebab terbukti telah memenuhi
pentas sejarah selama 13 abad. Ini adalah kenyataan. Keberadaan Daulah Islam merupakan sebuah
kenyataan di masa lalu dan akan menjadi kenyataan pula di masa depan, tidak lama lagi. Sebab,
faktor-faktor yang mendukung keberadaannya jauh lebih kuat untuk diingkari oleh jaman atau
lebih kuat untuk ditentang. Saat ini telah banyak orang-orang yang berpikiran cemerlang. Mereka
itu adalah bagian umat Islam yang sangat haus akan kejayaan Islam. Daulah Islam bukan sekadar
harapan yang dipengaruhi hawa nafsu, tetapi kewajiban yang telah Allah tetapkan kepada kaum
Muslim. Allah memerintahkan mereka untuk menegakkannya dan mengancam mereka dengan
siksa-Nya jika mengabaikan pelaksanaannya. Bagaimana mereka mengharapkan ridha Allah,
sementara kemuliaan di negeri mereka bukan milik Allah, Rasul-Nya, dan kaum Muslim? 30
Selanjutnya yang menjadi pertanyaan, dimana wilayah Islam dalam wujud khilafah
akan dimulai?. Menurut Taqiyudin, Hizbut Tahrir berusaha untuk melangsungkan kembali
kehidupan Islam di kawasan negeri-negeri Arab. Dari sanalah tujuan untuk melangsungkan
kehidupan Islam di seluruh dunia Islam —secara alami— akan tercapai, yaitu dengan jalan
mendirikan Daulah Islamiyah di satu atau beberapa wilayah sebagai titik sentral Islam dan
sebagai benih berdirinya Daulah Islamiyah yang besar yang akan mengembalikan kehidupan
Islam, dengan menerapkan Islam secara sempurna di seluruh negeri-negeri Islam, serta
mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.31
Sayangnya apa yang dicita-citakan Taqiyudin ini sering mengalami kegagalan, sebab di
negara tempat Hizbut Tahrir di dirikan, mereka justru ditentang. Seorang cendekiawan
Muslim pengamat gerakan Islam radikal, Dr. Imam Ghazai Said, MA mengungkapkan bahwa
Taqiyudin awalnya merupakan anggota Ikhwanul Muslim semasa belajar di Al-Azhar Mesir.
Pasca kematian Hasan Al-Banna, ia kemudian berkampanye di kelompoknya di Syria,
Libanon dan Yordania. Ketika di Mesir, ikhwanul Muslimin menerima konsep nasionalisme,
Taqiyyudin keluar. Ia beranggapan bahwa Ikhwanul Muslimin sudah masuk lingkaran
jahiliyah. Dari sini kemudian ia mendirikan mendirikan Hizbut Tahrir yang berarti partai
pembebasan. Maksudnya, pembebasan kaum muslimin dari cengkraman Barat dan dalam
jangka dekat membebaskan Palestina dari Israel, dengan mengonsep ideologi khilafah
Islamiyah. Hal ini ternyata tidak berjalan mulus karena, ia berideologi khilafah Islamiyah,
sedangkan di negara tempat ia mendirikan Hizbut Tahrir telah berdiri negara nasional, maka
akhirnya berbeda dengan masyarakatnya. Di Lebanon, sudah berdiri negara nasionalis yang
multi agama, Di Syiria juga telah menjadi negara sosialis, begitu juga Yordania telah berdiri
sebagai negara sesuai kondisi masyarakatnya. Akhirnya Hizbut Tahrir itu menjadi organisasi
terlarang (OT) di negara asal berdirinya. Karena ia menganggap nasionalisme itu sebagai
jahiliah modern. Namun meski menjadi organisasi terlarang Hizbut Tahrir tetap bekerja dan

28 Anonim, Rancangan Undang-Undang dasar Daulah Khilafah, sebagaimana dikutip Ahmad Arifan,
“Paham Keagamaan Hizbut Tahrir Indonesia,” ..Ibid h. 97.
29 Saifuddin, “Konsepsi Khilafah: Studi Pemikiran Politik Hizbut Tahrir Indonesia,” (Tesis
S1Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2007), h. 1-2.
30Taqiyuddin An-Nabhani, Ad-Daulah Al-Islamiyah, Penerjemah Umar Faruq (Jakarta: HTI-Press,
2009), h. 11.
31 Taqiyudin An-Nabhani, Mafahim Hizbut Tahrir, h, 21.
menyusup ke tentara, ke berbagai organisasi profesi dan masuk juga ke parlemen. Hizbut
Tahrir masuk ke partai politik dengan menyembunyikan identitasnya. Dari situlah kemudian
terjadi upaya-upaya untuk melakukan kudeta terhadap pemerintah yang sah pada jaman Raja
Husen. Sehingga sebagian anggota Hizbut Tahrir diajukan ke pengadilan dan dihukum mati.
