Anda di halaman 1dari 13

Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No.

2, Agustus 2015

SUPERVISI MODEL AKADEMIK UNTUK MENINGKATKAN


KEPATUHANPERAWAT DALAM PENERAPAN SPO PERAWATAN LUKA STUDI DI
RSUD CIBABAT CIMAHI

Lilis Rohayani

ABSTRAK

Pelaksanaan Supervisi kepada perawat pelaksana padaumumnya masih bersifat pengawasan, dilakukan
tidak terjadwal, tidak terstruktur, tidak terdokumentasikan dan belum memberikan umpan balik yang baik.
Belum ada model supervisi yang diterapkan dan dari hasil evaluasi pelaksanaan SPO perawatan luka di
Ruang Bedah belum sepenuhnya menjalankan dengan benar. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan
bahwa supervisi model akademik dapat meningkatkan kepatuhan perawat dalam penerapan SPO perawatan
luka. Penelitian ini merupakan penelitian “ pra exsperiment dengan metode pendekatan Before and after
study, sampel dalam penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana (30) di ruang bedah dan teknik
pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah Paired
Samples T-testBefore and after study. Hasil nya rerata kepatuhan perawat dalam penerapan SPO perawatan
luka sebelum diterapkan supervisi model akademik adalah 26,3±2,3 dan sesudah diterapkan supervisi
model akademik meningkat signifikan menjadi 29,7±1,3 (p value = 0,0001). Peningkatan yang signifikan
pada aspek pelaksanaan. Kesimpulan penelitian ini bahwa supervisi model akademik dapat meningkatkan
kepatuhan perawat dalam penerapan SPO perawatan luka secara signifikan. Berdasarkan hasil penelitian
tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi supervisi model akademik dengan kepatuhan perawat
dalam penerapan SPO perawatan luka.

Kata Kunci : Supervisi, Model Akademik, SPO


Kepustakaan : 56 (2000-2013)

24
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015

Supervision Of Academic Model To Increase Nurse’s Complience In Implementing Wound


Care Sop Research At Cibabat General Hospital Cimahi

Lilis Rohayani

Absract

The implementation of supervision over on-duty nurses is mostly monitoring, it was conducted unscheduled,
unstructured, undocumented, and has not given good feedback. There has not been supervision model
applied and the evalution result of wound care SOP implementation at Operating theatre had not been
implemented properly. The aim of this research is to prove that supervision of academic model can improve
nurses’s compliance in implementing wound care SOP. Methods this research is a quantitative study using
research design “Pre Experiment” with Before and After study approach. Samples to this study were on-
duty nurses (30) at operating theatre and sampling technique used purposive sampling. Analysis method
used was Paired Samples T-test. Result is Mean of nurse’s compliance in implementing wound care SOP
before supervision of academic model implemented was 26,3±2,3 and after supervision of academic model
implemented increased significantly to 29,7±1,3 (p value = 0,0001). Significant increase was on
implementation aspect. Conclusion is supervision of academic model can improve nurse’s compliance in
implementing wound care SOP significantly.Suggestion : Research is required over analysis of factors
affecting supervision of academic model and nurse’s compliance in implementing wound care SOP.

Keywords : Supervision, academic model, SOP


Bibliographi : 56 (2000 – 2013)

25
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015

A. Pendahuluan

Pelayanan keperawatan merupakan bagian dari pelayanan kesehatan yang berkontribusi


