Anda di halaman 1dari 5

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI
Ujian Tengah Semester
Semester Ganjil – 2017

Mata Kuliah : Etika Bisnis


Dosen : Sany Dwita, SE, Ak, M.Si, P.hd, CA
Vanica Serly, S.Pd. SE. M.Si

Petunjuk:
1. Berdoalah terlebih dahulu agar ujian Saudara dapat berlangsung dengan baik dan
lancar
2. Jawaban ujian diketik di komputer.
3. Jawaban ujian yang terindikasi mirip akan digagalkan (baik ide maupun tulisan).
Kerjakan ujian secara mandiri (tidak kerja sama).
4. Carilah tambahan informasi mengenai kasus SNP Finance dan KAP Deloitte di
berbagai sumber. Tambahan informasi akan membantu mahasiswa untuk memahami
kasus ini lebih komprehensif.
5. Cantumkan sumber informasi dalam tugas Saudara.

Soal Teori (JELASKAN secara RINGKAS DAN TEPAT): POINT 35 (4 per soal, 5
untuk yg di bold)
1. Mengapa harapan para pemangku kepentingan penting untuk reputasi
perusahaan dan profitabilitasnya?
2. Jelaskan masing-masing teori etika menurut para filsuf dan kelemahannya? Menurut
Saudara, manakah teori yang paling tepat dalam mengambil keputusan bisnis?
3. Mengapa direksi, eksekutif, dan akuntan harus memahami teori konsekuensialisme,
deontologi, dan etika kebajikan?
4. Berikan contoh perilaku yang mungkin tidak etis meskipun “semua orang
melakukannya” (dalam konteks bisnis)?
5. Apa peran budaya etika dan siapa yang bertanggung jawab untuk itu?
6. Apa kontribusi paling penting dari kode etik?
7. Menurut Saudara, apa yang mendorong individu melakukan tindakan tidak etis dalam
bisnis, berikan contoh?
8. Apa pengaruh tata kelola perusahaan terhadap budaya etika bisnis perusahaan?

Soal Kasus: POINT 65%


Ada Apa dengan Deloitte dan SNP Finance? Ini Penjelasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Kantor Akuntan Publik (KAP) di bawah entitas Deloitte - Indonesia
disebut-sebut terkait dengan kasus gagal bayar Medium Term Notes (MTN) yang diterbitkan PT
Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance).
Sebenarnya bagaimana kaitan Deloitte dalam kasus tersebut?
Marketing & Communications Lead of Deloitte - Indonesia, Steve Aditya mengungkapkan Satrio Bing
Eny & Rekan (SBE), KAP yang merupakan salah satu entitas Deloitte - Indonesia memang melakukan
general audit atas laporan keuangan SNP Finance. Namun, laporan auditor independen atas Laporan
keuangan SNP terakhir yang dikeluarkan adalah untuk tahun buku 2016.

"Sebelumnya perlu kami informasikan bahwa Deloitte - Indonesia diwakili oleh lima entitas, satu
diantaranya adalah Kantor Akuntan Publik SBE. Jadi, yang melakukan general audit terhadap
laporan keuangan SNP adalah SBE," ujarnya saat bertemu CNBC Indonesia, seperti dikutip Kamis
(2/8/2018).

Steve menuturkan, SBE terakhir kali menerbitkan laporan auditor Independen atas laporan keuangan
SNP untuk tahun buku 2016. Audit tersebut tidak terkait dengan keperluan penerbitan MTN yang
dilakukan SNP pada 2017 dan 2018. SBE juga tidak pernah dimintai persetujuan maupun diberitahu
oleh SNP jika laporan audit atas laporan keuangan SNP digunakan sebagai rujukan dalam penerbitan
Medium Term Notes (MTN).

"SNP mencantumkan laporan keuangan yang telah diaudit pada offering circular mereka tanpa
memberitahu kami. Padahal, sesuai surat perikatan audit, jika mereka ingin mencantumkan nama
kami dalam dokumen apa pun, harus memberitahu kami," jelasnya.

Steve juga menegaskan, audit dilakukan SBE atas laporan keuangan SNP sudah berdasarkan standar
audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI).

"Kami juga memiliki standar pengendalian mutu yang ketat. Sebelum laporan auditor independen
diterbitkan harus melalui penelaahan pengendalian mutu internal yang ketat yang dilakukan oleh
rekan/partner dan manajer yang tidak terlibat dalam perikatan audit," paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Steve juga menegaskan sebagai KAP, tugas dan tanggung jawab SBE
sebatas pada mengaudit laporan keuangan perusahaan dan memberikan pendapat mengenai
kewajaran laporan keuangan, dalam semua hal yang material, apakah sudah disajikan sesuai standar
akuntansi keuangan yang berlaku di Indonesia.

"Sementara penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan merupakan tanggung jawab
manajemen perusahaan, dalam hal ini SNP," imbuhnya.

Steve menambahkan, untuk laporan keuangan SNP tahun 2017, SBE masih dalam tahap awal proses
audit dan belum mengeluarkan laporan auditor independen. Semenjak izin SNP dibekukan, SBE sulit
berkomunikasi dengan manajemen SNP sehingga tidak dapat melanjutkan proses audit.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengaku telah mengantongi sanksi terhadap KAP
yang selama ini mengaudit laporan keuangan SNP Finance.

Kepala Pusat Pembinaan Profesi Kementerian Keuangan Langgeng Subur mengemukakan,


pemerintah saat ini hanya tinggal menunggu tanda tangan Sekretaris Jenderal perihal sanksi yang
dikenakan bagi Deloitte.
"Kami sudah berikan kepada pak Sekjen, dan tinggal di tanda tangan," kata Langgeng, Senin
(30/7/2018).

Meski demikian, Langgeng enggan membeberkan secara rinci sanksi apa yang bakal dikenakan
kepada KAP yang bertanggung jawab tersebut. Menurutnya, keputusan pemberian sanksi akan
diberikan dalam beberapa hari ke depan.
"Mungkin 5 hari dari sekarang. Jangan mendahului, tidak boleh," ungkapnya.

Dalam pemeriksaan yang sudah dilakukan, bendahara negara mengakui adanya indikasi kelalaian
yang dilakukan KAP dalam mengaudit laporan keuangan anak usaha Grup Columbia tersebut.

Namun di akhir pemeriksaan, ada beberapa temuan yang disoroti, antara lain scepticisme yang
dianggap perlu dimiliki auditor, serta pemahaman terhadap sistem pencatatan yang digunakan
perusahaan.

Adapun yang kedua, pengujian yang dilakukan KAP terhadap SNP Finance tidak sampai pada
dokumen dasar.

"Karena AP [akuntan publik] sudah lama memegang PT SNP sebagai clientnya, maka ada hal-hal
yang langkah audit harus diperdalam, menjadi tidak dilakukan," kata Langgeng.

"Mungkin 5 hari dari sekarang. Jangan mendahului, tidak boleh," ungkapnya.

Bagi KAP yang terbukti melakukan pelanggaran. Sanksi yang akan dikenakan pun terbagi dengan
berbagai jenis. Seperti rekomendasi untuk melaksanakan kewajiban tertentu, peringatan tertulis,
sampai dengan pembatasan pemberian jasa kepada suatu entitas.
(sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20180802101243-17-26563/ada-apa-dengan-deloitte-
dan-snp-finance-ini-penjelasannya)

Kasus SNP Finance, Bank Mandiri


Pidanakan Deloitte Indonesia
Tim, CNN Indonesia | Rabu, 26/09/2018 07:24 WIB

Bagikan :

Ilustrasi Bank Mandiri. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Mandiri Tbk mengaku bakal memidanakan kantor akuntan publik
yang mengaudit laporan keuangan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance), salah satunya
Deloitte Indonesia. Kantor akuntan publik tersebut dinilai tak mengaudit laporan tersebut dengan
sebenarnya.

"Kami akan gugat (secara) pidana kantor akuntan publiknya, karena di data (keuangan) mereka
sebelumnya tak ada tanda-tanda mengalami kesulitan," ujar Sekretaris Perusahaan Rohan Hafas
kepada CNNIndonesia.com, Selasa (25/9).

Hal tersebut, menurut dia, ditemukan setelah pihaknya mengkaji ulang laporan keuangan SNP
Finance melalui kantor akuntan publik lainnya.
"Kami menunggu (hasil review) IAI (Ikatan Akuntan Indonesia). Setelah itu kami ajukan (gugatan
secara pidana) " terang dia.

Lihat juga:
Kronologi SNP Finance dari 'Tukang Kredit' ke 'Tukang Bobol'

Rohan menyebut SNP Finance sebenarnya sudah menjadi nasabah Bank Mandiri selama 20 tahun.
Namun, itikad buruk baru ditujukan perusahaan pembiayaan tersebut beberapa bulan terakhir. Saat
ini, pinjaman macet perseroan ke anak perusahaan Columbia Group tersebut mencapai Rp1,2 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya telah menjatuhkan sanksi administratif kepada kantor
akuntan publik yang diketahui melakukan pelanggaran dalam prosedur audit atas laporan keuangan
PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance tahun buku 2012 hingga 2016. Sanksi
administrasi diberikan setelah memperoleh pengaduan dari OJK.

Kantor akuntan publik tersebut, yakni Akuntan Publik Marlinna, Akuntan Publik Merliyana Syamsul,
dan Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio Bing, Eny & Rekan (Deloitte Indonesia).

Lihat juga:
Kena 'Getah' SNP Finance, Multifinance Kesulitan Cari Modal

Sebelumnya, Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Kombes Daniel Tahi
Monang Silitong mengungkapkan dugaan transaksi 'nakal' SNP Finance, anak usaha jaringan ritel
elektronik Columbia, terhadap 14 bank.

Perusahaan mengajukan fasilitas kredit modal kerja kepada sejumlah bank untuk memodali kegiatan
usahanya. Namun, status kreditnya macet. Berdasarkan hasil penyelidikan, perusahaan diduga
memalsukan dokumen, penggelapan, penipuan.

"Modusnya dengan menambahkan, menggandakan, dan menggunakan daftar piutang (fiktif), berupa
data list yang ada di PT CMP," jelas Daniel.

Pada 14 Mei 2018, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah dijatuhi sanksi Pembekuan Kegiatan
Usaha (PKU). Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot menyebut jika perusahaan tidak dapat memenuhi
ketentuan hingga berakhirnya jangka waktu PKU, maka sesuai dengan ketentuan POJK 29, izin
usahanya akan dicabut.

CNNIndonesia.com sudah berusaha untuk menghubungi Deloitte Indonesia melalui nomor yang
tertera di alamat website mereka untuk meminta konfirmasi soal rencana Bank Mandiri tersebut.
Tapi sampai berita diturunkan, belum ada jawaban dari mereka. (agi/asa)
Sumber (https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180925191223-78-333175/kasus-snp-
finance-bank-mandiri-pidanakan-deloitte-indonesia)
Pertanyaan:
1. Uraikan kesalahan yang dilakukan SNP Finance?
2. Apa keterlibatan KAP Deloitte dalam kasus ini?
3. Menurut Saudara, Kenapa KAP bisa menghadapi kasus ini? Apakah audit yang
dilakukan telah sesuai dengan standar? Apakah ada peran tata kelola perusahaan
dalam kegagalan ini?
4. Menurut Saudara, Kenapa SNP Finance melakukan kecurangan? Apakah ada peran
tata kelola perusahaan dalam kegagalan ini?
5. Pada kasus SNP finance, pemangku kepentingan siapa saja yang telah dirugikan?
Analisis dengan membuat tabel “analisis pemangku kepentingan”
6. Menurut Saudara, apakah tindakan Menkeu Sri Mulyani menjatuhkan sanksi kepada
Deloitte telah tepat?
7. Apa saran Saudara terhadap perusahaan SNP Finance dan KAP Deloitte mengenai
kasus ini? Kaitkan dengan teori tata kelola etis perusahaan dan akuntabilitas!

TERIMA KASIH