Sampai sekarang Hizbut Tahrir masih jadi organisasi terlarang di Yordania.32
Senada dengan itu, kendala eksistensi Hizbut Tahrir di beberapa negara Islam/muslim
juga di ungkapkan Sudarno Shorbon dalam hasil penelitiannya, bahwa dinegara seperti di
Yordania sewaktu HT didaftarkan oleh Taqiyuddin an-Nabhani kepada pemerintah untuk
diakui sebagai organisasi politik tidak mendapatkan ijin, sehingga kegiatan-kegiatan yang
dilakukan dinyatakan ilegal. HT juga dilarang mengadakan kegiatan di Bangladesh, karena
diduga melakukan tindakan kekerasan, dan dianggap teroris, sehingga 40 aktivisnya
ditangkap pemerintah. Nasib serupa terjadi di Tunisia, pemuda-pemuda HT ditangkap
pemerintah, karena melakukan kritik keras terhadap kebijakan politik pemerintah. Di Turki
yang selama ini dinilai menjadi sebab runtuhnya kekhilafahan, HT tidak dapat bergerak
leluasa, 200 aktivis ditangkap pemerintah, 80 di antaranya masuk penjara. Di Pakistan, 30
pemuda HT ditangkap, karena diduga terlibat dalam teroris.19 Semua kasus ini menandakan
bahwa ada problem serius mengiringi keberadaan HT di negaranegara Islam, sehingga
menjadi kendala tersendiri dalam mewujudkan khilâfah al-Islâmiyyah yang selama ini
menjadi inti perjuangannya. Hal ini berbeda dengan di Indonesia yang disebut negara
muslim, dengan Pancasila sebagai ideologi negara, keberadaan HT sejak kedatangannya
sampai sekarang (selama 28 tahun) tidak mengalami problem perjuangan karena belum
pernah terjadi penangkapan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh pemerintah. Konflik
fisik dengan sesama anggota gerakan Islam lainnya juga belum pernah terjadi, bahkan
perkembangan HTI cukup berhasil dengan berdirinya 33 pengurus tingkat wilayah dan 300
tingkat daerah.33
Kini HTI tengah mencari tempat untuk memulai proses khilafah, Indonesia menjadi
pilihan tepat untuk menjadi titik awal tersebut. Hal ini dengan jelas terpampang dalam buku
berjudul “Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia”.34 Ini dikarenakan Indonesia selain
sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, demokras yang menjadi pilar
Indonesia memberikan kebebasan bagi mereka untuk mengkampanyekan khilafah.
Melihat konsepsi Hizbut Tahrir, serta riwayat perjuangan mereka hingga ditolak di
negara asalnya, sangat jelas konsepsi khilafah di kemudian hari akan sangat berpengaruh,
bahkan bisa mengancam konsep NKRI. Internasionalisasi yang lintas batas territorial jelas
akan menghilangkan batas-batas territorial suatau negara bangsa seperti Indonesia. konsep
khillafah juga mengaharuskan perubahan fundamental dasar-dasar negara bangsa seperti
Indonesia. dengan kata lain, kalau sistem khilafah diterapkan di Indonesia, maka Indonesia
saat ni akan hilang dari peredaran.

Konsepsi Khilafah: Gagasan Utopis untuk Indonesia


Di Indonesia, dalam hal hubungan Islam politik dengan negara, telah terjalin
pertautan yang unik, karena terjadi kompromi. Ini terjadi karena upaya membenturkan Islam
politik dengan negara justru mengalami jalan buntu. Baik rezim Soekarno maupun Preseden
Suharto memandang partai-partai politik yang berlandasrkan Islam sebagai kekuatan-
kekuatan pesaing potensial yang dapat merobohkan landasan negara yang nasionalis.

32 Harian Bangsa, “Hizbut Tahrir adalah Organisasi Terlarang di Negara Asal Berdirinya” diakses 12
Desember 2015, di http://pengawalnkri.blogspot.co.id/2011/01/hizbut-tahrir-adalah-organisasi.html
33 Sudarno Shorbron, “Model Dakwah Hizbut Tahrir Indonesia,” Profetika, Jurnal Studi Islam vol. 15,
no. 1 (Juni 2014). h. 48
34 Hizbut Tahrir Indonesia, Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia: Indonesia, Khilafah, dan
Penyatuan Kembali Dunia Islam, (Jakarta: HTI-Press, 2000), h. 5.
