Anda di halaman 1dari 97

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

RESILIENSI SISWA SMA NEGERI 1 WURYANTORO

(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Wuryantoro

Tahun Ajaran 2015/2016 dan Implikasinya Terhadap Usulan Topik-Topik Bimbingan Pribadi-Sosial) SKRIPSI Diajukan untuk
Tahun Ajaran 2015/2016 dan Implikasinya Terhadap Usulan
Topik-Topik Bimbingan Pribadi-Sosial)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Bimbingan dan Konseling
Disusun oleh:
Alvionita Valentina Mega Rini
NIM: 101114044

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2016

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

MOTTO DAN PERSEMBAHAN LIFE IS THE ART OF DRAWING WITHOUT AN ERASER (John W. Gardner)
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
LIFE IS THE ART OF DRAWING WITHOUT AN ERASER
(John W. Gardner)
Skripsi ini saya persembahkan kepada:
1. Allah SWT
2. Program Studi Bimbingan dan Konseling USD
3. Mahasiswa Bimbingan dan Konseling
4. SMA Negeri I Wuryantoro
5. Orangtuaku tercinta Bapak Ambang Irianto dan Ibu Ratna Sari Dwi Astuti
6. Adik-adikku Briliawan Bima Prayoga dan Lazuardi Bintang Rinaldi
7. Mas Andreas Rian Nugroho

iv

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ABSTRAK

RESILIENSI SISWA SMA NEGERI 1 WURYANTORO (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1
RESILIENSI SISWA SMA NEGERI 1 WURYANTORO
(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Wuryantoro
Tahun Ajaran 2015/2016 dan Implikasinya Terhadap Usulan
Topik-Topik Bimbingan Pribadi-Sosial)
Alvionita Valentina Mega Rini
Universitas Sanata Dharma
2016

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat resilien sisiswa-siswi SMA Negeri I WuryantoroTahun Ajaran 2015/2016. Masalah pertama yang diteliti adalah “Seberapa baik tingkat resiliensi pada siswa-siswi SMA Negeri I Wuryantoro tahun ajaran2015/2016?”. Masalah yang kedua adalah Berdasarkan analisis terhadap butir-butir resiliensi yang teridentifikasi kemunculannya rendah, topik bimbingan pribadi-sosial apakah yang implikatif bagi siswa-siswi SMA Negeri I Wuryantoro?”. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survei. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri I Wuryantoro tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 65 siswa. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner tingkat resiliensi yang terdiri dari 68 item pernyataan yang dikembangkan berdasarkan teknik penyusunan skala model Likert. Teknik analisis data dalam penelitian ini dengan membuat tabulasi skor dari masing-masing item, menghitung skor total masing-masing responden, menghitung skor total masing-masing item, selanjutnya mengkategorisasikan tingkat resiliensi siswa berdasarkan distribusi normal. Kategori ini terdiri dari lima jenjang yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Hasil penelitian yang diperoleh adalah (1) Tingkat resiliensi pada siswa- siswi SMA Negeri I Wuryantoro tahun ajaran 2015/2016 yang termasuk dalam kategori sangat tinggi (sangat baik) berjumlah 16 siswa (24,6%), yang termasuk dalam kategori tinggi (baik) berjumlah 42 siswa (64,6%), yang termasuk dalam kategori sedang berjumlah 7 siswa (10,8%) yang termasuk dalam kategori rendah 0 siswa (0%), dan yang termasuk dalam kategori sangat rendah 0 siswa (0%). (2) Berdasarkan analisis terhadap butir-butir resiliensi, diperoleh 8 butir item yang masuk dalam kategori sedang dan 1 butir item yang masuk dalam kategori rendah yang digunakan sebagai dasar untuk merumuskan 9 usulan topik-topik bimbingan pribadi-sosial untuk meningkatkan resiliensi siswa SMA Negeri I Wuryantoro tahun ajaran 2015/2016.

vii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ABSTRACK

STUDENTS’ RESILIENCE OF SENIOR HIGH SCHOOL AT SMAN 1 WURYANTORO (A Descriptive Study On Senior
STUDENTS’ RESILIENCE OF SENIOR HIGH SCHOOL AT SMAN 1
WURYANTORO
(A Descriptive Study On Senior High School at SMAN 1 Wuryantoro in
2015/2016 Academic Year and Its Implication to The Topics of Personal–
social Guidance)
by
Alvionita Valentina Mega Rini
Sanata Dharma University
2016
This research is quantitative descriptive research which has purpose to find
the The Degree of Students’ Resilience at State 1 Wuryantoro Senior High School
year of academic 2015/2016 and the implication to the personal – social conseling
topics. Thus, the research problem is formulated as follows; How far the degree of
students’ resilience at State 1 Wuryantoro Senior High School year of academic
2015/2016? The second problem formulation is based on the analisys resilience
points which are low identified, what kind of personal – social conseling topic are
implicate State 1 Wuryantoro Senior High School students?
The type of this researcher is a descriptive research survey method. The
subject of the research are 65 students of grade XI at State 1 Wuryantoro Senior
High School year of academic 2015/2016. The research instrument is degree of
resilience questionaire consists of 68 questions which are developed based on
Likert scale method. The method in analysing the data is the tabulation score
based on the each item, calculating the total score of each respondent, calculating
the total score of each item, afterwards categorizing the students’ degree of
resilience based on normal distribution. This category consists of five levels, they
are; very high, high, medium, low, and very low.
The results show that: (1) the students’ degree of resilience at State 1
Wuryantoro Senior High School year of academic 2015/2016 which is included at
the very high category (very good) is 16 students (24,6%), which is included at
the high (good) category is 42 students (64,6%), which is included at medium
category is 7 students (7%), none included in both, low and very low category
(0%). (2) based on the analysis of resilience points, there are 8 items that belong
to the medium category and 1 item which is included at low category and will be
used as the basis for formulating the 9 suggestions of personal – social guindance
topics in order to enhance the Degree of Students’ Resilience (Descriptive study at
SMAN 1 Wuryantoro Senior High School.

viii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis mengucapkan kepada Allah SWT atas perlindungan, Penulis menyadari bahwa selesainya
Syukur
Alhamdulillah
penulis
mengucapkan
kepada
Allah
SWT
atas
perlindungan,
Penulis menyadari bahwa selesainya penulisan skripsi ini tidak lepas dari dukungan, doa,
1.
Dr. Gendon Barus, M.Si., sebagai Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling
Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan ijin untuk penulisan skripsi ini.
2.
Ag. Krisna Indah Marheni, S.Pd., M.A sebagai Dosen Pembimbing Penulisan Skripsi
yang telah membimbing dengan kesabaran hati dan memberi masukan kepada penulis
guna meningkatkan kualitas skripsi ini.
3.
SMA Negeri I Wuryantoro yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan
penelitian.
4.
Seluruh siswa kelas XI SMA Negeri I Wuryantoro Tahun Ajaran 2015/2016, atas
kesediaannya mengisi kuesioner
5.
Bapak, Ibu, dan Adik-adik tercinta Ambang Irianto, Ratna Sari Dwi Astuti, Brilliawan
Bima Prayoga, Lazuardi Bintang Rinaldi atas doa, dukungan, perhatian yang diberikan
selama menempuh studi di Universitas Sanata Dharma.
6.
Teman-teman BK yang telah memberikan dukungan dan motivasi, secara khusus kepada
Dilla, Made, Diana, Bona, Candra, Fabian, Vitri, Lina, Dhesta, Rani dll yang tidak bisa

pendampingan, dan doa dalam persiapan, pelaksanaan serta penyelesaian penelitian dalam

bentuk skripsi ini.

bimbingan dan bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya

mengucapkan terima kasih yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam kepada:

saya sebut satu persatu.

ix

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

7. Teman-teman yang selalu mendukung dan memberikan semangat dan bantuan, terkhusus

kepada Yuyun, Irene, Pamor, Dika, Tony, Nining

8. membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini.
8.
membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Kekasihku Andreas Rian Nugroho, terimakasih atas semangat , kesabaran, dan doa dalam

x

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini memuat latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi
Bab
ini
memuat
latar
belakang
masalah,
perumusan
masalah,
tujuan
penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional dari istilah-istilah pokok
yang digunakan dalam penelitian ini.
A. Latar Belakang Masalah
Remaja merupakan generasi penerus bangsa yang akan akan mengisi
berbagai posisi dalam masyarakat di masa yang akan datang serta meneruskan
bangsa dan negara di masa depan. Menurut Hurlock (1980) masa remaja
disebut sebagai periode perubahan atau transisi. Pada masa ini, individu akan
mengalami perubahan fisik/tubuh, emosi, minat dan peran dalam kelompok
sosial, perubahan minat dan pola perilaku, memiliki sifat embivalen, menuntut
kebebasan namun masih ragu atas kemampuan untuk bertanggung jawab.
Siswa SMA (Sekolah Menengah Atas) masuk dalam kategori remaja,
khususnya siswa SMA Negeri I Wuryantoro. Oleh karena hal di atas, siswa
SMA harus membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan
yang memadai. Gunarsa (1995) mengemukakan bahwa manusia, remaja pada
khususnya
siswa
SMA
memiliki
tantangan
sendiri
dalam
hidup.
Siswa
diharapkan mampu mempersiapkan diri untuk menyesuaikan diri dengan
perubahan pada kehidupannya setelah tamat SMA. Dengan demikian pada
jenjang SMA ini individu akan menghadapi berbagai situasi sulit, dikarenakan

individu

harus

mampu

menghadapi

dan

beradaptasi

dengan

perubahan-

perubahan

yang

terjadi.

Keadaan

seseorang

individu

ketika

mengalami

1

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2

kesulitan memang tidak dapat dihindari, namun individu yang memiliki

resiliensi akan mampu mengatasi berbagai persoalan dengan cara mereka sendiri. Artinya, adanya resiliensi akan mengubah
resiliensi akan mampu mengatasi berbagai persoalan dengan cara mereka
sendiri. Artinya, adanya resiliensi akan mengubah persoalan yang dialami
menjadi
sebuah
tantangan,
kegagalan
menjadi
kesuksesan,
dan
ketidakberdayaan menjadi kekuatan.
Resiliensi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang, kelompok atau
masyarakat
yang
memungkinkan
untuk
menghadapi,
mencegah,
meminimalkan bahkan menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari
kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, atau kondisi yang menyengsarakan
menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi.
Ricahrdson, dkk., (dalam
Desmita, 2009) resiliensi adalah proses kemampuan mengatasi gangguan,
tekanan
atau
peristiwa
yang
menantang
dalam
kehidupan
yang
dialami
individu dengan cara menambahkan perlindungan dan kemampuan untuk
kembali pada kondisi sebelum terjadinya peristiwa. Individu yang resilien
tidak
hanya
mampu
kembali
pada
keadaan
normal
setelah
mengalami
peristiwa yang menekan atau traumatis, namun sebagian dari mereka mampu
untuk
menampilkan
performance
yang
lebih
baik
dari
sebelumnya.
Karakteristik
siswa
yang
memiliki
resiliensi
menurut
Reivich
&
Shatte
(Wielia & Wirawan, 2005) adalah mampu mengendalikan emosi dan bersikap
tenang meskipun berada dalam tekanan, mampu mengontrol dorongan dan
membangkitkan pemikiran yang mengarah pada pengendalian emosi, bersifat
optimis
mengenai
masa
depan,
mampu
mengidentifikasi
penyebab
dari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

permasalahan

yang dihadapi,

memiliki

empati,

keyakinan diri,

3

memiliki

kompetensi untuk mencapai sesuatu. Faktanya, masih ada siswa yang cenderung memiliki resiliensi yang belum ideal
kompetensi untuk mencapai sesuatu.
Faktanya, masih ada siswa yang cenderung memiliki resiliensi yang
belum ideal atau memiliki resiliensi rendah. Menurut hasil observasi dan
wawancara dengan siswa-siswi serta guru SMA N I Wuryantoro, terdapat
fakta yang menunjukkan bahwa terdapat siswa yang terindikasi memiliki
tingkat
resiliensi
rendah.
Fakta-fakta
tersebut
antara
lain;
siswa
yang
seringkali mengeluh jika diberikan PR disetiap mata pelajaran, mengeluh saat
akan
diadakan
ulangan/kuis,
mengeluh
dan
menolak
saat
diwajibkan
mengikuti ektrakurikuler pramuka setiap hari jumat, menolak saat diadakan
rolling tempat duduk di kelas, membolos saat akan diadakan pemeriksaan
rutin kerapian dan kedisiplinan dalam berseragam, membolos (dengan alasan
ijin ke ruang UKS) setelah mendapatkan nilai rendah, mudah tersinggung atau
emosi tidak stabil. Jika keadaan tersebut tidak segera diatasi, maka tidak
menutup kemungkinan akan muncul dampak yang lebih luas lagi, seperti
siswa pesimis dalam belajar, siswa tidak memiliki keyakinan atas kemampuan
dirinya, serta siswa tidak mampu menjalin hubungan yang baik dengan
lingkungan sekitarnya.
Penjelasan di atas memberikan pemahaman pada peneliti, bahwa dalam
menjalani kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di luar
sekolah, siswa membutuhkan kemampuan resiliensi untuk dapat mencapai
sukses
atau keberhasilan
dalam
hidupnya.
Stoltz
(2000) mengemukakan

bahwa

kemampuan

seseorang

untuk

bertahan

menghadapi

kesulitan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4

merupakan salah satu kekuatan yang ada dalam diri individu. Apabila individu

mampu bertahan dalam menghadapi permasalahan tersebut maka individu akan mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Resiliensi
mampu bertahan dalam menghadapi permasalahan tersebut maka individu
akan mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Resiliensi merupakan mind-set
yang memungkinkan manusia mencari berbagai pengalaman dan memandang
hidupnya sebagai suatu kegiatan yang sedang berjalan. Resiliensi memberikan
rasa percaya diri untuk mengambil tanggungjawab baru dalam hidup.
Keberadaan Bimbingan Konseling di sekolah merupakan kebutuhan
untuk
perkembangan
remaja.
Kebutuhan
tersebut
mengacu
pada
tujuan
pendidikan yang berusaha membantu siswa sebagai pribadi untuk mencapai
keutuhan diri dalam segala aspek, membantu remaja mematangkan aspek
kognitif melalui usaha serta mengembangkan kemampuan resiliensi dalam diri
individu
berdasarkan
aspek-aspek
resiliensi,
antara
lain:
regulasi
emosi,
kontrol
terhadap
impuls,
optimisme,
kemampuan
menganalisis
masalah,
empati, efikasi diri dan pencapaian.
Berdasarkan
keadaan
di
atas,
peneliti
tertarik
untuk
melakukan
penelitian tentang “Tingkat Resiliensi Siswa (Studi Deskriptif pada Siswa
SMA N I Wuryantoro Tahun Ajaran 2015/2016 dan Implikasinya Terhadap
Usulan Topik-Topik Bimbingan Pribadi Sosial)”.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

B. Rumusan Masalah

5

Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut: 1. Seberapa baik tingkat resiliensi pada siswa
Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut:
1. Seberapa baik tingkat resiliensi pada siswa SMA N 1 Wuryantoro tahun
ajaran 2015/2016?
2. Berdasarkan analisis terhadap butir-butir resiliensi yang teridentifikasi
kemunculannya
rendah,
topik
bimbingan
pribadi
sosial
apakah
yang
implikatif bagi siswa SMA N 1 Wuryantoro?
C. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan
tingkat
resiliensi
pada
siswa
kelas
XI
SMA
N
1
Wuryantoro tahun ajaran 2015/2016.
2. Mengusulkan topik-topik bimbingan pribadi sosial untuk siswa kelas XI
SMA N 1 Wuryantoro sesuai dengan analisis butir-butir resiliensi yang
teridentifikasi rendah.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Manfaat Teoritis
Hasil
penelitian
dapat
digunakan
dan
bermanfaat
untuk
memberikan
informasi
dan
mengembangkan
kajian
di
bidang
ilmu
Bimbingan dan Konseling khususnya yang berhubungan dengan resiliensi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Manfaat Praktis

6

a. Bagi Pendidik (Guru dan Orangtua) Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi bagi pendidik.
a. Bagi Pendidik (Guru dan Orangtua)
Hasil
penelitian
ini
dapat
menjadi
sumber
informasi
bagi
pendidik. dalam rangka memahami siswa berkaitan dengan resiliensi
yang dimiliki, serta membantu, membina dan meningkatkan resiliensi
pada siswa.
b. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi mengenai
tingkat resiliensi pada remaja (khususnya siswa kelas XI SMA N 1
Wuryantoro tahun ajaran 2015/2016)
c. Bagi Peneliti
Penelitian ini merupakan bekal bagi peneliti di kemudian hari
untuk
mendampingi
dan
memberikan
layanan
bimbingan
dan
konseling, baik secara kelompok maupun individual, kepada siswa
yang memiliki tingkat resiliensi rendah.
E. Definisi Operasional
1.
Resiliensi
Kemampuan individu menghadapi, mengatasi tantangan dalam
hidup, dan mempertahankan energi positif dalam dirinya sehingga
mampu
menjalani
kehidupan
secara
produktif
dan
mampu
meningkatkan kualitas hidupnya. Resiliensi dibangun berdasarkan
aspek-aspek antara lain; regulasi emosi, kontrol terhadap impuls,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

7

optimisme, kemampuan menganalisis masalah, empati, efikasi diri dan

pencapaian. 2. Siswa SMA sebagai Remaja Siswa SMA adalah mereka yang berusia sekitar 16-18 tahun
pencapaian.
2. Siswa SMA sebagai Remaja
Siswa SMA adalah mereka yang berusia sekitar 16-18 tahun
yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Mereka
termasuk dalam masa remaja.
3. Bimbingan Pribadi Sosial
Bimbingan
pribadi
sosial
adalah
upaya
untuk
membantu
individu
dalam
memantabkan
kepribadian
dan
mengembangkan
kemampuan individu dalam mengambil keputusan serta menangani
masalah-masalah yang berkaitan dengan diri sendiri juga oranglain.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA Bab ini memuat uraian mengenai Hakikat resiliensi, karakteristik remaja, dan bimbingan pribadi sosial.
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini memuat uraian mengenai Hakikat resiliensi, karakteristik remaja,
dan bimbingan pribadi sosial.
A. Hakikat Resiliensi
1. Pengertian Resiliensi
Istilah resiliensi diformulasikan pertama kali oleh Block (dalam
Klohnen,
1996)
dengan
nama ego-resilience,
yang
diartikan
sebagai
kemampuan umum yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang
tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan internal maupun eksternal.
Secara spesifik resiliensi adalah:
“… a personality resource that allows individual to modify
their characteristic level and habitual mode of expression of ego-
control as the most adaptively encounter, function in and shape
their immediate and long term environmental context.” (Block,
dalam Klohnen, 1996, hal.45).
Dari definisi yang dikemukakan di atas, tampak bahwa ego resiliensi
merupakan satu sumber kepribadian yang berfungsi membentuk konteks
lingkungan jangka pendek maupun jangka panjang, di mana sumber daya
tersebut memungkinkan individu untuk memodifikasi tingkat karakter dan
cara mengekspresikan pengendalian ego yang biasa mereka lakukan.

8

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

9

Menurut Reivich dan Shatte (2002: 26) mendefinisikan resiliensi

sebagai berikut: “Resilience is the capacity to respond in healty and productive ways and when
sebagai berikut:
“Resilience is the capacity to respond in healty and productive
ways and when adversity or trauma, that it is essential for
managing the daily stress of life.”
Dari definisi di atas, Resiliensi merupakan kemampuan individu untuk
melakukan
respon
dengan
cara
yang
sehat
dan
produktif
ketika
berhadapan dengan adversity atau trauma, di mana hal tersebut sangat
penting untuk mengendalikan tekanan hidup sehari-hari.
Resiliensi
merupakan
mind-set
yang
mampu
meningkatkan
seseorang
untuk
mencari pengalaman baru dan memandang kehidupan sebagai proses yang
meningkat. Resiliensi dapat menciptakan dan memelihara sikap positif
untuk mengeksplorasi, sehingga seseorang dapat menjadi lebih percaya
diri ketika berhubungan dengan orang lain, serta lebih berani mengambil
risiko atas tindakannya.
Liquanti (1992), menyebutkan secara khusus bahwa resiliensi pada
remaja merupakan kemampuan yang dimiliki remaja di mana mereka tidak
mengalah saat menghadapi tekanan dan perbedaan dalam lingkungan.
Mereka mampu terhindar dari penggunaan obat terlarang, kenakalan
remaja, kegagalan di sekolah, dan dari gangguan mental.
Kimberly
Gordon
(dalam
Hutapea,
2006)
mengatakan
bahwa
resiliensi
merupakan
suatu
proses
tidak
hanya
memfokuskan
pada

kesulitan atau trauma masa lalu, melainkan juga kesulitan atau trauma

masa kini dan antisipasi terhadap kesulitan atau trauma masa depan,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

10

sehingga pada akhirnya seseorang dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Resiliensi disebut juga oleh Wolin & Wolin (1999) sebagai keterampilan coping saat dihadapkan pada tantangan
Resiliensi
disebut
juga
oleh
Wolin
&
Wolin
(1999)
sebagai
keterampilan coping saat dihadapkan pada tantangan hidup atau kapasitas
individu untuk tetap “sehat” (wellness) dan terus memperbaiki diri (self
repair).
Menurut Jackson (2002) resiliensi adalah kemampuan individu
untuk
dapat
beradaptasi
dengan
baik
meskipun
dihadapkan
dengan
keadaan sulit. Dalam ilmu perkembangan manusia, resiliensi memiliki
makna yang luas dan beragam, mencakup kepulihan dari masa traumatis,
mengatasi
kegagalan
dalam
hidup,
dan
menahan
stress
agar
dapat
berfungsi dengan baik dalam mengerjakan tugas sehari-sehari.
Kamus Merriam Webster (2005) mengartikan resiliensi sebagai,
“the capability of a (strained) body to recover its site and shape
after deformator causal especially by compressive stress”
yaitu kemampuan suatu benda untuk menegang (melenting), kemudian
memperoleh
kembali
tempat
dan
bentuknya
setelah
melalui
akibat
perusakan bentuk, khususnya oleh tekanan yang sangat luar biasa. Hal ini
sesuai dengan kata dasar resiliensi yang berasal dari bahasa latin yang
dalam
bahasa
inggis
bermakna
to
jump
(or
bounce)
back,
artinya
melompat atau melenting kembali (Resiliency Center, 2004)
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan
bahwa resiliensi adalah kemampuan individu layaknya sebuah per yang

mampu melenting kembali pada bentuk semula meskipun telah mendapat

tekanan. Resiliensi merupakan gambaran individu untuk menjadi tangguh

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

11

dan kuat dalam menghadapi serta mengatasi tekanan hidup dengan cara

yang sehat dan produktif, seperti mampu beradaptasi, mengendalikan emosi, bersikap tenang walaupun berada di bawah
yang sehat dan produktif, seperti mampu beradaptasi, mengendalikan
emosi, bersikap tenang walaupun berada di bawah tekanan, mampu
mengontrol dorongannya, membangkitkan pemikiran yang mengarah
pada pengendalian emosi, bersifat optimis mengenai masa depan yang
baik, mampu mengidentifikasi penyebab dari masalah mereka secara
akurat, memiliki empati, memiliki keyakinan diri akan berhasil, dan
memiliki kompetensi untuk mencapai sesuatu.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Resiliensi
Masten & Coatswort (Davis, 1999) mengemukakan bahwa individu
mampu mencapai resiliensi dalam dirinya didukung oleh faktor-faktor,
antara lain:
a. Faktor Individu
Faktor individual meliputi kemampuan kognitif, konsep diri,
harga diri, dan kompetensi sosial yang dimiliki individu.
b. Faktor Keluarga
Keluarga
merupakan
lingkaran
pertama
karena
lingkungan
keluarga adalah lingkungan yang paling dekat dengan pembentukan
kepribadian individu. Hubungan yang dekat dengan keluarga memiliki
kepedulian, dukungan dan perhatian, dan pola asuh yang hangat,
teratur
dan
kondusif
dalam
perkembangan
individu,
memiliki
hubungan harmonis antar anggota keluarga. Sebagian besar kehidupan

manusia dihabiskan bersama keluarga.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

12

c. Faktor Komunitas/ Masyarakat Sekitar

Faktor komunitas/masyarakat sekitar yang memberikan pengaruh terhadap resiliensi individu adalah mendapatkan
Faktor
komunitas/masyarakat
sekitar
yang
memberikan
pengaruh terhadap resiliensi individu adalah mendapatkan perhatian
dari lingkungan, aktif dalam organisasi masyarakat. Melalui komunitas
individu merasa dihargai keberadaannya oleh orang lain, individu akan
merasakan hubungan dan dukungan yang membantu mereka dalam
beradaptasi
dengan
kondisi
yang ada dan
mengatasi
konsekuensi
negative yang sering kali dihadapi individu.
3. Prinsip Dasar Keterampilan Resiliensi
Empat prinsip menurut Reivich dan Shatte (2002) yang dijadikan
dasar bagi keterampilan resiliensi adalah:
a. Manusia Dapat Berubah
Manusia bukanlah korban dari leluhur atau masa lalunya. Setiap
manusia bebas mengubah hidupnya kapan saja, memiliki keinginan
dan dorongan. Setiap manusia dilengkapi dengan keterampilan yang
sesuai. Individu merupakan pemimpin bagi keberuntungannya sendiri.
b. Pikiran adalah Kunci untuk Meningkatkan Resiliensi
Kognisi mempengaruhi emosi. Emosi menentukan siapa yang tetap
resilien dan mengalah.
Beck mengembangkan
sistem terapi
yang
dinamakan terapi kognitif di mana pasien belajar mengubah pikirannya
untuk mengatasi deprivasi dan kecemasan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

c. Ketepatan Berpikir adalah Kunci

13

Optimisme realistis tidak mengasumsikan bahwa hal-hal baik akan datang dengan sendirinya. Hal-hal baik hanya akan
Optimisme realistis tidak mengasumsikan bahwa hal-hal baik akan
datang dengan sendirinya. Hal-hal baik hanya akan terjadi melalui
usaha, pemecahan masalah dan perencanaan.
d. Fokus Kekuatan Manusia
Positif
psychology
memiliki
dua
tujuan
utama,
yakni
(1)
meningkatkan
pemahaman
tentang
kekuatan
manusia
(human
strengths) melalui perkembangan sistem dan metode klasifikasi
untuk
mengukur
kekuatan
tersebut;
dan
(2)
menanamkan
pengetahuan ini ke dalam program dan intervensi efektif yang
terutama
dirancang
untuk
membangun
kekuatan
partisipan
daripada
untuk
memperbaiki
kelemahan
mereka.
Resiliensi
merupakan kekuatan dasar yang mendasari semua karakteristik
positif pada kondisi emosional dan psikologis manusia. Kurangnya
resiliensi menjadi penyebab keberfungsian negatif. Tanpa resiliensi
tidak akan ada keberanian, rasionalitas dan insight.
4. Ciri-ciri Siswa yang Memiliki Resiliensi
Menurut Reivich & Shatte (Wielia & Wirawan, 2005) ciri-ciri
seseorang yang resilien adalah (a) mampu mengontrol emosi dan bersikap
tenang
meskipun
berada
di
bawah
tekanan,
(b)
mampu
mengotrol
dorongannya
dan
membangkitkan
pemikiran
yang
mengarah
pada
pengendalian emosi, (c) bersifat optimis mengenai mengenai masa depan

cerah, (d) mampu mengidentifikasi penyebab dari masalah mereka secara

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

14

akurat, (e) memiliki empati, (f) memiliki keyakinan diri, (g) memiliki

kompetensi untuk mencapai sesuatu. Sarafino (1994) menyatakan bahwa ciri-ciri siswa yang memiliki resiliensi yaitu (a)
kompetensi untuk mencapai sesuatu.
Sarafino (1994) menyatakan bahwa ciri-ciri siswa yang memiliki
resiliensi yaitu (a) memiliki tempramen yang lebih tenang, sehingga
mampu menjalin hubungan baik dengan keluarga dan lingkungan; (b)
memiliki kemampuan untuk dapat bangkit dari tekanan dan berusaha
untuk mengatasinya.
5. Aspek-aspek Resiliensi
Reivich
&
Shatte
(2002)
memaparkan
mengenai
tujuh
aspek
resiliensi. Penjelasannya sebagai berikut:
a.
Regulasi Emosi (Emotion Regulation)
Regulasi
emosi
adalah
kemampuan
untuk
tetap
tenang
meskipun mengalami tekanan. Orang-orang yang memiliki resiliensi
baik menggunakan seperangkat keterampilan yang sudah matang yang
membantu mereka untuk mengontrol emosi, perhatian dan perilakunya.
Terdapat dua hal penting terkait dengan pengaturan emosi, yaitu
ketenangan (calming) dan fokus (focusing). Individu yang mampu
mengelola kedua keterampilan ini, dapat membantu mereka dalam
meredakan emosi dan memfokuskan pikiran-pikiran yang positif.
Emosi yang dirasakan oleh seseorang cenderung berpengaruh
pada orang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang
kurang
memiliki
kemampuan
untuk
mengatur
emosi,
mengalami

kesulitan dalam membangun dan menjaga hubungan baik dengan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

15

orang lain. Namun tidak semua emosi yang dirasakan individu harus

dikontrol. Hal ini dikarenakan mengekspresikan emosi baik positif maupun negatif merupakan hal yang konstruktif dan
dikontrol. Hal ini dikarenakan mengekspresikan emosi baik positif
maupun negatif merupakan hal yang konstruktif dan sehat, bahkan
kemampuan untuk mengekspresikan emosi baik positif maupun negatif
dan tepat merupakan bagian dari resiliensi (Reivich & Shatte, 2002).
Reivich
dan
Shatte
(2002),
mengungkapkan
dua
buah
keterampilan
yang
dapat
memudahkan
individu
untuk
melakukan
regulasi emosi, yaitu tenang dan fokus. Dalam keadaan tenang individu
dapat mengontrol dan mengurangi stres yang dialami. Ada beberapa
cara yang dapat digunakan untuk relaksasi dan membuat individu
merasa dalam keadaan tenang, yaitu dengan mengontrol pernafasan,
relaksasi
otot
dan
membayangkan
tempat
yang
tenang
dan
menyenangkan.
Sedangkan
untuk
keterampilan
fokus
pada
permasalahan
yang
ada
akan
mempermudah
individu
untuk
menemukan
solusi
dari
permasalahan
yang
ada.
Dua
buah
keterampilan ini akan membantu individu untuk mengontrol emosi
yang tidak terkendali, menjaga fokus pikiran individu ketika banyak
hal-hal yang mengganggu, serta mengurangi stres yang dialami oleh
individu.
b. Kontrol Terhadap Impuls (Impuls Control)
Kontrol terhadap impuls merupakan kemampuan individu untuk
mengendalikan impuls atau dorongan-dorongan, keinginan, kesukaan,

serta

tekanan

yang

muncul

dalam

dirinya,

kemudian

akan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

16

membawanya kepada kemampuan berpikir jernih dan akurat. Kontrol

terhadap impuls ini bukan hanya berhubungan erat dengan pengaturan emosi, tetapi juga dengan keinginan tertentu
terhadap impuls ini bukan hanya berhubungan erat dengan pengaturan
emosi, tetapi juga dengan keinginan tertentu dari individu yang dapat
mengganggu serta menghambat perkembangannya (Reivich & Shatte,
2002).
Individu dengan kontrol terhadap impuls yang rendah pada
umumnya percaya pada pemikiran impulsifnya yang mengenai situasi
sebagai
kenyataan
dan
bertindak
sesuai
dengan
situasi
tersebut.
Mereka menampilkan perilaku mudah marah, kehilangan kesabaran,
impulsif dan berlaku agresif. Tentunya perilaku ini akan membuat
orang
di
sekitar
merasa
kurang
nyaman,
pada
akhirnya
akan
berdampak buruk bagi hubungan sosialnya.
Reivich dan Shatte (2002), mengatakan bahwa individu dapat
melakukan
pencegahan
terhadap
impulsivitasnya.
Pencegahan
ini
dapat dilakukan dengan menguji keyakinan individu dan mengevaluasi
kebermanfaatan terhadap pemecahan masalah. Seperti memberikan
pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri; „apakah benar apa yang saya
lakukan?‟, „apakah manfaat dari semua ini?‟, dll. Kemampuan individu
untuk
mengendalikan
impuls
sangat
terkait
dengan
kemampuan
regulasi emosi yang ia miliki. Individu yang memiliki skor resilience
question yang tinggi pada faktor regulasi emosi, cenderung memiliki
skor resilience question yang tinggi pula pada faktor pengendalian

impuls.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

c. Optimisme (Optimism)

17

Orang yang memiliki resiliensi merupakan orang yang optimis. Optimis berarti memiliki kepercayaan bahwa segala sesuatu
Orang yang memiliki resiliensi merupakan orang yang optimis.
Optimis berarti memiliki kepercayaan bahwa segala sesuatu akan
menjadi
lebih
baik.
Individu
memiliki
kontrol
dan
harapan
atas
kehidupannya. Individu yang optimis memiliki kemungkinan yang
kecil untuk mengalami depresi, berprestasi lebih baik di sekolah, lebih
produktif dalam pekerjaan, dan berprestasi di berbagai bidang. Mereka
percaya bahwa situasi yang sulit dapat berubah menjadi situasi yang
lebih baik. Mereka percaya bahwa mereka dapat memegang kendali
dan arah hidupnya.
Hal ini merefleksikan self-efficacy yang dimiliki oleh seseorang,
yaitu
kepercayaan
individu
bahwa
ia
mampu
menyelesaikan
permasalahan yang ada dan mengendalikan hidupnya. Dikarenakan
dengan optimisme yang ada seorang individu terus didorong untuk
menemukan solusi permasalahan dan terus bekerja keras demi kondisi
yang lebih baik (Reivich & Shatte, 2002).
Optimisme yang dimaksud adalah optimisme realistis, yaitu
sebuah kepercayaan akan terwujudnya masa depan yang lebih baik
dengan segala usaha untuk mewujudkan hal tersebut. Perpaduan antara
optimisme
yang
realistis
dan
self-efficacy
merupakan
kunci
dari
resiliensi dan kesuksesan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

18

d. Kemampuan Menganalisis Masalah (Causal Analysis)

Kemampuan menganalisis masalah menunjukan bahwa individu memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab masalahnya
Kemampuan menganalisis masalah menunjukan bahwa individu
memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab masalahnya
secara
akurat.
Jika
seseorang
mampu
mengidentifikasi
penyebab
masalah secara akurat, maka ia tidak akan melakukan kesalahan yang
sama terus menerus. Kemampuan menganalisis masalah dilakukan
individu untuk mencari penjelasan dari suatu kejadian.
Seligman (dalam Reivich & Shatte, 2002) mengidentifikasikan
gaya berpikir explanatory yang erat kaitannya dengan kemampuan
causal analysis yang dimiliki individu. Gaya berpikir explanatory
dapat
dibagi
dalam
tiga
dimensi:
personal
(saya-bukan
saya),
permanen (selalu tidak selalu), dan pervasive (semua-tidak semua).
Individu
dengan
gaya
berpikir
“Saya-Selalu-Semua”
merefleksikan keyakinan bahwa penyebab permasalahan berasal dari
individu tersebut (Saya), hal ini selalu terjadi dan permasalahan yang
ada tidak dapat diubah (Selalu), serta permasalahan yang ada akan
cenderung mempengaruhi seluruh aspek hidupnya (Semua). Sementara
individu yang memiliki gaya berpikir “Bukan Saya-Tidak Selalu-Tidak
semua” meyakini bahwa permasalahan yang terjadi disebabkan oleh
orang
lain
(Bukan
Saya),
di
mana
kondisi
tersebut
masih
memungkinkan untuk diubah (Tidak Selalu) dan permasalahan yang
ada tidak akan mempengaruhi sebagian besar hidupnya (Tidak semua).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

19

Gaya berpikir explanatory, memegang peranan penting dalam

konsep resiliensi (Reivich & Shatte, 2002). Individu yang terfokus pada “Selalu-Semua” tidak mampu melihat
konsep resiliensi (Reivich & Shatte, 2002). Individu yang terfokus
pada
“Selalu-Semua”
tidak
mampu
melihat
jalan
keluar
dari
permasalahan
yang
mereka
hadapi.
Sebaliknya
individu
yang
cenderung menggunakan gaya berpikir “Tidak selalu-Tidak semua”
dapat merumuskan solusi dan tindakan yang akan mereka lakukan
untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Individu yang resilien adalah individu yang memiliki fleksibilitas
kognitif. Mereka mampu mengidentifikasikan semua penyebab yang
menyebabkan kemalangan yang menimpa mereka, tanpa terjebak pada
salah satu gaya berpikir explanatory. Mereka tidak akan menyalahkan
orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat demi menjaga self-
esteem mereka atau membebaskan mereka dari rasa bersalah. Mereka
tidak terlalu terfokus pada faktor-faktor yang berada di luar kendali
mereka, sebaliknya mereka memfokuskan dan
memegang kendali
penuh pada pemecahan masalah, perlahan mereka mulai mengatasi
permasalahan yang ada, mengarahkan hidup mereka, bangkit dan
meraih kesuksesan.
e. Empati (Empathy)
Empati merupakan kemampuan individu untuk mampu membaca
dan merasakan begaimana perasaan dan emosi oranglain, sehingga
individu mampu membaca sinyal-sinyal mengenai kondisi emosional

dan

psikologis

mereka

melalui

isyarat

non-verbal,

dan

kemudian

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

20

menentukan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain. Empati

adalah pemahaman pikiran dan perasaan orang lain dengan cara menempatkan diri ke dalam kerangka psikologis
adalah pemahaman pikiran dan
perasaan
orang lain
dengan
cara
menempatkan
diri
ke
dalam
kerangka
psikologis
orang
tersebut
(Kartono dalam Nashori, 2008).
Ketidakmampuan berempati berpotensi menimbulkan kesulitan
dalam hubungan sosial (Reivich & Shatte, 2002). Hal ini dikarenakan
kebutuhan dasar manusia untuk dipahami dan dihargai. Individu yang
tidak
membangun
kemampuan
untuk
peka
terhadap
tanda-tanda
nonverbal tersebut, tidak mampu untuk menempatkan dirinya pada
posisi orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain dan
memperkirakan maksud dari orang lain. Ketidakmampuan individu
untuk
membaca
tanda-tanda
nonverbal
orang
lain,
dapat
sangat
merugikan, baik dalam konteks hubungan kerja maupun hubungan
personal.
Individu
dengan
empati
yang
rendah
cenderung
menyamaratakan semua keinginan dan emosi orang lain
f.
Efikasi Diri (Self Efficacy)
Efikasi
diri
menggambarkan
perasaan
seseorang
mengenai
keyakinan bahwa individu dapat memecahkan masalah, keyakinan
mengalami
dan
memiliki
keberuntungan
dan
kemampuan
untuk
sukses. Mereka yang tidak yakin tentang kemampuannya akan mudah
tersesat.
Self-efficacy memiliki pengaruh terhadap prestasi yang diraih,

kesehatan fisik dan mental, perkembangan karir, bahkan perilaku

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

21

memilih dari seseorang. Self-efficacy memiliki kedekatan dengan

konsep perceived control, yaitu suatu keyakinan bahwa individu mampu mempengaruhi keberadaan suatu peristiwa yang
konsep perceived control, yaitu suatu keyakinan bahwa individu
mampu
mempengaruhi
keberadaan
suatu
peristiwa
yang
mempengaruhi kehidupan individu tersebut.
g.
Pencapaian (Reaching Out)
Pencapaian
menggambarkan
kemampuan
individu
untuk
meningkatkan aspek-aspek yang positif dalam kehidupannya yang
mencakup keberanian individu dalam mengatasi ketakutan-ketakutan
yang mengancam dalam kehidupannya.
Banyak individu yang tidak mampu melakukan reaching out.
Hal ini dikarenakan, sejak kecil individu telah diajarkan untuk sedapat
mungkin menghindari kegagalan dan situasi yang memalukan. Mereka
adalah
individu-individu
yang
lebih
memilih
untuk
memiliki
kehidupan standar dibandingkan harus meraih kesuksesan namun harus
berhadapan dengan resiko kegagalan hidup dan hinaan masyarakat.
Hal ini menunjukkan kecenderungan individu untuk berlebih-lebihan
dalam memandang kemungkinan hal-hal buruk yang dapat terjadi di
masa
mendatang.
Mereka
memiliki
rasa
ketakutan
untuk
mengoptimalkan kemampuan mereka hingga batas akhir.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

B. Hakikat Remaja

22

1. Pengertian Siswa Siswa adalah individu yang datang pada institusi pendidikan dengan tujuan belajar. Individu
1. Pengertian Siswa
Siswa adalah individu yang datang pada institusi pendidikan dengan
tujuan belajar. Individu ini sedang mengalami fase perkembangan atau
pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun pikiran. Sebagai
individu yang sedang mengalami perkembangan, dan pertumbuhan, Ia
memerlukan bantuan, bimbingan dan arahan untuk melewati tahap-tahap
tugas perkembangannya. Menurut Sanjaya, Siswa adalah individu yang
unik. Keunikan itu terlihat dari adannya perbedaan baik bakat, minat, dan
kemampuan. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, menjelaskan bahwa Siswa adalah
anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui
proses
pembelajaran
yang
tersedia
pada
jarum,
jenjang
dan
jenis
pendidikan tertentu. Jadi dapat disimpulkan Siswa adalah individu yang
unik,
sedang berada pada tahap perkembangan dan pertumbuhan, dan
secara sengaja datang pada institusi pendidikan dengan tujuan belajar.
Siswa umumnya berada pada fase balita hingga fase remaja dengan
rentang usia 3-18 tahun. Di Indonesia, Siswa melewati beberapa tahap
pendidikan diantaranya; Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman
Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama
(SMP),
dan Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK). Siswa yang menjadi
subyek dalam penelitian ini yaitu siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)

yang sedang berada pada fase remaja awal.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Pengertian Remaja

23

Papalia dan Olds (2008), berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Adapun
Papalia
dan
Olds
(2008),
berpendapat
bahwa
masa
remaja
merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Adapun Anna Freud
(dalam Hurlock, 1990), berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi
proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan
dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam
hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, di mana pembentukan
cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Menurut Papalia dan Olds (2008), masa remaja adalah perjalanan
dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang ditandai oleh periode
transisional yang ditandai dengan adanya perubahan baik secara biologis,
psikologi, kognitif, dan psikososial. Masa remaja dimulai pada usia 11
atau 12 sampai awal usia dua puluhan.
Adapun Hurlock (1990), membagi masa remaja menjadi masa
remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau
17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh
Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi
perkembangan yang telah mendekati masa dewasa.
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dikemukakan di atas,
dapat disimpulkan bahwa secara umum remaja diartikan sebagai salah
satu tahap perkembangan yang merupakan transisi dari masa kanak-
kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan baik

fisik, kognitif, dan psikososial.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Karakteristik Masa Remaja

24

Masa remaja, seperti pada masa sebelumnya memiliki ciri-ciri khusus yang membedakan masa sebelumnya dan sesudahnya.
Masa remaja, seperti pada masa sebelumnya memiliki ciri-ciri
khusus yang membedakan masa sebelumnya dan sesudahnya. Berikut ini
adalah karakteristik pada masa remaja menurut Hurlock (1980):
a. Masa remaja sebagai periode yang penting. Dikatakan penting karena
semua
perkembangan
dalam
remaja
menimbulkan
perlu
adanya
penyesuaian mental, sikap, nilai, dan minat baru.
b. Masa remaja sebagai periode peralihan. Periode peralihan dari masa
kanak-kanak menuju masa dewasa, dimana remaja meninggalkan sifat
kekanak-kanakan dan mempelajari pola perilaku yang baru.
c. Masa remaja sebagai periode perubahan. Perubahan pada masa remaja
adalah meninggikan emosi, perubahan tubuh, minat dan peran dalam
kelompok sosial, perubahan minat dan pola perilaku, memiliki sifat
ambivalen, menuntut kebebasan namun belum ragu atas kemampuan
untuk bertanggungjawab.
d. Masa remaja sebagai usia bermasalah. Banyaknya perubahan yang
terjadi
dalam
diri
remaja
membuat
sebagian
remaja
mengalami
kegagalan dalam penyesuaian dengan pola perilaku yang baru.
e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas. Pada masa ini mereka
mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi dengan menjadi
sama dengan teman-teman dalam segala hal.
f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan karena adanya

stereotip bahwa remaja itu masa yang negatif, dianggap anak yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

25

tidak rapih, tidak dapat dipercaya, dan bersifat merusak, sehingga

timbul ketakutan akan adanya stereotip dari masyarakat. g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik.
timbul ketakutan akan adanya stereotip dari masyarakat.
g. Masa
remaja
sebagai
masa
yang
tidak
realistik.
Remaja
selalu
mempunyai
harapan
atau
angan-angan
dan
cita-cita
yang tinggi,
namun belum dapat memahami kemampuan yang sesungguhnya.
h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa. Menjelang menginjak
masa dewasa,
mereka
merasa
gelisah
untuk
meninggalkan
masa
belasan tahunnya. Mereka belum cukup untuk berperilaku sebagai
orang dewasa, mereka mulai berperilaku sebagai status orang dewasa
seperti
cara
berpakaian,
merokok,
menggunakan
obat-obat
dan
sebagainya yang dipandang dapat memberikan citra seperti yang
diinginkan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, karakteristik masa remaja adalah
masa penting, peralihan, perubahan, usia bermasalah, mencari identitas,
usia
penuh
ketakutan,
masa
yang
tidak
realistik,
dan
ambang
kedewasaan.
3. Tugas Perkembangan Remaja
Yusuf (2010) mengemukakan tugas-tugas perkembangan remaja
antara lain:
a. Menerima keadaan fisiknya dan memanfaatkannya secara efektif.
b. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau orang dewasa
lainnya.

c. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

26

d. Memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan.

e. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga. f. Mengembangkan konsep dan ketrampilan intelektual yang perlu bagi
e. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.
f. Mengembangkan konsep dan ketrampilan intelektual yang perlu bagi
kompetensi sebagai warga Negara.
William
Kay
(dalam
Jahja,
2011),
mengemukakan
tugas-tugas
perkembangan remaja sebagai berikut:
a. Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
b. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figur-figur
yang mempunyai otoritas.
c. Mengembangkan ketrampilan komunikasi interpersonal dan bergaul
dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupun
kelompok.
d. Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
e. Menerima
dirinya
sendiri
dan
memiliki
kepercayaan
terhadap
kemampuannya sendiri.
f. Memperkuat
self-control
(kemampuan
mengendalikan
diri)
atas
dasar skala nilai, prinsip-prinsip, atau falsafah hidup.
g. Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku)
kekanak-kanakan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

C. Konsep Dasar Bimbingan Pribadi-Sosial

27

1. Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial Yusuf dan Nurihsan (2010: 11) mendefinisikan bimbingan pribadi- sosial sebagai
1. Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial
Yusuf dan Nurihsan (2010: 11) mendefinisikan bimbingan pribadi-
sosial
sebagai
bimbingan
untuk
membantu
para
individu
dalam
memecahkan masalah-masalah pribadi-sosial. Masalah-masalah tersebut
antara lain masalah hubungan dengan sesama teman, dengan guru dan staf
sekolah, pemahaman sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan
lingkungan
pendidikan
dan
masyarakat
tempat
mereka
tinggal,
dan
penyelesaian konflik.
Winkel dan Sri Hastuti (2006:118) mendefinisikan bimbingan
pribadi-sosial sebagai bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya
sendiri dan mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri; dalam
mengatur diri sendiri di bidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian
waktu luang, penyaluran nafsu seksual, serta bimbingan dalam membina
hubungan kemanusiaan dengan sesama di berbagai lingkungan (pergaulan
sosial).
Yusuf dan Nurihsan (2010: 11) mengungkapkan bahwa bimbingan
pribadi-sosial
diarahkan
untuk
memantapkan
kepribadian
dan
mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah
dirinya.
Bimbingan
ini
merupakan
layanan
yang
mengarah
pada
pencapaian
pribadi
yang
seimbang
dengan
memperhatikan
keunikan
karakteristik pribadi serta ragam permasalahan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lebih

lanjut,

Yusuf

dan

Nurihsan

(2010:

5)

28

mengungkapkan

bahwa bimbingan pribadi-sosial diberikan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif, interaksi pendidikan
bahwa
bimbingan
pribadi-sosial
diberikan
dengan
cara
menciptakan
lingkungan
yang
kondusif,
interaksi
pendidikan
yang
akrab,
mengembangkan sistem pemahaman diri dan sikap-sikap yang positif,
serta ketrampilan-ketrampilan pribadi-sosial yang tepat.
Berdasarkan
uraian
dari
beberapa
pengertian
di
atas,
dapat
disimpulkan
bahwa
bimbingan
pribadi
sosial
adalah
upaya
untuk
membantu
individu
dalam
memantapkan
kepribadian
dan
mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah
yang berkaitan dengan diri sendiri dan orang lain, yang didukung melalui
penciptaan lingkungan yang kondusif dan interaksi pendidikan yang akrab.
2. Tujuan Bimbingan Pribadi-Sosial
a. Memiliki
komitmen
yang
kuat
dalam
mengamalkan
nilai-nilai
keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam
kehidupan
pribadi,
keluarga,
pergaulan
dengan
teman
sebaya,
Sekolah/Madrasah,
tempat
kerja,
maupun
masyarakat
pada
umumnya
b. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling
menghormati dan memelihara hak dan kewajiban masing-masing.
c. Memiliki
pemahaman
tentang
irama
kehidupan
yang
bersikap
fluktuatif antara yang menyenangkan (anugerah) dan yang tidak
menyenangkan (musibah), serta mampu meresponnya secara positif

sesuai dengan ajaran agama yang dianut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

d. Memiliki

pemahaman

dan

penerimaan

diri

secara

objektif

29

dan

konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis. e. Memiliki sikap
konstruktif,
baik
yang
terkait
dengan
keunggulan
maupun
kelemahan; baik fisik maupun psikis.
e. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang
lain.
f. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat.
g. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai
orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.
h. Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk
komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
i. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial, yang diwujudkan dalam
bentuk
hubungan
persahabatan,
persaudaraan,
atau
silahturahim
dengan sesama manusia
j. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III METODE PENELITIAN

Pada bab ini dipaparkan mengenai jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subjek penelitian, teknik dan
Pada bab ini dipaparkan mengenai jenis penelitian, tempat dan waktu
penelitian, subjek penelitian, teknik dan instrumen pengumpulan data, teknik
analisis data. Keenam sub judul tersebut merupakan bagian-bagian dari metode
penelitian
yang
harus
ada
dalam
metode
penelitian.
Setiap
pengertian
dan
penjabaran didasarkan pada pemahaman logis, ilmiah, dan dapat dipertanggung
jawabkan. Masing-masing sub judul.
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan deskriptif kuantitatif yaitu penelitian
yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat
penelitian dilakukan (Furchan, 2007: 447). Penelitian ini bertujuan untuk
memperoleh
mengenai
resiliensi
siswa-siswi
kelas
XI
SMA
Negeri
I
Wuryantoro Tahun Ajaran 2015/2016.
B. Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri I Wuryantoro, Kabupaten
Wonogiri.
Waktu
pelaksanaan
penelitian
ini
kurang
lebih
selama
satu
minggu, namun karena keterbatasan waktu dari pihak sekolah maka untuk
penyebaran kuisioner hanya mendapat waktu dua hari.

30

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

C. Subjek Penelitian

31

Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri I Wuryantoro tahun ajaran 2015/2016. Populasi penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri I Wuryantoro
tahun ajaran 2015/2016. Populasi penelitian mencakup siswa kelas XI IPS 1
dan XI IPA 1. Jumlah populasi penelitian adalah 65 siswa, yang terbesar
dalam 2 kelas yaitu sebanyak 31 siswa kelas IPA 1 dan 34 siswa kelas IPS 1.
Berdasarkan hal tersebut, data subjek penelitian sebagai berikut:
Tabel 1
Data subjek penelitian Resiliensi kelas XI SMA Negeri I Wuryantoro
No
Kelas
Hadir
1 IPS 1
XI
31
2 IPA 1
XI
34
Total
65
D. Teknik dan Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah yang disusun
berdasarkan aspek-aspek resiliensi menurut Reivich & Shatte (2002). Kuesioner
tentang resiliensi terdiri dari dua bagian yaitu yang pertama berisi tentang kata
pengantar
petunjuk
pengisian
kuesioner,
bagian
yang
kedua
berisi
tentang
pernyataan yang mengungkapkan gambaran resiliensi. Kisi-kisi jumlah aspek diri
dapat dilihat pada tabel I. Peneliti terlebih dahulu membuat kisi-kisi dengan
menentukan indikator dari aspek masing-masing resiliensi kemudian peneliti

membuat item- item dari indikator tersebut.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

32

Operasional objek penelitian ini dijabarkan lebih lanjut dalam konstruk

instrument pada tabel di bawah ini: Berikut ini dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan kuesioner
instrument pada tabel di bawah ini:
Berikut ini dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan kuesioner resiliensi
tersebut antara lain:
1. Kuesioner Resiliensi
Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner.Kuesioner
adalah sekumpulan daftar pertanyaan atau pernyataan tertulis yang diberikan
pada subjek penelitian (Arikunto, 2003). Kuesioner ini bersifat tertutup karena
alternatif jawaban sudah disediakan sehingga subjek tinggal memilih alternatif
jawaban yang sesuai (Arikunto, 2013). Kuesioner yang disusun memuat aspek
dari resiliensi. Masing-masing memiliki tujuh aspek.
2. Format Pernyataan Skala
Bentuk skala dalam kuesioner ini mengacu pada model skala likert, di
mana masing-masing item membentuk item favorabel dan unfavorabel.Skala
likert digunakan untuk mengukur sikap.pendapat, persepsi sekelompok orang
tentang fenomena sosial. Pada skala ini variabel yang akan diukur dijabarkan
menjadi indikator variabel, kemudian indikator variabel tersebut dijadikan
sebagai dasar untuk menyusun item-item instrumen yang berupa pertanyaan
atau pernyataan (Sugiyono 2011).
Skala ini dimodifikasi dengan empat pilihan jawaban, yaitu Sangat Sesuai
(SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Maksud
jawaban
SS-S-TS-STS
adalah
terutama
untuk
melihat
kecenderungan

pendapat atau responden, ke arah sesuai atau ke arah tidak sesuai. Untuk item

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

33

favorabel, skor bergerak dari 4 untuk sangat sesuai (SS),3 untuk sesuai (S), 2

untuk tidak sesuai (TS), dan 1 untuk sangat tidak sesuai (STS). Demikian juga untuk item
untuk tidak sesuai (TS), dan 1 untuk sangat tidak sesuai (STS). Demikian juga
untuk item unfavorabel, skor 1 untuk sangat sesuai (SS), 2 untuk sesuai (S), 3
untuk tidak sesuai (TS), 4 untuk sangat tidak sesuai (STS). Tidak ada skor 0
karena sifat jawaban akan tidak menjadi mutlak ya atau tidak. Norma skoring
resiliensi terdapat pada tabel berikut ini:
Tabel 2
Norma skoring
Skor
Alternatif Jawaban
Favorabel
Unfavorabel
Sangat Sesuai
4
1
Sesuai
3
2
Tidak sesuai
2
3
Sangat tidak sesuai
1
4
3.
Kisi-kisi Item
Kuesioner
disusun
berdasarkan
aspek-aspek
resiliensi
dalam
Agustiani (2006:141-142). Operasional objek penelitian ini dijabarkan lebih
lanjut dalam konstruk instrument pada tabel di bawah ini:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

34

Tabel 3 Kisi-kisi Kuesioner Resiliensi

NOMOR ITEM NO ASPEK INDIKATOR JML FAV. UNFAV. Regulasi Tenang dalam menghadapi masalah 1,2 3,4
NOMOR ITEM
NO
ASPEK
INDIKATOR
JML
FAV.
UNFAV.
Regulasi
Tenang dalam menghadapi masalah
1,2
3,4
4
Emosi
1
(Emotion
Fokus pada permasalahan yang ada
5,6
7,8
4
Regulation)
Kontrol
Kemampuan mengendalikan emosi negatif
9,10
11,12
4
terhadap
2
(Impuls
Kemampuan mengelola emosi negative
13,14
15,16
4
Kontrol)
17,18
19,20
4
Optimisme
Memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu
akan menjadi baik
3
(Optimism)
Yakin mampu menghadapi segala situasi
21,22
23,24
4
Mampu
mengidentifikasi
masalah
dengan
25,26
27,28
4
baik
Kemampuan
menganalisis
Mampu membuat solusi atas masalah yang
dihadapi
29,30
31,32
4
4
masalah
(Causal
33,34
35,36
analysis)
Tidak menyalahkan oranglain atas kesalahan
yang diperbuat
Meyakini
bahwa
kegagalan
terjadi
akibat
37,38
39,40
4
kurangnya usaha
Mampu memaknai perilaku verbal orang lain
41,42
43,44
4
Empati
5
(empathi)
Mampu memaknai perilaku non-verbal orang
lain
45,46
47,48
4
Memiliki keyakinan untuk memecahkan
masalah yang dihadapi
51,52
4
Efikasi diri
6
49,50
(self-efficacy)
Memiliki keyakinan untuk sukses
53,54
55,56
4
Tidak malu apabila mengalami kegagalan
57,58
59, 60
4
Pencapaian
7
Keluar dari zona nyaman diri
61.62
63,64
4
(reaching out)
Berani untuk mengoptimalkan kemampuan
65,66
67,68
4
Jumlah
68

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

E. Validitas dan Reliabilitas

35

1. Validitas Validitas suatu instrument penelitian adalah derajat yang menunjukan di mana suatu tes mengukur
1.
Validitas
Validitas
suatu
instrument
penelitian
adalah
derajat
yang
menunjukan
di
mana
suatu
tes
mengukur
apa
yang
hendak
diukur
(Arikunto, 2009: 122). Uji validitas item dilakukan untuk mengetahui
apakah instrument yang disusun dapat dipergunakan untuk mengukur apa
yang akan diukur. Semakin tinggi nilai validitas item menunjukan semakin
valid instrument tersebut untuk digunakan di lapangan.
Validitas yang diuji untuk instrumen penelitian ini adalah validitas
isi. Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian
terhadap isi alat ukur dengan analisis rasional dengan cara professional
judgement (Azwar 2004:45). Menurut Ary, Jacobs, dan Razavieh (2007:
296)
validitas
isi
tidak
dapat
dinyatakan
dengan
angka
namun
pengesahannya berdasarkan pertimbangan yang diberikan oleh ahli (expert
judgement).
Dalam
penelitian
ini,
instrumen
penelitian
dikonstruksi
berdasarkan
aspek-aspek
yang
akan
diukur
dan
selanjutnya
dikonsultasikan pada ahli (dosen pembimbing).
Hasil konsultasi dan telaah yang dilakukan oleh ahli dilengkapi
dengan pengujian empirik dengan cara mengkorelasikan skor-skor setiap
item instrumen terhadap skor-skor total aspek dengan teknik korelasi
Spearman's
rho
menggunakan
aplikasi
program
komputer
SPSS
for
Window. Rumus korelasi Spearman's rho adalah sebagai berikut :

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

36

Keterangan : Keputusan ditetapkan dengan nilai koefisien validitas yang minimal sama dengan 0,30 (Azwar, 2007:103).
Keterangan :
Keputusan ditetapkan dengan nilai koefisien validitas yang minimal
sama
dengan
0,30
(Azwar,
2007:103).
Apabila
terdapat
item
yang
memiliki nilai koefisien di bawah 0,30 maka item tersebut dinyatakan
gugur.
Proses penghitungan indeks validitas item pada alat ukur penelitian
ini dilakukan dengan cara memberi skor terlebih dahulu setiap item dan
mentabulasi
ke
dalam
tabulasi
data
uji
coba
instrument
penelitian.
Penghitungan indeks validitas instrument dilakukan dengan menggunakan
bantuan program komputer statistic program for social science (SPSS)
versi 16.0. Item yang valid adalah item yang memiliki nilai korelasi ≥
0,30. Berdasarkan penghitungan yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh
62 item yang valid dan 6 item yang tidak valid. Jumlah item yang valid
dan tidak valid terdapat pada tabel di bawah ini.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

37

Tabel 4 Rincian Item yang Valid dan Tidak Valid

NOMOR ITEM NO ASPEK INDIKATOR FAV. UNFAV. 1 Regulasi Tenang dalam mengahadapi masalah 1, 2
NOMOR ITEM
NO
ASPEK
INDIKATOR
FAV.
UNFAV.
1 Regulasi
Tenang dalam mengahadapi masalah
1, 2
3, 4
Emosi
Fokus pada permasalahan yang ada
5, 6
7, 8
(Emotion
Regulation)
2 Kontrol
Kemampuan
mengendalikan
emosi
9, 10
11*, 12
terhadap
negatif
(Impuls
Kemampuan mengelola emosi negatif
13*,
15, 16
Kontrol)
14
3 Optimisme
Memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu
akan menjadi baik
17, 18
19, 20
(Optimism)
Yakin mampu menghadapi segala situasi
21, 22
23, 24
4 Kemampuan
menganalisis
Mampu mengidentifikasi masalah dengan
baik
25, 26
27, 28*
masalah
Mampu
membuat
solusi
atas
masalah
29, 30
31, 32
(Causal
yang dihadapi
analysis)
Tidak menyalahkan oranglain atas
kesalahan yang diperbuat
33, 34
35, 36
Meyakini bahwa kegagalan terjadi akibat
kurangnya usaha
37, 38
39, 40
5 Empati
(empathi)
Mampu memaknai perilaku verbal orang
lain
41,
43, 44
42*
Mampu
memaknai
perilaku
non-verbal
45, 46
47*, 48
orang lain
6 Efikasi
diri
Memiliki keyakinan untuk memecahkan
51, 52
(self-
masalah yang dihadapi
49, 50
efficacy)
Memiliki keyakinan untuk sukses
53, 54
55, 56
7 Pencapaian
Tidak malu apabila mengalami kegagalan
57, 58
59, 60
(reaching
Keluar dari zona nyaman diri
61, 62
63,64*
out)
Berani
untuk
mengoptimalkan
65,66
67,68
kemampuan

Catatan: kode*) adalah keterangan item yang tidak valid

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2.

