Anda di halaman 1dari 97

ORANG TERKAYA DI BABILONIA

Didepanmu terbentang masa depanmu, bagai sebuah jalan yang mengarah jauh ke ujung batas pandangmu.
Sepanjang jalan itu ada banyak tujuan yang ingin engkau capai …. Keinginan-keinginan yang sangat ingin
engkau penuhi.

Untuk mencapai tujuan dan keinginan hatimu, engkau harus berhasil di bidang keuangan. Gunakan prinsip-
prinsip dasar yang dijelaskan pada halaman-halaman berikut ini. Jadikan dia pembimbingmu menjauhi
kecekakan dompetmu yang tipis ke yang lebih tebal, yang penuh, hidup dalam kehidupan yang lebih berbahagia
yang dimungkinkan oleh dompet yang terisi penuh.

Seperti hukum daya tarik bumi, hukum-hukum uang bersifat alamiah dan tidak berubah. Mudah-mudahan
hukum uang itu dapat berlaku juga bagimu, sebagaimana dia telah terbukti berlaku bagi sangat banyak sekali
orang, kunci yang mantap bagi mendapatkan dompet tebal yang terisi penuh, rekening bank yang
menggelembung dan perbaikan di bidang keuangan yang sangat memuaskan.

Uang adalah alat untuk mengukur keberhasilan di muka bumi.

Uang memungkinkan pemiliknya menikmati yang terbaik yang disediakan dunia.

Uang sangat banyak sekali bagi sesiapa yang mengenal hukum sederhana yang mengatur cara memperolehnya.

Uang hari ini diatur dengan hukum yang sama yang mengaturnya ketika orang berada dan para hartawan yang
hidup berkelimpahan memenuhi jalan-jalan di Babilonia, enam ribu tahun yang lalu.
LIHAT, UANG BANYAK SEKALI
BAGI MEREKA YANG MENGENAL
HUKUM SEDERHANA YANG MENGATUR CARA MEMPEROLEHNYA

1. Mulai gelembungkan kantung uangmu

2. Atur dan cermati pengeluaranmu

3. Lipatgandakan emasmu

4. Jaga hartamu dari kerugian

5. Jadikan tempat tinggalmu sebagai penanaman modal yang menguntungkan

6. Jamin penghasilanmu di masa depan

7. Tingkatkan kemampuan memperoleh penghasilan

- Orang Terkaya Di Babilonia

ORANG TERKAYA DI BABILONIA

GEORGE S. CLASON
DAFTAR ISI

Pengantar

Orang Yang Menginginkan Emas

Orang Terkaya Di Babilonia

Tujuh Kutukan Kemelaratan

Bertemu Muka Dengan Dewi Keberuntungan

Lima Hukum Emas

Pemberi Pinjaman Emas Di Babilonia

Tembok Kota Babilonia

Pedagang Unta Di Babilonia

Lempeng Tanah Liat Dari Babilonia

Orang Paling Beruntung Di Babilonia

Sejarah Singkat Babilonia


PENGANTAR

Kemakmuran kita sebagai suatu negara tergantung kepada kemakmuran keuangan setiap orang sebagai
warganya.

Buku ini menceritakan keberhasilan bagi setiap pembaca. Keberhasilan berarti pencapaian hasil yang diperoleh
dengan usaha dan kemampuan kita sendiri. Persiapan yang cukup merupakan kunci keberhasilan. Tindakan kita
tidak dapat lebih arif dari buah fikiran kita. Karena fikiran kita tidak dapat lebih bijaksana dari pemahaman kita
akan sesuatu.

Buku penyembuh kantong uang yang kempis ini dapat disebut sebagai petunjuk pemahaman masalah keuangan.
Itulah tujuannya : memberikan kepada orang yang begitu menginginkan keberhasilan di bidang keuangan,
sebuah pemahaman yang dapat membantu mereka memperoleh uang, menyimpan uang, dan membuat kelebihan
uangnya menghasilkan lebih banyak uang.

Pada halaman-halaman berikut, kita dibawa mundur ke masa Babilonia, tempat kelahiran yang membesarkan,
membentuk prinsip-prinsip dasar keuangan yang sekarang diakui dan dipergunakan di seluruh dunia.

Bagi pembaca baru kami merasa gembira menyampaikan salam dan harapan semoga halaman-halaman buku ini
mengandung inspirasi bagi mereka untuk mengembangkan saldo rekeningnya di bank, keberhasilan di bidang
keuangan yang lebih besar, dan membantu menyeselaikan masalah keuangan, sebagaimana telah dengan
bersemangatnya disampaikan para pembaca mulai dari pantai atlantik hingga pantai pasifik.

Bagi pengusaha yang telah menyebarkan cerita-cerita ini dalam jumlah besar kepada sahabat-sahabatnya,
keluarga, pegawai dan rekan kerja, kami mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih. Tidak
ada pengakuan dan dukungan yang lebih baik dari pada para praktisi yang mneghargai ajaran yang disampaikan,
karena merekalah yang telah bekerja keras hingga mencapai keberhasilan dengan menerapkan prinsip-prinsip
dasar keuangan yang diajarkannya.

Babilonia menjadi kota terkaya di zaman kuno itu karena warganya merupakan orang-orang terkaya pada masa
itu. Mereka memberikan penghargaan yang tinggi kepada nilai uang. Mereka menerapkan prinsip keuangan
yang sehat dalam memperoleh uang, menyimpan uang dan membuat uangnya menghasilkan lebih banyak lagi
uang. Mereka memberi diri mereka sendiri apa yang kita semua inginkan ….. penghasilan bagi masa depannya.

G. S. C.

ORANG TERKAYA DI BABILONIA


I : ORANG YANG MENGINGINKAN EMAS
ORANG YANG MENGINGINKAN EMAS

Bansir, pembuat kereta kuda di Babilonia, sangat kecewa. Dari tempat ia berdiri di depan rumahnya, ia
memandang rumah yang sangat sederhana, dan sebuah bengkel kerja, yang masih terisi satu kereta kuda yang
seolah terbengkalai, masih belum selesai dikerjakan.

Istrinya beberapa kali terlihat dengan sengaja menampakkan diri di ambang pintu. Pandangan sayu yang
dilontarkan ke arah Bansir seolah mengingatkan bahwa beras mereka sudah hampir habis, dan Bansir
seharusnya bergegas menyelesaikan pekerjaan yang merupakan keahliannya itu, memalu dan membengkokkan
tulang-tulang roda, melicinkan permukaan kereta dan mengecatnya, mengikat kulit pada tiap roda,
mempersiapkan pengiriman kereta, agar ia bisa segera menagih upah dari hartawan pelanggannya.

Kendati demikian, tubuh besarnya yang berotot hanya tersandar pada pagar rumah. Fikiran lambannya terus
seolah dengan sabar berusaha mencari jalan keluar dari masalah yang tak berujung, yang belum pernah ia
temukan penyelesaiannya. Matahari tropis yang terik, yang memanasi lembah Furat, tanpa ampun membakar
tubuhnya. Keringat bercucuran, dari dahi merembes ke alis dan kemudian menetesi dadanya yang penuh bulu.
Upf panasnya.

Dekat rumah Bansir, menjulang pagar-pagar tinggi yang mengelilingi kediaman Sang Raja. Di sebelahnya lagi,
menusuk kebiruan langit, menjulang Menara Genta yang bercat cerah. Di bawah bayang-bayang kebesaran
itulah rumah Bansir yang sederhana berada, beserta beberapa rumah lain yang juga kurang bagus dan kurang
terawat. Begitulah Babilonia, campuran kemegahan dan kekumuhan. Hartawan kaya raya dengan orang terlunta-
lunta, berbaur dalam lingkungan kota tanpa perencanaan tanpa ikatan sistem dalam dengung kehirukpikukan.

Di belakangnya, kalau ia ingin atau sempat memperhatikan, betapa riuhnya kereta kuda para hartawan, berlalu
sambil menyingkirkan para pedagang kaki lima dan pengemis tanpa alas kaki yang terpaksa berhamburan ke sisi
jalan. Sementara itu, di tempat lainnya, orang beradapun harus terdorong ke tepian parit agar memuluskan jalan
para budak pengangkut air, guna kepentingan raja, masing-masing memanggul sekantung air dari kulit kambing
yang akan digunakan untuk menyiram Taman Gantung Sang Raja. Bukan main riuh-rendahnya suasana.

Namun, Bansir sedang terlalu tenggelam dalam masalahnya sendiri. Ia tidak mengacuhkan kesibukan
disekitarnya. Tiba-tiba, sebuah dentingan senar lyra yang tak disangka-sangkalah yang membangunkan Bansir
dari lamunan bingungnya. Ia menoleh, menemukan sebuah senyum bersahabat yang sangat ia kenal, senyum
sahabat karibnya – Kobbi, si pemusik.

“Semoga Para Dewa memberkatimu dengan limpahan berkah-Nya, sahabat,” salam panjang Kobbi. “Ya kan,
begitu berkahnya bahkan engkau kelihatannya santai-santai saja, tidak perlu bekerja lagi. Sukurlah kalau begitu,
betapa beruntungnya engkau. Nanti, keberuntunganmu akan kutambah lagi. Terpujilah Para Dewa, maka dari
simpananmu yang cukup, yang telah membuatmu istirahat dari kesibukan bengkel, sudilah engkau
mengeluarkan, tidak banyak, hanya dua shekel, untuk dipinjamkan padaku, tidak lama, hanya sampai nanti
lewat malam, setelah pesta para hartawan. Uangmu tak kan hilang, tapi kembali pasti.”

“Kalau aku punya dua shekel,” jawab Bansir suntuk, “tidak ke siapapun kuberi pinjaman – bahkan ke padamu
sekali pun, sahabat baikku, karena hanya itulah mungkin keberutunganku – bahkan seluruh peruntunganku.
Tidak akan ada orang yang akan meminjamkan seluruh peruntungannya, bahkan ke sahabat terbaiknya kan?”

“Apa?” seru Kobi terkejut. Benar-benar terkejut. “Engkau tidak punya satu shekel pun di kantung uangmu, tapi
bersandar di pagar ini bagai patung!? Kenapa engkau tidak segera menyelesaikan kereta kuda itu? Bagaimana
engkau akan menafkahi kehidupan keluargamu? Jangan begitu. Kemana keuletanmu yang sudah kukenal itu?
Apa yang engkau fikirkan? Apakah Para Dewa telah memberikan engkau ujian lagi?

“Pastilah ini cobaan Dewa,” sahut Bansir menyetujui. “Awalnya cuma mimpi, mimpi kosong semata, saya
seperti orang yang sangat berhasil. Kantung uangku penuh, melimpah. Shekel-shekel kecil dengan ringannya
kusebar pada para pengemis. Uang perak kugunakan membeli perhiasan buat istriku dan apa saja yang kusukai.
Uang pecahan emas cukup banyak sehingga dapat menenangkanku. Masih ada jaminan bagiku, meski uang
perak habis kupergunakan, sangat memuaskan hati, bahagia! Engkau tidak akan mengenalku sebagai kuli seperti
ini. Dan engkau tidak akan mengenal lagi istriku, wajahnya tidak ada kerutan sama sekali bersinar penuh
senyum. Dia masih seperti perawan belia.“

“Mimpi yang benar-benar indah,” tanggap Kobbi, ”tapi bagaimana perasaan yang menyenangkan itu
membuatmu mematung galau tersandar di pagar seperti ini?”

“Kenapa? Kenapa tidak, begitu tersadar kudapati kantung uangku melompong, getir hatiku. Coba kita bahas hal
ini bersama, karena, seperti kata para pelaut, kita berada di kapal yang sama, kita berdua ini. Selagi remaja, kita
belajar budi pekerti kepada para imam yang bijaksana bersama-sama, sebagai anak muda kita bergembira
bersama juga, menjelang setengah baya kita masih bersama-sama, selalu sebagai sahabat baik. Kita melakukan
pekerjaan yang kita sukai, senang menghabiskan waktu berkarya dan menggunakan hasil usaha kita unntuk
kehidupan sesuai dengan penghasilan kita. Banyak emas perak yang telah kita peroleh, dan juga pergunakan
selama tahun-tahun itu, tetapi membayangkan kebahagiaan menjadi orang kaya, masih bagai mimpi bagi kita.
Bah! Apakah kita lebih bodoh dari seekor kambing? Kita hidup di kota terkaya di dunia, para pengunjung kota
ini menyanjungnya sebagai kota yang tiada bandingnya di seluruh dunia. Segala hal yang menakjubkan itu
hanya tontonan bagi kita. Setengah umurmu kau gunakan bekerja keras, kamu, sahabat karibku, namun kantung
uangmu tetap saja kosong, dan apa yang kau katakan padaku, ‘sudilah engkau mengeluarkan, tidak banyak,
hanya dua shekel, untuk dipinjamkan padaku, tidak lama, hanya sampai nanti lewat malam, setelah pesta para
hartawan.’ Lalu, apa jawabku? Apa akau bilang, ‘Ini kantung uangku, silakan manfaatkan sesuai kebutuhanmu.’
Tidak, kantung uangku sama kosongnya dengan milikmu. Kenapa bisa begini? Kenapa kita tidak dapat
mengumpulkan emas dan perak, lebih dari sekedar memenuhi sandang dan pangan?”

“Apalagi kemewahan itu, coba perhatikan,” lanjut Bansir, “mereka seolah-olah sudah begitu saja dengan mudah
mengikuti jejak pendahulunya? Mereka, keluarga mereka, anak-anaknya, keluarga anak-anaknya, seolah hidup
sejahtera selamanya, sementara kita, harus sudah merasa cukup senang dengan kenduri susu kambing dan bubur
nasi?”

“Belum pernah selama aku mengenalmu mendengar engkau berbicara seperti ini, Bansir.” Kobi tercengang.

“Belum pernah memang, selama itu. Aku berfikir seperti ini. Dari terang hari sampai jelang malam aku selalu
sibuk, membuat kereta kuda terbaik yang pernah dibuat orang, dengan harapan suatu hari nanti, Para Dewa akan
menghargai hasil kerjaku dan menghadiahkan aku dengan kekayaan berlimpah. Itu belum pernah terjadi.
Akhirnya akau fikir hal itu tidak akan terjadi. Sedih hatiku. Maksudku, menjadi orang yang penuh kemakmuran.
Membayangkan akan memiliki kebun luas dan banyak ternak, pakaian sutera halus dengan kantung uang yang
penuh emas dan perak. Untuk itu semua aku rela bekerja sekuat tenagaku, dengan seluruh keahlian yang
kumiliki, dan secerdas kecerdikan benakku, segala usahaku kuharapkan pada akhirnya akan menghasilkan yang
terbaik sesuai anganku. Tapi, apa yang terjadi pada kita? Kutanyakan lagi kepadamu. Mengapa kita tidak
memperoleh sesuai dengan usaha kita hal-hal yang melimpah yang biasa diperoleh dengan mudahnya dengan
emas yang dimiliki para hartawan?

“Aku pun tidak mengerti!” sahut Kobbi. “Keberadaanku juga tidak lebih baik dari kamu. Hasil yang kuperoleh
dari memetik lyra sangat cepat habisnya. Kadang-kadang aku harus mengusahakan sebisaku agar keluargaku
tidak kehabisan makanan. Begitu juga, dalam hatiku kuimpikan lyra terbagus yang ada difikiranku, yang dapat
melantunkan keindahan yang ada dibenakku. Hingga aku mampu menciptakan musik terindah, yang, bahkan
Sang Raja sekalipun, belum pernah mendengarnya.”

“Lyra seperti itulah yang harus kau miliki. Tidak ada seorang pun di Babilonia ini yang dapat menciptakan
musik semanis gubahanmu, melantunkan keindahan yang tidak hanya menyenangkan Sang Raja tetapi juga Para
Dewa. Tapi bagaimana mungkin engkau akan melakukan hal itu sementara kita berdua ini sama miskinnya
dengan budak Sang Raja? Dengar bunyi lonceng itu. Nah, itu mereka,” Ia menunjuk ke arah barisan
bertelanjang dada, bersimbah keringat, para pemanggul air mendaki jalan kecil dari tepian sungai. Mereka
berbaris lima-lima, setiap orang memanggul kantung air kulit kambing yang berat di punggungnya.

“Gagah sekali yang memandu arak-arakan pengangkut air itu”, kata Kobbi menyebutkan pemegang genta yang
berjalan paling depan, “Orang penting di negeri ini. Dari penampilannya saja sudah terlihat.”

“Banyak orang gagah di dalam barisan pengangkut air itu,” ucap Bansir, “sama seperti kita. Yang tinggi, pirang,
orang dari utara, anak hitam yang tertawa-tawa itu, orang dari selatan, sedangkan yang berperawakan kecil dari
negeri timur. Semua bersama-sama mengangkut air dari sungai ke taman-taman, pulang pergi setiap hari, tahun
demi tahun. Tanpa masa depan yang menjanjikan. Ranjang jerami tempat tidurnya, bubur nasi santapannya.
Menyedihkan sekali Kobbi!”

“Aku mengasihani mereka. Tapi, tetap saja kita tidak lebih beruntung, meski kita bukan budak, meski kita
manusia merdeka.”

“Benar, Kobbi, memikirkannya saja aku sudah merasa tidak enak. Kita pasti tidak mau menjalani kehidupan
para budak. Kerja, kerja, kerja, tidak sampai kemana-mana, tidak menghasilkan apa-apa.”

“Mungkin kita perlu belajar bagaimana cara para hartawan itu mengumpulkan kekayaan dan melakukan hal
yang mereka lakukan?” usul Kobbi.

“Mungkin ada rahasia yang perlu kita cari dan pelajari dari mereka yang memilikinya,” jawab Bansir mnyetujui
dengan penuh ingin tahu.

“Hari ini,” ujar Kobbi, “aku berpapasan dengan sahabat lama kita, Arkad, mengendarai kereta kudanya yang
berlapis emas. Harus kuakui, ia tidak merendahkan kesederhanaanku sebagaimana orang setaraf dengannya
yang akan menganggap sebagai haknya untuk berbuat begitu. Ia bahkan melambaikan tangannya padaku,
sehingga semua orang di sekitar kami melihat bagaimana ia menyampaikan salamnya dengan senyum ramah
pada Kobbi, sang pemusik.”

“Dia disebut-sebut sebagai orang terkaya di Babilonia,” sela Bansir.

“Begitu kayanya sehingga Sang Raja mencari bantuan dan nasihat perbendaharaan padanya,” ujar Kobbi pula.

“Begitu kayanya,” sela Bansir, “tapi, aku khawatir kalau bertemu dengannya di gelap malam, tanganku akan
segera menggerayangi kantung uangnya yang gemuk itu, ha ha.”

“Tidak mungkin,” sangkal Kobbi, “kekayaan hartawan itu tidak akan tersimpan dalam kantung uang yang
dibawa-bawa. Seberapa penuh pun kantung uang, akan segera kosong apabila tidak ada aliran yang terus
mengisinya. Arkad memiliki penghasilan yang terus menerus memenuhi kantung uangnya, sebanyak apapun ia
pergunakan, uang di kantungnya akan tetap penuh.’

“Penghasilan, itu dia,” sergah Bansir. “Aku berharap penghasilan akan terus mengalir ke kantungku tidak
perduli apakah aku sedang bersandar di pagar ini atau sedang melakukan ziarah ke tempat-tempat yang jauh.
Arkad pasti tahu bagaimana cara menghasilkan uang bagi dirinya. Mungkinkah ia dapat menjelaskan sesuatu
yang mencerahkan pikiran lambanku?”

“Saya fikir ia sudah mengajarkan pada Nomasir, anaknya,” jawab Kobbi. “Nomasir tidak akan pergi ke Niniveth
dan, seperti yang dibicarakan banyak orang di tempat penginapan, Nomasir telah menjadi, tanpa bantuan
bapaknya, salah satu orang terkaya di kota itu?”

“Kobbi, engkau telah membawaku ke pemikiran baru.” Sekilas cahaya berbinar dimata Bansir. “Bukankah tidak
perlu mengeluarkan biaya jika kita hanya meminta saran yang baik dari seorang teman baik, dan, bukankah
Arkad teman baik kita juga. Biarkan saja kita tidak berpunya, dengan kantung uang yang kosong bagaikan
sarang elang yang sudah ditinggalkan penghuninya setahun yang lalu. Jangan hal itu menghalangi kita. Yang
membuat kita risau adalah hidup berkekurangan di tengah-tengah kelimpahan. Kita ingin makmur. Ayo, kita
kunjungi Arkad dan bertanya padanya bagaimana caranya agar kita, juga, dapat memperoleh penghasilan yang
berkelimpahan bagi diri kita.”

“Engkau mengatakan hal sangat menarik, Bansir. Engkau mencerahkan fikiranku. Engkau menyadarkanku agar
mencari alasan mengapa kita belum juga menemukan kekayaan belimpah. Kita belum pernah mencarinya.
Engkau telah bekerja dengan rajin dan sabar untuk membuat kereta kuda yang terbaik di Babilonia. Untuk hal
itu engkau telah mengerahkan segala kemampuanmu. Dalam hal itu engkau memang berhasil. Sangat berhasil
bahkan. Aku sendiri telah berusaha menjadi pemain lyra terbaik, dan nyatanya aku berhasil.”

“Dalam hal-hal yang kita usahakan dengan sepenuh daya terbaik kita, kita berhasil. Bahkan Para Dewa pun
bangga dengan keberhasilan kita dan membuat kita meneruskannya. Sekarang, akhirnya, kita lihat cahaya itu,
terang seterang mentari pagi. Ia menawarkan kita pelajaran baru agar kita lebih berhasil dan lebih makmur.
Dengan pengertian baru itu kita akan berusaha dengan jalan yang benar dan tindakan yang membanggakan, dan
akan dapat mencapai tujuan kita.”

“Ayo kita pergi mengunjungi Arkad hari ini juga,” desak Bansir. “Juga, kita akan minta teman masa kecil kita
yang lain yang tak jauh berbeda keberuntungannya dengan kita, untuk ikut serta, agar mereka, juga, dapat
mempelajari pengetahuan ini.”

“Engkau benar-benar sangat baik pada teman-temanmu, Bansir. Itu membuatmu memiliki banyak sahabat. Jadi,
begitulah, seperti yang engkau katakan. Kita pergi hari ini juga dan ajak mereka bersama-sama.”
II : ORANG TERKAYA DI BABILONIA
ORANG TERKAYA DI BABILONIA

Di Babilonia, pada zaman dahulu, hiduplah seorang yang sangat kaya bernama Arkad. Di seluruh Babilonia ia
sangat dikenal sebagai orang yang memiliki harta yang berlimpah. Tetapi, ia juga terkenal akan
kedermawanannya. Amat sangat ringan dan kuat dalam berderma. Murah hati pada seluruh sanak keluarga.
Tidak terlalu perhitungan dalam pengeluaran-pengeluaran untuk memenuhi hajat hidupnya. Kendati demikian,
setiap tahun kekayaannya bahkan bertambah lebih cepat dari pengeluaran-pengeluarannya.

Dan ada beberapa sahabat masa kecilnya datang berkunjung padanya dan mengatakan : “Arkad, kamu lebih
beruntung dari pada kami. Engkau telah menjadi orang terkaya di Babilonia sementara kami berjuang hanya
untuk mempertahankan hidup kami dari hari ke hari. Engkau mengenakan pakaian terbaik dan menikmati
makanan mewah, tetapi kami harus cukup merasa puas apabila kami dapat memberi pakaian pada keluarga kami
dengan bahan sederhana, asal layak, dan memberi makan sesuai dengan hasil terbaik yang kami peroleh.”

“Padahal, dulu kita sama setara. Kita belajar pada guru yang sama, bermain permainan yang serupa, bahkan
dalam pelajaran dan permainan itu kita seimbang, tidak ada satu yang menonjol dari yang lainnya. Pada tahun-
tahun itu, engkau juga tidak lebih terhormat dari pada kami.”

“Dalam bekerja engkau juga tidak bekerja lebih keras dari pada kami atau pun lebih tekun, begitulah sepanjang
yang kami ketahui. Tetapi mengapa, kemudian, seolah ada Dewi Fortuna yang membuatmu melebihi kami
semua dalam memperoleh hal-hal yang terbaik dalam kehidupan ini dan Sang Dewi mengabaikan kami, padahal
kita memiliki hak yang sama?”

Menghadapi pernyataan itu Arkad langsung menyanggah mereka. Ia mengatakan, “Apabila engkau hidup dari
hari ke sehari dan tidak mengumpulkan kekayaan apa-apa selama usia remaja kita hingga saat ini, itu
disebabkan karena engkau gagal dalam mempelajari hukum pengembangan kekayaan, atau mungkin engkau
tidak mengamatinya sama sekali.”

“’Dewi Fortuna’ itu sebenarnya hanyalah dewi jahat yang tidak memberikan kebaikan yang abadi pada
siapapun. Sebaliknya, ia menghancurkan hampir setiap orang yang dilimpahkannya dengan durian runtuh,
dengan keberuntungan tanpa usaha. Menjadikan mereka orang yang suka berfoya-foya, yang dalam tempo
sekejap menghapushabiskan kekayaan mereka dan kemudian meninggalkan mereka dengan angan-angan bahwa
mereka dapat hidup senang tanpa merasakan bahwa mereka tidak mampu menyediakan pembiayaannya. Yang
lainnya menjadi sangat kedekut dan menggenggam keras kekayaannya, takut menggunakannya, sadar bahwa
mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengumpulkannya kembali apabila terkurangi. Lebih jauh lagi,
merkea takut hartanya hilang atau tercuri, membuat kehidupannya kosong dan pantas dikasihani.”

“Ada juga, mungkin, dapat memeliharanya dan menambah kekayaan itu dan berbahagia dan menjadi warga
yang terhormat. Tapi sangat sedikit yang demikian itu, aku pun hanya mengenal mereka dari kabar burung
semata.”

“Coba cermati mereka-mereka yang mewarisi kekayaan mendadak, apakah apa yang baru kuungkapkan ini
bukan kebenaran adanya?”

Sahabat-sahabatnya membenarkan bahwa dari orang-orang yang mereka kenal yang mewarisi kekayaan, apa
yang diucapkan Arkad ada benarnya, dan mereka meminta Arkad menjelaskan pada mereka bagaimana caranya
ia menjadi orang yang memiliki kelimpahan yang tak terkira, jadi Arkad meneruskan :

“Pada masa mudaku kurasakan dan kulihat hal-hal yang baik yang memberikan kegembiraan, kebahagiaan dan
yang memberikan kepuasan dan kesejahteraan. Dan kusadari bahwa kekayaanlah yang dapat mempermudah kita
memperoleh hal itu semua.”

“Kekayaan itu kekuatan. Dengan kekayaan semua hal yang lain menjadi mungkin.”

“Kita dapat memenuhi rumah kita dengan perabot yang mewah.”

“Kita dapat berlayar ke tempat-tempat yang jauh di seberang lautan.”


“Kita dapat berpesta dengan makanan-makanan lezat dari negeri-negeri jauh.”

“Kita dapat membeli perhiasan yang dibuat pandai emas atau perajin permata.”

“Kita bahkan dapat membangun kuil yang megah bagi Para Dewa.”

“Kita dapat melakukan hal itu semua dan banyak lagi hal lainnya apa pun yang dapat menyenangkan hati dan
menyejukkan jiwa.”

“Setelah kusadari hal itu, kuputuskan bahwa aku harus mengumpulkan hal-hal yang baik dalam kehidupan ini.
Aku tidak mau menjadi penonton di kejauhan, melongo memperhatikan mereka yang menikmatinya. Aku tidak
akan puas dengan pakaian sederhana yang terlihat bersahaja. Aku tidak akan puas berada di tengah orang-orang
miskin. Sebaliknya akau akan menjadkan diriku sebagai tamu pada kemewahan pesta dan kesejahteraan. Aku
harus menjadi hartawan.”

“Sebagaimana yang engkau ketahui, menjadi seorang anak pedagang kecil, dalam sebuah keluarga besar tanpa
harapan, tanpa warisan, juga tanpa kelebihan apa-apa, seperti yang telah dengan jujur engkau ungkapkan, juga
tidak ungggul dalam kebijaksanaan, saya memutuskan bahwa apabila saya ingin mencapai apa yang saya cita-
citakan, yang saya butuhkan adalah waktu dan belajar.”

“Tentang waktu, semua orang memilikinya, berlebih-lebihan bahkan. Engkau, setiap orang, telah dikelabui oleh
waktu yang cukup banyak untuk menjadikan dirimu kaya raya. Setelah sekian lama, apa yang terjadi. Ternyata,
akhirnya engkau akui juga, bahwa tidak ada yang dapat engkau perlihatkan kecuali keluargamu yang baik yang
dapat engkau bangga-banggakan.”

“Halnya belajar, bukankah guru kita yang bijaksana telah memberitahu kita bahwa belajar itu ada dua jenis :
pertama, belajar menjadikan kita mengetahui apa yang kita pelajari dan ketahui, yang kedua belajar merupakan
sebuah latihan yang menjelaskan pada kita apa yang tidak kita ketahui.”

“Oleh karena itu saya putuskan mempelajari bagaimana cara seseorang mengumpulkan kekayaan, dan setelah
saya ketahui caranya, saya jadikan pembelajaran itu sebagai tugas saya dan melaksanakannya dengan
bersunguh-sungguh. Karena, alangkah tidak bijaksana apabila kita terlalu menikmati hidup di hari-hari penuh
keceriaan, sedangkan kesedihan pasti akan mendatangi kita pada waktunya atau pada saat kita kembali ke alam
arwah.”

“Aku bekerja sebagai penulis lempeng tanah liat di perpustakaan kota, berjam-jam setiap hari kulakukan
pekerjaan itu. minggu demi minggu, bulan ke bulan, terus bekerja, tetapi penghasilanku tidak memadai sama
sekali, tidak ada yang dapat kutunjukkan. Makanan, pakaian dan persembahan bagi Para Dewa, dan lain-lain
yang tidak dapat kuingat sama sekali, telah menghabiskan semua penghasilanku. Tetapi, untung tekadku tidak
meninggalkanku.”

“Dan, pada suatu hari, Algamish, seorang pemberi pinjaman, berkunjung ke rumah wali kota memesan salinan
Hukum Kesembilan, ia berkata padaku, ‘aku harus mendapatkannya dalam dua hari, apabila pekerjaan dapat
diselesaikan dalam waktu itu, dua uang perak akan kuhadiahkan padamu.”

“Jadi, saya berusaha mati-matian menyelesaikan, tetapi Hukum Kesembilan itu terlalu panjang, dan ketika dua
hari kemudian Algamish datang, pekerjaan itu masih belum selesai. Ia marah sekali, mungkin kalau saya ini
budak miliknya sudah pasti saya akan dipukulinya. Tapi dia tahu Wali Kota tidak mungkin akan membiarkan ia
menyakiti saya, jadi saya tenang-tenang saja, dan mengatakan padanya, ‘Algamish, bukankah engkau orang
yang kaya raya, beritahukan padaku bagaimana caranya agar dapat menjadi kaya sepertimu, nanti akan
kukerjakan salinan Hukum Kesembilan ini sepanjang malam dan besok, pagi-pagi sekali pasti dapat
terselesaikan.”

“Ia tersenyum padaku dan menjawab, ‘engkau memang pedagang cerdik, baiklah, aku setuju, engkau selesaikan
salinan itu dulu, besok pagi kita lihat hasilnya.”

“Sepanjang malam itu saya berusaha menyelesaikan salinan Hukum Kesembilan itu, meski punggungku terasa
nyeri dan bau minyak pelarut tanah liat menyakitkan kepalaku dan membuat mataku berkunang-kunang.
Akhirnya, ketika ia kembali bersamaan munculnya matahari, lempeng salinan itu selesai.”
“’Nah,’ ucapku, ‘sekarang katakan padaku apa yang telah engkau janjikan.”

“’Engkau telah menunaikan janjimu, anakku,’ katanya, ‘dan sekarang giliran saya memenuhi janjiku. Akan,
kuberitahukan apa yang ingin engkau ketahui, bukankah aku telah tua dan orang tua senang sekali berbicara.
Dan apabila ada anak muda datang memerlukan nasehat pada orang tua, dia akan memperoleh kebijaksanaan
yang telah teruji bertahun-tahun. Tetapi anak muda sering beranggapan bahwa kebijaksanaan orang tua
hanyalah kebijaksanaan masa lalu semata, tidak berguna bagi masa kini. Tapi, coba ingat-ingat hal ini, matahari
yang bersinar hari ini sama dengan matahari yang bersinar pada masa ayahmu lahir, dan masih akan bersinar
pada saat cucumu nanti kembali ke alam arwah.”

“’Pikiran anak muda,’ lanjutnya, ‘memang bersinar terang bagai lintasan meteor yang menerangi cakrawala,
tetapi kebijaksanaan orang tua bagaikan bintang yang tidak bergeming, menetap di langit malam sehingga para
pelaut dapat bergantung padanya ketika melayarai samudera.’”

“’Harus engkau serap ucapanku, sebab bila itu tidak engkau lakukan engkau akan gagal menyarikan kebenaran
yang akan kusampaikan padamu, dan engkau akan mengira kerja kerasmu semalam suntuk tidak sepadan
dengan apa yang engkau dapatkan.’”

“Kemudian dari bawah alis lebat yang memutih, matanya menatapku langsung dengan tajamnya dan berucap
dalam nada rendah yang sangat dalam, ‘aku menemukan jalan kekayaan ketika menyimpulkan sebagian dari
semua yang kuperoleh adalah miliku yang harus kusimpan. Maka engkaupun harus begitu.’”

“Selanjutnya, dengan tidak melanjutkan ucapannya, ia terus menghunjamkan pandangannya padaku dengan
pandangan yang kurasakan langsung menusuk hatiku.”

“’Hanya begitu?’ aku bertanya.”

“’Ya, itu memadai untuk mengubah hati penggembala kambing menjadi hati rentenir,’ jawabnya.”

“’Tapi, bukankah semua yang keperoleh dapat kusimpan?’ tuntutku.”

“’Salah sama sekali,’ jawabnya. ‘Apakah engkau tidak membayar para penjahit untuk pakaianmu? Pembuat
sandal? Engkau mengeluarkan uang untuk makan dan minummu? Dapatkah engkau hidup di Babilonia tanpa
mengeluarkan uang? Apa yang tersisa dari penghasilanmu beberapa bulan belakangan ini yang dapat engkau
tunjukkan? Atau penghasilanmu setahun yang lalu? Bodoh! Engkau mengeluarkan uang untuk membayar semua
orang, tetapi tidak untuk dirimu sendiri. Guoblok, engkau bekerja untuk orang lain semata. Sama saja dengan
budak yang bekerja untuk tuannya yang hanya memberikannya makanan dan pakaian. Tidak berbeda. Coba.
Apabila engkau simpan untuk dirimu sendiri sepersepuluh dari seluruh penghasilanmu, berapa banyak yang
sudah engkau kumpulkan selama sepuluh tahun?’”

“Pengetahuanku berhitung masih ada, jadi kujawab, ‘sama dengan penghasilanku dalam setahun.’”

“’Engkau Cuma separuh benar,’ sergahnya. ‘Setiap keping emas yang engkau simpan itu merupakan budak
yang harus bekerja dan mengabdi padamu. Setiap perak yang dihasilkan emas itu merupakan anaknya, juga,
harus menghasilkan sesuatu untukmu. Engkau hanya dapat menjadi kaya apabila apa yang engkau simpan
memberikan penghasilan, begitupula anak-anaknya, penghasilan yang dihasilkannya, harus juga memberikan
penghasilan. Itulah pertolongan yang dapat kuberikan padamu, kelimpahan yang begitu engkau dambakan’”

“’Apakah engkau kira aku telah menipumu supaya engkau bersusah payah menyelesaikan salinan itu,’
lanjutnya, ’sesungguhnya dengan ini aku telah membayarmu lebih dari seribu kali lipat, seandainya saja engkau
cukup cerdas menangkap inti sari kebenaran yang kusampaikan.’”

“’Sebagian dari semua yang engkau hasilkan adalah milikmu yang harus engkau simpan. Jumlahnya tidak buleh
kurang dari sepersepuluh, seberapa kecilpun hasil yang engkau dapatkan. Lebih bagus lagi kalau engkau mampu
menyimpannya lebih dari itu. Bayar dulu dirimu sendiri. Jangan membeli dari penjahit, atau pembuat sandal
lebih dari kemampuanmu dan sediakan secukupnya untuk makan, berderma dan persembahan bagi Para
Dewa.’”
“’Kekayaan, seperti pohon, berkembang dari sebiji bibit yang kecil. Keping perak pertama yang engkau simpan
bagai bijian yang akan menumbuhkan pohon kekayaanmu. Lebih cepat engkau tanamkan, maka lebih cepat pua
ia akan tumbuh. Semakin tekun engkau memeliharanya, menyirami, memberi pupuk, dengan simpanan-
simpanan berikutnya terus menerus, semakin cepat engkau akan berteduh di bawah rindangnya pohon kekayaan
itu.’”

“Begitulah, ia ambil lempeng salinan itu dan berlalu.”

“Aku memikirkan dalam-dalam apa yang telah disampaikannya, sangat masuk akal. Jadi kuputuskan untuk
mencobanya. Setiap kali aku dibayar, kuambil satu dari setiap sepuluh keping perak dan menyimpannya. Dan
cukup aneh, aku tidak pernah mengalami kekurangan uang lebih dari sebelumnya. Aku mulai mendapatkan
sedikit perbedaan ketika mampu melewati beberapa waktu. Tetapi berulang kali juga, aku tergoda, ketika
melihat simpananku telah berkembang, utnuk menggunakannya, memperoleh barang-barang indah yang
ditawarkan para pedagang, yang dibawa dengan unta dan kapal-kapal dari negeri Phunisia. Tetapi aku cukup
bijaksana untuk tidak melakukannya.”

“Dua belas bulan berlalu, Algamish datang kembali dan mengatakan kepadaku, ‘Nak, sudahkah engkau bayar
dirimu sendiri tidak kurang dari sepersepuluh dari yang engkau hasilkan selama setahun ini?’”

“Dengan bangganya kujawab, ‘Ya, tuan, sudah.’”

“’Bagus,’ jawabnya dengan wajah ceria padaku, ‘dan apa yang telah engkau perbuat terhadap simpananmu
itu?’”

“’Kuberikan pada Azmur, pembuat bata, yang mengatakan ia akan pergi jauh ke seberang laut dan di Tyre ia
akan membelikanku permata Phunisia yang langka. Apabila ia pulang kami akan menjualnya dengan harga yang
tinggi dan berbagi keuntungannya.’”

“’Orang bodoh harus belajar’,’ gerutunya, ‘mengapa engkau mempercayai pengetahuan tukang bata untuk
masalah permata? Apakah engkau akan mendatangi tokang roti untuk menanyakan masalah tata surya? Tidak,
alangkah bodohnya engkau, seharusnya engkau mengunjungi ahli perbintangan, kalau engkau memang dapat
berfikir. Habislah simpananmu, anak kemarin sore, engkau telah mencabut pohon kekayaanmu sampai ke akar-
akarnya. Tapi tanam lagi yang lainnya. Coba lagi. Lain kali kalau engkau memerlukan nasehat atau pengetahuan
tentang permata, kunjungi pedagang permata. Kalau engkau ingin mengetahui segala sesuatu tentang kambing,
datangi penggembala. Nasehat memang dapat diperoleh dengan tanpa biaya, tetapi berhati-hatilah, ambillah
hanya nasehat yang berguna bagimu. Orang yang meminta nasehat tentang simpanannya kepada seseorang yang
tidak berpengalaman di bidang itu, akan membayarnya dengan seluruh simpanannya justru untuk membuktikan
betapa bodohnya nasehat itu.’ Setelah mengatakan hal itu iapun berlalu.”

“Benar seperti yang dikatakannya. Orang-orang Phunisia memang penipu. Mereka menjual ke Azmur sepotong
gelas yang tak bernilai yang terlihat seperti batu permata. Habis sudah simpananku. Tetapi seperti yang
dinasehatkan Algamish, saya mulai menyimpan kembali setiap sepersepuluh keping perak yang saya peroleh,
karena saya telah menjadi biasa melakukannya, usaha untuk menyimpan ini menjadi sangat tidak berat lagi.”

“Sekali lagi, dua belas bulan berlalu, Algamish datang lagi ke perpustakaan kota menemui saya. ‘Bagaimana
perkembanganmu setelah terkahir kita bertemu?’”

“’Aku telah membayar diriku sendiri dengan tekun,’ jawabku, ‘dan simpananku telah kupercayakan pada Aggar
pembuat tameng, untuk membeli perunggu bahan pembuat tameng, dan setiap bulan ia membayar padaku sewa
uang itu.’”

“’Itu bagus. Dan apa yang engkau perbuat atas sewa uang itu?’”

“’Lumayan, aku bisa menikmati madu dan anggur bermutu dan kue berrempah yang lezat. Aku juga telah
membeli selendang sutera ungu. Suatu hari nanti akau akan membeli seekor keledai muda yang dapat
kutunggangi kemana-mana.’”

“Algamish tertawa mendengarkan hal itu. ‘Engkau telah memakan anak-anak simpananmu. Bagaimana
mungkin engkau akan berharap mereka bekerja untukmu? Dan bagaimana pula mereka akan melahirkan
keturunan yang juga dapat menjadi budakmu? Pertama-tama, himpun dan dapatkan dulu bala tentara budak
emasmu baru kemudian pesta yang mewah dapat engkau nikmati tanpa penyesalan di kemudian hari.’ Sambil
mengutarakan hal itu iapun berlalu.”

“Kemudian aku tidak melihatnya lagi selama dua tahun, ketika ia muncul kembali wajahnya telah penuh kerutan
dalam matanya lebih kuyu, ia telah menjadi seorang yang sangat tua. Dan ia mengatakan kepadaku, ‘Arkad,
sudahkah engkau memperoleh kekayaan yang engkau impi-impikan itu?’”

“Kujawab, ‘Masih belum semuanya, tetapi sebagian sudah kudapatkan dan bahkan memberikanku penghasilan
tambahan, dan penghasilan tambahan itu juga menumbuhkan penghasilan baru yang lain.’”

“’Apakah engkau masih meminta nasehat dari pembuat bata?’”

“’Mereka memberi nasehat yang bagus tentang bagaimana membuat bata.’ Jawabku sekenanya”

“’Arkad,’ lanjutnya, ‘engkau telah belajar dengan baik. Pertama engkau belajar hidup dengan biaya kebutuhan
secukupnya yang lebih kecil dari yang mampu engkau peroleh. Kemudian engkau belajar mencari nasehat dari
orang yang benar-benar menguasai yang berkeahlian di bidangnya. Dan terakhir, engkau telah belajar
bagaimana membuat emas bekerja untukmu.

“’Engkau telah belajar sendiri bagaimana memperoleh penghasilan, bagaimana menyimpannya dan bagaimana
pula menggunakannya. Oleh karena itu engkau dapat dipercaya untuk menjalankan sebuah usaha. Aku sudah
bertambah tua. Anak-anakku hanya memikirkan bagaimana caranya menggunakan uang tetapi tidak memikirkan
sama sekali bagaimana cara memperolehnya. Usahaku sangat besar dan banyak, dan aku akan semakin tidak
mampu untuk mengurus semuanya. Apabila engkau mau pergi ke Nippur dan mengurus serta mengusahakan
tanahku di sana, akau akan menjadikanmu rekan usahaku dan akan berbagi hasil usaha bersama.’”

“Jadi, aku pergi ke Nippur mengurus harta kekayaannya yang besar di sana. Oleh karena aku sangat
berkeinginan dan karena aku telah berhasil menguasai tiga hukum pengelolaan kekayaan, aku mampu
melipatgandakan kekayaannya. Akupun ikut sejahtera, dan ketika jiwa Algamish kembali ke alam baka, aku
mendapatkan bagian dari kekayaannya sesuai dengan perjanjian yang telah rapi dibuatnya sesuai dengan
ketentuan hukum.”

Begitulah yang dikemukakan Arkad, dan ketika ia menyelesaikan ceritanya, salah seorang sahabatnya berkata,
“Engkau memang sangat beruntung Algamish telah menjadikan engkau sebagai pewaris sebagian
kekayaannya.”

“Beruntung hanya karena saya memiliki keinginan untuk berkelimpahan sebelum saya bertemu dengannya.
Bagaimanakah apabila selama empat tahun saya tidak membuktikan kegigihan saya mencapai tujuan itu dengan
menyimpan sepersepuluh dari seluruh yang saya hasilkan? Apakah engkau mengatakan nelayan itu beruntung
padahal bertahun-tahun ia mempelajari kebiasaan ikan-ikan yang berubah-ubah sesuai perubahan angin
sehingga ia dapat menebar jaring pada waktu dan tempat yang benar-benar berikan. Kesempatan itu bagai Dewi
sombong yang tidak memerlukan apa-apa, yang tidak akan membuang waktu dengan orang yang tidak
mempersiapkan diri.”

“Engkau memiliki tekad yang kuat untuk terus melanjutkan rencanamu setelah engkau kehilangan seluruh
simpanan tahun pertamamu. Dalam hal ini engkau benar-benar luar biasa,” ujar sahabat lainnya.

“Tekad!” bantah Arkad. “Omong kosong. Apakah engkau fikir tekad akan memberimu kekuatan untuk
memanggul beban yag tidak bisa diusung seekor unta, atau menarik bajak yang tidak bisa dihela kerbau? Tekad
hanyalah pemicu semata dalam usahamu melaksanakan rencana yang telah engkau tetapkan untuk engkau capai.
Apabila kutetapkan tugas bagi diriku, meskipun tugas sederhana sekalipun, tetap saja akan kurencanakan
secermat mungkin. Bagaimana mungkin aku akan percaya diri melakukan hal-hal besar yang penting kalau aku
tidak merencanakannya? Misalnya, apabila kukatakan pada diriku, ‘Selama seratus hari, setiap hari aku
melewati jembatan memasuki kota ini, aku akan memungut sebuah kerikil di jalan dan melemparkannya ke
dalam aliran sungai.’ Itu akan kulakukan. Apabila pada hari ketujuh aku melewati jembatan itu dan baru teringat
bahwa aku lupa akan tugasku. Aku tidak akan mengatakan pada diriku, ‘Besok akan kulemparkan dua buah batu
sekaligus, hasilnya akan sama saja.’ Apa yang akan engkau lakukan. Aku akan melangkah mundur ke belakang
ke jembatan itu dan melontarkan sebuah batu. Itu baru betul. Pada hari ke dua puluh aku tidak akan mengatakan
pada diriku, ‘Arkad, ini tidak berguna. Apa untungnya bagimu melontarkan sebuah batu setiap hari selama
seratus hari? Lemparkan saja seratus batu sekaligus, beres.’ Tidak, bahkan mengucapkannya saja aku tidak akan
apalagi melakukannya. Apabila tugas sudah kutetapkan bagi diriku sendiri, akan kuselesaikan. Jadi, aku akan
berhati-hati agar tidak menetapkan tugas yang terlalu berat dan tidak mungkin diselesaikan. Aku tidak mau
kepayahan, aku suka bersenang-senang.”

Lalu salah seorang shabat yang lain ikut berujar dengan mengatakan, “Apabila yang engkau ceritakan memang
benar, dan sepertinya betul sebagaimana yang engau katakan, masuk akal, dan sangat sederhana, apabila setiap
orang melaksanakannya maka tidak ada lagi harta benda yang tersisa untuk dimiliki.”

“Kekayaan tumbuh dan berkembang bilamana manusia mengeluarkan energi, berusaha,” jawab Arkad. “Apabila
ada seorang hartawan membangun istana baru, apakah uang dan kekayaan yang ia keluarkan untuk membangun
lantas hilang? Tidak, pembuat bata akan mendapat sebagian, kuli bangunan akan mendapatkannya juga, begitu
pula arsitek dan perajin hiasan istana itu. Semua yang ikut serta dalam usaha membangun istana itu
mendapatkan bagian dari pembayaran dan ongkos pembangunan istana itu. Setelah istana itu selesai apakah
nilainya tidak sama dengan biaya pembangunannya? Apakah tanah tempat istana itu didirikan tidak menjadi
bertambah nilainya karena ia terletak disitu? Tanah di sekitar istana itu tidak naik nilainya karena terhampar
disitu? Kekayaan berkembang dengan cara yang ajaib. Tidak ada seorangpun yang dapat meramalkan batas
pertumbuhannya. Bukankah bangsa Phunisia membangun kota-kota besarnya di pantai-pantai gersang dengan
kekayaan yang mereka peroleh dari kapal-kapal dagang yang menyebar di lautan?”

“Jadi, apa yang engkau sarankan pada kami supaya kami lakukan agar kami juga bisa menjadi kaya?” masih ada
lagi pertanyaan dari sahabatnya yang lain. “Tahun-tahun sudah berlalu, kami tidak lagi muda dan tidak ada harta
yang telah kami simpan.”

“Kusarankan engkau menerapkan nasehat Algamish dan katakan pada dirimu sendiri, ‘Sebagian dari semua
yang kuperoleh adalah milikku yang harus kusimpan.’ Ucapkan itu di pagi hari pada saat engkau bangun dari
tidurmu. Ucapkan pada siang hari. Ucapkan lagi pada malam hari. Ucapkan pula setiap jam tiap hari. Katakan
itu pada dirimu sendiri sehingga kata-kata itu seolah tertulis jelas dengan huruf api terpampang melintang
dilangit.”

“Gugah dirimu dengan ide itu. Tanam dalam benakmu. Kemudian ambillah dengan bijak dari simpanan itu
secukupnya. Tetapi tidak boleh kurang dari sepersepuluhnya harus tersimpan, untuk digunakan dimasa depan.
Apabila perlu sekali, rencanakan pengeluaranmu. Tetapi tetap sediakan bagian untuk disimpan. Engkau akan
segera dapat merasakan rasa sejahtera memiliki kekayaan yang tersimpan hanya engkau sendiri yang dapat
menggunakannya. Semakin berkembang ia, akan semakin terdorong engkau. Kenikmatan hidup yang baru akan
membuatmu bersemangat. Kegigihan yang lebih besar akan datang mendukungmu meraih tambahan
penghasilan. Karena peningkatan penghasilanmu, tidakkah engkau dapat lebih menambah persentase jumlah
penghasilan yang engkau simpan?”

“Kemudain belajar mempekerjakan harta simpananmu. Jadikan dia budakmu. Jadikan pula anak-anaknya dan
cucu-cucunya bekerja untukmu.”

“Pastikan ada penghasilanmu di masa-masa yang akan datang. Perhatikan orang-orang yang sudah uzur itu, dan
jangan lupa bahwasanya engkau juga akan seperti mereka. Oleh kerana itu usahakan dan pekerjakan
simpananmu dengan sangat hati-hati kalau tidak engkau akan kehilangan semuanya. Penghasilan yang tinggi
memukau sangat menipu, merayu orang-orang yang lengah kedalam kehancuran dan penyesalan.”

“Perhatikan juga hal-hal yang tidak diinginkan keluargamu sendainya engkau dipanggil Para Dewa ke alam
arwah. Perlindungan seperti itu selalu dapat disediakan apabila engkau menyediakan simpanan kecil secara
bertahap. Orang yang mempersiapkan hal itu tidak akan menunda hingga penghasilan yang besar tersedia untuk
keperluan-keperluan yang baik itu.”

“Berkonsultasilah dengan orang bijak. Cari nasehat dari orang yang pekerjaan sehari-harinya mengelola uang.
Mereka akan menyelamatkanmu dari kekeliruan yang pernah kulakukan ketika menggunakan nasehat keuangan
dari Azmur, si pembuat bata. Penghasilan kecil yang lebih aman harus diutamakan dari pada menanggung resiko
yang lebih besar.”

“Nikmatilah hidupmu selagi hidup di bumi ini. Jangan terlalu membebani dirimu sendiri atau menyimpan terlalu
banyak dari yang dapat engkau sediakan. Apabila sepersepuluh dari semua penghasilanmu merupakan jumlah
yang terbanyak yang dapat dengan nyaman engkau sediakan untuk disimpan, cukuplah puas dengan jumlah itu,
asal tetap engkau pertahankan. Hidup saja sesuai dengan penghasilanmu tetapi jangan pula membuat dirimu
begitu pelit dan takut mengeluarkan uang. Hidup itu enak dan hidup itu kaya dengan hal-hal yang pantas engkau
nikmati sepenuhnya.”

Sahabat-sahabatnya berterima kasih kepadanya dan pergi berlalu. Beberapa terdiam karena mereka tidak punya
bayangan sama sekali dan tidak dapat mengerti isi pembicaraan. Sebagian lagi sangat tidak menerima karena
mereka fikir seseorang yang sudah sangat kaya seharusnya membagi kekayaannya dengan sahabat lamanya
yang kurang beruntung. Tetapi ada beberapa orang yang memiliki harapan baru yang terbayang dimatanya.
Mereka menyadari bahwa Algamish telah kembali setiap waktu ke ruangan penyalin naskah di perpustakaan
karena ia mengamati perkembangan orang yang berusaha mencari jalan keluar dari kegelapan ke dunia yang
gilang gemilang. Apabila orang tersebut sudah menemukan sinar gilang gemilang itu, sebuah tempat telah
menunggunya. Tidak seorangpun dapat menempati kedudukan itu hingga ia dapat mengusahakan bagi dirinya
sendiri dengan pengertiannya sendiri, hingga ia bersedia menghadapi setiap kesempatan yang muncul.

Mereka dalam kelompok terkahir inilah yang dicari, yaitu mereka yang, dalam tahun-tahun mendatang,
berulangkali mengunjungi Arkad, yang dengan sangat gembira menerima mereka. Mereka berkonsultasi, dan ia
memberikan beberapa nasehat tanpa biaya dari perbendaharaan kebijaksanaannya sebagaimana seorang yang
berpengalaman luas akan dengan senang hati melakukannya. Ia membantu mereka mempekerjakan
simpanannya dengan hasil yang lumayan dengan aman sehingga tidak ada simpanan yang hilang percuma atau
tidak mendatangkan hasill tambahan sama sekali.

Titik balik kehidupan orang-orang ini datang pada hari ketika mereka menyadari kebenaran yang datang dari
Algamish melalui Arkad dan dari Arkad menyentuh mereka.

SEBAGIAN DARI SEMUA YANG ENGKAU HASILKAN


ADALAH MILIKMU YANG HARUS ENGKAU SIMPAN

II : ORANG TERKAYA DI BABILONIA


ORANG TERKAYA DI BABILONIA

Di Babilonia, pada zaman dahulu, hiduplah seorang yang sangat kaya bernama Arkad. Di seluruh Babilonia ia
sangat dikenal sebagai orang yang memiliki harta yang berlimpah. Tetapi, ia juga terkenal akan
kedermawanannya. Amat sangat ringan dan kuat dalam berderma. Murah hati pada seluruh sanak keluarga.
Tidak terlalu perhitungan dalam pengeluaran-pengeluaran untuk memenuhi hajat hidupnya. Kendati demikian,
setiap tahun kekayaannya bahkan bertambah lebih cepat dari pengeluaran-pengeluarannya.

Dan ada beberapa sahabat masa kecilnya datang berkunjung padanya dan mengatakan : “Arkad, kamu lebih
beruntung dari pada kami. Engkau telah menjadi orang terkaya di Babilonia sementara kami berjuang hanya
untuk mempertahankan hidup kami dari hari ke hari. Engkau mengenakan pakaian terbaik dan menikmati
makanan mewah, tetapi kami harus cukup merasa puas apabila kami dapat memberi pakaian pada keluarga kami
dengan bahan sederhana, asal layak, dan memberi makan sesuai dengan hasil terbaik yang kami peroleh.”

“Padahal, dulu kita sama setara. Kita belajar pada guru yang sama, bermain permainan yang serupa, bahkan
dalam pelajaran dan permainan itu kita seimbang, tidak ada satu yang menonjol dari yang lainnya. Pada tahun-
tahun itu, engkau juga tidak lebih terhormat dari pada kami.”

“Dalam bekerja engkau juga tidak bekerja lebih keras dari pada kami atau pun lebih tekun, begitulah sepanjang
yang kami ketahui. Tetapi mengapa, kemudian, seolah ada Dewi Fortuna yang membuatmu melebihi kami
semua dalam memperoleh hal-hal yang terbaik dalam kehidupan ini dan Sang Dewi mengabaikan kami, padahal
kita memiliki hak yang sama?”
Menghadapi pernyataan itu Arkad langsung menyanggah mereka. Ia mengatakan, “Apabila engkau hidup dari
hari ke sehari dan tidak mengumpulkan kekayaan apa-apa selama usia remaja kita hingga saat ini, itu
disebabkan karena engkau gagal dalam mempelajari hukum pengembangan kekayaan, atau mungkin engkau
tidak mengamatinya sama sekali.”

“’Dewi Fortuna’ itu sebenarnya hanyalah dewi jahat yang tidak memberikan kebaikan yang abadi pada
siapapun. Sebaliknya, ia menghancurkan hampir setiap orang yang dilimpahkannya dengan durian runtuh,
dengan keberuntungan tanpa usaha. Menjadikan mereka orang yang suka berfoya-foya, yang dalam tempo
sekejap menghapushabiskan kekayaan mereka dan kemudian meninggalkan mereka dengan angan-angan bahwa
mereka dapat hidup senang tanpa merasakan bahwa mereka tidak mampu menyediakan pembiayaannya. Yang
lainnya menjadi sangat kedekut dan menggenggam keras kekayaannya, takut menggunakannya, sadar bahwa
mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengumpulkannya kembali apabila terkurangi. Lebih jauh lagi,
merkea takut hartanya hilang atau tercuri, membuat kehidupannya kosong dan pantas dikasihani.”

“Ada juga, mungkin, dapat memeliharanya dan menambah kekayaan itu dan berbahagia dan menjadi warga
yang terhormat. Tapi sangat sedikit yang demikian itu, aku pun hanya mengenal mereka dari kabar burung
semata.”

“Coba cermati mereka-mereka yang mewarisi kekayaan mendadak, apakah apa yang baru kuungkapkan ini
bukan kebenaran adanya?”

Sahabat-sahabatnya membenarkan bahwa dari orang-orang yang mereka kenal yang mewarisi kekayaan, apa
yang diucapkan Arkad ada benarnya, dan mereka meminta Arkad menjelaskan pada mereka bagaimana caranya
ia menjadi orang yang memiliki kelimpahan yang tak terkira, jadi Arkad meneruskan :

“Pada masa mudaku kurasakan dan kulihat hal-hal yang baik yang memberikan kegembiraan, kebahagiaan dan
yang memberikan kepuasan dan kesejahteraan. Dan kusadari bahwa kekayaanlah yang dapat mempermudah kita
memperoleh hal itu semua.”

“Kekayaan itu kekuatan. Dengan kekayaan semua hal yang lain menjadi mungkin.”

“Kita dapat memenuhi rumah kita dengan perabot yang mewah.”

“Kita dapat berlayar ke tempat-tempat yang jauh di seberang lautan.”

“Kita dapat berpesta dengan makanan-makanan lezat dari negeri-negeri jauh.”

“Kita dapat membeli perhiasan yang dibuat pandai emas atau perajin permata.”

“Kita bahkan dapat membangun kuil yang megah bagi Para Dewa.”

“Kita dapat melakukan hal itu semua dan banyak lagi hal lainnya apa pun yang dapat menyenangkan hati dan
menyejukkan jiwa.”

“Setelah kusadari hal itu, kuputuskan bahwa aku harus mengumpulkan hal-hal yang baik dalam kehidupan ini.
Aku tidak mau menjadi penonton di kejauhan, melongo memperhatikan mereka yang menikmatinya. Aku tidak
akan puas dengan pakaian sederhana yang terlihat bersahaja. Aku tidak akan puas berada di tengah orang-orang
miskin. Sebaliknya akau akan menjadkan diriku sebagai tamu pada kemewahan pesta dan kesejahteraan. Aku
harus menjadi hartawan.”

“Sebagaimana yang engkau ketahui, menjadi seorang anak pedagang kecil, dalam sebuah keluarga besar tanpa
harapan, tanpa warisan, juga tanpa kelebihan apa-apa, seperti yang telah dengan jujur engkau ungkapkan, juga
tidak ungggul dalam kebijaksanaan, saya memutuskan bahwa apabila saya ingin mencapai apa yang saya cita-
citakan, yang saya butuhkan adalah waktu dan belajar.”

“Tentang waktu, semua orang memilikinya, berlebih-lebihan bahkan. Engkau, setiap orang, telah dikelabui oleh
waktu yang cukup banyak untuk menjadikan dirimu kaya raya. Setelah sekian lama, apa yang terjadi. Ternyata,
akhirnya engkau akui juga, bahwa tidak ada yang dapat engkau perlihatkan kecuali keluargamu yang baik yang
dapat engkau bangga-banggakan.”
“Halnya belajar, bukankah guru kita yang bijaksana telah memberitahu kita bahwa belajar itu ada dua jenis :
pertama, belajar menjadikan kita mengetahui apa yang kita pelajari dan ketahui, yang kedua belajar merupakan
sebuah latihan yang menjelaskan pada kita apa yang tidak kita ketahui.”

“Oleh karena itu saya putuskan mempelajari bagaimana cara seseorang mengumpulkan kekayaan, dan setelah
saya ketahui caranya, saya jadikan pembelajaran itu sebagai tugas saya dan melaksanakannya dengan
bersunguh-sungguh. Karena, alangkah tidak bijaksana apabila kita terlalu menikmati hidup di hari-hari penuh
keceriaan, sedangkan kesedihan pasti akan mendatangi kita pada waktunya atau pada saat kita kembali ke alam
arwah.”

“Aku bekerja sebagai penulis lempeng tanah liat di perpustakaan kota, berjam-jam setiap hari kulakukan
pekerjaan itu. minggu demi minggu, bulan ke bulan, terus bekerja, tetapi penghasilanku tidak memadai sama
sekali, tidak ada yang dapat kutunjukkan. Makanan, pakaian dan persembahan bagi Para Dewa, dan lain-lain
yang tidak dapat kuingat sama sekali, telah menghabiskan semua penghasilanku. Tetapi, untung tekadku tidak
meninggalkanku.”

“Dan, pada suatu hari, Algamish, seorang pemberi pinjaman, berkunjung ke rumah wali kota memesan salinan
Hukum Kesembilan, ia berkata padaku, ‘aku harus mendapatkannya dalam dua hari, apabila pekerjaan dapat
diselesaikan dalam waktu itu, dua uang perak akan kuhadiahkan padamu.”

“Jadi, saya berusaha mati-matian menyelesaikan, tetapi Hukum Kesembilan itu terlalu panjang, dan ketika dua
hari kemudian Algamish datang, pekerjaan itu masih belum selesai. Ia marah sekali, mungkin kalau saya ini
budak miliknya sudah pasti saya akan dipukulinya. Tapi dia tahu Wali Kota tidak mungkin akan membiarkan ia
menyakiti saya, jadi saya tenang-tenang saja, dan mengatakan padanya, ‘Algamish, bukankah engkau orang
yang kaya raya, beritahukan padaku bagaimana caranya agar dapat menjadi kaya sepertimu, nanti akan
kukerjakan salinan Hukum Kesembilan ini sepanjang malam dan besok, pagi-pagi sekali pasti dapat
terselesaikan.”

“Ia tersenyum padaku dan menjawab, ‘engkau memang pedagang cerdik, baiklah, aku setuju, engkau selesaikan
salinan itu dulu, besok pagi kita lihat hasilnya.”

“Sepanjang malam itu saya berusaha menyelesaikan salinan Hukum Kesembilan itu, meski punggungku terasa
nyeri dan bau minyak pelarut tanah liat menyakitkan kepalaku dan membuat mataku berkunang-kunang.
Akhirnya, ketika ia kembali bersamaan munculnya matahari, lempeng salinan itu selesai.”

“’Nah,’ ucapku, ‘sekarang katakan padaku apa yang telah engkau janjikan.”

“’Engkau telah menunaikan janjimu, anakku,’ katanya, ‘dan sekarang giliran saya memenuhi janjiku. Akan,
kuberitahukan apa yang ingin engkau ketahui, bukankah aku telah tua dan orang tua senang sekali berbicara.
Dan apabila ada anak muda datang memerlukan nasehat pada orang tua, dia akan memperoleh kebijaksanaan
yang telah teruji bertahun-tahun. Tetapi anak muda sering beranggapan bahwa kebijaksanaan orang tua
hanyalah kebijaksanaan masa lalu semata, tidak berguna bagi masa kini. Tapi, coba ingat-ingat hal ini, matahari
yang bersinar hari ini sama dengan matahari yang bersinar pada masa ayahmu lahir, dan masih akan bersinar
pada saat cucumu nanti kembali ke alam arwah.”

“’Pikiran anak muda,’ lanjutnya, ‘memang bersinar terang bagai lintasan meteor yang menerangi cakrawala,
tetapi kebijaksanaan orang tua bagaikan bintang yang tidak bergeming, menetap di langit malam sehingga para
pelaut dapat bergantung padanya ketika melayarai samudera.’”

“’Harus engkau serap ucapanku, sebab bila itu tidak engkau lakukan engkau akan gagal menyarikan kebenaran
yang akan kusampaikan padamu, dan engkau akan mengira kerja kerasmu semalam suntuk tidak sepadan
dengan apa yang engkau dapatkan.’”

“Kemudian dari bawah alis lebat yang memutih, matanya menatapku langsung dengan tajamnya dan berucap
dalam nada rendah yang sangat dalam, ‘aku menemukan jalan kekayaan ketika menyimpulkan sebagian dari
semua yang kuperoleh adalah miliku yang harus kusimpan. Maka engkaupun harus begitu.’”

“Selanjutnya, dengan tidak melanjutkan ucapannya, ia terus menghunjamkan pandangannya padaku dengan
pandangan yang kurasakan langsung menusuk hatiku.”
“’Hanya begitu?’ aku bertanya.”

“’Ya, itu memadai untuk mengubah hati penggembala kambing menjadi hati rentenir,’ jawabnya.”

“’Tapi, bukankah semua yang keperoleh dapat kusimpan?’ tuntutku.”

“’Salah sama sekali,’ jawabnya. ‘Apakah engkau tidak membayar para penjahit untuk pakaianmu? Pembuat
sandal? Engkau mengeluarkan uang untuk makan dan minummu? Dapatkah engkau hidup di Babilonia tanpa
mengeluarkan uang? Apa yang tersisa dari penghasilanmu beberapa bulan belakangan ini yang dapat engkau
tunjukkan? Atau penghasilanmu setahun yang lalu? Bodoh! Engkau mengeluarkan uang untuk membayar semua
orang, tetapi tidak untuk dirimu sendiri. Guoblok, engkau bekerja untuk orang lain semata. Sama saja dengan
budak yang bekerja untuk tuannya yang hanya memberikannya makanan dan pakaian. Tidak berbeda. Coba.
Apabila engkau simpan untuk dirimu sendiri sepersepuluh dari seluruh penghasilanmu, berapa banyak yang
sudah engkau kumpulkan selama sepuluh tahun?’”

“Pengetahuanku berhitung masih ada, jadi kujawab, ‘sama dengan penghasilanku dalam setahun.’”

“’Engkau Cuma separuh benar,’ sergahnya. ‘Setiap keping emas yang engkau simpan itu merupakan budak
yang harus bekerja dan mengabdi padamu. Setiap perak yang dihasilkan emas itu merupakan anaknya, juga,
harus menghasilkan sesuatu untukmu. Engkau hanya dapat menjadi kaya apabila apa yang engkau simpan
memberikan penghasilan, begitupula anak-anaknya, penghasilan yang dihasilkannya, harus juga memberikan
penghasilan. Itulah pertolongan yang dapat kuberikan padamu, kelimpahan yang begitu engkau dambakan’”

“’Apakah engkau kira aku telah menipumu supaya engkau bersusah payah menyelesaikan salinan itu,’
lanjutnya, ’sesungguhnya dengan ini aku telah membayarmu lebih dari seribu kali lipat, seandainya saja engkau
cukup cerdas menangkap inti sari kebenaran yang kusampaikan.’”

“’Sebagian dari semua yang engkau hasilkan adalah milikmu yang harus engkau simpan. Jumlahnya tidak buleh
kurang dari sepersepuluh, seberapa kecilpun hasil yang engkau dapatkan. Lebih bagus lagi kalau engkau mampu
menyimpannya lebih dari itu. Bayar dulu dirimu sendiri. Jangan membeli dari penjahit, atau pembuat sandal
lebih dari kemampuanmu dan sediakan secukupnya untuk makan, berderma dan persembahan bagi Para
Dewa.’”

“’Kekayaan, seperti pohon, berkembang dari sebiji bibit yang kecil. Keping perak pertama yang engkau simpan
bagai bijian yang akan menumbuhkan pohon kekayaanmu. Lebih cepat engkau tanamkan, maka lebih cepat pua
ia akan tumbuh. Semakin tekun engkau memeliharanya, menyirami, memberi pupuk, dengan simpanan-
simpanan berikutnya terus menerus, semakin cepat engkau akan berteduh di bawah rindangnya pohon kekayaan
itu.’”

“Begitulah, ia ambil lempeng salinan itu dan berlalu.”

“Aku memikirkan dalam-dalam apa yang telah disampaikannya, sangat masuk akal. Jadi kuputuskan untuk
mencobanya. Setiap kali aku dibayar, kuambil satu dari setiap sepuluh keping perak dan menyimpannya. Dan
cukup aneh, aku tidak pernah mengalami kekurangan uang lebih dari sebelumnya. Aku mulai mendapatkan
sedikit perbedaan ketika mampu melewati beberapa waktu. Tetapi berulang kali juga, aku tergoda, ketika
melihat simpananku telah berkembang, utnuk menggunakannya, memperoleh barang-barang indah yang
ditawarkan para pedagang, yang dibawa dengan unta dan kapal-kapal dari negeri Phunisia. Tetapi aku cukup
bijaksana untuk tidak melakukannya.”

“Dua belas bulan berlalu, Algamish datang kembali dan mengatakan kepadaku, ‘Nak, sudahkah engkau bayar
dirimu sendiri tidak kurang dari sepersepuluh dari yang engkau hasilkan selama setahun ini?’”

“Dengan bangganya kujawab, ‘Ya, tuan, sudah.’”

“’Bagus,’ jawabnya dengan wajah ceria padaku, ‘dan apa yang telah engkau perbuat terhadap simpananmu
itu?’”
“’Kuberikan pada Azmur, pembuat bata, yang mengatakan ia akan pergi jauh ke seberang laut dan di Tyre ia
akan membelikanku permata Phunisia yang langka. Apabila ia pulang kami akan menjualnya dengan harga yang
tinggi dan berbagi keuntungannya.’”

“’Orang bodoh harus belajar’,’ gerutunya, ‘mengapa engkau mempercayai pengetahuan tukang bata untuk
masalah permata? Apakah engkau akan mendatangi tokang roti untuk menanyakan masalah tata surya? Tidak,
alangkah bodohnya engkau, seharusnya engkau mengunjungi ahli perbintangan, kalau engkau memang dapat
berfikir. Habislah simpananmu, anak kemarin sore, engkau telah mencabut pohon kekayaanmu sampai ke akar-
akarnya. Tapi tanam lagi yang lainnya. Coba lagi. Lain kali kalau engkau memerlukan nasehat atau pengetahuan
tentang permata, kunjungi pedagang permata. Kalau engkau ingin mengetahui segala sesuatu tentang kambing,
datangi penggembala. Nasehat memang dapat diperoleh dengan tanpa biaya, tetapi berhati-hatilah, ambillah
hanya nasehat yang berguna bagimu. Orang yang meminta nasehat tentang simpanannya kepada seseorang yang
tidak berpengalaman di bidang itu, akan membayarnya dengan seluruh simpanannya justru untuk membuktikan
betapa bodohnya nasehat itu.’ Setelah mengatakan hal itu iapun berlalu.”

“Benar seperti yang dikatakannya. Orang-orang Phunisia memang penipu. Mereka menjual ke Azmur sepotong
gelas yang tak bernilai yang terlihat seperti batu permata. Habis sudah simpananku. Tetapi seperti yang
dinasehatkan Algamish, saya mulai menyimpan kembali setiap sepersepuluh keping perak yang saya peroleh,
karena saya telah menjadi biasa melakukannya, usaha untuk menyimpan ini menjadi sangat tidak berat lagi.”

“Sekali lagi, dua belas bulan berlalu, Algamish datang lagi ke perpustakaan kota menemui saya. ‘Bagaimana
perkembanganmu setelah terkahir kita bertemu?’”

“’Aku telah membayar diriku sendiri dengan tekun,’ jawabku, ‘dan simpananku telah kupercayakan pada Aggar
pembuat tameng, untuk membeli perunggu bahan pembuat tameng, dan setiap bulan ia membayar padaku sewa
uang itu.’”

“’Itu bagus. Dan apa yang engkau perbuat atas sewa uang itu?’”

“’Lumayan, aku bisa menikmati madu dan anggur bermutu dan kue berrempah yang lezat. Aku juga telah
membeli selendang sutera ungu. Suatu hari nanti akau akan membeli seekor keledai muda yang dapat
kutunggangi kemana-mana.’”

“Algamish tertawa mendengarkan hal itu. ‘Engkau telah memakan anak-anak simpananmu. Bagaimana
mungkin engkau akan berharap mereka bekerja untukmu? Dan bagaimana pula mereka akan melahirkan
keturunan yang juga dapat menjadi budakmu? Pertama-tama, himpun dan dapatkan dulu bala tentara budak
emasmu baru kemudian pesta yang mewah dapat engkau nikmati tanpa penyesalan di kemudian hari.’ Sambil
mengutarakan hal itu iapun berlalu.”

“Kemudian aku tidak melihatnya lagi selama dua tahun, ketika ia muncul kembali wajahnya telah penuh kerutan
dalam matanya lebih kuyu, ia telah menjadi seorang yang sangat tua. Dan ia mengatakan kepadaku, ‘Arkad,
sudahkah engkau memperoleh kekayaan yang engkau impi-impikan itu?’”

“Kujawab, ‘Masih belum semuanya, tetapi sebagian sudah kudapatkan dan bahkan memberikanku penghasilan
tambahan, dan penghasilan tambahan itu juga menumbuhkan penghasilan baru yang lain.’”

“’Apakah engkau masih meminta nasehat dari pembuat bata?’”

“’Mereka memberi nasehat yang bagus tentang bagaimana membuat bata.’ Jawabku sekenanya”

“’Arkad,’ lanjutnya, ‘engkau telah belajar dengan baik. Pertama engkau belajar hidup dengan biaya kebutuhan
secukupnya yang lebih kecil dari yang mampu engkau peroleh. Kemudian engkau belajar mencari nasehat dari
orang yang benar-benar menguasai yang berkeahlian di bidangnya. Dan terakhir, engkau telah belajar
bagaimana membuat emas bekerja untukmu.

“’Engkau telah belajar sendiri bagaimana memperoleh penghasilan, bagaimana menyimpannya dan bagaimana
pula menggunakannya. Oleh karena itu engkau dapat dipercaya untuk menjalankan sebuah usaha. Aku sudah
bertambah tua. Anak-anakku hanya memikirkan bagaimana caranya menggunakan uang tetapi tidak memikirkan
sama sekali bagaimana cara memperolehnya. Usahaku sangat besar dan banyak, dan aku akan semakin tidak
mampu untuk mengurus semuanya. Apabila engkau mau pergi ke Nippur dan mengurus serta mengusahakan
tanahku di sana, akau akan menjadikanmu rekan usahaku dan akan berbagi hasil usaha bersama.’”

“Jadi, aku pergi ke Nippur mengurus harta kekayaannya yang besar di sana. Oleh karena aku sangat
berkeinginan dan karena aku telah berhasil menguasai tiga hukum pengelolaan kekayaan, aku mampu
melipatgandakan kekayaannya. Akupun ikut sejahtera, dan ketika jiwa Algamish kembali ke alam baka, aku
mendapatkan bagian dari kekayaannya sesuai dengan perjanjian yang telah rapi dibuatnya sesuai dengan
ketentuan hukum.”

Begitulah yang dikemukakan Arkad, dan ketika ia menyelesaikan ceritanya, salah seorang sahabatnya berkata,
“Engkau memang sangat beruntung Algamish telah menjadikan engkau sebagai pewaris sebagian
kekayaannya.”

“Beruntung hanya karena saya memiliki keinginan untuk berkelimpahan sebelum saya bertemu dengannya.
Bagaimanakah apabila selama empat tahun saya tidak membuktikan kegigihan saya mencapai tujuan itu dengan
menyimpan sepersepuluh dari seluruh yang saya hasilkan? Apakah engkau mengatakan nelayan itu beruntung
padahal bertahun-tahun ia mempelajari kebiasaan ikan-ikan yang berubah-ubah sesuai perubahan angin
sehingga ia dapat menebar jaring pada waktu dan tempat yang benar-benar berikan. Kesempatan itu bagai Dewi
sombong yang tidak memerlukan apa-apa, yang tidak akan membuang waktu dengan orang yang tidak
mempersiapkan diri.”

“Engkau memiliki tekad yang kuat untuk terus melanjutkan rencanamu setelah engkau kehilangan seluruh
simpanan tahun pertamamu. Dalam hal ini engkau benar-benar luar biasa,” ujar sahabat lainnya.

“Tekad!” bantah Arkad. “Omong kosong. Apakah engkau fikir tekad akan memberimu kekuatan untuk
memanggul beban yag tidak bisa diusung seekor unta, atau menarik bajak yang tidak bisa dihela kerbau? Tekad
hanyalah pemicu semata dalam usahamu melaksanakan rencana yang telah engkau tetapkan untuk engkau capai.
Apabila kutetapkan tugas bagi diriku, meskipun tugas sederhana sekalipun, tetap saja akan kurencanakan
secermat mungkin. Bagaimana mungkin aku akan percaya diri melakukan hal-hal besar yang penting kalau aku
tidak merencanakannya? Misalnya, apabila kukatakan pada diriku, ‘Selama seratus hari, setiap hari aku
melewati jembatan memasuki kota ini, aku akan memungut sebuah kerikil di jalan dan melemparkannya ke
dalam aliran sungai.’ Itu akan kulakukan. Apabila pada hari ketujuh aku melewati jembatan itu dan baru teringat
bahwa aku lupa akan tugasku. Aku tidak akan mengatakan pada diriku, ‘Besok akan kulemparkan dua buah batu
sekaligus, hasilnya akan sama saja.’ Apa yang akan engkau lakukan. Aku akan melangkah mundur ke belakang
ke jembatan itu dan melontarkan sebuah batu. Itu baru betul. Pada hari ke dua puluh aku tidak akan mengatakan
pada diriku, ‘Arkad, ini tidak berguna. Apa untungnya bagimu melontarkan sebuah batu setiap hari selama
seratus hari? Lemparkan saja seratus batu sekaligus, beres.’ Tidak, bahkan mengucapkannya saja aku tidak akan
apalagi melakukannya. Apabila tugas sudah kutetapkan bagi diriku sendiri, akan kuselesaikan. Jadi, aku akan
berhati-hati agar tidak menetapkan tugas yang terlalu berat dan tidak mungkin diselesaikan. Aku tidak mau
kepayahan, aku suka bersenang-senang.”

Lalu salah seorang shabat yang lain ikut berujar dengan mengatakan, “Apabila yang engkau ceritakan memang
benar, dan sepertinya betul sebagaimana yang engau katakan, masuk akal, dan sangat sederhana, apabila setiap
orang melaksanakannya maka tidak ada lagi harta benda yang tersisa untuk dimiliki.”

“Kekayaan tumbuh dan berkembang bilamana manusia mengeluarkan energi, berusaha,” jawab Arkad. “Apabila
ada seorang hartawan membangun istana baru, apakah uang dan kekayaan yang ia keluarkan untuk membangun
lantas hilang? Tidak, pembuat bata akan mendapat sebagian, kuli bangunan akan mendapatkannya juga, begitu
pula arsitek dan perajin hiasan istana itu. Semua yang ikut serta dalam usaha membangun istana itu
mendapatkan bagian dari pembayaran dan ongkos pembangunan istana itu. Setelah istana itu selesai apakah
nilainya tidak sama dengan biaya pembangunannya? Apakah tanah tempat istana itu didirikan tidak menjadi
bertambah nilainya karena ia terletak disitu? Tanah di sekitar istana itu tidak naik nilainya karena terhampar
disitu? Kekayaan berkembang dengan cara yang ajaib. Tidak ada seorangpun yang dapat meramalkan batas
pertumbuhannya. Bukankah bangsa Phunisia membangun kota-kota besarnya di pantai-pantai gersang dengan
kekayaan yang mereka peroleh dari kapal-kapal dagang yang menyebar di lautan?”

“Jadi, apa yang engkau sarankan pada kami supaya kami lakukan agar kami juga bisa menjadi kaya?” masih ada
lagi pertanyaan dari sahabatnya yang lain. “Tahun-tahun sudah berlalu, kami tidak lagi muda dan tidak ada harta
yang telah kami simpan.”
“Kusarankan engkau menerapkan nasehat Algamish dan katakan pada dirimu sendiri, ‘Sebagian dari semua
yang kuperoleh adalah milikku yang harus kusimpan.’ Ucapkan itu di pagi hari pada saat engkau bangun dari
tidurmu. Ucapkan pada siang hari. Ucapkan lagi pada malam hari. Ucapkan pula setiap jam tiap hari. Katakan
itu pada dirimu sendiri sehingga kata-kata itu seolah tertulis jelas dengan huruf api terpampang melintang
dilangit.”

“Gugah dirimu dengan ide itu. Tanam dalam benakmu. Kemudian ambillah dengan bijak dari simpanan itu
secukupnya. Tetapi tidak boleh kurang dari sepersepuluhnya harus tersimpan, untuk digunakan dimasa depan.
Apabila perlu sekali, rencanakan pengeluaranmu. Tetapi tetap sediakan bagian untuk disimpan. Engkau akan
segera dapat merasakan rasa sejahtera memiliki kekayaan yang tersimpan hanya engkau sendiri yang dapat
menggunakannya. Semakin berkembang ia, akan semakin terdorong engkau. Kenikmatan hidup yang baru akan
membuatmu bersemangat. Kegigihan yang lebih besar akan datang mendukungmu meraih tambahan
penghasilan. Karena peningkatan penghasilanmu, tidakkah engkau dapat lebih menambah persentase jumlah
penghasilan yang engkau simpan?”

“Kemudain belajar mempekerjakan harta simpananmu. Jadikan dia budakmu. Jadikan pula anak-anaknya dan
cucu-cucunya bekerja untukmu.”

“Pastikan ada penghasilanmu di masa-masa yang akan datang. Perhatikan orang-orang yang sudah uzur itu, dan
jangan lupa bahwasanya engkau juga akan seperti mereka. Oleh kerana itu usahakan dan pekerjakan
simpananmu dengan sangat hati-hati kalau tidak engkau akan kehilangan semuanya. Penghasilan yang tinggi
memukau sangat menipu, merayu orang-orang yang lengah kedalam kehancuran dan penyesalan.”

“Perhatikan juga hal-hal yang tidak diinginkan keluargamu sendainya engkau dipanggil Para Dewa ke alam
arwah. Perlindungan seperti itu selalu dapat disediakan apabila engkau menyediakan simpanan kecil secara
bertahap. Orang yang mempersiapkan hal itu tidak akan menunda hingga penghasilan yang besar tersedia untuk
keperluan-keperluan yang baik itu.”

“Berkonsultasilah dengan orang bijak. Cari nasehat dari orang yang pekerjaan sehari-harinya mengelola uang.
Mereka akan menyelamatkanmu dari kekeliruan yang pernah kulakukan ketika menggunakan nasehat keuangan
dari Azmur, si pembuat bata. Penghasilan kecil yang lebih aman harus diutamakan dari pada menanggung resiko
yang lebih besar.”

“Nikmatilah hidupmu selagi hidup di bumi ini. Jangan terlalu membebani dirimu sendiri atau menyimpan terlalu
banyak dari yang dapat engkau sediakan. Apabila sepersepuluh dari semua penghasilanmu merupakan jumlah
yang terbanyak yang dapat dengan nyaman engkau sediakan untuk disimpan, cukuplah puas dengan jumlah itu,
asal tetap engkau pertahankan. Hidup saja sesuai dengan penghasilanmu tetapi jangan pula membuat dirimu
begitu pelit dan takut mengeluarkan uang. Hidup itu enak dan hidup itu kaya dengan hal-hal yang pantas engkau
nikmati sepenuhnya.”

Sahabat-sahabatnya berterima kasih kepadanya dan pergi berlalu. Beberapa terdiam karena mereka tidak punya
bayangan sama sekali dan tidak dapat mengerti isi pembicaraan. Sebagian lagi sangat tidak menerima karena
mereka fikir seseorang yang sudah sangat kaya seharusnya membagi kekayaannya dengan sahabat lamanya
yang kurang beruntung. Tetapi ada beberapa orang yang memiliki harapan baru yang terbayang dimatanya.
Mereka menyadari bahwa Algamish telah kembali setiap waktu ke ruangan penyalin naskah di perpustakaan
karena ia mengamati perkembangan orang yang berusaha mencari jalan keluar dari kegelapan ke dunia yang
gilang gemilang. Apabila orang tersebut sudah menemukan sinar gilang gemilang itu, sebuah tempat telah
menunggunya. Tidak seorangpun dapat menempati kedudukan itu hingga ia dapat mengusahakan bagi dirinya
sendiri dengan pengertiannya sendiri, hingga ia bersedia menghadapi setiap kesempatan yang muncul.

Mereka dalam kelompok terkahir inilah yang dicari, yaitu mereka yang, dalam tahun-tahun mendatang,
berulangkali mengunjungi Arkad, yang dengan sangat gembira menerima mereka. Mereka berkonsultasi, dan ia
memberikan beberapa nasehat tanpa biaya dari perbendaharaan kebijaksanaannya sebagaimana seorang yang
berpengalaman luas akan dengan senang hati melakukannya. Ia membantu mereka mempekerjakan
simpanannya dengan hasil yang lumayan dengan aman sehingga tidak ada simpanan yang hilang percuma atau
tidak mendatangkan hasill tambahan sama sekali.

Titik balik kehidupan orang-orang ini datang pada hari ketika mereka menyadari kebenaran yang datang dari
Algamish melalui Arkad dan dari Arkad menyentuh mereka.
SEBAGIAN DARI SEMUA YANG ENGKAU HASILKAN
ADALAH MILIKMU YANG HARUS ENGKAU SIMPAN

III : TUJUH KUTUKAN KEMELARATAN

TUJUH KUTUKAN KEMELARATAN

Kemakmuran Babilonia bertahan lama, bergema ke seluruh wilayah dunia. Bertahun-tahun kemasyhurannya
yang kita dengar sebagai kota terkaya, yang memiliki kelimpahan harta yang sungguh mencengangkan.

Tetapi pada zaman dahulu, sebelumnya, tidaklah demikian halnya. Orang-orang kaya Babilonia bertumbuh
sebagai hasil kebijaksanaan penduduknya. Mereka awalnya harus banyak belajar bagaimana menjadi kaya.

Ketika Raja yang ternama, Sargon, kembali ke Babilonia, setelah mengalahkan musuh-musuhnya, bangsa
Elamit, ia mendapatkan keadaan penduduk kota yang kurang bagus. Penasehat Raja menjelaskan hal itu kepada
Sang Raja :

“Dulu, setelah tahun-tahun makmur yang dialami penduduk kota karena kerajaan telah membangun kanal irigasi
yang luar biasa dan mendirikan Kuil Raja bagi Para Dewa, tapi sekarang setelah pekerjaan tersebut selesai,
rakyat kelihatannya tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya..

“Para kuli hidup tanpa pekerjaan. Saudagar kehilangan pelanggan. Para petani tidak dapat menjual hasil
kebunnya. Masyarakat bahkan tidak mempunyai cukup emas untuk membeli makanan.”

“Tetapi, kemana perginya semua emas yang kita keluarkan untuk pembangunan itu?” tanya Sang Raja.

“Emas-emas itu beredar kemudian, saya khawatir,” sahut Sang Penasehat, “mengalir menjadi milik beberapa
orang kaya di kota ini. Beredar cepat dari tangan-tangan pemiliknya seperti susu kambing mengalir melalui
saringan, dalam perputaran kehidupan penduduk kota. Sekarang saat aliran emas itu terhenti, sebagain besar
pemilik emas itu telah kehabisan kepemilikannya, penghasilannya habis tak berbekas.”

Sang Raja menjadi masgul, terpekur beberapa saat. Kemudian ia bertanya, “Bagaimana mungkin hanya
beberapa orang saja yang akhirnya menguasai seluruh emas itu?”

“Karena mereka tahu caranya,” jawab Sang Penasehat. “Kita tidak dapat mengutuk keberhasilan seseorang
hanya karena mereka mengetahui bagaimana cara mencapai keberhasilan. Kita juga tidak dapat dengan
kekuatan hukum mengambil bagian kekayaannya yang didapat secara benar, dan memberikannya kepada yang
kurang mampu.”

“Tetapi mengapa,” tuntut Sang Raja, “tidak semua orang belajar bagaimana mengumpulkan emas dan dengan
demikian dapat menjadikannya sebagai seorang hartawan dan penuh kemakmuran?”

“Berkemungkinan bisa, Tuanku. Tetapi siapa yang akan mengajarkan mereka? Para Imam sudah pasti tidak
bisa, karena mereka sama sekali tidak mengetahui permasalahan memperoleh penghasilan.”

“Di seluruh kota kita ini, siapa yang paling mengetahui bagaimana cara menjadi kaya, Penasihat?” tanya Sang
Raja.

“Pertanyaan Tuanku sudah terjawab sendiri, Tuanku. Siapa yang paling kaya di Babilonia?”
“Benar sekali, Penasihat ahliku. Dia Arkad. Dia orang terkaya di babilonia. Bawa dia menghadapku besok
pagi.”

Keesokan harinya, sesuai titah Sang Raja, Arkad menghadapnya, tegak dan terlihat gagah meski usianya sudah
mencapai sembilan windu.

“Arkad,” ujar Sang Raja. “Apakah benar anda orang terkaya di Babilonia?”

“Bagitulah yang saya dengar, Tuanku, dan kelihatannya tidak ada yang membantahnya.”

“Bagaimana caranya engkau menjadi sebegitu kayanya?”

“Dengan mengambil keuntungan atas kesempatan yang tersedia bagi seluruh masyarakat di kota kita yang baik
ini.”

“Engkau memulainya dari tidak memiliki apa-apa?”

“Hanya keinginan besar untuk memperoleh kekayaan. Di samping itu tidak ada yang lain.”

“Arkad,” lanjut Sang Raja, “Keadaan kota kita saat ini kurang begitu baik karena hanya segelintir orang saja
yang mengetahui cara mengumpulkan kekayaan dan menguasai peredarannya, sementara sebagian besar
masyarakat tidak mengetahui samasekali bagaimana cara mengumpulkan emas yang diperoleh dari usahanya.”

“Cita-citaku, Babilonia menjadi kota terkaya di dunia. Oleh karena itu, kota ini harus menjadi kota yang penuh
dengan orang yang kaya raya. Katakan padaku, Arkad, apakah ada rahasia dalam mengumpulkan kekayaan?
Dapatkah hal itu diajarkan?”

“Bisa, Tuanku. Sesuatu yang diketahui seseorang dapat diajarkan kepada yang lainnya.”

Mata Sang Raja berbinar. “Arkad, engkau telah mengucapkan kata-kata yang sangat ingin kudengar. Maukah
engkau melaksanakan tugas mulia yang besar ini? Maukah engkau menularkan pengetahuanmu kepada semua
pendidik, yang selanjutnya saling mengajarkan sehingga kita mempunyai cukup banyak pendidik yang akan
mengajarkan cara mengumpulkan kekayaan pada setiap anggota masyarakat di kota ini yang sangat
memerlukannya.”

Arkad mengusung sembah dan berkata, “Hamba akan patuh melaksanakannya, Tuanku. Pengetahuan apa pun
yang hamba miliki akan dengan senang hati akan hamba sebarkan demi saudara-sudaraku di kota Babilonia dan
demi kejayaan kerajaan ini. Hamba persilakan Sang Penasehat yang baik mempersiapkan sebuah kelas berisi
seratus orang, dan akan hamba paparkan pada mereka tujuh obat yang telah menggemukkan pundi-pundi uang
hamba yang dahulunya tidak ada pundi uang yang lebih kosong dari pundi milik hamba di seluruh Babilonia.”

Dua minggu kemudian, mematuhi titah Sang Raja, seratus orang yang terpilih berkumpul di aula Kuil
Pembelajaran, duduk berjejer setengah lingkaran di dalam ruangan bundar yang cerah. Arkad duduk di sebelah
bejana kecil yang dari dalamnya keluar asap dari lampu keramat, menyebarkan bau dupa yang wanginya sangat
menyenangkan.

“Lihat, orang terkaya di Babilonia,” bisik salah satu peserta, sambil menyikut orang di sampingnya, ketika
Arkad mulai berdiri. “Dia manusia biasa sama saja seperti kita semua.”

“Sebagai warga yang patuh pada Raja kita yang agung,” Arkad memulai pembicaraannya, “Saya berdiri di
hadapan kamu semua demi melayaninya. Karena dahulunya saya adalah anak muda yang sangat papa tetapi
sangat menginginkan memiliki emas yang berlimpah, dan karena kudapatkan pengetahuan yang membuatku
mampu mencapai keinginanku, Sang Raja memintaku agar menularkan pengetahuan itu kepada engkau semua.”

“Aku memulai keberuntunganku dengan cara yang paling sederhana. Aku tidak memiliki kelebihan apa pun,
aku juga tidak berkecukupan dibandingkan dengan engkau semua bahkan dibandingkan seluruh penduduk
Babilonia.”
“Gudang uangku yang pertama hanyalah sebuah kantung usang. Yang sangat kubenci karena selalu kosong dan
tidak berguna. Aku menginginkan ia agar berbentuk bundar, penuh terisi, berdencing dengan suara emas. Jadi,
kucari penyembuh kantung kosong itu. Aku menemukan tujuh penyembuh.

“Kepada engkau sekalian, yang hadir didepanku ini, akan kujelaskan ke tujuh penyembuh kantung kosong yang
kusarankan kepada semua orang yang menginginkan kelimpahan emas. Setiap hari selama tujuh hari akan
kujelaskan kepadamu satu dari tujuh penyembuh itu.”

“Dengarkan dengan sepenuh hati pengetahuan yang akan kusampaikan. Bahas bersamaku. Diskusikan
sesamamu. Pelajari sedalam-dalamnya inti sari pelajaran ini, agar engkau semua dapat mengisi di kantongmu
masing-masing, bibit-bibit kekayaan. Pertama kali hendaklah setiap orang memulai dengan bijaksana
mengumpulkan keberuntungan bagi dirinya masing-masing. Kemudian, apabila engkau sudah cukup mampu,
hanya bila engkau sudah cukup mampu, ajarkanlah pengetahuan ini kepada orang lain.”

“Aku akan mengajarkannya dengan cara yang sederhana bagaimana memenuhkan pundi-pundimu. Itu
merupakan langkah pertama menuju ke kuil kekayaan, dan tidak akan ada yang akan sampai ke sana apabila dia
tidak menanamkan kakinya kuat-kuat pada langkah pertama.

“Sekarang kita bahas penyembuh pertama.”

Penyembuh Pertama

Mulai gelembungkan kantung uangmu

Arkad menyampaikan pertanyaanya kepada seorang yang terlihat berpendidikan yang duduk di baris kedua.

“Sahabat baikku, apa yang merupakan keahlianmu?”

“Saya,” jawab orang itu, “penyalin dan penulis naskah pada lempeng tanah liat.”

“Ya, dengan pekerjaan seperti itulah saya memperoleh perakku yang pertama. Jadi, engkau memiliki
kesempatan yang sama untuk menghimpun kekayaan.”

Ia berkata pada seorang yang tampan yang duduk di baris yang lebih di belakang, “Coba katakan pada kami apa
yang engkau lakukan untuk menafkahi keluargamu.”

“Saya,” balas orang ini, “tukang daging. Saya membeli kambing-kambing dari penggembala menyembelih dan
menjualnya pada para ibu rumah tangga dan kulitnya saya jual kepada pembuat sandal.”

Karena engkau bekerja dan menghasilkan uang, engkau memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil seperti
yang saya alami.”

Dengan cara itu Arkad memulai. Mencari keterangan bagaimana setiap peserta bekerja memperoleh penghasilan
untuk kehidupannya. Setelah dia selesai menanyai semua peserta, ia berkata :

“Sekarang, murid-muridku, engkau dapat melihat ada berbagai usaha dan kegiatan dalam memperoleh
penghasilan. Setiap cara itu merupakan arus masuknya emas, dari situlah setiap penghasil uang itu menyalurkan
sebagian dari hasilnya untuk kantung uagnya sendiri. Ke dalam setiap kantung uang kalian semua mengalir
uang, baik dalam jumlah banyak ataupun sedikit, tergantung pada keampuannya masing-masing. Bukankah
begitu?”

Terlihat semuanya setuju dengan pendapat itu.

“Kemudian,” lanjut Arkad, “apabila setiap orang berkeinginan untuk menghimpun kekayaan yang lebih besar
bagi dirinya, sangat tidak mungkin untuk memulainya dari penggunaan sumber penghasilan yang telah engkau
lakukan.”
Dengan hal ini pun semua peserta menyetujuinya.

Kemudian Arkad menoleh kepada seorang yang terlihat sederhana yang telah menerangkan bahwa dirinya
adalah pedagang telur. “Apabila engkau isi setiap keranjang telurmu setiap pagi dengan sepuluh butir telur,
kemudian mengeluarkan dan menjual sembilan butir telur setiap petang, setelah beberapa lama apa yang akan
terjadi?”

“Akan banyak sekali sisa telur di rumahku.”

“Mengapa?”

“Setiap hari akau menjual lebih sedikit telur dari yang kukumpulkan, akhirnya aku menyimpan banyak
kelebihan.”

Arkad kemudian melayangkan pandangannya ke seluruh isi kelas dengan tersenyum, bertanya, “Apakah dalam
kelas ini ada yang kantung uangnya kosong?”

Semula mereka melihat hal itu lucu. Kemudian mereka tertawa. Akhirnya mereka tunjukkan kantung uang
mereka dengan penuh canda getir.

“Baiklah,” lanjut Arkad. “Sekarang kuberitahukan padamu obat pertama untuk mengisi kantung uang yang
kosong yang aku telah pelajari. Lakukan seperti apa yang kusarankan pada pedagang telur. Setiap sepuluh
keping uang yang engkau masukkan dalam kantung uangmu, pergunakanlah hanya sembilan untuk keperluan
keseharian kehidupanmu. Kantung uangmu akan segera mulai terisi dan tambahan beratnya yang engkau
rasakan ditanganmu akan seketika terasa menyenangkan hatimu.”

“Jangan remehkan apa yang kukatakan karena kesderhanaannya. Kebenaran itu sangat sederhana. Kukatakan
pada engkau semua akan kuceritakan bagaimana aku menghimpun kekayaanku. Inilah awal dari semuanya.
Saya, juga, dulu memiliki kantung uang yang kosong dan sangat menderita karena dengan begitu tidak ada
kesenanganku yang dapat kupenuhi. Tetapi begitu aku mulai hanya menggunakan sembilan keping uang dari
sepuluh yang kuperoleh, kantung uangku mulai menggembung. Begitupula bisa, bagi engkau sekalian”

“Sekarang akan kuceritakan kebenaran yang cukup aneh, yang alasannya tidak kuketahui. Sejak kukeluarkan
hanya sembilan dari sepuluh yang kuperoleh, kehidupanku biasa-biasa aja, aku bahkan tidak merasa menjadi
lebih berkekurangan apa-apa. Kemudian, tak selang beberapa lama, bahkan uang datang kepadaku lebih mudah
daripada sebelumnya. Sudah pasti itulah ketentuan hukum Para Dewa, bahwa kepada siapa yang menyimpan
sebagian dan menggunakan hanya sebagian tapi tidak seluruh penghasilannya, emas akan datang dengan lebih
lancar. Sebaliknya, orang yang kantung uangnya kosong, akan dihindari emas.”

“Apa yang paling engau inginkan? Apakah kesenangan sehari-hari yang engkau inginkan, perhiasan, sedikit
barang mewah, pakaian bagus, makan lebih banyak; hal-hal yang segera berlalu dan dilupakan? Atau hal-hal
yang lebih bermakna, emas, tanah, ternak, barang dagangan, pengeluaran yang memberikan hasil tambahan?
Keping uang yang engkau keluarkan dari kantung uangmu akan memberikanmu hal-hal yag pertama, keping
uag yang engkau tinggalkan dalam kantung uangmu sebagai simpanan akan memberikanmu hal yang terakhir.”

“Itulah, murid-muridku, obat pertama yang aku temukan bagi menyembuhkan kantung uangku yang kosong :
‘Setiap sepuluh keping yang engkau peroleh, gunakanlah hanya sembilan.’ Bahaslah hal ini sesama peserta di
kelas ini. Apabila ada di antara engkau yang dapat membuktikan ketidakbenarannya, katakan padaku besok
ketika kita bertemu di kelas ini kembali.”

Penyembuh Kedua

Atur dan cermati pengeluaranmu

“Sebagian peserta, murid-muridku, telah bertanya padaku: ‘Bagaimana mungkin seseorang menyimpan
sepersepuluh dari yang diperolehnya dalam kantung uangnya sementara setiap keping uang yang dimilikinya itu
tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya?’” itulah yang pertama kali disampaikan Arkad pada hari
kedua.

“Kemarin ada berapa dari semua murid di sini yang memiliki pundi-pundi yang kosong?”

“Kami semua,” seru seisi kelas.

“Padahal, engkau semua tidak memiliki penghasilan yang sama. Yang satu memperoleh penghasilan yang lebih
besar dari yang lainnya. Sementara ada yang memiliki tanggungan keluarga yang lebih besar dari yang lainnya.
Namun, mengapa semua sama, kantung uangnya kosong? Sekarang biar kunyatakan kebenaran yang tidak biasa
yang dilakukan manusia dan anak cucunya. Yaitu : Apa yang masing-masing dari kita sebutkan ‘pengeluaran
yang penting, yang harus dikeluarkan’ akan senantiasa berkembang sejalan dengan peningkatan penghasilan,
kecuali kita menolaknya dengan melakukan sebaliknya.”

“Jangan campur adukkan pengeluaran penting, yang harus dikeluarkan dengan keinginan hati. Setiap yang hadir
di sini, bersama-sama dengan keluargamu yang berbahagia, memiliki keinginan hati yang jauh lebih besar dari
yang dapat dipuaskan oleh penghasilanmu. Oleh karena itu meskipun seluruh penghasilanmu engkau gunakan
memenuhi keinginan hatimu sebanyak yang dapat diperoleh dengan semua penghasilan itu. Tetap saja engkau
akan masih memiliki keinginan hati yang belum terpenuhi.”

“Setiap orang dibebani keinginan hati yang lebih besar dari yang dapat ia penuhi. Apakah dengan seluruh
kekayaan yang kumiliki saat ini engkau fikir aku akan dapat memenuhi tak terbatasnya keinginan hatiku? Itu
pemikiran yang salah. Pada setiap saat selalu ada batas waktu. Pada setiap kekuatan pasti ada batas kemampuan.
Selalu ada batas jarak yang mampu kutempuh dalam perjalananku. Ada batas jumah yang dapat kumakan.
Begitupula ada batas kepuasan yang kuperoleh dari sebuah kenikmatan.”

“Kukatakan padamu, sebagaimana rerumputan akan bertumbuh di perkebunan apabila para petani meninggalkan
sejumput akar dikebun yang disiangnya, begitulah keinginan hati akan tumbuh dibenakmu apabila ada
kemungkinan tersedianya kemampuan untuk memenuhinya. Keinginan hati sangat banyak ragamnya dan yang
dapat engkau penuhi hanyalah tidak lebih dari sebagian kecilnya.”

“Perhatikan dan pelajari dengan mendalam kebiasaan dalam hidupmu. Disitulah nanti biasanya akan engkau
temukan beberapa pengeluaran tertentu yang biasanya engkau keluarkan sesungguhnya dapat degan bijak
engkau kurangi, bahkan menghilangkannya sama sekali dari daftar pengeluaranmu. Jadikan motto dalam dirimu
bahwa untuk setiap keping uang yang engkau keluarkan harus memberikan nilai seratus persen, tidak ada yang
disia-siakan.”

“Oleh karena itu, coba tuliskan dalam lempeng tanah liat setiap pengeluaran untuk apa yang engkau inginkan.
Pilihlah pengeluaran yang penting, yang harus dikeluarkan dan yang pengeluaran lainnya yang mungkin dapat
engkau penuhi dengan sepersepuluh penghasilanmu. Coret pengeluaran yang lainnya dan pertimbangkanlah
mereka sebagai beragam keinginan hati yang harus pergi tanpa perlu dipenuhi dan tidak perlu disesali.”

“Rencanakan pengeluaran yang penting, yang harus dikeluarkan. Jangan sentuh sepersepuluh yang mengisi
kantung uangmu sebagai simpanan. Jadikanlah kegiatan mengisi kantung uang itu sebagai keinginan hatimu
yang sedang engkau penuhi. Terus hidup dengan rencana itu, dan terus sesuaikan dengan keadaanmu. Jadikan
dia sebagai pengawal yang mempertahankan usaha memenuhkan pundi-pundi uangmu.”

Sampai di sini, seorang murid, mengenakan jubah merah keemasan, berdiri dan bertanya, “Saya orang merdeka.
Saya percaya bahwa adalah hak saya untuk menikmati hal-hal yang baik dan menyenangkan di kehidupan ini.
Jadi saya menentang perbudakan yang dilakukan rencana pengeluaran ini yang membatasi berapa jumah yang
dapat engkau keluarkan dan untuk apa pengeluaran dibolehkan. Saya rasa rencana itu akan mengambil sebagian
besar kenikmatan hidupku dan membuat saya lebih seperti keledai pemanggul beban.”

Kepadanya Arkad meberikan jawaban, “Siapakah, temanku, yang akan menetapkan anggaran itu?”

“Aku akan membuatnya untuk diriku sendiri,” jawab murid yang memberi kritik bantahan tadi.

“Jika begitu, apakah keledai pemanggul tadi merencanakan juga beban yang ia panggul, permata, permadani dan
batangan emas? Tidak begitu, yang direncanakan bukan beban yang akan dipanggul, yang direncanakan
pemanggul tentunya, jerami dan biji-bijain serta kantung-kantung air untuk bekal makan minumnya
diperjalanan.”

“Tujuan perencanaan belanja adalah untuk membantu kita menggemukkan pundi-pundi uang. Untuk membantu
kita memenuhi keperluan mendasar dan, sepanjang dapat dicapai, memenuhi sebagian keinginan hati. Rencana
itu dapat membuat engkau mampu memenuhi keinginan engkau yang utama dengan menjaganya dari grogotan
keinginan yang tidak jelas. Seperti cahaya terang di dalam gua, engkau akan mampu menemukan kebocoran
yang ada pada kantung uangmu dan menutupnya dan mengawasi pengeluaran-pengeluaran untuk hanya hal-hal
yang pasti diperlukan dan pengeluaran yang jelas tujuannya.”

“Dengan itu, kemudian, berlanjut ke penyembuh kedua bagi kantung uang yang kosong. Rencanakan
pengeluaranmu sesuai dengan keping uang yang engkau miliki untuk memenuhi kebutuhan mendasar hidupmu,
membayar hal-hal yang akan menggembirakanmu dan memenuhi keinginan hatimu yang lain sepantasnya
tanpa mengeluarkan lebih dari sembilan per sepuluh dari penghasilanmu.”

Penyembuh Ketiga

Lipatgandakan emasmu

“Lihat, kantung uang yang kosong mulai terisi. Apabila engkau telah mendisiplinan dirimu untuk menyisakan
sepesepuluh dari seluruh penghasilanmu. Engkau telah rencanakan, atur dan cermati pengeluaranmu dan
menjaga perkembangan kekayaanmu. Selanjutnya, kita mulai mempertimbangkan cara untuk mempekerjakan
simpanan itu dan melipatgandakannya. Memiliki emas di pundi-pundi uang memang sangat memuaskan hati,
tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Emas yang terkumpul dalam simpanan kita merupakan awal perkembangan
selanjutnya. Hasil yang akan diberikan emas itu akan menjadi alat yang dapat membantu membangun
keberuntungan kita.” Itu, yang diucapkan Arkad di kelas pada hari ketiga.

“Bagaimana, selanjutnya kita mempekerjakan emas itu? Usaha pertamaku gagal, aku menghabiskan seluruh
simpananku. Ceritanya akan kita bicarakan nanti. Usaha yang pertama kali memberikanku keuntungan adalah
pinjaan yang kuberikan pada Aggar, pembuat tameng. Sekali setahun ia membeli kiriman perunggu yang
dibawa kapal dari seberang laut, yang digunakannya sebagai bahan baku usahanya. Kekurangan modal untuk
membayar pedagang perunggu, ia meminjam pada orang yang berkelebihan uang. Dia orang jujur yang
terhormat. Pinjamannya semua terbayar kembali, ditambah sisa sewa uang, ketika ia berhasil menjual perisai
hasil buatannya.

“Setiap kali, berikutnya ia kuberi pinjaman, kupinjamkan juga sisa sewa uang yang ia bayarkan padaku. Dengan
begitu tidak saja modalku bertambah, hasil dari modal juga memberikan tambahan penghasilan. Sungguh
memuaskan melihat bagaimana semua jumlah penerimaan itu masuk ke pundi-pundi uangku.”

“Kukatakan kepadamu, murid-muridku, kekayaan seseorang bukan dari banyaknya uang yang dibawa dalam
kantung uangnya kesana kemari; tetapi aliran penghasilan yang dibangunnya, aliran emas yang terus menerus
mengalir ke dalam kantung uangnya dan terus menerus membuatnya berkelimpahan. Itulah yang diinginkan
setiap orang. Itulah juga yang engkau, semua yang hadir disini, menginginkannya; penghasilan yang terus
menerus datang meski kamu bekerja atau sedang bepergian.

“Penghasilan yang sangat besar telah kuperoleh. Begitu banyaknya sehingga aku disebut sebagai orang kaya.
Pinjaman yang kuberikan pada Aggar adalah pelajaran pertamaku mengusahakan simpanan yang berhasil.
Berdasarkan pengalaman itu, aku mulai memperluas usaha itu, dan modalku terus meningkat. Dari beberapa
sumber, kemudian bertambah dari lebih banyak sumber, semua mengalir ke dalam kantung uangku, aliran emas
yang tersedia untuk penggunaan lebih lanjut, tetapi tetap harus digunakan dengan pertimbanagn yang
bijaksana.”

“Begitulah, berawal dari penghasilan yang kecil sederhana aku telah memperoleh sepasukan budak emas,
masing-masing budak bekerja dan memberikan hasi emas lebih banyak lagi. Sementara mereka bekerja untuk
saya, anaknya, cucunya, juga menyertai mereka bekerja keras bersama-sama hingga semakin banyak
penghasilan yang kuperoleh dari usaha bersama mereka.”
“Emas akan berkembang dengan cepat, apabila memberikan penghasilan yang memadai seperti yang engkau
dapat lihat dalam cerita berikut ini : Seorang petani, ketika anak petamanya lahir, menyimpan sepuluh keping
perak kepada pemberi pinjaman uang dan meminta dia menyimpannya sebagai modal yang akan disewakan
hingga anaknya mencapai usia dua puluh tahun. Pemberi pinjaman uang ini kemudian setuju melaksanakan hal
itu, dan memberikan sewa seperempat dari modal dalam jangka waktu empat tahun. Sang Petani meminta,
karena uang itu sudah dipersiapkan untuk anaknya, agar sewa yang ia terima dimasukkan sebagai tambahan
modal yang ia tanamkan.”

“Pada saat anak itu mencapai usia dua puluh tahun, Sang Petani berkunjung kembali kepada pemberi pinjaman
uang menanyakan perihal uang peraknya. Pemberi pinjaman uang menjelaskan bahwa karena hasil sewanya
telah ditambahkan pada modal yang semula ia tanam, jumlahnya bertambah lebih cepat, sepuluh keping perak
yang ditanamkan sekarang telah berkembang menjadi tiga puluh setengah keping.”

“Sang Petani cukup puas dengan berita itu dan karena anaknya belum membutuhkan uang, ia menempatkan
kembali semua uang itu pada pemberi pinjaman uang. Ketika anak petani itu berumur lima puluh tahun,
sementara itu sang ayah sudah pergi ke alam arwah, pemberi pinjaman uang mengembalikan modal yang
ditanamkan beserta penghasilannya kepada anak petani itu semuanya sebanyak seratus enam puluh tujuh keping
perak.”

“Jadi, selama lima puluh tahun simpanan itu telah berlipat ganda beserta seluruh hasilnya sebanyak hampir tujuh
belas kali lipat.”

“Ini, kemudian, yang menjadi penyembuh ketiga atas kantung uangmu yang melompong : Pekerjakan setiap
keping kekayaanmu sehingga mereka menghasilkan kekayaan tambahan, bagai pasukan, mereka bekerja
mengalirkan penghasilan bagimu, aliran penghasilan yang tidak ada hentinya ke dalam kantung uangmu.”

Penyembuh Keempat

Jaga hartamu dari kerugian

“Kemalangan sangat senang pada yang berkilau. Kilauan emas yang ada dalam pundi-pundi seseorang harus
dijaga dengan ketat, jika tidak dia akan segera hilang. Jadi, akan sangat bijaksana apabila kita mulai dari belajar
menjaga harta yang sedikit dengan seksama, sebelum Para Dewa memberikan kekayaan yang lebih besar untuk
dijaga.” Ucap Arkad, pada hari keempat di kelas.

“Setiap pemilik emas akan selalu digoda berbagai kesempatan yang terlihat akan memberikannya hasil yang
menggiurkan dalam bidang usaha yang terlihat sangat dapat dilaksanakan. Terkadang, sahabat bahkan keluarga
bahkan mendukung usaha itu dan menganjurkan kita untuk terjun melaksanakannya.”

“Hal pertama dan yang utama dalam menjalankan usaha adalah keamanan atas modal yang ditanamkan. Apakah
baik apabila tergoda oleh penghasilan yang lebih besar apabila ada kemungkinan modal yang ditanamkan akan
hilang? Aku bilang tidak. Hal terburuk yang akan dihadapi dalam menjalankan usaha adalah kerugian. Pelajari
dengan seksama, sebelum menanamkan kekayaanmu pada suatu usaha, yakinkan dirimu bahwa modal yang
ditanamkan dapat kembali dengan selamat. Jangan tertuntun oleh bayangan keinginan hati yang indah tentang
menghimpun kekayaan dengan cepat.”

“Sebelum memberikan pinjaman kepada seseorang, yakinkan dirimu akan kemampuannya untuk membayar
kembali dan bahwa dia memiliki reputasi yang cukup baik untuk itu, agar jangan engkau menjadi seolah-olah
memberikannya hadiah dari simpanan yang telah engkau himpun dengan bersusah payah.”

“Sebelum engkau menanamkan modalmu pada bidang usaha apapun kenalilah terlebih dahulu bahaya-bahaya
yang mengintai dalam menjalankannya.”

“Penanaman modalku yang pertama merupakan suatu tragedi pada saat itu. Simpanan yang kujaga dan himpun
selama setahun yang kupercayakan kepada seorang tukang bata, bernama Azmur, yang bepergian ke negeri di
sebarang lautan, dan di Tyre disepakati ia akan membelikanku permata langka dari Phunisia. Permata itu akan
kami jual di Babilonia sekembalinya dari perjalanan itu, dan keuntungannya akan kami bagi bersama. Orang
Phunisia memang penipu, mereka menjual kepadanya sepotong kaca yang terlihat bagai permata. Habis
simpananku. Hari ini, usaha itu telah mengajarkanku bahwa betapa bodohnya memberikan kepercayaan kepada
tukang batu untuk berdagang permata.”

“Oleh karena itu, kuajarkan kepada engkau semua kebijakan yang telah kuperoleh dari pengalaman-
pengalamanku : jangan terlalu yakin terhadap hasil buah pikiranmu dalam hal menanamkan kekayaanmu,
perhatikan kemungkinan-kemungkinan buruknya. Jauh lebih baik kalau engkau meninta nasihat kepada
seseorang yang sudah berpengalaman dan berhasil dalam menjalankan usaha. Nasihat seperti itu akan dengan
diberikan dengan cuma-cuma dan akan bernilai setara dengan emas yang sama nilainya dengan modal yang
akan engkau tanam. Nilai yang sesungguhnya dari nasihat adalah menyelamatkan engkau dari derita kerugian.”

“Inilah penyembuh keempat kantung uang yang kosong yang sangat penting, ia akan menjaga kantung uangmu
dari kehilangan isinya setalah engkau berhasil menggemukkannya. Jaga kekayaanmu dari kerugian dengan
cara menanamkannya hanya dalam usaha yang seluruh modalnya aman dan dapat engkau tarik kembali
senadainya usah tersebut tidak menguntungkan. Berkonsultasilah dengan orang-orang bijak. Gunakan nasihat
dari orang yang telah menunjukkan keberhasilan dalam menangani emas. Jadikan kebijaksanaan mereka
menjaga kekayaanmu dari penanaman modal yang tidak aman.”

Penyembuh Kelima

Jadikan tempat tinggalmu sebagai penanaman modal yang menguntungkan

“Apabila seseorang telah menyisihkan untuk disimpan sepersepuluh dari penghasilannya, dan dia dapat hidup
dengan sembilan bagian sisanya dengan hidup yang berkecukupan dan dari sembilan per sepuluh itu masih ada
tersisa untuk dipergunakan sebagai modal usaha yang menguntungakan tanpa mengurangi keadaan
kehidupannya, maka kekayaannya akan dapat lebih cepat berkembang,” itulah yang dikatakan Arkad pada
pelajaran kelimanya.

“Sangat banyak penduduk Babilonia ini yang hidup berumahtangga dalam rumah-rumah petak. Mereka
membayar sewa yang cukup tinggi pada pemilik rumah untuk ruangan kecil yang tidak ada tempat secuilpun
tersisa bagi istri-istri mereka untuk menanam bunga yang akan menggembirakan hati mereka dan tidak tersedia
pula tempat bagi anak-anak mereka bermain kecuali dalam gang-gang yang sempit.”

“Tidak ada satu keluargapun akan hidup dengan penuh kenyamanan kecuali ada tersedia lapangan bagi anak-
anak untuk bermain dan sepetak kebun bagi istrinya untuk tidak hanya menanam bunga, tetapi juga sedikit
sayuran dan buah yang hasilnya dapat digunakan sebagai tambahan menu keluarga.”

“Bagi hati seorang lelaki hal itu menambah kebahagiaan, memakan sayuran segar dan anggur
dari kebun sendiri. Memiliki rumah sendiri yang dengan senang hati dirawat, menambah kebanggaan dalam
hatinya dan akan semakin mendorong kegiatan usahanya. Oleh karena itu, aku sangat menyarankan agar setiap
orang memiliki atap tempat mereka berlindung.”

“Memiliki rumah bukanlah hal diluar kemampuan seseorang yang sangat bersungguh-sungguh. Bukankah Sang
Raja telah memperluas wilayahnya dengan membangun tembok kota yang baru yang mencakup wilayah yang
lebih luas yang didalamnya masih banyak tersisa tanah yang belum sepenuhnya terpakai, yang dapat dibeli
dengan harga yang sedikit lebih terjangkau?”

“Juga, kukatakan kepadamu, murid-muridku, pemberi pinjman uang akan dengan senang hati memberikan
pinjaman untuk kepentingan pembelian tanah dan pembangunan rumah di atasnya. Engkau bisa meminjam uang
untuk kepentingan yang bernilai seperti membayar pembuat bata dan kuli bangunan, apabila engkau sendiri
dapat menunjukkan ada bagian dana yang cukup memadai yang engkau tanggung sendiri.”

“Kemudian apabila rumah tersebut sudah jadi, engkau dapat membayar utang-utangmu secara teratur
sebagaimana engkau dahulunya membayar sewa rumah petakmu. Karena setiap pembayaran akan mengurangi
jumlah utangmu, dalam jangka waktu beberapa tahun utang-utang itu akan segera lunas.”
“Setelah itu barulah engkau akan merasakan kegembiraan memiliki rumah sendiri yang sangat bernilai, dan
biaya yang engkau keluarkan untuk itu hanya tinggal pajak yang engkau harus bayarkan kepada Sang Raja.”

“Juga, apabila istrimu pergi ke sungai untuk mencuci pakaian, ia akan pulang dengan kantung kulti kambing
berisi air yang akan dapat dia gunakan untuk menyirami tanaman di kebunnya.”

“Akan sangat banyak berkah yang akan datang pada seseorang yang memiliki rumah sendiri. Rumah itu akan
menghindarkannya dari beban sewa dan itu sangat mengurangi biaya hidupnya, membuat tersedia dana yang
lebih besar bagi meningkatkan taraf kehidupannya. Inilah yang menjadi penyembuh kelima kantong uang yang
kosong :Miliki rumah sendiri.”

Penyembuh Keenam

Jamin penghasilanmu di masa depan

“Hidup setiap orang beranjak dari masa kecilnya hingga sampai usia renta. Itulah jalan kehidupan yang tidak
ada seorangpun akan mempu menghindarinya kecuali Para dewa memanggilnya lebih awal ke dunai para arwah.
Oleh karena itu kukatakan bahwa seharusnyalah seseorang : membuat persiapan untuk memperolah penghasilan
yang memadai bagi masa depannya, apabila ia tidak lagi muda, dan : membuat persiapan bagi keluarganya
apabila mereka tidak lagi bersama mereka untuk memberi nafkah. Pelajaran ini akan mengharuskan engkau
semua untuk mempersiapkan kantung uang yang penuh berlimpah sebelum kemampuanmu memperoleh
penghasian surut sepanjang meningkatnya usia.” Arkad menympaikan hal itu di kelasnya pada hari keenam.

“Orang yang, karena faham akan hukum kekayaan, akan memperoleh peningkatan perkembangan
penghasilannya, harus memikirkan masa depannya. Ia harus merencanakan cara menanamkan modal
simpanannya untuk cadangan yang diperkirakan akan tahan melalui jangka waktu yang cukup lama, dan akan
tersedia baginya apabila diperlukan sesuai waktu yang diperkirakannya.”

“Ada berbagai cara yang dapat ditempuh seseorang untuk memperoleh jaminan penghasilan di masa depannya.
Dia dapat mencari tempat rahasia dan menanamkan emas peraknya di tempat itu, namun begaimanapun ahlinya
ia menyembunyikan hartanya paling tidak akan menjadi incaran penjarah. Dengan alasan ini aku tidak
menyarakan melakukan hal itu.”

“Seseorang dapat membeli tanah dan rumah dengan hartanya untuk tujuan ini. Apabila dilakukan dengan
petimbangan yang tepat, nilai tanah dan rumah itu di masa yang akan datang akan terjaga, dan penghasilan yang
dapat diperoleh darinya di masa yang akan datang lebih dapat diharapkan.”

“Yang lainnya dapat menanamkan uangnya sebagai modal pada pemberi pinjaman uang sehingga jumlahnya
terus bertambah dari waktu ke waktu. Sewa uangnya ditambahkan sebagai tambahan modal yang ditanamkan
akan lebih meningkatkan penghasilannya. Aku mengenal pembuat sandal, bernama Arsan, yang menjelaskan
padaku belum lama berselang, bahwa setiap minggu selama delapan tahun ia telah menempatkan dua keping
perak sebagai modal pada pemberi pinjaman uang. Pemberi pinjaman uang telah mengembalikan kepada Arsan
perhitungan penanaman modalnya yang sangat menyenangkan hati Arsan. Jumlah penanaman kecilnya, dua
keping perak setiap minggu dan hasil sewa uangnya yang disetujui sebesar seperempat nilainya setiap empat
tahun, sekarang telah menjadi seribu empat puluh keping perak.”

“Aku dengan bersemangat menganjurkan Arsan utnuk terus melanjutkan apa yang telah ia lakukan dengan
menunjukkan nilai simpanannya dalam dua belas tahun ke depan, berdasarkan perhitunganku, apabila ia tetap
melanjutkan penanaman tiap minggunya, pemberi pinjaman uang itu akan memperhitungkan penanaman modal
Arsan sebesar empat ribu keping perak, jumlah yang cukup untuk mebuatnya sejahtera seumur hidupnya.”

“Yakinlah, penanaman kecil yang dibuat terus menerus akan memberikan hasil yang menguntungkan, tidak ada
orang yang mengharapkan akan mendapatkan masa tuanya atau masa depan keluarganya tidak terjamin,
seberapa berhasil usahanya dan seberapa menguntungkan penanaman modalnya kini.”

“Kulanjutkan dengan bahasan lebih mendalam berkenaan dengan hal ini. Dalam pikiranku, aku percaya bahwa
suatu hari nanti orang-orang yang bijaksana akan menciptakan sesuatu rencana yang akan menjamin
penghasilan di masa depan apabila sesorang meninggal, penghasilan tersebut di dukung oleh banyak sekali
orang yang akan membayarnya dalam jumlah yang sedikit secara teratur, sehingga jumlah yang cukup beasar
akan dapat diterima oleh keluarga yang ditinggalkan ke alam arwah. Hal inilah yang menurut pendapatku sangat
bisa diterima dan sangat kuanjurkan untuk dilakukan. Tetapi saat ini hal itu tidak mungkin dilakukan karena
kegiatan itu harus berlanjut melebihi umur manusia bahkan melebihi usia kegiatan usaha-usaha yang selama ini
ada di Babilonia. Kegiatan atas usaha seperti itu haruslah berusia panjang dan dapat bertahan lama seperti usia
sebuah kerajaan. Suatu hari aku yakin hal ini akan ada yang melaksanakannya karena sangat bermanfaat bagi
banyak orang, karena meski dengan pembayaran berkala yang kecil, ia akan menyediakan penghasilan yang
cukup besar bagi keluarga yang ditinggalkan ke alam arwah.”

“Tetapi, karena kita hidup di masa kita sendiri, bukan di masa yang akan datang, kita hanya dapat manfaatkan
setiap bentuk jalan yang tersedia saat ini bagi mencapai tujuan kita. Oleh karena itu aku menyarankan kepada
setiap orang, agar mereka, dengan cara yang bijak dan yang telah difikirkan dengan mendalam, mempersiapkan
diri bagi kosongnya kantung uang mereka di masa-masa hidupnya menjelang senja. Karena kantung uang yang
kosong bagi orang yang sudah tidak lagi mampu menghasilkan pendapatan, karena tuanya, atau keluarga yang
ditinggalkan karena telah mendahuluinya, sangat merupakan tragedi yang pahit.”

“Inilah, penyembuh keenam bagi kantung uag yang kosong. Persiapkan sedini mungkin bagi kebutuhan masa
tuamu dan persiapkan juga perlindungan bagi keluargamu.”

Penyembuh Ketujuh

Tingkatkan kemampuan memperoleh penghasilan

“Hari ini kukatakan kepadamu, murid-muridku, tentang satu penyembuh utama bagi kantung uangmu yang
kosong. Tetapi, aku tidak membicarakan tentang uang dan kekayaan, aku akan mebicarakan tentang dirimu,
tentang seseorang di balik jubah beraneka warna yang duduk didepanku sat ini. Aku akan menyampaikan
kepadamu tentang fikiran dan kehidupan seseorang yang mendukung atau menghambat keberhasilan mereka.”
Begitulah Arkad membuka perckapan di depan kelasnya pada hari ketujuh.

“Beberapa wkatu yang lalu datang kapadaku seorang anak muda mengajukan pinjaman uang. Ketika
kutanyakan kepadanya keperluan apa yang mendesaknya melakukan pinjaman uang, ia mengeluhkan tentang
penghasilannya yang tidak dapat memenuhi biaya hidupnya. Selanjutnya kujelaskan kepadanya, apabila begitu
keadaannya, ia merupakan pelanggan yang buruk bagi pemberi pinjaman uang, karena ia tidak memiliki
kelebihan uang atas seluruh penghasilannya, dan pasti tidak akan mampu membayar kembali pinjaman itu.”

“’Apa yang engkau perlukan, anak muda,’ kukatakan padanya, ‘adalah berusaha memperoleh penghasilan yang
lebih banyak. Apa yang akan engkau lakukan untuk mendapat penghasilan tambahan?’

“’Apa yang bisa kulakukan,’ jawabnya. ‘Enam kali dalam dua purnama saya sudah meminta pada tuanku untuk
menambah penghasilanku, tapi tidak pernah dikabulkan. Tidak ada orang yang lebih sering dari diriku meminita
tambahan penghasilan.’”

“Kita tersenyum mendengar kesederhaan ini, namun anak muda itu memiliki sesuatu persyaratan yang utama
bagi usaha meningkatkan penghasilannya. Dalam dirinya ada keinginan hati yang kuat untuk mendapatkan
penghasilan yang lebih besar, sebuah niat yang pas dan sangat dianjurkan untuk dimiliki.”

“Pencapaian selalu didahului dengan keinginan hati. Keinginan hatimu harus kuat dan jelas.” Keinginan hati
yang umum, tidak jelas, merupakan angan-angan semata. Seseorang yang berkeinginan untuk menjadi orang
kaya, keinginan hati itu tidak berguna sama sekali. Tetapi, apabila seseorang berkeinginan untuk memperolah
lima keping emas, itu baru jelas dan dapat diusahakannya untuk dipenuhi. Setelah ia tekadkan tujuannya untuk
memperoleh lima keping emas, selanjutnya ia akan dapat melakukan hal yang serupa untuk memperoleh
sepuluh, kemudian untuk dua puluh keping dan berikutnya seribu keping dan, tanpa disadari, ia telah menjadi
kaya. Dengan belajar mencapai tujuan hatinya yang kecil, ia telah melatih dirinya untuk mencapai tujuan lain
yang lebih besar. Itulah proses yang akan menghimpun kekayaan bersamanya: pertama dalam jumlah sedikit,
selanjutnya dalam jumlah yang lebih besar sejalan dengan perkembangan orang itu belajar dan akhirnya menjadi
pengusaha yang lebih berkemampuan dan tangguh.”
“Keinginn hati harus sederhana dan jelas. Tujuannya menjadi tidak jelas kalau terlalu banyak dan ruwet atau di
luar kemampuan orang tersebut untuk mencapainya.”

“Ketika seseorang meningkatkan dan menyempurnakan kemampuannya begitu pula kemampuannya untuk
memperoleh penghasilan akan ikut meningkat. Dahulu pada saat awal aku menjadi penulis lempeng tanah liat,
kuhasilkan beberapa keping perunggu sehari, kuperhatikan pekerja lain ada yang melakukan hal yang lebih baik
dan berpenghasilan lebih banyak dariku. Lalu, aku bertekad untuk berusaha memperoleh penghasilan yang tidak
bisa dilebihi dari pekerja lainnya. Tidak terlalu lama bagiku untuk mengetahui apa penyebab mereka
memperoleh keberhasilan. Minat yang lebih banyak pada pekerjaanku, lebih tekun malakukan tugasku,
bersungguh-sungguh dalam usahaku, akhirnya, tidak ada orang yang dapat menulis lempeng lebih banyak dari
yang aku tulis dalam satu hari. Bersamaan dengan meningkatnya keahlianku penghasilanku pun bertambah
dengan sendirinya, tanpa perlu aku enam kali mendatangi tuanku untuk meminta tambahan penghasilan.”

“Semakin banyak ilmu yang kita miliki, semakin besar yang dapat kita hasilkan. Orang yang mencari keahlian
dan belajar lebih banyak dalam bidang usahanya akan diganjar dengan penghasilan yang lebih besar. Apabila
dia seniman, ia akan belajar cara-cara dan alat-alat yang paling baik dalam bidangnya. Apabila dia bergerak di
bidang hukum atau pengobatan, ia akan berkonsultasi dan bertukar pikiran dengan ahli di bidangnya. Apabla ia
pedagang, ia akan terus mencari barang yang lebih baik yang dapat dibeli dengan harga yang lebih rendah.”

“Kehidupan dan ilmu seseorang selalu berubah dan menjadi lebih baik karena orang ingin selalu mencari
keahlian yang labih sempurna, agar dapat memberikan sesuatu yang lebih baik pada lawan usahanya, itu yang
sangat ia perlukan. Oleh karena itu kuminta agar setiap orang untuk selalu berada di baris terdepan dalam gerak
kemajuan di bidangnya masing-masing, jangan berhenti, kalau tidak ia akan tertinggal di belakang.”

“Bayak hal yang dihadapi seseorang yang dapat memperkaya hidupnya dengan perolehan pengalaman. Hal-hal
yang berikut ini, adalah hal yang musti dilakukan seseorang apabila ia ingin menghargai dirinya sendiri :

“Ia harus membayar utangnya tepat waktu sesuai dengan kemampuannya, tidak membeli susuatu yang tidak
mampu ia bayar.”

“Ia harus menjaga keluarganya sehingga mereka akan mengatakan hal yang baik tentang dia.”

“Ia harus membuat catatan warisan tertulis agar, dalam hal Para Dewa memanggilnya, pembagian
kekayaannya dapat dilakukan dengan tanpa pertikaian.”

“Ia harus memiliki rasa kasihan pada orang yang terluka atau tertimpa bencana dan membantu mereka dalam
batas-batas yang wajar. Dia juga harus melakukan hal-hal yang baik sepenuh hati bagi orang-orang yang
bersikap baik kepadanya.”

“Jadi, penyembuh ketujuh bagi kantung uang yang kosong adalah tanam dan pupuk kekuatanmu, terus belajar
dan menjadi lebih bijaksana, menjadi lebih ahli di bidangnya, dan bertindak sebagaimana engkau menghargai
dirimu sendiri. Dengan begitu engkau akan memperoleh kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam usaha
mencapai keinginan hatimu yang telah engkau tetapkan dengan seksama.”

====

“Itulah ketujuh penyembuh kantung uang yang kosong, yang, dirangkum dari pengalaman panjang kehidupan
yang berhasil, yang sangat kuanjurkan pada orang yang ingin mencari kekayaan.”

“Di Babilonia ini sangat banyak sekali emas, murid-muridku, lebih banyak dari yang engkau pernah bayangkan.
Semuanya berlimpah ruah.”

“Berusahalah engkau menerapkan kebenaran ini, maka engkau akan sejahtera dan menjadi kaya raya, karena itu
memang hakmu.”

“Berusahalan engkau dan ajarkan pengetahuan ini agar setiap warga kerajaan ini dapat juga hidup
berkecukupan, tidak kurang suatu apa, dan hidup penuh berkelimpahan di kota kita tercinta ini.”
IV : BERTEMU MUKA DENGAN DEWI KEBERUNTUNGAN

BERTEMU MUKA DENGAN DEWI KEBERUNTUNGAN

”Apabila seseorang beruntung, tidak ada yang


dapat memperkirakan sampai seberapa jauh,
seberapa besar keberuntungannya. Benamkan
dia ke dalam Sungai Furat, dan tanpa diduga
dia akan muncul berenang ke tepian dengan
mutiara di tangannya.”

- Pepatah Babilonia

Keinginan untuk mendapat keuntungan merupakan hal yang manusiawi dan lumrah. Sama kuatnya hasrat itu di
dalam dada orang-orang Babilonia pada masa ribuan tahun lalu dengan di dalam hati orang-orang yang hidup
pada zaman kini. Kita semua mengharapkan dalam hidup ini akan selalu disentuh berkah dewi keberuntungan.
Apakah ada cara, bagaimana agar kita dapat menemuinya dan menarik, tidak hanya perhatiannya, tetapi juga
berkah yang menyertainya?

Apakah ada cara untuk menarik perhatian dewi keberuntungan?

Itulah yang justru ingin diketahui oleh orang-orang Babilonia pada masa itu. Itulah yang sebenarnya mereka
putuskan untuk ditelusuri. Mereka orang-orang cerdas dan pemikir tangguh. Itulah juga, yang dapat menjelaskan
mengapa kota mereka dikenal sebagai kota terkaya dan terkuat pada masa itu.

Pada masa dahulu, yang sudah lama sekali itu, tidak ada sekolah ataupun perguruan tinggi. Kendatipun
demikian, mereka memiliki pusat pembelajaran yang sangat mendukung perkembangan ilmu dan kehidupan. Di
antara menara dan bangunan tinggi di Babilonia terdapatlah satu bangunan penting yang setara pentingnya
dengan Istana Sang Raja, Taman Gantung dan Kuil Para Dewa. Engkau tidak menemukan bangunan itu ditulis
dalam buku-buku sejarah, besar kemungkinan tidak pernah disebut sama sekali, namun demikian, ia
memberikan pengaruh yang luar biasa pada kehidupan keilmuan dan kesejahtearan masyarakat pada masa itu.

Gedung itu adalah Kuil Pembelajaran, tempat kebijaksanaan masa lalu dipelajari dan dibahas oleh para guru
yang penuh minat dan tempat masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat pada saat itu dibahas bersama
dalam majelis terbuka. Dalam lingkungan dinding kuil itu semua orang dianggap setara. Budak-budak sederhana
sekalipun dapat menyanggah, dengan bebas tanpa rasa takut, pendapat seorang pangeran dari keluarga kerajaan.

Di antara orang-orang yang sering berulang kali berkunjung ke Kuil Pembelajaran itu, ada seorang kaya yang
bijaksana bernama Arkad, yang digelari orang terkaya di Babilonia. Arkad memiliki ruangan khusus, yang
hampir setiap petang serombongan orang, sebagian sudah cukup tua, sebagian masih remaja, sebagian besar
berumur setengah baya, berkumpul untuk membahas, mendiskusikan dan saling berdalil atas hal-hal yang
menarik perhatian mereka. Disanalah, seandainya dapat, akan kita dengar pembicaraan yang membahas
mengenai cara memperoleh nasib baik.

Mentari baru saja terbenam seperti bola api merah memancarkan sinarnya menembus kabut senja yang tersaput
debu gurun ketika Arkad melangkah menuju undak-undak tempat ia biasanya duduk. Sudah ada delapan puluh
orang menunggu kedatangannya, bersimpuhan pada ambal kecil beratur di atas lantai. Masih ada lagi beberapa
peserta lain yang datang kemudian.

“Apa yang akan kita bicarakan malam ini,” tanya Arkad.

Dengan sedikit ragu, seorang penenun permadani yang jangkung mengajukan pendapatnya, seraya berdiri,
sesuai kebiasaan di situ. “Saya mempunyai satu masalah yang sangat ingin agar dapat dibicarakan dalam majelis
ini, namun ragu menawarkannya karena khawatir akan terasa lucu dan remeh bagimu, Arkad, dan semua
sahabat baikku di sini.”

Karena di dorong-dorong oleh Arkad, dan beberapa peserta lainnya, ia melanjutkan. “Hari ini saya sangat
beruntung, karena saya menemukan sekantung uang yang di dalamnya terdapat keping-keping emas. Untuk
terus mendapatkan keberuntungan seperti ini sangat saya inginkan. Saya kira semua orang akan berfikiran sama
dengan saya. Jadi kutawarkan agar kita membicarakan bagaimana caranya agar keberuntungan datang
mengunjungi kita atau dapat menemukan cara membujuk keberuntungan mendatangi seseorang.”

“Sebuah masalah yang sangat menarik sudah diajukan,” timbal Arkad, “sesuatu yang cukup bernilai untuk kita
bahas di sini. Bagi sebagian orang, nasib baik dikatakan sebagai kejadian yang, bagaikan kecelakaan, akan
diperoleh seseorang begitu saja tanpa tujuan dan tanpa alasan. Sebagian lainnya percaya penganugerah semua
keberuntungan itu adalah dewi paling dermawan kita, Ashtar, yang akan selalu siaga menganugerahkan hadiah
dengan murah hatinya pada siapa saja yang menyenangkan hatinya. Berbicaralah, sahabat-sahabatku, bagaimana
pendapatmu, kita akan mencari tahu apakah ada cara agar nasib baik dapat kita bujuk untuk mengunjungi kita
semuanya?”

“Ayo! Ya! Boleh!” tanggap kelompok yang terus bertambah yang terlihat begitu ingin mendengarkannya.

Arkad melanjutkan, “Untuk memulai pembicaraan kita, ada baiknya kita mendengar dari orang-orang yang
hadir di sini yang pernah mengalami pengalaman yang sama yang telah dialami penenun permadani,
menemukan atau menerima benda berharga atau perhiasan, dengan tanpa usaha apapun yang dilakukan.”

Keadaan menjadi hening sejnak, setiap orang saling toleh menoleh menunggu sesorang menjawabnya tetapi
tidak seorangpun yang unjuk diri.

“Wah, tidak seorangpun?” tanya Arkad, “jadi, jarang sekali terjadi nasib baik seperti itu. Apakah ada, siapa,
sekarang yang dapat memberi saran kemana kita akan mencari lebih jauh, guna mendalami masalah ini?”

“Nah, kalau begitu boleh lah,” kata seorang anak muda yang berjubah lumayan bagus seraya berdiri. “Apabila
seseorang mebicarakan masalah nasib baik, bukankah sama halnya dengan orang yang fikirannya tertuju pada
meja perjudian? Bukankah di sana dapat kita jumpai banyak orang-orang yang mengharapkan dewi
keberuntungan menganugerahkannya hasil yang berlimpah?”

Ketika ia kembali duduk seseorang menegahnya, “Jangan berhenti! Lanjutkan ceritamu! Ceritakan pada kami,
bukankah engkau mengharapkan keberuntunggan sang dewi di atas meja judi? Apakah sang dewi
menggelindingkan dadu sesuai dengan yang engkau perkirakan sehingga engkau dapat mengalahkan sang
bandar, atau sebaliknya dia memenangkan bandar sehingga keping-keping perak yang kau peroleh dengan susah
payah ludes di sana?”

Anak muda itu ikut tertawa bersama orang yang hadir di majelis itu, kemudian menjawab, “Saya tidak
membantah, bahwa, kelihatannya Sang Dewi bahkan tidak tahu saya ada di meja judi itu. Tidak pernah menang.
Bagaimana dengan saudara-saudara semua? Apakah engkau menemukan dia menunggumu di tempat perjudian
itu untuk membantumu memperoleh keuntungan dari perjudian? Saya sangat ingin mendengarnya sekaligus
ingin mempelajarinya.”

“Permulaan yang bagus,” tukas Arkad. ”Kita berkumpul di sini utnuk mempertimbangkan segala sisi pertanyaan
atas masalah yang kita bahas. Mengabaikan meja judi sama saja artinya mengabaikan hasrat asli setiap orang,
kesenangan untuk mengambil kesempatan dengan sedikit keping perak dengan harapan memenangkan sejumlah
besar keping emas.”

“Percakapan tentang judi ini mengingatkanku pada pacuan kereta kuda kemarin,” ujar seseorang pendengar.
“Apabila Sang Dewi mengunjungi rumah judi, tentunya ia juga tidak melewatkan pacuan kereta yang berkilau
dan kuda-kuda dengan mulut berbusa yang bahkan memberikan lebih banyak hiburan. Katakan pada kami apa
adanya, Arkad, apakah Sang Dewi membisikkan padamu agar engkau menempatkan taruhanmu pada kuda abu-
abu dari Niniveth kemarin? Aku berdiri tepat di belakangmu dan sangat tidak percaya engkau berani
menempatkan taruhanmu pada kuda abu-abu itu. Padahal engkau lebih tahu, sama seperti yang kami ketahui,
bahwa tidak ada peserta dari seluruh Assiria yang dapat mengalahkan kuda pacuan Babilonia dalam setiap
pacuan.”
“Apakah dewi keberuntungan membisikkan padamu untuk memilih kuda abu-abu karena pada belokan terakhir
kuda hitam akan terbalik dan menghalangi lajur kuda pacuan Babilonia sehingga kuda abu-abu dapat
memenangkan pacuan itu meski kemampuannya diragukan?”

Arkad tersenyum dengan senangnya pada orang yang menggodanya itu. “Apa alasan kita untuk percaya bahwa
Sang Dewi akan sangat tertarik pada taruhan yang kita pasang pada pacuan kereta kuda? Bagiku Sang Dewi
adalah dewi cinta dan kehormatan yang kesenangannya membantu siapapun yang memerlukan bantuan dan
memberikan anugerah kepada siapapun yang layak menerimanya. Aku mencarinya, bukan dimeja judi atau
pacuan kuda, tempat lebih banyak orang kehillangan keping-keping emas dari pada mendapatkannya, tetapi di
tempat lain, tempat orang-orang berkarya diberikan nilai lebih pada hasil kerjanya dan lebih pantas diberikan
anugerah.”

“Tempat petani membajak tanah, pedagang berdagang dengan jujur, dan dalam setiap bidang pekerjaan, selalu
ada kesempatan memperoleh penghasilan dari kegiatan usaha. Mungkin tidak setiap waktu mereka akan
memperoleh anugerah karena kadang-kadang tindakannya mungkin keliru dan kala lainnya angin dan cuaca
mengalahkan usahanya. Namun, apabila mereka tekun, mereka biasanya akan dapat mengharapkan hasil yang
baik, Hal ini jelas, bahwa kesempatan memperoleh penghasilan selalu ada di fihak yang selalu berusaha.

“Tetapi, apabila seseorang berjudi, keadaannya menjadi terbalik, karena kesempatan memperoleh keuntungan
baginya jauh lebih kecil dari pada kesempatan bandar memperoleh keuntungan. Permainan itu telah diatur
sedemikian rupa sehingga akan selalu menguntungkan sang bandar. Itulah usahanya, yang telah direncanakan
secara cermat sehingga dapat memberikan keuntungan dari keping-keping yang dipertaruhkan para penjudi.
Hanya sedikit penjudi yang menyadari betapa pastinya keuntungan bagi bandar dan betapa tidak pastinya
kemungkinan penjudi untuk menang.”

“Sebagai contoh, coba kita pelajari penjudi yang bermain dadu. Setiap kali dadu digelindingkan kita
menempatkan pasangan untuk angka yang muncul di atas. Apabila angka tersebut cocok dengan yang
dipertaruhkan kita memperoleh bayaran empat kali jumlah yang dipertaruhkan. Apabila selain angka itu yang
muncul, kita kalah, keping yang kita pertaruhkan hilang. Kalau kita perhitungkan angka-angka yang muncul,
maka setiap putaran dadu kita memiliki lima kemungkinan rugi, tetapi karena kecocokan angka dibayar empat
kali lipat, kita memperoleh kemungkinan menang hanya empat kali. Setiap malam perjudian sang bandar dapat
mengharapkan memperoleh keuntungan seperlima dari seluruh keping yang dipertaruhkan. Dapatkah seseorang
berharap memperoleh keuntungan lebih dari sekali-sekali menghadapi kecilnya kemungkinan yang telah
dirancang agar penjudi akan mengalami kerugian seperlima dari taruhannya?”

“Memang betul itu, tetapi, beberapa orang memperoleh kemenangan yang cukup besar sesekali,” ujar salah
seorang pendengar.

“Benar, mereka menang,” lanjut Arkad. “Menyadari hal ini, pertanyaan berikut muncul di kepalaku, apakah
uang yang diperoleh dengan cara itu memberikan nilai yang langgeng pada yang memperoleh keberuntungan
itu. Di antara kenalanku, banyak yang merupakan orang berhasil di Babilonia, tetapi di antara mereka aku tidak
dapat menemukan seorangpun yang bagian dari keberhasilannya diperoleh dari sumber seperti itu.”

“Engkau yang berkumpul di majelis ini, malam ini, mungkin mengenal lebih banyak lagi warga masyarakat
yang berada. Akan sangat menarik bagiku untuk mengetahui apabila ada beberapa warga yang berhasil itu
memperoleh kekayaannya mereka himpun dari meja judi. Coba, setiap yang hadir, sebutkan siapa yang engkau
ketahui? Bagaimana?”

Setelah beberapa masa hening, seorang yang biasanya suka bercanda memecah kesunyian, “Apakah yang
engkau tanyakan termasuk Sang Bandar?”

“Kalau engkau tidak dapat menemukan yang lain,” sahut Arkad. “Apabila tidak seorangpun di antara engkau
dapat menyebutkan yang lain, bagaimana dengan dirimu sendiri? Apakah ada yang terus menerus memperoleh
kemenangan sehingga agak enggan menyebutkan sumber kekayaannya?”

Tantangannya dijawab oleh beberapa gerutuan dari barisan belakang dan menjalar menjadi bahan tertawaan.

“Kelihatannya kita tidak mencari nasib baik pada tempat semacam itu, sebagai tempat yang selalu dikunjungi
Sang Dewi,” lanjutnya. “Jadi, mari kita jelajahi tempat lainnya. Kita tidak menemukan Sang Dewi pada orang
yang menemukan kantung uang yang hilang. Tidak juga kita temukan di meja perjudian. Atau, juga, di
pertaruhan pacuan kereta kuda, harus kuakui, di pacuan itu, aku lebih banyak kehilangan keping emas perakku
dari pada memenanginya.”

“Sekarang, coba kita pertimbangkan kegiatan dan usaha kita masing-masing. Bukankah kita tidak menganggap
kegiatan usaha yang menguntungkan sebagai nasib baik melainkan sebagai hasil kerja keras kita semata? Aku
cenderung menganggap kita telah mengabaikan nasib baik yang kita peroleh sebagai anugerah Sang Dewi.
Mungkin dia benar-benar telah membantu kita apabila kita tidak menghargai kedermawanannya. Siapa yang
ingin meneruskan pembicaraan lebih lanjut majelis ini?’

Berdirilah seorang saudagar tua, sambil merapikan jubah putihnya yang indah. “Dengan izin engkau, sahabatku
yang mulia, Arkad, aku mengajukan tawaran. Bila, seperti yang engkau telah katakan, kita mengganggap
keberhasilan kita sebagai hasil usaha dan kerja keras kita sendiri, mengapa tidak kita amati keberhasilan yang
nyaris kita peroleh, namun gagal terjadi, yang seharusnya dapat memberikan kita keuntungan yang lumayan.
Pasti akan sangat jarang contoh-contoh nasib baik apabila kita tidak pernah gagal dan selalu berhasil dalam
berusaha. Karena apabila tidak ada penghasilan yang kita peroleh dari usaha kita maka kita akan mengganggap
kegagalan itu bukan imbalan usaha kita. Pasti banyak yang hadir di sini memiliki pengalaman serupa itu untuk
dibahas bersama.”

“Benar-benar suatu pendekatan yang bijaksana,” setuju Arkad. “Siapa diantara engkau semua yang memperoleh
nasib baik yang hampir saja dapat engkau genggam, menguap begitu saja di depan wajahmu?”

Beberapa lengan diacungkan, satu di antaranya dari sang saudagar tua. Arkad memberi isyarat kepadanya agar
berbicara. “Seperti yang engkau sarankan, coba kami dengar pengalamanmu sendiri.”

“Aku akan sangat senang menceritakannya,” lanjut dia, “suatu hal yang sangat berkaitan dengan betapa
dekatnya nasib baik datang menghampiri seseorang dan betapa butanya orang itu membiarkan nasib baik itu
berlalu meninggalkannya dengan beban kerugian dan penyesalan kemudian yang tidak berguna.”

“Beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih sangat muda, baru saja menikah dan mulai berusaha mencari
nafkah, suatu hari, datanglah ayahku menganjurkan dengan sangat agar aku melakukan penanaman modal
usaha. Anak dari seorang sahabat baiknya telah menemukan dan tertarik pada sebidang tanah tandus tidak
berapa jauh di luar dinding kota kita. Tanah itu letaknya jauh lebih tinggi dari saluran air, sehingga tidak ada air
yang mengalir di atasnya.”

“Anak sahabat ayahku itu memiliki rencana untuk membeli tanah itu, membangun tiga kincir air besar yang
akan digerakkan oleh kerbau dan selanjutnya mengairi tanah itu agar dapat dibudidayakan. Apabila hal itu
terlaksana, ia merencanakan pula untuk membagi tanah itu kedalam luasan-luasan yang lebih kecil untuk dijual
kepada warga kota untuk dijadikan kebun.”

“Anak sahabat ayahku tidak memiliki emas yang cukup untuk melaksanakan rencananya itu. Seperti halnya aku,
ia masih muda dan hanya berpenghasilan yang sedikit lebih dari memadai. Ayahnya, seperti juga ayahku,
memiliki keluarga yang besar dan berpenghasilan tidak berlebihan. Ia, kemudian, memutuskan untuk mengajak
beberapa rekannya membantu mewujudkan rencana itu bersamanya. Terkumpullah kelompok dengan dua belas
anggota, setiap orangnya harus berpenghasilan dan setuju untuk menyisihkan sepersepuluh dari penghasilannya
kedalam kelompok itu sampai tanah tersebut siap dijual. Selanjutnya semuanya akan memperoleh bagian
keuntungan sebanding dengan modal yang mereka masing-masing tanamkan.”

“’Engkau, anakku,’ kata ayahku, ‘saat ini berada pada masa mudamu. Aku sangat inigin melihat engkau mulai
menghimpun kekayaan bagi dirimu sendiri sehingga engkau akan menjadi orang yang terpandang di antara
warga masyarakat. Aku ingin melihat engkau memperoleh keuntungan dari pengalaman dan kesalahan akibat
kurangnya pengetahuan ayahmu.”

“’Memang itulah juga yang sangat saya inginkan, ayahku,’ jawabku.’”

“’Sekarang, dengar nasihatku. Lakukan apa yang seharusnya telah aku lakukan saat aku seusiamu. Sisihkan
sepersepuluh dari penghasilanmu dan tanamkan pada penanaman modal yang benar. Dengan sepersepuluh
penghasilanmu itu, dan apa yang engkau peroleh dari hasil penanamannya, engkau dapat, sebelum usiamu
mencapai umurku saat ini, menghimpun bagi dirimu sendiri harta yang akan sangat bernilai.”
“’Kata-katamu merupakan kata-kata yang bijaksana, ayahku. Aku sangat menginginkan kekayaan. Tetapi ada
sangat benyak keperluan yang harus kupenuhi dengan penghasilanku yang cekak ini. Oleh karena itu, aku agak
ragu menjalankan apa yang engkau nasehatkan padaku. Aku masih muda. Masih banyak waktu.’”

“’Itulah yang ada dalam fikiranku pada saat aku seusiamu, ternyata, tahun-tahun berlalu dan aku masih juga
belum memulainya.’”

“’Kita hidup dalam masa yang berbeda, ayahku. Aku pasti mampu menghindarkan diriku dari kesalahan seperti
yang engkau lakukan.’”

“’Kesempatan telah berdiri di depanmu, anakku. Ia menawarkan usaha yang dapat membawamu ke kekayaan.
Aku minta padamu, jangan tunda lagi. Pergilah kamu besok pagi ke anak sahabatku itu dan tawarkan padanya
sepersepuluh dari penghasilanmu untuk ikut serta dalam rencana usahanya. Datanglah tepat waktu besok pagi.
Kesempatan tidak menunggu-nunggu seorangpun. Hari ini ia berdiri di depanmu; segara setelah itu ia pergi.
Jadi, jangan menunda!’”

“Meskipun telah disarankan dengan sepenuh hati ayahku, aku ragu dan enggan. Ada jubah baru yang indah yang
baru saja datang dibawa para pedagang dari Timur, jubah yang berkilau mewah yang istriku yang baik dan kau
sendiri merasa kami harus memilikinya satu seorang. Seandainya aku setuju untuk menanamkan sepersepuluh
dari penghasilanku kedalam usaha itu, kami tentu harus menahan keinginan untuk memiliki jubah itu, juga
kepuasan-kepuasan lainnya yang benar-benar kami inginkan bisa didapat dengan jumlah itu.Kutunda keputusan
untuk menanamkan uangku pada usaha itu dan terlambat akhirnya, disusul kemudian oleh penyesalan-
penyasalan yang menyertainya. Usaha tersebut ternyata sangat berhasil, bahkan melebihi semua yang
diramalkan orang-orang. Itulah ceritaku, menggambarkan bagaimana aku mempersilakan nasib baik berlalu dari
hadapanku.”

“Dalam cerita itu dapat kita lihat bagaimana : nasib baik menunggu di hadapan seseorang yang memanfaatkan
kesempatan,” begitu komentar seorang penghuni gurun yang berwajah kehitaman. “Untuk menghimpun
kekayaan selalu ada awalnya. Permulaan, mestinya hanya akan berupa beberapa keping emas atau perak yang
orang itu sisihkan dari penghasilanna dilanjutkan dengan pemanfaatan simpanan itu bagi usaha lainnya. Aku
sendiri, memiliki banyak ternak. Usaha ternakku yang pertama kumulai ketika aku masih kanak-kanak lagi
dengan membeli seeekor anak sapi seharga sekeping perak. Itulah, anak sapi yang kujadikan awal kekayaanku,
sangat berarti bagiku.”

“Untuk mengambil langkah pertama menghimpun kekayaan sama halnya memperoleh nasib baik bagi setiap
orang. Pada semua orang, mengambil langkah pertama, yang mengubah dirinya dari seseorang yang
memperoleh penghasilan dari usaha atau kegiatannya menjadi seseorang yang memperoleh bagian dari
penghasilan yang dihasilkan emas miliknya, hal itu sangat penting. Beberapa orang, beruntung, melakukannya
ketika masih berusia muda sehingga mampu mendahului mereka yang memulainya setelah menjelang setengah
baya atau orang-orang yang kurang beruntung, seperti ayah saudagar ini yang tidak pernah memulainya.”

“Seandainya sahabat kita, saudagar ini, mengambil langkah itu pada usia mudanya ketika kesempatan itu berdiri
dihadapannya, hari ini ia akan menghimpun kekayaan dari yang dimilikinya saat ini. Seandainya nasib baik
yang mendatangi sahabat kita ini, dan penenun permadani, membuat mereka mengambil langkah meraih
kesempatan itu, sudah dapat dipastikan itu akan menjadi awal datangnya nasib-baik dan munculnya
kesempatan-kesempatan lebih besar lainnya.”

“Terima kasih, terima kasih! Saya juga ingin berbicara.” Seorang asing dari negeri tetangga berdiri. “Saya orang
Syria. Saya tidak begitu mahir berbicara dalam bahasa Babilonia. Saya ingin menyebut sahabat ini, sang
pedagang, dengan suatu sebutan. Mungkin akan terdengar agak kurang sopan, sebutan ini. Tapi akau akan
menyebutnya demikian. Tetapi, aduh, aku tidak mengenal sebutan ini dalam bahasamu. Jika kusebutkan dalam
bahasa Syria, engkau tidak akan mengerti. Coba tolong, orang-orang yang baik di sini, beritahukan aku sebutan
bagi orang yang mengabaikan berbuat sesuatu yang sesungguhnya sangat baik baginya.”

“Penyia-nyia kesempatan,” kata seseorang.

“Ya, itu dia,” tanggap orang Syria itu, sambil menggarak-gerakkan tangannya dengan ria, “ia tidak menanggapi
kesempatan ketika kesempatan itu hadir di hadapannya. Kesempatan itu menunggu. Dia bilang aku sibuk saat
ini. Lain kali, barangkali kita bisa beramah tamah. Kesempatan, tidak akan menunggu orang yang lamban
seperti itu. Kesempatan beranggapan apabila apabila seseorang ingin beruntung ia akan bergerak seketika.
Setiap orang yang tidak bergerak cepat ketika kesempatan tiba, dialah penyia-nyia kesempatan sepeti sahabat
kita ini, sang saudagar.”

Sang saudagar berdiri dan dengan santunnya membungkuk hormat menanggapi tertawaan hadirin. “Aku senang
dan sangat menghargai engkau, orang asing dalam kota ini, yang segan tidak sama sekali mengemukakan
kebenaran.”

“Sekarang mari kita dengar cerita yang lain tentang masalah kesempatan ini. Siapa lagi yang memiliki
pengalaman yang dapat diberikan pada kita?” pinta Arkad.

“Saya punya,” jawab seorang berjubah merah umur setengah baya. “Saya pedagang ternak, umumnya unta dan
kuda. Kadang-kadang saya juga membeli biri-biri dan kambing. Cerita yang akan kusampaikan dengan
seungguhnya ini akan menggambarkan bagaimana kesempatan datang pada suatu malam ketika saya samasekali
tidak mengharapkannya. Mungkin karena tidak diharapkan itu, aku membiarkannya berlalu. Engkau semualah
yang akan menilainya.”

“Pada suatu malam, ketika aku kembali ke kota, setelah malakukan perjalanan mencari unta dagangan selama
sepuluh hari yang mengecewakan, aku sedikit gusar ketika medapatkan gerbang kota sudah ditutup dan
terkunci. Sementara budak-budakku mendirikan tenda untuk bermalam yang mungkin akan kami lewati dengan
hanya sedikit sisa makanan tanpa air, aku didatangi seorang peternak yang sudah agak tua, yang sama seperti
kami, terkunci di luar gerbang kota.

“’Salam Tuan,’ ia menyapaku, ‘dari penampilanmu, engkau pasti pedagang ternak. Apabila memang benar
begitu, aku ingin menjual kepadamu sekawanan biri-biri unggul yang baru aku datangkan ke sini. Susahnya,
istriku yang baik sedang terbaring sakit terkena demam. Aku harus segera kembali ke peternakanku. Belilah
olehmu biri-biriku agar aku dan rombongan dapat segera naik ke unta kami dan segera kembali tanpa menunda-
nunda lagi.’”

“Ketika itu malam sangat gelap sehingga aku tidak dapat melihat kawanan biri-biri itu, tetapi dari suara-suara
embekannya aku tahu pasti itu kawanan biri-biri yang bagus. Setelah menyia-nyiakan sepuluh hari tanpa hasil
unta dagangan, aku menjadi sangat tertarik untuk menerima tawaran itu. Dalam kerisauannya, ia menawarkan
harga yang paling baik. Aku menerimanya, dengan harapan budak-budakku akan menggiring kawanan biri-biri
itu melewati gerbang kota besok pagi dan menjualnya dengan keuntungan yang lumayan besar.”

“Segera saja kesepakatan di dapat, kupanggil budak-budakku untuk membawa obor agar kami dapat
menghitung kawanan biri-biri itu yang dikatakan pedagang itu ada berjumlah sembilan ratus ekor. Aku tidak
akan memberatkanmu, sahabatku, dengan tambahan penjelasan betapa tidak mungkinnya menghitung begitu
banyak biri-biri yang sedang memamhbiak, kehausan, yang tidak dapat ditenangkan dan terus berdesak-desakan.
Penghitungan tidak mungkin dapat dilakukan. Oleh karena itu dengan tegas kuberitahukan pada peternak itu aku
akan menghitungnya nanti di siang hari dan akan membayarnya setelah jelas jumlah perhitungannya.

“’Tolonglah saya, Tuan yang mulia,’ pohonnya,’cukup bayar saya dua pertiga dari harga yang disepakati malam
ini agar aku dapat segera kembali ke peternakanku. Akan kutinggalkan budakku yang paling pintar dan paling
terpelajar, untuk membantu melakukan perhitungan di siang nanti. Ia dapat dipercaya dan engkau dapat
membayar sisa kekurangannya pada dia.’”

“Tetapi aku bersikeras dan menolak melakukan pembayaran pada malam itu. Kesepakatan batal terjadi.
Keesokan paginya, sebelum aku bangun, gerbang kota sudah dibuka dan empat pembeli bergegas berdatangan
mencari ternak dagangan. Mereka sangat bersemangat dan bersedia melakukan pembelian dengan harga yang
sangat tinggi karena adanya berita akan adanya serangan ke kota dan warga kota sedang dalam keadaan siaga
terhadap ancaman itu, tambahan lagi persediaan makanan saat itu sedang menipis. Hampir tiga kali lipat harga
yang peternak itu tawarkan kepadaku, itulah jumlah yang akhirnya diterima sang peternak atas biri-birinya.
Begitulah, nasib baik yang jarang terjadi, dibiarkan berlalu begitu saja.”

“Benar-benar sebuah cerita yang luar biasa,” komentar Arkad. “Kebijakasanaan apa yang diajarkannya?”

“Kebijaksanaan untuk membuat pembayaran segera apabila kita yakin keuntungan sudah sangat jelas,” simpul
pembuat pelana yang cukup dikenal. “Apabila ada penawaran yang sangat menguntungkan, maka engkau perlu
melakukan perlindungan terhadap penawaran itu dari kelemahan dirimu sendiri dengan cara yang sama seperti
engkau menjaganya dari orang lain. Kita makhluk fana ini selalu berubah-ubah. Sayangnya, bisa kukatakan
lebih tepat, kita mengubah pendirian kita lebih sering pada hal yang keliru dari pada yang benar. Salah, pada hal
yang keliru kita benar-benar keras kepala. Betul, pada hal yang benar kita cenderung ragu dan membiarkan
kesempatan berlalu. Keputusanku yang pertama selalu merupakan keputusan yang terbaik. Tetapi selalau saja
aku menemukan kesulitan mendorong diriku sendiri untuk segera melaksanakan hal yang sudah jelas
menguntungkan itu meski sudah menemukannya di depan mata. Oleh karena itu sebagai perlindungan atas
kelemahan diriku sendiri, aku akan segera memberikan uang muka tanda jadi atas penawaran itu. Hal ini akan
menghindarkanku dari penyesalan atas hilangnya nasib baik yang seharusnya menjadi milikku.”

“Terima kasih! Aku sekali lagi ingin berbicara,” Orang Syria telah kembali tegak berdiri. “Cerita-cerita ini ada
persamaannya. Setiap kali kesempatan hilang berlalu dengan berbagai alasan. Setiap kali ia datang dengan
impian berkah kepada orang yang menyia-nyiakannya. Setiap kali mereka ragu, bukan, saat ini bukan waktu
yang tepat, bahkan, tidak katanya. Bagaimana seseorang akan mencapai keberhasilan dengan cara seperti itu?”

“Bijak sekali kata-katamu, sahabatku,” tanggap pedagang ternak itu. “Nasib baik meninggalkan sang penyia-
nyia kesempatan dalam kedua cerita itu. Namun, hal itu bukanlah hal yang luar biasa. Sifat untuk menyia-
nyiakan kesempatan ada pada diri setiap orang. Kita menginginkan kekayaan; tetapi seringkali ketika
kesempatan muncul dihadapan kita, sifat untuk menyia-nyiakan dalam diri kita mendorong dengan berbagai
cara untuk menunda menerimanya. Apabila kita mendengar bujukan itu, kita sendiri justru menjadi musuh
terberat kita.”

”Pada masa mudaku aku tidak menyimpulkannya sebagaimana sahabat Syria kita ini dengan gembira
membicarakannya panjang lebar di sini. Pertama kali aku berpikir, mungkin itu memang dikarenakan
keputusanku sendiri yang tidak baik yang menyebabkan kerugian dalam usaha perdaganganku. Kemudian aku
memang menyalahkan kekeras-kepalaanku. Akhirnya, aku menyadarinya sebagaimana apa adanya, suatu –
kebiasaan untuk tidak perlu menunda apa yang harus segera dilakukan, lakukan dengan langsung dan tegas. Hal
yang paling kubenci adalah apabila kutemukan sifat ini menampakkan dirinya tepat dihadapanku. Dengan
kepahitan bagai bagal liar yang terikat pada kereta kuda. Keberhasilan kucapai ketika aku membebaskan diriku
dari musuh besarku ini.”

“Terima kasih! Aku ingin bertanya kepada sang saudagar.” Itu yang dikatakan orang Syria selanjutnya. “Engkau
mengenakan jubah yang indah, tidak seperti orang-orang berkekurangan. Engkau berbicara selayaknya secara
orang-orang yang berhasil. Katakan pada kami, bila saatnya penyia-nyia kesempatan berbisik di telingamu?”

“Seperti halnya sahabat kita sang pedagang ternak, aku juga harus menyadari keberadaannya dan
mengalahkannya,” jawab sang saudagar. “Bagiku, dia bagaikan seorang lawan, selalu mengintai dan menunggu
untuk menghalang-halangi keberhasilanku. Cerita yang kukemukakan tadi hanya satu dari sekian banyak
kejadian serupa yang dapat kuuraikan semua, bagaimana dia telah mengusir kesempatan-kesempatan yang
datang kepadaku. Sebenarnya hal itu tidak terlalu sukar untuk diatasi begitu kita sudah menyadarinya. Tidak ada
orang yang akan mengizinkan dengan senang hati seorang pencuri merampok gandum dalam periuknya. Begitu
juga tidak akan ada orang yang bersedia apabila musuhnya mengusir pelanggannya dan mengambil keuntungan
yang seharusnya menjadi bagiannya. Sekali aku menyadari bahwa tindakan itu adalah hsil usaha yang dilakukan
lawanku, dengan satu tekad yang teguh aku mengalahkannya. Setiap orang harus menjadi tuan dari sifat menyia-
nyiakan kesempatan pada dirinya sebelum ia dapat mengharapkan mendapatkan bagian dari kelimpahan
kekayaan Babilonia.”

“Bagaimana menurutmu, Arkad?” Karena engkau orang terkaya di Babilonia, banyak yang mengatakan engkau
orang yang paling beruntung di antara orang-orang yang beruntung. Apakah engkau sependapat denganku
bahwa seseorang tidak akan mencapai keberhasilan yang penuh menyeluruh sebelum ia sepenuhnya
menghancurkan sifat menyia-nyiakan kesempatan yang ada dalam dirinya?”

“Sama seperti yang engkau katakan,” Arkad menerimanya. “Sepanjang hidupku yang sudah cukup lama aku
memperhatikan satu generasi dilanjutkan dengan generasi yang lain, berjalan dalam usaha dagangnya, ilmu
pengetahuan dan mempelajari apa yang dapat memberikan keberhasilan dalam hidup ini. Kesempatan datang
kepada semua orang ini. Sebagian menggenggamnya segera dan terus maju mendapatkan apa yang mereka
inginkan, tetapi sebagian besar ragu, goyah dan tertinggal di belakang.”

Arkad, bergeming ke arah penenun. “Engkau tadi yang menganjurkan kita membicarakan masalah nasib baik di
majelis ini. Mari kita dengar apa yang engkau pikirkan tentang masalah ini?”
“Aku semula memang melihat nasib baik dalam pandangan yang agak berbeda, Aku fikir nasib baik sebagai
sesuatu yang kita inginkan yang mungkin terjadi kepada seseorang tanpa ada usaha sama sekali yang
dilakukannya. Sekarang, aku sadari bahwa kejadian itu bukanlah sesuatu yang dapat diusahakan seseorang agar
nasib baik datang mendekatinya. Dari pembicaraan kita dapat aku pelajari bahwa : untuk menarik nasib baik
datang kepadamu, engkau harus memanfaatkan seluruh kesempatan. Jadi, di masa yang akan datang, aku akan
berusaha sekuat tenaga memanfaatkan setiap kesempatan yang datang ke hadapanku.”

“Engkau telah menyerap inti sari pembicaraan yang diungkap dalam majelis ini,” jawab Arkad. “Selamat, kita
menemukan, bahkan mengikuti jalur kesempatan, jarang terjadi hal sebaliknya. Sahabat kita sang saudagar telah
menemukan nasib baik yang sangat amat bagus apabila ia menerima kesempatan yang dianugerahkan dewi
kebaikan padanya. Sahabat kita sang pedagang ternak, begitu juga, akan menikmati nasib baik apabila ia
menyelesaikan penawaran untuk membeli sekawanan biri-biri dan menjualnya dengan keuntungan yang
lumayan besar.”

“Kita mengikuti pembicaraan ini, mencari cara bagaimana agar nasib baik tergoda untuk mengunjungi kita. Aku
kira kita telah menemukan caranya. Kedua cerita tadi mengambarkan bagaimana nasib baik mengikuti
kesempatan. Disitulah terletak kebenaran bahwa cerita tentang nasib baik yang serupa, dimenangkan, atau
kehilangan, tidak dapat diubah. Kebenarannya adalah : Nasib baik dapat didatangkan dengan memanfaatkan
kesempatan.”

“Siapa pun yang bersemangat menggenggam setiap kesempatan bagi kebaikannya, akan menarik perhatian
kebaikan sang dewi. Sang dewi selalu sangat bersedia membantu orang-orang yang menarik hatinya. Orang-
orang yang senantiasa siaga bertindak, sangat menarik hatinya.

“Tindakan akan membawa engkau ke depan ke arah keberhasilan yang begitu engkau inginkan.”

ORANG YANG SENANTIASA SIAGA BERTINDAK


AKAN DIDAHULUKAN OLEH DEWI KELIMPAHAN
V : LIMA HUKUM EMAS

LIMA HUKUM EMAS

“Sekarung penuh emas atau sekarung penuh lempengan tanah liat bertuliskan kata-kata bijaksana; apabila
engkau diberikan pilihan seperti itu, yang manakah yang engkau pilih?”

Di bawah bayangan api unggun dari belukar gurun, wajah-wajah terbakar matahari yang mendengarnya
bergoyang binarnya dengan bayangan sinar unggun.

“Emas, emas,” seru keduapuluhtujuh orang itu.

Kalabab tua tersenyum, ia sudah dapat memastikan jawaban itu.

“Hei,” lanjutnya, sambil menaikkan lengannya. “Dengar gonggongan anjing liar di kelam malam itu. Mereka
melolong dan mengibas-ngibaskan ekornya, mereka kurus dan lapar. Coba beri mereka makan, apa yang mereka
perbuat? Berebut, berkelahi dan berkumpul lagi. Kemudian berebutan lagi berkelahi lagi dan berkumpul lagi,
tanpa memikirkan apapun yang pasti akan terjadi esok hari.”

“Hal yang sama juga dilakukan manusia. Berikan mereka pilihan antara emas dan kebijaksanaan – apa yang
mereka lakukan? Abaikan kebijaksanaan dan hamburkan emas. Besok mereka akan merengek kehabisan emas.”

“Emas memang hanya untuk dimiliki orang-orang mengetahui hukum-hukum emas dan mematuhinya.”

Kalabab menarik ujung jubah putihnya menutupi kaki kurusnya, melindunginya dari angin dingin gurun yang
mulai berhembus.

“Karena engkau sudah melayaniku dengan sepenuh hati sepanjang perjalanan kita, karena engkau sudah
merawat unta-untaku dengan baik, karena engkau semua telah menembus panas pasir gurun tanpa keluhan.
Karena engkau telah berjuang melawan para perompak dengan berani sehingga membuat barang daganganku
tak terganggu, aku akan menceritakan pada engkau semua malam ini kisah lima hukum emas, kisah ini
merupakan riwayat yang belum pernah engkau dengar sebelumnya.”
“Hai engkau semua, dengarlah dengan perhatian penuh apa yang akan akau kisahkan ini, karena apabila engkau
dapat menangkap maksudnya dan mengingat dan menggunakannya, suatu hari nanti engkau akan dapat
memiliki emas yang berlimpah.”

Ia tegun dengan berwibawa sejenak. Di atas, dalam lingkupan biru temaram langit, bintang-bintang bertaburan
di langit Babilonia yang cerah tak berawan. Di belakang kelompok orang-orang itu bayangan kabur tenda-tenda
yang terpasang kukuh yang dapat menghadang badai gurun apabila ia datang. Di sebelah tenda-tenda itu
tertumpuk rapi berbungkus-bungkus barang dagangan ditutupi kulit. Tidak jauh dari situ unta-unta duduk
berjajar di atas pasir, sebagian terus terlihat lahap memamah biak, lainnya berdengkur keras tanpa irama.

“Engkau telah menceritakan kepada kami banyak sekali cerita menarik, Kalabab,” ujar pimpinan pekerja. “Kami
memerlukan kebijakanmu yang dapat mengajari kami, bukankah besok pekerjaan kami telah selesai.”

“Aku telah menceritakan kepada engkau pengalamanku di negeri asing dan negeri-negeri yang jauh, tetapi
malam ini aku akan meriwayatkan kepada engkau kebijaksanaan Arkad, orang bijak yang kaya raya.”

“Sudah banyak yang kami dengar tentang dia,” sahut pemimpin pekerja itu, “karena dia orang terkaya yang
pernah hidup di Babilonia.”

“Dia memang orang terkaya, dan itu disebabkan karena kebijaksanaannya dalam hukum emas, bahkan belum
pernah ada orang sebijaksana dia sebelumnya. Malam ini aku akan ceritakan kebijaksanaan utamanya
sebagaimana diceritakan oleh Nomasir, anaknya, beberapa tahun yang lalu di Niniveh, ketika itu aku masih
seorang remaja.”

“Aku dan tuan-ku telah penuh berdebu berjalan melalui gelap malam ke istana Nomasir. Aku membantu tuan-ku
membawa banyak sekali bungkusan permadani mewah, yang tiap-tiap permadani diamati oleh Nomasir hingga
pilihan corak-warnanya sesuai dengan keinginannya. Akhirnya ia cukup puas dan meminta kami duduk bersama
dengannya dan minum minuman terpilih yang langka yang baunya yang enak sangat melonggarkan nafas di
hidungku dan minuman itu juga menghangatkan perutku, yang tidak terbiasa dengan minuman seperti itu.”

“Kemudian, ia menceritakan kepada kami kebijaksanaan Arkad, ayahnya, itulah yang akan kuceritakan kembali
kepadamu.”

“Di Babilonia sudah menjadi adat kebiasaan, seperti yang juga engkau ketahui, anak laki-laki seorang yang kaya
raya akan tinggal bersama orang tuanya kemudian diharapkan akan mewarisi kekayaan itu. Arkad tidak begitu
sependapat dengan adat kebiasaan itu. Oleh karena itu, ketika Nomasir mencapai usia dewasa ia menyampaikan
pesan padanya :

“Anakku, aku berkeinginan agar engkau melanjutkan keberhasilan yang aku telah capai dalam hidupku. Namun,
engkau harus, pertama-tama membuktikan bahwa engkau akan mampu mengelola kekayaan ini dengan
bijaksana. Oleh karena itu, aku mengharapkan engkau pergi merantau ke dunia di luar sana dan tunjukkan
kemampuanmu untuk menghasilkan emas dan buat dirimu menjadi orang yang terhormat di tengah
masyarakat.”

“Untuk memulainya dengan baik, aku akan berikan dua hal yang, aku sendiri, ketika aku sebagai seorang muda
yang miskin, yang mulai mengumpulkan kekayaan, tidak memilikinya.”

“Pertama, kuberikan sekantung emas. Apabila engkau gunakan dengan bijaksana, ia akan menjadi landasan
keberhasilanmu di masa yang akan datang.”

“Kedua, kuberikan engkau lempeng tanah liat ini yang diatasnya tertulis lima hukum emas. Apabila engkau
hayati dan wujudkan dalam kegiatan usahamu, ia akan memberikanmu kemampuan dan perlindungan.

“Sepuluh tahun dari sekarang kembalilah engkau kerumah ayahmu ini dan tunjukkan hasil kegiatanmu. Apabila
ternyata engkau berhasil, aku akan menjadikan engkau ahli warisku. Sebaliknya, kalau engkau gagal, aku akan
berikan harta bendaku pada para imam yang mungkin dapat menukarnya dengan sesuatu yang dapat
menenangkan jiwaku dan hal-hal yang menyenangkan Para Dewa.”

“Lalu Nomasir merantau mencari kehidupan bagi dirinya sendiri, dengan membawa sekantung emas, dan
lempeng tanah liat yang ia bungkus dengan hati-hati dengan sutera, budaknya dan dengan beberapa ekor kuda
pergilah ia memulai usahanya.”

“Sepuluh tahun berlalu, dan Nomasir, sebagaimana telah disepakati, kembali ke kediaman ayahnya yang
menyelenggarakan perjamuan besar menyambut kedatangan anaknya, mengundang banyak sahabat dan sanak
saudara. Selesai berkenduri, kedua orang tuanya naik ke kedudukan mereka yang bagai tahta kerajaan pada satu
sisi ruangan perjamuan yang besar itu, dan Nomasir berdiri di hadapan mereka menceritakan pengalaman dan
hasil usahanya sebagaimana yang ia janjikan pada ayahnya.”

“Hari mulai malam. Ruangan itu sedikit berkabut asap dari sumbu dian minyak yang hanya dapat menerangi
samar-samar ruangan itu. Budak-budak berbusana jaket putih tanpa kerah, mengayunkan kipas perlahan dengan
berirama, mengalirkan udara lembab, dengan kipas bertangkai panjang dari pelepah palma. Suasana megah
mewarnai ruangan saat itu. Istri Nomasir dan dua anak laki-lakinya, dengan sahabat dan para anggota keluarga
lainnya, duduk di atas permadani di belakang Nomasir, semuanya bersiap-siap mendengarkan.”

“’Ayahku,’ ia mulai dengan tertib penuh kesopanan, ‘aku patuh pada ajaran kebijaksanaanmu. Sepuluh tahun
lalu ketika aku beranjak dewasa, engkau minta aku merantau agar menjadi orang terhormat di dalam
masyarakat, dari pada tinggal di rumah ini seolah menjadi raja di atas limpahan kekayaanmu.’”

“’Engkau antar aku berbekal sekantung emas. Engkau juga beri ajaran kebijaksanaan pengingat. Akan halnya
emas, betapa sialnya! Harus kuakui bahwa aku telah mengelolanya dengan keliru. Semuanya lenyap, menguap,
lari dari tanganku yang tidak berpengalaman bagaikan kuda betina liar yang pada kesepatan pertama lari dari
jagaan remaja yang menangkapnya.’”
“Sang ayah tersenyum menikmati dengan mahfum. ‘Lanjutkan, anakku, ceritamu dengan segala perniknya
sangat menarik hatiku.’”

“’Kuputuskan pergi ke Niniveh, kota yang sedang berkembang, dengan harapan aku akan mendapatkan
kesempatan di sana. Aku bergabung dengan sebuah rombongan dan bersahabat dengan beberapa orang di antara
anggota rombongan itu. Dua orang yang sangat fasih berbicara memiliki seekor kuda putih yang sangat bagus
yang larinya sekencang angin.’”

“’Sepanjang perjalanan, mereka bercerita dengan yakinnya bahwa di Niniveh ada seorang kaya yang memiliki
kuda yang dapat berlari sangat kencang dan tidak pernah terkalahkan. Pemiliknya percaya bahwa tidak ada
seekorpun kuda yang dapat berpacu melampaui kecepatan kudanya. Oleh karena itu, ia berani bertaruh sebesar
apapun bahwa kudanya akan mengalahkan semua kuda yang ada di Babilonia. Tetapi, dibandingkan dengan
kuda putih miliknya, begitu kata sahabatku itu, paling-paling kuda di Niniveh itu hanya bagai bagai bagal
kecapaian, dan pasti akan dengan mudah dikalahkan.’”

“’Mereka menawarkan, sebagai sebuah usulan pada rencana yang bagus, untuk mengizinkan aku menyertai
mereka dalam taruhan itu. Aku benar-benar sangat tertarik dengan rencana itu.’”

“’Kuda kami kalah telak dan aku kehilangan sebagian besar emasku,’ Sang ayah tertawa. ‘Kemudian, baru
kuketahui bahwa hal itu memang rencana jahat orang-orang itu, dan mereka telah melakukan hal itu
berulangkali dengan menyertai rombongan-rombongan sambil mencari mangsa. Begitulah caranya. Orang kaya
di Niniveh juga merupakan rekan kerja mereka, dan mereka mendapatkan bagian dari hasil kemenangannya.
Cara penipuan yang canggih mengajarkan padaku pelajaran pertama dalam usahaku di rantau.’”

“’Segera setelah itu kupelajari lagi hal lainnya, yang sama pahitnya. Dalam rombongan itu ada seorang anak
muda yang juga menjadi sahabatku. Dia anak seorang kaya dan, seperti halnya aku, merantau ke Niniveh untuk
mencari lokasi yang cocok bagi usahanya. Segera setelah kesampaian kami di Niniveh, dia mengatakan
kepadaku ada seorang saudagar yang meninggal dunia dan tokonya beserta banyak barang dagangan
kepemilikannya akan dijual dengan harga yang sangat murah. Dia mengajak bekerja sama berdua dengan nilai
yang sama separuh-separuh, tetapi untuk itu dia harus kembali dulu ke Babilonia mengambil emas untuk
pembayaran bagian penanaman modalnya, jadi dia menganjurkan agar toko dan barang dagangan itu dibeli
terlebih dahulu dengan emas milikku, dengan persetujuan bagian emas yang akan ia bayar akan kami gunakan
nanti untuk memperluas usaha itu.’”

“’Lama ia menunda perjalanannya untuk kembali ke Babilonia, sementara itu ternyata juga bahwa dia bukanlah
seorang yang pandai berdagang dan lebih-labih lagi dia suka berfoya-foya. Akhirnya, kerjasama dengannya
kuhentikan, tetapi hal itu kulakukan lama setelah usaha kami menjadi sangat tidak menguntungkan, dan hanya
barang-barang yang tidak laku yang masih tersisa dan sudah tidak ada lagi emas yang dapat digunakan untuk
membeli barang dagangan baru. Kujual semua yang tersisa pada seorang Israel dengan harga yang sangat
menyedihkan.’”

“’Segera saja datang susul menyusul, benar, ayahku, datang hari-hari yang pahit. Kucari pekerjaan tidak satu
pun kudapatkan, karena aku tidak memiliki keahlian, dan tidak terlatih mencari nafkah keseharian. Aku jual
kuda-kudaku. Aku jual budak-budakku. Aku jual pakaian-pakaianku untuk pembeli makanan dan pembayar
tempat berteduh, hari-hari yang datang berikutnya semakin membawa hal-hal pahit yang kian memburuk.’”

“’Tetapi, pada hari-hari pahit sebegitu, aku selalu ingat akan kepercayaanmu padaku, ayahku. Engkau telah
mengirimku ke rantau untuk menjadi orang, dan itulah yang membuat bulat semangatku menjalani dan
mencapainya.’ Sang ibu menutup wajahnya dan terisak perlahan.”

“’Pada saat itu, teringat olehku akan lempeng tanah liat yang telah engkau bekalkan padaku yang di atasnya
telah engkau goreskan lima hukum emas. Kemudian, kubaca dengan cermat uraian kebijaksanaan itu, dan
kusadari bahwa sendainya saja kebijaksanaan ini telah kupelajari terlebih dahulu, emas-emasku tidak akan
berlarian meninggalkanku. Kupelajari sampai hafal di luar kepala tiap-tiap hukum-hukum emas itu dan
bertekad, apabila sekali lagi dewi kemujuran itu datang bersenyum kehadapanku, aku akan dipandu oleh
kebijaksanaan yang sudah teruji oleh waktu itu, dan tidak oleh remaja hijau yang kurang berpengalaman.’”

“’Untuk pelajaran dan kebaikan bagi semua yang hadir setelah perjamuan malam ini. Aku akan bacakan ajaran
kebijaksanaan ayahku yang digoreskannya pada lempeng tanah liat yang diberikannya padaku sepuluh tahun
yang lalu :

Lima Hukum Emas

1. Emas akan datang dengan senang hati dan dalam jumlah yang terus lebih banyak kepada seseorang yang
menempatkan tidak kurang dari sepersepuluh yang dihasilkannya untuk dihimpun bagi masa depan dirinya dan
keluarganya.

2. Emas akan bekerja dengan rajin dan tekun bagi pemiliknya yang bijaksana yang dapat mengenal
keuntungan yang dapat diperoleh dengan mempekerjakan emas, emas akan mampu melipatgandakan dirinya
bagai ternak di padang yang subur.

3. Emas akan senang bernaung dibawah lindungan pemiliknya yang berhati-hati, yang menanamkannya pada
usaha-usaha dengan petunjuk ajaran kebijaksanaan orang yang sudah berpengalaman di bidangnya.

4. Emas akan berlalu mengabaikan orang yang menanamkannya pada usaha atau penggunaannya dengan
tujuan yang tidak begitu dikenalnya atau tidak diusahakan oleh orang ahli dalam pengelolaannya.

5. Emas akan lari meninggalkan orang yang memaksakan pekerjaan padanya dengan harapan hasil yang
tidak mungkin dicapai, atau orang yang mengikuti rayuan para penipu atau perancang kejahatan, atau orang
yang terlalu percaya pada diri sendiri padahal ia kurang berpengalaman, atau mempekerjakannya pada usaha
berdasarkan keinginan hati yang muncul dari angan-angan semata.’”
“’Itulah lima hukum emas sebagaimana ditulis oleh ayahku. Aku bahkan menyatakan hukum-hukum ini lebih
bernilai dari pada emas itu sendiri, sebagaimana akan kutunjukkan dalam ceritaku selanjutnya.’”

“Ia kemudian mengulangi, berhadap-hadapan dengan ayahnya, ‘Telah kuceritakan betapa dalamnya jurang
kemiskinan dan ketidakberdayaan yang telah diberikan ketidakberpengalamannya aku.’”

“’Namun, tidak ada rantai kemalangan yang tidak berakhir. Kejatuhanku terhenti, ketika kuperoleh pekerjaan
mengawasi para budak yang dipekerjakan membangun tembok terluar kota yang baru.’”

“’Memanfaatkan pengetahuanku pada hukum emas yang petama, aku sisihkan sekeping perunggu dari
penghasilanku yang pertama, menambahkan simpanan itu pada tiap kesempatan hingga dapat kuperoleh
simpanan senilai sekeping perak. Sungguh suatu proses yang lamban sekali, apalagi aku juga masih harus
memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari. Aku berbelanja dengan penuh gerutuan dan keluh kesah, kuakui,
karena aku bertekad untuk mengembalikan semuanya sebelum jangka waktu sepuluh tahun berakhir sebanyak
yang telah engkau, ayahku, berikan padaku.’”

“’Suatu hari, tuan para budak, yang aku sudah menjadi sangat bersahabat dengannya, berkata padaku : “Engkau
memang anak muda yang hemat yang tidak menghambur-hamburkan apa yang engkau peroleh. Bukankah emas
simpananmu tidak memberikanmu hasil apa pun?”’”

“’”Ya,” jawabku, ”Memang sudah kuniatkan untuk mengumpulkan emas untuk menggantikan apa yang telah
diberikan ayahku yang telah kusalahusahakan.”’”

“’”Niat yang sangat baik, aku akan menjamin, dan tahukah engkau bahwa emas yang engkau kumpulkan itu
dapat bekerja untukmu dan menghasilkan lebih banyak lagi emas bagimu?”’”

“’”Aduh! Pengalamanku teramat getir, emas ayahku berlarian meninggalkanku, dan aku masih sangat khawatir
akan mengulang kejadian yang sama.”’”

“’”Kalau engkau mempercayaiku, aku akan berikan engkau pelajaran cara mengelola emas yang
menguntungkan,” jawabnya. “Dalam satu tahun tembok terluar ini akan selesai dibangun dan segera disusul
pembangunan gerbang perunggu pada tiap pintu masuk untuk melindungi kota dari musuh sang raja. Di seluruh
Niniveh tidak tersedia cukup bahan untuk membuat gerbang itu dan sang raja belum lagi memikirkan bagaimana
memperolehnya. Ini rencanaku : Kita bergabung, berkongsi mengumpulkan emas yang kita miliki dan
mengirimkan satu karavan ke penambang-penambang perunggu dan timah, yang cukup jauh letaknya, dan
membawa logam-logam itu ke Niniveh. Apabila sang raja memerintahkan, ‘Bangun gerbang-gerbang itu,’ hanya
kita yang dapat menyediakan logamnya dan harga yang cukup lebih tinggi akan dibayarnya. Apabila sang raja
tidak membelinya dari kita, kita tetap saja masih memiliki logam itu dan masih dapat menjualnya dengan harga
pasar yang wajar.”’”

“’Dalam penawarannya aku meihat adanya kesempatan yang bagus yang harus diambil sesuai dengan hukum
emas ketiga dan kutanamkan emas-emasku dengan petunjuk seorang yang bijaksana. Sungguh tidak
mengecewakan. Kerja sama kami berhasil, dan bagian emasku yang kecil segera bertambah dengan hasil usaha
itu.’”

“’Sejalan dengan berlalunya waktu, aku diterima berkongsi dalam kelompok yang sama dalam usaha-usaha
lainnya. Mereka memang orang-orang bijaksana yang sangat berpengalaman dalam cara mengelola emas yang
menguntungkan. Mereka bahas setiap rencana yang diajukan dengan menyeluruh dan sangat hati-hati sebelum
benar-benar terjun kedalamnya. Mereka tidak membiarkan adanya kemungkinan kehilangan emas yang
ditanamkannya atau membenamkannya pada usaha-usaha yang tidak menguntungkan yang tidak
memungkinkan mereka menarik kembali emas yang ditanamnya. Hal-hal yang bodoh seperti mengikuti taruhan
pacuan kereta kuda, atau pada kerjasama yang pernah kulakukan tanpa pengetahuan atau pengalaman sama
sekali tidak mereka pertimbangkan. Mereka akan segera dapat menunjukkan kelemahan dan kekurangannya.’”

“’Melalui hubungan kerja dengan orang-orang ini, aku belajar menanamkan emasku dengan aman namun tetap
memberikan hasil. Setelah beberapa tahun, harta simpananku bertambah lebih cepat. Aku tidak saja memperoleh
kembali sebanyak yang pernah hilang dariku, bahkan jauh melebihinya.’”

“’Melalui kemalangan yang kualami, berbagai usaha-usahaku, dan keberhasilanku, aku telah menguji dari waktu
ke waktu kebenaran ajaran kebijaksanaan lima hukum emas, ayahku, dan telah membuktikan hukum itu benar
pada setiap pengujian. Bagi mereka yang tanpa pengetahuan akan lima hukum emas ini, emas sangat jarang
datang, dan berlalu dengan cepatnya. Tetapi bagi mereka yang patuh melaksanakan lima hukum emas, emas
datang kepadanya dan bekerja untuk dia bagaikan budak patuh yang sangat berguna.’”

“Nomasir menghentikan pembicaraannya dan memberikan aba-aba pada seorang budak yang berada di sudut
belakang ruangan itu. Sang budak maju ke depan, membawa satu, setiap kali, tiga kantung kulit yang berat.
Salah satunya diambil Nomasir dan ditempatkannya di atas lantai di hadapan ayahnya sambil mengatakan :”

“’Engkau telah memberiku sekantung emas, emas Babilonia. Di tempat yang sama ini, aku mengembalikan
kepadamu satu kantung emas Niniveh yang sama beratnya. Pembayaran yang setimpal, aku kira semua akan
menyetujuinya.’”

“’Engkau juga telah memberiku satu lempeng tanah liat berisikan ajaran kebijaksanaan. Untuk itulah, saat ini
aku mengembalikan dua kantung emas.’ Sambil berkata begitu ia mengambil dua kantung lainnya dari sang
budak, seperti kantung yang pertama, ia tempatkan di atas lantai di hadapan ayahnya.”

“’Dengan ini aku membuktikan padamu, ayahku, bahwa betapa lebih besarnya nilai yang kuberikan kepada
ajaran kebijaksanaanmu dibandingkan dengan nilai emas. Tapi siapa yang dapat mengukur dengan berkantung
emas, ajaran kebijaksanaan itu? Meski tak seorang pun dapat menilai ajaran kebijaksanaan dengan emas? Tanpa
kebijaksanaan, emas akan lenyap dari tangan pemiliknya, tetapi dengan kabijaksanaan, emas dapat diperoleh
siapa yang belum memilikinya, sebagaimana tiga kantung emas ini telah membuktikannya.’”

“’Sungguh, sungguh, memberikan aku rasa puas yang amat sangat, ayahku, berdiri dihadapanmu menyatakan
hal ini, karena ajaran kebijaksanaanmu, aku telah mampu menjadi kaya, berada dan menjadi orang terhormat
dalam masyarakat.””
“Sang ayah menempatkan telapak tangannya di atas kepala Nomasir. ‘Engkau telah melalui dengan baik
pelajaranmu, dan aku, sungguh-sungguh, beruntung memiliki anak yang dapat kuandalkan menjaga harta dan
meneruskan usahaku.’”

Kalabab menghentikan ceritanya dan memandang dengan menyelidik pada para pendengarnya.

“Apa artinya ini bagimu, cerita Nomasir ini?” lanjutnya.

“Siapa diantara kamu yang berani datang kepada ayahmu atau mertuamu dan menceritakan kebijaksanaannya
dalam menggunaan hasil pencahariannya?”

“Apa yang akan difikirkan oleh orang yang kita hotmati itu jika engkau menghadap kepadanya dan berkata :
‘Saya telah merantau jauh dan belajar banyak hal bekerja keras dan memperoleh pencaharian yang banyak,
tetapi emas hanya sedikit yang saya miliki. Sebagian penghasilan aku pergunakan dengan baik, sebagian lagi
aku gunakan dengan sembarangan dan sebgian besar hilang karena salah penggunaannya.’”

“Apakah engkau masih mengira bahwa nasibmulah yang tidak menentu yang menentukan sehingga sebagian
orang memiliki banyak emas, sebagian lagi tidak? Engkau samasekali keliru.”

“Seseorang memiliki banyak emas apabila dia mengetahui lima hukum emas dan menerapkannya dengan
patuh.”

“Karena aku belajar lima hukum emas ini pada masa mudaku dan berpegangan padanya, aku dapat menjadi
seorang saudagar berada. Bukan karena mantera-mantera aneh yang membuatku mengumpulkan semua
kekayaanku.”

”Kekayaan yang datang dengan cepat akan bersegera pergi.”

“Kekayaan yang tinggal menetap yang dapat memberikan kegembiraan dan rasa puas bagi pemiliknya akan
datang secara perlahan dan bertahap, karena ia lahir dari dan dengan pengetahuan dan ketekunan untuk
mencapai tujuan jelas.”

“Memperoleh kekayaan hanyalah beban yang ringan semata bagi orang yang berpengetahuan. Menanggung
beban ringan terus menerus berkepanjangan dari tahun ke tahun akan mendatangkan hasil sesuai dengan tujuan
akhirnya.”
“Lima hukum emas menawarkan pada engkau semua imbalan kekayaan bagi yang melaksanakannya.”

“Tiap satu dari lima hukum emas ini kaya dengan sari pati ajaran, dan mungkin engkau semua tidak mencermati
keberadaannya dalam cerita singkatku tadi. Sekarang aku akan mengulanginya. Aku menghafalnya diluar kepala
karena pada masa mudaku, aku telah melihat betapa besar nilainya sehingga aku tidak cukup puas kalau tidak
aku menyerapnya kata demi kata.”

Hukum Emas Yang Pertama

Emas akan datang dengan senang hati dan dalam jumlah yang terus lebih banyak kepada seseorang yang
menempatkan tidak kurang dari sepersepuluh yang dihasilkannya untuk dihimpun bagi masa depan dirinya
dan keluarganya.

“Setiap orang yang menyisihkan sepersepuluh hasil pencahariannya terus menerus dan menanamkannya dalam
usaha dengan bijaksana pasti akan menghimpun harta yang bernilai yang akan dapat memberikan penghasilan
baginya di masa yang akan datang dan lebih jauh lagi akan menjamin kemanan bagi keluarganya apabila terjadi
Para Dewa memanggilnya ke alam arwah. Hukum ini selalu menyatakan bahwa emas akan datang dengan
senang hati kepada orang yang sedemikian itu. Aku sudah membuktikannya pada kehidupanku sendiri. Semakin
banyak emas yang kuhimpun, semakin banyak emas yang siap datang kepadaku dengan jumlah yang terus
meningkat. Emas yang kusimpan memberikan tambahan hasil, bahkan kalau engkau menginginkan hasil yang
dihasilkan emas itu akan ikut serta pula memberikan hasil lainnya, itulah cara kerja hukum emas yang pertama.”

Hukum Emas Yang Kedua

Emas akan bekerja dengan rajin dan tekun bagi pemiliknya yang bijaksana yang dapat mengenal
keuntungan yang dapat diperoleh dengan mempekerjakan emas, emas akan mampu melipatgandakan
dirinya bagai ternak di padang yang subur.

“Emas itu, memang, pekerja yang amat gigih. Ia akan bekerja lebih bersemangat melipatgandakan dirinya
apabila kesempatan dihadapkan padanya. Bagi setiap orang yang telah memiliki simpanan emas, kesempatan
akan datang bagi orang itu untuk memanfaatkannya dengan sepenuh guna. Selagi masa dan tahun berlalu, emas
akan bertumbuh berlipatganda dengan kecepatan yang tak terduga.”

Hukum Emas Yang Ketiga


Emas akan senang bernaung dibawah lindungan pemiliknya yang berhati-hati, yang menanamkannya pada
usaha-usaha dengan petunjuk ajaran kebijaksanaan orang yang sudah berpengalaman di bidangnya.

“Emas itu, memang, akan senang bernaung dibawah lindungan pemiliknya yang berhati-hati, seperti halnya ia
meninggalkan pemiliknya yang cuai. Orang yang meminta nasihat dari orang yang ahli mengelola emas akan
segera menyadari untuk tidak membahayakan dirinya dan emas miliknya, belajar untuk dengan hati-hati selalu
menjaganya agar selamat dan dengan leganya melihat dan menikmati perkembangannya yang ajeg.”

Hukum Emas Yang Keempat

Emas akan berlalu mengabaikan orang yang menanamkannya pada usaha atau penggunaannya dengan
tujuan yang tidak begitu dikenalnya atau tidak diusahakan oleh orang ahli dalam pengelolaannya.

“Bagi orang yang memiliki emas, tetapi tidak berpengetahuan untuk mengelolanya, beberapa diantaranya
menggunakan emas untuk kegiatan yang terlihat paling sangat menguntungkan. Biasanya, hal ini berbahaya dan
selalu diintai kerugian, dan apabila dicermati oleh orang yang bijaksana, akan terlihat hanya tipisnya
keuntungan yang ada. Jadi, pemilik emas yang kurang berpengalaman yang hanya bertindak berdasarkan
pengetahuan dan keinginannya, dan menanamkan emasnya pada usaha apapun atau tujuan apapun, yang tidak
sama sekali dikenalnya, akan sering sekali mendapatkan bahwa tindakannya sangat tidak sempurna, dan harus
membayarnya dengan emas-emasnya sebagai akibat hijaunya dia dalam pengalaman. Betuul, memang sangat
bijaksana, orang yang menanamkan emasnya sesuai dengan anjuran kebijaksanaan orang yang berpengalaman
dengan hukum emas.”

Hukum Emas Yang Kelima

Emas akan lari meninggalkan orang yang memaksakan pekerjaan padany dengan harapan hasil yang tidak
mungkin dicapai, atau orang yang mengikuti rayuan para penipu atau perancang kejahatan, atau orang
yang terlalu percaya pada diri sendiri padahal ia kurang berpengalaman, atau mempekerjakannya pada
usaha berdasarkan keinginan hati yang muncul dari angan-angan semata.

“Tawaran yang menggiurkan yang menimbulkan gairah selalu datang kepada para pemilik emas yang baru.
Usaha yang disuguhan seolah-olah memberikan kemampuan ajaib pada emasnya untuk memperoleh hasil yang
menakjubkan yang hampir mustahil. Jadi berhati-hatilah, orang yang bijaksana akan selalu mengetahui ancaman
yang mengendap-endap di balik setiap rencana yang menjanjikan kekayaan besar secara seketika.”

“Jangan lupakan orang kaya Niniveh yang tidak pernah membiarkan uang yang ditanamkannya dalam usaha
akan berkurang atau terikat mati dalam penanaman usaha yang kurang menguntungkan.”
“Inilah akhir ceritaku tentang lima hukum emas. Dengan menyampaikannya kepada engkau semua, berarti aku
telah menceritakan juga rahasia keberhasilanku sendiri.”

“Meskipun begitu, ternyata, tidak ada rahasia, hanya kebenaran semata yang pertama kali harus disadari oleh
engkau semua, dan kemudian mengikuti orang yang melangkah keluar dari kebenaran yang sudah menjadi
kebiasaan itu. Apakah engkau ingin seperti anjing liar itu, setiap hari masih harus memikirkan apa yang akan
dimakan hari itu.”

“Besok, kita masuk ke Babilonia. Lihat! Lihat api yang membakar abadi di atas Kuil Genta! Kita sudah dapat
memandang kota emas itu. Besok, setiap engkau akan mendapatkan emas, emas yang engkau peroleh dengan
baik dari mata pencaharianmu.”

“Sepuluh tahun dari malam ini, apa yang akan engkau ceritakan tentang emas-emas itu?”

“Apakah ada di antara engkau, seseorang, seperti Nomasir, yang akan menggunakan sebagian emasnya untuk
mulai menghimpun awal kekayaannya dan selanjutnya mengelolanya dengan bimbingan ajaran kebijaksanaan
Arkad, sepuluh tahun dari sekarang, berkembang dengan aman dan leluasa, seperti anak Arkad, dia akan kaya-
raya dan menjadi orang yang terhormat dalam masyarakat.”

“Tindakan bijaksana yang kita lakukan akan menyertai perjalanan hidup kita, melegakan hati dan menolong
kita. Sama pastinya, tindakan sembrono akan membuntuti, tertempel dan menyengsarakan kita dengan
penyesalan. Sayang! Mereka tidak dapat kita lupakan. Hal-hal pertama yang paling kita sesalkan yang akan
selalu menelangsakan hati adalah hal yang seharusnya kita lakukan tetapi tidak, dan kesempatan yang datang
kehadapan kita untuk kita raih, tetapi tidak.”

“Sungguh melimpah kekayaan Babilonia, begitu berlimpahnya tidak seorangpun dapat menghitung berapa
kantung emas nilainya. Setiap tahun mereka bertambah kaya dan lebih bernilai. Seperti kekayaan di mana pun
adanya, akan selalu mendatangkan hasil, hasil yang lebih melimpah menunggu orang yang mengetahui dengan
jelas arah usahanya dan bertekad untuk memperoleh hasil yang pantas sesuai pencahariannya.”

“Dalam semangat tekadmu ada kekuatan ajaib. Arahkan kekuatan ini dengan apa yang engkau ketahui dari lima
hukum emas maka engkau akan memperoleh bagian dari kekayaan Babilonia.”
VI : PEMBERI PINJAMAN EMAS DI BABILONIA

PEMBERI PINJAMAN EMAS DI BABILONIA

Lima puluh keping emas! Belum pernah seumur hidupnya, Rodan, pembuat tombak dari wilayah Babilonia Tua,
membawa begitu banyak emas dalam kantungnya. Dengan gembira berjalan sepanjang jalan raya Sang Raja dari
gerbang istana raja yang paling dermawan ia mengurai langkah. Berseri-seri, diiringi gemrincing emas di
kantungnya yang berayun pada setiap langkah – bagai musik terindah yang pernah didengarnya.

Lima puluh keping emas! Semua miliknya! Hampir tidak dapat mempercaayai betapa bernasib baiknya dia.
Kekuasaan apa yang dimiliki dalam rincingan keping emas itu. Emas itu dapat membeli apa saja yang dia
perlukan, rumah megah, tanah, ternak, unta-unta, kuda-kuda, kereta kuda, apa saja yang dia inginkan.

Akan digunakan untuk apa? Senja itu, ketika ia berbelok ke jalan kecil menuju rumah adiknya, pikirannya tidak
menemukan akan apa yang ingin dimilikinya selain barang yang berkilau sama, keping emas yang berat - yang
ingin disimpannya.

Hingga pada suatu sore beberapa hari kemudian Rodan yang kebingungan masuk ke gerai Mathon, pemberi
pinjaman emas dan pedagang perhiasan dan sutera mewah. Tanpa melirik ke kiri atau kanan pada beraneka
warna barang dagangan yang disusun mewah menawan, ia langsung menuju ruang kediaman di belakang gerai.
Di sana ia temukan Mathon yang santun duduk diatas permadani sedang menyantap makanan yang disajikan
seorang budak hitam.

“Aku ingin meminta nasihatmu karena aku tidak tahu akan berbuat apa.” Rodan berdiri tegak, dengan kaki
direnggangkan, dada berbulunya terpapar di antara celah jaket kulitnya.

Wajah Mathon yang sempit, putih, memberikan senyum bersahabat. “Apa yang telah engkau lakukan sehingga
engkau mencari pemberi pinjaman emas? Apakah engkau sudah kalah di meja judi? Atau ada masalah dengan
wanita yang menuntutmu? Sudah lama aku mengenalmu, selama ini belum pernah engkau mencariku untuk
membantu menyelesaikan masalahmu.”

“Tidak, bukan. Bukan seperti itu. Aku bukan mencari pinjaman emas. Tetapi, aku memerlukan nasihatmu.”

“Apakah akau tidak salah dengar! Apa yang dikatakan orang ini. Tidak ada orang yang datang ke pemberi
pinjaman emas untuk meminta nasihat. Telingaku mesti sudah menipuku.”

“Telingamu masih mendengar yang sesungguhnya.”

“Mengapa bisa demikian? Rodan, pembuat lembing, melakukan hal yang cerdik aneh dibandingkan orang lain,
dia datang ke Mathon, bukan mencari pinjaman emas, tetapi mencari nasihat. Banyak orang yang datang
kepadaku meminjam emas untuk menyelesaikan masalah akibat kebodohannya, tapi tidak satu pun meminta
nasihat. Tetapi, siapa yang lebih mampu memberikan nasihat dari pada pemberi pinjaman emas, yang setiap
orang dalam masalah pasti mendatanginya?”

“Engkau harus ikut makan bersamaku, Rodan,” lanjutnya. “Engkau menjadi tamuku sore ini. Ando!”
perintahnya pada budak hitam, “bentangkan permadani untuk sahabatku, Rodan, pembuat tombak, yang datang
meminta nasihat. Dia merupakan tamu terhotmatku. Sajikan makanan yang banyak dan tuangkan minuman di
piala besar. Pilih anggur terbaik agar dia dapat menikmati minumnya.”

“Sekarang, ceritakan padaku masalahmu.”

“Masalahnya hadiah Sang Raja.”

“Hadiah Sang Raja? Raja memberimu hadiah dan hadiah itu memberimu masalah? Hadiah seperti apa itu?”
“Karena Sang Raja sangat puas dengan contoh tombak yang kupersembahkan dengan bentuk mata tombak yang
baru yang akan digunakan bagi para pengawal raja, kemudian Sang Raja menghadiahkan aku dengan lima puluh
keping emas, dan sekarang aku bahkan menjadi kebingungan.”

“Aku bermohon setiap jam sepanjang waktu selama matahari melintas di atas langit, demi orang-orang yang
selalu ingin ikut menikmati emas ini? Agar jangan menggodaku”

“Itu hal yang lumrah. Lebih banyak orang yang menginginkan emas daripada yang memilikinya, dan selalu
berharap orang yang kebetulan memilikinya mau berbagi. Dan engkau tidak bisa mengatakan ‘Tidak?’ Apakah
kekuatan hatimu tidak sekuat remasan kepal tanganmu?”

“Kepada beberapa orang aku dapat mengatakan tidak, tetapi kadang-kadang lebih mudah untuk mengatakan ya.
Bagaimana mungkin aku menolak merayakan dan menikmatinya bersama dengan adikku yang sangat
kusayangi?”

“Pasti, adikmu sendiri tidak mungkin akan berharap atau sengaja menyengsarakanmu dengan menikmati
keberuntunganmu.”

“Tapi, untuk kepentingan Araman, suaminya, yang ingin ia harapkan menjadi seorang saudagar kaya. Adikku
merasa bahwa suaminya tidak pernah mendapat kesempatan dan dia memohon padaku agar meminjamkan
emasku pada suaminya agar dia dapat menjadi saudagar yang berhasil dan akan mengembalikan emasku dengan
keberhasilannya.”

“Sahabatku,” simpul Mathon, “ini masalah yang sangat penting yang perlu kita bahas. Emas membawa kepada
pemiliknya tanggungjawab dan mengubah kedudukannya di hadapan para sahabatnya. Emas membawa
ketakutan akan kehilangan atau akan dicurangi lepas dari dirinya. Emas membawa rasa kekuatan dan
kemampuan untuk berbuat baik. Begitu juga, emas membawa kesempatan-kesemptan, yang jika salah
dimanfaatkan, niat baiknya sekali pun dapat membawanya ke dalam kesulitan.”

“Pernahkah engkau mendengar tentang seorang petani di Niniveh yang dapat mendengar dan mengerti bahasa
binatang? Aku tidak akan menceritakan hal ini pada orang seolah-olah ini hanya cerita sambil lalu yang
diceritakan sambil menempa perunggu. Aku akan menceritakan hal ini karena engkau harus tahu bahwa
melakukan pinjam meminjam tidak sesederhana memindahkan keping emas dari tangan seseorang kepada
tangan orang lainnya.”

“Petani ini, yang dapat mengerti apa yang diperbincangkan sesama binatang, setiap sore selalu berjalan di
sekitar halaman kandang ternaknya mendengarkan pembicaraan mereka. Pada suatu senja ia mendengar seekor
kerbau mengeluh pada seekor keledai betapa berat tugas yang harus dikerjakannya : ‘Aku menghela bajak dari
pagi hingga petang. Betapapun teriknya hari, atau lunglainya kakiku, atau ketatnya busur bajak mencekik
pundakku, tetap perintah harus aku kerjakan. Tetapi engkau, makhluk yang santai. Engkau dibungkus sadel
warna warni dan tidak mengerjakan apa pun selain memanggul tuan kita kemanapun yang ia inginkan. Apabila
dia tidak pergi kemana-mana, engkau beristirahat dan makan rumput hijau sepanjang hari.’”

“Kemudian sang keledai, meski dia seekor hewan yang tendangannya sangat membahayakan, dia masih
merupakan sahabat yang baik dan memberikan tenggang rasa pada sang kerbau. ‘Sahabat baikku,’ sahutnya,
‘engkau memang bekerja dengan berat dan aku dapat memberikan saran untuk meringankan bebanmu. Jadi,
kukatakan kepadamu cara agar engkau dapt beristirahat sehari. Pagi hari ketika sang budak menjemputmu di
kandang untuk membajak hari itu, berbaringlah engkau di lantai dan banyak melenguh agar dia menyangka
engkau sedang sakit dan tidak bisa bekerja.’”

“Jadi sang kerbau menggunkan nasihat keledai, pada pagi berikutnya sang budak menghadap ke petani dan
mengatakan padanya sang kerbau sedang sakit dan tidak dapat digunakan untuk membajak pada hari itu.”

“’Jadi,’ kata petani, ‘gunakan sang keledai utnuk membajak, pekerjaan harus diteruskan.’”

“Sepanjang hari sang keledai, yang maksudnya semula hanya ingin menolong sahabatnya, mendapatkan dirinya
terpaksa mengerjakan pekerjaaan sang kerbau. Ketika malam tiba dia dilepaskan dari ikatan di bajak, hatinya
getir dan sendi-sendi kakinya goyah keletihan dan lehernya lecet tercekik busur bajak.”

“Sang petani, seperti biasa, berjalan-jalan di halaman kandang ternaknya mendengarkan.”


“Sang kerbau mulai terlebih dahulu. ‘Engkau memang sahabatku yang baik. Karena nasihatmu yang bijaksana
aku dapat menikmati istirahat satu hari penuh.’

“’Dan aku,’ rutuk sang keledai, ‘hanya seperti orang lugu yang semula hanya ingin membantu sahabatnya tetapi
justru berakhir dengan aku yang mengerjakan tugas sahabatnya itu. Besok engkau tarik kembali bajakmu,
karena aku mendengar tuan kita mengatakan pada budaknya untuk membawamu kepada tukang jagal apabila
besok engkau sakit lagi. Mudah-mudahan saja ia jadi melakukannya, karena engkau memang pemalas.’
Selanjutnya mereka, satu sama lain, tidak pernah berbicara lagi – hal ini menghentikan persahabatan mereka.
Dapat engkau sebutkan ajaran daam cerita ini, Rodan?”

“’Cerita yang bagus,’sahut Rodan, ‘tapi aku tidak melihat ajarannya.’”

“’Aku tidak berfikir engkau dapat menemukannya. Tapi ada ajarannya, sangat sederhana bahkan. Kira-kira
begini : Apabila engkau ingin menolong sahabatmu, lakukanlah dengan cara yang tidak membuat beban
sahabatmu itu menjadi bebanmu.”

“Iya, tidak terfikirkan olehku. Sungguh sebuah ajaran yang bijaksana. Aku juga tidak tentu mengharapkan akan
menanggung beban suami adikku. Tetapi katakan padaku. Engkau meminjamkan emas kepada banyak orang.
Tidakkah mereka membayarmu kembali?”

Mathon tersenyum dengan senyuman seseorang yang jiwanya sudah sangat kaya dengan pengalaman.
“Mungkinkah pinjaman akan bagus apabila sang peminjam tidak dapat membayarnya kembali?. Apakah yang
memberikan pinjaman tidak berfikir bijaksana dan memutuskan dengan hati-hati bagaimana caranya agar
emasnya dapat berfungsi sesuai dengan keperluan peminjam dan kemudain akan kembali lagi kepadanya; atau
bagaimana kalau emas itu disia-siakan oleh orang yang tidak mampu memanfaatkannya dengan bijaksana
sehingga menyebabkannya kehilangan semuanya, dan meninggalkan si peminjam dalam utang yang tidak
mampu ia lunasi? Aku akan tunjukkan padamu hal yang berkaitan dengan pinjaman yang kuberikan dan lihat
apa yang telah dilakuan para peminjam.”

Ia membawa ke ruangan itu sebuah kotak selebar lenannya terbalut kulit dan dihiasi ornamen perunggu. Ia
meletakkannya di lantai dan duduk di depannya, kedua lengannya diletakkan di atas tutup kotak itu.

“Dari setiap orang yang kuberikan pinjaman, aku tentukan suatu jaminan yang akan kusimpan dalam kotak
jaminan ini, dan tetap tersimpan di situ sampai pinjaman itu dibayarkan kembali. Apabila mereka melunasinya,
jaminan itu kukembalikan, tetapi apabila mereka tidak membayarnya kembali, jaminan itu akan selalu
mengingatkanku akan seseorang yang telah menyalahgunakan kepercayaanku.”

“Pinjaman teraman, seperti kotak jaminanku ini selalu mengingatkanku, adalah pinjaman kepada orang yang
nilai hartanya melebihi jumlah yang ia ingin pinjam. Mereka memiliki tanah, atau barang perhiasan, atau unta-
unta, atau harta lain yang dapat dijual untuk membayar utangnya. Sebagian jaminan yang diberikan kepadaku
berupa barang perhiasan yang nilainya lebih besar dari pijaman yang mereka inginkan. Yang lainnya berupa
perjanjian bahwa apabila pinjaman tersebut tidak dapat dikembalikan sesuai dengan yang telah diperjanjikan
mereka akan menyerahkan kepadaku harta bendanya sebagai alat pelunasan. Untuk peminjaman seperti itu aku
menjamin emas yang kupinjamkan akan kembali sekaligus dengan sewanya, karena semua yang kupinjamkan
dijaminkan dengan harta benda yang bernilai.’

“Untuk jenis lainnya, kuberikan pinjaman kepada orang-orang yang bermata pencaharian. Orang seperti engkau,
yang bekerja atau menyediakan tenaga dan memperoleh imbalannya. Mereka memiliki penghasilan dan apabila
mereka jujur dan tidak menghadapi halangan atau kemalangan apa-apa, aku tahu mereka dapat membayar
kembali emas yang kupinjamkan kepada mereka beserta sewanya yang diperjanjikan kepadaku. Pinjaman
seperti itu kuberikan berdasarkan usaha atau mata pencaharian seseorang.”

“Yang lainnya mereka yang tidak memiliki harta dan mata pencahariannya tidak terjamin. Hidup memang susah
dan selalau saja ada orang yang tidak dapat mengatasinya atau menyesuaikan hidupnya. Sayangnya, untuk
pinjaman kepada orang seperti ini, meskipun hanya seketip, kotak jaminanku akan menyuruhku menolaknya
selamanya kecuali mereka dijamin oleh sahabat baik sang peminjam yang mengetahui bahwa sang peminjam
adalah orang yang berkehormatan dan berkelayakan.”

Mathon, melepas penguncinya dan membuka tutup kotak jaminan. Rodan membungkuk ingin melihat isinya.
Pada bagian paling atas kotak itu sebuah kalung perunggu terletak di atas selembar kain sutera ungu. Mathon
mengambil kalung itu dan mengusapnya dengan lembut. “Barang ini akan selalu ad dalam kotak jaminanku ini
karena pemiliknya telah meninggalkan dunia ini ke alam arwah. Akan kusimpan, jaminannya, dan dia akan sellu
kukenang keberadaannya; karena ia salah seorang sahabat baikku. Kami berdagang bersama dan sangat berhasil
hingga suatu hari datang dari negeri timur ia membawa seorang wanita untuk dinikahinya, sangat cantik, tetapi
tidak seperti wanita-wanita Babilonia. Seorang makhluk yang sempurna. Ia hamburkan emas-emasnya untuk
menyenangkan hati sang wanita. Ia datang kepadaku dengan risaunya ketika emasnya benar-benar habis. Kami
bicarakan masalah ini bersama. Kukatakan padanya akau akan membantunya kembali mengendalikan dirinya
sendiri. Ia berjanji di atas medali Lembu Agung bahwa ia akan mengendalikan diri. Tetapi hal sebaliknya yang
ia lakukan. Dalam sebuah pertengkaran, sang wanita menusukkan belati kejantungnya ketika ia menantang sang
wanita itu untuk melakukannya.”

“Dan sang wanita?” tanya Rodan.

“Ya, tentu saja, ini milik sang wanita.” Ia mengambil kain sutera ungu. “Dalam penyesalan yang memilukan
sang wanita membenamkan dirinya ke Furat. Dua piutang ini tidak akan pernah terbayar. Kotak ini mengatakan
padamu, Rodan, bahwa orang yang dilanda masalah hati dan kejiwaan bukanlah orang tanpa risiko bagi pemberi
pinjaman emas.”

“Ini! Ini hal yang berbeda.” Ia menjangkau sebuah cincin yang dibuat dari tulang lembu. “Cincin ini milik
seorang petani. Aku membeli permadani yang dirajut istrinya. Ketika datang hama belalang, dan mereka tidak
memiliki apapun untuk dimakan. Aku membantu mereka dan ketika tanaman baru kembali tumbuh dan dia
memperoleh panen yang baik, ia membayar kembali pinjaman yang kuberikan. Kemudian ia datang lagi dan
menceritakan adanya kambing unggul dari daerah yang jauh sebagaimana diceritakan oleh para pengembara.
Kambing-kambing itu memiliki bulu yang lebih panjang, lebih halus, dan lebih lembut yang kalau dirajut
menjadi permadani akan diperoleh permadani yang lebih cantik dari yang pernah dilihat di Babilonia. Ia
menginginkan ternak itu tetapi tidak memiliki emas. Jadi kupinjamkan kepadanya emas untuk melakukan
perjalanan ke negeri jauh dan membeli kambing unggul itu. Sekarang dia mulai menernakkan kambing itu dan
tahun depan aku akan mengejutkan para pangeran Babilonia dengan permadani termahal, yang akan sangat
beruntung bagi mereka, kalau dapat membelinya. Nanti cincin ini harus segera kukembalikan karena petani ini
menginginkan segera melunasi utang-utangnya tepat waktu.”

“Banyak peminjam emas melakuan hal begitu?” tanya Rodan.

“Apabila mereka meminjam untuk kepentingan yang memberikan penghasilan padanya, rata-rata kudapatkan
mereka membayar kembali utang-utangnya. Tetapi kalau mereka meminjam emas untuk dipergunakan pada hal-
hal sesuai dengan kehendak hatinya, kuingatkan engkau untuk lebih berhati-hati apabila emas yang engkau
pinjamkan itu dapat kembali utuh kepadamu.”

“Ceritakan padaku hal itu,” pinta Rodan, sambil mengambil sebuah gelang wanita dari emas yang berat,
berhiaskan batu permata dengan potongan-potongan yang indah.

“Wanita menarik perhatianmu sahabatku,” canda Mathon.

“Aku masih jauh lebih muda daripadamu,” sahut Rodan.

“Aku pastikan itu, tapi pada hal ini engkau jangan menaruh curiga ada masalah percintaan atau apapun, tidak.
Pemilik gelang ini, orangnya gemuk dan sudah berkerutan dan terlalu banyak berbicara meski untuk
mengatakan hal yang sedikit membuatku cukup pusing. Semula mereka memiliibanyak harta dan menjadi
pelanggan yang baik, tetapi masa-masa sulit dialami mereka. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang sangat
ingin agar anaknya menjadi seorang pedagang. Dia mendatangiku dan meminjam sejumlah emas dan kemudian
anaknya menjadi rekan dagang suatu pemilik karavan yang bepergian dari satu kota membeli seuatu dan
menukarkannya dengan barang lain di negeri lainnya.”

“Pemilik karavan ini ternyata seorang penipu, ia meninggalkan anak laki-laki itu pada suatu kota yang sangat
jauh tanpa uang dan tanpa teman, mereka pergi meninggalkan negeri itu pagi-pagi sekali ketika anak itu sedang
tertidur. Mungkin kalau anak ini dewasa nanti ia akan membayar utangnya kembali; sementara itu akau tidak
meminta imbalan sewa atas emas yang kupinjamkan itu – dan hanya pembicaraan yang tersisa dari pinjaman itu.
Tetapi harus aku akui gelang emas ini sama nilainya dengan pinjaman yang kuberikan.”
“Tidakkah wanita ini meminta pendapatmu tentang penggunaan pinjaman itu?”

“Bagaimana mungkin. Sebaliknya bahkan. Ia bahkan sudah membayangkan anak laki-lakinya itu menjadi orang
kaya yang berpengaruh di Babilonia. Menyebutkan hal yang tidak sama dengan bayangan itu bahkan
membuatnya marah. Sergahan kasar yang kudapat. Aku sendiri dapat menilai risiko yang mungkin dihadapi
anak yang belum berpengalaman itu, tetapi karena wanita itu menawarkan jaminan yang senilai, aku tidak dapat
menolaknya.”

“Ini,” lanjut Mathon, mengayunkan rantai perak halus yang disimpul indah, “milik Nebatur, pedagang unta.
Apabila ia akan membeli unta dengan nilai yang melebihi keuangannya ia membawa rantai perak ini padaku dan
aku memberikan pinjaman padanya sesuai kebutuhannya. Dia seorang pedagang yang bijaksana. Aku yakin
pada kemampuannya berdagang dan berani dengan ringan memberikannya pinjaman yang dia perlukan. Banyak
pedagang-pedagang di Babilonia yang dapat kupercaya karena telah kukenal tingkah lakunya yang terhormat.
Jaminan yang mereka berikan datang dan pergi berulengkali dari kotak jaminanku ini. Pedagang yang baik
merupakan harta tak ternilai bagi kota ini, mereka memberikan keuntungan kepadaku yang membantu mereka
tetap menggulirkan usahanya yang membuat Babilonia menjadi berlimpah.”

Mathon meraih sebuah patung kumbang yang diukir dari batu baiduri hijau melemparkannya begitu saja ke atas
permadani. “Kumbang dari Mesir. Anak muda yang memiliki kumbang ini tidak perduli apakah aku akan
mendapatkan kembali emas yang kupinjamkan atau tidak. Apabila aku mengunjunginya dia akan menjawab,
‘Bagaimana mungkin akau dapat membayarmu apabila nasib buruk terus menerus menghantuiku? Lagi pula,
bukankah engkau masih memiliki banyak harta.’ Apa yang dapat kulakukan? Jaminan ini milik ayahnya – orang
yang terpandang tetapi tidak terlalu berada, yang menjaminkan tanah dan ternaknya sebagai pendukung usaha
anaknya. Awalnya, anak itu memperoleh keberhasilan dan kemudian menjadi sangat berambisi untuk
memperoleh kekayaan lebih banyak. Pengetahuannya belum sepadan. Usahanya berkecaian.

“Anak muda penuh keinginan. Anak muda akan bersedia mengambil jalan pintas ke kekayaan dan hal-hal lain
yang diinginkannya dan akan mati-matian mempertahankannya. Untuk mendapatan kekayaan dengan cepat
anak muda sering melakukan pinjaman dengan tidak berhati-hati. Sebagai anak muda, belum pernah memiliki
pengalaman, tidak menyadari bahwa utang yang tidak memberikan hasil sama seperti perigi buta yang dalam
yang kedalamnya seseorang akan terjun dengan segera dan menderita beberapa masa di dalamnya. Perigi buta
itu perigi kesedihan dan penyesalan, sinar matahari tidak dapat mencapaimu dan malam-malam tidak bahagia
selalu membuat engkau terjaga dari tidurmu. Tetapi aku tidak melarang melakukan pinjaman. Aku bahkan
menganjurkannya. Aku menyarankannya apabila pinjaman itu benar-benar digunakan untuk tujuan yang jelas
menjanjikan. Aku sendiri pun memulai keberhasilanku yang pertama sebagai saudagar dengan emas yang
kupinjam.”

“Jadi, apa yang harus dilakukan pemberi pinjaman uang dalam masalah ini? Sang anak muda sedang dalam
kesulitan, dan usahanya tidak menghasilkan apa-apa. Dia tidak dapat diandalkan. Dia tidak berusaha untuk
membayar kembali pinjaman emas itu. Hatiku tidak menginginkan aku mengambil alih tanah dan ternak orang
tuanya.”

“Engkau telah menceritakan banyak hal yang sangat ingin kudengar,” ucap Rodan, “tetapi, aku belum
mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. Haruskah aku meminjamkan lima puluh keping emas milikku kepada
suami adikku? Mereka sangat berarti bagiku.”

“Adikmu orang yang sangat baik dan sangat kuhormati. Tetapi, seandainya suaminya datang kepadaku ingin
meminjam lima puluh keping emas aku akan bertanya pada suaminya untuk apa akan ia gunakan emas yang
akan kupinjamkan itu.”

“Apabila ia menjawab bahwa dia ingin menjadi saudagar seperti diriku berdagang perhiasan permata dan
perabotan mahal, akan kukatakan, ‘Apa yang engkau ketahui dalam seluk beluk perdagangan itu? Tahukah
engkau dimana engkau dapat membeli barang-barang itu dengan harga yang serendah-rendahnya? Tahukah
engkau dimana engkau dapat menjual barang perniagaan itu dengan harga yang pantas?’ Dapatkah ia menjawab
‘Ya’ pada pertanyaan-pertanyaan itu?”

“Tidak, di tidak bisa,” aku Rodan. “Dia banyak menolongku dalam membuat lembing dan dia juga membantuku
di gerai penjualannya.”
“Jadi, dapat kukatakan padanya bahwa tujuannya tidak jelas dan kurang bijaksana. Saudagar harus mempelajari
secara menyeluruh bidang usahanya. Keinginannya, cukup bagus, tetapi tidak dapat dilaksanakan dan aku tidak
akan memberikannya pinjaman emas.”

“Tapi, kalau seandainya dia dapat menjawab : ‘Ya, aku telah banyak membantu para saudagar. Aku tahu jalan
ke Smyrna dan dapat membeli permadani dengan harga yang murah dari para ibu-ibu yang merajutnya di sana.
Aku juga mengenal banyak orang kaya di Babilonia yang kepada mereka permadani itu dapat kujual dengan
laba yang tinggi.’ Kemudian aku akan bertanya : ‘Tujuanmu jelas dan bijaksana sekali dan keinginanmu sangat
kuhormati. Aku akan sangat senang memberikanmu pinjaman lima puluh keping emas apabila engkau dapat
memberikan jaminan bahwa pinjaman itu akan engkau kembalikan.’”

“Tetapi kalau ia mengatakan : ‘Aku tidak memiliki jaminan apa pun selain bahwa aku orang yang terhormat dan
tidak tercela dan aku akan membayar kembali pinjaan itu.’ Aku akan mengatakan, ‘Aku sangat menghargai
emas-emasku, tiap kepingnya. Apabila ada penjahat yang merampok emasmu saat engkau bepergian ke Smyrna
atau menyamun permadani-permadani indahmu saat engkau kembali, engau kemudian tidak memiliki apa-apa
untuk mengembalikan emas pinjaman itu padaku, maka lenyaplah emas-emasku.’”

“Emas, ketahuilah, Rodan, adalah barang dagangan bagi pemberi pinjaman sepertiku. Sangat mudah
memberikan pinjaman. Apabila diberikan dengan tidak bijaksana akan sangat sukar untuk memperolehnya
kembali. Pemberi pinjaman yang bijaksana tidak menginginkan terjadinya resiko pemberian pinjaman, yang
diinginkan justru jaminan pengembalian pinjaman.”

“Juga,” Mathon melanjutkan, “membantu mereka yang dalam kesulitan. Pinjaman ini juga diberikan pada siapa
yang nasibnya sedang dalam kesulitan. Pinjaman juga diperlukan mereka yang akan memulai usahanya yang
selanjutnya akan berkembang dan menjadi orang yang berhasil. Tetapi, pertolongan harus diberikan dengan
bijaksana, jika tidak, sama seperti keledai petani, dengan keinginan kita menolong akhirnya kita sendiri yang
justru menanggung beban yang seharusnya menjadi milik orang yang kita tolong.”

“Sekali lagi aku menyatakan hal yang menyimpang dari pertanyaanmu, Rodan, tapi dengar jawabanku : Simpan
lima puluh keping emas milikmu itu. Apa yang mata pencaharianmu hasilkan untukmu dan apa yang telah
diberikan padamu sebagai hadiah kerja kerasmu adalah milikmu sendiri, tidak akan ada seorangpun yang harus
mewajibkan engkau meminjamkannya pada siapa pun kecuali sesuai dengan keinginanmu sendiri. Apabila
engkau akan menanamkannya sebagai modal yang engkau pinjamkan agar memberikan engkau tambahan lebih
banyak emas, maka lakukanlah dengan penuh kehati-hatian dan di beberapa tempat. Aku tidak senang melihat
emas nganggur yang tidak dimanfaatkan, tetapi aku lebih tidak suka menghadapi risiko yang terlalu besar.”

“Berapa tahun sudah engkau melakukan pekerjaan membuat lembing?”

“Tiga tahun penuh.”

“Berapa banyak simpanan emasmu selain hadiah Sang Raja?”

“Tiga keping emas.”

“Setiap tahun dari hasil pencaharianmu setelah engkau tahan keinginanmu untuk menggunakan semua
penghasilanmu engkau telah dapat menyisihkan satu keping emas?”

“Ya, begitu, seperti yang engkau katakan.”

“Jadi, bukankah nanti setelah engkau memerlukan lima puluh tahun bertungkus lumus baru dapat terkumpul
lima puluh keping emas?.

“Sepertinya, pekerjaan seumur hidup.”

“Apakah engkau fikir adikmu akan menginginkan engkau membahayakan simpanan lima puluh tahun kerja
keras demi gentong perunggu yang akan dicoba untuk diperdagangkan oleh suaminya agar menjadi seorang
saudagar?”

“Pastinya tidak, apabila aku jelaskan seperti apa yang engkau katakan.”
“Jadi pergilah mendapatkannya dan katakan : ‘Tiga tahun aku bekerja setiap hari kecuali hari-hari puasa, dari
pagi hingga sore hari, dan aku telah menahan keinginan hatiku dari memperoleh hal-hal yang kuperlukan. Untuk
setiap tahun kerja keras dan menahan diri aku dapat menyisihkan satu keping emas. Engkau memang adikku
yang sangat kusayangi dan kuharapkan suamimu akan berusaha dalam mata pencahariannya dan berhasil.
Apabila dia dapat menyampaikan padaku rencana yang jelas dan bijaksana dan mungkin dijalankan menurut
sahabatku, Mathon, maka aku akan sangat senang meminjamkan simpananku setahun dan dia akan
mendapatkan kesempatan membuktikan bahwa dia akan berhasil.’ Lakukan itu, kataku, dan apabila dalam
hatinya terdapat bibit keberhasilan ia akan dapat membuktikannya. Apabila ia gagal ia tidak akan berutang
padamu lebih dari yang dia perkirakan mampu ia bayar.”

“Aku memberi pinjaman emas karena aku memiliki emas lebih banyak dari yang aku butuhkan untuk
menjalankan usaha dalam mata pencaharianku. Keinginanku hanya agar kelebihan emasku ini dapat bekerja
pada orang lain dan memberikan emas tambahan bagiku. Aku tidak mau mengambil risiko kehilangan emasku
yang sudah kuperoleh dengan susah payah dan telah menahan diriku dari menggunakannya untuk banyak
kepentinganku yang lain agar aku dapat memperolehnya. Oleh karena itu, aku tidak akan memberikan pinjaman
pada hal-hal yang aku tidak merasa yakin akan kemanannya dan kemungkinan emas itu dikembalikan kembali
kepadaku. Aku tidak juga akan memberikan pijaman emasku apabila aku tidak yakin sewa yang harus
dihasilkannya dibayarkan padaku sesuai dengan yang diperjanjikan.”

“Telah kukatakan kepadamu, Rodan, sebagian rahasia yang disimpan di kotak jaminan ini. Dari cerita-cerita itu
engkau dapat mempelajari kelemahan manusia dan keinginannya untuk meminjam emas meski mereka tidak
memiliki sarana untuk membayarnya kembali. Dari situ engkau dapat melihat betapa seringnya harapan yang
tinggi terhadap hasil terbaik yang diharapkan, ketika emas sudah ditangannya, ternyata hanya bayangan semu
yang tidak dapat mereka capai karena tidak berkemampuan atau pun cukup berpengalaman untuk
mencapainya.”

“Engkau, Rodan, sekarang memiliki emas yang seharusnya engkau pekerjakan untuk memperoleh tambahan
emas lainnya. Engkau akhirnya dapat saja menjadi sama seperti aku, pemberi pinjaman emas. Apabila engkau
dengan hati-hati menjaga emas-emasmu, mereka akan memberikan hasil yang berlipatganda bagimu dan
menjadikannya sumber kegembiraan dan keberuntungan pada setiap hari-harimu. Tetapi apabila engkau biarkan
ia berlalu pergi darimu, ia akan menjadi sumber kesedihan berlarut dan penyesalan sepanjang ingatanmu.”

“Apa yang paling ingin engkau lakukan terhadap emas yang ada di kantungmu?”

“Menjaganya agar aman tersimpan.”

“Ucapan yang bijaksana,” jawab Mathon menyetujui. “Harapanmu yang pertama adalah agar emasmu aman.
Apakah engkau fikir, dalam tangan suami adikmu emas ini akan benar-benar aman dari risiko usahanya?”

“Aku khawatir tidak aman, karena aku kira dia kurang bijaksana dalam mengelola emas.”

”Jadi, jangan goyah oleh bayangan kewajiban yang bodoh itu, jangan begitu saja mempercayakan emasmu
kepada siapapun. Kalau engkau ingin membantu keluargamu atau sahabat-sahabatmu, cari cara lain selain
membahayakan kepemilikanmu yang berharga. Jangan lupa, emas akan lenyap dengan cara tak terduga di
tangan orang yang tidak berpengalaman mengelolanya. Sama halnya menghambur-hamburkan emasmu untuk
hal-hal yang tidak perlu seperti membiarkan orang lain menghilangkannya untukmu.”

”Apa selanjutnya, setelah keamanan emasmu, yang engkau inginkan.”

“Memperoleh lebih banyak emas.”

“Sekali lagi engkau telah berbicara dengan bijaksana. Emas harus dipergunakan untuk memperolah hasil dan
berkembang lebih banyak. Emas yang dipinjamkan dengan bijaksana, akan mampu menggandakan dirinya dari
hasil yang diusahakannya bahkan sebelum orang seumurmu menjadi tua. Apabila engkau menghilangkannya,
engkau kehilangan hasil yang mungkin dapat diusahakan emas itu juga.”

“Oleh karena itu, jangan tergoda oleh rencana besar yang tidak mungkin dicapai hanya karena pembuat rencana
berfikir dapat mempekerjakan emas dengan lebih keras agar hasilnya lebih besar. Rencana seperti itu biasanya
hanya diciptakan orang yang hanya mampu bermimpi tanpa memperhatikan risiko dan hukum-hukum
perdagangan yang dapat dipercaya. Berhati-hatilah pada apa yang engkau harapkan dapat dihasilkan emas-emas
itu agar engkau tetap dapat memilikinya dan menikmati emas-emasmu. Menyewakannya kepada seseorang
dengan janji hasil yang luar biasa sama saja dengan mengundang kerugian sebagai tamu datang kepadamu.”

“Cari dan berkumpullah dengan orang-orang atau kongsi-kongsi yang hasilnya sudah terbukti sehingga emasmu
akan memberikan hasil yang bagus dibawah pengelolaan mereka yang sudah ahli dan terjaga oleh kebijaksanaan
dan pengalaman mereka.”

“Dan, hendaknya engkau hindari kemalangan yang mengikuti sebagian besar anak manusia yang pada mereka
Para Dewa telah melihat cukup pantas untuk diberi kepercayaan mengelola emas.”

Ketika Rodan menyampaikan terima kasih atas saran bijaksana yang ia berikan, yang terima kasih itu Mathon
abaikan, Mathon berkata lagi, “Hadiah Sang Raja akan banyak memberimu pelajaran kebijaksanaan. Engkau
harus menyimpan lima puluh keping emas itu dengan penuh kerahasiaan. Banyak sekali jalan untuk
menggunakannya yang akan menggodamu. Banyak sekali saran-saran yang akan engkau dengar. Banyak
kesempatan berharga untuk memperoleh keuntungan yang besar akan ditawarkan padamu. Cerita-cerita dari
kotak jaminanku seharusnya akan mengingatkanmu, bahwa sebelum engkau mengeluarkan setiap keping emas
yang ada di kantungmu engkau harus yakin engkau akan dapat dengan selamat menariknya kembali. Apabila
nasihatku yang lain engkau perlukan, kembalilah kemari. Aku akan dengan senang hati memberikannya.”

“Ini, engkau harus membaca tulisan yang kupahat dibawah tutup kotak jaminanku ini. Kalimat ini berlaku bagi
keduanya, peminjam atau pemberi pinjaman.”

LEBIH BAIK SEDIKIT BERHATI-HATI


DARI PADA PENYESALAN YANG BERLARUT
VII : TEMBOK KOTA BABILONIA
TEMBOK KOTA BABILONIA

Si tua Banzar, bekas prajurit yang gagah berani, tegak berdiri menjaga pintu gerbang masuk lorong menuju ke
atas tembok kota lama Babilonia. Di atasnya pengawal-pengawal perkasa berperang mempertahankan kota.
Kepada kekuatan merekalah tergantung kelangsungan kehidupan kota besar ini bersama dengan ratusan ribu
penghuninya.

Di balik tembok terdengar teriakan-teriakan para penyerang, jeritan banyak sekali manusia, depakan kaki ribuan
kuda, dentuman memekakkan palang penggempur gerbang yang terus melantak gerbang perunggu kota.

Pada jalan di depan gerbang berjaga barisan pemanah, menunggu para penyerang seandainya mereka berhasil
menembus gerbang kota. Jumlah mereka tidak cukup banyak untuk tugas itu. Pasukan utama Babilonia sedang
menyertai Sang Raja, jauh di timur dalam sebuah ekspedisi mengenyahkan pemberonrak Elamites. Tidak ada
penyerangan ke kota yang diperkirakan datang pada saat kepergian mereka, pengawal kota sangat sedikit. Tanpa
diduga, dari utara, datang menyerang pasukan Assyria. Dan sekarang tembok kota harus dipertahankan atau
Babilonia akan hancur.

Banyak sekali penduduk di sekeliling Banzar, pucat dan ketakutan, sangat ingin mengetahui perkembangan
peperangan itu. Dengan mata tertegun gerun mereka melihat para serdadu yang luka atau tewas dibawa ke garis
belakang melalui lorong tembok kota.

Di tembok sekitar inilah titik terpenting dalam penyerangan itu. Setelah tiga hari mengurung kota, para musuh
tiba-tiba melancarkan serangan terkuatnya pada sisi tembok yang dekat dengan lorong yang dijaga Banzar.

Pengawal di atas tembok kota berhadapan dengan tangga-tangga dan tiang pemanjat yang disandarkan
penyerang pada sisi luar tembok, memanahi penyerangnya, menyiramkan minyak panas, atau menombaki siapa
saja yang berhasil mencapai atas tembok. Melawan para pengawal, ribuan pemanah dari pihak penyerang terus
menerus menyirami prajurit di atas tembok kota dengan anak-anak panah yang mematikan.

Si tua Banzar, berada di posisi terbaik untuk mendengarkan berita perkembangan peperangan. Ia pihak terdekat
ke pusat peperangan dan yang pertama mendengar setiap denyut terbaru perkelahian dan getar keganasan
penyerangan.

Seorang saudagar yang sudah cukup tua yang berkumpul dekat dengan Banzar, tangannya pucat kaku dan
gemetar. “Katakan padaku! Ceritakan!” pintanya. “Mereka tidak boleh masuk. Anakku sedang bersama Sang
Raja. Tidak ada yang menjaga istriku yang sudah tua. Barang milikku, mereka akan merampoknya semua.
Makananku, tidak akan ada yang mereka sisakan. Kita sudah tua, terlalu tua untuk dapat menjaga diri kita
sendiri – terlalu tua juga untuk menjadi budak. Kita akan kelaparan. Kita akan mati. Katakan padaku bahwa
mereka tidak akan bisa masuk.”

“Tenangkan dirimu, saudagar tua,” jawab sang pengawal. “Tembok kota Babilonia sangat kuat. Kembalilah ke
pasar dan katakan pada istrimu bahwa tembok kota akan melindungimu dan seluruh harta bendamu seselamat
tembok itu melindungi harta kekayaan Sang Raja. Merapatlah lebih ke sisi tembok, nanti anak-anak panah yang
melayang-layang itu dapat mengenaimu.”

Seorang wanita dengan bayi digendongannya menggantikan tempat saudagar tua berdiri ketika sang saudagar
berlalu. “Sersan, apa berita baru dari atas?” Ceritakan padaku yang sesungguhnya agar akau dapat menenangkan
suamiku. Ia masih terbaring demam akibat luka-lukanya, tetapi tetap masih memintaku menyiapkan tameng dan
lembing agar dia dapat menjagaku, beserta anakku. Sudah pasti akan sangat mengerikan apabila musuh yang
haus darah itu sampai berhasil masuk ke dalam kota.”

“Tetaplah tenangkan hatimu, setenang hati ibumu, dan akan tetap tenang begitu, karena tembok kota Babilonia
akan melindungimu dan anakmu. Tembok ini tinggi dan sangat kuat. Tidakkah engkau dengar teriakan
pengawal kita yang gagah itu ketika mereka mencurahkan minyak panas berapi pada penyerang di tangga-
tangga pemanjat?”
“Ya, aku memang mendengarnya, tetapi aku juga mendengar batang penggedor gerbang yang terus memalu
gerbang kota.”

“Kembalilah pada suamimu. Katakan padanya gerbang kota amat sangat kuat dan dapat menahan batang
penggedor. Juga para penyerang yang memanjat tembok kota akan menghadapi tombakan pengawal. Jaga
dirimu, dan berlindunglah dalam bangunan.”

Banzar melangkah ke samping untuk memberikan jalan kepada pertahanan beralat berat. Dengan dentangan
tameng perunggu dan rantai-rantai yang berat, mereka menapaki lorong itu, seorang anak perpempuan
memegangi sabuk perunggu Banzar.

“”Katakan padaku prajurit, tolong, apakah keadaan kita aman?” pintanya. “Aku mendengar bunyi-bunyi yang
tidak menyenangkan. Aku lihat para punggawa berdarah-darah. Aku takut sekali. Apa yang akan terjadi pada
keluargaku. Ibuku, adikku dan para bayi?”

Prajurit tua yang gagah itu mengedipkan matanya dan menegakkan wajahnya ketika ia menenangkan anak itu.

“Jangan takut, anak kecil,” ia meyakinkannya. “Tembok kota Babilonia akan melindungimu dan ibumu dan
adikmu dan para bayi. Untuk mengamankan hal itu semualah Ratu Semiramis kita yang baik itu membangunnya
lebih dari seratus tahun yang lalu. Tidak pernah tembok kota ini ditembus oleh musuh manapun. Pergi kembali,
katakan pada ibumu dan adikmu dan para bayi bahwa tembok kota Babilonia akan melindungi mereka dan
mereka tidak perlu gentar.”

Hari demi hari si tua Banzar berjaga pada posnya dan mengamati pasukan pertahanan beralat berat memenuhi
lorong ke atas tembok kota, tetap di sana mempertahankan kota hingga terluka atau tewas baru mereka
meninggalkan tembok itu. Di sekitarnya, tidak henti-hentinya berdatangan kerumunan penduduk kota yang
dalam ketakutan mencari tahu dan bertanya apakah tembok kota dan pengawalnya masih mampu bertahan.
Kepada mereka semua, Banzar memberikan jawaban dengan penuh keyakinan seorang serdadu tua, “Tembok
kota Babilonia akan melindungi engkau.”

Selama tiga minggu dan lima hari penyerangan itu berlangsung dengan kekerasan tanpa henti. Semakin kuat dan
perkasa terlihat rahang Banzar, sementara lorong di belakangnya basah oleh darah para prajurit yang terluka,
bercampur lumpur di tanah yang terus terinjak-injak oleh para prajurit yang berlalu lalang ke atas tembok dan
kembali ke bawah. Setiap hari penyerang yang terbunuh menumpuk di sekitar tembok kota. Setiap malam
rekan-rekannya mengumpulkan dan menguburkan mereka.

Pada malam kelima minggu keempat suara-suara teriakan yang biasanya riuh rendah berkurang. Pada pagi
berikutnya, ketika sinar mentari pertama menerangi padang luas di luar tembok kota, tampak kabut debu
mengambang terhambur oleh jejak para penyerang yang sedang mengundurkan diri.

Teriakan kemenangan bergema di pihak pengawal tembok kota yang bertahan. Tidak diragukan lagi artinya.
Teriakan itu disahuti oleh keriuhan teriakan para prajurit lainnya yang sedang siaga di sisi dalam tembok,
diulangi lagi oleh gemuruh suara-suara penduduk di jalan-jalan dalam kota. Bergemuruh menyapu seluruh kota
bagai badai tetapi melegakan.

Orang-orang keluar dari kediamannya. Jalan-jalan dipenuhi kerumunan manusia. Rasa takut yang memberatkan
dada bermingu-minggu seolah menguap bertukar dengan arak-arakan kegembiraan. Dari puncak Kuil Bel yang
tinggi dinyalakan api kemenangan. Melambung ke udara asap biru dari padanya, menyampaikan pesan sampai
ke tempat-tempat yang jauh dan lebih luas.

Tembok kota Babilonia telah sekali lagi menangkal serangan musuh yang kuat dan garang yang meski telah
berazam menjarah perbendaharaan kota dan memusnahkan penduduknya atau menjadikan mereka budak, terjadi
tidak.

Babilonia bertahan dari abad ke abad karena kota itu terjaga secara meneyeluruh. Dia tidak boleh lalai
melakukannya.

Tembok kota Babilonia merupakan contoh yang luar biasa tentang kebutuhan manusia dan keinginanan untuk
tetap terlindungi dengan aman. Keinginan yang selalu ada dalam sejarah kemanusiaan. Keinginan itu masih
sama kuatnya sekarang dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, tetapi untuk tujuan yang sama, kita telah
mengembangkannya menjadi lebih luas dan merencanakan dengan labih baik.

Pada hari ini, dibalik banyak sekali perlindungan asuransi, tabungan dan sarana investasi lainnya, yang tidak ada
yang dapat kita hindari, kita dapat menjaga diri kita sendiri dari kemalangan yang tidak dapat diduga yang dapat
saja datang melintas atau bahkan duduk bersama di ruang tamu.

KITA TIDAK DAPAT MENGATASI KEHIDUPAN


TANPA PERLINDUNGAN YANG CUKUP
VIII : PEDAGANG UNTA DI BABILONIA

PEDAGANG UNTA DI BABILONIA

Semakin lapar seseorang, semakin terang batinnya bekerja – juga semakin tajam penciumannya pada aroma
makanan.

Tarkad, anak laki-laki Azure, setidaknya berfikir begitu. Selama dua hari penuh dia tidak mencicipi makanan
kecuali dua buah kesemek kecil yang dicurinya di atas pagar sebuah kebun. Dia tidak dapat memetik yang
lainnya karena tiba-tiba datang seorang wanita yang dengan marahnya mengejar Tarkad sepanjang jalan. Suara
teriakannya yang tajam masih terngiang-ngiang di telinganya ketika ia berjalan menyusuri keramaian pasar.
Lengkingan itu membuatnya menahan diri dari mencuri buah-buahan yang menggoda, yang begitu banyak
dijual di pasar itu.

Belum pernah disadarinya betapa luar biasa banyaknya bahan makanan di bawa ke pasar Babilonia dan betapa
enaknya aroma bebauan yang menyertai sayur dan buah itu. Meninggalkan pasar, ia berjalan ke sebuah
penginapan dan mondar-mandir di depan sebuah rumah makan. Mungkin di sini dia dapat bertemu dengan
seseorang yang dikenalnya, seseorang yang dapat ia minta diberi pinjaman sekeping perunggu yang akan dapat
membuat penjaga penginapan yang tidak ramah itu tersenyum, dan dengan itu juga, rela memberikan bantuan.
Tanpa keping perak itu dia sangat tahu bagaimana perilaku sangat tidak senangnya penjaga penginapan itu
ketika berhadapan dengannya.

Ketika ia sedang asik memikirkan hal itu, secara tak terduga ia terserempak muka dengan muka dengan
seseorang yang paling dihindarinya, seorang yang berperawakan tinggi dan bertulang besar Dabasir, pedagang
unta. Di antara semua sahabat dan siapapun yang pernah ia pinjam sedikit, paling-paling beberapa keping
perunggu, Dabasir yang paling tidak membuatnya nyaman karena kegagalannya untuk memenuhi janji untuk
mengembalikannya tepat waktu.

Wajah Dabasir sedikit lega mendapatkannya. “Ha! Ini dia Tarkad, orang yang kucari-cari mungkin dia akan
mengembalikan dua keping perunggu yang kupinjamkan kepadanya satu bulan yang lalu; juga satu keping perak
yang kupinjamkan padanya sebelum itu. Akhirnya kita bersua. Aku sangat memerlukan keping-keping itu hari
ini. Apa katamu, Nak? Bagaimana?”

Tarkad tergagap dan wajahnya semu memucat. Dengan perut yang kosong dia tidak lagi memiliki nyali untuk
bertengkar dengan Dabasir yang gemar berbicara itu. “Maafkan aku, maaf sekali,” ia bergumam pelahan, ”tetapi
hari ini aku tidak memiliki keping perunggu ataupun keping perak untuk membayarmu.”

“Maka carilah,” deask Dabasir. “Tidak dapatkah engkau memperoleh beberapa keping perunggu dan sekeping
perak untuk membayar kembali kemurahan hati seorang sahabat lama ayahmu yang menolongmu ketika engkau
dalam kesempitan?”

“Aku sedang dirundung malang, bagaimana mungkin aku akan dapat membayarmu kembali.”

“Kemalangan! Engkau menyalahkan para dewa karena kelemahanmu sendiri. Kemalangan merundung orang
yang hanya memikirkan meminjam uang dari pada membayar utang-utangnya. Mari ikut besamaku, nak, aku
mau makan. Aku lapar, sambil makan akan kuceritakan kepadamu sebuah cerita.”

Tarkad kecut hatinya mendengar keterusterangan Dabasir, tapi paling tidak ada ajakan masuk ke rumah makan
yang memang selalu diidamkannya.

Dabasir mendorongnya ke sudut ruangan yang agak jauh dimana mereka duduk diatas sebuah permadani kecil.

Ketika Kauskor, pemilik rumah makan, muncul sambil tersenyum, Dabasair menyapanya dengan bahasanya
yang agak kasar tetapi sangat terbuka, “Kadal gurun gendut, hidangkan aku sepotong kaki kambing, agak
berlemak setengah matang, dan roti dan semua sayur-sayuran, aku lapar dan mau makan agak banyak.Jangan
lupakan sahabatku ini. Bawakan dia seteko air. Air yang dingin, bukankah hari ini panas.”
Hati Tarkad tersumbat. Haruskah ia duduk disini dan hanya minum air sementara melihat orang ini melahap
kaki kambing segar itu? Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak dapat menemukan kata-kata untuk diucapkan.

Dabasir, sebaliknya, tidak pernah mengenal kata diam. Tersenyum dan melambaikan lengannya dengan halus
kepada pelanggan lainnya, yang semuanya dikenalnya dengan baik, melanjutkan pembicaraannya.

“Aku mendengar dari seorang yang baru datang dari Urfa cerita tentang seorang yang kaya yang memiliki
sepotong batu yang di belah tipis sekali sehingga sehingga seseorang dapat melihat menembus batu itu. Ia
menaruh batu itu di jendela rumahnya agar tidak dimasuki air hujan. Warnanya kuning, begitu kata orang yang
baru datang itu, dan dia diberikan kesempatan untuk melihat menembusnya dan semua dunia di luar sana terlihat
aneh dan tidak sama dengan keadaan yang sebenarnya. Apa pendapatmu tentang hal itu, Tarkad? Apakah
engkau fikir dunia akan dapat terlihat dengan warna yang berbeda bagi seseorang?”

“Aku tidak berani mengatakannya,” jawab anak muda itu, ia lebih tertarik pada kaki kambing yang terhidang di
depan Dabasir.

“Baiklah. Aku tahu itu benar karena aku sendiri telah melihat dunia dengan warna yang berbeda dengan warna
yang seharusnya, dan kisah yang akan kuceritakan ini berhubungan dengan bagaimana aku dapat kembali
melihat dunia dengan warna yang sesungguhnya.”

“Dabasir mau bercerita,” bisik orang yang sedang makan di sebelah Dabasir kepada tetangga duduknya sambil
menarik permadani tempat dia duduk lebih mendekat ke Dabasir. Orang yang sedang makan lainnya yang
tertarik membawa makanannya duduk di sekeliling Dabasir membentuk setengah lingkaran. Mereka mengunyah
makanannya dengan lahap berkecap-kecap di telinga Tarkad dan seolah melambai-lambaikan daging-daging
empuk itu di depan matanya, sedangkan dia sendiri duduk tanpa makanan suatu apa. Dabasir tidak
menawarkann makan bersamanya, bahkan perduli pun tidak menyuruhnya menjumput bagian roti yang agak
keras yang terpotong dan jatuh di lantai.

“Kisah yang akan kuceritakan ini,” mulai Dabasir, berhenti sejenak menggigit bagian gemuk enak kaki
kambing, “mengenai masa mudaku dan bagaimana aku kemudian menjadi pedagang unta. Tidakkah ada di
antara engkau yang mengetahui bahwa aku dulu pernah menjadi budak di Syria?”

Bisik-bisik terkejut terdengar di antara pendengar, hal itu membuat senang hati Dabasir.

“Ketika aku masih muda,” lanjut Dabasir setelah satu lagi gigitan tertancap lahap pada kaki kambing, “aku
belajar berpencaharian pada ayahku, sebagai pembuat pelana. Aku bekerja padanya di toko dan kemudian
mendapat seorang istri. Sebagai orang muda mentah tidak terlalu ahli, aku hanya berpenghasilan sedikit saja,
tidak banyak, hanya dapat memenuhi keerluan istriku yang cantik secara sederhana. Aku menginginkan barang-
barang bagus yang tidak dapat kupenuhi. Kemudian kudapatkan pemilik toko mempercayaiku untuk membayar
kemudian meski aku tidak mampu membelinya saat itu.”

“Sebagai orang muda mentah tidak berpengalaman aku tidak tahu bahwa siapa saja yang membelanjakan lebih
dari pada yang dapat ia hasilkan ia telah menaburkan angin pemenuhan keinginan yang tidak perlu dan dari situ
ia pasti akan menuai badai kemalangan dan akan mempermalukannya. Jadi aku bersenang-senang sesuai
keinginan hatiku, berpakaian bagus, membeli perhiasan dan perabotan mewah untuk istri dan rumahku, semua
diluar batas kemampuanku.”

“Aku membayar utangku semampuku, untuk sementara semua berjalan lancar. Tetapi, pada saat kusadari aku
tidak dapat lagi menggunakan penghasilanku untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan membayar utang-
utangku. Para pemberi pinjaman mulai mencari-cariku meminta melunasi pembelanjaan mewahku dan
kehidupanku mulai menjadi menyedihkan. Aku meminjam lagi pada sahabatku, tetapi tidak mampu
melunasinya juga. Keadaan berubah dari buruk ke lebih buruk lagi. Naas. Istriku kembali ke orang tuanya dan
untuk diriku sendiri aku putuskan meninggalkan Babilonia menuju ke kota lain di mana anak muda diharapkan
akan mendapat kesempatan yang lebih baik.”

“Selama dua tahun aku mengembara tanpa hasil bekerja pada sebuah karavan pedagang. Dari situ, kemudian
aku berhubungan dengan sekelompok penyamun yang menyusuri gurun mencari karavan tanpa pengawalan.
Pekerjaan itu sangat tidak pantas, apalagi sebagai anak dari seorang yang terhormat seperti ayahku, tetapi aku
sedang melihat dunia dari belakang batu yang warnanya berbeda dan tidak menyadari lembah kemunduran apa
yang aku sedang jatuh kedalamnya.”

“Kami mendapatkan hasil yang bagus pada perampokan yang pertama, menjarah harta benda berharga berupa
emas dan sutera dan barang dagangan bernilai lainnya. Jarahan ini kami bawa ke Ginir dan berfoya-foya di
sana.”

“Kali kedua kami tidak terlalu beruntung. Bagitu selesai kami garap sebuah karavan, kami diserang oleh
penombak-penombak kepala suku setempat yang sudah dibayar karavan itu untuk perlindungan mereka. Dua
pemimpin kami terbunuh, sisanya diangkut ke Damaskus dimana kami ditelanjangi dari pakaian kami dan dijual
sebagai budak.”

“Aki dibeli seharga dua keping perak oleh kepala suku gurun Syria. Dengan kepala yang sudah digunduli dan
dengan hanya mengenakan cawat, aku tidak ada bedanya dengan budak-budak yang lainnya. Sebagai anak muda
yang kurang hati-hati, aku kira keadaan ini hanya sebagai salah satu petualangan biasa hingga suatu saat tuan-ku
membawaku kepada ke empat istri-istrinya dan mengatakan kepada mereka behwa mereka dapat menjadikan
aku sebagai salah seorang kasim mereka.

“Baru saat itulah, benar-benar, kusadarai betapa tidak berdayanya situasiku. Penduduk gurun ini begitu keras
dan kejam. Saat itu aku harus tunduk pada keinginan mereka tanpa senjata ataupun kesempatan atau cara
meloloskan diri.”

“Dengan penuh ketakutan, aku terdiri di situ, sementara empat wanita itu memandangiku. Aku sangat berharap
aku akan memperoleh belas kasihan dari mereka. Sira, istri yang pertama, lebih tua dari istri-istri yang lain.
Wajahnya dingin seolah tanpa perasaan dan dia memandang ke arahku. Aku dilewatinya dengan sedikit
harapan. Yang berikutnya merupakan wanita cantik yang sangat sombong yang memandangku tanpa minat
sama sekali seolah-olah aku seekor cacing tanah. Dua yang terakhir tersenyum-senyum geli seakan semua
kejadian ini hanya lelucon semata.”

“Waktu terasa berjalan lama sekali ketika aku beriri disitu menunggu putusan. Setiap wanita terlihat
menginginkan yang lainnya yang memutuskan. Akhirnya Sira angkat bicara dengan suara yang dingin.”

“’Kasim kita telah cukup banyak, tetapi perawat unta yang hanya beberapa, sementara yang kita miliki
semuanya tidak begitu berguna. Bahkan hari ini, ketika aku ingin menjenguk ibuku yang sedang sakit demam
tidak ada satu budak pun yang dapat kupercaya untuk menggiring unta bagiku. Tanyakan pada budak ini apakah
ia mampu menggiring unta?”

“Tuan-ku lantas bertanya padaku, ‘Apa yang kau ketahui tentang unta?’”

“Sambil berusaha menutupi keinginanku, aku menjawab, ‘Aku bisa membuat mereka duduk, aku dapat
mengatur bebannya, aku mampu menggiring mereka berjalan jauh tanpa lelah. Apabila diperlukan aku dapat
memperbaiki hiasan pelananya.’”

“’Budak ini telah menyatakan mengenal semuanya,’ simpul tuan-ku. ‘Apabila engkau inginkan, Sira, ambil
budak ini jadikan perawat untamu.’”

“Kemudian aku diberikan kepada Sira dan hari itu juga aku giring untanya melalui suatu perjalanan yang cukup
jauh ke tempat ibunya yang sedang sakit. Aku menggunakan kesempatan itu berterima kasih padanya karena
telah begitu baik menjadikanku perawat untanya dan juga menceritakan padanya bahwa aku bukanlah budak
karena kelahiran, tetapi anak seorang merdeka, seorang pembuat pelana di Babilonia. Aku juga menceritakan
padanya sebagian besar riwayat perjalananku. Ia memberikan pendapat yang mengecewakan aku dan setelah itu
aku terus memikirkan apa yang dikatakannya padaku.”

“’Bagaimana engkau dapat mengatakan engkau orang merdeka sedangkan kelemahanmu telah menjadikan
engkau seperti ini? Apabila seseorang memiliki dalam dirinya jiwa budak apakah ia akhirnya tidak akan menjadi
seorang budak, tidak perduli apakah ia dilahirkan sebagai budak atau merdeka, bukankah ia menjadi seperti air
yang akan menyesuaikan ketinggiannya pada akhirnya? Apabila seseorang memiliki dalam dirinya jiwa
merdeka apakah ia tidak akan menjadi orang terhormat dan dihargai dalam negerinya sendiri meski ia tidak
terlalu beruntung?’”
“Selama satu tahun aku menjadi budak dan hidup bersama para budak lainnya, tetapi aku tidak dapat menjadi
salah seorang dari mereka. Pada suatu hari Sira bertanya padaku, ‘Pada saat para budak dan bercanda bergurau
sesamanya, mengapa engkau duduk sendiri di sini di dalam tenda?’”

“Kepada pertanyaan itu kujawab, ‘Aku memikirkan apa yang engkau katakan padaku. Aku bertanya-tanya pada
diriku apakah aku memiliki jiwa budak. Aku tidak bisa bersenda gurau bersama mereka, jadi aku harus
memisahkan diriku.’”

“’Aku, juga, harus memisahkan diri,’ ia menerangkan dirinya. ‘Maharku sangat besar dan tuan ku menikahiku
karena mahar. Ia tidak benar-benar menginginkanku. Apa yang diimpikan setiap wanita adalah diinginkan.
Tetapi karena adanya mahar, dan karena aku tidak dapat memberikan keturunan baik lelaki maupun wanita, aku
harus memisahkan diri. Seandainya aku seorang laki-laki aku lebih suka mati dari pada menjadi budak, tetapi
kebudayaan suku kami memperlakukan wanita seolah budak.’”

“’Apa pendapatmu tentang diriku saat ini?’ kutanyakan padanya seketika itu juga. ‘Apakah aku memiliki jiwa
merdeka atau jiwa budak?’”

“’Apakah engkau memiliki keinginan untuk melunasi utang-utangmu di Babilonia?’ ia balik bertanya.”

“’Ya, aku memiliki keinginan itu, tetapi tidak menemukan jalannya.’”

“’Apabila engkau cukup puas dengan membiarkan tahun-tahun berlalu dengan tenang tanpa melakukan usaha
untuk membayar lunas utangmu, maka engkau memang pantas memiliki jiwa rendah seorang budak. Tidak
seorangpun orang akan dikatakan terhormat apabila ia tidak menghargai dirinya sendiri, dan tidak ada
seorangpun yang dikatakan menghargai dirinya sendiri apabila ia tidak membayar lunas utang-utangnya.’”

“’Tetapi apa yang dapat aku lakukan, aku hanya seorang budak di Syria?’”

“’Jadilah budak di Syria, si lembek’”

“’Aku bukan si lembek,’ kusangkal keras.

“’Coba buktikan.’”

“’Bagaimana?’”

“’Bukankah Sang Raja yang perkasa memerangi musuh-musuhnya dengan segala cara yang dapat ia lakukan
dengan segala daya yang ia miliki? Utangmu adalah musuhmu. Dia membuatmu meninggalkan Babilonia.
Engkau meninggalkan mereka tanpa perlawanan dan itu membuat mereka bertambah kuat bagimu. Engkau
harus memeranginya sebagai seorang lelaki, engkau dapat mengalahkan mereka dan menjadi warga terhormat
dalam masyarakat. Tetapi engkau tidak memiliki jiwa seorang lelaki untuk melawan mereka dan akhirnya harga
dirimu sebagai orang merdeka turun hingga engkau menjadi budak di Syria.’”

“’Banyak sekali kegalauan dalam fikiranku yang ditimbulkan oleh tuduhannya yang tidak menyenangkan itu
dan banyak kalimat-kalimat bantahan tersusun untuk membuktikan bahwa jiwaku bukanlah jiwa budak, tetapi
aku tidak memiliki kesempatan untuk menyuarakannya. Tiga hari kemudian pelayan Sira membawaku
menghadap tuannya.

“’Ibuku, kembali, sakit keras,’ katanya. ‘Persiapkan dua unta suamiku yang terbaik. Gantungkan kantung-
kantung air dan perkakas untuk perjalanan jauh. Pelayan akan memberimu persediaan makanan di tenda dapur.’
Aku persiapkan unta sambil bertanya-tanya kenapa begitu banyak perbekalan yang disediakan sang pelayan,
sedangkan kediaman ibunya dapat ditempuh dalam kurang dari satu hari. Sang pelayan menaiki unta kedua di
belakang dan aku menggiring unta tuanku di depan. Ketika kami sampai ke kediaman ibunya hari sudah gelap.
Sira membebaskan pelayannya pergi dengan urusan sang pelayan itu sendiri dan kemudian berkata kepadaku.”

“’Dabasir, apakah engkau mempunyai jiwa seorang merdeka atau jiwa seorang budak?’”

“’Jiwa seorang yang merdeka,’ aku bertahan dengan itu.


“’Sekarang saatnya kesempatan buat engkau membuktikannya. Saat ini, tuan mu pasti sedang mabuk berat dan
anak buahnya lagi teler. Ambil unta ini dan larilah. Dalam kantung ini ada pakaian tuan mu untuk engkau
gunakan sebagai samaran. Aku nanti akan mengatakan bahwa engkau mencuri unta ini dan melarikan diri ketika
aku sedang mengunjungi ibuku yang sakit.’”

“’Engkau memiliki jiwa seorang ratu,’ kukatakan padanya, ‘aku doakan agar engkau dapat memperoleh
kebahagiaan.’”

“’Kebahagiaan,’ jawabnya, ‘tidak menunggu istri yang melarikan diri yang mencarinya ke negeri yang jauh di
antara orang-orang yang asing. Pergilah menuruti jalanmu sendiri, mudah-mudahan para dewa gurun
melindungi engkau karena perjalananmu sangat jauh dan engkau akan jarang mendapatkan air dan makanan.’”

“Aku tidak memerlukan hal-hal yang lain, hanya beterima kasih padanya dengan sangat dan langsung
menembus malam. Aku tidak mengenal wilayah asing ini dan hanya memiliki gambaran samar arah dimana
keberadaan letak Babilonia, namun dengan tanpa rasa takut kurambah padang pasir itu mengarah ke perbukitan.
Seekor unta kutunggangi sambil menarik unta lainnya. Aku bergerak sepanjang malam dan sepanjang hari
berikutnya, dengan rasa takut tertangkap, dikejar bayangan hukuman yang akan dikenakan pada seorang budak
yang mencuri unta dan harta tuannya dan mencoba melarikan diri.

“Pada petang harinya sampailah aku ke daerah bebatuan yang sama tidak dapat dihuninya dengan sebuah gurun.
Bebatuan tajam menyakiti kaki-kaki untaku yang setia selanjutnya mereka melangkah dengan hati-hati, perlahan
memilih tempat menelapak dan melaluinya dengan sengsara. Aku tidak menemukan manusia atau binatang buas
dan dapat memaklumi mengapa mereka menghindari tempat yang tidak bersahabat ini.”

“Melanjutkan perjalanan itu sungguh merupakan pengalaman yang luar biasa yang dapat diceritakan oleh hanya
sedikit orang yang dapat hidup-hidup melaluinya. Hari demi hari kami tapaki. Air dan makanan habis sudah.
Panasnya matahari memberi siksa tak berampun. Pada akhir hari ke sembilan, aku jatuh menggelosor dari
punggung untaku dengan perasaan aku terlalu lemah untuk naik kembali ke atasnya dan aku pasti akan mati,
lenyap ditelan negeri tak bertuan ini.”

“Tak berdaya, aku terbaring di atas tanah dan tertidur, tidak bangun-bangun hingga muncul matahari pagi.”

“Aku duduk dan memandangi keadaan sekitar. Ada sedikit kesejukan di udara pagi itu. Unta-untaku terpuruk
nelangsa tidak berapa jauh dariku. Di sekelilingku terhampar daerah gersang luas ranggas tak berguna ditutupi
pasir dan bebatuan serta belukar berduri, tidak ada tanda-tanda adanya air, tidak juga makanan buat unta apalagi
buat manusia.”

“Mungkinkah dalam suasana sepi yang damai ini aku menghadapi hari akhirku? Batinku menjadi lebih jernih
dari sebelumnya. Tubuhku sekarang terasa tidak begitu penting lagi. Bibirku yang kering pecah-pecah dan
berdarah, lidah yang membengkak kering mengeras, perut kosongku, semua telah kehilangan rasa tersakit, yang
menyerang sampai hari sebelumnya.”

“Aku melihat jauh sejauh mata memandang ke seberang dan pertanyaan itu muncul lagi, ‘Apakah aku memiliki
jiwa seorang budak atau jiwa seorang manusia merdeka?’ Kemudian dengan jernih kusadari bahwa jika jiwaku
jiwa seorang budak, aku akan menyerah, menggeletak ditengah gurun dan mati, sebuah akhir yang pantas bagi
seorang budak yang melarikan diri.”

“Tetapi apabila aku memiliki jiwa seorang manusia merdeka, aku akan bagaimana? Pasti aku akan kerahkan
kemampuanku mencari jalan ke Babilonia, melunasi utang pada orang yang telah mempercayaiku, bawa
kebahagiaan pada istriku yang benar-benar mencintaiku dan timbulkan ketenangan dan rasa puas pada orang
tuaku.”

“’Utang-utangmu adalah musuhmu yang membuat engkau lari meninggalkan Babilonia,’ seperti dikatakan Sira.
Ya memang begitu. Mengapa aku menghindar untuk tetap berdiri tegak seperti seorang lelaki? Mengapa aku
telah membiarkan istriku kembali pada ayahnya?”

“Lantas seuatu yang aneh terjadi. Seisi dunia ini seakan menjadi berbeda warnanya seolah-olah selama ini aku
telah melihatnya melalui batu berwarna yang seketika di pindahkan dari hadapanku. Akhirnya aku melihat nilai
yang sesungguhnya dari kehidupan ini.”
“Mati di tengah gurun! Aku tidak! Dengan pandangan yang baru, aku melihat hal-hal yang harus aku lakukan.
Pertama aku akan kembali ke Babilonia dan berhadapan dengan setiap orang yang aku berutang padanya dan
kubayar kembali, belum sama sekali. Kepada mereka akan kukatakan bahwa setelah tahun-tahun berkelana
dengan masa penuh bencana, aku telah kembali untuk membayar kembali utang-utangku secepat yang diizinkan
para dewa. Selanjutnya aku akan membangun sebuah rumah untuk istriku dan menjadikan diriku seorang warga
yang dapat dibanggakan orang tuaku.”

“Utangku adalah musuh-musuhku, tetapi mereka yang memberikanku pinjaman adalah sahabat-sahabatku yang
telah menaruh kepercayaan padaku.”

“Dengan sisa kekuatan aku berusaha berdiri di atas kakiku yang bergetar lemah. Lapar? Bagaimana haus? Itu
semua hanya hal yang harus dilalui pada jalan ke Babilonia. Di dalam diriku mengalir deras jiwa seorang
merdeka yang kembali berusaha mengenyahkan musuh-musuhnya dan kembali membuat perhitungan agar
impas dengan sahabat-sahabatnya. Aku benar-benar bersemangat dengan bayangan penuntasan itu.”

“’Mata unta-untaku yang kuyu menjadi berbinar oleh nada baru suaraku yang parau. Dengan usaha yang keras,
setelah beberapa kali percobaan, beranjak, mereka dapat berdiri. Dengan penuh kesengsaraan dan susah payah,
mereka terus bergerak ke arah utara ke arah mana seuatu dalam diriku mengatakan aku akan menemukan
Babilonia.”

“Kami temukan air. Kami melewati daerah yang agak subur yang terdapat rumput dan bauh-buahan segar di
situ. Kami temukan jalan ke Babilonia karena jiwa seorang yang merdeka melihat kehidupan sebagai rangkaian
masalah yang harus diselesaikan dan menyelesaikannya, sementara jiwa seorang budak hanya akan mengeluh,
‘Apa yang dapat aku lakukan, bukankah aku hanya seorang budak?’”

“Bagaimana dengan dirimu, Tarkad? Tidakkah perut laparmu membuat fikiranmu menjadi lebih terang? Apakah
engkau siap mengambil jalan yang akan memberimu harga dirimu kembali? Tidak dapatkah engkau memandang
dunia ini dengan warnanya yang sesungguhnya? Tidakkah engkau mempunyai keinginan untuk melunasi utang-
utangmu, seberapa banyak pun mereka, dan sekali lagi kembali menjadi orang yang terhormat di Babilonia?”

“Air mata menumpuk di bola mata anak muda itu. Dari duduk ia berlutut. ‘Engkau telah menunjukkan padaku
sebuah pandangan baru; aku bahkan sudah dapat merasakan jiwa seorang yang merdeka mengalir dalam
diriku.’”

“Tapi apa yang terjadi sepulangnya engkau ke Babilonia?” tanya pendengar yang sangat tertarik dengan cerita
Dabasir.

“Dimana kemauan berada, disitu jalan di dapat,” jawab Dabasir. “Aku sekarang memiliki kemauan jadi kucari
jalan keluarnya. Pertama kudatangi setiap orang yang aku berutang kepadanya dan meminta kemudahan sampai
aku dapat bermatapencaharian dan membayar utang-utang padanya. Sebagian besar dari mereka senang dapat
melihatku kembali. Beberapa orang masih marah dan memaki-makiku tapi ada juga yang menawarkan bantuan
kepadaku; salah seorang bahkan benar-benar memberikan aku bantuan yang sangat aku butuhkan. Dia Mathon,
pemberi pinjaman emas. Mengetahui bahwa aku pernah menjadi perawat unta di Syria, ia mengirim aku ke si
tua Nebatur, pedagang unta, yang baru saja dititahkan Sang Raja kita yang baik untuk membeli unta-unta unggul
yang baik yang akan digunkan dalam ekspedisi Sang Raja berikutnya. Dengan Nebatur, aku dapat menerapkan
pengetahuanku tentang unta dengan baik. Secara bertahap aku mampu membayar kembali setiap perunggu dan
setiap keping perak. Dan akhirnya aku dapat dengan berani mengangkat wajahku dan merasakan bahwa aku
seorang yang terhormat di mata masyarakat.”

Sekali lagi Dabasir kembali ke makanannya. “Kauskor, lambatnya engkau, bagai keong,” teriaknya keras hingga
terdengar sampai ke dapur, ”makanan ini sudah dingin. Bawakan lagi aku daging yang baru dipanggang.
Bawakan juga seporsi besar untuk Tarkad, anak sahabat lamaku, yang lapar dan harus makan bersamaku.”

Begitulah akhir cerita Dabasir pedagang unta di Babilonia kuno. Ia menemukan jiwanya sendiri ketika ia
menyadari kebenaran yang agung, kebenaran yang sudah dikenal dan dipergunakan oleh orang-orang yang
bijaksana pada masa-masa jauh sebelumnya.

Ajaran kebijaksanaan itu telah membimbing orang-orang di berbagai zaman keluar dari kesulitan menuju
keberhasilan dan akan terus melakukan hal yang sama pada siapa saja yang memiliki kearifan untuk mengenal
kekuatan ajaib. Ajaran yang dapat digunakan setiap orang yang membaca kalimat ini :
DIMANA KEMAUAN BERADA
DI SITU JALAN DIDAPAT
IX : LEMPENG TANAH LIAT DARI BABILONIA

LEMPENG TANAH LIAT DARI BABILONIA

ST. SWITHIN’S COLLEGE

Universitas Nottingham

Newark-on-Trent, Nottingham

21 Oktober, 1934

Professor Franklin Caldwell

Kepala Ekspedisi Ilmiah Inggeris

Hillah, Mesopotamia.

Professor yang terhormat.

Lima lempeng tanah liat hasil penggalianmu yang terakhir di reruntuhan Babilonia telah sampai dengan kapal
yang sama yang membawa suratmu. Aku sangat tertarik pada lepeng-lemeng tanah liat itu, dan telah
menghabiskan beberapa jam yang mengasikkan tanpa hentinya menerjemahkan tulisan yang ada di atasnya.
Seharusnya aku segera langsung membalas suratmu, tetapi kutunda hingga akau selesai melakukan
penerjemahan yang dengan surat ini kusertakan sebagai lampiran.

Lempeng tanah liat itu kuterima tanpa kerusakan, berkat kehati-hatianmu memberikan pengawet dan
pengepakan yang sempurna.

Engkau akan terkesima seperti kami di laboratorium ini jika membaca cerita yang tertulis di lempeng itu.
Seseorang mungkin akan mengharapkan membaca sebuah cerita yang tidak jelas dari masa lampau yang
menceritakan percintaan dan petualangan. Seperti cerita-cerita “Arabian Night.” Namun, ternyata lempeng itu
mengungkap permasalahan hidup seorang bernama Dabasir yang berusaha melunasi utang-utangnya, kita
menjadi sadar bahwa kondisi yang ada di dunia kuno ini tidak berubah sama sekali selama lima ribu tahun, tidak
sebagaimana yang diperkirakan banyak orang.

Cukup aneh, tetapi tulisan kuno ini agak mengejutkan aku, seperti dikatakan murid-muridku. Sebagai seorang
professor, aku dianggap sebagai seorang pemikir yang memiliki hampir semua pengetahuan dalam segala
bidang. Namun, ini, tiba-tiba ada seorang pada zaman dahulu kala yang muncul dari bawah debu reruntuhan
Babilonia memberikan jalan keluar yang belum pernah kudengar, tentang bagaimana caranya membayar utang-
utangmu sekaligus menyimpan emas yang berdentingan di kantung uangmu.

Hail buah pikiran yang menarik, dapat kukatakan begitu, akan sangat baik jika kita dapat membuktikan bahwa
jalan keluar ini dapat juga dipergunakan pada masa kini, sebagaimana dia berhasil diterapkan di Babilonia.
Nyonya Shrewsbury dan saya sendiri merencanakan akan mencoba rencana ini, yang mungkin akan dapat
memperbaiki masalah kami sendiri.

Kami ucapkan selamat kepadamu dalam usaha penggalianmu, dan kami tunggu dengan senang hati kesempatan
lain untuk membantu.

Hormat saya,
Alfred H. Shrewsbury

Fakultas Arkeologi

Lempeng Pertama

Sekarang, bulan telah sempurna purnama, Aku, Dabasir, yang baru saja kembali dari menjalani perbudakan di
Syria, bertekad penuh untuk membayar kembali semua utang-utangku dan menjadi seorang yang dapat
dihargai di kota asalku Babilonia, aku tuliskan di atas lempengan tanah liat ini sebuah catatan kegiatan
usahaku itu, yang akan membimbing dan membantuku menjalani keinginan hatiku ini.

Dengan nasihat yang bijaksana dari sahabat baikku, Mathon, pemberi pinjaman emas, aku memutuskan untuk
menjalani sebuah rencana yang jelas, yang akan diberikannya, yang akan membawaku menjadi salah seorang
yang terhormat, tanpa utang yang melekat pada hartaku dan dapat memiliki harga diri yang pantas.

Rencana ini memilik tiga tujuan yang merupakan harapan dan keinginanku.

Pertama, rencana ini mempersiapkan kemakmuranku di masa yang akan datang.

Oleh karena itu sepersepuluh dari seluruh hasil pencaharianku harus disisihkan sebagai simpananku sendiri.
Seperti yang dikatakan Mathon dengan arifnya ketika ia mengatakan :

“Orang yang menyimpan di kantung uangnya emas dan perak yang tidak dibelanjakannya, sangat baik bagi
keluarganya dan mematuhi Sang Raja.”

“Orang yang hanya memiliki beberapa keping perunggu di kantung uangnya tidak begitu berarti bagi
keluarganya dan tidak begitu mematuhi Sang Raja.”

“Orang yang tidak memiliki apa-apa di kantung uangnya sangat tidak berguna bagi keluarganya dan tidak
mematuhi Sang Raja, karena hatinya sendiri getir.”

“Oleh karena itu, seseorang yang menginginkan mencapai sesuatu harus memiliki keping-keping yang terus
berdencing di kantung uangnya, dan ia memiliki dalam hatinya cinta pada keluarganya, dan kepatuhan pada
Sang Raja.”

Kedua, rencana ini memerintahkan bahwa aku harus menafkahi istriku yang baik yang telah dengan setia
dikembalikan kepadaku dari rumah ayahnya. Karena Mathon mengatakan bahwa dengan menjaga dengan baik
istrimu yang setia engkau menanamkan harga diri dalam dirimu sendiri dan menambah kekuatan dan tekad
dalam mencapai tujuanmu.

Oleh karena itu, tujuh persepuluh dari seluruh hasil pencaharianku harus kuperuntukkan untuk rumah, pakaian
untuk dipakai, dan makanan untuk dimakan, dengan sedikit kelebihan untuk keperluan lainnya, yang tidak
membuat kehidupan kita terasa kurang dapat dinikmati atau kurang memberi kebahagiaan. Tetapi dia juga
menekankan untuk dengan hati-hati menjaga agar aku tidak mengeluarkan lebih dari tujuh persepuluh dari
seluruh hasil pencaharian untuk keperluan-keperluan yang utama itu. Disinilah terletak keberhasilan rencana
itu. Aku harus hidup hanya dengan jumlah bagian itu, dan tidak pernah menggunakan lebih dari itu atau
membelanjakan untuk sesuatu yang harus aku bayar, dengan keping di luar dari bagian itu.

Lempeng Kedua

Ketiga, rencana ini mengharuskan, dari hasil pencaharian itu juga, semua utang-utang harus dibayarkan
kembali..
Oleh karena itu setiap kali purnama telah sempurna, dua persepuluh dari seluruh hasil pencaharianku harus
dibagi dengan adil dan merata kepada orang-orang yang telah mempercayai aku dan kepada mereka aku telah
melakukan pinjaman. Dengan demikian pada akhirnya akan terbayar lunaslah semua utang-utangku.

Oleh karena itu, disini kutuliskan nama-nama setiap orang kepada siapa aku telah berutang dan jumlah
sebenarnya utang-utangku.

Fahru, penenun kain, 2 perak, 6 perunggu.


Sinjar, pembuat perabot, 1 perak.
Ahmar, sahabatku, 3 perak, 1 perunggu.
Zankar, sahabatku, 4 perak, 7 perunggu.
Askamir, sahabatku, 1 perak, 3 perunggu.
Harinsir, pembuat perhiasan, 6 perak, 2 perunggu.
Diarbeker, sahabat ayahku, 4 perak, 1 perunggu.
Alkahad, pemilik rumah, 14 perak.
Mathon, pemberi pinjaman emas, 9 perak.
Birejik, petani, 1 perak, 7 perunggu.

(Selanjutnya, rusak, tidak terbaca)

Lempeng Ketiga

Kepada semua pemberi pinjaman seluruhnya aku berutang seratus sembilan belas keping perak dan seratus
empat puluh satu keping perunggu. Karena begitu banyak jumlah yang terutang dan aku tidak melihat cara
membayarnya kembali, dan dengan kebodohanku aku mengizinkan istriku kembali kepada ayahnya, dan
kemudian aku meninggalkan kampung halamanku demi mencari kehidupan yang lebih mudah di tempat lain,
hanya untuk mendapatan kemalangan dan mendapatkan diriku dijual ke dalam kehinaan menjadi seorang
budak.

Sekarang karena Mathon telah menunjukkan kepadaku bagaimana caranya membayar kembali pinjaman-
pinjaman itu hanya dari sebagian kecil hasil pencaharianku, aku semakin sadar betapa besarnya ketololanku
telah pergi lari dari hasil keborosanku.

Oleh karena itu aku mengunjungi setiap pemberi pinjaman padaku dan menjelaskan kepada mereka bahwa aku
tidak memiliki sumber penghasilan yang lain untuk membayar kembali utang-utangku kecuali hanya dari hasil
pencaharianku, dan aku bermaksud menggunakan duapersepuluh dari hasil pencaharianku guna membayar
utang-utangku dengan adil dan merata. Hanya sebatas itulah yang dapat aku lakukan dan tidak lebih. Oleh
karena itu, apabila mereka sabar, pada saatnya seluruh kewajibanku akan terselesaikan.

Ahmar, yang aku anggap sebagai sahabat terbaikku, memarahiku dengan keji dan aku meninggalkannya
dengan penuh rasa malu. Birijek, sang petani, memohon agar aku membayar utangku padanya terlebih dahulu
sebab dia sedang sangat membutuhkan peraknya. Alkahad, pemilik rumah, sungguh sangat tidak setuju dan
menekankan bahwa ia akan membuat aku dalam kesulitan kecuali aku segera menyelesaikan semua utangku
padanya.

Semua yang lain dengan rela setuju dengan rencanaku. Oleh karena itu aku menjadi lebih yakin dari
sebelumnya untuk menjalankan rencana ini sepenuhnya, menjadi yakin bahwa lebih baik membayar semua
utang-utangku daripada menghindari mereka. Meskipun aku tidak dapat memenuhi kebutuhan dan permintaan
dari beberapa pemberi pinjaman aku akan menghadapi dengan adil pada semuanya.

Lempeng Keempat

Sekali lagi purnama bersinar sempurna. Aku telah bekerja keras dengan jiwa yang bebas. Istriku yang baik
telah mendukung niatku untuk membayar kembali semua pemberi pinjaman. Karena niat kami yang cukup
bijaksana, aku telah memperoleh penghasilan selama satu purnama, karena membantu membeli unta-unta yang
sehat dengan kaki-kaki yang kuat, untuk Nebatur, sebanyak sembilan belas keping perak.
Jumlah itu sudah kubagi sesuai dengan rencana. Sepersepuluh kusisihkan untuk simpananku, tujuh persepuluh
keberikan pada istriku yang baik untuk keperluan kehidupan kami sehari-hari. Duapersepuluh kubagikan
kepada seluruh pemberi pinjaman seadil dan semerata mungkin dalam kepingan perak.

Aku tidak menemui Ahmar tetapi meninggalkan pembayaran kepadanya pada istrinya. Birejik sangat senang, ia
bahkan mencium tanganku. Alkahad tua sendiri yang tidak puas dan mengatakan bahwa aku harus
membayarnya lebih cepat. Untuk keluhannya itu kujawab bahwa apabila aku diizinkan untuk hidup secukupnya
dan tidak terlalu disusahkan, dengan begitu saja akan dapat memungkinkan aku membayar lebih cepat. Semua
yang lain berterima kasih kepadaku dan mengatakan hal yang baik-baik tentang usahaku.

Oleh karena itu, pada akhir setiap purnama, utang-utangku berkurang hampir empat keping perak dan aku
masih menyimpan dua keping perak di kantung uangku, yang tidak dapat diganggugugat oleh orang lain.
Hatiku menjadi lebih ringan dari sebelumnya, sudah lama aku tidak merasakannya.

Lagi purnama bersinar sempurna, Aku telah bekerja sama kerasnya tetapi dengan hasil yang lebih sedikit.
Hanya sedikit unta yang dapat kubeli. Hanya sebelas keping perak yang dapat kuhasilkan. Meskipun demikian
istriku yang baik dan aku tetap berpegang pada rencana kami, meski kami tidak membeli pakaian baru dan
makan pun hanya sedikit sayuran. Sekali lagi kubayar pada diriku sendiri sepersepuluh dari sebelas keping
perak untuk disimpan, dan hidup dengan tujuh persepuluh. Aku agak terkejut mendengar pujian Ahmar atas
pembayaranku, meski pun jumlahnya sangat kecil. Birijek begitu pula. Alkahad naik pitam tetapi ketika
kukatakan akau akan mengambil kembali jumlah yag akan kubayarkan apabila dia memang tidak
menginginkannya, dia agak terhibur. Yang lainya, sebagaimana sebelumnya cukup puas.

Lagi purnama bersinar sempurna dan aku sangat bergembira. Aku terserempak pada kawanan unta yang bagus
dan membeli cukup banyak unta terbaik, sehingga aku mendapatkan empat puluh dua keping perak. Bulan ini
aku dan istriku telah membeli sandal dan pakaian baru yang sangat kami perlukan. Dan kami juga dapat
menikmati daging dan unggas.

Lebih dari delapan keping perak sudah kami bayarkan kepada pemberi pinjaman. Bahkan Alkahad sudah tidak
mengeluh lagi.

Sungguh baik rencana itu berjalan sehingga kami akan dapat melunasi utang-utang kami dan masih memiliki
sebagian kekayaan yang dapat kami simpan dan nikmati.

Tiga kali purnama sempurna telah berlalu sejak terkahir kali aku menulis lempeng ini. Setiap kali kubayarkan
buat diriku sendiri sepersepuluh dari hasil pencaharianku. Setiap kali pula istriku yang baik dan aku hidup
dengan tujuh persepuluh meski kadang-kadang penuh kesulitan. Setiap kali pula kubayarkan kepada pemberi
pinjman dua persepuluh.

Dalam kantung uangku sekarang aku memiliki dua puluh satu keping perak milikku. Ia membuatku mampu
mengangkat wajahku di atas bahu ketika berhadapan dengan siapapun dan membuatku bangga dan bebas
berjalan bersama sahabat-sahabatku.

Istriku memelihara rumah kami dengan baik dan dia dapat berpakaian lebih pantas. Kami gembira hidup
bersama.

Rencana itu benar-benar tak ternilai. Dia telah menjadikanku seorang terhormat, seorang bekas budak.

Lempeng Kelima

Lagi purnama bersinar sempurna dan aku teringat sudah lama sekali terakhir aku menulis lempeng tanah liat
ini. Dua belas bulan penuh telah datang dan pergi. Tetapi hari ini aku tidak akan melupakan catatanku karena
pada hari ini aku telah membayar utangku yang terakhir. Inilah hari dimana istriku yang baik dan aku yang
penuh syukur pada diriku sendiri dengan perayaan besar karena dengan penuh tekad tujuan kami telah
tercapai.
Banyak hal terjadi pada kunjungan terakhirku pada para pemberi pinjaman yang akan selalu aku kenang.
Ahmar meminta maaf atas kekasarannya dan mengatakan bahwa aku adalah salah satu orang yang paling
ingin dan pantas dijadikan sahabat.

Alkahad tua ternyata tidak terlalu jahat, dia mengatakan, “Engkau sebelumnya sepotong tanah liat lembek
yang diperas dan dibentuk oleh banyak tangan yang menyentuhmu, tetapi sekarang engkau telah menjadi
sekerat perunggu yang dapat membuat sudut keras. Apabila engkau membutuhkan perak atau emas, setiap
waktu engkau dapat datang kepadaku.”

Tidak hanya dia yang meberikan aku penghargaan yang tinggi. Beberapa yang lainnya memberikan rasa
hormatnya padaku. Istriku yang baik memandangku dengan kilauan dalam matanya yang membuat seorang
lelaki sepertiku menjadi lebih percaya diri.

Itulah rencana yang telah membuat aku berhasil. Ia telah membuat aku mampu melunasi semua utang-utangku
dan mebuat kantung uangku penuh dengan rincingan emas dan perak. Aku menyarankan kepada siapapun
yang ingin maju. Sesungguhnya, apabila ia dapat menjadikan bekas budak membayar kembali semua utang-
utangnya dan memiliki emas dalam kantung uangnya, mungkinkah ia tidak dapat membantu siapa saja
memperoleh kemerdekaan? Tidak hanya aku, diriku sendiri, berhasil dengannya, karena aku yakin apabila aku
mengikuti rencana ini lebih lanjut, dia akan menjadikanku orang berada di antara para orang-orang kaya.

ST. SWITHIN’S COLLEGE

Universitas Nottingham

Newark-on-Trent, Nottingham

7 Nopember, 1936

Professor Franklin Caldwell

Kepala Ekspedisi Ilmiah Inggeris

Hillah, Mesopotamia.

Professor yang terhormat.

Apabila, dalam penggalianmu lebih lanjut pada reruntuhan Babilonia, engkau bertemu dengan hantu bekas
penghuninya terdahulu, seorang pedagang unta tua bernama Dabasir, maka bantulah aku. Katakan padanya
bahwa tulisannya pada lempeng tanah liat itu, berabad yang lalu, telah memberikan rasa terima kasih seumur
hidup baginya dari sepasang orang-orang unversitas di London.

Engkau mungkin masih ingat isi suratku setahun yang lalu yang mengatakan bahwa Ny Shrewsbury dan aku
sendiri bemeksud mencoba rencana seperti yang dituliskan pada lempeng tanah liat itu agar terbebas dari utang
dan pada saat yang sama dapat memiliki emas yang berdencingan. Engkau pasti sudah menduga, meski kami
sudah mencoba merahasiakannya dari sahabat-sahabat kami, tentang kehidupan kami yang pas-pasan.

Kami sangat malu pada diri sendiri selama bertahun-tahun dengan utang yang menumpuk tidak ada habisnya
dan sealalu merasa was-was kalau-kalau salah satu dari kreditur itu mulai mencari-cari atau mempermasalahkan
hal ini sehingga menjadi hal yang dapat memaksa kami keluar dari Universitas. Kami terus membayar - setiap
kali sebanyak yang dapat kami peras dari penghasilan kami – tetapi tetap saja tidak dapat menyelesaikan
semuanya. Disamping itu kami terus saja membelanjakan semua kebutuhan kami sepanjang kredit masih dapat
diperoleh tanpa perduli berapapun tinggi bunganya.

Hal itu berlangsung hingga menjadi suatu lingkaran setan yang terus menerus berkembang menjadi lebih buruk,
tidak pernah membaik. Perjuangan kami semakin sia-sia. Kami tidak dapat pindah ke kamar yang sewanya lebih
rendah lagi karena kami masih berutang pada pemilik rumah. Kelihatannya tidak ada lagi yang dapat kami buat
untuk memperbaiki keadaan kami.

Kemudian, datang sahabatmu ini, pedagang unta yang sudah tua dari Babilonia, dengan rencana yang sesuai
dengan apa yang kami ingin peroleh. Ia benar-benar menggugah kami untuk melakukan sistem yang
dirancangnya. Kami buat daftar utang-utang kami, kubawa berkeliling mengunjungi setiap pemberi utang itu.

Aku jelaskan betapa tidak mungkinnya bagiku untuk akhirnya menyelesaikan semuanya dengan cara-cara yang
selama ini kami lakukan. Mereka sendiri dapat melihat hal ini dari perhitungan yang kutunjukkan. Kemudian
kujelaskan bahwa satu-satunya cara yang dapat kulakukan untuk menyelesaikan semuanya adalah dengan
menyisihkan dua puluh persen dari penghasilanku setiap bulan untuk dibagi sama rata pada setiap kreditur,
sehingga akhirnya semua utang itu, menurut rencana, akan dapat kami selesaikan dalam jangka waktu dua
tahun. Dan, sementara itu untuk pembelanjaan selanjutnya, kami hanya akan membeli secara tunai yang akan
lebih menguntungkan bagi mereka.

Rencana itu ternyata memang cukup baik. Penjual sayur, orang tua yang bijaksana, menjelaskan hal itu dengan
cara yang lebih tegas. “Apabila engkau berbelanja dengan uang tunai dan juga membayar sebagian utangmu, itu
jauh lebih baik dari yang selama ini engkau lakukan, selama tiga tahun ini engkau belum pernah mengurangi
pokok pinjamanmu.”

Akhirnya aku mencatat semua nama-nama mereka dan membuat perjanjian kepada masing-masingnya yang
mengikat mereka untuk tidak mengganggu kami dengan cara apapun demi sisa utang itu selama dua puluh
persen dari penghasilanku digunakan untuk menyelesaikan utang itu. Kemudian kami mulai merencanakan
bagaimana kehidupan kami dapat kami lalui dengan tujuh puluh persen. Kami bertekad untuk menyimpan
sepuluh persen untuk dihimpun. Harapan dapat mengumpulkan perak, atau jika mungkin, emas, merupakan
bagian rencana yang paling menarik.

Melakukan perubahan-perubahan ini seperti menjalani sebuah petualangan. Kami menikmati menyusun rencana
itu, dan mencoba hidup dengan nyaman dengan sisa tujuh puluh persen. Pertama dimulai dengan sewa, dan
ternyata berhasil mendapat pengurangan. Kemudian dengan teh merek kesukaan dan dengan sedikit ketelitian
lebih kami cukup berhasil, betapa seringnya kami bisa medapatkan barang dengan kualitas tinggi pada harga
yang lebih rendah.

Ini cerita yang cukup panjang untuk sebuah surat tetapi bagaimanapun juga, kesemuanya itu terbukti tidak
terlalu menyulitkan. Kami berhasil melaluinya dan sangat menikmatinya. Betapa melegakan nyatanya keadaan
kami dengan situasi tanpa ancaman dari utang-utang terdahulu.

Harus tidak kuabaikan, bagaimanapun juga, untuk mengatakan padamu tentang sisa sepuluh persen yang kami
harapkan dapat menumpuk. Ya, ia bertambah terus selama ini, Tapi, jangan cepat tersenyum. Begini, ini bagian
yang sedikit menyenangkan, mulai mengumpulkan uang yang tidak mau engkau gunakan. Lebih banyak
enaknya mengelola simpanan itu dari pada menggunakannya.

Setelah beberapa waktu kami merasa cukup puas memiliki simpanan, meski hanya sedikit, kami mendapatkan
kegunaannya yang lebih menguntungkan. Kami mulai menanamkannya pada lembaga keuangan, dan itu dapat
kami lakukan dengan menanamkan sepuluh persen dari penghasilan setiap bulannya. Hal ini ternyata merupakan
hal yang paling memuaskan dalam usaha melipatgandakan simpanan itu. Penanaman ini lah hal pertama yang
justru kami dahulukan pada penghasilan bulanan kami.

Ada rasa aman yang menenangkan menyadari penanaman kami berkembang secara teratur. Pada saat akhir masa
kerja mengajarku nanti, jumlahnya pasti sudah cukup lumayan, cukup besar sehingga hasil yang diberikannya
akan dapat mencukupi kehidupan kami selanjutnya.

Semua ini berasal dari penghasilan yang sama dengan yang aku terima sebelumnya. Sulit dipercaya, tetapi
sungguh nyata. Semua utang kami secara teratur terkurangi dan pada saat yang sama investasi kami terus
meningkat. Di samping itu kami hidup secukupnya, secara materi, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Siapa
yang akan percaya akan begitu besarnya perbedaan apabila kita mengikuti perencanaan keuangan dibandingkan
dengan hanya mengikuti aliran kehidupan.

Pada akhir tahun depan, apabila semua utang-utang kami sudah terbayar lunas, kami akan memiliki sedikit
kelonggaran menambah investasi kami atau sedikit ekstra untuk melakukan perjalanan atau rekreasi. Kami
sudah bertekad tidak akan pernah lagi membiarkan biaya kehidupan kami melebihi tujuh puluh persen dari
penghasilan kami.

Sekarang engkau akan faham mengapa kami ingin menyampaikan salam terima kasih kami kepada orang tua itu
yang rencana rancangannya telah menyelamatkan kami dari “Neraka Dunia.”

Dia tahu. Dia telah mengalami hal itu semua. Dia ingin ada orang lain yang dapat manfaat dari pengalaman
pahitnya. Itulah sebabnya ia menghabiskan waktu berjam-jam dengan tekunnya mengguratkan pesannya pada
lempeng tanah liat itu.

Ia menyampaikan pesan yang benar bagi teman senasib buruk dan sependeritaan, sebuah pesan yang sangat
penting meski sudah lima ribu tahun dia masih dapat keluar dari reruntuhan Babilonia, masih sangat benar dan
masih sangat penting, seperti benar dan pentingnya pesan itu pada saat ia terkubur.

Hormat saya,

Alfred H. Shrewsbury

Fakultas Arkeologi
X : ORANG PALING BERUNTUNG DI BABILONIA

ORANG PALING BERUNTUNG DI BABILONIA

Di depan karavannya, di atas kuda, duduk dengan gagahnya Sharru Nada, pangeran saudagar Babilonia. Dia
menyukai kain sutera halus dan mengenakan pakaian mewah, dengan itulah ia berjubah. Dia menyukai hewan
unggul dan duduk dengan nyamannya di atas kuda Arab yang kekar. Melihatnya, seseorang akan sukar menduga
masa depannya. Dan, pasti juga orang tidak akan menyangka bahwa di dalam hatinya ia sedang bergulat dan
masalah sedang meliputi hatinya.

Perjalanan dari Damaskus sangat jauh dan banyak melalui gurun-gurun yang menyulitkan. Tetapi hal itu bukan
apa-apa bagi Sharru Nada. Suku bangsa Arab sangat garang dan senang sekali menyamun karavan yang kaya.
Itu juga tidak menakutkannya karena dalam armadanya ada pasukan penjaga yang mengamankannya.

Tentang anak muda di sebelahnya, yang ia bawa dari Damaskus, inilah yang menyusahkan hatinya. Dia Hadan
Gula, cucu dari rekan usahanya dulu, Arad Gula, yang kepadanya dia banyak berutang budi yang tidak akan
pernah terbayarkan. Ia ingin melakukan sesuatu bagi cucunya, tetapi semakin dia ingin melakukannya, semakin
sulit hal itu terlihat akan terlaksana dikarenakan ulah anak muda itu sendiri.

Melirik ke cincin dan anting anak muda itu, ia mereka-reka pada dirinya sendiri, “Dia fikir perhiasan itu untuk
lelaki, padahal ia masih memiliki wajah keras kakeknya. Tetapi kakeknya tidak mengenakan jubah berkilau
seperti ini. Sedangkan, aku mengajaknya, dan berharap aku dapat membantunya memulai sesuatu yang baru
bagi dirinya sendiri, dan segera melupakan kebangkrutan yang telah dilakukan ayahnya terhadap warisan sang
kakek.”

Hadan Gula memecah lamunannya, “Mengapa engkau bekerja terlalu keras, selalu mengikuti perjalanan
karavanmu menempuh jalan yang jauh? Tidak pernahkah engkau beristirahat sejenak untuk menikmati
kehidupanmu?”

Sharru Nada tersenyum. “Menimati hidup?” ulangnya. “Apa yang akan engkau buat untuk menikmati hidupmu
kalau engkau Sharru Nada?”

“Kalau aku memiliki kekayaan sebanyak kekayaanmu, aku akan hidup bagai seorang pangeran. Aku tidak akan
pernah menyeberangi gurun. Aku akan gunakan keping uang itu secepat ia terkumpul di kantung uangku. Akan
kukenakan pakaian termahal dan memakai perhiasan terlangka. Itulah kehidupan yang kusukai, hidup yang
pantas dijalani.” Mereka berdua tertawa-tawa.
“Kakekmu tidak mengenakan perhiasan sama sekali,” Sharru Nada menukas tanpa berfikir, dan melanjutkannya
dengan canda, “Engkau tiak menyediakan waktu untuk bekerja?”

“Kerja disediakan bagi para budak,” jawab Hadan Gula.

Sharru Nada menggigit bibirnya tetapi tidak memberikan tanggapan, berjalan dalam diam hingga jalan yang
mereka lalui agak menurun. Di situ ia hentikan kudanya dan menunjuk ke lembah hijau di kejauhan, “Lihat, itu
lembahnya. Lihat lebih jauh, di bawah samar-samar terlihat tembok kota Babilonia. Menara itu Kuil Genta,
Apabila matamu cukup tajam engkau akan dapat melihat asap api abadi di ujung menaranya.”

“Jadi, itu Babilonia? Aku selalu mengimpikan melihat kota terkaya di seluruh dunia,” ujar Hadan Gula.
“Babilonia, tempat kakekku memulai kejayaannya. Seandainya dia masih hidup. Kita tidak akan terlalu
tertekan.”

“Mengapa mengharapkan jiwanya terus hidup melebihi jatah waktu hidup di dunia? Engkau dan ayahmu dapat
terus melanjutkan hasil kerjanya.”

“Sayang, di antara kami, tidak ada yang memiliki bakat seperti dia. Ayahku dan aku tidak mengetahui rahasia
yang dimilikinya, bagaimana mendatangkan keping-keping emas.”

Sharru Nada tidak memberikan tanggapan tetapi terus mengendalikan kudanya dan berjalan berhati-hati
menuruni tebing itu menuju lembah di bawahnya. Di belakang mereka berarakan anggota karavan dalam
kepulan debu kemerahan. Beberapa waktu kemudian mereka sampai di Jalan Raya Sang Raja dan berbelok ke
arah selatan melalui hamparan tanah pertanian yang teririgasi dengan baik.

Tiga lelaki tua yang sedang membajak menarik perhatian Sharru Nada. Mereka terlihat agak tidak asing
baginya. Luar biasa! Seseorang tidak melalui pertanian ini selama empat puluh tahun dan kemudian menemukan
orang yang sama masih membajak tanah itu. Dan, sesuatu dalam dirinya mengatakan mereka masih tetap sama.
Satu, dengan genggaman longgar, memegang bajak. Yang lainnya berjalan disisi sapi dengan giatnya, dengan
tanpa hasil memukuli dengan tongkat agar sang sapi terus menarik bajak.

Empat puluh tahun yang lalu ia memandang dengan iri pada para petani itu! Ia rela bertukar tempat dengan sang
petani! Tetapi lihatlah bedanya sekarang. Dengan bangga ia memandang ke rombongan karavan di belakangnya,
unta-unta dan keledai terpilih, penuh dengan muatan barang tak ternilai harganya dari Damaskus. Semua itu
miliknya sendiri.

Ia menunjuk kepada sang pembajak, sambil berkata, “Masih membajak ladang yang sama yang mereka bajak
empat puluh tahun yang lalu.”
“Itu mereka, mengapa engkau fikir mereka masih orang yang sama?”

“Aku melihat mereka di situ,” jawab Sharru Nada.

Kenangan berlalu dengan cepat menelusuri benaknya. Mengapa ia tidak menguburkan saja masa lalunya dan
hidup pada masa kini? Kemudian ia melihat, bagai sebuah lukisan, wajah Arad Gula yang tersenyum. Dinding
pembatas antara dirinya dan anak muda yang sinis di sebelahnya segara lenyap.

Tetapi, bagaimana ia dapat membantu anak muda yang angkuh, pemboros dan tangan penuh perhiasan ini?
Banyak pekerjaan yang dapat ia tawarkan kepada siapa saja yang mau bekerja, tetapi tidak pada orang yang
merasa dirinya terlalu hebat untuk bekerja. Tetapi ia berutang pada Arad Gula untuk melakukan sesuatu, tidak
dengan setengah hati. Dia dan Arad Gula tidak pernah melakukan hal seperti itu. Mereka tidak seperti anak
muda ini.

Sebuah rencana seketika datang melintas. Ada beberapa masalah. Ia harus mempertimbangkan keluarganya
sendiri dan kedudukannya. Rencana ini agak kejam, bisa melukai bahkan. Sebagai orang yang cepat mengambil
keputusan, ia kesampingkan masalah yang mungkin timbul dan memutuskan untuk malaksanakannya.

“Tidakkah engkau ingin mendengar bagaimana kakekmu yang terhormat itu dan aku bekerjasama dalam kongsi
yang sangat menguntungkan?” ia bertanya.

“Mengapa tidak langsung ceritakan padaku bagaimana engkau berdua membuat keping emas,” jawab sang anak
muda balas bertanya.

Sharru Nada mengabaikan jawaban itu dan melanjutkan, “Kami mulai dengan orang-orang yang sedang
membajak itu. Aku tidak lebih tua dari dirimu sekarang. Ketika barisan serombongan orang yang aku ikut di
dalamnya, sampai ke tempat itu, Megiddo tua yang baik, sang petani, mengeluhkan bagai mana buruknya kerja
para pembajak itu. Megiddo di rantai di sebelahku. “Lihat pada orang-orang malas itu,’ kesahnya, ‘pemegang
bajak tidak berusaha menekan bajaknya dalam-dalam, penerik kerbau juga tidak mempertahankan lembunya
pada jalurnya dengan baik. Bagaimana mungkin mereka mengharapkan panen yag bagus kalau tanahnya tidak
dibajak dengan baik.’”

“Engkau katakan Megiddo dirantai bersamamu?” Hadan Gula bertanya agak terkejut.

“Ya, dengan gelang perunggu di leher kami dan rangkaian rantai menghubungkan kami. Di sebelahnya lagi
Zabado, pencuri kambing. Aku telah mengenalnya di Harroun. Di ujung sekali seorang yang kami panggil
Lanun karena ia tidak mau mengenalkan namanya. Kami duga ia seorang pelaut karena ada gambar dua ekor
ular saling melilit tertatto di dadanya sebagaimana umumnya para pelaut kala itu. Barisan rombongan kami
dibuat berbanjar empat orang sebarisnya terus memanjang ke belakang.”
“Engkau dibelenggu sebagai budak?” Hadan Gula bertanya setengah tidak percaya.

“Tidakkah kakekmu menceritakan padamu bahwa aku dulu pernah menjadi seorang budak?”

“Dia sering membicarakan tentang engkau tetapi tidak pernah menyebutkan hal ini.”

“Dia memang seorang yang dapat engkau percayai, dapat memegang rahasia terdalammu. Engkau, juga, orang
yang dapat aku percaya, bukankah benar begitu?” Sharru Nada berkata begitu sambil menatapnya langsung.

“Engkau dapat mempercayaiku, tapi aku agak terkejut. Katakan padaku bagaimana sampai engkau dapat
menjadi seorang budak?”

Sharru Nada mengangkat bahunya, “Setiap orang merdeka dapat saja menjadi seorang budak. Rumah judi dan
bir barley lah yang telah menjerumuskanku. Aku menjadi korban kecerobohan saudaraku. Dalam sebuah
perkelahian ia membunuh seorang sahabatnya. Aku dijaminkan pada janda, istri korban, agar saudaraku tidak
dituntut secara hukum. Ketika ayahku tidak dapat mengumpulkan perak untuk membebaskanku, sang janda naik
darah dan menjualku pada pedagang budak.”

“Memalukan dan sangat tidak adil.” Kata Hadan gula menunjukkan ketidaksetujuannya. “Tetapi, katakan
padaku, bagaimana engkau dapat memperoleh kemerdekaanmu kembali?”

“Kita akan sampai ke situ nanti, sekarang belum. Biar kulanjutkan dulu ceritaku. Ketika kita melewati para
pembajak ladang itu, mereka menertawai kami. Seorang di antaranya mengangkat topi usangnya dan
membungkuk rendah, sambil berteriak, ’Selamat datang di Babilonia, para tamu sang raja. Dia menunggumu di
atas tembok kota dan telah siap menjamu, lumpur bata dan sup bawang.’ Setelah itu mereka semua tertawa
terbahak-bahak.”

“Lanun menjadi marah dan memaki mereka dengan sama kerasnya. ‘Apa maksud mereka dengan raja
menuunggu di atas tembok kota?’ aku bertanya padanya.”

”’Ke tembok kota engkau berbaris sambil memanggul bata sampai patah pinggangmu. Mungkin mereka akan
memukulmu hingga mati sebelum tulang punggumngu patah. Mereka tidak akan memukulku. Aku yang akan
membunuh mereka.’”

“Kemudian Megiddo berkata, ‘Tak masuk akal bagiku mendapatkan tuan hamba memukul mati budak yang
patuh, dan mau bekerja keras. Tuan hamba suka dengan budak yang baik dan akan memperlakukan mereka
dengan baik.’”
“’Siapa yang mau bekerja keras?’ komentar Zabado. ‘Para pembajak itu benar-benar orang yang bijaksana.
Mereka tidak bekerja keras hingga patah tulang punggungnya. Bekerja seadanya asal dapat diselesaikan.’”

“’Engkau tidak akan maju jika mencuri-curi kerja seperti itu,’ bantah Megiddo, ‘Apabila engkau membajak satu
hektar dalam sehari, itu baru kerja yang baik, semua tuan juga mengetahuinya. Tetapi apabila engkau hanya
menyelesaikan setengah hektar, itu mencuri kerja namanya. Aku bukan pencuri kerja. Aku suka bekerja dan aku
suka bekerja dengan baik, karena kudapatkan kerja sebagai sahabatku yang terbaik yang pernah kukenal. Kerja
telah memberikanku hal-hal yang baik yang pernah kuperoleh, kebunku, sapi-sapiku, panen raya, semuanya.’”

“’Ya, mana barang-barang itu semua, sekarang?’ ejek Zabado. ‘Aku membayangkan lebih baik jika dapat
dengan cerdik melalui semuanya tanpa bekerja. Lihat Zabado, apabila kita dijual ke tembok kota, dia akan
memanggul kantung air atau pekerjaan mudah lainnya ketika engkau, yang senang bekerja, akan mematahkan
tulang punggungmu memikul bata.” Dia tertawa dengan gelinya.

“Malam itu aku dilanda ketakutan. Aku tidak dapat tidur. Aku merapat dekat ke batas penjagaan, dan ketika
semua sedang tertidur, aku tarik perhatian Godoso yang mendapat giliran penjagaan pertama malam itu. Dia
salah satu dari prajurit Arab, yang sangat bengis, yang apabila ia merampok kantung-kantung uangmu, pasti dia
akan sekaligus menyembelihmu.

“’Katakan padaku Godoso,’ bisikku, ‘apabila kami sampai di Babilonia akankah kami dijual ke tembok kota?’”

“’Mengapa engkau ingin tahu?’ ia bertanya penuh kecurigaan.”

“’Tidakkah engkau mngerti?’ aku memohon, ‘aku masih muda. Aku masih ingin hidup. Aku tidak ingin bekerja
atau dipukuli hingga mati di tembok kota. Apakah ada kesempatan bagiku mendapatkan tuan yang baik?’”

“Ia membalas dengan bisikan, ‘kuberitahukan engkau sesuatu. Engkau anak yang baik, tidak merepotkan
Godoso. Biasanya pertama kali kita akan pergi ke pasar budak. Dengar. Apabila ada calon pembeli, katakan
pada mereka engkau pekerja yang baik, ingin bekerja bagi tuan yang baik. Buat mereka ingin membelimu.
Apabila tidak ada yang membelimu, hari berikutnya engkau pasti akan menjadi penganggkut bata. Kerja yang
kerasnya membunuh.’”

“Setelah dia pergi, aku berbaring di hangatnya pasir, menatap bintang-bintang dan memikirkan masalah kerja.
Apa yang dikatakan Megiddo bahwa kerja adalah sahabat terbaiknya menyebabkanku berfikir mungkin kerja
juga merupakan sahabat terbaikku juga. Pasti ia jadi sahabatku seandainya aku dapat keluar dari permasalahan
ini.”

“Ketika Megiddo sudah bangun, kubisikkan padanya berita baik yang kudengar. Ada secarik sinar harapan
muncul ketika kami mulai bergerak memasuki Babilonia. Senja hari kami mendekati tembok kota dan dapat
melihat barisan manusia, seperti jajaran semut hitam, berjalan naik turun di tangga diagonal yang curam. Ketika
semakin dekat, kami dibuat takjub oleh ribuan orang yang bekerja; sebagian menggali di bantaran sungai kecil,
yang lainnya mencampur lumpur itu hingga menjadi bata lumpur. Jumlah terbanyak adalah yang memanggul
bata lumpur itu dalam keranjang-keranjang besar ke atas tangga yang curam itu ke tempat pembuat tembok di
bagian atas.”*

* Bangunan-bangunan terkenal di Babilonia kuno, tembok-tembok kotanya, kuil-kuil, taman gantung dan aluran-saluran air, semua dibangun dengan
menggunakan tenaga budak, terutama para tawanan perang, sehingga hal itu cukup menjelaskan perlakuan tidak manusiawi yang dialaminya. Dalam kelompok
para pekerja ini juga termasuk beberapa warga Babilonia dan daerah kekuasaan sekitarnya yang telah dijual sebagai budak karena tindakan kejahatan yang
dilakukannya atau karena kesulitan keuangan yang dialaminya. Sudah menjadi kebiasaan di sana bag seseorang untuk menempatkan dirinya, istrinya atau anak-
anaknya sebagai jaminan untuk pembayaran utang, keputusan hakim atau kewajiban lainnya. Jika kewajiban itu tidak dipenuhi, orang yang dijaminan dijual
sebagai budak.

“Para pengawal memaki pekerja yang malas dan menyambuki dengan cambuk sapi ke punggung siapa saja yang
tidak berjalan sesuai dengan baris jalan yang lainnya. Menyedihkan sekali, pekerja yang sudah keletihan,
dengan kaki yang bergetar tumbang kebelakang terbawa keranjang berat yang dipanggulnya, tidak mampu
berdiri lagi. Apabla sabetan cambuk tidak dapat lagi membuat mereka berdiri, mereka akan didorong ke
samping jalan yang dilalui para penganggkut bata itu dan ditinggalkan meregang nyawa dalam kepedihan. Tidak
lama mereka akan diseret ke bawah dikumpulkan bersama tubuh tak berdaya lainnya di tepi jalan menunggu
penguburan seperti menguburkan hewan. Sementara itu aku merasa miris melihat keadaan itu, pemandangan
yang membuat aku gemetar. Jadi inikah yang menunggu anak ayahku ini apabila dia tidak laku dijual di pasar
budak.”

“Godoso benar sekali. Kami dibawa melalui gerbang kota ke penjara budak dan keesokan harinya langsung ke
pelataran lelang di pasar. Di situ kami, semua budak berbondong rapat dalam ketakutan dan hanya cambuk
pengawal kami yang dapat membuat kami berjalan sehingga para pembeli dapat melihat-lihat keadaan budak
yang akan dibelinya. Megiddo dan diriku sendiri dengan bersemangat berbicara dengan pembeli yang
mengizinkan kami mengemukakannya.”

“Penjual budak membawa prajurit dari pengawal raja yang kemudian memborgol Lanun dan dengan kasar
memukulnya ketika ia menentang. Ketika mereka berhasil membawanya pergi, aku agak merasa kasihan juga
pada Lanun.”

“Megiddo berfikir kami akan segera berpisah. Katika tidak ada pembali di sekitar kami, ia berbicara padaku
dengan penuh kesungguhan untuk agar aku benar-benar perhatikan bagaimana pentingnya kerja bagiku di masa
yang akan datang : ‘Sebagian orang membencinya. Mereka membuat kerja sebagai musuhnya. Labih baik
memperlakukannya sebagai sahabat, buat dirimu menyukainya. Jangan perdulikan apabila kerja itu terasa berat.
Apabila engkau fikirkan betapa indahnya rumah yang akan engkau bangun, engkau tidak akan perduli betapa
beratnya gelagar atau betapa jauhnya air harus diambil untuk membuat plester tembok. Berjanjilah padaku, nak,
apabila engkau mendapat tuan yang baru, bekerjalah untuknya sekuat yang dapat engkau lakukan. Apabila ia
tidak memperdulikan hasil kerjamu, biarkan saja. Ingat, kerja, hasil yang baik, akan memberi kebaikan pada
yang melakukannya. Ia membuatnya menjadi manusia yang lebih baik.’ Ia berhenti berbicara sesaat seorang
petani yang gempal datang ke kurungan kami dan memperhatikan kami dengan teliti.”

“Megiddo bertanya tentang kebunnya dan panenan, dan meyakinkan petani bahwa ia akan menjadi sangat
berguna baginya. Setelah tawar menawar yang alot, sang petani akhirnya mengambil kantung uang dari balik
jubahnya, dan segera Megiddo mengikuti tuan barunya menghilang dari pandangan.”
“Beberapa orang lainnya terjual pada pagi itu. Pada siang hari Godoso menyampaikan sesutau yang sangat
penting bagiku bahwa pedagang budak sudah habis kesabarannya dan tidak mau menunggu satu malam lagi dan
akan membawa semua budak yang belum laku ke pembeli wakil sang raja sore ini. Aku menjadi sangat terdesak
dan ketika seorang yang gemuk, berperilaku santun mendatangi kami dan menanyakan adakah seorang pembuat
roti di antara kami.”

“Aku mendekat kepadanya sambil mengatakan, ‘Mengapa seorang pembuat roti handal seperti engkau mencari
seorang pembakar roti yang belum jelas kemampuannya? Bukankah akan lebih mudah untuk mengajarkan
kepada seseorang yang begitu rajin bekerja seperti aku cara engkau membuat roti? Lihat diriku, aku muda, kuat
dan gemar bekerja.Beri aku kesempatan dan aku akan berbuat semampuku untuk menghasilkan emas dan perak
ke dalam kantung uangmu.’”

“Dia cukup terkesan dengan kesediaanku dan mulai melakukan penawaran pada pedagang budak yang tidak
pernah memperhatikan aku sejak dia membeliku tetapi sekarang membual dengan fasihnya tentang
kemampuanku, kesehatanku yang bagus dan betapa berharganya diriku. Aku merasa sepeti seekor lembu gemuk
yang sedang ditawarkan kepada tukang jagal. Akhirnya, sangat menggembirakan hatiku, mereka mendapatkan
kata sepakat. Aku mengikuti tuan baruku, sambil berandai-andai dan berfikir bahwa aku orang paling beruntung
di Babilonia.”

“Rumah baruku, sangat sesuai dengan seleraku. Nana-naid, tuanku, mengajariku bagaimana caranya menggiling
barley dengan gilingan batu yang terletak di tengah halaman, bagaimana menghidupkan api di dalam ruang
pembakaran dan kemudian bagaimana caranya menggiling halus tepung bijian untuk membuat kue madu. Aku
diberi ranjang di dalam gudang tempat ia menyimpan biji-bijian. Budak tua yang megurus rumah tangga,
Swasti, menyediakan makanan bagiku dan terlihat cukup puas dengan kesediaanku selalu membantu dia dalam
tugas-tugasnya yang berat-berat.”

“Inilah kesempatan yang sudah kutunggu-tunggu untuk membuat diriku semakin berharga bagi tuanku dan, aku
berharap, mendapatkan jalan memperoleh kemerdekaanku.”

“Aku minta Nana-naid menunjukkan padaku cara menguli roti dan membakarnya. Dia mengajarkanku, dan dia
terlihat puas dengan keinginanku. Kemudian, ketika aku sudah dapat bekerja dengan bagus, aku minta padanya
menunjukkan cara membuat kue madu, dan akhirnya aku mengerjakan semua pekerjaan pembuatan roti. Tuanku
senang hatinya dapat berleha-leha, tetapi Swasti menggeleng-gelengkan kepalanya menunjukkan
ketidaksenangannya. ‘Tidak ada pekerjaan itu hal yang buruk bagi seseorang,’ tegasnya.”

“Aku fikir inilah saatnya aku dapat mulai befikir bagaimana caranya aku mulai mengumpulkan keping-keping
untuk pembeli kemerdekaanku. Saat pembuatan roti selesai di tengah hari, aku perkirakan Nana-naid akan
menyetujui apabila aku dapat melakukan pekerjaan lain yang memberikan penghasilan di sore hari dan dia akan
berbagi hasil pencaharian itu dengan diriku. Kemudian terlintas dalam pikiranku, mengapa tidak membuat kue
madu lebih banyak dan menjajakannya kepada orang-orang yang mau membelinya di jalan-jalan di dalam kota?

“Aku jelaskan rencanaku pada Nana-naid seperti ini : ‘Apabila aku dapat gunakan waktu sore hariku setelah
selesai pembuatan roti untuk menghasilkan tiga keping, bukankah cukup adil apabila tuan membagi hasil
kerjaku itu dengan diriku sehingga aku dapat memiliki keping milikku sendiri yang dapat kugunakan untuk
keperluan sehari-hariku?’”
“’Cukup adil, cuku adil,’ dia menerimanya. Kemudian ketika kukatakan padanya rencanaku untuk menjajakan
kue madu keliling kota, dia semakin senang. “Inilah yang akan kita lakukan,’ dia menyarankan. ‘Engkau jual
kue-kue itu dua sekelip, dan separuh kelip menjadi milikku sebagai pembayar tepung dan madu dan kayu
pembakar. Sisanya, aku akan ambil separuh dan engkau bisa menyimpan separuhnya lagi.’”

“Aku sangat bergembira dengan penawarannya yang dermawan bahwa aku dapat menyimpan untuk diriku
sendiri, seperempat dari hasil penjualanku. Malam itu aku bekerja hingga larut membuat nampan pembawa roti.
Nana-naid memberikan padaku jubah usangnya agar aku terlihat lebih sebagai penjual roti yang baik, dan
Swasti membantuku mengepaskannya dengan diriku, dan mencucinya bersih-bersih.”

“Keesokan harinya aku membakar lebih banyak kue madu. Di atas nampan mereka terlihat coklat dan sangat
menggoda selagi aku menjalani jalan-jalan di kota, sambil berteriak cukup keras menjajakan daganganku.
Awalnya tidak ada orang yang terlihat tertarik, aku menjadi agak sedikit kecewa dan ragu. Tetapi tetap
kuteruskan dan kemudian, ketika menjelang senja ketika orang-orang mulai merasakan lapar, kue-kue itu terjual
dan nampanku segera kosong.”

“Nana-naid puas dengan keberhasilanku dan dengan senang hati membayar bagianku. Aku sangat terhibur
dengan memiliki uangku sendiri. Megiddo sungguh benar ketika ia mengatakan bahwa seorang tuan akan
menghargai kerja keras budak-budaknya. Malam itu aku begitu bersemangat menikmati keberhasilanku sampai-
sampai aku susah tertidur dan terus mengira-ngira berapa jumlah yang dapat kuhasilkan dalam setahun dan
berapa tahun yang kubutuhkan untuk dapat membeli kemerdekaanku.”

“Saat-saat aku menjajakan kue daganganku di kota setiap hari. Aku mendapatkan beberapa pelanggan tetap.
Salah satunya tidak lain adalah kakekmu, Arad Gula. Dia saudagar permadani yang menjual permadaninya pada
ibu-ibu rumah tangga, beredar dari satu ujung kota ke ujung lainnya, ditemani seekor keledai yang dibebani
penuh dengan permadani dan sorang budak hitam menjaganya. Dia biasanya akan membeli dua potong kue
untuk dirinya dan dua potong untuk budaknya, ia selalu sangat senang berbicara denganku sambil memakan kue
yang dibelinya.”

“Kakekmu mengatakan sesuatu padaku suatu hari, hal yang selalu kuingat. ‘Aku menyukai kue-kuemu, nak,
tetapi aku lebih suka jiwa wirausahamu dan caramu menawarkannya. Jiwa itu akan membawamu jauh ke jalan
keberhasilan.’”

“Tetapi bagaimana engkau bisa mengerti, Hadan Gula, bahwa kalimat dukungan seperti itu sangat berarti bagi
seorang budak muda, sebatang kara di tengah kota besar, berjuang dengan semua kemampuannya untuk mencari
cara keluar dari kehinaan seorang budak?”

“Beberapa bulan berlalu, aku terus menerus menambah keping-keping ke dalam kantung uangku. Mulai terasa
berat yang menyenangkan kala terikat di pinggangku. Kerja telah terbukti menjadi sahabat terbaikku seperti
yang pernah diucapkan Megiddo. Aku bergembira, tetapi Swasti tidak.”
“’Tuanmu, aku khawatir dia telah menggunakan banyak waktu luangnya di rumah perjudian,’ begitu
khawatirnya dia.

“Aku sangat gembira suatu hari bertemu dengan sahabatku Megiddo di jalan. Dia menggiring tiga ekor keledai
penuh dibebani sayur-sayuran ke pasar. ‘Aku cukup berhasil,’ katanya. ‘Tuanku telah menghargai kerja kerasku
sehingga saat ini aku dijadikannya sebagai mandor. Lihat, dia mempercayakan pemasaran hasil kebunnya
padaku, dan juga mengirimkan sebagian pada keluargaku. Kerja telah membantuku keluar dari masalah yang
lebih besar. Suatu hari nanti, ia akan menolongku membeli kemerdekaanku dan kemabli memiliki kebun milkku
sendiri.’”

“Waktu berlalu dan Nana-naid betambah gelisah menungguku pulang dari berjualan setiap sore. Ia akan
menunggu bila saja aku kembali dan akan dengan penuh semangat menghitung dan membagi-bagi uang kami.
Dia juga menganjurkan aku agar mencari pasar yang lebih luas dan meningkatkan penjualan kami.”

“Kadang-kadang, aku berjualan sampai ke luar gerbang kota untuk mengunjungi pengawal budak yang sedang
membangun tembok kota. Sebenarnya aku tidak begitu suka kembali melihat pemandangan yang tidak
menyenangkan di situ tetapi para pengawal itu merupakan pelanggan yang sangat royal. Suatu hari aku agak
terkejut melihat Zabado sedang berdiri di barisan yang akan mengisi keranjang dengan bata. Dia terlihat kurus
kering dan agak sedikit bungkuk, dan punggungnya dipenuhi kapalan dan luka bekas cambukan para pengawal.
Aku sedih melihatnya dan memberikannya sepotong kue yang langsung dilahapnya bagai binatang lapar.
Melihat begitu inginnya ia mendapatkan makanan, yang terlihat diwajahnya, langsung saja aku
segera melarikan diri sebelum sempat ia mengambil nampanku.”

“’Mengapa engkau bekerja begitu keras?’ Arad Gula mengatakan padaku suatu hari. Sama seperti pertanyaan
yang engkau ajukan padaku hari ini, masih ingat engkau? Aku katakan padanya apa yang dikatakan Megiddo
padaku tentang kerja dan bagaimana telah terbukti menjadi sahabat terbaikku. Kutunjukkan padanya dengan
bangga kantung uangku yang penuh keping dan menjelaskan padanya bagaimana aku telah mengumpulkannya
untuk membeli kemerdekaanku.”

“’Apabila kamu merdeka, apa yang akan engkau lakukan?’ tanyanya ingin tahu.”

“’Nanti,’ jawabku, ‘aku ingin menjadi seorang saudagar.’”

“Ketika mendengar itu, ia menceritakan padaku sebuah rahasia. Sesuatu yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
‘Engkau tahu tidak bahwa aku, juga, seorang budak. Aku berusaha dengan bekerjasama bersama tuanku.’”

“Hentikan,” pinta Hadan Gula, ”Aku tidak akan mendengar kebohongan yang mempermalukan kakekku. Dia
bukan budak.” Matanya menyala penuh kemarahan.

Sharru Nada tetap tenang. “Aku menghormati kakekmu yang telah berhasil keluar dari keterpurukannya dan
menjelma menjadi orang terkemuka di Damaskus. Bukankah engkau, cucunya memiliki trah yang sama?
Apakah engkau cukup jantan untuk menghadapi kenyataan ini, atau engkau lebih memilih hidup dalam ilusi
yang tidak benar?

Hadan Gula menegakkan duduknya di atas pelana. Dengan suara dalam penuh emosi dia menjawab, “Kakekku
disayangi oleh siapapun. Tidak terbilang perbuatan baiknya. Apabila ada bencana kelaparan apakah tidak
dengan keping emasnya ia membeli biji-bijian dari dari Mesir dan apakah tidak juga dengan karavannya
membawa kembali ke Damaskus dan membagi-bagikannya kepada masyarakat yang memerlukan sehingga
tidak ada yang mati kelaparan? Sekarang engkau mengatakan dia hanyalah budak yang dianggap tidak berguna
di Babilonia.”

“Apabila dia tetap sebagai seorang budak di Babilonia, pastilah dia akan dianggap tidak berguna, disia-siakan,
tetapi ketika, dengan usahanya sendiri, ia menjadi orang terhormat di Damaskus, para dewa telah mencabut
kemalangannya dan menganugerahkannya dengan kehormatan,” jawab Sharru Nada.

“Setelah mengatakan kepadaku bahwa dia seorang budak,” Sharru Nada melanjutkan, ‘dia menjelaskan betapa
bersemangatnya dia untuk memperoleh kemerdekaannya. Dan sekarang, ketika dia memiliki uang yang cukup
untuk membeli kemerdekaan ia mulai terganggu dengan fikiran apa yang akan dilakukannya setelah itu. Begitu
mengganggunya sehingga penjualannya merosot dan khawatrir kehilangan dukungan tuannya.”

“Aku tentang keraguannya : ‘Jangan lagi tergantung pada tuanmu. Kembali rasakan memiliki perasaan orang
merdeka. Bertindaklah sebagai seorang merdeka dan berhasillah seperti seorang merdeka! Tentukan apa yang
engkau inginkan untuk dicapai dan kemudian kerja akan membantu engkau mencapainya!’ Dia melanjutkan
perjalanannya dengan mengatakan bahwa dia sangat senang ia telah mempermalukannya atas kepengecutannya
tadi.”*

* Ketentuan perbudakan di Babilonia kumo, meski terlihat tidak konsisten bagi kita, sebenarnya diatur ketat dengan peraturan sang raja. Sebagai contoh,
seorang budak dapat memiliki harta jenis apapun, bahkan memiliki seorang budak yang tuannya tidak dapat memilikinya. Budak dapat berkeluarga dengan
bebas dengan bukan budak. Anak yang diperoleh dari seorang ibu yang merdeka merupakan anak merdeka. Sebagian besar saudagar di kota itu adalah budak.
Sebagian budak-budak itu bekerjasama dengan tuannya dan memiliki kekayaan milik sendiri.

“Suatu hari aku berjualan ke luar gerbang kota, dan terkejut menemukan ada kerumunan orang berkumpul
disana. Ketika kutanyakan pada seseorang apa yang terjadi dia menjawab : ‘Apakah engkau belum mendengar?
Seorang budak yang melarikan diri, yang telah membunih salah satu pengawal raja telah diadili dan hari ini
akan dicambuk hingga mati atas kejahatan yang dilakukannya. Bahkan sang raja sendiri akan menyaksikannya.”

“Begitu ramainya kerumunan itu yang mengelilingi tiang pencambukan itu, aku tidak berani mendekat karena
takut nampan rotiku pasti akan terbalik-balik oleh padatnya orang disitu. Oleh karena itu aku pergi menaiki
bagian tembok yang belum selesai dibangun untuk melihat melalui atas kepala orang-orang itu. Aku sangat
beruntung dapat melihat langsung Nebukadnezar saat dia datang dengan mengendarai kereta kudanya yang
keeamasan. Belum pernah aku menyaksikan kemewahan seperti itu, jubah-jubahnya yang dihiasi kain emas dan
beludru.”

“Aku tidak dapat melihat pencambukan itu tetapi akau dapat mendengar terikan budak yang malang itu. Aku
bayangkan betapa seseorang begitu terhormat dan tampan seperti sang raja dapat dengan tenang menyaksikan
kejadian yang menyengsarakan itu, namun ketika aku melihat ia tertawa-tawa dan bersenda gurau sesama para
orang terhormat lainnya, aku pastikan dia orang yang kejam dan memahami mengapa pekerjaan biadab
diperlukan bagi budak-budak yang membangun tembok kota itu.”

“Setelah budak itu mati, tubuhnya digantung di sebuah tiang dengan tali yang diikatkan ke pergelangan kakinya
agar setiap orang dapat melihatnya. Ketika kerumunan itu sudah jauh berkurang, aku mendekat, Pada dadanya
yang berbulu, aku melihat tatto, dua ekor ular yang saling melilit. Dia Lanun.”

“Kala berikutnya akau bertemu dengan Arad Gula dia telah terlihat berbeda. Dengan penuh semangat dia
menyapaku : ‘Ketahuilah, budak yang paling engkau kenal itu sekarang seorang yang merdeka. Ada kejaiaban
dalam kata-katamu. Penjualan dan keuntungan ku meningkat lagi. Istriku berbahagia. Dia orang merdeka,
keponakan tuanku. Dia begitu menginginkan kami pindah ke negeri asing dimana tidak seorangpun pernah
mengenalku sebagai mantan seorang budak. Agar anak-anak kami tidak dapat dijangkau kemalangan yang
pernah menimpa orang tuanya. Kerja sudah menjadi pembantu terbaikku. Kerja telah membuatku mampu
memperoleh kembali kepercayaan diriku dan keahlian menjualku.’”

“Aku sangat berbahagia bahwa aku sudah dapat, meski dengan upaya yang sangat sedikit dan kecil, membalas
dukungan dan dorongan yang pernah diberikannya padaku.”

“Suatu senja Swasti datang kepadaku terlihat penuh kekhawatiran : ‘Tuanmu dalam kesulitan. Aku
mengkhawatirkan keadaannya. Beberapa bulan yang lalu ia menderita kekalahan yang besar di meja judi.
Kemudian ia tidak membayar utang-utangnya pada petani atas pembelian biji-bijian tidak juga untuk pembelian
madu. Dia tidak juga membayar utangnya pada pemberi pinjaman emas. Mereka semua sudah mulai kehilangan
kesabaran, marah, dan mengancam tuanmu.’”

“’Mengapa kita harus khawatir atas kebodohannya itu. Kita bukan orang yang memeliharanya,” jawabku
sekedarnya.

“’Bodoh benar engkau budak hijau, engkau tidak mengerti. Kepada pemberi pinjaman emas itu engkau telah
dijaminkan tuanmu bagi pinjamannya. Dibawah hukum pemberi pinjaman dapat mengambil alih hak atasmu
dan menjual engkau sebagai budak kepada siapa saja. Aku tidak tahu akan berbuat apa. Dia tuan yang baik.
Mengapa? Oh mengapa, kesulitan sebesar itu datang kepadanya?”

“Ketakutan Swasti bukannya tidak berdasar. Ketika aku sedang membakar roti keesokan harinya, pemberi
pinjaman emas datang dengan seorang lelaki yang dipanggilnya dengan nama Sasi. Orang ini mengamatiku dan
mengatakan boleh juga.”

“Pemberi pinjaman emas tidak menunggu tuanku datang bahkan mengatakan pada Swasti untuk mengatakan
pada tuanku bahwa dia telah mengambil aku. Dengan hanya mengenakan jubah yang kukenakan saat itu dan
dengan kantung uangku yang tergantung aman di pinggangku, aku digiring meninggalkan roti yang belum
selesai kubakar.”
“Aku digulung pergi dari harapan terbaikku bagaikan puting beliung mencabut pepohonan dari hutan dan
melemparkannya ke laut yang sedang membadai bergelora. Lagi, rumah judi dan bir barley telah
menyengsarakanku.”

“Sasi seorang yang kasar, tidak memiliki sopan santun dan bersuara kasar. Ketika ia menggiringku membelah
kota, kuceritakan padanya kerja yang baik yang sudah kulakukan bagi Nana-naid dan mengharapkan akan
mengerjakan hal yang bagus juga bagi dirinya. Jawabannya tidak menggembirakan :”

“’Aku tidak suka pekerjaan ini. Tuanku juga tidak. Sang Raja telah memerintahkan tuanku untuk mengirimkan
aku dan memintaku menyelesaikan pekerjaan pada sebagian seksi dari Saluran Besar. Tuannya telah
memerintahkan Sasi untuk membeli budak lebih banyak, kerja keras dan selesaikan segera. Bah, bagaimana
mungkin ada orang-orang yang akan dapat menyelesaikan pekerjaan besar dengan cepat?’”

“Bayangkan sebuah gurun pasir tanpa satu batang pohon pun, hanya belukar berduri dan matahari membakar
dengan gilanya sehingga air di gentong menajdi begitu panas sampai kita tidak sanggup meneguknya.
Kemudian bayangkan barisan orang, berjalan menuruni galian yang dalam dan kemudian menyeret keranjang
berat ke atas melalui jalan lunak berdebu dari pagi hingga gelap hari. Bayangkan juga makanan yang diberikan
dengan meletakkannya ke dalam sebuah palungan terbuka dan kami memakannya bagai babi mendapatkan
ransum. Kami tidak memiliki tempat berteduh, tanpa jerami tempat berbaring. Itulah kondisi yang aku alami.
Aku menanamkan kantung uangku dalam tanah di tempat yang kutandai, sambil meragukan apakah aku dapat
menemukan dan menggalinya kembali.”

“Pada mulanya aku bekerja dengan keinginan yang baik, tetapi setelah beberapa bulan beringsut, kurasakan
semangatku mulai patah. Lalu serangan demam panas merajam tubuhku yang sudah kelelahan. Aku kehilangan
selera makan dan tidak dapat sama sekali menugunyah daging atau pun sayuran. Pada malam hari aku selalu
terjaga oleh rasa sakit dan gerun yang tidak menenangkan.”

“Dalam kesengsaraanku, aku membayangkan apakah tidak Zabado memiliki rencana yang baik, untuk mencuri
pekerjaan dan menjaga punggungnya agar tidak patah oleh pekerjaan, Tetapi ketika aku mengenang pertemuan
terakhirku dengannya dan kusadari bahwa rencananya pasti tidak bagus.”

“Aku mengenang Lanun dengan kegetirannya dan membayangkan mungkin akan lebih baik melawan dan
terbunuh. Membayangkan tubuhnya yang bersimbah darah mengingatkanku bahwa rencananya sepeti ini juga
tidak berguna sama sekali.”

“Kemudian aku teringat pertemuan terkahirku dengan Megiddo. Tangannya penuh dengan kapalan akibat
bekerja keras tetapi jiwanya ringan dan ada kebahagiaan terpancar diwajahnya. Dia memiliki rencana yang
terbaik.”

“Tetapi, akau sama inginnya bekerja keras seperti Megiddo; dia pasti tidak bisa bekerja lebih keras dari pada
aku. Mengapa hasil kerjaku tidak membawaku kepada kebahagiaan dan keberhasilan? Apakah kerja yang
membawa Megiddo ke kebahagiaan, ataukah kebahagiaan dan keberhasilan semata anugerah dari pangkuan
para dewa? Haruskah aku bekerja sepanjang umurku tanpa mendapatkan keinginanku, tanpa kebahagiaan dan
tanpa keberhasilan? Semua pertanyaan itu bergejolak di benakku dan aku tidak dapat menemukan jawabannya.
Aku benar-benar dalam kebingungan yang menyakitkan.”

“Bebarapa hari kemudian ketika seakan-akan aku sudah berada di ujung kemampuanku untuk bertahan dan
pertanyaan-pertanyaanku masih jauh dari terjawab, Sasi mendatangiku. Seorang pembawa pesan telah diutus
tuanku untuk membawaku kembali ke Babilonia. Aku segera menggali kantung uangku yang sangat berharga,
menutupi diriku dengan sisa jubahku yang sudah tercabik-cabik dan segera pergi.”

“Ketika kami berjalan, fikiranku bagai tersapu putting beliung memutar aku kesana kemari terus berpacu
melalui otakku yang kepanasan oleh demam. Aku bagaikan hidup dalam kalimat aneh yang selalu dinyanyikan
di kota asalku Harroun :”

Gelandang seseorang dengan putting beliung.

Hempas dia dengan badai.

Jalan hidupnya, tidak dapat diikuti seorangpun.

Takdirnya tidak dapat diduga siapapun

“Akankah aku akan terus menerus dihukum karena aku tidak mengetahui apa-apa? Kesengsaraan dan
kekecewaan apa lagikah yang sedang menungguku?”

“Ketika kami melalui halaman tengah rumah tuanku, bayangkkan betapa terkejutnya aku ketika aku melihat
Arad Gula sedang menungguku. Dia membantu menurunkanku dari tunggangan dan memelukku bagai
menemukan seorang saudara yang telah lama hilang.

“Ketika kami berjalan aku ingin mengikutinya dari belakang sebagai seorang budak harus mengikuti tuannya
yang orang merdeka, tetapi dia tidak mengizinkanku. Dia meletakkan lengannya dipunggungku, sambil berkata,
‘Aku mencarimu kemana-mana. Ketika akau hampir berputus asa, aku bertemu dengan Swasti yang mengatakan
kepadaku tentang pemberi pinjaman emas, yang kemudian mengarahkan aku ke petinggi pemilikmu. Dengan
penawaran yang berat yang membuatku harus membayar sangat mahal demi membelimu, tetapi engkau cukup
bernilai untuk itu. Pendapatmu dan jiwa wirausahamu telah menjadi inspirasiku ke keberhasilanku yang baru
ini.’”

“’Pendapat Megiddo, bukan pendapatku,’ aku memotong kata-katanya.”

“’Pendapat Megiddo dan pendapat engkau. Terima kasih kepada kalian berdua, kita akan pergi ke Damaskus
karena aku memerlukan engkau sebagai rekan kerjaku. Lihatlah,’ dia menegaskan, ‘dalam beberapa saat engkau
akan menjadi seorang yang merdeka!’ Sambil berkata begitu dia mengeluarkan dari balik jubahnya lempeng
tanah liat yang menyatakan aku sebagai budak. Diangkatnya tinggi di atas kepalanya dan membantingnya ke
batuan di tanah sehingga pecah berkeping-keping. Dengan penuh rasa kemenangan ia menginjak-injak pecahan
tanah liat itu hingga hancur menjadi debu.”
“Air mata kebahagiaan menggenang di mataku. Aku tahu bahwa aku orang paling beruntung di Babilonia.”

“Kerja, tahukah engkau, dengan kerja, pada saat kesengsaraan terdalamku telah terbukti kerja menjadi sahabat
terbaikku. Kesediaanku untuk bekerja memungkinkan aku terhindar dari terjual bersama dengan budak-budak
yang bekerja membangun tembok kota. Kerja juga yang telah memberi kesan khusus pada kakekmu, dia
memilihku menjadi rekan kerjanya.”

Kemudian Hadan Gula bertanya, “Apakah kerja juga yang merupakan kunci rahasia kakekku memperoleh uang
emas?”

“Itulah satu-satunya kunci yang dimilikinya ketika pertama kali aku mengenalnya,” jawab Sharru Nada.
“Kakekmu menikmati kerja. Para dewa menghargai usahanya dan menganugerahinya dengan sebanyak-
banyaknya kelebihan-kelebihan.”

“Sungguh benar sekali, aku dapat melihatnya,” sahut Hadan Gula sambil mengenang dengan sepenuh hati.
“Kerja telah mendekatkannya dengan banyak sahabatnya yang mendambakan kerja keras seperti dia dan
keberhasilan yang diraihnya. Kerja membawanya kepada kehormatan yang dirasakaannya di Damaskus. Kerja
memberikannya semua hal-hal yang kusukai. Padahal aku mengira kerja hanya cocok bagi budak.”

“Hidup penuh dengan kebahagiaan yang dapat dinikmati seseorang,” komentar Sharru Nada. “Tiap orang
memiliki tempatnya sendiri-sendiri. Aku senang bahwa tidak semata disediakan bagi para budak. Apabila
memang demikian aku tidak dapat menikmati kebahagiaan terbaikku. Banyak hal yang aku suka lakukan tetapi
tidak ada yang dapat menggantikan kerja.”

Sharru Nada dan Hadan Gula berjalan beriringan di bawah bayangan tebok kota yang tinggi hinga mencapai
pintu besar, gerbang perunggu kota Babilonia. Pada saat kedatangannya pengawal gerbang yang berjaga segera
berdiri sigap memberikan penghormatan warga yang mereka hormati itu. Dengan kepala diangkat tinggi Sharru
Nada memimpin karavan itu melintasi gerbang menuju jalan-jalan di dalam kota.

“Aku selalu berharap dapat menjadi orang yang seperti kakekku,” Hadan Gula menyatakan padanya. “Tidak
pernah kusadari sebelumnya orang seperti apa dia. Engkau telah menunjukkan padaku. Sekarang aku faham, aku
bahkan menjadi lebih menghormatinya dan merasa lebih mantap menjadi seperti dia. Aku khawatir aku tidak
dapat membalas budimu yag telah memberikan aku kunci keberhasilan kakekku. Sejak hari ini dan seterusnya,
aku harus menggunakan kunci miliknya itu. Aku akan memulai dengan rendah hati seperti yang dilakukannya,
yang lebih sesuai dengan kebenaran pusat jiwaku yang jauh lebih berharga dari pada perhiasan dan jubah
mewah.”

Dengan berkata begitu Hadan Gula mencabuti perhiasan yang berkilauan di teliganya dan cincin-cincin dari jari
tangannya. Kemudian, mengendalikan kudanya, ia mundur ke belakang, dengan penuh penghargaan,
menapakkan kudanya di belakang pemimpin karavan.
XI : SEJARAH SINGKAT BABILONIA

SEJARAH SINGKAT BABILONIA

Dalam catatan sejarah terdapatlah kota Babilonia yang tidak ada kota lainnya yang melebihi kecemerlangannya.
Nama Babilonia itu sendiri langsung akan membawa pada bayangan kekayaan dan kemegahan. Perbendaharaan
emas dan perhiasannya sangat mewah. Seseorang secara alamiah akan menggambarkan sebuah kota dengan
kekayaan sebegitu megahnya, seharusnyalah terletak pada daeah tropis yang kaya, dikelilingi sumber daya alam,
hutan dan tambang, yang melimpah. Ternyata bukan begitu keadaannya. Babilonia terletak disisi sungai Furat,
pada sebuah dataran, di sebuah lembah yang gersang. Kota itu tidak memilki hutan, tidak ada tambang – bahkan
tidak ada batu untuk membuat bangunan. Tidak juga ia dibangun di atas sebuah jalur perdagangan alami. Curah
hujan tidak cukup banyak untuk menghidupkan tanaman.

Babilonia adalah conoh yang luar biasa tentang kemampuan manusia untuk mencapai tujuan besar,
menggunakan segala kemampuan yang ada yang dapat dipergunakannya. Semua sumber daya yang mendukung
kehidupan di kota itu merupakan rekayasa manusia. Semua kemewahan dan kelimpahan itu hasil karya manusia.

Babilonia hanya memiliki dua sumber daya alam – tanah yang subur dan air di sungai. Dengan salah satu
pencapaian teknologi terbaik pada saat itu atau masa sebelumnya, para ahli teknik Babilonia membelokkan
aliran air di sungai dengan membangun dam dan saluran irigasi yang besar. Jauh membelah lembah gersang itu
kanal-kanal dibuat untuk mencurahkan air yang memberi kehidupan ke atas tanah yang menjadi subur.
Pekerjaan ini merupakan rekayasa teknik yang pertama yang dikenal sejarah. Panen yang melimpah merupakan
hasil dari sistem irigasi yang belum pernah dilihat di mana pun di dunia pada waktu itu.

Sangat beruntung, dalam masa kejayaannya yang cukup lama, Babilonia diperintah oleh beberapa turunan raja
yang jarang diperangi atau jarang mengalami pemberontakan. Apabila ia berperang, kebanyakan dari perang itu
hanya perang lokal kecil atau hanya mempertahankan diri dari serangan penyerbu yang ingin menundukkan dan
menjarah kekayaan Babilonia. Pemerintah yang terkenal yang diketahui sejarah karena kebijaksanaannya,
kewirausahaan dan keadilan. Babilonia dalam sejarahnya tidak mengenal pemimpin yang mementingkan
kepentingan rajanya saja, yang biasanya mencari daerah-daerah untuk dikuasai agar setiap negara memberikan
upeti kepada kepentingan kerajaan penakluk.

Sebagai sebua kota, Babilonia tidak ada lagi di muka bumi ini. Ketika masyarakatnya yang penuh semangat
membangun dan memelihara kota itu beratus-ratus tahun mulai menurun, Babilonia berubah menjadi hanya
sebagai reruntuhan di gurun pasir. Letak kota itu di Asia sekitar enam ratus mil sebelah timur terusan Suez, tepat
di utara teluk Persia. Pada garis lintang sekitar tiga puluh derajat sebelah utara khatulistiwa, selintang dengan
Yuma, Arizona. Ia memiliki iklim yang berkemiripan dengan kota di Amerika itu, panas dan kering.

Saat ini, lembah sungai Furat, yang dulunya merupakan daerah teririgasi yang padat penduduk, kembali menjadi
daerah gersang tersapu angin yang terbengkalai. Rerumputan yang jarang dan belukar gurun hidup dengan susah
payah menghadapi pasir yang ditiup angin gurun. Hilang sudah tanah yang subur itu, kota raksasa dengan
karavan panjang dengan barang-barang yang berlimpah. Tinggal beberapa kelompok Arab nomaden, menjalani
hidupnya yang sederhana dengan menggembala sekawanan kecil hewan, merupakan penghuni tempat ini.
Begitulah kehidupan di sini sejak awal masa Kristen.

Pada beberapa tempat di daerah ini, ada beberapa gundukan bukit kecil dari tanah liat. Selama berabad-abad,
gundukan itu tidak dianggap apa-apa oleh orang-orang yang melaluinya. Perhatian para ahli arkeologi akhirnya
terarah kesana, ketika melihat pecahan-pecahan tembikar dan susunan bata tersingkap oleh badai hujan yang
datang sesekali. Ekspedisi, yang didanai museum-museum Eropa dan Amerika, dikirimkan ke situ untuk
menggali dan melihat apa yang mungkin dapat ditemukan di bawah pasir gurun itu. Beliung dan sekop akhirnya
membuktikan bahwa gundukan bukit-bukit itu ternyata merupakan reruntuhan kota-kota kuno. Kuburan kuburan
kota, begitu mereka disebut.

Babilonia salah satunya. Di atas Babilonia yang sudah tertimbun selama duapuluh abad, pasir gurun yang
disebar angin. Dibuat awalnya degan bata, semua tembok yang tersingkap telah hancur dan kembali menjadi
gundukan tanah seperti semula. Seperti itulah keadaan Babilonia, kota yang kaya, hari ini. Setumpuk lumpur,
begitu lama ditinggalkan sehingga tidak ada orang yang masih hidup pernah mengenal namanya hingga ia
ditemukan kembali dengan menyingkirkan berabad timbunan pasir dari jalan-jalannya dan rertuntuhan dari kuil-
kuil dan istana-istananya.

Beberapa ilmuwan menyimpulkan bahwa peradaban Babilonia dan kota-kota lainnya di lembah ini sebagai
peradaban tertua yang memiliki catatan yang pasti. Penanggalan yang tepat telah membuktikan bahwa kota-kota
ini berumur lebih dari 8000 tahun. Sebuah fakta yang menarik dalam hubungannya dengan cara menetapkan
usia reruntuhan itu. Pada penggalian di reruntuhan Babilonia ditemuan catatan tentang gerhana matahari. Para
ahli astronomi modern telah melakukan penghitungan waktu saat gerhana itu, terlihat di Babilonia, terjadi dan
menentukan hubungan antara almanak Babilonia dengan almanak pada masa ini.

Dengan cara itu, mereka telah membuktikan bahwa 8000 tahun yang lalu, bangsa Sumeria, yang mendiami
wilayah Babilonia, hidup dalam tembok-tembok kota. Orang hanya dapat menduga-duga berapa abad
sebelumnya kota seperti ini sudah terbangun. Penduduknya bukan semata orang liar yang hidup dalam
lindungan tembok. Mereka merupakan orang yang terdidik dan berpemikiran tinggi. Sejauh yang dituliskan
dalam sejarah, mereka ahli teknik yang pertama, astronomer yang pertama, ahli matematika yang pertama, ahli
keuangan yang pertama dan orang yang pertama memiliki bahasa tulis.

Sudah disebutkan tentang sistem irigasi yang mengubah lembah gersang menjadi surga pertanian. Sisa sisa
kanal ini masih dapat ditelusuri, meski selruruhnya telah tertimbun pasir. Sebagaian saluran itu berukuran sangat
besar, apabila dikeringkan. Selusin kuda apabila dijejerkan akan dapat ditunggangi melaluinya. Dalam ukuran
dapat diperbaandingkan dengan mudah dengan kanal terbesar di Colorado dan Utah.

Selain mengairi lembah-lembah, ahli teknik Babilonia menyelesaikan pekerjaan lainnya yang sama besarnya.
Dengan teknik pengaturan drainase yang rumit mereka berhasil mengeringkan dan memuliakan tanah rawa yang
luas pada muara sungai Furat dan Tigris dan dapat memanfaatkannya untuk usaha pertanian.

Herodotus, seorang pengembara Yunani dan seorang sejarawan, mengunjungi Babilonia ketika kota itu dalam
kondisi terbaiknya dan dia telah memberikan satu-satunya rincian penjelasan tentang kota itu dan beberapa
kebiasaan yang aneh pendudukya. Dia menyebutkan betapa suburnya tanah di situ dan betapa melimpahnya
panen gandum dan barley yang dihasilkannya.

Kejayaan babilonia memudar tetapi kebijaksanaannya telah di simpan untuk kita. Untuk itu kita telah berutang
budi kepada mereka atas catatan-catatan yang ditinggalkannya. Pada hari yang sudah sangat lama itu, kertas
masih belum ditemukan. Sebagai alat tulis, mereka dengan telitinya mengukir tulisannya di atas lempeng tanah
liat yang hampir mengering. Apabila selesai ditulis, lempeng itu dibakar dan menjadi lempeng kering yang
keras, ukurannya antara enam kali delapan inchi, dengan ketebalan satu inchi.

Lempeng tanah liat ini, demikian biasa diesbut, banyak digunakan sebagaimana kita menggunakan berbagai
bentuk tulisan pada saat ini. Di atasnya tertulis legenda-legenda, puisi, sejarah, salinan keputusan Sang Raja,
hukum tanah, kepemilikan harta, surat pengakuan utang bahkan surat-surat biasa, yang diantarkan oleh
pembawa pesan ke kota-kota yang jauh. Dari lempaneg tanah liat ini kita dapat mengetahui sampai kepada hal-
hal yang bersifat pribadi. Sebagai contoh, pada satu lempeng, terlihat jelas catatan penjaga gerai, sehubungn
dengan tanggal dan nama pelanggan yang membawa lembu dan menukarkannya dengan tujuh karung gandum,
tiga dikirimkan pada saat itu juga dan sisa empat karung akan dikirim sesuai dengan permintaan pelanggannya.

Dengan aman tertanam di bawah reruntuhan kota, arkeolog telah menmukan pustaka yang berisi lempeng tanah
liat, ratusan ribu jumlahnya.

Salah satu keajaiban yang luar biasa Babilonia adalah tembok kotanya yang tebal dan tinggi yang mengelilingi
kota. Para ahli menyetarakannya dengan piramid besar di Mesir dan memesukkannya dalam “tujuh keajaiban
dunia.” Ratu Semiramis dikatakan sebagai yang pertama kali mendirikan tembok kota pada awal sejarah kota
itu. Penggalian pada masa ini tidak dapat menemukan tembok kota awal yang asli. Tidak juga diketaui seberapa
besar ukurannya. Berdasarkan hal yang disebut-sebut para penulis sebelumnya, diperkirakan memiliki tinggi
antara lima puluh sampai enam puluh kaki, sisi luar ditempatkan bata-bata bakaran dilindungi saluran air yang
besar di sekelilingnya.

Tembok kota yang belakangan dan lebih terkenal mulai didirikan sekitar enam ratus tahun sebelum Masehi oleh
Raja Nabopolassar. Dengan suatu rencana raksaa ia membangun kembali tembok itu, tetapi ia meneninggal
sebelum sempat menyaksikan tembok itu selesai dibangun. Pembangunannya akhirnya dilanjutkan oleh
anaknya, Nebukadnezar, nama yang sangat dikenal dalam cerita-cerita injili.

Tinggi dan lebar tembok kota ini sangat luar biasa. Dilaporkan oleh fihak yang dapat dipercaya, memiliki tinggi
kira-kira seratus enam puluh kaki, setara dengan bangunan perkantoran berlantai lima belas saat ini. Panjangnya
diperkirakan mencapai antara sembilan dan sebelas mil. Begitu lebarnya pada bagian atas tembok itu sampai
enam kereta kuda dapat berjalan berjajar di atasnya. Tembok yang berukuran raksasa ini, musnha tanpa sisa
kecuali sedikit bagiannya dan fondasi serta saluran air yang mengelilinginya. Sebagai tambahan atas kehancuran
yang telah dialami, orang-orang Arab melengkapinya dengan mengambili bata-batanya untuk kebutuhan
bangunan di tempat lain.

Menyerang tembok Babilonia, pada masa itu, dilakukan juga oleh para penakluk. Pada masa perang saling
menaklukkan yang berlangsung di era tersebut. Beberapa raja melakukan penyerangan dan mengurung
Babilonia, tetapi selalu gagal menaklukkannya. Para penyerang pada ketika itu tidak dapat di anggap enteng.
Para sejarawan menyebutkan satuan-satuan 10.000 pasukan berkuda, 25.000 kereta kuda, 1.200 resimen prajurit
yang berjalan kaki dengan 1.000 anggota setiap resimennya. Kadang-kadan dua atau tiga tahun persiapan
diperlukan untuk mengerahkan perlengkapan tempur dan logistik serta depot makanan sepanjang perjalanan
sebuah penyerangan.

Kota Babilonia dikelola laaknya sebuah kota di zaman modern. Ada jalan-jalan dalam kota dan gerai-gerai. Para
pedagang menawarkan barang dagangannya ke dalam daerah pemukiman. Para imam ditasbihkan bagi kuil-kuil.
Di dalam kota ada lingkungan terdalam bagi istana raja yang dikelilingi oleh tembok. Tembok yang dibuat
mengelililingi kawasan terdalam ini dikatakan jauh lebih tinggi dari tembok kota.

Orang-orang Babilonia sangat memiliki keahlian di bidang kesenian. Karya yang mereka hasilkan termasuk
patung-patung, lukisan, tenunan, pandai emas dan menghasilkan senjata dari logam, dan aneka alat-alat
pertanian. Perajin perhiasannya menciptakan perhiasan-perhiasan indah yang bermutu tinggi. Beberapa contoh
ditemukan pada kuburan penduduknya yang kaya dan sekarang dipertunjukkan di museum utama di dunia.

Pada masa paling awal ketika seisi dunai masih menebang pepohonan dengan kapak batu, atau berburu dan
berperang dengan tombak dan panah bermata dari batu, orang Babilonia sudah menggunakan kapak, tombak
dan anak panah yang matanya terbuat dari logam.

Orang Babilonia merupakan ahli keuangan dan pedagang yang cerdik. Sepanjang yang kita ketahui, mereka
orang yang pertama kali menemukan uang sebagai alat tukar, surat pengakuan utang dan tanda kepemilikan
harta yang tertulis.

Babilonia tidak pernah dilanda pasukan yang menundukkannya hingga 540 tahun sebelum Masehi. Bahkan kala
itu tembok kota tidak diduduki. Cerita kejatuhan Babilonia sangat tidak biasa. Cyrus, salah seorang penakluk
terhebat pada masa itu, bermaksud menyerang kota dan memperkirakan dapat mengalahkan tembok yang tidak
tertembus itu. Penasihat Nabonidus, raja Babilonia, membujuk sang raja supaya mendahului Cyrus dan
menyerangnya sebelum ia dapat mengurung kota. Setelah kekalahannya dari serangan balatentara Babilonia,
para penyerang lari menjauhi kota. Tetapi membuat tembok kota tak terjaga. Cyrus, karenanya, dapat dengan
mudah memasuki gerbang kota dan mengambil alihnya tanpa perlawanan yang berarti.

Setelah itu kekuatan dan kemasyhuran kota secara bertahap memudar, dalam jangka waktu beberapa ratus
tahun, kota itu akhirnya ditinggalkan penghuninya, kosong, hanya tersisa bagi angin dan badai meratakannya
kembali, serata dengan gurun pasir yang kemegahan kota semula dibangun di atasnya. Babilonia telah jatuh,
tidak pernah bangun kembali, tetapi padanya peradaban banyak berutang.

Rentang waktu yang panjang telah menghancurkan tembok kota yang perkasa dan kuil-kuilnya, hancur menjadi
debu, tetapi kebijaksanaan orang Babilonia mampu bertahan.
GEORGE SAMUEL CLASON

Tentang Pengarang

George Samuel Clason dilahirkan di Louisiana, Missouri, pada bulan Nopember 1874. Dia menyelesaikan
pendidikan di Universitas Nebraska dan mengabdi pada Angkatan Darat Amerika Serikat pada masa Perang
Spanyol-Amerika. Seorang pengusaha yang berhasil, ia mendirikan Clason Map Company di Denver, Colorado,
dan menerbitkan atlas jalan Amerika Serikat dan Kanada yang pertama. Pada tahun 1926, iamenerbitkan seri
tulisan yang terkenal dalam bentuk pamflet tentang budaya hemat dan keberhasilan mengatur keuangan,
menggunakan cerita-cerita parabel berisi ajaran kebijaksanaan dan moral dengan menggunakan Babilonia kuno
sebagai tempat kejadian dalam menegaskan tiap-tiap permasalahan. Pamflet-pamflet ini kemudian diedarkan
dalam jumlah yang cukup banyak oleh bank-bank dan perusahaan asuransi dan menjadi dikenal oleh jutaan
pembaca, yang paling terkenal adalah “Orang Terkaya Di Babilonia”, cerita yang berisi ajaran kebijaksanaan
yang kemudian berubah bentuk menjadi buku ini yang mengambilnya sebagai judul. “Parabel Babilonia” ini
telah jadi bacaan yang memberikan inspirasi yang klasik bagi pembaca modern.