Anda di halaman 1dari 9

1.

ALLOPURINOL
Allopurinol adalah obat yang digunakan untuk menurunkan kadar asam urat di
dalam darah. Selain karena pola makan yang kurang sehat, kadar asam urat juga bisa naik
akibat pengobatan kemoterapi pada penderita kanker. Kadar asam urat yang tinggi tidak
hanya dapat menyebabkan penyakit asam urat atau gout, namun juga bisa menyebabkan
pembentukan batu ginjal.
a. Nama zat aktif : Allupurinol
b. Merek dagang: Ponuric, Sinoric, Puricemia, Zyloric
c. Indikasi dan Kegunaan Allopurinol obat apa? Tentu bagi sebagian orang sudah tidak
terasa asing bahkan sering mendengar obat dengan nama ataupun obat dengan
kandungan allopurinol. Berikut indikasi ataupun kegunaannya:
 Hiperurisemia primer : gout
 Hiperurisemia sekunder : mencegah pengendapan asam urat dan kalsium
oksalat. Produksi berlebihan asam urat antara lain pada keganasan, polisitemia
vera, terapi sitostatik.

d. Kontraindikasi Namun demikian, tidak semua orang boleh menggunakan obat ini,
alopurinol tidak boleh digunakan untuk:
 Penderita yang hipersensitif atau alergi terhadap allopurinol ataupun komponen
lain yang terkandung dalamm sediaan obat.
 Keadaan serangan akut gout
e. Kategori kehamilan dan menyusui :
Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping
terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya
boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko
terhadap janin.
f. Bentuk obat : tablet dan kapsul
g. Peringatan:
 Harap berhati-hati jika menderita gangguan pada ginjal dan hati.
 Beri tahu dokter jika memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, atau sedang
menjalani program diet.
 Allopurinol bisa menyebabkan kantuk. Karena itu, jangan mengemudikan
kendaraan atau mengoperasikan alat berat setelah mengonsumsi obat ini.
 Tanyakan dosis allopurinol untuk anak-anak kepada dokter.
 Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.
h. Dosis Allopurinol
Dosis dewasa :
 Serangan asam urat (gout) ringan : 200 – 300 mg per hari.
 Serangan asam urat (gout) sedang / berat : 400 – 600 mg per hari.
 Hiperurisemia karena obat antikanker : 600 – 800 mg per hari, dimulai 1 –
2 hari sebelum kemoterapi.
 Dosis minimal : 100 – 200 mg per hari.
 Dosis maksimal : 800 mg per hari.
 Terdapat penyesuaian dosis sesuai dengan fungsi ginjal.

Dosis anak :
Tablet
 Hiperurisemia : 10 mg/kg/hari dibagi menjadi 2 kali pemberian ; maksimal 600
mg / hari.
 Hiperurisemia karena obat antikanker :
o Usia < 6 tahun : 150 mg / hari dibagi menjadi 3 kali pemberian.
o Usia 6 – 10 tahun : 300 mg / hari dibagi menjadi 3 – 4 kali pemberian.
i. Mengonsumsi Allopurinol dengan Benar
Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada kemasan allopurinol
sebelum mulai mengonsumsinya. Allopurinol sebaiknya dikonsumsi sesudah makan
dan minumlah cukup air saat menelan tablet ini.
Pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis
berikutnya. Usahakan untuk selalu mengonsumsi allopurinol pada jam yang sama tiap
hari agar efeknya terhadap tubuh bisa maksimal.
Bagi pasien yang lupa mengonsumsi allopurinol, disarankan segera
melakukannya jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat. Jika
sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.
Biasanya pengobatan dengan allopurinol dilakukan secara jangka panjang
agar bisa efektif, yaitu sekitar dua hingga tiga bulan. Oleh sebab itu penting untuk
minum allopurinol tiap hari sesuai jangka waktu yang ditetapkan oleh dokter.
Agar hasilnya maksimal, pengobatan sebaiknya dikombinasikan dengan gaya
hidup sehat. Misalnya dengan mengonsumsi makanan sehat, menghindari minuman
dengan kadar gula atau alkohol yang tinggi, dan berusaha menjaga berat badan sehat.
j. Interaksi Obat
Jika dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan lain, allopurinol bisa
menimbulkan dampak tertentu, misalnya penurunan efek obat atau justru
meningkatkan risiko efek samping.
Untuk mencegah hal tersebut terjadi, hindari mengonsumsi allopurinol
bersamaan dengan azathioprine, captopril, cyclophosphamide, enalapril, enalaprilat,
fluorouracil, mercaptopurine, pegloticase, tegafur, aluminum hydroxide,
cyclosporine, phenprocoumon, vidarabine, dan warfarin. Namun apabila diperlukan
penggunaan obat-obatan tersebut bersama allopurinol, dokter akan melakukan
penyesuaian dosis.