dalam mencapai pelayanan yang profesional sesuai dengan standar yang ditetapkan. (Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2008 dan Ksouri, H.,et al, 2010). Hasil penelitian menyimpulkan
bahwa asuhan keperawatan yang tidak berkualitas menyebabkan terjadinya peningkatan 7%
kematian dan peningkatan 7 % kegagalan dalam menyelamatkan pasien (Hendrich, A & Chow ,
2008).
Infeksi nosokomial merupakan salah satu indikator penting dalam capaian keselamatan
pasien, Infeksi nosokomial dapat dicegah melalui kepatuhan perawat dalam mentaati atau
mematuhi sesuatu sesuai dengan SPO yang telah ditetapkan. Penerapan SPO berhubungan dengan
kepatuhan perawat dalam mematuhi standar yang berlaku, hasil penelitian menyebutkan bahwa
infeksi nosokomial dapat terjadi akibat perpindahan mikroorganisme melalui petugas kesehatan
dan alat yang digunakan saat melakukan tindakan.Kejadian infeksi banyak terjadi pada kategori
tidak aseptik yang menyebabkan perawatan menjadi lama, biaya meningkat (Jeyamohan, D. 2010)
Monitoring perawatan luka di ruangan menjadi tanggung jawab ketua tim melalui kegiatan
supervisi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa supervisi klinis dianggap efektif untuk
membantu meningkatkan perawatan pasien (Davis c & burke L, 2011). Model supervisi klinik
keperawatan di Indonesai juga belum jelas seperti apa dan bagaimana implementasinya di rumah
sakit (Widiyanto,P. 2012).Kegiatan supervisi lebih banyak dilakukan pada kegiatan pengawasan
bukan pada kegiatan bimbingan, observasi dan penilaian (Mularso, 2006).Model supervisi klinik
keperawatan di rumah sakit belum jelas seperti apa dan bagaimana implementasinya sehingga
diperlukan model supervisi, Supervisi model akademik meliputi kegiatan educative, supportive
dan managerial (Supratman dan agus sudaryanto, 2011)

B. Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian “ pra
exsperiment dengan metode pendekatan Before and after study (Dharma, K.L. 2011). Supervisi dilakukan
oleh supervisor yang dilatih terlebih dahulu kemudian supervisor melakukan supervisi model akademik
kepada perawat pelaksana. Populasi target dalam penelitian ini adalah supervisor sebagai supervisor di
Ruang bedah yang memberikan supervisi model akademik sebanyak 4 orang dan perawat pelaksana yang
diberikan intervensi supervisi model akademik sebanyak 30 orang. Teknik pengambilan sampel
menggunakan purposive sampling.pengukuran kepatuhan penerapan SPO perawatan luka sebelum

26
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015

diberikan intervensi supervisi model akademik dilakukan sebanyak 2x dan observasi sesudah diberikan
intervensi supervisi model akademik sebanyak 2x. lembar ceklist dalam penelitian ini terdiri dari 23
pertanyaan untuk supervisi model akademik dan 16 item pertanyaan untuk SPO perawatan luka. Analisis
data menggunakan analisis univariat dan bivariat.Analisis univariat pada penelitian ini bertujuan untuk
melihat gambaran setiap variabel yang diteliti.Analisis bivariat menggunakan Uji T-Dependen (Dependent
Samples T-test/ Paired Samples T-test) adalah Uji yang digunakan untuk mengetahui apakah terdapat
perbedaan rata-rata (mean) antara 2 kelompok berpasangan (before and after test).

C. Hasil Penelitian Dan Pembahasan


Tabel 1.
Karakteristik Subjek Yang diberikan Intervensi supervisi Model Akademik
Berdasarkan Pendidikan dan Jenis Kelamin di RSUD Cibabat Cimahi
Tahun 2014
Pendidikan D3 Keperawatan 30 (100 %)
Jenis Kelamin Perempuan 24 (80 %)
Laki – laki 6 (20 %)

Umur Mean ± SD 30, 9 ± 3,9


Median 30, 5
Min-max 26-37
Masa Kerja Mean ± SD 6,9 ± 3,9
Median 5
Min-max 1-14

Tabel 1 menunjukan bahwa subjek yang diberikan intervensi supervisi model akademik seluruh subjek
pendidikannnya D3 keperawatan 30 (100 %), hampir seluruh dari subjek 24 (80 %) sebagian kecil dari
subjek 6 (20 %). Rerata umur 30,9 tahun dengan standar deviasi 3,5, usia pertengahan adalah usia 30,5
tahun, usia termuda 26 tahun dan usia tertua 37 tahun. Rerata masa kerja rerata 6,9 tahun dengan standar
deviasi 3,9, masa kerja terbaru 1 tahun dan masa kerja terlama 37 tahun.
Tabel 2
Nilai Pengetahuan Supervisor Sebelum dan Sesudah Mendapat Pelatihan supervisi model
akademik di RSUD Cibabat Cimahi Tahun 2014
Variabel Rerata ±SD SE Min- n p
Maks
Pengetahuan sebelum pelatihan 8,0 ± 0,8 0,4 7-9 4 0,0
supervisi model akademik
01
Pengetahuan sesudah pelatihan 10,5± 0,5 0,3 10-11
supervisi model akademik

27
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015

Tabel 2 menunjukkan terjadi peningkatan rerata nilai pengetahuan supervisor tentang


supervisi model akademik sebelum dan sesudah mendapat pelatihan sebesar 3,1. Hasil uji statistik
menunjukan ada peningkatan yang signifikan pada nilai pengetahuan supervisor sesudah
mendapatkan pelatihan (p value = 0,0001). Aspek pengetahuan yang meningkat pada item
pertanyaan tentang supervisi model akademik meliputi supervisi model akademik adalah supervisi
yang mengembangkan pengalaman perawat dalam hal konsultasi, fasilitasi dan assisting. supervisi
model akademik adalah kegiatan educative, supportive dan managerial dan supervisi model
akademik adalah supervisi untuk merefleksikan praktik keperawatan, mengembangkan keahlian
dan mengembangan kemampuan profesional yang berkelanjutan.

Tabel 3 : Distibusi berdasarkan Pelaksanaan supervisi model akademik di RSUD Cibabat


Cimahi Tahun 2014

NO KEGIATAN Obs 1 Obs 2


EDUKATIF
1 Supervisor menjelaskan jadwal supervisi dan √ √
tindakan yang akan di supervisi
2 Supervisor menjelaskan SPO perawatan luka √ √
3 Supervisor Mengajarkan cara perawatan luka √ √
4 Supervisor mengajarkan prinsip septik dan √ √
aseptik
5 Supervisor Menjelaskan tekhnik /strategi √ √
perawatan luka
6 Supervisor menjelaskan observasi keadaan luka √ √
SUPPORTIF
7 Supervisor mengarahkan melakukan informed √ √
consent ke pasien
8 Supervisor membimbing mengatur posisi pasien √ √
dan menjaga privasi
9 Supervisor mengarahkan mencuci tangan dan √ √
memakai handscoon
10 Supervisor mengarahkan memakai pinset sirurgis √ √
pada saat membuka balutan
11 Supervisor membimbing tekhik membersihkan √ √
luka dari area dalam keluar
12 Supervisor membimbing perawat mengobservasi √ √
keadaan luka
13 Supervisor mengarahkan perawat untuk √ √
memperhatikan teknik septik dan aseptik
14 Supervisor mengarahkan melakukan terminasi √ √
(merapikan pasien, merapikan alat, mencuci
tangan dan melakukan dokumentasi)
MANAJERIAL
15 Supervisor menginformasikan jadwal supervisi √ √
kepada kepala ruangan

28
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015

16 Supervisor menginformasikan jadwal supervisi √ √


kepada perawat dan menjelaskan tindakan yang
akan di supervisi
17 Supervisor menyiapkan SPO tindakan √ √
18 Supervisor menginformasikan kepada perawat √ √
untuk menyiapkan alat dan memberikan informed
consent kepada pasien
19 Supervisor mengobservasi dan menilai kegiatan √ √
perawatan luka sesuai SPO
20 Supervisor melakukan eksplore feeling dan √ √
mengidentifikasi masalah yang ditemukan saat
perawatan luka
21 Supervisor mengevaluasi dan menginformasikan √ √
hasil observasi kepatuhan perawat terhadap
SPOP
22 Supervisor dan perawat menyepakati penilaian √ √
23 Supervisor menginformasikan tindakan √ √
keperawatan sesuai SPO
Berdasarkan hasil observasi pada saat proses pendampingan di ruangan didapatkan data bahwa supervisor
sudah melaksanaan kegiatan supervisi model akademik dengan baik meliputi aspek educative yang
menekankan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan tentang perawatan luka, aspek supportive
yang menekankan pada proses pendampingan dan pengarahan supervisor kepada perawat yang melakukan
perawatan luka dan aspek managerial yangmenekankan pada proses penilaian pada perawat saat melakukan
tindakan perawatan luka secara mandiri.
Tabel 4.
Kepatuhan Subjek dalam Penerapan SPO Perawatan Luka Sebelum dan pada Sesudah
Diterapkan supervisi model akademik di RSUD Cibabat Cimahi Tahun 2014.
Variabel Rerata SE Min- n p
±SD Maks
Kepatuhan SPO perawatan luka 26,3±2,3 0,4 22-31 30 0,001
sebelum diterapkan supervisi model
akademik
Kepatuhan SPO perawatan luka 29,7±1,3 0,2 28-32
sesudah diterapkan supervisi model
akademik

Tabel 4 menunjukkan bahwa penerapan SPO perawatan lukadi RSUD Cibabat Cimahi sesudah
mendapat intervensi terjadi peningkatan rerata sebesar 3,4 (p value = 0,0001). Peningkatan yang
signifikan terjadi pada aspek tahap pelaksanaan.
Kepatuhan perawat dalam penerapan SPO perawatan luka terdiri dari tiga sub variabel yaitu aspek
persiapan, aspek pelaksanaan dan aspek terminasi. Uraian dari tiga sub variabel tersebut adalah :

29
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015

Aspek Persiapan Perawatan Luka


Nilai rerata aspek persiapan pada SPO perawatan luka baik sebelum maupun sesudah
dilakukan supervisi model akademik sudah menunjukan nilai maximal (rerata = 4 ± 0). Aspek
tahap persiapan tersebut meliputi : aspek persiapan alat steril (bak instrument, pinset anatomis,
pinset sirurgis, gunting lurus, kassa steril, koms teril, hadscoon) persiapan alat tidak steril (gunting
balutan, plester, obat desinfektan dalam tempatnya, wash bensin dalam tempatnya, kassa gulungan
bila diperlukan, obat luka sesuai kebutuhan dan larutan chlorine dalam baskon).
Tabel 5.
Kepatuhan Subjek dalam Penerapan SPO Perawatan Luka pada
Aspek Pelaksanaan di RSUD Cibabat Cimahi Tahun 2014

Variabel rerata±SD SE Min- n p


Maks
Perawatan luka sebelum 18,6±2,4 0,4 14-23 30 0,001
intervensi supervisi model
akademik
Perawatan luka setelah 21,7±1,4 0,3 19-24
intervensi supervisi model
akademik

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa penerapan SPO perawatan luka pada aspek tahap pelaksanaan di
RSUD Cibabat Cimahi sebelum mendapat intervensi supervisi model akademik rerata 18,6±2,4 dan
sesudah mendapat intervensi supervisi model akademik menjadi rerata 21,7±1,4 sehingga terjadi
peningkatan rerata sebesar 3,1. (p value = 0,0001). Aspek yang mengalami peningkatan pada tahap
pelaksanaan tersebut yaitu mengatur posisi pasien yang sesuai kebutuhan, memasang sampiran untuk
menjaga privasi pasien, perawat mencuci tangan, membuka balutan lama dengan menggunakan pinset
chirurgis, bersihkan luka memakai pinset dan kassa desinfektan dari arah dalam keluar.
Nilai rerata aspek terminasi pada SPO perawatan luka baik sebelum maupun sesudah dilakukan
supervisi model akademik sudah menunjukan nilai maximal (rerata = 4 ± 0). Aspek tersebut meliputi
sesudah selesai pasien dirapikan, alat direndam dengan menggunakan clorin, perawat mencuci tangan dan
mencatat tindakan.

