Anda di halaman 1dari 12

Artikel Riset Jurnal Kefarmasian Indonesia

Vol.7 No.1-Februari 2017:34-45


DOI :10.22435/jki.v7i1.5690.34-45
p-ISSN: 2085-675X
e-ISSN: 2354-8770

Uji Toksisitas Subkronik Kombinasi Ekstrak Daun Uncaria gambir dan


Caesalpinia sappan

Sub-Chronic Toxicity Test of Uncaria gambir and Caesalpinia Sappan Combined Extract

Sri Ningsih*1, Kurnia Agustini1, Nizar1, Rini Damayanti2


1
Pusat Teknologi Farmasi dan Medika – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia
2
Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor, Jawa Barat, Indonesia.
*E-mail : sri.ningsih@bppt.go.id

Diterima: 7 November 2017 Direvisi: 12 Februari 2017 Disetujui: 28 Februari 2017

Abstrak
Prevalensi hiperuresemia cenderung meningkat di masyarakat. Formula herbal (FH) mengandung ekstrak Uncaria
gambir (gambir) dan Caesalinia sappan (secang) terbukti menurunkan asam urat secara in vivo. Penelitian ini
bertujuan untuk menguji keamanan subkronis FH pada hewan tikus galur Sprague Dawley jantan dan betina. Tikus
dikelompokkan secara acak menjadi 4 kelompok, yaitu DOSIS-1 (75 mg/kg BB), DOSIS-2 (300 mg/kg BB),
DOSIS-3 (1200 mg/kg BB) dan kontrol pembawa. FH diberikan secara peroral selama 7 minggu. Hasil
menunjukkan bahwa pemberian FH pada ketiga dosis uji tidak memengaruhi biokimia darah dan hematologi darah
secara bermakna dibandingkan kontrol (p>0,05), kecuali pada hewan betina DOSIS-2 menunjukkan kadar NEUT
lebih rendah dan berbeda bermakna dibanding kontrol (p<0,05). Gambaran histopatologi organ ginjal, hati, jantung,
usus halus, dan lambung menunjukkan tidak ditemukan ada lesi yang berbeda bermakna dibanding kontrol (p>0,05),
khususnya pada kelompok DOSIS-1. Selanjutnya, DOSIS-1 tidak memengaruhi konsumsi pakan dan berat badan
hewan coba. Dapat disimpulkan bahwa pemberian FH dosis 75 mg/kg BB selama 7 minggu tidak menyebabkan
gangguan biokimia darah, hematologi darah dan gambaran histopatologi ginjal, hati, jantung, usus halus, dan
lambung.
Kata Kunci: Biokimia darah; Histopatologi; Uji toksisitas subkronik; Uncaria gambir; Caesalpinia sappan

Abstract
Hiperuresemia prevalence tends to increase in society. A combined extract of Uncaria gambir (gambir) and
Caesalinia sappan (secang), had been proven to reduce blood uric acid level in vivo. This study aimed to evaluate
the subchronic toxicity of this combination in male and female Sprague Dawley rat strain. Animals were randomly
grouped into four groups, namely, DOSE-1 (75 mg/kg bw), DOSE-2 (300 mg/kg bw), DOSE-3 (1200 mg/kg bw) and
control group gavaged with carrier. The tested sample was given for 7 weeks orally. The result of blood biochemical
parameters were not different significantly compared to control (p> 0.05), as well as the results of hematology
analysis. However, the NEUT level of female of DOSIS-2 showed lower and significantly different compared to
control (p <0.05). Histopathological evaluation of liver, kidney, heart, small intestine, and stomach organs
illustrated that no lesions found in animals especially in DOSE-1 compared to control significantly (p>0,05).
Furthermore, this dose did not influence feed intake and body weight of animals in each sex. From this study, it
could be concluded that the combination administrated at the dose of 75 mg/kg bw for 7 consecutive weeks did not
affect blood biochemistry and hematology and also organ histopathology of kidney, liver, heart, small intestine, and
stomach.
Keywords: Blood biochemistry; Histopathology; Subchronic toxicity test; Uncaria gambir; Caesalpinia sappan

34
Jurnal Kefarmasian Indonesia. 2017;7(1):34-45

PENDAHULUAN tradisional, selain memiliki bukti khasiat,


Indonesia adalah salah satu negara dipersyaratkan juga pengujian toksisitas
dengan kekayaan sumber daya alam yang pada hewan percobaan guna menjamin
melimpah. Upaya pencarian bahan obat yang keamanan saat penggunaan pada manusia,
berasal dari alam merupakan langkah baik pengujian secara akut maupun jangka
strategis dalam rangka mengoptimalkan panjang (subkronis). Pengujian toksisitas
keunggulan komparatif yang ada, salah pada hewan berguna untuk melihat adanya
satunya untuk mengatasi keluhan kondisi reaksi biokimia, fisiologik dan patologik
hiperuresemia. Hiperuresemia merupakan yang mungkin akan muncul sebelum
salah satu kelainan metabolisme yang penggunaan pada manusia.6
ditandai dengan kadar asam urat tinggi. Penelitian toksisitas terhadap ekstrak
Prevalensi penderita hiperurisemia secang dan gambir secara tunggal telah
cenderung meningkat sepanjang tahun dilakukan sebelumnya. Secang dalam bentuk
sejalan dengan tingkat kemajuan status sediaan infus yang diberikan baik dosis
ekonomi suatu masyarakat.1 Penelitian tunggal dan jangka panjang 30 hari tidak
sebelumnya membuktikan bahwa kombinasi menyebabkan mortalitas dan gangguan efek
ekstrak gambir (Uncaria gambir) dan secang toksik hewan coba.3 Nalla MK melaporkan
(Caesalpinia sappan), yang selanjutnya akan bahwa pemberian ekstrak kloroform secang
disebut dengan formula herbal (FH), mampu dosis tunggal hingga dosis 2000 mg/kg BB
menurunkan kadar asam urat darah tikus tidak menyebabkan kematian dan reaksi
hiperuresemia yang diinduksi menggunakan toksik yang nyata.7 Ekstrak etanol secang
kalium oksonat. Pemberian FH pada dosis termasuk dalam kategori aman pada uji
75, 150 dan 300 mg/kg BB mampu toksisitas akut.8 Ekstrak etanol secang juga
menurunkan kadar asam urat sekitar 35-45% terbukti mampu melindungi hati akibat
relatif terhadap kelompok kontrol sakit.2 senyawa radikal melalui aktivitas
Caesalpinia sappan L. atau dikenal antioksidan.9
dengan secang termasuk dalam famili Uji kemanan ekstrak gambir juga secara
Leguminose yang merupakan salah satu in vitro pada sel Vero10 sel intestinal IEC-6
jenis tanaman yang banyak digunakan secara dan uji mutagenik menunjukkan bahwa
tradisional sebagai bahan makanan dan ekstrak ini aman.11,12 Sementara itu, uji pada
minuman serta dikenal luas memiliki hewan coba hingga dosis 4 g/kg BB tidak
berbagai aktivitas biologi. Studi ilmiah menyebabkan lesi organ hati yang
membuktikan bahwa Sappan wood memiliki bermakna.13
aktivitas dalam mengatasi tuberkulosis, Pengujian keamanan dari kombinasi
diare, disentri, infeksi kulit dan anemia.3 kedua ekstrak tersebut belum pernah
Uncaria gambir (Hunter) Roxb, atau yang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini
dikenal dengan gambir, termasuk ke dalam dilakukan dengan tujuan melakukan
suku Rubiaceae yang merupakan tanaman pembuktian keamanan jangka panjang
spesifik lokasi yang banyak ditemukan (subkronis) FH pada hewan coba secara in
khususnya di pulau Sumatera, Indonesia.4 vivo. Diharapkan hasil penelitian dapat
Gambir mengandung senyawa polifenol mengungkap tingkat keamaan dari FH dan
khususnya flavonoid (+) katekin sekitar 40- dijadikan dasar pada pengujian keamanan
80% berat dalam sediaan ekstrak air kering.5 berikutnya.
Berdasarkan ketentuan BPOM, dalam
pengembangan sediaan obat atau obat

35
Uji Toksisitas Subkronik....(Sri Ningsih, dkk)

METODE DOSIS-3 (1200 mg/kg bb) dan kontrol tanpa


perlakuan. Hewan ditempatkan dalam
Pelaksanaan penelitian telah mendapat
kandang individual yang terbuat dari
persetujuan Komisi Etik FKUI dengan
polikarbonat dengan jumlah tikus 4 ekor
nomor 712/UN2.F1/ETIK/2015 tertanggal
setiap kandang yang dipisahkan antara tikus
25 Agustus 2015. Pengujian toksisitas
betina dan tikus jantan. Tikus diberi pakan
subkronis dilakukan mengacu pada
standar dan minum dalam jumlah ad libitum.
ketentuan BPOM.6
FH disuspensikan dalam pembawa larutan
Alat penelitian meliputi kandang
CMC 0,5% secara aseptik sesuai masing-
individual hewan tikus (Rital®), timbangan
masing dosis dengan volume pemberian
hewan (Kern®), spektrofotometer UV-Vis
sebesar 1 mL/100 g bb. FH diberikan
(Thermo®), mikrosentrifus (mikro22
menggunakan sonde lambung setiap hari
Hettich zentrifuge®), dan mikropipet
pada jam 08.00-10.00 WIB, kecuali
(Ependrof), serta perlengkapan berupa
kelompok kontrol diberi pembawa.
tabung plastik sekali pakai 1,5 mL (Axigen).
Bahan uji formula herbal (FH) berupa Penimbangan berat badan dilakukan
sekali seminggu selama pengujian. Jika
kombinasi ekstrak gambir dan secang.
terdapat hewan coba yang mati, segera
Hewan uji yang digunakan adalah tikus
dilakukan otopsi dan diamati adanya
putih galur SD jantan dan betina yang dibeli
kelainan organ secara makroskopis.
dari BPOM. Usia hewan coba saat pengujian
Penimbangan pakan dilakukan pada setiap
6-8 minggu dengan berat badan 90-125 g.
kandung setiap minggu sekali. Nilai rata-rata
Bahan kimia yang digunakan meliputi
konsumsi pakan per hewan coba disajikan
Heparin (Inviclot®), CMC (foodgrade),
dengan membagi konsumsi pakan
NaH2PO4.H2O (Merck), K2HPO4 (Merck),
perkandang dibagi dengan jumlah hewan
formaldehid (Merck), reagen kit untuk
coba per kandang.
analisis biokimia darah ASAT, ALAT,
Setelah 7 minggu pemberian FH,
Gama-GT, Urea, Kreatinin, Bilirubin total
dilakukan analisis biokimia darah. Hewan
(Diasys®), dan vacutainer EDTA 3 mL
coba dipuasakan selama overnight 16-18 jam
(Vaculab®). Analisis hematologi darah
tetapi tetap diberi air minum, kemudian
dilakukan di Laboratorium Kesehatan
dilakukan pengambilan darah sekitar 1-1,5
Daerah Tangerang Selatan. Analisis
mL melalui sinus orbitalis dan ditampung
histopatologi organ dilakukan di
dalam tabung ependrof yang diberi heparin
Laboratorium Patologi Balai Besar
10 uL dan digoyang perlahan-lahan. Plasma
Penelitian Veteriner mengacu pada protokol
darah dipisahkan dengan sentrifugasi pada
uji yang ada.
kecepatan 10000 rpm suhu 4°C selama 5
menit. Plasma dipisahkan dan disimpan
Perlakuan hewan coba
dalam lemari pendingin pada suhu 4°C
Pelaksanaan pengujian berpedoman pada
untuk proses selanjutnya. Untuk analisis
ketentuan BPOM.6 Hewan coba
kadar urea, tidak digunakan antikoagulan
diaklimatisasi pada kondisi percobaan
heparin.14 Untuk analisis hematologi
(siklus cahaya dibuat gelap dan terang 12
lengkap, cara pengambilan darah sama
jam, suhu 23±3°C, kelembapan ruangan
seperti di atas namun darah ditampung
50%-70%) selama sekitar 7 hari kemudian
dalam tabung Vaculab®.15 Selanjutnya,
dikelompokkan secara acak menjadi 4
seluruh hewan coba dikorbankan dengan
kelompok terdiri dari 8 ekor jantan dan 8
ekor betina per kelompok, yaitu DOSIS-1 cara dislokasi leher. Organ-organ hewan
berupa hati, ginjal, usus halus, lambung dan
(75 mg/kg bb), DOSIS-2 (300 mg/kg bb),

36
Jurnal Kefarmasian Indonesia. 2017;7(1):34-45

jantung diambil, dibersihkan darahnya HASIL DAN PEMBAHASAN


dengan menempelkan pada kertas tissue dan Pengujian keamanan subkronis terhadap
difiksasi dalam larutan BNF 10% (buffer FH dilakukan guna mengetahui tingkat
neutral formalin). Penyiapan preaparat keamanan FH jika digunakan pada waktu
histopatologi organ dilakukan menggunakan lama dengan berpedoman pada ketentuan uji
metode standar.16 non-klinik BPOM. Pengujian bertujuan
untuk memperoleh informasi adanya efek
Analisis parameter uji toksik zat yang tidak terdeteksi pada uji
Analisis parameter uji yang dilakukan toksisitas akut, informasi kemungkinan
sebagai berikut: analisis biokimia darah adanya efek toksik setelah pemaparan
untuk parameter hati (kadar ASAT dan sediaan uji secara berulang dalam jangka
ALAT, gama GT, dan bilirubin total) dan waktu tertentu, serta informasi dosis yang
parameter kesehatan ginjal (kadar urea dan tidak menimbulkan efek.6
kreatinin) menggunakan reagen diagnostik Pengujian dilakukan pada 3 tingkatan
Diasys® secara spektrofotometri dengan dosis. Dosis paling rendah (DOSIS-1)
mengikuti protokol uji yang tersedia;14 sebesar 75 mg/kg BB adalah dosis khasiat
analisis hematologi darah (white blood cell FH dalam menurunkan asam urat.2 Dosis
(WBC), red blood cell (RBC), hemoglobin tertinggi (DOSIS-3, 1200 mg/kg BB) adalah
(Hb), hematokrit (Ht), mean corpuscular 4× dosis efektif. Pada dosis ini diharapkan
hemoglobin concentration (MCHC), akan diperoleh informasi adanya organ
platelets (PLT), the relative distribution sasaran efek toksik tanpa menyebabkan
width of red blood cells by volume (RDW- kematian hewan coba secara bermakna.6
CV), ratio of large platelets (P-LCR), Penetapan DOSIS-3 juga harus
neutrophil (Neut), dan limfosit (LYMPH)) memperhatikan kemudahan pada pemberian
dilakukan mengacu pada pedoman analisis FH kepada hewan coba sebab FH diberikan
alat cell counter otomatis Sysmex XS- dalam bentuk suspensi menggunakan sonde
800i®;15 analisis histopatologi dengan teknik lambung dengan volume maksimal
skoring oleh seorang patolog untuk pemberian pada hewan adalah 10% BB
mengevaluasi tingkat kerusakan. Ketentuan hewan.10 DOSIS-2 adalah dosis tengah
skoring adalah sebagai berikut: TKS: Tidak antara kedua dosis tersebut.
ada kelainan spesifik. Skor 0: Tidak ada Hasil pengukuran biokimia darah
sampel. Skor 1: Lesi ringan. Skor 2: Lesi disajikan pada Tabel 1 (hewan jantan) dan
sedang. Skor 3: Lesi parah.16 Tabel 2 (hewan betina). Data kesehatan
ginjal, yaitu kadar urea dan kreatinin,
Pengolahan data menunjukkan bahwa nilai kedua parameter
Data disajikan dalam bentuk rata-rata ± tersebut tidak berbeda bermakna antara
SD. Analisis statistik menggunakan metode kelompok perlakuan FH dibanding kontrol
oneway ANOVA untuk data parameterik atau (p>0,05), baik pada hewan jantan maupun
Kruskal Wallis untuk data non parameterik. betina. Pemberian FH jangka panjang pada
Guna melihat perbedaan lebih lanjut antara ketiga dosis uji tidak menimbulkan
kelompok dilakukan uji dengan metode least gangguan pada kadar kreatinin dan urea. Hal
significancy difference (LSD) untuk data yang sama juga diamati pada parameter
parameterik atau Mann Whitney untuk data kesehatan hati yaitu kadar ASAT, ALAT,
non parameterik. Semua analisis statistik gama-GT dan bilirubin total, yakni tidak
dilakukan menggunakan program SPSS 13 terdapat perbedaan yang bermakna antara
pada tingkat kepercayaan 95% (p=0,05).16 kelompok perlakuan pada ketiga dosis dan

37
Uji Toksisitas Subkronik....(Sri Ningsih, dkk)

Tabel 1. Biokimia darah setiap kelompok hewan jantan dan betina


Parameter uji KONTROL DOSIS-1 DOSIS-2 DOSIS-3

Hewan jantan
ASAT (U/L) 86,34±19,90 78,67±9,40 74,09±18,90 85,69±12,20
ALAT (U/L) 44,61±10,68 45,30±11,07 41,08±10,39 41,99±9,48
Gama-GT (U/L) 4,40±1,51 3,81±2,66 3,31±1,59 3,98±2,43
Urea (mg/dL) 45,32±19,25 38,56±16,93 39,03±23,03 42,96±21,99
Kreatinin (mg/dL) 0,54±0,19 0,53±0,16 0,44±0,14 0,50±0,18
Bilirubin total (mg/dL) 1,40±0,46 1,12±0,27 1,34±0,52 1,26±0,38
Hewan betina
ASAT (U/L) 72,89±15,00 79,54±12,70 76,71±11,4 87,21±27,60
ALAT (U/L) 37,04±6,24 39,04±8,00 36,94±6,37 36,65±7,73
Gama-GT (U/L) 4,36±0,88 4,68±1,31 4,01±0,87 4,51±1,47
Urea (mg/dL) 46,76±21,06 47,42±20,06 42,05±26,75 43,54±26,12
Kreatinin (mg/dL) 0,63±0,16 0,60±0,20 0,65±0,11 0,67±0,20
Bilirubin total (mg/dL) 0,93±0,22 1,10±0,41 1,20±0,60 0,98±0,39
Nilai adalah rata-rata kadar ± SD. n=8 ekor per kelompok. Pengukuran biokimia darah dilakukan terhadap plasma heparin
kecuali kadar urea darah menggunakan serum, menggunakan reagen kit Diasys® dilakukan secara spektrofotometri. DOSIS1,
DOSIS2, DOSIS3 mendapat FH 75, 300, 1200 mg/kg BB. KONTROL mendapat pembawa larutan CMC 0,5%.

kontrol (p>0,05), baik pada hewan jantan Enzim aminotransferase di beberapa


dan betina. Hal ini berarti bahwa pemberian jaringan mengkatalisis pertukaran gugus
FH hingga 16 kali dosis efektif selama 7 amino antar senyawa yang terlibat dalam
minggu tidak menunjukkan adanya rangkaian reaksi sintesis. Gugus amino yang
gangguan organ ginjal dan hati. dilepaskan akan dirombak menjadi amonia
Kreatinin adalah sejenis asam amino dan diangkut ke hati untuk proses
yang merupakan produk buangan di dalam pembentukan urea, yang selanjutnya akan
darah dan diekskresikan melalui ginjal ke diangkut ke ginjal untuk diekresikan ke urin.
dalam urin. Umumnya kreatinin disimpan Sekitar 50% urea yang difiltrasi oleh
dalam otot sebagai cadangan energi dalam glomerulus akan direabsorbsi kembali di
bentuk kreatinin-fosfat sumber ATP. Tempat tubulus. Sebaliknya, sel-sel tubulus tidak
lain yang memproduksi kreatinin di hati, permeabel terhadap kreatinin, insulin dan
pankreas dan ginjal. Kadar kreatinin yang manitol sehingga semua akan diekskresi
tinggi diduga karena aktivitas otot yang melalui urin. Sejumlah urea akan
berat (olah raga keras) atau karena sistem dimetabolisme lebih lanjut sebagian kecil
pembuangan ginjal yang terganggu. Kadar diekskresikan melalui keringat dan feses.
kreatinin relatif stabil karena tidak Konsentrasi urea dalam darah dipengaruhi
dipengaruhi oleh protein dari diet.18 oleh kesimbangan pembentukan urea dan
Urea merupakan hasil metabolisme katabolisme protein serta kemampuan
nitrogen atau katabolisme protein. Pada ekskresi urea oleh ginjal. Peningkatan kadar
proses katabolisme protein, gugus amino urea dapat disebabkan oleh karena terjadi
dilepas dari asam amino dengan proses peningkatan katabolisme protein jaringan
deaminasi oksidatif, selanjutnya gugus yang disertai dengan keseimbangan nitrogen
amino akan melalui serangkaian daur ulang, yang negatif, proses pemecahan protein yang
dirombak atau dikeluarkan dari tubuh. berlebihan terjadi pada kasus leukmia

38
Jurnal Kefarmasian Indonesia. 2017;7(1):34-45

dimana terjadi pelepasan protein leukosit, itu, pada hewan betina juga menunjukkan
adanya gangguan ekresi urea, karena hasil yang sama kecuali pada kelompok
gangguan prerenal, renal atau postrenal atau DOSIS-2 dimana kadar neutrophil (NEUT)
dikarenakan konsumsi makanan tinggi menunjukkan ada perbedaan bermakna
protein.19 Pemeriksaan kadar kreatinin dan dibanding kontrol (p<0,05). Kadar
urea darah menjadi acuan untuk mengetahui neutrophil pada DOSIS-2 lebih rendah
adanya gangguan fungsi ginjal. Gangguan dibandingkan kelompok kontrol (0,7×103/uL
fungsi ginjal menyebabkan penurunan terhadap 1,5×103/uL). Kondisi ini
kecepatan filtrasi ginjal, disertai dengan menunjukkan bahwa hewan betina lebih
penumpukan sisa metabolisme (ureum dan rentan dibanding hewan jantan. Penelitian
kreatinin) dalam darah sehingga kadar kedua sebelumnya membuktikan bahwa pengujian
zat ini dalam darah ini dapat digunakan toksisitas umumnya menunjukkan bahwa
sebagai indikator derajat kesehatan ginjal. hewan betina lebih sensitif dibandingkan
Enzim ALAT dan ASAT berperan dalam hewan jantan.22 Sistem hematopoesis
mengkatalis transfer gugus amin dari merupakan salah satu sistem yang sangat
glutamat untuk menghasilkan asam amino sensitif terhadap senyawa toksik.23 Pada
alanin dan aspartat pada siklus asam sitrat.20 dosis yang lebih tinggi (DOSIS-3) tidak
Kadar ASAT dan ALAT yang melebihi ditemukan kondisi yang sama. Tidak
kontrol menunjukkan adanya gangguan ditemukan adanya keteraturan antara
terhadap keutuhan sel hepatosit. Jika ada peningkatan dosis akan menghasilkan
kerusakan hepatosit, ALAT dan ASAT akan peningkatan efek toksik. Kemungkinan
dikeluarkan ke dalam aliran darah sehingga penyebab hal ini hanya efek beberapa ekor
ditemukan kadar dalam darah tinggi. ALAT saja yang menyimpang diantara hewan yang
dan ASAT juga diproduksi di jantung, otot, ada dalam satu kelompok. Hasil ini
ginjal, otak, sel darah merah dan otot dalam menyerupai dengan penelitian yang
kadar rendah. Sementara itu, peningkatan dilakukan oleh Bo Li B, et al.24 yang
kadar Gama-GT dan bilirubin menunjukkan mempelajari efek toksik jangka panjang
adanya gangguan fungsi hati terkait pemberian ekstrak bunga teh. Bo Li B
kholestatis. Gama-GT berkaitan dengan menemukan bahwa beberapa parameter
fungsi mengkatalisis perpindahan gugus hematologi darah tidak memiliki pola yang
gama-glutamil dari suatu peptida ke asam konsisten antara peningkatan dosis dengan
amino. Adanya peningkatan kadar dalam perubahan parameter hematologi dan
darah menunjukkan adanya inflamasi awal terhadap waktu pengukuran. Pola yang tidak
saluran empedu. Bilirubin berfungsi tetap ini diduga disebabkan adanya variasi
mengkonjugasi senyawa glukoronat pada dari sedikit hewan coba dalam satu
produk hemolisis sehingga diperoleh kelompok dan tidak dapat dikatakan bahwa
senyawa komplek yang larut air sampel uji memberikan efek toksik terhadap
memudahkan diekresikan melalui empedu. parameter dimaksud.
Adanya peningkatan bilirubin menjadi Hasil skoring derajat kerusakan organ
indikator kelainan fungsi hati.21 hati, ginjal, lambung, usus halus dan jantung
Hasil pengukuran hematologi lengkap (Tabel 3) menunjukkan bahwa pada kontrol
dengan 10 parameter disajikan pada Tabel 2. jantan dan betina ditemukan adanya kelainan
Secara statistik, pada hewan jantan, semua atau lesi dengan derajat ringan pada organ
parameter hematologi tidak berbeda hati dan ginjal. Hal ini menunjukkan bahwa
bermakna antara ketiga kelompok perlakuan hewan yang digunakan tidak termasuk jenis
FH dibanding kontrol (p>0,05). Sementara specific pathogen free (SPF), sehingga

