Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Infeksi saluran napas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam
bidang kesehatan, baik di negara yang sedang berkembang maupun yang sudah maju.
Dari data SEAMIC Health Statistic 2001 influenza dan pneumonia merupakan
penyebab kematian nomor 6 di Indonesia, nomor 9 di Brunei, nomor 7 di Malaysia,
nomor 3 di Singapura, nomor 6 di Thailand dan nomor 3 di Vietnam. Laporan WHO
1999 menyebutkan bahwa penyebab kematian tertinggi akibat penyakit infeksi di
dunia adalah infeksi saluran napas akut termasuk pneumonia dan influenza. Insidensi
pneumonia komuniti di Amerika adalah 12 kasus per 1000 orang per tahun dan
merupakan penyebab kematian utama akibat infeksi pada orang dewasa di negara itu.
Angka kematian akibat pneumonia di Amerika adalah 10 %. 1

Pneumonia komunitas atau community acquired pneumonia (CAP)


merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dijumpai dan mempunyai
dampak yang signifikan di seluruh dunia, terutama pada populasi usia lanjut.1,2
Insiden pneumonia komunitas dilaporkan meningkat sesuai dengan bertambahnya
usia.3-5 Pada pasien usia ≥65 tahun yang dirawat di rumah sakit, pneumonia
merupakan diagnosis terbanyak ketiga. Angka ini menjadi semakin penting
mengingat bahwa diperkirakan sebanyak 20% dari penduduk dunia akan berusia lebih
dari 65 tahun di tahun 2050. 2

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, bagian distal
dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli,
serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas
setempat.3
Istilah pneumonia lazim dipakai bila peradangan terjadi oleh proses infeksi
akut yang merupakan penyebabnya yang tersering, sedangkan istilah pneumonitis
sering dipakai untuk proses non infeksi. Bila proses infeksi teratasi, terjadi
resolusi dan biasanya struktur paru normal kembali. Namun pada pneumonia
nekrotikans yang disebabkan antara lain oleh Staphylococcus atau kuman gram
negatif terbentuk jaringan parut atau fibrosis. Diagnosa pneumonia harus
didasarkan pengertian pathogenesis penyakit hingga diagnosis yang dibuat
mencangkup bentuk manifestasi, beratnya proses penyakit dan etimologi
pneumonia. Cara ini akan mengarahkan dengan baik kepada terapi empiris dan
pemelihan antibiotic yang sesuai terhadap mikroorganisme penyebabnya.3
Pneumonia dalam arti umum adalah peradangan parenkim paru yang
disebabkan oleh mikroorganisme-bakteri, virus, jamur, parasit-namun pneumonia
juga dapat disebabkan oleh bahan kimia ataupun karena paparan fisik seperti
suhu atau radiasi.4

2.2. Epidemiologi
Penyakit saluran napas menjadi penyebab angka kematian dan kecacatan
yang tinggi di seluruh dunia. Sekitar 80% dari seluruh kasus baru praktek umum
berhubungan dengan infeksi saluran napas yang terjadi di masyarakat
(pneumonia komunitas) atau di dalam rumah sakit (pneumonia nosokomial).

2
Pneumonia yang merupakan bentuk infeksi saluran napas bawah akut di
parenkim paru yang serius di jumpai sekitar 15-20%.
Kejadian PN di ICU lebih sering daripada PN di ruangan umum, yaitu
dijumpai pada hampir 25% dari semua infeksi di ICU, dan 90% terjadi pada saat
ventilasi mekanik. PBV didapat pada 9-27% dari pasien yang diintubasi. Resiko
PBV tertinggi pada saat awal masuk ke ICU.
Pneumonia dapat terjadi pada orang normal tanpa kelainan imunitas yang
jelas. Namun pada kebanyakan pasien dewasa yang menderita pneumonia
didapati adanya satu atau lebih penyakit dasar yang meganggu daya tahan tubuh.3

