Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN RENCANA ASUHAN KEFARMASIAN

Pada kasus tersebut, permasalahan utama dari pasien yaitu kanker ovarium. Disebutkan
bahwa pasien akan menjalani kemoterapi yang pertama dengan regimen CAP, dosis C = 600
mg, A = 60 mg, dan P = 60 mg. Dijelaskan dalam NCCN Guideline for Patients Ovarian
Cancer (2017), bahwa pembedahan sebenarnya merupakan terapi utama/ primer pada
kebanyakan kasus kanker ovarium. Sementara kemoterapi dapat digunakan sebagai terapi
adjuvan ataupun neoadjuvan. Dalam web KBBI (2018) disebutkan bahwa adjuvan bermakna
obat yang bekerja membantu berkhasiatnya obat atau terapi lain. Perbedaan dari adjuvan dan
neoadjuvan adalah waktu pemberiannya. Kemoterapi neoadjuvan diberikan sebelum
pembedahan untuk mengecilkan tumor sehingga pengambilan akan lebih mudah dan sempurna.
Sementara kemoterapi adjuvan diberikan sesudah operasi untuk mencegah tumbuhnya sel-sel
kanker yang tidak terambil atau masih tercecer dan tidak tampak oleh mata atau pemeriksaan-
pemeriksaan lain (Rasjidi, 2007).

Namun, dalam kasus seperti ini, dokter terutama dokter spesialis onkologi tentu sudah
lebih memahami apakah perlu dilakukan pembedahan pada pasien atau cukup diberi
kemoterapi. Pemberian saran untuk dilakukan pembedahan menurut kami bukan termasuk
ranah farmasis. Oleh karena itu, kami hanya memberikan rencana asuhan kefarmasian terkait
DRP yang sudah diperoleh. DRP pertama yaitu pasien memperoleh dosis regimen kemoterapi
yang lebih rendah dari seharusnya. Dosis kemoterapi dapat dihitung dengan menggunakan
BSA pasien. Diketahui BB pasien 50 kg dengan TB 160 cm, maka diperoleh BSA (body
surface area/ luas permukaan tubuh) dari pasien yaitu 1,49 m2. Regimen kemoterapi yang
diberikan oleh dokter terdiri dari Cyclophosphamide 500 mg/m2; Adriamycin 50 mg/m2; dan
Platamin 50 mg/m2. Berdasarkan BSA pasien, maka dosis yang seharusnya diberikan pada
pasien yaitu Cyclophosphamide 745 mg; Adriamycin 74,5 mg; dan Platamin 74,5 mg.

Pada kasus, diketahui bahwa pasien memiliki gangguan ginjal yang ditandai dengan
menurunnya nilai GFR hingga 70 mL/menit. Namun, dalam sumber Dosage Adjusment for
Cytotoxics in Renal Impairment dari The North London Cancer Network (2009) disebutkan
bahwa dosis cyclophosphamide tidak perlu disesuaikan apabila GFR pasien diatas 20 mL/menit.
Begitu pula dengan cisplatin (platamin) yang tidak perlu penyesuaian dosis apabila GFR pasien
diatas 60 mL/menit. Sementara untuk doxorubicin (adriamycin), tidak ada penyesuaian dosis
pada pasien dengan penurunan nilai GFR. Maka dari itu, kami merekomendasikan untuk
memberikan kemoterapi regimen CAP dengan dosis C = 745 mg; A = 74,5 mg; dan P = 74,5
mg.

Selanjutnya, untuk DRP kedua yaitu belum diberikannya anti-emetik pada pasien.
Kebanyakan regimen kemoterapi memberikan efek samping berupa mual-muntah (CINV /
Chemotherapy induced nausea and vomitting), sehingga perlu diberikan anti-emetik pada
pasien untuk mengantisipasi dan mengatasi kemungkinan CINV. Obat anti-emetik yang kami
rekomendasikan adalah golongan antagonis reseptor 5HT3 seperti ondansetron (Shinta, 2016).
Dosis ondansetron yang kami rekomendasikan untuk mual-muntah ringan yaitu 8 mg secara
per oral 1-2 jam sebelum terapi atau injeksi intravena lambat 8 mg sebelum terapi, dilanjutkan
dengan 8 mg per oral tiap 12 jam sampai dengan 5 hari. Sementara untuk muntah berat karena
kemoterapi maka dapat diberikan ondansetron 24 mg per oral 1-2 jam sebelum terapi atau
injeksi intravena lambat 8 mg sebelum terapi, diikuti dengan 8 mg dengan interval 4 jam untuk
2 dosis berikutnya (atau diikuti dengan infus intravena 1 mg/jam sampai 24 jam) kemudian
diikuti dengan 8 mg per oral tiap 12 jam selama 5 hari. Dosis ondansetron yang diberikan dapat
pula disesuaikan dengan kondisi pasien (Pionas, 2015).
DAFTAR PUSTAKA

BPOM RI, 2015, Ondansetron, tersedia di pionas.pom.go.id/monografi/ondansetron, diakses


pada 13 Oktober 2018.

Daniels, Susanna, 2009, Dosage Adjusment for Cytotoxics in Renal Impairment, The North
London Cancer Network, London.

KBBI, 2018, Adjuvan, tersedia di https://kbbi.web.id/adjuvan.html, diakses pada 13 Oktober


2018.

National Comprehensive Cancer Network, 2017, NCCN Guidelines for Patients Ovarian
Cancer, tersedia di https://www.nccn.org/patients/guidelines/ovarian/index.html,
diakses pada 13 Oktober 2018.

Rasjidi, Imam, 2007, Kemoterapi Kanker Ginekologi dalam Praktik Sehari-Hari, CV.
Sagungseto, Jakarta.

Shinta, Nindya dan Bakti Suraso, 2016, Terapi Mual Muntah Pasca Kemoterapi, Jurnal THT
– KL Vol. 9, No. 2, hlm. 74-83.