k. Kenali Efek Samping dan Bahaya Allopurinol


Sama seperti obat-obat lain, allopurinol juga berpotensi menyebabkan efek
samping. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi obat ini
adalah sakit perut, mual, dan diare. Sedangkan efek samping yang tergolong jarang
adalah ruam pada kulit.
Disarankan untuk segera menemui dokter jika Anda mengalami efek samping
yang sangat mengganggu setelah mengonsumsi allopurinol.

2. PENGERTIAN HALOPERIDOL
Haloperidol adalah obat golongan antipsikotik yang bermanfaat untuk mengatasi
gejala psikosis pada gangguan mental, seperti skizofrenia. Obat ini juga dapat membantu
mengurangi gejala sindrom Tourette, seperti gerakan otot yang tidak terkontrol.
Haloperidol bekerja dengan mengembalikan keseimbangan zat kimia alami dalam
otak, yakni neurotransmitter, sehingga dapat menimbulkan rasa tenang, meredakan
kegelisahan, serta mengurangi perilaku agresif dan keinginan untuk menyakiti orang lain.
a. Nama zat aktif :Haloperidol
b. Merek dagang: Lodomer, Dores, Upsikis, Haloperidol, Haldol Decanoas, Govotil,
Serenace, Seradol
c. Indikasi dan Kegunaan Haloperidol obat apa? Berdasarkan mekanisme kerja yang
dimiliki obat ini, maka obat ini dapat digunakan untuk: Meredakan gejala skizofrenia.
Mengobati skizoafektif. Mengobati gerakan dan ucapan spontan yang tidak terkontrol
pada penderita sindrom Tourette. Mengatasi perilaku tidak terkontrol pada anak-anak
hiperaktif. Meredakan gangguan mania (perasaan senang yang luar biasa dan begitu
aktif). Mengatasi tindakan agitasi. Membantu mengobati tindakan agresi.
Menurunkan pikiran negatif dan halusinasi. Kontraindikasi Banyak sekali manfaat
haloperidol ini untuk mengatasi gangguan kejiwaan dan emosional, namun tidak
semua orang bisa menggunakan obat ini. Perhatikan! obat ini tidak boleh digunakan
oleh orang dengan kondisi seperti di bawah ini: Memiliki hipersensitif atau alergi
terhadap kandungan obat ini. Penderita penyakit Parkinson. Pasien depresi berat SSP.
Penderita supresi sumsum tulang. Memiliki penyakit jantung. Penderita gangguan
fungsi hati kronis. Pasien koma. Pasien lansia yang memiliki penyakit Demensia.

d. Kategori kehamilan dan menyusui : Kategori C: Studi pada binatang


percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada
studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya
manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.
a. Haloperidol dapat diserap ke dalam ASI. Bila Anda sedang menyusui,
jangan menggunakan obat ini tanpa berkonsultasi lebih dahulu dengan
dokter.

e. Bentuk obat : Tablet, obat tetes mulut, suntik


f. Peringatan:
 Harap berhati-hati bagi penderita gangguan jantung, gangguan pembuluh darah,
gangguan sistem saraf pusat, glaukoma, sindrom mulut kering, atau penyakit
Alzheimer.
 Orang-orang lanjut usia yang menderita demensia tidak boleh mengonsumsi obat
ini.
 Harap berhati-hati dan beri tahu dokter jika sedang menjalani pengobatan dengan
obat antikonvulsan (antikejang) dan obat pengencer darah.
 Apabila terjadi reaksi alergi atau overdosis setelah menggunakan haloperidol,
segera temui dokter.
g. Dosis Haloperidol
Berikut ini adalah dosis umum penggunaan haloperidol berdasarkan kondisi,
bentuk obat, dan usia:
 Dosis Dewasa untuk ICU Agitation Haloperidol lactate:IV, intermiten: 0.03-
0.15 mg/kg IV (2-10 mg) setiap 30 menit hingga 6 jam.IV, infus: 3-25 mg/jam
dengan infus IV berkelanjutan, digunakan untuk pasien ventilator dengan agitasi
dan delirium.
 Dosis Dewasa untuk Dementia Untuk masalah perilaku non psikotik berkaitan
dengan demensia:Dosis awal: 0.5 mg secara oral 2-3 kali sehari.Dosis rumatan:
0.5-3 mg secara oral 2 kali sehari.
 Dosis Dewasa untuk ManiaOral:Dosis awal: 0.5-5 mg secara oral 2-3 kali
sehariDosis rumatan: 1-30 mg/hari dalam 2-3 dosis terbagi. Terkadang,
Haloperidol digunakan dalam dosis di atas 100 mg untuk pasien yang sangat
kebal; meski begitu, pemakaian klinis terbata belum mendemonstrasikan
keamanan pemberian jangka panjang pada dosis ini.Parenteral:Haloperidol
Lactate:2-5 mg IM atau IV untuk kontrol segera. Dapat diulang setiap 4-8 jam.
Dosis hingga 8-10 mg dapat diberikan intramuskular. Pasien teragitasi akut
dapat membutuhkan suntikan per jam.
 Dosis Dewasa untuk Mual/Muntah Oral:1-5 mg secara oral setiap 4-6 jam
sesuai kebutuhan.Parenteral:Haloperidol lactate:1-5 mg IM atau IV setiap 4-6
jam sesuai kebutuhan.
 Dosis Dewasa untuk PsikosisOral:Dosis awal: 0.5-5 mg secara oral 2-3 kali
sehariDosis rumatan: 1-30 mg/hari dalam 2-3 dosis terbagi. Dosis harian hingga
100 mg telah digunakan. Terkadang, Haloperidol digunakan dalam dosis di atas
100 mg untuk pasien yang sangat kebal; meski begitu, pemakaian klinis terbata
belum mendemonstrasikan keamanan pemberian jangka panjang pada dosis
ini.Parenteral:Haloperidol lactate:2-5 mg IM atau IV untuk kontrol segera.
Dapat diulang setiap 4-8 jam. Dosis hingga 8-10 mg dapat diberikan
intramuskular. Pasien teragitasi akut dapat membutuhkan suntikan per jam.
 Haloperidol decanoate:Dosis awal: 10-15 kali dosisi harian oral sebelumnya
intramuskular setiap 3-4 minggu. Dosis awal tidak lebih dari 100 mg dan harus
diberikan dalam 3-7 hari. Pengalaman terbatas dengan dosis lebih dari 450
mg/bulan. Jangan berikan secara IV.
 Dosis Dewasa untuk Sindroma TouretteDosis awal: 0.5-2 mg secara oral 2-3
kali sehari.Dosis rumatan: dapat ditingkatkan dalam 5-7 hari menjadi 3-5 mg 2-
3 kali sehari untuk kasus yang lebih berat atau kebal.

