Anda di halaman 1dari 8

2.

1 MENGAPA MEMPERTIMBANGKAN ASPEK KEPERILAKUAN PADA


AKUNTANSI
Peningkatan ekonomi pada suatu organisasi dapat digunakan sebagai dasar dalam
memilih informasi yang relevan terhadap pengambilan keputusan. Saat ini, keterampilan
matematis telah berperan dalam menganalisis permasalahan keuangan yang kompleks.
Demikian pula halnya dengan kemajuan dalam teknologi komputer akuntansi yang
memungkinkan informasi dapat tersedia dengan cepat. Kesempurnaan teknis tidak pernah
mampu mencegah orang untuk menyadari bahwa tujuan akhir jasa akuntansi organisasi bukan
sekedar teknik yang didasarkan pada efektivitas dari pelaksanaan segala prosedur akuntansi,
tetapi juga bergantung pada bagaimana perilaku orang-orang didalam perusahaan, baik
sebagai pemakai maupun pelaksana, dipengaruhi oleh informasi yang dihasilkan.
Akuntansi bukanlah sesuatu yang statis, tetapi akan selalu berkembang sesuai dengan
pekembangan lingkungan akuntansi serta kebutuhan organisasi akan informasi yang
dibutuhkan oleh penggunanya (Khomsiah dalam Arfan & Ishak, 2005). Berdasarkan
pemikiran tersebut, manusia dan faktor sosial secara jelas didesain dalam aspek-aspek
operasional utama dari seluruh sistem akuntansi. Dan para akuntan belum pernah
mengoperasikan akuntansi pada sesuatu yang fakum. Para akuntan secara berkelanjutan
membuat beberapa asumsi mengenai bagaimana mereka membuat orang termotivasi,
bagaimana mereka menginterpretasikan dan menggunakan informasi akuntansi, dan
bagaimana sistem akuntansi mereka sesuai dengan kenyataan manusia dan mempengaruhi
organisasi.
Ilmu keprilakuan perlu dipelajari karena Akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari
disiplin ilmu akuntansi yang mengkaji hubungan antara perilaku manusia dan sistem
akuntansi, serta dimensi keperilakuan dari organisasi di mana manusia dan sistem akuntansi
itu berada dan diakui keberadaannya. Akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari disiplin
ilmu akuntansi yang mengkaji hubungan antara perilaku manusia dan sistem akuntansi, serta
dimensi keperilakuan dari organisasi di mana manusia dan sistem akuntansi itu berada dan
diakui keberadaannya. Dengan demikian, definisi akuntansi keperilakuan adalah suatu studi
tentang perilaku akuntan atau non-akuntan yang dipengaruhi oleh fungsi-fungsi akuntansi dan
pelaporan.
Akuntansi keperilakuan menekankan pada pertimbangan dan pengambilan keputusan
akuntan dan auditor, pengaruh dari fungsi akuntansi (misalnya partisipasi penganggaran,
keketatan anggaran, dan karakter sistem informasi) dan fungsi auditing terhadap perilaku,
misalnya pertimbangan (judgment) dan pengambilan keputusan auditor dan kualitas

0
pertimbangan dan keputusan auditor, dan pengaruh dari keluaran dari fungsi-fungsi akuntansi
berupa laporan keuangan terhadap pertimbangan pemakai dan pengambilan keputusan.

2.1.1 Akuntansi adalah Tentang Manusia


Berdasarkan pemikiran perilaku, manusia dan faktor sosial sesungguhnya didesain
secara jelas dalam aspek-aspek operasional utama dari seluruh sistem akuntansi. Para akuntan
membuat beberapa asumsi secara berkelanjutan mengenai bagaimana mereka membuat orang
termotivasi, bagaimana mereka menginterpretasikan dan menggunakan informasi akuntasi,
serta bagaimana agar sistem akuntansi mereka sesuai dengan kenyataan manusia dan
memengaruhi organisasi. Jika akuntan berhubungan dengan efektivitas dan prosedur
perusahaan secara luas, maka mereka juga selayaknya memonitor ketepatan asumsi yang
bersifat kontradiktf terhadap apa yang mereka lihat dalam relitas perusahaan.
Dari pengalaman dan praktik, banyak manajer dan akuntan telah memeperoleh suatu
pemahaman yang lebih dari sekedar aspek manusia dalam tugas mereka. Masih banyak
sistem akuntansi yang dihadapkan pada berbagai kesulitan manusia yang tidak terhitung,
bahkan terkadang samapai menyebabkan penggunaan dan penerimaan seluruh sistem
akuntansi menjadi meragukan. Para manajer terbiasa bebas memanipulasi laporan informasi
sistem akuntansi karena pertanggungjawaban dan pengambilan keputusan dilakukan hanya
berdasarkan hasil yang mereka laporkan dan bukan berdasarkan kontribusi mereka yang lebih
luas terhadap efektivitas organisasi. Prosedur dapat menjadi tujuan akhir jika semata-mata
dibandingkan dengan teknik organisasi yang lebih luas.
Akuntansi adalah mengenai akuntansi. Orang yang optimis dengan hal tersebut akan
membantah bahwa terdapat banyak reaksi perilaku yang tidak menguntungkan terhadap
sistem akuntansi. Untuk membuat pandangan ini menjadi adil, cara pandang akuntan harus
mengandung beberapa pandangan yang terintegrasi. Pengetahuan akuntan, sebagaimana
diketahui bersama, cenderung bersifat parsial, terbatas oleh waktu, sementara mereka bekerja
dalam organisasi yang kompleks, sehingga adalah tidak realistis untuk mengharapkan semua
aspek dari kehidupan organisasi dapat dihubungkan satu sama lain tanpa tekanan. Namun,
sebagai petunjuk tindakan, pandangan ini juga siap menghadirkan suatu kompromi, dan
bertindak sebagai suatu pendekatan yang memungkinkan akuntan untuk tidak berdampingan
dengan hal-hal yang tidak bertanggung jawab.
Dalam pandangan ini, pengertian yang lebih mendalam dan berharga dapat diperoleh
dari pemahaman atas perilaku dan ilmu-ilmu sosial. Dengan menganalisis secara sistematis
hubungan antara sistem akuntansi, bentuk pengendalian, sikap manusia, dalam pengambilan

1
keputusan, serta tingkatan sosial dan perilaku, akuntan dapat memusatkan perhatiannya
keluar. Dengan demikian, hal tersebut tidak menjadi dasar bagi munculnya konflik dan
pertentangan dari banyaknya permasalahan akuntansi, serta tidak menyebabkan potensi
organisasi dan akuntansi itu sendiri diragunkan.

2.1.2 Akuntansi adalah Tindakan


Dalam organisasi, semua anggotanya mempunyai peran yang harus dimainkan dalam
mencapai tujuan organisasi. Peran tersebut bergantung pada seberapa besar porsi dan rasa
tanggungjawab terhadap pencapaian tujuan. Rasa tanggungjawab tersebut dihargai dalam
bentuk penghargaan tertentu. Pencapaian tujuan dalam bentuk kuantitatif juga merupakan
salah satu bentuk tanggung jawab anggota organisasi dalam memenuhi keinginannya untuk
mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Peran anggota organisasi akan sangat berpengaruh
pada pencapaian tersebut.
Apabila suatu anggaran telah ditetapkan untuk dilaksanakan oleh suatu unit kerja
dalam organisasi, maka anggaran itu akan berinteraksi dengan para individu dalam organisasi
tersebut. Dimana masing-masing individu tersebut mempunyai tujuannya masing-masing dan
sekaligus bertanggungjawab mencapai tujuan organisasi. Keselarasan tujuan antara individu
dan organisasi diperlukan untuk mewujudkan terjadinya sinergi antara individu dan
organisasi. Keselarasan tersebut akan dapat lebih diwujudkan manakala individu memahami
dan patuh pada ketetapan-ketetapan yang ada di dalam anggaran.

2.2 DIMENSI AKUNTANSI KEPERILAKUAN


Informasi ekonomi dapat ditambah dengan tidak hanya melaporkan data-data
keuangan saja, tetapi juga data-data nonkeuangan yang terkait dengan proses pengambilan
keputusan.
2.2.1 Lingkup Akuntansi Keperilakuan
Akuntansi keperilakuan berada dibalik akuntansi tradisional yang berarti
mengumpulkan, mengukur, mencatat dan melaporkan informasi keuangan. Dengan
demikian, dimensi akuntansi berkaitan dengan perilaku manusia dan juga dengan desaian,
konstruksi, serta penggunaan suatu system informasi akuntansi yang efisien. Akuntansi
dengan mempertimbangkan hubungan antara perilaku manusia dengan sistem akuntansi
mencerminkan dimensi sosial dan budaya manusia dalam suatu organisasi.
Ruang lingkup akuntansi keprilakuan sangat luas yang meliputi antara lain :
1) Aplikasi dari konsep ilmu keprilakuan terhadap disain kontruksi system akuntansi.

2
2) Studi reaksi manusia terhadap format dan isi laporan akuntansi
3) Dengan cara mana informasi diproses untuk membantu pengambilan keputusan.
4) Pengembangan teknik pelaporan yang dapat mengkomunikasikan perilaku-perilaku
para pemakai data.
5) Pengembangan strategi untuk motivasi dan mempengaruhi perilaku,cita-cita serta
tujuan dari orang-orang yang menjalankan organisasi pemakaian data.
Secara umum, lingkup dari akuntansi keperilakuan dapat dibagi menjadi tiga bidang
besar.
a. Pengaruh perilaku manusia berdasarkan desain, konstruksi, dan penggunaan
system akuntansi. Bidang dari akuntansi keperilakuan ini mempunyai kaitan dengan
sikap dan filosofi manajemen yang memengaruhi sifat dasar pengendalian akuntansi
yang berfungsi dalam organisasi.
b. Pengaruh system akuntansi terhadap perilaku manusia. Bidang dari
akuntansi keperilakuan ini berkenaan dengan bagaimana system akauntansi
memengaruhi motivasi, produktivitas, pengambilan keputusan , kepuasan kerja, serta
kerja sama.
c. Metode untuk memprediksi dan strategi untuk mengubah perilaku manusia.
Bidang ketiga dari akuntansi keperilakuan ini mempunyai hubungan dengan cara
system akuntansi digunakan sehingga memengaruhi perilaku.

2.2.2 Aplikasi dari Akuntansi Keprilakuan


Riset menunjukkan bahwa jika aspek keprilakuan dari keputusan tidak diselidiki secara
menyeluruh, dan jika tindakan korektif tidak diambil ketika sikap menyimpang telah
dideteksi, maka dapat dipastikan bahwa hasilnya menyebabkan system tidak dapat bekerja
sebagaimana mestinya yang diantisipasi. Manajer yang sadar terhadap aspek keprilakuan dari
akuntansi akan memanggil orang-orang yang terlibat guna menyelidiki lebih
lanjut bagaimana mereka memandang inovasi tersebut, apakah menguntungkan atau
merugikan.
Seorang akuntan keperilakuan pasti ingin mengetahui penyebab dari sikap dan perilaku
yang sepertinya akan diulang di masa mendatang. Jika yang terulang adalah perilaku yang
tidak diinginkan maka dapat disimpulkan terdapat proses penyusunan anggaran yang tidak
efesien. Oleh karena itu akuntan keperilakuan akan mendukung strategi untuk mengubah
keadaan perilaku untuk membuatnya sesuai dengan fungsi organisasi yang diinginkan.

3
Untuk itu dapat disimpulkan tujuan dari akuntan keperilakuan adalah mengukur dan
mengevaluasi faktor-faktor keperilakuan yang relevan dan mengomunikasikan hasilnya guna
pengambilan keputusan internal dan eksternal. Selain itu, akuntan keprilakuan seharusnya
juga perlu menentukan apakah orang-orang yang terlibat memiliki pengertian tentang system
yang didasarkan pada isu-isu keamanan yang actual atau apakah mereka hanya
mencerminkan ketakutan dari sesuatu yang tidak diketahui.

2.3 LINGKUP DAN SASARAN HASIL DARI AKUNTANSI KEPERILAKUAN


Para akuntan pada masa lalu hanya fokus pada pengukuran pendapatan dan biaya
yang mempelajari kinerja perusahaan di masa lalu untuk memprediksi masa depan. Mereka
mengabaikan fakta bahwa kinerja masa lalu adalah hasil masa lalu dari perilaku manusia dan
kinerja masa lalu itu sendiri merupakan suatu faktor yang akan mempengaruhi perilaku di
masa depan. Mereka melewatkan fakta bahwa arti pengendalian secara penuh dari suatu
organisasi harus diawali dengan memotivasi dan mengendalikan perilaku, tujuan, serta cita-
cita individu yang saling berhubungan dalam organisasi.
Para akuntan keperilakuan melihat kenyataan bahwa perusahaan yang melakukan
penjualan terlebih dahulu mempertimbangkan perilaku juru tulis yang mencatat pesanan
pelanggan melalui telepon. Para juru tulis tersebut harus menyadari bahwa tujuan mereka
melakukn pekerjan itu adalah untuk kelangsungan hidup organisai. Para akuntan
keperilakuan juga menyadari bahwa mereka bebas mendesai sistem informasi
untuk
memengaruhi motivasi, semangat, dan produktivitas karyawan. Tanggung jawab mereka
menjangkau ke luar pengumpulan dan penggunaan laporan akuntansi oleh orang lain.
Akuntan keperilakuan percaya bahwa tujuan utama laporan akuntansi adalah memengaruhi
perlaku dalam rangka memotivasi dilakukannya tindakan yang diinginkan.
Akuntan keperilakuan berpusat pada hubungan antara perilaku dan sistem akuntansi.
Mereka menyadari bahwa proses akuntansi melibatkan ringkasan dari sejumlah kejadian
ekonomi makro yang dihasilkan dari perilaku manusia dan akuntansi iru sendiri, serta dari
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku yang pada gilirannya secara bersama-
sama akan mementukan semua keberhasilan peristiwa ekonomi. Akuntan keperilakuan
melihat bahwa perusahaan yang melakukan penjualan terlebih dahulu mempertimbangkan
perilaku juru tulis yang mencatat pesanan pelanggan melalui telepon. Juru tulis tersebut
menyadari bahwa tujuan mereka melakukan pekerjaannya adalah untuk kelangsungan hidup
organisasi. Selain itu, para akuntan keperilakuan juga menyadari dapat dengan bebas

4
mendesain sistem informasi untuk mempengaruhi motivasi, semangat dan produktivitas
karyawan. Akuntan keperilakuan percaya bahwa tujuan utama laporan akuntansi adalah untuk
mempengaruhi perilaku dalam rangka memotivasi tindakan yang diinginkan. Sebagai contoh,
suatu perusahaan bisa berhasi; dalam merundingkan kerja sama dengan kelompok organisasi
lainnya dengan baik, atau mungkin akan menjadi gagal karena orang-orang di organisasi
tersebut berjalan ke arah tujuan yang berlawanan.

2.3.1 Persamaan dan Perbedaan Ilmu Keperilakuan dan Akuntansi Keperilakuan


Ilmu keperilakuan mempunyai kaitan dengan penjelasan dan prediksi keperilakuan
manusia. Akuntansi keperilakuan menghubungkan antara keperilakuan manusia dengan
akuntansi. Ilmu keperilakuan merupakan bagian dari ilmu sosial, sedangkan akuntansi
keperilakuan merupakan bagian dari ilmu akuntasi dan pengetahuan keperilakuan. Namun,
ilmu keperilakuan dan akuntansi keperilakuan sama-sama menggunakan prinsip sosiologi dan
psikologi untuk menilai dan memecahkan permasalahan organisasi.
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa ilmu keprilakuan merupakan bagian
dari ilmu sosial, akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari ilmu akuntansi dan
pengetahuan keprilakuan. Akuntansi keprilakuan diterapkan dengan praktis menggunakan
riset ilmu keprilakuan untuk menunjukkan dan memperediksi perilaku manusia.
Akuntansi keperilakuan (behavioral accounting) adalah cabang akuntansi yang
mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan sistem akuntansi (Siegel, G. et al.,
1989), istilah sistem akuntansi yang dimaksud di sini dalam arti yang luas yang meliputi
keseluruhan desain alat pengendalian manajemen yang meliputi sistem pengendalian, sistem
penganggaran, desain akuntansi pertanggung jawaban, desain organisasi seperti desentralisasi
atau sentralisasi, desain pengumpulan biaya, desain penilaian kinerja serta pelaporan
keuangan.
Secara lebih rinci ruang lingkup akuntansi keperilakuan meliputi :
a. Mempelajari pengaruh antara perilaku manusia terhadap desain, konstruksi
dan penggunaan sistem akuntansi yang diterapkan dalam perusahaan, yang
berarti bagaimana sikap dan gaya kepemimpinan manajemen mempengaruhi
sifat pengendalian akuntansi dan desain orgaisasi.
b. Mempelajari pengaruh sistem akuntansi terhadap perilaku manusia, yang
berarti bagaimana sistem akuntansi mempengaruhi motivasi, produktifitas,
pengambilan keputusan, kepuasan kerja dan kerja sama.
c. untuk memprediksi perilaku manusia dan strategi untuk mengubahnya, yang
berarti bagaimana sistem akuntansi dapat dipergunakan untuk mempegaruhi
perilaku.

5
Sebagai bagian dari ilmu keperilakuan (Behavioral Science), teori-teori akuntansi
keperilakuan di kembangkan dari penelitian empiris atas perilaku manusia di organisasi.
Dengan demikian, peranan penelitian dalam pengembangan ilmu itu sendiri sudah tidak
diragukan lagi. Ruang lingkup penelitian di bidang akuntansi keperilakuan sangat luas sekali,
tidak hanya meliputi bidanga akuntansi manajemen saja, tetapi juga menyangkut penelitian
dalam bidang etika, auditing (pemeriksaan akuntan), sistem informasi akuntansi bahkan juga
akuntansi keuangan.

6
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arfan Ikhsan, 2010, Akuntansi Keperilakuan, Edisi 2, Salemba Empat, Jakarta.
Suartana, 1 Wayan, 2010, Akuntansi Keperilakuan, ANDI, Yogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai