Anda di halaman 1dari 30

KEPERAWATAN JIWA

PENATALAKSANAAN PASIEN WAHAM

Faisal Kholid Fahdi, M.Kep.,Ners.


Disusun oleh Kelompok 3 :

1. Hany Luqianie I1032141004 8. Yolanda Yuniati I1032141035


2. Suci Ramadhanty I1032141005 9. Ananda Maharani P I1032141037
3. Deska Kurnia S I1032141018 10. Siti Annisa NH I1032141041
4. Irenius Efren I1032141019 11. Eka Putri F I1032141042
5. Teguh Ayatullah I1032141024 12. Delima Ritonga I1032141044
6. Agung Triputra I1032141028 13. Eni Sartika I1032141047
7. Destura I1032141030 14. Riri Fitri Sari I1032141048

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURAPONTIANAK

2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang
telah memberikan rahmat dan karunia – Nya, sehingga kami dapat menyusun dan
menyelesaikan makalah ini tepat waktu.

Makalah peran perawat terhadap pasien waham disusun untuk memenuhi


tugas mata kuliah keperawatan jiwa kelompok 3 APK 2014 mahasiswa
keperawatan UNTAN. Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih
kepada :

1. Faisal Kholid Fahdi, M.Kep.,Ners. Selaku dosen mata kuliah keperawatan


jiwa yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan demi
terselesaikannya makalah ini.
2. Rekan – rekan dan semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.

Namun, kami menyadari bahwa kekurangan dalam penyusunan makalah ini


pasti ada. Oleh karena itu, masukan berupa kritik dan saran yang bersifat
membangun senantiasa kami harapan demi perbaikan makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca baik itu mahasiswa
maupun masyarakat dan dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan yang berguna
untuk kita semua. Akhir kata penyusun ucapkan terimakasih.

Pontianak, 18 Oktober 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Manusia adalah makhluk hidup yang lebih sempurna dibandingkan
dengan makhluk yang lain. Konsep tentang manusia bermacam-macam. Ada
yang menyatakan bahwa manusia adalah hewan yang berakal. Adapula yang
menyatakan manusia adalah makhluk yang hina dan rendah karena diciptakan
dari tanah. Ini semua menandakan bahwa manusia adalah makhluk misterius
(masalah manusia yang multi kompleks), dan manusia umumnya tidak
mampu mengetahui hakikat manusia secara utuh (Asmadi, 2008).
Kesehatan jiwa, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan
kesehatan sebagai “keadaan sehat fisik, mental, dan sosial, bukan semata-
mata keadaan tanpa penyakit”. Orang yang memiliki kesejahteraan
emosional, fisik, dan social dapat memenuhi tanggung jawab kehidupan,
berfungsi dengan efektif dalam kehidupan sehari-hari, dan puas dengan
hubungan interpersonal dan diri mereka sendiri (Videbeck, 2008).
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 menyatakan bahwa kesehatan
jiwa adalah kondisi ketika seorang individu dapat berkembang secara fisik,
mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari
kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif,
dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Pengertian
kesehatan jiwa tersebut dengan jelas menerangkan bahwa setiap individu
berhak untuk mendapatkan kualitas hidup yang layak yang dititikberatkan
pada perkembangan fisik, mental, spiritual, dan sosial, sehingga
memungkinkan individu tersebut mampu hidup produktif dan mampu
memberikan kontribusi untuk masyarakat. Berdasarkan pengertian tersebut
dapat disimpulkan bahwa pelayanan kesehatan bukan hanya ditujukan untuk
pelayanan fisik saja, melainkan harus melayani kesehatan jiwa dan sosial
serta bukan hanya mengobati penyakit, tetapi juga pengembangan kualitas
hidup yang sejahtera baik dari produktifitas, maupun sosial ekonomi. Dalam
penjelasan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 dijelaskan, hak penderita

1
gangguan jiwa sering terabaikan, baik secara hukum maupun secara sosial,
sehingga pelayanan kesehatan jiwa serta jaminan hak orang dengan gangguan
jiwa tidak bisa diwujudkan secara optimal yang menyebabkan menurunkan
produktivitas penderita, baik dalam bekerja maupun dalam beraktivitas
sehari-hari.
Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya
meningkatkan dan mempertahankan perilaku pasien yang berperan pada
fungsi yang terintegrasi system pasien atau klien dapat berupa individu,
keluarga, kelompok, organisasi, atau komunitas. American nurse Association
mendefinisikan keperawatan kesehatan jiwa sebagai suatu bidang spesialisasi
praktik keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai
ilmunya dan penggunaan diri yang bermanfaat sebagai kiatnya (Stuart, 2007).
Berdasarkan definisi diatas focus pertama pada klien keperawatan jiwa
adalah promotif dan preventif. Hal ini penting mengingat kekambuhan klien
gangguan jiwa tetap tinggi sekitar 15-20%. Perawatan klien yang sudah
menderita gangguan jiwa sangat lama antara 1-10 tahun. Hal itu memerlukan
biaya yang sangat tinggi dan sumberdaya yang sangat banyak. Berdasarkan
hal tersebut maka promotif dan maintenance kesehatan jiwa sangat penting.
Misalnya dengan cara mengadakan krisis senter, konsultasi remaja, konsultasi
pranikah, padat karya bagi pengangguaran, promosi kesehatan jiwa, gerakan
anti NAPZA, dan sebagainya. Menurut stuart, tiga area praktik keperawatan
mental yaitu perawatan langsung, komunikasi dan management menjadi tugas
perawat jiwa (Yosep, 2011 ).
Akhir-akhir ini semakin sering dijumpai orang-orang yang mengalami
stress atau depresi akibat tekanan hidup yang berkepanjangan, hal ini perlu
diwaspadai akan timbulnya masalah baru yang lebih buruk, yaitu terjadinya
“Anomali Jiwa”, penyimpangan jiwa kearah yang negatif. Sebagai contoh
karena tuntunan hidup atau profesinya, seperti artis, penyanyi, pejabat, dan
sebagainya. Keadaan dengan pola hidup yang cenderung memaksa karena
ingin mengikuti gaya hidup yang tidak sesuai dengan keyakinan batin
seseorang juga berpotensi memperbesar penyimpangan jiwa seseorang. Kita

2
mengenal penyimpangan jiwa klasik, yang dikenal luas, khususnya oleh
kalangan medis, seperti depresi, stres, skizofrenia, dan lain sebagainya.
Namun ada banyak penyimpangan jiwa lain yang akhir-akhir ini muncul,
sebagai contoh seperti egoisme, jenis kelamin banci, gay, lesbian. Ada juga
kasus seseorang karena pengalaman masa lalunya pernah diperlakukan buruk
atau mempunyai trauma dimasa kehidupannya dapat berdampak pada
gangguan kejiwaan. Akibat perubahan zaman, dewasa ini hilangnya rasa
kemanusiaan akan semakin tinggi dalam kehidupan masyarakat modern. Hal
tersebut mungkin merupakan suatu penyimpangan jiwa akibat egoisme yang
semakin tinggi ditengah-tengah kehidupan setiap individu maupun kelompok
(Junaidi, 2012).
Waham adalah suatu kepercayaan keyakinan atau ide yang salah dan
bertentangan dengan suatu kenyataan yang tidak ada kaitannya dengan latar
belakang budaya (Direja, 2011). Waham merupakan salah satu jenis
gangguan jiwa. Waham sering ditemui pada gangguan jiwa berat dan
beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan pada penderita
skizofrenia. Semakin akut psikosis semakin sering ditemui waham
disorganisasi dan waham tidak sistematis. Kebanyakan pasien skizofrenia
daya tiliknya berkurang dimana pasien tidak menyadari penyakitnya serta
kebutuhannya terhadap pengobatan, meskipun gangguan pada dirinya
dapatdilihat oleh orang lain (Tomb, 2003 dalam Purba, 2008).
Waham terjadi karena munculnya perasaan terancam oleh lingkungan,
cemas, merasa sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi sehingga individu
mengingkari ancaman dari persepsi diri atau objek realitas dengan
menyalahartikan kesan terhadap kejadian, kemudian individu
memproyeksikan pikiran dan perasaan internal pada lingkungan sehingga
perasaan, pikiran, dan keinginan negative tidak dapat diterima menjadi bagian
eksternal dan akhirnya individu mencoba memberi pembenaran personal
tentang realita pada diri sendiri atau orang lain ( Purba, 2008 ).
Adapun standar asuhan keperawatan yang diterapkan pada klien dalam
keperawatan jiwa yaitu strategi pelaksanaan komunikasi teraupetik. Dalam

3
melakukan strategi pelaksanaan komunikasi teraupetik perawat mempunyai
empat tahap komunikasi, yang setiap tahapnya mempunyai tugas yang harus
diselesaikan oleh perawat. Empat tahap tersebut yaitu tahap prainteraksi,
orientasi atau perkenalan, kerja dan terminasi. Dalam membina hubungan
teraupetik perawatklien, diperlukan ketrampilan perawat dalam
berkomunikasi untuk membantu memecahkan masalah klien. Perawat harus
hadir secara utuh baik fisik maupun psikologis terutama dalam penampilan
maupun sikap pada saat berkomunikasi dengan klien (Riyadi & purwanto,
2009).
Prevalensi gangguan waham di Amerika Serikat diperkirakan 0,025
sampai 0,03 persen. Usia onset kira - kira 40 tahun, rentang usia untuk onset
dari 18 tahun sampai 90 tahunan, terdapat lebih banyak pada wanita.
Menurut penelitian WHO prevalensi gangguan jiwa dalam masyarakat
berkisar satu sampai tiga permil penduduk. (Davison, 2006).
Sebagaimana telah diketahui bahwa kebanyakan pasien gangguan jiwa
yang mengalami waham terjadi gangguan orientasi realita sehingga pasien
tidak mampu menilai dan berespon secara realita.Dalam hal ini peran fungsi
dan tanggung jawab perawat psikiatri dalam meningkatkan derajat kesehatan
jiwa, dalam kaitannya dengan gangguan orientasi realita.

1.2.Rumusan Masalah
Bagaimana konsep teori waham dan terapi aktivitas yang dapat dilakukan ?

1.3.Tujuan
Untukmengetahui konsep teori waham dan terapi aktivitas waham

4
BAB II TINJAUAN TEORI

2.1.Definisi
Waham adalah suatu keyakinan yang di pertahankan secara kuat, terus –
menerus tetapi tidak sesuai dengan kenyataan (Budi ana keliat, 2006)
Waham adalah suatu keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan,
tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah secara logis oleh orang lain.
Keyakinan ini berasal dari pemikiran klien yang sudah kehilangan kontrol.
(Direja, 2011)
Waham adalah suatu keyakinan kokoh yang salah dan tidak sesuai dengan
fakta dan keyakinan tersebut mungkin “aneh” (misalnya”saya adalah nabi
yang menciptakan biji mata manusia”) atau bias pula “tidak aneh” (hanya
sangat tidak mungkin, contoh masyarakat di surge selalu menyertai saya
kemanapun saya pergi”) dan tetap dipertahankan meskipun telah
diperlihatkan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya. (Purba dkk, 2008).
Dapat disimpulkan waham adalah keyakinan seseorang atau sekelompok
orang berusaha merugikan atau mencederai dirinya, diucapkan berulang-
ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

2.2. Etiologi
Gangguan orientasi realitas menyebar dalam lima kategori utama fungsi
otak Menurut Kusumawati, (2010) yaitu :
1. Gangguan fungsi kognitif dan persepsi menyebabkan kemampuan
menilai dan menilik terganggu.
2. Gangguan fungsi emosi, motorik, dan sosial mengakibatkan kemampuan
berespons terganggu, tampak dari perilaku nonverbal (ekspresi dan
gerakan tubuh) dan perilaku verbal (penampilan hubungan sosial)
3. Gangguan realitas umumnya ditemukan pada skizofrenia.

5
4. Gejala primer skizofrenia (bluer) : 4a + 2a yaitu gangguan asosiasi, efek,
ambivalen, autistik, serta gangguan atensi dan aktivitas.
5. Gejala sekunder: halusinasi, waham, dan gangguan daya ingat.

2.3. Klasifikasi Waham


Waham dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam, menurut Direja
(2011) yaitu
1. Waham kebesaran
Keyakinan secaraberlebihan bahwa dirinyamemiliki kekuatan khususatau
kelebihan yang berbedadengan orang lain,diucapkan berulang-
ulangtetapi tidak sesuai dengankenyataan. Contoh perilaku “Saya ini
pejabat di kementrian semarang!”“Saya punya perusahaanpaling besar“.
2. Waham agama
Keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan,diucapkan berulang-
ulangtetapi tidak sesuai dengankenyataan. Contoh perilaku “ Saya adalah
tuhan yang bisa menguasai danmengendalikan semua makhluk”.
3. Waham curiga
Keyakinan seseorang atau sekelompok orang yangmau merugikan
ataumencederai dirinya,diucapkan berulang-ulangtetapi tidak sesuai
dengankenyataan. Contoh perilaku “Saya tahu mereka mau
menghancurkan saya,karena iri dengankesuksesan saya”.
4. Waham somatik
Keyakinan seseorang bahwa tubuh atau sebagiantubuhnya
terserangpenyakit, diucapkanberulang-ulang tetapi tidaksesuai dengan
kenyataan. Contoh perilaku “ Saya menderita kanker”.Padahal hasil
pemeriksaanlab tidak ada sel kankerpada tubuhnya.
5. Waham nihlistik
Keyakinan seseorang bahwa dirinya sudah meninggaldunia, diucapkan
berulangulangtetapi tidak sesuaidengan kenyataan. Contoh perilaku “ ini
saya berada di alam kubur ya, semua yang adadisini adalah roh-roh nya.

6
2.4. Manifestasi Klinis Waham
Menurut Stuart (2007) Perilaku yang dapat ditemukan pada klien
dengan Waham antara lain melakukan percobaan bunuh diri, melakukan
tindakan, agresif, destruktif, gelisah, tidak biasa diam, tidak ada perhatian
terhadap kebersihan diri, ada gangguan eliminasi, merasa cemas, takut.
Kadang-kadang panik perasaan bahwa lingkungan sudah berubah pada klien
depersonalisasi.
Sedang kan Manifestasi Klinis menurut (Budi Anna Keliat, 2006) yaitu:
1. Bicara, senyum dan tertawa sendiri
2. Menarik diri dan menghindar dari orang lain
3. Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan tidak nyata
4. Tidak dapat memusatkan perhatian
5. Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain dan
lingkungannya), takut
6. Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung
2.5. Waham Kebesaran
a. Definisi
Keyakinan secara berlebihan dirinya memiliki kekuatan khusus atau
kelebihan yang berbeda dengan orang lain, diucapkan secara berulang-
ulang tetapi tidak sesaui dengan kenyataan (Damaiyanti, 2012; Direja,
2011). Tambahakan satu lagi defenisi waham
b. Tanda dan Gejala
Individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus
dan di ucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai kenyataan misalnya
“saya ini pejabat kesehatan” ataupun saya punya tambang emas.
c. Penyebab
Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir : waham yaitu Gangguan
konsep diri : harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu
tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai
dengan ideal diri. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai

7
perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan merasa
gagal mencapai keinginan.
d. Komplikasi Waham Kebesaran
Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko mencederai diri,
orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan
yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan
lingkungan.
Tanda dan Gejala :
1. Memperlihatkan permusuhan
2. Mendekati orang lain dengan ancaman
3. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
4. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
5. Mempunyai rencana untuk melukai

2.6. Penatalaksanaan
A. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Membina Hubungan saling percaya
Sebelum memulai mengkaji pasien waham, perawat harus membina
hubungan saling percaya terlebih dahulu agar pasien merasa aman dan
nyaman saat berinteraksi dengan perawat, tindakan yang harus
perawat lakukan dalam rangka membina hubungan saling percaya,
yaitu:
 Mengucapkan salam terapeutik
 Berjabat tangan
 Menjelaskan tujuan interaksi
 Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu
pasien.
2. Membantu orientasi realitas
 Tidak mendukung atau membantah waham
 Meyakinkan pasien berada dalam keadaan aman
 Mengobservasi pengaruh waham pada aktifitas sehari-hari

8
 Jika pasien terus-menerus membicarakan wahamnya, dengarkan
tanpa memberikan dukungan atau menyangkal sampai pasien
berhenti membicarakannya.
 Memberikan pujian jika penampilan dan orientasi pasien sesuai
dengan realitas.
 Mendiskusikan kebutuhan psikologis/emosional yang tidak
terpenuhi sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah.
3. Meningkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan
emosional pasien.
4. Mendikusikan tentang kemampuan positif yang dimiliki.
5. Membantu melakukan kemampuan yang dimiliki.
6. Mendiskusikan tentang obat yang diminum.
7. Melatih minum obat yang benar (Keliat & Akemat, 2009).

B. Penatalaksanaan Medis
1. (Psikofarmalogi)

 Litium Karbonat
Adalah jenis litium yang paling sering digunakan untuk mengatasi
gangguan bipolar, menyusul kemudian litium sitial. Meski demikian,
efek samping yang dilaporkan pada gangguan litium cukup serius.
Efek yang ditimbulkan hampir serupa dengan efek mengkonsumsi
banyak garam, yakni tekanan darah tinggi, retensi air, dan konstipasi.
Oleh karena itu, selama penggunaan obat ini harus dilakukan tes
darah secara teratur untuk menentukan kadar litium.
- Efek Samping
Insiden dan keparahan efek samping tergantung pada kadar
litium dalam serum. Adapun efek yang mungkin dijumpai pada
awal terapi. Misalnya tremor ringan pada tangan, poliuria
nausea, dan rasa haus. Efek ini mungkin saja menetap selama
pengobatan.

9
- Mekanisme kerja
Menghambat pelepasan serotonin dan mengurangi sensitivitas
dari reseptor dopamine.
 Haloperidol
Haloperidol merupakan obat antipsikotik (mayor tranquiliner)
pertama dari turunan butirofenon.
- Indikasi
Haloperidol efektif untuk pengobatan kelainan tingkah laku
berat pada anak-anak yang sering membangkang an eksplosif.
Haloperidol juga efektif untuk pengobatan jangka pendek,
pada anak yang hiperaktif juga melibatkan aktivitas motorik
berlebih disertai kelainan tingkah laku seperti : impulsive, sulit
memusatkan perhatian, agresif, suasana hati yang labil dan
tidak tahan frustasi.
- Efek samping
Pada sistem saraf pusat akan menimbulkan gejala
ekstrapiramidal, diskinesia Tardif, distonia tardif, gelisah,
cemas, perubahan pengaturan temperature tubuh, agitasi,
pusing. Depresi, lelah, sakit kepala, mengantuk, bingung,
vertigo, kejang. Pada kardiovaskular akan menyebabkan
timbulnya takikardi, hipertensi/hipotensi, kelainan EKG
(gelombang T abnormal dengan perpanjangan repolarisasi
ventrikel), aritmia. Sedangkan pada hematologik : Timbul
leucopenia dan leukositosis ringan. Pada hati dapat
menimbulkan gangguan fungsi hati. Pada kulit memungkinkan
timbulnya makulopapular dan akneiform, dermatitis kontak,
hiperpigmentasi alopesia. Pada endokrin dan metabolic antara
lain laktasi, pembesaran payudara, martalgia, gangguan haid,
amenore, gangguan seksual, nyeri payudara, hiponatremia.
Pada saluran cerna : Anoreksia, konstipasi, diare dan mual

10
muntah. Mata : Penglihatan kabur. Pernapasan : Spasme
laring dan bronkus. Saluran genitourinaria : Retensi urin.
 Karbamazepin
Karbamazepin terbukti efektif, dalam pengobatan kejang
psikomotor, serta neuralgia trigeminal. Karbamazepin secara
kimiawi tidak berhubungan dengan obat antikonvulsan lain
maupun obat-obat lain yang digunakan untuk mengobati nyeri
pada neuralgia trigeminal.
- Efek samping
Efek samping paling berat terjadi pada system liemopoetik,
kulit dan kardivaskular. Efek samping yang paling sering
timbul yang terutama terjadi pada awal terapi adalah pusing,
ngantuk, mual, dan muntah.
- Mekanisme kerja
Selain sebagai antikonvulsan, karbamazepin mempunyai
efek sebagai antikolinergik, antineuralgik, antideuritik,
pelemas otot, antimanik, antidepresif dan antiariunia.
Menekan aktifitas senralis nucleus pada
thalamus/menurunkan jumlah stimulasi temporal yang
menyebabkan neural discharge dengan cara membatasi
influks ion natrium yang menembus membran sel atau
mekanisme lain yang belum diketahui, menstimulasi
pelepasan ADH untuk mereabsorbsi air, secara kimiawi
terkait dengan antidepresan trisiklik.

11
BAB III PEMBAHASAN

3.1.Kasus
Ny. E berusia 47 tahun dibawa oleh keluarganya kerumah sakit dengan
keluhan sering berbicara kacau, mudah lupa, keluyuran tanpa jelas, sering
marah dengan membanting barang, terlihat murung dan gelisah. Selain itu,
pada malam hari klien tidak bisa tidur dan sering berbicara sendiri. Selain itu
klien juga sering berbicara berlebihan dan tidak rasional. Klien merasa
lingkungan merasa tidak aman dan sering terancam sesuatu yang tak pernah
ada sehingga dalam aktivitas sehari-harinya terganggu. Ketika keluarganya
membantu dalam aktivitas sehari-hari, klien merasa itu suatu ancaman.
Dengan itu kebutuhan harian klien dirumah sakit mengalami kendala.
Setelah dilakukan pengkajian didapatkan bahwa klien sebelumnya
pernah mencalonkan menjadi rektor di UNTAN. Namun, dalam proses
pemilihan umum klien tidak terpilih. Klien sangat kecewa dan berencana
bunuh diri namun digagalkan oleh keluarganya. Sejak saat itu, klien terlihat
murung hingga menjadi depresi. Seaat ini klien sering berbicara tidak rasional
dan membanggakan dirinya, beranggapan dia sebagai rektor di UNTAN yang
harus dihormati.

3.2. Peran Perawat


- Membina Hubungan saling percaya
Dengan aktivitas klien yang memerlukan bantuan dari orang lain. Klien
selalu merasa cemas, takut dan merasa dalam keadaan terancam maka
tugas perawat ialah menumbuhkan rasa percaya. Dengan rasa percaya
yang ditumbuhkan maka akan tercipta hubungan saling percaya antara
klien dengan perawat. Apabila rasa percaya ditumbuhkan membuat
rencana asuhan keparawatan akanmudah diimplementasikan.
- Membantu orientasi realitas
Perawat berperan dalam meyakinkan klien kalau situasi serta kondisi
dalam keadaan aman, tidak ada yang mengancam. Perawat tidak boleh
membantah maupun mendukung perilaku irasional klien. Selain itu

12
perawat berperan melihat pengaruh dari perilaku irasional klien terhadap
kehidupan sehari – harinya. Apabila klien membicarak sesuatu yang
irasional, perawat hanya mendengarkan hingga klien berhenti
membicarakan .
- Mendiskusikan kebutuhan psikologis
Klien mendiskusikan kebutuhan baik secara psikologis maupun
emosional yang selama ini tidak terpenuhi sehingga klien terhindar dari
kecemasan, rasa taut dan marah yang berlebihan, tidak sesuai dengan
kenyataan.
- Meningkatkan aktifitas
Perawat memberikan aktifitas fisik dan emosional, yang bertujuan agar
perilaku klien terhindar dari perilaku yang tidak nyata (irasional).
- Diskusikan penanganan
Perawat memberitahukan informasi tentang penanganan yang akan di
lakukan pada klien, baik dalam terapi farmakologi maupun rehabilitatif.
(Keliat & Akemat, 2009).

3.3.Naskah Role Play


a. Orientasi Realita
Disebuah rumah sakit jiwa Sungai Bangkok Pontianak. Ada beberapa
pasien waham yang akan melakukan terapi aktivitas kelompok tepatnya
diruangan kamboja dengan jumlah pasien 6 orang. Dari masing-masing
pasien mempunyai penyebab waham yang berbeda seperti
Tn. I ia mengaku dirinya sebagai seorang artis,
Ny. D yang mengaku dirinya sebagai seorang dokter,
Tn. T mengaku dirinya sebagai seorang directur dari perusahaan kopi
bandar,
Ny, K mengaku dirinya sebagai pemilik tambang emas,
Ny. E mengaku dirinya sebagai rektor di UNTAN
Ny. H mengaku dirinya sebagai mentri kesehatan RI

13
Hari ini perawat akan melakukan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
pada pasien waham. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) dilakukan
dengan peraturan dalam permainan yaitu jika ada yang ingin BAK atau
BAB harus ijin dengan perawat terlebih dahulu. Cara permainannya nanti
perawat akan memberikan papan nama dan menunjukkan kalender, jam
dinding, kemudian perawat akan memutarkan musik dan mengoper bola
dari satu teman ke teman yang lainnya. Ketika musik berhenti orang
terakhir yang memegang bola untuk menyebutkan nama panggilan, nama
lengkap, hoby dan menjawab pertanyaan dari perawat seperti tanggal,
bulan, tahun, hari dan jam saat ini. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
dilakukan selama 45 menit, dalam terapi semua pasien akan
mendapatkan giliran untuk menyebutkan nama panggilan, nama lengkap,
hoby dan menjawab pertanyaan dari perawat seperti tanggal, bulan,
tahun, hari dan jam saat ini.

Sesi 1 : Pengenalan Orang

Perawat : Assalamu’alaikum, selamat pagi

Pasien : Pagi

Perawat : Perkenalkan saya kami keperawatan untan, pada hari ini kita akan
bermain yaitu untuk mengenal nama dari teman – teman lainnya.
Di ruangan ini, lamanya 45 menit.

Pasien : *mengangguk*

Perawat : Peraturan dalam permainan ini yaitu jika ada yang ingin BAK
atau BAB harus ijin dengan perawat terlebih dahulu. Cara
permainannya nanti perawat akan membagikan papan nama yang
akan dikalungkan, kemudian akan diputarkan musik dan bola ini
akan dioperkan dari satu teman ke teman yang disampingnya.
Ketika musik berhenti orang terakhir yang memegang bola harus
berdiri dan menyebutkan nama lengkap, nama panggilan dan hoby.

14
Perawat : *membagikan papan*

Perawat : Apakah semuanya sudah kebagian papan ?

Pasien : Sudah

Perawat : Sekarang tulis nama panggilannya di papan masing – masing ya

Pasien : *menulis nama*

Perawat : *menyalakan musik dan mengoper bola*

Mengulangi langkah sampai semua pasien kebagian giliran dan


memberikan pujian untuk setiap keberhasilan pasien yang sudah mampu minimal
menyebutkan nama panggilan dengan mengajak klien lain bertepuk tangan.

Perawat : Oke, sudah selesai. Bagaimana perasaannya ?

Pasien : Senang *sambil bertepuk tangan*

Perawat : Oke bagus sekali ya kerjasamanya, tolong dipertahankan untuk


kegiatan selanjutnya. Selamat pagi semuanya

Pasien : Pagi

Sesi 2 : Orientasi Waktu

Perawat : Assalamu’alaikum, selamat pagi

Pasien : Pagi

Perawat : Perkenalkan saya kami keperawatan untan, pada hari ini kita akan
bermain yaitu untuk mengenal waktu, tanggal, hari dan tahun. Di
ruangan ini, lamanya 45 menit.

Pasien : *mengangguk*

Perawat : Peraturan dalam permainan ini yaitu jika ada yang ingin BAK
atau BAB harus ijin dengan perawat terlebih dahulu. Cara

15
permainannya nanti perawat akan menunjukkan kalender dan jam
dinding, kemudian perawat akan memutarkan musik dan mengoper
bola dari satu teman ke teman yang disampingnya. Ketika musik
berhenti orang terakhir yang memegang bola harus berdiri dan
menjawab pertanyaan dari perawat seperti tanggal, bulan, tahun,
hari dan jam saat ini. Apakah semuanya sudah siap ?

Pasien : Sudah

Perawat : *menyalakan musik dan mengoper bola*

Mengulangi langkah sampai semua pasien kebagian giliran dan


memberikan pujian untuk setiap keberhasilan pasien yang sudah mampu
menjawab pertanyaan dari perawat dengan mengajak klien lain bertepuk tangan.

Perawat : Oke, sudah selesai. Bagaimana perasaannya ?

Pasien : Senang *sambil bertepuk tangan*

Perawat : Oke bagus sekali ya kerjasamanya, tolong dipertahankan untuk


kegiatan selanjutnya. Selamat pagi semuanya.

Pasien : Pagi

16
3.4.Terapi Aktivitas Kelompok: Orientasi Realita

Terapi Aktivitas Kelompok Oientasi Realita (TAK): orientasi realita


adalah upaya untuk mengorientasikan keadaan nyata kepada klien, yaitu diri
sendiri, orang lain, lingkungan/ tempat, dan waktu.

Klien dengan gangguan jiwa sikotik, mengalami penurunan daya nilai


realitas (reality testing ability). Klien tidak lagi mengenali tempat, waktu, dan
orang-orang di sekitarnya. Hal ini dapat mengakibatkan klien merasa asing
dan menjadi pencetus terjadinya ansietas pada klien. Untuk menanggulangi
kendala ini, maka perlu ada aktivitaas yang memberi stimulus secara
konsisten kepada klien tentang realitas di sekitarnya. Stimulus tersebut
meliputi stimulus tentang realitas lingkungan, yaitu diri sendiri, orang lain,
waktu, dan tempat.

- Tujuan
Tujuan umum yaitu klien mampu mengenali orang, tempat, dan waktu
sesuai dengan kenyataan, sedangkan tujuan khususnya adalah:

1. Klien mampu mengenal tempat ia berada dan pernah berada


2. Klien mengenal waktu dengan tepat.
3. Klien dapat mengenal diri sendiri dan orangorang di sekitarnya
dengan tepat.

- Aktivitas dan indikasi


Aktivitas yang dilakukan tiga sesi berupa aktivitas pengenalan orang,
tempat, dan waktu. Klien yang mempunyai indikasi disorientasi realitas
adalah klien halusinasi, dimensia, kebingungan, tidak kenal dirinya, salah
mngenal orang lain, tempat, dan waktu.

17
Sesi 1.: Pengenalan Orang

- Tujuan
1. Klien mampu mengenal nama-nama perawat.
2. Klien mampu mengenal nama-nama klien lain.
- Setting
1. Terapis dank lien duduk bersama dalam lingkaran.
2. Ruangan nyaman dan tenang.
- Alat
1. pan nama sejumlah klien dan perawat yang ikut TAK
2. Spidol
3. Bola tennis
4. Tape rcorder
5. kaset “dangdut”
- Metode
1. Dinamika kelompok
2. Diskusi dan Tanya jawab
- Langkah Kegiatan
1. Persiapan
o Memilih klien sesuai dengan indikasi
o Membuat kontrak dengan klien
o Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi

o Salam terapeutik
o Salam dari terapis kepada klien
3. Evaluasi/ validasi
o Menanyakan perasan klien saat ini.
4. Kontrak
o Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal orang
o Terapis menjelaskan atuaran main berikut:

18
o Lama kegiatan 45 menit
o Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
5. Tahap Kerja
1) Terapis membagikan papan nama untuk masing-masing klien
2) Terapis meminta masing-masing klien menyebutkan nama lengkap,
nama panggilan, asal
3) Terapis meminta masing-masing klien menuliskan nama panggilan di
depan papan nma yang dibagikan
4) Terapis meminta masing-masing klien memperkenalkan diri secara
berurutan, searah jarum jam dimulai dari terapis, meliputi
menyebutkan: nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi
5) Terapis menjelaskan langkah berikutnya: tape recorder akan
dinyalakan, saat musik terdengar bola tenis dipindahkan dari satu kien
ke klien lain. Saat musik dihentikan, klien yang sedang memegang bola
tennis menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi dari
klien yang lain (minimal nama panggilan).
6) Terapis memutar tape recorder dan menghentikan . Saat musik
berhenti, klien klien yang sedang memegang bola tennis menyebutkan
nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi klien yang lain.
7) Ulangi langkah f sampai semua klien mendapatkan giliran.
8) Terapis memberikan pujian untuk setiap keberhasilan klien dengan
mengajak klien lain bertepuk tangan.
6. Tahap terminasi
1) Evaluasi
2) Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
3) Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
4) Tindak lanjut
5) Terapis menganjurkan klien menyapa orang lain sesuai dengan nama
panggilan.
6) Kontrak yang akan datang

19
- Evaluasi dan Dokumentasi
 Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap
kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan
tujuan TAK. Untuk TAK orientasi realitas orang, kemampuan klien yang
diharapkan adalah dapat menyebutkan nama, panggilan, asal, dan hobi
klien lain.

Sesi 1: TAK

Orientasi Realitas Sesorang

Kemampuan mengenal orang lain

NO Aspek yang dinilai Nama Klien

1 Menyebutkan nama klien

2 Menyebutkan nama pangilan klien

3 Menyebutkan asal klien lain.

4 Menyebutkan hobi klien lain

Petunjuk:

1. Tulis nama pangilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien
mengetahui nama, pangilan, asal dan hobi klien lain. Beri tanda
(V) jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.

20
 Dokumentasi

Dokumentasikan pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh:


klien mngikuti TAK orientasi realitas orang. Klien mampu menyebutkan
nama, nama panggilan, asal dan hobi klien lain di sebelahnya. Anjurkan klien
mengenal klien lain di ruangan.

Sesi 2: Pengenalan Waktu

- Tujuan
Klien dapat mengenal waktu dengan tepat
1. Klien dapat mengenal tanggal dengan tepat
2. Klien dapat mengenal hari dengan tepat
3. Klien dapat mengenal tahun dengan tepat
- Setting
1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran
2. Klien berada di ruangan yang ada kalender dan jam dinding.
- Alat
1. Kalender
2. jam dinding
3. Tape recorder
4. Kaset lagu dangdut
5. Bola tennis
- Metode
1. Diskusi
2. Tanya Jawab

Langkah Kegiatan

1. Persiapan
- memilih klien sesuai dengan indikasi
- membuat kontrak dengan klien

21
- mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
Salam dari terapis kepada klien
b. Evaluasi/ validasi
- menanyakan perasan klien saat ini.
- menanyakan apakah klien masih mengingat nama-nama ruangan yang
sudah dipelajari.
c. Kontrak
1. terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal waktu
2. terapis menjelaskan atuaran main berikut:
- jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta
izin kepada terapis.
- lama kegiatan 45 menit
- setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
3. Tahap Kerja
a. Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dikerjakan
b. Terapis menjelaskan akan menghidupkan tape recorder, sedangkan bola
tennis diedarkan dari satu klien ke klien lain. Pada saat musik berhenti,
klien yang memegang bola menjawab pertanyaan dari terapis.
c. Terapis menghidupkan musik, dan mematikan musik. Klien
mengedarkan bola tennis secara bergantian searah jarum jam. Saat
musik berhenti, klien yang memegang bola menjawab pertanyaan dari
terapis tentang tanggal, bulan, tahun, hari, dan jam saat itu. Kegiatan
ini diulang sampai semua klien mndapat giliran.
4. Tahap Terminasi
a. Evaluasi
- terapis mennyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
- terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. tindak lanjut

22
Terapis menganjurkan klien memberi tanda/ mengganti kalender setiap
hari.
c. kontrak yang akan datang
- menyepakati kegiatan TAK yang akan dating, yaitu mengenal
waktu.
- menyepakati waktu dan tempat.
Evaluasi dan Dokumentasi
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap
kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan
tujuan TAK. Untuk TAK orientasi realita waktu, hari, tanggal, bulan, dan
tahun. Formulir:
Sesi 2: TAK
Orientasi Realita Waktu
Kemampuan mengenal waktu

NO Aspek yang dinilai Nama Klien

1. Menyebutkan jam

2. Menyebutkan hari

3. Menyebutkan tanggal

4. Menyebutkan bulan

5. Menyebutkan tahun

Petunjuk:
1. Tulis nama pangilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien
mengetahui waktu, hari, tanggal, bulan, dan tahun. Beri tanda (V)
jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.

23
Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses
keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti Sesi 3, TAK orientasi realitas
waktu. Klien mampu menyebutkan tanggal dan hari, tetapi yang lain belum
mampu. Orientasikan klien dengan tempat-tempat di ruangan.

24
BAB IV PENUTUP
4.1.Kesimpulan
Waham adalah suatu keyakinan yang berasal dari pemikiran klien yang sudah
kehilangan kontrol, pertahankan secara kuat, terus-menerus, dan tidak dapat
diubah secara logis oleh orang lain, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang di
sebabkan yaitu gangguan orientasi realitas menyebar dalam lima kategori utama
fungsi otak yaitu: gangguan fungsi kognitif dan persepsi menyebabkan
kemampuan menilai dan menilik terganggu, gangguan fungsi emosi, motorik, dan
sosial mengakibatkan kemampuan berespons terganggu, tampak dari perilaku
nonverbal (ekspresi dan gerakan tubuh) dan perilaku verbal (penampilan
hubungan sosial). Gangguan realitas umumnya ditemukan pada skizofrenia.
Manifestasi Klinis, yaitu:Bicara, senyum dan tertawa sendiri, Menarik diri dan
menghindar dari orang lain, Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan
tidak nyata, Tidak dapat memusatkan perhatian, Curiga, bermusuhan, merusak
(diri sendiri, orang lain dan lingkungannya), takut, Ekspresi muka tegang, mudah
tersinggung. Salah satu klasifikasi dari waham ialah waham kebesaran.
Waham Kebesaran merupakanKeyakinan secara berlebihan terhadap dirinya yang
memiliki kekuatan khusus atau kelebihan yang berbeda dengan orang lain,
diucapkan secara berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Satu
diantara penyebab dari waham adalah perubahan proses pikir (Gangguan konsep
diri).Masalah lain yang dapat timbul dari waham kebesarandapat berakibat
terjadinya resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan, dengan manifestasi
klinis ialah memperlihatkan permusuhan, mendekati orang lain dengan ancaman,
memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai, menyentuh orang lain
dengan cara yang menakutkan, mempunyai rencana untuk melukai.
Penatalaksanaan keperawatan, yaitu di mulai dengan Membina Hubungan saling
percaya, dengan terciptanya hubungan saling percaya maka intervensi selanjutnya
akan mudah dilaksanakan.
4.2. Saran
1. Bagi Perawat: sebagai seseorang yang memberikan asuhan keperawatan
pada klien, perlu melakukan pendekatan singkat namun sering

25
dilakukansebagai upaya untuk membina hubungan saling percaya antara
perawatdengan klien dan untuk membantu menyelesaikan masalah
yangdihadapi oleh klien.
2. Bagi pasien: Klien berperan secara aktif untuk mendapatkan dorongan
dari perawat dan keluarga, mampu melaksanakan tugas yang diberikan
daripihak rumah sakit, agar dapat menyelesaikanmasalah yang dihadapi
oleh klien.
3. Bagi keluarga: Keluarga merupakan salah satu elemen yang sangat
berpengaruh padapemulihan klien dirumah setelah diijinkan pulang dari
rumah sakitoleh karena itu peran keluarga sangat penting dalam perawatan
klien dirumahuntuk menghindari kambuhnya kembali gangguan jiwa pada
klien.
4. Bagi pembaca: Diharapkan kepada para pembaca, jika menjumpai
seseorang yang mengalami gangguan persepsi Waham agar memberikan
perhatian dan perawatan yang tepat kepada penderita sehingga
keberadaannya dapat diterima oleh masyarakat seperti sediakala.
5. Bagi Institusi
a) Institusi pendidikan
 Institusi diiharapkan dapat menyediakan referensi yang lengkap
berhubungan dengan pemberian asuhan keperawatan jiwa
khususnya pasien dengan waham.
 Institusi diharapkan dapat menyediakan referensi dengan tahun
yang terbaru sehingga ilmu yang didapatkan menjadi terbaharui
b) Institusi Rumah Sakit
Rumah sakit diharapkan bisa menambah fasilitas serta senatiasa
menciptakan lingkungan yang terapeutik guna mempercepat
penyembuhan klien.

26
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008 .Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC

Azizah, Lilik Ma’ rifatul. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Edisi 1. Yogyakarta:
Graha Ilmu.

Direja . 2011. Buku ajar asuhan keperawatan jiwa. Yogyakarta : Nuha Medika
Farida, Kusumawati. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika.
Harnawati. 2008.”Dokumentasi Keperawatan”. (Harnawatiaj.wordpress.com,
Diperoleh pada tanggal 18 Oktober 2016).
Junaidi. 2012. Ekonometrika Deret Waktu Teori dan Aplikasi. Bogor: IPB Press.
Keliat, B.A. & Akemat. (2009). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa.
Jakarta: EGC

Purba, dkk. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Masalah Psikososial

dan Gangguan Jiwa. Medan: USU Press.


Purba J. M,dkk. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Masalah m
Psikososial dan Gangguan Jiwa. Medan: Usu Press.

Riyadi S dan Purwanto T. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Graha

Ilmu
S. N. Ade, Herma, Direja. 2011. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha
Medika
S. N. Ade Herma Direja. 2011. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha
Medika.

Stuart, G. W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa .Edisi 5. Jakarta: EGC.

Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Yosep, Iyus. 2011. Keperawatan Jiwa (edisi fevisi.Bandung: Reflika Aditama.

27