Terutama karena alasan ini, sepanjang lebih dari empat decade, kedua pemerintah tersebut
keras berupaya untuk melemahkan dan “menjinakkan” partai-partai Islam. Akibatnya, tidak
saja para pemimpin dan aktivis Islam politik gagal menjadikan Islam sebagai dasar ideologi
dan agama negara pada 1945 (menjelang Indonesia merdeka) dan lagi pada akhir 1950-an
(dalam perdebatan-perdebatan Majelis Konstituante mengenai masa depan konstitusi
Indonesia), tetapi mereka juga mendapatkan diri mereka berkali disebut “kelompok
minoritas” atau “kelompok luar”. Pendek kata, seperti telah dikemukakan para pengamat
lain, Islam politik telah berhasil dikalahkan – baik secara konstitusional, fisik, birokratis,
lewat pemilihan umum maupun secara simbolik. Yang lebih menyedihkan lagi, Islam politik
seringkali menjadi sasaran tembak ketidakpercayaan, dicurigai menentang ideology negara
Pancasila.35.
Belajar dari perjalanan bangsa tersebut, sangat mungkin konsepsi khilafah akan tetap
menemui jalan buntu, bahkan lebih dari itu hanya akan menjadi gagasan utopis untuk
Indonesia. Sebab gerakan Hizbut Tahrir yang akan membangun kembali sistem khilâfah al-
Islâmiyyah itu tidak berada dalam ruang hampa. Di Indonesia, HTI hadir di dalam ruang negara
bangsa yang telah mempunyai konsepsi Pancasila sebagai basis ideoligisnya, yang disatu sisi sebagai
sebuah bangsa Indonesia mengharuskan Nasionalisme dan demokrasi dalam menjalankan
pemerintahannya. Ini telah menjadi konsensus para pendiri bangsa (faunding fathers), kenyataan ini
jelas akan berseberangan sebab HTI dalam khittah penegakan khilafahnya tidak pernah mau
berkompromi bahkan mengharamkan demokrasi, nasionalisme, patriotisme, dan Pancasila . Sehingga
kalaupun HTI memaksakan konsepsi khilafahnya kemungkinan terjadinya konflik ideologi yang tidak
dapat dihindari.
Disisi lain, HTI akan berhadapan dengan dua sayap besar umat Islam Indonesia yakni,
NU dan Muhammadiyah yang punya jasa besar dalam kemerdekaan bangsa Indonesia dari
penjajah, serta telah sejak awal bekerja keras untuk mengembangkan sebuah Islam yang
ramah toleran dan moderat terhadap siapa saja, bahkan terhadap kaum tidak beriman
sekalipun selama semua pihak saling menghormati perbedaan pandangan. Kedua ormas ini
lebih menekankan kepada agama sebagai inspirasi bukan sebagai aspirasi, yang melahirkan
pemaknaan keagamaan yang substansial bukan yang menekankan legal-formal dalam wujud
negara. Dalam kaitannya dengan ini Andar Nubowo dalam catatannya merinci..
…..Proyek dan nalar syariatik [baik NI dan Khilafah Islamiyah] makin tidak populer, manakala
Muhammadiyah dan NU menolak. Kedua ormas ini lebih tertarik pada persoalan harian
masyarakat Islam daripada penegakan Syariat Islam. Sejak tahun 2000 misalnya, Muhammadiyah
dan NU bekerjasama dengan The Partnership memimpin kampanye anti korupsi. Keduanya juga
berkonsentrasi pada pengembangan sumberdaya manusia melalui peningkatan pendidikan di
seluruh tanah air.25 Karena visi kebangsaan inilah, kedua ormas Islam terbesar ini malah
mengokohkan Pancasila sebagai common platform kehidupan bangsa dan Negara. Melalui
tokohtokohnya di awal Kemerdekaan, Muhammadiyah dan NU mengakui bahwa setiap sila dalam
Pancasila selaras dengan ajaran Islam. Kelima sila Pancasila tersebut secara berurutan adalah
prinsip Syariah Islam, yakni al-tauhid (ketuhanan), al-musawah baina al-nas (kemanusian), al-
ittihad wa alukhuwah (persatuan dan kesatuan), al-syura (permusyawaratan), dan al-‘adalah
(keadilan). Dari sini semakin ditegaskan kalau Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan
ajaran Islam. Sikap meragukan atau menolak Pancasila bisa dianggap menolak ajaran-ajaran luhur
Islam. Buya Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, menilai bahwa penerapan
syariat Islam di Indonesia akan membahayakan Pancasila dan heterogenitas masyarakat
Indonesia.26 Begitu juga Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin yang melihat
pentingnya pelembagaan substansi nilai Islam, bukan bentuk luarnya. Pada setiap 1 Juni, PP
Muhammadiyah mengadakan peringatan Harlah Pancasila di Gedung Muhammadiyah Jakarta
dengan mengundang tokoh-tokoh nasional dan publik luas. Dari kalangan NU, KH Hasyim
Muzadi, mantan Ketua Tanfidziyah PBNU, meminta pemerintah daerah tidak mengundangkan
sebuah peraturan yang berbasis pada Syariah Islam; karena Syariah harus diterapkan di atas

35 Bahtiar Effendy, Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia,
h. 2-3.
prinsip kebebasan beragama, sehingga mustahil Syariah Islam menjadi hukum positif Republik
Indonesia.28 Mantan Ketua PBNU sekaligus Presiden RI Abdurahman Wahid berpendapat keras
bahwa penerapan syariat Islam bertentangan dengan UUD 1945. ‘’Kita bukan berada di Negara
Islam. Oleh karena itu, tidak boleh merubah peraturan apapun hanya berdasarkan Islam,”
tegasnya.36
Kesadaran menjadikan Indonesia sebagai negara bangsa ini, tidak hadir begitu saja
melainkan merupakan buah pahit getir pengalaman sejarah Nusantara sendiri. Dialog terus
menerus antara Islam sebagai perangkat ajaran agama dengan nasionalisme yang berakar kuat
dalam pengalaman bangsa Indonesia, telah menegaskan kesadaran bahwa negara bangsa yang
mengakui dan melindungi beragam keyakinan, budaya, dan tradisi bangsa Indonesia
merupakan pilihan tepat bagi bangunan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pilihan ini
merupakan bentuk final dan consensus nasional bangunan kebangsaan kita, bukanlah sikap
oportunisme politik melainkan kesadaran sejati yang didasarkan pada realitas historis,
budaya, dan tradisi bangsa kita sendiri serta substansi ajaran agama yang diyakini
kebenarannya.37
Para pendiri bangsa sadar bahwa di dalam pancasila tidak ada prinsip yang
bertentangan dengan ajaran agama. Sebaliknya, prinsip-prinsip dalam pancasila justru
merefleksikan pesan-pesan utama semua agama, yang dalam ajaran Islam dikenal sebagai
maqasid al-syari’ah, yaitu kemaslahatan umum (al-mashlahat al-ammah). Dengan kesadaran
demikian mereka menolak pendirian atau formalisasi agama dan menekankan substansinya.
Mereka memposisikan negara sebagai institusi yang mengakui keragaman, mengayomi
semua kepentingan, dan melindungi segenap keyakinan, budaya dan tradisi bangsa Indonesia.
Abdurahman Wahid menegaskan bahwa jika Islam diubah menjadi ideologi politik, ia
akan menjadi sempit karena dibingkai dengan batasan-batasan ideologis dan platform politik.
Pemahaman apapun yang berbeda, apalagi bertentangan dengan pemahaman mereka, dengan
mudah akan dituduh bertentangan dengan Islam itu sendiri, karena watak dasar tafsir
ideology memang bersifat menguasai dan menyeragamkan. Dalam bingkai inilah aksi-aksi
pengkafiran maupun pemurtadan sering dan mudah dituduhkan terhadap orang atau pihak
lain. Perubahan ini dengan jelas mereduksi, mengamputasi, dan mengebiri pesan-pesan luhur
Islam dari agama yang penuh dengan kasih sayang dan toleran menjadi seperangkat batasan
ideologis yang sempit dan kaku.38
Kelemahan pokok para penganut formalisasi syariat dalam bentuk negara (Negara
Islam, Khilafah Islamiyah) adalah, mereka tidak mempertimbangkan kenyataan bahwa Islam
adalah sebuah agama yang multiinterpretatif, membuka kemungkinan kepada banyak
penafsiran mengenainya (a polyinterpretable religion). Meskipun pada tingkat yang paling
umum hanya ada satu Islam, bentuk dan ekspresinya beragam dari satu individu Muslim ke
individu Muslim lainnya. Karena itu, bisa dipahami jika model teoritis di atas tidak bisa
menjelaskan kenyataan bahwa banyak santri yang tidak saja bergabung dengan
pengelompokan-pengelompokan (dan, untuk hal ini, ideolog-ideologi) politik non-Islam,
melainkan juga menolak agenda-agenda politik rekan-rekan mereka sesama Muslim yang
bergabung dengan partai-partai Islam.39
Gagasan-gagasan formalisasi Islam dalam kehidupan bernegara, dalam banyak
konteks sebenarnya bersifat utopis, karena tidak saja karena pendekatan mono-religius tidak
36 Andar Nubowo, “Arah Baru Politik Islam di Indonesia: Dari Nalar Syariatik Menuju Islam
Partisipatoris-Transformatif,” Maarif vol. 8, no. 2 (Desember 2013).
37 Abdurahman Wahid, (ed), Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia,
(Jakarta: The Wahid Institute, 2009), h. 16.
38 Abdurahman Wahid, (ed), Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia,
h. 19-20.
39 Bahtiar Effendy, Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia,
h. 5-6.
sejalan dengan karakter politik bangsa Indonesia, tetapi juga karena sejumlah gagasan itu
miskin kontekstualisasi dan sama sekali tidak mempertimbangkan faktor-faktor sosiologis
masyarakat Indonesia, sehingga lebih nampak sebagai utopia daripada visi yang realistis.40
Fenomena kegagalan Islam Politik, tampaknya, bukan kekhasan Indonesia. Penggulingan
Presiden Mesir Mohammad Mursi, tokoh Ikhawanul Muslimin, pada 1 Juli 2013 menjadi
contoh menarik. Selama 1 tahun berkuasa, pemerintahannya terjebak pada nalar syariatik,
yakni mengganti Konstitusi lama dengan Konstitusi Syariah. Padahal, bukan Syariah yang
menjadi jawaban krisis multidimensional pasca penggulingan Presiden Hosni Mobarak dua
tahun lalu. Kebijakan-kebijakan Morsi yang syariatik dijawab oleh ketidakpuasan rakyat
dengan kudeta militer.41
Disamping itu, masih cukup dominan kalangan Muslim berpandangan bahwa Islam
“tidak mengemukakan suatu pola baku tentang teori negara [atau sistem politik] yang harus
dijalan oleh ummah. Dalam kata-kata Muhammad ‘Imara, seorang pemikir Muslim Mesir,
“Islam sebagai agama tidak menentukan suatu sistem pemerintahan tertentu bagi kaum
Muslim, karena logika tentang kecocokan agama ini untuk sepanjang masa dan tempat
menuntut agar soal-soal yang selalu akan berubah oleh kekuatan evolusi harus diserahkan
kepada akal manusia [untuk memikirkannuya], dibentuk menurut kepentingan umum dan
dalam kerangka prinsip-prinsip umum yang telah digarikan agama ini.42
Menurut aliran pemikiran ini, bahkan istilah negara (dawlah) pun tidak dapat
ditemukan dalam al-Quran. Meskipun “terdapat berbagai ungkapan dalam al-Quran yang
merujuk atau seolah-olah merujuk kepada kekuasaan politik dan otoritas, ungkapan-ungkapan
ini hanya bersifat incidental dan tidak ada pengaruhnya bagi teori politik.” Bagi mereka, jelas
bahwa “al-Quran bukalah buku tentang ilmu politik.” Yang ada adalah bahwa al-Quran
mengandung “nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang bersifat etisis, mengenai aktivitas sosial dan
politik umat manusia,: Ajaran-ajaran ini mencakup prinsip-prinsip tentang “keadilan,
kesamaan, persaudaraan, dan kebebasan.” Untuk itu, kalangan yang berpendapat demikian,
sepanjang negara berpegang pada prinsip-prinsip seperti itu, maka mekanisme yang
diterapkannya sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.43
Dengan alur argumentasi semacam ini, pembentukan sebuah negara Islam dalam
pengertian formal dan ideologis tidaklah sungguh-sungguh penting. Yang terpenting adalah
bahwa negara –karena posisinya yang bisa menjadi instrumental dalam perealisasian ajaran-
ajaran agama – menjamin tumbuhnya nilai-nilai dasar seperti itu. Jika demikian halnya, maka
tidak adala alasan teologis atau religious untuk menolak gagasan-gagasan politik mengenai
kedaulatan rakyat, negara-bangsa sebagau unit territorial yang sah, dan prinsip-prinsip umum
teori politik modern lainnya. Dengan kata lain, sesungguhnya tidak ada landasan yang kuat
untuk meletakkan Islam dalam posisi yang bertentangan dengan sistem politik modern.
Sebagaimana kalangan penggusung formalisasi syariat lainnya, pada dasarnya muncul
karena melihat kegagalan umat Islam. Tepatnya pada pertengahan abad ke-19, umat Islam
40 Pradana Boy ZTF, “Masa Depan Politik Kaum Islamis di Indonesia”, h. 40.
41 Andar Nubowo, “Arah Baru Politik Islam di Indonesia: Dari Nalar Syariatik Menuju Islam Partisipatoris-
Transformatif,” h. 27.
42 Muhammad ‘Imarah. Al-Islam wa al-Sulthan al-Diniyah, sebagaimana dikutip dari Bahtiar Effendy,
Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia, h. 15.
43 Ada pandangan yang salah dalam pikiran sejumlah kaum Muslim dewasa ini bahwa al-Quran berisi
penjelasan yang menyeluruh tentang segala sesuatu. Kesalahpahaman ini disebabkan oleh pandangan yang salah
terhadap ayat al-Qur’an yang berbunyi demikian: “Dan Kami turunkan kepadamu Kitab Suci untuk menjelaskan
segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (16:89).
Ayat ini dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa al-Quran mengandung penjelasan tentang segala aspek
panduan moral, dan bukan penjelasan terhadap segala obyek kehidupan. Al-Qur’an itu tidak berisikan segala
sesuaut yang berhubungan dengan pengetahuan umum. Qomaruddin Khan, Political Concepts in the Quran,
dikutip dari Bahtiar Effendy, Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia,
h. 10.
diliputi oleh rasa rendah diri atau inferiority complex, karena kondisi ini mereka berusaha
untuk mengadakan konpensasi atau melarikan diri dengan bermacam-macam cara.
Diantaranya adalah dengan mengingat kejayaan-kejayaan Islam dan peninggalan nenek
moyang, yang kemudian melahirkan apa yang disebut dengan adab al-fakhir wa al-tamjid
(sastra kebanggaan dan kejayaan). Akibatnya berdampak dan sangat berpengaruh terhadap
perkembangan masyarakat Islam yang sangat besar dalam menafsirkan AL-Quran. 44 Ada
juga pandangan karena ketidakberdayaan menghadapi arus panas itu, golongan formalisasi
syariat ini mencari dalil-dalil agama untuk “menghibur diri” dalam sebuah dunia yang
dibayangkan belum tercemar. Jika sekadar “menghibur”, barangkali tidak akan menimbulkan
banyak masalah. Tetapi sekali mereka menyusun kekuatan politik untuk melawan modernitas
melalui berbagai cara, maka benturan dengan golongan Muslim yang tidak setuju dengan
cara-cara mereka tidak dapat dihindari.45
Apa yang menjadi landasan Hibut Tahrir menegakkan khilafah pun dalam konteks ini
masih debatebel, karena biar bagaimanapun konsepsi yang dibangun Hizbut Tahrir lahir dari
ijtihad pendirinya terhadap nash al-Quran. Dibanding dengan ormas yang telah lama berdiri
di Indonesia, Hizbut Tahrir belum memberikan kontribusi yang berarti bagi bangsa, bahkan
justru gagal mentransformasikan nalar syariatik dalam sistem dan institusi politik yang lebih
baik karena masih terjebak pada konsepsi fikih abad pertengahan Islam. Ini memperkuat
argumentasi bahwa menjadi formalisasi syariat tidak sepenuh menjadi solusi.
Meski begitu, harus diakui juga bahwa memang demokrasi di Indonesia belum
berjalan sebagaimana mestinya. Hadirnya kalangan fundamentalis, menurut Syafi’I Maarif
disebabkan oleh kegagalan negara mewujudkan cita-cita kemerdekaan berupa tegaknya
keadilan sosial dan terciptanya kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat. Korupsi yang
masih menggurita adalah bukti nyata dari kegagalan itu. Semua orang mengakui kenyataan
pahit ini. namun karena pengetahuan golongan fundamentalis ini sangat miskin tentang peta
sosiologis Indonesia yang memang tidak sederhana, maka mereka mengambil jalan pintas
bagi tegaknya keadilan; melaksanakan syari’at Islam melalui kekuasaan. Jika secara nasional
belum mungkin, maka diupayakan melalui Perda-Perda (Peraturan Daerah). Dibayangkan
dengan pelaksanaan syari’ah ini, Tuhan akan meridhoi Indonesia. Sebenarnya ekspresi-
ekspresi seperti itu di dorong oleh niat yang tulus, namun tidak dapat dipungkiri bahwa
semuanya itu kurang dipikirkan secara matang dan pada kenyataannya lebih bersifat
apologetik.
Anehnya, semua kelompok fundamentalis ini anti demokrasi, tetapi mereka memakai
lembaga negara yang demokratis untuk menyalurkan cita-cita politiknya. fakta ini dengan
sendirinya membeberkan satu hal; bagi mereka bentrokan antara teori dan praktik tidak
menjadi persoalan. Dalam ungkapan lain, yang terbaca disini adalah ketidakjujuran dalam
berpolitik. Secara teori demokrasi diharamkan, dalam praktik digunakan, demi tercapainya
tujuan. Masalah Indonesia, bangsa muslim terbesar di muka bumi, tidak mungkin dipecah
oleh otak-otak sederhana yang memilih jalan pintas, kadang-kadang dalam bentuk kekerasan.
Saya sadar bahwa demokrasi yang sedang dijalankan sekarang ini di Indonesia sama sekali
belum sehat, dan jika tidak cepat dibenahi, bisa menjadi sumber malapetaka buat sementara.
Tetapi untuk jangka panjang, tidak ada pilihan lain, kecuali melalui sistem demokrasi yang
sehat dan kuat, Islam moderat dan inklusif akan tetap membimbing Indonesia untuk
mencapai tujuan kemerdekaan.46

44 Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat,
cet-V, (Bandung: Mizan, 1993), h. 52.
45 Ahmad Syafii Maarif, “Masa Depan Islam di Indonesia,” Prolog dalam Abdurahman Wahid (ed),
Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, (Jakarta: The Wahid Institute, 2009),
h. 8.
46 Ahmad Syafii Maarif, “Masa Depan Islam di Indonesia,”, h. 9-10..
Penutup
Konsepsi khilafah dalam konteks ini juga pada prinsipnya masih debatebel, karena
bagaiamanapun juga konsepsi khilafah lahir dari ijtihad pendirinya (Taqiyudin An-Nabani)
terhadap nash-nash. Sama seperti munculnya berbagai mazhab fiqih, teologi, dan filsafat
Islam, misalnya, menunjukkan bahwa ajaran-ajaran Islam itu multiinterpretatif. Corak
multiinterpretatif ini telah berperan sebagai dasar dari kelenturan Islam dalam sejarah.
Selebihnya, hal yang demikian itu juga mengisyaratkan keharusan pluralisme dalam tradisi
Islam. Karena itu, sebagaimana telah dikatakan oleh banyak pihak, Islam tidak bisa dan tidak
seharusnya dilihat secara monolitik. Klaim bahwa khalifah merupakan negara Ilahia yang
konsepsinya langsung dari Sang Pencipta melalui kitab, tidak serta menjadi solusi
kompleksnya permasalahan yang dihadapi umat. Indonesia sebangsa bangsa yang
multikultural, multietnis dan multirelijius, menjadi alasan kuat bahwa formalisasi syariat
dalam wujud negara –baik dalam wujud negara Islam atau khilafah Islamiyah— bukan solusi
terbaik. Penerapan Islam yang legalistik dan formalistil, karena kecenderungan eksklusifnya,
dinilai dapat memancing munculnya ketegangan-ketegangan dalam sebuah masyarakat yang
secara sosial-keagamaan dan cultural bersifat heterogen. Justru yang dibutuhkan adalah
pandangan mengenai Islam yang substansialistik –yakni yang menomorsatukan keadilan,
kesamaan, partisipasi dan musyawarah– ini yang dapat memberi landasan yang penting bagi
pengembangan sintesis yang pas antara Islam dan negara, dalam rangka membentuk kembali
hubungan politik keduanya.
Berdasarkan uraian argumentasi di atas, dapat dimengerti bahwa wujud formasilisasi
syariat, negara Islam, dan khilafah Islamiyah, pada dasarnya lahir dari interpretasi
penggagasnya terhadap teks yang ada. Dengan kenyataan ini, terdapat perbedaan pandangan
dalam formalisasi syariat hingga penerapan syariat substansial dalam relasi Islam dan politik
sangat mungkin terjadi. Dalam konteks Indonesia, terjadinya konsensus untuk memilih
negara bangsa (nation-state) ketimbang wujud formal negara Islam tidak serta merta
dikatakan telah keluar dari Islam. Justru yang ada konsep negara bangsa, dengan sistem
demokrasi yang dianut Indonesia tetap mengakomodir peran agama. Bahkan Pancasila
sebagai ideologi negara dinilai memuat unsure-unsur keislaman, kelima sila Pancasila
tersebut secara berurutan adalah prinsip Syariah Islam, yakni al-tauhid (ketuhanan), al-
musawah baina al-nas (kemanusian), al-ittihad wa alukhuwah (persatuan dan kesatuan), al-
syura (permusyawaratan), dan al-‘adalah (keadilan). Dari sini semakin ditegaskan kalau
Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sikap meragukan atau
menolak Pancasila bisa dianggap menolak ajaran-ajaran luhur Islam.
Dapat dimengerti bahwa slogan NKRI telah final, bukan tanpa alasan. Ini sekaligus
penjelas bagi konsepsi yang menentang, bahwa konsepsi yang mereka tawarkan untuk
Indonesia hanya akan menjadi gagasan utopia. Sistem negara bangsa (nation state) adalah
sebuah sistem politik kenegaraan yang lebih berdasarkan pada kesamaan bangsa bukan
berdasarkan kesamaan agama. Sistem negara bangsa juga ditandai dengan adanya batas
geografis dan territorial. Inilah yang membedahkan dengan sistem khilafah mengenal batas-
batas geografis dan territorial. Sekaligus saran, bagaimanapun pemerintah dan masyarakag
sebagai produser kebijakan-kebijakan semestinya memiliki keberanian tegas untuk tidak
berkompromi dengan kekuatan manapun yang mencoba menghambat konsolidasi demokrasi.
Wa Allah a’lam bi al-shawab.

Daftar Pustaka

Abdurahman Wahid, (ed), Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di
Indonesia, (Jakarta: The Wahid Institute, 2009).
___________, “Dapatkan NU Berperan dalam Politik Nasional”, dalam Ebook Catatan
Gusdur, (Bandung: PersEbook369, t.t).
___________, “Musuh Dalam Selimut”, Pengantar dalam Abdurahman Wahid (ed), Ilusi
Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, (Jakarta: The
Wahid Institute, 2009).
Abdul Qadim Zallum, Demokrasi sistem Kufur, (Bogor: Pustaka Thariqul izzah, 2007).
Ahmad Arifan, “Paham Keagamaan Hizbut Tahrir Indonesia,” dalam Jurnal Studi Sosial, th.
6, no. 2, (Nopember, 2014).
Ahmad Fuad Fanani & Muhd. Abdullah Darraz, “Membaca Ulang Ekspresi Politik Umat
Islam: Sebuah Pengantar”, Maarif vol. 8, no. 2 (Desember 2013).
Andar Nubowo, “Arah Baru Politik Islam di Indonesia: Dari Nalar Syariatik Menuju Islam
Partisipatoris-Transformatif,” Maarif vol. 8, no. 2 (Desember 2013).
Ahmad Syafii Maarif, “Masa Depan Islam di Indonesia,” Prolog dalam Abdurahman Wahid
(ed), Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia,
(Jakarta: The Wahid Institute, 2009).
Bahtiar Effendy, Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di
Indonesia, edisi digital (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi, 2011).
Harian Bangsa, “Hizbut Tahrir adalah Organisasi Terlarang di Negara Asal Berdirinya”
diakses 12 Desember 2015, di http://pengawalnkri.blogspot.co.id/2011/01/hizbut-
tahrir-adalah-organisasi.html
Hizbut Tahrir, Ajhizatu ad-Daulah al-Khilâfah, Penerjemah Yahya A.R, (Jakarta: HTI-Press,
2006)
Hizbut Tahrir Indonesia, Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia: Indonesia, Khilafah, dan
Penyatuan Kembali Dunia Islam, (Jakarta: HTI-Press, 2000)
M. Luqman Hakiem, “Memahami Sufisme Politik Gusdur,” dalam Ebook Catatan Gusdur,
(Bandung: PersEbook369, t.t).
Maurice Duverger, Sosiologi Politik, (Jakarta: Rajawali, 1985).
Pradana Boy ZTF, “Masa Depan Politik Kaum Islamis di Indonesia”, Maarif vol. 8, no. 2
(Desember 2013).
Saiful Mujani, dkk, Benturan Peradaban: Sikap dan Perilaku Islamis Indonesia terhadap
Amerika Serikat, (Jakarta: Penerbit Nalar, 2005).
Saifuddin, “Konsepsi Khilafah: Studi Pemikiran Politik Hizbut Tahrir Indonesia,” (Tesis S2
Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2007).
Sudarno Shorbron, “Model Dakwah Hizbut Tahrir Indonesia,” Profetika, Jurnal Studi Islam
vol. 15, no. 1 (Juni 2014).
Sukardi Rinakit, “Mencari Indonesia,” Pengantar dalam Piet H. Khaidir, Nalar Kemanusiaan
Nalar Perubahan Sosial, (Jakarta: Teraju, 2006).
Taqiyudin An-Nabhani, Mafahim Hizbut Tahrir, Penerjemah Abdullah, cet-6 (Jakarta: Hizbut
Tahrir Indonesia, 2007).
___________, Ad-Daulah Al-Islamiyah, Penerjemah Umar Faruq (Jakarta: HTI-Press, 2009).
Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan
Masyarakat, cet-V, (Bandung: Mizan, 1993).
Yudi Latif, Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad
Ke-20, edisi digital (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi, 2012).