Reliabilitas

38

Reliabilitas artinya adalah tingkat kepercayaan hasil pengukuran (Azwar, 2007). Pengukuran yang mempunyai reliabilitas
Reliabilitas artinya adalah tingkat kepercayaan hasil pengukuran
(Azwar, 2007). Pengukuran yang mempunyai reliabilitas tinggi yaitu yang
mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya, disebut sebagai reliabel
(Azwar, 2007:176). Sukardi (2003: 127) mengatakan bahwa pengukuran
yang
menggunakan
instrumen
penelitian
dikatakan
mempunyai
nilai
reliabilitas yang tinggi, apabila alat ukur yang dibuat mempunyai hasil
yang konsisten dalam mengukur apa yang hendak diukur.
Perhitungan
reliabilitas
kuesioner
penelitian
ini
menggunakan
pendekatan koefisiensi Alpha Cronbach (α). Penggunaan teknik analisis
Alpha Cronbach didasarkan atas pertimbangan perhitungan reliabilitas
skala. Rumus koefisien reliabilitas Alpha Cronbach (α) adalah sebagai
berikut:
[
]
Keterangan rumus:
: koefisien reliabilitas Alpha Cronbach
dan
: varians skor belahan 1 dan varians skor belahan 2
: varians skor skala

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

39

Berdasarkan hasil data uji coba yang telah dihitung melalui program

komputer Stastistical Program for Social Science (SPSS) 16.0 for Window, diperoleh perhitungan reliabilitas
komputer
Stastistical
Program
for
Social
Science
(SPSS)
16.0
for
Window,
diperoleh
perhitungan
reliabilitas
seluruh
instrumen
dengan
menggunakan rumus koefisien alpha (α), yaitu 0,923. Hasil perhitungan
indeks reliabilitas dicocokkan dengan kriteria Guilford (Masidjo, 1995)
terdapat dalam tabel di bawah ini:
Tabel 5
Kriteria Guilford
No
Koefisien Korelasi
Kualifikasi
1
0,91 – 1,00
Sangat Tinggi
2
0,71 – 0,90
Tinggi
3
0,41 – 0,70
Cukup
4
0,21 – 0,40
Rendah
5
Negatif – 0,20
Sangat Rendah
Dari
hasil
penghitungan
di
atas,
dapat
disimpulkan
bahwa
koefisien reliabilitas kuesioner termasuk kualifikasi sangat tinggi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

F. Teknik Pengumpulan Data

40

1. Persiapan dan Pelaksanaan Berikut ini adalah langkah-langkah mengumpulkan data: a. Penyusunan kuesioner tingkat
1. Persiapan dan Pelaksanaan
Berikut ini adalah langkah-langkah mengumpulkan data:
a. Penyusunan
kuesioner
tingkat
resiliensi
siswa
kelas
XI,
disusun
berdasarkan aspek-aspek Resiliensi.
b. Peneliti
mengidentifikasi
aspek-aspek
resiliensi
kemudian
merumuskan indikator-indikator dari setiap aspek.
c. Peneliti merumuskan pernyataan-pernyataan item dari setiap indikator.
d. Peneliti
mengkonsultasikan
instrumen
kepada
dosen
pembimbing
skripsi untuk menelaah kualitas instrumen dan memeriksa validitasi isi
sebelum digunakan peneliti untuk penelitian
e. surat
Meminta
izin
untuk
melakukan
penelitian
pada
sekretariat
Program
Bimbingan
dan
Konseling
Universitas
Sanata
Dharma
Yogyakarta yang kemudian ditandatangani oleh ketua Jurusan Ilmu
Pendidikan.
f. Meminta tanda tangan kepada wakil dekan dan cap yang mengesahkan
surat tersebut.
g. Mengirim surat izin penelitian kepada kepalah sekolah SMA N 1
Wuryantoro.
h. Meminta penentuan dan kesepakatan mengenai waktu pelaksanaan
penelitian
kepada
pihak
sekolah.
Merevisi
item
kuesioner
dan
mengkonsultasikan kepada dosen pembimbing.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Tahap Pengumpulan Data

41

Uji terpakai dilakukan setelah memperoleh ijin dan kesepakatan waktu pelaksanaan dari pihak sekolah SMA N
Uji terpakai dilakukan setelah memperoleh ijin dan kesepakatan
waktu pelaksanaan dari pihak sekolah SMA N I Wuryantoro. Penelitian
dilakukan dua hari karena terbatasnya waktu penelitian ini menggunakan
uji terpakai yang artinya data yang digunakan sebagai data penelitian.
Responden yang digunakan untuk penelitian adalah siswa yang hadir pada
saat pengambilan data, sehingga jumlah siswa yang digunakan sebagai
responden penelitian terpakai dan mengisi instrument berjumlah 65 siswa.
Sebelum meminta siswa untuk mengisi kuesioner, peneliti terlebih
dahulu memperkenalkan diri, menjelaskan maksud dan tujuan dalam
penelitian
ini,
dan
menjelaskan
petunjuk
dalam
mengisi
kuesioner
resiliensi.
Setelah
itu
peneliti
membagikan
kuesioner.
Peneliti
juga
memberikan
kesempatan
pada
para
siswa
atau
responden
untuk
menanyakan hal-hal yang kurang jelas berkaitan dengan kuesioner.
3. Teknik Analisis Data
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk
memperoleh gambaran atau realita mengenai resiliensi. Langkah-langkah
yang ditempuh untuk analisis data adalah sebagai berikut:
a. Memberi skor pada tiap-tiap item pada setiap kuesioner yang telah
diisi oleh responden dengan mengacu pada norma skoring dari tiap-
tiap
alternatif
jawaban
sebagaimana
telah
ditetapkan.
Skor
pernyataan positif adalah: Sangat sesuai = 4, sesuai = 3, Tidak

seuai= 2, Sangat tidak sesuai= 1. Untuk pernyataan yang negatif

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

42

mendapat skor sebaliknya yaitu: sangat sesuai= 1, Sesuai = 2, Tidak

sesuai = 3, Sangat tidak sesuai = 4. b. Mentabulasikan seluruh data ke dalam komputer
sesuai = 3, Sangat tidak sesuai = 4.
b. Mentabulasikan seluruh data ke dalam komputer dengan bantuan
program Microsoft Excel, kemudian menjumlah total skor dari
masing-masing responden.
c. Mengelompokkan tingkat resiliensi subyek ke dalam lima kategori
dengan mengacu pada pedoman Azwar. Adapun norma kategori
tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6
Penggolongan Kategorisasi
Penghitungan skor
Kategori
µ + 1,5 σ < X
Sangat tinggi
µ + 0,5 σ < X ≤ µ + 1,5 σ
Tinggi
µ - 0,5 σ < X ≤ µ + 0,5 σ
Sedang
µ - 1,5 σ < X ≤ µ - 0,5 σ
Rendah
X ≤ µ - 1,5 σ
Sangat Rendah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Keterangan:

43

X maksimum teoritik : Skor tertinggi yang diperoleh subyek penelitian dalam skala X minimum teoritik
X
maksimum teoritik
: Skor tertinggi yang diperoleh subyek
penelitian dalam skala
X
minimum teoritik
: Skor terendah yang diperoleh subyek
penelitian dalam skala
σ (standar deviasi)
: luas jarak rentang yang dibagi dalam 6
satuan diviasi sebaran
µ (mean teoritik)
: rata-rata teoritis dari skor maksimumdan
minimum
Kategorisasi
tersebut
dibedakan
menjadi
dua
kategorisasi
yaitu
kategorisasi
subyek
penelitian
dan
kategorisasi
tiap
item
kuesioner.
Penghitungan dua macam kategorisasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Deskripsi Resiliensi
Kategorisasi skor subyek penelitian dilakukan dengan tujuan untuk
menggolongkan
subyek
penelitian
ke
dalam
kategori
yang
telah
ditetapkan. Kategori subyek diperoleh melalui penghitungan sebagai
berikut: X maksimum teoritik: 4x 62= 248, X minimum teoritik:
1x62=62 sehingga luas jarak: 248-62=186. Selanjutnya, σ (standar
deviasi): 186:6=31, dan µ (mean teoritik): (24+62:2=155). Setelah
dilakukan penghitungan, penentuan kategorisasi dapat dilihat pada
tabel di bawah ini:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

44

Tabel 7 Pengkategorisasian Deskripsi Resiliensi

Penghitungan skor Rerata Keterangan µ + 1,5 σ < X X ≥ 202 Sangat tinggi
Penghitungan skor
Rerata
Keterangan
µ + 1,5 σ < X
X
≥ 202
Sangat tinggi
µ + 0,5 σ < X ≤ µ + 1,5 σ
171 <
X
≤ 202
Tinggi
µ - 0,5 σ < X ≤ µ + 0,5 σ
140
< X ≤ 171
Sedang
µ - 1,5 σ < X ≤ µ - 0,5 σ
109
< X ≤ 140
Rendah
X ≤ µ - 1,5 σ
X
≤ 109
Sangat Rendah
b. Kategorisasi Skor Item
Kategorisasi
skor
item
dilakukan
untuk
menemukan
item
kuesioner
yang
terindikasi
rendah
yang
akan
digunakan
peneliti
sebagai pedoman penyusunan usulan topik-topik bimbingan yang
relevan Kategorisasi item penelitian diperoleh dengan perhitungan
sebagai berikut: X maksimum: 4x65 =260, X minimum: 1x65=65
sehingga
luas
jarak:260-65=195.
Selanjutnya
σ(standar
deviasi):
195:6=32,5 dan (mean teoritik): 260+65:2= 162,5
Penentuan kategorisasi setelah dilakukan penghitungan dapat dilihat
pada tabel berikut ini

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

45

Tabel 8 Pengkategorisasian Skor Item

Penghitungan skor Rerata Keterangan µ + 1,5 σ < X X ≥ 211 Sangat tinggi
Penghitungan skor
Rerata
Keterangan
µ + 1,5 σ < X
X
≥ 211
Sangat tinggi
µ + 0,5 σ < X ≤ µ + 1,5 σ
179 < X
≤ 211
Tinggi
µ - 0,5 σ < X ≤ µ + 0,5 σ
146
< X ≤ 179
Sedang
µ - 1,5 σ < X ≤ µ - 0,5 σ
114
< X ≤ 146
Rendah
X ≤ µ - 1,5 σ
X
≤ 114
Sangat Rendah
Kemudian, item yang masuk dalam kategori sedang, rendah dan
sangat rendah akan dijadikan sebagai dasar penyusunan usulan topik-
topik bimbingan pribadi sosial yang efektif bagi siswa.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

47

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab disajikan hasil penelitian dan pembahasan atas hasil penelitian yang sudah dilakukan, yaitu tentang
Pada bab disajikan hasil penelitian dan pembahasan atas hasil penelitian
yang sudah dilakukan, yaitu tentang resiliensi siswa kelas XI SMA Negeri I
Wuryantoro. Penelitian ini sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk
mengetahui tingkat resiliensi siswa kelas XI SMA Negeri I Wuryantoro dan
dalam
pembuatan
topik-topik
bimbingan
pribadi
sosial
untuk meningkatkan
resiliensi pada siswa.
A. Hasil penelitian
1. Deskriptif Resiliensi Siswa SMA Negeri I Wuryantoro Tahun Ajaran
2015/2016
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resiliensi yang dimiliki
oleh siswa kelas XI yang bersekolah di SMA Negeri I Wuryantoro dan
mengidentifikasi butir-butir resiliensi yang belum tercapai pada siswa
kelas XI SMA Negeri I Wuryantoro. Berdasarkan data yang terkumpul
dan diolah dengan menggunakan kriteria Azwar (2011) dapat diketahui
resiliensi
siswa
kelas
XI SMA
Negeri
I Wuryantoro
tahun
ajaran
2015/2016.

