Anda di halaman 1dari 26

1.

Menghitung PPN Keluaran Atas Penjualan ke PKP Pemerintah dan Ke Bonded Zone
Area
Pajak keluaran ialah pajak yang dikenakan ketika subjek pajak melakukan
penjualanterhadap barang kena pajak (BKP) dan atau jasa kena pajak (JKP) yang tergolong
dalam barang mewah. Sebagai salah satu jenis pajak, Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
seringkalidisebut sebagai pajak objektif. Pada PPN, hal yang pertama kali ditekankan adalah
objek pajak yang akan dikenakan. Kemudian, subjek pajak yang terkena. Misalnya, barang-
barangmewah, kendaraan mewah, dan sebagainya. Yang pertama dikenakan adalah tarif pada
tiap-tiap barang tersebut. Kemudian, barulah wajib pajak pengonsumsi barang tersebut
yangdikenai beban pajaknya sehingga wajib pajak tersebut disebut sebagai subjek pajak.Dalam
pengenaan pajak terhadap subjek pajak tersebut, terdapat dua kategori. yaitu,pajak keluaran dan
pajak masukan. Dalam hal ini, subjek pajak yang dimaksud adalahpengusaha kena pajak (PKP)
yang melakukan transaksi jual beli barang. Artinya, PKP mengambil atau memungut rupiah yang
dihasilkan dari penjualan barang kena pajak (BKP)miliknya yang dibeli konsumen. Kemudian,
nantinya dapat berfungsi menjadi kredit ataupengurang pajak. Menjadi kredit atau pengurang
pajak karena sebelumnya sang PKP telah dikenai tarif pajak yang sama atas pembelian barang
tersebut yang di kemudian hari dijualolehnya. Jadi, PPN dalam hal ini hanya terjadi pelimpahan
beban.Adapun batas waktu untuk melakukan pengkreditan pajak keluaran tersebut adalahtiga
bulan setelah masa pajak berakhir sehingga PKP memiliki waktu yang cukup leluasauntuk
melakukan pengkreditan pajaknya.
Tarif PPN & PPnBM
1. Tarif PPN adalah 10% (sepuluh persen).
2. Tarif PPN sebesar 10% (sepuluh persen) diterapkan atas:
a. ekspor Barang Kena Pajak (BKP) Berwujud;
b. ekspor BKP Tidak Berwujud; dan
c. ekspor Jasa Kena Pajak.
3. Tarif PPnBM adalah paling rendah 10% (sepuluh persen) dan paling tinggi 200% (dua
ratus persen).
4. Tarif PPnBM atas ekspor BKP yang tergolong mewah adalah 0% (nol persen).

Dasar Pengenaan Pajak (DPP)


Dasar Pengenaan Pajak adalah dasar yang dipakai untuk menghitung pajak yang terutang,
berupa: Jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau nilai lain yang
ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan.
1. Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya
diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak (BKP), tidak termasuk PPN
yang dipungut menurut Undang-Undang PPN dan potongan harga yang dicantumkan
dalam Faktur Pajak.

1
2. Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP),ekspor
Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, tetapi tidak termasuk
PPN yang dipungut menurut Undang-Undang PPN dan potongan harga yang
dicantumkan dalam Faktur Pajak atau nilai berupa uang yang dibayar atau seharusnya
dibayar oleh penerima jasa karena pemanfaatan Jasa Kena Pajak dan/atau oleh penerima
manfaat Barang Kena Pajak Tidak Berwujud.
3. Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk
ditambah pungutan lainnya yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan dalam peraturan
perundang-undangan Pabean untuk Impor BKP, tidak termasuk PPN yang dipungut
menurut Undang-Undang PPN.
4. Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta
atauseharusnya diminta oleh eksportir.
5. Nilai lain adalah nilai berupa uang yang ditetapkan sebagai Dasar Pengenaan Pajak
dengan Keputusan Menteri Keuangan. Nilai lain yang ditetapkan sebagai Dasar
Pengenaan Pajak adalah sebagai berikut :
a. Untuk pemakaian sendiri BKP dan/atau JKP adalah Harga Jual atau Penggantian
setelah dikurangi laba kotor;
b. Untuk pemberian cuma-cuma BKP dan/atau JKP adalah Harga Jual atau Penggantian
setelah dikurangi laba kotor;
c. Untuk penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah perkiraan harga jual rata-
rata;
d. Untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per judul film;
e. Untuk penyerahan produk hasil tembakau adalah sebesar harga jual eceran;
f. Untuk Barang Kena Pajak berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan
semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran
perusahaan, adalah harga pasar wajar;
g. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau
penyerahan Barang Kena Pajak antar cabang adalah harga pokok penjualan atau
harga perolehan;
h. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak melalui juru lelang adalah harga lelang;
i. Untuk penyerahan jasa pengiriman paket adalah 10 % (sepuluh persen) dari jumlah
yang ditagih atau jumlah yang seharusnya ditagih; atau
j. Untuk penyerahan jasa biro perjalanan atau jasa biro pariwisata adalah 10% (sepuluh
persen) dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih.
Contoh Cara Menghitung PPN & PPNBM
1. PKP “ A” menjual tunai Barang Kena Pajak dengan Harga Jual Rp 25.000.000,00 Pajak
Pertambahan Nilai yang terutang
= 10% x Rp25.000.000,00
= Rp2.500.000,00

2
PPN sebesar Rp2.500.000,00 tersebut merupakan Pajak Keluaran yang dipungut oleh
Pengusaha Kena Pajak “ A” .
2. PKP “ B” melakukan penyerahan Jasa Kena Pajak dengan memperoleh Penggantian
sebesar Rp20.000.000,00
PPN yang terutang yang dipungut oleh PKP “ B”
= 10% x Rp20.000.000,00
= Rp 2.000.000,00
PPN sebesar Rp2.000.000,00 tersebut merupakan Pajak Keluaran yang dipungut oleh
Pengusaha Kena Pajak “ B” .
3. Seseorang mengimpor Barang Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dengan Nilai Impor
sebesar Rp15.000.000,00. PPN yang dipungut melalui Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai
= 10% x Rp15.000.000,00
= Rp 1.500.000,00

4. Pengusaha Kena Pajak “ D” mengimpor Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah
dengan Nilai Impor sebesar Rp5.000.000,00 Barang Kena Pajak yang tergolong mewah
tersebut selain dikenai PPN juga dikenai PPnBM misalnya dengan tarif 20%.
Penghitungan PPN dan PPnBM yang terutang atas impor Barang Kena Pajak yang
tergolong mewah tersebut adalah:

Dasar Pengenaan Pajak = Rp 5.000.000,00


PPN = 10% x Rp5.000.000,00
= Rp500.000,00
PPn BM = 20% x Rp5.000.000,00
= Rp1.000.000,00
Kemudian PKP “ D” menggunakan BKP yang diimpor tersebut sebagai bagian
dari suatu BKP yang atas penyerahannya dikenakan PPN 10% dan PPnBM dengan tarif
misalnya 35%. Oleh karena PPnBM yang telah dibayar atas BKP yang diimpor tersebut
tidak dapat dikreditkan, maka PPnBM sebesar Rp1.000.000,00 dapat ditambahkan ke
dalam harga BKP yang dihasilkan oleh PKP “ D” atau dibebankan sebagai biaya.
Misalnya PKP “ D” menjual BKP yang dihasilkannya, maka penghitungan PPN dan PPn
BM yang terutang adalah :
Dasar Pengenaan Pajak = Rp50.000.000,00
PPN = 10% x Rp50.000.000,00
= Rp5.000.000,00
PPn BM = 35% x Rp50.000.000,00
= Rp17.500.000,00
PPN sebesar Rp500.000,00 yang dibayar pada saat impor merupakan pajak
masukan bagi PKP “ D” dan PPN sebesar Rp5.000.000,00 merupakan pajak keluaran
bagi PKP “ D” . Sedangkan PPnBM sebesar Rp1.000.000,00 tidak dapat dikreditkan.

3
Begitu pun dengan PPnBM sebesar Rp17.500.000,00 tidak dapat dikreditkan oleh PKP
“ X” .
Kawasan Berikat (Bonded Zone) ialah suatu kawasan dengan batas-batas tertentu di
wilayah pabean Indonesia yang di dalamnya diberlakukan ketentuan khusus di bidang pabean,
yaitu terhadap berang yang dimasukkan dari luar daerah pabean atau dari dalam daerah pabean
Indonesia lainnya tanpa terlebih dahulu dikenakan pungutan bea, cukai dan/atau pungutan negara
lainnya sampai barang tersebut dikeluarkan untuk tujuan impor, ekspor, atau re-ekspor. (menurut
PP no 22 tahun 1986 BAB I pasal1 butir 1)

Kawasan Berikat (KB) adalah suatu bangunan, tempat atau kawasan dengan batas-batas tertentu
yang di dalamnya dilakukan kegiatan usaha industri pengolahan barang dan bahan, kegiatan
rancang bangun, perekayasaan, penyortiran, pemeriksaan awal, pemeriksaan akhir, dan
pengepakan atas barang dan bahan asal impor atau barang dan bahan dari dalam negeri, yang
hasilnya terutama untuk tujuan ekspor. (menurut PP no 33 tahun 1996 BabI pasal 1 butir 2)

2. Menghitung PPN Masukan yang dapat Dikreditkan


Penghitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang harus dibayar dan disetor oleh PKP ke
kas negara, terlebih dahulu wajib pajak (wp) harus mengurangi pajak keluaran dengan pajak
masukan yang dapat dikreditkan. Apabila dalam suatu masa pajak, pajak keluaran lebih besar
daripada pajak masukan, maka selisihnya merupakan pajak pertambahan nilai yang harus dibayar
dan disetor oleh PKP ke kas negara.
Pajak masukan yang dapat dikreditkan, tetapi belum dikreditkan dengan pajak keluaran pada
masa pajak yang sama, dapat dikreditkan pada masa pajak berikutnya selambat-lambatnya 3
(tiga) bulan setelah berakhirnya masa pajak yang bersangkutan.
Untuk memahami lebih lanjut mekanisme pengkreditan pajak masukan disajikan contoh
sebagai berikut :
Pengusaha kena pajak "ABC" dalam masa pajak Januari 20xx. Komposisi PPN sebagai berikut:
PPN Keluaran Rp 25.000.000
PPN Masukan Rp 15.000.000 (dikurang)
PPN Kurang Bayar Rp 10.000.000

Pada masa bulan Februari 20xx


PPN Keluaran Rp 50.000.000
PPN Masukan Rp 70.000.000 (selisih)
Kelebihan PPN Rp 20.000.000

Pada masa bulan Maret 20xx


PPN Keluaran Rp 50.000.000
PPN Masukan Rp 30.000.000 (dikurang)

4
PPN Kurang Bayar Rp 20.000.000
Kelebihan bulan Februari Rp 20.000.000 (dikurang)

PPN masa Maret Rp NIHIL


3. Perhitungan Kembali PPN Masukan
Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dari hasil penghitungan kembali,
diperhitungkan.dengan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan pada suatu Masa Pajak, paling
lama pada bulan ketiga setelah berakhirnya tahun buku.
Penghitungan kembali Pajak Masukan yang dapat dikreditkan tidak perlu dilakukan dalam
hal masa manfaat Barang Kena Pajak dan/ atau Jasa Kena Pajak telah berakhir.
Contoh Penghitungan Kembali Pajak Masukan
Contoh 1:
1. Pengusaha Kena Pajak B adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri pembuatan
sepatu.
2. Pada bulan Januari 2014, Pengusaha Kena Pajak B tersebut membeli generator listrik yang
dimaksudkan untuk digunakan seluruhnya untuk kegiatan pabrik dengan nilai perolehan
sebesar Rp100.000.000,00 dengan Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp10.000.000,00.
3. Pajak Masukan atas perolehan generator listrik sebesar Rp10.000.000,00 secara keseluruhan
dikreditkan pada Masa Pajak Januari 2014.
4. Masa manfaat generator listrik tersebut sebenarnya adalah 5 (lima) tahun, tetapi untuk
penghitungan kembali Pajak Masukan ini, masa manfaat generator listrik tersebut ditetapkan
4 (empat) tahun, sehingga alokasi pengkreditan Pajak Masukan untuk setiap tahunnya adalah
sebesar:
Rp 10.000.000,00
--------------------- = Rp2.500.000,00
4
5. Selama tahun 2014 ternyata generator listrik tersebut digunakan:
a. untuk bulan Januari sampai dengan Juni 2014:
i. 10% untuk perumahan karyawan dan direksi;
ii. 90% untuk kegiatan pabrik, dan
b. untuk bulan Juli sampai dengan Desember 2014:
i. 20% untuk perumahan karyawan dan direksi;
ii. 80% untuk kegiatan pabrik.

Berdasarkan data tersebut di atas, rata-rata penggunaan generator listrik untuk kegiatan
pabrik adalah:
90% + 80%
-------------- = 85%
2
6. Penghitungan kembali Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk tahun buku 2014 dapat

5
dilakukan paling lambat pada Masa Pajak Maret 2015.
Pengusaha Kena Pajak B melakukan penghitungan kembali Pajak Masukan pada Masa Pajak
Februari 2015. Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk tahun buku 2014 seharusnya
sebesar:
Rp10.000.000,00
85% x --------------------- = Rp2.125.000,00
4
7. Pajak Masukan yang harus diperhitungkan kembali dengan mengurangi Pajak Masukan
untuk Masa Pajak Februari 2015 adalah sebesar:
Rp2.500.000,00 - Rp2.125.000,00 = Rp375.000,00
8. Penghitungan kembali Pajak Masukan seperti perhitungan di atas dilakukan sampai dengan
masa manfaat generator listrik berakhir.

4. PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri


Kegiatan membangun sendiri dikenakan PPN apabila :
1. Kegiatan membangun bangunan yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau
pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan
pihak lain, termasuk yang dilakukan melalui kontraktor atau pemborong tetapi atas
kegiatan membangun tersebut tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai.
2. Bangunan adalah berupa satu atau lebih konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan
secara tetap pada satu kesatuan tanah dan/atau perairan dengan kriteria:
a) konstruksi utamanya terdiri dari kayu, beton, pasangan batu bata atau bahan
sejenis, dan/atau baja;
b) diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha;
c) Luas Keseluruhan Paling Sedikit 300 M2 (Tiga Ratus Meter Persegi).
Tarif dan dasar pengenaan pajak atas kegiatan membangun sendiri adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan membangun sendiri dikenakan PPN sebesar 10 % (sepuluh persen) dari Dasar
Pengenaan Pajak.
2. Dasar Pengenaan Pajak atas kegiatan membangun sendiri adalah 40% (empat puluh
persen) dari jumlah biaya yang dikeluarkan dan atau dibayarkan untuk membangun
bangunan, tidak termasuk harga perolehan tanah.
3. Termasuk dalam pengertian jumlah biaya yang dikeluarkan dan atau dibayarkan untuk
membangun sendiri adalah juga jumlah PPN yang dibayar atas perolehan bahan dan jasa
untuk kegiatan membangun sendiri tersebut.
Contoh:
Pada Bulan Desember 2012 Bapak Andi memulai membangun sebuah rumah untuk tempat
tinggal pribadinya. Luas keseluruhan dari rumah tersebut adalah sebesar 200 m2, biaya-biaya
yang dikeluarkan oleh Bapak Andi dalam upaya membangun rumah tersebut sampai dengan
selesainya bangunan tersebut adalah sebagai berikut: pembelian tanah sebesar Rp
200.000.000, pembelian bahan baku bangunan keseluruhan Rp 180.000.000, biaya upah

6
mandor dan pekerja bangunan Rp. 70.000.000. Maka berapakah Pajak Pertambahan Nilai
yang terutang atas pembangunan rumah tersebut?
Jawab:
Sesuai dengan PMK No. 163/PMK.03/2012 tarif PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri
yang terhutang adalah:
= 10% X DPP
= 10% X (20% X Total biaya Pembangunan)
= 10% X (20% X (Rp 180.000.000 + Rp 70.000.000)
Sehingga PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri yang terhutang adalah
= 10% X 20% X Rp 250.000.000
= Rp 5.000.000
Yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak atas perhitungan PPN Kegiatan Membangun
Sendiri diatas hanyalah pembelian bahan baku material bangunan dan biaya upah pekerja dalam
rangka pembangunan rumah tersebut, hal ini sesuai dengan Dalam Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 163/PMK.03/2012 Pasal 3 ayat 2 yang menyebutkan bahwa “Dasar Pengenaan Pajak atas
kegiatan membangun sendiri adalah 20% (dua puluh persen) dari jumlah biaya yang dikeluarkan
dan/atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan, tidak termasuk harga perolehan tanah”.

5. PPN atas Penjualan Aset


Berdasarkan bunyi pasal 16D UU PPN No 42 tahun 2009 beserta penjelasannya dapat disarikan
sebagai berikut :
1. Penyerahan Aktiva harus harus berupa Barang Kena Pajak (BKP)
2. Yang melakukan penjualan adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP)
3. Pada waktu pembelian PPN telah dibayar, artinya jika pada saat pembelian tidak
membayar PPN misalnya karena pembelian dari non PKP, pembeliannya sebelum UU
PPN 1984 diberlakukan maka atas penjualan tidak terutang PPN.
4. Semua penjualan aktiva yang ada pajak masukannya dikenakan PPN kecuali penjualan
aktiva yang pajak masukkannya tidak boleh dikreditkan karena : a). Berupa sedan dan
station wagon (yg keduanya bukan untuk barang dagangan/ disewakan), b). Aktiva yang
tidak memiliki hubungan langsung dengan kegiatan usaha.
Contoh Penjualan Aktiva
1. Penjualan Aktiva yang terutang PPN
Contoh yang menurut penulis kategori penjualan aktiva yang terutang PPN adalah
sebagai berikut :
PT. Nusacode menjual aset yang sudah tidak efektif lagi berupa mobil bekas dan alat-alat
elektronik bekas untuk diganti dengan keluaran.terbaru, dengan nilai total penjualan Rp.
240.000.000,- Maka atas penjualan aktiva ini terutang PPN dengan alasan sebagai berikut
: 1). Yang diserahkan adalah Barang Kena Pajak, 2). Yang melakukan penjualan adalah
Pengusaha Kena Pajak (PKP), 3). Pada waktu pembelian PPN telah dibayar.
2. Penjualan Aktiva yang tidak terutang PPN

7
Contoh yang menurut penulis bukan kategori penjualan aktiva yang tidak terutang PPN
adalah sebagai berikut :
PT. Nusahati pada tahun 22.Maret 2013 melakukan Penjualan tanah dan atau bangunan
yang dibeli tahun 1978 dari orang pribadi yang dilengkapi dengan dokumen terkait
berupa sertifikat tanah, tidak terutang PPN dengan alasan sebagai berikut 1). Aktiva
tersebut diperoleh tanpa adanya PPN Masukan yang dapat dikreditkan. 2). Aktiva
diperoleh tahun 1975 dimana pada saat tersebut belum berlaku UU PPN.

6. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas Ekspor dan Impor


1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas Ekspor
Dalam pasal 4 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan
Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009
ditetapkan objek pajak PPN yang berkaitan dengan ekspor, meliputi : Ekspor Barang
Kena Pajak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak., ekspor Barang Kena Pajak Tidak
Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak., ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena
Pajak.
Salah satu kegiatan transaksi yang dikenakan PPN adalah atas ekspor Jasa Kena
Pajak (JKP) yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak. Hal ini sesuai yang diatur
dalam Pasal 4 ayat (1) huruf h UU Nomor 42 Tahun 2009. Lebih lanjut dalam Pasal 4
ayat (2) ditegaskan bahwa ketentuan mengenai batasan kegiatan dan jenis JKP yang atas
ekspornya dikenakan PPN akan diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Untuk menindaklanjuti ketentuan ini, maka diterbitkanlah Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 70/PMK.03/2010 tanggal 31 Maret 2010 tentang Batasan Kegiatan
dan Jenis Jasa Kena Pajak yang atas Ekspornya Dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.
Pada prinsipnya kegiatan Kegiatan Ekspor Barang dan Jasa dikenai PPN 10%. Namun
dalam rangka mendorong perkembangan dunia usaha Indonesia dan meningkatkan daya
saing kita, maka Pemerintah menetapkan fasilitas PPN 0% atas kegiatan ekspor. Namun
fasilitas ini hanya diberikan bagi Pengusaha yang sudah dikukuhkan sebagai Pengusaha
Kena Pajak (PKP).
a. Batasan Kegiatan dan Jenis JKP yang atas ekspornya dikenakan PPN 0%.
Sebagaimana yang diatur dalam PMK-70/ PMK.03/2010 Batasan Kegiatan dan
Jenis JKP yang atas ekspornya dikenai PPN dengan tarif 0% meliputi :
Jasa Maklon, yaitu pemberian jasa dalam rangka proses penyelesaian suatu
barang tertentu yang proses pengerjaannya dilakukan oleh pihak pemberi jasa
(disubkontrakkan), dan pengguna jasa menetapkan spesifikasi, serta
menyediakan bahan baku dan/atau.barang setengah jadi dan/atau bahan
penolong/ pembantu yang akan diproses sebagian atau seluruhnya, dengan
kepemilikan atas barang jadi berada pada pengguna jasa.
1) Jasa Maklon yang batasan kegiatannya memenuhi syarat berikut:

8
a) Pemesan atau penerima JKP berada di Luar Daerah Pabean dan
merupakan Wajib Pajak Luar Negeri (WPLN) serta tidak
mempunyai Bentuk Usaha Tetap (BUT) di Indonesia.
b) Spesifikasi dan bahan disediakan oleh pemesan atau Penerima JKP.
c) Bahan adalah bahan baku, bahan setengah jadi, dan/atau bahan
penolong/ pembantu yang akan diproses menjadi BKP yang
dihasilkan.
d) Kepemilikan atas barang jadi berada pada pemesan atau penerima
JKP.
e) Pengusaha Jasa Maklon mengirim barang hasil pekerjaannya
berdasarkan permintaan pemesan atau penerima JKP ke luar daerah
Pabean.
2) Jasa Perbaikan dan perawatan yang batasan kegiatannya memenuhi
syarat:
Jasa yang melekat pada atau jasa untuk barang bergerak yang
dimanfaatkan di luar Daerah Pabean.
3) Jasa Konstruksi, yaitu layanan jasa konsultasi perencanaan pekerjaan
konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan
jasa konsultasi pengawasan pekerjaan konstruksi, yang batasan
kegiatannya memenuhi syarat:
4) Jasa yang melekat pada atau jasa.untuk barang tidak bergerak
yang.terletak di luar Daerah Pabean.
b. Tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas Ekspor
Tarif PPN sebesar 0% diterapkan atas Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud,
Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, dan Ekspor Jasa Kena Pajak.

7. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas Impor


Impor merupakan proses pembelian barang atau jasa asing dari suatu negara ke negara lain
atau setiap kegiatan memasukkan barang barang dari luar Daerah Pabean ke dalam Daerah
Pabean. Daerah pabean adalah wilayah kedaulatan Republik Indonesia dan tempat-tempat
tertentu di wilayah yurisdiksi nasional Republik Indonesia yang didalamnya berlaku peraturan
perundang-undangan di bidang kepabeanan.
Pada prinsipnya semua kegiatan impor barang dikenai PPN. Namun dalam rangka
mendorong perkembangan dunia usaha Indonesia dan meningkatkan daya saing kita, maka
Pemerintah menetapkan jenis-jenis Barang Kena Pajak Tertentu yang bersifat strategis yang
dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai, yang bertujuan untuk menjamin
tersedianya barang-barang yang bersifat strategis tersebut. Pemberian fasilitas perpajakan ini
hanya bersifat sementara.
1. PPN yang Dibebaskan atas Impor

9
Perlu diketahui bahwa tidak semua barang yang dibeli atau dijual dikenakan PPN, dan
PPN yang dibebaskan atas Impor itu sendiri tidak bisa dikreditkan. Sebagaimana yang
telah diatur oleh Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
370/KMK/2003 Tentang Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai yang
Dibebaskan atas Impor dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu dan/atau
Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu, bahwa:
(1) Barang Kena Pajak Tertentu adalah:
a) Senjata, amunisi, alat angkutan di air, alat angkutan di bawah air, alat angkutan
di udara, alat angkutan di darat, kendaraan lapis baja, kendaraan patroli, dan
kendaraan angkutan khusus lainnya, serta suku cadangnya.
b) Komponen atau bahan yang belum dibuat di dalam negeri yang digunakan
dalam pembuatan senjata dan amunisi untuk keperluan Departemen Pertahanan
atau Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau Kepolisian Negara Republik
Indonesia (POLRI).
c) Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan Program Pekan Imunisasi Nasional
(PIN).
d) Buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama.
e) Kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau dan kapal angkutan
penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal
tongkang, dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau keselamatan
manusia.
f) Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat
keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan.
g) Kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan
serta prasarana.
h) Komponen atau bahan yang digunakan untuk pembuatan kereta api, suku
cadang, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan, serta prasarana yang
akan digunakan oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia.
i) Peralatan berikut suku cadangnya yang digunakan oleh Departemen Pertahanan
atau TNI untuk penyediaan data batas dan photo udara wilayah Negara
Republik Indonesia yang dilakukan untuk mendukung pertahanan Nasional.
j) Rumah sederhana, rumah sangat sederhana, rumah susun sederhana,.pondok
boro, asrama mahasiswa dan pelajar serta perumahan lainnya, yang batasannya
ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendengar pertimbangan Menteri
Pemukiman dan Prasarana Wilayah.
(2) Jasa Kena Pajak Tertentu adalah:
a) Jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Laut Nasional, Perusahaan.
penangkapan ikan nasional, Perusahaan Penyelenggara Jasa
Kepelabuhan.Nasional, atau Perusahaan Penyelenggara Jasa Angkutan Sungai,
Danau, dan Penyeberangan Nasional, yang meliputi:

10
(i) Jasa persewaan kapal.
(ii) Jasa kepelabuhan meliputi jasa tunda, jasa pandu, jasa tambat, dan jasa
labuh.
(iii) Jasa perawatan atau reparasi (docking) kapal.
b) Jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional yang
meliputi:
(i) Jasa pesewaan pesawat udara.
(ii) Jasa perawatan atau reparasi pesawat udara.
c) Jasa perawatan atau reparasi kereta api yang diterima oleh PT (PERSERO)
Kereta Api Indonesia.
d) Jasa yang diserahkan oleh Kontraktor.untuk pemborongan bangunan
sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf j dan pembangunan tempat yang
semata-mata untuk keperluan ibadah.
e) Jasa persewaan rumah susun sederhana, rumah sederhana, dan rumah sangat
sederhana.
f) Jasa yang diterima oleh Departemen Pertahanan atau TNI yang dimanfaatkan
dalam rangka penyediaan data batas photo udara wilayah Negara Republik
Indonesia untuk mendukung pertahanan nasional.

8. Mampu Menentukan Penjualan Yang Tidak Terutang Ppn


Pada dasarnya semua barang dan jasa merupakan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak,
sehingga dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN), kecuali jenis barang dan jenis jasa
sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 4A Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009.
A. Jenis Barang Yang Tidak Dikenai Ppn
1. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya
meliputi :
a. Minyak mentah (crude oil);
b. Gas bumi, tidak termasuk gas bumi seperti elpiji yang siap dikonsumsi langsung oleh
masyarakat;
c. Panas bumi;
d. Asbes, batu tulis, batu setengah permata, batu kapur, batu apung, batu permata,
bentonit, dolomit, felspar (feldspar), garam batu (halite), grafit, granit/andesit, gips,
kalsit, kaolin, leusit, magnesit, mika, marmer, nitrat, opsidien, oker, pasir dan kerikil,
pasir kuarsa, perlit, fosfat (phospat), talk, tanah serap (fullers earth), tanah diatome,
tanah liat, tawas (alum), tras, yarosif, zeolit, basal, dan trakkit;
e. Batu bara sebelum diproses menjadi briket batu bara; dan
f. Bijih besi, bijih timah, bijih emas, bijih tembaga, bijih nikel, bijih perak, serta bijih
bauksit.

11
2. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak meliputi :
a. beras;
b. gabah;
c. jagung;
d. sagu;
e. kedelai;
f. garam, baik yang beryodium maupun yang tidak beryodium;
g. daging, yaitu daging segar yang tanpa diolah, tetapi telah melalui proses disembelih,
dikuliti, dipotong, didinginkan, dibekukan, dikemas atau tidak dikemas, digarami,
dikapur, diasamkan, diawetkan dengan cara lain, dan/atau direbus;
h. telur, yaitu telur yang tidak diolah, termasuk telur yang dibersihkan, diasinkan, atau
dikemas;
i. susu, yaitu susu perah baik yang telah melalui proses didinginkan maupun
dipanaskan, tidak mengandung tambahan gula atau bahan lainnya, dan/atau dikemas
atau tidak dikemas;
j. buah-buahan, yaitu buah-buahan segar yang dipetik, baik yang telah melalui proses
cuci, disortasi, dikupas, dipotong, diiris, di-grading, dan/atau dikemas atau tidak
dikemas; dan
k. sayur-sayuran, yaitu sayuran segar yang dipetik, dicuci, ditiriskan, dan/atau disimpan
pada suhu rendah, termasuk sayuran segar yang dicacah.
3. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan
sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun
tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau
katering.
4. Uang, emas batangan, dan surat berharga.

B. Jenis Jasa Yang Tidak Dikenai Ppn


1. Jasa pelayanan kesehatan medis, meliputi :
a. jasa dokter umum, dokter spesialis, dan dokter gigi;
b. jasa dokter hewan;
c. jasa ahli kesehatan seperti akupuntur, ahli gigi, ahli gizi, dan ahli fisioterapi;
d. jasa kebidanan dan dukun bayi;
e. jasa paramedis dan perawat;
f. jasa rumah sakit, rumah bersalin, klinik kesehatan, laboratorium kesehatan, dan
sanatorium;
g. jasa psikolog dan psikiater; dan
h. jasa pengobatan alternatif, termasuk yang dilakukan oleh paranormal.
2. Jasa pelayanan sosial meliputi:
a. jasa pelayanan panti asuhan dan panti jompo;
b. jasa pemadam kebakaran;

12
c. jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan;
d. jasa lembaga rehabilitasi;
e. jasa penyediaan rumah duka atau jasa pemakaman, termasuk krematorium; dan
f. jasa di bidang olah raga kecuali yang bersifat komersial.
3. Jasa pengiriman surat dengan perangko, meliputi jasa pengiriman surat dengan
menggunakan perangko tempel dan menggunakan cara lain pengganti perangko tempel.
4. Jasa keuangan, meliputi:
a. jasa menghimpun dana dari masyarakat berupa giro, deposito berjangka, sertifikat
deposito, tabungan, dan/atau bentuk lain yang dipersamakan dengan itu;
b. Jasa menempatkan dana, meminjam dana, atau meminjamkan dana kepada pihak lain
dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek,
atau sarana lainnya;
c. Jasa pembiayaan, termasuk pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, berupa:
Sewa guna usaha dengan hak opsi;
Anjak piutang;
Usaha kartu kredit; dan/atau
Pembiayaan konsumen;
d. Jasa penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai, termasuk gadai syariah dan
fidusia; dan
e. Jasa penjaminan.
5. Jasa asuransi, merupakan jasa pertanggungan yang meliputi asuransi kerugian, asuransi
jiwa, dan reasuransi yang dilakukan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis
asuransi, tidak termasuk jasa penunjang asuransi seperti agen asuransi, penilai kerugian
asuransi, dan konsultan asuransi.
6. Jasa keagamaan, meliputi :
a. jasa pelayanan rumah ibadah;
b. jasa pemberian khotbah atau dakwah;
c. jasa penyelenggaraan kegiatan keagamaan; dan
d. jasa lainnya di bidang keagamaan.
7. Jasa pendidikan, meliputi :
a. jasa penyelenggaraan pendidikan sekolah, seperti jasa penyelenggaraan pendidikan
umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan
keagamaan, pendidikan akademik dan jasa penyelenggaraan pendidikan luar sekolah.
8. Jasa kesenian dan hiburan, meliputi semua jenis jasa yang dilakukan oleh pekerja seni
dan hiburan.
9. Jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan meliputi jasa penyiaran radio atau televisi baik
yang dilakukan oleh instansi pemerintah atau swasta yang tidak bersifat iklan dan tidak
dibiayai oleh sponsor yang bertujuan komersial.
10. Jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam negeri yang
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri.

13
11. Jasa tenaga kerja, meliputi :
a. Jasa tenaga kerja;
b. Jasa penyediaan tenaga kerja sepanjang pengusaha penyedia tenaga kerja tidak
bertanggung jawab atas hasil kerja dari tenaga kerja tersebut; dan
c. Jasa penyelenggaraan latihan bagi tenaga kerja.
12. Jasa perhotelan, meliputi :
a. jasa penyewaan kamar, termasuk tambahannya di hotel, rumah penginapan, motel,
losmen, hostel, serta fasilitas yang terkait dengan kegiatan perhotelan untuk tamu
yang menginap; dan
b. jasa penyewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel, rumah
penginapan, motel, losmen dan hostel.
13. Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara
umum, meliputi jenis-jenis jasa yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah seperti
pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB), pemberian Ijin Usaha Perdagangan,
pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak dan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
14. Jasa penyediaan tempat parkir yang dilakukan oleh pemilik tempat parkir dan/atau
pengusaha kepada pengguna tempat parkir dengan dipungut bayaran.
15. Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam atau koin yang diselenggarakan
oleh pemerintah maupun swasta.
16. Jasa pengiriman uang dengan wesel pos.
17. Jasa boga atau katering.

9. Cara menghitung PPN dan PPnBM terutang


Misalnya PKP “D” menjual BKP yang dihasilkannya, maka penghitungan PPN dan PPn BM
yang terutang adalah :
a. Dasar Pengenaan Pajak = Rp50.000.000,00
b. PPN = 10% x Rp50.000.000,00 = Rp5.000.000,00
c. PPn BM = 35% x Rp50.000.000,00 = Rp17.500.000,00
PPN sebesar Rp500.000,00 yang dibayar pada saat impor merupakan pajak masukan bagi PKP
“D” dan PPN sebesar Rp5.000.000,00 merupakan pajak keluaran bagi PKP “D”. Sedangkan
PPnBM sebesar Rp1.000.000,00 tidak dapat dikreditkan. Begitu pun dengan PPnBM sebesar
Rp17.500.000,00 tidak dapat dikreditkan oleh PKP “X”.

10. Mengisi SPT Masa PPN


1. Format 1111 telah sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-
44/PJ/2010 Tentang Bentuk, Isi dan Tata Cara Pengisian serta Penyampaian SPT Masa
PPN Beserta Petunjuk Pengisiannya dan hanya dapat digunakan untuk Pengisian SPT
Masa PPN mulai Masa Pajak Januari 2011 dan seterusnya.

14
2. Formulir SPT Masa PPN 1111 terdiri atas 1 Halaman Induk dan 6 Halaman Lampiran
dengan keterangan sebagai berikut :
a. Formulir Induk SPT Masa PPN 1111 (Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan
Nilai) dengan kode F.1.2.32.04
b. Formulir 1111 AB (Rekapitulasi Penyerahan dan Perolehan atau Formulir 1111 AB)
dengan kode D.1.2.32.07
c. Formulir 1111 A1 (Daftar Ekspor BKP Berwujud, BKP Tidak Berwujud, dan/atau
JKP) dengan Kode D.1.2.32.08
d. Formulir 1111 A2 (Daftar Pajak Keluaran Atas Penyerahan Dalam Negeri Dengan
Fatur Pajak) dengan Kode D.1.2.32.09
e. Formulir 1111 B1 (Pajak Masukan Yang Dapat Dikreditkan atas Import BKP dan
Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud/JKP Dari Luar Daerah Pabean) dengan Kode
D.1.2.32.10
f. Formulir 1111 B2 (Pajak Masukan Yang Dapat Dikreditkan atas Perolehan BKP/JKP
Dalam Negeri ) dengan Kode D.1.2.32.11
g. Formulir 1111 B3 (Daftar Pajak Masukan Yang Tidak Dapat Dikreditkan atau Yang
Mendapat Fasilitas) dengan Kode D.1.2.32.12
3. SPT hasil pencetakan ini wajib ditanda tangani, diberi cap perusahaan dan tidak boleh
dilipat atau kusut. Untuk pencetakan gunakan hanya kertas HVS berukuran:
a. Folio/Government Legal (8,5 x 13 inch);
b. Berat minimal 70gr;
4. Untuk dapat menggunakan formulir ini secara optimal, gunakan aplikasi Adobe Reader
versi 9.0 atau lebih baru. Aplikasi ini dapat diunduh sendiri oleh wajib pajak secara gratis
di internet;
5. Pengisian data pada formulir induk berupa isian Nama PKP, Masa, NPWP, dan
Pembetulan ke, cukup dilakukan sekali dan secara otomatis akan mengisi pada Formulir
1111 B3, 1111 B2, 1111 B1, 1111 A2, 1111 A1 dan 1111 AB;
6. Isilah dari lampiran-lampiran terlebih dahulu (dimulai dari Formulir 1111 B3, 1111 B2,
1111 B1, 1111 A2, 1111 A1, 1111 AB, kemudian Induk 1111). Rumus-rumus
penjumlahan, pengurangan, kaitan dengan bagian tertentu dan lainnya telah tersedia di
dalam form ini, sehingga Wajib Pajak tidak perlu melakukan perhitungan kembali;
7. Tombol RESET digunakan untuk mengosongkan file pdf ini dari data yang telah diisikan
sebelumnya. Setelah selesai mengisi SPT dan mencetaknya, jangan lupa simpan ke file
lain (Save-as dan beri nama yang berbeda dengan file semula), kemudian gunakan
tombol RESET untuk mengosongkan file;
8. Harap diperhatikan bahwa penulisan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak Pada Formulir
1111 A2 harus jelas dan lengkap, karena hasil dari pengisian Kode dan Nomor Seri
Faktur Pajak pada Formulir 1111 A2 akan dilakukan kalkulasi otomatis menurut kode
faktur pada Formulir 1111 AB;

15
9. Field yang bersifat harus diisi (mandatory field) ditandai dengan bentuk kotak merah ,
field yang tidak dapat diisi dan diedit (read only) merupakan hasil dari perhitungan
otomatis atau perhitungan dari lampiran ditandai dengan fields berisi angka 0, field yang
dapat diedit dan diisi (user entered field) ditandai dengan bentuk highlight fileds
berwarna biru.
Apabila field yang bersifat mandatory tidak diisi maka formulir SPT tersebut tidak dapat
dicetak. Pada beberapa field terdapat fungsi yang secara otomastis akan mengkonversi
penulisan huruf kecil menjadi huruf kapital.

11. SPT Masa PPnBM


1. SPT Masa PPn BM (Formulir 1101 BM) hanya diisi oleh PKP yang menghasilkan BKP
Yang Tergolong Mewah. SPT ini dibuat untuk setiap Masa Pajak dan dilampirkan pada
SPT Masa PPN Masa Pajak yang bersangkutan. Jika dalam suatu Masa Pajak tidak ada
penyerahan BKP Yang Tergolong Mewah, formulir ini tetap dibuat dan diisi dengan tanda
strip (-) atau ditulis " NIHIL".
2. Dalam hal terdapat pembetulan SPT Masa PPn BM saja tanpa ada pembetulan SPT Masa
PPN, maka SPT Masa PPn BM Pembetulan dapat disampaikan tersendiri.

Petunjuk Pengisian :

1. Lajur Bagian Atas Spt Masa PPn BM


Masa Pajak................................20..........

Pembetulan Masa Pajak...................20........Ke.........


Penjelasan, lihat petunjuk pengisian SPT Masa PPN (Formulir 1195) Nomor III.1 (halaman
5).
2. Kode A. Identitas Pengusaha Kena Pajak
1. NPWP
Diisi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sesuai dengan yang tercantum pada Kartu
Nomor Pokok Wajib Pajak (KP.PDIP.4-20). Dalam hal KP.PDIP.4-20 belum diperoleh,
diisi dengan NPWP yang tercantum pada Bukti Pendaftaran wajib Pajak (KP.PDIP.4-21).
2. Nama PKP
Diisi dengan nama lengkap orang pribadi atau badan yang wajib mengisi SPT Masa PPN
sesuai dengan Surat Keputusan/Pemberitahuan tersebut pada butir 8.
3. Alamat dan Kode Pos
Diisi dengan alamat lengkap dan kode pos dari PKP sesuai dengan Surat
Keputusan/Pemberitahuan tersebut pada butir 8.
4. Nomor Telepon

16
Diisi dengan nomor telepon PKP.
5. Nomor Faksimile
Diisi dengan nomor faksimile PKP.
6. Merek Usaha
Diisi dengan merek usaha PKP.
7. Nomor Ijin Sentralisasi dan Tanggal
Diisi dengan nomor dan tanggal surat ijin sentralisasi yang diterbitkan oleh Direktur
Jenderal Pajak.
8. Jenis Usaha
Diisi semua jenis usaha yang menjadi kegiatan PKP.
Misalnya : - Industri minyak goreng,
- Importir,
- Konsultan.
Catatan : Dengan mencantumkan jenis usaha baru di SPT ini, maka PKP tidak perlu lagi
melaporkan tambahan jenis usaha tersebut.
- Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU)
Diisi dengan kode Klasifikasi Lapangan Usaha PKP.
Untuk pertama kalinya kode ini diisi oleh KPP dan selanjutnya diisi oleh
PKP sendiri.
- Perubahan Identitas
Dalam hal terdapat perubahan nama, alamat, nomor telepon, dan jenis
usaha yang mengalami perubahan, penambahan atau pengurangan, maka
nomor 2, 3, 4, dan 7 diisi nama, alamat, nomor telepon, dan jenis usaha
yang baru, kemudian diisi tanda X pada kotak nama baru, alamat baru,
nomor telepon baru, dan jenis usaha yang mengalami perubahan,
penambahan atau pengurangan.
9. Nomor Surat Pengukuhan dan Tanggal Berlaku
Diisi dengan nomor pengukuhan dan tanggal mulai berlakunya pengukuhan PKP sesuai
dengan Surat Keputusan/Pemberitahuan Kepala Kantor Pelayanan Pajak tentang
Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.

3. Kode B. Ekspor Dan Penyerahan Dalam Negeri


PERHATIAN :
Kolom "s.d. Bulan ini" berakhir pada akhir Masa Pajak tahun buku yang bersangkutan,
sehingga untuk setiap awal tahun buku kolom ini diisi dengan angka yang sama dengan
kolom "Bulan ini". Lihat contoh petunjuk pengisian Formulir 1195 kode B butir 2, halaman 7
dan 8.
1. Ekspor.
1.1. Dengan LC
Penjelasan, lihat petunjuk pengisian SPT Masa PPN (Formulir 1195) kode B.I. 1.1

17
(halaman 8).
1.2. Tanpa L/C
Penjelasan, lihat petunjuk pengisian SPT Masa PPN (Formulir 1195) kode B. 1.1.2
(halaman 8).
2. Penyerahan Dalam Negeri.
2.1. Penyerahan kepada Pemungut Pajak Pertambahan Nilai Atas penyerahan BKP
Kendaraan Bermotor Yang Tergolong Mewah
2.1.1 Dikenakan tarif 10%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 10%.
2.1.2 Dikenakan tarif 20%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 20%
2.1.3 Dikenakan tarif 30%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 30%.
2.1.4 Dikenakan tarif 40%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 40%.
2.1.5 Dikenakan tarif 50%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 50%.
2.1.6 Dikenakan tarif 60%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 60%.
2.1.7 Dikenakan tarif 75%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 75%.
2.1.8 Dikenakan tarif ....%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif ....%.
2.1.9 Jumlah (2.1.1. + 2.1.2. + 2.1.3. + 2.1.4. + 2.1.5. +2.1.6. +2.1.7. + 2.1.8.)
Diisi dengan penjumlahan angka-angka pada (kode B 2.1.1. + 2.1.2. + 2.1.3.
+ 2.1.4. + 2.1.5. + 2.1.6. + 2.1.7. + 2.1.8.).
2.2. Penyerahan kepada pihak lain yang bukan Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.
2.2.1. Dikenakan tarif 10%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 10%.
2.2.2. Dikenakan tarif 20%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang

18
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 20%.
2.2.3. Dikenakan tarif 30%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 30%.
2.2.4. Dikenakan tarif 40%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 40%.
2.2.5. Dikenakan tarif 50%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 50%.
2.2.6. Dikenakan tarif 60%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 60%.
2.2.7. Dikenakan tarif 75%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif 75%.
2.2.8. Dikenakan tarif ...%
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang
Tergolong Mewah di dalam negeri yang dikenakan tarif ... %.
2.2.9. Jumlah (2.2.1. + 2.2.2. + 2.2.3. + 2.2.4. + 2.2.5. + 2.2.6. + 2.2.7. + 2.2.8.)
Diisi dengan penjumlahan angka-angka pada (kode B 2.2.1. + 2.2.2. + 2.2.3.
+ 2.2.4. + 2.2.5. + 2.2.6. + 2.2.7. + 2.2.8.).
3. Penyerahan yang PPn BM-nya Tidak Dipungut/Dibebaskan.
Diisi dengan jumlah Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan BKP Yang Tergolong
Mewah di dalam negeri yang PPn BM-nya Tidak Dipungut/ Dibebaskan sesuai dengan
tarif PPn BM 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 75%, atau ...%.
Termasuk juga untuk penyerahan kepada Perwakilan Negara Asing atau Perwakilan
Organisasi Internasional lainnya setelah mendapat persetujuan untuk diberikan fasilitas
perpajakan oleh Direktur Jenderal Pajak.
4. Jumlah Penyerahan Dalam Negeri (2.1.9. + 2.2.9. + 3).
Diisi dengan penjumlahan Dasar Pengenaan Pajak pada kode B (2.1.9. + 2.2.9. + 3).
5. Dikurangi Retur Penjualan.
Diisi dengan jumlah penyerahan yang tercantum dalam Nota Retur dalam Masa Pajak
yang sama dengan Masa Pajak dibuataya Nota Retur atau dalam Masa Pajak diterimanya
Nota Retur tersebut, baik retur BKP Yang Tergolong Mewah yang berasal dari
penyerahan dalam tahun buku berjalan maupun tahun buku sebelumnya.
6. Jumlah Ekspor dan Penyerahan Dalam Negeri (1.1. + 1.2. + 4 - 5).
Diisi dengan penjumlahan Dasar Pengenaan Pajak pada (kode B 1.1. + 1.2. + 4) dikurangi
Dasar Pengenaan Pajak pada kode B.5.

19
4. Kode C. Ppn Bm Atas Penyerahan Dalam Negeri
1. Dengan tarif 10% yaitu 10% x (jumlah kode B.2.1.1 + B.2.2.1)
Diisi dengan jumlah PPn BM yang terutang sebagai hasil perkalian tarif 10% dari Dasar
Pengenaan Pajak tersebut pada (Kode B 2.1.1 + B.2.2.1).
2. Dengan tarif 20% yaitu 20% x (jumlah kode B.2.1.2 + B.2.2.2)
Diisi dengan jumlah PPn BM yang terutang sebagai hasil perkalian tarif 20% dari Dasar
Pengenaan Pajak tersebut pada (Kode B 2.1.2 + B.2.2.2).
3. Dengan tarif 30% yaitu 30% x (jumlah kode B.2.1.3 + B.2.2.3)
Diisi dengan jumlah PPn BM yang terutang sebagai hasil perkalian tarif 30% dari Dasar
Pengenaan Pajak tersebut pada (Kode B 2.1.3 + B.2.2.3).
4. Dengan tarif 40% yaitu 40% x (jumlah kode B.2.1.4 + B.2.2.4)
Diisi dengan jumlah PPn BM yang terutang sebagai hasil perkalian tarif 40% dari Dasar
Pengenaan Pajak tersebut pada (Kode B.2.1.4 + B.2.2.4).
5. Dengan tarif 50% yaitu 50% x (jumlah kode B.2.1.5 + B.2.2.5)
Diisi dengan jumlah PPn BM yang terutang sebagai hasil perkalian tarif 50% dari Dasar
Pengenaan Pajak tersebut pada (Kode B.2.1.5 + B.2.2.5).
6. Dengan tarif 60% yaitu 60% x (jumlah kode B.2.1.6 + B.2.2.6)
Diisi dengan jumlah PPn BM yang terutang sebagai hasil perkalian tarif 60% dari Dasar
Pengenaan Pajak tersebut pada (Kode B.2.1.6 + B.2.2.6).
7. Dengan tarif 75% yaitu 75% x (jumlah kode B.2.1.7 + B.2.2.7)
Diisi dengan jumlah PPn BM yang terutang sebagai hasil perkalian tarif 75% dari Dasar
Pengenaan Pajak tersebut pada (Kode B.2.1.7 + B.2.2.7).
8. Dengan tarif ... % yaitu ... % x (jumlah kode B.2.1.8 + B.2.2.8)
Diisi dengan jumlah PPn BM yang terutang sebagai hasil perkalian tarif ...% dari Dasar
Pengenaan Pajak tersebut pada (Kode B.2.1.8 + B.2.2.8).
9. Jumlah (1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8)
Diisi dengan penjumlahan angka-angka pada (Kode C.1 + C.2 + C.3 + C.4 + C.5 + C.6 +
C.7 + C.8).
10. Dikurangi PPn BM Atas Retur Penjualan
Diisi dengan jumlah PPn BM yang tercantum dalam Nota Retur dalam Masa Pajak yang
sama dengan Masa Pajak dibuatnya Nota Retur atau dalam Masa Pajak diterimanya Nota
Retur tersebut, baik retur BKP Yang Tergolong Mewah yang berasal dari penyerahan
dalam Tahun Buku berjalan maupun Tahun Buku sebelumnya.
11. Dikurangi PPn BM Yang Dipungut Oleh Pemungut PPN
11.1. SSP sudah diterima (terlampir)
Diisi dengan jumlah PPn BM yang telah dipungut dan disetor oleh Pemungut PPN
sesuai dengan lembar ketiga SSP yang dilampirkan (hanya menyangkut SSP
untuk Masa Pajak yang dilaporkan, Lihat Lampiran Pajak Keluaran III Formulir
1195 A3).
11.2. SSP belum diterima

20
Diisi dengan jumlah PPn BM yang telah dipungut oleh Pemungut PPN akan tetapi
SSP yang bersangkutan belum diterima oleh PKP sampai saat jatuh tempo
penyampaian SPT Masa Pajak yang bersangkutan. Lihat Lampiran Pajak
Keluaran III Formulir 1195 A3.
CATATAN :
Jika kemudian setelah penyampaian SPT Masa PPn BM temyata diterima SSP-nya, maka
tidak perlu lagi dilaporkan pada k ode C.11.1. dan C11.2. SPT Masa PPn BM Masa Pajak
diterimanya SSP tersebut, tetapi cukup dilampirkan pada kode F.4 dengan menyebutkan
jumlah lembar SSP dan jumlah rupiah PPn BM-nya.
12. PPn BM Yang Kurang/Lebih Dibayar (9 -10 -11.1 - 11.2)
12.1. PPn BM Yang Kurang dibayar
Diisi dengan angka pada kode C.9 dikurangi angka-angka pada kode C. 10, C.
11.1, C 11.2, dalam hal hasilnya positif.
12.2. PPn BM Yang lebih dibayar
Diisi dengan angka pada kode C.9 dikurangi angka-angka pada kode C. 10, C.
11.1, C 11.2, dalam hal hasilnya negatif.
Telah disetor tanggal: ..........
Diisi sesuai tanggal penyetoran pada Bank Persepsi/Kantor Pos dan Giro yang tercantum
pada SSP yang bersangkutan dalam hal terjadi PPn BM yang kurang dibayar.

5. Kode D. Ppn Bm Atas Impor Dan Perolehan Dalam Negeri


1. Dengan Tarif 10%
Diisi dengan jumlah PPn BM yang dibayar atas impor dan perolehan dalam negeri BKP
Yang Tergolong Mewah yang dikenakan tarif 10%.
2. Dengan Tarif 20%
Diisi dengan jumlah PPn BM yang dibayar atas impor dan perolehan dalam negeri BKP
Yang Tergolong Mewah yang dikenakan tarif 20%.
3. Dengan Tarif 30%
Diisi dengan jumlah PPn BM yang dibayar atas impor dan perolehan dalam negeri BKP
Yang Tergolong Mewah yang dikenakan tarif 30%.
4. Dengan Tarif 40%
Diisi dengan jumlah PPn BM yang dibayar atas impor dan perolehan dalam negeri BKP
Yang Tergolong Mewah yang dikenakan tarif 40%.
5. Dengan Tarif 50%
Diisi dengan jumlah PPn BM yang dibayar atas impor dan perolehan dalam negeri BKP
Yang Tergolong Mewah yang dikenakan tarif 50%.
6. Dengan Tarif 60%
Diisi dengan jumlah PPn BM yang dibayar atas impor dan perolehan dalam negeri BKP
Yang Tergolong Mewah yang dikenakan tarif 60%.
7. Dengan Tarif 75%

21
Diisi dengan jumlah PPn BM yang dibayar atas impor dan perolehan dalam negeri BKP
Yang Tergolong Mewah yang dikenakan tarif 75%.
8. Dengan Tarif... %
Diisi dengan jumlah PPn BM yang dibayar atas impor dan perolehan dalam negeri BKP
Yang Tergolong Mewah yang dikenakan tarif...%.
9. Jumlah (1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8)
Diisi dengan penjumlahan angka-angka pada (Kode D.1 + D.2 + D.3 + D.4 + D.5+ D.6+
D.7+ D.8).

6. Kode E. Perhitungan Pembetulan (Hanya Diisi Jika Terdapat Pembetulan)


1. Jumlah pajak terutang yang telah dilunasi.
Diisi dengan cara menyajikan jumlah kekurangan pajak terutang yang telah dilunasi
sebelum dilakukan pembetulan terakhir pada masa pajak yang sama.
2. Hasil pembetulan hanya dicantumkan pada "Bulan ini".
1. kurang dibayar
2. lebih dibayar
Diisi tanda X pada :
Kotak angka 1 : apabila hasil pembetulan menimbulkan PPn BM yang kurang dibayar.
Kotak angka 2 : apabila hasil pembetulan menimbulkan PPn BM yang lebih dibayar.

Jumlah pada Kode E.I telah dilunasi tanggal .................

Diisi sesuai tanggal penyetoran pada Bank Persepsi/Kantor Pos dan Giro yang tercantum pada
SSP yang bersangkutan.
1. Contoh pembetulan SPT Masa PPn BM yang menimbulkan PPn BM yang Kurang
Dibayar.
Diberi tanda X pada [ ] apabila hasil pembetulan menimbulkan PPn BM yang Kurang
Dibayar.
Jumlah PPn BM yang Kurang Dibayar terjadi apabila jumlah PPn BM yang harus dibayar
fada Kode C.I 2 SPT Pembetulan lebih besar dari Kode C. 12 SPT yang salah.
Contoh 1 :
PPn BM yang harus dibayar
(Kode C.12 SPT Masa PPn BM yang salah)
Rp 1.800.000,00
...........
PPn BM yang harus dibayar
(Kode C.12 SPT Masa PPn BM
Rp 2.000.000.00
Pembetulan) .........
Hasil Pembetulan
(Kode E.I) PPn BM yang Kurang Dibayar
Rp 200.000,00
...............

22
Contoh 2 :
PPn BM yang harus dibayar
(Kode C. 12 SPT Masa PPn BM yang salah)
Rp (500.000,00)
...........
PPn BM yang harus dibayar
(Kode C.12 SPT Masa PPn BM
Rp 2.000.000.00
Pembetulan) ..........
Hasil Pembetulan
(Kode E. 1) PPn BM yang Kurang Dibayar
Rp 2.500.000.00
...............

Confoh 3 :
PPn BM yang harus dibayar (telah
dikembalikan)
(Kode C, 12 SPT Masa PPn BM yang salah) Rp (3.000.000,00)
...........
PPn BM yang harus dibayar
(Kode C.12 SPT Masa PPn BM
Rp (2.000.000.00)
Pembetulan) ..........
Hasil Pembetulan
(Kode E.I) PPn BM yang Kurang Dibayar
Rp 1.000.000,00
..............

Contoh 4 :
PPn BM yang harus dibayar (belum
dikembalikan)
(Kode C. 12 SPT Masa PPn BM yang salah) Rp (3.000.000,00)
...........
PPn BM yang harus dibayar
(Kode C. 12 SPT Masa PPn BM
Rp (2.000.000.00)
Pembetulan) ..........
Hasil Pembetulan
(Kode E.I) PPn BM yang Kurang Dibayar
Rp 1.000.000.00
...............

Hasil pembetulan (Kode E.1) PPn BM yang kurang dibayar sebesar Rp. 1.000.000,00
tidak perlu disetor karena PPn BM yang harus disetor (Kode C.12 SPT yang salah)
sebesar (Rp.3.000.000,00) belum dikembalikan. Dengan demikian PKP dapat
mengajukan permohonan pengembalian sebesar Rp. 2.000.000,00

23
2. Contoh pembetulan SPT Masa PPn BM yang menimbulkan PPn BM yang Lebih Dibayar
(Kode E.2).
Diberi tanda X pada Q apabila hasil pembetulan menimbulkan PPn BM yang Lebih
Dibayar.
Jumlah PPn BM Lebih Dibayar terjadi apabila jumlah PPn BM yang harus dibayar pada
Kode C.I 2 SPT Pembetulan lebih kecil dari Kode C.12 SPT yang salah.

Contoh 1 :
PPn BM yang harus dibayar
(Kode C. 12 SPT Masa PPn BM yang salah)
Rp 2.000.000,00
...........
PPn BM yang harus dibayar
(Kode C.I 2 SPT Masa PPn BM
Rp 1.800.000.00
Pembetulan) ..........
Hasil Pembetulan
(Kode E.2) PPn BM yang Lebih Dibayar
Rp 200.000.00
.................

Contoh 2 :
PPn BM yang harus dibayar
(Kode C.12 SPT Masa PPn BM yang salah)
Rp 2.000.000,00
...........
PPn BM yang harus dibayar
.
(Kode C.12 SPT Masa PPn BM
Rp (500.000,00)
Pembetulan) .........
Hasil Pembetulan
(Kode E.2) PPn BM yang Lebih Dibayar
Rp 2.500.000,00
..................

Contoh 3 :
PPn BM yang harus dibayar (telah
dikembalikan)
(Kode C. 12 SPT Masa PPn BM yang salah) Rp (2.000.000,00)
...........
PPn BM yang harus dibayar
(Kode C.12 SPT Masa PPn BM
Rp (3.000.000.00)
Pembetulan) ..........
Hasil Pembetulan

24
(Kode E.2) PPn BM yang Lebih Dibayar Rp 1.000.000.00
..................

Contoh 4 :
PPn BM yang harus dibayar (belum
dikembalikan)
(Kode C. 12 SPT Masa PPn BM yang salah) Rp (2.000.000,00)
...........
PPn BM yang harus dibayar
(Kode C.12 SPT Masa PPn BM
Rp (3.000.000.00)
Pembetulan) ..........
Hasil Pembetulan
(Kode E.2) PPn BM yang Lebih Dibayar
Rp 1.000.000.00
..................

Hasil pembetulan (Kode E.2) PPn BM yang Lebih Dibayar sebesar Rp 1.000.000,00 tidak
perlu dikembalikan, karena PPn BM yang harus disetor (Kode C.12 SPT yang salah)
sebesar (Rp 2.000.000,00) belum dikembalikan. Dengan demikian PKP dapat
mengajukan permohonan pengembalian sebesar Rp 3.000.000,00.

CATATAN :
Apabila hasil pembetulan menimbulkan Lebih dibayar, maka kelebihan pembayaran PPn
BM tersebut dapat dikembalikan dengan mengajukan permohonan tertulis secara
tersendiri.

7. Kode F. Lampiran
1. Diisi tanda X pada [ ] jika terdapat penyerahan yang PPn BM-nya Tidak Dipungut/
Dibebaskan sebagaimana tersebut pada Kode B.3.Dokumen yang harus dilampirkan
adalah Surat Keterangan tentang PPn BM yang Tidak Dipungut/Dibebaskan.
2. Diisi tanda X pada [ ] dan lampirkan Surat Kuasa Khusus tersebut pada Kode G.2 jika
SPT Masa PPn BM ini ditandatangani oleh kuasa.
3. Diisi tanda X pada [ ] sesuai dengan lembar ketiga SSP yang dilampirkan.
4. Diisi tanda X pada [ ] dan lampirkan lembar ketiga SSP yang diterima dalam masa Pajak
ini dari Kode C.I 1.2 SPT Masa PPn BM masa-masa pajak sebelumnya dengan
menyebutkan jumlah lembar dan nilai rupiahnya.
5. Diisi tanda X pada [ ] dan lampirkan Daftar Rincian Kendaraan Bermotor sebagaimana
dimaksud dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-199/PJ/2000 tanggal 21
Juli 2000 tentang Pelaporan Pemungutan PPN Dan PPn BM Atas Penyerahan Kendaraan
Bermotor.

25
6. Diisi tanda X pada [ ] jika ada dokumen lain yang perlu dilampirkan selain dokumen
tersebut pada nomor 1 sampai dengan 4.

8. Kode G. Pernyataan
...............................,Tgl........................... 20..........
Diisi dengan tempat (nama kota), tanggal, bulan, dan tahun Formulir 1101 BM
ditandatangani.
Tanda tangan :
Nama jelas :
Diisi dengan nama jelas PKP atau kuasanya dan ditandatangani.
Cap Perusahaan (jika ada)
Stempel/cap PKP (jika ada)
1. [ ] PKP
Diisi dengan tanda X pada kotak, jika yang mengisi dan menandatangani Formulir 1101
BM adalah Pengusaha Kena Pajak sendiri. Untuk Badan Usaha, formulir ini
ditandatangani oleh pengurus atau direksi.
2. [ ] Kuasa
Diisi dengan tanda X pada kotak jika yang mengisi dan menandatangani Formulir 1101
BM adalah kuasa, berdasarkan Surat Kuasa Khusus dari PKP.

9. Kode H. Diisi Oleh Dinas


Kode ini hanya diisi oleh petugas Direktorat Jenderal Pajak sesuai dengan petunjuk pengisian
SPT Masa PPN (Formulir 1195) Kode L (halaman 28).

26