39
Uji Toksisitas Subkronik....(Sri Ningsih, dkk)

kemungkinan adanya lesi sudah merupakan organ hati, ginjal, jantung dan usus halus,
bawaan hewan tersebut. Analisis histologi namun kelainan tersebut secara statistik
pada kelompok yang diberi dosis 1, hewan tidak berbeda bermakna dibandingkan
jantan dan betina, ditemukan adanya dengan kontrol (p>0,05).
perubahan histologi/lesi khususnya pada
Tabel 2. Hematologi lengkap pada hewan jantan dan betina
Parameter uji KONTROL DOSIS-1 DOSIS-2 DOSIS-3

Hewan jantan
WBC x103/uL 14,8±2,5 14,2±1,7 13,9±3,7 14,2±2,2
RBC x106/uL 8,1±0,5 7,8±0,4 8,1±0,2 8,0±0,5
Hb g/dL 14,9±0,7 14,5±0,7 14,9±0,4 14,5±0,6
Ht % 43,4±1,6 42,4±1,7 43,6±0,9 42,3±1,6
MCHC g/dL 34,4±0,4 34,1±0,4 34,3±0,4 34,3±0,4
PLT x103/uL 479,0±92,4 475,0±175,2 547,0±61,9 489,0±112,3
RDW-CV % 18,9±3,0 17±0,8 17,7±0,4 17,9±1,1
P-LCR % 12,9±1,7 10,6±1,1 12,1±1,7 10,9±1,5
NEUT x103/uL 2,0±0,8 1,7±1,0 1,5±0,6 2,3±0,6
LYMPH x103/uL 10,1±4,1 8,7±5,1 8,4±3,1 10,4±2,1

Hewan betina
WBC x103/uL 12,3±1,6 11,8±1,6 13,1±2,8 12,7±3,4
RBC x106/uL 7,3±0,5 7,5±0,2 7,7±0,4 7,5±0,2
Hb g/dL 14,3±0,9 14,2±0,3 14,4±0,7 14,0±0,5
Ht % 41,0±2,4 40,8±0,6 41,5±2,0 40,4±1,1
MCHC g/dL 34,8±0,4 32,0±6,5 34,7±0,4 34,6±0,5
PLT x103/uL 401,7±157,4 348,5±136,8 588,4±213,3 325,8±149,1
RDW-CV % 14,5±1,1 14,5±0,6 14,9±0,6 15,3±1,2
P-LCR % 13,3±2,1 11,4±2,4 11,0±1,1 9,8±3,5
NEUT x103/uL 1,5±0,3 1,3±0,2 0,7±0,2* 2,0±0,7
LYMPH x103/uL 9,9±1,3 9,8±1,6 5,6±0,6 9,8±2,8
*Berbeda bermakna dibanding kelompok kontrol (p<0,05). n=8 ekor per kelompok. Pengukuran hematologi lengkap dilakukan
terhadap darah-EDTA menggunakan alat otomatis Sysmex XS800i®. DOSIS1, DOSIS2, DOSIS3 mendapat FH 75, 300, 1200
mg/kg BB. KONTROL mendapat pembawa larutan CMC 0,5%.

Tabel 3. Hasil skoring derajat kerusakan organ


Kelompok Jantung Lambung Usus Hati Ginjal
halus
Hewan jantan
KONTROL 0,0 0,0 0,5 0,8 1,0
DOSIS-1 0,1 0,0 0,3 1,0 1,0
DOSIS-2 0,3 0,0 0,9 1,9* 1,4
DOSIS-3 0,3 0,0 1,4* 2,6* 1,8*
Hewan betina
KONTROL 0,0 0,0 0,0 1,0 1,0
DOSIS-1 0,4 0,0 0,1 1,3 1,3
DOSIS-2 0,3 0,0 0,3 1,6* 1,4*
DOSIS-3 0,2 0,0 0,1 2,1* 2,0*
*Secara statistik berbeda secara bermakna dibanding control (p<0,05). ). Nilai = rata-rata skoring. n=8 ekor per kelompok.
Analisis histopatologi dengan teknik skoring oleh seorang patolog untuk mengevaluasi tingkat kerusakan. Ketentuan skoring:
TKS: Tidak ada kelainan spesifik. Skor 0: Tidak ada sampel. Skor 1: Lesi ringan. Skor 2: Lesi sedang. Skor 3: Lesi parah.
DOSIS1, DOSIS2, DOSIS3 mendapat FH 75, 300, 1200 mg/kg BB. KONTROL mendapat pembawa larutan CMC 0,5%.

40
Jurnal Kefarmasian Indonesia. 2017;7(1):34-45

Pada gambar 1 dapat dilihat lesi pada kimia seperti katekin, polifenol, dan
organ hati dan ginjal hanya berupa lesi flavonoid.25 Sampai pada takaran tertentu
ringan. Kelompok DOSIS-1 tidak ditemukan tubuh masih bisa mengantisipasi bahan asing
lesi pada organ lambung. yang masuk ke dalam tubuh, namun pada
Efek kerusakan organ akibat perlakuan jumlah yang berlebih maka akan
FH DOSIS-2 terhadap kelima jenis organ berpengaruh terhadap beberapa organ,
pada hewan betina lebih parah dibanding khususnya yang terlibat langsung pada
jantan. Pada hewan jantan kerusakan yang proses detoksifikasi dan ekskresi.
bermakna ditemukan hanya pada organ hati Hasil pengamatan penimbangan berat
(vs kontrol, p<0,05). Sementara pada hewan badan selama pelaksanaan pengujian untuk
betina ditemukan pada dua organ yaitu organ hewan jantan (Gambar 2) dan betina
hati dan ginjal (vs kontrol, p<0,05). Organ (Gambar 3) menunjukkan bahwa pemberian
yang lain tidak terjadi kerusakan yang FH pada ketiga dosis uji tidak menyebabkan
bermakna. penurunan BB secara berarti, baik pada
Selanjutnya, perlakuan FH DOSIS-3 hewan jantan maupun hewan betina. BB
pada hewan jantan ditemukan lesi yang hewan jantan dan betina selama pengujian
bermakna pada organ hati, ginjal dan usus cenderung meningkat. Terlihat bahwa berat
(vs kontrol, p<0,05). Sementara, pada hewan badan rata-rata setiap minggu dari setiap
betina ditemukan pada organ hati dan ginjal kelompok berfluktuasi, namun secara umum
vs kontrol, p<0,05). Kondisi ini terdapat kecenderungan peningkatan. Data
menunjukkan bahwa peningkatan dosis FH konsumsi pakan mendukung hasil
akan menambah keparahan lesi beberapa pengukuran berat badan, yaitu tidak terdapat
organ hal ini disebabkan semakin besar perbedaan secara signifikan (p>0,05) antara
jumlah FH yang masuk ke dalam tubuh. FH kontrol dengan kelompok yang mendapat
merupakan ekstrak tanaman yang FH pada ketiga dosis uji pada kedua jenis
mengandung berbagai macam senyawa kelamin (Tabel 4). Konsumsi pakan akan

Gambar 1. Gambaran kerusakan/lesi histopatologi organ hati dan ginjal hewan


dengan perlakuan FH Dosis 1.
Keterangan: Pewarnaan dilakukan menggunakan Hematoksilin dan Eosin. A. Histopatologi organ hati, terjadi
dilatasi sinusoid hati (tanda panah). B. Histopatologi organ ginjal, terjadi degenerasi sel tubulus ginjal (tanda
panah).

41
Uji Toksisitas Subkronik....(Sri Ningsih, dkk)

Gambar 2. Rata-rata berat badan hewan jantan selama pengujian


Keterangan: Penimbangan berat badan dilakukan setiap minggu. n=8 ekor. Data = rata-rata±SD. DOSIS1, DOSIS2,
DOSIS3 mendapat FH 75, 300, 1200 mg/kg BB. KONTROL mendapat pembawa larutan CMC 0,5%.

Gambar 3. Rata-rata berat badan hewan betina selama pengujian


Keterangan: Berat badan hewan ditimbang setiap minggu. n=8 ekor. Data = rata-rata berat badan ± SD. DOSIS1,
DOSIS2, DOSIS3 mendapat FH 75, 300, 1200 mg/kg BB. KONTROL mendapat pembawa larutan CMC 0,5%.

berefek secara langsung pada berat badan keamanan secara in vitro dan in vivo.
hewan coba. Pada studi toksisitas, hewan Senyawa utama secang, brazilin, dan fraksi
coba yang mendapat dosis tinggi umumnya kaya brazilin sampai dengan konsentrasi 500
akan kehilangan berat badan yang µg/mL tidak menunjukkan efek toksik pada
disebabkan penurunan nafsu makan. sel fibroblat yang diinkubasi selama 24 jam.
Perubahan berat badan secara nyata Brazilin juga tidak menyebabkan
merupakan indikator yang paling mudah sitotoksisitas pada konsentrasi di bawah 300
terlihat dan menjadi indikator awal adanya µM pada sel RAW264.7 pada inkubasi
efek toksik dari sampel uji yang diberikan.19 selama 18 jam. Demikian juga inkubasi
Ekstrak secang sudah dikenal sejak lama dan brazilin selama 24 jam hingga konsentrasi
digunakan dalam bidang pangan sebagai 100 µM tidak mengubah viabilitas sel
pewarna dan juga sebagai obat. Peneliti fibroblast dermal.3
sebelumnya telah membuktikan bahwa Pengujian keamanan pada hewan coba
secang terbukti aman pada pengujian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak air

42
Jurnal Kefarmasian Indonesia. 2017;7(1):34-45

secang sekali pada dosis hingga 5000 mg/kg aktivitas antioksidan yang tidak berbeda jauh
BB per oral tidak menunjukkan adanya dengan vitamin C. Pada pengujian dengan
gejala gangguan efek klinik, mortalitas dan metode ABTS (2,2'-azinobis-(3-
perubahan berat organ. Selanjutnya, ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid) dan
pemberian ekstrak etanol secang pada dosis NBT (Nitroblue tetrazolium), (+)katekin
250, 500, dan 1000 mg/kg bb per oral meredam radikal bebas dengan nilai IC50
selama 30 hari menunjukkan bahwa tidak pada konsentrasi 40,47 ppm dan 9,36 ppm
ditemukan adanya abnormalitas berat organ pada setiap metode, sementara itu senyawa
dan berat badan, hematologi, biokimia dan standar vitamin C menunjukkan nilai IC50
histologi organ jika dibandingkan dengan masing-masing 11,4 ppm dan 9,04 ppm.27
kontrol, baik pada hewan jantan maupun Yunarto et al menguji aktivitas antioksidan
betina.3 ekstrak terpurifikasi gambir dan
Secang juga memiliki perlindungan menghasilkan bahwa aktivitas anti-
terhadap kerusakan hati melalui mekanisme oksidannya lebih baik dari vitamin C.28
antioksidan. Pemberian ekstrak etanol Ekstrak air gambir juga mampu menekan
secang pada dosis 500 mg/kg BB mampu peningkatan kadar MDA hati dan serum
meningkatkan enzim-enzim antioksidan akibat induksi CCl4, namun tidak bermakna
tikus yang dipapar dengan parasetamol dibanding kelompok kontrol.29
seperti superoksida dismutase (SOD) dan Sampel uji merupakan kombinasi dari
katalase (CAT) serta kelompok glutation ekstrak bahan alam sehingga terdapat
seperti glutathione peroxidase (GPX), kemungkinan terjadi interaksi antar
glutathione-s-transferase (GST) dan reduced komponen, terutama interaksi yang bersifat
glutathione (GSH). Selain itu, secang juga antagonis pada dosis yang lebih tinggi.
mampu memperbaiki makroinflamasi yang Ketepatan dosis adalah salah satu faktor
setara dengan silimarin 25 mg/kg BB akibat
penting dalam menentukan sukses tidaknya
induksi parasetamol.9
terapi dengan obat tradisional.30 Selain itu,
Keamanan ekstrak gambir telah diteliti
dalam beberapa penelitian sebelumnya. efek kontra indikasi antara beberapa
Hasil analisis sitotoksisitas in vitro ekstrak senyawa aktif pada obat tradisional juga
etanol gambir terhadap sel Vero dapat terjadi, misalnya efek antioksidan akan
menunjukkan nilai IC50 antara 400-500 berkurang jika dosis gambir terlalu tinggi.31
ppm.10 Graidist P et al menyatakan bahwa Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil
sampel ekstrak bahan alam yang mempunyai studi yang dilakukan oleh Hilpiani yang
nilai IC50 lebih besar dari 80 ppm pada uji melakukan uji toksisitas akut terhadap
sitotoksisitas terhadap sel kontrol in vitro ekstrak etil asetat gambir. Ditemukan adanya
termasuk dalam kategori kurang toksik.26 Uji lesi pada organ hati berupa sel radang akut
sitoksisitas terhadap ekstrak air gambir pada dosis pemberian 8000 mg/kg BB,
terhadap sel epitel intestinal lestari IEC-6 sedangkan pada dosis 1000, 2000 dan 4000
menunjukkan bahwa sampai konsentrasi 200
mg/kg BB tidak terdapat lesi yang
ppm, tingkat kehidupan sel masih bertahan
hingga 93%.11 bermakna.12
Selain aman, baik ekstrak dan senyawa
kimia gambir mempunyai aktivitas biologi KESIMPULAN
melindungi kerusakan tubuh dari serangan Pemberian FH pada dosis 75 mg/kg bb
radikal bebas. Senyawa kimia utama gambir, selama 7 minggu pada tikus jantan dan
yakni flavonoid (+) katekin memiliki betina galur Sprague Dawley terbukti aman,

43
Uji Toksisitas Subkronik....(Sri Ningsih, dkk)

tidak memengaruhi kadar kimia darah (urea, Tropical Medicine. 2015 Jun;8(6):421–30.
kreatinin, bilirubin total, ASAT, ALAT dan 4. Hussin MH, Kassim MJ. The corrosion
gama-GT) dan hematologi darah (WBC, inhibition and adsorption behavior of
RBC, HGB, HCT, MCHC, PLT, RDW-CV, Uncaria gambir extract on mild steel in 1 M
P-LCR, PCT, NEUT, LYMPH), tidak HCl. Material Chemistry and Physics. 2011
Feb;125(3):461-8.
menyebabkan kerusakan/lesi organ jantung, 5. Widiyarti G, Sundowo A, Hanafi M. The
lambung, usus, hati dan ginjal, serta tidak free radical scavenging and anti-
menyebabkan penurunan berat badan hewan hyperglycemic activities of various gambiers
dan komsumsi pakan yang bermakna available in Indonesian market. Makara
dibanding kontrol. Sains. 2011 Nov;15(2):129-34.
6. Republik Indonesia. Peraturan Kepala Badan
UCAPAN TERIMA KASIH Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia Nomor 7 tahun 2014 tentang
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Pedoman uji toksisitas nonklinik secara in
Kemenristekdikti atas bantuan pendanaan vivo. Berita Negara Republik Indonesia
penelitian ini melalui kegiatan Kegiatan Tahun 2014 Nomor 875. Jakarta: Menteri
INSINas 2015 dan kepada Pusat Teknologi Hukum dan Hak Asasi Manusia; 2014.
Farmasi dan Medika (Pusat TFM), Badan 7. Nalla MK, Elsani MM, Chinnala KM. Effect
Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang of Caesalpinia sappan Linn chloroform
telah menyediakan sarana dan prasarana extract on alloxan induced diabetes mellitus
untuk pelaksanaan penelitian. Demikian in rats. World Journal of Pharmacy And
juga, terima kasih disampaikan kepada Pharmaceutical Sciences. 2015;4(6):1480-9.
8. Hasti S, Muchtar H, Bakhtia A. Uji aktivitas
asisten laboratorium farmakologi Pusat TFM
hepatoproteksi dan toksisitas akut dari
yaitu Julham Effendi dan Dea Kurniadi yang ekstrak gambir terstandarisasi. Jurnal
telah membantu dalam pemeliharaan hewan Penelitian Farmasi Indonesia. September
percobaan. 2012;1(1):34-8.
9. Sarumathy K, Vijay T, Palani S, Sakthivel K,
DAFTAR RUJUKAN Rajan MSD. Antioxidant and
1. Zhao X, Zhu JX, Mo SF, Pan Y, Kong LD. hepatoprotective effects of Caesalpinia
Effects of cassia oil on serum and hepatic sappan against acetaminophen induced
uric acid levels in oxonate-induced mice and hepatotoxicity in rats. International Journal
xanthine dehydrogenase and xanthine of Pharmacology and Therapeutics.
oxidase activities in mouse liver. Journal of 2011;1:19-31.
Ethnopharmacology. 2006 Feb 20;103(3): 10. Ningsih S. Efek hepatoprotektor gambir
357–65. (Uncaria gambir (Hunter) Roxb.) dalam
2. Ningsih S, Rismana E, Srijanto B, Supriyono menghambat pembentukan kolagen dengan
A, Nizar, Fahrudin F, et al. Pengembangan menekan TIMP-1 (tissue inhibitor of
obat herbal terstandar berbasis gambir metalloproteinase-1) in vivo [disertasi].
sebagai penurun asam urat. Disampaikan Jakarta: Universitas Indonesia; 2015.
pada Seminar Ilmiah Insentif Riset SINas, 11. Anggraini T, Tai A, Yoshino T, Itani T.
Kementerian Riset dan Teknologi: Antioxidative activity and catechin content
Membangun Sinergi Riset Nasional untuk of four kinds of Uncaria gambir extracts
Kemandirian Teknologi; 1-2 Oktober 2014; from West Sumatra Indonesia. African
Bandung, Indonesia. Journal of Biochemistry Research.
3. Nirmal NP, Rajput MS, Prasad RGSV, 2011;5(1):33-38.
Ahmad M. Brazilin from Caesalpinia 12. Hilpiani D. Uji toksisitas akut isolat katekin
sappan heartwood and its pharmacological gambir (Uncaria gambir Roxb) dari fase etil
activities: A Review. Asian Pacific Journal of asetat terhadap mencit putih jantan secara in
vivo [skripsi]. Jakarta: Universitas Islam

44
Jurnal Kefarmasian Indonesia. 2017;7(1):34-45

Negeri Syarif Hidayatullah; 2012. Bello SO. Preliminary toxicity and


13. Sulistyaningrum N, Rustanti L, Alegantina phytochemical studies of the stem bark
S. Uji mutagenik ames untuk melengkapi aqueous extract of Musanga cecropioides in
data keamanan ekstrak gambir (Uncaria rats. Journal of Ethnopharmacology
gambir Roxb.). Jurnal Kefarmasian 2006;105, 374–379.
Indonesia. 2012 Feb 28;3(1):36-45. 24. Bo Li B, Jin Y, Xu Y, Wu Y, Xu J, Tu Y.
14. Diasys Diagnostic Systems [Internet]. Date Safety evaluation of tea (Camellia sinensis
unknown [cited 2017 Feb 21]. Available (L.) O. Kuntze) flower extract: Assessment
from: http://www.diasys-diagnostics.com/ of mutagenicity, and acute and subchronic
fileadmin/promotoolbox/DiaSys_catalogues/ toxicity in rats. Journal of
DiaSys_Katalog_RZ_170121.pdf?_=148577 Ethnopharmacology. 2011;133:583–90.
9300 25. Ningsih S, Wibowo AE, Indriyani HN,
15. Automated Hematology Analyzer XS Series Efendi J, Mufidah R. Pengembangan sediaan
XS-1000i/XS-800i Instruction for use. Kobe: farmasi penurun asam urat berbasis gambir
Sysmex Corporation; 2006. (Uncaria gambir (HUNTER) ROXB).
16. Say CE, editor. Histophatology: Methods Laporam akhir Program Insentif Riset Sistim
and Protocols. Methods in Molecular Inovasi Nasional (InSinas) 2016. Jakarta:
Biology. Vol. 1180. New York: Spinger Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan
Science-Business Media; 2014. Pengembangan. Kementerian Riset,
17. Dahlan MS. Statistik untuk Kedokteran dan Teknologi, dan Pendidikan Tinggi; 2016.
Kesehatan: Deskriptif, bivariat dan 26. Graidist P, Martla M, Sukpondma Y.
multivariat dilengkapi dengan aplikasi Cytotoxic activity of Piper cubeba extract in
dengan menggunakan SPSS. Edisi 5. breast cancer cell lines. Nutrients.
Jakarta: Penerbit Salemba Medika; 2009. 2015;7:2707-18.
18. Adebayo AH, Zeng GZ, Zhang YM, Ji CJ, 27. Raj PV. Exploration of hepatoprotective
Akindahunsi AA, Tan NH. Toxicological mechanisms of actions of some known
evaluation of precocene II isolated from hepatoprotective agents through bax
Ageratum conyzoides L. (Asteraceae) in pathway [PhD dissertation]. Manipal:
Sprague Dawley rats. African Journal of Manipal University; 2010.
Biotechnology. 2010;9(20):2938-44. 28. Yunarto N, Aini N. Effect of purified gambir
19. Sireeratawong S, Piyabhan P, Singhalak T, leaves extract to prevent atherosclerosis in
Wongkrajang Y, Temsiririrkkul R, Punsrirat rats. Health Science Journal of Indonesia.
J, et al. Toxicity evaluation of sappan wood 2015;6(2 Des):105-10.
extract in rats. J Med Assoc Thail. 29. Edward Z. The function utilization of
2010;93(7):S50-S57. gambier (Uncaria gambir) as the
20. Thapa BR, Walia A. Liver Function Tests hepatoprotector. Riset Kimia. 2009;2(2).
and their Interpretation. Indian Journal of 30. Katno. Tingkat manfaat keamanan dan
Pediatrics. 2007 July;74:663-71. efektifitas tanaman obat dan obat tradisional.
21. BPAC (Best Practice Advocacy Centre). Prapti IY, Rahmawati N, Mujahid R,
Liver function testing in primary care Widyastuti Y, editor. Karanganyar: Balai
[Internet]. 2007 [cited 2013 Feb 27] Besar Penelitian dan Pengembangan
Available from:. http://www.bpac.org.nz/ Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Badan
resources/campaign/lft/bpac_lfts_poem_wv. Penelitian Pengembangan Kesehatan,
pdf. Departemen Kesehatan RI; 2008
22. Mir AH, Sexena M, Malla MY. An acute oral 31. Frinanda D, Efrizal, Resti R. Efektivitas
toxicity study of methanolic extract from gambir (Uncaria gambir Roxb) sebagai
Tridex procumbens in Sprague Dawley’s rats antihiperkolesterolemia dan stabilisator nilai
as per OECD guidelines 423. Asian Journal darah pada mencit putih (mus musculus)
of Plant Science and Research. jantan. Jurnal Biologi Universitas Andalas.
2013;3(1):16-20. 2014 September;3(3):231-237.
23. Adeneye AA, Ajagbonna OP, Adeleke TI,

45