47

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

48

Tabel 9 Kategorisasi Deskripsi Resiliensi Siswa

Penghitungan skor Rerata Frekuensi Presentase Keterangan µ + 1,5 σ < X X ≥ 202
Penghitungan skor
Rerata
Frekuensi
Presentase
Keterangan
µ + 1,5 σ < X
X
≥ 202
16
24,6 %
Sangat tinggi
µ + 0,5 σ < X ≤ µ + 1,5 σ
171 <
X
202
42
64,6 %
Tinggi
µ - 0,5 σ < X ≤ µ + 0,5 σ
140
< X ≤ 171
7
10,8 %
Sedang
µ - 1,5 σ < X ≤ µ - 0,5 σ
109
< X ≤ 140
0
0
%
Rendah
X ≤ µ - 1,5 σ
X
≤ 109
0
0
%
Sangat Rendah
Kategorisasi deskripsi resiliensi siswa ini jika digambarkan dalam
bentuk diagram dapat dilihat sebagai berikut:
Grafik 1
Diagram Deskripsi Resiliensi Siswa
50
42
40
30
16
Series 1
20
7
10
0
0
0
Sangat
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat
Tinggi
Rendah
Tabel dan diagram menerangkan bahwa:
a. Terdapat 24,6% atau 16 siswa termasuk dalam kategori sangat
tinggi
b. Terdapat 64,6% atau 42 siswa termasuk dalam kategori tinggi
c. Terdapat 10,8% atau 7 siswa termasuk dalam kategori sedang

d. Tidak ada siswa yang masuk dalam kategori rendah

e. Tidak ada siswa yang masuk dalam kategori sangat rendah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

49

2. Hasil analisis butir-butir instrumen resiliensi yang terindikasi rendah Berdasarkan hasil pengolahan data
2.
Hasil
analisis
butir-butir
instrumen
resiliensi
yang
terindikasi
rendah
Berdasarkan hasil pengolahan data telah didapat skor-skor item
yang masuk dalam kategorisasi sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan
sangat rendah. Item yang berada dalam kategori sedang, rendah dan
sangat
rendah
adalah
item
yang
akan
digunakan
sebagai
bahan
penyusunan usulan topik-topik bimbingan pribadi sosial.
Hasil pengkategorisasian skor item resiliensi dapat dilihat pada
tabel berikut ini:
Tabel 10
Kategorisasi Skor Item Resiliensi
Penghitungan skor
Rerata
Frekuensi
Presentase
Keterangan
µ + 1,5 σ < X
X
≥ 211
16
25,9 %
Sangat tinggi
µ + 0,5 σ < X ≤ µ + 1,5 σ
179 < X
≤ 211
36
58 %
Tinggi
µ - 0,5 σ < X ≤ µ + 0,5 σ
146
< X ≤ 179
8
14,5 %
Sedang
µ - 1,5 σ < X ≤ µ - 0,5 σ
114
< X ≤ 146
1
1,6 %
Rendah
X ≤ µ - 1,5 σ
X
≤ 114
0
0 %
Sangat Rendah
Kategorisasi skor item
resiliensi siswa ini jika digambarkan
dalam bentuk diagram dapat dilihat sebagai berikut:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

50

Grafik 2 Diagram Kategorisasi Skor Item Resiliensi Siswa

Tabel dan diagram menerangkan bahwa: a. Terdapat 25,9% atau 16 item termasuk dalam kategori sangat
Tabel dan diagram menerangkan bahwa:
a. Terdapat 25,9% atau 16 item termasuk dalam kategori sangat tinggi
b. Terdapat 58% atau 36 item termasuk dalam kategori tinggi
c. Terdapat 14,5% atau 8 item termasuk dalam kategori sedang
d. Terdapat 1,6 % atau 1 item yang masuk dalam kategori rendah
e. Tidak ada item yang masuk dalam kategori sangat rendah
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa
terdapat 8 item yang masuk dalam kategori sedang dan 1 item yang masuk
dalam kategori rendah. Kesembilan item tersebut akan dijadikan dasar
dalam
pembuatan
usulan
topik-topik
bimbingan
pribadi-sosial
yang
relevan bagi siswa. Item-item tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.
36 40 30 16 20 Series 1 9 10 1 0 Sangat tinggi sedang rendah
36
40
30
16
20
Series 1
9
10
1
0
Sangat
tinggi
sedang
rendah
sangat
tinggi
rendah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

B. Pembahasan Hasil Penelitian

51

1. Resiliensi Siswa Kelas XI SMA Negeri Wuryantoro Tahun Ajaran 2015/2016 masuk dalam kategori tinggi
1. Resiliensi Siswa Kelas XI SMA Negeri Wuryantoro Tahun Ajaran
2015/2016 masuk dalam kategori tinggi
Berikut ini disajikan pembahasan deskripsi kemampuan resiliensi
siswa kelas XI SMA N I Wuryantoro Tahun ajaran 2015/2016.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan
bahwa sebagian besar siswa (64,6%) kelas XI SMA N I Wuryantoro
Tahun ajaran 2015/2016 memiliki resiliensi yang tinggi, hal ini dapat
diartikan bahwa siswa memiliki tingkat resiliensi yang baik. Siswa yang
memiliki resiliensi yang baik adalah siswa yang mampu mengontrol emosi
dan
bersikap
tenang
meskipun
berada
di
bawah
tekanan,
mampu
mengotrol dorongannya dan membangkitkan pemikiran yang mengarah
pada pengendalian emosi, bersifat optimis mengenai mengenai
masa
depan cerah, mampu mengidentifikasi penyebab dari masalah mereka
secara
akurat,
memiliki
empati,
memiliki
keyakinan
diri,
memiliki
kompetensi untuk mencapai sesuatu.
Tingkat resiliensi siswa yang tinggi dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu faktor individual, faktor keluarga, dan faktor komunitas
(Everall, dkk, 2006). Sedangkan Grotberg (1999: 3) menyatakan bahwa
resiliensi
dipengaruhi
oleh
beberapa
faktor,
pertama
adalah
sumber
dukungan sosial yang meliputi hubungan yang baik dengan keluarga,
lingkungan sekolah yang menyenangkan, ataupun hubungan dengan orang

lain di luar keluarga. Kedua, kemampuan individu yang meliputi kekuatan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

52

yang terdapat pada individu tersebut seperti percaya diri dan bangga pada

diri sendiri, bersikap baik dan tenang, beriman, mencintai dan berempati, mandiri dan bertanggung jawab. Ketiga,
diri sendiri, bersikap baik dan tenang, beriman, mencintai dan berempati,
mandiri
dan
bertanggung
jawab.
Ketiga,
kemampuan
sosial
dan
interpersonal yang dapat bersumber dari apa saja yang dapat dilakukan
oleh individu sehubungan dengan keterampilan-keterampilan sosial dan
interpersonal. Keterampilan ini antara lain; mengatur berbagai perasaan
dan rangsangan di mana individu dapat mengenali perasaan mereka,
mengenali berbagai jenis emosi, kreatif, humoris, menemukan bantuan,
memiliki
keterampilan
sosial
yang
baik,
serta
kemampuan
dalam
memecahkan masalah.
Tingginya tingkat resiliensi siswa kelas XI SMA N I Wuryantoro
Tahun ajaran 2015/2016 dapat juga disebabkan oleh faktor individual
yaitu kemampuan kognisi yang baik, konsep diri yang positif tentang
dirinya,
kemampuan
menjalin
relasi
yang
baik
dengan
orang
lain,
kemampuan
memecahkan
permasalahan
yang
dihadapi,
kemampuan
mengontrol dorongan-dorongan dari dalam diri, dan kemampuan untuk
tidak
menyalahkan
diri
sendiri.
Individu
yang
resilien,
memiliki
kemampuan untuk mengontrol emosi, tingkah laku, dan atensi dalam
menghadapi masalah. Sebaliknya individu yang memiliki resiliensi rendah
akan kesulitan untuk mengontrol emosi dan sulit beradaptasi, menjalin dan
memepertahankan hubungan dengan orang lain. Individu akan cenderung
untuk terjebak dalam emosinya dan sulit membuat keputusan dengan tepat,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

53

sulit menghadapi permasalahan dalam hidup dengan positif, serta tidak

terbuka pada pengalaman baru. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang ditemukan oleh Gottman (1997)
terbuka pada pengalaman baru.
Hal
ini
sesuai
dengan
hasil
penelitian
yang
ditemukan
oleh
Gottman
(1997)
yang
menunjukkan
bahwa
dengan
mengaplikasikan
regulasi
emosi
dalam
kehidupan
akan
berdampak
positif
baik
bagi
kesehatan
fisik,
keberhasilan
akademik,
kemudahan
dalam
membina
hubungan dengan orang lain dan meningkatkan resiliensi.
Resiliensi yang dimiliki siswa memiliki efek terhadap kesehatan
siswa secara fisik, mental, serta menentukan keberhasilan siswa dalam
berhubungan dan berinteraksi dengan lingkungannya (Reivich & Shatte,
2002). Kapasitas resiliensi ada pada setiap orang, artinya setiap individu
lahir dengan kemampuan untuk bertahan dari penderitaan, kekecewaan,
atau tantangan. Resiliensi dapat dilihat jelas apabila seseorang berada pada
tantangan atau masalah. Semakin seseorang berhadapan dengan banyak
tantangan
dan
permasalahan
dalam
hidupnya,
maka semakin
terlihat
apakah seseorang tersebut mampu mengembangkan karakteristik resiliensi
dalam dirinya atau tidak (Bobey, 1999).
Selain faktor individu, faktor keluarga dan komunitas juga turut
berperan dalam menciptakan siswa yang resilien. Sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Bryan (2005) yang mengemukakan bahwa sekolah,
keluarga dan komunitas dapat menciptakan kesempatan yang baik untuk
mengembangkan
resiliensi
pada
siswa.
Hal
ini
karena
keluarga
dan

komunitas

dapat

membantu

menghilangkan

stressor,

batasan

maupun

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

54

rintangan dalam mencapai prestasi akademik. Sekolah (komunitas) mampu

meningkatkan resiliensi siswa karena sekolah mampu menciptakan suasana yang harmonis dan melindungi anak dari
meningkatkan
resiliensi
siswa
karena
sekolah
mampu
menciptakan
suasana yang harmonis dan melindungi anak dari kesulitan (Borman &
Rachuba, 2001). Dengan kata lain sekolah membuat lingkungan belajar
yang positif, dimana kompetensi akademik dan potensi siswa didukung
secara baik, dan mengurangi masalah perilaku (Close & Solberg, 2007).
Hasil penelitian siswa kelas XI SMA N I Wuryantoro Tahun ajaran
2015/2016 ditemukan 10,8% siswa berada pada tingkat resiliensi rendah.
Rendahnya tingkat resiliensi pada siswa dapat juga disebabkan karena
faktor individu, faktor keluarga, dan faktor komunitas/lingkungan. Faktor
individu yang biasanya muncul pada siswa, antara lain; merasa rendah diri,
tidak berharga, tidak puas atas apa yang telah dilakukannya, mudah putus
asa, dan tidak percaya diri. Untuk faktor keluarga, ada kecenderungan
siswa merasa tidak dihargai oleh keluarga, tidak mendapatkan perhatian
dan kasih sayang dari keluarga, diperlakukan tidak adil sebagai sebagai
anak maupun kakak atau adik. Untuk faktor komunitas/ lingkungan, ada
kecenderungan siswa tidak mampu mengatur emosinya pada orang lain,
tidak didukung oleh lingkungannya, merasa dikucilkan atau diabaikan oleh
komunitasnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Item-item Resiliensi

55

Berdasarkan hasil penelitian, di dapatkan data yang menunjukan bahwa terdapat 1 butir kuisioner yang terindikasi
Berdasarkan hasil penelitian, di dapatkan data yang menunjukan bahwa
terdapat 1 butir kuisioner yang terindikasi rendah, dan 8 butir kuisioner yang
terindikasi sedang. Kesembilan item tersebut diuraikan sebagai berikut:
Tabel 11
Item-item Resiliensi siswa kelas XI yang masuk
dalam kategori sedang dan rendah
ASPEK
INDIKATOR
NO
ITEM
SKOR
Regulasi
Emosi
Fokus pada permasalahan
yang ada
7
Saya mudah mengalihkan
konsentrasi saya ke hal lain pada
saat menghadapi masalah
176
(Emotion
Regulation)
9
177
Kontrol
Kemampuan
mengendalikan emosi
negatif
Saya mampu mengedalikan
emosi saat marah/kesal
12
terhadap
Saya cenderung mudah marah
kepada siapapun ketika sedang
merasa kesal
166
(Impuls
16
Kontrol)
Kemampuan
mengelola
Saya mudah bingung ketika
memiliki sebuah masalah
164
emosi negatif
Kemampuan
25
menganalisis
Mampu mengidentifikasi
masalah dengan baik
masalah
Saya mampu mengenali akar
masalah dari masalah yang saya
hadapi
179
(Causal
analysis)
43
Empati
Mampu memaknai
perilaku verbal orang lain
Saya mudah terbakar emosi
ketika mendengar oranglain
berbicara dengan nada keras
176
(empathi)
44
Saya kesal melihat teman yang
mudah mengeluh
156
Berani
untuk
66
mengoptimalkan
Pencapaian
kemampuan
Saya bersemangat saat ditunjuk
untuk mengerjakan di depan
kelas
159
(reaching
Keluar dari zona nyaman
diri
62
out)
Saya senang saat ditunjuk
menjadi pemimpin upacara atau
pengibar bendera
144

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

56

Kesembilan item yang termasuk dalam kategori rendah dan sedang

tersebut selanjutnya disebut sebagai item yang terindikasi rendah. Terdapat beberapa penjelasan mengenai
tersebut
selanjutnya
disebut
sebagai
item
yang
terindikasi
rendah.
Terdapat beberapa penjelasan mengenai kesembilan item tersebut hingga
teridentifikasi rendah berdasarkan aspek-aspek resiliensi menurut Reivich
& Shatte. Berikut penjelasan yang dijabarkan sesuai dengan item yang
terindikasi rendah.
Pertama, pernyataan “Saya mudah mengalihkan konsentrasi saya
ke hal lain pada saat menghadapi masalah”. Item nomor 7 masuk dalam
kategori
rendah,
artinya
siswa
tidak
fokus
pada
permasalahan
yang
dimiliki.
Siswa
cenderung
mudah
mengalihkan
konsentrasinya
dari
permasalahan yang dihadapi sehingga permasalahan yang dihadapi tidak
akan cepat mendapatkan jalan keluar. Seseorang yang resiliens memiliki
keterampilan untuk fokus, fokus pada permasalahan yang dimiliki akan
mempermudah seseorang untuk menemukan solusi dari permasalahan
yang ada.
Kedua,
pernyataan
”Saya
mampu
mengedalikan
emosi
saat
marah/kesal”. Item nomor 9 masuk dalam kategori rendah, artinya siswa
tidak
mampu
mengontrol
impuls
saat
marah/kesal.
Individu
dengan
kontrol
terhadap
impuls
yang
rendah
pada
umumnya
percaya
pada
pemikiran impulsifnya yang mengenai situasi sebagai kenyataan dan
bertindak sesuai dengan situasi tersebut. Mereka menampilkan perilaku
mudah marah, kehilangan kesabaran, impulsif dan berlaku agresif.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

 

57

Seseorang

yang

resilien

mampu

mengontrol

impuls.

Kontrol

terhadap impuls akan membawa kepada pemikiran yang jernih dan akurat. Reivich dan Shatte (2002), mengatakan
terhadap impuls akan membawa kepada pemikiran yang jernih dan akurat.
Reivich dan Shatte (2002), mengatakan bahwa individu dapat melakukan
pencegahan terhadap impulsivitasnya. Pencegahan ini dapat dilakukan
dengan menguji keyakinan individu dan mengevaluasi kebermanfaatan
terhadap pemecahan masalah. Seperti memberikan pertanyaan-pertanyaan
pada diri sendiri; „apakah benar apa yang saya lakukan?‟, „apakah manfaat
dari semua ini?‟, dll.
Ketiga,
pernyataan
“Saya
cenderung
mudah
marah
kepada
siapapun ketika sedang merasa kesal”.
Item nomor 12 masuk dalam
kategori rendah, artinya siswa tidak dapat mengontrol impuls dan tidak
fokus pada permasalahan yang dihadapi. Individu dengan kontrol terhadap
impuls yang rendah pada umumnya percaya pada pemikiran impulsifnya
yang mengenai situasi sebagai kenyataan dan bertindak sesuai dengan
situasi tersebut. Mereka menampilkan perilaku mudah marah, kehilangan
kesabaran, impulsif dan berlaku
agresif. Tentunya perilaku ini akan
membuat orang di sekitar merasa kurang nyaman, pada akhirnya akan
berdampak buruk bagi hubungan sosialnya.
Reivich dan Shatte (2002), mengatakan bahwa individu dapat
melakukan pencegahan terhadap impulsivitasnya. Pencegahan ini dapat
dilakukan
dengan
menguji
keyakinan
individu
dan
mengevaluasi
kebermanfaatan
terhadap
pemecahan
masalah.
Seperti
memberikan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

58

pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri; „apakah benar apa yang saya

lakukan?‟, „apakah manfaat dari semua ini?‟, dll. Keempat, pernyataan “Saya mudah bingung ketika memiliki
lakukan?‟, „apakah manfaat dari semua ini?‟, dll.
Keempat,
pernyataan
“Saya
mudah
bingung
ketika
memiliki
sebuah masalah”.
Item nomor 16 masuk dalam kategori rendah, artinya
siswa
tidak
mampu
mengelola
impuls
dengan
baik
sehingga
siswa
mengalami
kebingungan
ketika
dihadapkan
pada
sebuah
masalah.
Kemampuan individu untuk mengendalikan impuls sangat terkait dengan
kemampuan regulasi emosi yang ia miliki. Individu yang memiliki skor
resilience question yang tinggi pada faktor regulasi emosi, cenderung
memiliki
skor
resilience
question
yang
tinggi
pula
pada
faktor
pengendalian impuls. Dalam hal ini siswa kurang memiliki keterampilan
fokus dan tenang yang ada dalam faktor regulasi emosi. sehingga siswa
mudah bingung ketika memiliki sebuah masalah.
Kelima pernyataan “Saya mampu mengenali akar masalah dari
masalah yang saya hadapi”. Item nomor 25 masuk dalam kategori rendah,
artinya siswa tidak mampu menganalisis masalah yang sedang dihadapi.
Hal ini dapat disebabkan karena siswa memiliki gaya berpikir “Saya-
selalu-semua” dimana siswa dengan gaya berpikir “Saya-Selalu-Semua”
merefleksikan
keyakinan
bahwa
penyebab
permasalahan
berasal
dari
individu tersebut (Saya), hal ini selalu terjadi dan permasalahan yang ada
tidak dapat diubah (Selalu), serta permasalahan yang ada akan cenderung
mempengaruhi seluruh aspek hidupnya (Semua). Sehingga siswa tidak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

 

59

mampu

mencari

kejelasan

dari

suatu

kejadian

atau

tidak

dapat

menganalisis masalah yang sedang dihadapi. Individu yang resilien adalah individu yang memiliki fleksibilitas kognitif.
menganalisis masalah yang sedang dihadapi.
Individu yang resilien adalah individu yang memiliki fleksibilitas
kognitif.
Mereka
mampu
mengidentifikasikan
semua
penyebab
yang
menyebabkan kemalangan yang menimpa mereka, tanpa terjebak pada
salah satu gaya berpikir explanatory. Mereka tidak akan menyalahkan
orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat demi menjaga self- esteem
mereka atau membebaskan mereka dari rasa bersalah. Mereka tidak terlalu
terfokus pada faktor-faktor yang berada di luar kendali mereka, sebaliknya
mereka memfokuskan dan memegang kendali penuh pada pemecahan
masalah,
perlahan
mereka
mulai
mengatasi
permasalahan
yang
ada,
mengarahkan hidup mereka, bangkit dan meraih kesuksesan (Reivich &
Shatte, 2002).
Keenam,
pernyataan
“Saya
mudah
terbakar
emosi
ketika
mendengar oranglain berbicara dengan nada keras”. Item nomor 43
masuk dalam kategori rendah, artinya siswa tidak mampu berempati.
Siswa tidak mampu membaca dan merasakan begaimana perasaan dan
emosi oranglain, Empati adalah pemahaman pikiran dan perasaan orang
lain dengan cara menempatkan diri ke dalam kerangka psikologis orang
tersebut (Kartono dalam Nashori, 2008). Ketidakmampuan berempati
berpotensi
menimbulkan
kesulitan
dalam
hubungan
sosial.
Individu
dengan empati yang rendah cenderung menyamaratakan semua keinginan

dan emosi orang lain.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

 

60

Ketujuh,

pernyataan

Saya

kesal

melihat

teman

yang

mudah

mengeluh”. Item nomor 44 masuk dalam kategori rendah, artinya siswa tidak mampu memahami keadaan oranglain.
mengeluh”. Item nomor 44 masuk dalam kategori rendah, artinya siswa
tidak mampu memahami keadaan oranglain. Siswa yang tidak membangun
kemampuan untuk peka terhadap tanda-tanda verbal maupun nonverbal,
tidak
mampu
untuk
menempatkan
dirinya
pada
posisi
orang
lain,
merasakan apa yang dirasakan orang lain dan memperkirakan maksud dari
orang lain. Ketidakmampuan siswa untuk membaca tanda-tanda verbal
maupun nonverbal orang lain, dapat sangat merugikan, baik dalam konteks
hubungan
kerja
maupun
hubungan
personal.
Hal
ini
dikarenakan
kebutuhan dasar manusia untuk dipahami dan dihargai (Reivich & Shatte,
2002).
Kedelapan, pernyataan “Saya bersemangat saat ditunjuk untuk
mengerjakan di depan kelas”. Item nomor 66 masuk dalam kategori
rendah, artinya siswa tidak berani mengoptimalkan kemampuan diri.
Mengerjakan di depan kelas merupakan sebuah cara untuk siswa guna
melatih
keberanian
dalam
mengatasi
ketakutan-ketakutan
yang
mengancam dirinya. Siswa yang resilien akan terbiasa melatih diri untuk
mengasah keberanian diri guna mencapai kesuksesan.
Kesembilan,
pernyataan
“Saya
senang
saat
ditunjuk
menjadi
pemimpin upacara atau pengibar bendera”. Item nomor 62 masuk dalam
kategori rendah, artinya siswa berani mencoba hal-hal baru dan keluar dari
zona nyamannya. Kebanyakan individu lebih memilih untuk memiliki

kehidupan standar dibandingkan harus meraih kesuksesan namun harus

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

61

berhadapan dengan resiko kegagalan hidup dan hinaan masyarakat. Hal ini

dikarenakan, sejak kecil individu telah diajarkan untuk sedapat mungkin menghindari kegagalan dan situasi yang memalukan.
dikarenakan, sejak kecil individu telah diajarkan untuk sedapat mungkin
menghindari kegagalan dan situasi yang memalukan.
C. Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi-Sosial
Terdapat beberapa item resiliensi yang teridentifikasi sedang dan
rendah pada siswa kelas XI SMA Negeri I Wuryantoro Tahun Ajaran
2015/2016. Adapun item yang teridentifikasi sedang dan rendah terdapat
dalam beberapa aspek, yaitu aspek regulasi emosi, aspek kontrol terhadap
impuls, aspek kemampuan menganalisis masalah, aspek empati dan aspek
pencapaian. Ketika melihat beberapa aspek yang memiliki tingkat resiliensi
sedang dan rendah tersebut, maka peneliti mengusulkan
untuk memberikan
bimbingan
pribadi
sosial
dengan
ragam
pribadi-sosial,
guna
lebih
meningkatkan resiliensi siswa dengan topik-topik bimbingan yang sesuai.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Tabel 12 Topik-Topik Bimbingan Pribadi Sosial yang Implikatif dapat Meningkatkan Resiliensi Siswa kelas XI SMA
Tabel 12
Topik-Topik Bimbingan Pribadi Sosial yang Implikatif dapat Meningkatkan Resiliensi Siswa kelas XI SMA Negeri I Wuryantoro Tahun
Ajaran 2015/2016
Topik
Metode
Sumber
ASPEK
TUJUAN
ITEM
Regulasi
Emosi
Siswa
mampu
memusatkan
Saya mudah mengalihkan konsentrasi ke
Aku
mampu
memfokuskan
Ceramah, diskusi, game
Sujawo.
2008.
Keterampilan
(Emotion
(Contoh experiental
Regulation)
perhatian terhadap masalah yang
hal lain pada saat menghadapi masalah
diri
pada
masalah
yang
Resiliensi
(Modul
Pelatihan).
learning: menangkap
dihadapi
dihadapi
Yogyakarta: UNY
berkat, tepuk ganjil
genap)
Siswa mampu mengelola emosi
negatif (marah/kesal) dalam
kehidupan sehari-hari
Saya mampu mengedalikan emosi saat
marah/kesal
Aku mampu mengendalikan
emosiku
Ceramah, game, diskusi
,tanya jawab
(contoh experiental
learning: menghubungkan
9 titik dengan 3 garis)
Sinurat, R.H. Dj. 2009.
Kumpulan Handout Praktikum
BK Karier. Prodi BK USD
Siswa mampu melihat suatu
permasalahan secara objektif
Saya cenderung mudah marah kepada
siapapun ketika sedang merasa kesal
Pengendalian Diri
Kontrol terhadap
(Impuls Kontrol)
Ceramah, tanya jawab,
diskusi, bermain peran
(Contoh experiental
learning: analisa gambar
multi persepsi-gambar
orang dan pemandangan
alam)
Tim Paramitra. 2011. Kumpulan
Lengkap Materi Bimbingan dan
Konseling.
Yogyakarta:Paramitra
Publishing
Saya
mudah
bingung
ketika
memiliki
Pemahaman Diri
Ceramah,
diskusi
Yusuf, S., Nurhudaya dan
sebuah masalah
Aku
bisa
mendengarkan
Siswa mampu memaknai
pengalaman diri sendiri dan orang
lain atas masalah yang dihadapi
kelompok
(Contoh experiental
learning: berpasang-
untuk
Ilfiandra.2004.Pengembangan
orang lain
Diri: Materi Bimbingan Bagi
pasangan
siswa. Bandung: UPT LBK UPI
mensharingkan suatu
masalah dan solusi yang
pernah dihadapi)
Kemampuan
menganalisis
Siswa mampu mengembangkan
pola berpikir kritis dalam
kehidupan sehari-hari
Saya mampu mengenali akar masalah
dari masalah yang saya hadapi
Keterampilan
mengidentifikasi masalah
Ceramah,
tugas,
diskusi
Sujawo.
2008.
Keterampilan
kasus
Resiliensi
(Modul
Pelatihan).
masalah
(Causal
(Contoh
experiental
Yogyakarta: UNY
analysis)
learning: menghubungkan
9
titik
dengan
3
garis,
bermain puzzle)

62

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Saya mudah terbakar emosi ketika mendengar oranglain berbicara dengan nada keras Pernyataan yang menguatkan diri
Saya mudah terbakar emosi ketika
mendengar oranglain berbicara dengan
nada keras
Pernyataan yang menguatkan
diri
Mengatasi Amarah
Ceramah singkat, tanya
jawab, diskusi
(Contoh experiental
Sinurat, R.H. Dj. 2009.
Kumpulan Handout Praktikum
BK Karier. Prodi BK USD
learning: mengumpulkan
Siswa memiliki kekuatan
psikologis dalam menghadapi
agresi dari orang lain
pernyataan
yg
Empati (empathi)
menguatkan diri. “apapun
yang anda katakan tentang
saya, saya tetaplah pribadi
yang berharga”
Siswa mampu memahami diri
sendiri dan oranglain
Saya kesal melihat teman yang mudah
mengeluh
Empati
Ceramah, tugas, diskusi
kelompok
(Contoh
experiental
learning:aku
dapat
Tim Paramitra. 2011. Kumpulan
Lengkap Materi Bimbingan dan
Konseling.
Yogyakarta:ParamitraPublishing
mendengarkan cerita
orang
lain
dan
menanggapi dengan baik)
Siswa optimis menerima segala
tugas dan tantangan yang diberikan
Saya bersemangat saat ditunjuk untuk
mengerjakan di depan kelas
Kepercayaan diri
Ceramah,
diskusi,
pemodelan sosial
(Contoh
experiental
Syah, Muhhibin. 2003.
Psikologi belajar. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada
learning:
kisah
orang
suskses
dan
latar
belakangnya)
Pencapaian
(reaching out)
Siswa mampu berpikir bahwa
tugas dan tantangan merupakan
sarana untuk mengembangkan diri
Saya senang saat ditunjuk menjadi
pemimpin upacara atau pengibar bendera
Keluar dari Zona Nyaman
Ceramah, tugas, diskusi
Sujawo.
2008.
Keterampilan
(Contoh
experiental
Resiliensi
(Modul
Pelatihan).
learning: kisah
orang
Yogyakarta: UNY
suskses
dan
latar
belakangnya)

62

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran. A.
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan hasil penelitian dan
saran-saran.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa resiliensi
siswa-siswa kelas XI SMA Negeri I Wuryantoro Tahun Ajaran 2015/2016
adalah baik. Hal ini terbukti dari hasil penelitian yang menunjukan bahwa
resiliensi pada siswa mendapat skor 64,6% tinggi.
Melalui analisis butir-butir item instrument terdapat 9 item yang
memiliki skor terendah. Berdasarkan item-item yang terindikasi rendah
tersebut, peneliti mengusulkan topik-topik bimbingan pribadi-sosial yang
implikatif untuk meningkatkan resiliensi pada siswa kelas XI SMA Negeri
I Wuryantoro Tahun Ajaran 2015/2016. Adapun topik-topik bimbingan
pribadi sosial tersebut adalah Fokus, Kematangan Emosi, Pengendalian
Diri,
Pemahaman
Diri,
Keterampilan
Mengidentifikasi
Masalah,
Pernyataan yang menguatkan diri Mengatasi Amarah, Empati, Percaya
Kemampuan Diri, dan Keluar dari Zona Nyaman.

64

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

B. Saran

65

Berikut ini dikemukakan saran yang sesuai dengan hasil penelitian untuk berbagai pihak. 1. Guru Pembimbing
Berikut ini dikemukakan saran yang sesuai dengan hasil penelitian
untuk berbagai pihak.
1. Guru Pembimbing
Guru
pembimbing
memiliki
peranan
penting
dalam
mengarahkan dan membimbing siswa supaya siswa dapat berinteraksi
dengan baik dengan lingkungan termasuk lingkungan keluarga. Hal-
hal yang dapat dilakukan oleh guru pembimbing diantaranya:
a. Guru pembimbing memiliki metode-metode yang aktual, kreatif
dan inovatif dalam melakukan layanan dan bimbingan. Layanan
bimbingan harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Metode
tersebut
hendaknya
merupakan
metode
yang
sesuai
dengan
perkembangan
siswa
dan
menarik
bagi
siswa
sehingga
dapat
diterima oleh siswa dan bermanfaat bagi siswa.
b. Guru pembimbing mampu bertindak sebagai pemberi informasi
antara siswa dengan orang tuanya.
c. Guru pembimbing mampu terbuka menerima setiap permasalahan
yang dialami siswa dengan orang tua.
d. Guru pembimbing dapat saling bertukar informasi dengan orang
tua mengenai siswa supaya guru memahami apa yang menjadi
permasalahan
siswa.
Selain
itu
guru
pembimbing
juga
dapat
mengumpulkan informasi mengenai siswa dari wali kelas atau guru

yang lain.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR PUSTAKA

65

Ari, Donal. Jacob, LC. Razavieh, A (terjemahan oleh Furchan). 2007. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta:
Ari, Donal. Jacob, LC. Razavieh, A (terjemahan oleh Furchan). 2007. Pengantar
Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Azwar, Saifudin. 2011. Reliabilitas dan Validitas Ed. 3. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Azwar, Saifuddin. 2012. Penyusunan Skala Psikologi: Edisi 2. Yogyakarta:
Pustaka
Bobey, Mary. (1999). Resilience : The ability to Bounce Back from Adversity.
American Academy of Pediatric. Available http://www.crha-
healt.ab.ca/clin/wowen102_MarApr.htm.
Davis, N.J. 1999. Resilience & School Violence Prevention: Research-based
program. National Mental Health Information Center.
Desmita. 2008. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Everall, Robin. (2006). Creating a Future: A Study of Resilience in Suicidal
Female Adolescent. 84. 461-470
Gunarsa & Gunarsa. 1995. Psikologi Praktis : anak remaja, dan keluarga. Jakarta:
Gunung Mulia.
Hutapea, E. A. 2006. Gambaran resiliensi pada mahasiswa pada mahasiswa
perantau tahun pertama pergurusn tinggi di asrama Universitas Indonesia
(Skripsi). Diambil dari. resipotory www.digilib.ui.ac.id
Hurlock,
Elizabeth
B.
(1990).
Psikologi
Perkembangan:
Suatu
Pendekatan
Sepanjang Rentan Kehidupan (Edisi Kelima). Jakarta: Penerbit Erlangga.
Gottman, J.,& DeClaire, J. (1997)
Kiat-kiat
Membesarkan Anak yang Memiliki
Kecerdasan Emosional. Alih Bahasa: T. Hermaya. Jakarta: PT.Gramedia
Pustaka Utama.
Grotberg, E. (1999). A Guide to Promoting Resilience in Children: Strengthening
The Human Spirit. Benard Van Leer Fondation.

Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana Media Grup.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

66

Klohnen, E.C. 1996. Conseptual Analysis and Measurement of The Construct of Ego Resilience. Journal of Personality and Social Psychology, Volume. 70 No 5

Liquanti, R. 1992. Using Community-wide Collaboration to Foster Resiliency in Kids: A Conceptual Framework Western
Liquanti, R. 1992. Using Community-wide Collaboration to Foster Resiliency in
Kids: A Conceptual Framework Western Regional Center For Drugs-Free
School and Communities, Far West Laboratory fo Educational Research
and Development. San Fransisco. Diambil
dari http://www.ncrel.org/sdrs/cityschool/citu11bhtm (24/10/15).
Masidjo.
1995.
Penelitian
Pencapaian
Hasil
Belajar
Siswa
di
Sekolah.
Yogyakarta: Kanisius
Nashori, Fuad. (2008). Psikologi Sosial Islami. Jakarta: PT Refika Aditama.
Nurihsan,
Juntika.
2006.
Bimbingan
dan
Konseling
dalam
Berbagai
Latar
Belakang Kehidupan. Bandung: PT Refika Aditama
Papalia, D. E., Old, S. W. dan Feldman, R. D. 2008. Human Development.
(Psikologi Perkembangan). Diterjemahkan oleh A.K. Anwar dari Buku
Asli Human Development. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup. Ed. 9
Reivich, K. & Shatte, 2002. The Resillience Factor: 7 essential skills for
overcoming life’s inevitable obstacles. New York: Broadway books.
Resiliency Center, “Resiliency in individuals, families & communities: Overall
concept”,
Sarafino, E. P. & Ewing M. 1994. The hassles assessment scale for student in
college: measuring the frequency and unpleasantness of and dwelling on
stressful events. Journal of American Collage Health, 48 (2), 75.
Scoltz.
2000.
Adversity
Quotient:
Mengubah
Hambatan
Menjadi
Peluang.
Jakarta: Grasindo
Setyowati, Ana; Hartati, sri dan sawitri, dian ratna. 2010. Hubungan antara
kecerdasan emosional dengan resiliensi pada siswa penghuni rumah
damai. Jurnal psikologi undip vol. 7, no. 1, april
Scoltz.
2000.
Adversity
Quotient:
Mengubah
Hambatan
Menjadi
Peluang.
Jakarta: Grasindo

Yuniar, i gusti ayu agung yesika; Nurtjahjanti, harlina; dan Rusmawati, diana. 2011. Hubungan antara kepuasan kerja dan resiliensi dengan organizational citizenship behavior (ocb) pada karyawan kantor pusat pt. Bpd bali. Jurnal psikologi undip vol. 9, no.1,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

67

Yusuf, Syamsu dan Nurihsan, A.J. 2010 Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wielia &
Yusuf, Syamsu dan Nurihsan, A.J. 2010 Landasan Bimbingan dan Konseling.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wielia & Wirawan, Henny E. (2005). Gambaran Resiliency pada Individu yang
Pernah Hidup di Jalanan. Jurnal Sosial & Humaniora Vol. 02, No. 01 hlm
69-97.
Winkel. W. S & M.M Sri Hastuti. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi
Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Media Abadi
Wolin & Wolin 1990. Project Resiliensi. Available.
http://www.projectresilience.com/resasbehavior.htm.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

LAMPIRAN
LAMPIRAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

68

INSTRUMEN PENELITIAN

RESILIENSI Disusun oleh: Alvionita Valentina Mega Rini Di bawah bimbingan: Ag. Krisna Indah Marhaeni, M.A
RESILIENSI
Disusun oleh:
Alvionita Valentina Mega Rini
Di bawah bimbingan:
Ag. Krisna Indah Marhaeni, M.A
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

2015

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

69

Nama

:

Kelas

KUESIONER RESILIENSI Petunjuk Pengisian setiap pernyataan dengan baik, berikut: STS : jika pilihan SANGAT TIDAK
KUESIONER RESILIENSI
Petunjuk Pengisian
setiap pernyataan dengan baik,
berikut:
STS
: jika pilihan SANGAT TIDAK SESUAI
TS
: jika pilihan TIDAK SESUAI
S
: jika pilihan SESUAI
SS
: jika pilihan SANGAT SESUAI
tersebut dengan jujur.
Contoh:
No
Pernyataan
STS
TS
S
SS
1.
Saya melakukan banyak usaha untuk
menyelesaikan tugas
2.
Saya mengerjakan tugas dengan seenaknya
sendiri

:

Pada lembar yang anda hadapi ini terdapat 68 pernyataan. Baca dan pahami

kemudian berilah tanda (√) pada kolom yang

telah tersedia. Pilihlah jawaban atas pernyataan-pernyataan tersebut sebagai

Pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan sikap dan pendapat anda.

Jawaban yang anda berikan tidak ada yang benar ataupun salah. Pilihan

jawaban pada pernyataan-pernyataan ini menuntut kesesuaian dengan sikap dan

pendapat yang paling mewakili keadaan anda. Jawablah pernyataan-pernyataan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

70

No. PERTANYAAN STS TS S SS 1. Saya bersikap tenang saat menghadapi konflik dengan teman
No.
PERTANYAAN
STS
TS
S
SS
1.
Saya bersikap tenang saat menghadapi konflik dengan
teman
2.
Saya merasa siap menghadapi segala masalah yang
muncul
3.
Saya gelisah pada saat menghadapi ulangan di sekolah
4.
Saya ragu dengan kemampuan saya untuk berhasil
menghadapi masalah
5.
Saya berusaha fokus pada segala masalah yang saya
hadapi
6.
Saya berusaha menyelesaikan permasalahan satu per
satu
7.
Saya mudah mengalihkan konsentrasi saya ke hal lain
pada saat menghadapi masalah
8.
Saya menghindar pada saat menemui sebuah masalah
9.
Saya mampu mengendalikan emosi saat marah/ kesal
10
Saya tetap bersabar ketika menghadapi sebuah
permasalahan
11
Saya cenderung lebih reaktif ketika menghadapi
masalah
12
Saya cenderung mudah marah kepada siapapun ketika
saya sedang merasa kesal.
13
Saya mampu mengungkapkan perasaan negatif
(marah) di saat yang tepat
14
Saya lebih memilih untuk melakukan hal positif
(berolahraga,bermain musik,membaca
buku,menggambar dll) ketika saya marah
15
Saya memendam perasaan negatif (marah)
16
Saya mudah bingung ketika memiliki sebuah masalah
17
Saya yakin mampu berhasil dalam memenuhi tuntutan
(peraturan, tugas, standar nilai) dari sekolah
18
Pada saat menghadapi masalah yang berat, saya
optimis mampu menyelesaikannya
19
Saya pesimis mampu memenuhi tuntutan (peraturan,
tugas, standar nilai) dari sekolah
20
Saya menyerah pada saat menghadapi masalah yang
berat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

71

21 Saya yakin bahwa masalah yang saya hadapi ada solusinya 22 Saya adalah seseorang yang
21
Saya yakin bahwa masalah yang saya hadapi ada
solusinya
22
Saya adalah seseorang yang optimis
23
Pikiran saya buntu apabila menghadapi sebuah
masalah
24
Saya masa bodoh dengan masalah yang sedang terjadi
25
Saya mampu mengenali akar masalah dari masalah
yang saya hadapi
26
Saya mampu mengintrospeksi diri pada saat
menghadapi masalah
27
Saya kesulitan mengenali masalah yang saya hadapi
28
Saya tidak peduli dengan masalah yang saya hadapi
29
Saya mampu membuat solusi atas masalah yang saya
hadapi
30
Saya memiliki ide-ide yang yang cemerlang
31
Saya kehilangan ide pada saat menghadapi masalah
32
Saya memilih bermain game, jalan-jalan ketika
memiliki masalah, daripada segera mencoba mencari
solusinya
33
Saya yakin pada saat mengalami kegagalan adalah
kurangnya usaha dari diri sendiri
34
Saya mampu berpikir positif ketika menghadapi
sebuah masalah
35
Oranglain bertanggung jawab atas kegagalan yang
saya hadapi
36
Saya pura-pura tidak tahu ketika terjadi masalah
agar terhindar dari masalah
37
Saya bekerja keras agar memperoleh prestasi di
sekolah
38
Meskipun gagal saya memiliki kemauan untuk terus
berusaha dan mencoba lagi
39
Saya melihat kegagalan adalah akhir dari segalanya
40
Saya putus asa saat mengalami kegagalan
41
Saya mampu memahami kondisi seseorang melalui
intonasi suara (keras/ lembut) pada saat dia
berbicara
42
Saya mudah terharu jika mendengar cerita oranglain
yang menyentuh hati

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

72

43 Saya mudah terbakar emosi ketika mendengar oranglain berbicara dengan keras 44 Saya kesal melihat
43
Saya mudah terbakar emosi ketika mendengar
oranglain berbicara dengan keras
44
Saya kesal melihat teman yang mudah mengeluh
45
Saya mampu memahami kondisi seseorang melalui
cara dia bersikap
46
Saya peka terhadap perubahan mimik wajah oranglain
47
Saya kesal ketika teman saya tiba-tiba mengabaikan
saya
48
Saya kesulitan memahami seseorang dari tingkah
lakunya
49
Saya mampu mencari jalan keluar atas permasalahan
saya
50
Saya tetap positif thinking ketika mendapat masalah
51
Saya ragu-ragu dalam menghadapi masalah yang
datang
52
Saya acuh ketika mendapat masalah
53
Saya yakin mampu meraih kesuksesan atas jerih
payah saya sendiri
54
Saya percaya kepada kemampuan yang saya miliki
55
Apapun yang saya lakukan akan bermuara pada
kegagalan
56
Saya merasa diri saya payah
57
Saya tetap optimis apabila mengalami kegagalan
58
Saya menganggap kegagalan adalah pengalaman yang
sangat berharga
59
Saya malu ketika mengalami kegagalan
60
Saya minder ketika gagal
61
Saya mudah bergaul dengan teman-teman saya
62
Saya senang saat ditunjuk menjadi pemimpin upacara
atau pengibar bendera
63
Saya menolak ketika menerima tugas yang baru
64
Saya menutup diri dari teman-teman di sekitar saya
65
Saya menyelesaikan tugas seoptimal kemampuan yang
saya miliki
66
Saya bersemangat saat ditunjuk untuk mengerjakan
di depan kelas
67
Saya malas untuk mencoba hal-hal yang baru
68
Saya malu saat ditunjuk maju kedepan kelas

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

76

HASIL KOMPUTASI UJI VALIDITAS ITEM-TOTAL INSTRUMEN PENELITIAN

Correlations Spearman’s rho No item Parameter uji Hasil Hitung Keputusan Correlation Coefficient .381 ** 1
Correlations
Spearman’s rho
No item
Parameter uji
Hasil Hitung
Keputusan
Correlation Coefficient
.381 **
1
Sig. (2-tailed)
.002
valid
N
65
Correlation Coefficient
.573 **
2
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.463 **
3
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.592 **
4
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.495 **
5
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.519 **
6
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.414 **
7
Sig. (2-tailed)
.001
valid
N
65
Correlation Coefficient
.472 **
8
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.669 **
9
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.479 **
10
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

77

Correlation Coefficient .157 11 Sig. (2-tailed) .212 tidak valid N 65 Correlation Coefficient .668 **
Correlation Coefficient
.157
11
Sig. (2-tailed)
.212
tidak valid
N
65
Correlation Coefficient
.668 **
12
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.194
13
Sig. (2-tailed)
.121
tidak valid
N
65
Correlation Coefficient
.588 **
14
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.456 **
15
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.394 **
16
Sig. (2-tailed)
.001
valid
N
65
Correlation Coefficient
.580 **
17
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.652 **
18
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.452 **
19
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.654 **
20
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.552 **
21
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.576 **
22
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

78

Correlation Coefficient .642 ** 23 Sig. (2-tailed) .000 valid N 65 Correlation Coefficient .425 **
Correlation Coefficient
.642 **
23
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.425 **
24
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.578 **
25
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.631 **
26
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.489 **
27
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.285 *
28
Sig. (2-tailed)
.022
tidak valid
N
65
Correlation Coefficient
.524 **
29
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.596 **
30
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.557 **
31
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.464 **
32
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.354 **
33
Sig. (2-tailed)
.004
valid
N
65
Correlation Coefficient
.612 **
34
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

79

Correlation Coefficient .353 ** 35 Sig. (2-tailed) .004 valid N 65 Correlation Coefficient .632 **
Correlation Coefficient
.353 **
35
Sig. (2-tailed)
.004
valid
N
65
Correlation Coefficient
.632 **
36
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.458 **
37
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.550 **
38
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.446 **
39
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.615 **
40
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.526 **
41
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.263 *
42
Sig. (2-tailed)
.034
tidak valid
N
65
Correlation Coefficient
.462 **
43
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.353 **
44
Sig. (2-tailed)
.004
valid
N
65
Correlation Coefficient
.560 **
45
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.459 **
46
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

80

Correlation Coefficient .270 * 47 Sig. (2-tailed) .029 tidak valid N 65 Correlation Coefficient .483
Correlation Coefficient
.270 *
47
Sig. (2-tailed)
.029
tidak valid
N
65
Correlation Coefficient
.483 **
48
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.500 **
49
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.620 **
50
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.724 **
51
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.490 **
52
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.728 **
53
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.625 **
54
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.592 **
55
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.696 **
56
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.606 **
57
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.333 **
58
Sig. (2-tailed)
.007
valid
N
65

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

81

Correlation Coefficient .623 ** 59 Sig. (2-tailed) .000 valid N 65 Correlation Coefficient .594 **
Correlation Coefficient
.623 **
59
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.594 **
60
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.306 *
61
Sig. (2-tailed)
.013
valid
N
65
Correlation Coefficient
.444 **
62
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.619 **
63
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.241
64
Sig. (2-tailed)
.053
tidak valid
N
65
Correlation Coefficient
.432 **
65
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.675 **
66
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.472 **
67
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65
Correlation Coefficient
.558 **
68
Sig. (2-tailed)
.000
valid
N
65

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI