Anda di halaman 1dari 219

KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

UNTUK PENYEDIAAN AIR BAKU BERKELANJUTAN


DI TINGKAT KABUPATEN
(Studi Kasus Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara)

RIDWAN ADI SURYA

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi dengan judul ”Kebijakan


Pengelolaan umber Daya Alam Untuk Penyediaan Air Baku Berkelanjutan
di Tingkat bupaten (Studi Kasus Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi
Tenggara)” adalah rya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum
diajukan dalam bentuk apun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau kutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah ebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
daftar pustaka di bagian akhir ertasi ini.

Bogor, Januari 2015

Ridwan Adi Surya


NRP: P062100211
RINGKASAN

RIDWAN ADI SURYA. KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA


ALAM UNTUK PENYEDIAAN AIR BAKU BERKELANJUTAN DI TINGKAT
KABUPATEN (Studi Kasus Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara).
Dibimbing oleh M. YANUAR J. PURWANTO, ASEP SAPEI dan
W IDIATMAKA.
Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini terkait dengan eksistensi sumberdaya
air adalah penurunan ketersediaan air sementara di lain pihak kebutuhan air terus
m engalami peningkatan dari waktu ke waktu, hal ini merupakan konsekuensi logis
da ri pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan aktifitas ekonomi. Penurunan
ke tersediaan air dan peningkatan kebutuhan air juga terjadi di Kabupaten Konawe
Pr ovinsi Sulawesi Tenggara. Perubahan penggunaan lahan diduga mengakibatkan
ter jadinya penurunan debit minimum dan peningkatan debit maksimum di
Kabupaten Konawe.
Penelitian ini telah dilaksanakan di Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi
Te nggara pada bulan Maret 2012 sampai pada bulan Februari 2013, dengan tujuan:
(1) Menganalisis potensi ketersediaan air baku di Kabupaten Konawe; (2)
M enganalisis tingkat keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam untuk
pe nyediaan air baku di Kabupaten Konawe; (3) Membangun strategi pengelolaan
su mber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten,
da n (4) Menganalisis strategi kelembagaan pengelolaan sumber daya alam untuk
penyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe.
Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan
se kunder. Data primer dikumpulkan melalui survey lapang, diskusi, pengisian
kuesioner dan wawancara langsung di lokasi penelitian untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui
penelusuran pustaka dengan cara mencari referensi dari berbagai sumber seperti;
hasil penelitian terdahulu, studi pustaka, peta, laporan dan dokumen yang ada di
berbagai instansi terkait sesuai obyek yang diteliti. Penentuan responden dilakukan
dengan menggunakan metode Expert Survey.
Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan 4 (empat) tahapan
utama,
Ta yaitu : (1) Analisis potensi ketersediaan air baku dengan tools analisis Model
alangki (Tank Model), (2) Analisis status keberlanjutan pengelolaan sumber daya
Dim untuk penyediaan air baku di tingkat kabupaten dengan metode analisis Multi
unmensional Scalling (MDS), (3) Analisis strategi pengelolaan sumber daya alam
antuk
su penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten dengan kombinasi
de m MDS, dan analisis Prospektif, dan (4) Analisis kelembagaan pengelolaan
alisis
pember daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten
Kangan metode analisis Interpretative Structural Modelling (ISM) untuk
emperoleh mekanisme kerjasama antar pemangku kepentingan dalam
pongelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di
dibupaten Konawe
po Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil simulasi distribusi
tensi air bulanan di Sub DAS Konaweha tahun 2011 dengan model tangki
ketahui bahwa potensi air baku dapat ditingkatkan dengan konservasi. Distribusi
tensi air bulanan yang dihasilkan oleh model sebesar 71,48 mm/bulan sama
3
dengan 8 57,77 mm/tahun atau setara dengan 33.390 m /tahun. Sehingga potensi air
3
rata-rata bulanan di Sub DAS Konaweha sebesar 2799,14 m /bulan. Distribusi
potensi a ir bulanan maksimum berdasarkan skenario bussiness as usual berada pada
bulan Juli sebesar 110,08 mm/bulan, sedangkan distribusi potensi air bulana
minimum berada pada bulan Novembar sebesar 44,82 mm/bulan.
Be rdasarkan hasil penilaian terhadap 44 atribut dari kelima dimensi ekologi,
, sosial, kelembagaan, dan teknologi pada pengelolaan sumber daya alam
ekonomi
enyediaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe maka kondisi saat ini
untuk p
eks keberlanjutannya adalah sebesar 41,40 (terletak antara 25,00 - 49,99)
nilai ind
rti status pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
ini bera
jutan di Kab. Konawe saat ini berada pada status kurang berkelanjutan.
berkelan
ekologi mempunyai kinerja cukup berkelanjutan sedangkan empat
Dimensi
lainnya dimensi ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan menunjukkan
dimensi
yang kurang berkelanjutan. Faktor pengungkit (leverage factor)
kinerja
jutan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku di Kab.
keberlan
diperoleh sebanyak 12 atribut berasal dari dimensi ekologi 3 atribut yaitu
Konawe
embangan sumber air baku untuk penyediaan air bersih, (2) Pemanfaatan
(1) Peng
hadap kualitas air baku, (3) Tinggi permukaan air tanah. Dimensi ekonomi
lahan ter
yaitu: (1) Tingkat keuntungan PDAM, dan (2) Penyerapan tenaga kerja.
2 atribut
sosial 2 atribut yaitu (1) Motivasi dan kepedulian masyarakat terhadap
Dimensi
erbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber
upaya p
, dan (2) Tingkat pendidikan formal masyarakat. Dimensi teknologi 3
air baku
aitu (1) Tingkat pelayanan air bersih PDAM, (2) Teknologi penanganan
atribut y
dan (3) Kondisi drainase di kawasan permukiman, dan dimensi
limbah
gaan 2 atribut yaitu (1) Rezim pengelolaan air bersih, dan (2). Ketersediaan
kelemba
at hukum adat/local wisdom. Untuk meningkatkan status keberlanjutan
perangk
anjang, skenario yang perlu dilakukan untuk pengelolaan sumber daya
jangka p
uk penyediaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe adalah Skenario III
alam unt
s), dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut
(Optimi
sitif, minimal terhadap 8 (delapan) atribut faktor kunci yang dihasilkan
yang sen
alisis prospektif, sehingga semua dimensi yang ada menjadi berkelanjutan.
dalam an
ngelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di
Pe
nawe masih menghadapi kendala diantaranya sebagai berikut: menurunnya
Kab. Ko
esapan air akibat berkurangnya vegetasi pada daerah tangkapan air, dan
fungsi r
ya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber daya air antar
kurangn
stakehol der terkait. Program yang menjadi kebutuhan dalam kebijakan pengelolaan
sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe
yaitu: Pe ningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat SKPD terkait; Peningkatan
kesadara n stake holder terkait; dan Penetapan pedoman pengelolaan DAS. Ketiga
sub ele men kebutuhan ini menjadi dasar bagi sub elemen lainnya, dan perlu segera
diimplem entasikan dilapangan. Terdapat 11 lembaga yang terkait dalam
pengelol aan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kab.
Konawe, namun lembaga yang memiliki pengaruh paling besar dalam perumusan
kebijakan pemerintah dalam hal pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan
air baku berkelanjutan di Kab. Konawe yaitu BPDAS Sampara dan Dinas
Kehutanan Kab. Konawe.
nci : air baku, berkelanjutan, model tangki, MDS, prospektif, ISM
Kata Ku
SUMMARY

RIDWAN ADI SURYA. NATURAL RESOURCE MANAGEMENT POLICIES


FO R SUSTAINABLE RAW WATER SUPPLY IN REGENCY LEVEL (Case
Study Konawe Regency Southeast Sulawesi Province). Under supervision of M.
YANUAR J. PURWANTO, ASEP SAPEI and WIDIATMAKA.
The Phenomena occurring lately related to the existence of water resources is
a d ecrease in the availability of water while on the other hand the need for water
co ntinues to increase from time to time, it is a logical consequence of population
gr owth and increased economic activity. Decreased water availability and increased
wa ter demand also occur in Konawe Regency Southeast Sulawesi Province. This is
ca used by changes in land use due to continuous exploitation of land resulting in a
de crease in infiltration capacity and increased surface runoff. As a result, the
am ount of water lost to the sea will increase as well, which in turn also influence
the availability of water in Konawe Regency.
This study was conducted from March 2012 to February, 2013, and located
in Konawe Regency Southeast Sulawesi Province, with the main objective to
de velop policy development of sustainable management of raw water at the district
le vel. To achieve that goal, then there are some specific goals to be achieved, among
ot her things: (1) To determine the potential availability of raw water supply in
K onawe Regency; (2) To analize the level of sustainability in the management of
na tural resource for raw water supply in Konawe Regency; and (3) Building a
na tural resource management strategy for the sustainable raw water supply at
re gency level (4) Analyzing institutional strategies of natural resource management
for sustainable raw water supply in Konawe Regency.
Types of data collected in this study included primary and secondary data.
Primary data was collected through field surveys, discussions, questionnaires and
interviews live on-site research to achieve the goals that have been set previously.
Secondary data was collected through a literature search by looking for references
from various sources such as; the results of previous studies, literature studies,
maps, reports and documents in various instances corresponding object studied..
Determination of the respondents were calculated using Expert Survey.
Techniques of data analysis performed using four main stages, namely: (1)
A nalysis of the potential availability of raw water with analysis tools Tank Model,
(2) To analize the level of sustainability in the management of natural resource for
raw water supply in regency level with the method of analysis Multi dimensional
Scaling (MDS), (3) Analysis of natural resource management strategy for the
sustainable raw water supply at regency level with a combination of MDS analysis
and Prospective analysis, and (4) Institutional analysis of natural resource
management for sustainable raw water supply in the Konawe Regency with the
method of analysis Interpretative Structural Modeling (ISM) to obtain the
cooperation mechanisms among stakeholders in the sustainable management of raw
water in Konawe Regency.
The results showed that the simulation results, a monthly distribution of water
po tential in the Konaweha Sub Watershed in 2011 with a model tank is known that
th e potential of the raw water can be improved by conservation. Monthly water
po tential distribution generated by the model was 71.48 mm/month is equal to
3
857.77 mm/year, equivalent to 33 390 m /year. So that the water potential of the
3
monthlyaverage in the Konaweha Sub Watershed is 2799.14 m /month. The
maximum monthly water potential distribution based on a business as usual
scenariowas in July amounted to 110.08 mm/month, while the minimum monthly
water potential distribution was in November amounted to 44.82 mm/month.
Based on the results of an assessment of the 44 attributes of the five
ons of the ecological, economic, social, institutional, and technological
dimensi
ons of the sustainable management of raw water in the Konawe Regency,
dimensient state of sustainability index value is equal to 41.40 (located between
the curr 49.99) this means that the status of the sustainable management of raw
25.00 to the Konawe Regency currently stands at less sustainable status. Ecological
water inons of sustainability have enough performance while the other four
dimensi ons of the economic, social, technological and institutional dimensions
dimensi sustained underperformance. Leverage factor sustainability of raw water
showed inable water supply in the Konawe Regency gained as much as 12 attributes
for sustafrom the ecological dimensions of three attributes, namely: (1)
derived ment of sources of raw water for water supply, (2) Land use on the quality
Develop ater, and (3) High level of groundwater. Two the economic dimension
of raw ws, namely: (1) Rates of return taps, and (2) Labor absorption. Two the social
attributeon attributes, namely: (1) Motivation and public awareness of
dimensimental improvement, forest and land rehabilitation for the preservation of
environ urces, and (2) The level of formal education community. Three dimensional
water so gy attributes, namely: (1) The level of water service taps, (2) Waste
t technology and (3) Drainage conditions in the settlements, and two
technolo
s of institutional dimensions, namely: (1) Water management regime, and
treatmen
availability of indigenous/local wisdom. To improve the status of long-term
attributebility, a scenario that needs to be done for the sustainable management of
(2) The er in the Konawe district is Scenario III (Optimistic), to conduct a thorough
sustainaall sensitive attributes, at least for 8 (eight) attributes a key factor resulting
raw watospective analysis, so that all the dimensions are there to be sustainable.
repair ofanagement of raw water for water supply in Konawe Regency still face
in the pr
s such as the following: decreased function of water absorption due to
M
vegetation in the catchment area, and the lack of coordination and
problemon of water resources management among relevant stakeholders. The
reducedis a requirement in the development of water management model for the
integratier supply in Konawe Regency namely: Increased knowledge and skills of
programel related local government offices; Increased awareness of relevant
raw watders; and Establishment of guidelines for watershed management. The third
personnment of this requirement is the basis for the other sub-elements, and needs
stakeholplemented in the field. There are 11 institutions involved in the management
sub-ele toater for water supply in Konawe Regency, but an institution that has the
influence in the formulation of government policy in terms of the
be im
ent of raw water for water supply in the Konawe Regency are BPDAS
of raw w and Forest Agency Konawe Regency.
greatest
managem ds: raw water, sustainability, tank models, MDS, ISM, prospective.
Sampara

Keywor
©Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,
penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu
masalah, dan pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

Dilarang mengumumkan atau memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam
bentuk apapun tanpa seizin IPB.
KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM
UNTUK PENYEDIAAN AIR BAKU BERKELANJUTAN
DI TINGKAT KABUPATEN
(Studi Kasus Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara)

RIDWAN ADI SURYA

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor
Pada
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
pada Ujian Tertutup Prof. Dr. Ir. Surjono Hadi Sutjahjo, MS
Penguji (Guru Besar Fakultas Pertanian IPB)
:
Dr. Ir. Sri Mulatsih, M.Sc. Agr
(Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi
dan Manajemen IPB)

pada Ujian Terbuka Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS


Penguji (Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB)
:
Dr. Ir. Muhammad Rizal, M.Sc
(Kasubdit Prasarana Konservasi dan Sedimen,
Direktorat Sungai dan Pantai, Direktorat
Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PU
dan Perumahan Rakyat)
• .

Judul Disertasi Kebijakan Pengelolaan Sumber Da a Alam Untuk


Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di Tingkat Kabupaten
(
Studi Kasus Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi
Tenggara)
Nama Ridwan Adi Surya
NRP P062100211

@
:::c Disetujui oleh
I» Kornisi Pembimbing
"~-
't,
....

3

~
"
""C

-....
to
::::,
C/1
~::=:s Ketua
c:....

~:
a.
0
0 Prof. Dr Ir Asep Sape MS
3 i, Dr Ir Widiatmaka. DAA
Anggo a
l Anggota

Diketahui Oleh
Ketua Prog am Studi Mayo
r / r
Penge o aan Sumberda a Ala
l l m
dan Lingkungan
,

.....
2:0 co
0 Prof Dr Ir Cecep Kusmana, MS
c
0
::I
.,
0
c )>
ac co 0 6 APR 2015
Tanggal Ujian : 22 Januari 2015 Tanggal Lulus :
3 :::!.
0
0 o
0
?'" c XVII
r+
.,0)
c
::J
<
.,
CD
CJ)
r+
-c
PRAKATA

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniaNya
sehingga Disertasi dengan topik ”Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam
Untuk Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di Tingkat Kabupaten (Studi Kasus
Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara)”, di bawah bimbingan dan arahan
Komisi Pembimbing telah dapat saya selesaikan dengan baik dan pada waktunya
nanti dapat disyahkan. Disertasi ini telah menandai adanya suatu kurun waktu
dalam sejarah panjang perjalanan hidup penulis, dalam menyelesaikan studi S3
(Program Doktor) pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan (PSL) Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Kompleksitas permasalahan berkaitan dengan pengelolaan air baku
berkelanjutan di tingkat Kabupaten telah menginspirasi keinginan saya untuk
melakukan penelitian secara mendalam guna mengetahui kendala dan
permasalahan dari pengelolaan air baku berkelanjutan tersebut, sehingga
selanjutnya dapat ditemukan arahan kebijakan pengelolaan sumberdaya alam untuk
penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten yang lebih baik di masa
mendatang berdasarkan pendekatan ilmiah dan komprehensif.
Atas tersusunnya Disertasi ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Dr.
Ir.M. Yanuar J. Purwanto, MS selaku Ketua Komisi Pembimbing; Prof. Dr.
Ir.Asep Sapei, MS., dan Dr. Ir. Widiatmaka, DAA, masing-masing selaku anggota
pembimbing atas bimbingan, dan arahan yang telah diberikan. Ucapan terima kasih
juga kami sampaikan kepada Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS selaku Ketua
Program Studi PSL IPB, yang senantiasa memberikan dorongan semangat dan
motivasi untuk menyelesaikan Disertasi ini.
Bersama ini, dengan penuh rasa syukur penulis menghaturkan sembah sujud
dan terima kasih yang tak terhingga kepada Ayahanda Ir. Siradjuddin Taora dan
Ibunda
di Hasto Kirmani atas segala limpahan kasih sayang serta siraman iman yang
stuberikan kepada penulis semenjak masih dalam kandungan hingga penyelesaian
terdi penulis. Terkhusus dengan penuh cinta penulis mengucapkan syukur dan
M.ima kasih yang tak terhingga kepada Istriku tercinta Sri Anggarini Rasyid, S.Si,
mSi, ananda Zahra Althafunnisa dan Zaki Abqary Ridwan yang selalu
peemberikan dukungan dan doa selama penulis menuntut ilmu, kalian adalah
punyemangatku untuk segera menyelesaikan studi di IPB, terima kasih. Demikian
pela kepada semua pihak yang telah membantu dan berkontribusi dalam
nyusunan Disertasi ini kami ucapkan terima kasih.
be Akhir kata, atas semua bantuan yang telah diberikan, penulis hanya dapat
amrdoa semoga diberi ganjaran yang setimpal oleh Allah SWT dan dinilai sebagai
de al shaleh. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih belum sempurna dan
iningan segala kerendahan hati menerima masukan, kritikan, dan saran agar tulisan
be dapat disempurnakan sesuai dengan yang diharapkan. Selanjutnya penulis
be rharap semoga karya ini bermanfaat bagi pemerintah serta masyarakat yang
pi rkaitan dengan urusan pengelolaan sumber daya air, dunia ilmu pengetahuan dan
hak lain yang membutuhkan.

Bogor, Januari 2015

Ridwan Adi Surya


DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL xxv


DAFTAR GAMBAR xxvii
DAFTAR LAMPIRAN xxix
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 3
Manfaat Penelitian 3
Kerangka Pemikiran 4
Kebaruan (Novelty) 6

2 TINJAUAN PUSTAKA 7
Sumber Daya Air 7
Siklus Hidrologi 8
Air Permukaan 10
Air Tanah 10
Batas Teknis Hidrologi 12
Daerah Aliran Sungai 12
Sistem DAS 15
Hubungan Curah Hujan dengan Limpasan (Runoff) 15
Metode Bilangan Kurva 16
Konservasi Sumberdaya Air 18
Model Simulasi 19
Model Tangki 20
Masalah Pengelolaan Sumberdaya Air 23
Isu Strategis Nasional 24
Isu Strategis Lokal 25
3 METODOLOGI PENELITIAN 28
Waktu dan Lokasi Penelitian 28
Jenis dan Metode Pengumpulan Data 29
Tahapan Penelitian 30
Metode Pemilihan Responden 31
Analisis Data 31
Analisis Potensi Ketersediaan Air Baku 31
Analisis Status Keberlanjutan 37
Analisis Prospektif dalam Penentuan Strategi Pengelolaan Air Baku 39
Pengembangan Model Kelembagaan 41

4 KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 45


Kondisi Geografis dan Luas Wilayah 45
Topografi 45
Kondisi Iklim 47
Hidrogeologi 49
Hidrologi 53
Kependudukan 56
Kondisi Infrastruktur Permukiman 58
Kondisi Infrastruktur Air Bersih Kabupaten Konawe 59
Kualitas Air pada DAS Konaweha 61

5 A NALISIS POTENSI KETERSEDIAAN AIR DI SUB DAS 73


K ONAWEHA DENGAN MODEL TANGKI
P endahuluan 73
M etode Analisis 74
Hasil dan Pembahasan 78
Klasifikasi tutupan lahan pada catchment area sub DAS Konaweha 78
Analisis Potensi Ketersediaan Air dengan Model Tangki 79
Analisis Model Tangki untuk Mengetahui Debit Total Limpasan, 83
Total Infiltrasi, dan Kandungan Air Tanah dari Setiap TGL
Pembahasan 84
Proses Hidrologi Hasil Tank Model 84
Aplikasi Skenario Model Tangki untuk Peningkatan Potensi 86
Ketersediaan Sumberdaya Air di Sub DAS Konaweha
Simpulan 93
TATUS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN AIR BAKU 95
6 DI S KABUPATEN KONAWE
endahuluan 95
P etode Analisis 96
Masil dan Pembahasan 97
Htatus Keberlanjutan Dimensi Ekologi 98
Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi 100
Status Keberlanjutan Dimensi Sosial 101
Status Keberlanjutan Dimensi Teknologi 103
Status Keberlanjutan Dimensi Kelembagaan 105
Status Keberlanjutan Pengelolaan Air Baku di Kabupaten Konawe 106
Saktor Pengungkit (Leverage Factor) 108
F nalisis Monte Carlo 109
Aji Ketepatan Analisis MDS (goodness of fit) 109
Uimpulan 110
S
EBIJAKAN PENGELOLAAN AIR BAKU BERKELANJUTAN 111
7 K I KABUPATEN KONAWE
Dendahuluan 111
P etode Analisis 111
Masil dan Pembahasan 114
H entifikasi Faktor Dominan 114
Ideadaan yang mungkin Terjadi pada Faktor Kunci di Masa Depan 117
Kkenario Pengembangan Kebijakan Pengelolaan Air Baku 119
S lternatif Skenario Pengembangan Kebijakan Pengelolaan Air Baku 122
Aimpulan 124
S
8 ANALISIS KELEMBAGAAN PENGELOLAAN AIR BAKU 125
BERKELANJUTAN DI KABUPATEN KONAWE
Pendahuluan 125
Metode Analisis 126
Hasil dan Pembahasan 128
Kendala dalam Pengelolaan Air Baku Berkelanjutan di Tingkat 128
Kabupaten
Kebutuhan dalam Pengelolaan Air Baku Berkelanjutan di Tingkat 131
Kabupaten
Stakeholder yang Terlibat dalam Pengelolaan Air Baku 133
Berkelanjutan di Tingkat Kabupaten
Pembahasan 135
Simpulan 136

9 PEMBAHASAN TENTANG IMPLIKASI KEBIJAKAN 138


Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Alam untuk Penyediaan Air 138
Baku Berkelanjutan di Tingkat Kabupaten
Peran Stakeholder Tingkat Kabupaten dalam Kegiatan Pengelolaan 143
Air Baku Berkelanjutan
147
10 SIMPULAN DAN SARAN
147
Simpulan
147
Saran

DAFTAR PUSTAKA 149

LAMPIRAN 157
DAFTAR TABEL

1. Kisaran-kisaran porositas tanah yang mewakili untuk bahan- 11


bahan endapan (Todd, 1990)
2. Kapasitas Infiltrasi Beberapa Tipe Tanah dari Pengukuran 14
Lapangan (Kohnke dan Bertrand, 1959)
3. Hubungan laju infiltrasi minimum dengan jenis tanah menurut 17
SCS
4. Penelitian, metode dan hasil penelitian terkait novelty 26
5. Tahapan dan metode analisis pengelolaan sumber daya alam 30
untuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe
6. Data Iklim yang dibutuhkan untuk Menghitung 33
Evapotranspirasi Masing-Masing Metode Empiris
(Doorenbos dan Pruitt, 1977)
7. Matriks Pengaruh dan Ketergantungan Faktor dalam Sistem 40
Pengelolaan Sumber Daya Alam Untuk Penyediaan Air Baku
Berkelanjutan di Kab. Konawe
8. Pedoman Penilaian Pengelolaan Sumber Daya Alam Untuk 40
Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di Kab. Konawe
9. Luas Daratan Menurut Ketinggian di Atas Permukaan Air Laut 45
(Kab. Konawe dalam Angka Tahun 2013)
10. Kondisi Topografi Kabupaten Konawe (Kab. Konawe dalam 47
Angka Tahun 2006)
11. Rata-rata Curah Hujan dalam kurun waktu 6 tahun di Stasiun 48
Abuki Kabupaten Konawe (PUSAIR Bandung)
12. Jenis tanah pada Kabupaten Konawe (Peta Tanah Tinjau tahun 53
1967)
13. Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2010 57
14. Jumlah Penduduk dan Laju Penduduk di Kab. Konawe 57
1990,2000, 2010
15. Jumlah Produksi dan Pelanggan PDAM Kab. Konawe Tahun 59
2010
16. Analisis Kualitas Air pada DAS Konaweha bulan Juli tahun 61
2011
17. Hasil pengujian sampel air sungai Konaweha Hulu (Pelosika) 68
bulan April 2011
18. Hasil pengujian sampel air sungai Konaweha Tengah 69
(Wawotobi) bulan April 2011
19. Hasil pengujian sampel air sungai Konaweha Hilir (Pohara) 69
Bulan April 2011
20. Hasil pengujian sampel kualitas air wilayah sungai Konaweha 70
Bulan April 2011
21. Parameter Kualitas Air Sumur Bor Masyarakat 71
22. Luas masing-masing perubahan tutupan lahan pada catchment 79
area Bendung Wawotobi Sub DAS Konaweha
23. Nilai Koefisien model tangki hasil kalibrasi tahun 2009 80
24. Tutupan lahan yang digunakan dalam tahap kalibrasi dan 82
validasi Model Tangki
25. Hubungan laju infiltrasi minimum dengan jenis tanah menurut 90
SCS (Asdak, 1995)
26. Hubungan parameter Tank Model dengan Curve Number dalam 91
skenario konservasi pemanfaatan lahan
27. Kategori Indeks dan Status Keberlanjutan 97
28. Nilai indeks keberlanjutan multidimensi pengelolaan sumber 107
daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kab.
Konawe
29. Atribut pengungkit dimensi-dimensi keberlanjutan 108
30. Perbedaan Indeks Keberlanjutan antara Rap-Konawe (MDS) 109
Dengan Monte Carlo
31. Nilai Stress dan Nilai Koefisien Determinasi (R2) hasil Rap- 109
Konawe
32. Matriks pengaruh dan ketergantungan faktor dalam sistem 113
pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
33. Pedoman penilaian pengelolaan sumber daya alam untuk 113
penyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe
34. Atribut Pengungkit Dimensi Keberlanjutan 115
35. Keadaan faktor kunci dan kemungkinan perubahan kedepan 118
36. Nilai indeks dan status keberlanjutan hasil pengembangan 120
kebijakan Skenario I (Pesimis), Skenario II (Moderat), dan
Skenario III (Optimis)
37. Elemen kendala dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Untuk 128
Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di Kab. Konawe
38. Elemen kebutuhan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam 131
Untuk Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di Kab. Konawe
39. Elemen stakeholder dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam 133
Untuk Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di Kab. Konawe
40. Rekomendasi Jumlah Alokasi Anggaran Untuk Konservasi 142
Berdasarkan Luasan Lahan Perubahan Kondisi tiap-tiap TGL
41. Peran Lembaga dalam Strategi Peningkatan Pengelolaan 144
Sumber Daya Alam Untuk Penyediaan Air Baku Berkelanjutan
di Kab. Konawe
DAFTAR GAMBAR

1. Kerangka pikir penelitian 5


2. Siklus hidrologi 9
3. Beberapa bentuk daerah aliran sungai (Browne, 1999) 12
4. Bagan Ilustrasi Respon DAS Akibat Masukan Berupa Hujan 15
5. Sistem Aliran Sungai (O'Donnel, 1973 dalam Harto 1993) 16
6. Model tangki yang digunakan dalam penelitian 21
7. Bagan Alir Pemodelan Runoff untuk Model Tangki 22
8. Lokasi Penelitian di Kabupaten Konawe 28
9. Bendung Wawotobi Sub DAS Konaweha 34
10. Skema model tangki untuk TGL di Sub DAS Konaweha 34
11. Model tangki yang digunakan dalam penelitian ini 35
12. Tahapan Analisis pada Atribut Kritis Sub DAS Konaweha 39
13. Tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor dalam sistem 41
14. Tahapan Pada Teknik Permodelan Interpretasi Struktural 42
15. Matriks driver power-dependence dalam analisis ISM 43
16. Diagram alir analisa kelembagaan dengan metode ISM 44
17. Peta Administrasi Kabupaten Konawe 46
18. Diagram Rata-rata Curah Hujan di Kabupaten Konawe dari 48
tahun 2006 - 2012 pada Stasiun Abuki Kab. Konawe
(Pusair Bandung)
19. Peta Jenis Tanah di Kabupaten Konawe 52
20. Peta Daerah Aliran Sungai Kabupaten Konawe 54
21. Persentase Luas Lahan Menurut Penggunaannya 55
22. Perkembangan Jumlah Penduduk Kab. Konawe Tahun 2000- 56
2010
23. Peta Permukiman Kabupaten Konawe 58
24. Peta Jaringan Air Bersih Kab. Konawe 60
25. Model tangki yang digunakan dalam penelitian ini 76
26. Diagram alir konsep matematis model 77
27. Peta land use catchment area Bendung Wawotobi 78
28. Grafik hasil kalibrasi model tangki dengan data tahun 2009 82
Grafik hasil validasi model tangki menggunakan data tahun 83
29. 2011
30. Grafik sebaran hasil validasi model tangki menggunakan data 83
tahun 2011
31. Debit total limpasan di Sub DAS Konaweha Tahun 2011 83
32. Total Infiltrasi total tiap land use di Sub DAS Konaweha Tahun 84
2011
33. Jumlah KAT tiap land use di Sub DAS Konaweha Tahun 2011 84
34. Distribusi Potensi Air Bulanan di Sub DAS Konaweha 86
35. Debit Total Limpasan di Sub DAS Konaweha dengan Skenario 87
36. Debit Total Infiltrasi di Sub DAS Konaweha dengan Skenario 88
37. Jumlah Total Air Tanah di Sub DAS Konaweha dengan 89
Skenario
38. Luasan perubahan kondisi tata guna lahan hasil skenario model 92
tangki untuk TGL Hutan, Pertanian, Sawah, Pemukiman,
Savana, dan Semak
39. Diagram layang-layang Indeks Keberlanjutan Pengelolaan 98
Sumber Daya Alam Untuk Penyediaan Air Baku
Berkelanjutan di Kabupaten Konawe
40. Indeks Status Keberlanjutan dan Atribut Pengungkit Dimensi 98
Ekologi
41. Indeks Status Keberlanjutan dan Atribut Pengungkit Dimensi 100
Ekonomi
42. Indeks Status Keberlanjutan dan Atribut Pengungkit 102
Dimensi Sosial
43. Indeks Status Keberlanjutan dan Atribut Pengungkit Dimensi 103
Teknologi
44. Indeks Status Keberlanjutan dan Atribut Pengungkit Dimensi 105
Kelembagaan
45. Tingkat Pengaruh dan Ketergantungan Antar Faktor dalam 114
Sistem
46. Hasil analisis tingkat kepentingan faktor-faktor yang 116
berpengaruh pada sistem yang dikaji
47. Diagram Layang-Layang Peningkatan Indeks Per-Dimensi 121
Keberlanjutan Hasil Skenario Kebijakan
48. Distribusi ke empat sektor pada matriks driver power- 127
dependence
49. Hubungan antara Driver Power - Dependence dan Struktur 130
Hirarki Pada Elemen Kendala
50. Hubungan antara Driver Power - Dependence dan Struktur 132
Hirarki Pada Elemen Kebutuhan
51. Hubungan antara Driver Power - Dependence dan Struktur 134
Hirarki Pada Elemen Stakeholder
DAFTAR LAMPIRAN

1. Foto Keadaan Lokasi Penelitian 161


2. Kuesioner Analisis Status Keberlanjutan dengan Multi
163
Dimensional Scalling (MDS)
3. Kuesioner Analisis Kelembagaan dengan Interpretative
169
Structural Modelling (ISM)
4. Kuesioner Analisis Prospektif 176
5. Peta Perubahan Penggunaan Lahan Catchment Area Bendung
180
Wawotobi Sub DAS Konaweha Tahun 2000 – 2011
6. Rencana Program, Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok
Sasaran, dan Pendanaan Indikatif SKPD Dinas Kehutanan 181
Kabupaten Konawe Tahun 2014 - 2018
7. Data Debit Sungai Lahambuti-Abuki Tahun 2009 191
8. Data Debit Sungai Lahambuti-Abuki Tahun 2011 192
9. Data Curah Hujan Pos Abuki Kec. Abuki Kab. Konawe Tahun
193
2009
10. Data Curah Hujan Pos Abuki Kec. Abuki Kab. Konawe Tahun
194
2011
11. Bilangan Kurva Limpasan Permukaan 195
12. Glosarium 196
1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Di alam semesta ini, air menutupi sekitar 70% permukaan bumi, dengan
3
volume sekitar 1.385.984.610 km (Angel dan Wolseley, 1992). Air yang terdapat
di permukaan bumi terbagi kedalam berbagai bentuk, misalnya uap air, es, cairan,
dan salju. Air tawar terutama terdapat di sungai, danau, air tanah (ground water)
dan gunung es (glacier). Air merupakan salah satu senyawa kimia yang terdapat di
alam secara berlimpah. Namun, ketersediaan air yang memenuhi syarat bagi
keperluan manusia relatif sedikit karena dibatasi oleh berbagai faktor.
Jika dilihat secara keseluruhan, kandungan air yang ada di muka bumi lebih
rang 97% merupakan air laut yang tidak dapat digunakan oleh manusia secara
kungsung. Dari 3% air yang tersisa, 2% diantaranya tersimpan sebagai gunung es
la acier) di kutub dan uap air, yang juga tidak dapat dimanfaatkan secara langsung.
(glr yang benar-benar tersedia bagi keperluan manusia hanya 0,62%, meliputi air
Aing terdapat di danau, sungai, dan air tanah. Bila ditinjau dari segi kualitas, air
yang memadai bagi konsumsi manusia hanya 0,003% dari seluruh air yang ada
yaffries dan Mills, 1996).
(Je Air merupakan sumberdaya alam yang strategis dan vital bagi kehidupan
anusia. Keberadaannya tidak dapat digantikan oleh materi lainnya. Air
m butuhkan untuk menunjang berbagai sistem kehidupan dan pembangunan.
di mpir semua kebutuhan hidup manusia membutuhkan air, baik untuk kebutuhan
Hamah tangga (domestik), maupun untuk keperluan pertanian, peternakan,
ru rikanan, industri dan pengelolaan kota (non domestik). Pasokan air untuk
peendukung berjalannya pembangunan dan berbagai kebutuhan manusia perlu
mamin kesinambungannya, terutama yang berkaitan dengan kuantitas dan
dijalitasnya sesuai dengan yang dibutuhkan. Oleh karena itu, sumberdaya air yang
a perlu dikelola secara berkelanjutan. Sistem pengelolaan sumberdaya air
ku
rkelanjutan merupakan sistem pengelolaan sumberdaya air yang didesain dan
adkelola serta berkontribusi penuh terhadap tujuan masyarakat (sosial dan ekonomi)
beat ini dan masa yang akan datang, dengan tetap mempertahankan kelestarian
dipek ekologisnya (Loucks, 2000).
sa Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini terkait dengan eksistensi sumberdaya
as adalah penurunan ketersediaan air sementara di lain pihak kebutuhan air terus
engalami peningkatan dari waktu ke waktu. Hal ini merupakan konsekuensi logis
airri pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan aktifitas ekonomi. Penurunan
m tersediaan air dan peningkatan kebutuhan air juga terjadi di Kabupaten Konawe
daovinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini disebabkan antara lain karena perubahan
ke nggunaan lahan akibat eksploitasi lahan secara terus menerus sehingga terjadi
Pr nurunan kapasitas infiltrasi dan peningkatan aliran permukaan. Akibatnya jumlah
pe yang hilang ke laut meningkat, yang pada akhirnya turut mempengaruhi
petersediaan air di Kabupaten Konawe.
air Perubahan penggunaan lahan diduga mengakibatkan terjadinya penurunan
kebit minimum dan peningkatan debit maksimum di Kabupaten Konawe.3 Fakta
enunjukkan bahwa pada bulan Mei tahun 2000 debit air sekitar 380 m /detik
enyebabkan lebih dari 10.000 hektar sawah di wilayah irigasi Wawotobi terendam
de
m
m
2

banjir. Pada tahun yang sama dari bulan September sampai November terjadi
kekering an dengan debit minimum rata-rata 10,6 m3/detik yang menyebabkan lebih
dari 5.0 00 hektar sawah di wilayah irigasi Wawotobi tidak mendapatkan pasokan
air yan g cukup. Pada bulan September tahun 2003 debit minimum sungai
3
Konawe ha adalah 27 m 3/detik, pada tahun 3
2006 dan 2008 debit minimum bulan
Septemb er menjadi 23 m /detik dan 20 m /detik (Sub Dinas PU Pengairan Provinsi
Sulawes i Tenggara, 2010). Jika kecenderungan penurunan ini berlanjut, maka
diperkirakan akan terjadi defisit air pada musim kemarau di Kabupaten Konawe.
bijakan pemerintah pusat tentang pembangunan Kawasan Ekonomi
Ke
(KEK) pertambangan yang dipusatkan di Provinsi Papua, Papua Barat dan
Khusus
i Tenggara juga akan berpotensi memberikan dampak terhadap perubahan
Sulawes aan lahan. Untuk tujuan tersebut maka Pemerintah Provinsi Sulawesi
pengguna mengusulkan perubahan status hutan seluas 310.165 hektar menjadi
Tenggarnggunaan Lain (APL) melalui revisi Rencana Umum Tata Ruang Wilayah
Areal PeW) Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2010 (Bappeda Provinsi Sulawesi
(RUTRa, 2010). Dari luasan tersebut, maka sekitar 10 % berada di DAS
Tenggarha. Jika usulan tersebut diatas disetujui, dikhawatirkan akan semakin
Konawekan ketersediaan air khususnya distribusi ketersediaan air bulanan di
menurun en Konawe.
Kabupatiring dengan penurunan ketersediaan air, maka kebutuhan air baku di
Se en Konawe cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.
Kabupatatan kebutuhan air ini disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk,
Peningkatan jumlah industri dan pertambahan luas sawah. Angka pertumbuhan
peningk k rata-rata di Kab. Konawe adalah 2 % per tahun, sementara laju
penduduahan industri kecil adalah 0,7 % per tahun, industri sedang dan besar adalah
pertamb ri 7 % per tahun, sedangkan laju pertambahan luas sawah di perkirakan
ri 1 % per tahun.
lebih da
r memiliki makna penting bagi segala bentuk kehidupan mahluk hidup di
lebih da an bumi ini. Bagi manusia air diperlukan untuk mendukung kalangsungan
Ai hari-hari seperti untuk aktivitas kegiatan rumah tangga (domestik), dan
permuka egiatan pengairan, industri, pertanian, perikanan, peternakan, serta
hidup seaan kota (non domestik). Perkembangan pertumbuhan penduduk yang
untuk kengan pertumbuhan sektor ekonomi serta perkembangan lahan pertanian
pengelolnyak memerlukan suplai air baku yang memadai, hal ini menyebabkan
diikuti daan air semakin meningkat dari tahun ke tahun. Untuk mengantisipasi
yang bai kemungkinan yang timbul akibat pemanfaatan sumber-sumber air
kelangk an dan air tanah, maka diperlukan suatu kajian tentang Kebijakan
berbaga aan Sumberdaya Alam Untuk Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di
permukaKabupaten (Studi Kasus Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara).
Pengelol
Tingkat Perumusan Masalah
as wilayah Kabupaten Konawe adalah 666.652 ha atau 17,48 persen dari
ayah daratan Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan jumlah penduduk pada
Lu013 sebanyak 233.080 jiwa yang tersebar di 30 wilayah kecamatan yaitu
luas wil masing; Wawonii Selatan, Wawonii Barat, Wawonii Tengah, Wawonii
tahun 2 a, Wawonii Timur, Wawonii Utara, Wawonii Timur Laut, Soropia,
masing- asumeeto, Sampara, Bondoala, Besulutu, Kapoiala, Lambuya, Uepai,
Tenggar
Lalongg
3

Pu riala, Onembute, Pondidaha, Wonggeduku, Amonggedo, Wawotobi, Meluhu,


K onawe, Unaaha, Anggaberi, Abuki, Latoma, Tongauna, Asinua, dan Routa. Dari
ju mlah wilayah administrasi tersebut baru sekitar 2 % yang telah mendapatkan
sis tem pelayanan air bersih sesuai syarat-syarat air yang telah ditetapkan
be rdasarkan data jumlah pelanggan PDAM pada tahun 2012. (Data BPS, 2013).
Se mentara wilayah lainnya memanfaatkan air sungai dan air tanah sebagai sumber
air bagi kebutuhan domestik dan non domestiknya.
Berdasarkan data yang tersedia, terdapat 2 (dua) pengaliran air sungai yang
dapat dijadikan sebagai sumber air permukaaan (surface water) di Kabupaten
Konawe, antara lain adalah Sungai Lahumbuti dan Sungai Konaweha. Kenyataan
menunjukkan bahwa pada saat musim hujan berlangsung, volume (m3) air pada
sungai-sungai tersebut berlimpah namun pada musim kemarau jumlahnya menjadi
sangat terbatas.
Berdasarkan penggambaran tersebut di atas, maka secara spesifik dapat
dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian yang merupakan permasalahan yang
yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana potensi ketersediaan air baku di tingkat Kabupaten?
2. Bagaimana status keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam untuk
penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat Kabupaten?
3. Bagaimana strategi pengelolaan sumberdaya alam untuk penyediaan air baku
berkelanjutan di tingkat Kabupaten?.
4. Bagaimana kondisi kelembagaan pengelolaan sumberdaya alam untuk
penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat Kabupaten?.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk menyusun pengembangan
kebijakan pengelolaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe. Untuk
mencapai tujuan utama tersebut, ada beberapa tujuan khusus yang ingin dicapai,
antara lain:
1. Menganalisis potensi ketersediaan air baku di Kabupaten Konawe
2. Menganalisis tingkat keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam untuk
penyediaan air baku di Kabupaten Konawe
3. Membangun strategi pengelolaan sumberdaya alam untuk penyediaan air baku
berkelanjutan di Kabupaten Konawe
4. Menyusun strategi kelembagaan pengelolaan sumberdaya alam untuk
penyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Sebagai masukan bagi pemerintah untuk dapat merumuskan kebijakan-
kebijakan bagi kegiatan pembangunan prasarana wilayah di tingkat Kabupaten.
2. Sebagai masukan bagi pemerintah untuk dapat merumuskan strategi
kebijakan pengelolaan air baku berkelanjutan di tingkat Kabupaten.
3. Sebagai bahan kepustakaan, diharapkan sebagai landasan baik teoritis maupun
konseptual untuk prasarana wilayah khususnya yang berkaitan dengan sistem
pengelolaan air baku bagi masyarakat di tingkat Kabupaten.
4

Kerangka Pemikiran
Ka bupaten Konawe terbagi atas 30 wilayah kecamatan. Dari jumlah wilayah
administ rasi tersebut baru sekitar 2 % yang telah mendapatkan sistem pelayanan air
bersih u ntuk kegiatan domestik (PDAM). Disadari bahwa di wilayah kabupaten ini
terdapat beberapa sumber air permukaan yang berasal dari air sungai dan air tanah.
Namun, kenyataannya sumber-sumber air tersebut belum dapat dioptimalkan
pemanfaatannya.
Ketersediaan sumberdaya air di Kabupaten Konawe sangat dipengaruhi/
ditentukan oleh banyaknya sumber-sumber air baik berupa sumber air permukaan
(sungai)maupun sumber air tanah (sumur). Data BPS (2013) menunjukkan bahwa
di Kabupaten Konawe terdapat dua pengaliran air sungai yang dapat dijadikan
sebagai sumber air permukaan (surface water) yang dapat memenuhi kebutuhan air
baku bagi kegiatan domestik dan non domestik yaitu Sungai Konaweha dan Sungai
Lahumbuti.
Pa da saat musim hujan, sungai-sungai tersebut memiliki jumlah air yang
berlimp ah, sementara pada musim kemarau jumlahnya sangatlah terbatas atau
mengala mi kelangkaan. Krisis ketersediaan air yang telah terjadi di beberapa daerah
di Kab upaten Konawe cenderung semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Disampi ng itu, kekeringan pada musim kemarau dan banjir pada musim hujan
secara r utin menimpa beberapa daerah di Kabupaten Konawe. Masalah tersebut
diantara nya disebabkan oleh kesalahan dalam pengelolaan daerah aliran sungai
(DAS) d an juga kerusakan lingkungan akibat pencemaran residu pestisida pada
aktifitas pertanian, aktifitas ilegal loging di daerah hulu DAS Konaweha dan
penamb angan liar yang terus berlangsung di sepanjang sungai Konaweha hingga
saat ini.
A dapun instansi pemerintah yang membidangi langsung pengelolaan sumber
daya ai r di Kabupaten Konawe adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Tata
Ruang. Disamping itu terdapat juga Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang
terkait d alam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air seperti Dinas
Kehutan an, Dinas Pertanian, Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda),
Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD), dan instansi pusat di daerah seperti
Balai P engelolaan DAS Sampara dan Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV.
Permasa lahan secara umum yang ada pada peran kelembagaan pengelola sumber
daya air di Kab. Konawe adalah masih lemahnya koordinasi antar instansi
pemerintah terkait dalam upaya pengelolaan sumber daya air di tingkat kabupaten
dan kurangnya alokasi anggaran untuk penguatan kelembagaan pengelolaan
sumber daya air tingkat Kabupaten. Dana operasional dan pemeliharaan belum
optimal karena hanya mengandalkan dana dari APBD saja. Di samping itu,
terbatas nya sumber daya manusia yang ada di bidang pengelolaan sumber daya air,
termasu k yang memahami kebijakan-kebijakan terbaru tentang pengelolaan sumber
daya air serta kelembagaan pengelolaan sumber daya air di tingkat Kabupaten
kendala utama dalam upaya penguatan kelembagaan pengelolaan sumber
menjadi
di tingkat Kabupaten Konawe. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian
daya air pengembangan kebijakan pengelolaan air baku berkelanjutan di tingkat
terhadapen melalui pendekatan sistem yang terkoordinasi dengan baik dengan
kabupat an regulasi/kebijakan dari pemerintah, agar tercapai solusi yang holistik
penegakkelanjutan (Sustainable). Kerangka pemikiran kebijakan pengelolaan air
dan ber kelanjutan di tingkat Kabupaten disajikan pada Gambar 1.
baku ber
5

Kondisi Sub DAS Konaweha


Kabupaten Konawe

Analisis Status Keberlanjutan


Parameter Pengelolaan Sumberdaya Alam untuk
Konservasi: Penyediaan Air Baku di Tingkat
Analisis Model  Koefisien Kabupaten
Tangki Limpasan
(Tank Model) (Runoff)
 Koefisien Strategi Pengelolaan Sumberdaya
Infiltrasi Alam untuk Penyediaan Air Baku
Berkelanjutan di Tingkat Kabupaten

Pengelolaan Sumberdaya Alam untuk


kenario Konservasi: Penyediaan Air Baku di Tingkat
Bussiness as usual Kabupaten:
S Moderat  RPJMD
 Optimis  Renstra SKPD
  Program Kerja


Evaluasi:
 Kecukupan
anggaran Tidak
 Kecukupan
konservasi
 Program dan
kegiatan

Ya

Analisis Kelembagaan Pengelolaan Sumberdaya Alam untuk


Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di Tingkat Kabupaten

Arahan Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Alam untuk


Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di Tingkat Kabupaten

Gambar 1 Kerangka Pikir Penelitian


6

Kebaruan (Novelty)

Ke baruan penelitian ini adalah analisis pengelolaan air baku berkelanjutan di


tingkat k abupaten dilakukan dengan pendekatan sistem secara menyeluruh dengan
melibatk an seluruh aspek sustainable development, yang meliputi aspek ekologi,
aspek e konomi, aspek sosial, aspek teknologi dan aspek kelembagaan, yang
mempert imbangkan implementasi kebijakan/policy dari pemerintah daerah di
tingkat k abupaten. Disamping itu, novelty dari penelitian ini adalah dihasilkannya
rekomen dasi arahan kebijakan konservasi pemanfaatan lahan untuk penyediaan air
baku be rkelanjutan di tingkat kabupaten melalui metode analisis Tank Model,
analisis Multi Dimensional Scalling (MDS) dengan Rap-Konawe, analisis
Prospektif dan analisis Interpretative Structural Modelling (ISM).
7

2 TINJAUAN PUSTAKA

Sumber Daya Air


Manusia dan semua mahluk hidup butuh air. Air merupakan material yang
m embuat kehidupan terjadi di bumi. Menurut dokter dan ahli kesehatan, manusia
wa jib minum air putih 8 gelas sehari. Tumbuhan dan binatang juga membutuhkan
air, sehingga dapat dikatakan air merupakan salah satu sumber kehidupan. Semua
organisme tersusun dari sel-sel yang berisi air sekitar 60% dan aktivitas
metaboliknya mengambil tempat dilarutan air (Enger dan Smith, 2000). Dapat
disimpulkan bahwa untuk kepentingan manusia dan kepentingan komersial lainnya,
ketersediaan air dari segi kualitas maupun kuantitas mutlak diperlukan.
Sumberdaya air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung di
da lamnya. Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas ataupun di bawah
pe rmukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan,
da n air laut yang berada di darat. Air permukaan adalah semua air yang terdapat
pa da permukaan tanah. Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau
tuan di bawah permukaan tanah (UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya
ba
r). Air baku adalah air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan
Ai tanah dan atau air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku
airtuk air minum (PP No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem
un nyediaan Air Minum). Untuk memenuhi air baku yang semakin hari semakin
Pertambah, maka air baku dapat diperoleh dari sungai, air tanah dan air sumur. Air
be ng dipakai untuk air baku harus memenuhi persyaratan sesuai dengan
ya gunaannya.
ke Air merupakan unsur utama bagi hidup kita di planet ini. Kita mampu
rtahan hidup tanpa makan dalam beberapa minggu, namun tanpa air kita akan
beati dalam beberapa hari saja. Dalam bidang kehidupan ekonomi modern kita, air
mga ju merupakan hal utama untuk budidaya pertanian, industri, pembangkit tenaga
listrik, dan transportasi. Beberapa definisi yang berkenaan dengan pengembangan
sumberdaya air (Bouwer, 1978: Freeze dan Cherry, 1979; Kodoatie, 1996), antara
lain;
a. Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah, termasuk
di dalamnya air dalam sistem sungai, waduk, danau, air irigasi.
b. Air Tanah adalah sejumlah air dibawah tanah permukaan bumi yang terdapat
dikumpulkan dengan sumur-sumur, terowongan atau sistem drainase atau
dengan pemompaan. Dapat juga dikatakan aliran yang secara alamiah mengalir
ke permukaan tanah melalui pancaran atau rembesan. UU Sumberdaya Air
mendefinisikan air tanah sebagai air yang terdapat dalam lapisan tanah atau
batuan di bawah permukaan tanah.
Di peralihan abad 20 hingga 21 terlihat indikasi yang makin menguat bahwa
ke berlanjutan ketersediaan air sepanjang tahun oleh ekosistem alam semakin
ter ancam. Hal tersebut terindikasi dengan meningkatnya fluktuasi aliran air yang
se makin besar antara musim hujan dan kemarau. Program Hidrologi Internasional
(IH P-UNESCO: International Hydrological Programme) yang bernaung di bawah
U NESCO merupakan wadah untuk menggalang kerjasama regional dalam rangka
m engatasi masalah air. Diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam tentang
8

interaksi antara manusia dan air melalui penelitian terpadu, termasuk pelestarian
nilai-nil ai budaya dan kearifan lokal yang kondusif bagi konservasi air dan
ekosiste mnya. Menurutnya ketersediaan air bersih secara nasional saat ini baru
tercapai sekitar 60%. Ini berarti sekitar 90 juta masyarakat Indonesia masih
menggu nakan air yang tidak layak secara kesehatan untuk kehidupan sehari-hari.
Untuk it u, diperlukan perhatian dari semua pihak dalam mempertahankan kualitas
lingkun gan, mengembalikan fungsi hutan sebagai penyimpan air bersih bagi
sebagian besar masyarakat Indonesia.
Se mua orang berharap bahwa seharusnya air diperlakukan sebagai bahan
yang sa ngat bernilai, dimanfaatkan secara bijak, dan dijaga terhadap cemaran.
Namun kenyataannya air selalu dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan. Hampir
separo penduduk dunia, hampir seluruhnya di negara-negara berkembang,
menderit a berbagai penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan air, atau oleh air
yang te rcemar. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, 2 miliar orang kini
menyan dang resiko menderita penyakit murus yang disebabkan oleh air dan
makanan. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian lebih dari 5 juta anak-
anak setiap tahun.
Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah
atau tercemar karena penggunaannya yang melebihi kapasitasnya untuk dapat
diperbaharui. Kalau kita tidak mengadakan perubahan radikal dalam cara kita
memanfaatkan air, mungkin saja suatu ketika air tidak lagi dapat digunakan tanpa
pengolahan khusus yang biayanya melewati jangkauan sumber daya ekonomi bagi
kebanyakan negara.
Di alam semesta ini, secara garis besar total volume air yang ada, air asin dan
air tawar adalah 1.385.984.610 km3, terdiri dari atas: Air laut; 1.338.000.000 km3
atau 96,54 %, lainnya (air tawar + asin); 47.984.610 km3 atau 3,46 %, air asin di
3 3
luar air laut; 12.955.400 km atau 0,93 % dan air tawar; 35.029.210 km atau 2,53
%. Dari keseluruhan jumlah air yang ada di bumi, sebanyak 94,54 % berada di laut
dan 1,73% berada di kutub (kutub Utara dan Selatan), lainnya berupa air tanah
(dengan komposisi 0,76 % air tawar dan 0,93 % berupa air asin) serta yang ada
dipermukaan bumi dan udara berjumlah 0,04 %.
Ai r tawar dari es di kutub dan es lainnya serta salju memberikan distribusi
yang pal ing besar yaitu 69,553 %. Bila dilihat dari keseimbangan jumlah air tawar
yang ad a, maka air tanah memberikan distribusi yang cukup penting karena
jumlahn ya mencapai 30,061 % dari seluruh air tawar yang ada. Sedangkan jumlah
air tanah dangkal, danau, rawa/payau, sungai dan air biologi hanya 0,349 %. Bila
dibandin gkan jumlah air tawar tersebut terhadap air tanah maka besarnya hanya
0,0116 atau 1,116 % dari air tanah. Jumlah air tawar di sungai 0,0006 % atau kurang
lebih 1/ 5010 dari air tanah. Jumlah air tanah dangkal, danau, rawa/payau, sungai
dan air biologi adalah 0,0151 % dan ini hanya kurang lebih 9/1000 dari air tanah
(Chow et al., 1988).

Siklus Hidrologi

Pada prinsipnya, jumlah air di alam ini tetap dan mengikuti suatu aliran yang
dinamakan “siklus hidrologi”. Siklus Hidrologi adalah suatu proses yang berkaitan,
dimana air diangkut dari lautan ke atmosfer (udara), ke darat dan kembali lagi ke
laut, seperti digambarkan pada Gambar 2.
9

Sumber: U.S. Geological Survey


Gambar 2 Siklus Hidrologi

Hujan yang jatuh ke bumi baik langsung menjadi aliran maupun tidak
la ngsung yaitu melalui vegetasi atau media lainnnya akan membentuk siklus aliran
air mulai dari tempat yang tinggi (gunung, pegunungan) menuju ke tempat yang
rendah baik di permukaan tanah maupun di dalam tanah yang berakhir di laut.
Dengan adanya penyinaran matahari, maka semua air yang ada dipermukaan
bu mi akan berubah wujud berupa gas/uap akibat panas matahari dan disebut dengan
pe nguapan atau evaporasi dan transpirasi. Uap ini bergerak di atmosfer (udara)
ke mudian akibat perbedaan temperatur di atmosfer dari panas menjadi dingin maka
air akan terbentuk akibat kondensasi dari uap menjadi cairan (from air to liquid
sta te). Bila temperatur berada di bawah titik beku (freezing point) kristal-kristal es
ter bentuk. Tetesan air kecil (tiny droplet) tumbuh oleh kondensasi dan berbenturan
de ngan tetesan air lainnya dan terbawa oleh gerakan udara turbulen sampai pada
ko ndisi yang cukup besar menjadi butir-butir air. Apabila jumlah butir sir sudah
cu kup banyak dan akibat berat sendiri (pengaruh gravitasi) butir-butir air itu akan
tur un ke bumi dan proses turunnya butiran air ini disebut dengan hujan atau
pr esipitasi. Bila temperatur udara turun sampai dibawah 0º Celcius, maka butiran
air akan berubah menjadi salju (Chow et al., 1988). Hujan jatuh ke bumi baik secara
la ngsung
m maupun melalui media misalnya melalui tanaman (vegetasi). Di bumi air
airengalir dan bergerak dengan berbagai cara. Pada retensi (tempat penyimpanan)
da akan menetap untuk beberapa waktu. Retensi dapat berupa retensi alam seperti
burah-daerah cekungan, danau tempat-tempat yang rendah dll., maupun retensi
atan seperti tampungan, sumur, embung, waduk dll.
ren Secara gravitasi (alami) air mengalir dari daerah yang tinggi ke daerah yang
ren dah, dari gunung-gunung, pegunungan ke lembah, lalu ke daerah yang lebih
dis dah, sampai ke daerah pantai dan akhirnya akan bermuara ke laut. Aliran air ini
ebut aliran permukaan tanah karena bergerak di atas muka tanah. Aliran ini
10

biasanya akan memasuki daerah tangkapan atau daerah aliran menuju kesistem
jaringan sungai, sistem danau atau waduk. Dalam sistem sungai aliran mengalir
mulai d ari sistem sungai kecil ke sistem sungai yang besar dan akhirnya menuju
mulut su ngai atau sering disebut estuary yaitu tempat bertemunya sungai dengan
laut.
Ai r hujan sebagian mengalir meresap kedalam tanah atau yang sering disebut
dengan Infiltrasi, dan bergerak terus kebawah. Air hujan yang jatuh ke bumi
sebagian menguap (evaporasi dan transpirasi) dan membentuk uap air. Sebagian
lagi men galir masuk kedalam tanah (infiltrasi, perkolasi, kapiler). Air tanah adalah
air yang bergerak di dalam tanah yang terdapat di dalam ruang – ruang antara butir-
butir tan ah dan di dalam retak – retak dari batuan. Dahulu disebut air lapisan dan
yang ter akhir disebut air celah (fissure water). Aliran air tanah dapat dibedakan
menjadi aliran tanah dangkal, aliran tanah antara dan aliran dasar (base flow).
Disebut aliran dasar karena aliran ini merupakan aliran yang mengisi sistem
jaringan sungai. Hal ini dapat dilihat pada musim kemarau, ketika hujan tidak turun
untuk b eberapa waktu, pada suatu sistem sungai tertentu aliran masih tetap dan
kontinyu. Sebagian air yang tersimpan sebagai air tanah (ground water) yang akan
keluar ke permukaan tanah sebagai limpasan, yakni limpasan permukaan (surface
run off),aliran intra (interflow) dan limpasan air tanah (ground water run off) yang
terkumpul di sungai yang akhirnya akan mengalir ke laut kembali terjadi penguapan
dan begitu seterusnya mengikuti siklus hidrologi.

Air Permukaan

De finisi dalam Undang-Undang Sumberdaya Air (UU RI No. 7 tahun 2004)


menyeb utkan bahwa air adalah semua air yang terdapat pada, di atas maupun di
bawah p ermukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah,
air hujan dan air laut yang berada di darat. Aliran permukaan adalah semua air yang
terdapat pada permukaan tanah, contohnya air di dalam sistem sungai, air di dalam
sistem ir igasi, air di dalam sistem drainase, air waduk, danau, kolam retensi. Air
dimanfa atkan untuk berbagai keperluan misalnya untuk kebutuhan domestik,
irigasi at aupun pertanian, pembangkit listrik, pelayaran sungai, industri wisata, dll.

Air Tanah

Air yang berada di wilayah jenuh di bawah permukaan tanah disebut air
tanah. Secara global, dari keseluruhan air tawar yang berada di bumi ini lebih dari
97 % terdiri atas air tanah. Tampak bahwa peranan air tanah di bumi adalah penting.
Air tanah dapat dijumpai hampir semua tempat di bumi bahkan di gurun pasir yang
paling kering sekalipun, demikian juga di bawah tanah yang membeku karena
tertutup lapisan salju atau es.
Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah
permukaan tanah (definisi dalam UU Sumberdaya Air). Secara umum, jenis air
tanah dapat dilihat dari daerahnya di dalam tanah. Kisaran-kisaran porositas tanah
yang mewakili untuk bahan-bahan endapan disajikan pada Tabel 1.
11

Tabel 1 Kisaran-kisaran porositas tanah yang mewakili untuk bahan-bahan


endapan (Todd, 1980)
Bahan Porositas (%)
Liat 45-55
Debu 40-50
Pasir campuran medium hingga kasar 35-40
Pasir yang seragam 30-35
Pasir campuran halus hingga medium 30-40
Kerikil 20-35
Kerikil dan pasir 10-20
Batu pasir (paras) 1-10
Batuan kapur 1-10
Batuan granit 1-5

Asal-muasal air tanah juga dipergunakan sebagai konsep dalam


enggolongkan air tanah ke dalam 4 tipe (Todd, 1980 dan Davis, 1966) yaitu:
m Air meteorik : Air ini berasal dari atmosfir dan mencapai mintakat (zona)
1. kejenuhan baik secara langsung maupun tidak langsung.
a. Secara langsung oleh infiltrasi pada permukaan tanah
b. Secara tidak langsung oleh rembesan influen (di mana kemiringan muka air
tanah menyusup di bawah aras air permukaan kebalikan dari efluen) dari
danau, sungai, saluran buatan dan lautan.
c. Secara langsung dengan cara kondensasi uap air (dapat diabaikan)
Air Juvenil: Air ini merupakan air baru yang ditambahkan pada mintakat
2. kejenuhan dari kerak bumi yang dalam. Selanjutnya air ini dibagi lagi menurut
sumber spesifiknya ke dalam:
a. Air magmatic
b. Air gunung api dan air kosmik (yang dibawa oleh meteor).
Air diremajakan (rejuvenatited): air yang untuk sementara waktu telah
3. dikeluarkan dari daur hidrologi oleh pelapukan, maupun oleh sebab-sebab yang
lain, kembali lagi ke daur dengan proses-proses metamorphosis, pemadaman
atau proses-roses yang serupa (Davis, 1996).
Air konat: Air yang terjebak pada beberapa batuan sedimen atau gunung pada
4. asalnya mulanya. Air tersebut biasanya sangat termineralisasi dan mempunyai
salinitas yang lebih tinggi dari pada laut.

Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah yang terdapat di dalam ruang-
ang (pori-pori) butir-butir tanah dan di dalam retakan-retakan batuan. Pori
rurukuran kapiler dan membawa air yang disebut air pori. Aliran melalui pori
bealah laminar. Kapasitas penyimpanan/cadangan air dari suatu lahan ditunjukkan
adngan porositas yang merupakan nisbah dari volume rongga (Vv) dengan volume
detuan (V).
ba Air permukaan (aliran air sungai, air danau/waduk dan genangan air
rmukaan lainnya) dan air tanah pada prinsipnya mempunyai keterkaitan yang erat
perta keduanya mengalami proses pertukaran yang berlangsung terus menerus.
selama musim kemarau, kebanyakan sungai masih mengalirkan air.
Se
12

Batas Teknis Hidrologi

Ada tiga wilayah/daerah teknis atau hidrologi pengelolaan sumberdaya air


yaitu; cekungan air tanah (CAT), daerah aliran sungai (DAS) dan wilayah sungai.
Masing-masing menurut Undang-Undang Sumberdaya Air No. 7 Tahun 2004
didefinisikan sebagai berikut :
1. Cekungan air tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas
hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses
penimbunan, pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung.
2. D aerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu
k esatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi
m enampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah
hujan ke danau atau ke laut secara alamiah, yang batas daerah merupakan
pemisah
t topografi dan batas laut sampai dengan daerah perairan yang masih
3. erpengaruh aktivitas daratan.
sWilayah
k sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumberdaya air dalam
atu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya
urang dari atau sama dengan 2.000 km2.

Da Daerah Aliran Sungai


literatur
menggu erah aliran sungai yang biasa disingkat dengan DAS dalam beberapa
watershmenggunakan istilah yang berbeda dan arti yang sama, diantaranya
catchmenakan istilah: watershed, river basin, catchment atau drainage basin. Istilah
sungai aed biasanya duhubungkan dengan batas aliran, sedang istilah river basin,
punggunnt atau drainage basin dikaitkan dengan daerah aliran. Daerah aliran
menyaludalah suatu wilayah daratan yang secara topografi dibatasi oleh punggung-
Chg gunung yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian
suatu sisrkannya ke laut melalui sungai utama (Asdak, 2007).
evapotra ow et al. (1988), mengemukakan bahwa DAS dapat dipandang sebagai
merupaktem hidrologi dimana curah hujan merupakan input dari aliran sungai serta
dari siklnspirasi adalah output sistem. Selanjutnya dikatakan bahwa DAS
Daan tempat terjadinya proses-proses yang berangkaian dan menjadi bagian
rata lebaus hidrologi.
semua s lam perkiraan volume air, selain panjang, dibutuhkan pula informasi rata-
pir sepe r dan kedalaman untuk setiap sungai dan jumlah dari perkiraan air untuk
dari benungai (Chang, 2006). Pada umumnya DAS kira-kira berbentuk seperti buah
Gambar rti pada Gambar 3a tetapi ketika keluaran DAS berubah-ubah sama sekali
tuk ini, maka DAS perlu dibagi menjadi beberapa sub-area, seperti pada
3b.

Gambar 3 Beberapa bentuk daerah aliran sungai (Browne, 1999)


13

Menurut Seyhan (1990), faktor utama di dalam DAS yang sangat


empengaruhi
m ketersediaan sumberdaya air adalah:
1. Vegetasi, merupakan pelindung bagi permukaan bumi terhadap hempasan
air hujan, hembusan angin dan teriknya sinar matahari. Fungsi utama dari
vegetasi adalah melindungi tanah. Perlindungan ini berlangsung dengan
cara: (a) melindungi tanah terhadap daya perusak butir-butir hujan yang
jatuh, (b) melindungi tanah dari daya merusak aliran air di atas permukaan
tanah, dan (c) memperbaiki kapasitas infiltrasi dan struktur tanah serta daya
absorpsi atau daya simpan air.
2. Tanah, berfungsi sebagai media tumbuhnya vegetasi dan pengatur tata air.
Peranan tanah dalam mengatur tata air tergantung pada tingkat kemampuan
tanah untuk meresapkan air yang dipengaruhi oleh kapasitas infiltrasi dan
permeabilitas tanah.

Chow et al (1988), mengemukakan bahwa DAS dapat dipandang sebagai


suatu sistem hidrologi dimana curah hujan merupakan input dari aliran sungai serta
evapotranspirasi adalah output sistem. Selanjutnya dikatakan bahwa DAS
merupakan tempat terjadinya proses-proses yang berangkaian dan menjadi bagian
dari siklus hidrologi. Proses tersebut dapat ditinjau mulai dari terjadinya hujan
(presipitasi), yang merupakan produk langsung dari awan yang berbentuk air
maupun salju. Hujan yang jatuh sebagian tertahan di tajuk tanaman dan atap
bangunan, kemudian jatuh ke tanah (intersepsi), sebagian lainnya jatuh ke tanah.
Saat air jatuh ke tanah, maka terjadi proses infiltrasi yaitu perjalanan air melalui
permukaan tanah dan menembus masuk ke dalamnya.
Proses infiltrasi akan berlanjut terus sepanjang terjadinya proses perkolasi
ya itu aliran air gravitasi ke dalam tanah. Sebagian air yang masuk ke dalam
terinfiltrasi yang ada di permukaan tanah. Sedangkan air yang masuk ke dalam
tanah akan kembali ke saluran-saluran sebagai subsurface-flow, dan sebagian akan
menjadi air tanah. Air tanah ini akan mengalir di dalam sebagai groundwater-flow.
Berbeda dengan aliran permukaan (surface-runoff), yang terjadi sesaat setelah
infiltrasi mencapai konstan, aliran air dalam tanah berlangsung secara lambat dan
akan muncul ke permukaan tanah pada tanah-tanah yang rendah sebagai
groundwater-outflow. Air akan meninggalkan DAS melalui penguapan atau
evaporasi, aliran sungai, dan sebagian besar air yang terserap tanaman akan
diuapkan melalui transpirasi. Pada proses transpirasi, air hujan yang jatuh di
permukaan tanah akan dikembalikan ke atmosfer melalui penguapan.
Daerah aliran sungai merupakan suatu sistem dinamis dengan karakteristik
yang spesifik dan ditentukan oleh ruang, luas, bentuk, ketercapaian dan lintasannya.
Karakter tersebut sangat terkait dengan masyarakat yang bermukim di sekitar
sungai. Olehnya itu, tataguna daerah aliran sungai harus diatur sedemikian rupa
sehingga tidak menimbulkan kerugian dan degradasi akibat persaingan
kepentingan.

nah
Ta
Air hujan yang jatuh di atas tanah, sebagian akan meresap ke dalam tanah dan
se bagian akan mengalir di atas permukaan tanah yang disebut aliran permukaan.
Ha l ini bisa terjadi apabila batas kemampuan tanah menampung air hujan telah
jen uh, atau kapasitas infiltrasi<intensitas hujan. Kemampuan tanah untuk
14

menampung air hujan atau meresapkan air tergantung pada sifat permeabilitas
tanah. Pada tanah-tanah yang gembur mempunyai sifat permeabilitas tinggi,
sehinggaair hujan yang jatuh akan banyak yang terserap ke dalam tanah, sehingga
aliran permukaan menjadi kecil. Permeabilitas tanah sangat dipengaruhi oleh sifat
fisik tanah yaitu tekstur dan struktur tanah.
Pe ngaruh tekstur dan struktur tanah terhadap kemampuan infiltrasi terutarna
ditentuk an oleh keadaan pori tanah yaitu jumlah, ukuran dan kemantapan pori.
Makin b anyak pori-pori, makin besar pula kapasitas infiltrasi. Pada tanah-tanah
yang ba nyak mengandung pasir mempunyai pori-pori lebih banyak dibandingkan
dengan tanah yang banyak mengandung liat. Dengan demikian kapasitas infiltrasi
pada tan ah-tanah berpasir akan lebih besar dan lebih cepat tingkat infiltrasinya
dibandin gkan dengan tanah yang bertekstur halus. Hubungan antara besarnya
kapasitas infiltrasi dengan tingkat kehalusan tekstur tanah dari beberapa macam
tanah disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2 Kapasitas Infiltrasi Beberapa Tipe Tanah dari Pengukuran Lapangan


(Kohnke dan Bertrand, 1959)
Tekstur Tanah Kapasitas Infiltrasi (mm/jam)
Pasir berlempung (loamy sand) 25 - 50
Lempung (loam) 12,5 - 25
Lempung berdebu (silt loam) 7,5 - 12,5
Lempung berliat (clay loam) 0,5 – 7,5
Liat (clay) < 0,5

Vegetasi
Peranan vegetasi dalam hal pengelolaan DAS sangat menentukan. Shen (1963
dalam Asdak, 1995) mengemukakan bahwa vegetasi mempengaruhi limpasan
permukaan melalui : (1) intersepsi hujan, (2) mengurangi kecepatan limpasan
permukaan dan kekuatan perusak air, (3) pengaruh akar dan kegiatan-kegiatan
biologis yang berhubungan dengan pertumbuhan vegetatif dan pengaruhnya
terhadap porositas tanah, dan (4) transpirasi yang mengakibatkan keringnya tanah,
sehinggameningkatkan kapasitas infiltrasi tanah.

Penggunaan Lahan dan Perilaku DAS


Penggunaan lahan memiliki keterkaitan dengan perilaku dan terutama
sumberdaya air DAS dalam beberapa aspek sebagai berikut :
 Penggunaan lahan berdampak besar terhadap kelembaban tanah. Lahan yang
ditutup oleh pepohonan menyebabkan berkurangnya radiasi dan tiupan angin di
permukaan tanah, sehingga tanah menjadi lebih lembab dibandingkan dengan
lahanterbuka.
 Urba nisasi memberikan akibat terhadap aliran permukaan (runoff) dalam
berbagai bentuk. Urbanisasi mengakibatkan berkurangnya infiltrasi dan aliran
bawah baik base flow maupun inter flow, sedangkan perubahan DAS dari lahan
pertanian atau perhutanan ke perkotaan dapat meningkatkan laju aliran
permukaan.
15

 Tutupan kanopi yang rapat dapat mengurangi debit banjir dengan periode ulang
lebih pendek, meningkatkan aliran dasar (base flow) serta meningkatkan
pengisian aliran permukaan tanah akan tetapi tutupan kanopi ini tidak
mengurangi penurunan debit banjir dengan periode ulang lebih panjang.

Sistem DAS
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2004 tentang
Sumber Daya Air, daerah aliran sungai (catchment, basin, watershed) adalah suatu
wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak
sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang
berasal
m dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat
yaerupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan
ng masih terpengaruh aktifitas daratan.
da Sistem adalah gugus/kumpulan dari elemen/komponen yang saling terkait
Pen terorganisasi untuk mencapai suatu tujuan atau gugus tujuan (Hartrisari, 2007).
mndekatan sistem mempunyai tujuan spesifik yaitu membangun hubungan
keasukan dan keluaran yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk rekonstruksi
mjadian masa lalu atau untuk prakiraan kejadiaan yang akan datang, dengan
(Sasalah pokok yang diperhatikan adalah operasi sistem yang digunakan
beudjarwadi, 1995). Gambar 4 menyajikan ilustrasi respon DAS akibat masukan
mrupa hujan. Dalam gambar tersebut sistem DAS digunakan sebagai model untuk
emahami konsep transformasi masukan (hujan) menjadi keluaran (debit).

Gambar 4 Bagan Ilustrasi Respon DAS Akibat Masukan Berupa Hujan


(Jayadi, 2000)

pe Memahami masalah pendekatan sistem DAS, tidak dapat terlepas dari


fisndekatan
sa fisik seperti sistem masukan, sistem struktur/geometri, hukum-hukum
(ruika, dan kondisi awal serta kondisi batas. Pendekatan secara fisik pada suatu DAS
sisngat sulit dilaksanakan karena mempunyai beberapa persoalan yang kompleks
mit), sehingga untuk menyelesaikan persoalan tersebut dilakukan pendekatan
tem DAS (Sudjarwadi, 1995).

Hubungan Curah Hujan dengan Limpasan (Runoff)


hi
m Hujan merupakan komponen masukan yang paling penting dalam proses
an drologi, karena jumlah kedalaman hujan (rainfall depth) ini yang dialih ragamkan
enjadi aliran di sungai, baik melalui limpasan permukaan (surface runoff), aliran
tara (interflow, sub surface flow) maupun sebagai aliran air tanah (groundwater
16

flow). Harto (1993) menggambarkan proses pengaliran air pada suatu DAS (Daerah
Aliran Sungai) seperti pada Gambar 5.
Se bagian air hujan yang jatuh akan ditangkap oleh tajuk tanaman berupa
interseps i. Air yang jatuh di permukaan tanah sebagian akan menjadi aliran
permuka an dan sebagian lainnya meresap ke dalam tanah melalui proses infiltrasi.
Dari pro ses infiltrasi, sebagian akan menjadi aliran bawah permukaan dan sebagian
lagi aka n masuk terus ke lapisan tanah yang lebih dalam melalui proses perkolasi.
Dari ali ran bawah permukaan, sebagian akan mengalir langsung (prompt
subsurfa ce flow) dan sebagian lagi akan mengalir tertunda (delayed subsurface
flow).

ranspirasi Curah Hujan


Evapot

Simpanan
Permukaan
Infiltrasi
Simpanan Kadar Total Runoff
Air Tanah

Perkolasi
Simpanan Air
Tanah

Gambar 5 Sistem Aliran Sungai (Harto, 1993)

iran permukaan bersama-sama dengan aliran bawah permukaan yang


r langsung serta hujan yang jatuh langsung di atas permukaan sungai
All precipitation) membentuk limpasan langsung (direct runoff). Sementara
mengali yang masuk melalui proses perkolasi akan menjadi aliran air bumi
(channe water flow). Aliran air bumi bersama-sama dengan aliran bawah
itu air an tertunda yang tidak masuk ke saluran bergabung. menjadi aliran dasar
(ground w). Akhirnya aliran dasar dan limpasan langsung bersatu menuju sungai.
permuka
(base flo
Metode Bilangan Kurva

nas Konservasi Tanah Amerika atau US Soil Conservation Service (SCS)


bangkan suatu metode yang berusaha mengkaitkan karakteristik DAS
Ditanah, vegetasi, dan tata guna lahan dengan bilangan kurva limpasan
mengem an (Run Off Curve Number) yang menunjukkan potensi air larian untuk
seperti jan tertentu. Metode SCS dikembangkan dari hasil pengamatan curah hujan
permukaertahun-tahun dan melibatkan banyak daerah pertanian di Amerika Serikat.
curah hukemukakan bahwa metode ini berlaku terutama untuk DAS yang lebih kecil
selama b
Perlu di
17

dari 13 km2 dengan rata-rata kemiringan lahan kurang dari 30 persen (Asdak, 1995).
Pengelompokan yang berdasarkan atas karakteristik tanah dibagi dalam empat
kelompok tanah yang ditandai dengan huruf A, B, C dan D. Karakteristik-
karakteristik tanah yang berhubungan dengan keempat kelompok tersebut adalah
sebagai berikut (Asdak, 1995):
Kelompok A : Potensi limpasan paling kecil, termasuk tanah pasir dengan unsur
debu dan liat.
Kelompok B : Potensi limpasan kecil, termasuk tanah berpasir dangkal, lempung
berpasir.
Kelompok C : Potensi limpasan sedang, lempung berliat, lempung berpasir
dangkal, tanah berkadar bahan organik rendah, dan tanah-tanah
berkadar liat tinggi.
Kelompok D : Potensi limpasan tinggi, kebanyakan tanah liat, tanah-tanah yang
Mengambang secara nyata jika basah, liat berat, plastis, dan tanah-
tanah bergaram tertentu.

Kelompok hidrologi tanah (Soil Hydrology Group) menunjukkkan potensi infiltrasi


nah setelah mengalami keadaan basah pada kurun waktu tertentu (Tabel 3).
ta

Tabel 3 Hubungan laju infiltrasi minimum dengan jenis tanah menurut SCS

Kelompok Laju Infiltrasi


Hidrologi Tanah (mm/jam)
A 8-12
B 4-8
C 1-4
D 0-1
Sumber: Asdak (1995)

Tabel bilangan kurva limpasan permukaan berdasarkan deskripsi penggunaan


la han (land use) dan kelompok hidrologi tanah (Soil Hydrologic Soil) dapat dilihat
di Lampiran 19. Nilai CN pada Lampiran 19 hanya berlaku untuk keadaan
kelembaban awal II, yaitu nilai rata-rata untuk banjir tahunan (Asdak, 1995).
Kondisi kelembaban awal (Antecedent Moisture Condition) didefinisikan
sebagai kondisi kelembaban tanah berdasarkan kejadian hujan. Metode SCS
mengekspresikan parameter ini sebagai indeks berdasarkan pada kejadian musiman
untuk hujan lima hari, (McQueen, 1982) yaitu:
1. AMC I merepresentasikan tanah kering dengan curah hujan musim istirahat
(5 hari) < 10 mm dan curah hujan musim berkembang (5 hari) < 28 mm.
2. AMC II merepresentasikan tanah kering dengan curah hujan musim istirahat
10-22 mm dan curah hujan musim berkembang 28-42 mm.
3. AMC III merepresentasikan tanah kering dengan curah hujan musim
istirahat > 22 mm dan curah hujan musim berkembang > 42 mm.

Pada umumnya bilangan kurva dihitung pada saat AMC II, kemudian
ditambahkan pada saat simulasi AMC III dan dikurangi saat simulasi AMC I.
Perhitungan bilangan kurva sama seperti perhitungan koefisien aliran permukaan
18

(coeffisien runoff), tetapi bilangan kurva merefleksikan ketidakmampuan air


menembus suatu lahan (impervious). Parameter ini menggunakan lebih banyak
parameter dibandingkan dengan koefisien runoff (Yeung, 2005). Metode SCS
berkembang dari penelitian tanah yang terdominasi oleh pengeluaran infiltrasi
(Mekanisasi Hortonian), dimana limpasan permukaan dimulai setelah intensitas
hujan melebihi kapasitas infiltrasi tanah (Masek, 2002).

Konservasi Sumber Daya Air

Konservasi sendiri secara harfiah berasal dari kata Conservation yang terdiri
atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian
mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have),
namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt
(1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang
konsep konservasi. Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan
dalam beberapa batasan, sebagai berikut :
1. Kon
servasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan
manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama.
2. Kon
servasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang
optimal secara sosial.
3. Kon servasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga
dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat
diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang.
Sumberdaya air merupakan bagian dari kekayaan alam dikuasai oleh negara
dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat, secara lestari sebagaimana termaktub
dalam pasal 33 ayat 3 UUD 1945. Ketetapan ini ditegaskan kembali dalam pasal 1
Undang Undang Pokok Agraria tahun 1960 bahwa bumi, air dan ruang angkasa
termasu k kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dalam wilayah Republik
Indonesi a sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa adalah merupakan kekayaan
nasional. Sumberdaya air ini memberikan manfaat serbaguna untuk mewujudkan
kesejahteraan bagi seluruh rakyat di segala bidang baik sosial, ekonomi, budaya,
politik maupun bidang ketahanan nasional.
Dalam UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air Bab I ayat I
ditegaskan sumber daya air adalah air, sumber air dan daya (potensi) air yang
terkandung di dalamnya. Dalam UU tersebut ayat 2 ditegaskan istilah air adalah
semua air yang terdapat pada, di atas atau di bawah permukaan tanah. Termasuk
pengertian air permukaan, air tanah, air hujan dan air laut yang berada di darat.
Secara keseluruhan konservasi sumber daya air dalam UU tersebut ayat 18,
mempunyai definisi: upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan,
sifat dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan
kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan mahluk hidup, baik pada waktu
sekarangmaupun yang akan datang.
K onservasi air dapat diartikan sebagai usaha-usaha untuk meningkatkan
jumlah ir a tanah yang masuk ke dalam tanah dan untuk menciptakan penggunaan
air yang efisien. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan
mempen garuhi tata air pada tempat itu dan tempat-tempat hilirnya. Oleh karena itu
19

maka konservasi tanah dan konservasi air merupakan dua hal yang berhubungan
erat sekali, sehingga boleh dikatakan bahwa berbagai tindakan konservasi tanah
merupakan juga tindakan konservasi air (Arsyad, 2006).
Menurut Sugandhy (1997), perlindungan dan pelestarian fungsi sumberdaya
airuntuk menjamin keberlanjutan tata air perlu dilakukan melalui pendekatan tata
ruang. Pada skala wilayah, upaya konservasi dilakukan dengan penetapan dan
pengelolaan kawasan lindung khususnya kawasan lindung yang berfungsi sebagai
daerah tangkapan air, daerah resapan air, daerah aliran sungai, danau dan situ.

Model Simulasi

Simulasi dapat diartikan sebagai penyusunan model-model matematika untuk


menyatakan kenampakan dari perilaku penting dari suatu sistem nyata. Simulasi
merupakan eksperimentasi yang menggunakan model suatu sistem. Dengan analisis
sistem tanpa harus mengganggu atau mengadakan perlakuan terhadap sistem yang
diteliti dan kegagalan seperti yang sering dialami pada eksperimentasi biasa
(percobaan) tidak akan terjadi (Hillel, 1971).
Menurut Soerianegara (1978), simulasi merupakan salah satu kegiatan dalam
an alisis sistem yang secara garis besamya meliputi tiga kegiatan utama yaitu:
 Merumuskan model yang menggambarkan sistem dan proses yang terjadi
di dalamnya.
 Memanipulasi model atau melakukan eksperimentasi.
 Mempergunakan model dan data untuk memecahkan persoalan
pengelolaan.
Model simulasi merupakan model yang rnenghitung tahapan operasional
pe ubah-peubah model pada suatu gugus nilai parameter-parameter model. Sistem
alam nyata yang kompleks dan dahulu tidak mungkin diselesaikan dengan model
analitis,
lu sekarang dapat diselesaikan dengan model simulasi yang diterapkan secara
as dalam mempelajari sistem dinamik yang kompleks (Hillel, 1971).
pe te Model simulasi didefinisikan sebagai teknik numerik untuk menyatakan
m larcobaan-percobaan hipotetik secara kuantitatif ke dalam model matematika
(3)ntang perilaku dan sifat sistem yang dinamik. Penerapan model simulasi harus
(5)elalui tahapan-tahapan sebagai berikut : (1) pengumpulan dan analisis data
kopang, (2) mendefinisikan masalah-masalah yang akan disimulasikan,
pr sipembuatan model-model, (4) formulasi model ke dalam bentuk matematika,
ha pengembangan algoritma, (6) pengecekan algoritma, (7) penyusunan program
19mputer dari model, (8) menduga parameter yang diperlukan, (9) mengecek
ogram komputer, (10) mengecek parameter, (11) melakukan eksperimentasi
fakmulasi, (12) mengecek hasil simulasi, (13) membandingkan hasil simulasi dengan
an sil lapang (14) penggunaan model simulasi untuk pemecahan masalah (Hillel,
ali71).
et Faktor-faktor yang mempengaruhi model simulasi dalam hidrologi adalah
tor iklim (curah hujan, radiasi matahari, suhu udara, kelembaban nisbi, dan
gin), evapotranspirasi, intersepsi, infiltrasi dan perkolasi, cadangan permukaan,
ran permukaan, aliran bawah permukaan, dan aliran air bawah tanah (Viesman
al., 1977).
20

Model Tangki

M odel tangki atau disebut juga tipe storage adalah metode non linear yang
berdasar kan pada hipotesis bahwa aliran limpasan dan infiltrasi merupakan fungsi
dari jum lah air yang ada di dalam tanah (Sugawara, 1961). Model tangki tersebut
dapat di susun sedemikian rupa sehingga lebih mewakili sub-sub DAS daerah
tersebut, ataupun mewakili perbedaan struktur/jenis tanah pada setiap lapisan.
Susunan model tangki tersebut selain dapat menjelaskan kehilangan awal curah
hujan, d an ketergantungan terhadap hujan sebelumnya, juga mempresentasikan
beberapa komponen pembentuk aliran limpasan, yang memiliki periode dan time
lag tersendiri. Ditambahkan oleh Sugawara (1961) bahwa susunan model tangki
adalah model yang paling mendekati setiap DAS.
Se buah tangki dengan saluran pengeluaran disisi mewakili limpasan, saluran
pengelu aran bawah mewakili infiltrasi, dan komponen simpanan dapat mewakili
proses limpasan di dalam suatu atau sebagian daerah aliran sungai. Beberapa tangki
serupa y ang paralel dapat mewakili suatu daerah aliran sungai yang luas (Linsley,
86). Struktur model tangki cocok dianalogikan sebagai bentuk struktur air
et al., 19
ermukaan yang dapat menunjukkan beberapa komponen dari debit sungai
bawah pl limpasan (Sugawara, 1961). Banyak penelitian telah dilakukan dengan
atau totanakan model tangki. Selain oleh Sugawara sendiri sebagai penemunya yang
menggualisa limpasan pada beberapa sungai di Jepang (1961) dan berhasil dengan
mengan odel tangki secara luas digunakan pada berbagai DAS, seperti DAS
baik, mg dan DAS Cidanau. Cheamsar (2000) melakukan analisis hubungan
Ciliwun runoff dengan menggunakan model tangki di DAS Ciliwung Hulu.
rainfall n Cheamsar (2000) menghasilkan kesimpulan bahwa debit yang dihitung
Penelitia odel tangki mendekati debit aktual dengan nilai koefisien determinasi (R2)
dengan m 0,67.
sebesar toyo (1999) menggunakan model tangki untuk menduga debit sungai
Sukan hujan pada DAS Cidanau. Harmailis (2001) melakukan analisis
berdasarh pengelolaan lahan berdasarkan ketersediaan air dengan menggunakan
pengaru tangki. Hasil dari penelitian Harmailis (2001) menyatakan bahwa
model banyak tata guna lahan hutan merupakan tindakan yang efektif untuk
memper atkan ketersediaan air. Heryansyah (2001) menerapkan model tangki pada
meningk pasan dan kualitas air untuk manajemen tata guna lahan. Penelitian yang
aliran lim
n dengan pengelolaan air telah dilakukan oleh Wibisono (1991) pada
berkaitaAliran Waduk Selorejo, Jawa Timur. Berdasarkan hasil simulasi ternyata
Daerah an penggunaan lahan mempengaruhi tingkat ketersediaan air.
perubah
Terjadinya Limpasan dalam Model Tangki
Proses
ogram model tangki yang dimodifikasi disusun dengan menggunakan
Prrogram Visual Basic Application (VBA) for Microsoft Excel. Program ini
bahasa pdari persamaan-persamaan matematik yang menggambarkan proses
terdiri en limpasan hujan yang jatuh di atas tanah pada suatu DAS, seperti
komponn pada Gambar 6.
disajika
21

CH
inf
ET c a11
up0
xx1 a12
h11
h12
z1
up1
xx2 Q Debit sungai
a2
h2
z2
up2
xx3 Keterangan:
xx : kandungan air tanah (mm)
z3 a3 h: tinggi lubang outlet tangki (mm)
a: koefisien lubang outlet tangki
up3 z: koefisien lubang tangki ke arah
xx4
bawah
a4 t: waktu (hari)

Gambar 6 Model tangki yang digunakan dalam penelitian

Berdasarkan Gambar 6, curah hujan yang jatuh diatas permukaan bumi akan
infiltrasi ke dalam tanah. Selain terinfiltrasi ke dalam tanah terjadi pula proses
apotranspirasi. Air yang terinfiltrasi selanjutnya akan mengisi simpanan
orage) di dalam tanah. Setelah simpanan mencapai maksimum (kejenuhan)
terjadilah aliran antara (interflow) dan air akan terperkolasi sehingga akhirnya
evenjadi aliran dasar (baseflow). Aliran-aliran ini selanjutnya akan terkumpul (total
(stnoff) menjadi debit sungai.
ter Gambar 6 merupakan serangkaian model tangki yang sudah dimodifikasi.
mngki paling atas mempresentasikan aliran permukaan, tangki kedua dan ketiga
ruempresentasikan infiltrasi dan aliran bawah permukaan sedangkan tangki
empat menghasilkan aliran dasar. Persamaan dasar persamaan dasar yang
Tagunakan pada model dari Gambar 6 adalah sebagai berikut:
m
ke Untuk tangki paling atas adalah :
di x1(t)/t = a1 {x1(t)-ha1} + b {x1(t) – h5} + z1.x1(t)- CH + Etc(t) ..... (1)

1. Untuk tangki lain (i = 2-4, z4 = 0), persamaannya adalah:


xi(t)/t = ai.{xi(t) – hai} + zi.xi(t) – zi-1.xi-1(t) ............................... (2)
dimana :
2. Xt = Tinggi kandungan air tanah (KAT)
ha = Tinggi air tersimpan (tinggi lubang outlet)
z = Koefisien lubang infiltrasi
a, b = Koefisien lubang outlet
CH = Kedalaman curah hujan
Etc = Evapotranspirasi actual
t = waktu (hari)
i = 1...4
Debit limpasan dari sungai (Q) dihitung dengan memakai persamaan:
Q = b.{x1(t) – h5} +  ai{ xi(t) – hai} ....…......................…………... (3)
3.
22

Bagan alir (Flow Chart) dari konsep matematis pembentukan model total
limpasan pada modifikasi model tangki disajikan pada Gambar 7 .

Data Masukan : Curah Hujan,


Evapotranspirasi Aktual, Luas TGL

Model Tangki yang


Termodifikasi
Parameter : (a1,a2,a3,a4,b,ha1,
ha2,h4,x1,x2,x3,x4,dmax)
Keluaran Model Data Pengukuran

Tidak
difikasi Parameter Kesalahan
Minimum

Mo
Ya
Parameter Fix

Validasi Model

Keluaran Model Data Pengukuran

difikasi Struktur Tidak


Kesalahan
Model Minimum

Mo Ya
Aplikasi Model

dan a4 = Masing-masing koefisien limpasan tangki tingkat I, tingkat II, tingkat


III, dan tingkat IV
= Koefisien aliran permukaan
= Masing-masing tinggi ambang limpasan tangki tingkat I dan tingkat II
,x4, = Masing-masing tinggi kandungan air tanah tangki tingkat I, tingkat II,
a1,a2,a3, tingkat III, dan tingkat IV.
= Tinggi kandungan air maximum
b
ha1, ha2
x1,x2,x3 Gambar 7 Bagan Alir Pemodelan Runoff untuk Model Tangki

dmax
23

Masalah Pengelolaan Sumberdaya Air

Faktor utama krisis air adalah perilaku manusia untuk mencukupi kebutuhan
hidup yaitu perubahan tata guna lahan untuk keperluan mencari nafkah dan tempat
tinggal (Kodoatie dan Roestam, 2005). Kerusakan lingkungan yang secara implisit
menambah lajunya krisis air semakin dipercepat oleh pertumbuhan penduduk yang
tinggi, baik secara alamiah maupun migrasi. Bencana banjir, longsor dan
kekeringan yang merupakan bukti degradasi lingkungan dari waktu ke waktu
cenderung meningkat. Fenomena otonomi daerah yang terkadang kurang
dipandang sebagai suatu kesatuan kerja antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota
berakibat pada kurangnya koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air yang pada
hakekatnya mempercepat terjadinya krisis air di banyak wilayah.
Masalah dalam pengelolaan sumberdaya air (Kodoatie dan Roestam, 2005)
ya itu;
1) Keterbatasan dana. Krisis ekonomi yang menyebabkan dana untuk
pembangunan berkurang, dana untuk pengelolaan sumberdaya air berkurang.
Pemeliharaan berkurang, sistem infrastruktur keairan juga mengalami
penurunan baik kuantitas dan kualitas. Penundaan pemeliharaan menyebabkan
biaya pemeliharaaan meningkat karena sifat dinamis dari air, dan
2) Koordinasi. Karena ego sektoral, ego kepentingan mau menang sendiri maka
koordinasi masih lemah hanya sebatas wacana. Struktur pendanaan APBN dan
APBD juga menyebabkan sektoral dominan dibandingkan konsep
keterpaduan.
3) Masalah alamiah sumberdaya alam. Disamping masalah tersebut yang masih
terus berlangsung hingga sekarang tetapi juga harus disadari bahwa dari sisi
siklus hidrologi dan sisi wilayah, air mengalir dari daerah atas ke bawah
melalui berbagai situasi dan kondisi yang ada. Pada hakekatnya air tidak
dibatasi oleh ruang dan waktu namun dibatasi oleh daerah aliran sungai (DAS)
sehingga akan memiliki dampak seperti:
a. Air dimanfaatkan untuk berbagai keperluan
b. Perubahan tataguna lahan berpengaruh terhadap ketersediaan dan
kebutuhan air. Sebagai contoh ketika suatu kawasan hutan berubah menjadi
pemukiman maka kebutuhan air meningkat karena dipakai untuk penduduk
dipemukiman tersebut namun ketersediaan air berkurang karena daerah
resapan air berkurang.
c. Ketika lahan berubah maka terjadi peningkatan debit aliran permukaan.
Akibatnya di sebelah hilir mendapatkan debit yang berlebih dan dampaknya
terjadi banjir. Ketika lahan berubah maka kapasitas resapan hilang sehingga
bencana kekeringan meningkat dimusim kemarau.
d. Ketika debit meningkat, aliran sungai dengan debit yang besar akan
membawa sedimen yang besar pula sehingga di terminal akhir perjalanan
air di sungai yaitu di muara terjadi pendangkalan. Akibatnya di laut terjadi
abrasi di lokasi itu yang mempengaruhi longshore transport sediment di
pantai.
24

Isu-Isu Strategis Nasional Terkait Pengelolaan


Sumber Daya Air di DAS Konaweha

Berdasarkan dokumen Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai


Lasolo-Konaweha (BWS Sulawesi IV, 2012), terdapat isu-isu strategis nasional
terkait pengelolaan sumber daya air yang sedikit banyak juga berpengaruh di DAS
Konaweha di antaranya adalah isu sebagai berikut:

a. Millenium Development Goals (MDGs)


MDGs merupakan inisiatif pencapaian tujuan pembangunan milennium di
Indonesi a yang harus tercapai pada tahun 2015. Pembangunan millenium adalah
aksi yan g terkandung dalam Deklarasi millenium yang diadopsi oleh 189 negara.
Tujuan d ari MDGs tersebut antara lain adalah mengurangi angka kemiskinan dan
kelapara n, meningkatkan kualitas kesehatan dan mortalitas, serta terciptanya
kelestari an lingkungan dengan mengintegrasikan prinsip pembangunan
berkelan jutan ke dalam kebijakan dan program negara. Dalam target penyediaan air
minum untuk tingkat nasional cakupan pelayanan air perpipaan untuk daerah
perkotaa n adalah 69% sedang pedesaan 54%. Dan untuk pelayanan non perpipaan
terlindungi targetnya adalah 25% perkotaan dan 26% pedesaan (sumber: MDGs
Indonesia). Target MDGs di Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2015 adalah
sebesar 74 %, sementara yang sudah tercapai saat ini sekitar 59%. Sebagai
gambaran, pembangunan Bendungan Pelosika direncanakan sebagai upaya untuk
dapat memenuhi target penyediaan air minum tersebut di WS Lasolo-Konaweha.

b. Ketahanan Pangan
Undang -Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan mendefinisikan keamanan
pangan sebagai kondisi pemenuhan kebutuhan pokok pangan untuk setiap rumah
tangga yang dicerminkan oleh ketersediaan pangan yang cukup dalam jumlah,
mutu, am an, merata, dan terjangkau. Penyediaan air baku kebutuhan beras nasional
untuk 223 juta penduduk per tahun adalah sebesar 31,1 juta ton. Sedangkan
kemampuan produksi beras nasional saat ini adalah 65,1 juta ton dari 68 juta ton
target nasional. Provinsi Sulawesi Tenggara menyumbang 407,367 ton atau 0,063%
dari total produksi beras nasional.

c. Perubahan Iklim Global (Global Climate Change)


Menurut IPCC (2001) dalam dekade terakhir ini pertumbuhan CO2 meningkat dari
1.400 ju ta ton/tahun menjadi 2.900 juta ton/tahun, dan dalam 100 tahun terakhir
suhu bu mi terlihat mulai ditentukan oleh peningkatan CO2 di atmosfer. Hal ini yang
mengaki batkan perubahan iklim secara global yang ditandai dengan peningkatan
suhu, pe rubahan pola, dan distribusi hujan yang tidak menentu. Salah satu upaya
untuk m engurangi perubahan iklim global di WS Lasolo-Konaweha adalah dengan
meningk atkan daya dukung DAS kritis dengan upaya konservasi dalam program
GNKPA (Gerakan Nasional Komite Penyelamatan Air).
25

d. Ketahanan Energi
Produksi Energi Listrik Nasional saat ini adalah 150.000 GWh, dan Listrik yang
dibangkitkan dari tenaga air di Indonesia diperkirakan sebesar 75,67 GW. Sedang
kapasitas terpasang baru 4.200 MW (5,5%). Untuk Propinsi Sulawesi Tenggara,
saat ini masih sekitar 25 % penggunaan tenaga listrik rumah tangga yang belum
terlayani akses PLN, sedangkan kebutuhan akan listrik terus meningkat. Maka
potensi sumber daya air yang tersedia harus dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan tenaga listrik, khususnya kota Kendari dan sekitarnya.

Isu Strategis Lokal Terkait Pengelolaan


Sumber Daya Air di DAS Konaweha

Berdasarkan dokumen Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai


Lasolo-Konaweha (BWS Sulawesi IV, 2012), terdapat beberapa isu strategis lokal
yang terjadi terkait sumber daya air WS Lasolo-Konaweha, antara lain adalah
sebagai berikut :

a. Degradasi Lingkungan
Degradasi lingkungan hidup yang terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara ditandai
dengan banyaknya perambahan hutan lindung dan penambangan liar. Sebagai
contoh berdasarkan data yang diperoleh bahwa dari Tahun 2004 sampai dengan
Tahun 2008 luas hutan lindung yang berubah seluas 237.982 Ha. Hal ini yang
mengakibatkan erosi, longsor, dan penurunan kualitas udara di Propinsi Sulawesi
Tenggara menjadi meningkat.

b. Bencana Banjir dan Kekeringan


Pe rubahan iklim secara global mengakibatkan perubahan pola dan distribusi hujan
di berbagai daerah, termasuk di Propinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini yang
m enyebabkan intensitas debit banjir meningkat setiap tahunnya, tetapi sebaliknya
pa da musim kemarau beberapa daerah dilanda kekeringan. Pada musim kemarau
ter jadi kekeringan yang melanda daerah konaweha hulu, seperti di Daerah Irigasi
As olu, Daerah Irigasi Alosika, Daerah Irigasi Amonggedo, Daerah Irigasi Ladongi,
Da erah Irigasi Loea, Daerah Irigasi Simbune dan disekitarnya. Sementara pada
m usim hujan terjadi banjir di sepanjang aliran sungai Konaweha; mulai dari daerah
De sa Anggotoa lama sampai pertemuan dengan sungai Lahumbuti, dari jembatan
Po hara hingga sampai muara. Banjir di Sungai Lahumbuti juga menggenangi
sebagian area Daerah Irigasi Wawotobi.

c. Kualitas Air
Penurunan kualitas air akibat pencemaran yang meningkat di Provinsi Sulawesi
Tenggara diakibatkan dari degradasi lingkungan dan pemakaian pupuk pestisida,
pupuk kimia, dan tata ruang pemukiman yang tidak teratur di sepanjang DAS
Sungai Konaweha. Berdasarkan evaluasi kualitas air terhadap Peraturan Pemerintah
Nomor 82 Tahun 2001, terdapat beberapa parameter yang tidak memenuhi baku
mutu di Sungai Konaweha antara lain :
26

1) BOD, hasil pengukuran : 4 – 5 mg/L, semua hasil pengukuran (100 % data)


tidak
d memenuhi baku mutu air kelas 1 karena disyaratkan sebesar 2 mg/L,
3an juga tidak memenuhi baku mutu kelas 2 , karena disayaratkan sebesar
2) mg/L.
COD,
d hasil pengukuran : 30 – 45 mg/L, semua hasil pengukuran (100 %
mata) tidak memenuhi baku mutu air kelas 1 karena disyaratkan sebesar 10
sg/L, dan juga tidak memenuhi baku mutu kelas 2, karena disyaratkan
3) ebesar 25 mg/L.
p terlarut, hasil pengukuran : 0,29 – 1,9 mg/L, 66 % data hasil
Besi
engukuran
s tidak memenuhi baku mutu air kelas 1, karena disyaratkan
ebesar 0,30 mg/L.
Beberap
dan kelua penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian yang telah dilaksanakan
aran yang dihasilkan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4
Penelitian, judul dan hasil penelitian terkait novelty
No
1. SyPeneliti Judul Hasil Penelitian
(20aukat Model Pengelolaan Meneliti keberadaan air tanah dan air permukaan
04) Air Tanah dan Air secara terintegratif, conjunctive water. Diperoleh 3
Permukaan di driven faktor skenario kebijakan yang harus
Wilayah Jakarta dilakukan yaitu; meningkatkan investasi dalam
Pendekatan system infrastruktur perpipaan; meningkatnya permintaan
dengan terhadap air dan memperhatikan nilai bunga investasi.
menggunakan tools
2. An GAMS Software
(20sofino Peranan Kebijakan Hasil penelitian menunjukan bahwa permintaan air di
05) Penentuan Harga Air wilayah perkotaan lebih besar dari pada
Bagi Pemanfaatan penawarannya dan telah mengalami decreasing
Sumberdaya Air ke return to scale. Faktor yang sangat menentukan
arah Berkelanjutan permintaan (demand) air di wilayah penelitian adalah
dengan Fokus Studi jumlah penduduk pada tahun sekarang (2.6%), jumlah
Wilayah Jakarta penduduk pada periode dua tahun lalu (4.4%), jumlah
sumur bor (3.5%), jumlah pelanggan rumahtangga
(final demand) (2.2%), dan nilai rumah pada tahun
sebelumnya (1.13%). Faktor (input) yang
mempengaruhi penawaran air kepada penduduk di
wilayah DKI Jakarta adalah: harga marginal pada
tahun sebelumnya, pengambilan air sungai waktu
sekarang dan satu tahun sebelumnya, jumlah
karyawan teknis, nilai pajak perolehan air yang harus
dibayar ke hulu, jumlah pengambilan air tanah, dan
3. Asi luas lahan kritis di wilayah DAS Citarum.
h (2006) Kajian Aspek-Aspek Aspek yang mempengaruhi kontinuitas penyediaan
yang mempengaruhi air bersih individual adalah jumlah pemakaian air
Penyediaan Air bersih, pola pemakaian air bersih dan ketersediaan air
Bersih Secara bersih. Untuk menjaga pemanfaatan penyediaan air
Individual di bersih secara individual perlu adanya pengendalian
Kawasan Kaplingan agar pemanfaatan air tanah dapat dikurangi serta agar
Kota Blora penyediaan air bersih secara individual tidak
4. Ka diterapkan dengan bebas di kawasan yang lain.
(2 to et al. Water Quality Metodologi perencanaan pengelolaan daerah aliran
003) Forecast Model of sungai (DAS) untuk pengelolaan sumber daya air
Cidanau Watershed, yang berkelanjutan dapat digunakan System
27

Tabel 4. Lanjutan
No Peneliti Judul Hasil Penelitian
Indonesia, for Dynamics Model dan Metode Unit Kandungan
Watershed Polutan (Unit Pollutant Load Method) untuk
Management menganalisis, memprediksi dan membuat skenario
Planning. Sustainable simulasi perkembangan penggunaan lahan pertanian
Agriculture in Rural dan pertumbuhan penduduk terhadap kandungan
Indonesia. polutan (kualitas) air. Data time series lahan dan
pertumbuhan penduduk selama 10 tahun, sedangkan
data kualitas air selama 4 tahun. Penggambaran
distribusi dan tata ruang perkembangan kandungan
polutan digunakan GIS. Sub variabel penggunaan
lahan pertanian adalah luas lahan padi sawah,
perkebunan, tanah kering dan hutan, pertumbuhan
penduduk dengan jumlah penduduk dan kualitas air
dengan kandungan nitrogen dan fosfat dan kuantitas
air dengan rasio curah hujan dan aliran permukaan.
. Hanafi Model Kebijakan Merekayasa model dan menganalisis kebijakan
5 (2005) Daerah Dalam privatisasi air bersih yang berkembang di Batu
Privatisasi Air Bersih berbasis simulasi. Memahami implikasi kebijakan
manajemen air bersih publik versus privat dalam
pemenuhan kebutuhan air bersih dan pendapatan
daerah. Merumuskan peran pemda dalam kebijakan
privatisasi air bersih. Merekayasa kebijakan
privatisasi air bersih yang bermanfaat untuk
mmasyarakat, pemda dan privat. (Disertasi Program
Studi PSL IPB, Tahun 2005)
. Ramdan Pengelolaan Sumber Menganalisis ketersediaan dan kebutuhan air minum
6 (2006) Air Minum Lintas di kawasan gunung Ciremai dan potensi konflik
Wilayah Di Kawasan dalam pemanfaatan air minum lintas wilayah antara
Gunung Ciremai Kabupaten Kuningan dengan Kota Cirebon.
Propinsi Jawa Barat Menganalisis mekanisme alokasi air minum lintas
wilayah di kawasan gunung Ciremai. Menganalisis
kelembagaan dalam pengelolaan sumber air minum di
kawasan Gunung Ciremai. Mengestimasi nilai
kompensasi konservasi dari pengguna air minum
rumah tangga untuk melestarikan sumber air minum
di kawasan Gunung Ciremai. (Disertasi Program
Studi PSL IPB, Tahun 2006)
. La Baco Analisis Alternatif Ketersediaan sumberdaya air menurun sementara
7 (2012) Penggunaan Lahan kebutuhan air meningkat dari tahun ke tahun. Defisit
Untuk Menjamin air di DAS Konaweha akan terjadi pada periode tahun
Ketersediaan Air Di 2026-2030 dengan nilai defisit sekitar 0,9 m3/detik,
DAS Konaweha sedangkan defisit air periode 2046-2050 adalah 17,9
Provinsi Sulawesi m3/detik. Proporsi luas hutan minimal yang harus
Tenggara dipertahankan untuk menjamin keberlanjutan
sumberdaya air di DAS Konaweha adalah 32,5-37,5
% dari luas DAS Konaweha Hulu. Kebijakan
penggunaan lahan eksisting di DAS Konaweha hanya
bisa menjamin keberlanjutan sumberdaya air hingga
periode 2026-2030. Komposisi penggunaan lahan
utama yang terdiri dari 40 % hutan, 46 % perkebunan,
5 % kebun campuran, 4 % semak belukar dan 5 %
penggunaan lahan lainnya merupakan penggunaan
lahan terbaik untuk menjamin keberlanjutan
sumberdaya air di DAS Konaweha. (Disertasi
Program Studi Pengelolaan DAS IPB, Tahun 2012)
28

3 METODE PENELITIAN

Waktu dan Lokasi Penelitian

Pe nelitian ini dilaksanakan selama 1 (satu) tahun mulai bulan Maret 2012
sampai pada bulan Februari 2013, dan berlokasi di Kabupaten Konawe Provinsi
Sulawes i Tenggara. Luas Kabupaten Konawe adalah 666.652 ha atau 17,48 persen
dari lua s wilayah daratan Sulawesi Tenggara yang terdiri dari 30 daerah
administ rasi Kecamatan. Ibukota Kabupaten Konawe adalah Unaaha, dimana
lokasiny a berjarak sekitar 73 km dari Kota Kendari. Secara geografis Kabupaten
Konawe terletak di bagian selatan khatulistiwa, melintang dari utara ke selatan
antara 0 2o45’ dan 04o15’ lintang selatan, membujur dari barat ke timur antara
121o15’ dan 123 30’ bujur timur. Peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 8.
o

Gambar 8 Lokasi Penelitian di Kabupaten Konawe


29

Jenis dan Metode Pengumpulan Data

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan
sekunder. Data primer dikumpulkan melalui survey lapang, diskusi, pengisian
kuesioner dan wawancara langsung di lokasi penelitian untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya. Besarnya sampel yang akan diambil bergantung pada
adanya kesesuaian kriteria yang telah ditetapkan pada daerah tersebut dan
ditentukan secara purposive sampling berdasarkan informasi dari pemerintah
daerah atau masyarakat setempat. Sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui
penelusuran pustaka dengan cara mencari referensi dari berbagai sumber seperti;
hasil penelitian terdahulu, studi pustaka, peta, laporan dan dokumen yang ada di
berbagai instansi terkait sesuai obyek yang diteliti.
Data penunjang penelitian yang akan dikumpulkan dalam Penelitian ini
disajikan di bawah ini:

a. Data Biofisik
Pengumpulan data biofisik diarahkan untuk mendapatkan informasi mengenai
ke adaan umum Kabupaten Konawe yang masuk dalam lokasi penelitian. Data
tersebut mencakup :
ata hidrologi, meliputi :
D
 Data curah hujan (harian, bulanan, tahunan) (PUSAIR Bandung).
 Debit curah hujan (harian, bulanan, tahunan) (PUSAIR Bandung).
 Studi yang terkait dengan air bersih (Puslitbang Sumber Daya Air dan
PDAM Kab. Konawe).
 Data Lingkungan yaitu data atau informasi lingkungan yang sudah ada di
wilayah studi.
 Data RUTR/RTRW Kabupaten Konawe dan kebijakan serta peraturan
pemerintah daerah yang berlaku.

ata peta, meliputi :


D
 Peta Daerah Aliran Sungai (Bappeda Prov. Sultra Skala 1 : 250.000)
 Peta Geologi (Bakosurtanal Skala 1 : 250.000)
 Peta Penggunaan Lahan (Kementerian Kehutanan RI Skala 1 : 250.000)
 Peta Administratif Kabupatan (Bappeda Kab. Konawe Skala 1 : 250.000)
 Peta Kepadatan Penduduk (Bappeda Kab. Konawe Skala 1 : 250.000).

Data Sosial Ekonomi


b.  Data Primer; Data ini diperoleh melalui wawancara mendalam (indepth
interview), knowledge judgement dan konsultasi.
 Data Sekunder; Data ini dikumpulkan secara desk study dari berbagai
sumber, antara lain: Badan Pusat Statistik Kab. Konawe (Kab. dalam angka
dan Kec. dalam angka), dinas/instansi terkait di Kab. Konawe, Puslitbang
Sumber Daya Air, Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian, serta publikasi
ilmiah seperti buku, jurnal, tesis, dan disertasi yang telah dilakukan
sebelumnya.
30

Tahapan Penelitian

Tahapan dan metode analisis pengelolaan sumber daya alam untuk


penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Tahapan dan metode analisis pengelolaan sumber daya alam untuk
penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten

Tujuan Khusus Jenis Bentuk Data Sumber Data Metode Output yang
Data Analisis diharapkan
1. Analisis Primer Konsultasi Pengukuran in Tank Diketahuinya
ketersediaan air pakar, situ dan Model potensi
baku di Data series Laboratorium, ketersediaan air
Kabupaten pengukuran, Dinas/Instansi baku di
Konawe Pengamatan Terkait, Kabupaten
dan Publikasi Konawe
Wawancara (laporan/
Sekunder Laporan dari jurnal)
Dinas/Instansi
terkait
2. Status Primer Hasil Responden MDS, Menghasilkan
keberlanjutan wawancara dan terpilih dari Monte status
pengelolaan penyebaran Dinas/Instansi Carlo keberlanjutan
sumber daya kuesioner terkait dan pengelolaan
alam untuk Sekunder Laporan dari Pakar sumberdaya alam
penyediaan air Dinas/Instansi untuk penyediaan
baku terkait air baku di Kab.
berkelanjutan di Konawe
Kab. Konawe
3. Strategi Primer Hasil Responden MDS, Didapatkan
pengelolaan wawancara dan terpilih dari Analisis strategi
sumber daya penyebaran Dinas/Instansi Prospektif pengembangan
alam untuk kuesioner terkait dan pengelolaan
penyediaan air Pakar sumberdaya alam
baku Sekunder Desk study, Dinas/Instansi untuk penyediaan
berkelanjutan di Laporan dari Terkait, air baku
Kabupaten Dinas/Instansi Publikasi berkelanjutan di
Konawe terkait, UU, (laporan/ Kab. Konawe
PP, RPJMD, jurnal)
Renstra SKPD,
RPIJM SKPD
4. Analisis Primer Hasil Responden ISM Menghasilkan
kelembagaan wawancara dan terpilih dari strategi
pengelolaan penyebaran Dinas/Instansi kelembagaan
sumber daya kuesioner terkait dan dalam pengelolaan
alam untuk Sekunder Laporan dari Pakar sumberdaya alam
penyediaan air Dinas/Instansi untuk penyediaan
baku terkait air baku
berkelanjutan di berkelanjutan di
Kab. Konawe Kab. Konawe
31

Metode Pemilihan Responden

Pemilihan responden disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan jumlah


ponden
res yang akan diambil yaitu responden yang dianggap dapat mewakili dan
memahami
m permasalahan yang diteliti. Penentuan responden dilakukan dengan
seenggunakan metode Expert Survey. Responden dari kalangan pakar dipilih secara
sengaja (Purposive Sampling) dimana responden yang dipilih memiliki kepakaran
yasuai dengan bidang yang dikaji. Beberapa pertimbangan dalam menentukan pakar
ng
a akan dijadikan responden, menggunakan kriteria seperti berikut:
b. Mempunyai pengalaman yang kompeten sesuai dengan bidang yang dikaji.
. Memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dalam kompetensinya dengan bidang
c yang dikaji.
. Memiliki kredibilitas yang tinggi, bersedia, dan atau berada pada lokasi yang
dikaji.

Analisis Data

ut Ta Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan 4 (empat) tahapan


alaama, yaitu : (1) Analisis potensi ketersediaan air baku dengan tools analisis Model
anngki
su (Tank Model), (2) Analisis status keberlanjutan pengelolaan sumber daya
dem untuk penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten dengan metode
kealisis Multi Dimensional Scalling (MDS), (3) Analisis strategi pengelolaan
bember daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten
Mngan kombinasi analisis MDS dan analisis Prospektif, dan (4) Analisis
kelembagaan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
berkelanjutan di tingkat kabupaten dengan metode analisis Interpretative Structural
odelling (ISM) untuk memperoleh mekanisme kerjasama antar pemangku
pentingan dalam pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
rkelanjutan di Kabupaten Konawe.

D Analisis Potensi Ketersediaan Air Baku


ya
ali Model tangki menggambarkan proses-proses limpasan yang terjadi pada
limAS yang kemudian dibentuk dalam suatu persamaan matematis. Proses limpasan
ng terjadi dimulai dari proses hujan, infiltrasi, serta perkolasi, hingga terbentuk
pe ran antara yang pada akhirnya terbentuk aliran dasar. Akumulasi dari semua jenis
ke pasan tersebut merupakan debit sungai pada suatu DAS.
m Kajian ini dilakukan untuk melihat potensi ketersediaan air baku dan
dilrubahan lahan yang terjadi di DAS Konaweha serta pengaruhnya terhadap
yaseimbangan air. Karakteristik biofisik lahan dianalisis secara deskriptif dan untuk
Uelihat perubahan yang terjadi pada pemanfaatan lahan di DAS Konaweha
keakukan dengan perbandingan peta tata guna lahan untuk dua tahun yang berbeda
beitu tahun 2009 dan tahun 2011 (tata guna lahan terakhir di Sub DAS Konaweha).
ntuk melihat variabel-variabel hidrologi yang berpengaruh terhadap
seimbangan air di Sub DAS Konaweha dilakukan tahapan analisis sebagai
rikut :
32

Analisis Curah Hujan


Data curah hujan dikumpulkan dari stasiun penangkar hujan yang ada di DAS
Konaweha. Curah hujan dianggap satu-satunya masukan di dalam sistem, sehingga
tidak ada masukan dari DAS sekitarnya. Curah hujan wilayah dihitung dengan
menggunakan metode "Poligon Thiessen". Metode poligon Thiessen ini akan
memberikan hasil yang lebih teliti daripada cara aritmatik, akan tetapi penentuan
stasiun pengamatan dan pemilihan ketingggian akan mempengaruhi ketelitian hasil.
Metodeini termasuk memadai untuk menentukan curah hujan suatu wilayah, tetapi
hasil yang baik akan ditentukan oleh sejauh mana penempatan stasiun pengamatan
hujan mampu mewakili daerah pengamatan. Curah hujan wilayah dengan metode
poligon Thiessen dihitung menggunakan persamaan:

P = ∑ Wi x Pi......................................................................... ( 1 )
Dimana :
P = curah hujan wilayah (mm)
Pi = curah hujan pada stasiun ke-i (mm)
Wi = faktor pembobot stasiun ke-i ; = (Ai/∑Ai)
Ai = luas poligon ke-i
∑Ai = jumlah luas poligon
i =1,2,3,...,n
n = jumlah stasiun penakar hujan

Cu rah hujan yang digunakan sebagai input dari model tangki adalah rata-rata
curah h ujan yang jatuh pada masing-masing tata guna lahan di setiap sub DAS.
Dengan menggunakan program ArcGis dapat dilakukan digitasi peta tata guna
lahan, p eta Poligon Thiessen dan peta batas sub DAS sehingga diperoleh proporsi
atau rata-rata curah hujan yang diterima oleh masing-masing komponen sistem tata
guna lahan untuk masing-masing sub DAS pada DAS Konaweha.

Analisis Evapotranspirasi
Evapotranspirasi merupakan gabungan antara proses evaporasi dan
transpirasi (Asdak, 2007). Wilson (1993) mengatakan bahwa dalam kondisi
lapangan, secara praktis tidak mungkin membedakan antara evaporasi dan
transpirasi jika tanah ini ditutupi oleh vegetasi. Kedua kelompok ini biasanya
dikelompokkan bersama dan disebut evapotranspirasi.
Evapotranspirasi adalah konversi air dari fase cair ke fase gas yang diuapkan
ke atmosfer, yang meliputi: 1) Penguapan air dari permukaan tanah dan permukaan
air bebas (evaporasi), 2) Penguapan air yang berasal dari tanah, yang dihisap oleh
tumbuhan, setelah melalui jaringan tumbuhan diuapkan melalui stomata dan
kutikula (transpirasi), dan 3) Penguapan air yang tertahan oleh permukaan vegetasi
(intersepsi) dan serasah sebelum air hujan jatuh mencapai permukaan tanah
(Wilson, 1993; Seyhan, 1990).
Besarnya nilai evapotranspirasi untuk suatu daerah pernaman dipengaruhi
oleh iklim setempat seperti temperature, kecepatan angin, radiasi matahari dan
kelembaban udara. Proses transpirasi selain ditentukan oleh iklim, juga dipengaruhi
33

oleh jenis tanaman. Evaporasi dari permukaan tanah ditentukan oleh jenis, sifat dan
tingkat kelembaban tanah.
Evapotranspirasi dapat diukur secara langsung dengan menggunakan alat
ya ng disebut “lysimeter”, dengan cara pendugaan berdasarkan evaporasi panci dan
de ngan
( menggunakan formula empiris berdasarkan data iklim yang tersedia
emWilson, 1993). Cara menentukan evapotranspirasi dengan pendekatan formula
ev piris adalah untuk menentukan besarnya evapotranspirasi referensi atau
de apotranspirasi acuan (ETo). Laju evapotranspirasi actual (ETc) ditentukan
ngan menggunakan Persamaan 2 (Doorenbos dan Pruitt, 1977).
Di E ETc = ETo x Kc . ……………………………………......…( 2 )
Kc mana :
ETc = evapotranspirasi tanaman (mm/hari)
= koefisien tanaman
To = evapotranspirasi acuan (mm/hari)
pa
tu Evapotranspirasi acuan (ETo) didefinisikan sebagai laju evapotranspirasi
pada areal yang luas, tertutup seluruhnya oleh rumput setinggi 8-15 cm, dalam
mbuh dan tidak pernah kekurangan air. Koefisien tanaman nilainya tergantung
beda jenis dan tingkat pertumbuhan tanaman (Doorenbos dan Pruitt, 1977).
3) Untuk menduga besarnya ETo dapat dilakukan dengan menggunakan
peberapa persamaan empiris, yaitu : 1) Metode Blaney-Criddle, 2) Metode Radiasi,
iklMetode Penman dan 4) Metode Panci Evaporasi. Pemilihan penggunaan
parsamaan empiris untuk menduga besarnya ETo didasrkan pada kelengkapan data
im yang tersedia serta tingkat ketelitian yang dikehendaki. Data yang dibutuhkan
da masing-masing metode tersebut tertera pada Tabel 6.
Tabel 6 Data Iklim yang dibutuhkan untuk Menghitung Evapotranspirasi
Masing-Masing Metode Empiris (Doorenbos dan Pruitt, 1977)
Blaney- Panci
Data Iklim Radiasi Penman
S Criddle Evaporasi
Kuhu udara * * * -
Kelembaban udara o o * o
L ecepatan angin o o * o
Rama penyinaran o * * -
E adiasi - (*) (*) -
Lvaporasi - - - *
Keingkungan o o o *
terangan : * = Data yang diukur
(*) = Digunakan bila tersedia, tapi tidak penting
o = Data yang bisa diperkirakan
- = Tidak diperkirakan
A
nalisis Debit Sungai

ne Debit sungai merupakan hasil keluaran dari sub DAS pada suatu sistem
de raca air. Besarnya debit sungai itu sendiri merupakan jumlah antara limpasan
di ngan bagian curah hujan yang jatuh langsung diterima oleh permukaan sungai
adkurangi dengan evaporasi pada permukaan sungai. Data debit yang dianalisis
9) alah data debit harian outlet sub DAS Konaweha di Bendung Wawotobi (Gambar
.
34

Gambar 9 Bendung Wawotobi Sub DAS Konaweha

A nalisis debit sungai DAS Konaweha dilakukan dengan menggunakan model


tangki. M odel tangki untuk DAS Konaweha yang dimodifikasi terdiri dari satu unit
tangki p ada suatu sub DAS yang mewakili tata guna lahan di Kabupaten Konawe.
Model tangki dibentuk dengan persamaan-persamaan matematis yang
mengga mbarkan proses-proses limpasan yang terjadi pada DAS Konaweha. Proses
limpasa n yang terjadi dimulai dari proses hujan, infiltrasi, serta perkolasi hingga
terbentu k aliran antara yang pada akhirnya terbentuk aliran dasar. Akumulasi dari
semua j enis limpasan tersebut merupakan debit sungai pada suatu DAS. Skema
tangki u ntuk tata guna lahan di Kabupaten Konawe pada sub DAS Konaweha
disajikan pada Gambar 10.
Sub DAS CH ETc
Konaweha
dmax b

z1
A
x2
a2 Discharge
z2 ha2

Outlet Bendung x3
z3 a3
Wawotobi
gan : x4
Sub DAS Konaweha a4
Keteran
A = TGLambar 10 Skema Model Tangki untuk TGL di Sub DAS Konaweha

G tiap satu unit tangki terdiri dari empat buah tangki yang disusun secara
(seri). Tangki paling atas mempresentasikan neraca air pada daerah
Sen. Aliran limpasan adalah penjumlahan limpasan dari tiga tangki teratas.
vertikal paling bawah mempresentasikan aliran dasar. Prosedur pendugaan debit
perakarailakukan dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel
Tangki njutnya dilakukan Kalibrasi dan Uji Keabsahan Model.
sungai d
dan sela
35

Pembentukan Model Tangki


Model tangki yang dibentuk adalah empat buah tangki berhubungan yang
tersusun secara vertikal. Dalam model tangki ini, keluaran dari tangki pertama
menggambarkan limpasan permukaan, keluaran dari tangki kedua menggambarkan
aliran antara, dan keluaran dari tangki ketiga dan keempat menggambarkan aliran
dasar (base flow). Skema tangki untuk masing-masing TGL pada setiap Sub DAS
disajikan pada Gambar 11.
CH
inf

ET c a11
up0
xx1 a12
h11
h12
z1
up1
Q Debit Sungai
xx2
a2
z2 h2

up2
xx3
Keterangan:
xx : kandungan air tanah (mm)
z3 a3
h: tinggi lubang outlet tangki (mm)
a: koefisien lubang outlet tangki
up3 z: koefisien lubang tangki ke arah
xx4 bawah
t: waktu (hari)
a4

Gambar 11 Model tangki yang digunakan dalam penelitian ini

Pembuatan Program
mbuatan program dilakukan dengan menggunakan pemrograman komputer
tuk mengetahui total limpasan. Persamaan-persamaan matematik yang
a.erupakan penggambaran limpasan diubah kedalam bahasa pemrograman
Pemputer. Program yang dibuat digunakan untuk melakukan kalibrasi dan validasi
unodel menggunakan data yang ada. Program ini dibuat pada worksheet
menggunakan program Microsoft Office Excell 2007. Persamaan dasar untuk tangki
kortama adalah sebagai berikut;
m m(t) = xx (t-1) + CH – Et – z .xx (t-1) – [(xx (t) - h ) a + (xx (t) - h )a ] .. (1)
1 1 c 1 1 1 11 11 1 12 12
pe
rsamaan untuk tangki kedua adalah;
xx
2(t) = xx2(t - 1) - z2.xx2(t – 1) + z1.xx1 (t – 1) – [(xx2(t) – h2) a2] …….……… (2)
Pe
rsamaan untuk tangki ketiga adalah;
xx
3(t) = xx3(t – 1) – z3.xx3(t – 1) + z2.xx2 (t–1) – [(xx3(t)a3] ………………...… (3)
Pe
xx
36

dan persamaan untuk tangki keempat adalah;


xx4(t) = xx4(t – 1) – z3.xx3(t – 1) – [(xx4(t) a4] .….………..….……..................... (4)
sedangkan debit limpasan dari sungai (Q) dihitung dengan persamaan berikut ini;
Q(t) = [(xx1(t) - h11) a11 + (xx1(t) - h12) a12] + [(xx2(t) - h2) a2] + xx3 (t).a3
+ xx4(t).a4 ………………………………………………………………. (5)
Dimana:
xt : Tinggi kandungan air tanah (AT)
ha : Tinggi air tersimpan (tinggi lubang outlet)
Z : Koefisien lubang infiltrasi
a, b : Koefisien lubang outlet
CH : Kedalaman curah hujan
Etc : Evapotranspirasi aktual
t : waktu
i (hari)
: 1, 2,.., 4

b. Kalibrasi/Verifikasi Model
Kalibrasi model dilakukan dengan membandingkan debit model dengan debit
aktual arian.
h Kalibrasi dilakukan secara berulang-ulang dengan metode trial and
error rhadap
te parameter model sehingga diperoleh nilai debit model yang
mendek ati debit aktual dengan nilai koefisien determinasi lebih dari 0.8 yang berarti
bahwa hasil keluaran model tersebut telah menggambarkan kebenaran lebih dari
80% terhadap debit aktual.

c. Uji Keabsahan/Validasi Model


Validasi model dilakukan dengan melakukan simulasi pendugaan debit dengan
menggunakan model yang telah dikalibrasi menggunakan data curah hujan, data
debit dan data evapotranspirasi harian dalam proses verifikasi model. Tolok ukur
uji keabsahan model didasarkan pada dua hal berikut;
1) P enampilan hubungan antara debit model dengan debit aktual secara grafik
sehingga dapat ditentukan nili mutlak maksimum dan minimum dari data
yang diperoleh
2
2) Nilai koefisien determinasi (R ) dihitung dengan persaman berikut ini;

R2 = 1 – [ ∑ (yi – xi)2 / ∑ (yi – y)2 ] ..………………....……… (6)


Dimana:
yi = debit aktual ke-i
xi = debit model ke-i
y = rata-rata debit aktual
i = 1,2,3,…,n
37

Analisis Status Keberlanjutan

Status keberlanjutan pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih


berkelanjutan di Kabupaten Konawe dapat diketahui dengan menganalisis terhadap
beberapa dimensi yaitu dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi
teknologi dan dimensi kelembagaan. Untuk masing-masing dimensi tersebut telah
dievaluasi dan ditetapkan atribut-atribut penyusunnya.
Pada aspek ekologi kajian difokuskan pada pengembangan sumber air baku
un tuk penyediaan air bersih di Kabupaten Konawe. Pada aspek ekonomi kajian
dif okuskan untuk melihat tingkat kelayakan secara ekonomi (economic feasibility)
pe rusahaan air minum yang menggunakan Sub DAS Konaweha sebagai bahan
ba kunya, misalnya biaya produksi per meter kubik air minum. Pada aspek sosial
dif okuskan untuk melihat tingkat keadilan dan pemerataan dalam memperoleh
m anfaat dari sumberdaya DAS Konaweha sebagai sumber bahan baku air minum,
mi salnya motivasi dan kepedulian masyarakat terhadap upaya perbaikan
lin gkungan, rehabilitasi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber air baku di Sub
D ASm Konaweha. Pada aspek teknologi difokuskan untuk melihat sampai sejauh
D ana tingkat pelayanan air bersih perusahaan air minum yang menggunakan Sub
unAS Konaweha sebagai bahan bakunya. Pada aspek kelembagaan difokuskan
inituk melihat bagaimana kebijakan pengelolaan air baku yang diterapkan selama
di Kab. Konawe.
pe Dengan demikian, dari kelima aspek tersebut akan terlihat sejauh mana
ekngelolaan Sub DAS Konaweha sebagai sumber air baku berkelanjutan secara
Seologi tidak terjadi penurunan kualitas dan kuantitas terhadap sumberdaya airnya.
upcara ekonomi layak, dan secara sosial masyarakat memiliki kesadaran dalam
aya pelestarian DAS Konaweha.
( Analisis data dilakukan menggunakan metode “multi dimensional scalling”
MDS), dengan tiga tahapan sebagai berikut:
1.
Tahapan penentuan atribut pada setiap aspek yang dianalisis. Pada tahap ini
disusun atribut yang dapat menggambarkan kondisi setiap aspek yang dikaji.
Atribut disusun berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan yang
menyatakan bahwa pengelolaan suatu sumberdaya dikatakan berkelanjutan jika
secara ekologi tidak terjadi penurunan kualitas dan kuantitas sumberdaya yang
dimaksud, secara ekonomi layak dan menguntungkan, dan secara sosial
2. berkeadilan.
Tahapan penilaian setiap atribut dalam skala ordinal. Pada tahap ini, setiap
atribut yang telah disusun pada tahap satu selanjutnya diberi skor sesuai dengan
3. kondisi atribut yang bersangkutan berdasarkan skala ordinal.
Skala ordinal disusun berdasarkan ketersediaan sumber pustaka, hasil
penelitian terdahulu atau pendapat para pakar dalam bidang tersebut.

ter Pembuatan peringkat (skor) disusun berdasarkan urutan nilai terkecil ke nilai
nil besar baik secara kuantitatif maupun kualitatif dan bukan berdasarkan urutan
lahai dari yang terburuk ke nilai yang terbaik, misalnya: atribut Tingkat kekritisan
(1) an DAS disusun skala ordinalnya; (0) Tidak terdegradasi (tidak kritis) (<10%),
atr Potensial kritis (10-25%), (2) Kritis (25-50%), (3) Sangat kritis (>50%). Pada
ibut ini skor nol merupakan skor terbaik dan skor tiga merupakan skor terburuk.
38

At ribut untuk menggambarkan kondisi Pemanfaatan lahan terhadap kualitas


air baku di DAS Konaweha disusun dengan skala: (0) rendah dan kualitas air
terjaga, (1) sedang dan tidak berpengaruh pada kualitas air, (2) tinggi dan kualitas
air menu run, maka skor nol merupakan skor terbaik dan skor dua merupakan skor
terburuk.
Na mun pada atribut untuk menggambarkan kondisi kualitas air badan sungai
DAS Ko naweha disusun dengan skala: (0) sangat jelek, (1) jelek, (2) agak baik, (3)
baik, m aka skor tiga merupakan skor terbaik dan skor nol merupakan skor terburuk.
Skor ser upa juga berlaku untuk atribut kuantitas air baku di Kabupaten Konawe
disusun skala ordinalnya; (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi, (3) sangat tinggi, maka
skor tiga merupakan skor terbaik dan skor nol merupakan skor terburuk.
Atribut serupa juga disusun untuk menggambarkan kondisi aspek ekonomi
sosial, eknologi
t dan kelembagaan. Dengan analisis leverage attribut, dapat di
gambarkan secara rinci atribut-atribut kritis dan sensitive pada pengelolaan air
baku untuk penyediaan air bersih berkelanjutan di Kabupaten Konawe.

Analisis Atribut Kritis


Pada tahap selanjutnya, dilakukan analisis sensitivitas untuk melihat atribut
apa yang paling sensitif memberikan kontribusi terhadap indeks keberlanjutan
pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih berkelanjutan di Kabupaten
Konawe. Pengaruh dari setiap atribut dilihat dalam bentuk perubahan “root mean
square”(RMS) ordinasi (Alder et al. 2000). Semakin besar nilai perubahan RMS
akibat hilangnya suatu atribut tertentu maka semakin besar pula peranan atribut
tersebutdalam pembentukan nilai indeks keberlanjutan pengelolaan air baku untuk
penyediaan air bersih berkelanjutan di Kabupaten Konawe pada skala
sustainabilitas, atau dengan kata lain semakin sensitif atribut tersebut dalam
menentukan tingkat keberlanjutan pengelolaan sistem yang dikaji.
Untuk mengevaluasi pengaruh galat (error) acak pada proses pendugaan nilai
ordinasipengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih berkelanjutan di
Kabupaten Konawe digunakan analisis “Monte Carlo”. Menurut Kavanagh (2001)
dalam Fauzi dan Anna (2002) analisis “Monte Carlo” juga berguna untuk
mempelajari hal-hal berikut ini.
1. Pengaruh kesalahan pembuatan skor atribut yang disebabkan oleh
2. pemahaman kondisi lokasi penelitian yang belum sempurna atau kesalahan
pemahaman terhadap atribut atau cara pembuatan skor atribut.
3. Pengaruh variasi pemberian skor akibat perbedaan opini atau penilaian oleh
peneliti yang berbeda.
4. Stabilitas proses analisis MDS yang berulang-ulang (iterasi).
5. Kesalahan pemasukan data atau adanya data yang hilang (missing data).
6. Tingginya nilai ”stress” hasil analisis keberlanjutan, (nilai “stress” dapat
iterima
d jika < 25%).

Secara skematis tahapan analisis pada setiap atribut kritis terkait dengan
keberlanjutan pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih berkelanjutan di
Kabupaten Konawe disajikan pada Gambar 12.
39

Mulai

Kondisi Sub DAS Konaweha Penentuan Atribut Sebagai


Pada Saat Ini Kriteria Penilaian

Analisis Atribut
(Leverage Attribut)

Analisis Monte Carlo Analisis Sensitivitas

Analisis Prospektif

Gambar 12 Tahapan Analisis pada Atribut Kritis Sub DAS Konaweha

Analisis Prospektif dalam Penentuan Strategi Pengelolaan Air Baku

Untuk memperoleh keputusan yang efektif dalam penentuan strategi


ngelolaan
pe K air baku untuk penyediaan air bersih berkelanjutan di Kabupaten
monawe
ke selanjutnya dianalisis dengan analisis Prospektif. Analisis prospektif
alaerupakan salah satu analisis yang banyak digunakan untuk merumuskan alternatif
efibijakan berupa skenario strategis yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya
unm, industri atau pun masalah lainnya untuk mencapai kondisi yang efektif dan
sesien pada masa mendatang. Analisis prospektif dapat digunakan sebagai alat
dituk
m mengeksplorasi dan mengantisipasi perubahan melalui skenario. Dapat juga
solbagai alat normatif yang merupakan pendekatan berorientasi tindakan yang
pemulai dari visi terpilih mengenai masa depan dan menentukan jalur untuk
altencapainya. Dengan demikian, analisis prospektif tidak berfokus pada optimasi
usi, tetapi pada penyediaan berbagai macam pilihan dan tujuan bagi para
admbuat keputusan dan turut merancang serangkaian alternatif ketimbang memilih
1.ernatif terbaik (Bourgeois, 2004).
Menurut Hartrisari (2002), tahapan dalam melakukan analisis prospektif
alah sebagai berikut :
Menentukan faktor kunci untuk masa depan dari sistem yang dikaji, pada tahap
ini dilakukan identifikasi seluruh faktor kunci dengan menggunakan kriteria
faktor variabel, kemudian dilakukan analisis untuk melihat pengaruh faktor
terhadap kinerja sistem dan ketergantungan antar faktor sebagai elemen-elemen
2. dalam sistem. Untuk melihat pengaruh langsung antar faktor dalam sistem yang
dilakukan pada tahap pertama analisis prospektif digunakan matriks,
sebagaimana dideskripsikan pada Tabel 7.
Menentukan tujuan strategis dan kepentingan pelaku utama.
40

3. Mendefinisikan dan mendeskripsikan evolusi kemungkinan masa depan, pada


tahapan ini dilakukan identifikasi bagaimana elemen kunci dapat berubah
dengan menentukan keadaan (state) pada setiap faktor, memeriksa perubahan
manayang dapat terjadi bersamaan dan menggambarkan skenario dengan
memasangkan perubahan yang akan terjadi dengan cara mendiskusikan skenario
dan implikasinya terhadap sistem.

Tabel 7 Matriks Pengaruh dan Ketergantungan Faktor dalam Sistem


Pengelolaan Air Baku untuk Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan

Dari
Total
Terhadap A B C D E F G H I J
Pengaruh

A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
Sumber Bourgeois
: (2004).
Keterangan : A – J = faktor penting dalam sistem

Tabel 8 Pedoman Penilaian Pengelolaan Air Baku Berkelanjutan


Skor Keterangan
0 Tidak ada pengaruh
1 Berpengaruh kecil
2 Berpengaruh sedang
3 Berpengaruh sangat kuat

Pedoman pengisian :
1. Faktor yang tidak ada pengaruhnya terhadap faktor lain, jika tidak ada pengaruh
beri nilai 0.
2. Jika ada pengaruh, selanjutnya dilihat apakah pengaruhnya sangat kuat, jika ya
beri nilai 3.
3. Jika ada pengaruh baru dilihat apakah pengaruhnya kecil = 1, atau berpengaruh
sedang = 2.
Untuk menentukan faktor kunci digunakan software analisis Prospektif
yang akan memperlihatkan tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor di
dalam sistem secara detail tampilan hasil disajikan pada Gambar 14.
41

I II
Faktor Penentu Faktor Penghubung
INPUT STAKE

Pengaruh
IV III
Faktor Bebas Faktor Terikat
UNUSED OUTPUT

Ketergantungan

Gambar 13 Tingkat Pengaruh dan Ketergantungan Antar Faktor dalam Sistem

Lebih lanjut, Bourgeois (2004) menyatakan bahwa terdapat 2 tipe sebaran


variabel variabel dalam grafik pengaruh dan ketergantungan yaitu :
1. Tipe sebaran yang cenderung mengumpul pada diagonal kuadran lV ke kuadran
ll. Tipe ini rnenunjukkan bahwa sistem yang dibangun tidak stabil karena
sebagian besar variabel-variabel yang dihasilkan termasuk variabel marginal
atau laverage variable. Hal ini menyulitkan dalam membangun skenario
strategis untuk masa mendatang.
2. Tipe sebaran variabel yang mengumpul di kuadran I ke kuadran lll sebagai
indikasi bahwa sistem yang dibangun stabil karena memperlihatkan hubungan
yang kuat dimana variabel penggerak mengatur variabel output dengan kuat.
Selain itu, dengan tipe ini maka skenario strategis bisa dibangun lebih mudah
dan efisien.
Pengembangan Model Kelembagaan

Pengembangan model kelembagaan pengelola sumberdaya air berkelanjutan


di dasarkan atas hasil analisis kelembagaan dengan menggunakan metoda ISM
(Interpretative Structural Modelling) yang dikembangkan oleh Saxena (1992)
dalam Eriyatno (1999). Data pada teknis ISM adalah kumpulan pendapat dari pakar
panelis sewaktu menjawab tentang keterkaitan antar elemen. Pengembangan model
kelembagaan ini bertujuan untuk membangun alternatif institusi pengelola
sumberdaya air berkelanjutan yang tepat, sesuai karakteristik daerah,
perkembangan masyarakat dan peraturan yang berlaku.
Permodelan Interpretasi Struktural menganalisis elemen-elemen sistem dan
memecahkannya dalam bentuk grafik dari hubungan langsung antar elemen dan
tingkat hirarki. Elemen-elemen dapat merupakan tujuan kebijakan, target oragisasi,
faktor-faktor penilaian dan lain-lain. Hubungan langsung dapat dalam konteks-
konteks yang beragam (Marimin, 2008).
Menurut Saxena (1992) dalam Marimin (2004) menyebutkan bahwa terdapat
sembilan elemen yang dapat dianalisa dengan pendekatan ISM yaitu (1) sektor
masyarakat yang terpengaruh, (2) kebutuhan dari program, (3) kendala utama
42

program , (4) perubahan yang diinginkan, (5) tujuan dari program, (6) tolok ukur
untuk m enilai setiap tujuan, (7) aktifitas yang dibutuhkan guna perencanaan
tindakan , (8) ukuran aktifitas guna mengevaluasi hasil yang dicapai setiap aktifitas,
dan (9) lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program. Dalam melakukan
analisis kelembagaan elemen-elemen yang akan digunakan adalah elemen yang
yang do minan yang dikonsultasikan dengan pakar. Pakar dalam hal ini adalah yang
memilik i: a) pengetahuan tentang sumberdaya air, b) pengetahuan tentang model
dinamik, c) skill, dan d) sikap (etika dan moral - attitude).
Secara diagramatik langkah-langkah dalam ISM disajikan pada diagram alir
berikut ini.
Mental Process Penentuan Elemen dan Sub Elemen
n Output
Tujuan daajian Studi Pustaka, Diskusi, Brain dari Sistem dan Jenis Hubungan
dari K Storming, Survey Pakar Kontekstual
Expert Survey/
Kuesioner

Penentuan Tingkat Hubungan


Kontekstual Antar Elemen/Sub Elemen

Stuctured Self Interaction Matrix


X (SSIM)

Ya
Reachability Matrix
RM Transformasi SSIM ke Reachability
(RM)
ansitive? Matrix (RM)

Tr

Tidak Stuctured Self Interaction Matrix


Modifikasi SSIM (SSIM) Revised

14 Tahapan Pada Teknik Permodelan Interpretasi Struktural


(Interpretative Structural Modelling)
Gambar
enurut Eriyatno (1999) dan Kholil (2005), analisis terhadap model
gaan ini pada dasarnya untuk menyusun hirarki setiap sub elemen pad
M yang dikaji, dan kemudian membuat klasifikasi kedalam 4 sektor, untuk
kelemba kan sub elemen mana yang termasuk ke dalam variabel Autonomous
elemen 1), Dependent (Sektor 2), Linkage (Sektor 3) atau Independent (Sektor 4).
menentumasing sektor digambarkan sebagai berikut :
(Sektor
Masing-
43

Gambar 15 Matriks driver power-dependence dalam analisis ISM (Marimin,


2004)

 Sektor I : weak driver-weak dependent variables (Autonomous) yang berarti


bahwa sub elemen yang masuk dalam sektor ini umumnya tidak berkaitan
dengan sistem dan mungkin mempunyai hubungan yang sedikit meskipun
hubungannya bisa kuat.
 Sektor II : weak driver-strongly dependent variables (Dependent) yang
berarti bahwa sub elemen pada sektor ini adalah sub elemen yang tidak
bebas.
 Sektor III : strong driver - strongly dependent variables (Linkage) yang
berarti sub elemen yang masuk sektor ini harus dikaji secara hati-hati karena
hubungan antara subelemen tidak stabil.
 Sektor IV : strong driver - weak dependent variables (Independent) yang
berarti bahwa sub elemen yang masuk dalam sektor ini merupakan bagian
sisa dari sistem yang disebut dengan peubah bebas.

Diagram alir analisa kelembagaan dengan metode ISM disajikan pada Gambar 16.
44

Mulai

Input analisis kelembagaan (konsultasi ke pakar):


(1) kendala utama, (2) kebutuhan dari program,
(3), lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan
program.

Analisis kelembagaan pengelolaan air baku


berdasarkan elemen-elemen yang dikaji
dengan metode ISM

Tidak
OK ?

Ya

Output:
Hirarki sub elemen untuk setiap elemen yang dikaji dan
klasifikasi sub elemen pada setiap elemen

Selesai

ambar 16 Diagram alir analisa kelembagaan dengan metode ISM


G
45

4 KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

Kondisi Geografis dan Luas Wilayah


Secara geografis Kabupaten Konawe terletak di bagian selatan khatulistiwa
de ngan posisi koordinat sekitar 02°45΄ hingga 04°15΄ Lintang Selatan dan 121°15΄
hingga 123°30΄ Bujur Timur. Kabupaten Konawe berada di daratan Pulau Sulawesi.
Luas wilayah daratan sekitar 6.666,52 Km² atau 24,24 persen dari luas wilayah
daratan Sulawesi Tenggara. Wilayah Kabupaten Konawe meliputi 30 Wilayah
Kecamatan yang terdiri atas 338 desa/kelurahan.
Karakteristik wilayah Kabupaten Konawe yang bergunung dan berbukit dan
diapit daratan rendah sangat potensial untuk pengembangan sektor pertanian.
Beberapa sungai besar yang berada di wilayah Kabupaten Konawe, yaitu sungai
Konaweha dan sungai Lahumbuti, sangat potensial dimanfaatkan untuk
pengembangan pertanian, irigasi, pembangkit tenaga listrik dan budidaya ikan air
tawar. Sungai Konaweeha memiliki debit air ± 200 M³ dan telah dibangun
bendungan air Wawotobi yang dimanfaatkan untuk mengairi ± 18.000 hektar
sawah. Selain Sungai-sungai besar tersebut, terdapat pula rawa Aopa yang sangat
potensial untuk mengembangkan perikanan darat.
Keadaan iklim Kabupaten Konawe pada umumnya hampir sama dengan
wi layah lain di Sulawesi yang mempunyai dua musim yaitu musim hujan dan
m usim kemarau dengan suhu udara berkisar 20°C - 33°C. Musim hujan terbanyak
terjadi pada bulan Desember dan Maret, pada bulan-bulan tersebut angin barat yang
bertiup dari Asia dan Samudra Pasifik mengandung banyak uap air. Sedang musim
kemarau terjadi mulai bulan Mei sampai bulan Oktober, pada bulan-bulan ini angin
timur yang bertiup dari Australia kurang mengandung uap air.

Topografi
Kondisi topografi yang terdapat pada lokasi penelitian pada umumnya
didominasi oleh topografi berbukit dan bergunung yang diapit dataran rendah yang
sangat potensial untuk pengembangan sektor pertanian. Berdasarkan garis
ketinggian menurut hasil penelitian pada areal seluas 1.556.160 ha, wilayah
Kabupaten Konawe dapat dibedakan atas 5 kelas. Untuk lebih rincinya dapat dilihat
pada Tabel 9.

Tabel 9 Luas Daratan Menurut Ketinggian di Atas Permukaan Air Laut


(Kab. Konawe dalam Angka Tahun 2013)
Tinggi di Atas Luas Daratan Persentase
Permukaan Laut (dpl) (ha) (%)
0 – 25 492.022 8,11
25 – 100 312.861 31,62
100 – 500 126.157 39,38
500 – 1000 212.620 13,66
>1000 112.500 7,23
Jumlah 1.556.160 100,00

.
46

Batas administrasi wilayah Kabupaten Konawe disajikan pada Gambar 17.

w o~
;c
~z §
~ ~~
0
:,:
z
w
I-
!::,
§
-
.G~~
~1l]
]
Hi~~
~
~
. ~
;;
~
,:l
~
. . . 'i . i
& '§ E
e
~ 5~§ i
f o=
/!.f o=
~

Ii
CD
<(
:,:
cii
z<iii( . DD
J <?!
2
bl i110
.l'
j! DDIJD
<(
O!'. ~2
I-
iCf)
z 1
Cl
<( .n
-i!H
~w g £<7i8
a.
g

3
;II"

""C -8
OJ ~

""C
(I)
:::i.

:::::s
Di'
:::::s
~: OJ
a. 0
0 co
0 0
3 ~
O"'
(1)
....c::::s
:a-
0
"O
0
"O
c:
....0 :::s
:::s
"O
0
. . . -·· ·-··-··-

....
a:0
c:
0
CL
:::s 0
c0
.c:...

8

-.
)>
3
0
(C
0 :::::t
0
?'" o
C""
JOOCltdl
c-.
Q) Gambar 17 Peta Administrasi Kabupaten Konawe
c
:::J
<
CD
-.
en
r+
'<
47

Kondisi topografi pada lokasi penelitian didominasi oleh kelerengan dari 3-


15 % dengan luas sekitar 507.496 ha atau 32,61% dari total wilayah. Untuk lebih
rincinya dapat dilihat pada Tabel 10 berikut ini;

Tabel 10 Kondisi Topografi Kabupaten Konawe (Kab. Konawe dalam


Angka Tahun 2006)
Kelas Lereng Kemiringan Luas Persen
(%) ( o) (ha) (%)
0–2 0,0 – 1,8 474.897 30.52
3 – 15 1,8 – 13,5 507.496 32,61
16 – 40 13,5 – 36,0 425.310 27,33
>40 36,0 – 90,0 148.460 9,54
Jumlah 1.556.163 100

Kondisi Iklim

Seperti daerah-daerah lain di Indonesia, di Kabupaten Konawe dikenal dua


usim yaitu musim Kemarau dan musim Penghujan. Keadaan musim banyak
mpengaruhi oleh arus angin yang bertiup diatas wilayahnya. Pada bulan Nopember
dimpai sampai dengan Maret, angin banyak mengandung uap air yang berasal dari
sanua Asia dan samudera Pasifik, setelah sebelumnya melewati beberapa lautan.
beda bulan-bulan tersebut terjadi musim Penghujan. Sekitar bulan April, arus angin
Palalu tidak menentu dengan curah hujan kadang-kadang kurang dan
sedang-kadang lebih. Musim ini oleh para pelaut setempat dikenal dengan musim
kancaroba. Sedangkan pada bulan Mei sampai dengan Agustus, angin bertiup dari
Paah Timur yang berasal dari benua Australia kurang mengandung uap air. Hal ini
arengakibatkan minimnya curah hujan di daerah ini. Pada bulan Agustus sampai
mngan Oktober terjadi musim kemarau. Sebagai akibat perubahan kondisi alam
deng sering tidak menentu, keadaan musim juga sering menyimpang dari
yabiasaan.
ke
urah Hujan
C
Curah hujan di Kabupaten Konawe tahun 2010 mencapai 3.285 mm dalam
2 hari hujan atau lebih tinggi dari tahun 2009 dengan curah hujan 1.166 mm
16lam 87 hari hujan. Curah hujan di Kabupaten Konawe dapat dibagi atas tiga
dagian yaitu :
ba Pola curah hujan tahunan antara 0 – 1.500 mm terdapat di bagian selatan dan
a. sedikit di bagian tengah yang meliputi sebagian Kecamatan Unaaha.
Pola curah hujan tahunan antara 1.500 – 1.900 mm terdapat di bagian tengah dan
b. sedikit di bagian utara, meliputi Kecamatan Lambuya, Soropia, Sampara,
Wawotobi, dan Unaaha.
Pola curah hujan lebih dari 1.900 mm terdapat di bagian tengah yaitu di
camatan Unaaha. Untuk lebih rincinya distribusi curah hujan dalam kurun waktu
Keahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 11 dan Gambar 18 di bawah ini;
6t
48

Tabel 11 Rata-rata Curah Hujan dalam kurun waktu 7 tahun di Stasiun Abuki
Kabupaten Konawe (PUSAIR Bandung)

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013


No. Bulan CH CH CH CH CH CH CH
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
1 Januari 117 186 139 139 123 266 93
2 Februari 146 90 209 220 197 153 48
3 Maret 260 200 237 312 236 0 109
4 April 169 247 60 170 206 0 79
5 Mei 112 314 144 314 233 123 165
6 Juni 235 239 65 785 106 263 145
7 Juli 148 112 0 188 220 269 674
8 A gustus 121 121 108 290 36 75 39
9 September 6 169 15 118 50 43 28
10 Oktober 24 164 0 432 10 11 38
11 November 173 242 10 153 123 63 101
12 Desember 90 228 179 164 192 128 94
Ju mlah 1601 2312 1166 3285 1732 1394 1612
Rata-rata 133.42 192.67 97.17 273.75 144.33 116.17 134.30

Gambar 18 Diagram Rata-rata Curah Hujan di Kabupaten Konawe dari tahun


2006 - 2013 pada Stasiun Abuki Kab. Konawe (Pusair Bandung)
49

Suhu Udara
Suhu Udara dipengaruhi oleh berbagai faktor. Perbedaan ketinggian dari
pe rmukaan laut mengakibatkan perbedaan suhu untuk masing-masing tempat
da lam suatu wilayah. Secara keseluruhan, Kabupaten Konawe merupakan daerah
bersuhu tropis. Menurut data yang diperoleh dari Pangkalan
o
Udara Haluoleo
Ke ndari, selama tahun 2010 suhu udara maksimum 33,8 C dan minimum 15,4 oC
o o
atau dengan rata-rata 32,8 C dan 19,1 C. Tekanan udara rata-rata 1.009,0 milibar
dengan kelembaban udara rata-rata 87,2 persen. Kecepatan angin pada umumnya
rjalan normal yaitu disekitar 3,58 M/det.
be

Hidrogeologi

Pembahasan kondisi hidrogeologi (perilaku air tanah ditinjau dari sudut


ologi) di kabupaten Konawe ini, bersumber dari hasil penelitian lapangan yang
gekompilasikan dengan laporan penyelidikan hidrogeologi Kabupaten Kendari oleh
direktorat Jenderal Geologi Tata Lingkungan.
Di
ilayah Air Tanah
W
Penyebaran dan cara keterdapatan air tanah di kabupaten Konawe
pengaruhi oleh keadaan topografi, jenis batuan, porositas batuan, rekahan/celah
dituan, struktur geologi dan faktor curah hujan. Berdasarkan faktor-faktor tersebut,
baaka sistem wilayah air tanah di kabupaten Konawe dapat dibagi menjadi 2
mtegori wilayah, yaitu :
ka Berdasarkan Komposisi Batuan dan Kelulusannya, terdiri atas :
a. 1) Aluvium
Kelulusan sedang hingga tinggi pada material kasar. Kelulusan rendah
hingga sangat rendah pada material lempungan. Meliputi daerah dibagian
timur kabupaten Konawe yaitu di sekitar pantai timur dan di sekitar daerah
aliran sungai seperti S. Konaweeha, S. Sampara dan S. Lahumbuti.
2) Konglomerat dan Batupasir lepas hingga setengah padu
Kelulusan umumnya rendah hingga sedang. Meliputi daerah di kecamatan
Abuki dan Routa.
3) Batugamping Terumbu
Kelulusan rendah – sedang, tergantung pada banyaknya rekahan. Meliputi
daerah di bagian tenggara wilayah Kabupaten Konawe tepatnya di
Kecamatan Sampara, Bondoala dan Soropia.
4) Konglomerat, batupasir dan batulempung
Kelulusan rendah hingga sedang. Meliputi daerah di bagian tenggara daerah
penelitian yaitu di Kecamatan Bondoala, Meluhu, Amonggedo,
Wonggeduku, Besulutu dan sebagian Pondidaha.
5) Pualam batugamping meta dan batuan metamorf
Kelulusan umumnya rendah hingga sangat rendah. Meliputi daerah di
bagian barat wilayah Kabupaten Konawe tepatnya di Kecamatan Tongauna,
Abuki dan Latoma.
6) Komplek Ultramafik
Kelulusan umumnya rendah hingga sangat rendah. Meliputi daerah di
bagian utara dan timur laut daerah Kabupaten Konawe tepatnya di Routa.
50

b. Berdasarkan Keterdapatan Air Tanah dan Produktivitas Akuifer, terdiri atas :


1) Akuifer dengan aliran melalui ruang antar butir
 Akuifer dengan produktifitas sedang, penyebaran luas.
Akuifer dengan keterusan sedang, muka air tanah bebas beragam antara
0,2 sampai 6 m di bawah permukaan tanah, debit sumur umumnya
kurang dari 5 ltr/detik. Meliputi daerah di sekitar daerah aliran sungai
dan di sekitar muara sungai seperti S. Lahumbuti dan S. Sampara
tepatnya di kecamatan Unaaha, Wawotobi, Wonggeduku, Tongauna,
Uepai, Meluhu, Sampara dan Pondidaha.
 Setempat akuifer produktif
Akuifer tidak menerus, tipis dan rendah keterusannya, muka air tanah
umumnya dangkal, debit sumur kurang dari 5 ltr/dtk. Meliputi daerah di
sekitar daerah aliran S. Konaweeha tepatnya di kecamatan Abuki,
Latoma, Lambuya, dan Wonggeduku.
2) Akuifer dengan aliran melalui celahan, rekahan dan saluran
 Akuifer dengan produktifitas sedang
Aliran air tanah terbatas pada zona celahan, rekahan dan saluran
pelarutan, debit sumur diperkirakan kurang dari 5 liter/det. Meliputi
daerah yang tersusun oleh litologi batugamping dan batugamping
terumbu seperti di kecamatan Soropia.
3) A kuifer (bercelah atau sarang), produktifitas kecil
 Akuifer dengan produktifitas kecil, setempat berarti
Umumnya keterusan sangat rendah, setempat air tanah dangkal dalam
jumlah terbatas dapat diperoleh pada zona pelapukan batuan padu.
Meliputi daerah yang tersusun oleh batuan sarang atau batuan berpori,
baik oleh pori-pori primer atau pori-pori sekunder seperti batugamping
dan batuan sedimen klastik.
 Daerah air tanah langka atau tak berarti, meliputi daerah di hampir
seluruh wilayah kabupaten Konawe yang tersusun oleh batuan kristalin
seperti batuan beku dan batuan metamorf yang sifatnya tidak lulus air.

Penyebaran Air Tanah


Penyebaran air tanah di kabupaten Konawe secara umum dapat
dikelompokkan atas : wilayah air tanah pantai, wilayah air tanah cekungan, wilayah
air tanahperbukitan dan wilayah air tanah antar perbukitan.
a. Wilayah Air Tanah Pantai
Wilayah ini menempati daerah sekitar utara, serta sekitar pantai timur
kabupaten Konawe. Wilayah ini berada pada ketinggian tidak lebih dari 25
o
meter di atas permukaan laut dengan kemiringan relatif datar, yaitu sekitar 0
– 3o. Air tanah bebas di wilayah ini umumnya tidak lebih dari 7 meter di bawah
permukaan, kecuali di beberapa tempat di daerah ini (sebagian Soropia), telah
terjadi penyusupan air laut. Penyusupan air laut bervariasi, tergantung dari
batuan penyusun, struktur, topografi dan luas daerah rawa, di daerah ini
penyusupan berkisar 1 km dari garis pantai. Kedudukan muka air tanah bebas
berkisar 1 – 5 meter di bawah permukaan tanah, di daerah inipun banyak
dijumpai mata air (springs).
51

b. Wilayah Air Tanah Cekungan


Penyebaran wilayah air tanah ini, berada pada bagian selatan daerah penelitian
dengan ketinggian tidak lebih dari 25 meter di atas permukaan laut, dengan
bentuk medan hampir datar. Di daerah penyelidikan, wilayah air tanah
cekungan berupa tanah persawahan, ladang, di beberapa tempat membentuk
rawa. Kedudukan muka air tanah bebas di wilayah air tanah ini berkisar antara
1 – 2,5 m di bawah permukaan tanah. Penyebaran wilayah air tanah cekungan
ini dapat dijumpai di daerah Lambuya, Puriala, Wawotobi, Unaaha, Anggaberi
dan Tongauna.
c. Wilayah Air Tanah Perbukitan
Wilayah air tanah ini tersebar luas di daerah penyelidikan, yaitu di bagian utara
di kecamatan Routa. Di bagian selatan meliputi daerah di kecamatan Lambuya,
Pondidaha. Wilayah air tanah ini berada pada ketinggian 25 – 400 meter di atas
permukaan laut, dengan bentang alam perbukitan. Sungai-sungai yang mengalir
di daerah ini umumnya merupakan hulu-hulu sungai yang alirannya mengarah
ke wilayah air tanah pantai dan cekungan. Permukaan air tanah bebas di wilayah
ini bervariasi sesuai dengan litologi dan topografinya, antara 5 – 15 meter di
bawah permukaan tanah, namun di beberapa tempat banyak dijumpai mata air,
meskipun dalam debit yang kecil.
d. Wilayah Air Tanah Antar Perbukitan
Wilayah air tanah antar perbukitan banyak dijumpai di daerah penelitian,
meskipun hanya pada daerah-daerah sempit, yang meliputi daerah kecamatan
Pondidaha dan Soropia.

Pemanfaatan Air Tanah


Sumberdaya air tanah yang ada di daerah penelitian baik air tanah bebas, air
pe rmukaan maupun air tanah dalam, secara umum telah dimanfaatkan. Air
permukaan berupa sungai telah dimanfaatkan untuk bendungan dan atau pengairan
bagi persawahan di sekitar kota Unaaha yaitu bendung Wawotobi yang dilakukan
dengan membendung aliran air sungai Konaweha. Selain itu, sungai Sampara juga
telah dimanfaatkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk memenuhi
kebutuhan air bersih di Kota Kendari dan sekitarnya. Sedangkan Sungai
Solomeronda dimanfaatkan oleh PDAM Kab. Konawe untuk kebutuhan air minum
dikota Unaaha dan sekitarnya. Air tanah bebas sejauh ini hanya dipergunakan oleh
masyarakat umum untuk keperluan sehari-hari, sedangkan air tanah dalam
dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan dan kantor serta sarana umum lainnya
melalui sumur bor.

Jenis Tanah
Adapun jenis tanah Kabupaten Konawe meliputi tanah Latosol dengan luas
36 3.380 ha atau 23,35 persen, tanah Podzolik dengan luas 438.110 ha atau 28,15
persen, tanah Organosol seluas 73.316 ha atau 4,71 persen, tanah Mediteran seluas
52.888 ha atau 3,39 persen, tanah Aluvial seluas 74.708 ha atau 4,80 persen, dan
tanah Campuran seluas 553.838 ha atau 35,59 persen. Jenis tanah pada Kabupaten
Konawe disajikan pada Gambar 19 dan Tabel 12.

.
52

:i::
<(
z
~
~
.,w z<.o{
~w
c.

....
"C

3
8
~

;II"

""C

-....
OJ
::::s
f/1
;:;
c...:.
""C
(I)
::i.

::::s
Di'
::::s
~: OJ
a. 0
0 co
0 0
3 8
f
..:::!,.
O"'
(1)
....c::::s I
i
:a-
0
"O
0
"O
c:
....0 :::s
:::s
"O
0

....
a:
0
c:
0
:::s
c0 -, .f~
.c:... )>
3
0
(C
0 :::::t
0
?'" o
c
,-+ , :,

c "':>( 55 oo09w

c Gambar 19 Peta Jenis Tanah di Kabupaten Konawe


:::J
<
CD
-,
en
,-+
'<
53

Tabel 12 Jenis tanah pada Kabupaten Konawe (Peta Tanah Tinjau tahun 1967)

No. Jenis tanah Luas (ha) Persentase


1. Latosol 3(63.3) 80 (%
23).35
2. Podzolik 438.110 28.15
3. Organosol 73.316 4.71
4. Mediteran 52.808 3.39
5. Aluvial 74.708 4.80
6. Intisol 553.838 35.59
Jumlah 1.556.160 100

Hidrologi

Kabupaten Konawe mempunyai beberapa sungai besar yang cukup potensial


untuk pengembangan pertanian, irigasi dan pembangkit tenaga listrik seperti:
Sungai Lahumbuti dan Sungai Konaweha. Sungai Konaweha mempunyai debit air
± 200 m3 per detik. Dari sana telah dibangun Bendung Wawotobi yang mampu
mengairi sawah seluas ± 18.000 hektar. Selain sungai-sungai yang telah disebutkan
diatas terdapat pula Rawa Aopa yang sangat potensial untuk pengembangan usaha
perikanan darat. Salah satu fokus penelitian ini adalah Sub DAS Konaweha yang
merupakan sumber air baku PDAM Kabupaten Konawe.

1. Air Permukaan
Air permukaan adalah air yang muncul atau mengalir di permukaan,
seperti mata air, danau, sungai, dan rawa. Pada data air permukaan ini masing-
masing jenis sumber air tersebut hendaknya diikuti besaran atau debitnya
sehingga dapat terlihat potensi air permukaan secara umum. Khusus untuk
sungai, disajikan lengkap dengan Wilayah Sungai (WS) serta Daerah Aliran
Sungai (DAS) karena masing-masing WS umumnya mempunyai karakteristik
berbeda. Demikian juga dengan DAS yang diharapkan dapat memberikan
gambaran potensi sungai sampai orde yang terkecil.
Data sungai ini juga dilengkapi dengan pola aliran, arah aliran air permukaan
pada masing-masing DAS, dan kerapatan sungai yang secara tidak langsung
akan memperlihatkan aktivitas sungai tersebut baik pengaliran maupun
pengikisannya.

Daerah Aliran Sungai (DAS)


2.
Sungai adalah sistem pengaliran air mulai dari mata air sampai muara
dengan dibatasi pada kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis
sempadan. Daerah Pengaliran Sungai adalah suatu kesatuan wilayah tata air
yang terbentuk secara alamiah, dimana air meresap dan/atau mengalir melalui
sungai dan anak-anak sungai yang bersangkutan. Peta Daerah Aliran Sungai
Kabupaten Konawe disajikan pada Gambar 20.
54

""C

-....
OJ
::::,
C/1
;::;:
e
....
""C
Cl)
::i.
D)
::::,
~:
a.
Di'
::::,
0 OJ
0 0
3 (0
C" 0
(1)
:::s ~
.....
c: ·i
:a-
I
0
...
sc:
"O
:::s
i ., . . . ,., ;
;

.....
0
~)
.... J
,.
:::s io <
-g ~~ g
Ii
:,
(//
I
z

I
~
OJ
0
!:t.
a.00c cc
-,
:::s 0
c0 )> ~
.....
c: cc
3
0
0
~- p
o
z
iii~

0
:I"'
c i
~ . ·' ,,·" '~~.,·
!
',;

"'~ ~

c:::J Gambar 20 Peta Daerah Aliran Sungai Kabupaten Konawe



<
CD
-,
en

,-+
'<
55

Daerah Aliran Sungai yang melalui Kabupaten Konawe adalah Wilayah


Sungai Lasolo-Konaweha dengan sub wilayah sungai terdiri dari SWS
Konaweha dan SWS S. Lahumbuti. SWS Lasolo-Konaweha mempunyai 63 DPS
dengan jumlah total luas DPS 14.979,6 km2 dan total panjang sungainya 847,2
km.

3. Air Tanah
Air tanah terdiri atas air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah
dangkal adalah air tanah yang umum digunakan oleh masyarakat sebagai sumber
air bersih berupa sumur-sumur, sehingga untuk mengetahui potensi air tanah
bebas ini perlu diketahui kedalaman sumur-sumur penduduk dan kemudian
dikaitkan dengan sifat fisik tanah/batunya dalam kaitannya sebagai pembawa air.
Selain besarannya air tanah ini, perlu diketahui mutunya secara umum dan jika
memungkinkan hasil pengujian mutu air dari laboratorium. Sedangkan air tanah
dalam adalah air tanah yang memerlukan teknologi tambahan untuk
pengadaannya. Secara umum dapat diketahui dari kondisi geologinya yang
tentunya juga memerlukan pengamatan struktur geologi yang cermat.

Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di Kabupaten Kabupaten Konawe dibedakan menjadi:
an sawah, lahan untuk bangunan dan halaman sekitarnya, tegal/kebun/ladang/
lah
ma, padang rumput, tambak/kolam/empang, lahan untuk tanaman kayu-kayuan
hu
kyat, hutan negara, perkebunan, lahan yang sementara tidak diusahakan, rawa
ra
ng tidak ditanami dan lain sebagainya. Pada tahun 2010, luas wilayah di daratan
ya
bupaten Konawe adalah 679.245 hektar dengan presentase tertinggi digunakan
Ka
bagai hutan negara yaitu sekitar 50,79 persen atau sekitar 344.989 hektar,
se
dangkan untuk tanah sawah mencapai 42.114 hektar atau sekitar 6,20 persen.
se
ta selengkapnya disajikan pada Gambar 21.
Da

Sumber: BPS Kab. Konawe (2011)

Gambar 21 Persentase Luas Lahan Menurut Penggunaannya


56

Da ta pada Gambar 22 menunjukkan bahwa penggunaan lahan di Kabupaten


Konawe pada tahun 2010 didominasi oleh kawasan hutan yaitu hutan negara yakni
51 perse n. Kemudian menyusul perkebunan sekitar 9 persen. Selain itu penggunaan
lahan ju ga ditujukan untuk usaha-usaha ekonomi produktif seperti tegal atau kebun
5 persen, dan ladang 3 persen.

Kependudukan

Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 jumlah penduduk Kabupaten Konawe


sebanyak 241.982 jiwa, atau diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 6.057 jiwa
selama periode 2000-2010. Kenaikan yang relatif sedikit ini disebabkan oleh
pemekaran Kabupaten Konawe Selatan pada tahun 2002 dan pemekaran Kabupaten
KonaweUtara pada tahun 2007.
Berdasarkan data tersebut, laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Konawe
sebesar 1,93 persen per tahun, atau lebih rendah dari pertumbuhan penduduk dalam
dasawarsa 1990-2000 sekitar 2,47 persen; juga lebih rendah dibanding
pertumbuhan penduduk Sulawesi Tenggara dalam kurun waktu yang sama sebesar
2,31 persen. Data selengkapnya disajikan pada Gambar 22.

Gambar 22 Perkembangan Jumlah Penduduk Kab. Konawe Tahun 2000-2010

Secara umum kepadatan penduduk Kabupaten Konawe mengalami


peningkatan dari 35,0 jiwa per kilometer persegi tahun 2009 menjadi 35,6 jiwa pada
tahun 2010. Konsentrasi penduduk yang tidak merata masih merupakan ciri yang
paling m enonjol dari penduduk Kabupaten Konawe. Hal ini ditandai dengan
besarnyaperbedaan kepadatan antara kecamatan satu dengan yang lainnya.
Kecamatan Unaaha, Kecamatan Soropia, dan Kecamatan Lalonggasumeeto
merupakan wilayah dengan tingkat kepadatan jauh diatas rata-rata, masing-masing
200,5 jiwa, 179,4 jiwa, dan 106,9 jiwa per kilometer persegi. Sementara Kecamatan
Routa, Asinua, dan Latoma memiliki tingkat kepadatan masing-masing 3,1 jiwa,
6,1 jiwa per kilometer persegi dan 6,6 jiwa per kilometer persegi.

.
57

Tabel 13 Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2010


Pen-
ILuas Pendu-
Rum ah ducfu'.k
li<ecamatan Wilayah Pemfuduk du'k Pe~
,(Km") llm:!!11!!1-11 ~ Ruta
Km?

1_
m
Wa!N(]mJ Selatan
@
91_89
(3J
777
(4J
3 276
@
35.7
(6)
4.2
2_ Wa!N(]nii Barat 154,62 1 430 6410 41,5 4,5
3_ Wawonii Teng:;ih 82,5 598 2 990 36,2 5,0
4_ Wa!N(]nii Tengg:;ira 91_83 1 086 5304 57,8 4,9
5_ Wa!N(]nii Tiimur 73,93 681 2 814 38,1 4,1
6_ Wawonii Uram 204,56 1 249 5 007 24,8 4,1
7_ Wa!N(]nl Tururr Laul 73,92 781 3 003, 41,7 3,9
8_ Sornpia 43,22 1 767 7 7:53 179,4 4,4
9_
@ 10_
11_
Lalony,g;asumeeto
Sam.para
Boru::loala
43, 16
337,24
206,24
1 037
2 432
1 894
4 612
11700
8199
106,9
34,7
39,8
4,4
4,8
4,3
:::c 12. Besululu 174,85 1 555 6 7:59 38,7 4,3
D) 13.. Kapoi ala 206, 11 952 4 003 19,7 4,3
:,;- 14_ Lambuya 253,09 1 501 6 605 26,1 4,4
15- Llepai 222,62 2 654 11819 53,1 4,5
£?. 16_ Puriaala 236,85 1 640 7405 31,3 4,5
....
"O
D)
17_
18-
Onembute
Pond'.idaha
253
372,54
1 465
2 319
5 941
10437
23,5
28,0
4,1
4,5
19_ Wongg.eduk!u 346,6 4 308 19817 57,3 4,6
3 20_ Amo:ng:gedo, 172,85 2 229 9 282 53,7 4,2
21 WaJN(]kJbi 221,55 4 307 20177 91,1 4.7
:,;- 22. Melu'.hu 215,2 1 209 4 968 23,2 4,1
23_ Kon,a,we 185,6 1 579 8 03c5 43,3 5,1
""C 24_ Llnaaha 113,2 5 083 22694 200,5 4,5

-....
OJ
::::s
f/1
;:;
25_
26_
27_
28-
A~gia_beri
Abuki
La.toma
Tongauna
68,25
482,66
359, 11
482,7
1 281
3 357
541
3 399
6 100
14407
2 363
15451
90,1
29,8
6,6
32,0
4,8
4,3
4,4
4,5
c...:. 29_ Asin'UlaJ 403,28 613 2480 6,1 4,0
30_ Roula 620_28 400 1 892 3_1 4_7
""C .Jumlah 6792.45 64. 124 241982 35_6 4_5
(I)
:::i. Sumber: BPS Kab. Konawe, Sensus Penduduk Tahun 2010
D)
::::s
Di'
::::s
~:
a.
T
OJabel 14 Jumlah Penduduk dan Laju Penduduk di Kab. Konawe 1990,2000, 2010
0
0 (0
0 0 Laju
3 ..:::!.. Jumah Pern:ludu'k Parl!umtrn ban
O"'
(1)
per ta.hon (%)
....c::::s = 2000 2010 1990 2000
:a- 1990- 2000-
2010
0
"O
0
"O 1_ Wa 'MJJli i Sela.ran
(2} (3}
3095
{5J
3 276
(6) m
0_57
c::::s 2_ W'awonii Bara'! 10174 5673 6 410 -5.67 U!6
....0 3_ Wawonii Tengah 2900 2 990 0_31
:::s 4_ W'awonii Te.ngg;na 45182 5 340 1_6Ei
"O
0 5_ w·! iwonii Timur 10877 2891 2 814 -12.41 -0_27
6_ W'a'MJJlii U!ara 4880 5 067 0_36
7_ W'! iwonii Timur Laut 2984 3 083 0_34
8_ SorOJ)ia 8726 63il8 7 753 -3.15 2_04
9_ La'longgasumeeEo 3 777 4 612 2_01
10. Sam para 19775 9814 U 709 -6.77 1-i'8
11. Bondoala 6 '916 8 199 1-72
12. 5 '974 6 759 1_25
OJ 13.
Besulu.ru
Kapoi ala 39Ei7 4 063 0_26

.... 0 14. Lamtmya 17 670 4984 6 605 -11.89 2_75

a: cc 15.
16.
Uepai 9136
6114
U 819
7405
2_00
1_92
0
c: 0
-, 17. Puriaala
Onembute 4323 5941 2_10
0 18. 854B to 437 2_02
:::s 19. Ponc:liaaha ta 942 -11.17
1_76
c... )> 20. W'onggeduku 16 6Ei2
8362
19 817
9 282 1_04
.c: cc 21 Amcmooedo
W'!i'Mlto.'bi 23887 17 052 20 177 -3.31
1_67
22.
3 :::::t 23. Maluhu
4451 4 988 1-13
0
0 o 24. Konawe
6690
16 709
8 035
22 694
1_8Ei
2_97
0
?'"
c 25.
26.
Unaaha
Anggal:Jefi
17491
4 '913 6 150
-0.46
2_14
2_88
r+ 27. 1'9 584 10 845 14 407 -5.74
Abuki
c-, 28.
29.
Latorna
1 6Ei7
11 927
2 363
15 451
3_60
2_56
Ton;auna 1 613 2 480 4_26
Q) 30. As!nua 1 097 1 892 5_60
Rool:!i

c:::J Jumla'h
Sum'l:Jer ISm.1rr;e :
156 126 199 3Ei4 241 982
BPS Kab.Konawe, SeMu:s Pend.'u:d:u 2010/
2.47

Statistic of KofiBwe Regency , Popu/Btioo Census ZtJ1 tJ


1_93

Cami.an f tiol.e : - = Da!a bergabung dengan kecamatan indu'k

<
CD
-,
en
r+
'<
58

Kondisi Infrastruktur Permukiman

Kecenderungan perkembangan permukiman sangat dipengaruhi oleh hal-hal


sebagai berikut: 1). Aksesibilitas atau pencapaian lahan, 2). Pengelompokan
permukiman dengan aktivitas yang ada, dan 3). Batasan fisik dasar.
Berdasarkan pemanfaatan lahan kota, perkembangan dominan permukiman
mengarah pada kawasan yang mudah dijangkau oleh transportasi dan memiliki
aksesibilitas terhadap fasilitas-fasilitas pelayanan seperti perkantoran dan
perdagangan. Sehingga nampak bahwa perkembangan permukiman terjadi di
daerah pusat kota, sub pusat kota dan di sepanjang jalur jalan.
Perkembangan permukiman akibat pengelompokan dengan aktivitas,
mendorong terjadinya kawasan dengan fungsi campuran. Keadaan ini dapat kita
lihat pada kawasan pusat kota Unaaha yang berfungsi sebagai pusat perkantoran,
perdagangan dan jasa, serta pada kawasan kelurahan Wawotobi yang menjadi sub
pusat kota dengan fungsi perdagangan dan jasa dimana di sekitar kawasan tersebut
permukiman juga tumbuh dengan cepat.
Oleh karena kondisi fisik dasar kota Unaaha yang memiliki daerah dengan
topografi yang relatif datar serta tersedianya jaringan jalan yang luas ke berbagai
wilayahkota, maka di beberapa wilayah terjadi titik-titik pertumbuhan kota. Hal ini
dapat kita lihat di kelurahan Sendang Mulyasari, Wawonggole, Unaasi dan
Sanggona. Namun akibatnya adalah bahwa persebaran permukiman juga menjadi
sangat luas sehingga akan menimbulkan permasalahan pada pemenuhan prasarana
dasar seperti listrik dan air bersih.
Di daerah pusat kota dan sub pusat kota, kondisi kepadatan bangunan cukup
tinggi, drainase lingkungan yang hampir tidak ada serta semakin terbatasnya lahan
resapan dari air limbah. Hal ini menyebabkan seringkali terjadinya genangan di
lingkungan permukiman padat pada saat terjadi hujan. Adapun peta permukiman
Kab. Konawe seperti yang terlihat pada Gambar 23.

Gambar 23 Peta Permukiman Kabupaten Konawe


59

Kondisi Infrastruktur Air Bersih Kabupaten Konawe

Air merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan manusia sehari-hari, maka


pe menuhan kebutuhan air bersih mutlak diperlukan. Pada dasarnya setiap rumah
harus disediakan air minum yang cukup dan memenuhi persyaratan. Berkenaan
dengan itu, air yang akan digunakan untuk air minum, selayaknya mendapatkan
rekomendasi dari PDAM atau instansi yag berwenang.
Untuk menentukan banyaknya kebutuhan air bersih suatu lingkungan
pe rmukiman terdapat ketentuan bahwa besarnya debit air untuk orang dalam satu
hari adalah sebesar 150 liter (LPMB, 1970). Untuk penggunaan sumber air bersih
dari sumur gali, sesuai dengan pedoman teknik pembangunan rumah sederhana,
jarak aman antara sumur dengan septic tank adalah minimal 10 m, sedangkan jarak
aman dengan beerput adalah minimal 15 meter.
Kebutuhan air bersih masyarakat kota Unaaha diperoleh melalui PDAM,
sumur gali, dan sumur dalam (artesis). Secara umum, masyarakat kota Unaaha
m enggunakan sumur gali dalam pemenuhan air bersih. Untuk pelayanan air bersih,
PDAM kota Unaaha memiliki intake yang berasal dari sungai Konaweha dengan
kapasitas I adalah 10 liter/detik dan kapasitas II sebesar 20 liter/detik. Sehingga
pasitas keseluruhan adalah 30 liter/detik atau 2.592.000 liter/hari.
ka

Tabel 15 Jumlah Produksi dan Pelanggan PDAM Kab. Konawe Tahun 2010
Banyaknya Volume air
Nilai Penjualan
Jenis Penggunaan Pelanggan disalurkan
(Rp)
(Unit) (m3)
mah tempat tinggal 1.574 122.980 680.552.848
mpat peribadatan 35 2.995 17.615.961
Ru
ko, perusahaan industri 21 3.457 33.373.716
Te
mum 2 24 600.914
Tostansi Pemerintah 48 8.898 42.429.664
U In
mlah 2010 1.681 138.354 774.573.103
Ju
mlah 2009 1.164 17.477 61.595.196
Ju
mlah 2008 1.651 261.040 338.556.140
Ju mber : BPS Kab. Konawe (2010)
Su
Berdasarkan data pada Tabel 15 di atas, jumlah volume air yang disalurkan
AM setiap harinya adalah 205,2 m3 atau 205.200 liter/hari. Bila kita bandingkan
PD
ngan kapasitas air bersih PDAM sebesar 2.592.000 liter/hari maka kapasitas air
de
ng disalurkan hanya sebesar 7,92%. Jaringan distribusi PDAM saat ini, umumnya
ya
rada di pusat kota dan sepanjang jalan primer serta ke fungsi utama kota seperti
be
sar, terminal dan perumahan. Bila kita bandingkan jumlah pelanggan PDAM
pa
ngan jumlah penduduk kota Unaaha, maka jumlah penduduk yang terlayani oleh
de
bersih PDAM adalah 3,88 %. Berdasarkan persyaratan pelayanan utilitas kota
air
suai target nasioal pelita VI yaitu 75 % dari jumlah penduduk, maka pelayanan
se
AM kota Unaaha masih sangat kecil. Peta jaringan air bersih Kab. Konawe
PD
ajikan pada Gambar 24.
dis

.
60

~ ~11.
:.:,.
~ er
~ 0
w
0
~
0
~z 0
CLO
-1"
oz
z
.. :c
:
...
0
ir
CD
~a; .J

"w
~~ J
.J

,ii.wer s :.:.::..
-, CD


oa.. lO «
-:: >·
m m ~ ~
w
.., ::al: CL ; 0

-
CL z
a:

:::c OOSUS6 oostLS6 OOOOLSo OOSL9$6


,1-- ....

/\ .
/A
I

~:
a.
0
0
3
C"
(1)
:::s
.....
c:
:a-
0
"O ~. ~.
0
"O ....... ...
c::::s
..... ...
0
:::s
"O
0

§...
....

.....
a:0
c
0
:::s
c
.....
c:
3
0
0
0
?'"
-
o
oosus OOOOLS

Gambar 24 Peta Jaringan Air Bersih Kab. Konawe

c:::J
<
.,
CD
en
,-+

'<
61

Permasalahan yang dihadapi adalah luasnya wilayah kota dengan kondisi


pe rmukiman yang juga tersebar secara tidak merata memerlukan investasi biaya
ya ng besar untuk membangun jaringan distribusi PDAM. Permasalahan lainnya
m enyangkut air bersih adalah penggunaan sumur gali oleh masyarakat kota Unaaha
pe rlu mendapat perhatian dari instansi terkait terutama untuk menjaga sumber air
ta nah dari pencemaran, khususnya air limbah rumah tangga yakni rembesan air
limbah dan tinja rumah tangga.

Kualitas Air pada DAS Konaweha

Kabupaten Konawe memiliki 21 sumber mata air yang tersebar di sepanjang


D AS Konaweha dimana 7 di antaranya telah mengalami kekurangan (defisit) air.
Ha l ini tentu saja berdampak pada terbatasnya ketersediaan air bersih yang dapat
di manfaatkan oleh masyarakat, defisit air juga akan mengancam keberlangsungan
pe rtanian, khususnya persawahan. Terjadinya defisit air pada sumber-sumber mata
air disebabkan oleh rusaknya daerah resapan air atau catchment area di sepanjang
D AS Konaweha akibat pembukaan lahan perkebunan, illegal logging,
pe rtambangan (tambang galian C) dan beberapa faktor lainnya yang semakin tidak
terkendali.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2007, bahwa kondisi
perairan atau status mutu air pada DAS Konaweha termasuk dalam kategori
memenuhi cemar-ringan. Kondisi mutu air sungai saat ini tidak mengalami
perubahan secara signifikan. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis kualitas air yang
dilakukan sampai bulan Juli tahun 2011 pada Tabel 16 berikut ini:

Tabel 16 Analisis Kualitas Air pada DAS Konaweha bulan Juli Tahun 2011

Baku Mutu
Parameter Satuan Hasil Analisis
Daerah
Fisik
b - Tidak berwarna Keruh
Warna
b
BauR - Tidak berbau Tidak berbau
b
Kasa - Tidak berasa Tidak berasa
b
Kekeruhan
S mg/L - 137,14
c cm - 19-34
T ecerahan
D
c o
uhu C - 25-29
Db
p DS mg/L 1000 440
BHLb µmhos/cm - 469-473
K Kimia
MHc - 6-9 6,29-6,63
BOc mg/L 6 3,2-7,8
b
NOD mg/L 2 -
b
Kalsium mg/L - -
agnesiumb mg/L - -
esib mg/L 0,3 -
atriumb mg/L - -
aliumb mg/L - -
62

Tabel 16 Lanjutan
b
Klorida mg/L - -
c
Nitrat sebagai mg/L 10 3,2-4,6
c
Posfat sebagai mg/L 0,2 1,9-6,1
a
Sumber : Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara No. 7 Tahun 2007
b
BP DAS Sampara Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2011

1. Wa rna, Bau dan Rasa


Warna, bau dan rasa merupakan parameter kualitas air dapat diketahui
melalui simakan indrawi (penglihatan, pengecap dan penciuman). Terjadinya
perubahan warna air disebabkan adanya zat tertentu yang terlarut dalam air,
zat-zat tersebut antara lain substansi logam, material humus, protozoa dan hasil
pembuangan dari industri, kualitas air yang baik menunjukkan warna jernih.
Pengamatan yang dilakukan tepat pada musim penghujan menunjukkan
war na air yang keruh. Hal ini didukung dengan tingginya tingkat kekeruhan
ters ebut. Keruhnya warna air sungai disebabkan oleh erosi baik pada lahan
mau pun dasar sungai dan bahan material longsoran (baik di daerah hulu
mau pun tebing-tebing sungai). Warna air sungai yang keruh lebih berpengaruh
pada unsur estetika bagi pengguna. Selain itu, bila dikaitkan dengan unsur
kungan indikator tersebut menunjukkan kondisi air kurang baik atau
ling
ang sehat, dalam unsur rasa dan bau menunjukkan tidak adanya perubahan
kur
entu dalam air (air tidak berasa dan tidak berbau).
tert
eruhan dan Kecerahan
2. Kek Bahan partikel yang tidak terlarut seperti pasir, lumpur, tanah dan bahan
ia organik dan anorganik menjadi bentuk bahan tersuspensi di dalam air,
kim
ngga bahan tersebut menjadi penyebab polusi tertinggi di dalam air
sehi
rmono, 2001). Kekeruhan biasanya menunjukkan tingkat kejernihan aliran
(Da
atau kekeruhan aliran air. Berdasarkan hasil analisis kualitas air sungai
air
unjukkan bahwa tingkat kekeruhan pada DAS Konaweha sebesar 137,14
men
L dengan kecerahan yang terukur hanya sampai kedalaman 19-34 cm.
mg/
uai dengan standar mutu air minum, kadar kekeruhan sungai tersebut masuk
Ses
m kategori diperbolehkan. Akan tetapi, seperti halnya dengan warna air
dala
gai, tingginya tingkat kekeruhan juga lebih berpengaruh pada unsur estetika
sun
kungan yang menunjukkan bahwa kondisis air tersebut kurang baik. Pada
ling
arnya tingkat kekeruhan tidak atau kurang memadai untuk digunakan
das
agai indikator kualitas air karena akan terjadi perbedaan yang sangat besar
seb
ra kondisi pada musim kemarau dan musim penghujan. Tingginya tingkat
anta
eruhan pada air sungai karena waktu pengambilan sampel air dilakukan
kek
a musim hujan, kekeruhan merupakan masalah utama pada daerah aliran
pad
gai Konaweha. DAS Konaweha selalu membawa endapan lumpur yang
sun
babkan erosi dari pinggir sungai. Tingginya tingkat kekeruhan disebabkan
dise
men atau kandungan lumpur dalam air sungai yang sangat tinggi terutama
sedi
a musim hujan. Kandungan sedimen yang terlarut pada sungai meningkat
pad
s karena erosi sebagai akibat kerusakan hutan baik pada hulu maupun
teru
rah tengah DAS Konaweha karena aktifitas pemanfaatan lahan seperti
dae
balakan hutan, perubahan tataguna lahan, pembuatan bangunan konservasi
pem
h dan air, pengembangan tanaman pertanian dan aktifitas pertambangan.
tana
63

Pada musim hujan, air yang jatuh di atas lahan gundul akan menggerus
tanah yang terletak di kemiringan yang tinggi. Sehingga sebagian besar air
hujan menjadi aliran permukaan dan sedikit sekali infiltrasinya. Akibatnya
adalah terjadi tanah longsor dan banjir pada beberapa daerah yang dilalui oleh
DAS Konaweha. Pada musim kemarau cadangan air tanah tidak mencukupi,
sehingga sering terjadi kekurangan air pada daerah hilir dan kekeringan pada
lahan pertanian. Resiko pengalihan hutan untuk dijadikan lahan pertanian sama
dengan resiko akibat penggundulan hutan yang berdampak pada penurunan
kualitas air sungai akibat erosi. Selain meningkatkan kandungan zat tersuspensi
dalam air sungai sebagai akibat sedimentasi juga diikuti oleh meningkatnya
kesuburan air dengan meningkatnya kandungan hara dalam air sungai.
Kebanyakan kawasan hutan yang diubah menjadi lahan pertanian mempunyai
kemiringan di atas 25% sehingga bila tidak memperhatikan faktor konservasi
tanah seperti pengaturan pola tanam, pembuatan teras, dan lain-lain, maka akan
berakibat masuknya pupuk dan pestisida ke dalam air sungai karena terbawa
oleh air limpasan atau run off.
Pengalihan fungsi hutan menjadi lahan perkebunan juga merupakan
salah satu faktor yang berperan terhadap tingginya tingkat sedimentasi pada
DAS Konaweha, tanaman perkebunan mempunyai sifat yang berbeda dengan
tanaman hutan. Kekuatan tanaman perkebunan untuk menahan hujan tak
sebesar kekuatan tanaman hutan yang biasanya telah berumur puluhan tahun
dengan akar yang menghujam jauh dalam tanah. Karena itu resiko tanah
longsor maupun banjir lumpur masih menjadi ancaman pada daerah-daerah di
sepanjang DAS Konaweha. Pengaruh pada kualitas air sungai hampir sama
dengan pembukaan lahan pertanian.
Pengalihan fungsi hutan menjadi daerah terbangun juga berpengaruh
terhadap terjadinya erosi pada sungai, pendirian bangunan-bangunan di daerah
tangkapan air seperti pemukiman penduduk menjadi salah satu faktor yang
mengakibatkan menurunnya kemampuan air menginfiltrasi ke dalam air tanah.
Akibatnya adalah limpasan air permukaan air menjadi besar dan menyebabkan
banjir di daerah hilir DAS Konaweha seperti di wilayah Kecamatan Sampara,
resiko pengalihan fungsi hutan menjadi daerah terbangun lebih besar daripada
penggundulan hutan karena infiltrasi lebih kecil dan beban massa lebih besar
sehingga kemungkinan terjadinya longsor menjadi lebih besar. Pengaruh
pengalihan hutan menjadi daerah terbangun di sepanjang daerah aliran sungai
pada kualitas air sungai Konaweha juga sama dengan penggundulan hutan
yaitu meningkatnya erosi sungai.
Dampak lain yang ditimbulkan akibat tingginya tingkat kekeruhan air
sungai adalah berkurangnya kemampuan ikan dan organisme air dalam
memperoleh makanan, mengurangi tanaman air melakukan fotosintesis, pakan
ikan menjadi tertutup lumpur, insang ikan dan kerang menjadi tertutup oleh
sedimen dan akan mengakumulasi bahan beracun seperti pestisida dan senyawa
logam. Bagian bawah sedimen akan merusak produksi pakan ikan (plankton)
dan merusak telur ikan. Selain itu, air sungai yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan irigasi tidak menutup kemungkinan akan terjadi pengendapan di
bagian hulu bendung irigasi maupun di saluran pembawa air irigasi.
64

3. Suhu Air
Suhu di dalam air dapat menjadi faktor penentu atau pengendali
kehi dupan flora dan fauna akuatis, terutama suhu yang telah melampaui
amb ang batas (terlalu hangat atau terlalu dingin) bagi kehidupan flora dan
faun a akuatis tersebut di atas. Kenaikan suhu suatu perairan alamiah umumnya
dise babkan oleh aktifitas penebangan vegetasi di sepanjang tebing aliran air
tersebut. Dengan adanya penebangan atau pembukaan vegetasi di sepanjang
tebing aliran air sungai tersebut mengakibatkan lebih banyak cahaya matahari
yang dapat menembus ke permukaan aliran air tersebut, dan pada gilirannya
akan meningkatkan suhu di dalam air. Berdasarkan hasil pengukuran di
lapangan, suhu air pada DAS Konaweha berkisar antara 25 – 290C. Sesuai
dengan standar baku mutu air minum, suhu air sungai pada daerah kajian
termasuk dalam kategori baik.

4. Daya Hantar Listrik (DHL)


Daya hantar listrik (DHL) merupakan angka yang menunjukkan
kemampuan air untuk menghantar listrik. Besarnya nilai daya hantar listrik
tergantung pada konsentrasi total senyawa-senyawa terlarut yang terionisasi
dalam air dan temperatur air pada saat pengukuran, unsur daya hantar listrik
dalam air menunjukkan kadar ion yang terlarut dalam air. Berdasarkan standar
baku mutu air minum, nilai DHL air sungai pada daerah kajian termasuk dalam
kategori baik yaitu berkisar antara 469 – 473 µmhos/cm.

5. pH Air
pH merupakan nilai yang menunjukkan kandungan ion H+ pada suatu zat
cair. Angka pH 7 adalah netral, sedangkan angka pH lebih besar dari 7
men unjukkan bahwa air bersifat basa dan terjadi ketika ion-ion karbon
do minan. Sedangkan pH lebih kecil dari 7 menunjukkan bahwa air di tempat
ters ebut bersifat asam. pH normal air permukaan berkisar 6,5 – 8,5 sedangkan
unt uk air tanah berkisar antara 6 – 8,5. pH sangat penting sebagai parameter
kua litas air karena ia mengontrol tipe dan laju reaksi beberapa bahan di dalam
air.
Besarnya angka pH dalam suatu perairan dapat dijadikan indikator
ada nya keseimbangan unsur-unsur kimia dan dapat mempengaruhi
ketersediaan unsur kimia dan unsur hara yang amat bermanfaat bagi kehidupan
vegetasi akuatik. pH air juga mempunyai peranan penting bagi kehidupan ikan
danfauna lain yang hidup di perairan tersebut. pH air biasanya dimanfaatkan
untuk menentukan indeks pencemaran dengan melihat tingkat keasaman atau
kebasaan air yang dikaji, terutama oksidasi sulfur dan nitrogen pada proses
pengasaman dan oksidasi kalsium dan magnesium pada proses pembasaan.
Adanya asam-asam dalam air berpengaruh terhadap sifat korosifitas air,
ting kat reaksi-reaksi kimia dan proses-proses biologi dalam air. Umumnya
pera iran dengan tingkat pH lebih kecil dari 4,8 dan lebih besar dari 9,2 sudah
dap at dianggap tercemar (Brook et al., 1989). Berdasarkan hasil pengukuran di
lapa ngan menunjukkan pH air pada DAS Konaweha berkisar antara 6,29 –
6,63. Sesuai dengan standar baku mutu air minum, pH air sungai pada daerah
kajian termasuk kategori baik.
65

6. Total Dissolved Solid (TDS)


Total dissolved solid (TDS) dalam air menunjukkan jumlah total padatan
terlarut baik senyawa organik maupun anorganik. Berdasarkan hasila analisis
kualitas air sungai pada DAS Konaweha menunjukkan nilai TDS sebesar 440
mg/L. TDS sangat berpengaruh terhadap pada kualitas air seperti rasa,
kesadahan dan sifat-sifat korosif.
7. Demand Oxygen (DO)
Kandungan oksigen terlarut (DO) dalam air mempunyai peranan
menentukan untuk kelangsungan hidup organisme akuatis dan untuk
berlangsungnya proses reaksi kimia yang terjadi di dalam badan air.
Keberadaan dan besar atau kecilnya muatan oksigen di dalam air dapat
dijadikan indikator ada atau tidaknya pencemaran di suatu perairan. Analisis
oksigen terlarut merupakan parameter kunci yang dapat menentukan tingkat
pencemaran perairan maupun jenis pengolahan air limbah yang diperlukan.
Konsentrasi kandungan unsur oksigen terlarut dalam perairan alami
maupun air limbah ditentukan oleh besarnya suhu perairan, tekanan dan
aktifitas biologi yang berlangsung di dalam air (Asdak, 2001). Dari perspektif
biologi yang berlangsung di dalam air merupakan salah satu unsur penentu
karakteristik kualitas air yang terpenting dalam lingkungan kehidupan akuatis.
Konsentrasi oksigen dalam air mewakili status kualitas air pada temapt dan
waktu tertentu (saat pengambilan sampel air). Proses dekomposisi bahan
organik di dalam air berlangsung secara perlahan-lahan dan memerlukan waktu
yang relatif lama. Perubahan konsentrasi oksigen di dalam air juga berlangsung
secara perlahan-lahan sebagai respon oleh adanya proses oksidasi serta
merupakan respon berbagai macam organisme terhadap suplai bahan makanan.
Adanya oksigen di dalam air adalah sangat penting untuk menunjang
kehidupan ikan dan organisme air lainnya. Kemampuan air untuk
membersihkan pencemaran secara alamiah banyak tergantung kepada cukup
tidaknya kadar oksigen terlarut. Oksigen terlarut di dalam air berasal dari udara
dan dari fotosintesa tumbuh-tumbuhan air. Penyebab utama berkurangnya
kadar oksigen dalam air adalah limbah organik yang terbuang dalam air.
Limbah organik akan mengalami degradasi dan dekomposisi oleh bakteri aerob
(menggunakan oksigen dalam air), sehingga lama kelamaan oksigen yang
terlarut dalam air akan sangat berkurang, dalam kondisi berkurangnya oksigen
tersebut hanya spesies organisme tertentu saja yang dapat hidup.
Berdasarkan hasil analisis kualitas air menunjukkan bahwa kandungan
oksigen terlarut pada DAS Konaweha berkisar antara 3,2 – 7,8 mg/L. Sesuai
dengan standar baku mutu air minum, kandungan oksigen terlarut (DO) pada
daerah kajian berbeda disetiap titik pengambilan sampel air ada yang masuk
dalam kategori baik dan ada pula titik yang termasuk dalam kategori di atas
ambang batas.

8. Biochemical Oxygen Demand (BOD)


Biochemical Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologi
(KOB) menunjukkan kebutuhan oksigen dalam air, oksigen tersebut
diperlukan oleh organisme dalam air untuk menguraikan zat-zat tertentu,
semakin jelek mutu suatu air, maka semakin besar nilai BOD dalam air.
Tingginya kadar BOD dalam air dapat digunakan sebagai petunjuk bahwa
66

kualitas air yang bersangkutan kurang baik dan bahkan tidak baik. Pemeriksaan
BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan
penduduk atau industri, dan untuk mendesain sistem pengolahan biologis bagi
air tercemar tersebut. Air permukaan yang membawa lumpur, daun-daun,
tumbuh-tumbuhan yang membusuk bersama-sama dengan hewan dan manusia
membuang limbah ke sungai. Akibatnya limbah organik tersebut menyebabkan
bakteri dan ganggang hidup subur.
Berdasarkan hasil analisis kualitas air sungai pada DAS Konaweha
term asuk dalam ambang batas diperbolehkan (sedang). Bila pemasukan
oksi gen dari udara ke air tidak secepat penggunaan oksigen oleh
mik roorganisme, maka jumlah oksigen terlarut menjadi berkurang atau
men urun, dan keadaan ini akan menyebabkan kematian makhluk akuatis
sep erti ikan. Penurunan jumlah ikan tentunya akan menurunkan jumlah
pem enuhan protein bagi manusia. Selain itu, secara estetika tidak menarik.
Dam pak lain penurunan oksigen di dalam air, adalah tumbuhnya
mik roorganisme anaerob yang menghasilkan produk metabolisme yang berbau
busuk sehingga air tersebut tidak baik untuk kesehatan.

9. Kalsium dan Magnesium


Unsur kalsium dalam air disebabkan oleh litologi yang dilalui alur sungai
Konaweha yang merupakan batu gamping atau batuan yang mengandung
mineral kalsit. Adapun unsur magnesium dalam air disebabkan oleh batuan
yang dilalui alur sungai yang berupa batuan vulkanik maupun dolomit. Unsur
kalsium dan magnesium di dalam air dapat membentuk garam yang berbeda-
beda, misalnya karbonat, bikarbonat, sulfat dan klorida. Unsur kalsium dan
magnesium dalam air menyebabkan kesadahan sementara (dapat dihilangkan),
namun unsur magnesium lebih merubah rasa air.
Apabila dalam air mengandung unsur magnesium di atas ambang batas
diperbolehkan, maka akan menunjukkan rasa pahit dan memberikan warna
kehitaman apabila digunakan untuk memasak. Berdasarkan hasil analisis
kualitas air, kadar kalsium dan magnesium pada DAS Konaweha termasuk
dalam kriteria baik dan telah sesuai dengan standar baku mutu air minum.

10. Besi
Unsur besi dalam air berasal dari pengikisan ataupun pelarutan material
batuan beku (yang kaya mineral amfibol, pyrite dan magnetik), limestone,
mineral industri maupun sampah industri. Kadar besi yang terlalu banyak
dalam air akan mempengaruhi warna, misalnya apabila digunakan untuk
kegiatan rumah tangga. Berdasarkan hasil analisis kualitas air sungai, kadar
besipada DAS Konaweha termasuk dalam kategori baik dan sesuai dengan
standar baku mutu air minum.

11. Natrium dan Kalium


Unsur natrium dan kalium dalam air berasal dari air hujan, mineral
lempung maupun sampah industri. Kadar natrium dan kalium yang terlalu
tinggi dalam air dapat menyebabkan berkurangnya busa sabun serta bersifat
korosif. Berdasarkan hasil analisis kualitas air, kadar natrium pada DAS
67

Konaweha termasuk dalam kategori baik, sedangkan kadar kalium termasuk


dalam ambang batas diperbolehkan (sedang).

12. Klorida
Klorida (dalam bentuk Cl) merupakan salah satu anion anorganik yang
cukup banyak terdapat dalam air maupun air limbah. Sumber unsur klorida
dalam air yang terbesar adalah batuan sedimen, sedangkan dalam batuan beku
dijumpai dalam kadar lebih sedikit. Proses intruisi air laut ke dalam air sungai
juga menambah kandungan unsur klorida dalam air. Tingginya kadar klorida
dalam air akan memberikan rasa asin dan apabila dikonsumsi dapat
menyebabkan naiknya tekanan darah.
Konsentrasi ion klorida mulai menimbulkan rasa asin yang berbeda-beda
besarnya tergantung pada komposisi kimia air yang bersangkutan. Pada air
yang kandungan natriumnya cukup tinggi maka konsentrasi klorida 250 mg/L
sudah mulai menimbulkan rasa asin, sebaliknya pada air yang kation-kationnya
didominasi oleh kalsium maupun magnesium konsentrasi klorida sebesar 1000
mg/L belum menimbulkan rasa asin. Berdasarkan hasil analisis kualitas air,
kadar klorida pada DAS Konaweha masuk dalam kategori baik dan sesuai
dengan standar baku mutu air minum.

13. Nitrat sebagai N


Unsur nitrat di dalam air berasal dari atmosfer melalui hujan, tanaman
leguminosa, erosi deposit alami maupun kotoran hewan atau manusia. Nitrat
biasa ditemukan dalam kegiatan pertanian. Pencemaran nitrat disebabkan air
limbah pertanian yang mengandung senyawa nitrat akibat penggunaan pupuk
nitrogen (urea). Senyawa nitrat dalam air minum dalam jumlah yang besar
menyebabkan methaemoglobinameia.
Penyakit ini adalah kondisi hemoglobin dalam darah berubah menjadi
methaemoglobin, sehingga darah kekurangan oksigen. Berdasarkan hasil
kualitas air, kadar nitrat pada DAS Konaweha berkisar antara 3,2 – 4,6 mg/L.
Sesuai dengan standar baku mutu air minum, kadar nitrat pada daerah kajian
termasuk dalam kategori baik.

14. Posfat sebagai P


Seperti halnya dengan nitrat, sumber pencemaran posfat juga dapat
berasal dari penggunaan pestisida dalam bidang pertanian. Tidak semua
pestisida yang disebarkan di daerah pertanian dapat diserap tanaman, tetapi
sebagian akan masuk ke badan air melalui pencucian tanah. Pestisida tersebut
sebenarnya juga diperlukan oleh tumbuhan air untuk tumbuh dan berkembang
biak sehingga tumbuhan air akan semakin banyak dan suatu saat akan menutup
badan air. Penutupan badan air akan menurunkan masuknya oksigen ke air, dan
akan menumbuhkan mikro organisme anaerobik. Akibatnya, badan air akan
kotor dan berbau busuk.
68

nalisis Kualitas Air Sungai


Data A

Setelah dilakukan pengambilan sampel kualitas air sungai dan dilakukan


pengujian di Balai Laboratorium Kesehatan Kendari diperoleh hasil yang disajikan
pada Tabel 17 berikut ini:

Tabel 17 Hasil pengujian sampel air sungai Konaweha Hulu (Pelosika) Bulan
April 2011
Hasil Baku Mutu
Parameter Spesifikasi
Satuan Pemerik
Pemeriksaan Metode II III
No. saan
erajat easaman SNI 06-6989.11-
7,43 6-9 6-9
D(pH) ekeruhan 2004
1.
kisolved oxygen NTU 69,5 Nephelometrik - -
2. KDO)
D mg/L 4 Titrimetri 4 5
3. Warna Perbandingan - -
( Pt-Co 20
visual
4. otal padatan
ersuspensi mg/L 20,7 Gravimetri 50 400
T
TSS)
5. titrat (NO3) mg/L 0,11 Spektrofotometrik 10 20
(itrit (NO2) mg/L ttd Spektrofotometrik 0,06 0,06
6. Nhemical
7. Nxygen Demand mg/L 38,9 Titrimetri 25 50
CCOD)
8. Oiologycal
( xygen Demand mg/L 37 Spektrofotometrik 3 6
BBOD)
9. Oestisida mg/L Negatif KLT - -
(
Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV Kendari (2011)
10. P
Sumber:
sil pengujian laboratorium pada Tabel 17 menunjukkan bahwa nilai
er-parameter yang diuji masih masuk kedalam standar baku mutu air kelas
Ha Parameter yang perlu mendapat perhatian adalah Biologi Oxygen
III.
paramet (BOD) karena nilainya jauh melebihi batas standar mutu air kelas II dan
II dan
Demand
III.
69

Tabel 18 Hasil pengujian sampel air sungai Konaweha Tengah (Wawotobi)


April 2011
Hasil Baku Mutu
Parameter Spesifikasi
Satuan Pemerik
Pemeriksaan Metode II III
saan
Derajat SNI 06-6989.11-
1. 7,34 6-9 6-9
keasaman (pH) 2004
2. Kekeruhan NTU 182 Nephelometrik - -
Disolved
3. mg/L 4 Titrimetri 4 5
oxygen (DO)
Perbandingan
4. Warna Pt-Co 30 - -
visual
Total padatan
5. tersuspensi mg/L 23,2 Gravimetri 50 400
(TSS)
6. Nitrat (NO3) mg/L 0,1 Spektrofotometrik 10 20
7. Nitrit (NO2) mg/L ttd Spektrofotometrik 0,06 0,06
Chemical
8. Oxygen mg/L 79,7 Titrimetri 25 50
Demand (COD)
Biologycal
9. Oxygen mg/L 79 Spektrofotometrik 3 6
Demand (BOD)
10. Pestisida mg/L Negatif KLT - -
umber: Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV Kendari (2011)
S
Hasil pengujian laboratorium pada Tabel 18 menunjukkan bahwa nilai
rameter-parameter yang diuji masih masuk kedalam standar baku mutu air kelas
padan III. Parameter yang perlu mendapat perhatian adalah Chemical Oxygen
II mand (COD) dan Biologi Oxygen Demand (BOD) karena nilainya jauh melebihi
Detas standar mutu air kelas II dan III.
ba

Tabel 19 Hasil pengujian sampel air sungai Konaweha Hilir (Pohara) Bulan
April 2011
Hasil Baku Mutu
Parameter Spesifikasi
o. Satuan Pemerik
Pemeriksaan Metode II III
saan
N Derajat
1. 7,18
SNI 06-6989.11-
6-9 6-9
keasaman (pH) 2004
2. Kekeruhan NTU 199 Nephelometrik - -
70

Tabel 19 Lanjutan
Disolved oxygen mg/L 4 Titrimetri 4 5
3. DO)
(
Perbandingan
4. Warna Pt-Co 30 - -
visual
otal padatan
T
5. tersuspensi mg/L 25,8 Gravimetri 50 400
TSS)
(
6. Nitrat (NO3) mg/L 0,12 Spektrofotometrik 10 20
7. N itrit (NO2) mg/L ttd Spektrofotometrik 0,06 0,06
Chemical
8. Oxygen Demand mg/L 79,7 Titrimetri 25 50
( COD)
Biologycal
9. Oxygen Demand mg/L 54 Spektrofotometrik 3 6
BOD)
(
10. P estisida mg/L Negatif KLT - -
Sumber: Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV Kendari (2011)

Ha sil pengujian laboratorium pada Tabel 19 menunjukkan bahwa nilai


paramet er-parameter yang diuji masih masuk kedalam standar baku mutu air kelas
II dan I II. Parameter yang perlu mendapat perhatian adalah Chemical Oxygen
Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) karena nilainya jauh
melebihi batas standar mutu air kelas II dan III.
Apabila diringkas, hasil pemantauan kualitas air sungai di wilayah Sungai
Konaweha terdapat 8 parameter yang masih memenuhi standar baku mutu air kelas
II dan II,
I sedangkan 2 parameter yaitu Chemical Oxygen Demand (COD) dan
Biologic Oxygen Demand (BOD) nilainya jauh melebihi standar mutu air kelas II
al
dan III dengan nilai yang bervariasi untuk masing-masing titik lokasi sampling.
Untuk bih
le jelasnya dapat dilihat pada Tabel 20 berikut ini.

Tabel 20 Hasil pengujian sampel kualitas air wilayah sungai Konaweha Bulan
April 2011

Standar
Sungai
Baku Mutu
1 2 3
arameter Satuan Sungai Sungai Sungai Status
No. P
Konaweha Konaweha Konaweha II III
Hulu Tengah Hilir
(Pelosika) (Wawotobi) (Pohara)
Derajat 6- 6- memenuhi
asaman 7,43 7,34 7,18
1 ke 9 9 syarat
(p H)
keruhan NTU 69,5 182 199 - -
2 Ke
solved
Di memenuhi
ygen mg/L 4 4 4 4 5
3 ox syarat
O)
(D
arna Pt-Co 20 30 30 - -
4 W
71

Tabel 20 Lanjutan
Total
padatan memenuhi
5 mg/L 20,7 23,2 25,8 50 400
tersuspensi syarat
(TSS)
Nitrat memenuhi
6 mg/L 0,11 0,1 0,12 10 20
(NO3) syarat
7 Nitrit
mg/L ttd ttd ttd 0,06 0,06
(NO2)
Chemical
tidak
Oxygen
8 mg/L 38,9 79,7 79,7 25 50 memenuhi
Demand
syarat
(COD)
Biologycal
tidak
Oxygen
9 mg/L 37 79 54 3 6 memenuhi
Demand
(BOD) syarat
memenuhi
0 Pestisida mg/L Negatif Negatif Negatif - -
1 syarat

Sumber: Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV Kendari (2011)

Pencemaran yang terjadi akibat limbah industri, limbah rumah tangga


(domestik), maupun limbah pertanian/perkebunan. Dilihat dari parameter yang
melampaui batas standar baku mutu, tampak bahwa bahan pencemar merupakan
bahan organik dan kimia. Kemungkinan bahan pencemar tersebut berasal dari
kegiatan domestik dan industri rumah tangga.

ata Analisis Kualitas Air Sumur


D
Penentuan kadar unsur dalam sampel air sumur dilakukan dengan
menggunakan metode Volumetri. Volumetri adalah suatu cara analisis dimana
diadakan pengukuran volume dari larutan pereaksi yang berkosentrasi tertentu yang
dibutuhkan untuk reaksi sempurna dengan suatu zat sedang ditentukan
kosentrasinya. Parameter tersebut dapat dilihat pada Tabel 21 berikut ini.
Tabel 21 Parameter Kualitas Air Sumur Bor Masyarakat

Kode Sampel
No Parameter Satuan
B
1 Warna mg/L 15
2 Total Disolved Solid (TDS) mg/L 22
3 Total Suspended Solid (TSS) mg/L 58
4 Seng (Zn) mg/L 0.19
5 Kalsium (Ca) mg/L 1.04
6 Klorida (Cl) mg/L 10
7 Zat Organik (KMnO4) mg/L Ttd
8 Tembaga (Cu) mg/L Ttd
Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kab. Konawe Tahun 2009
Catatan : Lokasi = Desa Lamelay Kec. Wawotobi Kab. Konawe
B = Air Sumur
ttd = tidak terdeteksi
72

A dapun pemeriksaan suhu, pH dan DO (Dissolved Oxygen) pada sampel air


sungai d an air sumur Bor dilakukan ±1 jam setelah pengambilan sampel. Hal ini
disebabk an parameter tersebut mudah sekali mengalami perubahan, untuk itu harus
segera di analisa. Jarak pengambilan sampel air sungai Lamelay, antara hulu Sungai
dan Hilir Sungai ±50 m. Pengambilan sampel untuk sumur bor dilakukan dengan
mengambil sampel pada sumur bor milik “Pak Ramli”.

 Warna; Hasil pengamatan warna selama 3 × 24 jam tidak mengalami perubahan


warna sampel air. Dari hasil pengamatan untuk air sumur bor diperoleh kadar
maksimum 15 Skala TCU, yang merupakan standar kualitas golongan A;
 TDS (Total Dissolved Solid): Hasil pengamatan pada penetapan TDS untuk
kualitas air sumur diperoleh 22 mg/L. TDS sangat berpengaruh terhadap pada
kualitas air seperti rasa, kesadahan dan sifat-sifat korosif.
 TSS (Total Suspended Solid): Suspended Solid merupakan jumlah
padatan/partikel (mg) yang tersuspensi pada limbah cair pada setiap 1 liter
limbah cair yang diperiksa (mg/L). Hasil analisa laboratorium diperoleh TSS
untukair sumur diperoleh 58 mg/L. yang berarti layak sebagai air bersih;
 Seng (Zn) ; Dari hasil analisa penentuan kadar seng (Zn) diperoleh 0,01 mg/L,
sehin gga termasuk untuk kriteria standar kualitas air pada golongan C, yang
mana standar kualitas air di perairan umum kadar maksimum untuk seng (Zn)
adalah 0,02 mg/L.
 Kalsium (Ca) ; Dari hasil analisa diperoleh 0,01 mg/L. dari standar kualitas air
di perairan umum kadar maksimum untuk kalsium (Ca) adalah 0,075 mg/L.
 Klori
da (Cl) ; Dari hasil analisa penentuan kadar klorida (Cl) diperoleh 10 mg/L
sehin gga termasuk untuk kriteri standar kualitas air pada golongan A, adapun
untuk standar kualitas air di perairan umum kadar maksimumnya adalah 250
mg/L.
 Zat Organik (KMnO4), Tembaga (Cu), fecal Coliform, Total Coliform ; Dari
hasil analisa penentuan kadar zat organik pada KMnO4 adalah tidak terdeteksi.
73

5 ANALISIS POTENSI KETERSEDIAAN AIR DI SUB DAS


KONAWEHA DENGAN MODEL TANGKI

Pendahuluan

Hujan merupakan salah satu unsur iklim yang berpengaruh pada suatu daerah
aliran sungai (DAS). Pengaruh langsung yang dapat diketahui yaitu potensi sumber
daya air. Besar kecilnya sumber daya air pada suatu DAS sangat tergantung dari
jumlah curah hujan yang ada pada DAS. Perubahan penggunaan lahan yang paling
besar pengaruhnya terhadap kelestarian sumber daya air adalah perubahan dari
kawasan hutan ke penggunaan lainnya seperti pertanian, perkebunan, perumahan
ataupun industri. Apabila kegiatan tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan
menyebabkan kelebihan air (banjir) pada saat musim hujan dan kekeringan pada
saat musim kemarau. Perubahan penggunaan lahan yang tidak bijaksana dan tidak
disertai tindakan konservasi akan menyebabkan hujan yang jatuh sebagian besar
akan menjadi aliran permukaan (runoff).
Ketersediaan air erat kaitannya dengan faktor geografis dan iklim daerah
aliran sungai, sedangkan kebutuhan air irigasi berhubungan langsung dengan
absorpsi air oleh tanaman selama pertumbuhan sampai perkembangan tanaman.
Neraca keseimbangan antara ketersediaan air dan kebutuhan air diharapkan dapat
dimanfaatkan untuk menganalisis dan merencanakan penyediaan kebutuhan air
untuk pertanian, domestik, industri dan keperluan lainnya seefisien mungkin. Oleh
karena itu pola pengelolaan lahan yang ada perlu ditinjau dengan memperhatikan
aspek konservasi untuk melestarikan sumber daya air.
Model pengelolaan daerah aliran sungai diarahkan untuk mempertahankan
kualitas air secara komprehensif pada wilayah daerah aliran sungai. Konservasi air
dapat diartikan sebagai usaha untuk meningkatkan jumlah air tanah yang masuk ke
dalam tanah dan untuk menciptakan penggunaan air yang efisien. Setiap perlakuan
yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air pada tempat itu
dan tempat-tempat hilirnya. Oleh karena itu maka konservasi tanah dan konservasi
airmerupakan dua hal yang berhubungan erat sekali, sehingga boleh dikatakan
bahwa berbagai tindakan konservasi tanah merupakan juga tindakan konservasi air
(Arsyad, 2000).
Model tangki atau tank model adalah metode yang didasarkan kepada
hipotesis bahwa aliran limpasan dan infiltrasi merupakan fungsi dari jumlah air
yang ada di dalam tanah (Sugawara, 1961). Model tangki tersebut dapat disusun
sedemikian rupa sehingga lebih mewakili sub-sub DAS daerah tersebut, ataupun
mewakili perbedaan struktur/jenis tanah pada setiap lapisan. Susunan model tangki
tersebut selain dapat menjelaskan kehilangan awal curah hujan, dan ketergantungan
terhadap hujan sebelumnya, juga mempresentasikan beberapa komponen
pembentuk aliran limpasan, yang memiliki periode dan time lag tersendiri.
Ditambahkan oleh Sugawara (1961) bahwa susunan model tangki adalah model
yang paling mendekati setiap DAS.
Sebuah tangki dengan saluran pengeluaran di sisi mewakili limpasan, saluran
pe ngeluaran bawah mewakili infiltrasi, dan komponen simpanan dapat mewakili
pr oses limpasan di dalam suatu atau sebagian daerah aliran sungai. Beberapa tangki
se rupa yang paralel dapat mewakili suatu daerah aliran sungai yang luas (Linsley,
74

et al., 986).
1 Olehnya itu, kajian pada bab ini bertujuan untuk: (1) menganalisis
potensi k etersediaan air baku di Kab. Konawe, (2) menganalisis debit aliran dengan
menggu nakan model tangki yang terdiri atas parameter limpasan, kapasitas
infiltrasi, dan kandungan air tanah, dan (3) menyusun skenario pengembangan
model ta ngki yang tepat untuk meningkatkan potensi ketersediaan sumberdaya air
di Sub DAS Konaweha.
Metode Analisis
n Sumber Data
Jenis da
ta yang digunakan dalam kajian ini adalah data sekunder yang meliputi: (1)
Jenis da ah hujan dari stasiun pengamatan curah hujan Abuki tahun 2009 dan 2011,
data cur debit harian Bendung Wawotobi tahun 2009 dan 2011, (3) data klimatologi
(2) data Wawotobi tahun 2009 dan 2011, (4) peta tata guna lahan Sub DAS
stasiun ha tahun 2009 dan 2011, (5) peta topografi DAS Konaweha, dan (6) data
Konawe ah. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi unit komputer dan
jenis tana software.
beberap
Data
Analisis
ngki menggambarkan proses-proses limpasan yang terjadi pada DAS yang
Model tan dibentuk dalam suatu persamaan matematis. Proses limpasan yang terjadi
kemudiadari proses hujan, infiltrasi, serta perkolasi, hingga terbentuk aliran antara
dimulai da akhirnya terbentuk aliran dasar. Akumulasi dari semua jenis limpasan
yang pamerupakan debit sungai pada suatu DAS. Tahap-tahap analisis data yang
tersebut akukan adalah sebagai berikut:
akan dil
tupan Lahan
a. Penu
ini dilakukan untuk melihat kondisi biofisik dan tutupan lahan pada
Kajian nt area bendung Wawotobi dan pengaruhnya terhadap keseimbangan air
catchmea. Karakteristik biofisik lahan dianalisis secara deskriptif. Untuk analisis
yang adan tutupan lahan yang terjadi pada catchment area bendung Wawotobi
perubahan perangkat lunak komputer dan software SIG (sistem informasi
digunaks). Sistem informasi geografis ArcGIS digunakan untuk membandingkan
geografiguna lahan pada catchment area bendung Wawotobi pada dua tahun yang
peta tatayaitu tahun 2009 dan tahun 2011.
berbeda
isis Curah Hujan
b. Anal
ah hujan dikumpulkan dari stasiun pengamatan hujan Abuki tahun 2009
Data curn 2011 di wilayah DAS Konaweha. Curah hujan ini dianggap sebagai satu-
dan tahumasukan dalam sistem sehingga tidak ada masukan lain selain curah hujan.
satunya nelitian ini curah hujan harian yang tersedia hanya dari satu stasiun
Pada peat saja, sehingga data curah hujan dianggap sebagai curah hujan wilayah
pengamnggambarkan keadaan hujan pada DAS.
yang me
75

c. Analisis Evapotranspirasi

Besarnya nilai evapotranspirasi untuk suatu wilayah dipengaruhi oleh iklim


setempat seperti temperatur, kecepatan angin, radiasi matahari, dan kelembaban
udara. Penentuan nilai evapotranspirasi dilakukan dengan menggunakan metode
Penman. Dari persamaan Penman tersebut diperoleh nilai hasil penguapan dari
permukaan air terbuka Eo, dengan mempertimbangkan H dan Ea yang meliputi
energi (sinaran) dan aerodinamika (angin dan kelembaban). Nilai ETo untuk iklim
dan tempat tertentu dihitung dari persamaan berikut (Wilson, 1993):

ETo = W x Rn + (1-W) x f (u) x (es – e)

Dimana:
E
WTo : evapotranspirasi tanaman acuan (mm/hari)
Rn : faktor pembobot terkait suhu 2
f(u : radiasi bersih dalam penguapan (W/m /hari)
(es ) : fungsi terkait angin
-e) : selisih antara tekanan uap jenuh pada suhu rataan dan tekanan uap
sebenarnya (mmHg)
Se
betelah ditentukan nilai ETo, kebutuhan air tanaman, ETc diperoleh dari persamaan
rikut:

Etc = Kc x ETo
di
mana Kc adalah koefisien tanaman.
d.
Analisis Debit Sungai
De
Be bit sungai merupakan hasil keluaran dari sub DAS pada suatu sistem neraca air.
cusarnya debit sungai itu sendiri merupakan jumlah antara limpasan dengan bagian
evrah hujan yang jatuh langsung diterima oleh permukaan sungai dikurangi dengan
haaporasi pada permukaan sungai. Data debit yang dianalisis adalah data debit
rian outlet sub DAS Konaweha di Bendung Wawotobi.
e.
Pembentukan Model Tangki
M
se odel tangki yang dibentuk adalah empat buah tangki berhubungan yang tersusun
mcara vertikal. Dalam model tangki ini, keluaran dari tangki pertama
alienggambarkan limpasan permukaan, keluaran dari tangki kedua menggambarkan
daran antara, dan keluaran dari tangki ketiga dan keempat menggambarkan aliran
dissar (base flow). Skema tangki untuk masing-masing TGL pada setiap Sub DAS
ajikan pada Gambar 25.
76

CH
inf

ET c a11
up0
xx1 a12
h11
h12
z1

up1
xx2
a2
z2 h2

up2
xx3
z3 a3 Keterangan:
xx : kandungan air tanah (mm)
up3 h: tinggi lubang outlet tangki (mm)
xx4 a: koefisien lubang outlet tangki
z: koefisien lubang tangki ke arah bawah
a4 t: waktu (hari)

Gambar 25. Model tangki yang digunakan dalam penelitian ini

buatan Program
f. Pem an program dilakukan dengan menggunakan komputer untuk mengetahui
Pembuatpasan. Persamaan-persamaan matematik yang merupakan penggambaran
total limn diubah kedalam bahasa pemrograman komputer. Program yang dibuat
limpasa an untuk melakukan kalibrasi dan validasi model menggunakan data yang
digunak gram ini dibuat pada worksheet menggunakan program Microsoft Office
ada. Pro007. Persamaan dasar untuk tangki pertama adalah sebagai berikut;
Excell 2
xx1(t-1) + CH – Etc – z1.xx1(t-1) – [(xx1(t) – h11) a11 + (xx1(t) – h12)a12] ...(1)
xx1(t) = an untuk tangki kedua adalah;
Persamaxx (t – 1) – z .xx (t – 1) + z .xx (t – 1) – [(xx (t) – h ) a ] …….……… (2)
2 2 2 1 1 2 2 2
xx2(t) = an untuk tangki ketiga adalah;
Persamaxx3(t – 1) – z3.xx3(t – 1) + z2.xx2 (t–1) – [(xx3(t)a3] ……………….…… (3)
xx3(t) = amaan untuk tangki keempat adalah;
dan persxx4(t – 1) – z3.xx3(t – 1) – [(xx4(t) a4] .….…...……………..................... (4)
xx4(t) = an debit limpasan dari sungai (Q) dihitung dengan persamaan berikut ini;
sedangk xx1(t) - h11) a11 + (xx1(t) - h12) a12] + [(xx2(t) - h2) a2] + xx3 (t).a3 + xx4(t).a4
Q(t) = [(……………………………………………………………………………………………………………….. (5)
……………:

Dimana nggi kandungan air tanah (AT)


xt : Tinggi air tersimpan (tinggi lubang outlet)
ha : Tioefisien lubang infiltrasi
Z : Koefisien lubang outlet
a, b : K
77

CH : Kedalaman curah hujan


Etc : Evapotranspirasi aktual
t : waktu (hari)
i : 1, 2,.., 4

Diagram alir dari konsep matematis model untuk mengetahui kinerja parameter
root water uptake dapat dilihat pada Gambar 26.

Mulai

Data Masukan:
Curah Hujan, Evapotranspirasi,
Luas Tata Guna Lahan

Model Tangki dengan parameter; xx1,


xx2, xx3, xx4, a11, a12, a2, a3, a4, h11, h12,
h2, z1, z2, z3

Nilai Model

Kalibrasi Kesalahan Nilai Aktual


Model Minimum tahun ke-1
Tidak

Ya
Nilai Aktual
Validasi Model tahun ke-2

Kesalahan
Minimum Tidak

Ya

Selesai

Gambar 26. Diagram alir konsep matematis model

Kalibrasi/Verifikasi Model
librasi model dilakukan dengan membandingkan debit model dengan debit
g.tual harian. Kalibrasi dilakukan secara berulang-ulang dengan metode trial and
Karor terhadap parameter model sehingga diperoleh nilai debit model yang
akendekati debit aktual dengan nilai koefisien determinasi lebih dari 0.8 yang berarti
erhwa hasil keluaran model tersebut telah menggambarkan kebenaran lebih dari
m % terhadap debit aktual.
ba
80
78

h. Uji Keabsahan/Validasi Model


Validasi model dilakukan dengan melakukan simulasi pendugaan debit dengan
menggunakan model yang telah dikalibrasi menggunakan data curah hujan, data
debit dan data evapotranspirasi harian dalam proses verifikasi model. Tolok ukur
uji keabsahan model didasarkan pada dua hal berikut;
1) Penampilan hubungan antara debit model dengan debit aktual secara grafik
sehingga dapat ditentukan nili mutlak maksimum dan minimum dari data
yang diperoleh
2) Nilai koefisien determinasi (R2) dihitung dengan persaman berikut ini;
R2 = 1 – [ ∑ (yi – xi)2 / ∑ (yi – y)2 ] ..………………………… (6)
Dimana:
yi = debit aktual ke-i
xi = debit model ke-i
y = rata-rata debit aktual
i = 1,2,3,…,n

Hasil dan Pembahasan

Klasifikasi tutupan lahan pada catchment area Sub DAS Konaweha

Peta tutupan lahan pada catchment area Bendung Wawotobi Sub DAS
Konaweha dibuat berdasarkan peta land use Sub DAS Konaweha tahun 2009 dan
tahun 011.
2 Kondisi eksisting luasan, sebaran, bentuk, fungsi dan tutupan lahan
pada catchment area Bendung Wawotobi Sub DAS Konaweha disajikan pada
Gambar 27.

Gambar 27 Peta land use catchment area Bendung Wawotobi


79

Diperoleh hasil klasifikasi tutupan lahan (land cover) pada catchment area
Be ndung Wawotobi Sub DAS Konaweha pada tahun 2009 dan tahun 2011 terbagi
atas 6 tipe penggunaan yaitu hutan, pertanian campuran, sawah, permukiman,
savana, dan semak. Terbentuknya land use ini disebabkan oleh kondisi topografi
catchment area Bendung Wawotobi Sub DAS Konaweha yang bervariasi, mulai
datar, bergelombang dan berbukit. Luasan masing-masing tipe tutupan lahan
disajikan pada Tabel 22.

Tabel 22 Luas masing-masing perubahan tutupan lahan pada catchment area


Bendung Wawotobi Sub DAS Konaweha

2009 2011 Perubahan


No. Tutupan lahan
Luas (ha) Luas (ha) (ha)
1. Hutan 313.921.83 313.845,26 -76,56
2. Pertanian 13.882.97 14,660.51 +777,54
3. Sawah 163,89 163,90 +0,01
4. Pemukiman 10,55 10,55 0
5. Savana 2.435,98 2.435,98 0
6. Semak 8.040,22 7.339,24 -700,98
Total 338.455,44 338.455,44
Keterangan: (+) peningkatan luas area, (-) penurunan luas area

Analisis Potensi Ketersediaan Air dengan Model Tangki

plikasi Model Tangki


A
Aplikasi model tangki untuk ketersediaan air di Kab. Konawe dihitung dari
ketersediaan air di bendung Wawotobi pada sub sub DAS Konaweha yang berada
diatas
di bendung Wawotobi dengan luas tangkapan air 125.675 hektar. Model tangki
pokalibrasi dari data hujan dan penggunaan lahan dianalisis pengaruhnya terhadap
atatensi sumber daya air. Penggunaan seperti pertanian, perkebunan, perumahan
keupun industri, apabila tidak dikelola dengan baik, maka akan menyebabkan
kelebihan air (banjir) pada saat musim hujan dan kekeringan pada saat musim
akmarau. Pengelolaan penggunaan lahan yang tidak disertai tindakan konservasi
(ran menyebabkan hujan yang jatuh sebagian besar akan menjadi aliran permukaan
un off).
be Dengan model tangki tersebut dan menggunakan luasan DAS di outlet
su ndung Wawotobi, maka dapat disusun sedemikian rupa sehingga lebih mewakili
pa b-sub DAS daerah tersebut, ataupun mewakili perbedaan struktur/jenis tanah
ke da setiap lapisan. Susunan model tangki tersebut selain dapat menjelaskan
m hilangan awal curah hujan, dan ketergantungan terhadap hujan sebelumnya, juga
peempresentasikan beberapa komponen pembentuk aliran limpasan, yang memiliki
m riode dan time lag tersendiri. Ditambahkan oleh Sugawara (1961) bahwa susunan
deodel tangki adalah model yang paling mendekati setiap DAS. Sebuah tangki
m ngan saluran pengeluaran di sisi mewakili limpasan, saluran pengeluaran bawah
ewakili infiltrasi, dan komponen simpanan dapat mewakili proses limpasan di
80

dalam suatu atau sebagian daerah aliran sungai. Beberapa tangki serupa yang
paralel dapat mewakili suatu daerah aliran sungai yang luas (Linsley et al., 1986).

Kalibrasi Model Tangki


Kalibrasi model tangki dilakukan dengan menggunakan data curah hujan
harian tahun 2009 dan untuk memperoleh nilai debit model. Penentuan nilai-nilai
parameter dilakukan dengan metode trial and error sehingga dihasilkan nilai debit
model yang mendekati nilai debit aktual dan memiliki nilai koefisien determinasi
(R2) terbesar.
Ni lai-nilai parameter yang ditentukan dengan metode trial and error antara
lain kan dungan air tanah (xx), tinggi lubang outlet tangki (h), koefisien lubang
outlet tangki (a), dan koefisien lubang tangki ke arah bawah (z). Pada tabel 1 dapat
diketahu i nilai-nilai koefisien parameter hasil kalibrasi menggunakan data tahun
2009, da ri hasil kalibrasi tersebut diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar
23.81%, hal ini dikarenakan data debit aktual yang kurang baik. Selanjutnya
kalibrasi dilakukan mengacu pada data harian selama sebulan pada bulan Maret
2009 ya ng merupakan data debit yang paling baik yang tersedia dan dilakukan
koreksi pada data debit di bulan lainnya. Setelah dilakukan kalibrasi model tangki,
maka model ini layak digunakan untuk tahap selanjutnya.
Be rdasarkan nilai-nilai koefisien model tangki hasil kalibrasi dapat diketahui
bahwa n ilai koefisien outlet tangki (a) semakin ke bawah semakin kecil, ini
disebabk an karena semakin dalam lapisan tanah maka kemampuan tanah untuk
melimpa skan air semakin kecil. Sama halnya dengan nilai koefisien tangki ke arah
bawah ( z) yang nilainya semakin ke bawah semakin kecil, hal ini disebabkan karena
semakin dalam lapisan tanah maka kemampuan tanah untuk meneruskan air ke
lapisan yang lebih dalam (perkolasi) semakin kecil. Dari hasil kalibrasi model
tangki i ni diketahui bahwa kandungan air tanah (xx) yang paling banyak terdapat
pada tan gki keempat (Tabel 23). Kandungan air di dalam tanah pada tiap-tiap
tingkat k edalaman tangki ini sangat dipengaruhi oleh jenis tanaman yang hidup di
atasnya, ini dikarenakan tiap-tiap tanaman memiliki kedalaman perakaran yang
berbeda sehingga kemampuan mengangkut air dari dalam tanah pun berbeda.

Tabel 23 Nilai koefisien model tangki hasil kalibrasi data tahun 2009
Nilai Hutan Lahan Sawah Pemuki- Savana Semak
Parameter Koefisien Pertanian man Belukar

Kandungan xx1 130 120 110 90 100 100


air tanah
tangki 1
Kandungan xx2 300 300 300 300 300 300
air tanah
tangki 2
Kandungan xx3 540 540 540 540 540 540
air tanah
tangki 3
81

l 23 Lanjutan
Tabe
Nilai Lahan Pemuki- Savana Semak
meter Hutan Sawah
Koefisien Pertanian man Belukar
Para ungan
Kandnah xx4 660 660 660 660 660 660
air ta i 4
tangkisien
Koef a11 0.0019 0.015 0.014 0.01 0.016 0.02
outlet i 1-1
tangkisien
Koef a12 0.0016 0.05 0.04 0.01 0.05 0.09
outlet i 1-2
tangkisien
Koef a2 0.0003 0.002 0.003 0.005 0.004 0.004
outlet i 2
tangkisien
Koef a3 0.00025 0.0006 0.0007 0.0009 0.0008 0.0008
outlet i 3
tangkisien
Koef a4 0.00003 0.00007 0.00008 0.0001 0.00009 0.00009
outlet i 4
tangkgi
Ting h11 90 80 70 80 70 70
outlet i 1-1
tangkgi
Ting h12 60 50 50 60 50 50
outlet i 1-2
tangkgi
Ting h2 130 110 100 100 110 110
outlet i 2
tangkisien
Koef i 1 ke z1 0.9 0.11 0.08 0.08 0.07 0.11
tangk h
bawaisien
Koef i 2 ke z2 0.6 0.016 0.015 0.011 0.013 0.013
tangk h
bawaisien
Koef i 3 ke z3 0.23 0.0011 0.0009 0.0007 0.0008 0.0008
tangk h
bawa er: Hasil analisis (2013)
Sumb
Analisis peta penggunaan lahan di Sub DAS Konaweha tahun 2009-2011
enunjukkan bahwa penggunaan lahan hutan masih dominan dengan luas
m3,921.83 (tahun 2009) dan 313,845.26 (tahun 2011). Perubahan penggunaan
31han periode 2009-2011 disajikan pada Tabel 24.
la
82

Tabel 24 Tutupan lahan yang digunakan dalam tahap kalibrasi dan validasi
Model Tangki

Penggunaan Lahan Tahun 2009 (ha) Tahun 2011 (ha)


Hutan 313,921.83 313,845.26
Permukiman 10.55 10.55
Pertanian Campuran 13,882.97 14,643.27
Savana 2,435.98 2,435.98
Sawah 163.89 163.90
Semak Belukar 8,040.22 7,339.24

Gambar 28 Grafik hasil kalibrasi model tangki menggunakan data tahun 2009

Validasi Model Tangki

Pr oses validasi model tangki pada penelitian ini dilakukan dengan


menggu nakan data curah hujan harian dan debit aktual harian tahun 2011. Dalam
proses v alidasi model ini digunakan nilai koefisien model tangki yang telah
diperoleh dari hasil kalibrasi dengan data tahun 2009. Proses validasi model tangki
ini dilakukan tanpa memperhitungkan parameter root water uptake yang dilakukan
oleh tanaman. Dari hasil validasi model tangki menggunakan data tahun 2011 ini
diperoleh nilai uji validasi Absolute Means Error (AME) sebesar 68%. Nilai
AbsoluteMeans Error hasil validasi model tangki menggunakan data tahun 2011
lebih besar dibandingkan hasil kalibrasi model tangki menggunakan data tahun
2009, al h ini dikarenakan perbedaan tingkat keakuratan data debit aktual harian
yang dig unakan, dimana data debit aktual harian tahun 2011 lebih akurat dibanding
data debit aktual harian tahun 2009.
83

AME = 68%

mbar 29 Grafik hasil validasi model tangki Gambar 30 Grafik sebaran hasil validasi
Ga menggunakan data tahun 2011 model tangki menggunakan data
tahun 2011

nalisis Model Tangki untuk Mengetahui Total Limpasan, Total Infiltrasi,


A dan Kandungan Air Tanah dari Setiap Tata Guna Lahan

Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis model tangki untuk mengetahui


al limpasan, total infiltrasi, dan kandungan air tanah dari tiap tata guna lahan.
totstribusi potensi air bulanan, debit total limpasan, infiltrasi, dan kandungan air
Dinah hasil analisis tank model di Sub DAS Konaweha disajikan pada Gambar 31-
ta . Besaran nilai debit total limpasan, infiltrasi, dan kandungan air tanah ini
33gunakan untuk mengetahui bagaimana keadaan air di wilayah Sub DAS
dionaweha.
K

Gambar 31 Total limpasan di Sub DAS Konaweha Tahun 2011

Dari grafik total limpasan dan kondisi infiltrasi total diketahui bahwa tata
na lahan hutan memiliki peran yang paling besar dalam meningkatkan debit
guran sungai. Selain itu tata guna lahan hutan dapat meningkatkan kemampuan
aliiltrasi air untuk menyerap ke dalam tanah menjadi kandungan air tanah yang
infkup besar untuk dimanfaatkan pada musim kemarau.
cu
84

Gambar 32 Total Infiltrasi total tiap land use di Sub DAS Konaweha Tahun 2011

Gambar 33 Jumlah KAT tiap land use di Sub DAS Konaweha Tahun 2011

Pembahasan

Proses Hidrologi Hasil Tank Model


H asil nilai total limpasan, infiltrasi, dan kandungan air tanah oleh perakaran
tanaman merupakan hasil analisis tank model. Besarnya setiap proses tersebut
dipenga ruhi oleh sifat tanah dan tutupan lahan serta konservasi. Kemampuan tanah
dalam m eresapkan air tercermin dari jenis vegetasi yang di permukaan tanah.
Fungsi vegetasi secara efektif dapat mencerminkan kemampuan tanah dalam
mengabs orbsi air hujan, mempertahankan atau meningkatkan laju infiltrasi, dan
menunju kkan kemampuan dalam menahan air atau kapasitas retensi air (KRA)
(Schwab, 1992).
Pa da grafik kandungan air tanah diketahui bahwa tata guna lahan hutan paling
besar m enyumbang debit kandungan air tanah di Sub DAS Konaweha, ini
disebabk an karena terdapat hubungan erat antara komponen tanah, air dan vegetasi.
Tanah m erupakan media untuk pertumbuhan vegetasi. Jenis tanah yang berbeda
akan m emiliki perbedaan karakteristik dalam hal sifat fisik, biologi, maupun
kimiawi tanah. Sifat-sifat tanah dapat menentukan jenis nutrisi atau zat makanan
dalam ta nah, banyak air yang dapat disimpan dalam tanah, dan sistem perakaran
yang me ncerminkan sirkulasi pergerakan air di dalam tanah. Kemampuan tanah
dalam m eresapkan air tercermin dari jenis vegetasi yang berada di permukaan
85

tanah. Fungsi vegetasi secara efektif dapat mencerminkan kemampuan tanah dalam
mengabsorbsi air hujan, mempertahankan atau meningkatkan laju infiltrasi, dan
menunjukkan kemampuan dalam menahan air atau kapasitas retensi air (KRA)
(Schwab et al, 1993).
Lahan hutan pada lokasi penelitian didominasi oleh jenis tanah Podsolik dan
disusul oleh jenis tanah Mediteran. Tanah Podsolik merupakan tanah dengan
horison penimbunan liat (horison argilik), dan kejenuhan basa kurang dari 50%,
dan tidak mempunyai horison albik. Sedangkan tanah Mediteran mirip seperti tanah
Podsolik mempunyai horison argilik tetapi memiliki kejenuhan basa lebih dari 50%.
Soil Conservation Service (SCS) Amerika Serikat telah mengembangkan indeks
yang disebut Runoff Curve Number (CN) atau bilangan kurva aliran permukaan
(BK). Bilangan ini menyatakan pengaruh bersama tanah, keadaan hidrologi, dan
kandungan air sebelumnya (U.S. Soil Conservation Service, 1997). Berdasarkan
sistem klasifikasi tanah yang dikembangkan oleh SCS, jenis tanah pada lokasi
penelitian dikategorikan kedalam kelompok hidrologi tipe C, yaitu lempung
berliat,lempung berpasir dangkal, tanah berkadar bahan organik rendah, dan tanah-
tanah berkadar liat tinggi.
Dari grafik diatas terlihat bahwa data debit total limpasan pada lahan hutan
sebesar 977,41 mm/tahun dan infiltrasi total pada penggunaan lahan hutan sebesar
1.685,9 mm/tahun. Salah satu komponen dalam siklus hidrologi adalah limpasan
hujan. Komponen limpasan hujan dapat berupa runoff (aliran permukaan) ataupun
aliran yang lebih besar seperti aliran air di sungai. Limpasan akibat hujan ini dapat
terjadi dengan cepat dan dapat pula setelah beberapa jam setelah terjadinya hujan.
Lama waktu kejadian hujan puncak dan aliran puncak sangat dipengaruhi oleh
kondisi wilayah tempat jatuhnya hujan. Makin besar perbedaan waktu kejadian
hujan puncak dan debit puncak, makin baik kondisi wilayah tersbut dalam
menyimpan air di dalam tanah. Wilayah penelitian dengan kondisi tropis dimana
hujan terjadi terpusat pada enam bulan periode hujan menyebabkan kita harus bisa
melakukan rekayasa konservasi air dengan cara menyimpan air hujan sebanyak
mungkin di dalam tanah selama musim hujan dan memanfaatkannya setelah
datangnya periode musim kemarau. Disamping itu, penyimpanan air hujan yang
baik akan mampu meredam kejadian aliran puncank yang tinggi yang dapat
menyebabkan banjir.
Proses infiltrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain; tekstur dan
struktur tanah, persediaan air awal (kelembaban tanah), kegiatan biologi dan unsur
organik, jenis dan kedalaman serasah, dan tumbuhan bawah atau tajuk penutup
tanah lainnya (Asdak, 1995). Lahan hutan pada lokasi penelitian secara umum
termasuk dalam klasifikasi infiltrasi cepat, hal ini lebih disebabkan karena pada
penggunaan lahan hutan terdapat faktor-faktor pendukung infiltrasi antara lain
yaitu: strukturnya gumpal agak membulat, halus, lemah sampai gembur. Tekstur
tanah dominan liat sampai lempung berdebu, pori tanah menunjukkan pori makro
cukup dan pori meso cukup. Drainase tanah atau kecepatan meresapnya air dari
tanah/keadaan yang menunjukkan lama dan seringnya jenuh air adalah baik/sedang
dan kedalaman air tanahnya termasuk dalam yaitu 300 cm.
Vegetasi yang menutupi permukaan tanah pada lahan hutan berupa tanaman
ke ras dimana akar dari tanaman tersebut membuat rongga-rongga dalam tanah yang
m enyebabkan air lebih mudah terinfiltrasi ke dalam tanah. Akar-akar tanaman
m ampu menembus tanah dan membentuk rongga-rongga antar butir sehingga air
86

mudah untuk memasuki rongga-rongga antar butir tersebut. Hal ini berhubungan
pula dengan kandungan air tanah yang besar pada lahan hutan, yaitu sebesar
1.659,95 mm/tahun.
Aplikasi Skenario Model Tangki untuk Peningkatan Potensi
Ketersediaan Sumberdaya Air di Sub DAS Konaweha
Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis skenario model tangki (business
as usual, pesimis, moderat, dan optimis), untuk mengetahui skenario mana yang
paling tepat untuk diterapkan pada pengelolaan Tata Guna Lahan (hutan, pertanian
campuran, sawah, pemukiman, savana, dan semak) di Sub DAS Konaweha untuk
mengetahui distribusi potensi air bulanan, mengurangi limpasan, meningkatkan
potensi sumberdaya air di Sub DAS Konaweha dengan upaya konservasi
sumberdaya air, dan memberikan gambaran perubahan kondisi tata guna lahan hasil
skenariomodel tangki.
Dari hasil analisis model tangki tersebut dirumuskan berbagai skenario
aplikasimodel tangki untuk peningkatan potensi ketersediaan sumberdaya air di
Sub DAS Konaweha, yaitu: (1) Skenario Pesimis (bertahan pada kondisi yang ada
sambil mengadakan perbaikan konservasi sumberdaya air seadanya); (2) Skenario
Moderat(melakukan perbaikan konservasi sumberdaya air tapi tidak maksimal);
dan (3) Skenario Optimis (melakukan perbaikan konservasi sumberdaya air secara
menyeluruh dan terpadu yang melibatkan stakeholder terkait).

a. Distribusi Potensi Air Bulanan di Sub DAS Konaweha


Distribusi potensi air bulanan yang dihasilkan oleh model sebesar 71,48
3
mm/bulan sama dengan 857,77 mm/tahun atau setara dengan 33.590 m /tahun.
Sehingga potensi air rata-rata bulanan di Sub DAS Konaweha sebesar 2799,14
m3/bulan . Distribusi potensi air bulanan maksimum berdasarkan skenario Business
as Usua l berada pada bulan Juli sebesar 110,08 mm/bulan, sedangkan distribusi
air bulanan minimum berada pada bulan November sebesar 44,82
potensi
an. Gambar 34 menunjukkan bahwa distribusi potensi air bulanan pada
mm/bul 11 untuk bulan Februari dan November terjadi defisit air. Kondisi seperti
tahun 20 berikan gambaran bahwa perlu dilakukan pengelolaan yang ditujukan
ini memeningkatkan debit minimum agar kebutuhan air di wilayah tersebut dapat
untuk m i secara terus menerus. Berdasarkan hasil analisis simulasi model tangki
terpenuhmaka dapat disimpulkan bahwa ketersediaan air pada musim hujan masih
tersebut sedangkan pada musim kemarau khususnya bulan Juli-Oktober terjadi
surplus, an jumlah air. Oleh karena itu maka perencanaan peningkatan ketersediaan
penurunuskan pada pemenuhan kebutuhan air pada musim kemarau.
air difokplikasi model dengan skenario menunjukkan bahwa skenario konservasi
A ih baik akan menurunkan run off yaitu dari 71,48 mm/bulan menjadi 54,30
yang leban dan mengisi air tanah (lihat Gambar 37). Sebaran bulanan hasil model
mm/bulerdasarkan skenario dapat dilihat pada Gambar 34.
tangki b
87

Gambar 34 Distribusi Potensi Air Bulanan di Sub DAS Konaweha

Adapun ratio nilai Qmaks dan Qmin hasil simulasi distribusi potensi air bulanan
disub DAS Konaweha tahun 2011 disajikan pada Tabel 24, dimana upaya
konservasi yang dilakukan berdasarkan hasil simulasi menunjukkan bahwa dengan
penerapan skenario optimis maka ratio Qmaks dan Qmin akan menjadi semakin baik.
Trend perkembangan potensi air bulanan di Sub DAS Konaweha berdasarkan
skenario pesimis, moderat, dan optimis menunjukkan ratio Qmaks dan Qmin yang
semakin kecil. Ini menandakan bahwa upaya konservasi yang dilakukan dapat
memperbaiki ratio Qmaks dan Qmin di Sub DAS Konaweha.
Tabel. 24 Nilai Qmaks dan Qmin Hasil Simulasi Distribusi Potensi Air
Bulanan di Sub DAS Konaweha Tahun 2011
Skenario Qmaks Qmin Qmaks/Qmin
Bussines as Usual 110.08 52.42 2.10
Pesimis 80.26 45.91 1.75
Moderat 78.20 44.48 1.76
Optimis 65.81 45.90 1.43

b. Total Limpasan Model


Air limpasan (runoff) adalah bagian dari presipitasi yang mengalir menuju
sa luran, danau, atau lautan sebagai aliran permukaan dan bawah permukaan
(Schwab et al, 1966). Perbandingan total limpasan dari tiap tata guna lahan (TGL)
dilakukan berdasarkan perbandingan nilai limpasan yang diperoleh dari berbagai
skenario (business as usual, pesimis, moderat, dan optimis). Dari hasil perhitungan
model tangki diperoleh hasil bahwa skenario terbaik untuk mengurangi limpasan
yang dapat terjadi di tiap unit analisis tata guna lahan adalah skenario optimis,
dengan nilai limpasan total paling kecil yaitu 652 mm/tahun.

Gambar 35 Total Limpasan di Sub DAS Konaweha dengan Skenario


88

Pada gambar diatas terlihat bahwa perubahan pola TGL di suatu daerah dapat
mempengaruhi debit yang keluar dari suatu sistem DAS. Dari keseluruhan hasil
simulasidapat dibuat suatu kesimpulan bahwa upaya konservasi sumberdaya air
yang dilakukan pada kawasan hutan, lahan pertanian campuran, sawah,
pemukiman, savana, dan semak dapat memperkecil debit maksimum dan
memperbesar debit minimum. Hal ini berarti bahwa tidak semua curah hujan yang
jatuh pada sistem DAS langsung dialirkan ke sungai tetapi disimpan terlebih dahulu
dalam tanah dalam bentuk kandungan air tanah (cadangan air tanah).
M etode konservasi sumberdaya air meliputi penggunaan tumbuhan atau
tanaman dan sisa-sisa tumbuhan/tanaman yang disebut metode vegetatif, dan
manipul asi permukaan tanah dan pembangunan bangunan pencegah erosi yang
disebut metode mekanik (Arsyad, 2000). Upaya konservasi sumberdaya air yang
dapat dil akukan di kawasan hutan berupa kegiatan penghutanan kembali terutama
pada dae rah hutan yang sudah gundul akibat aktifitas pembalakan liar. Pada lahan
pertanian campuran upaya konservasi yang dapat dilakukan adalah dengan
pembuatan guludan dan pembuatan teras. Pada areal sawah upaya konservasi yang
dapat dilakukan adalah dengan pembuatan teras bangku dan perbaikan irigasi. Pada
areal pemukiman upaya konservasi yang dapat dilakukan adalah dengan
memperbaiki drainase dan mengaplikasikan teknologi resapan air seperti
pembuatan sumur resapan dan teknologi lubang resapan biopori di sekitar areal
pemukim an. Pada savana upaya konservasi yang dapat dilakukan adalah dengan
an teras dan penanaman rumput permanen. Sedangkan pada kawasan
pembuat
paya konservasi yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan teras
semak udan penanaman semak dengan tanaman penutup tanah yang baik.
bangku
al Infiltrasi Model
c. Tot
Proses masuknya air hujan ke dalam tanah dan turun ke permukaan air tanah
infiltrasi. Proses infiltrasi melibatkan tiga proses yang saling tidak
di sebutng yaitu proses masuknya air hujan melalui pori-pori permukaan tanah,
tergantu ngnya air hujan tersebut di dalam tanah dan proses mengalirnya air
tertampuke tempat lain (Sutoyo, 1999).
tersebut

bar 36 Debit Total Infiltrasi di Sub DAS Konaweha dengan Skenario


Gam
perti terlihat pada gambar diatas, perbandingan total infiltrasi dari tiap tata
Sehan (TGL) dilakukan berdasarkan perbandingan nilai infiltrasi yang
guna lah dari berbagai skenario (business as usual, pesimis, moderat, dan optimis).
diperoleil perhitungan model tangki diperoleh hasil bahwa skenario terbaik untuk
Dari has
89

m eningkatkan laju infiltrasi yang dapat terjadi pada tiap unit analisis tata guna lahan
ad alah skenario optimis, dengan nilai total infiltrasi paling besar yaitu 56,488
m m/tahun. Pengaruh teknik konservasi yang sangat penting adalah meningkatnya
nil ai infiltrasi dari 54,120 mm/tahun pada kondisi eksisting tahun 2011 menjadi
56,488 mm/tahun dengan skenario optimis. Nilai infiltrasi pada setiap unit TGL
dengan upaya konservasi sumberdaya air (skenario optimis) memiliki nilai infiltrasi
lebih besar dibanding unit TGL tanpa upaya konservasi sumberdaya air.
Laju infiltrasi ditentukan oleh besarnya kapasitas infiltrasi dan laju
penyediaan air. Selama intensitas hujan (laju penyediaan air) lebih kecil dari
kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi sama dengan intensitas hujan. Jika intensitas
hujan melampaui kapasitas infiltrasi, maka terjadilah genangan air di permukaan
tanah atau aliran permukaan (runoff).

d. Jumlah Total Kandungan Air Tanah (AT) Model


Laju infiltrasi terbesar terjadi pada kandungan air tanah yang rendah.
Se makin tinggi kadar air tanah maka laju infiltrasi semakin berkurang, dan akan
mencapai laju minimum yang konstan pada keadaan tanah jenuh air. Sifat berbagai
lapisan suatu profil tanah menentukan kecepatan masuk air. Pada tanah-tanah yang
digarap, gerakan air kebawah seringkali terhambat di lapisan atas disebabkan
karena agregat tanah telah terdispersi dan pori-pori tanah tersumbat oleh liat dan
debu (erosi internal), atau oleh terbentuknya lapisan tapak bajak (plow sole) yang
terjadi sebagai akibat pengolahan tanah dalam kedaan basah dengan bajak berulang
kali pada kedalaman yang sama. Suatu lapisan tanah yang bertekstur kasar dibawah
suatu lapisan bertekstur halus menghambat gerakan air ke bawah sebelum lapisan
bertekstur halus tersebut jenuh dengan air.

Gambar 37 Jumlah Total Air Tanah di Sub DAS Konaweha dengan Skenario

Seperti terlihat pada gambar diatas, kandungan air tanah meningkat dari
52 ,555 mm/tahun pada kondisi eksisting tahun 2011 naik menjadi 55,450 mm/tahun
(p ada skenario optimis). Hal ini terjadi karena upaya konservasi tanah dengan
m etode vegetatif (cover crops) dapat meningkatkan laju infiltrasi air yang terjadi
ke dalam lapisan tanah sehingga meningkatkan kandungan air tanah di lapisan tanah
ya ng lebih dalam. Terdapat beberapa cara untuk mempengaruhi infiltrasi dan
pe rkolasi dengan mempengaruhi salah satu faktor yang telah dikemukakan diatas.
Ba nyaknya air yang masuk ke dalam tanah dapat ditingkatkan dengan
90

meningkatkan simpanan depresi yang ditimbulkan oleh pengolahan tanah,


pembuatan galengan atau pengolahan menurut kontur. Mengurangi besarnya
evaporasi dengan pemberian mulsa misalnya, juga memperbesar jumlah air yang
masuk ke dalam tanah. Pemupukan dengan pupuk organik dan penutupan tanah
dengan tanaman atau sisa-sisa tanaman juga dapat memperbesar kapasitas infiltrasi.
Lubang atau celah-celah pada tanah yang ditimbulkan oleh binatang-binatang
tanah, seperti cacing dan serangga, memperbesar jumlah air yang meresap ke dalam
tanah. Hilangnya air dari dalam profil tanah oleh sistem drainase, transpirasi dan
evaporasi mengosongkan pori-pori tanah yang memungkinkan tanah menyerap
lebih banyak air hujan berikutnya.
Pendekatan dan kebijakan baru diperlukan agar konservasi tanah diterima dan
diterapkan secara luas dengan biaya yang layak. Pendekatan baru itu didasarkan
pada peningkatan sistem penggunaan tanah yang mengarah kepada pertumbuhan
vegetasipenutup tanah yang lebih baik. Sistem demikian ini dapat melindungi tanah
dari erosi, meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan kandungan bahan organik
tanah, dan memaksimalkan penyerapan air oleh tanah. Tanaman semusim, rumput,
atau pohonan tumbuh lebih baik, hasilnya meningkat dan petani bisa mendapatkan
keuntungan (Arsyad, 2006).

e. Hubungan Parameter Tank Model dengan Curve Number dalam Skenario


Ko
nservasi Pemanfaatan Lahan Untuk Penyediaan Air Baku

Dinas Konservasi Tanah Amerika atau US Soil Conservation Service (SCS)


mengembangkan suatu metode yang berusaha mengkaitkan karakteristik DAS
seperti tanah, vegetasi, dan tata guna lahan dengan bilangan kurva limpasan
permukaan (Run Off Curve Number) yang menunjukkan potensi air larian untuk
curah hujan tertentu. Metode SCS dikembangkan dari hasil pengamatan curah hujan
selama bertahun-tahun dan melibatkan banyak daerah pertanian di Amerika Serikat.
Perlu dikemukakan bahwa metode ini berlaku terutama untuk DAS yang lebih kecil
dari 13 km2 dengan rata-rata kemiringan lahan kurang dari 30 persen (Asdak, 1995).
Pengelompokan yang berdasarkan atas karakteristik tanah dibagi dalam
empat kelompok tanah yang ditandai dengan huruf A, B, C dan D. Karakteristik-
karakteristik tanah yang berhubungan dengan keempat kelompok tersebut adalah
sebagai berikut (Asdak, 1995):
Kelompok A : Potensi limpasan paling kecil, termasuk tanah pasir dengan unsur
debu dan liat.
Kelompok B : Potensi limpasan kecil, termasuk tanah berpasir dangkal, lempung
berpasir.
Kelompok C : Potensi limpasan sedang, lempung berliat, lempung berpasir
dangkal, tanah berkadar bahan organik rendah, dan tanah-tanah
berkadar liat tinggi.
Kelomp ok D: Potensi limpasan tinggi, kebanyakan tanah liat, tanah-tanah yang
mengambang secara nyata jika basah, liat berat, plastis, dan tanah-
tanah bergaram tertentu.

Kelompok hidrologi tanah (Soil Hydrology Group) menunjukkan potensi


infiltrasi tanah setelah mengalami keadaan basah pada kurun waktu tertentu (Tabel
25).
91

Tabel 25 Hubungan laju infiltrasi minimum dengan jenis tanah menurut SCS
(Asdak, 1995)
Kelompok Laju Infiltrasi
Hidrologi Tanah (mm/jam)
A 8-12
B 4-8
C 1-4
D 0-1
Tabel bilangan kurva limpasan permukaan berdasarkan deskripsi penggunaan
la di (Land Use) dan kelompok hidrologi tanah (Soil Hydrologic Soil) dapat dilihat
han
awlampiran 1. Nilai CN pada lampiran 1 hanya berlaku untuk keadaan kelembaban
keal II, yaitu nilai rata-rata untuk banjir tahunan (Asdak, 1995). Kondisi
kelembaban awal (Antecedent Moisture Condition) didefinisikan sebagai kondisi
delembaban tanah berdasarkan kejadian hujan. Hubungan parameter Tank Model
pengan Curve Number dalam skenario konservasi pemanfaatan lahan untuk
nyediaan air baku disajikan pada Tabel 26.
Tabel 26 Hubungan parameter Tank Model dengan Curve Number dalam
skenario konservasi pemanfaatan lahan
Bilangan Kurva (CN)
aliran permukaan untuk
Nilai Nilai Nilai berbagai penutup tanah
Parameter
Tata Guna Parameter Parameter Parameter
Tank (Kelompok Hidrologi
Lahan Skenario Skenario Skenario
Model Tanah C)
BaU Moderat Optimis
Kondisi Kondisi
buruk baik
a11 0,0019 0,00095 0,00048
H a12 0,0016 0,0008 0,0004
utan a2 0,0003 0,00015 0,00008 77 70
z1 0,225 0,45 0,9
z2 0,15 0,3 0,6
P a11 0,015 0,0075 0,00375
certanian a12 0,03 0,015 0,0075 90 78
ampuran
z1 0,0225 0,045 0,09
S a11 0,014 0,007 0,0035
awah 88 78
a12 0,04 0,02 0,01
a11 0,01 0,005 0,0025
a12 0,01 0,005 0,0025
P a2 0,005 0,0025 0,00125
ermukiman a3 0,0009 0,00045 0,000225 88 77
z1 0,02 0,04 0,08
z2 0,00275 0,0055 0,011
z3 0,000175 0,00035 0,0007
S a11 0,016 0,008 0,004
avana a12 0,05 0,025 0,0125 86 74
z1 0,0175 0,035 0,07
S a11 0,02 0,01 0,005
emak a12 0,09 0,045 0,0225 92 78
z1 0,0275 0,055 0,11
92

f. Kondisi Tata Guna Lahan Hasil Skenario Model Tangki


Berdasarkan hasil simulasi skenario model tangki dengan menggunakan
simulasi perubahan parameter: koefisien outlet tangki 1-2 (a11); koefisien outlet
tangki 2 (a12); koefisien outlet tangki 3 (a2); koefisien outlet tangki 4 (a3);
koefisien tangki 2 ke bawah (z1); koefisien tangki 3 ke bawah (z2); dan kandungan
air tanah tangki 2 (z3), diperoleh luasan perubahan kondisi tata guna lahan hasil
skenariomodel tangki seperti yang disajikan pada Gambar 38.

Sumber: Diolah berdasarkan hasil simulasi skenario model tangki, 2014

Gambar 38 Luasan perubahan kondisi tata guna lahan hasil skenario model tangki
untuk TGL Hutan, Pertanian, Sawah, Pemukiman, Savana, dan Semak
93

Luasan perubahan kondisi tata guna lahan hasil skenario model tangki
ter sebut (Gambar 39) menjadi dasar bagi peneliti dalam menyusun rekomendasi
al okasi anggaran dalam Renstra SKPD terkait untuk upaya konservasi sumberdaya
air di Sub DAS Konaweha Kabupaten Konawe. Besarnya alokasi anggaran per
he ktar masing-masing tata guna lahan disesuaikan dengan besaran anggaran biaya
ya ng telah dijabarkan dalam Renstra SKPD Kabupaten Konawe Tahun 2013-2018.
Al okasi anggaran ini yang menjadi dasar masukan bagi pemerintah daerah dalam
m engkaji alokasi anggaran konservasi sumberdaya air yang dibutuhkan pada
masing-masing tata guna lahan di Kabupaten Konawe.
Adapun upaya konservasi sumberdaya air yang dapat dilakukan oleh SKPD
terkait di tata guna lahan hutan berupa kegiatan penghutanan kembali (reboisasi)
terutama pada daerah hutan yang sudah gundul akibat aktifitas pembalakan liar.
Pada lahan pertanian campuran upaya konservasi yang dapat dilakukan adalah
dengan pembuatan guludan dan pembuatan teras. Pada areal sawah upaya
konservasi yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan teras bangku dan
perbaikan irigasi. Pada areal pemukiman upaya konservasi yang dapat dilakukan
adalah dengan memperbaiki drainase dan mengaplikasikan teknologi resapan air
seperti pembuatan sumur resapan dan teknologi lubang resapan biopori di sekitar
areal pemukiman. Pada savana upaya konservasi yang dapat dilakukan adalah
dengan pembuatan teras dan penanaman rumput permanen. Sedangkan pada
kawasan semak upaya konservasi yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan
teras bangku dan penanaman semak dengan tanaman penutup tanah yang baik.
Diharapkan dengan diketahuinya persentase luasan wilayah yang perlu diintervensi
dengan upaya konservasi sumberdaya air, akan memperbaiki kondisi tata guna
lahan yang rusak menjadi baik kembali.
Rekomendasi jumlah alokasi anggaran yang dibutuhkan untuk masing-
masing tata guna lahan di Sub DAS Konaweha Kabupaten Konawe dapat dilihat
pada Tabel 40. Biaya untuk konservasi sumberdaya air per ha pada tiap TGL
disesuaikan dengan anggaran di Renstra SKPD Kab. Konawe 2013-2018. Besarnya
alokasi anggaran untuk upaya konservasi pada masing-masing tata guna lahan
dijumlahkan dengan luasan kondisi tiap tata guna lahan hasil skenario model tangki
skenario moderat dan skenario optimis.

Simpulan

Kondisi hidrologi Sub DAS Konaweha yang digambarkan dari data curah
hu jan harian dan debit harian pada stasiun Abuki tahun 2011 menunjukkan bahwa
tel ah terjadi fluktuasi debit rata-rata bulanan. Berdasarkan hasil simulasi distribusi
po tensi air bulanan di Sub DAS Konaweha tahun 2011 dengan model tangki
di ketahui bahwa potensi air baku dapat ditingkatkan dengan konservasi. Distribusi
po tensi air bulanan yang dihasilkan oleh model sebesar 71,48 mm/bulan sama
3
de ngan 857,77 mm/tahun atau setara dengan 33.590 m /tahun. Sehingga potensi air
3
rat a-rata bulanan di Sub DAS Konaweha sebesar 2799 m /bulan. Distribusi potensi
air bulanan maksimum berdasarkan skenario Bussines as Usual berada pada bulan
Juli sebesar 110,08 mm/bulan, sedangkan distribusi potensi air bulanan minimum
berada pada bulan November sebesar 44,82 mm/bulan.
Debit limpasan pada tata guna lahan hutan menghasilkan debit limpasan
94

sebesar 977,41 mm/tahun, jumlah ini sebanding dengan luasan lahan hutan yang
paling besar jika dibandingkan dengan luas tata guna lahan lainnya. Nilai infiltrasi
pada tataguna lahan hutan memiliki nilai infiltrasi paling besar dibanding tata guna
lahan lainnya yaitu 1.685,9 mm/tahun. Hal ini terjadi karena tanaman penutup
tanah/cover crops pada lahan hutan dapat meningkatkan laju infiltrasi air yang
terjadi ke dalam lapisan tanah sehingga meningkatkan kandungan air tanah di
lapisan tanah yang lebih dalam. Jumlah kandungan air tanah (AT) yang terbesar
adalah pada lahan hutan dengan jumlah AT sebesar 1.659,95 mm/tahun. Hal ini
disebabkan karena penyerapan air yang dilakukan oleh perakaran dari tanaman
penutuptanah/cover crops pada lahan hutan.
De bit limpasan di sub DAS Konaweha pada skenario optimis dengan
penerap an konservasi seperti;penanaman tanaman penutup tanah/cover crops,
penghut anan kembali pada lahan-lahan yang gundul, pembuatan guludan,
pembuat an teras, perbaikan irigasi, perbaikan drainase, dan pengaplikasian
teknologi resapan air seperti pembuatan sumur resapan dan teknologi lubang
resapan biopori di sekitar areal pemukiman, akan menghasilkan debit limpasan
yang lebih kecil dibandingkan dengan skenario business as usual tanpa upaya
konservasi sumberdaya air, ini berarti bahwa upaya konservasi sumberdaya air
dapat menghambat laju aliran permukaan sehingga menurunkan limpasan (run off)
yang terjadi di lapisan atas tanah.
Debit aliran permukaan menurun dari 858 mm/tahun pada kondisi eksisting
tahun 2 011 menjadi 652 mm/tahun (pada skenario optimis) setelah diterapkan
upaya k onservasi tanah, hal ini berarti kemungkinan kekurangan air pada musim
kemarau menjadi lebih kecil. Nilai infiltrasi pada setiap unit TGL dengan upaya
konserv asi tanah (skenario optimis) memiliki nilai infiltrasi lebih besar dibanding
unit TG L tanpa upaya konservasi tanah (skenario business as usual). Nilai total
infiltrasi meningkat dari 54.120 mm/tahun pada kondisi eksisting tahun 2011
menjadi 56.488 mm/tahun dengan penerapan skenario optimis. Hal ini terjadi
karena tehnik konservasi dengan metode vegetatif (cover crops) dapat
meningkatkan laju infiltrasi air yang terjadi ke dalam lapisan tanah sehingga
meningkatkan kandungan air tanah di lapisan tanah yang lebih dalam. Kandungan
air tanah mengalami peningkatan dari 52.555 mm/tahun pada kondisi eksisting
tahun 2011 naik menjadi 55.450 mm/tahun (pada skenario optimis). Kandungan air
tanah pada setiap unit TGL dengan upaya konservasi dapat mengisi sampai
kedalaman yang lebih dalam, hal ini disebabkan karena penyerapan air yang
dilakukan oleh perakaran dari tanaman penutup tanah/cover crops.
Da ri hasil tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa konservasi
sumberd aya air yang dilakukan dapat memperbaiki potensi kandungan air tanah.
Peran tat a guna lahan yang memperhatikan aspek konservasi sumberdaya air sangat
penting dalam menjaga interval antara debit maksimum dan debit minimum aliran
sungai a gar tidak terlalu besar. Model tangki ini juga dapat digunakan untuk
mempre diksi debit sungai pada berbagai penggunan lahan di Sub DAS Konaweha.
95

6 STATUS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA


ALAM UNTUK PENYEDIAAN AIR BAKU DI KAB. KONAWE

Pendahuluan

Pasokan air untuk mendukung berjalannya pembangunan dan berbagai


kebutuhan manusia perlu dijamin kesinambungannya, terutama yang berkaitan
dengan kuantitas dan kualitasnya sesuai dengan yang dibutuhkan. Oleh karena itu,
sumberdaya air yang ada perlu dikelola secara berkelanjutan. Sistem pengelolaan
sumberdaya air berkelanjutan merupakan sistem pengelolaan sumberdaya air yang
didesain dan dikelola serta berkontribusi penuh terhadap tujuan masyarakat (sosial
dan ekonomi) saat ini dan masa yang akan datang, dengan tetap mempertahankan
kelestarian aspek ekologisnya (Loucks, 2000).
Perubahan penggunaan lahan diduga mengakibatkan terjadinya penurunan
de bit minimum dan peningkatan debit maksimum di Kabupaten Konawe. Fakta
m enunjukkan bahwa pada bulan Mei tahun 2000 debit air sekitar 380 m3/detik
m enyebabkan lebih dari 10.000 hektar sawah di wilayah irigasi Wawotobi terendam
ba njir. Pada tahun yang sama dari bulan September 3
sampai November terjadi
ke keringan dengan debit minimum rata-rata 10,6 m /detik yang menyebabkan lebih
ri 5.000 hektar sawah di wilayah irigasi Wawotobi tidak mendapatkan pasokan
da
yang cukup. Pada bulan September tahun 2003 debit minimum sungai
aironaweha adalah 27 m3/detik, pada tahun 2006 dan 2008 debit minimum bulan
K ptember menjadi 23 m3/detik dan 20 m3/detik. Jika kecenderungan penurunan ini
Serlanjut, maka diperkirakan akan terjadi defisit air pada musim kemarau di
be bupaten Konawe (Sub Dinas PU Pengairan Prov. Sultra, 2010).
Ka Agar pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe dapat berlangsung secara
rkelanjutan, maka perlu diterapkan konsep pembangunan berkelanjutan atau
bestainable development. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang
supat memenuhi kebutuhan sekarang tanpa harus mengorbankan kemampuan
danerasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri (Brundtland
geport, 1987). Substansi dari konsep ini adalah tujuan sosial, ekonomi dan
Regkungan dapat berjalan secara bersama-sama. Dalam penerapannya, tujuan
linmbangunan berkelanjutan tidak hanya terbatas pada tiga dimensi yaitu dimensi
peologi, dimensi ekonomi dan dimensi sosial, tetapi dapat berkembang sesuai
ekngan kebutuhan dan keragaman dari masing-masing daerah atau wilayah yang
deeliti.
dit Alternatif pendekatan yang dapat digunakan untuk menganalisis status
berlanjutan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku di
ke bupaten Konawe secara menyeluruh adalah dengan menggunakan metode
Kanilaian cepat multi disiplin (multi disciplinary rapid appraisal) dengan salah satu
peknik penilaiannya adalah metode Multi Dimensional Scalling (MDS)
te enggunakan perangkat lunak Rapfish (Rapid appraisal for fisheries) yang
m kembangkan oleh Rapfish Group Fisheries Center University of British Columbia
di nada (Fauzi dan Anna 2005). Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan
Katuk mengetahui keberlanjutan pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe
unenggunakan lima dimensi. Hal ini dengan mempertimbangkan berbagai aspek
m ng mempengaruhi proses pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air
ya
96

baku di Kabupaten Konawe. Adapun kelima dimensi yang digunakan adalah


dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi teknologi dan dimensi
kelembagaan. Pada bab ini penelitian bertujuan untuk (1) menganalisis tingkat
keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku di
Kabupaten Konawe, dan (2) menganalisis faktor-faktor penting yang
mempengaruhi keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air
baku di Kabupaten Konawe.

Metode Analisis

Jenis dan Sumber Data


mber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data
Su
primer diperoleh melalui kegiatan survey lapangan, wawancara pakar (indepth
intervie w), dan pengisian kuesioner. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui
penelusu ran literatur hasil-hasil penelitian, studi pustaka, laporan dan dokumen dari
berbagai instansi yang berhubungan dengan bidang penelitian.

Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data primer dilakukan dengan melakukan wawancara dan dan
observasi lapangan di wilayah penelitian. Wawancara dilakukan terhadap pejabat
pemerintah daerah dan akademisi yang terkategori pakar melalui diskusi dan
wawancara mendalam (indepth interview). Pengumpulan data sekunder dilakukan
melalui kunjungan ke instansi terkait, telaah dokumen dan literatur serta
mengunduh dari media elektronik.

Analisis Data
Metode analisis yang digunakan yaitu (1) software pengembangan metode
Rapfish (Rapid appraisal for fisheries) yang diberi nama Rapid Appraisal for
KonaweWater Resources (Rap-Konawe) melalui metode Multi Dimensional
Scalling(MDS) untuk menilai indeks dan status keberlanjutan pengelolaan sumber
daya alam untuk penyediaan air baku di Kab. Konawe, (2) analisis leverage untuk
mengetahui atribut-atribut sensitif yang berpengaruh terhadap indeks keberlanjutan
di masing-masing dimensi, (3) analisis Monte Carlo digunakan untuk menduga
pengaruh galat pada selang kepercayaan 95 persen. Nilai indeks Monte Carlo
dibandingkan dengan nilai indeks MDS. Penentuan nilai Stress dan koefisien
2
determinasi (R ) yang berfungsi untuk mengetahui perlu tidaknya penambahan
atribut dan mencerminkan keakuratan dimensi yang dikaji dengan keadaan yang
sebenarnya.
Te knik ordinasi Rap-Konawe dengan metode MDS dilakukan melalui
beberap a tahapan, yaitu: (1) penentuan atribut pada setiap dimensi keberlanjutan
dan men definisikannya melalui kajian pustaka dan pengamatan lapangan. Dalam
penelitia n ini mencakup 44 atribut pada 5 dimensi yang dianalisis, yaitu 13 atribut
dimensi ekologi, 8 atribut dimensi ekonomi, 7 atribut dimensi sosial, 9 atribut
dimensi teknologi, dan 7 atribut dimensi kelembagaan; (2) Penilaian setiap atribut
dalam s kala ordinal (skoring) berdasarkan hasil survei lapangan; (3) Analisis
ordinasi dengan MDS untuk menentukan posisi status keberlanjutan pada setiap
dimensi dalam skala indeks keberlanjutan; (4) Menilai indeks dan status
97

ke berlanjutan pada setiap dimensi; (5) Melakukan sensitivity analysis (leverage


an alysis) untuk menentukan peubah yang sensitif mempengaruhi keberlanjutan;
(6) Analisis Monte Carlo untuk memperhitungkan dimensi ketidakpastian
(K avanagh, 2001; Pitcher dan David, 2001). Pada analisis dengan MDS juga
dil akukan analisis leverage,
2
analisis Monte Carlo, penentuan nilai Stress dan
ko efisien determinasi (R ). Skala Indeks keberlanjutan sistem yang dikaji
mempunyai selang 0 persen – 100 persen, seperti yang tertera pada Tabel 27.
Tabel 27 Kategori Indeks dan Status Keberlanjutan

Nilai Indeks Kategori


0,00 – 25,00 Buruk (tidak berkelanjutan)
25,01 – 50,00 Kurang (kurang berkelanjutan)
50,01 – 75,00 Cukup (cukup berkelanjutan)
75,01 – 100,00 Baik (berkelanjutan)

Analisis leverage dalam MDS dilakukan untuk mengetahui atribut yang


nsitif dan intervensi atau perbaikan yang perlu dilakukan. Atribut yang sensitif
seperoleh berdasarkan hasil analisis leverage yang terlihat pada perubahan Root
diean Square (RMS) ordinasi pada sumbu x. Semakin besar perubahan RMS maka
Mmakin sensitif peranan atribut tersebut terhadap peningkatan status keberlanjutan.
se Analisis Monte Carlo digunakan untuk menduga pengaruh galat pada selang
percayaan 95 persen. Nilai indeks Monte Carlo ini dibandingkan dengan indeks
ke
DS. Nilai Stress dan koefisien determinasi (R2) berfungsi untuk mengetahui perlu
M
aknya penambahan atribut dan mencerminkan keakuratan dimensi yang dikaji
tid
ngan keadaan sebenarnya. Lebih lanjut Fauzi dan Anna (2005) menambahkan
de
hwa nilai S-Stress yang rendah menunjukkan good fit, sedangkan nilai S-Stress
ba
ng tinggi menunjukkan sebaliknya. Menurut Kavanagh dan Pitcher (2004),
ya
odel yang baik (hasil analisis cukup baik) adalah jika nilai S-Stress kurang dari
m
25 (S<0,25), dan R2 mendekati 1 (100%).
0,
Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis menggunakan Rap-Konawe menunjukkan bahwa


deks keberlanjutan dari dimensi ekologi 52,36% (cukup berkelanjutan); dimensi
inonomi 36.93% (kurang berkelanjutan), dimensi sosial 34,16% (kurang
ekrkelanjutan), dimensi teknologi 35,39% (kurang berkelanjutan), dan dimensi
belembagaan 35,39% (kurang berkelanjutan). Agar setiap dimensi tersebut
kerkelanjutan pada masa yang akan datang, maka atribut-atribut (kondisi eksisting)
beri masing-masing dimensi yang sensitif perlu dilakukan intervensi atau
darbaikan. Nilai dari masing-masing dimensi keberlanjutan (Kite diagram)
peajikan pada Gambar 39.
dis
98

Gambar 39 Diagram layang-layang indeks keberlanjutan pengelolaan sumber


daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kab.Konawe

Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi

Hasil analisis dengan menggunakan Rap-Konawe terhadap 13 atribut,


diperoleh nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi sebesar 52,36 berarti
cukup berkelanjutan (indeks terletak di antara nilai 50,00 - 74,99). Nilai indeks
keberlanjutan ini menunjukkan kondisi ekologi di Kabupaten Konawe cukup baik.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan ekologi wilayah untuk mendukung
aktivitasdi wilayah tersebut cukup berkelanjutan.

52,36

Gambar 40 Indeks Status Keberlanjutan dan Atribut Pengungkit


Dimensi Ekologi

Be rdasarkan analisis leverage terhadap atribut ekologi pada Gambar 40


diatas, diperoleh 3 (tiga) atribut yang dinilai sensitive terhadap tingkat
keberlan jutan dari dimensi ekologi yaitu: 1). Pengembangan sumber air baku untuk
penyedi aan air bersih (RMS = 3,04), 2). Pemanfaatan lahan terhadap kualitas air
baku (R MS = 2,58), dan 3). Tinggi permukaan air tanah (RMS = 2,28). Perubahan
99

terhadap ke-3 leverage faktor ini akan mudah berpengaruh terhadap kenaikan atau
penurunan terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi.

Pengembangan Sumber Air Baku untuk Penyediaan Air Bersih


Kabupaten Konawe mempunyai beberapa sungai yang cukup potensial
sebagai bahan baku air minum. Namun hanya sungai dengan debit air yang kecil
saja yang sudah dimanfaatkan. Saat ini sungai Lambuya dimanfaatkan sebagai
sumber air baku untuk PDAM Konawe yang melayani Kota Unaaha, Kec.
Wawotobi dan sekitarnya. Dari hasil analisis penilaian atribut dalam skala ordinal
menunjukkan
m bahwa pengembangan sumber air baku untuk penyediaan air bersih
de emberikan pengaruh signifikan terhadap status keberlanjutan dimensi ekologi
unngan nilai sebesar 3,04. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa sumber air baku
sutuk penyediaan air bersih di Kab. Konawe masih perlu dicari alternatif baru selain
mber air baku yang sudah ada saat ini.
La PDAM Konawe saat ini baru memanfaatkan 2 (dua) sumber air yaitu sungai
ke mbuya dengan kapasitas 200-300 liter/detik dan kualitas cukup baik di musim
se marau dan agak keruh di musim penghujan, serta kontinuitas di musim kemarau
kitar 200 liter/detik, dan sungai Meluhu untuk IKK Meluhu dengan kapasitas
10
0-200 liter/detik dan kualitas cukup baik dimusim kemarau dan agak keruh
di
musim penghujan serta kontinuitas dimusim kemarau sekitar 100 liter/detik.
Al
ih Fungsi Lahan Terhadap Kualitas Air Baku
m Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk disekitar DAS Konaweha
daemberikan pengaruh terhadap perubahan tata guna lahan yang pada akhirnya
airpat berpengaruh terhadap sistem hidrologi yang ada terkait dengan ketersediaan
mdi DAS Konaweha. Dari hasil analisis penilaian atribut dalam skala ordinal
peenunjukkan bahwa alih fungsi lahan terhadap kualitas air baku memberikan
sengaruh signifikan terhadap status keberlanjutan dimensi ekologi dengan nilai
lahbesar 2,58. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa kesesuaian pemanfaatan
an di wilayah DAS Konaweha ”tidak sesuai” peruntukannya.
pe Kondisi lahan disekitar DAS Konaweha pada umumnya berupa lahan
dertanian campuran, hutan, sawah, savana dan semak. Namun demikian seiring
bengan bertambahnya waktu dan jumlah penduduk, lahan dikawasan hutan banyak
(pralih fungsi menjadi areal tanaman perkebunan mente, kakao dan kelapa sawit
daerambahan hutan) di Kabupaten Konawe. Akibat dari aktifitas pembalakan liar
lahn pembukaan lahan untuk perkebunan tersebut menyebabkan meningkatnya luas
an kritis di DAS Konaweha.
Ti
nggi Permukaan Air Tanah
pe Sumberdaya air tanah yang ada di daerah penelitian baik air tanah bebas, air
permukaan maupun air tanah dalam, secara umum telah dimanfaatkan. Air
barmukaan berupa sungai telah dimanfaatkan untuk bendungan dan atau pengairan
degi persawahan di kabupaten Konawe yaitu bendung Wawotobi yang dilakukan
jungan membendung aliran air sungai Konaweha. Selain itu, sungai Konaweha
mga telah dimanfaatkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk
Laemenuhi kebutuhan air bersih di Kota Kendari dan sekitarnya. Sedangkan sungai
mimbuya dimanfaatkan oleh PDAM Kab. Konawe untuk pemenuhan kebutuhan air
num di kota Unaaha dan sekitarnya.
100

Dari hasil analisis penilaian atribut dalam skala ordinal menunjukkan bahwa
konservasi air yang rendah memberikan pengaruh signifikan terhadap status
keberlanjutan dimensi ekologi dengan nilai sebesar 2,28. Kondisi tersebut
menggambarkan bahwa turunnya permukaan air tanah sangat dipengaruhi oleh
kurangnya kesadaran masyarakat tentang upaya konservasi sumberdaya air. Air
tanah bebas sejauh ini dipergunakan oleh masyarakat umum untuk keperluan
sehari-hari, sedangkan air tanah dalam dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan dan
kantor serta sarana umum lainnya melalui sumur bor, namun kenyataannya
penggunaan air tanah untuk keperluan diatas dilakukan secara berlebihan dan tidak
terkendali, sehingga di musim kemarau banyak sumur yang mengalami penurunan
debit airyang signifikan.

Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi

Hasil analisis dengan menggunakan Rap-Konawe terhadap 8 atribut,


diperoleh nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekonomi sebesar 36,93 berarti
kurang berkelanjutan (indeks terletak di antara nilai 25,00 - 49,99). Berdasarkan
analisis leverage terhadap atribut ekonomi diperoleh 2 (dua) atribut yang dinilai
sensitif terhadap tingkat keberlanjutan dari dimensi ekonomi yaitu: 1). Tingkat
keuntungan PDAM (RMS = 3,55), dan 2). Penyerapan tenaga kerja (RMS = 3,54).
Perubahan terhadap ke-2 leverage factor ini akan mudah berpengaruh terhadap
kenaikan atau penurunan terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi.
Adapunhasil analisis leverage disajikan pada Gambar 41.

36,93

Gambar 41 Indeks Status Keberlanjutan dan Atribut Pengungkit


Dimensi Ekonomi

Tingkat Keuntungan PDAM


Secara umum PDAM berbeda dengan perusahaan swasta murni yang selalu
berorientasi pada profit semata. Namun dalam menjalankan fungsinya PDAM harus
mampu membiayai sendiri dan berupaya mengembangkan tingkat pelayanannya
disamping mampu memberikan sumbangan pembangunan berupa PAD kepada
pemerintah daerah.
101

Pelayanan air bersih di Kabupaten Konawe yang dilayani oleh Perusahaan


Da erah Air Minum (PDAM) saat ini baru mencakup 4 (empat) kecamatan yaitu:
Ke c. Unaaha, Kec. Wawotobi, Kec. Lambuya, dan Kec. Meluhu. Jumlah pelanggan
air minum di Kabupaten Konawe sampai tahun 2012 tercatat sebanyak 1.3513
pe langgan. Dari jumlah tersebut volume air yang disalurkan mencapai 195.639 m
de ngan nilai penjualan air sebesar Rp. 485.225.691. Ditinjau dari komposisi
pe nggunaannya yang terbanyak adalah penggunaan rumah tangga sekitar 95,59
rsen atau sebesar 182.691 m3. Sedangkan untuk penggunaan terbesar berikutnya
pe
alah instansi pemerintah sebesar 5.216 m3 (2,67%), tempat peribadatan dan sosial
ad nnya 4.950 m3 (2,53%), serta toko dan perusahaan/industri sebesar 1.027 m3
lai 90%) (BPS Kabupaten Konawe 2013).
(0. Dari hasil analisis penilaian atribut dalam skala ordinal menunjukkan bahwa
gkat keuntungan PDAM memberikan pengaruh signifikan terhadap status
tinberlanjutan dimensi ekonomi dengan nilai sebesar 3,55. Kondisi tersebut
keenggambarkan bahwa tingkat keuntungan perusahaan daerah air minum terkait
mngan usaha pemanfaatan sumber air baku untuk penyediaan air bersih di
debupaten Konawe masih “sangat kecil”, sehingga belum dapat memberikan
Kauntungan bagi pemerintah daerah.
ke
nyerapan Tenaga Kerja.
Pe Permasalahan yang dihadapi oleh PDAM Kab. Konawe dalam hal
erasionalnya adalah luasnya wilayah kota dengan kondisi permukiman yang juga
opsebar secara tidak merata, sehingga memerlukan investasi biaya yang besar untuk
terembangun jaringan distribusi PDAM di Kab. Konawe. Dari hasil analisis
mnilaian atribut dalam skala ordinal menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja
peemberikan pengaruh signifikan terhadap status keberlanjutan dimensi ekonomi
mngan nilai sebesar 3,54. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa penyerapan
denaga kerja dalam pengelolaan air baku belum memberikan solusi terhadap
termasalahan yang dihadapi oleh PDAM Kab. Konawe.
pe

Status Keberlanjutan Dimensi Sosial

Hasil analisis dengan menggunakan Rap-Konawe terhadap 7 atribut,


peroleh nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi sosial sebesar 34,16 berarti
dirang berkelanjutan (indeks terletak di antara nilai 25,00-49,99). Berdasarkan
kualisis leverage terhadap atribut sosial diperoleh 2 (dua) atribut yang dinilai
annsitive terhadap tingkat keberlanjutan dari dimensi sosial yaitu: 1). Motivasi dan
sepedulian masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan
kean untuk kelestarian sumber air baku (RMS = 4,94), dan 2). Tingkat pendidikan
lahmal masyarakat (RMS = 3,73). Perubahan terhadap ke-2 leverage factor ini akan
forudah berpengaruh terhadap kenaikan atau penurunan terhadap nilai indeks
mberlanjutan dimensi sosial. Hasil analisis leverage disajikan pada Gambar 42.
ke
102

34,16

Gambar 42 Indeks Status Keberlanjutan dan Atribut Pengungkit


Dimensi Sosial

Motivasi dan Kepedulian Masyarakat Terhadap Perbaikan Lingkungan,


Rehabilitasi Hutan dan Lahan untuk Kelestarian Sumber Air Baku
Peran DAS Konaweha terhadap Kabupaten Konawe dan sekitarnya antara
lain adalah sebagai sumber air untuk keperluan pertanian (irigasi), sumber air baku
untuk air minum, daerah tangkapan air (catchment area), dan sebagai pengendali
banjir. Peran penting tersebut dewasa ini mulai terancam oleh menurunnya kualitas
DAS Konaweha akibat kegiatan masyarakat yang cenderung tidak peduli dan
merusaklingkungan DAS Konaweha.
Da ri hasil analisis penilaian atribut dalam skala ordinal menunjukkan bahwa
motivasi dan kepedulian masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan,
rehabilit asi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber air baku di kawasan DAS
Konawe ha memberikan pengaruh signifikan terhadap status keberlanjutan dimensi
sosial d engan nilai sebesar 4,94. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa
pemaham an dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumber daya air
terkait dengan pemanfaatan sumber air baku untuk penyediaan air bersih
berkelanjutan “masih kurang”.
Pembuangan limbah pestisida dari aktifitas pertanian dan limbah domestik
menimbulkan pencemaran air sungai, kegiatan penggalian bahan galian golongan
C yang cenderung merusak badan sungai Konaweha dan sungai Lahumbuti memicu
terjadinya erosi dan tanah longsor. Aktifitas pembalakan liar di hulu sungai
Konaweha dan Lahumbuti turut memberikan andil dalam terjadinya banjir di Kab.
Konawedan Kota Kendari. Pengelolaan daerah sempadan sungai yang tidak sesuai
dengan ketentuannya, serta berbagai aktifitas masyarakat yang merusak lainnya
merupakan gambaran bahwa masih rendahnya tingkat pemahaman dan kepedulian
masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan
untuk kelestarian sumber air baku.

Tingkat Pendidikan Formal Masyarakat


Pendidikan merupakan suatu kebutuhan dasar dalam kehidupan, sebagai
faktor yang sangat dominan dalam pembentukan dan pengembangan sumber daya
manusia (SDM). Pendidikan selain begitu penting dalam mengatasi dan mengikuti
tantanga n perkembangan zaman, juga membawa pengaruh positif terhadap
103

perkembangan berbagai bidang kehidupan lainnya. Oleh karena itu tidaklah


mengherankan apabila sektor pendidikan senantiasa mendapat banyak perhatian. Di
bidang pendidikan salah satu tantangan yang dihadapi, adalah bagaimana
menciptakan sistem pendidikan untuk semua (aspek wilayah dan ekonomi), yaitu
sistem pendidikan yang dapat menjawab tantangan ekonomi masyarakat, serta
persebaran penduduk yang sebagian besar berada di wilayah-wilayah pelosok yang
memungkinkan pelayanan pendidikan belum sepenuhnya merata, kualitas
pendidikan yang masih terbatas, dan belum terjangkau bagi seluruh masyarakat.
(RPIJM Bidang PU/Cipta Karya Kab Konawe Tahun 2009-2013).
Dari hasil analisis penilaian atribut dalam skala ordinal menunjukkan bahwa
tingkat pendidikan formal masyarakat memberikan pengaruh signifikan terhadap
status keberlanjutan dimensi sosial dengan nilai sebesar 3,73. Kondisi tersebut
menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal masyarakat di Kab. Konawe
masih “belum merata”.

Status Keberlanjutan Dimensi Teknologi

Hasil analisis dengan menggunakan Rap-Konawe terhadap 9 atribut,


diperoleh nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi teknologi sebesar 35,39 berarti
kurang berkelanjutan (indeks terletak di antara nilai 25,00 - 49,99). Berdasarkan
analisis leverage terhadap atribut teknologi diperoleh 3 (tiga) atribut yang dinilai
sensitive terhadap tingkat keberlanjutan dari dimensi teknologi yaitu: 1). Tingkat
pelayanan air bersih PDAM (RMS = 3,86), dan 2). Teknologi penanganan limbah
(RMS = 3,50), dan 3). Kondisi drainase di kawasan permukiman (RMS = 3,40).
Perubahan terhadap ke-3 leverage factor ini akan mudah berpengaruh terhadap
kenaikan atau penurunan terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi teknologi.
Adapun hasil analisis leverage disajikan pada Gambar 43.

35,39

Gambar 43 Indeks Status Keberlanjutan dan Atribut Pengungkit


Dimensi Teknologi

Tingkat Pelayanan Air Bersih PDAM


Sistem pelayanan yang baik terhadap para pelanggan akan memberikan citra
pr oduk yang baik, yang pada akhirnya sangat mempengaruhi tingkat permintaan
ata s produk atau jasa yang ditawarkan. Dari hasil analisis penilaian atribut dalam
sk ala ordinal menunjukkan bahwa tingkat pelayanan air bersih PDAM memberikan
104

pengaruh signifikan terhadap status keberlanjutan dimensi teknologi dengan nilai


sebesar 3,86. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa tingkat pelayanan air bersih
PDAM terkait dengan pemanfaatan sumber air baku untuk penyediaan air bersih
“masih rendah”.
Fakta dilapangan memperlihatkan air sering macet berhari-hari tanpa
pemberitahuan yang jelas, kondisi air yang kotor, dan keluhan pelanggan yang tidak
segera tangani
di merupakan fenomena permasalahan yang dihadapi oleh pelanggan
PDAM ab.K Konawe. Kurang berkualitasnya layanan PDAM pada pelanggan dapat
dilihat ari
d tekanan air yang rendah, aliran air yang tidak kontinyu, dan tingginya
angka kebocoran dalam sistem perpipaan di PDAM Kab. Konawe.
Teknologi Penanganan Limbah
Kabupaten Konawe merupakan daerah pertanian dimana sebagian besar
aktifitas masyarakatnya adalah bertani sehingga penggunaan pupuk dan pestisida
sangat berpotensi sebagai sumber pencemar terhadap air sungai. Selain itu,
pertamb angan di sekitar DAS Konaweha dan pembuangan air limbah domestik
yang ber asal dari masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai juga sangat
berpoten si dalam mencemari sungai. Dari hasil analisis penilaian atribut dalam
skala or dinal menunjukkan bahwa teknologi penanganan limbah memberikan
pengaru h signifikan terhadap status keberlanjutan dimensi teknologi dengan nilai
sebesar 3,50. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa teknologi penanganan
limbah terkait dengan usaha pemanfaatan sumber air baku untuk penyediaan air
bersih berkelanjutan “belum optimal”.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2007, bahwa kondisi
perairan atau status mutu air pada DAS Konaweha termasuk dalam kategori cemar-
ringan. Kondisi mutu air sungai saat ini tidak mengalami perubahan secara
signifikan. Merujuk pada Peraturan Pemerintah RI No. 82 tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, sungai di Kab.
Konawe diklasifikasikan sebagai badan air kelas III. (Laporan Kualitas Air Badan
Lingkungan Hidup Konawe 2011).
Teknologi Resapan Air di Kawasan Permukiman
Krisis ketersediaan air bersih yang telah terjadi di beberapa daerah di
Indonesi a cenderung semakin meningkat, dan dapat terjadi pada daerah lainnya
termasu k di Kab. Konawe. Disamping itu, kekeringan pada musim kemarau dan
banjir p ada musim hujan secara rutin menimpa kita. Masalah tersebut diantaranya
disebabk an oleh kesalahan dalam pengelolaan daerah aliran sungai dan juga
kerusaka n lingkungan yang terus berjalan sekarang ini. Dari hasil analisis penilaian
atribut d alam skala ordinal menunjukkan bahwa kondisi teknologi resapan air di
kawasan permukiman memberikan pengaruh signifikan terhadap status
keberlan jutan dimensi teknologi dengan nilai sebesar 3,40. Kondisi tersebut
mengga mbarkan bahwa kondisi teknologi resapan air di kawasan permukiman
terkait d engan usaha pemanfaatan sumber air baku untuk penyediaan air bersih
berkelanjutan masih “belum optimal” dalam penerapannya dilapangan.
Pe rmasalahan genangan dan banjir berada pada kawasan kabupaten yang
mempun yai intensitas kawasan terbangun cukup tinggi, yang umumnya berada
pada jal ur jalan utama kabupaten. Belum adanya kebijakan yang berpihak pada
lingkun gan dan masih lemahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya penerapan
105

teknologi resapan air di kawasan permukiman menyebabkan belum teratasinya


permasalahan genangan dan banjir di Kabupaten Konawe.

Status Keberlanjutan Dimensi Kelembagaan

Hasil analisis dengan menggunakan Rap-Konawe terhadap 7 atribut,


di peroleh nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi kelembagaan sebesar 35,39
be rarti kurang berkelanjutan (indeks terletak di antara nilai 25,00 - 49,99).
Be rdasarkan analisis leverage terhadap atribut kelembagaan diperoleh 2 (dua)
atr ibut yang dinilai sensitive terhadap tingkat keberlanjutan dari dimensi
ke lembagaan yaitu: 1). Rezim pengelolaan air bersih (RMS = 2,23), dan
2). Ketersediaan perangkat hukum adat/local wisdom (RMS = 1,43). Perubahan
ter hadap ke-2 leverage factor ini akan mudah berpengaruh terhadap kenaikan atau
pe nurunan terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi kelembagaan. Adapun hasil
analisis leverage disajikan pada Gambar 44.

48,17

Gambar 44 Indeks Status Keberlanjutan dan Atribut Pengungkit Dimensi


Kelembagaan

Rezim Pengelolaan Air Bersih


Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Unaaha adalah salah satu
pe rusahaan daerah yang bergerak di bidang jasa pelayanan air bersih yang berstatus
BU MD. Pengelolaan sarana air bersih yang telah dibangun pada mulanya dikelola
ol eh Badan Pengelola Air Minum (BPAM) Kabupaten Dati II Kendari, melalui
Pe rda No. 10 Tahun 1997 tanggal 26 Mei 1997 tentang pendirian PDAM Kabupaten
Da ti II Kendari. Selanjutnya pada tanggal 1 Januari 2001 berlaku Undang-Undang
N o. 22 tentang Otonomi Daerah, maka PDAM Kabupaten Dati II Kendari berubah
m enjadi PDAM Kabupaten Kendari (Cabang Unaaha), dan kini menjadi PDAM
Kabupaten Konawe.
Dari hasil analisis penilaian atribut dalam skala ordinal menunjukkan bahwa
re zim pengelolaan air bersih memberikan pengaruh signifikan terhadap status
ke berlanjutan dimensi kelembagaan dengan nilai sebesar 2,23. Kondisi tersebut
m enggambarkan bahwa rezim pengelolaan air bersih terkait dengan usaha
pe manfaatan sumber air baku untuk penyediaan air bersih berkelanjutan dan
106

pelayanan terhadap pelanggan masih “belum optimal” sehingga perlu ditingkatkan


lagi agar mampu mengembangkan tingkat pelayanannya dan mampu memberikan
sumbangan pembangunan kepada pemerintah daerah.
Ketersediaan Perangkat Hukum Adat/Local Wisdom.
Dalam kehidupan sosial pada suku Tolaki, terdapat perangkat benda adat
yang disebut KALO SARA. Yang merupakan daya perekat yang sangat kuat untuk
memperkokoh kehidupan sosial kemasyarakatan. Keberadaan “KALO SARA”
sebagai kebudayaan Tolaki merupakan cermin cipta, rasa dan karsa yang bertujuan
menciptakan harmonisasi kehidupan masyarakat. Perwujudan kearifan lokal
masyarakat terhadap lingkungan dapat diimplementasikan dalam nilai-nilai sosial,
norma adat istiadat, etika, sistem kepercayaan, pola penataan ruang tradisional,
serta penerapan peralatan dan teknologi sederhana yang ramah lingkungan.
Penduduk Kabupaten Konawe didominasi oleh suku Tolaki. Sebagian dari
masyarakat Tolaki masih tradisional dan menggantungkan hidupnya dari mengelola
sumber ayad alam (Adijaya, 2007). Sampai saat ini suku Tolaki memiliki keyakinan
dan tradisi (kearifan lokal) untuk menjaga dan memelihara kelestarian hutan yang
terus diwariskan ke anak cucu mereka. Pernyataan ini dimaknai dari pepatah
”mombiara pombahora ronga anahoma ano dunggu opitu turuna” yang diartikan
secara arfiah
h bahwa secara individu dan kekeluargaan masyarakat adat Tolaki
harus apat
d memelihara dan melestarikan lingkungan alam yang dimilikinya
sampai lapis ketujuh anak cucu mereka (Sarmadan & Tawulo, 2007).
Da ri hasil analisis penilaian atribut dalam skala ordinal menunjukkan bahwa
ketersed iaan perangkat hukum adat/local wisdom memberikan pengaruh signifikan
terhadap status keberlanjutan dimensi kelembagaan dengan nilai sebesar 1,43.
Kondisi tersebut menggambarkan bahwa ketersediaan perangkat hukum adat/local
wisdom terkait dengan usaha pemanfaatan sumber air baku untuk penyediaan air
bersih b erkelanjutan dan pelayanan terhadap pelanggan masih “belum optimal”
dalam m enyentuh akar persoalan pengelolaan sumber daya air di Kabupaten
Konawe.

St
atus Keberlanjutan Pengelolaan Air Baku di Kabupaten Konawe

Berdasarkan hasil analisis menggunakan Rap-Konawe menunjukkan bahwa


nilai indeks keberlanjutan untuk masing-masing dimensi adalah sebagai berikut :
a. Dimensi ekologi sebesar 52,36% berarti cukup berkelanjutan (indeks terletak
antar a 50,00- 74,99).
b. Dimensi ekonomi sebesar 36.93% berari kurang berkelanjutan (indeks di antara
nilai 25,00-49,99).
c. Dimensi sosial sebesar 34,16% berarti kurang berkelanjutan (indeks terletak
antara 25,00-49,99).
d. Dimensi teknologi sebesar 35,39% berarti kurang berkelanjutan (indeks terletak
antara 25,00-49,99).
e. Dimensi kelembagaan sebesar 48,17 berarti kurang berkelanjutan (indeks
terletak antara 25,00-49,99).

Agar setiap dimensi tersebut berkelanjutan pada masa yang akan datang,
maka atribut-atribut (kondisi eksisting) dari masing-masing dimensi yang sensitif
107

perlu dilakukan intervensi atau perbaikan. Nilai dari masing-masing dimensi


keberlanjutan (diagram layang-layang) disajikan pada Gambar 40.
Sub DAS Konaweha merupakan bagian wilayah ekosistem yang berpengaruh
terhadap kondisi ekosistem setempat maupun wilayah tengah dan hilir DAS.
Masing-masing wilayah (hulu, tengah, dan hilir DAS) memiliki penekanan
kepentingan dalam pengelolaannya disesuaikan dengan kondisi DAS yaitu
karakteristik wilayah, ketergantungan dan pengaruhnya terhadap wilayah di
sekitarnya. Memperhatikan kondisi Sub DAS Konaweha, maka masing-masing
dimensi dalam pengelolaannya memiliki bobot kepentingan yang sama dalam
pengelolaannya sebagai sebuah kesatuan yang saling terintegrasi. Berdasarkan
pendapat beberapa pakar terkait diperoleh bahwa nilai bobot untuk masing-masing
dimensi adalah 20%.
Berdasarkan hasil pembobotan dari kelima dimensi pengelolaan air baku
berkelanjutan tersebut maka diperoleh nilai indeks keberlanjutan pengelolaan air
baku berkelanjutan di Kab. Konawe sebesar 41,40 (terletak antara 25,00 - 49,99)
iniberarti status pengelolaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe saat ini berada
pada status kurang berkelanjutan. Status kurang berkelanjutan di wilayah penelitian
disebabkan oleh rendahnya nilai indeks keberlanjutan dari 5 (lima) dimensi yang
dinilai. Dimana dimensi ekologi mempunyai kinerja cukup berkelanjutan
sedangkan empat dimensi lainnya dimensi ekonomi, dimensi sosial, teknologi dan
dimensi kelembagaan menunjukkan kinerja yang kurang berkelanjutan. Nilai
indeks hasil pembobotan dari kelima dimensi disajikan pada Tabel 28.

Tabel 28 Nilai indeks keberlanjutan multidimensi pengelolaan air baku


berkelanjutan di Kab. Konawe

Dimensi Nilai Indeks Nilai Bobot Nilai


o.
Keberlanjutan Keberlanjutan (%) Tertimbang
N
1 Ekologi 52.36 20 10.47
2 Ekonomi 36.93 20 7.39
3 Sosial 34.16 20 6.83
4 Teknologi 35.39 20 7.08
5 Kelembagaan 48.17 20 9.63
Jumlah 41.40

Nilai indeks keberlanjutan ini paling besar diperoleh dari dimensi ekologi
besar 10,47 dan kemudian dimensi kelembagaan 9,63 sedangkan dimensi lainnya
sebih kecil. Dimensi ekologi memang diharapkan kemampuannya untuk
leemberikan kinerja yang lebih besar sehingga mampu memberikan layanan jasa
mgkungan yang lebih besar dalam pengelolaan air baku berkelanjutan di
linbupaten Konawe.
Ka
108

Faktor Pengungkit (Leverage Factor)

A nalisis terhadap 44 atribut yang berasal kelima dimensi (ekologi, ekonomi,


sosial, te knologi, dan kelembagaan) menghasilkan 12 atribut yang berperan sebagai
faktor p engungkit (leverage factor) yang berada di setiap dimensi secara parsial
(Tabel 29). Untuk meningkatkan status keberlanjutan pengelolaan air baku di
wilayahpenelitian maka ke-12 atribut tersebut perlu dilakukan intervensi, yaitu
1 (satu)atribut perlu dikurangi atau dikendalikan intensitas perkembangannya,
10 (sepuluh) atribut perlu ditingkatkan intensitas kegiatannya, dan 1 (satu) atribut
kendalikan dan direncanakan perkembangannya secara baik.
perlu di

Tabel 29 Atribut pengungkit dimensi-dimensi keberlanjutan


Dimensi Atribut Nilai
Keberlanjutan (Faktor Pengungkit) RMS
No. imensi Ekologi 1. Pengembangan sumber air baku untuk 3,04
1. D penyediaan air bersih
2. Alih fungsi lahan terhadap kualitas air 2,58
baku
3. Tinggi permukaan air tanah 2,28
imensi 1. Tingkat keuntungan PDAM 3,55
2. D konomi 2. Penyerapan tenaga kerja 3,54
E imensi Sosial 1. Motivasi & kepedulian masyarakat 4,94
3. D terhadap upaya perbaikan lingkungan,
rehabilitasi hutan dan lahan untuk
kelestarian sumber air baku
2. Tingkat pendidikan formal masyarakat 3,73
imensi 1. Tingkat pelayanan air bersih PDAM 3,86
4. eknologi
D 2. Teknologi penanganan limbah 3,50
T 3. Teknologi resapan air di kawasan 3,40
permukiman
imensi 1. Rezim pengelolaan air bersih 2,23
5. D elembagaan 2. Ketersediaan perangkat hukum adat/local 1,43
K wisdom

ribut yang perlu dikurangi atau dikendalikan intensitas perkembangannya


At lih fungsi lahan terhadap kualitas air baku. Atribut yang perlu ditingkatkan
adalah As kegiatannya karena saat ini sudah ada namun perkembangannya masih
intensita ptimal dalam implementasinya adalah: Pengembangan sumber air baku
belum o nyediaan air bersih; Tingkat keuntungan PDAM; Penyerapan tenaga kerja;
untuk pei dan kepedulian masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan,
Motivas asi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber air baku; Tingkat pendidikan
rehabilit asyarakat; Tingkat pelayanan air bersih PDAM; Teknologi penanganan
formal m Teknologi resapan air di kawasan permukiman; dan Ketersediaan
limbah; at hukum adat/local wisdom. Sedangkan atribut yang perlu dikendalikan
perangkelaksanaan kegiatannya dan perlu direncanakan perkembangannya dengan
ik lagi di masa mendatang adalah Rezim pengelolaan air bersih.
dalam p
lebih ba
109

Analisis Monte Carlo

Memperhatikan hasil analisis Monte Carlo dan analisis MDS pada taraf
ke percayaan 95% diperoleh bahwa nilai Indeks Keberlanjutan Pengelolaan Air
Baku Berkelanjutan di Kabupaten Konawe menunjukkan adanya selisih nilai kedua
analisis tersebut sangat kecil (0,30 %). Ini berarti bahwa model analisis MDS yang
dihasilkan memadai untuk menduga nilai indeks Pengelolaan Air Baku
Berkelanjutan di Kabupaten Konawe. Perbedaan nilai yang sangat kecil ini
menunjukkan bahwa kesalahan dalam proses analisis dapat diperkecil atau
dihindari. Kesalahan yang disebabkan pemberian skoring pada setiap atribut,
variasi pemberian skoring yang bersifat multidimensi karena adanya opini yang
berbeda relatif kecil, proses analisis data yang dilakukan secara berulang-ulang
relatif stabil, dan kesalahan dalam melakukan input data dan data yang hilang dapat
dihindari (Fauzi et al. 2005). Analisis Monte Carlo ini juga dapat digunakan sebagai
metoda simulasi untuk mengevaluasi dampak kesalahan acak/galat (random error)
dalam analisis statistik yang dilakukan terhadap seluruh dimensi (Kavanagh dan
Pitcher 2004). Hasil analisis MDS dan Monte Carlo disajikan pada Tabel 30.

Tabel 30 Perbedaan Indeks Keberlanjutan antara Rap-Konawe (MDS)


dengan Monte Carlo
Dimensi Nilai Indeks Keberlanjutan (%) Perbedaan
Keberlanjutan MDS Monte Carlo (MDS – M C)
Ekologi 52.36 52.13 0.23
Ekonomi 36.93 36.98 0.05
Sosial 34.16 34.69 0.53
Teknologi 35.39 35.66 0.27
Kelembagaan 48.17 47.82 0.35

Uji Ketepatan Analisis MDS (goodness of fit)

Dari hasil analisis Rap-Konawe diperoleh koefisien determinasi (R2) antara


,08 % - 95,28 % atau lebih besar dari 80 % atau mendekati 100 %, berarti model
94ndugaan indeks keberlanjutan baik dan memadai digunakan (Kavanagh 2001).
pelai stress antara 0,14 – 0,16. Nilai koefisien determinasi ini mendekati nilai 95-
Ni0% dan nilai stress lebih kecil dari 25% sehingga model analisis MDS yang
10peroleh memiliki ketepatan yang tinggi (goodness of fit) untuk menilai indeks
diberlanjutan pengelolaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe (Fisheries,
ke 99). Nilai stress dan koefisien determinasi hasil analisis Rap-Konawe disajikan
19da Tabel 31.
pa
Tabel 31 Nilai Stress dan Nilai Koefisien Determinasi (R2) hasil Rap-Konawe
Dimensi Dimensi Dimensi Dimensi Dimensi
o. Parameter
Ekologi Ekonomi Sosial Teknologi Kelembagaan
1.
N Nilai Stress 0,14 0,14 0,15 0,14 0,16
2. Nilai R2 95,28 94,76 94,60 95,01 94,08
110

Simpulan

Berdasarkan hasil penilaian terhadap 44 atribut dari kelima dimensi ekologi,


ekonomi , sosial, kelembagaan, dan dimensi teknologi pada pengelolaan air baku
berkelan jutan di Kab. Konawe maka kondisi saat ini nilai indeks keberlanjutannya
adalah s ebesar 41,40, ini berarti pengelolaan air baku berkelanjutan di Kab.
Konawe saat ini berada pada status kurang berkelanjutan. Dimensi ekologi
mempun yai kinerja cukup berkelanjutan sedangkan empat dimensi lainnya dimensi
ekonomi, dimensi sosial, dimensi teknologi dan dimensi kelembagaan
menunjukkan kinerja yang kurang berkelanjutan.
Faktor pengungkit (leverage factor) keberlanjutan pengelolaan air baku
berkelanjutan di Kab. Konawe diperoleh sebanyak 12 atribut berasal dari dimensi
ekologi 3 atribut yaitu (1) Pengembangan sumber air baku untuk penyediaan air
bersih, (2) Pemanfaatan lahan terhadap kualitas air baku, (3) Tinggi permukaan air
tanah. Dimensi ekonomi 2 atribut yaitu (1) Tingkat keuntungan PDAM, dan
(2) Penyerapan tenaga kerja. Dimensi sosial 2 atribut yaitu (1) Motivasi dan
kepedulian masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan
lahan untuk kelestarian sumber air baku, dan (2) Tingkat pendidikan formal
masyarakat. Dimensi teknologi 3 atribut yaitu (1) Tingkat pelayanan air bersih
PDAM, (2) Teknologi penanganan limbah dan (3) Kondisi drainase di kawasan
permukiman. Dan dimensi kelembagaan 2 atribut yaitu (1) Rezim pengelolaan air
bersih, dan (2). Ketersediaan perangkat hukum adat/local wisdom.
Untuk meningkatkan nilai indeks dari masing-masing dimensi keberlanjutan
pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe ke depan maka perlu menjaga kinerja
faktor pengungkit yang baik dan melakukan intervensi kebijakan perbaikan
terhadapkinerja atribut faktor pengungkit yang buruk, sedang dan yang masih
memungkinkan untuk ditingkatkan.
111

7 KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM UNTUK


PENYEDIAAN AIR BAKU BERKELANJUTAN DI KAB. KONAWE

Pendahuluan

Kebijakan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku


be rkelanjutan di Kabupaten Konawe merupakan skenario kebijakan yang
didasarkan pada faktor kunci yang mempunyai pengaruh tinggi dan memiliki
ketergantungan terhadap sistem yang dikaji, dalam hal ini sistem pengelolaan
sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe. Faktor
yang perlu dikelola adalah faktor memiliki pengaruh tinggi terhadap tingkat
keberlanjutan sehingga mampu mendorong kinerja sistem pengelolaan untuk
mencapai tujuan sistem. Faktor lainnya yang dikelola adalah faktor dengan
ketergantungan yang rendah sehingga mampu mencapai kinerja tanpa tergantung
terhadap faktor lainnya, sedangkan faktor dengan ketergantungan yang tinggi maka
perlu dikelola secara hati-hati karena dapat mempengaruhi ketidakstabilan di dalam
sistem.
Skenario kebijakan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
berkelanjutan di Kabupaten Konawe dilakukan dengan menggunakan metode
Analisis Prospektif. Analisis Prospektif ini dilakukan dengan menganalisis derajat
hubungan kekuatan dan ketergantungan dengan memberikan skor penilaian tingkat
pengaruh langsung dan tidak langsung antar elemen (faktor) di dalam sistem DAS
yang dikaji. Pemberian nilai tingkat pengaruh antar elemen mulai dari tidak ada
pengaruh (0), berpengaruh kecil (1), berpengaruh sedang (2), dan berpengaruh
sangat kuat (3). Analisis prospektif merupakan rumusan alternatif kebijakan berupa
skenario strategis dalam pengelolaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe
sehingga dicapai kondisi yang efektif di masa yang akan datang melalui berbagai
skenario yang mungkin terjadi. Analisis prospektif ini menghasilkan faktor-faktor
dominan (kunci) yang berpengaruh sensitif terhadap kinerja sistem. Skenario
kebijakan dilakukan dengan mengintervensi faktor kunci tersebut agar dapat
meningkatkan
in kinerjanya dan kinerja sistem dapat dilihat dari peningkatan nilai
be deks keberlanjutan air baku di Kabupaten Konawe. Pada bab ini penelitian
pertujuan untuk menyusun skenario kebijakan pengelolaan sumber daya alam untuk
nyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe.

Metode Analisis
Jenis dan Sumber Data
Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data
pri
mer diperoleh melalui kegiatan survey lapangan, wawancara pakar (indepth
interview), dan pengisian kuesioner. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui
penelusuran literatur hasil-hasil penelitian, studi pustaka, laporan dan dokumen dari
berbagai instansi yang berhubungan dengan bidang penelitian.

Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data primer dilakukan dengan melakukan wawancara dan dan
observasi lapangan di wilayah penelitian. Wawancara dilakukan terhadap pejabat
112

pemerintah daerah dan akademisi yang terkategori pakar melalui diskusi dan
wawancara mendalam (indepth interview). Pengumpulan data sekunder dilakukan
melalui kunjungan ke instansi terkait, telaah dokumen dan literatur serta
mengunduh dari media elektronik.

Analisis Data
U ntuk memperoleh keputusan yang efektif dalam penentuan strategi
pengelol aan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe selanjutnya dianalisis
dengan analisis Prospektif. Analisis prospektif merupakan salah satu analisis yang
banyak d igunakan untuk merumuskan alternatif kebijakan berupa skenario strategis
yang be rkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam, industri atau pun masalah
lainnya untuk mencapai kondisi yang efektif dan efisien pada masa mendatang.
Analisis prospektif dapat digunakan sebagai alat untuk mengeksplorasi dan
mengant isipasi perubahan melalui skenario. Dapat juga sebagai alat normatif yang
merupak an pendekatan berorientasi tindakan yang dimulai dari visi terpilih
mengen ai masa depan dan menentukan jalur untuk mencapainya. Dengan demikian,
analisis prospektif tidak berfokus pada optimasi solusi, tetapi pada penyediaan
berbagai macam pilihan dan tujuan bagi para pembuat keputusan dan turut
merancang serangkaian alternatif ketimbang memilih alternatif terbaik (Bourgeois,
2004).

Tahapan Analisis Data


Menurut Hartrisari (2002), tahapan dalam melakukan analisis prospektif
adalah sebagai berikut :

1. M enentukan faktor kunci untuk masa depan dari sistem yang dikaji, pada
tahap ini dilakukan identifikasi seluruh faktor kunci dengan menggunakan
kriteria faktor variabel, kemudian dilakukan analisis untuk melihat pengaruh
faktor terhadap kinerja sistem dan ketergantungan antar faktor sebagai
elemen-elemen dalam sistem. Untuk melihat pengaruh langsung antar faktor
dalam
di sistem yang dilakukan pada tahap pertama analisis prospektif
2. M gunakan matriks, sebagaimana dideskripsikan pada Tabel 32.
3. M enentukan tujuan strategis dan kepentingan pelaku utama.
paendefinisikan dan mendeskripsikan evolusi kemungkinan masa depan,
beda tahapan ini dilakukan identifikasi bagaimana elemen kunci dapat
perubah dengan menentukan keadaan (state) pada setiap faktor, memeriksa
derubahan mana yang dapat terjadi bersamaan dan menggambarkan skenario
mngan memasangkan perubahan yang akan terjadi dengan cara
endiskusikan skenario dan implikasinya terhadap sistem.
113

Tabel 32 Matriks pengaruh dan ketergantungan faktor dalam sistem


pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan

Dari
erhadap Total
T A B C D E F G H I J
Pengaruh
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
Sumber : Bourgeois (2004)
Keterangan : A – J = faktor penting dalam sistem

Tabel 33 Pedoman penilaian pengelolaan sumber daya alam untuk


penyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe

Skor Keterangan
0 Tidak ada pengaruh
1 Berpengaruh kecil
2 Berpengaruh sedang
3 Berpengaruh sangat kuat

Pedoman pengisian :
1. Faktor yang tidak ada pengaruhnya terhadap faktor lain, jika tidak ada
pengaruh beri nilai 0.
2. Jika ada pengaruh, selanjutnya dilihat apakah pengaruhnya sangat kuat, jika ya
beri nilai 3.
3. Jika ada pengaruh baru dilihat apakah pengaruhnya kecil = 1, atau berpengaruh
sedang = 2.

Untuk menentukan faktor kunci digunakan software analisis Prospektif yang


ak an memperlihatkan tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor di dalam
sistem secara detail tampilan hasil disajikan pada Gambar 45.
114

I II
Faktor Penentu Faktor Penghubung
Pengaruh INPUT STAKE

IV III
Faktor Bebas Faktor Terikat
UNUSED OUTPUT

Ketergantungan

Gambar 45 Tingkat Pengaruh dan Ketergantungan Antar Faktor dalam Sistem

Lebih lanjut, Bourgeois (2004) menyatakan bahwa terdapat 2 tipe sebaran


variabel variabel dalam grafik pengaruh dan ketergantungan yaitu :
1. Tip e sebaran yang cenderung mengumpul pada diagonal kuadran IV ke
kuadran II. Tipe ini rnenunjukkan bahwa sistem yang dibangun tidak stabil
karena sebagian besar variabel-variabel yang dihasilkan termasuk variabel
marginal atau laverage variable. Hal ini menyulitkan dalam membangun
skenario strategis untuk masa mendatang.
2. Tip e sebaran variabel yang mengumpul di kuadran I ke kuadran III sebagai
indikasi bahwa sistem yang dibangun stabil karena memperlihatkan hubungan
yang kuat dimana variabel penggerak mengatur variabel output dengan kuat.
Selain itu, dengan tipe ini maka skenario strategis bisa dibangun lebih mudah
danefisien.

Hasil dan Pembahasan

Identifikasi Faktor Dominan

Identifikasi
di faktor dominan dalam sistem pengelolaan air baku berkelanjutan
Kabu paten Konawe dilakukan terhadap faktor pengungkit (leverage factor) dari
setiap dimensi keberlanjutan yang diperoleh dari hasil analisis leverage dengan
menggunakan Rap-Konawe yang disajikan pada Bab 6. Faktor pengungkit
(leverage) dari kelima dimensi keberlanjutan pengelolaan air baku berkelanjutan di
Kabupaten Konawe sebanyak 12 faktor, seperti disajikan pada Tabel 34 yaitu :
115

Tabel 34 Atribut Pengungkit Dimensi Keberlanjutan


Dimensi Atribut Nilai RMS
o. Keberlanjutan (Faktor Pengungkit)
N Dimensi
1. 1. Pengembangan sumber air baku untuk 3,04
Ekologi penyediaan air bersih
2. Alih fungsi lahan terhadap kualitas air 2,58
baku
3. Tinggi permukaan air tanah 2,28
2. Dimensi 4. Tingkat keuntungan PDAM 3,55
Ekonomi 5. Penyerapan tenaga kerja 3,54
3. Dimensi 6. Motivasi & kepedulian masyarakat 4,94
Sosial terhadap upaya perbaikan lingkungan,
rehabilitasi hutan dan lahan untuk
kelestarian sumber air baku
7. Tingkat pendidikan formal masyarakat 3,73
4. Dimensi 8. Tingkat pelayanan air bersih PDAM 3,86
Teknologi 9. Teknologi penanganan limbah 3,50
10. Teknologi resapan air di kawasan 3,40
permukiman
5. Dimensi 11. Rezim pengelolaan air bersih 2,23
Kelembagaan 12. Ketersediaan perangkat hukum 1,43
adat/local wisdom

Faktor pengungkit yang diperoleh dari analisis leverage tersebut akan


akukan penilaian tingkat pengaruh antar faktor baik secara langsung maupun
dil langsung. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan Analisis Prospektif.
ak
tidtiap faktor memiliki pengaruh yang lemah sampai dengan sangat kuat terhadap
Se tor lainnya. Dengan menilai tingkat pengaruh ini maka karakter faktor memiliki
fakgkat pengaruh maupun tingkat ketergantungan terhadap faktor lainnya di dalam
tin tem DAS. Analisis Prospektif terhadap sistem pengelolaan air baku
sisrkelanjutan menghasilkan pengelompokan setiap faktor kedalam 4 (empat)
be adran yaitu kuadran I = INPUT atau faktor penentu (driving variables), kuadran
ku= STAKE atau faktor penghubung (leverage variables), kuadran III = OUTPUT
II u faktor terikat (output variables), dan kuadran IV = UNUSED atau faktor bebas
ataarginal variables).
(m Hasil analisis prospektif terhadap sistem pengelolaan pengelolaan air baku
rkelanjutan disajikan pada Gambar 45. Faktor yang masuk kedalam kuadran I
be put) atau variabel penentu merupakan faktor kunci yang memiliki karakteristik
(Inemiliki pengaruh yang kuat dan memiliki ketergantungan terhadap sistem yang
m dah. Dalam pengelolaan air baku berkelanjutan maka diharapkan banyak faktor
renng berada di kuadran I (Input) atau variabel penentu sehingga pengelolaan faktor
yabih mudah, sedangkan faktor yang berada di kuadran III (Output) atau variabel
le kait maka dibutuhkan pengelolaan yang lebih hati-hati karena faktor ini memiliki
terngaruh yang rendah namun memiliki ketergantungan yang besar terhadap sistem.
pe
116

Gambar 46 Hasil analisis tingkat kepentingan faktor-faktor yang berpengaruh


pada sistem yang dikaji

Be rdasarkan Gambar 46 dapat dilihat bahwa faktor dengan karakter yang


memilik i pengaruh tinggi dan ketergantungan rendah sebanyak tiga faktor yaitu:
(1) Pen gembangan sumber air baku, (2) Teknologi resapan air di kawasan
permuki man, (3) Alih fungsi lahan terhadap kualitas air baku. Kemudian faktor-
faktor k unci/penentu yang mempunyai pengaruh tidak terlalu kuat dan memiliki
ketergan tungan yang tinggi seperti: (4) Tingkat keuntungan PDAM, (5) Motivasi
& keped ulian masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan
dan laha n untuk kelestarian sumber air baku, (6) Teknologi penanganan limbah,
(7) Ting gi permukaan air tanah, dan (8) Ketersediaan perangkat hukum adat/local
wisdom.
Kedelapan faktor tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap kinerja
sistem pengelolaan air baku di Kab. Konawe. Perubahan terhadap kinerja faktor
kunci maka secara sensitif berpengaruh terhadap kinerja sistem. Peningkatan
kinerja sistem dapat didorong melalui intervensi atau peningkatan kinerja pada
setiap faktor kunci sehingga secara bersama-sama mampu meningkatkan kinerja
sistem. Pengembangan pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih
berkelanjutan di Kab. Konawe dilakukan melalui intervensi terhadap faktor-faktor
kunci sehingga diharapkan mampu meningkatkan kinerja sistem yang dapat dilihat
melalui peningkatan nilai indeks keberlanjutannya.
117

Keadaan yang Mungkin Terjadi pada Faktor Kunci di Masa Depan

Kondisi faktor-faktor kedepan memiliki sifat ketidakpastian yaitu adanya


pe luang perubahan yaitu menjadi tetap, memburuk atau menjadi lebih baik.
A nalisis
se morfologis dilakukan untuk menganalisis kecenderungan perubahan dari
lo tiap faktor dominan dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah, keadaan
tinkal, maupun akibat perubahan faktor dari wilayah luar maupun level yang lebih
ke ggi. Ketepatan dalam analisis ini mendukung terhadap ketepatan dalam skenario
be bijakan dalam pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
ba rkelanjutan di Kab. Konawe. Beberapa variabel dominan dalam pengelolaan air
ataku berkelanjutan di Kab. Konawe mempunyai kemungkinan perubahan ke depan
in upun dilakukan perubahan melalui intervensi dalam rangka meningkatkan nilai
badeks keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air
35ku di Kab. Konawe. Perubahan faktor dominan ke depan disajikan pada Tabel
.
(d Memperhatikan kemungkinan perubahan ke depan terhadap faktor kunci
beominan) dalam pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
unrkelanjutan di Kab. Konawe maka kebijakan pengelolaan sumber daya alam
an tuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe merupakan hasil interaksi
ka tara faktor: (1) Pengembangan sumber air baku, (2) Teknologi resapan air di
ke wasan permukiman, (3) Alih fungsi lahan terhadap kualitas air baku, (4) Tingkat
pe untungan PDAM, (5) Motivasi dan kepedulian masyarakat terhadap upaya
ba rbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber air
(8)ku, (6) Teknologi penanganan limbah, (7) Tinggi permukaan air tanah, dan
Ketersediaan perangkat hukum adat/local wisdom.
be Kebijakan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
Skrkelanjutan di Kab. Konawe dilakukan berdasarkan skenario yang disusun yaitu
m enario I (pesimis), Skenario II (moderat), dan Skenario III (optimis). Skenario I
beerupakan skenario pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
intrkelanjutan di Kab. Konawe dilakukan seperti kondisi eksisting tanpa ada
ya ervensi perbaikan pada atributnya. Skenario II merupakan skenario pengelolaan
(1)ng dilakukan dengan melakukan perbaikan kinerja pada atribut sensitif
pe Pengembangan sumber air baku, (2) Teknologi resapan air di kawasan
ke rmukiman, (3) Alih fungsi lahan terhadap kualitas air baku, (4) Tingkat
pe untungan PDAM, (5) Motivasi dan kepedulian masyarakat terhadap upaya
ba rbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber air
(8)ku, (6) Teknologi penanganan limbah, (7) Tinggi permukaan air tanah, dan
sk Ketersediaan perangkat hukum adat/local wisdom. Skenario III merupakan
deenario pengelolaan air baku berkelanjutan dengan melakukan perbaikan sama
(2)ngan skenario II tetapi dengan menaikkan dua tingkat lebih baik pada kinerja :
sa Teknologi resapan air di kawasan permukiman dari cukup memadai menjadi
kungat memadai, (3) Alih fungsi lahan terhadap kualitas air baku dari tinggi dan
Ti alitas air menurun menjadi sangat tinggi dan kualitas air menurun, dan (4)
ngkat keuntungan PDAM dari sedang menjadi sangat tinggi.
118

Tabel 35 Keadaan faktor kunci dan kemungkinan perubahan kedepan dalam


pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan

Faktor dominan Kemungkinan terjadi perubahan ke depan


No. (key factor) A B C
2 3 4 5
1 engembangan sumber (1) (2) (2)
1. Pir baku Masih dalam Ada dan Ada dan
a tahap sudah sudah
perencanaan dan dilaksanakan. dilaksanakan.
belum
dilaksanakan.
Kurang baik Meningkat, Meningkat,
baik baik
lih fungsi lahan (2) (3) Sangat (3) Sangat
2. Aerhadap kualitas air baku Tinggi dan tinggi dan tinggi dan
t kualitas air kualitas kualitas
menurun. air menurun. air menurun.
Kurang baik Buruk Buruk
eknologi resapan air di (1) (2) (3)
awasan permukiman Cukup memadai Memadai Sangat
3. T memadai
k Cukup memadai Meningkat, Meningkat,
Memadai Memadai
ingkat keuntungan (1) (2) (3)
DAM Sedang Tinggi Sangat tinggi
4. T
P Sedang Meningkat, Meningkat,
Tinggi Tinggi
otivasi & kepedulian (0) (1) (2)
asyarakat terhadap Rendah Sedang Tinggi
5. Mpaya perbaika n
mngkungan, rehabilitasi Rendah Meningkat, Meningkat,
uutan dan lahan untuk Sedang Sedang
lielestarian sumber air
haku
k eknologi penanganan (0) (1) (2)
b mbah Tidak terdapat Terdapat Terdapat
6. T IPAL IPAL tapi IPAL dan
li tidak berfungsi
berfungsi dengan baik
dengan baik

Buruk Meningkat, Meningkat,


Sedang Baik
119

Tabel 35 Lanjutan
7. Tinggi permukaan air (0) (0) (0)
tanah Tidak Tidak Tidak
berfluktuasi berfluktuasi berfluktuasi
secara ekstrim secara secara
ekstrim ekstrim

Baik Tetap, Baik Tetap, Baik

8. Ketersediaan perangkat (0) (1) (2)


hukum adat/local Tidak ada Cukup Sangat
wisdom tersedia lengkap

Kurang Meningkat, Meningkat,


Sedang Tinggi
Keterangan:
A = Kondisi eksisting, Skenario I (Pesimis); B = Skenario II (Moderat); C = Skenario III
(Optimis)
(0) s/d (3) = Nilai skoring atribut faktor kunci (dominan)

Skenario Pengembangan Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam untuk


Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di Kabupaten Konawe

Skenario yang dibangun untuk pengembangan kebijakan pengelolaan sumber


da ya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe dilakukan
dengan menggunakan tiga skenario Skenario I (pesimis), Skenario II (moderat), dan
Skenario III (optimis). Skenario pengembangan kebijakan dilakukan dengan
melakukan intervensi (perbaikan) kinerja terhadap faktor kunci. Perbaikan kinerja
faktor dengan alat analisis ini dilakukan dengan meningkatkan nilai skor terhadap
faktor penting tersebut. Selanjutnya pada faktor-faktor pengungkit (leverage) pada
masing-masing dimensi keberlanjutan dibuat kondisi yang mungkin terjadi di masa
depan. Skenario kemudian disimulasikan melalui analisis MDS untuk menilai
kembali peningkatan indeks keberlanjutannya. Nilai indeks keberlanjutan adalah
jumlah nilai indeks keberlanjutan per-dimensi hasil skenario dikalikan dengan nilai
bobot masing-masing dimensi. Nilai bobot per-dimensi pada dari nilai indeks
keberlanjutan pengelolaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe adalah dimensi
ekologi 20%, dimensi ekonomi 20%, dimensi sosial 20%, dimensi teknologi 20%,
dan dimensi kelembagaan 20%. Nilai dan status keberlanjutan pengelolaan sumber
daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe hasil
pengembangan kebijakan dengan Skenario I, Skenario II dan Skenario III disajikan
pada Tabel 36.
120

Tabel 36 Nilai indeks dan status keberlanjutan hasil pengembangan kebijakan


Skenario I (Pesimis), Skenario II (Moderat), dan Skenario III (Optimis)
Skenario I Skenario II Skenario III
(Pesimis) (Moderat) (Optimis)
Dimensi
No. Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai
Indeks Tertimbang Indeks Tertimbang Indeks Tertimbang

ologi 52.36 10.47 68.04 13.61 68.04 13.61


1 Ekonomi 36.93 7.39 40.46 8.09 45.51 9.10
2 Eksial 34.16 6.83 40.16 8.03 44.46 8.89
3 Soknologi 35.39 7.08 43.29 8.66 55.58 11.12
4 Telembagaan 48.17 9.63 47.04 9.41 49.17 9.83
5 Ke ai Indeks
41.40 47.80 52.55
Nilberlanjutan
Ke Kurang Kurang Cukup
Status
Berkelanjutan Berkelanjutan Berkelanjutan

enario I (pesimis) merupakan skenario kebijakan berdasarkan kondisi


Skg tanpa melakukan intervensi terhadap faktor dominan dengan nilai indeks
eksistin jutan 41,40 atau dikategorikan kurang berkelanjutan. Dimensi ekologi
keberlani nilai tertimbang tertinggi yaitu 10,47 sedangkan dimensi sosial memiliki
memilikimbang terendah yaitu 6,83.
nilai tert enario II (moderat) dilakukan melalui perbaikan beberapa faktor kunci
Skmensi ekologi sehingga dapat meningkatkan nilai indeks dimensinya dari
pada di ula pada kondisi eksisting nilai indeksnya 52,36 meningkat menjadi 68,04.
yang sematan nilai indeks dimensi ekologi ini menunjukkan bahwa dimensi ekologi
Peningk erada pada status cukup berkelanjutan. Skenario II telah mampu
tetap b atkan nilai indeks dimensi ekologi menjadi 68,04 (cukup berkelanjutan).
meningkmensi ekonomi dilakukan perbaikan beberapa faktor kunci sehingga dapat
Pada di atkan nilai indeks dimensinya dari yang semula pada kondisi eksisting nilai
meningkya 36,93 meningkat menjadi 40,46. Peningkatan nilai indeks dimensi
indeksn ini menunjukkan bahwa dimensi ekonomi tetap berada pada status kurang
ekonomijutan. Skenario II telah mampu meningkatkan nilai indeks dimensi
berkelan menjadi 40,46 (kurang berkelanjutan). Pada dimensi sosial dilakukan
ekonomin beberapa faktor kunci sehingga dapat meningkatkan nilai indeks
perbaikanya dari yang semula pada kondisi eksisting nilai indeksnya 34,16
dimensi at menjadi 40,16. Peningkatan nilai indeks dimensi sosial ini menunjukkan
meningk imensi sosial tetap berada pada status kurang berkelanjutan. Skenario II
bahwa dampu meningkatkan nilai indeks dimensi sosial menjadi 40,16 (kurang
telah m jutan). Pada dimensi teknologi dilakukan perbaikan beberapa faktor kunci
berkelan dapat meningkatkan nilai indeks dimensinya dari yang semula pada
sehinggaeksisting nilai indeksnya 35,39 meningkat menjadi 43,29. Peningkatan nilai
kondisi imensi teknologi ini menunjukkan bahwa dimensi teknologi tetap berada
indeks d tus kurang berkelanjutan. Skenario II telah mampu meningkatkan nilai
pada sta imensi teknologi menjadi 43,29 (kurang berkelanjutan). Namun untuk
indeks dkelembagaan dilakukan perbaikan beberapa faktor kunci dari yang semula
dimensi
121

pada kondisi eksisting nilai indeksnya 48,17 menurun menjadi 47,04. Penurunan
nilai indeks dimensi kelembagaan ini menunjukkan bahwa dimensi kelembagaan
tetap berada pada status kurang berkelanjutan. Secara keseluruhan dengan Skenario
II (moderat) nilai indeks keberlanjutan dapat ditingkatkan dari 41,40 menjadi 47,80
namun masih berada pada status kurang berkelanjutan. Nilai indeks keberlanjutan
tersebut sumbangan terbesar diperoleh dari dimensi ekologi dan kelembagaan dan
sumbangan terkecil diperoleh dari dimensi sosial dan dimensi ekonomi.
Skenario III (optimis) mampu meningkatkan nilai indeks keberlanjutan
menjadi 52,55 berarti berada pada status cukup berkelanjutan. Skenario III
(optimis) ini telah mampu meningkatkan nilai indeks keberlanjutan dimensi
teknologi dari 43,29 menjadi 55,58 (cukup berkelanjutan), yang sebelumnya
dengan skenario II (moderat) hanya mampu meningkatkan nilai indeks dari 35,39
menjadi 43,29. Adapun nilai indeks dimensi ekonomi tetap rendah yaitu 45,51, nilai
indeks dimensi sosial tetap rendah yaitu 44,46, nilai indeks kelembagaan tetap
dah yaitu 49,17, sehingga statusnya tetap berada pada kurang berkelanjutan.
ren
Sedangkan dimensi ekologi nilai indeksnya tetap 68,04, hal ini dikarenakan pada
dimensi tersebut tidak dilakukan intervensi. Secara keseluruhan dengan skenario III
(optimis) maka nilai indeks keberlanjutan pengelolaan air baku berkelanjutan di
Kabupaten Konawe meningkat menjadi 52,55 (nilai indeks 50,01 - 75,00
menunjukkan status cukup berkelanjutan), jadi nilai indeks keberlanjutan
pengelolaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe pada skenario III
(optimis) berada pada status cukup berkelanjutan. Peningkatan nilai indeks per-
dimensi keberlanjutan dari ketiga skenario disajikan pada Gambar 47.

Gambar 47 Diagram layang-layang peningkatan indeks per-dimensi keberlanjutan


hasil skenario kebijakan pengelolaan sumber daya alam untuk
penyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe
122

Alternatif Skenario Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam untuk


Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di Kab. Konawe

Kebijakan yang dapat dikembangkan agar pengelolaan sumber daya alam


untuk penyediaan air baku di Kabupaten Konawe menjadi lebih berkelanjutan
didasarkan pada interaksi antara faktor-faktor: (1) Pengembangan sumber air baku;
(2) Teknologi resapan air di kawasan permukiman; (3) Alih fungsi lahan terhadap
kualitasair baku; (4) Tingkat keuntungan PDAM; (5) Motivasi & kepedulian
masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan
untuk kelestarian sumber air baku; (6) Teknologi penanganan limbah; (7) Tinggi
permukaan air tanah, dan; (8) Ketersediaan perangkat hukum adat/local wisdom.
Pengembangan kebijakan dilakukan secara integratif dengan meningkatkan kinerja
faktor kunci yang bersifat sensitif tersebut sehingga mampu meningkatkan nilai
indeks keberlanjutan pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe.
Sk enario yang paling memungkinkan ditempuh untuk meningkatkan
keberlan jutan pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe saat ini adalah dengan
Skenario III (optimis) karena beberapa faktor kunci tersebut ditingkatkan
kinerjan ya menjadi dua tingkat lebih baik. Dengan menggunakan Skenario III
(optimis ) maka nilai indeks keberlanjutan dapat ditingkatkan dari 41,40 (kurang
berkelan jutan) menjadi 52,55 (cukup berkelanjutan) walaupun nilai indeks dimensi
ekonomi, dimensi sosial dan dimensi kelembagaan masih rendah (kurang
berkelanjutan).
Ni lai indeks hasil Skenario III (optimis) sebesar 52,55 masih berdekatan
dengan 50,00 (kurang berkelanjutan) sehingga dengan Skenario III masih
diperluk an kewaspadaan dalam pengelolaan faktor-faktor kunci karena nilai
tersebut hanya sedikit lebih besar dari nilai indeks batas 50,00 atau cenderung
kepada k urang berkelanjutan. Dimensi sosial memerlukan penanganan yang lebih
intensif pada pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe. Peningkatan pemberian
motivasi dan kepedulian masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan,
rehabilit asi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber air baku menjadi hal penting
yang har us segera dilakukan oleh seluruh stakeholder terkait di Kabupaten Konawe.
Pe ningkatan kinerja dengan Skenario III (optimis) dilakukan dengan
peningk atan kinerja faktor kunci untuk meningkatkan: (1) Pengembangan sumber
air baku ; (2) Teknologi resapan air di kawasan permukiman; (3) Alih fungsi lahan
terhadap kualitas air baku; (4) Tingkat keuntungan PDAM; (5) Motivasi &
kepeduli an masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan
lahan untuk kelestarian sumber air baku; (6) Teknologi penanganan limbah;
(7) Tinggi permukaan air tanah, dan; (8) Ketersediaan perangkat hukum adat/local
wisdom.Dengan peningkatan kinerja faktor kunci setingkat lebih tinggi ini maka
status nilai indeks keberlanjutan pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe dapat
mengalami peningkatan menjadi 52,55 (cukup berkelanjutan).
Sk enario III ini mengandung pengertian bahwa keadaan masa depan yang
mungkin terjadi mendapat dukungan penuh dan maksimal dari semua faktor kunci,
dan sel uruh stakeholder yang terkait yakin bahwa kegiatan tersebut dapat
memper baiki DAS Konaweha dan kualitas air baku yang dihasilkan, sehingga dapat
memberi kan manfaat nyata bagi masyarakat serta memberikan kontribusi terhadap
peningk atan perekonomian daerah. Skenario III dibangun berdasarkan keadaan dari
unci dengan kondisi: (1) Pemerintah Daerah melalui SKPD terkait mencari
faktor k
123

da n menyediakan anggaran untuk pengembangan alternatif baru sumber air baku


ya ng lebih baik dari yang ada saat ini; (2) Melakukan upaya perbaikan lingkungan
de ngan menerapkan teknologi resapan air seperti pembuatan sumur resapan dan
te knologi lubang resapan biopori di daerah yang mempunyai intensitas kawasan
ter bangun cukup tinggi, melalui upaya penyuluhan kepada masyarakat;
(3) Melakukan pengawasan terhadap penggunaan lahan disekitar DAS Konaweha
ter utama untuk aktifitas pertambangan dan perladangan berpindah, serta pemberian
sa nksi yang tegas terhadap penyalahgunaan lahan yang tidak sesuai dengan
fu ngsinya; (4) Pemerintah melalui SKPD terkait memberikan sosialisasi kepada
m asyarakat bahwa turunnya permukaan air tanah sangat dipengaruhi oleh
ku rangnya kesadaran masyarakat tentang upaya konservasi sumberdaya air. Air
ta nah bebas sejauh ini dipergunakan oleh masyarakat umum untuk keperluan
se hari-hari, sedangkan air tanah dalam dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan dan
ka ntor serta sarana umum lainnya melalui sumur bor, namun kenyataannya
pe nggunaan air tanah untuk keperluan diatas dilakukan secara berlebihan dan tidak
ter kendali, sehingga di musim kemarau banyak sumur yang mengalami penurunan
de bit air yang signifikan; (5) Dalam menjalankan fungsinya PDAM harus mampu
m embiayai sendiri dan berupaya mengembangkan tingkat pelayanannya demi
ke puasan pelanggan. Dengan demikian tingkat keuntungan perusahaan daerah air
mi num terkait dengan usaha pemanfaatan sumber air baku untuk penyediaan air
be rsih di Kabupaten Konawe dapat dioptimalkan, sehingga dapat memberikan
ke untungan bagi pemerintah daerah berupa PAD; (6) Pemerintah melalui SKPD
ter kait harus mampu memberikan motivasi dan meningkatkan kepedulian
m asyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan
un tuk kelestarian sumber air baku di kawasan DAS Konaweha; (7) Pemerintah
m elalui SKPD terkait menyiapkan infrastruktur teknologi penanganan limbah
ter kait dengan usaha pemanfaatan sumber air baku berkelanjutan di Kabupaten
K onawe, dan (8) Pemerintah melalui SKPD terkait bekerja sama dengan para
To koh Adat menginventarisasi dan menata perangkat hukum adat/local wisdom
ter kait dengan usaha pemanfaatan sumber air baku berkelanjutan di Kabupaten
K onawe sebagai perwujudan kearifan lokal masyarakat terhadap lingkungan yang
da pat diimplementasikan dalam nilai-nilai sosial, norma adat istiadat, etika, sistem
ke percayaan, pola penataan ruang tradisional, serta penerapan peralatan dan
teknologi sederhana yang ramah lingkungan.
Penerapan Skenario III akan memberikan implikasi berupa:
(1) Ditemukannya alternatif sumber air baku yang baru oleh pemerintah daerah
se hingga menjadi solusi atas permasalahan minimnya kualitas pelayanan air bersih,
se rta dapat meningkatkan kuantitas serta kualitas air bersih yang dihasilkan di masa
m endatang; (2) Permasalahan genangan dan banjir di beberapa kawasan Kab.
K onawe yang mempunyai intensitas kawasan terbangun cukup tinggi akan dapat
di antisipasi dan diminimalisir di masa mendatang melalui peran serta aktif dari
pe merintah dan masyarakat; (3) Penggunaan lahan sesuai dengan peruntukannya,
se hingga fungsi hidrologis di kawasan DAS tetap terjaga dengan baik;
(4) Tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya upaya konservasi
su mberdaya air; (5) Meningkatnya mutu pelayanan PDAM kepada pelanggan
se hingga dapat memberikan keuntungan bagi pemerintah daerah berupa PAD;
(6) Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan,
reh abilitasi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber air baku di kawasan DAS
124

Konaweha; (7) Tersedianya infrastruktur teknologi penanganan limbah terkait


dengan usaha pemanfaatan sumber air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe;
dan (8) Terpeliharanya perangkat hukum adat/local wisdom terkait dengan usaha
pengelolaan dan pemanfaatan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe sebagai
perwujudan kearifan lokal masyarakat terhadap lingkungan.
Pe ngembangan kebijakan dilakukan secara integratif dengan meningkatkan
kinerja f aktor kunci yang bersifat sensitif tersebut sehingga mampu meningkatkan
nilai ind eks keberlanjutan pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe. Untuk
meningk atkan status keberlanjutan jangka panjang, skenario yang perlu dilakukan
untuk p engelolaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe adalah Skenario III
(Optimi s), dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap semua atribut
yang sen sitif, minimal terhadap 8 (delapan) atribut faktor kunci yang dihasilkan
dalam an alisis prospektif, sehingga semua dimensi yang ada menjadi berkelanjutan.
Skenario optimis merupakan skenario yang paling tepat digunakan, karena dapat
member ikan pengaruh yang paling besar terhadap perbikan kinerja pengelolaan air
baku b erkelanjutan di wilayah penelitian. Untuk dapat merealisasikannya
diperluk an kesiapan pemerintah daerah sebagai pembuat dan pelaksana kebijakan
dalam implementasi skenario optimis tersebut di lokasi penelitian.

Simpulan

Pe ngembangan kebijakan dilakukan secara integratif dengan meningkatkan


kinerja f aktor kunci yang bersifat sensitif tersebut sehingga mampu meningkatkan
nilai in deks keberlanjutan pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe. Pada
penerap an Skenario I (pesimis) nilai indeks keberlanjutannya adalah 41,40 (kurang
berkelan jutan). Skenario II (moderat) nilai indeks keberlanjutan meningkat menjadi
47,80 na mun masih tetap berada pada status kurang berkelanjutan, dan skenario III
(optimis ) indeks keberlanjutan meningkat menjadi 52.55 (cukup berkelanjutan).
Untuk m eningkatkan status keberlanjutan jangka panjang, skenario yang perlu
dilakuka n untuk pengelolaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe adalah
Skenario III (Optimis), dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap
semua a tribut yang sensitif, minimal terhadap 8 (delapan) atribut faktor kunci yang
dihasilk an dalam analisis prospektif, sehingga semua dimensi yang ada menjadi
berkelan jutan. Skenario optimis merupakan skenario yang paling tepat digunakan,
karena d apat memberikan pengaruh yang paling besar terhadap perbaikan kinerja
pengelol aan air baku berkelanjutan di wilayah penelitian. Untuk dapat
merealis asikannya diperlukan kesiapan pemerintah daerah sebagai pembuat dan
pelaksan a kebijakan dalam implementasi skenario optimis tersebut di lokasi
penelitian.
125

8 ANALISIS KELEMBAGAAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM


NTUK
U PENYEDIAAN AIR BAKU BERKELANJUTAN DI KAB. KONAWE

Pendahuluan

Permasalahan kelembagaan dalam pengelolaan sumber daya alam untuk


pe nyediaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe memiliki karakteristik yang
ko mpleks. Oleh sebab itu pendekatan yang tepat digunakan untuk menyelesaikan
m asalah tersebut adalah dengan pendekatan kesisteman (Eriyatno dan Sofyar,
2007). Kelembagaan pengelola sumberdaya air sangat diperlukan guna
melaksanakan pengelolaan sumberdaya air secara benar, efisien dan efektif
(Isnugroho, 2001). Untuk perencanaan strategis yang melibatkan keterkaitan yang
luas dan beragam dari berbagai lembaga, analisis yang tepat menggunakan metode
Interpretation Structural Modeling (ISM) (Saxena, 1992 dalam Eriyatno, 1999).
Selanjutnya dikatakan bahwa metode ISM berkaitan dengan interpretasi suatu objek
utuh atau perwakilan dari suatu sistem melalui aplikasi teori grafis secara
sistematika dan berulang-ulang. Metode ini dibagi menjadi dua bagian yaitu
penyusunan hierarki dan klasifikasi sub elemen. Prinsip dasarnya adalah
identifikasi dari struktur di dalam sistem secara efektif untuk mengambil keputusan
yang lebih baik. Dalam melakukan analisis, elemen-elemen yang digunakan adalah
men
ele yang dominan yang dikonsultasikan dengan pakar.
Kelembagaan dapat berarti bentuk atau wadah atau organisasi sekaligus juga
m engandung pengertian tentang norma-norma, aturan, dan tata cara atau prosedur
ya ng mengatur hubungan antar manusia, bahkan kelembagaan merupakan sistem
ya ng kompleks, rumit dan abstrak (Kartodiharjo, et al., 1999). Karena itu perlu
di analisis mengenai kendala, kebutuhan dan kelembagaan dalam pengelolaan
su mber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe.
Dalam pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
berkelanjutan di tingkat kabupaten, dalam hal ini di Kabupaten Konawe, perlu
dikaji aspek kendala, kebutuhan dan kelembagaan yang berperan dalam
pengelolaan air baku berkelanjutan. Kajian ini menggunakan metode Interpretative
Structural Modelling (ISM) dengan menggunakan instrumen kuesioner dan diskusi
pakar. Teknik Interpretatif Structural Modelling (ISM) ini digunakan untuk
merumuskan alternatif kebijakan dimasa yang akan datang. Analisis ini digunakan
sebagai salah satu alat (tool) dalam penelitian ini. Dengan analisis ISM ini ingin
diketahui faktor kunci apa saja yang berperan dalam pengelolaan sumber daya alam
untuk penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat Kabupaten. Oleh karena itu,
penentuan faktor kunci tersebut adalah penting, dan sepenuhnya harus merupakan
pendapat dari pihak yang berkompeten sebagai pakar (expert).
Pada bab ini penelitian bertujuan untuk : (1) menganalisis peran kelembagaan
dit injau dari aspek kendala yang dihadapi, kebutuhan program pemerintah terkait,
da n lembaga yang berperan dalam pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan
air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe; dan (2) mengembangkan model
ke lembagaan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
be rkelanjutan di Kab. Konawe dengan metode Interpretative Structural Modelling
(ISM).
126

Metode Analisis

Jenis dan Sumber Data

Su mber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data
primer d iperoleh melalui kegiatan survey lapangan, wawancara mendalam (indepth
intervie w) pakar dengan kriteria memiliki wawasan pengetahuan tentang obyek
yang dit eliti, mengetahui dengan baik lokasi penelitian, pendidikan minimum S2
yang ter kait dengan pengetahuan yang dibutuhkan, berprofesi sebagai peneliti,
pengajar, praktisi, dan pejabat pemerintahan terkait. Pakar ditentukan secara
purposive sebanyak 7 (tujuh) orang responden. Sedangkan data sekunder diperoleh
melalui penelusuran literatur hasil-hasil penelitian, studi pustaka, laporan dan
dokumen dari berbagai instansi yang berhubungan dengan bidang penelitian.

Analisis Data

M etode analisis yang digunakan untuk menentukan stakeholders yang


dominan (kunci) dalam pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
berkelan jutan di Kabupaten Konawe adalah metode Interpretative Structural
Modelli ng (ISM) yang dikembangkan oleh Saxena (1992) dalam Eriyatno (1999).
Data tek nis Interpretative Structural Modeling adalah kumpulan pendapat pakar
sebagai panelis sewaktu menjawab tentang keterkaitan antar elemen. Metode ISM
adalah s uatu metodologi yang dapat membantu suatu kelompok mengidentifikasi
hubunga n antara gagasan dan struktur penentu dalam sebuah masalah yang
kompleks (Marimin 2004). Pada penelitian ini, dengan menggunakan metode ISM
dapat diketahui stakehoder utama (faktor kunci) yang paling berperan dalam
pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih di Kabupaten Konawe.

Teknik Pengumpulan Data

As pek stakeholders merupakan institusi yang berperan dalam pengelolaan


sumber daya alam untuk penyediaan air baku untuk penyediaan air bersih
berkelan jutan di Kabupaten Konawe. Stakeholders yang berperan dalam
pengelol aan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di
Kabupat en Konawe meliputi: Pemerintah, Dunia Usaha & Industri,
Akadem isi/Perguruan Tinggi, Masyarakat, dan LSM. Pemilihan responden
disesuai kan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya dan memahami permasalahan
yang dit eliti. Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan survei pakar
(expert survey) dengan cara: Responden pakar dipilih secara sengaja (purposive
samplin g) dengan kriteria memiliki kepakaran sesuai dengan bidang yang dikaji.
Beberap a pertimbangan dalam menentukan pakar yang akan dijadikan responden
adalah:
a. Mempunyai pengalaman yang kompoten sesuai bidang yang dikaji.
b. Memiliki reputasi, kedudukan/jabatan dalam kompotensinya dengan bidang
yan g dikaji.
c. Memiliki kredibilitas tinggi, bersedia, dan berada pada lokasi yang dikaji.
127

Metode Analisis Data


Untuk menentukan stakeholder utama dalam pengelolaan sumber daya alam
un penyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe dilakukan dengan
tuk
menggunakan pendekatan Interpretative Structural Modelling (ISM). Pendekatan
ISM dapat menyajikan sebuah gambaran dari setiap hubungan langsung dan tingkat
hierarkinya. Hubungan langsung dari setiap stakeholder merujuk pada hubungan
kontekstual dalam pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih berkelanjutan
diKabupaten Konawe. Langkah-langkah ISM adalah sebagai berikut:
1. Menentukan elemen (stakeholders) sesuai dengan topik penelitian dan kondisi
di wilayah studi.
2. Tentukan hubungan kontekstual antara elemen-elemen berdasarkan hasil diskusi
dengan pakar.
3. Membuat matriks interaksi SSIM (Structural Self Interaction Matrix). Matriks
ini menggunakan perbandingan berpasangan dengan simbol VAXO.
Simbol tersebut adalah:
V : relasi dari elemen Ei sampai Ej, tetapi tidak berlaku untuk kebalikannya.
A : relasi dari elemen Ej sampai Ei, tetapi tidak berlaku untuk kebalikannya.
X : interrelasi antara Ei dan Ej (berlaku untuk kedua arah).
O : merepresentasikan bahwa Ei dan Ej adalah tidak berkaitan.
4. Membuat matriks RM (Reachability Matrix). Matriks ini menyediakan
perubahan simbolik SSIM menjadi matriks biner. Penggunaan aturan
konversinya adalah sebagai berikut:
V : jika Eij = 1 dan Eji = 0
A : jika Eij = 0 dan Eji = 1
X : jika Eij = 1 dan Eji = 1
O : jika Eij = 0 dan Eji = 0
5. Melakukan koreksi agar matriks tersebut telah memenuhi kaidah transitivity,
yaitu jika A mempengaruhi B, kemudian B mempengaruhi C, maka A harus
mempengaruhi C.
6. Menyusun hirarki dari setiap elemen yang dikaji dan mengklasifikasikannya
atas empat sektor, yaitu sektor autonomous, dependent, linkage, dan
Independent, seperti yang terlihat pada Gambar 48.

Gambar 48. Distribusi ke empat sektor pada matriks driver power-dependence.


128

a. Sektor I: Autonomous (weak driver-weak dependent variables), artinya


elemen yang berada pada sektor ini umumnya tidak berkaitan dengan sistim
atau mungkin mempunyai hubungan yang kecil meskipun hubungannya
bisa saja kuat.
b. Sektor II: Dependent (weak driver- strongly dependent variables), artinya
elemen pada sektor ini merupakan elemen yang tidak bebas.
c. Sektor III: Linkage (strong driver- strongly dependent variables), artinya
elemen yang berada pada sektor ini harus dikaji secara hati-hati karena
hubungan antara elemen tidak stabil.
d. Sektor IV: Independent (strong driver- weak dependent variables), artinya
elemen yang berada pada sektor ini merupakan sisa dari sistim yang disebut
peubah bebas.

Hasil dan Pembahasan

Kendala Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Untuk Penyediaan Air


Baku Berkelanjutan Di Tingkat Kabupaten

Berdasarkan hasil pendapat pakar, ditemukan 13 sub elemen kendala dalam


pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di
Kabupaten Konawe. Kendala paling besar yang dihadapi dalam pengelolaan air
baku untuk penyediaan air bersih di Kabupaten Konawe diantaranya adalah
menurunnya fungsi resapan air akibat berkurangnya vegetasi pada daerah
tangkapan air, dan kurangnya koordinasi serta keterpaduan pengelolaan sumber
daya airantar stakeholder terkait (Tabel 37).

Tabel 37 Elemen Kendala Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Untuk


Penyediaan Air Baku Berkelanjutan Di Tingkat Kabupaten
No. Sub Elemen Kendala
A1 T erbatasnya sarana dan prasarana pendukung
A2 Kualitas air baku untuk penyediaan air bersih yang kurang baik
A3 Kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang memadai
A4 Tingginya biaya operasional sarana penyediaan air bersih
A5 Kurangnya kemampuan kapasitas institusi pengelola air bersih
Lemahnya tata kelola kelembagaan terkait Sistem Informasi Sumber
A6
Daya Air (SISDA)
A7 Aplikasi teknologi penyediaan air bersih kurang memadai
Adanya indikasi pengambilan air tanah dalam yang berlebihan melalui
A8
umur
s pompa sehingga dapat menurunkan muka air tanah
Menurunnya fungsi resapan air akibat berkurangnya vegetasi pada daerah
A9
t
angkapan Air (DTA)
A10 Rendahnya kesadaran masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan
l
ingkungan serta konservasi tanah dan air
Kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber daya air
A11
antar stakeholder terkait
A12 Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum
A13 Kurang optimalnya upaya pengendalian dan penanggulangan banjir
129

Hubungan kontekstual antar sub elemen kendala adalah sub elemen kendala
ya ng satu memberikan kontribusi atau menyebabkan sub elemen kendala yang lain.
Berdasarkan hasil analisis seperti terlihat pada Gambar 49 menunjukkan bahwa
sub elemen terbatasnya sarana dan prasarana pendukung (A1), kurangnya sumber
daya manusia (SDM) yang memadai (A3), kurangnya kemampuan kapasitas
institusi pengelola air bersih (A5), menurunnya fungsi resapan air akibat
berkurangnya vegetasi pada daerah tangkapan Air (A9), kurangnya koordinasi dan
keterpaduan pengelolaan sumber daya air antar stakeholder terkait (A11), terletak
pada independent sector. Hal ini menunjukkan bahwa ke enam sub elemen kendala
tersebut memberikan kontribusi yang tinggi terhadap sub elemen kendala yang lain,
setiap perubahan dalam sub elemen ini akan mempengaruhi sub elemen kendala
yang lain, sehingga perlu kajian yang lebih hati-hati dan mendalam.
Sub elemen adanya indikasi pengambilan air tanah dalam yang berlebihan
m elalui sumur pompa sehingga dapat menurunkan muka air tanah (A8), rendahnya
ke sadaran masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan lingkungan serta
ko nservasi tanah dan air (A10), lemahnya pengawasan dan penegakan hukum
(A12), berada pada dependent sector, hal ini berarti bahwa terjadinya ketiga
kendala ini sangat dipengaruhi oleh sub elemen kendala lainnya.
Sedangkan kualitas air baku untuk penyediaan air bersih yang kurang baik
(A2), tingginya biaya operasional sarana penyediaan air bersih (A4), lemahnya tata
kelola kelembagaan terkait Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA) (A6),
aplikasi teknologi penyediaan air bersih kurang memadai (A7), kurang optimalnya
upaya pengendalian dan penanggulangan banjir (A13), berada pada autonomous
sector, hal ini berarti bahwa sub elemen kendala ini umumnya tidak berkaitan atau
memiliki hubungan yang sedikit dengan sub elemen kendala lainnya.
Dari analisis ini didapatkan hirarki sub elemen kendala seperti yang terlihat
pada Gambar 49. Sub elemen kendala kunci (driver power) pada pengelolaan air
baku berkelanjutan di tingkat kabupaten adalah menurunnya fungsi resapan air
akibat berkurangnya vegetasi pada daerah tangkapan Air (A9) dan kurangnya
koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber daya air antar stakeholder terkait
(A 11). Kedua sub elemen kendala ini menjadi dasar bagi sub elemen lainnya. Untuk
itu menurunnya fungsi resapan air akibat berkurangnya vegetasi pada daerah
ta ngkapan air, dan kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber daya
air antar stakeholder terkait menjadi elemen kendala yang perlu terlebih dahulu
dis elesaikan. Sub elemen kendala yang selanjutnya adalah terbatasnya sarana dan
prasarana pendukung (A1).
130

Gambar 49 Hubungan antara Driver Power - Dependence dan Struktur Hirarki


pada elemen kendala dalam pengelolaan air baku untuk penyediaan
air bersih berkelanjutan di Kab. Konawe

Se lanjutnya yang perlu diperhatikan oleh pemerintah adalah kurangnya


sumber daya manusia (SDM) yang memadai (A3) dan kurangnya kemampuan
kapasita s institusi pengelola air bersih (A5) di Kabupaten Konawe. Tahapan
berikutn ya yang harus segera dicari solusinya adalah kualitas air baku untuk
penyedi aan air bersih yang kurang baik (A2), serta tingginya biaya operasional
sarana p enyediaan air bersih (A4). Berikutnya yang harus menjadi perhatian serius
pemerint ah adalah lemahnya pengawasan dan penegakan hukum (A12) dalam
upaya p engelolaan air baku untuk penyediaan air bersih di Kab. Konawe. Kendala
ini perlu dicermati lebih serius karena aktifitas ilegal logging dikawasan hutan
lindung yang merupakan daerah tangkapan air serta perubahan penggunaan lahan
akibat e ksploitasi lahan secara terus menerus telah menyebabkan terjadinya
penurun an kapasitas infiltrasi dan peningkatan aliran permukaan di DAS
Konawe ha. Akibatnya jumlah air yang hilang ke laut akan meningkat pula, yang
pada akhirnya turut mempengaruhi ketersediaan air di Kabupaten Konawe.
Tahapan terakhir yang harus diselesaikan adalah lemahnya tata kelola
kelembagaan terkait Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA) (A6), aplikasi
teknologi penyediaan air bersih kurang memadai (A7), adanya indikasi
pengambilan air tanah dalam yang berlebihan melalui sumur pompa sehingga dapat
menurunkan muka air tanah (A8), rendahnya kesadaran masyarakat dan dunia
usaha dalam pengelolaan lingkungan serta konservasi tanah dan air (A10), dan
kurang optimalnya upaya pengendalian dan penanggulangan banjir (A13)
merupakan kendala yang harus diperhatikan oleh seluruh stake holder terkait.
131

Kebutuhan Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Untuk


Penyediaan Air Baku Berkelanjutan Di Tingkat Kabupaten

Berdasarkan hasil pendapat pakar, ditemukan 12 sub elemen kebutuhan


dalam pengelolaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe. Kebutuhan program
yang memberikan kontribusi paling besar dalam perumusan kebijakan pemerintah
dalam hal pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih di Kab. Konawe
diantaranya adalah peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat SKPD terkait,
peningkatan kesadaran stake holder terkait (pemerintah, dunia usaha & industri,
akademisi/perguruan tinggi, masyarakat, dan LSM), dan penetapan pedoman
pengelolaan DAS, seperti disajikan pada Tabel 38 dibawah ini.

Tabel 38 Elemen kebutuhan dalam pengelolaan sumber daya alam untuk


penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten

o.
N Sub Elemen Kebutuhan
B1 Penegakan supremasi hukum
B2 Peningkatan luas kawasan lindung
B3 Tata ruang yang tepat
B4 Restrukturisasi kelembagaan
B5 Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat SKPD terkait
B6 Pemberian insentif dan disinsentif dalam tata ruang wilayah
B7 Peningkatan lapangan pekerjaan
B8 Peningkatan pendapatan masyarakat
B9 Peningkatan kesadaran stake holder terkait (Pemerintah, Dunia Usaha &
Industri, Akademisi/Perguruan Tinggi, Masyarakat, dan LSM
B10 Penetapan pedoman pengelolaan DAS
B11 Teknologi pengelolaan DAS
B12 Pengembangan kearifan lokal

Hubungan kontekstual antar sub elemen kebutuhan adalah sub elemen


ke butuhan yang satu memberikan kontribusi atau menyebabkan sub elemen
ke butuhan yang lain. Berdasarkan hasil analisis seperti terlihat pada Gambar 50
m enunjukkan bahwa sub elemen Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat
SK PD terkait (B5), Peningkatan kesadaran stake holder terkait (Pemerintah, Dunia
Us aha & Industri, Akademisi/Perguruan Tinggi, Masyarakat, dan LSM) (B9), dan
Pe netapan pedoman pengelolaan DAS (B10), terletak pada independent sector. Hal
ini menunjukkan bahwa ke tiga sub elemen kebutuhan tersebut memberikan
ko ntribusi yang tinggi terhadap sub elemen kebutuhan yang lain, setiap perubahan
da lam sub elemen ini akan mempengaruhi sub elemen kebutuhan yang lain,
sehingga perlu kajian yang lebih hati-hati dan mendalam.
Sub elemen Restrukturisasi kelembagaan (B4), berada pada dependent sector,
ha l ini berarti bahwa terjadinya kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh sub elemen
ke butuhan lainnya. Sedangkan Penegakan supremasi hukum (B1), Peningkatan luas
ka wasan lindung (B2), Tata ruang yang tepat (B3), Pemberian insentif dan
dis insentif dalam tata ruang wilayah (B6), Peningkatan lapangan pekerjaan (B7),
Pe ningkatan pendapatan masyarakat (B8), Teknologi pengelolaan DAS (B11), dan
132

Pengembangan kearifan local (local wisdom) (B12) berada pada autonomous


sector, al
h ini berarti bahwa sub elemen kebutuhan ini umumnya tidak berkaitan
atau memiliki hubungan yang sedikit dengan sub elemen kebutuhan lainnya.

Gambar 50 Hubungan antara Driver Power - Dependence dan Struktur Hirarki


pada elemen kebutuhan dalam pengelolaan air baku untuk
penyediaan air bersih berkelanjutan di Kab. Konawe

Da ri analisis ini didapatkan hirarki sub elemen kebutuhan seperti yang terlihat
pada Ga mbar 50, sub elemen kebutuhan kunci (driver power) pada pengelolaan air
baku un tuk penyediaan air bersih berkelanjutan di tingkat kabupaten adalah
Peningk atan pengetahuan dan ketrampilan aparat SKPD terkait (B5), Peningkatan
kesadara n stake holder terkait (Pemerintah, Dunia Usaha dan Industri, Akademisi/
Perguru an Tinggi, Masyarakat, dan LSM) (B9), dan Penetapan pedoman
pengelol aan DAS (B10). Ketiga sub elemen kebutuhan ini menjadi dasar bagi sub
elemen lainnya. Untuk itu, ketiga elemen diatas menjadi elemen kebutuhan yang
perlu ter lebih dahulu diimplementasikan di lapangan. Kebutuhan selanjutnya yang
perlu di perhatikan oleh pemerintah adalah adalah Teknologi pengelolaan DAS
(B11), u ntuk itu pemerintah daerah dapat berkoordinasi langsung dengan BP DAS
Sampara untuk merancang dan mendesain pedoman pengelolaan DAS serta
mencari metode yang tepat dalam menerapkan teknologi pengelolaan DAS yang
sesuai di Kabupaten Konawe. Berikutnya elemen kebutuhan yang perlu
mendap atkan perhatian serius dari pemerintah adalah Tata ruang yang tepat (B3)
dan Peningkatan pendapatan masyarakat (B8).
Tahapan terakhir yang harus ditindaklanjuti secara nyata oleh pemerintah
adalah Penegakan supremasi hukum (B1), Peningkatan luas kawasan lindung (B2),
Restrukturisasi kelembagaan (B4), Pemberian insentif dan disinsentif dalam tata
ruang wilayah (B6), Peningkatan lapangan pekerjaan (B7), dan Pengembangan
kearifan local (local wisdom) (B12) dengan melibatkan para tokoh adat dan seluruh
stake holder terkait di Kabupaten Konawe.
133

Stakeholder Yang Terlibat Dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Untuk


Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di Tingkat Kabupaten

Berdasarkan hasil pendapat pakar, ditemukan 11 sub elemen Stakeholder


yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku untuk
penyediaan air bersih di Kab. Konawe. Lembaga yang memiliki pengaruh paling
besar dalam perumusan kebijakan pemerintah dalam hal pengelolaan air baku
berkelanjutan di Kab. Konawe diantaranya BPDAS Sampara dan Dinas Kehutanan
Kab. Konawe, seperti disajikan pada Tabel 39 dibawah ini.

Tabel 39 Elemen pelaku dalam pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan
air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten

No. Sub Elemen Pelaku


C1 Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV
C2 BPDAS Sampara
C3 Dinas Kehutanan Kab. Konawe
C4 Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Konawe
C5 Dinas PU dan Tata Ruang Kab. Konawe
C6 Bappeda Kab. Konawe
C7 Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Konawe
C8 PDAM Kab. Konawe
C9 Akademisi/Perguruan Tinggi
C10 Masyarakat
C11 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

Menurut Mochtar (2001), pengelolaan air dan sumber air sampai saat ini
be lum terdapat bentuk lembaga pengelola yang baku. Kelembagaan serta peraturan
di bidang pengelolaan air dan sumber air akan dituntut dapat memberikan kualitas
pe layanan yang baik serta profesional. Disamping kesiapan peraturan kelembagaan,
ju ga tidak kalah pentingnya mengenai kesiapan data dan informasi air dan sumber
air yang lengkap dan akurat, berupa potensi air dan sumber air, serta berapa yang
tel ah dimanfaatkan, sehingga dapat ditentukan potensi yang belum dikelola yang
dis erahkan pengelolaannya kepada masyarakat atau sektor swasta. Dalam upaya
m engatur kuantitas dan kualitas air, maka persiapan dari aspek non fisik yaitu
m engenai kelembagaannya. Kelembagaan ini berwenang dalam aspek pengaturan
da n kebijakan. Sistem pengelolaan air di masa mendatang, di samping menyangkut
m asalah-masalah fisik dan pembiayaan, masalah kelembagaan, peraturan, personil
(SDM), peralatan serta pelatihan, juga akan semakin berperan penting.
Kelembagaan pengelolaan sumberdaya air amat diperlukan guna
m elaksanakan pengelolaan sumberdaya air secara benar, efisien dan efektif
(Isnugroho, 2001). Karena itu, antisipasi yang disiapkan untuk menanggulangi
permasalahan sumberdaya air yaitu pengembangkan perangkat hukum dan
kelembagaan pengairan untuk meningkatkan keterpaduan pengelolaan sumberdaya
airmelalui koordinasi nyata serta untuk meningkatkan peran swasta.
Hubungan kontekstual antar sub elemen stakeholder adalah sub elemen
pe laku yang satu memberikan kontribusi atau menyebabkan sub elemen pelaku
134

yang lai n. Berdasarkan hasil analisis seperti terlihat pada Gambar 51 menunjukkan
bahwa s ub elemen Institusi Pengelolaan DAS (C2) dan Dinas Kehutanan Kab.
Konawe (C3), terletak pada independent sector. Hal ini menunjukkan bahwa ke dua
sub ele men stakeholder tersebut memberikan kontribusi yang tinggi terhadap sub
elemen stakeholder yang lain, setiap perubahan dalam sub elemen ini akan
mempen garuhi sub elemen pelaku yang lain, sehingga perlu kajian yang lebih hati-
hati dan mendalam.

Gambar 51 Hubungan antara Driver Power - Dependence dan Struktur Hirarki


pada elemen stakeholder dalam pengelolaan sumber daya alam untuk
penyediaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe

Sub elemen Akademisi/Perguruan Tinggi (C9), Masyarakat (C10), dan


Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (C11), berada pada dependent sector, hal ini
berarti bahwa terjadinya ketiga stakeholder ini sangat dipengaruhi oleh sub elemen
stakeholder lainnya. Sedangkan Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV (C1), Dinas
Pertanian dan Peternakan Kab. Konawe (C4), Dinas PU dan Tata Ruang Kab.
Konawe(C5), Bappeda Kab. Konawe (C6), Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab.
Konawe(C7), dan PDAM Kab. Konawe (C8), berada pada autonomous sector, hal
ini berarti bahwa sub elemen stakeholder ini umumnya tidak berkaitan atau
memiliki hubungan yang sedikit dengan sub elemen stakeholder lainnya.
Dari analisis ini didapatkan hirarki sub elemen stakeholder seperti yang
terlihat pada Gambar 51. Sub elemen stakeholder kunci (driver power) pada
pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat
kabupaten adalah Balai Pengelolaan DAS Sampara (C2). Sub elemen stakeholder
ini menjadi dasar bagi sub elemen lainnya. Untuk itu keberadaan Institusi
Pengelolaan DAS menjadi elemen pelaku yang paling berpengaruh dalam
pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan. Sub
elemen stakeholder yang selanjutnya adalah Dinas Kehutanan Kab. Konawe (C3),
perananlembaga pemerintah ini juga tidak kalah penting. Selanjutnya yang tidak
kalah penting pengaruhnya adalah Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV (C1), Dinas
PU dan Tata Ruang Kab. Konawe (C5), dan PDAM Kab. Konawe (C8).
135

Elemen stakeholder berikutnya yang berpengaruh dalam pengelolaan sumber


da ya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan adalah Dinas Pertanian dan
Peternakan Kab. Konawe (C4), Bappeda Kab. Konawe (C6), Badan Lingkungan
Hidup (BLH) Kab. Konawe (C7), Akademisi/Perguruan Tinggi (C9), Masyarakat
(C10), dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (C11).

Pembahasan

Keberhasilan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku


berkelanjutan di wilayah penelitian dapat dilakukan dengan memperbaiki kendala
utama yaitu menurunnya fungsi resapan air akibat berkurangnya vegetasi pada
daerah tangkapan air dan kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan
sumber daya air antar stakeholder terkait. Kendala ini perlu dicermati lebih serius
karena aktifitas ilegal logging dikawasan hutan lindung yang merupakan daerah
tangkapan air serta perubahan penggunaan lahan akibat eksploitasi lahan secara
terus menerus telah menyebabkan terjadinya penurunan kapasitas infiltrasi dan
peningkatan aliran permukaan di Sub DAS Konaweha. Akibatnya jumlah air yang
hilang ke laut akan meningkat pula, yang pada akhirnya turut mempengaruhi
ketersediaan air di Kabupaten Konawe.
Kerusakan lingkungan yang secara implisit menambah lajunya krisis air
semakin dipercepat oleh pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, baik secara
alamiah maupun migrasi. Bencana banjir yang merupakan bukti degradasi
lingkungan dari waktu ke waktu cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Fenomena otonomi daerah yang terkadang kurang dipandang sebagai suatu
kesatuan kerja antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota berimplikasi
langsung pada kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber daya air
antar stakeholder terkait, yang pada hakekatnya mempercepat terjadinya krisis air
diwilayah penelitian.
Mengingat wilayah DAS Konaweha berada pada daerah multi-administratif
yang melintasi 5 wilayah Kabupaten dan Kota (Kabupaten Kolaka, Kabupaten
Konawe, Kabupaten Konawe Utara, Kab. Konawe Selatan, dan Kota Kendari)
maka diperlukan koordinasi yang terintegrasi antar stakeholder dengan membuka
peluang kerjasama antar pemerintah daerah. Serta menguatkan koordinasi diantara
instansi terkait, yang dijabarkan dalam rencana aksi bersama SKPD di masing-
masing daerah melalui RPJMD dan Renstra SKPD. Kebijakan bersama ini harus
dilakukan karena tidak mungkin mengelola wilayah secara efektif dan efisien tanpa
melihat konteks wilayah dan tanpa sinergi kerjasama yang dibangun diantara
pemerintah daerah. Apabila koordinasi antar stakeholder dan pemerintah daerah
yang terlibat dalam pengelolaan sumber air baku untuk penyediaan air bersih
berkelanjutan masih lemah dan tidak tercapai, maka akan akan berdampak langsung
terhadap buruknya pengelolaan sumberdaya air di wilayah DAS Konaweha. Hal ini
akan menimbulkan permasalahan yang lebih kompleks di kemudian hari.
Dokumen Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Lasolo-
K onaweha merupakan salah satu tools yang dapat digunakan sebagai media
ko ordinasi dan kerjasama antar pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan
pe merintah daerah di wilayah penelitian. Institusi Pengelolaan DAS, Balai Wilayah
Su ngai Sulawesi IV dan SKPD Instansi terkait di daerah merupakan aktor utama
136

sekaligus pelaksana dalam menerapkan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air di


wilayah penelitian. Diperlukan kerjasama yang padu dan kompak antar stakeholder
terkait untuk memaduserasikan rencana aksi serta program-program yang berkaitan
dengan pengelolaan sumber daya air mengingat wilayah penelitian merupakan
wilayah yang multi-administratif.
Dalam rangka mengurangi ketegangan dan konflik akibat benturan
kepentingan, disaat permintaan (demand) tidak lagi seimbang dengan ketersediaan
sumber daya air untuk pemenuhannya (supply). Diperlukan upaya secara
proporsional dan seimbang antara pengembangan, pelestarian, dan pemanfaatan
sumber daya air baik dilihat dari aspek teknis maupun aspek hukum. Untuk
memenuhi kebutuhan air yang terus meningkat di berbagai sektor, diperlukan suatu
perencanaan terpadu yang berbasis wilayah sungai guna menentukan langkah dan
tindakanyang harus dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan
mengoptimalkan potensi pengembangan sumber daya air, melindungi/melestarikan
serta meningkatkan nilai sumber daya air dan lahan.
Pola pengelolaan sumber daya air disusun secara terkoordinasi diantara
instansiterkait, berdasarkan asas kelestarian, asas keseimbangan fungsi sosial,
lingkungan hidup, dan ekonomi, asas kemanfaatan umum, asas keterpaduan dan
keserasian, asas keadilan, asas kemandirian, serta asas transparansi dan
akuntabilitas. Penyusunan pola pengelolaan sumber daya air perlu melibatkan
semua pemangku kepentingan. Sejalan dengan prinsip demokratis, masyarakat
tidak hanya diberi peran dalam penyusunan pola pengelolaan sumber daya air,
tetapi berperan pula dalam proses perencanaan, pelaksanaan, konstruksi, operasi
dan pemeliharaan, pemantauan, serta pengawasan atas pengelolaan sumber daya air
di DAS Konaweha.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber
Daya Air, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Wilayah Sungai
Sulawesi IV (BWS IV), melakukan penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya
Air WSLasolo-Konaweha guna mewujudkan pemanfaatan dan pendayagunaan
sumber daya air di wilayah sungai tersebut secara serasi dan optimal. Sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan daya dukung lingkungan serta sesuai dengan kebijakan
pembangunan nasional dan daerah yang berkelanjutan. Mengingat pengelolaan
sumber daya air merupakan masalah yang sangat kompleks dan melibatkan semua
pihak sebagai pengguna, pemanfaat maupun pengelola, maka pengelolaan air baku
untuk penyediaan air bersih berkelanjutan perlu dilakukan secara terpadu
(integrated water resources management) dan menyeluruh, yang melibatkan
seluruh stakeholder di wilayah DAS Konaweha.

Simpulan

Pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di


Kabupaten Konawe masih menghadapi kendala diantaranya sebagai berikut:
menurunnya fungsi resapan air akibat berkurangnya vegetasi pada daerah
tangkapan air, dan kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber daya
air antarstakeholder terkait.
137

Program yang menjadi kebutuhan dalam pengelolaan sumber daya alam


un penyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe yaitu: Peningkatan
tuk
pengetahuan dan ketrampilan aparat SKPD terkait; Peningkatan kesadaran stake
holder terkait (Pemerintah, Dunia Usaha dan Industri, Akademisi/Perguruan
Tinggi, Masyarakat, dan LSM); dan Penetapan pedoman pengelolaan DAS. Ketiga
sub elemen kebutuhan ini menjadi dasar bagi sub elemen lainnya, dan perlu segera
diimplementasikan dilapangan.
Terdapat 11 lembaga yang terkait dalam pengelolaan sumber daya alam untuk
penyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe, namun lembaga yang
memiliki pengaruh paling besar dalam perumusan kebijakan pemerintah dalam hal
pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di
Kabupaten Konawe yaitu BPDAS Sampara dan Dinas Kehutanan Kabupaten
Konawe.
138

9 PEMBAHASAN TENTANG IMPLIKASI KEBIJAKAN

Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam untuk Penyediaan Air Baku


Berkelanjutan di Tingkat Kabupaten

Kebijakan di tingkat kabupaten sebagai landasan kerja pengelolaan


sumberdaya air oleh SKPD terkait dapat dipertajam dengan memperhatikan
kendala, kebutuhan program, dan peran SKPD sebagai pelaku dalam pengelolaan
air bak u di tingkat kabupaten. Namun sebelumnya perlu dilakukan analisis
pendahu luan untuk mengetahui potensi ketersediaan air baku di wilayah penelitian.
Untuk m engetahui berapa besar potensi ketersediaan air baku di wilayah penelitian
telah dil akukan analisis model tangki untuk mengetahui debit total limpasan, total
infiltrasi , dan kandungan air tanah dari setiap tata guna lahan di wilayah penelitian.
Ha sil penelitian dengan analisis model tangki menunjukkan bahwa
berdasar kan simulasi distribusi potensi air tahun 2013 diketahui bahwa debit rata-
rata bula nan tertinggi di Sub DAS Konaweha terjadi pada bulan maret yaitu 371,01
mm (sk enario optimis). Sedangkan debit rata-rata bulanan terendah di Sub DAS
Konawe ha terjadi pada bulan november yaitu 161,89 mm (skenario optimis). Debit
limpasa n pada tata guna lahan hutan menghasilkan debit limpasan sebesar 977,41
un, jumlah ini sebanding dengan luasan lahan hutan yang paling besar jika
mm/tah
gkan dengan luas tata guna lahan lainnya. Nilai infiltrasi pada tata guna
dibandintan memiliki nilai infiltrasi paling besar dibanding tata guna lahan lainnya
lahan hu 85,9 mm/tahun. Hal ini terjadi karena tanaman penutup tanah/cover crops
yaitu 1.6an hutan dapat meningkatkan laju infiltrasi air yang terjadi ke dalam lapisan
pada lahhingga meningkatkan kandungan air tanah di lapisan tanah yang lebih
tanah seumlah kandungan air tanah yang terbesar adalah pada lahan hutan dengan
dalam. J andungan air tanah sebesar 1.659,95 mm/tahun. Hal ini disebabkan karena
jumlah kpan air yang dilakukan oleh perakaran dari tanaman penutup tanah/cover
penyerada lahan hutan.
crops pa rdasarkan aplikasi model tangki untuk peningkatan potensi ketersediaan
Be aya air di Sub DAS Konaweha diperoleh hasil bahwa debit limpasan di sub
sumberdonaweha pada skenario optimis dengan penerapan konservasi seperti;
DAS K an tanaman penutup tanah/cover crops, penghutanan kembali pada lahan-
penanamang gundul, pembuatan guludan, pembuatan teras, perbaikan irigasi,
lahan y n drainase, dan pengaplikasian teknologi resapan air seperti pembuatan
perbaikaesapan dan teknologi lubang resapan biopori di sekitar areal pemukiman,
sumur r nghasilkan debit limpasan yang lebih kecil dibandingkan dengan skenario
akan me as usual tanpa upaya konservasi sumberdaya air, ini berarti bahwa upaya
businessasi sumberdaya air dapat menghambat laju aliran permukaan sehingga
konserv kan limpasan (run off) yang terjadi di lapisan atas tanah. Hasil skenario
menurunngki untuk peningkatan potensi ketersediaan sumberdaya air di Sub DAS
model taha menunjukkan bahwa debit aliran permukaan mengalami penurunan
Konawes, dari 2.729 mm/tahun pada kondisi eksisting tahun 2011 menjadi 2.093
kuantitaun (pada skenario optimis) setelah diterapkan upaya konservasi sumberdaya
mm/tah ni berarti kemungkinan kekurangan air pada musim kemarau menjadi lebih
air, hal i
kecil.
139

Berdasarkan penerapan skenario model tangki pada tiap tata guna lahan telah
m enunjukkan hasil bahwa akan terjadi penurunan luas lahan yang rusak/kritis
menjadi baik dengan penerapan skenario moderat dan optimis. Setelah dilakukan
analisis dengan memperhatikan indeks Runoff Curve Number (CN) setiap tata guna
lahan dari semua skenario (bussiness as usual, pesimis, moderat, dan optimis),
diperoleh besaran alokasi anggaran yang dapat diterapkan oleh SKPD terkait untuk
mengaplikasikan skenario moderat atau skenario optimis di wilayah penelitian,
sehingga diharapkan dapat memperbaiki kondisi lahan kritis pada tiap tata guna
lahan di Sub DAS Konaweha.
Untuk menjamin agar pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air
ba ku di Kabupaten Konawe dapat berlangsung secara berkelanjutan, maka perlu
dit erapkan konsep pembangunan berkelanjutan atau sustainable development
da lam aspek pengelolaannya. Status keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam
un tuk penyediaan air baku di wilayah penelitian dilakukan untuk memastikan arah
ke berlanjutan pengelolaan air baku di waktu yang akan datang, ditinjau dari lima
di mensi keberlanjutan yaitu dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial,
di mensi teknologi, dan dimensi kelembagaan. Hal ini dengan mempertimbangkan
be rbagai aspek yang mempengaruhi proses pengelolaan air baku untuk penyediaan
air bersih di Kab. Konawe. Status pengelolaan air baku berkelanjutan di Kab.
K onawe saat ini berada pada status kurang berkelanjutan. Dimana dimensi ekologi
m empunyai kinerja cukup berkelanjutan sedangkan empat dimensi lainnya dimensi
ek onomi, dimensi sosial, dimensi teknologi dan dimensi kelembagaan
menunjukkan kinerja yang kurang berkelanjutan.
Dalam rangka meningkatkan status keberlanjutan di masa yang akan datang,
m aka atribut-atribut (kondisi eksisting) dari masing-masing dimensi yang sensitif
pe rlu dilakukan intervensi atau perbaikan. Atribut yang perlu dikurangi atau
di kendalikan intensitas perkembangannya adalah Alih fungsi lahan terhadap
ku alitas air baku. Atribut yang perlu ditingkatkan intensitas kegiatannya karena saat
ini sudah ada namun perkembangannya masih belum optimal dalam
im plementasinya adalah: Pengembangan sumber air baku untuk penyediaan air
be rsih; Tingkat keuntungan PDAM; Penyerapan tenaga kerja; Motivasi dan
ke pedulian masyarakat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan
lah an untuk kelestarian sumber air baku; Tingkat pendidikan formal masyarakat;
Ti ngkat pelayanan air bersih PDAM; Teknologi penanganan limbah; Teknologi
res apan air di kawasan permukiman; dan Ketersediaan perangkat hukum adat/local
wi sdom. Sedangkan atribut yang perlu dikendalikan dalam pelaksanaan
ke giatannya dan perlu direncanakan perkembangannya dengan lebih baik lagi di
masa mendatang adalah Rezim pengelolaan air bersih.
Untuk dapat meningkatkan status keberlanjutan pengelolaan sumber daya
ala m untuk penyediaan air baku dimasa mendatang, perlu disusun skenario
pe ngembangan kebijakan dengan melakukan intervensi (perbaikan) kinerja
ter hadap faktor kunci (key factor) yang dihasilkan dari hasil analisis prospektif.
Ke bijakan yang dapat dikembangkan agar pengelolaan air baku di Kabupaten
K onawe menjadi lebih berkelanjutan didasarkan pada interaksi antara faktor-faktor:
(1) Pengembangan sumber air baku; (2) Teknologi resapan air di kawasan
pe rmukiman; (3) Alih fungsi lahan terhadap kualitas air baku; (4) Tingkat
ke untungan PDAM; (5) Motivasi dan kepedulian masyarakat terhadap upaya
pe rbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber air
140

baku; (6 ) Teknologi penanganan limbah; (7) Tinggi permukaan air tanah, dan; (8)
Ketersediaan perangkat hukum adat/local wisdom.
Ke bijakan dilakukan secara integratif dengan meningkatkan kinerja faktor
kunci ya ng bersifat sensitif tersebut sehingga mampu meningkatkan nilai indeks
keberlan jutan pengelolaan air baku di Kabupaten Konawe. Untuk meningkatkan
status k eberlanjutan jangka panjang, skenario yang perlu dilakukan untuk
pengelol aan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kab.
Konawe adalah Skenario III (Optimis), dengan melakukan perbaikan secara
menyelu ruh terhadap semua atribut yang sensitif, minimal terhadap 8 (delapan)
atribut f aktor kunci yang dihasilkan dalam analisis prospektif, sehingga semua
dimensi yang ada menjadi berkelanjutan. Skenario optimis merupakan skenario
yang pal ing tepat digunakan, karena dapat memberikan pengaruh yang paling besar
terhadap perbikan kinerja pengelolaan air baku berkelanjutan di wilayah penelitian.
M engingat status keberlanjutan dimensi kelembagaan di wilayah penelitian
adalah k urang berkelanjutan, hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan air baku di
Kabupat en Konawe tidak berlangsung dengan baik. Berdasarkan analisis ISM
pengelol aan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe masih menghadapi
beberap a kendala diantaranya sebagai berikut: menurunnya fungsi resapan air
akibat b erkurangnya vegetasi pada daerah tangkapan air, dan kurangnya koordinasi
dan kete rpaduan pengelolaan sumber daya air antar stakeholder terkait. Adapun
program yang menjadi kebutuhan dalam pengembangan pengelolaan sumber daya
alam un tuk penyediaan air baku berkelanjutan di Kabupaten Konawe yaitu:
Peningk atan pengetahuan dan ketrampilan aparat SKPD terkait; Peningkatan
kesadara n stake holder terkait (Pemerintah, Dunia Usaha dan Industri,
Akadem isi/Perguruan Tinggi, Masyarakat, dan LSM); dan Penetapan pedoman
pengelol aan DAS. Ketiga sub elemen kebutuhan ini menjadi dasar bagi sub elemen
lainnya, dan perlu segera diimplementasikan dilapangan. Terdapat 11 lembaga yang
terkait d alam pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih di Kabupaten
Konawe , namun lembaga yang memiliki pengaruh paling besar dalam perumusan
kebijaka n pemerintah dalam hal pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih
di Kabu paten Konawe yaitu BPDAS Sampara, dan Dinas Kehutanan Kab. Konawe.
Ke berhasilan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
berkelan jutan di wilayah penelitian dapat dilakukan dengan memperbaiki kendala
utama yaitu menurunnya fungsi resapan air akibat berkurangnya vegetasi pada
daerah tangkapan air dan kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan
sumber daya air antar stakeholder terkait. Kendala ini perlu dicermati lebih serius
karena a ktifitas ilegal logging dikawasan hutan lindung yang merupakan daerah
tangkap an air serta perubahan penggunaan lahan akibat eksploitasi lahan secara
terus me nerus telah menyebabkan terjadinya penurunan kapasitas infiltrasi dan
peningk atan aliran permukaan di Sub DAS Konaweha. Akibatnya jumlah air yang
hilang k e laut akan meningkat pula, yang pada akhirnya turut mempengaruhi
ketersed iaan air di Kabupaten Konawe. Kerusakan lingkungan yang secara implisit
menamb ah lajunya krisis air semakin dipercepat oleh pertumbuhan penduduk yang
cukup ti nggi, baik secara alamiah maupun migrasi. Bencana banjir yang merupakan
bukti de gradasi lingkungan dari waktu ke waktu cenderung meningkat dari tahun
ke tahu n. Fenomena otonomi daerah yang terkadang kurang dipandang sebagai
suatu k esatuan kerja antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota
berimpli kasi langsung pada kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan
141

sumber daya air antar stakeholder terkait, yang pada hakekatnya mempercepat
terjadinya krisis air di wilayah penelitian.
Luasan perubahan kondisi tata guna lahan hasil skenario model tangki
(G ambar 39) menjadi dasar bagi peneliti dalam menyusun rekomendasi alokasi
anggaran dalam Renstra SKPD terkait untuk upaya konservasi sumberdaya air di
Sub DAS Konaweha Kabupaten Konawe. Besarnya alokasi anggaran per hektar
masing-masing tata guna lahan disesuaikan dengan besaran anggaran biaya yang
telah dijabarkan dalam Renstra SKPD Kabupaten Konawe Tahun 2013-2018.
Alokasi anggaran ini yang menjadi dasar masukan bagi pemerintah daerah dalam
mengkaji alokasi anggaran konservasi sumberdaya air yang dibutuhkan pada
masing-masing tata guna lahan di Kabupaten Konawe. Diharapkan dengan
diketahuinya persentase luasan wilayah yang perlu diintervensi dengan upaya
konservasi sumberdaya air, akan memperbaiki kondisi tata guna lahan yang rusak
menjadi baik kembali.
Rekomendasi jumlah alokasi anggaran yang dibutuhkan untuk masing-
masing tata guna lahan di Sub DAS Konaweha Kabupaten Konawe dapat dilihat
pada Tabel 40. Biaya untuk konservasi sumberdaya air per ha pada tiap TGL
disesuaikan dengan anggaran di Renstra SKPD Kab. Konawe 2013-2018. Besarnya
alokasi anggaran untuk upaya konservasi pada masing-masing tata guna lahan
dijumlahkan dengan luasan kondisi tiap tata guna lahan hasil skenario model tangki
skenario moderat dan skenario optimis.
142

Tabel 40 Rekomendasi jumlah alokasi anggaran untuk konservasi berdasarkan luasan perubahan kondisi tiap-tiap TGL

Sumber: Diolah berdasarkan hasil simulasi skenario model tangki, 2014

Keterangan:
Biaya untuk konservasi sumberdaya air per ha pada tiap TGL disesuaikan dengan anggaran di Renstra SKPD Kab. Konawe 2013-2018
Luasan kondisi tiap tata guna lahan merupakan hasil skenario model tangki
143

P eran Stakeholder Tingkat Kabupaten dalam Kegiatan Pengelolaan Sumber


Daya Alam untuk Penyediaan Air Baku Berkelanjutan
Berdasarkan dokumen RPJMD Kabupaten Konawe 2008-2013 program
pembangunan yang akan dilaksanakan diarahkan pada pencapaian sasaran pada
masing-masing misi dengan memperhatikan strategi pembangunan dan arah
kebijakan umum. Target Sasaran akan ditetapkan setiap tahun sesuai dengan dana
yang tersedia baik yang bersumber dari APBD Kabupaten, APBD Provinsi, APBN,
dan sumber pendanaan lainnya yang sah. Program-program pembangunan yang
akan dilaksanakan didasarkan pada Permendagri Nomor 13 Tahun 2006, sedangkan
urusan pemerintahan dari masing-masing SKPD yang akan dilaksanakan
didasarkan pada Permendagri Nomor 59 Tahun 2007, terbagi kedalam Urusan
Wajib dan Urusan Pilihan. Urusan Wajib yang dilaksanakan meliputi urusan :
Pendidikan; Kesehatan; Pekerjaan Umum, Permukiman, Penataan Ruang;
Perencanaan Pembangunan; Perhubungan; Lingkungan Hidup; Kependudukan dan
Catatan Sipil; Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; Keluarga
Berencana dan Keluarga Sejahtera; Sosial, Ketenagakerjaan; Koperasi dan UKM;
Penanaman Modal; Kebudayaan; Pemuda dan Olah Raga; Kesbang dan Politik
Dalam Negeri; Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi
Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian; Ketahanan
Pangan; Pemberdayaan Masyarakat dan Desa; Kearsipan; Komunikasi dan
Informatika dan Urusan Perpustakaan. Sedangkan Urusan Pilihan yang akan
dilaksanakan oleh SKPD meliputi : Pertanian, Kehutanan, Energi dan Sumber
Daya Mineral, Pariwisata, Kelautan dan Perikanan, Perdagangan, Perindustrian dan
Urusan Ketransmigrasian.
Ruang lingkup peran lembaga dalam kegiatan pengelolaan air baku untuk
pe nyediaan air bersih berkelanjutan di Kab. Konawe dilakukan dengan
m ensinergikan tugas pokok dan fungsi masing-masing stakeholder (BPDAS
Sa mpara, Dinas Kehutanan Kab. Konawe, Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV,
Di nas PU dan Tata Ruang Kab. Konawe, PDAM Kab. Konawe, Dinas Pertanian
da n Peternakan Kab. Konawe, Bappeda Kab. Konawe, BLH Kab. Konawe,
A kademisi/Perguruan Tinggi, masyarakat, dan LSM) dengan faktor kunci (key
fa ctor) yang berpengaruh dalam pengelolaan air baku di Kab. Konawe yang
m erupakan hasil analisis Prospektif, dimana nanti akan terlihat lembaga/pelaku
m ana yang memegang peranan paling besar dan penting dalam kegiatan
pe ngelolaan air baku berkelanjutan. Berdasarkan analisis Prospektif terdapat 8
fak tor kunci yang dalam analisis kelembagaan ini akan dikaitkan peranannya
de ngan tiap-tiap faktor kunci tersebut, yaitu (1) Pengembangan sumber air baku,
(2) Teknologi resapan air di kawasan permukiman, (3) Alih fungsi lahan terhadap
ku alitas air baku. Kemudian faktor-faktor kunci/penentu yang mempunyai
pe ngaruh tidak terlalu kuat dan memiliki ketergantungan yang tinggi seperti:
(4) Tingkat keuntungan PDAM, (5) Motivasi & kepedulian masyarakat terhadap
up aya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan untuk kelestarian sumber
air baku, (6) Teknologi penanganan limbah, (7) Tinggi permukaan air tanah, dan
(8) Ketersediaan perangkat hukum adat/local wisdom. Peran lembaga dalam
str ategi pengelolaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten disajikan pada
Tabel 41.
144

Tabel 41 Peran Lembaga Dalam Strategi Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya


Alam Untuk Penyediaan Air Baku Berkelanjutan
Faktor Pengungkit Hasil Analisis Jumlah
Lembaga/Pelaku Prospektif* Kegiatan
No. (hasil analisis ISM)
1 2 3 4 5 6 7 8
C2 BP DAS Sampara √ √ √ √ √ √ √ 7
C3 Dinas Kehutanan Kab.
√ √ √ √ √ √ √ 7
Konawe
C5 Dinas PU dan Tata Ruang √ √ √ √ √ √ √ 7
Kab. Konawe
C1 Balai Wilayah Sungai √ √ √ √ √ √ 6
Sulawesi IV
C8 PDAM Kab. Konawe √ √ √ √ √ √ 6
C4 Dinas Pertanian dan
√ √ √ √ 4
Peternakan Kab. Konawe
C6 Bappeda Kab. Konawe √ √ √ √ 4
C7 BLH Kab. Konawe √ √ √ √ 4
C9 Akademisi/Perguruan Tinggi √ √ √ √ 4
C10 Masyarakat √ √ √ √ 4
C11 SM
L √ √ √ √ 4
Keterangan:
* 8 Faktor Kunci (key factor) Dimensi Keberlanjutan hasil analisis prospektif

Be rdasarkan Tabel 42 diatas terlihat bahwa ada kegiatan hasil analisis


prospekt if yang dapat dikerjakan dan dikoordinasikan diantara SKPD/dinas terkait,
hal ini terlihat dari kegiatan pengembangan sumber air baku, dimana hampir
seluruh SKPD terlibat didalamnya dalam menangani program pengembangan
sumber air baku di Kabupaten Konawe (faktor pengungkit 1), ini terlihat dalam
program pemerintah Pusat, pemerintah Kabupaten Konawe dan Kabupaten Kolaka
Timur d alam membangun Bendungan Pelosika yang rencananya akan dimulai pada
tahun 20 15. Bendungan Pelosika merupakan sebuah bendungan berdimensi besar
yang ak an dibangun pada hulu sungai Konaweha, Desa Pelosika, Kecamatan
Abuki, K abupaten Konawe. Rencana pembangunan bendungan Pelosika yang saat
ini tela h masuk dalam wilayah Kabupaten Kolaka Timur Provinsi Sulawesi
Tenggar a, masih menghadapi kendala. Sejauh ini, Pemda setempat masih
melakuk an pendekatan kepada masyarakat di Kecamatan Uluiwoi Kabupaten
Kolaka Timur dan Kecamatan Latoma Kabupaten Konawe, guna menyatukan
pemikir an terkait rencana pembangunan bendungan tersebut. Bendungan tersebut
nantinya di buat multiguna. Selain menjadi penyokong utama saluran irigasi
pertania n rakyat untuk persawahan seluas 34.000 hektar di wilayah Kabupaten
Kolaka T imur, Kabupaten Konawe dan Kabupeten Konawe Selatan, bendungan ini
juga ak an menjadi sumber air baku untuk pengolahan air bersih. Bendungan
tersebut juga diupayakan menjadi sumber PLTA yang akan menghasilkan daya
sebesar 90 Mega Watt.
A da pula kegiatan hasil analisis prospektif yang dapat dilakukan oleh
SKPD/d inas terkait bekerjasama dengan elemen masyarakat, akademisi/perguruan
tinggi d an LSM, misalnya dalam hal meningkatkan motivasi dan kepedulian
masyara kat terhadap upaya perbaikan lingkungan, rehabilitasi hutan dan lahan
untuk ke lestarian sumber air baku (faktor pengungkit 5). Namun ada pula kegiatan
145

yang hanya melibatkan unsur SKPD teknis terkait saja atau hanya melibatkan
beberapa dinas saja, misalnya dalam penanganan terhadap rendahnya upaya
konservasi yang menyebabkan tinggi permukaan air tanah menurun di Kabupaten
Konawe (faktor pengungkit 7).
Berdasarkan hasil analisis ISM dengan mensinergikan tugas pokok dan fungsi
SKPD terkait dengan faktor kunci hasil analisis prospektif diatas terlihat bahwa BP
DAS Sampara dan Dinas Kehutanan Kab. Konawe merupakan elemen pelaku yang
paling besar pengaruhnya terhadap upaya peningkatan pengelolaan air baku
berkelanjutan di Kab. Konawe. Adapun SKPD di tingkat kabupaten yang paling
besar pengaruhnya terhadap upaya peningkatan pengelolaan air baku berkelanjutan
diKab. Konawe adalah Dinas Kehutanan Kabupaten Konawe. Hal ini terlihat pada
permasalahan, arah kebijakan, sasaran dan program pembangunan yang
dicanangkan oleh pemerintah Kabupaten Konawe sebagaimana yang dijabarkan
pada dokumen RPJMD Kab. Konawe Tahun 2008-2013.
Permasalahan yang masih dihadapi dalam pelaksanaan urusan kehutanan
se lama Tahun 2003 sampai dengan Tahun 2007 secara umum sebagai berikut:
(1) Sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan tugas-tugas dibidang kehutanan
m asih kurang, antara lain kendaraan operasional polisi hutan, alat pendukung
la boratorium; (2) Kurangnya tenaga polisi hutan; dan (3) Masih ada kegiatan
pe nebangan kayu ilegal oleh masyarakat, luasnya lahan yang kritis, perambahan
ka wasan hutan dan kebakaran hutan masih sering terjadi. Hal ini sejalan dengan
ha sil analisis kendala dalam pengelolaan air baku berkelanjutan dengan analisis
IS M, dimana sub elemen kendala kunci (driver power) dalam pengelolaan air baku
be rkelanjutan di tingkat kabupaten adalah menurunnya fungsi resapan air akibat
be rkurangnya vegetasi pada daerah tangkapan air (A9), kurangnya koordinasi dan
ke terpaduan pengelolaan sumber daya air antar stakeholder terkait (A11), dan
terbatasnya sarana dan prasarana pendukung (A1).
Arah kebijakan pada urusan Kehutanan adalah mendorong pengembangan
in dustri pengolahan hasil hutan dengan tetap menjaga kelangsungan konservasi
hu tan melalui penyiapan bibit siap tanam, bermutu dan tepat waktu. Menyediakan
da na untuk menambah sarana penunjang agar pelaksanaan urusan kehutanan lebih
op timal. Mengusulkan pengangkatan tenaga polisi hutan non PNS, dan
m eningkatkan kesadaran masyarakat melalui sosialisasi pentingnya fungsi hutan
un tuk mengatasi masalah penebangan liar, perambahan hutan dan pemulihan lahan
kri tis dengan melibatkan kelompok-kelompok masyarakat. Pada tahun 2003 sampai
de ngan tahun 2007, bidang Kehutanan telah menurunkan luas lahan kritis menjadi
56 .425 ha dan menyuplai 1.006.250 anakan bibit untuk rehabilitasi hutan dan lahan
(RPJMD Kab. Konawe 2008-2013).
Sasaran yang hendak dicapai dalam pembangunan urusan kehutanan sampai
de ngan tahun 2013 adalah meningkatnya mutu dan produktivitas sumberdaya hutan
se rta kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Keberhasilan pencapaian sasaran ini
dit unjukkan dengan menurunnya luas lahan kritis menjadi sebesar 51.783 ha atau
m enurun sebesar 4,2 persen. Berdasarkan sasaran dan arah kebijakan tersebut
di atas, langkah-langkah yang akan ditempuh dijabarkan ke dalam program
pe mbangunan dan kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut: (1) Program
reh abilitasi hutan dan lahan, dengan kegiatan pokok antara lain Pembuatan
bi bit/benih tanaman kehutanan, Penanaman pohon dan pemeliharaan pada kawasan
hu tan industri dan hutan wisata, Pembinaan, pengendalian dan pengawasan gerakan
146

rehabilitasi hutan dan lahan, dan Peningkatan peran serta masyarakat dalam
rehabilitasi hutan dan lahan; (2) Program Perlindungan dan konservasi sumber daya
hutan, dengan kegiatan pokok antara lain sosialisasi pencegahan dan dampak
kebakaran hutan dan lahan, meningkatnya sukarelawan yang terlatih menangani
kebakaran hutan, bimbingan teknis pengendalian kebakaran hutan dan lahan, dan
penyuluhan kesadaran masyarakat mengenai dampak perusakan hutan; (3) Program
pemantapan pemanfaatan potensi sumber daya hutan, dengan kegiatan pokok antara
lain pengembangan hasil hutan non-kayu, pengelolaan dan pemanfaatan hutan, dan
pengembangan industri dan pemasaran hasil hutan; dan (4) Program perencanaan
dan pengembangan hutan, dengan kegiatan pokok antara lain pengembangan hutan
masyarakat adat, dan pendampingan kelompok usaha perhutanan rakyat.
Pr ogram pembangunan urusan kehutanan di Kabupaten Konawe sudah
sejalan d engan hasil analisis kebutuhan dalam pengelolaan air baku berkelanjutan
dengan analisis ISM, dimana sub elemen kebutuhan kunci (driver power) dalam
pengelol aan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten adalah peningkatan
pengeta huan dan ketrampilan aparat SKPD terkait, peningkatan kesadaran stake
holder t erkait (pemerintah, dunia usaha dan industri, akademisi/perguruan tinggi,
masyara kat, dan LSM), dan penetapan pedoman pengelolaan DAS. Namun masih
perlu m endapatkan perhatian serius dari pemerintah terkait peningkatan
pengeta huan dan ketrampilan aparat SKPD terkait, dan perlunya
mengim plementasikan pedoman pengelolaan DAS yang sudah ditetapkan kedalam
program pembangunan urusan kehutanan di Kabupaten Konawe.
147

10 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1. Berdasarkan analisis model tangki, potensi air permukaan di Sub DAS


Konaweha dapat menjadi lebih baik karena pengaruh konservasi. Dengan
skenario yang lebih baik (menjadi lebih optimis) maka nilai run off menurun
karena sebagian masuk ke dalam air tanah. Pada tahun 2011 dengan kondisi
eksisting (business as usual) distribusi potensi air bulanan yang dihasilkan
sebesar 71,48 mm/bulan sama dengan 857,77 mm/tahun atau setara dengan
33.590 m3/tahun. Distribusi potensi air bulanan maksimum berada pada bulan
Juli sebesar 110,08 mm/bulan, sedangkan distribusi potensi air bulanan
minimum berada pada bulan November sebesar 44,82 mm/bulan..
2. Status keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku
di Kab. Konawe saat ini indeksnya sebesar 41,40 berada pada status Kurang
Berkelanjutan (indeks terletak antara 25,00 - 49,99). Secara rinci, dimensi
ekologi mempunyai kinerja cukup berkelanjutan sedangkan empat dimensi
lainnya dimensi ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan menunjukkan
kinerja yang kurang berkelanjutan.
Untuk meningkatkan status keberlanjutan jangka panjang, skenario yang perlu
3.
dilakukan untuk pengelolaan air baku berkelanjutan di Kab. Konawe adalah
Skenario III (Optimis) dimana indeks keberlanjutan meningkat menjadi 52.55
(Cukup Berkelanjutan), dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh
terhadap semua atribut yang sensitif, minimal terhadap 8 (delapan) atribut
faktor kunci yang dihasilkan dalam analisis prospektif, sehingga semua
dimensi yang ada menjadi berkelanjutan.
Pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan di
4. Kabupaten Konawe masih menghadapi kendala diantaranya sebagai berikut:
menurunnya fungsi resapan air akibat berkurangnya vegetasi pada daerah
tangkapan air, dan kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber
daya air antar stakeholder terkait. Program yang menjadi kebutuhan dalam
pengembangan model pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air
baku di Kabupaten Konawe yaitu: Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan
aparat SKPD terkait; Peningkatan kesadaran stake holder terkait (Pemerintah,
Dunia Usaha dan Industri, Akademisi/Perguruan Tinggi, Masyarakat, dan
LSM); dan Penetapan pedoman pengelolaan DAS. Terdapat 11 lembaga yang
terkait dalam pengelolaan sumber daya alam untuk penyediaan air baku di
Kabupaten Konawe, namun lembaga yang memiliki pengaruh paling besar
dalam perumusan kebijakan pemerintah dalam hal pengelolaan air baku
berkelanjutan dari aspek potensi sumberdaya air di Kabupaten Konawe yaitu
BPDAS Sampara dan Dinas Kehutanan Kabupaten Konawe.

Saran

Diperlukan kebijakan dan program-program yang menjamin partisipasi seluruh


1. stakeholder dalam upaya konservasi sumberdaya air oleh karena besarnya
manfaat yang akan diperoleh dari upaya pengelolaan sumber daya alam untuk
penyediaan air baku berkelanjutan ini. Agar hal ini dapat terwujud, pemerintah
148

daerah masih perlu memegang tanggung jawab dan kendali penuh dalam
kegiatan pengelolaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten, namun peran
utamanya lebih diarahkan pada mendorong partisipasi aktif masyarakat dan
stakeholder lainnya dalam menerapkan konservasi sumberdaya air.
2. Unt uk mengimplementasikan pengelolaan sumber daya alam untuk
penyediaan air baku berkelanjutan di tingkat kabupaten dengan biaya yang
masih dapat diterima, perlu digunakan data spatial terbaru terutama dalam
penentuan batas lahan kritis di lokasi penelitian. Kebijakan pengelolaan harus
diarahkan pada tiga hal yang berkaitan, yaitu; (1) perbaikan penggunaan dan
pengelolaan lahan sesuai dengan peruntukannya, (2) mendorong
pengembangan partisipasi secara penuh dari seluruh stakeholder dalam upaya
pengelolaan air baku berkelanjutan, dan (3) mendorong penelitian lanjutan
yang melibatkan mekanisme kerjasama antar daerah yang berbatasan secara
administratif dalam wilayah DAS agar dapat terwujud manajemen pengelolaan
sumber daya alam untuk penyediaan air baku berkelanjutan yang terpadu dan
holistik.
149

DAFTAR PUSTAKA

dijaya. 2007. Kearifan Lingkungan pada Masyarakat Tolaki: Hutan dalam


A
Perspektif Kultural Orang Tolaki dan Pranata Perladangannya. Di dalam :
Mengungkap Kearifan Lingkungan Sulawesi Tenggara. Masagena Press.
Makassar.
Ag enda 21 Indonesia. 1997. Strategi Nasional untuk Pembangunan
Berkelanjutan. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Jakarta.
der
Al J, Pitcher TJ, Preikshot D, Kaschner K, Feriss B. 2000. How Good is Good?
A Rapid Appraisal Technique for Evaluation of the Sustainability Status of
Fisheries of the North Atlantic. In Pauly and Pitcher (eds). Methods for
Evaluation the Impacts of Fisheries on the North Atlantic Ecosystem.
Fisheries Center Research Reports.
Angel H, Wolseley P. 1992. The Family of Water Naturals. Bloomsbury Books.
London, 192 P.
A nonim. 1998. Diklat Tenaga Teknik Penyediaan Air Minum, PERPAMSI & ITB.
Bandung.
Ansofino. 2005. Peranan Kebijakan Penentuan Harga Air Bagi Pemanfaatan Sumberdaya
Air ke Arah Berkelanjutan dengan Fokus Studi Wilayah Jakarta. [Disertasi].
Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Arsyad S. 2006. Konservasi Tanah dan Air. Bogor. IPB Press.
Asdak C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Asdak C. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta
Asih R.S. 2006. Kajian Aspek-Aspek yang Mempengaruhi Penyediaan Air Bersih
Secara Individual di Kawasan Kaplingan Kota Blora [Tesis]. Semarang:
Universitas Diponegoro.
Ba co L. 2011. Analisis Alternatif Penggunaan Lahan untuk Menjamin
Ketersediaan Air di DAS Konaweha Provinsi Sulawesi Tenggara.
[Disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana. Institut pertanian Bogor.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara. (2010).
Draft Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Kendari,
Sulawesi Tenggara.
Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Konawe. 2011. Laporan Kualitas
Air.
Budiharjo E, Sujarto D, 1999. Kota Berkelanjutan. Diterbitkan atas kerjasama
Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation. Penerbit Alumni,
Bandung.
Bosch JM, Hewlett JD. 1982. A Review of Catchment Experiments to Determine
the Effect of Vegetation Changes on Water Yield and Evapotranspiration.
Journal of Hydrology, 55: 3-23. Calder IR. 1998. Water resources and land
use issues. SWIM Paper 3. Colombo. IIMI.
urgeois R, Jesus F. 2004. Participatory Prospective Analysis, Exploring and
Bo
Anticipating Challenges with Stakeholders. Center for Alleviation of
Poverty through Secondery Crops Development in Asia and The Pacific and
French Agricultural Reasearch Center for Internasional Development.
150

Monograph (46) : 1 – 29.


Bourgeois R. 2007. Analisis Prospektif Partisipatif. Bahan Pelatihan/Lokakarya.
Training of Trainer. ICASEPS. Bogor.
Bouwer H. 1978. Groundwater Hydrology. Int. Student Ed., McGraw-Hill
Kogakusha Ltd.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Konawe. 2013. Konawe Dalam Angka.
Katalog BPS: 1102001.7403. BPS Kabupaten Konawe.
Browne FX. 1999. Chapter 7: Stormwater Management” Standard Handbook of
Environmental Engineering – second edition. Corbitt RA. (Ed.). USA. The
McGrawHill Companies.
Brundtland Report, [World Commission on Environment and Development]. 1987.
Our Common Future. Oxford: Oxford University Press.
Chang M. 2006. Forest Hidrology : An Introduction to Water and Forest. Florida
USA. CRC Press.
Cheams ar. 2000. Rainfall-Runoff Modelling for Ciliwung Watershed in West
Java, Indonesia [Thesis]. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Chiras, Daniel D. 1991. Environmental Sciences. Action for Sustainable Future,
rd
3 Ed., California: The Benyamin/Cummings Publ. Co. Inc.
Chow et al. 1988. Applied Hydrology, McGraw-Hill Book Co., Singapore.
Danaryanto H. 2004. Air Tanah di Indonesia dan Pengelolaannya. Editor Hadi
Darmawan Said, Dit. Tata Lingkungan Geologi dan Kawasa n
ertambangan,
P Ditjen Geologi dan Sumber Daya Mineral, Dep. Energi
an
d Sumber Daya Mineral.
Davis S N, De Wiest RJM. 1966. Hydrogeology. John Wiley, New York, 463 pp.
Dep. Pekerjaan Umum, 1986. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Direktorat
Jenderal Pengairan.
Ditjen Sumber Daya Air. 2002. Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air dan
Reformasi Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air. Lokakarya Nasional
tentang Pengelolaan Terpadu Sumberdaya Air. Kerjasama DitJen.
Sumberdaya Air Dep. Kimpraswil dengan South East Asia Technical
Advisory Committee (SEATAC).
Dinas PU dan Tata Ruang Kab. Konawe. 2009. Dokumen Rencana Program
nvestasi
I Jangka Menengah (RPIJM) Bidang PU/Cipta Karya Kab.
Konawe Tahun 2009-2013.
Doorenbos J, Pruitt WO. 1977. Guidelines for Predicting Crop Water
Requirment. Food and Agricultural Organization. Rome.
Efendi H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan
Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Enger, D. E. & Smith, thF. B., 2000. Environmental Science. A Study of
nterrelationships
I (7 Edition). Chapter 15 Water Management. Western
Washington University
. 1999. Ilmu Sistem Meningkatkan Mutu dan Efektifitas Manajemen. Jilid
Eriyatnoatu. IPB Press. Bogor.
S. 2003. Ilmu Sistem Meningkatkan Mutu dan Efektifitas Manajemen. Jilid
Eriyatnoatu. IPB Press. Bogor.
S, Sofyar F. 2007. Riset Kebijakan Metode Penelitian untuk Pascasarjana.
EriyatnoPB Press. Bogor, 146 hlm.
I
151

Fauzi A, Anna S. 2005. Pemodelan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan untuk


Analisis Kebijakan. Gramedia Pustaka, Jakarta.
Freeze RA, Cherry JA. 1979. Groundwater. Prentice-Hall, Englewood Cliffs, New
Jersey, 604 pp.
Fisheries.com. 1999. Rapfish Project. http://fisheries.com/project/rapfish.htm
Gleick PH.1998. The Worlds Water 1998-1999, The Biennial Report on Fresh
Water Resources, Washington DC: Island Pres.
Goto A, Kato T, Tatano M. 1997. Runoff Analysis of Midstream Basin of the
Mekong River Using 4x4 Tank Model. Proceeding of Annual Meeting of
Japanese Society of Irrigation, Drainage and Reclamation Engineering. July
1997. Japan.
Grigg, Neil. 1996. Water Resources Management : Principles, Regulations and
Cases. McGraw-Hill.
Haan CT, Johnson HP, Brakensiek DL. 1982. Hydrology Modelling of Small
Watersheds. An ASAE Monograph Number 5 in a series published by
American Society of Agricultural Engineers. 2950 Niles Road, P,O, Box
410 St. Joseph, Michigan 49085 p: 411- 417.
Hamilton LS, King PN, 1997. Daerah Aliran Sungai Hutan Tropika (Tropical
Forested Watersheds). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hanafi I. 2005. Model Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Privatisasi Air
Bersih. [Disertasi]. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Hardjomidjojo H. 2004. Panduan Lokakarya Analisis Prospektif. Jurusan
Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian. lnstitut
Pertanian Bogor. Bogor.
Harmailis. 2001. Modifikasi Model Tangki untuk Mempelajari Pengaruh
Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap Limpasan [Tesis]. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.
Hartrisari. 2007. Sistem Dinamik. Konsep Sistem dan Pemodelan untuk Industri dan
Lingkungan. SEAMEO Biotrop.
Heryansyah A. 2001. Aplikasi Model Tangki pada Aliran Limpasan dan Kualitas
Air untuk Manajemen Tata Guna Lahan di DAS Cidanau [Tesis]. Bogor:
Institut Pertanian Bogor.
Hillel D. 1971. Soil and Water, Physical Principles and Process. New York.
Academic Press.
IPCC. 2001. Climate Change 2001 : The Scientific Basis. Contribution of Working
Group I to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on
Climate Change. Edited by Houghton, J.T. et al. Cambridge University
Press. Cambridge. UK.
Is nugroho. 2001. Sistem Pengelolaan Sumberdaya Air dalam Suatu Wilayah .
Dalam Kodoatie R, Suharyanto S, Sangkawati, Edhisono S. (Eds.).
Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Otonomi Daerah, Yogyakarta: Andi
Offset, hlm. 89-99.
Jayadi R. 2000. Optimasi dan Simulasi Pengembangan Sumber Daya Air. Jurusan
Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Jayadi R. 2012. Analisis Ketersediaan Air DAS Menggunakan Model Mock. Materi
Kuliah MPAAL, Program Studi Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Jeffries M, Mills D. 1996. Freshwater Ecology, Principles, and Application. Jhon
152

Wiley and Sons. Chichester. UK. 285 p.


Kartodiharjo et al. 1999. Analisis Kelembagaan Pengelolaan Daerah Aliran
ungai
S : Konsep, Paradox dan masalah, serta upaya peningkatan kinerja.
ahan
B Lokakarya Nasional Kebijaksanaan Pengelolaan Daerah Aliran
ungai,
S diselenggarakan oleh Ditjen Pembangunan Daerah, Depdagri dan
Balitbang Pertanian, Deptan, di Bogor 18 Februari 1999, 64 hlm.
Katiandagho TM. 2007. Model Pengelolaan Sumberdaya Air dalam Kompetisi
Antar Sektor di Wilayah Hilir Daerah Irigasi Jatiluhur: Pendekatan
Optimasi Dinamik. [Disertasi]. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Kato, T., Somura H., Goto A.. 2002. Water Quality Forecast Model of Cidanau
Watershed, Indonesia, for Watershed Management. Rural and
Environmental Engineering, No.43, p.3-12.
Kato T, and Goto A. 2003. Studies On Environmental Changes And Sustainable
evelopment:
D Water Quality Forecast Model of Cidanau Watershed,
ndonesia,
I for Watershed Management Planning. Proc. 2nd Seminar
Toward
" Harmonization Between Development and Environmental
Conservation In Biological Production" 1-4.
Kavanagh P. 2001. Rapid Appraisal of Fisheries (RAPFISH) Project. University of
British Columbia, Fisheries Centre.
Kodoati e RJ, Suharyanto. 2002. Pengelolaan Sumberdaya Air dalam Otonomi
Daerah. Penerbit Andi. Yogyakarta.
e RJ. 2000. Paradigma dan Strategi Pengembangan Sumberdaya Air
Kodoati
alam rangka menyongsong era otonomi daerah . Seminar Nasional
d
Paradigma dan Strategi Pengembangan Sumberdaya Air pada Abad 21”

rogram Pascasarjana Magister Teknik Sipil Undip.
P
e RJ. 2000. Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Alam. Suara Merdeka.
Kodoati
e RJ. 1996. Pengantar Hidrogeologi. Penerbit Andi Offset. Yogyakarta.
Kodoatie RJ. 1994. Banjir dan Pengelolaan Sumberdaya Air. Suara Karya
Kodoatiakarta.
Je, R.J, Roestam S. 2005. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu.
Kodoati ogyakarta: Andi.
YH, Bertrand AR. 1959. Soil Conservation. McGraw-Hill Book Co., Inc.
KohnkeY.Y. 298 p.
Kualitas Air, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Konawe
LaporanTahun 2011.
RK, Franzini BJ, Sasongko D. 1996. Teknik Sumber Daya Air. Jilid 2.
Linsley akarta. Erlangga.
JRK, Kohler MA, Paulus JJH. 1986. Hydrology for Engineers. Mc. Graw
Linsley ill Inc. New York.
H DP. 2000. Sustainable Water Resource Management. Water
Loucks nternational. 25 (1) : 2 – 10.
I . 2004. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk.
MariminBogor: IPB Press dengan Program Pascasarjana IPB. 197 hlm.
n. 2005. Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk: Teknik dan Aplikasi .
MarimiCetakan Kedua. Grasindo Widiasarana Indonesia. Jakarta.
h TJ, Park GL. 1977. System Analysis and Simulation with Applications to
Manetsc conomic and Social Science. Michigan State University. East Lansin.
E
153

Michigan.
M iller G, Tyler. 1985. Living in The Environment. An Introduction to
Environmental Science, Belmont, California: Wadsworth Publ. Com. ochtar.
M 2001. Aspek Pengelolaan Air dan Sumber Air dalam Era Otonomi
Daerah. Dalam Kodoatie RJ, Suharyanto S, Sangkawati, Edhisono S.
(Editor). Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Otonomi Daerah. Andi
Offset. Yogyakarta: pp. 55-61.
M unasinghe, M. E. Lutz. 1991. Environmental-Economic Evaluation of Projects
and Policies for Sustainable Development. Environmental Working Paper
No. 42, World Bank, Washington, DC. January. 38pp.
Nebel, Bernard J, Richard TW. Environmental Science. The Way the World
Works, 7th Ed. New Jersey: Prentice Hall, 2000.
Perda No. 10 Tahun 1997 tanggal 26 Mei 1997 tentang Pendirian PDAM
Kabupaten Dati II Kendari.
PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air.
Pe raturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 tentang
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).
Pitcher TJ, Preikshot DB. 2001. Rapfish: A Rapid Appraisal Technique to Evaluate
the Sustainability Status of Fisheries. Fisheries Research 49(3): 255-270.
Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Lasolo-Konaweha. 2012.
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV
(BWS Sulawesi IV).
Pu rwanto MYJ, Goto A. 2003. Runoff Analysis Using Tank Model for Several
Watershed in Java Island, Indonesia. Agricultural Engineering Journal,
Department of Agricultural Engineering, Vol. 17 No. 3, December 2003.
p24-31
Pu rwanto MYJ, Sutoyo. 2009. Kebutuhan Informasi Perencanaan Sumberdaya
Air dan Keandalan Ketersediaan Air yang Berkelanjutan di Kawasan
Perdesaan. Prosiding Seminar Nasional Himpunan Informatika Pertanian
Indonesia. 6 - 7 Agustus 2009. Bogor.
Purwanto MYJ, Sutoyo, Yoshida K, Goto A. 2000. Prediction of River Runoff
Based on Rainfall Data Using Tank Model in Cidanau Watershed .
Proceeding of International Seminar on Environmental Management for
Sustainable Rural Life. Bogor, 19 Februari 2000. p131 -139
Raharjo PD, Saifudin. 2009. Erosion Mapping of Lukulo Upstream Watershed
Using Remote Sensing and GIS. Journal of Soil and Environment. Soil
Science. Department of Agriculture. Gadjah Mada University. Yogyakarta.
ISSN 0853-6368 Vol. 8 No. 2 Page 103-113.
Ra mdan H. 2006. Pengelolaan Sumber Air Minum Lintas Wilayah di Kawasan
Gunung Ciremai Propinsi Jawa Barat. [Disertasi]. Sekolah Pascasarjana.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
jtema PE, Groenendijk P, Kroes JG. Environmental Impact of Land Use in
Ri
Rural Regions, Series on Environmental Science and Management Vol.
1, London: Imperial College Press, 1999.
gers, P.P. 2007. An Introduction Sustainable Development. Glen Education
Ro
Foundation, Inc.
rmadan, Tawulo MA. 2007. Kearifan Lokal Masyarakat Adat Tolaki dalam
Sa
154

Mengelola Lingkungan dengan Menggunakan Sistem Pengetahuan Cuaca


Berladang (Pesuri Monda’u). Di dalam: Mengungkap Kearifan Lingkungan
Sulawesi Tenggara. Masagena Press. Makassar.
Saxena JJP et al. 1992. Hierarchy and Classification of Program Plan Elements
Using ISM. Practise, Vol 5 (6) 651:670.
Schwab, G.O., R. K. Frevert and T. Barnes. 1966. “Soil and Water Conservation
Engineering”. Third Edition. John Wiley & Sons Inc. New York.
Schwab,G.O., D.D. Fangmeier, W.J. Elliot, R. K. Frevert (1993). “Soil and Water
Conservation Engineering”. Fourth Edition. John Wiley & Sons Inc. New
York. 507 p.
Seyhan H. 1990. Dasar-Dasar Hidrologi. Terjemahan: Sentot Subagyo. Editor:
Soenardi Prawirohatmodjo. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
[SNI] 2008. SNI 6773:2008. Judul : Spesifikasi Unit Paket Instalasi Pengolahan
Air.
Soerianegara I. 1978. Pengelolaan Sumberdaya Alam, Bagian II. Sekolah Pasca
Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sosrodarsono T, Takeda K. 1977. Hidrologi untuk Pengairan. Pradnya Paramita.
Jakarta
Sri Harto BR. 2009. Hidrologi, Teori, Masalah, Penyelesaian. Nafiri Offset,
Yogyakarta.
Sub Di nas
S PU Pengairan Provinsi Sulawesi Tenggara.2010. Debit Rata-Rata
Sudjarwungai Konaweha Tahun 1993 – 2009. Kendari, Sulawesi Tenggara.
Yadi. 1995. Pengembangan Wilayah Sungai. Fakultas Pascasarjana UGM,
Sudjarwogyakarta.
adi. 2008. Pengembangan Sumberdaya Air. Jurusan Teknik Sipil dan
SugandhLingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Py A. 1997. Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sumberdaya Air. Seminar
engembangan dan Pengelolaan Sumberdaya Air Tingkat Nasional. Deputi
SugawaBidang Prasarana Bappenas, Jakarta
Rra M. 1961. On the Analysis of Runoff Structure about Several Japanese
Sivers. Japanese Journal of Geophysics, Vol. 4 No. 2. March 1961. The
Sugawa cience Council of Japan. Japan.
ra
h M. 1995. Chapter 6: Tank Model. Computer models of watershed
ydrology. V. P. Singh (ed.). Water Resources Publications. Littleton,
Suroso Colorado, USA.
Ddan Susanto, H.A. 2006. “Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan Terhadap
Nebit Banjir Daerah Aliran Sungai Banjaran”, Jurnal Teknik Sipil Vol. 3
Sutopo o. 2 Juli 2006. Universitas Jenderal Sudirman.
MF. 2011. Pengembangan Kebijakan Jasa Lingkungan dalam
S
Pengelolaan Air Minum (Studi Kasus DAS Cisadane Hulu) . [Disertasi].
Sutoyo.ekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
1999. Pendugaan Debit Sungai Berdasarkan Hujan dengan
Menggunakan Model tangki di DAS Cidanau Serang Banten [Skripsi].
Sutoyo,Bogor. Departemen Teknik Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Purwanto, M. Y. J., Yoshida, K., and Goto, A. 2000. “Prediction Based on
Rainfall
I Data Using Tank Model for Cidanau Watershed”. Proceeding of
nternational Seminar on Environmental Management for Sustainable Rural
Life Vol. 2 February 19th 2000. Bogor.
155

Syaukat, Y. 2000. Economics of Integrated Surface and Ground Water Use


Management in The Jakarta Region Indonesia. Thesis. The Faculty of
Graduate Studies. The University of Guelph.
Syaukat Y, Glenn C.F. 2004. Conjunctive Surface And Ground Water Management
In The Jakarta Region, Indonesia. Paper No. 01073 of the Journal of the
American Water Resources Association (JAWRA). Copyright 2004
American Water Resources Association
Todd DK. 1980. Groundwater Hydrology. 2nd edition, John Wiley, New York,
535 pp.
[UU RI] 2004. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 Tentang
Sumberdaya Air.
U.S. Soil Conservation Service. 1973. “A Method for Estimating Volume and Rate
of Runoff in Small Watershed”. SCS-TP-149. Washington, D.C.
Viesman WJr, Knapp JW, Lewis GL, Harbaugh FE. 1977. Introduction to
Hydrology. Second edition. Harper & Row Publisher, New York.
W ibisono K. 1991. Model Simulasi Perencanaan Sumberdaya Air Pada Daerah
Aliran Waduk Selorejo Jawa Timur [Tesis]. Bogor: Institut Pertanian
Bogor.
Wilson EM. 1993. Hidrologi Teknik. Terjemahan: MM Purbohadiwidjoyo. Editor:
Suroso. Bandung, ITB Press.
156
157

LAMPIRAN

.
158

Lampiran 1 Foto Keadaan Lokasi Penelitian

~:
a.
0
0
3
O"'
(1)
....c::::s
:a-
0
"O
0
"O
c:
....0 :::s
:::s
"O
0

....
a:
0
c:
0
:::s
c...
.c:
3
0
0
0
?'"

c:::J
Sumber: Dokumentasi Langgo Simon & Anto (2011), Dokumentasi Ridwan Adi Surya (2013)

<
CD
-,
en
r+
'<
159
160

Lampiran 2. Kuesioner Analisis Status Keberlanjutan dengan Multi Dimensional Scalling

KUESIONER
PENENTUAN STATUS KEBERLANJUTAN
PENGELOLAAN AIR BAKU UNTUK PENYEDIAAN AIR BERSIH
BERKELANJUTAN DI TINGKAT KABUPATEN
(ST UDI KASUS KAB. KONAWE PROV. SULAWESI TENGGARA)

Multi Dimensional Scalling (MDS)


IDENTITAS RESPONDEN
Nama Lengkap : ………………………………………….
Pekerjaan/Instansi : ………………………………………….
Telp/Hp : ………………………………………….
Tanggal Pengisian : ………………………………………….
Paraf :

Oleh:
RIDWAN ADI SURYA
NRP. P062100211

PROGRAM DOKTOR
PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013
161

No. Kuesioner: …….

Nama Responden : ………………………………………….

Alamat : ………………………………………….

Dimohon kesediaan Bapak/Ibu/Sdr untuk mengisi kuesioner penelitian ini sebagai


berikut:

1. Kuesioner penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menilai kondisi


eksisting Pengelolaan Air Baku untuk Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di
Kabupaten Konawe secara umum.
2. Penilaian kondisi eksisting Pengelolaan Air Baku untuk Penyediaan Air Bersih
Berkelanjutan di Kabupaten Konawe ini ditinjau dari 5 (lima) dimensi, yaitu
dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi teknologi, dan
dimensi kelembagaan.
3. Bapak/Ibu/Sdr silahkan memilih salah satu pilihan dengan menuliskan angka
skor (0/1/2/3) berdasarkan keterangan yang tertera pada pilihan skor yang
telah tersedia.
4. Data dan informasi tersebut akan saya pergunakan sebagai bahan untuk
penulisan Disertasi.
5. Data dan semua informasi yang diberikan akan saya jamin kerahasiaannya.
6. Atas kesediaan dan partisipasi Bapak/Ibu/Sdr saya ucapkan terima kasih.
162

Scoring dan Reference Point Analisis Keberlanjutan


PE NGELOLAAN AIR BAKU UNTUK PENYEDIAAN AIR BERSIH
BERKELANJUTAN DI KAB. KONAWE

No. Dimensi Skor Baik Buruk Keterangan Jawaban

A. EKOLOGI
1 Kuantitas Air Baku 0,1,2, 3 0 (0) rendah, (1) sedang, (2)
3 tinggi, (3) sangat tinggi
2 Kualitas Air Baku 0,1,2, 3 0 (0) sangat jelek, (1) jelek, (2)
3 agak baik, (3) baik
3 Pemeliharaan Daerah 0,1,2 2 0 (0) kurang berhasil
Tangkapan A ir (DTA) dan (keberhasilan
Rehabilitasi Hutan dan RHL<50%);
Lahan (RHL) (1) cukup berhasil (50-80%),
(2) berhasil (% keberhasilan
RHL>80%).
4 Curah hujan dan Hari hujan 0,1,2, 3 0 (0) rendah, (1) sedang, (2)
3 tinggi, (3) sangat tinggi
5 Frekuensi kejadian 0,1,2 2 0 (0) sering, (1) kadang-kadang,
kekeringan (2) tidak pernah terjadi
kekeringan
6 Frekuensi kejadian banjir 0,1,2 2 0 (0) sering, (1) kadang-kadang,
(2) tidak pernah terjadi banjir
7 Pengembangan sumber air 0,1 1 0 (0) tidak ada, (1) masih dalam
baku untuk penyediaan air tahap perencanaan belum
bersih dilaksanakan, (2) ada dan sudah
dilaksanakan
8 Tingkat pencemaran air 0,1,2 0 2 (0) rendah, (1) sedang, (2)
permukaan (sungai) tinggi
9 Pemanfaatan lahan 0,1,2 0 2 (0) rendah dan kualitas air
terhadap kualitas air baku terjaga, (1) sedang dan tidak
berpengaruh pada kualitas air,
(2) tinggi dan kualitas air
menurun, (3) sangat tinggi dan
kualitas air menurun
10 Tinggi permukaan air tanah 0,1 0 1 (0) tidak berfluktuasi secara
ekstrim (1) berfluktuasi secara
ekstrim
11 Perubahan penggunaan 0,1,2, 0 3 (0) rendah (lppm <laju
lahan bervegetasi dan non- 3 pertumbuhan penduduk (lppk)),
vegetasi menjadi lahan (1) sedang (lppm =laju
terbangun/permukiman. pertumbuhan penduduk),
(2) tinggi (lppm > laju
pertumbuhan penduduk,
163

Perbandingan laju (3) Sangat tinggi (laju


perkembangan permukiman perkembangan permukiman/
(lppm) : laju pertumbuhan lppm>2x laju pertumbuhan
penduduk (lppk) penduduk)
12 Tingkat kekritisan lahan 0,1,2, 0 3 (0) Tidak terdegradasi (tidak
DAS 3 kritis) (<10%), (1) Potensial
kritis (10-25%), (2) Kritis (25-
50%),
(3) Sangat kritis (>50%)
13 Tingkat sedimentasi sungai 0,1,2 0 2 (0) rendah, (1) sedang, (2)
tinggi

No. Dimensi Skor Baik Buruk Keterangan Jawaban

B. EKONOMI
1 Kontribusi Sektor 0,1,2 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2)
Pemanfaatan sumber air tinggi
terhadap PDRB Daerah
2 Persentase jumlah 0,1,2 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2)
uk miskin
pendud tinggi
3 Tarif air bersih PDAM 0,1,2, 3 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi,
3 (3) sangat tinggi
4 Tingkat keuntungan PDAM 0,1,2 2 0 (0) rendah (1) sedang, (2)
tinggi, (3) sangat tinggi
5 Kesediaan membayar dalam 0,1,2, 3 0 (0) rendah, (1) sedang, (2) tinggi,
pemakaian air bersih 3 (3) sangat tinggi
(Willingness to pay)
6 Ketersediaan dana untuk 0,1,2, 3 0 (0) tidak tersedia, (1) kurang
pengembangan teknologi 3 tersedia, (2) tersedia (3)
penyediaan air bersih tersedia tidak terbatas
7 Penyerapan tenaga kerja 0,1,2 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2)
tinggi
8 Iklim investasi 0,1,2 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2)
tinggi

No. Dimensi Skor Baik Buruk Keterangan Jawaban

C. SOSIAL
1 Tingkat pertumbuhan 0,1,2, 0 3 (0) rendah (<nasional), (1)
penduduk 3 sedang (nasional = kabupaten),
(2) tinggi (> nasional), (3)
sangat tinggi (lebih 2x
nasional)
2 Tingkat pendidikan formal 0,1,2 2 0 (0) dibawah rata-rata nasional,
masyarakat (1) sama dengan rata-rata
164

nasional, (2) diatas rata-rata


nasional
3 Motivasi & kepedulian 0,1,2 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2)
masyarakat terhadap upaya tinggi
perbaikan lingkungan,
rehabilitasi hutan dan lahan
untuk kelestarian sumber
air baku
4 Pemberdayaan masyarakat 0,1,2, 3 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi
dalam kegiatan pengelolaan 3 tidak berjalan, (2) kurang
air bersih optimal, (3) berjalan optimal
5 Tingkat keluhan pelanggan 0,1,2, 0 3 (0) rendah, (1) sedang, (2)
terhadap layanan PDAM 3 tinggi, (3) sangat tinggi
6 Tingkat ketergantungan 0,1,2, 3 0 (0) rendah, (1) sedang, (2)
masyarakat terhadap 3 tinggi, (3) sangat tinggi
layanan air bersih
7 Pengetahuan kearifan lokal 0,1,2 2 0 (0) tidak ada pengetahuan
dalam pengelolaan kearifan lokal, (1) terdapat
sumberdaya air kearifan lokal tapi tidak efektif,
(2) ada kearifan lokal dan
efektif digunakan/ berfungsi
dengan baik

No. Dimensi Skor Baik Buruk Keterangan Jawaban

D. TEKNOLOGI
1 Kualitas air bersih yang 0,1,2, 3 0 (0) Memenuhi kriteria mutu air
dihasilkan 3 kelas 4 berdasarkan PP No. 82
tahun 2001, (1) Memenuhi
kriteria mutu air kelas 3, (2)
Memenuhi kriteria mutu air
kelas 2,
(3) Memenuhi kriteria mutu air
kelas 1
2 Dukungan sarana dan 0,1,2 2 0 (0) tidak memadai, (1) cukup
prasarana penyediaan air memadai, (2) sangat memadai
bersih
3 Tingkat penerimaan 0,1,2, 3 0 (0) Sulit, ada penolakan
terhadap teknologi baru 3 (1) lambat, secara perlahan
(Inovasi teknologi) (2) Cukup menerima
(3) Mudah menerima
4 Tingkat pelayanan air 0,1,2 2 0 (0) rendah, (1) sedang, (2)
bersih PDAM tinggi
5 Kondisi drainase di 0,1,2 2 0 (0) tidak memadai, (1) cukup
kawasan permukiman memadai, (2) memadai (3)
sangat memadai
165

6 Teknologi penanganan 0,1,2 2 0 (0) Tidak terdapat IPAL,


limbah (1) Terdapat IPAL tapi tidak
berfungsi dengan baik,
(2) Terdapat IPAL dan
berfungsi dengan baik
7 Kondisi jaringan distribusi 0,1,2 2 0 (0) tidak memadai, (1) cukup
perpipaan PDAM memadai, (2) sangat memadai
8 Kondisi Instalasi 0,1,2 2 0 (0) tidak memadai, (1) cukup
Pengolahan Air Bersih memadai, (2) sangat memadai
PDAM
9 Layanan listrik (PLN) 0,1,2 2 0 (0) tidak memadai, (1) cukup
untuk pengolahan air bersih memadai, (2) sangat memadai

No. Dimensi Skor Baik Buruk Keterangan Jawaban

E. KELEMBAGAAN
1 Ketersediaan peraturan 0,1,2 2 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi
perundang-undangan tidak berjalan, (2) ada dan
tentang pengelolaan berjalan baik
sumber daya air terutama di
tingkat Kabupaten
2. Kebijakan dalam 0,1,2 2 0 (0) tidak ada, (1) ada tetapi
pengelolaan sumber daya tidak berjalan, (2) ada dan
air, baik nasional maupun berjalan baik
lokal
3 Kapasitas organisasi 0,1,2 2 0 (0) buruk (kurang jelas tupoksi
lembaga/instansi masing-masing instansi
pemerintah daerah (SKPD) pemerintah),
terkait (1) sedang (ada kejelasan
tupoksi
masing2 instansi pemerintah),
(2) baik (saling mendukung
tupoksi instansi pemerintah).

No. Dimensi Skor Baik Buruk Keterangan Jawaban

E. KELEMBAGAAN
4 Rezim pengelolaan air 0,1,2, 3 0 (0) open access, (1) private
bersih 3 property, (2) communal
property, (3) state property
5 Rencana pengelolaan 0,1,2 2 0 (0) Belum ada pengelolaan,
sumberdaya air (1) ada pengelolaan namun
berkelanjutan belum sepenuhnya dijalankan,
(2) ada pengelolaan dan telah
dijalankan sepenuhnya
166

6 Koordinasi antar 0,1,2 2 0 (0) buruk (mengerti tupoksi


lembaga/instansi masing-masing, tidak
pemerintah daerah (SKPD) memahami posisi dan peran
pihak mitra koordinasi);
(1) sedang (mengerti tupoksi
masing-masing, memahami
posisi dan peran pihak mitra
koordinasi, mementingkan
programnya masing-masing);
(2) baik (mengerti tupoksi
masing2, memahami posisi dan
peran pihak mitra koordinasi,
dan keterpaduan implementasi
program bersama).
7 Ketersediaan perangkat 0,1,2 2 0 (0) tidak ada, (1) cukup
hukum adat/local wisdom tersedia, (2) sangat lengkap
167

Lampiran 3. Kuesioner Analisis Kelembagaan dengan Interpretative Structural


Modelling (ISM)

KUESIONER
STRATEGI PENGELOLAAN AIR BAKU UNTUK PENYEDIAAN
AIR BERSIH BERKELANJUTAN DI TINGKAT KABUPATEN
(STUDI KASUS KAB. KONAWE PROV. SULAWESI TENGGARA)

Interpretative Structural Modeling (ISM)

IDENTITAS RESPONDEN
Nama lengkap :
Pekerjaan/Instansi :
Telp/Hp :
Tanggal Wawancara :
Paraf :

Oleh:
RIDWAN ADI SURYA
NRP. P062100211

PROGRAM DOKTOR
PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013
168

No. Kuesioner: ……

Nama Responden : ………………………………………….

Alamat : ………………………………………….

Dimohon kesediaan Bapak/Ibu/Sdr untuk mengisi kuesioner penelitian ini sebagai


berikut:

1. Tek nik Permodelan Interpretasi Struktural (Interpretatif Structural


Modelling/ISM) digunakan untuk merumuskan alternatif kebijakan dimasa
yang akan datang. Analisis ini digunakan sebagai salah satu alat (tool) dalam
penelitian yang dilakukan dengan judul ”Model Pengelolaan Air Baku Untuk
Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan Di Tingkat Kabupaten (Studi Kasus Kab.
Konawe Prov. Sulawesi Tenggara)”. Dengan analisis ISM ini ingin diketahui
faktor kunci apa saja yang berperan dalam Pengelolaan Air Baku Untuk
Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di Tingkat Kabupaten. Oleh karena itu,
penentuan faktor kunci tersebut adalah penting, dan sepenuhnya harus
merupakan pendapat dari pihak yang berkompeten sebagai ahli (expert).
2. Kue sioner penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menentukan elemen
kun ci dari: (1) Kendala dalam pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih
ber kelanjutan di Kabupaten Konawe, (2) Kebutuhan dalam Pengelolaan Air
Bak u untuk Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di Kabupaten Konawe, dan
(3) Pelaku dalam pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih
berkelanjutan di Kabupaten Konawe.
3. Unt uk maksud tersebut, Bapak/Ibu dimohon memberikan pendapat tentang
keterkaitan antar sub elemen pada suatu elemen dengan mengisikan simbol V,
A, X, O pada sel matriks di bawahnya yang bebas arsir. Pendapat dinyatakan
dengan simbol V, A, X, atau O dan diisikan pada sel matriks sesuai dengan
ketentuan sebagai berikut:
V, adalah eij = 1 dan eij = 0 (Jika sub-elemen i lebih berpengaruh/lebih penting
dari sub-elemen j)
A, adalah eij = 0 dan eij = 1 (Jika sub-elemen i tidak lebih berpengaruh/tidak
h penting dari sub-elemen j)
lebi
X, adalah eij = 1 dan eij = 1 (Jika sub-elemen i dan j sama-sama
berpengaruh/sama-sama penting)
O, adalah eij = 0 dan eij = 0 (elemen i dan j sama-sama tidak berpengaruh/sama-
sama tidak penting)
4. Teri ma kasih atas kesediaan Bapak/Ibu/Sdr untuk diwawancarai. Data dan
informasi tersebut akan saya pergunakan sebagai bahan untuk penulisan
Disertasi. Data dan semua informasi yang diberikan akan saya jamin
kerahasiaannya. Atas kesediaan dan partisipasi Bapak/Ibu/Sdr saya ucapkan
terima kasih.
169

ANALISIS KENDALA, KEBUTUHAN & KELEMBAGAAN DALAM


PENGELOLAAN AIR BAKU UNTUK PENYEDIAAN AIR BERSIH
BERKELANJUTAN DI TINGKAT KABUPATEN (STUDI KASUS KAB.
KONAWE PROV. SULAWESI TENGGARA)

Dalam Pengelolaan Air Baku untuk Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di


Kabupaten Konawe perlu dikaji aspek kendala, kebutuhan dan lembaga yang
berperan dalam pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih di Kab. Konawe.
Analisis ISM ini digunakan untuk menentukan elemen kunci dari: (1) Elemen
kendala pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih berkelanjutan di
Kabupaten Konawe, (2) Elemen kebutuhan program pengelolaan air baku untuk
penyediaan air bersih berkelanjutan di Kabupaten Konawe, dan (3) Elemen pelaku
pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih berkelanjutan di Kabupaten
Konawe. Kajian ini menggunakan metode ISM (Interpretative Structural
Modelling) dengan menggunakan kuisioner dan diskusi pakar.
Berdasarkan pertimbangan hubungan kontekstual disusunlah Structural Self-
Interaction Matrix (SSIM). Penyusunan SSIM menggunakan simbol V, A, X dan
O, yaitu:
V adalah eij =1 dan eji =0 A adalah eij =0 dan eji =1
X adalah eij =1 dan eji =1 O adalah eij =0 dan eji =0
Dengan pengertiannya, simbol 1 adalah ada hubungan kontekstual, sedangkan
simbol 0 adalah tidak ada hubungan kontekstual antara elemen i dan j dan
sebaliknya.

1. Elemen Kendala dalam pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih
berkelanjutan di Kabupaten Konawe

Be rdasarkan hasil brainstorming dan studi pustaka ditemukan 13 sub elemen


ke ndala, yaitu (1) Terbatasnya sarana dan prasarana pendukung, (2) Kualitas air
ba ku untuk penyediaan air bersih yang kurang baik, (3) Kurangnya sumber daya
m anusia (SDM) yang memadai, (4) Tingginya biaya operasional sarana penyediaan
air bersih, (5) Kurangnya kemampuan kapasitas institusi pengelola air bersih, (6)
Le mahnya tata kelola kelembagaan terkait Sistem Informasi Sumber Daya Air
(S ISDA), (7) Aplikasi teknologi penyediaan air bersih kurang memadai, (8) Adanya
in dikasi pengambilan air tanah dalam yang berlebihan melalui sumur pompa
se hingga dapat menurunkan muka air tanah, (9) Menurunnya fungsi resapan air
ak ibat berkurangnya vegetasi pada daerah tangkapan Air, (10) Rendahnya
ke sadaran masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan lingkungan serta
ko nservasi tanah dan air, (11) Kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan
su mber daya air antar stakeholder terkait, (12) Lemahnya pengawasan dan
pe negakan hukum, (13) Kurang optimalnya upaya pengendalian dan
penanggulangan banjir.

Hubungan kontekstual antar sub elemen kendala adalah sub elemen kendala yang
satu lebih berpengaruh dari sub elemen kebutuhan yang lain. Berikut ini
merupakan daftar isian hubungan kontekstual antar sub-elemen yang dimaksud :
170

Petunjuk pengisian :
Kolom bebas arsir mohon diisi dengan huruf V , A, X dan/atau O, dimana:
V, adalah eij = 1 dan eij = 0 (Jika sub-elemen i lebih berpengaruh dari sub-elemen j)
A, adalah eij = 0 dan eij = 1 (Jika sub-elemen i tidak lebih berpengaruh dari sub-elemen j)
X, adalah eij = 1 dan eij = 1 (Jika sub-elemen i dan j sama-sama berpengaruh)
O, adalah eij = 0 dan eij = 0 (elemen i dan j sama-sama tidak berpengaruh)
Daftar sub-elemen Kendala yang diperoleh dari hasil brainstorming dan studi pustaka
No. Sub Elemen Kendala
A1 Terbatasnya sarana dan prasarana pendukung
A2 Kualitas air baku untuk penyediaan air bersih yang kurang baik
A3 Kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang memadai
A4 Tingginya biaya operasional sarana penyediaan air bersih
A5 Kurangnya kemampuan kapasitas institusi pengelola air bersih
Lemahnya tata kelola kelembagaan terkait Sistem Informasi Sumber Daya Air
A6 (SISDA)
A7 Aplikasi teknologi penyediaan air bersih kurang memadai
Adanya indikasi pengambilan air tanah dalam yang berlebihan melalui sumur pompa
A8 sehingga dapat menurunkan muka air tanah
Menurunnya fungsi resapan air akibat berkurangnya vegetasi pada daerah tangkapan
A9 Air (DTA)
Rendahnya kesadaran masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan lingkungan serta
A10 konservasi tanah dan air
Kurangnya koordinasi dan keterpaduan pengelolaan sumber daya air antar stakeholder
A11 terkait

A12 Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum


A13 Kurang optimalnya upaya pengendalian dan penanggulangan banjir

Daftar isian hubungan kontekstual antar sub-elemen Kendala:


j

A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 A11 A12 A13


A1
A2
A3
A4
A5
A6
i A7
A8
A9
A10
A11
A12
A13
171

2. Elemen Kebutuhan dalam Pengelolaan Air Baku untuk Penyediaan Air


Bersih Berkelanjutan di Kabupaten Konawe

Berdasarkan hasil hasil brainstorming dan studi pustaka, ditemukan 12 sub elemen
kebutuhan, yaitu (1) Penegakan supremasi hukum, (2) Peningkatan luas kawasan
lindung, (3) Tata ruang yang tepat, (4) Restrukturisasi kelembagaan, (5)
Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat SKPD terkait, (6) Pemberian
insentif dan disinsentif dalam tata ruang wilayah, (7) Peningkatan lapangan
pekerjaan, (8) Peningkatan pendapatan masyarakat, (9) Peningkatan kesadaran
stake holder terkait (Pemerintah, Dunia Usaha & Industri, Akademisi/Perguruan
Tinggi, Masyarakat, dan LSM), (10) Penetapan pedoman pengelolaan DAS, (11)
Teknologi pengelolaan DAS, dan (12) Pengembangan kearifan local (local
wisdom).

Hubungan kontekstual antar sub elemen kebutuhan adalah sub elemen kebutuhan
yang satu lebih penting dari sub elemen kebutuhan yang lain.
Berikut ini merupakan daftar isian hubungan kontekstual antar sub-elemen yang
dimaksud :

Petunjuk pengisian :
olom bebas arsir mohon diisi dengan huruf V , A, X dan/atau O, dimana:
K

V, adalah eij = 1 dan eij = 0 (Jika sub-elemen i lebih penting dari sub-elemen j)
A, adalah eij = 0 dan eij = 1 (Jika sub-elemen i tidak lebih penting dari sub-elemen j)
X, adalah eij = 1 dan eij = 1 (Jika sub-elemen i dan j sama-sama penting)
O, adalah eij = 0 dan eij = 0 (elemen i dan j sama-sama tidak penting)

Daftar sub-elemen Kebutuhan yang diperoleh dari hasil brainstorming dan studi pustaka

No. Sub Elemen Kebutuhan


B1 Penegakan supremasi hukum
B2 Peningkatan luas kawasan lindung
B3 Tata ruang yang tepat
B4 Restrukturisasi kelembagaan
B5 Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat SKPD terkait
B6 Pemberian insentif dan disinsentif dalam tata ruang wilayah
B7 Peningkatan lapangan pekerjaan
B8 Peningkatan pendapatan masyarakat
Peningkatan kesadaran stake holder terkait (Pemerintah, Dunia Usaha &
B9 Industri, Akademisi/Perguruan Tinggi , Masyarakat, dan LSM.
B10 Penetapan pedoman pengelolaan DAS
B11 Teknologi pengelolaan DAS
B12 Pengembangan kearifan lokal
172

Daftar isian hubungan kontekstual antar sub-elemen Kebutuhan :

B1 B2 B3 B4 B5 B6 B7 B8 B9 B10 B11 B12


B1
B2
B3
B4
B5
B6
i
B7
B8
B9
B10
B11
B12

3. Ele men Pelaku dalam pengelolaan air baku untuk penyediaan air bersih
berkelanjutan di Kabupaten Konawe

Berdasarkan hasil pendapat pakar, ditemukan 11 sub elemen pelaku, yaitu (1) Balai
Wilayah Sungai Sulawesi IV, (2) Institusi Pengelolaan DAS (BP DAS Sampara dan
Forum DAS Sultra), (3) Dinas Kehutanan Kab. Konawe, (4) Dinas Pertanian dan
Peternakan Kab. Konawe, (5) Dinas PU dan Tata Ruang Kab. Konawe, (6) Bappeda
Kab. Konawe, (7) Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kab. Konawe,
(8) PDAM Kab. Konawe, (9) Akademisi/Perguruan Tinggi, (10) Masyarakat, dan
(11) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Hubungan kontekstual antar sub elemen pelaku adalah sub elemen pelaku yang satu
lebih penting dari sub elemen pelaku yang lain. Berikut ini merupakan daftar isian
hubungan kontekstual antar sub-elemen Pelaku yang dimaksud:
173

Petunjuk pengisian :
olom bebas arsir mohon diisi dengan huruf V , A, X dan/atau O, dimana:
K
V, adalah eij = 1 dan eij = 0 (Jika sub-elemen i lebih penting dari sub-elemen j)
A, adalah eij = 0 dan eij = 1 (Jika sub-elemen i tidak lebih penting dari sub-elemen j)
X, adalah eij = 1 dan eij = 1 (Jika sub-elemen i dan j sama-sama penting)
O, adalah eij = 0 dan eij = 0 (elemen i dan j sama-sama tidak penting)
Daftar sub-elemen Pelaku yang diperoleh dari hasil brainstorming dan studi pustaka

No. Sub Elemen Pelaku


C1 Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV
C2 Institusi Pengelolaan DAS (Balai Pengelolaan DAS Sampara & Forum
DAS Sultra
C3 Dinas Kehutanan Kab. Konawe
C4 Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Konawe
C5 Dinas PU dan Tata Ruang Kab. Konawe
C6 Bappeda Kab. Konawe
C7 BPLH Kab. Konawe
C8 PDAM Kab. Konawe
C9 Akademisi/Perguruan Tinggi
C10 Masyarakat
C11 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

aftar isian hubungan kontekstual antar sub-elemen Pelaku :


D
j

C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8 C9 C10 C11
C1
C2
C3
C4
C5
i C6
C7
C8
C9
C10
C11
174

Lampiran 4. Kuesioner Analisis Prospektif

KUESIONER
ANALISIS PROSPEKTIF
PENGEMBANGAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN AIR BAKU UNTUK
PENYEDIAAN AIR BERSIH BERKELANJUTAN DI TINGKAT
KABUPATEN
(ST UDI KASUS KAB. KONAWE PROV. SULAWESI TENGGARA)

IDENTITAS RESPONDEN
Nama Lengkap : ………………………………………….
Pekerjaan/Instansi : ………………………………………….
Telp/Hp : ………………………………………….
Tanggal Pengisian : ………………………………………….
Paraf :

Oleh:
RIDWAN ADI SURYA
NRP. P062100211

PROGRAM DOKTOR
PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013
175

No. Kuesioner: …….

Nama Responden : ………………………………………….

Alamat : ………………………………………….

Dimohon kesediaan Bapak/Ibu/Sdr untuk mengisi kuesioner penelitian ini sebagai


berikut:
1. Kuesioner penelitian ini bertujuan untuk merumuskan alternatif kebijakan
berupa skenario strategis yang berkaitan dengan Pengelolaan Air Baku untuk
Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan di Kabupaten Konawe untuk mencapai
kondisi yang efektif dan efisien pada masa mendatang. Analisis prospektif
dapat digunakan sebagai alat untuk mengeksplorasi dan mengantisipasi
perubahan melalui skenario.
2. Bapak/Ibu/Sdr silahkan memilih salah satu pilihan dengan menuliskan angka
skor (0/1/2/3) berdasarkan keterangan yang tertera pada pilihan skor yang
telah tersedia.
3. Data dan informasi tersebut akan saya pergunakan sebagai bahan untuk
penulisan Disertasi.
4. Data dan semua informasi yang diberikan akan saya jamin kerahasiaannya.
5. Atas kesediaan dan partisipasi Bapak/Ibu/Sdr saya ucapkan terima kasih.
176

Pedoman pengisian kuesioner:


1. Faktor yang tidak ada pengaruhnya terhadap faktor lain, jika tidak ada
pengaruh beri nilai 0.
2. J ada pengaruh, selanjutnya dilihat apakah pengaruhnya sangat kuat, jika
ika
ya beri nilai
3. Jika ada pengaruh baru dilihat apakah pengaruhnya kecil = 1, atau
berpengaruh sedang = 2.

Pedoman Penilaian Pengelolaan Air Baku untuk Penyediaan Air Bersih


Berkelanjutan

Skor Keterangan
0 Tidak ada pengaruh
1 Berpengaruh kecil
2 Berpengaruh sedang
3 Berpengaruh Sangat Kuat

Dari Total
Terhadap A B C D E F G H I J K L Pengaruh

A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L

umber
S : Bourgeois, 2004
eterangan
K : A – L = faktor pengungkit dimensi keberlanjutan hasil analisis MDS
177

Tabel. Atribut Pengungkit Dimensi Keberlanjutan

Dimensi Atribut Nilai


No. Keberlanjutan (Faktor Pengungkit) RMS
1. Dimensi Ekologi 4. Pengembangan sumber air baku untuk 3,04
penyediaan air bersih
5. Alih fungsi lahan terhadap kualitas air 2,58
baku
6. Tinggi permukaan air tanah 2,28
2. Dimensi 7. Tingkat keuntungan PDAM 3,55
Ekonomi 8. Penyerapan tenaga kerja 3,54
3. Dimensi Sosial 9. Motivasi & kepedulian masyarakat 4,94
terhadap upaya perbaikan lingkungan,
rehabilitasi hutan dan lahan untuk
kelestarian sumber air baku
10. Tingkat pendidikan formal masyarakat 3,73
4. Dimensi 11. Tingkat pelayanan air bersih PDAM 3,86
Teknologi 12. Teknologi penanganan limbah 3,50
13. Teknologi resapan air di kawasan 3,40
permukiman
5. Dimensi 14. Rezim pengelolaan air bersih 2,23
Kelembagaan 15. Ketersediaan perangkat hukum 1,43
adat/local wisdom
176

Lampiran 5. Peta Perubahan Penggunaan Lahan Catchment Area Bendung Wawotobi Sub DAS Konaweha Tahun 2000 – 2011
Lampiran 6. Rencana Program, Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok Sasaran, dan Pendanaan Indikatif SKPD Dinas Kehutanan
Kabupaten Konawe Tahun 2014 - 2018

Unit
Indikator Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kondisi Kinerja pada Kerja
SKPD
Kod Penang-
Program dan Kegiatan
e Kinerja Program Tahun 1 (2014) Tahun 5 (2018) Akhir Periode Renstra SKPD gung
jawab
dan Kegiatan Target Rp Target Rp Target Rp
4 5 6 8 9 16 17 18 19 20
17 F. Prog. Perlindungan &
Konservasi SDH
1701 Pencegahan & Terlaksananya Kawasan Kawasan kawasan hutan Dishut
Pengendalian Perambahan keg.patroli Hutan Negara 500,000,000 Hutan Negara 500,000,000 aman 250,000,000
Htn & Lhn (Rutin & Gab) terpelihara
1702 Pencegahan & Tesedianya papan Kawasan Kawasan kawasan hutan Dishut
Pengendalian Kebakaran informasi kawasan Hutan Negara 30,000,000 Hutan Negara 30,000,000 aman 15,000,000
Htn & Lhn terpelihara
1703 Penanggulangan Kebakaran Terlaksananya monev Kawasan Kawasan kawasan hutan Dishut
Hutan & Lahan kebakaran hutan Hutan Negara 50,000,000 Hutan Negara 50,000,000 aman 25,000,000
terpelihara
1704 Penyidikan & Pemberkasan Terselesaikannya Pelaku Tindak Pelaku Tindak Menurunnya Dishut
Perkara Kasus Pelanggaran Pelanggaran 50,000,000 Pelanggaran 50,000,000 Pelanggaran 25,000,000
Hutan Hutan
1705 Sosialisasi Peraturan UU Terlaksananya Masyarakat Masyarakat Meningkatnya Dishut
Bidang Kehutanan Sosialisasi UU Kab. Konawe 50,000,000 Kab. Konawe 50,000,000 Pemahaman 25,000,000
Masy
1706 Pembuatan Booklet/Leaflet Terlaksananya Masyarakat Masyarakat Informasi Dishut
Pembuatan Booklet Kab. Konawe 10,000,000 Kab. Konawe 10,000,000 Bidang 5,000,000
Kehutanan
178

1707 Honorarium Tenaga Meningkatnya Polhut Non Polhut Non Terbayarnya Dishut
Khusus Polhut Non PNS Semangat Kerja PNS 48,000,000 PNS 48,000,000 Honor Polhut 24,000,000
Kab.Konawe Kab.Konawe
1708 Insentif Petugas Jaga Pada Penertiban Peredaran Pos-Pos Pos-Pos Meningkatnya Dishut
Pos Pengamanan Htn Hsl.Htn Pengamanan 48,000,000 Pengamanan 48,000,000 PAD 24,000,000
Hutan Hutan Kab.Konawe
1709 Penyuluhan Masyarakat Terlaksanya Masyarakat Masyarakat Pemahaman Dishut
Sekitar Kawasan Hutan Penyuluhan masy Sekitar 50,000,000 Sekitar 50,000,000 Masy 25,000,000
kawasan kawasan Meningkat
Hutan Hutan
1710 Pengangkutan Barang Pengamanan barang Barang Bukti Barang Bukti Barang Dishut
Bukti bukti 50,000,000 50,000,000 Temuan Dapat 25,000,000
Ditindaklanjut
i
1711 Lacak Balak Status hukum & asal Hutan Hutan Kejelasan Dishut
usul temuan Terdekat Dari 50,000,000 Terdekat Dari 50,000,000 Status Barang 25,000,000
Barang Barang Bukti
Temuan Temuan
1712 Honorarium PPNS Terbayarnya Honor PPNS PPNS PPNS Dapat Dishut
Polhut 4,800,000 4,800,000 Bekerja 4,800,000
Dengan Baik
16 G. Prog. Rehabilitasi
Hutan & Lahan
1601 Pembuatan Hutan Rakyat Meningkatnya Hutan 100 Ha 100 Ha Meningkatnya Dishut
Rakyat 275,000,000 275,000,000 Hutan Rakyat 275,000,000
1602 Pengkayaan Hutan Rakyat Meningkatnya Hutan 200 ha 200 ha Meningkatnya Dishut
Rakyat 340,000,000 340,000,000 Hutan Rakyat 340,000,000
1603 Pembuatan Persemaian Tersedianya 100.000 100.000 Tersedianya Dishut
Bibit Persemaian Bibit Anakan 150,000,000 Anakan 150,000,000 Persemaian 150,000,000
Bibit
1604 Pemeliharaan Tanaman Terpeliharanya 600 Ha 600 Ha Terpeliharany Dishut
Tanaman Tahun I 300,000,000 300,000,000 a Tanaman 300,000,000
Tahun I
1605 Hutan Kota Tersedianya Ruang 10 Ha 10 Ha Tersedianya Dishut
Terbuka Hijau(RTH) 27,500,000 27,500,000 Ruang 27,500,000
Terbuka
Hijau(RTH)
1606 Pembuatan Reboisasi Meningkatkan 100 Ha 100 Ha Meningkatkan Dishut
Reboisasi Kawasan 540,000,000 540,000,000 Reboisasi 540,000,000
Hutan Kawasan
Hutan
1607 Pengkayaan Reboisasi Meningkatkan 200 Ha 200 Ha Meningkatkan Dishut
Reboisasi Kawasan 550,000,000 550,000,000 Reboisasi 550,000,000
Hutan Kawasan
Hutan
1608 Pembuatan Demplot Terlaksananya 5 Unit 5 Unit Terlaksananya Dishut
Agroforestry Pembuatan Demplot 500,000,000 500,000,000 Pembuatan 500,000,000
Demplot
1609 Rehabilitasi Hutan Lindung Terehabilitasinya 400 Ha 400 Ha Terehabilitasin Dishut
Hutan Lindung 1,040,000,000 1,040,000,000 ya Hutan 1,040,000,000
Lindung
1610 KBR Meningkatnya Hutan 30 Unit 30 Unit Meningkatnya Dishut
Rakyat 1,500,000,000 1,500,000,000 Hutan Rakyat 1,500,000,000
1611 KBD Meningkatnya Hutan 40 Unit 40 Unit Meningkatnya Dishut
Rakyat 2,000,000,000 2,000,000,000 Hutan Rakyat 2,000,000,000
1612 Rehabilitasi Hutan Terehabilitasinya 25 Unit 25 Unit Terehabilitasin Dishut
Mangrove Hutan Mangrove 100,000,000 100,000,000 ya Hutan 100,000,000
Mangrove
1613 Penghijauan Lingkungan Meningkatnya 100.000 100.000 Meningkatnya Dishut
Pelestarian Anakan 150,000,000 Anakan 150,000,000 Pelestarian 150,000,000
Lingkungan Lingkungan
1614 Penanaman Bambu kanan Terpeliharanya DAS 10 Ha 10 Ha Terpeliharany Dishut
kiri sungai 50,000,000 50,000,000 a DAS 50,000,000
1615 Dam Penahan Meningkatkan 5 Unit 5 Unit Meningkatkan Dishut
Konservasi Tanah 750,000,000 750,000,000 Konservasi 750,000,000
Tanah
180

1616 Pembuatan Embung Meningkatkan 10 Unit 10 Unit Meningkatkan Dishut


Konservasi Tanah 500,000,000 500,000,000 Konservasi 500,000,000
Tanah
1617 Pembuatan Sumur resapan Meningkatkan 20 Unit 20 Unit Meningkatkan Dishut
Konservasi Tanah 200,000,000 200,000,000 Konservasi 200,000,000
Tanah
1618 Pembinaan/Pelatihan Tersedianya 10 klpk 10 klpk Tersedianya Dishut
Kelompok Tani Hutan Kelompok Tani Yang 500,000,000 500,000,000 Kelompok 500,000,000
Kemasyarakatan berkualitas Tani Yang
berkualitas
1619 Pembinaan/Pelatihan Tersedianya 10 klpk 10 klpk Tersedianya Dishut
Kelompok Tani Hutan Kelompok Tani Yang 500,000,000 500,000,000 Kelompok 500,000,000
Tanaman Rakyat berkualitas Tani Yang
berkualitas
1620 Pembinaan/Pelatihan Tersedianya 20 klpk 20 klpk Tersedianya Dishut
Kelompok Tani Hutan Kelompok Tani Yang 1,000,000,000 1,000,000,000 Kelompok 1,000,000,000
RHL berkualitas Tani Yang
berkualitas
1621 Lomba Penghijauan Meningkatnya Animo 1 Kegiatan 1 Kegiatan Meningkatnya Dishut
Swadaya Masyarakat Untuk 10,000,000 10,000,000 Animo Masy. 10,000,000
menanam Untuk
menanam
1622 Pembinaan Kebun Benih Terpeliharanya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Terpeliharany Dishut
Jati Kebun Benih Jati 10,000,000 10,000,000 a Kebun Benih 10,000,000
Jati
1623 Hari Menanam Nasional Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Terlaksananya Dishut
Gerakan Indonesia 75,000,000 75,000,000 Gerakan 75,000,000
Menanam Indonesia
Menanam
1624 Inventarisasi Lahan Kritis Tersedianya Data 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya Dishut
Lahan Kritis 100,000,000 100,000,000 Data Lahan 100,000,000
Kritis
1625 Penyusunan Data Base Tersedianya Data 1 Kegiatan 1 Kegiatan Data Lahan Dishut
Lahan Kritis Lahan Kritis 50,000,000 50,000,000 Kritis Dapat 50,000,000
Digunakan

15 H. Prog.Pemanfaatan
Potensi SDH
1501 Monev Hasil Hutan & Pengawasan 1 Tahun 1 Tahun Meningkatnya Dishut
Stock Opname Peredaran Hasil 43,600,000 43,600,000 Pengawasan 43,600,000
Hutan Peredaran
1502 Pembinaan & Bintek Pengendalian 2 Semester 2 Semester Meningkatnya Dishut
PUHH Peredaran Hasil 35,920,000 35,920,000 Pengendalian 35,920,000
Hutan Peredaran
1503 Pengawasan peredaran & Pengawasan 4 Triwulan 4 Triwulan Meningkatnya Dishut
Iuran Hasil Hutan Penjualan Hasil 30,200,000 30,200,000 Pengawasan 30,200,000
Hutan IHH
1504 Inventarisasi Potensi hasil Pendataan Potensi 1 Tahun 1 Tahun Potensi Kayu Dishut
Hutan Kayu Untuk Kayu Untuk 32,790,000 32,790,000 Untuk Daerah 32,790,000
Kebutuhan Lokal Kebutuhan Lokal Dapat
Diketahui
1505 Pengumpulan Data Harga Pendataan Harga 2 Semester 2 Semester Diketahuinya Dishut
Pasar HHK & HHBK Pasar Kayu & Non 38,640,000 38,640,000 Data Harga 38,640,000
Kayu Pasar HHK &
HHBK
1506 Konsultasi, koordinasi Terdatanya IHH Pada 4 Triwulan 2 Semester Tersedianya Dishut
Teknis dan Iuran Hasil Tingkat Provinsi 13,200,000 30,600,000 Data IHH 30,600,000
Hutan Pada Tingkat
Provinsi
Pada Dinas Kehutanan
Provinsi Sultra
1507 Konsultasi, koordinasi Terdatanya IHH Pada 2 Semester 2 Semester Tersedianya Dishut
Teknis dan Iuran Hasil Tingkat Wilayah 30,600,000 30,600,000 Data IHH 30,600,000
Hutan Pada Tingkat
Wilayah
182

Pada BP2HP Wilayah XV


Makassar
1508 Rekonsiliasi Dana bagi Terdatanya DBH, 4 Triwulan 4 Triwulan Tersedianya Dishut
Hasil (DBH) PSDH, DR, & PSDH, DR, & PNT 80,400,000 80,400,000 Data PSDH, 80,400,000
PNT DR, DBH, &
PNT
21 I.Prog. Penyu. Tata
Hutan & RP KPHL XXII
Laiwoi
2101 Inventarisasi Biogeofisik Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya KPHL
Blok & Petak Inventarisasi 100,000,000 100,000,000 Data 100,000,000
Biogeofisik Biogeofisik
KPHL
2102 Inventarisasi Sosekbud Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya KPHL
Blok & Petak Inventarisasi 50,000,000 50,000,000 Data 50,000,000
Sosekbud Sosekbud
KPHL
2103 Pembagian Blok Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Pembagian KPHL
Pemanfaatan Pembagian Blok 100,000,000 100,000,000 Bok Dapat 100,000,000
Dilaksanakan
2104 Pembagian Petak Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Pembagian KPHL
Pemanfaatan Pembagian Petak 100,000,000 100,000,000 Petak Dapat 100,000,000
Dilaksanakan
2105 Penataan Batas Blok & Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Penataan KPHL
Petak Pemanfaatan Penataan Batas Blok 100,000,000 100,000,000 Petak & Blok 100,000,000
& Petak Dapat
Dilaksanakan
2106 Pemetaan Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya KPHL
Pemetaan 100,000,000 100,000,000 Data 100,000,000
Pemetaan
Wilayah
KPHL
2107 Inventarisasi Berkala Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya KPHL
Wilayah Kelola Serta Inventarisasi Berkala 100,000,000 100,000,000 data Kelola 100,000,000
Penataan Hutan Wilayah
KPHL
2108 Rasionalisasi Wilayah Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Terasionalisasi KPHL
Kelola Rasionalisasi 100,000,000 100,000,000 nya Wilayah 100,000,000
Wilayah Kelola Peengelolaan
2109 Pengembangan Data Base Tersedianya Data 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya KPHL
Base Wilayah 50,000,000 50,000,000 Data Base 100,000,000
Pengelolaan Wilayah
Pengelolaan
2110 Koordinasi & Sinergi Terlaksananya 1 Tahun 1 Tahun Sinkronnya KPHL
Dengan Instansi & Koordinasi & 100,000,000 100,000,000 Pelaksanaan 100,000,000
Stakeholder Terkait Konsultasi Program &
Kegiatan
2111 Pemberdayaan Masyarakat Terlaksananya 1 Tahun 1 Tahun Meningkatkan KPHL
Skala Luas Dalam & Luar Pemberdayaan 100,000,000 100,000,000 Pemberdayaan 100,000,000
Kawasan KPHL Masyarakat Masyarakat
2112 Penyediaan Pencadangan Terlaksananya 1 Tahun 1 Tahun Proses KPHL
Pencadangan 100,000,000 100,000,000 Pencadangan 100,000,000
Berhasil
2113 Review Rencana Terlaksananya 1 Tahun 1 Tahun Tereviewnya KPHL
Pengelolaan Hutan Review RP KPHL 100,000,000 100,000,000 RP KPHL 100,000,000
2114 Penyelengggaraan Terlaksananya 1 Tahun 1 Tahun Harmonisasi KPHL
Koordinasi & Sinkronisasi Koordinasi Antar 100,000,000 100,000,000 Antar 100,000,000
Antar Pemegang Ijin Pemegang Ijin Pemegang Ijin
2115 Pembinaan & Pemantauan Terlaksananya 1 Tahun 1 Tahun Terpantaunya KPHL
pada Areal KPHL Yang Pembinaan,Pemantau 100,000,000 100,000,000 Wilayah Non 100,000,000
Belum Ada Ijin an Ijin
Pemanfaatan Maupun Dan Pengawasan
Penggunaan Kawasan Wilayah Non Ijin
Hutan
184

2116 Penyelenggaran Terlaksananya 1 Tahun 1 Tahun Terehabilitasin


Rehabilitasi, Reklamasi & Rehabilitasi Wilayah 100,000,000 100,000,000 ya Wilayah
Pemeliharaan Areal Diluar Non Ijin Non Ijin
Ijin
2117 Pembinaan & Pemantauan Terlaksananya 1 Tahun 1 Tahun Terpantaunya KPHL
Pelaksanaan Rehabilitasi & Pembinaan,Pemantau 100,000,000 100,000,000 Wilayah 100,000,000
Reklamasi an Berijin
Pada Areal Yang Sudah Dan Pengawasan
Ada Ijin Pemanfaatan & Wilayah Berijin
Penggunaan Kaw.Hutan
2118 Penyelenggaraan Terlaksananya 1 Tahun 1 Tahun Meningkatnya KPHL
Perlindungan Hutan & Perlindungan Hutan 100,000,000 100,000,000 Perlindungan 100,000,000
Konservasi Alam & Konser.i Alam Hutan &
Konser.Alam
2119 Pemanfaatan Hutan Pada Terlaksananya 1 Tahun 1 Tahun Optimalisasi KPHL
Wilayah Tertentu Pemanfatan Hutan 100,000,000 100,000,000 Pemanfatan 100,000,000
Wil.Tertentu Wilayah
Tertentu
2120 Pengembangan Sarana Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya KPHL
Penelitian & Pendidikan Pengemb. Penelitian 100,000,000 100,000,000 Wilayah 100,000,000
& Pendidikan Pendidikan &
Penelitian
2121 Pengembangan Sarana Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya KPHL
Wisata Alam Pengemb. Wisata 100,000,000 100,000,000 Wilayah 100,000,000
Alam Wisata
2122 Pengembangan Peluang Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya KPHL
Investasi & Bisnis Pengemb. Investasi & 100,000,000 100,000,000 Wilayah 100,000,000
Pemerintah, Swasta, & Bisnis Investasi &
Masy Bisnis
2123 Pembuatan/Pengadaan Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya KPHL
Bibit/Benih Tanaman Pembuatan/Pengadaa 600,000,000 600,000,000 Bibit Tanaman 600,000,000
Kehutanan n Bibit Kehutanan
2124 Penyuluhan Masyarakat Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Pemahaman & KPHL
Sekitar Kawasan Hutan Penyuluhan Pada 50,000,000 50,000,000 Kesadaran 50,000,000
Masyarakat Masy
Meningkat
2125 Sosialisasi Kepada Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Pemahaman & KPHL
Masyarakat Sekitar Sosialisasi Pada 50,000,000 50,000,000 Kesadaran 50,000,000
Kawasan Hutan Masyarakat Masy
Meningkat
2126 Pemeliharaan Tata Batas Terlaksananya Tata 1 Tahun 1 Tahun Tata Batas KPHL
Wilayah Pengelolaan Hutan Batas Wilayah 100,000,000 100,000,000 Wilayah 100,000,000
Pengelolaan Pengelolaan
Selesai
20 J. Prog.Perencanaan &
Pengembangan Hutan
2001 Monev Penggunaan Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Meningkatnya Dishut
Kawasan Hutan Monev Perizinan 50,000,000 50,000,000 Pengaw. 50,000,000
Tambang Penggun.
Kaw.Hutan
2002 Monitoring & Evaluasi Eks Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Pengawasan Dishut
IPKHH Monev Eks IPKHH 50,000,000 50,000,000 Kondisi Eks 50,000,000
IPKHH
2003 Pengadaan Peta Tersedianya Peta 1 Kegiatan 1 Kegiatan Terpetakannya Dishut
Perambahan Kaw. Hutan Perambahan 5,000,000 5,000,000 Perambahan 5,000,000
Kaw.Hutan Kaw.Hutan
2004 Pengadaan Peta Perkemb. Tersedianya Peta 1 Kegiatan 1 Kegiatan Terpetakannya Dishut
Penggun. Kaw. Hutan Perkemb.Penggun. 5,000,000 5,000,000 Penggunaan 5,000,000
Kaw.Hutan Kaw.Hutan
2005 Identifikasi Perambahan Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya Dishut
Kawasan Hutan Identifikasi 50,000,000 50,000,000 Data 50,000,000
Perambahan Perambahan
Kaw.Hutan Kaw.Hutan
2006 Identifikasi Batas Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya Dishut
Kaw.Hutan Yg Tdk Sesuai Identifikasi Batas 50,000,000 50,000,000 Data Batas 50,000,000
SK 465/Menhut-11/2011 Kaw.Hutan Kaw.Hutan
186

2007 Identifikasi Potensi Kayu Terlaksananya 1 Kegiatan 1 Kegiatan Tersedianya Dishut


Pada Hutan Hak Identifikasi Potensi 50,000,000 50,000,000 Data Potensi 50,000,000
Kayu Hutan Hak Kayu Hutan
Hak

Sumber: Bahan RPJMD Dinas Kehutanan Kabupaten Konawe Tahun 2013


187

iran 7. Data Debit Sungai Lahambuti-Abuki Tahun 2009


Lamp
DATA DEBIT SUNGAI
e Lahambuti-Abuki No. 4- 48- 0- 1 Tahun 2009
Law
ungai : Lawe Sampara
Induk Sografi : 03 43 45 LS 121 53 15 BT
Data Ge : Prop. Sulawesi Tenggara, Kab. Kendari, Kec. Unaaha, Ds. Abuki dari Kendari
Lokasi ke jurusan Unaaha +/- 13 km terus ke Kampung Abuki sampai di Lahambuti
--
erah Pengaliran : 306.2 KM2 ; Elevasi PDA :+ ...... M
Luas Dangan mengenai Pos Duga Air
Ketera : Tanggal - - 1975 oleh P3SA
DidirikanPencatatan : Tanggal - - 1975 sampai dengan 31-12-2009
Periode s : Pos Duga Air Otomatik Mingguan
Jenis posan Data Aliran Ekstrim
Ringkaerbesar : M.A. = 2.91( +.00) M ; Q = 18.35 M3/DET ; TGL 5- 3-2009
Aliran Terkecil : M.A. = .22( +.00) M ; Q = .19 M3/DET ; TGL 10-11-2009
Aliran TEkstrim yang Pernah Terjadi sampai dengan Tahun Ini
Aliran erbesar : M.A. = 4.94( -.16) M ; Q = 47.70 M3/DET ; TGL 8- 2-1995
Aliran Terkecil : M.A. = .22( +.00) M ; Q = .19 M3/DET ; TGL 10-11-2009
Aliran T an Besarnya Aliran : Besarnya aliran ditentukan berdasarkan lengkung aliran yang dibuat dengan menggunakan Metode
Penentu Hymos Manning, dengan rumus lengkung Q = 2.148 (H+0.060) ^1.965, menggunakan data pengukuran
aliran dari tahun 1979 sampai dengan tahun 199, Tahun 2009 tidak ada pengukuran.
: Pengukuran aliran masih kurang terutama untuk muka air tinggi, muka air tertinggi
Catatan yang pernah diukur pada 3.82 m dengan Q= 26.6 m3/det Tanggal 28-06-1980.
na Analisis Data : Balai Hidrologi dan Tata Air, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air
Pelaksa
Tabel Besarnya Aliran Harian (m 3/det)

ggal Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
Tan
1 5.63 - 14.38 10.85 12.07 3.44 - 3.01 2.97 2.35 0.44 0.78
2 5.63 - 9.5 10.85 12.07 3.25 - 3.01 2.97 2.33 0.37 0.87
3 5.63 - 7.84 10.85 12.07 3.15 - 3.01 2.97 2.37 0.37 1.03
4 5.57 - 7.64 10.85 12.07 2.89 - 3.01 2.97 2.3 0.6 1.19
5 5.57 - 17.92 10.85 12.07 2.67 - 3.01 2.97 2.22 0.63 1.17

6 5.57 - 14.56 10.85 12.07 2.62 - 3.01 2.97 2.36 0.73 1.09
7 9.06 - 16.54 10.85 12.07 2.42 - 3.01 2.97 2.53 0.78 1.06
8 5.66 - 13.03 10.85 11.98 2.7 - 3.01 2.97 2.74 0.76 1.06
9 5.51 - 12.18 10.85 12.06 2.42 - 3.01 2.97 2.75 0.38 1.06
0 5.51 - 12.33 10.85 11.98 2.37 - 3.01 2.97 2.75 0.19 1.04
1
1 5.51 - 12.86 10.67 11.98 2.33 - 3.01 2.97 2.75 0.26 1.09
21 5.51 - 14.34 10.66 11.98 2.29 - 3.01 2.97 2.39 0.26 1.4
31 5.45 - 12.42 10.66 11.98 2.29 2.33 3.01 2.97 2.18 0.26 1.32
1
4 5.45 - 11.48 10.66 11.98 2.29 6.75 3.01 2.97 2.18 0.28 1.25
1
51 5.45 - 10.53 10.66 11.98 2.26 3.91 3.01 2.97 2.29 0.28 1.41

61 5.45 - 9.49 10.66 1.93 2.25 3 3.01 2.97 2.26 0.29 1.59
71 5.39 - 10.87 10.66 1.42 2.25 2.97 2.97 2.97 2.29 0.29 1.24
81 5.39 - 16 10.66 1.41 2.25 2.97 2.97 2.97 2.11 0.4 1.12
91 5.39 - 15.14 10.66 1.32 2.25 2.97 2.97 3.14 2.1 0.45 1.43
02 5.39 - 17.59 10.66 1.35 2.25 2.97 2.97 2.89 2.1 0.62 1.44

12 5.39 - 12.99 11.75 1.44 2.25 2.97 2.97 2.55 2.1 0.78 0.95
22 5.39 - 12.61 11.62 1.44 2.25 2.97 2.97 2.87 2.1 - 0.76
32 - - - 11.61 1.23 - 4.95 2.97 2.67 2.1 - 0.73
2
42 - 5.57 - 11.96 2.44 - 4.87 2.97 2.66 2.1 - 0.63
5 - 12.86 - 11.98 3.21 - 3.73 2.97 2.66 2.1 - 0.61
2
62 - 8.84 - 11.98 3.07 - 3.17 2.97 2.66 2.1 - 0.63
72 - 9.03 - 11.98 2.21 - 3.02 2.97 2.66 2.1 - 0.63
82 - 7.02 - 12.06 2.18 - 3.01 2.97 2.66 2.1 - 0.59
93 - - 11.98 1.85 - 3.01 2.97 2.66 2.1 - 0.65
0 - - 12.06 2.55 - 3.01 2.97 2.66 2.1 - 0.67
3
1 - - 2.27 3.01 2.97 2.1 0.69
Rata-ra
ta
A liran/km 5.65909 8.664 12.83 11.14 6.83 2.506 3.452 2.991 2.873 2.273 0.449 1.006
Tinggi A lir2(l/det)
18.4817 28.3 41.9 36.37 22.31 8.185 11.27 9.767 9.384 7.422 1.465 3.285
M eter Ku an(mm) 35.13 12.22 79.64 94.27 59.74 15.56 18.51 26.16 24.32 19.88 2.658 8.798
bik(106) 10.7568 3.743 24.39 28.87 18.29 4.764 5.667 8.01 7.448 6.087 0.814 2.694
Data T
Rata-raahunan:
Tinggi ata m3 /det; Aliran km2
Keteraliran mm; Total aliran meter kubik (106 ).
ngan:
* = Tanggal Pengukuran
K = Debit Perkiraan Berdasarkan Hydrograph
E = Debit Ekstrapolasi
188

Lampiran 8. Data Debit Sungai Lahambuti-Abuki Tahun 2011

DATA DEBIT SUNGAI


Sungai Lah ambuti-Abuki No. 4- 48- 0- 1 Tahun 2011
Induk Sungai
: Lawe Sampara
Data Geografi
: 03 44 39 LS 121 54 47 BT
Lokasi
: Prop. Sulawesi Tenggara, Kab. Kendari, Kec. Unaaha, Ds. Abuki dari Kendari
ke jurusan Unaaha +/- 13 km terus ke Kampung Abuki sampai di Lahambuti
--
Luas Daerah Penga
Keterangan menliran : 1256,75 KM2 ; Elevasi PDA :+ ...... M
Didirikan genai Pos Duga Air
Periode Pencatatan : Tanggal - - 1975 oleh P3SA
Jenis pos : Tanggal - - 1975 sampai dengan 31-12-2011
Ringkasan Data : Pos Duga Air Otomatik Mingguan
Aliran Terbesar Aliran Ekstrim
Aliran Terkecil : M.A. = 1.65( +.00) M ; Q = 4.47 M3/DET ; TGL 15- 7-2011
Aliran Ekstrim ya : M.A. = .00( +.00) M ; Q = .47 M3/DET ; TGL 29-12-2011
Aliran Terbesar ng Pernah Terjadi sampai dengan Tahun Ini
Aliran Terkecil : M.A. = 1.70( -.16) M ; Q = 552.43 M3/DET ; TGL 18- 2-1993
Penentuan Besarny : M.A. = .00( +.00) M ; Q = .47M3/DET ; TGL 29-12-2011
a Aliran : Besarnya aliran ditentukan berdasarkan lengkung aliran yang dibuat dengan menggunakan Metode
Hymos Manning, dengan rumus lengkung Q = 2.148 (H+0.060) ^1.965, menggunakan data pengukuran
Catatan aliran dari tahun 1979 sampai dengan tahun 1999, Tahun 2009 tidak ada pengukuran.
: Pengukuran aliran masih kurang terutama untuk muka air tinggi, muka air tertinggi
Pelaksana yang pernah diukur pada 3.82 m dengan Q= 26.6 m3/det Tanggal 28-06-1980.
: Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV - Hidrologi

Tabel Besarnya Aliran Harian (m 3/det)


Tanggal
Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des
1
2
3.56 3.52 3.91 3.54 3.7 3.63 4.81 2.84 1.93 1.53 1.49 1.48
3
4 3.56 4.39 4.02 3.53 3.67 3.46 4.97 2.76 1.89 1.53 1.61 1.62
5 4.73 4.42 4.07 3.57 3.66 3.38 4.86 2.64 1.89 1.32 1.54 1.76
4.78 4.12 4.07 3.61 3.66 3.45 4.67 2.83 1.89 1.42 1.5 1.89
6 3.6 4.15 4.2 3.73 3.82 3.34 4.59 2.72 1.72 1.46 1.59 1.86
7
8 3.55 4.24 4.2 3.62 3.82 3.61 4.5 2.64 1.56 1.52 1.68 1.89
9 3.55 4.28 4.07 3.72 3.82 3.62 4.49 2.49 1.67 1.53 1.72 1.99
10 3.55 4.29 4.02 3.73 3.95 3.77 4.36 2.38 1.91 1.74 1.6 1.97
3.55 4.28 3.91 3.57 3.96 3.78 4.35 2.24 1.95 1.98 1.68 1.83
11 4.12 4.59 4.06 3.61 3.95 3.62 4.35 2.65 1.79 1.99 1.75 1.69
12
13 4.14 4.72 4.06 3.65 3.95 3.57 4.26 2.92 2.01 1.92 1.82 1.57
14
3.85 4.6 4.19 3.76 4.24 3.49 4.48 2.83 1.95 1.88 1.95 1.65
15
3.84 4.42 4.2 3.7 4.42 3.48 4.65 2.57 1.88 1.95 1.89 1.75
16 3.64 4.36 4.36 3.85 4.26 3.37 4.79 2.37 1.81 1.98 1.79 1.72
17 3.55 4.24 4.37 3.77 4.25 3.32 4.96 2.23 1.68 1.88 1.71 1.78
18
19 3.54 4.23 4.24 3.98 4.42 3.2 4.66 2.15 1.55 1.94 1.64 1.65
20 3.54 4.18 4.06 3.98 4.42 3.19 4.1 2.05 1.51 1.98 1.67 1.59
4.71 4.09 4.05 4.27 4.25 3.19 3.5 1.94 1.45 1.98 1.77 1.71
21 4.75 4.05 4.18 4.28 4.24 3.23 3.37 1.87 1.51 2.11 1.91 1.87
22 3.58 3.93 4.19 4.59 4.24 3.31 3.16 2.1 1.51 2.02 1.91 2.15
23
24 3.53 3.97 4.27 4.6 4.41 3.31 3.05 2.18 1.41 1.98 1.81 2.4
25
3.53 4.08 4.36 4.46 4.42 3.46 2.96 2.05 1.33 1.91 1.71 2.52
4.7 4.08 4.23 4.59 4.41 3.47 2.87 1.94 1.4 1.87 1.64 1.27
26
27 4.75 4.38 4.35 4.59 4.24 3.47 2.74 1.74 1.47 1.81 1.58 0.61
28 3.58 4.09 4.23 4.41 4.23 3.59 2.47 1.63 1.54 1.74 1.48 0.58
29
30 3.53 3.97 4.18 4.4 3.94 3.68 2.46 1.62 1.57 1.7 1.57 0.58
4.7 3.92 4.05 4.45 3.93 3.84 2.5 1.69 1.65 1.63 1.69 0.58
31 4.74 3.91 3.88 4.58 4.39 4.34 2.57 1.79 1.57 1.57 1.8 0.58
3.57 3.74 4.5 4.41 4.96 2.57 1.92 1.57 1.51 1.7 0.58
Rata-rata 3.52 3.74 4.45 4.15 4.91 2.76 1.99 1.6 1.41 1.63 0.58
A liran/km 2(l/det)
Tinggi A liran(mm) 3.52 3.74 3.65 2.84 1.96 1.32 0.58
M eter Kubik(106)
3.915 4.196 4.103 4.036 4.093 3.601 3.796 2.249 1.672 1.745 1.694 1.493
Data Tahunan: 3.115 3.339 3.265 3.212 3.257 2.866 3.02 1.79 1.331 1.389 1.348 1.188
Rata-rata 8.343 8.078 8.745 8.325 8.723 7.428 8.09 4.794 3.449 3.72 3.494 3.182
Tinggi aliran 10.486 10.152 10.990 10.462 10.962 9.335 10.167 6.025 4.335 4.675 4.392 3.999
Keterangan:
* = Tang
K = Debi
E = Debi m3 /det; Aliran km2
mm; Total aliran meter kubik (106 ).

gal Pengukuran
t Perkiraan Berdasarkan Hydrograph
t Ekstrapolasi
189

iran 9. Data Curah Hujan Pos Abuki Kec. Abuki Kab. Konawe Tahun 2009
Lamp

DATA CURAH HUJAN ( mm ) TAHUN 2009

a Pos : Abuki Provinsi : Sulawesi Tenggara


Namor Pos :1 Kota/Kabupaten : Konawe
Nomrdinat : 03°45'20,9"LS-121°55'04,5"BT Kecamatan : Abuki
Kooasi : ± 21 M Desa/Kampung : Punggaluku
Elev : S. Lahumbuti Nama Pengamat : Alamsyah
DAS
n Pendirian : 1975 Pengelola : BWS Sulawesi IV
Tahu
BULAN

TANGGAL Jan Fe b Mar Apr Me i Jun Jul Ags Se p Ok t Nov De s


0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 1.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
1 0.0 6.0 0.0 0.0 0.0 4.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
2 0.0 20.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
3 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 17.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 6.0
4 0.0 0.0 45.0 0.0 0.0 3.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
5 5.0 0.0 0.0 0.0 18.0 3.0 0.0 0.0 0.0 0.0 8.0 0.0
6 28.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 4.0
7 4.0 0.0 16.0 0.0 22.0 10.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
8 0.0 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
9 20.0 0.0 31.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
10 0.0 0.0 15.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
11 0.0 0.0 19.0 4.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 9.0
12 0.0 24.0 2.0 0.0 3.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 9.0 0.0
13 5.0 0.0 3.0 0.0 0.0 0.0 32.0 0.0 0.0 0.0 0.0 4.0
14 0.0 5.0 0.0 0.0 0.0 0.0 33.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
15 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 2.0
16 0.0 3.0 18.0 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
17 0.0 5.0 20.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
18 10.0 0.0 33.0 2.0 13.0 19.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 9.0
19 0.0 0.0 0.0 6.0 3.0 0.0 15.0 0.0 0.0 0.0 8.0 2.0
20 0.0 0.0 0.0 12.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 6.0
21 9.0 6.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 5.0 0.0 0.0 17.0
22 0.0 0.0 20.0 18.0 12.0 0.0 32.0 0.0 10.0 0.0 0.0 25.0
23 0.0 2.0 0.0 0.0 16.0 0.0 3.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
24 0.0 14.0 10.0 0.0 8.0 0.0 2.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
25 0.0 62.0 0.0 0.0 3.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 35.0
26 21.0 60.0 5.0 0.0 0.0 3.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
27 5.0 0.0 0.0 0.0 8.0 5.0 0.0 0.0 0.0 0.0 10.0 10.0
28 27.0 0.0 0.0 30.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 8.0
29 0.0 0.0 0.0 20.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 3.0
30 5.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 39.0
31

jan 139.0 207.0 237.0 60.0 144.0 65.0 123.0 0.0 15.0 0.0 35.0 179.0
Jm l. Curah Hu
28.0 62.0 45.0 30.0 22.0 19.0 33.0 0.0 10.0 0.0 10.0 39.0
Hujan Mak s 4.0 2.0 2.0 2.0 3.0 1.0 2.0 0.0 5.0 0.0 8.0 2.0
Hujan Min
4.5 7.4 7.6 2.0 4.6 2.2 4.0 0.0 0.5 0.0 1.2 5.8
Rata-rata

11.0 11.0 13.0 5.0 13.0 9.0 7.0 0.0 2.0 0.0 4.0 15.0
Jm l. Hari Hujan
5) 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0
Jm l. data (1-1
5) 62.0 55.0 131.0 4.0 49.0 38.0 65.0 0.0 0.0 0.0 17.0 23.0
Jm l. Hujan (1-1
-31) 16.0 12.0 16.0 15.0 16.0 15.0 16.0 16.0 15.0 16.0 15.0 16.0
Jm l. Data (16
-31) 77.0 152.0 106.0 56.0 95.0 27.0 58.0 0.0 15.0 0.0 18.0 156.0
Jm l. Hujan (16

Hujan Mak s im um Jum lah Curah Hujan Jum lah Hari Hujan Hujan Ek s trim

Tahunan 62.0 1204.0 90 62.0


190

Lampiran 10. Data Curah Hujan Pos Abuki Kec. Abuki Kab. Konawe Tahun 2011

DATA CURAH HUJAN ( mm ) TAHUN 2011

Nama Pos : Abuki Provinsi : Sulawesi Tenggara


Nomor Pos :1 Kota/Kabupaten : Konawe
Koordinat : 03°45'20,9"LS-121°55'04,5"BT Kecamatan : Abuki
Elevasi : ± 21 M Desa/Kampung : Punggaluku
DAS : S.Lahumbuti Pengelola : Alamsyah
Tahun Pendirian : 1975 Nama Pengamat : BWS Sulawesi IV

BULAN
TANGGAL
Jan Fe b M ar Apr Mei Jun Jul Ags Se p Ok t Nov De s
1 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 11.0 4.6 0.0 0.0 0.0 0.0
2 0.0 34.0 33.0 0.0 0.0 0.0 7.0 0.0 0.0 0.0 6.0 0.0
3 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 3.0 0.0 0.0 0.0
4 0.0 0.0 0.0 28.0 4.0 0.0 0.0 1.0 0.0 4.0 0.0 10.9
5 17.0 27.0 19.0 0.0 0.0 0.0 4.0 0.0 0.0 0.0 2.0 40.9
6 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 14.0 0.0 1.3 0.0 0.0 0.0 0.0
7 0.0 0.0 0.0 19.0 15.0 0.0 0.0 0.5 10.0 0.0 0.0 0.0
8 0.0 21.0 0.0 0.0 0.0 0.0 28.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
9 0.0 0.0 14.0 0.0 17.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 10.9 0.0
10 32.0 14.0 0.0 13.0 0.0 0.0 8.0 20.4 0.0 0.0 30.6 20.8
11 0.0 0.0 29.0 0.0 10.0 21.0 34.0 0.0 5.0 0.0 0.0 0.0
12 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 2.6 0.0 0.0
13 0.0 0.0 0.0 9.0 0.0 0.0 24.0 0.0 18.0 0.0 10.0 0.0
14 19.0 13.0 36.0 0.0 15.0 0.0 48.0 0.0 6.0 0.0 0.0 0.0
15 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 4.0
16 0.0 0.0 0.0 21.0 23.0 0.0 7.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
17 0.0 7.0 0.0 0.0 0.0 47.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
18 0.0 0.0 29.0 45.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 1.0 20.3 0.0
19 29.0 0.0 0.0 29.0 24.0 0.0 28.0 0.0 0.0 0.0 20.4 0.0
20 5.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 2.0 0.0 0.0 10.8 0.0
21 0.0 18.0 11.0 0.0 17.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 50.5
22 0.0 0.0 0.0 16.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
23 7.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 10.2 0.0
24 0.0 32.0 12.0 0.0 24.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
25 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 7.0 0.0 0.0 50.9
26 0.0 0.0 0.0 14.0 0.0 24.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
27 10.0 0.0 31.0 0.0 37.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 1.0 0.0
28 0.0 31.0 0.0 12.0 47.0 0.0 12.0 4.0 0.0 0.0 0.0 5.7
29 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.5 0.0
30 4.0 22.0 0.0 0.0 0.0 0.0 2.0 1.0 2.0 0.0 8.3
31 0.0 0.0 0.0 9.0 0.0 0.0 0.0

Jm l. Curah Hujan 123.0 197.0 236.0 206.0 233.0 106.0 220.0 35.8 50.0 9.6 122.7 192.0
Hujan M ak s 32.0 34.0 36.0 45.0 47.0 47.0 48.0 20.4 18.0 4.0 30.6 50.9
Hujan M in 1.0 2.0 2.0 1.0 5.0 4.0 6.0 5.0 3.0 7.0 12.0 10.0
Rata-rata 4.0 6.8 7.6 6.9 7.5 3.5 7.1 1.2 1.7 0.3 4.1 6.2

Jm l. Hari Hujan 8.0 9.0 10.0 10.0 11.0 4.0 12.0 8.0 7.0 4.0 11.0 8.0
Jm l. data (1-15) 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0 15.0
Jm l. Hujan (1-15) 68.0 109.0 131.0 69.0 61.0 35.0 164.0 27.8 42.0 6.6 59.5 76.6
Jm l. Data (16- 16.0 13.0 16.0 15.0 16.0 15.0 16.0 16.0 15.0 16.0 15.0 16.0
31) Jm l. Hujan 55.0 88.0 105.0 137.0 172.0 71.0 56.0 8.0 8.0 3.0 63.2 115.4
(16-31)

Hujan M ak s im um Jum lah Curah Hujan Jum lah Hari Hujan Hujan Ek s trim
50.9 1731.1 102 50.9
Tahunan
191

Lampiran 11. Bilangan Kurva Limpasan Permukaan


192

Lampiran 12. Glosarium

Sumberdaya air : Air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya
(UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air).
Air : Semua air yang terdapat pada, di atas ataupun di bawah
permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air
permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di
darat (UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air).
Air permukaan : Semua air yang terdapat pada permukaan tanah. (UU No. 7
tahun 2004 tentang Sumberdaya Air).
Air tanah : Sejumlah air dibawah tanah permukaan bumi yang terdapat
dikumpulkan dengan sumur-sumur, terowongan atau sistem
drainase atau dengan pemompaan. Dapat juga dikatakan aliran
yang secara alamiah mengalir ke permukaan tanah melalui
pancaran atau rembesan (UU No. 7 tahun 2004 tentang
Sumberdaya Air).
Air baku : Air yang dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan
air tanah dan atau air hujan yang memenuhi baku mutu tertentu
sebagai air baku untuk air minum (Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia No. 16 Tahun 2005 tentang
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum).
air tanah : Suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat
Cekungan
semua kejadian hidrogeologis seperti proses penimbunan,
pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung (UU No. 7
tahun 2004 tentang Sumberdaya Air).
an : Upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan
Pengelola ya air mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air,
sumber da pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak
air (UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air).
elolaan : Kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan,
Pola peng ya air memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber
sumber da daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian
daya rusak air (UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya
Air).
: Hasil perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang
Rencana an diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan sumber daya
pengelola ya air air (UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air).
sumber da
ungai : Kesatuan wilayah pengelolaan Sumberdaya Air dalam satu
Wilayah s atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil
yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km 2 (UU
No. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air).
ran sungai : Suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan
Daerah ali sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung,
menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan
ke danau atau ke laut secara alamiah, yang batas daerahnya
merupakan pemisah topografi dan batas laut sampai dengan
193

daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan (UU


No. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air).
Kualitas air : Mutu air bawah tanah yang ditentukan dengan cara melakukan
uji laboratorium terhadap unsur-unsur yang terkandung di
dalam air.
Volume air : Jumlah air yang diambil atau dimanfaatkan dalam satu bulan
yang dinyatakan dalam satuan meter kubik atau m3.
Konservasi : Upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan,
sumberdaya air sifat, dan fungsi sumberdaya air agar senantiasa tersedia dalam
kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi
kebutuhan mahluk hidup, baik pada waktu sekarang maupun
akan datang (UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air).
Sumber daya alam : Segala sesuatu yang berasal dari alam yang dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Yang tergolong di
dalamnya tidak hanya komponen biotik
seperti hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme, tetapi juga
komponen abiotik seperti air dan tanah.
erintah Daerah : Kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain
Pem sebagai badan eksekutif daerah (UU No. 7 tahun 2004 tentang
Sumberdaya Air).
erintah Pusat : Perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri
Pem atas Presiden beserta para Menteri (UU No. 7 tahun 2004
tentang Sumberdaya Air).
ndungan dan : Upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk
Perligelolaan melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah
penkungan hidup terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
ling yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian,
pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum (UU No.
32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup).
bangunan : Upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek
Pemelanjutan lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi
berk pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup
serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu
hidup generasi masa kini dan generasi masa depan (UU No. 32
Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup).
rifan lokal : Nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan
Kea masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola
lingkungan hidup secara lestari (UU No. 32 Tahun 2009
Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup).
ve Number : Parameter hidrologi untuk mendeskripsikan potensial
Cur) limpasan permukaan suatu area. Nilai ini adalah fungsi dari
(CN penggunaan lahan, jenis tanah, dan kelembaban tanah.
Conservation : Metode untuk menentukan nilai limpasan permukaan secara
Soil ice Curve tepat dari suatu kejadian hujan pada suatu area.
Serv ber Method
Num
194

ology : Pengelompokan jenis tanah menurut potensi infiltrasi tanah


Soil Hidr HG) setelah mengalami keadaan basah pada kurun waktu tertentu.
Group (S
t : Kondisi kelembaban tanah berdasarkan kejadian hujan.
Anteceden
Moisture (AMC)
Condition
195

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Yogyakarta pada hari Kamis tanggal 13 Juli 1978 sebagai
anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Ir. Siradjuddin Taora dengan Ibu
HastoKirmani. Menikah dengan Sri Anggarini Rasyid, S.Si, M.Si dan dikaruniai seorang
putri Zahra Althafunnisa dan seorang putra Zaki Abqary Ridwan.
Penulis menempuh pendidikan S1 di Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas
Hasanuddin, lulus tahun 2002. Pada tahun 2007 penulis menyelesaikan pendidikan S2 di
Program Studi Pengelolaan Lingkungan Hidup Konsentrasi Manajemen Lingkungan
Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Tahun 2010 penulis mendapat
kesem patan untuk melanjutkan pendidikan S3 pada Program Studi Pengelolaan
Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB.
Sejak tahun 2003 sampai sekarang penulis bekerja sebagai Staf Seksi Fasilitasi
Peningkatan Mutu Pendidikan pada Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP)
Provinsi Sulawesi Tenggara.
Artikel yang berjudul ”Tank Model to See The Effect of Land Use Changes on
Runo Infiltration and Groundwater in Sub Watershed of Konaweha South East
ff,
Sula wesi Indonesia” telah diterbitkan pada Journal of Environment and Earth Science
Vol. 4 No. 14 (2014) ISSN 2224-3216 (print), ISSN 2225-0948 (online). Artikel lain
yang berjudul “Analisis Status Keberlanjutan Pengelolaan Air Baku di Kabupaten
we Provinsi Sulawesi Tenggara” telah diterbitkan pada Jurnal Bumi Lestari: Jurnal
Kona
ungan Hidup (Journal of Environment) Volume 14 Nomor 2, Agustus 2014 ISSN
Lingk9668. Dua artikel ilmiah tersebut merupakan bagian dari penelitian disertasi yang
1411-dilakukan penulis.
telah