Anda di halaman 1dari 6

BAB II

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Medis
1. Defenisi
Stroke atau CVA adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah kebagian otak
(Brunner&Suddarth, 2002). Stroke hemoragi adalah stroke
karena pecahnya pembuluh darah sehingga menghambat
aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu
daerah otak dan merusaknya (Pudiastuti,2011).
Stroke hemoragik merupakan perdarahan serebral dan
mungkin perdarahan subaraknoid. Di sebabkan oleh pecahnya
pembuluh darah otak pada area otak tertentu. Biasanya
kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun
bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran klien umumnya
menurun (Muttaqin, 2008).
Stroke adalah sindrom yang terjadi dari tanda/gejala
hilangnya fungsi saraf pusat fokal (atau global) yang
berkembang cepat (dalam detik atau menit) (Ginsberg, 2008).
Selain itu, stroke merupakan sindrom yang disebabkan oleh
gangguan peredaran darah otak dengan awitan akut, disertai
manifestasi klinis berupa defisit neurologis dan bukan sebagai
tumor, trauma ataupun infeksi susunan saraf pusat, namun
karena pecahnya pembuluh arteri, vena, dan kapiler. Stroke ini
meningkat seiring pertambahan usia (Dewanto, 2009 dan
Muttaqin, 2008). Stroke biasanya diakibatkan oleh empat
kejadian, yaitu (1) trombosis (bekuan darah di dalam pembuluh
darah otak atau leher), (2) embolisme serebral (bekuan darah
atau material lain yang dibawa ke otak dari bagian tubuh yang
lain), (3) iskemia (penurunan aliran darah ke otak), dan (4)
hemoragi serebral (pecahnya pembuluh darah serebral
sehingga perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar
otak) (Smeltzer & Brenda, 2002).
Adapun stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi ketika
pembuluh darah di otak pecah sehingga menyebabkan iskemia
(penurunan aliran) dan hipoksia di sebelah hilir (Corwin, 2009).
Menurut Muttaqin (2008), stroke hemoragik merupakan
perdarahan serebri dan mungkin perdarahan subarachnoid
yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada
daerah otak tertentu dan biasanya terjadi saat melakukan
aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat.
2. Etiologi
a. Perdarahan intraserebral
Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama
karena hipertensi memgakibatkan darah masuk ke dalam
jaringan otak, membentuk massa yang menekan jaringan
otak dan menimbulkan edema otak. peningkatan TIK yang
terjadi cepat, dapat mengakibatkan kematian mendadak
karena herniasi otak. Perdarahan intraserebral yang
disebabkan karena hipertensi sering di jumpai di daerah
putamen, thalamus, pons, dan serebelum.
b. Perdarahan Subarakhnoid
Dapat terjadi karena trauma atau hipertensi, penyebab
tersering adalah kebocoran anurisma pada area sirkulus
Willisi dan Malvormasi arteri – vena kongenetal. Gejala-
gejala pada umumnya mendadak, peningkatan intracranial
(TIK), perubahan tingkat kesadaran, sakit kepala (mungkin
hebat), vertigo, kacau mental, stupor sampai koma,
gangguan ocular, hemiparesis atau hemiplegic, mual
muntah, iritasi meningeal (kekakuan nukhal, kernig’s,
Brudzinski’s positif, Fotofobia, penglihatan ganda, peka
rangsang, kegelisahan, peningkatan suhu tubuh)
c. Perdarahan Serebral
Faktor risiko stroke
Beberapa faktor penyebab stroke antara lain:
1) Hipertensi, merupakan faktor risiko utama
2) Penyakit kardiovaskular-embolisme serebral berasal dari
jantung.
3) Kolesterol darah tinggi.
4) Obesitas atau kegemukan.
5) Peningkatan hematokrit meningkatkan risiko infark
serebral.
6) Diabetes mellitus terkait dengan aterogenesis
terakselerasi.
7) Kontrasepsi oral (khususnya dengan
hipertensi,merokok,dan kadar estrogen tinggi)
8) Merokok
9) Penyalahgunaan obat (khususnya kokain)
10) Konsumsi alcohol (muttaqin, 2008)

3. Patofisiologi
Infark serebral adalah berkurangnya suplai darah ke area
tertentu di otak. Luasnya infark bergantung pada faktor-faktor
seperti lokasi dan besarnya pembuluh darah dan adekuatnya
sirkulasi kolateral terhadap area yang disuplai oleh pembuluh
darah yang tersumbat. Suplai darah ke otak dapat berubah
(makin lambat atau makin cepat) pada gangguan lokal
(thrombus, emboli, perdarahan dan spasme vascular) atau
karena gangguan umum (hipoksia karena gangguan paru dan
jantung). Aterosklerosis sering sebagai factor penyebab infark
pada otak. Thrombus dapat berasal dari plak arterosklerotik,
atau darah dapat beku pada area stenosis, tempat aliran darah
mengalami perlambatan atau terjadi turbulensi.
Thrombus dapat dipecah dari dinding pembuluh darah
terbawa sebagai emboli dalam aliran darah. Thrombus
mengakibatkan iskemia jaringan otak yang disuplai oleh
pembuluh darah yang bersangkutan dan edema dan kogestri
disekitar area. Area edema ini menyebabkan disfungsi yang
lebih besar daripada area infark itu sendiri. Edema dapat
berkurang dalam beberapa jam atau kadang-kadang sesudah
beberapa hari. Dengan berkurangnya edema klien mulai
menunjukkan perbaikan. Oleh karena thrombosis biasanya
tidak fatal, jika tidak terjadi perdarahan massif. Oklusi pada
pembuluh darah serebral oleh embolus menyebabkan edema
dan nekrosis diikuti thrombosis. Jika terjadi septic infeksi akan
meluas pada dinding pembuluh darah maka akan terjadi abses
atau ensefalitis atau jika sisa infeksi berada pada pembuluh
darah yang tersumbat menyebabkan dilatasi aneurisme
pembuluh darah. Hal ini akan menyebabkan perdarahan
serebral, jika aneurisme pecah atau rupture.

Perdarahan pada otak disebabkan oleh rupture


arteriosklerotik dan hipartensi pembuluh darah.perdarahan
intrasirebral yang sangat luas akan lebih sering menyebabkan
kematian dibandingkan keseluruhan penyakit
serebrovaskular,karena perdarahan yang luas terjadi destruksi
masa otak,peningkatan tekanan intracranial dan yang lebih
berat dapat mengakibatkan herniasi otak pada falk serebri atau
lewat foramen magnum. Kematian dapat disebabkan oleh
kompresi batang otak,henisfer otak,dan perdarahan sibatang
otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke bataang
otak.Perembesan darah ke ventrikel otak terjadi pada sepertiga
kasus perdarahan otak di nucleus kaudatus,thalamus dan pons.
Jika sirkulasi serebral terhambat, dapat berkembang enuksia
serebral.perubahan yang oleh enuksia serebral dapat reversible
untuk waktu 4 sampai 6 menit. Perubahan irreversible jika
anoksia lebih dari 10 menit. Anoksia serebral dapat terjadi oleh
karena gangguan yang bervariasi salah satunya henti jantung.
Selain kerusakan parenkin otak,akibat volume perdarahan yang
relativ banyak akan mengakibatkan peningkatan tekanan
intracranial dan penurunan tekanan perfusi otak serta
gangguan drainase otak. Elemen-eleman vaso aktiv darah yang
keluar dan kaskade iskemik akibat menurunya tekanan
perfusi,menyebabkan saraf di area yg terkena darah dan
sekitarnya tertekan lagi. Jumlah darah yang keluar menentukan
prognosis. Jika volume darah lebih dari 60cc maka resiko
kematian sebesar 93% pada perdarahan dalam dan 71% pada
perdarahan logar. Sedangkan jika terjadi perdarahan seregral
dengan volume antara 30 sampai 60cc diperkirakan
kemungkinan kematian sebesar 75%,namun volume darah 5cc
dan terdapat di pons sudah berakibat fatal.

4. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis stroke tergantung dari sisi atau bagian
mana yang terkena, rata-rata serangan, ukuran lesi dan adanya
sirkulasi kolateral.
Pada stroke akut gejala klinis meliputi :
a. Kelumpuhan wajah atau anggota badan sebelah
(hemiparesis) yang timbul secara mendadak
b. Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota
badan
c. Penurunan kesadaran (konfusi, delirium, letargi, stupor,
atau koma)
d. Afasia (kesulitan dalam bicara)
e. Disatria (bicara cadel atau pelo)
f. Gangguan penglihatan, diplopia
g. Ataksia
h. Verigo, mual, muntah, dan nyeri kepala (Tarwoto, 2007)
B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian