Anda di halaman 1dari 42

MAKALAH PENANGANAN LIMBAH INDUSTRI

PANGAN METODE PENANGANAN LIMBAH


PERIKANAN

KELOMPOK 8 :

Nadia Laksmita
240210160002
Syifa Tsalitsu M.
240210160020
Rabila Namira
240210160036
Chantika Putri Devyan
240210160055
Novia Oktaviani
240210160056
UNIVERSITAS PADJAJARAN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN
JATINANGOR

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan terhadap kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ” Metode
Penanganan Limbah Perikanan ” yang merupakan salah satu tugas Mata Kuliah
Limbah Pangan tepat pada waktunya.

Makalah ini disusun untuk menambah wawasan penulis dan pembaca.


Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak oleh karena itu
kami mengucapkan terima kasih semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini, terkhusus Bu In in selaku dosen Mata Limbah yang
telah memberikan bekal materi pengetahuan dan moral untuk kami. Kami
menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami
mohon maaf atas keterbatasann kami, serta kami mengharapkan saran dan kritik
yang bersifat membangun guna kesempurnaan makalah ini. Terimakasih.

Sumedang, 09 Mei 2018


i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I. PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah2

1.3 Tujuan 3

BAB II. PEMBAHASAN 4

2.1 Karakteristik Limbah Cair Industri Perikanan 4

2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba 5

2.3 Mekanisme Penanganan Limbah 9

2.4 Kelebihan dan Kekurangan Metode Konsorsium Mikroba 14

BAB III. PENUTUP 15

3.1 Kesimpulan 15

3.2 Saran 15
DAFTAR PUSTAKA 16
ii
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ikan merupakan sumber daya yang mudah rusak (perishable) sehingga

perlu dilakukan pengolahan yang bertujuan meningkatkan daya simpan serta nilai
ekonomi. Proses pengolahan ikan tentu saja akan meninggalkan limbah padat
berupa sisik, jeroan, dan kepala ikan, serta limbah cair berupa air sebagai media
untuk mencuci bahan baku, peralatan dan perebusan bahan. Air yang telah
terpakai pada akhirnya akan dibuang dan dialirkan ke badan sungai.

Dampak yang ditimbulkan karena pembuangan limbah termasuk limbah cair ke


lingkungan sangat penting sehingga setiap industri pengolahan yang berskala
besar maupun kecil harus mampu mengelola dan mengolah limbah. Oleh karena
itu, teknologi pengolahan dan pemanfaatan limbah harus dikaji dan senantiasa
dikembangkan agar limbah yang terbuang bersifat ramah lingkungan.

Bahan organik terlarut dan tersuspensi dapat menjadi sangat tinggi pada limbah
cair proses pengolahan perikanan karena akan meningkatkan BOD dan COD.
Peningkatan kadar lemak dan minyak pada limbah juga meningkat. Timbulnya
bau busuk disebabkan dekomposisi lanjut protein, yang kaya akan asam amino
bersulfur (sistein), menghasilan asam sulfida, gugus thiol, dan amoniak. Asam
lemak rantai pendek hasil dekomposisi bahan organik juga menyebabkan bau
busuk. Minyak dan lemak di permukaan air akan menghambat proses biologis
dalam air dan menghasilkan gas yang berbau (Suyasa, 2011). Limbah cair dari
proses pengolahan perikanan mempunyai kandungan BOD, lemak, dan nitrogen.
1
Pada lingkungan yang telah lama tercemar serta kolam pengolahan limbah
dimungkinkan terdapat bakteri pendegradasi minyak atau lemak secara alamiah,
bersaing maupun berkonsorsia dengan mikroorganisme lainnya (Suyasa, 2011).
Konsorsium adalah kombinasi dari kultur murni yang disebut sebagai inokulum
campuran. Penggunaan kultur murni dalam proses fermentasi berdampak besar
pada aspek peradababan manusia. (Navarrete-Bolanos et al., 2007).

Konsorsium alami memang sudah ada di habitat aslinya yaitu limbah cair, baik itu
bakteri pendegradasi karbohidrat, bakteri pendegradasi lemak ataupun bakteri
pendegradasi protein. Bakteri yang saling berinteraksi dalam bentuk konsorsium
dan yang diisolasi dari limbah asal (indigenous) diharapkan akan mempercepat
proses degradasi polutan asal sehingga mempunyai baku mutu yang sesuai saat
dibuang ke badan air.

Rumusan Masalah

Bagaimana karakteristik limbah cair industri perikanan?

Bagaimana konsorsium mikroba pada limbah perikanan?

2
Apa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba?

Bagaimana mekanisme penanganan limbah?

Apa kelebihan dan kekurangan metode konsorsium mikroba?

Tujuan

Mengetahui karakteristik limbah cair industri perikanan.

Mengetahui bagaimana konsorsium mikroba pada limbah perikanan.

Mengetahui faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba.

Mengetahui bagaimana mekanisme penanganan limbah.

Mengetahui kelebihan dan kekurangan metode konsorsium mikroba.


3
BAB II

PEMBAHASAN

Karakteristik Limbah Cair Industri Perikanan

Limbah industri perikanan dapat didefinisikan sebagai apa saja yang

tersisa dan terbuang dari suatu kegiatan penangkapan, penanganan, dan pengolahan
hasil perikanan. Tipe limbah utama yang ditemukan dari limbah cair pengolahan
ikan adalah darah, kotoran, jeroan, sirip, kepala ikan, cangkang, kulit dan sisa
daging. Secara umum, tipe limbah cair industri pengolahan ikan dapat dibagi dalam
dua kategori yaitu volum banyak-persentase limbah rendah dan volum sedikit-
persentase limbah tinggi. Kategori volum banyak-persentase limbah rendah terdiri
dari air yang digunakan untuk pembongkaran, transportasi, penanganan ikan dan air
pencucian. Proses pada pembuatan tepung ikan menghasilkan jenis limbah kategori
volum sedikit-persentase limbah tinggi (Colic et al., 2007).

Limbah cair industri perikanan mengandung bahan organik yang tinggi. Tingkat
pencemaran limbah cair industri pengolahan perikanan sangat tergantung pada tipe
proses pengolahan dan spesies ikan yang diolah. Terdapat 3 tipe utama aktivitas
pengolahan ikan, yaitu industri pengalengan dan pembekuan ikan, industri minyak
dan tepung ikan, dan industri pengasinan ikan (Priambodo, 2011).

Limbah cair industri pengolahan ikan memiliki karakteristik jumlah bahan organik
terlarut dan tersuspensi yang tinggi jika dilihat dari nilai BOD dan COD. Lemak dan
minyak juga ditemukan dalam jumlah yang tinggi. Terkadang padatan tersuspensi
dan nutrien seperti nitrogen dan fosfor juga ditemukan dalam jumlah tinggi. Limbah
cair industri pengolahan ikan juga mengandung sodium klorida dalam konsentrasi
tinggi dari proses pembongkaran kapal, air pengolahan, dan larutan asin (Colic et
al., 2007). Secara umum karakteristik limbah cair industri pengolahan ikan dapat
dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik limbah cair perikanan

Industri
Industri
Industri
Minyak Ikan

Parameter
Satuan
Pengalengan dan

Pengasinan

dan Tepung

Pembekuan Ikan

Ikan

Ikan
Amonia
mg/L
37
1,659
101

4
Industri
Industri
Industri

Minyak Ikan

Parameter
Satuan
Pengalengan dan

Pengasinan

dan Tepung

Pembekuan Ikan

Ikan

Ikan
BOD
mg/L
35
204
127

COD
mg/L
34
196
360

Lemak dan
mg/L
1,401
12,750
1,305

Minyak

(Sumber: Priambodo, 2011)


Baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan/atau
jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan
dibuang atau dilepas ke dalam sumber air dari suatu usaha dan/atau kegiatan
(Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2007). Baku mutu limbah cair industri
pengolahan perikanan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Baku mutu air limbah bagi usaha/kegiatan pengolahan perikanan


Parameter
Satuan
Kegiatan
Kegiatan
Pembuatan

Pembekuan
Pengalengan
Tepung Ikan

pH
-

6-9

TSS
mg/L
100
100
100

Sulfida
mg/L
-
1
1
Amonia
mg/L
10
5
5

Klor bebas
mg/L
1
1
-

BOD
mg/L
100
75
100

COD
mg/L
200
150
300

Minyak-
mg/L
15
15
15

lemak

(Sumber: Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2007)


2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba

Kehidupan sehari-hari kita selalu berhubungan dengan berbagai macam


mikroorganisme yang dapat menginfeksi yang dapat membahayakan atau merusak
inang. Akan tetapi, agar dapat memahami lebih banyak masalah dalam mendiagnosis
dan pencehagan infeksi, maka perlu diketahui bahwa mikroorganisme tumbuh
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menunjang pertumbuhannya. (Natsir, 2005)

Aktivitas Air

Aktivitas air atau water activity (aw) sering disebut juga air bebas, karena

mampu membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi

kimiawi pada bahan pangan. Bahan pangan yang mempunyai kandungan atau
nilai aw tinggi pada umumnya cepat mengalami kerusakan, baik akibat
pertumbuhan mikroba maupun akibat reaksi kimia tertentu seperti oksidasi dan
reaksi enzimatik. Aktivitas air pada bahan pangan pada umumnya sangat mudah
untuk dibekukan maupun diuapkan.

Hubungan kadar air dengan aktivitas air (aw) ditunjukkan dengan kecenderungan
bahwa semakin tinggi kadar air maka semakin tinggi pula nilai awnya. Kadar air
dinyatakan dalam persen (%) pada kisaran skala 0-100, sedangkan nilai aw
dinyatakan dalam angka desimal pada kisaran skala 0-1,0 (Legowo dan Nurmanto,
2004).

Aktivitas air juga dinyatakan sebagai potensi kimia dari air yang nilainya
bervariasi dari 0 sampai 1. Pada nilai aktivitas air sama dengan 0 berarti molekul
air yang bersangkutan sama sekali tidak dapat melakukan aktivitas dalam proses
kimia. Sedangkan nilai aktivitas air sama dengan 1 berarti potensi air dalam
proses kimia pada kondisi maksimal (Waluyo, 2001).

pH

Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Beberapa bakteri dapat

hidup pada pH tinggi (medium alkalin). Contohnya adalah bakteri nitrat, rhizobia,
actonomycetes, dan bakteri pengguna urea. Hanya beberapa bakteri yang bersifat
toleran terhadap kemasaman, misalnya Lactobacilli, Acetobacter, dan Sarcina
ventriculi. Bakteri ynag bersifat asidofil misalnya Thiobacillus. Jamur umumnya
dapat hidup pada kisaran pH rendah. Apabila mikroba ditanam pada media dengan
pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur, tetapi apabila pH media dengan
pH 8 maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri. Berdasarkan pH, mikroba dapat
dikelompokkan menjadi 3 yaitu :

Mikroba asidofil, yaitu mikroba yang dapat hidup pada pH 2,0-5,0

Mikroba mesofil, yaitu mikroba yang dapat hidup pada pH 5,5-8,0.

Mikroba alkalifil, yaitu mikroba yang dapat hidup pada pH 8,4-9,5. Contoh pH
minimum, optimum dan maksimum untuk beberapa jenis bakteri adalah sebagai
berikut menurut Waluyo (2005).

Tabel 1. pH Minimum, Optimum dan Maksimum untuk Beberapa Jenis

Bakteri.
Nama Mikroba
pH

Minimum
Optimum
Maksimum

Escherichia coli
4,4
6,0-7,0
9,0

Proteus vulgaris
4,4
6,0-7,0
8,4

Enterobacter aerogenes
4,4
6,0-7,0
9,0
Pseudomonas aeruginosa
5,6
6,6-7,0
8,0

Clostridium sporogenes
5,0-5,8
6,0-7,6
8,5-9,0

Nitrosomonas sp.
7,0-7,6
8,0-8,8
9,4

Nitrobacter sp.
6,6
7,6-8,6
10,0

Thiobacillus Thiooxidans
1,0
2,0-2,8
4,0-6,0
Lactobacillus acidophilus
4,0-4,6
5,8-6,5
6,8

(Sumber : Waluyo, 2005)


3. Suhu
Setiap bakteri memiliki suhu optimal untuk pertumbuhannya. Berdasarkan

suhu optimal pertumbuhan, bakteri dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

Psikrofilik, bakteri yang optimal pada suhu 15° C, tetapi masih dapat tumbuh pada
rentang suhu 0°-20° C

Termofilik,bakteri yang optimal pada suhu 60°C tetapi masih dapat tumbuh pada
rentang suhu 40° -70° C

Mesofilik, bakteriyang dapat tumbuh pada rentang suhu 10° -45° C. (Jeffrey dan
Pommervile, 2010)

4. Oksigen

Pertumbuhan bakteri tergantung pada kelimpahan oksigen. Berdasarkan

kebutuhan oksigen, bakteri dapat dibedakan menjadi 6 yaitu :

Obligat aerob, bakteri yang menggunakan gas sebagai penerima elektron terakhir
untuk membentuk ATP

Anaerobik, bakteri yang tidak dapat menggunakan oksigen

Obligat anaerob, bakteri yang mati jika ada oksigen


Mikroerofilik, bakteri yang hidup pada lingkungan dengan kadar oksigen rendah
Anaerob fakultatif, bakteri yang tumbuh dengan baik dalam ketersediaan oksigen,
tetapi dapat memiliki sifat anaerobik jika oksigen tidak ada

Kapnofilik, bakteri yang membutuhkan gas karbondioksida lebih banyak daripada


oksigen. (Jeffrey dan Pommervile, 2010)

5. Nutrisi

Nutrisi merupakan substansi yang diperlukan untuk biosintesis dan pembentukan


energi. Berdasarkan kebutuhannya, nutrisi dibedakan menjadi dua yaitu
makroelemen, yaitu elemen-elemen nutrisi yang diperlukan dalam jumlah banyak
(gram) seperti karbon (C), oksigen (O), hidrogen (H), nitrogen (N), sulfur (S),
fosfor (P), kalium (K), magnesium (Mg), kalsium (Ca), besi (Fe). Sedangkan
mikroelemen, yaitu elemen-elemen nutrisi yang diperlukan dalam jumlah sedikit
(dalam takaran mg hingga ppm) seperti mangan (Mn), zinc (Zn), kobalt (Co),
molibdenum (Mo), nikel (Ni), dan tembaga (Cu). Ada juga nutrien tambahan
meliputi vitamin yang merupakan molekul organik kecil yang umumnya
merupakan seluruh atau sebagian kofaktor enzim, dan hanya sejumlah kecil yang
digunakan untuk pertumbuhan; asam amino yang diperlukan untuk sintesis
protein, serta purin dan pirimidin yang diperlukan dalam sintesis asam nukleat
(Sylvia, 2008).

6. Substrat

Substrat berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri. Substrat yang digunakan


dalam proses fermentasi berpengaruh terhadap aktivitas dan produktivitas enzim.
Proses fermentasi terjadi karena adanya aktivitas mikroba dengan substrat organik
yang sesuai (Syam, 2008). Kecepatan pertumbuhan bakteri tergantung pada
konsentrasi substrat. Pada umumnya bakteri sudah tumbuh pada konsentrasi
substrat rendah dengan kecepatan maksimum. Hanya pada konsentrasi substrat
rendah kecepatan pertumbuhan tergantung pada konsentrasi substrat (Schlegel,
1994)

7. Cahaya

Bakteri biasanya tumbuh dalam gelap, walaupun ini bukan suatu keharusan.
Tetapi sinar ultraviolet mematikan mereka dan ini dapat digunakan untuk prosedur
sterilisasi (Depkes RI, 1997 dan Purnawijayanti, 2001 dalam Suhartini, 2003).
Beberapa bakteri memerlukan persyaratan yang khusus, diantaranya yaitu
bakteri Fotoautotrofik (fotosintetik), yaitu bakteri dalam pertumbuhannya harus

ada pencahayaan. Organisme heterotrof tidak memerlukan cahaya sebagai sumber

energinya.

Waktu

Ketika bakteri menemukan kondisi yang cocok, pertumbuhan dan

reproduksi terlaksana. Bakteri berkembang biak dengan membelah diri. Dari satu
sel tunggal menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi delapan dan
seterusnya. Dalam lingkungan dan suhu yang cocok, bakteri membelah diri setiap
20-30 menit. Dalam kondisi yang mereka sukai itu, maka dalam 8 jam satu sel
bakteri telah berkembang menjadi 17 juta sel dan menjadi satu milyar dalam 10
jam (Suhartini, 2003).

9. Tekanan Osmosis

Osmosis merupakan perpindahan air melewati membran semipermeabel karena


ketidakseimbangan material terlarut dalam media. Dalam larutan hipotonik, air
akan masuk kedalam sel mikroorganisme; sedangkan dalam larutan hipertonik air
akan keluar dari dalam sel secara mikroorganisme sehingga membran plasma
mengkerut dan lepas dari dinding sel (plasmolisis), serta menyebabkan sel secara
metabolik tidak aktif. Mikroorganisme halofil mampu tumbuh pada kadar garam
tinggi, umumnya NaCl 3%, mikroorganisme halofil ekstrem mampu tumbuh pada
konsentrasi garam (NaCl) tinggi sebesar ≥ 33%

(Sylvia, 2008).

2.3 Mekanisme Konsorsium Bakteri dalam Penanganan Limbah Perikanan

Sampel limbah cair diambil secara langsung dari setiap lokasi pembuangan limbah
menggunakan botol sampel steril. Sampel diambil pada bagian outlet
(pembuangan air) yang tidak terdapat sirkulasi air. Sampel air dimasukkan
kedalam kotak es dengan volume 24L yang sudah diberi es batu.
Pengamatan limbah cair dilakukan analisis proksimat yaitu protein dan lemak.
Parameter lainnya yaitu kualitas air meliputi pH, suhu, amonia, COD dan BOD.
Pengamatan dilakukan secara in situ dan ex situ. Jumlah mikroba pada limbah
diukur pada media pertumbuhan yang digunakan (NA) dan media seleksi
proteolitik maupun lipolitik dengan cara TPC. (Fardiaz, 1987)
Pada lingkungan yang telah lama tercemar serta kolam pengolahan limbah
dimungkinkan terdapat bakteri pendegradasi minyak atau lemak tersebut secara
alamiah, bersaing maupun berkonsorsia dengan mikroorganisme lainnya (Cooper
et al. 1990 dalam Suyasa 2011). Konsorsium adalah kombinasi dari kultur murni
yang disebut sebagai inokulum campuran. Penggunaan kultur murni dalam proses
fermentasi memiliki dampak besar pada semua aspek peradaban manusia. Namun
dalam rangka untuk merancang proses fermentasi baru atau mengoptimalkan yang
sudah ada, penelitian konsorsium harus dipertimbangkan dalam rangka untuk
mengambil keuntungan dari interaksi antar anggota konsorsium (Navarrete-

9
Bolanos et al., 2007). Konsorsium alami memang sudah ada di habitat aslinya
yaitu limbah cair, baik itu bakteri pendegradasi karbohidrat, bakteri pendegradasi
lemak ataupun bakteri pendegradasi protein. Bakteri yang saling berinteraksi
dalam bentuk konsorsium dan yang diisolasi dari limbah asal (indigenous)
diharapkan akan mempercepat proses degradasi polutan asal sehingga mempunyai
baku mutu yang sesuai saat dibuang ke badan air.

Konsorsium bakteri dilakukan dengan menyeleksi isolat yang menghasilkan


aktivitas degradasi limbah tertinggi pada skala laboratorium. Formulasi untuk
konsorsium mikroba ditentukan berdasarkan laju pertumbuhan maksimum bakteri
proteolitik dan lipolitik. Salah satu teknologi pengolahan air limbah yang aman
dan berwawasan lingkungan adalah menggunakan bakteri yang berpotensi sebagai
pengurai dalam proses biodegradasi. Secara alamiah untuk memperoleh bakteri
yang berpotensi sebagai pengurai dapat dilakukan dengan mengisolasi limbah itu
sendiri (bakteri indigen), kemudian dikultur secara murni di dalam laboratorium
secara in vitro. Pemanfaatan konsorsia bakteri yang berpotensi akan diperbanyak
di laboratorium untuk selanjutnya dipakai sebagai starter dalam pengolahan
limbah. Transformasi dilakukan oleh mikroorganisme, khususnya bakteri
pendegradasi melalui proses metabolisme dengan cara menghasilkan enzim.
Optimalisasi kondisi lingkungan dilakukan agar aktivitas metabolisme mikroba
dapat terselenggara dengan baik.

Biodegradasi didefinisikan sebagai suatu proses oksidasi senyawa organik oleh


mikroba karena adanya proses metabolisme zat organik melalui enzim untuk
menghasilkan karbon dioksida, air dan energi yang akan digunakan dalam sintesis,
mortalitas dan respirasi (Shovitri, dkk. 2012). Alexander (1999) mendefinisikan
biodegradasi sebagai reduksi yang dikatalisasi secara biologis dalam sebuah
kompleksitas bahan kimia. Biodegradasi sebagai reduksi berarti terjadi proses
transformasi dari bahan pencemar dengan molekul yang kompleks menjadi lebih
sederhana melalui sebuah proses biologis akibat aktivitas mikroorganisme, melalui
enzim yang dihasilkannya. Proses biologis ini merupakan sebuah proses yang
bersifat alamiah, dinamis dan kontinyu selama faktor-faktor yang berhubungan
dengan kebutuhan mikroorganisme dapat terpenuhi.
Berikut dibawah ini merupakan diagram proses penanganan limbah cair perikanan
menggunakan metode konsorsium mikroba.

Gambar 1. Diagram Proses Penangan Limbah Perikanan dengan Metode


Konsorsium Mikroba

Menurut Holt, J et al., (2000) mikroorganisme yang biasa digunakan diantaranya:

a. Staphylococcus aureus

Berdasarkan hasil pengamatan karakteristik ciri morfologi, spesies ini mempunyai


warna koloni kuning orange dan berbentuk bundar.Warna koloni S. aureus
bervariasi antara lain putih, kuning, atau kuning orange. Sel berbentuk kokus
dengan ukuran diameter 0,5 - 1,5 µm, memiliki sifat Gram positif, dan termasuk
bakteri aerob. Suhu optimum untuk pertumbuhan berkisar antara 30- 370C. Isolat
ini bisa ditemukan dari makanan, debu, dan air
b. Pseudomonas pseudomallei

Hasil pengamatan dari karakteristik morfologi, sitologi dan fiiologi isolat bakteri
ini memiliki sifat Gram negatif dengan bentuk sel basil. Warna koloni putih muda.
Suhu optimum untuk pertumbuhan berkisar antara 410C.Spesies ini juga diketahui
memiliki jumlah flagella >1. Secara spesifik, spesies ini memiliki kemampuan
dalam mendegradasi bahan organik selain asam organik, dan hal ini dapat
ditunjukkan dengan kemampuan degradasi kadar BOD yang cukup signifikan.

c. Actinobacillus sp

Hasil pengamatan dari karakteristik morfologis, sitologi dan fiiologi bakteri ini
memiliki gram negatif dengan bentuk sel basil. Warna koloni kuning muda. Genus
Actinobacillus memiliki bentuk sel oval, spherical atau rod-shape, dengan kisaran
ukuran 0.4 x 1.0 µm. Kebanyakan sel merupakan basil tetapi diselingi dengan
adanya unsurunsur kokus yang memberikan karakteristik seperti bentuk kode
morse. Spesies ini dapat bersifat parasit atau komensal pada manusia, domba,
kuda, babi, berbagai mamalia dan burung.

Sampel limbah yang sudah disterilkan kemudian dipropagasi dalam media Busnell
Hass yang Kadar Lemak (%)yang diperkaya dengan olive oil 1% selama 14 hari
yang bertujuan untuk memperbanyak jumlah sel bakteri. Sampel limbah
diinokulasikan pada medium NA dan diinkubasi dengan posisi terbalik pada suhu
37°C selama 1x24 jam. Biakan murni bakteri hasil isolasi yang didapat
merupakan starter. Starter kemudian diinokulasikan ke dalam botol yang berisi
limbah dengan perbandingan volume starter: volume limbah = 1:10. Isolat bakteri
indigen diinokulasikan secara aseptik dengan jarum inokulasi berkolong pada
medium Nutrien Agar Cair.

Data yang diperoleh adalah berupa parameter yang digunakan dalam analisis air
limbah, yaitu kadar lemak, TSS, BOD, COD, dan DO. Data yang diperoleh
dianalisis dengan menggunakan Analisis Varian Tunggal dan uji lanjut Duncan
5%. Potensi keefektifan setiap isolat bakteri dalam mendegradasi limbah dihitung
berdasarkan rata-rata efisiensi optimasi, dengan rumus sebagai berikut: %
Degradasi = x 100%

Keberhasilan degradasi bahan organik dapat juga dilihat dari penurunan kadar
BOD, COD dan TSS serta kenaikan kadar DO. BOD digunakan untuk mengukur
banyaknya oksigen yang dikonsumsi oleh mikroba dalam proses penguraian
bahan organik yang terlarut dalam limbah cair. Sebuah angka BOD yang tinggi
menunjukkan kelimpahan substrat organik yang dapat digunakan oleh
mikroorganisme aerobik. Ketika kandungan BOD tinggi, menunjukkan bahwa
mikroorganisme sering menggunakan banyak oksigen terlarut untuk degradasi
bahan organik, hal ini akan menciptakan kondisi delesi oksigen (penurunan kadar
DO) dan menyebabkan kematian organisme yang lebih tinggi, seperti ikan, yang
membutuhkan O2 untuk bertahan hidup (Atlas et al., 1998). Biodegradasi akan
memaksimalkan proses penguraian zat organik sehingga mengakibatkan
penurunan kadar BOD, dikarenakan degradasi lemak terus berjalan, sehingga
kadar lemak akan semakin menurun. Dengan menurunnya kadar lemak, maka
jumlah oksigen yang dikonsumsi mikroba dalam proses penguraian akan semakin
menurun.

Efektifitas penguraian bahan organik dengan penambahan inokulum bakteri


menjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan penguraian bahan organik yang
tanpa penambahan inokulum. Mikroorganisme dapat mengkonsumsi polutan
organik dan mengubah polutan organik tersebut menjadi karbondioksida, air dan
energi untuk pertumbuhan dan reproduksinya. Penambahan inokulum kultur
campuran bakteri akan merangsang proses penguraian terjadi lebih cepat
dibandingkan dengan yang tidak ditambahkan inokulum bakteri, karena waktu

12
yang dibutuhkan untuk menguraikan lebih lama dibandingkan yang ditambahkan
inokulum. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian, bahwa pada perlakuan kontrol,
yaitu perlakuan yang tidak ditambahkan dengan kultur bakteri menunjukan angka
degradasi yang sangat sedikit. Lemak merupakan salah satu contoh bahan organik.
Bahan organik secara alamiah lebih mudah terurai daripada bahan anorganik.
Pertumbuhan bakteri Staphyllococcus aureus, Pseudomonas pseudomallei dan
Actinobacillus sp.akan menghasilkan enzim lipolitik sehingga dapat mendegradasi
lemak menjadi substrat yang lebih sederhana. Substrat ini terhidrolisis menjadi
asam piruvat. Selanjutnya, jika kondisi lingkungan mengandung cukup oksigen,
melalui mobilisasi asetil-KoA akan masuk dalam lingkaran asam trikarboksilat
(Siklus Krebs) yang pada akhirnya akan dibebaskan menjadi CO2 dan H2O. Pada
waktu bakteri tumbuh dan berkembang dalam limbah tersebut, karbon akan
digunakan untuk menyusun bahan sel penyusun mikroba dengan cara
membebaskan karbondioksida dan bahan bahan lain yang mudah menguap. Dalam
proses biodegradasi yang berlangsung tersebut, maka mikroba juga akan
mengasimilasi nitrogen, fosfor, kalium dan belerang yang terikat dalam
protoplasma sel. Hal ini sesuai dengan tujuan utama penanganan limbah secara
biologi adalah untuk mendegradasi dengan cara mengoksidasi limbah organik,
sehingga senyawa-senyawa kompleks dapat terurai menjadi senyawa senyawa
yang lebih sederhana dan lebih mudah larut, disamping itu juga dapat
dimanfaatkan sebagai nutrisi oleh bakteri indigen.

Suarsini, E. (2007) menyatakan bahwa eksoenzim (enzim ekstraseluler), yaitu


enzim yang bekerjanya di luar sel, umumnya berfungsi untuk

“mencernakan” substrat secara hidrolisis, sehingga dapat mengubahnya menjadi


molekul yang lebih sederhana dengan Berat Molekul (BM) yang lebih rendah,
sehingga dapat masuk melewati membran sel. Biodegradasi akan memaksimalkan
proses penguraian zat organik sehingga mengakibatkan penurunan kadar BOD,
dikarenakan degradasi lemak terus berjalan, sehingga kadar lemak akan semakin
menurun. Dengan menurunnya kadar lemak, maka jumlah oksigen yang
dikonsumsi mikroba dalam proses penguraian akan semakin menurun. COD
merupakan jumlah oksigen kimiawi (mg/L) yang dibutuhkan

13
untuk mengoksidasi bahan organik pada air limbah. COD ini digunakan sebagai
ukuran pencemaran limbah oleh zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasi
melalui suatu proses biologi (biodegradasi) dan mengakibatkan berkurangnya
oksigen terlarut dalam limbah. Dengan penurunan lemak akibat biodegradasi,
maka kadar lemak akan berkurang dan hal ini akan berakibat pada penurunan
jumlah oksigen kimiawi yang dibutuhan mikroba, sehingga kadar COD menjadi
berkurang. TSS merupakan banyaknya kandungan zat padat yang berukuran
partikel-partikel halus yang dapat berupa bahan organik maupun bahan non
organik. Bahan organik yang melayang-layang akan terdegradasi, sehingga kadar
TSS akan menjadi berkurang. Penurunan kadar BOD, COD dan TSS akan
memperbaiki kondisi lingkungan perairan sehingga membuat kadar oksigen
terlarut (DO) menjadi meningkat.

2.4 Kelebihan dan Kekurangan


Biodegradasi dan pengolahan limbah secara biologi memiliki beberapa
keunggulan, diantaranya adalah sebagai berikut (Tong Yu et al., 2012). Prosesnya
merupakan proses yang bersifat ekonomis dan efektif karena mikroorganisme
sudah tersedia dan dalam keadaan yang siap untuk digunakan (indigen) serta
toksisitas pada perairan dapat dikurangi. Ada kelemahan yaitu masih adanya sisa
degradasi berupa methilamin, tersisa residu yang ditandai dengan adanya bau
yang kuat dan proses pengolahannya lama.
14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Konsorsium bakteri dilakukan dengan menyeleksi isolat yang menghasilkan


aktivitas degradasi limbah tertinggi pada skala laboratorium. Formulasi untuk
konsorsium mikroba ditentukan berdasarkan laju pertumbuhan maksimum bakteri
proteolitik dan lipolitik. Yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba adalah aktivitas
air, pH, suhu, oksigen, nutrisi, substrat dan cahaya.

3.2 Saran

Dalam pengolahan limbah perikanan, dengan basis biologis sebaiknya faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme dapat terpenuhi agar dapat
memetabolis limbah perikanan dengan baik, serta diperhatikan mekanisme-
mekanisme pengelolaan mikroorganisme dengan benar.
15
DAFTAR PUSTAKA

Alexander, M. 1997. Biodegradation and Bioremediation: Second Edition.


Department of Soil, Crop, and Atmospheric Sciences, College of Agriculture and
Life Science, Cornell University, Ithaca, New York. New York: Academic Press

Atlas, R.M & Bartha, R. 1998. MicrobiaEcology, Fundamental and Application.


New York: The Benjamin Cummings Publishing Company

Colic, M., W. Morse, J. Hicks, A. Lechter., dan J.D. Miller. 2011. Case study: Fish
processing plant wastewater treatment. Clean Water Technology, Inc. Goleta, CA.

Jeffrey, C. dan J. C. Pommerville. 2010. Microbial Growth and Nutrition(Chapter


5). Jones & Bartlett Learning Publisher, Sudbury MA.

Legowo, A. M. dan Nurwanto. 2004. Analisis Pangan. Diktat Kuliah. Program


Studi Teknologi Ternak. Fakultas Peternakan, UNDIP. Semarang

Natsir, Djide, M. 2005. Bakteriologi. Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin,


Makassar.

Navarrete-Bolanos, J.L., O. Serrato-Joya, Botello-Alvarez, E, Jimenez-Islas, H.,


Cardenas-Manriquez, M., Conde-Barajas, E., dan Rico-Martinez, R. 2007.
Analyzing microbial consortia for biotechnological processes design.
Communicating Current Research and Educational Topics and Trends in Applied
Microbiology. p.437-449.

Sarkar P, Meghvanshi M dan Singh R. 2011. Microbial consortium : A new


approach

in effective degradation of organic kitchen wastes. Int J of Environ Sci and Dev.
2(3) : 170 – 174.

Schlegel, Hans. G. 1994. Mikrobiologi Umum Edisi Ke enam.Gadjah Mada


University Press, Yogyakarta.
Shovitri, M.; Kuswytasari, N.D.; Paramita, P. 2012. Biodegrasi Limbah Organik
Pasar dengan Menggunakan Mikroorganisme Alami Tangi Septik. Jurnal Sains
dan Seni ITS Vol. 1, Sept. 2012. ISSN: 2301-928X

Suarsini, E. 2007. Bioremediasi Limbah Cair Rumah Tangga menggunakan


Konsorsium Bakteri Indigen dalam Menunjang Pembelajaran Masyarakat.
Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Disertasi (Tidak Diterbitkan).

16
Suhartini, E.2003. Analisa Kandungan Bakteri pada Daging Sapi yang Telah
Dibekukan di Pusat Pasar Medan. Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara, Medan.

Suyasa IWB. 2011. Isolasi bakteri pendegradasi minyak/lemak dari beberapa


sedimen perairan tercemar dan bak penampungan limbah

Syam, Khairil A. 2008. Optimasi Produksi dan Aktivitas Enzim Selulase dari
Mikrob Selulolitik Asal Rayap. Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor

Sylvia T. Pratiwi. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Erlangga

Tong Y.; Miao, Y. and Ulrich, A. 2012. Biodegradation of Organic Compounds in


OSPW with Microbial Communities Indigenous to MFT. Department of Civil and
Environmental Engineering: University of Alberta.

Waluyo, S. 2001. Teknik Pengolahan Hasil Pertanian 1. Penuntun Praktikum.


Fakultas Pertanian, UNILA. Lampung.

Waluyo,Lud. 2005. Mikrobiologi Umum. UMM Press, Malang.


17