2.3. Etiologi
Pneumonia biasanya disebabkan oleh virus atau bakteri yang telah terpapar
di lingkungan dan diteruskan dari orang lain. Infeksi bisa dilewati antara orang-
orang dari kontak langsung (biasanya tangan) atau menghirup udara dari batuk
atau bersin. Terkadang seseorang yang memiliki infeksi virus, seperti virus
influenza, akan mengembangkan infeksi sekunder dari bakteri seperti
Staphylococcus aureus saat mereka sakit. Pneumonia lebih banyak jarang dapat
disebabkan oleh parasit, jamur. Aspirasi pneumonia disebabkan oleh bahan
asing, biasanya makanan atau muntahan masuk ke paru-paru dari tenggorokan,
yang mengiritasi saluran udara dan jaringan paru-paru dan meningkatkan peluang
dari infeksi bakteri.5
Dari kepustakaan pneumonia komuniti yang diderita oleh masyarakat luar
negeri banyak disebabkan bakteri Gram positif, sedangkan pneumonia di rumah
sakit banyak disebabkan bakteri Gram negatif sedangkan pneumonia aspirasi
banyak disebabkan oleh bakteri anaerob. Akhir-akhir ini laporan dari beberapa
kota di Indonesia menunjukkan bahwa bakteri yang ditemukan dari pemeriksaan
dahak penderita pneumonia komuniti adalah bakteri Gram negatif.

3
Berdasarkan laporan 5 tahun terakhir dari beberapa pusat paru di Indonesia
(Medan, Jakarta, Surabaya, Malang, dan Makasar) dengan cara pengambilan
bahan dan metode pemeriksaan mikrobiologi yang berbeda didapatkan hasil
pemeriksaan sputum sebagai berikut :
o Klebsiella pneumoniae 45,18%
o Streptococcus pneumoniae 14,04%
o Streptococcus viridans 9,21%
o Staphylococcus aureus 9%
o Pseudomonas aeruginosa 8,56%
o Steptococcus hemolyticus 7,89%
o Enterobacter 5,26%
o Pseudomonas spp 0,9%. 1

2.4. Patogenesis
 Patogenesis PK
Proses patogenesis pneumonia terkait 3 faktor yaitu keadaan
(imunitas) inang, mikroorganisme yang menyerang pasien dan lingkungan
yang berinteraksi satu sama lain. Interaksi ini akan menentukan klasifikasi
dan bentuk manifestasi dari pneumonia, berat ringannya penyakit, diagnosis
empirik, rencana terapi seara empiris serta prognosis dari pasien.
Gambaran interaksi dari ketiga faktor tersebut tercermin pada
kecenderungan terjadinya infeksi oleh kuman tertentu oleh faktor
perubah (modifying factor), seperti pada tabel berikut.

4
 Patogenesis PN
Patogen yang sampai ke trakea terutama berasal dari aspirasi bahan
orofaring, kebocoran melalui mulut saluran endotrakeal, inhalasi, dan
sumber bahan patogen yang mengalami kolonisasi di pipa endotrakeal. PN
terjadi akibat proses infeksi bila patogen yang masuk saluran nafas bagian
bawah tersebut mengalami kolonisasi setelah dapat melewati hambaran
mekanisme pertahanan inang berupa daya tahan mekanik (epitel silia dan
mucus), humoral (antibodi dan komplemen) dan selular (lekosit, polinuklir,
makrofag, limfosit dan sitokinnya). Kolonisasi terjadi akibat adanya
berbagai faktor inang dan terapi yang telah dilakukan yaitu adanya penyakit
penyerta yang berat, tindakan bedah, pemberian antibiotik, obat-obatan lain
dan tindakan invasif pada saluran pernafasan

2.5. Klasifikasi Pneumonia


Klasifikasi pneumonia sangat beragam dan yang sering digunakan antara lain:
1. Berdasarkan klinis dan epidemiologis :
a. Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia)

5
b. Pneumonia nosokomial (hospital-acqiured pneumonia/nosocomial
pneumonia)
c. Pneumonia aspirasi
d. Pneumonia pada penderita immunocompromised
Pembagian ini penting untuk memudahkan penatalaksanaan.

2. Berdasarkan bakteri penyebab


a. Pneumonia bakterial/tipikal. Dapat terjadi pada semua usia. Beberapa
bakteri mempunyai tendensi menyerang sesorang yang peka, misalnya
Klebsiella pada penderita alkoholik, Staphyllococcus pada penderita
pasca infeksi influenza.
b. Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan
Chlamydia
c. Pneumonia virus
d. Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi
terutama pada penderita dengan daya tahan lemah
(immunocompromised)
3. Berdasarkan predileksi infeksi
a. Pneumonia lobaris
Sering pada pneumonia bakterial, jarang pada bayi dan orang tua.
Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen kemungkinan
sekunder disebabkan oleh obstruksi bronkus, misalnya pada aspirasi
benda asing atau proses keganasan
b. Bronkopneumonia
Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada lapangan paru. Dapat
disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering pada bayi dan orang tua.
Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus.
c. Pneumonia interstisial.1

6
2.6. Diagnosis
1. Gambaran klinis
a. Anamnesis
Gambaran klinik biasanya ditandai dengan demam, menggigil, suhu
tubuh meningkat dapat melebihi 400C, batuk dengan dahak mukoid atau
purulen kadang-kadang disertai darah, sesak napas dan nyeri dada.
b. Pemeriksaan fisik
Temuan pemeriksaan fisis dada tergantung dari luas lesi di paru. Pada
inspeksi dapat terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas, pasa
palpasi fremitus dapat mengeras, pada perkusi redup, pada auskultasi
terdengar suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang mungkin
disertai ronki basah halus, yang kemudian menjadi ronki basah kasar
pada stadium resolusi.

2. Pemeriksaan penunjang
a. Gambaran radiologis
Foto toraks (PA/lateral) merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk
menegakkan diagnosis. Gambaran radiologis dapat berupa infiltrat
sampai konsolidasi dengan " air broncogram", penyebab bronkogenik
dan interstisial serta gambaran kaviti. Foto toraks saja tidak dapat secara
khas menentukan penyebab pneumonia, hanya merupakan petunjuk ke
arah diagnosis etiologi, misalnya gambaran pneumonia lobaris tersering
disebabkan oleh Steptococcus pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa
sering memperlihatkan infiltrat bilateral atau gambaran
bronkopneumonia sedangkan Klebsiela pneumonia sering menunjukkan
konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan meskipun dapat
mengenai beberapa lobus.

7
b. Pemeriksaan labolatorium
Pada pemeriksaan labolatorium terdapat peningkatan jumlah leukosit,
biasanya lebih dari 10.000/ul kadang-kadang mencapai 30.000/ul, dan
pada hitungan jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta terjadi
peningkatan LED. Untuk menentukan diagnosis etiologi diperlukan
pemeriksaan dahak, kultur darah dan serologi. Kultur darah dapat positif
pada 2025% penderita yang tidak diobati. Analisis gas darah
menunjukkan hipoksemia dan hikarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi
asidosis respiratorik.1

2.7. Penatalaksanaan
Dalam hal mengobati penderita pneumonia perlu diperhatikan keadaan
klinisnya. Bila keadaan klinis baik dan tidak ada indikasi rawat dapat diobati di
rumah. Juga diperhatikan ada tidaknya faktor modifikasi yaitu keadaan yang
dapat meningkatkan risiko infeksi dengan mikroorganisme patogen yang spesifik
misalnya S. pneumoniae . yang resisten penisilin. Yang termasuk dalam faktor
modifikasis adalah: (ATS 2001)
a. Pneumokokus resisten terhadap penisilin
 Umur lebih dari 65 tahun
 Memakai obat-obat golongan P laktam selama tiga bulan terakhir
 Pecandu alcohol
 Penyakit gangguan kekebalan
 Penyakit penyerta yang multiple
b. Bakteri enterik Gram negatif
 Penghuni rumah jompo
 Mempunyai penyakit dasar kelainan jantung paru
 Mempunyai kelainan penyakit yang multiple
 Riwayat pengobatan antibiotik

8
c. Pseudomonas aeruginosa
 Bronkiektasis
 Pengobatan kortikosteroid > 10 mg/hari
 Pengobatan antibiotik spektrum luas > 7 hari pada bulan terakhir
 Gizi kurang

Penatalaksanaan pneumionia komuniti dibagi menjadi:


a. Penderita rawat jalan
 Pengobatan suportif / simptomatik
- Istirahat di tempat tidur
- Minum secukupnya untuk mengatasi dehidrasi
- Bila panas tinggi perlu dikompres atau minum obat penurun panas
- Bila perlu dapat diberikan mukolitik dan ekspektoran
 Pemberian antiblotik harus diberikan (sesuai bagan) kurang dari 8 jam

b. Penderita rawat inap di ruang rawat biasa


 Pengobatan suportif / simptomatik
- Pemberian terapi oksigen
- Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit
- Pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik, mukolitik
 Pengobatan antibiotik harus diberikan (sesuai bagan) kurang dari 8 jam

c. Penderita rawat inap di Ruang Rawat Intensif


 Pengobatan suportif / simptomatik
- Pemberian terapi oksigen
- Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit.
Pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik, mukolitik
- Pengobatan antibiotik (sesuai bagan.) kurang dari 8 jam

9
- Bila ada indikasi penderita dipasang ventilator mekanik

Penderita pneumonia berat yang datang ke UGD diobservasi tingkat kegawatannya,


bila dapat distabilkan maka penderita dirawat map di ruang rawat biasa; bila terjadi
respiratory distress maka penderita dirawat di Ruang Rawat Intensif.

10
Terapi empiris antibiotik awal untuk pneumonia Nosokomial atau
pneumonia berhubungan dengan ventilator yang tidak disertai faktor
risiko untuk pathogen resisten jamak, onset dini pada semua tingkat berat
sakit.
Patogen Potensial Antibiotika yang disarankan
S. Pneumoniae Ceftriaxone
H. Influenza Atau
Gram (-) sensitive antibiotic Levofloksasin, moxifloksasin
Escherichia coli Atau Ciprofloksasin
 K. Pneumoniae Atau
 Enterobacter spp. Ampisilin/sulbaktam
 Serratia marcescens Atau
Ertapenem
Catatan: karena S. pneumonia yang resisten penisilin semakin sering terjadi
maka levofloksasin, moksifloksasin lebih dianjurkan.

11
2.8.Prognosis
 Pneumonia Komunitas
Kejadian PK di USA adalah 3-4 juta kasus pertahun, dan 20% di anataranya
perlu dirawat di RS. Secara umum angka kematian pneumonia oleh
pneumokokkusa adalah sebesar 5 %, namun dapat meningkat pada orang tua
dengan kondisi yang buruk. Pneumonia dengan influenza di USA
merupakan penyebab kematian no. 6 dengan keajadian sebesar 59%.
Sebagian besar pada lanjut usia yaitu sebesar 89%. Mortalitas pasien CAP
yang dirawat di ICU adalah sebesar 20%. Mortalitas yang tinggi ini
berkaitan dengan “faktor perubah” yang ada pada pasien.
 Pneumonia Nosokomial
Angka mortalitas PN dapat mencapai 33-50%, yang bisa mencapai 70% bila
termasuk yang meninggal akibat penyakit dasar yang dideritanya. Penyebab
kematian biasanya adalah akibat bakteriemi terutama oleh Ps. Aeruginosa
atau Acinobacter spp.

12
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. A

Tanggal Lahir : 11 – 7 - 2003

Umur : 15 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama : Islam

Alamat : Limbung

MRS :2 – 7 – 2018

3.2. ANAMNESIS

Keluhan Utama: Demam

Anamnesis Terpimpin :

Pasien MRS dengan keluhan demam sejak ± 4 hari yang lalu. Pasien juga
mengeluh batuk sejak 1 minggu lalu, dahak (+) berwarna putih kekuningan,
darah (-), kadang disertai sesak saat bernapas, nyeri dada (-). Keringat pada
malam hari dan penurunan berat badan (-). Pasien juga mengeluh lemas. Nafsu
makan dan minum menurun. BAB dan BAK normal.

13
Riawayat penyakit asma (-). Riwayat hipertensi (-). Riwayat pengobtan OAT (-).
Riwayat alergi (-).

3.3. PEMERIKSAAN FISIS

1. Status Pasien

K.U : Sakit Sedang/ Gizi kurang/ Compos Mentis

BB : 48 kg

TB : 167 cm

IMT : 17,26 kg/m2

2. Tanda Vital

Tekanan Darah : 110/70 mmHg

Suhu : 40 0 C

Nadi : 105 kali/menit

Pernapasan : 28 kali/menit

3. Status Generalis

a. Kepala

Bentuk Kepala : Normochepal

Rambut : Hitam, tidak rontok

Deformitas : Tidak ada

14
b. Mata

Eksoptalmus/Enoptalmus : Tidak ada

Konjungtiva : Anemis (-)

Sklera : Ikterus (-), Perdarahan (-)

Pupil : Bulat, Isokor kiri - kanan

c. Telinga

Pendengaran : Dalam Batas Normal

Nyeri Tekan : Tidak ada

d. Hidung

Bentuk : Simetris

Perdarahan : Tidak ada

e. Mulut

Bibir : Sianosis (-)

Lidah kotor : (-)

f. Leher

DVS : R-4

Kelenjar Getah Bening : Tidak ada pembesaran

Kelenjar Tiroid : Tidak ada pembesaran

Kaku Kuduk : (-)

15
g. Thorax

Inspeksi : Simetris kiri dan kanan, pergerakan dada

kanan tertinggal

Palpasi : Vocal Fremitus Kanan meningkat, Nyeri

Tekan (-)

Perkusi : Redup D/S, Batas Paru – Hepar ICS 5-6

Auskultasi : Bronkhial, Rh (+/-), Wh (-/-)

h. Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak

Palpasi : Ictus cordis tidak teraba

Perkusi : Batas Kanan: ICS VI Parasternal Dextra

Batas Kiri: ICS V line midclavicularis kiri

Auskultasi : Bunyi Jantung I/II, murni regular, bising sulit

dinilai

i. Abdomen

Inspeksi : Datar, ikut gerak napas

Palpasi : Hepar tidak teraba, nyeri tekan (-). Lien tidak


teraba, Massa Tumor (-), Nyeri tekan
epigastrium (-), nyeri tekan regio abdomen
lainnya(-)

Perkusi : Tympani

16
Auskultasi : Peristaltik (+) kesan normal

j. Genitalia : Tidak dilakukan pemeriksaan

k. Ekstremitas : Edema (-), Hangat

3.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Radiologi : Pleuropneumonia bilateral

2. BTA (-) di Puskesmas

3. Darah rutin : Wbc = 22,16x103/μl

3.5. DIAGNOSA KERJA

Pneumonia

3.6. PENATALAKSANAAN

 Diet Lunak
 Infus RL : dextrose 5 % 2 :1 20 tpm
 Moxifloxacin/24 j/drips
 Dexametasone /8j/iv
 OBH 3 x 1c
 PCT 3x1
 Curcuma 3x1

17
3.7. FOLLOW UP

TANGGAL PERJALANAN INSTRUKSI DOKTER


PENYAKIT
02/7/2018 S: P:
T:110/70 mmHg - Demam (+) - Diet lunak
N: 105x/m - Sesak (+) - IVFD RL : dex 5 % 2:1 20
P: 28x/m - Batuk berlendir (+) tpm
S: 40oC O: - Moxifloxacin/24 j/drips
- SS/GK/CM - Dexametasone /8 j/iv
- Anemis (-), ikterus - OBH syr 3x c
(-), sianosis(-) - PCT 3x1
- Paru : Bronkhial, - Curcuma 3x1
Rh +/-, Wh (-)/(-)
- Cor: BJ I/II murni,
regular
- Abdomen :
peristaltik (+)
kesan normal
Ekstremitas:
edema (-)
A: Pneumonia
03/7/2017 S: P:
T:90/60 mmHg - Lemas - IVFD RL 20 tpm
N: 88x/m - Batuk berkurang - Moxifloxacin /24 j/drips
P: 24x/m - Nyeri dada kanan - Dexametasone /8 j/iv
S: 36,6oC O: SS/GK/CM - OBH syr 3x c
- Anemis (-), ikterus - PCT 3x1
(-), sianosis(-) - Curcuma 3x1

18
- Paru : bronkhial,
Rh +/-, Wh (-)/(-)
- Cor: BJ I/II murni,
regular
- Abdomen :
peristaltik (+)
kesan normal
Ekstremitas:
edema (-)
A: Pneumonia
4/7/2018 S: P:
T:90/70 mmHg - Sesak (+) - IVFD RL 20 tpm
N: 65x/m - Batuk berkurang - Moxifloxacin /24 j/drips
P: 28x/m - Nyeri dada kanan - Dexametasone /8 j/iv
S: 35,8oC - OBH syr 3x c
O: SS/GK/CM - Salbutamol 2 gr 3x1
- Anemis (-), ikterus - Curcuma 3x1
(-), sianosis(-)
- Paru : bronkhial,
Rh +/-, Wh (-)/(-)
- Cor: BJ I/II murni,
regular
- Abdomen :
peristaltik (+)
kesan normal
Ekstremitas: edema (-)
A: Pneumonia

19
5/7/2018 S: P:
T:100/60mmHg - Sesak (+) - IVFD RL 20 tpm
N: 76x/m - Batuk berkurang - Moxifloxacin /24 j/drips
P: 32x/m O: - Dexametasone /8 j/iv
S: 35,2oC - SS/GK/CM - OBH syr 3x c
- Anemis (-), ikterus - Salbutamol 2 gr 3x1
(-), sianosis(-) - Curcuma 3x1
- Paru : bronkhial,
Rh +/-, Wh (-)/(-)
- Cor: BJ I/II murni,
regular
- Abdomen :
peristaltik (+)
kesan normal
Ekstremitas: edema (-)
A: Pneumonia
6/7/2018 S: P:
T:100/70 mmHg - Batuk berkurang - IVFD RL 20 tpm
N: 60x/m O: - Moxifloxacin /24 j/drips
P: 24x/m - SS/GK/CM - Dexametasone /8 j/iv
S: 35oC - Anemis (-), ikterus - OBH syr 3x c
(-), sianosis(-) - Salbutamol 2 gr 3x1
- Paru : Bronkhial, - Curcuma 3x1
Rh +/-, Wh (-)/(-)
- Cor: BJ I/II murni,
regular
- Abdomen :
peristaltik (+)

20
kesan normal
Ekstremitas: edema (-)
A: Pneumonia
7/7/2018 S:
T:100/80 mmHg - KU Baik - Off infus
N: 64x/m O: - Levofloxacin 500 mg 1 x 1
P: 20x/m - SS/GK/CM - OBH syr 3x c
S: 36,2oC - Anemis (-), ikterus - Salbutamol 2 gr 3x1
(-), sianosis(-) - Curcuma 3x1
- Paru : Bronkhial,
Rh +/-, Wh (-)/(-)
- Cor: BJ I/II murni,
regular
- Abdomen :
peristaltik (+)
kesan normal
Ekstremitas: edema (-)
A: Pneumonia

21
RESUME

Pasien MRS dengan keluhan demam sejak ± 4 hari yang lalu. Pasien juga
mengeluh batuk sejak 1 minggu lalu, dahak (+) berwarna putih kehijauan, darah (-),
kadang disertai sesak saat bernapas, nyeri dada (-). Keringat pada malam hari dan
penurunan berat badan (-). Pasien juga mengeluh lemas. Nafsu makan dan minum
menurun. BAB dan BAK normal.

Riawayat penyakit asma (-). Riwayat hipertensi (-). Riwayat pengobtan OAT
(-). Riwayat alergi (-). Dari hasil pemeriksaan fisis didapatkan, kepala: anemis (-),
icterus (-). Leher : Kaku kuduk (-) Massa (-). Thorax Paru : bronkhial, Rh +/-, Wh-/-
Jantung : BJ I & II murni reguler. Abdomen Auskultasi: peristaltik (+) kesan normal.
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan hasil lab leukositosis, BTA (-), foto thorax
didapatkan kesan pleuropneumonia bilateral.

Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang maka,


pasien didiagnosis dengan Pneumonia. pengobatan yang diberikan yaitu IVFD RL :
Dextrose 5% 2:1 20 tpm, Moxifloxacin/24 j/drips, Dexametasone /8 j/iv, OBH syr 3x
c, PCT 3x1, Curcuma 3x1

22
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada kasus ini pasien adalah laki-laki usia 15 tahun, datang dengan keluhan
demam 4 hari SMRS, batuk disertai dahak berwarna putih kekuningan, kadang sesak
napas (+). Jika dibandingkan dengan kasus maka usia penderita sesuai dengan teori
yakni resiko untuk mengidap pneumonia lebih besar pada anak-anak, orang berusia
lanjut, atau mereka yang mengalami gangguan kekebalan atau menderita penyakit
atau kondisi kelemahan lain. Penyebab tersering pneumonia bakteri adalah bakteri
gram-positif, streptococcus pnemoniae yang menyebabkan pneumonia streptococcus.
Bakteri staphylococcus aeruginosa aureus dan streptococcus beta hemolitikus grup A
juga sering menyebabkan pneumonia, demikian juga pseudomonas aeruginosa.
Pneumonia lainnya disebabkan oleh virus, misalnya influenza. Anak-anak yang
masih kecil sangat rentan terutama terhadap pneumonia virus, biasanya dari infeksi
dengan Respiratory Syncytial Virus (RSV), parainfluenza, adenovirus, Rinovirus.
Pneumonia mikoplasma, jenis pneumonia yang relative sering dijumpai, disebabkan
oleh mikroorganisme yang berdasarkan beberapa aspeknya, berada di antara bakteri
dan virus.6 Virus lebih sering ditemukan pada anak <5 tahun dan respiratory syncytial
virus (RSV) merupakan penyebab tersering pada anak <3 tahun. Mycoplasma
pneumonia lebih sering ditemukan pada anak >10 tahun. Sementara itu bakteri yang
paling banyak ditemukan pada apus tenggorok pasien usia 2-59 bulan adalah
streptococcus pneumonia, staphylococcus aureus dan hemophilus influenza.7
Gambaran klinik yang dikeluhkan oleh pasien sesuai dengan teori yakni pneumonia
biasanya ditandai dengan demam, menggigil, suhu tubuh meningkat, batuk dengan
dahak mukoid atau purulen kadang-kadang disertai darah, sesak napas dan nyeri
dada. Namun pada pasien tidak ditemukan darah pada dahak.
0
Pada pemeriksaan fisik ditemukan suhu : 40 C, disertai RR: 28 kali/menit
menunjukkan adanya peningkatan suhu tubuh dan usaha napas meningkat sesuai
dengan teori yang mendukung diagnosis pneumonia. Pemeriksaan fisik ditemukan

23
konjungtiva pucat -/-, gerak dada kanan tertinggal, vokal fremitus kanan ↑, perkusi
kanan redup dan rhonki +/-. Hal ini sesuai dengan teori yakni pemeriksaan fisik pada
pneumonia menunjukkan bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas, pada palpasi
fremitus dapat mengeras, pada perkusi redup, pada auskultasi terdengar suara napas
bronkovesikuler sampai bronkial yang mungkin disertai ronki basah halus, yang
kemudian menjadi ronki basah kasar pada stadium resolusi.
Dari pemeriksaan radiologi didapatkan konsolidasi pada kedua paru kanan.
Temuan ini sesuai dengan teori gambaran radiologis pneumonia dapat berupa infiltrat
sampai konsolidasi dengan "air broncogram", terdapat juga efusi pleura tidak massif.
Dari pemeriksaan laboratorium pada pasien ditemukan leukositosis (22,16x103/μl) hal
ini sesuai dengan teori bahwa pada pneumonia terjadinya infeksi menyebabkan
peningkatan leukosit. . Pada pasien telah dilakukan pemeriksaan sputum di
Puskesmas dengan BTA  (-). Pemeriksaan sputum BTA dilakukan untuk
menyingkirkan adanya kemungkian tuberkulosis.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang mendukung ke arah
diagnosis pneumonia komuniti yakni gambaran radiologi disertai 2 atau lebih gejala
yaitu batuk-batuk bertambah, perubahan karakteristik dahak / purulen, suhu tubuh >
380C (aksila) / riwayat demam, pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda konsolidasi,
suara napas bronkial dan ronki, serta leukosit > 10.000 atau < 4500. Berdasarkan
kesesuaian klinis penderita dengan teori maka penderita didiagnosis dengan
pneumonia yang disesuaikan dengan skor PORT < 70 tetapi terdapat 1 kriteria
dimana penderita perlu dirawat inap, yaitu foto toraks paru menunjukkan kelainan
bilateral sehingga berdasarkan kesepakatan PDPI pasien memenuhi indikasi rawat
inap.1
Selanjutnya pasien diterapi dengan oksigen 4 lpm, IVFD RL : Dextrose 5% 2:1
20, Moxifloxacin/24 j/drips, Dexametasone /8 j/iv, OBH syr 3x c, paracetamol 3x500
mg, Curcuma 3x1. Jika dibandingkan teori maka penatalaksanaan pada pasien sudah
sesuai karena pada teori pasien rawat inap diberikan terapi suportif dan simptomatik,
dan pemberian antibiotik sesegera mungkin. Pemilihan Moxifloxacin sebagai terapi

24
antibiotik telah sesuai dengan teori petunjuk penggunaan terapi empirik PDPI untuk
pasien rawat inap tanpa faktor modifikasi adalah golongan betalaktam + anti
betalaktamase iv, atau sefalosporin G2, G3 iv, atau Fluorokuinolon respirasi iv.
Antibiotik intravena pada pasien dihentikan pada hari 6 perawatan setelah tidak
demam, batuk dan sesak berkurang. Terapi antibiotik diberikan secara oral dan pasien
dipulangkan sesuai dengan teori mengenai kriteria perubahan antibiotik intravena ke
oral. Perubahan obat suntik ke oral harus memperhatikan ketersediaan antibiotik yang
diberikan secara iv dan antibiotik oral yang efektivitasnya mampu mengimbangi
efektivitas antibiotik iv yang telah digunakan. Perubahan ini dapat diberikan secara
sequensial (obat sama, potensi sama), switch over (obat berbeda, potensi sama) dan
step down (obat sama atau berbeda, potensi lebih rendah). Contoh terapi sekuensial:
levofioksasin, moksifloksasin, gatifloksasin. Contoh switch over : seftasidin iv ke
siprofloksasin oral. Contoh step down amoksisilin, sefuroksim, sefotaksim iv ke
cefiksim oral.1 Pada penderita ini, pemberian obat oral sudah sesuai dengan teori,
yaitu pemberian obat secara sequensial.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pneumonia Komuniti: Pedoman Diagnosis


dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2003.
2. S. F Elza, R. Martin, H. Kuntjoro. Faktor–Faktor yang Berhubungan dengan
Diagnosis Pneumonia Pada Pasien Usia Lanjut. Jurnal Penyakit Dalam
Indonesia. 2016. 184
3. Dahlan Z. Pneumonia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II edisi VI. Jakarta:
Interna Publishing; 2014. 1608-1618 p
4. Djojodibroto D. Penyakit Infeksi Pada Parenkim Paru. Buku Respirologi.
Penerbit Buku Kedokteran. EGC. 2014. 136 p
5. American Thoracic Society. What Is Pneumonia. 2016.
6. Corwin, Elizabeth J. Infeksi Saluran Napas Bawah. Buku Saku Patofisiologi.
EGC. : Jakarta. 2009. 541 p
7. Indawati W, Calistania C. Pneumonia. Kapita Selekta Kedokteran. Ed IV. Jakarta
: Media Aeskulapius. 2014. 174 p

26