Dosis Haloperidol untuk anak-anak

 Dosis Anak untuk PsikosisOral:≤ 2 tahun atau kurang dari or 15 kg: Tidak
dianjurkan.3-12 tahun dan 15-40 kg:Dosis awal: 0.5 mg/hari secara oral dalam
2-3 dosis terbagi.Dosis rumatan: dosis harian dapat ditingkatkan setiap 5-7 hari
dengan peningkatan 0.25-0.5 mg. Rentang biasanya 0.05-0.15 mg/kg/hari dalam
2-3 dosis terbagi. Sedikit bukti bahwa perbaikan perilaku meningkat dengan
dosis lebih dari 6 mg/hari.13-18 tahun dan lebih dari 40 kg:Dosis awal: 0.5-5
mg secara oral 2-3 kali sehari.Dosis rumatan: 1-30 mg/hari dalam 2-3 dosis
terbagi. Dosis harian hingga 100 mg telah digunakan. Terkadang, Haloperidol
digunakan dalam dosis di atas 100 mg untuk pasien yang sangat kebal; meski
begitu, pemakaian klinis terbata belum mendemonstrasikan keamanan
pemberian jangka panjang pada dosis ini.Parenteral:Haloperidol lactate:≤ 5
tahun: Tidak dianjurkan.6-12 tahun: 1-3 mg IM setiap 4-8 jam sesuai kebutuhan
(maksimal 0.15 mg/kg/hari). Pasien harus diganti ke terapi oral sesegera
mungkin.13-18 tahun: 2-5 mg IM setiap 4-8 jam sesuai kebutuhan.Haloperidol
decanoate:≤ 17 tahun: keamanan dan efikasi belum diketahui.

 Dosis Anak untuk Sindrom Tourette≤2 tahun atau kurang dari 15 kg: Tidak
dianjurkan.3-12 tahun dan 15-40 kg:Dosis awal: 0.5 mg/hari secara oral dalam
2-3 dosis terbagi.Dosis rumatan: dosis harian dapat ditingkatkan dengan
peningkatan 0.25-0.5 mg hingga 0.05-0.075 mg/kg/hari. Sedikit bukti bahwa
perbaikan perilaku meningkat dengan dosis lebih dari 6 mg/hari.13 -18 tahun
dan lebih dari 40 kg: 1-2 mg secara oral 2-3 kali sehari.

h. Menggunakan Haloperidol dengan Benar


Gunakan haloperidol sesuai dengan anjuran dokter.
Haloperidol tablet dapat dikonsumsi sebelum atau setelah makan. Jika diresepkan
dalam bentuk tablet, gunakan air putih untuk mempermudah menelan obat ini. Untuk
haloperidol dalam bentuk obat tetes minum, konsumsilah sesuai dengan takaran yang ada
pada botol atau kemasan obat. Jangan menggunakan takaran lain untuk mengonsumsi
obat ini.
Sedangkan, untuk haloperidol dalam bentuk suntik, pemberian obat harus
dilakukan oleh petugas medis.
Usahakan untuk mengonsumsi haloperidol pada waktu yang sama setiap harinya,
untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Jika terlupa, segera konsumsi obat ini apabila
jeda waktu dengan dosis berikutnya tidak terlalu jauh. Jika sudah dekat, abaikan dan
jangan menggandakan dosis.

i. Interaksi Haloperidol dengan Obat Lain


Berikut ini adalah sejumlah interaksi yang mungkin dapat terjadi apabila
menggunakan haloperidol bersama dengan obat lain:
 Menurunnya kadar haloperidol dalam darah jika digunakan dengan carbamazepine
dan rifampicin.
 Meningkatkan risiko aritmia sekaligus menyebabkan gangguan keseimbangan
elektrolit dalam tubuh jika digunakan dengan diuretik.
 Meningkatnya kadar haloperidol dalam darah jika digunakan
dengan clozapine dan chlorpromazine.
 Menyebabkan gejala gangguan sistem saraf pusat jika digunakan dengan obat
penenang.

j. Efek Samping Haloperidol


Sama seperti obat pada umumnya, haloperidol juga memiliki efek samping
penggunaan. Efek samping tersebut meliputi:
 Disfungsi ereksi.
 Gangguan siklus menstruasi.
 Keinginan untuk terus bergerak (akathisia).
 Gangguan pada gerakan otot (distonia).
 Gerakan tidak terkendali pada lidah, wajah, dan bibir.
 Berat badan bertambah.
 Otot kaku.
 Gejala seperti penyakit Parkinson.
 Sakit kepala.
 Sulit tidur.
 Lemas.
SUMBER
Dorland’s Illustrated Medical Dictionary 32nd Edition. Elsevier. 2012.
MIMS Edisi Bahasa Indonesia, Volume 11. 2010.
www.medsafe.govt.nz/profs/datasheet/a/apoallopurinoltab.pdf.

Beri Nilai