2.Pembahasan
Penerapan SPO perawatan lukadi RSUD Cibabat Cimahi sesudah mendapat intervensi
supervisi model akademik terjadi peningkatan yang signifikan. Hasil penelitian ini selaras dengan
hasil penelitian yang menyatakan bahwa ada pengaruh supervisi model proctor terhadap kualitas

30
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015

tindakan perawatan luka (r=0,613, p=0,001) (Widiyanto, W.2012).Peningkatan tersebut


disebabkan karena perawat yang melakukan perawatan luka telah menyadari, memahami dan
mentaati pedoman SPO yang ada, hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kesadaran
akan pentingnya mengikuti SPO dibangun melalui proses formal dengan cara memberi dukungan
pada staf dalam upaya menyadarkan dirinya untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan
profesional (Lych L. Hancox. K. Happel.B Parker.J, 2008)

Kemampuan supervisor dalam menjalankan peran supervisi perlu dikembangkan melalui


upaya peningkatan pengetahuan dengan mengadakan pelatihan, hal ini sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa seorang manajer keperawatan harus mempunyai kemampuan manajerial yang
handal untuk melaksanakan supervisi dan dapat menjalankan peran sebagai perencana, pengarah,
pelatih, dan penilai (Swanburg, 2000) Hal ini selaras dengan penelitian yang menyimpulkan bahwa
kemampuan supervisi bagi supervisor perlu dikembangkan melalui suatu pelatihan (Widiyanto,
W.2012). Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian yang menunjukan terjadi peningkatan
rerata nilai pengetahuan supervisor tentang supervisi model akademik sesudah mendapat
pelatihan sebesar 3,1. (p value = 0,0001).

Kegiatan penjaminan kualitas asuhan kepada pasien dapat dilakukan melalui kegiatan
supervisi berjenjang kepada staf sehingga diperlukan peran pemimpin dalam meningkatkan
kepatuhan, mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas–aktivitas yang ada hubungannya dengan
pekerjaan para anggota kelompok (Keliat, 2006). Hasil penelitian menyimpulkan supervisi klinik
yang dilaksanakan secara tepat telah berdampak pada kepuasan kerja dan kinerja perawat
pelaksana secara signifikan (Estelle Lilian Mua, 2011).Oleh Karena itu diperlukan suatu model
supervisi yaitu supervisi model akademik yang dilakukan untuk merefleksikan praktik
keperawatan, mengidentifikasi untuk perbaikan ruangan, memberikan kesempatan untuk
mengembangkan keahlian, menemukan cara baru untuk belajar, mendapatkan dukungan yang
profesional, memotivasi perawat dan mengembangan kemampuan professional yang
berkelanjutan (CPD: Continuing Professional Development) (Supratman dan agus sudaryanto,
2011).Teori dan hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian pada metode observasi tentang
tahap pelaksanaan supervisi model akademik yang dilakukan oleh supervisor yang dapat
meningkatkan kinerja .

31
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015

Supervisi model akademik meliputi tiga kegiatan, yaitu a) educative, b) supportive, c)


managerial. Aspek educative menekankan pada peningkatan pengetahuan, kemampuan,
keterampilan dan membangun pemahaman tentang reaksi dan refleksi dari setiap intervensi
keperawatan, mengajarkan perawat untuk mengeksplore strategi, dan teknik-teknik lain dalam
bekerja (Marquis & Huston. M, 2008).Halini didukung dengan teori yang menyatakan bahwa
kegiatan educative yang dilakukan secara terus menerus mengakibatkan perawat selalu mendapat
pengetahuan yang baru, terjadi peningkatan pemahaman dan peningkatan kompetensi (Supratman
dan agus sudaryanto, 2011 dan Barkauska,V.H, 2000). Kegiatan supportive adalah kegiatan
bimbingan yang meliputi mengarahkan, membimbing pelaksanaan praktik tindakan keperawatan
dan memberikan solusi dari suatu permasalahan yang ditemui saat pemberian asuhan keperawatan
(Supratman dan agus sudaryanto, 2011 dan Barkauska,V.H, 2000). Kegiatan managerial
dirancang untuk memberikan kesempatan kepada perawat pelaksana untuk meningkatkan
manajemen perawatan pasien dalam kaitannya dengan menjaga standar pelayanan dan
peningkatan mutu (Supratman dan agus sudaryanto, 2011). Hasil penelitianmenyimpulkan
terdapat pengaruh supervisi klinik ruang model akademik terhadap perilaku caring (Tri Sumarni,
2013).Teori dan hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian pada metode observasi tentang
tahap pelaksanaan supervisi model akademik yang dilakukan oleh supervisor yang meningkatkan
kinerja.
Pelaksanaan supervisi model akademik yang baik dapat meningkatkan kinerja perawat, hal
ini terlihat dari hasil penelitian bahwa penerapan SPO perawatan luka pada aspek tahap
pelaksanaan sesudah mendapat intervensi supervisi model akademik terjadi peningkatan rerata
sebesar 3,1. (p value = 0,0001). Hasil penelitian ini selaras dengan hasil penelitian menyimpulkan
bahwa supervisi menjadi kerangka dari akuntabilitas dan responsibilitas seorang perawat dalam
melaksanakan tindakan keperawatan (Royal Collage on Nursing, 2002) Supervisi yang dilakukan
dengan benar akan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan, hal ini sesuai dengan pernyataan
bahwa supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu tenaga
keperawatan dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif (Marquis & Huston. M, 2008).
Supervisor sebagai penanggung jawab dalam memberikan asuhan keperawatan berfungsi
untuk memberikan pengarahan kepatuhan penerapan SPO dalam meningkatkan kualitas mutu
pelayanan yang dilakukan oleh perawat pelaksana terhadap pasien agar sesuai dengan harapan
32
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015

pasien. Hal ini selaras dengan penelitian pada aspek persiapan penerapan SPO perawatan luka baik
sebelum dan sesudah dilakukan supervisi model akademik sudah menunjukan nilai
maximal,karakter supervisor juga dipengaruhi oleh karakteristik dari supervisor, hal ini selaras
dengan hasil penelitian supervisor yang dilatih terdiri dari 4 supervisor dengan karakteristik S1
Keperawatan 2 orang dan D3 Keperawatan 2 orang, jenis kelamin supervisor semuanya perempuan
dan memiliki rerata masa kerja 8,5 ± 4,4.
Karakteristik perawat juga mempengaruhi kepatuhan penerapan SPO hal ini selaras dengan
hasil penelitian bahwa karakteristik perawat di RSUD Cibabat terdiri dari Perawat pelaksana yang
dilakukan penelitian semuanya berpendidikan D3 keperawatan, mayoritas perempuan, rerata 30,
9 ± 3,5 dan memiliki masa kerja 6,9 ± 3,9. Karakteristik perawat juga mempengaruhi kinerja
perawat dalam melaksanakan tindakan keperawatan, kepatuhan perawat dalam penerapan SPO
merupakan unsur yang dapat dijadikan indikator dalam menilai kinerja.Faktor yang
mempengaruhi kinerja perawat dalam melaksanakan kepatuhan penerapan SPO adalah
karakteristik individu perawat yaitu pendidikan, umur, jenis kelamin dan masa kerja. Pendidikan
berpengaruh pada cara berpikir, tindakan dan pengambilan keputusan seseorang dalam melakukan
suatu perubahan (Robbins, 2003). Umur dapat mempengaruhi produktivitas (Robbins, 2003) Jenis
kelamin subjek yang mengikuti penelitian mayoritas adalah perempuan akan tetapi tidak ada
perbedaan yang konsisten antara pria dan wanita dalam kemampuan memecahkan masalah,
keterampilan analisa, dorongan kompetitif, motivasi, sosiabilitas, atau kemampuan belajar (Rivai,
V , 2004). Masa kerja yang telah dijalani oleh perawat akan membentuk pengalaman kerja
sehingga akan mampu meningkatkan pengetahuan dan kompetensi dalam melaksanakan tugasnya.

33
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015

D. Simpulan
Hasil penelitian ini menunjukan supervisi model akademik dapat meningkatkan kepatuhan
perawat dalam penerapan SPO perawatan luka secara signifikan (p value = 0,0001). Peningkatan
yang signifikan terjadi pada aspek tahap pelaksanaan.Perlu penelitian lebih lanjut tentang faktor-
faktor yang mempengaruhi supervisi model akademik dengan kepatuhan perawat dalam penerapan
SPO perawatan luka.

34
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015

Daftar Pustaka

Arwani & Supriyanto. Manajemen Bangsal Keperawatan. Jakarta : EGC Kedokteran. 2006
Barkauska,V.H. Perspectives about and models for supervision in the
healthprofessions.http://www.google.co.id/search?q=proctors+model+of+
clinical+supervision&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-
US:official&client=firefox-a. 2000.
Davis c & burke L. The Effectiveness Of Clinical Supervision For A Group Of Ward Mangers Based In A
District General Hospital: An Evaluative Study. Journal Nursing Management. 2011
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Jakarta. Direktorat
jenderal Bina pelayanan Medik. 2008
Dharshini Jeyamohan. Angka Prevalensi Infeksi Nosokomial pada Pasien Luka Operasi Pasca Bedah di
Bagian Bedah di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik.Medan dari bulan April sampai
September 2010.Fakultas kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2010.
Estelle Lilian Mua. Pengaruh Pelatihan Supervisi Klinik Kepala Ruangan terhadap Kepuasan Kerja dan
Kinerja Perawat Pelaksana di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Woodward Palu. Depok. Tesis :
Magister Ilmu Keperawatan Kekhususan Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Program
Pascasarjana FIK Universitas Indonesia. 2011
Hendrich, A& Chow, M. Maximizing The Impact Of Nursing Care Quality: A Closer Look At The Hospital
Work Anvirotment And The Nurse’s Impac. The United States.The Center Health Design. 2008
Kelana Kusuma Dharma. Metodologi penelitian keperawatan : Panduan melaksanakan dan menerapkan
hasil penelitian. Jakarta. Trans info Media. 2011
Keliat, Dkk. Modul Model Praktek Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: Fakultas Keperawatan
Universitas Indonesia dan WHO Indonesia. 2006
Ksouri, H.,et al. Impact of morbidity and mortality conference on analysys of mortality and critical event
in intensive care unit. American journal of critical care.Volume 19 no.2.Diunduh
http/www.ajcconline.aj. March 2010.
Lych L. Hancox. K. Happel.B Parker.J. Clinical Supervisionsr For Nurses, Wiley-Blackwell. 2008
Marquis & Huston. M .Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Praktis dan Aplikatif.Cetakan
pertama Bandung.PT Refika Aditama. 2008
Mularso. Supervisi Keperawatan di RS Dr.A.Aziz Singkawang : Studi Kasus, Tesis : Program S2 MMR
UGM. Tidak dipublikasikan. 2006
Robbins. Perilaku Organisasi. Jakarta: EGC. 2003

35
Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015

Royal collage of Nursing.Clinical Supervision In The Wprkplace: Guidance For Occupation Health
Nurses. London:The royal collage of
Nursing.http//www.icn.org.uk_data/assets/pdf_file/0007/78523/001549.pdf. 2002
Supratman dan agus sudaryanto. Supervisi Keperawatan Klinik. Berita Ilmu Keperawatan. ISNN 1979-
2697. V. 2011
Swanburg. Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan: untuk Perawat Klinis. Jakarta: EGC. 2000
Tri Sumarni. Pengaruh Supervisi Klinik Ruang Model Akademik Terhadap Perilaku Caring Perawat
Pelaksana di RSUD Ajibarang. Program Studi Magister Keperawatan Fakultas Ilmu Kedokteran
Universitas Diponegoro. Semarang. 2013
Puguh Widiyanto. Pengaruh Pelatihan Supervisi terhadap Penerapan Supervisi Klinik Kepala Ruang dan
Peningkatan Kualitas Tindakan Perawatan Luka di RSU Muhammadiyah Temanggung.Fakultas
Ilmu Keperawatan Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Kekhususan dan Manajemen
Keperawatan.Program Pascasarjana FIK Universitas Indonesia. Depok.2012

36