Anda di halaman 1dari 32

EKONOMI DALAM ِALQURAN*

Pendahuluan.

Fenomena pertama tentang mukjizat Alquran terlihat dari dimensi bahasa yang begitu indah dan

memukau, hal yang wajar dimana kondisi saat itu menjadikan kemampuan berbahasa dalam bentuk

syair sebagai standar wacana pemikiran. Dan hal yang tidak diragukan lagi, kemukjizatan Alquran

tidak terbatas pada dimensi itu saja tapi ada dimensi lain yang mengungkapkan kemukjizatannya,

salah satunya dimensi ekonomi. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa pertimbangan sebagai berikut,

a. Aktivitas ekonomi adalah aktivitas manusia sehari-hari dan merupakan kegiatan utama dalam

mempertahankan hidup dan mengisi proses sejarah.

b. Konstitusi yang berlaku disuatu masyarakat baik dalam politik, sosial, ekonomi dan lainnya sangat

dipengaruhi oleh jenis aktivitas ekonomi yang berlaku dan dianut oleh masyarakatnya.

c. Tabiat dan pola pikir suatau masyarakat dihasilkan oleh status dan kondisi ekonomi yang sedang

dijalaninya.

d. Majunya suatu peradaban bangsa baik materil maupun non materil ditentukan oleh pertumbuhan

ekonominya.

Dari uraian diatas, jelaslah tentang pentingnya peran ekonomi dalam mengungkap sejauhmana

Alquran itu dapat dianggap sebagai mukjizat.

Hal tersebut bertambah kuat dengan firmanNya,

)102 ‫ ( النساء‬...‫و ّد الذين كفروا لو تغفلون عن أسلحتكم وأمتعتكم فيميلون عليكم ميلة واحدة‬

Orang-orang yang kafir ingin supaya kamu terlengah dari senjata dan barang-barangmu, lalu mereka

menyerang dengan sekaligus… (QS 4:102).


Orang-orang kafir berharap dan menunggu-nunggu kesempatan lengahnya umat Islam, mereka

mengira hanya pada waktu shalatlah kesempatan itu ada, sehingga mereka bisa melakukan

penyerangan total. Kelengahan tidak harus terjadi karena shalat, buktinya Allah telah memberikan

keringanan-keringanan walaupun diwaktu shalat. Hal itu mengindikasikan adanya kelemahan lain

yang bisa terjadi apabila umat Islam tidak lagi konsen terhadap urusan ekonomi, militer dll. Dan

memang akhirnya kelengahan itu benar-benar terjadi bahkan menjadi budaya dan sangat kronis

dimana umat Islam tidak lagi mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk bangkit maju apalagi

mempertahankan, bahkan umat Islam benar-benar telah terjerumus dalam perangkap musuh.

Karakteristik Ekonomi dalam Alquran

Alquran disamping menonjolkan aspek-aspek ketuhanan yang harus dicerna oleh manusia, juga ada

aspek kemanusiaan yang memberikan kebebasan untuk melakukan kreativitas dan aktivitasnya. Hal

tersebut akan nampak dalam karakter ekonomi yang digambarkan oleh Alquran. Artinya manusia

mempunyai kebebasan untuk mengatur kehidupannya selama tidak melewati batas-batas yang telah

digariskan oleh Tuhannya dalam bentuk aturan yang permanen, universal dan global. Terkadang

manusia tidak menyadarinya dan menganggapnya sebagai intervensi agama yang akan menghalangi

dan membatasi kebebasannya.

Karakteristik ekonomi dalam Alquran dapat dilihat dalam tiga pokok kajian,

1.Ekonomi Alquran adalah kombinasi antara nilai-nilai yang permanen dan sistem yang elastis (Norma yang

universal dan Aplikasi yang kondisional)

Politik ekonomi dalam Alquran terbagi pada dua dimensi. Pertama, Dimensi Ketuhanan, dimana

dasar-dasar ekonomi dan nilai-nilainya telah diformatkan secara permanen oleh Tuhan. Yang kedua,

Dimensi Kemanusiaan, dimana aplikasi dan metodenya diserahkan pada tuntutan dan kebutuhan

manusia.
Penjabarannya akan lebih jelas dalam point-point sebagai berikut.

A.Ekonomi Alquran adalah ekonomi ketuhanan dalam tataran normatif dan etisnya, dan sebagai ekonomi

kemanusiaan dalam tataran aplikasi dan aksinya.

Contoh pertama, firmanNya,

) 29 ‫ ( النساء‬...‫يأيها الذين آمنوا ال تأكلوا اموالكم بينكم بالباطل اال ان تكون تجارة عن تراض منكم‬

Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan harta sesama kamu dengan jalan yang salah,

melainkan dengan perniagaan diatas sukarela satu sama lain…(QS 4:29)

) 7 ‫ ( الحشر‬...‫كى ال يكون دولة بين األغنياء منكم‬

…Supaya itu jangan hanya beredar dilingkungan orang-orang yang mampu diantara kamu…(QS 59:7)

) 33 ‫ ( النور‬...‫وآتوهم من مال هللا الذين اتاكم‬

Dan berikanlah kepada mereka harta Allah yang telah diberikanNya kepada kamu…(QS 24:33)

) 19 ‫ ( الذاريات‬...‫وفي أموالكم حق معلوم للسائل والمحروم‬

Dan sebagian dari kekayaan mereka diberikannya untuk orang-orang yang meminta dan (Si miskin) yang tiada

meminta… (QS 51:19)

) 219 ‫ ( البقرة‬...‫يسئلونك ماذا ينفقون قل العفو‬

Dan mereka menanyakan kepada engkau: Apakah yang akan mereka nafkahkan? Katakan : Kelebihan dari yang

perlu… (QS 2:219)

Contoh kedua, Umar bin Khattab telah menolak membagikan harta rampasan perang di Irak sebagai

ghanimah, padahal dalam Alquran, harta tersebut dianggap sebagai ghanimah yang harus dibagikan

pada para mujahidin. Juga Ibn Hazm memfatwakan kebolehan penguasa adil untuk merampas harta
orang kaya apabila pemerintahan dalam kondisi terjepit padahal dalam Alquran tidak boleh

mengambil harta umat islam kecuali dengan cara yang baik dll.

B.Nilai-nilai ekonomi ketuhanan tidak terbatas atau terpaku oleh praktek-praktek sejarah tertentu atau bentuk-

bentuk tertentu.

Contoh, praktek dan bentuk perekonomian fase khulafa’rasyidin bukan sebagai sumber rujukan

hukum dalam melegimitasi suatau bentuk ekonomi baru.

C.Sistem aplikasi ekonomi tertentu tidak membatasi untuk timbulnya praktek-praktek dan bentuk-bentuk

perekonomian baru, status suatu hukum akan berubah dengan berubahnya kondisi.

Contoh, praktek perbankan yang bebas riba itu sesuai dengan nilai-nilai ekonomi Alquran padahal

belum pernah ada prakteknya pada jaman sebelumnya.

2. Ekonomi Alquran adalah kombinasi antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum (Komfirmasi dan

balancing antara dua kebutuhan yang bertentangan)

Setiap sistem ekonomi, baik Kapitalis, Sosialis, Fasis ataupun Islam mempunyai tujuan yang sama,

adalah untuk memenuhi kebutuhan. Kebutuhan itu sendiri relatif dan coraknya banyak, yang secara

global terbagi dua, kebutuhan pribadi dan kebutuhan umum, keduanya bisa berdikari tapi terkadang

saling bertentangan. Solusi untuk kondisi yang terakhir itulah yang membedakan antar sistem-sistem

tadi. Ekonomi Kapitalis lebih cenderung untuk membela kebebasan individu, Ekonomi Sosialis lebih

cenderung untuk mementingkan ekonomi kebersamaan dan Ekonomi Alquran cenderung menengahi

dua kepentingan tsb, sebagaimana firmanNya,

) 143 ‫ ( البقرة‬...‫وكذالك جعلناكم امة وسطا‬

Begitulah, kami jadikan kamu ummat pertengahan… (QS 2:143)

Penjabarannya akan lebih jelas dalam point-point sebagai berikut.


a.Dasar hukum dalam Alquran adalah maslahat, aplikasinya ;

- Maslahat manusia adalah objek standar pemberian hukum, contohnya sebagaimana tercantum

dalam firman-Nya,

...‫إنما حرم عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وماأهل به لغير هللا فمن اضطر غير باغ وال عاد فال إثم عليه‬

) 173 ‫( البقرة‬

Hanyalah yang dilarang tuhan atasmu : Mayit (bangkai), darah, daging babi dan yang disembelih bukan

dengan nama Allah, tetapi siapa yang terpaksa oleh keadaan, tidak sengaja hendak melakukan kesalahan dan

melanggar aturan, makalah tidaklah ia berdosa…(QS 2:173)

Bangkai, darah dan lainnya tidak semata dilarang kecuali mengandung zat yang membahayakan bagi

kehidupan manusia, hal tersebut baru terbukti secara mengganaskan dengan munculnya penyakit

“sapi gila” kemudian diikuti oleh muncul penyakit yang lebih sadis lagi, penyakit “kanker mulut dan

kaki”. Itu semua diakibatkan oleh konsumsi ternak dari darah dan bangkai yang diolah menjadi

makanan hewan. Tetapi ketika dihadapkan dengan kondisi yang terpaksa/kebutuhan yang lebih

mendesak, maka solusi alternatifnya adalah memilih yang beresiko rendah.

- Kebutuhan akan berubah sesuai dengan perubahan status, kondisi dan tempat, artinya maslahatpun

akan berubah sesuai dengan perubahan kebutuhan.

- Perlunya ada prioritas standar kebutuhan, dimana primer lebih didahulukan atas skunder dan

skunder lebih didahulukan atas pelengkap.

b.Menyeimbangkan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan umum.

Ekonomi kapitalis lebih memberikan kebebasan individu atas kepentingan umum, dimana hak-hak

pribadi lebih dominan dibanding dengan hak umum, sebaliknya ekonomi sosialis lebih

mengedepankan kebersamaan dan kesamaan dengan mengebiri hak-hak pribadi. Sementara itu

ekonomi islam datang untuk mengayomi kepentingan dua-duanya, setiap kelompok mempunyai hak
dan kewajiban yang proporsional sehingga terciptalah balance kehidupan antara kepentingan pribadi

dan kepentingan umum, hal tersebut disinyalir dalam firmanNya,

) 279 ‫ (البقرة‬...‫ال تظلمون وال تظلمون‬

Kamu tidak dapat merugikan (orang yang berhutang) dan tidak pula akan dirugikan (QS 2:279)

) 85 ‫ ( األعراف‬...‫ال تبخسوا الناس أشياءهم‬

…janganlah kamu kurangkan hak-hak manusia itu…(QS 7:85)

Kalau diumpamakan, sistem ekonomi Alquran bagaikan awak-awak kapal yang berada ditengah

lautan, setiap awak mempunyai job dan kewajiban, apabila salah satunya tidak melaksanakannya dan

bekerja semaunya sendiri, maka semuanya akan tenggelam.

c.Apabila terjadi pertentangan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan umum, maka

kepentingan umum harus lebih didahulukan, hal tersebut dapat terjadi dalam kondisi-kondisi tertentu

seperti dalam keadaan perang, kelaparan dan bencana. Dalam kondisi tersebut kepentingan umum

harus lebih diutamakan dan dikedepankan dibandingkan dengan kepentingan pribadi. Sebagaimana

dalam kaidah ushul “ apabila ada dua kepentingan bertentangan maka kepentingan yang lebih ringan harus

dikorbankan”.

3. Ekonomi Alquran adalah kombinasi antara kepentingan materi dan tuntutan spiritual (Eksistensi kontrol sang

khaliq menjadi bagian integral kehidupan berekonomi).

Semua sistem ekonomi mempunyai tujuan yang sama, yaitu memuaskan kebutuhan materil.

Ekonomi kapitalis berusaha menumpuk modal personal dan untuk personal, ekonomi sosialis

berusaha memenuhi kebutuhan sosial yang tercermin dalam kemakmuran ekonomi masyarakat

secara keseluruhan tapi ekonomi Alquran tidak sampai disitu, kebutuhan materil dijadikannya
sebagai sarana menuju tujuan yang lebih jauh dan abstrak, mencapai ketenangan spiritual, hal tersebut

tidak akan tercapai kecuali apabila praktek-praktek ekonomi yang dilakukannya benar-benar

memenuhi kriteria yang digariskan sang Khaliqnya, yang intinya adalah mencari ridhaNya dan

menjauhi amarahNya.

Memang, Islam sangat memperhatikan eksistensi materil tapi hanya sebagai media dan sarana

mencapai keridhaanNya dan menjauhi kemurkaanNya, sebagai firmanNya,

) 148 ‫ ( البقرة‬...‫لكل وجهة هو موليها فاستبقوا الخيرات‬

Setiap golongan mempunyai tujuan yang dihadapinya, sebab itu berlombalah dalam usaha-usaha kebaikan…

(QS 2:48)

) 8 ‫والى ربك فارغب ( الشرح‬

Dan kepada tuhanmu, tunjukanlah pengharapan! (QS 96:8)

) 19 ‫وال تكونوا كالذين نسوا هللا فأنساهم ( الحشر‬

Dan janganlah kamu serupa dengan orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah melupakan

mereka kepadanya dirinya sendiri… (QS 59:19)

Hal tersebut dipertegas lagi dengan sabda rasulallah “kerja adalah ibadah”, “Sesungguhnya Allah tidak

menerima usaha hambanya yang tidak sungguh-sungguh” dan “ sesungguhnya Allah menyukai usaha hambanya

yang profesional”.

Orientasi aktivitas ekonomi semata-mata untuk Allah bukan berarti Allah membutuhkan tapi

semata-mata sebagai motivasi dan sugesti dalam mempertahankan kemuliaan. Jadi, kebutuhan

materil dan spritual adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan

Dan sistem ekonomi Alquran semakin sempurna dengan adanya sistem kontrol terpadu dan tujuan

mulia yang telah ditentukan langsung oleh sang Kholiq. Penjel-maan sistem kontrol akan terlihat

jelas pada pengawasan vertikal dimana seorang hamba merasa terus terawasi dan bertanggungjawab,
karena yang mengawasinya adalah Khaliqnya dan dia tidak akan lepas dari hukumanNya apabila

melanggar, berbeda dengan pengawasan horizontal, dimana metode konvensional menjadi sarana untuk

membatasi dan mengontrol manusia, sarana tersebut tak akan mengawasi dan mengarahkannya

selama kesadaran dan tanggungjawabnya kurang. Artinya manusia akan selalu menghindar untuk

tidak kena hukuman walaupun bersalah, hal tersebut tidak mungkin kalau eksistensi kontrol vertikal

berfungsi, sebagaimana firmanNya,

) 78 ‫الم يعلموا أن هللا يعلم سرهم ونجوهم وان هللا عالّم الغيوب (التوبة‬

Tidakkah mereka tahu, bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka. Dan

sesungguhnyaAllah itu amat mengetahui segala perkara yang tersembunyi (QS 9:78)

) 19 ‫وهللا يعلم ما تسرون وماتعلنون ( النحل‬

Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu terangkan (QS 16:19)

) 8-7 ‫شرا يره ( الزلزلة‬


ّ ‫ذرة خيرا يره ومن يعمل مثقال ذرة‬
ّ ‫فمن يعمل مثقال‬

Dan siapa yang mengerjakan perbuatan baik seberat atom, akan dilihatnya. Dan siapa yang

mengerjakan kejahatan seberat atom akan dilihatnya (QS 99:7-8).

Disamping itu, juga tujuan ekonomi Alquran itu sendiri sangat membantu untuk dijadikan motivasi

dan sugesti dalam memenuhi tujuan ekonomi secara materil, sebagaimana firmanNya,

) 198 ‫( البقرة‬...‫ليس عليكم جناح ان تبتغوا فضال من ربكم‬

Tidaklah mengapa kalau kamu mencari kurnia (rizki) tuhanmua. (QS 2:198)

) 10 ‫وابتغوا من فضل هللا واذكروا هللا كثيرا لعلكم تفلحون ( الجمعة‬


Dan carilah kurnia Allah, dan ingatilah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung (QS

62:10)

Hal tersebut dikuatkan lagi oleh sabda Rasulallah “ Tidak mengapa menjadi orang kaya dengan syarat

bertakwa “ (HR.Ahmad dan Thabrani)

Kemukjizatan Alquran dalam bidang Ekonomi (percontohan)

Mukjizat Alquran berbeda dengan mukjizat lainnya yang diturunkan pada rasul-rasul sebelum nabi

Muhammad. Adalah kekuatan supranatural yang menantang dan membuktikan bahwa yang

membawanya adalah benar-benar utusan Tuhannya. Mukjizat rasul-rasul sebelumnya berupa

kekuatan alami yang supranatural, yang hanya bersugesti pada orang yang melihatnya kemudian

mengimaninya, adapun orang yang hanya mendengarnya tak akan merasakan bias sugesti kekuatan

supranaturalnya. Berbeda dengan Alquran, adalah kekuatan supranatural alamiah dan ilmiah,

kalaulah tidak diisyarakan oleh Alquran, orang-orang akan mengatakannya mustahil. Ia memang

benar-benar mukjizat aqliyah, ilmiyah dan ‘alamiyah yang kekal sampai hari pembalasan dan akan

terus menantang untuk sepanjang masa bagi yang ingin membuktikannya.

Membicarakan mukjizat Alquran, bagaikan orang yang membelah lautan, tak akan ada habis-

habisnya dan tak seorang ilmuwanpun akan mampu membuka seluruh rahasia-rahasia Alquran

kecuali hanya untuk masa dan kondisinya serta masih akan tersisa rahasia-rahasia lain yang akan

menjadikan kekaguman bagi orang yang menguaknya di setiap kurun.

Mukjizat ilmiyah Alquran adalah “Pemberitaan Alquran tentang hakikat yang dibenarkan oleh ilmu

ekperimental ahir-ahir ini dan tak mungkin mengetahuinya dengan sarana manusia pada zaman diturunkannya

wahyu”. Sebagaimana firmanNya,

) 67 ‫ولكل نبإ مستقر وسوف تعلمون ( األنعام‬


Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya, dan kelak kamu akan

mengetahuinya (QS 6:67)

Mukjizat Alquran dalam bidang ekonomi berarti “Pemberitaan Alquran dalam bentuk dan sistem universal

tentang kehidupan berekonomi untuk mengatur kehidupan manusia sepanjang kurun, dimana sistem tersebut

kurang begitu berguna saat diturunkannya wahyu, disamping metode-metode diagnosis Alquran dalam

mengantisipasi gejolak sosial ekonomi melalui solusi-solusi yang kondisional”. Sebab standarisasi

kemukjizatan Alquran tidak terbatas pada metode pemberitaan dan peramalan saja tapi ada metode-

metode lain yang bisa mengungkapkan keistimewaan tersebut. Metode-metode tersebut antara lain,

metode historis (kisah orang Madyan), metode komparatif (perumpamaan kehidupan dengan air), metode

observasi (perenungan dan penelitian), metode klinis (melalui dialog kejiwaan), metode pemicu (sampel-

sampel tantangan) dan metode empiris/induksi (alami).

1. A. Pengertian Fiqih Muamalah

Fiqih Muamalah terdiri atas dua kata, yaitu fiqih dan muamalah. Berikut penjelasan dari Fiqih,

Muamalah, dan Fiqih Muamalah.[1]

1. Fiqih

Menurut etimologi, fiqih adalah ‫[ ))الفهم‬paham], seperti pernyataan : ‫( فقهت الدرس‬saya paham

pelajaran itu). Arti ini sesuai dengan arti fiqih dalam salah satu hadis riwayat Imam Bukhari

berikut:

‫من يرد ا هلل به خيرا يفقهه في الد ين‬

Artinya: “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik di sisiNya, niscaya

diberikan kepadaNya pemahaman (yang mendalam) dalam pengetahuan agama.”


Menurut terminologi, fiqih pada mulanya berarti pengetahuan keagamaan yang mencakup

seluruh ajaran agama, baik berupa aqidah, akhlak, maupun ibadah sama dengan arti syari’ah

islamiyah. Namun, pada perkembangan selanjutnya, fiqih diartikan sebagai bagian dari syariah

Islamiyah, yaitu pengetahuan tentang hukum syari’ah Islamiyah yang berkaitan dengan

perbuatan manusia yang telah dewasa dan berakal sehat yang diambil dari dalil-dalil yang terinci.

Menurut Imam Haramain, fiqih merupakan pengetahuan hukum syara’ dengan jalan ijtihad.

Demikian pula menurut Al-Amidi, pengetahuan hukum dalam fiqih adalah melalui kajian dari

penalaran (nadzar dan istidhah). Pengetahuan yang tidak melalui jalur ijtihad(kajian), tetapi

bersifat dharuri, seperti shalat lima waktu wajib, zina haram, dan masalah-masalah qath’i

lainnya tidak bermasuk fiqih.

Hal tersebut menunjukkan bahwa fiqih bersifat ijtihadi dan zhanni. Pada perkembangan

selanjutnya, istilah fiqih sering dirangkaikan dengan kata al-Islami sehingga terangkai al-Fiqih

Al-Islami, yang sering diterjemahkan dengan hukum Islam yang memiliki cakupan sangat luas.

Pada perkembanagn selanjutnya, ulama fiqih membagi menjadi beberapa bidang, diantaranya

Fiqih Muamalah.[2]

1. Muamalah

Menurut etimologi, kata muamalah adalah bentuk masdar dari kata’amala yang artinya saling

bertindak, saling berbuat, dan saling mengenal.[3]

Muamalah ialah segala aturan agama yang mengatur hubungan antara sesama manusia, dan

antara manusia dan alam sekitarnya,tanpa memandang agama atau asal usul kehidupannya.

Aturan agama yang mengatur hubungan antar sesama manusia, dapat kita temukan dalam

hukum Islam tentang perkawinan, perwalian, warisan, wasiat, hibah perdagangan, perburuan,

perkoperasian dll. Aturan agama yang mengatur hubungan antara manusia dan lingkungannya
dapat kita temukan antara lain dalam hukum Islam tentang makanan, minuman, mata

pencaharian, dan cara memperoleh rizki dengan cara yang dihalalkan atau yang diharamkan.

Aturan agama yang mengatur hubunagn antara manusia dengan alam sekitarnya dapat kita

jumpai seperti larangan mengganggu, merusak dan membinasakan hewan, tumbuhan atau yang

lainnya tanpa adanya suatu alasan yang dibenarkan oleh agama, perintah kepada manusia agar

mengadakan penelitian dan pemikiran tentang keadaan alam semesta.

Dari uraian diatas telah kita ketahui bahwa muamalah mempunyai ruang lingkup yang luas, yang

meliputi segala aspek, baik dari bidang agama, politik, ekonomi, pendidikan serta sosial-

budaya.[4] Firman Allah dalam surat an Nahl ayat 89:

ْ ‫ُدى َو َرحْ َمةً َوبُش َْرى ِل ْل ُم‬


َ‫س ِل ِمين‬ َ َ ‫علَ ْيكَ ا ْل ِكت‬
ً ‫اب ِت ْب َيانا ً ِلك ُِل ش َْيءٍ َوه‬ َ ‫( َونَ َّز ْل َنا‬89)…

Artinya: “ Kami turunkan kepadamu al Qur’an untuk menerangkan segala sesuatu, untuk

petunjuk dan rahmat serta berita gembira bagi orang-orang islam.”(QS.An-Nahl: 89)

1. Fiqih Muamalah

Pengertian fiqih muamalah menurut terminologi dapat dibagi menjadi dua:

1. Fiqih muamalah dalam arti luas

– Menurut Ad-Dimyati, fiqih muamalah adalah aktifitas untuk menghasilkan duniawi

menyebabkan keberhasilan masalah ukhrawi.[5]

– Menurut pendapat Muhammad Yusuf Musa yaitu ketentuan-ketentuan hukum mengenai

kegiatan perekonomian, amanah dalam bentuk titipan dan pinjaman, ikatan kekeluargaan, proses

penyelesaian perkara lewat pengadilan, bahkan soal distribusi harta waris.

– Menurut pendapat Mahmud Syaltout yaitu ketentuan-ketentuan hukum mengenai

hubungan perekonomian yang dilakukan anggota masyarakat, dan bertendensikan kepentingan

material yang saling menguntungkan satu sama lain. [6]


Berdasarkan pemikiran diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa fiqh muamalah adalah mengetahui

ketentuan-ketentuan hukum tentang usaha-usaha memperoleh dan mengembangkan harta, jual

beli, hutang piutang dan jasa penitiapan diantara anggota-anggota masyarakat sesuai keperluan

mereka, yang dapat dipahami dan dalil-dalil syara’ yang terinci.[7]

Aturan-aturan Allah ini ditujukan untuk mengatur kehidupan manusia dalam urusan yang

berkaitan dengan urusan duniawi dan sosial kemayarakatan. Manusia kapanpun dan dimanapun

harus senantiasa mengikuti aturan yang telah ditetapkan Allah sekalipun dalam perkara yang

bersifat duniawi sebab segala aktifitas manusia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di

akhirat. Dalam Islam tidak ada pemishan antara amal perbuatan dan amal akhirat, sebab sekecil

apapun aktifitas manusia di dunia harus didasarkan pada ketetapan Allah SWT agar kelak

selamat di akhirat.[8]

1. Fiqih muamalah dalam arti sempit:

 Menurut Hudhari Beik, muamalah adalah semua akad yang membolehkan manusia saling

menukar manfaat.

 Menurut Idris Ahmad adalah aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan

manusia dalam usahanya mendapatkan alat-alat keperluan jasmaninya dengan cara yang

paling baik.

Jadi pengertian Fiqih muamalah dalam arti sempit lebih menekankan pada keharusan untuk

menaati aturan-aturan Allah yang telah ditetapkan untuk mengatur hubungan antara manusia

dengan cara memperoleh, mengatur, mengelola, dan mengembangkan mal (harta benda).[9]

Ciri utama fiqih muamalah adalah adanya kepentingan keuntungan material dalam proses akad

dan kesepakatannya. Berbeda dengan fiqh ibadah yang dilakukan semata-mata dalam rangka

mewujudkan ketaatan kepada Allah tanpa ada tendensi kepentingan material.


Tujuannya adalah dalam rangka menjaga kepentingan orang-orang mukallaf terhadap harta

mereka, sehingga tidak dirugikan oleh tindakan orang lain dan dapat memanfaatkan harta

miliknya itu untuk memenuhi kepentingan hidup mereka.[10]

1. B. Pembagian Fiqih Muamalah

Menurut Ibn Abidin, fiqih muamalah dalam arti luas dibagi menjadi lima bagian:

1. Muawadhah Maliyah (Hukum Perbendaan)

2. Munakahat (Hukum Perkawinan)

3. Muhasanat (Hukum Acara)

4. Amanat dan ‘Aryah (Hukum Pinjaman)

5. Tirkah (Hukum Peninggalan)

Dari pembagian diatas, yang merupakan disiplin ilmu tersendiri adalah munakahat dan tirkah.

Sedangkan menurut Al-Fikri dalam kitab Al-Muamalah Al-Madiyah wa Al-Adabiyah membagi

Fiqh Muamalah menjadi dua bagian:

1. Al-Muamalah Al-Madiyah

Al-Muamalah Al-Madiyah adalah muamalah yang mengakaji segi objeknya, yakni benda.

Sebagian ulama berpendapat bahwa Al-Muamalah Al-Madiyah bersifat kebendaan, yakni benda

yang halal, haram, dan syubhat untuk dimiliki, diperjual belikan, atau diusahakan, benda yang

menimbulkan kemadharatan dan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia, dll. Semua aktivitas

yang berkaitan dengan benda, seperti al- bai’ (jual beli) tidak hanya ditujukan untuk memperoleh

keuntungan semata, tetapi jauh lebih dari itu, yakni untuk memperoloh ridha Allah SWT. Jadi

kita harus menuruti tata cara jual beli yang telah ditentukan oleh syara’.

1. Al-Muamalah Al-Adabiyah
Al-Muamalah Al-Adabiyah adalah muamalah ditinjau dari segi cara tukar-menukar benda, yang

sumbernya dari pancaindra manusia, sedangkan unsur-unsur penegaknya adalah hak dan

kewajiban, seperti jujur, hasut, iri, dendam, dll. Al-Muamalah Al-Adabiyah adalah aturan-aturan

Allah yang ditinjau dari segi subjeknya (pelakunya) yang berkisar pada keridhaan kedua pihak

yang melangsungkan akad, ijab kabul, dusta, dll.

Pada prakteknya, Al-Muamalah Al-Madiyah dan Al-Muamalah Al-Adabiyah tidak dapat

dipisahkan.[11]

1. C. Ruang Lingkup Fiqih Muamalah

Ruang lingkup fiqih muamalah terbagi menjadi dua:

1. Al-Muamalah Al-Adabiyah. Hal-hal yang termasuk Al-Muamalah Al-Adabiyah adalah

ijab kabul, saling meridhai, tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak, hak dan

kewajiban, kejujuran pedagang, penipuan, pemalsuan, dan segala sesuatu yang bersumber

dari indera manusia yang ada kaitannya dengan peredaran harta.

1. Al-Muamalah Al-Madiyah

1. Jual beli (Al-bai’ at-Tijarah)

2. Gadai (rahn)

3. Jaminan/ tanggungan (kafalah)

4. Pemindahan utang (hiwalah)

5. Jatuh bangkit (tafjis)

6. Batas bertindak (al-hajru)

7. Perseroan atau perkongsian (asy-syirkah)

8. Perseroan harta dan tenaga (al-mudharabah)

9. Sewa menyewa tanah (al-musaqah al-mukhabarah)


10. Upah (ujral al-amah)

11. Gugatan (asy-syuf’ah)

12. Sayembara (al-ji’alah)

13. Pembagian kekayaan bersama (al-qisamah)

14. Pemberian (al-hibbah)

15. Pembebasan (al-ibra’), damai (ash-shulhu)

16. beberapa masalah mu’ashirah (mukhadisah), seperti masalah bunga bank,

asuransi, kredit, dan masalah lainnnya.[12]

17. Pembagian hasil pertanian (musaqah)

18. Kerjasama dalam perdagangan (muzara’ah)

19. pembelian barang lewat pemesanan (salam/salaf)

20. Pihak penyandang dana meminjamkan uang kepada nasabah/ Pembari modal

(qiradh)

21. Pinjaman barang (‘ariyah)

22. Sewa menyewa (al-ijarah)

23. Penitipan barang (wadi’ah)

Peluang ijtihad dalam aspek tersebut diatas harus tetap terbuka, agar hukum Islam senantiasa

dapat memberi kejelasan normatif kepada masyarakat sebagai pelaku-pelaku ekonomi

Etika Bermusyawarah dalam Islam

Jika kita mencoba melakukan analisa terhadap beberapa ayat-ayat alqur’an, maka akan

kita temukan etika bermusyawarah dalam Islam di antaranya:


1. QS. Al-Imran ayat: 152.

Artinya:

Dan Sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh

mereka dengan izin-Nya sampai pada sa'at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu[5], dan

mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu
sukai.[6] di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang

menghendaki akhirat. kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka[7] untuk menguji kamu,

dan sesunguhnya Allah telah mema'afkan kamu. dan Allah mempunyai karunia (yang

dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.[8]

Ayat di atas secara redaksional ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW supaya

memusyawarahkan persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat dengan para

sahabatnya. Itu artinya juga perintah kepada setiap kita untuk tetap menjalankan musyawarah

terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut khalayak atau hajat hidup orang banyak.

Lalu bagaimana etika musyawarah itu bisa dijalankan?

Pertama, sikap lemah lembut. Seorang yang melakukan musyawarah apalagi seorang pemimpin,

harus mampu menghindari kata-kata kasar, kurang sopan atau keras kepala, karena kalau tidak

mitra kita bisa berhamburan meninggalkan forum.

Kedua, memberi maaf dan membuka lembaran baru.

Maaf secara etimologi berarti 'menghapus'[9]. Memaafkan berarti menghapus bekas luka di hati

akibat perlakuan pihak lain yang dinilai kurang wajar dan tidak proporsional. Orang yang

bermusyawarah harus menyiapkan mental pemaaf. Kita harus memiliki kebesaran jiwa untuk

berbeda pendapat dengan pihak lain.

Kemudian, orang yang melakukan musyawarah harus menyadari bahwa kecerdasan dan

ketajaman analisis saja tidaklah cukup. Kita membutuhkan selain akal yaitu sebuah petunjuk,

hidayah, ilham yang bisa mengantarkan kita pada kebenaran sejati. Dengan demikian, untuk

mendapatkan hasil terbaik ketika musyawarah, hubungan dengan Tuhan tak boleh diabaikan.
Ketiga, setelah musyawarah usai, dengan tekad bulat kita harus melaksanakan dengan konsisten

dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang diambil, sembari bertawakal.

2. QS. An-Nisa ayat: 58.

Artinya:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,

dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan

dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.

Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.[10]

Ayat di atas menjelaskan tentang etika bermusyawarah yaitu:


Keempat, hendaklah saat bermusyawarah dalam menetapkan hukum di antara manusia supaya

kamu menetapkan dengan adil. Dari sini kita bisa menerangkan kewajiban untuk menyampaikan

atau memenuhi hak di antara manusia dengan adil dan proporsional.

3. QS. Al-Baqarah ayat: 233.


Artinya:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin

menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu

dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.

janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena

anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua

tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan

jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu

memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah

bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.[11]


Ayat ini membicarakan bagaimana seharusnya hubungan suami istri saat mengambil

keputusan yang berkaitan dengan rumah tangga dan anak-anak, seperti menyapih anak. Pada ayat

di atas, al-Quran memberi petunjuk agar persoalan itu (dan juga persoalan-persoalan rumah

tangga lainnya) dimusyawarahkan antara suami-istri, dengan cara ma'ruf dan tidak dibebani

melainkan menurut kadar kesanggupannya. Ayat ini menjelaskan bahwa etika bermusyawarah

dalam Islam yang dimaksud adalah:

Kelima, dalam bermusyawarah hendaknya dengan cara yang ma’ruf artinya baik dan tidak

dibebani tanggung jawab sendiri, melainkan tanggung jawab bersama menurut kadar

kesanggupannya.

4. QS. asy-Syûrâ ayat: 38,

Allah menyatakan bahwa orang mukmin akan mendapat ganjaran yang lebih baik dan

kekal di sisi Allah. Adapun yang dimaksud dengan orang-orang mukmin itu adalah:
Artinya:

dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat,

sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka

menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.[12]

Ayat ini turun sebagai pujian kepada kelompok Muslim Madinah (Anshâr) yang bersedia

membela Nabi Saw. dan menyepakati hal tersebut melalui musyawarah yang mereka laksanakan

di rumah Abu Ayyub al-Anshari. Namun demikian, ayat ini juga berlaku umum, mencakup

setiap kelompok yang melakukan musyawarah.

Etika yang dapat diambil pada ayat tersebut tidak lain adalah:

Keenam, setiap anggota musyawarah arus memiliki iman kepada Tuhannya sebagai dasar dari

sikap yang akan dilahirkan saat terjadi musyawarah, sehingga akan terjadi musyawarah yang

penuh rahmat dari Tuhan.

5. QS. An-Nisâ' ayat: 59.


Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara

kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada

Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari

kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.[13]

Sungguh tepat keterangan pakar tafsir Muhammad Rasyid Ridha:

Allah telah menganugerahkan kepada kita kemerdekaan penuh dan kebebasan sempurna di

dalam urusan dunia dan kepentingan masyarakat dengan jalan memberi petunjuk untuk

melakukan musyawarah. Yakni yang dilakukan oleh orang-orang cakap dan terpandang yang

kita percayai, untuk menetapkan bagi kita (masyarakat) pada setiap periode hal-hal yang

bermanfaat dan membahagiakan masyarakat. Kita sering mengikat diri sendiri dengan berbagai

ikatan (syarat) yang kita ciptakan, kemudian kita namakan syarat itu ajaran agama. Namun, pada

akhirnya syarat-syarat itu membelenggu diri kita.

Dari ayat di atas, bahwa jelas bahwa etika yang dapat dipahami saat dilakukan

musyawarah yakni:
ketujuh, harus taat dan patuh kepada Allah Swt, Rasul Saw dan ulil amri/pemimpin serta jika

terjadi perbedaan pendapat pada saat bermusyawarah, maka kembalikan masalahannya pada

alqur’an dan hadis.

6. QS. al-Mu'min ayat: 28,

Artinya:
Dan seorang laki-laki yang beriman di antara Pengikut-pengikut Fir'aun yang Menyembunyikan

imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena Dia menyatakan:

"Tuhanku ialah Allah Padahal Dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-

keterangan dari Tuhanmu. dan jika ia seorang pendusta Maka Dialah yang menanggung (dosa)

dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya

kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang

melampaui batas lagi pendusta.[14]

Sesuai dengan ayat tersebut di atas, bahwa etika bermusyawarah yakni:

Kedelapan, tidak dibenarkan setiap peserta musyawarah berkata dusta dan juga bertindak

melampaui batas-batas kewajaran dalam berbuat dan bertindak, apalagi pada saat memutuskan

suatu perkara.

7. QS. Yusuf ayat: 52.

Artinya:
Yusuf berkata: "Yang demikian itu agar Dia (Al Aziz) mengetahui bahwa Sesungguhnya aku

tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya

orang-orang yang berkhianat.[15]

Dalam hal menjalankan keputusan pada setiap hasil musyawarah, maka dituntut bagi para

peserta musyawarah harus memiliki etika:

Kesembilan, tidak dibenarkan berkhianat atas segala keputusan rapat atau musyawarah

sekalipun ada peserta yang tidak menerima keputusan rapat tersebut dikarenakan kalah dalam hal

pemilihan keputusan dengan suara terbanyak. Artinya mau tidak mau, konsekwensinya harus

diterima dan dilaksanakan.

Musyawarah di dalam Islam membenarkan keputusan pendapat mayoritas, tetapi menurut

sementara pakar ia tidaklah mutlak. Demikian Dr. Ahmad Kamal Abu Al-Majad, seorang pakar

Muslim Mesir kontemporer dalam bukunya Hiwar la Muwayahah (Dialog Bukanlah

Konfrontasi). Agaknya yang dimaksud adalah bahwa keputusan janganlah langsung diambil

berdasar pandangan mayoritas setelah melakukan sekali dua kali musyawarah, tetapi hendaknya

berulang-ulang hingga dicapai kesepakatan.

Ini karena musyawarah dilaksanakan oleh orang-orang pilihan yang memiliki sifat-sifat

terpuji serta tidak memiliki kepentingan pribadi atau golongan, dan dilaksanakan sewajarnya

agar disepakati bersama. Sekalipun ada di antara mereka yang tidak menerima keputusan, itu

dapat menjadi indikasi adanya sisi-sisi yang kurang berkenan di hati dan pikiran orang-orang

pilihan walaupun mereka minoritas, sehingga masih perlu dibicarakan lebih lanjut agar mencapai

mufakat (untuk menemukan "madu" atau yang terbaik). Ini merupakan salah satu bentuk

musyawarah di dalam Islam.


Memang, apabila pembicaraan berlarut tanpa menemukan mufakat, dan tidak ada jalan

lain kecuali memilih pandangan mayoritas, saat itu dapat dikatakan bahwa kedua pandangan

masing-masing baik, tetapi yang satu jauh lebih baik. Di dalam kaidah agama diajarkan apabila

terdapat dua pilihan yang sama-sama baik, pilihlah yang lebih banyak sisi baiknya, dan jika

keduanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya.

Demikian sekilas mengenai etika musyawarah di dalam Islam. Agaknya dapat

disimpulkan, bahwa musyawarah diperintahkan oleh al-Quran, serta dinilai sebagai salah satu

prinsip hukum dan politik untuk umat manusia.

Prinsip-prinsip Dasar Muamalah


Thursday, 3 November 2011 (3:47 am) / Ekonomi & Bisnis, Ekonomi Syari'ah

Menyimak pagi bersama khasnya aktivitas awalan: sang pedagang dengan lapaknya, sang

karyawan dengan berkasnya, mahasiswa dengan makalahnya, pengangguran dengan harapannya,

tukang rumput dengan guntingnya, nelayan dengan lautnya, petani dengan musim tanamnya,

polantas dengan peluitnya, pengacara dengan kasusunya, dan lain-lain.

Itulah gambaran umum tentang muamalah. Interaksi manusia dengan segala tujuannya untuk

memenuhi kebutuhan keduniaan. Interaksi ini diatur dalam Islam dalam Fiqh Muamalat. Berbeda halnya

dengan Fiqh Ibadah, Fiqh Muamalat bersifat lebih fleksibel dan eksploratif. Hukum semua aktifitas itu

pada awalnya adalah boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya, inilah kaidah ushul fiqhnya. Fiqh

Muamalat pada awalnya mencakup semua aspek permasalahan yang melibatkan interaksi manusia,

seperti pendapat Wahbah Zuhaili, hukum muamalah itu terdiri dari hukum keluarga, hukum kebendaan,
hukum acara, perundang-undangan, hukum internasional, hukum ekonomi dan keuangan. Tapi,

sekarang Fiqh Muamalat dikenal secara khusus atau lebih sempit mengerucut hanya pada hukum yang

terkait dengan harta benda.

Begitu pentingnya mengetahui Fiqh ini karena setiap muslim tidak pernah terlepas dari kegiatan

kebendandaan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhannya. Maka dikenallah objek yang dikaji dalam

fiqh muamalat,[1] walau para fuqaha (ahli fiqih) klasik maupun kontemporer berbeda-beda, namun

secara umum fiqh muamalah membahas hal berikut : teori hak-kewajiban, konsep harta, konsep

kepemilikan, teori akad, bentuk-bentuk akad yang terdiri dari jual-beli, sewa-menyewa, sayembara, akad

kerjasama perdagangan, kerjasama bidang pertanian, pemberian, titipan, pinjam-meminjam,

perwakilan, hutang-piutang, garansi, pengalihan hutang-piutang, jaminan, perdamaian, akad-akad yang

terkait dengan kepemilikan: menggarap tanah tak bertuan, ghasab (meminjam barang tanpa izin – edt),

merusak, barang temuan, dan syuf’ah (memindahkan hak kepada rekan sekongsi dengan mendapat

ganti yang jelas).

Setelah mengenal secara umum apa saja yang dibahas dalam fiqh muamalat, ada prinsip dasar

yang harus dipahami dalam berinteraksi. Ada 5 hal yang perlu diingat sebagai landasan tiap kali

seorang muslim akan berinteraksi. Kelima hal ini menjadi batasan secara umum bahwa transaksi

yang dilakukan sah atau tidak, lebih dikenal dengan singkatan MAGHRIB, yaitu Maisir, Gharar,

Haram, Riba, dan Bathil.[2]

1. Maisir

2. Gharar

Menurut bahasa gharar berarti pertaruhan. Terdapat juga mereka yang menyatakan bahawa

gharar bermaksud syak atau keraguan.[3] Setiap transaksi yang masih belum jelas barangnya

atau tidak berada dalam kuasanya alias di luar jangkauan termasuk jual beli gharar. Boleh
dikatakan bahwa konsep gharar berkisar kepada makna ketidaktentuan dan ketidakjelasan

sesuatu transaksi yang dilaksanakan, secara umum dapat dipahami sebagai berikut :

– Sesuatu barangan yang ditransaksikan itu wujud atau tidak;

– Sesuatu barangan yang ditransaksikan itu mampu diserahkan atau tidak;

– Transaksi itu dilaksanakan secara yang tidak jelas atau akad dan kontraknya tidak jelas, baik

dari waktu bayarnya, cara bayarnya, dan lain-lain.

Misalnya membeli burung di udara atau ikan dalam air atau membeli ternak yang masih dalam

kandungan induknya termasuk dalam transaksi yang bersifat gharar. Atau kegiatan para

spekulan jual beli valas.

3. Haram

Ketika objek yang diperjualbelikan ini adalah haram, maka transaksi nya mnejadi tidak sah.

Misalnya jual beli khamr, dan lain-lain.

4. Riba

Pelarangan riba telah dinyatakan dalam beberapa ayat Al Quran. Ayat-ayat mengenai pelarangan

riba diturunkan secara bertahap. Tahapan-tahapan turunnya ayat dimulai dari peringatan secara

halus hingga peringatan secara keras.

Tahapan turunnya ayat mengenai riba dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, menolak anggapan bahwa riba tidak menambah harta justru mengurangi

harta. Sesungguhnya zakatlah yang menambah harta. Seperti yang dijelaskan dalam

QS. Ar Rum : 39 .

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta

manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan
berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang

berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)"

Kedua, riba digambarkan sebagai suatu yang buruk dan balasan yang keras kepada

orang Yahudi yang memakan riba. Allah berfiman dalam QS. An Nisa : 160-161 .

“Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka

(memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan

karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan

mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya,

dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah

menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih."

Ketiga, riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat

ganda. Allah menunjukkan karakter dari riba dan keuntungan menjauhi riba seperti

yang tertuang dalam QS. Ali Imran : 130.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat

ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan."

Keempat, merupakan tahapan yang menunjukkan betapa kerasnya Allah

mengharamkan riba. QS. Al Baqarah : 278-279 berikut ini menjelaskan konsep final

tentang riba dan konsekuensi bagi siapa yang memakan riba.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba

(yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak

mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya
akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu

pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya."

5. Bathil

Dalam melakukan transaksi, prinsip yang harus dijunjung adalah tidak ada kedzhaliman yang

dirasa pihak-pihak yang terlibat. Semuanya harus sama-sama rela dan adil sesuai takarannya.

Maka, dari sisi ini transaksi yang terjadi akan merekatkan ukhuwah pihak-pihak yang terlibat dan

diharap agar bisa tercipta hubungan yang selalu baik. Kecurangan, ketidakjujuran, menutupi

cacat barang, mengurangi timbangan tidak dibenarkan. Atau hal-hal kecil seperti menggunakan

barang tanpa izin, meminjam dan tidak bertanggungjawab atas kerusakan harus sangat

diperhatikan dalam bermuamalat.