Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang bersifat akut,


kronik difus, atau lokal dengan karakteristik anoreksia, rasa penuh, tidak enak
pada epigastrium, mual dan muntah 1.
Berdasarkan penelitian pada populasi umum didapatkan prevalensi
gastritis berkisar antara 12-45% dengan estimasi rerata adalah 25%.Insiden
gastritis pertahun diperkirakan antara 1-11,5% 3. Dari data pustaka Negara
Barat didapatkan angka prevalensi gastritis berkisar 7-41%,. Belum
didapatkan data epidemiologi di Indonesia. Prevalensi gastritis dipengaruhi
oleh beberapa faktor: jenis kelamin, umur, indeks massa tubuh, perokok,
konsumsi alkohol dan psikis. 2,3.
Keluhan gastritis biasanya hampir sama dengan keluhan dispepsia pada
umumnya seperti rasa nyeri ulu hati, rasa penuh di bagian ulu hati, mual,
muntah, dan tidak adanya nafsu makan dan hal ini merupakan keluhan umum
yang dialami oleh seseorang dalam waktu tertentu dan bersifat kronik yang
berdampak pada kualitas hidup penderita dan beban ekonomi secara langsung
maupun tidak langsung 3.
Pada wilayah kerja Puskesmas Tipo, gastritis menduduki tingkat tingkat
pertama dalam pendataan rekapitulasi penyakit tidak menular terbesar
berdasarkan kunjungan pasien yang ada di Puskesmas Tipo pada tahun 2016-
2017
Berikut ini akan dibahas kasus mengenai dyspepsia pada pasin yang
berkunjung di Puskesmas Tipo.

BAB II
LAPORAN KASUS

1
A.IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. N
Umur : 62 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku : Kaili
Pendidikan : SMA
Asuransi kesehatan : BPJS
Alamat : Watusampu
Tanggal Pemeriksaan : Selasa 6 Maret 2018

B.ANAMNESIS
Keluhan Utama : Nyeri ulu hati
Riwayat Penyakit Sekarang :

- Dialami sejak 3 hari yang lalu, tidak terus menerus, nyeri di rasakan
memberat jika terlambat makan, perut terasa kembung dan sering merasa
mual. Pasien sering makan tidak teratur.Demam (-),nyeri kepala (-), mual
(+), muntah (+) 2x tadi pagi, nyeri ulu hati (+),BAB kuning biasa, BAK
kuning lancar.

Riwayat Penyakit Dahulu :


 Riwayat penyakit jantung (-), hipertensi (-), asma (-), DM (-), riwayat
operasi (-), alergi (-), riwayat pernah dirawat 1 tahun lalu di Anutapura
dengan diagnosis gastritis memalui pemeriksaan endoskopi

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada yang mempunyai keluhan yang sama dengan keluarga.

2
Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan :
 Pasien makan 2 kali sehari dengan lauk seadanya, namun terkadang pasien
makan tidak teratur dan menjadi malas makan terutama saat sakit.
 Pasien tinggal bersama kedua anak dan suaminya di rumah yang berada di
dekat jalan trans palu-donggala. Rumah pasien berukuran luas ± 9x9 m2.
Rumah terdiri dari ruang tamu, 2 kamart idur, ruang tengah, dapur, ruang
makan, dan kamar mandi. Lantai rumah terbuat dari tehel dan semen, dinding
rumah dari dinding beton dan papan, dan atap rumah terbuat dari seng tanpa
plafon. Ruang tamu, kamar dan dapur memiliki jendela dan pencahayaan yang
sedikit kurang.
 Sumber air yang dipakai untuk sehari-hari adalah dari PDAM. Sedangkan
untuk minum, pasien menggunakan air galon.
 Sumber listrik dari PLN, sampah dibuang pada tempat sampah di halaman
belakang rumah.

Ruang keluarga

3
Kamar Tidur

Ruang makan

4
Dapur

Dokumentasi Anamnesis pasien

5
Anamnesis makanan:
Pasien makan 2 kali sehari. Terkadang juga makan buah-buahan. Porsi
sekali makan pasien, yaitu sepiring nasi berisi 1-2 sendok nasi, lauk yang
dikonsumsi berupa ikan, tahu atau tempe yang digoreng. Sayuran yang
biasanya dikonsumsi oleh pasien, yaitu kangkung atau daun singkong. Buah
yang biasanya dikonsumsi oleh pasien, yaitu pisang.

Pemeriksaan Fisis

a. Keadaan umum

 Kesan : Sakit sedang

 Kesadaran : Kompos Mentis

 Gizi : Cukup

 Tensi : 130/80 mmHg

 Nadi : 88 x/menit

 Suhu : 37,1oC

 Pernafasan : 20 x/menit

 Berat badan : 36 kg
 Panjang badan : 154 cm
 IMT : 17,14 kg/m2 (gizi kurang/kurus kekurangan berat
badan tingkat ringan)

b. Kepala

 Ekspresi : Biasa

 Simetris muka : Simetris kiri dan kanan

 Rambut : Hitam, sukar dicabut

6
c. Mata

 Eksoptalmus atau enoptalmus : (-)

 Tekanan bola mata : Tidakdilakukan

 Kelopak mata : Dalam batas normal

 Konjungtiva : Anemi (-)

 Kornea : Jernih

 Sklera : Ikterus (-)

 Pupil : Isokor 2,5 mm

d. Telinga

 Tophi : (-)

 Pendengaran : Dalam batas normal

 Nyeri tekan di prosesus mastoideus: (-)

e. Hidung

 Perdarahan : (-)

 Sekret : (-)

f. Mulut

 Bibir : Kering (-)

7
 Lidah : Kotor (-)

 Tonsil : Hiperemi

g. Leher

 Kelenjar getah bening : MT (-), NT (-)

 Kelenjar gondok : MT (-), NT (-)

 Kaku kuduk : (-)

 Tumor : (-)

h. Dada

 Inspeksi: Simetris kiri dan kanan

 Bentuk : Normochest

 Sela iga: Tidak ada pelebaran

i. Thorax
 Palpasi

o Fremitus raba : Kiri sama dengan kanan

o Nyeri tekan : (-)

 Perkusi

o Paru kiri : Sonor

8
o Paru kanan : Sonor

o Batas paru hepar : ICS VI Dextra Anterior

o Batas paru belakang kanan:ICS V Th IX Dextra Posterior

o Batas paru belakang kiri : ICS V Th X Sinistra Posterior

 Auskultasi

o Bunyi pernapasan : Vesikuler

o Bunyi tambahan : Rh -/- Wh -/-

j. Cor
 Inspeksi : Ictus kordis tidak tampak

 Palpasi : Ictus cordis tidak teraba

 Perkusi : Pekak, batas jantung kesan normal

 Auskultasi : BJ I/II murni regular

 Bunyi tambahan : Bising (-)

k. Abdomen
 Inspeksi : Datar, ikut gerak napas

 Palpasi : MT (-), NT (+) region epigastrium

 Perkusi : Timpani

 Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal

l. Alat Kelamin : Tidak dilakukan pemeriksaan

m. Anus dan rectum : Tidak dilakukan pemeriksaan

n. Ekstremitas : Dalam Batas Normal

9
Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang
Diagnosis Kerja
Gastritis
Penatalaksanaan

a. Non medikamentosa

1. Tidak menunda makan, mengatur pola makan dengan makan secara


teratur dan sebaiknya mengkonsumsi makanan berserat tinggi, bergizi,
serta perbanyak minum air putih.
2. Kurangi mengkonsumsi makanan pedas, kecut, banyak mengandung
gas yang dapat menimbulkan gas di lambung (kubis, kol, kentang,
semangka, melon) dan berlemak tinggi yang menghambat
pengosongan isi lambung.
3. Menghindari konsumsi obat –obat yang dapat mengiritasi lambung
seperti obat anti inflamasi, misalnya yang mengandung ibuprofen,
aspirin dan ketoprofen. Sebaiknya di ganti dengan Acetaminophen
karena tidak mengakibatkan iritasi pada lambung.
4. Menghindari stress.

b. Medikamentosa

1. Omeprazole 1-0-0

2. Ranitidin 0-1-1

10
BAB III
PEMBAHASAN

Aspek Klinis

Pada kasus ini, pasien perempuan berumur 60 tahun memiliki keluhan


utama berupa nyeri ulu hati Dialami sejak 3 hari yang lalu, tidak terus menerus,
nyeri di rasakan memberat jika terlambat makan, perut terasa kembung dan sering
merasa mual. Pasien sering makan tidak teratur. Demam (-),nyeri kepala (-), mual
(+), muntah (+) 2x tadi pagi, nyeri ulu hati (+), BAB kuning biasa, BAK kuning
lancar.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan status gizi pasien tergolong berat badan
kurang yang diperoleh dari pemeriksaan antropometri yaitu indeks masa tubuh
17,11 kg/m2 yang berarti pasien tergolong berat badan kurang., Pada pemeriksaan
fisik khususnya pada abdomen didapatkan nyeri tekan yaitu daerah epigastrium.
Pada pemeriksaan fisik lain didapatkan semuanya dalam batas normal.
Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang bersifat akut,
kronik difus, atau lokal dengan karakteristik anoreksia, rasa penuh, tidak enak
pada epigastrium, mual dan muntah. Gastritis didefinisikan juga sebagai suatu
keadaan peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut,
kronis, difus, atau lokal yang disebabkan oleh infeksi Helicobacter Pylori
Gastritis pada dasarnya dapat disebabkan karena:
- Pola makan yang salah, misalnya: makan terlalu banyak, terlalu cepat,
makan makanan yang terlalu banyak bumbu, atau makanan yang terinfeksi
- Alkohol
- Aspirin
- Refluks empedu
- Terapi radiasi
- Gastritis akut yang lebih parah disebabkan oleh asam kuat atau alkali,
yang dapat menyebabkan mukosa menjadi ganggren atau perforasi
Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif. Organisme ini
menyerang sel permukaan gaster, memperberat timbulnya desquamasi sel dan

11
muncullah respon radang kronis pada gaster yaitu : destruksi kelenjar dan
metaplasia. Metaplasia adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap
iritasi, yaitu dengan mengganti sel mukosa gaster, misalnya dengan sel
desquamosa yang lebih kuat

Aspek Ilmu Kesehatan Masyarakat


ASPEK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
Menurut H.L Bloom, ada 4 faktor yang bersama-sama mempengaruhi
tingkat kesehatan masyarakat, yaitu kesehatan lingkungan, perilaku, pelayanan
kesehatan, dan genetik/keturunan. Keempat faktor tersebut disamping
berpengaruh langsung kepada kesehatan, juga saling berpengaruh satu sama
lainnya. Dyspepsia menjadi masalah di masyarakat disebabkan oleh karena faktor-
faktor berikut:
1. Kesehatan Lingkungan
Faktor lingkungan yang mempengaruhi pasien terkena penyakit gastritis
adalah faktor stress psikososial, Khususnya terkait dengan gangguan cemas
dan depresi. Emosional yang labil memberikan kontribusi terhadap perubahan
fungsi gastrointestinal. Stress adalah faktor yang di duga dapat mengubah
gerakan dan aktivitas sekresi traktus gastrointestinal melalui mekanisme –
neuroendrokrin. Salah satu studi menyatakan bahwa pada stress atau
kecemasan dapat mengaktifkan reaksi disfungsi otonomik traktus
gastrointestinal sehingga dapat menyebabkan gejala nyeri perut berulang. Pada
kasus ini faktor kesehatan lingkungan yang paling berperan penting adalah
faktor stress, yaitu pasien sering memikirkan anaknya yang sering pulang larut
malam. Hal ini membuat pasien cemas dan tidak ada nafsu makan.

2. Perilaku
Perilaku dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan.
Pengetahuan penderita tentang penyakit dyspepsia yang kurang tentang

12
pengertian, faktor resiko dan bahaya dyspepsia akan berpengaruh terhadap
sikap dan perilaku sebagai orang sakit Adanya kebiasaan pola makan yang
tidak teratur dapat memperburuk terjadinya penyakit ini. Pada kasus ini faktor
perilaku yang berperan penting adalah kebiasaan pola makan yang tidak
teratur dimana pasien sering terlambat makan, dan sering mengonsumsi kopi
dan makanan pedas yang dapat memperburuk keadaan pasien.
3. Pelayanan Kesehatan
Dari segi pelayanan kesehatan terkait kinerja puskesmas untuk
menanggulangi penyakit gastritis mulai dari pelayanan UKP berbasis
pelayanan poli umum melakukan pengukuran TB, BB, polik umum juga
melakukan anamnesis, pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik dan
diagnosa, selanjutnya dokter pemeriksa memberikan terapi sesuai dengan
diagnosa dan penanganan yang benar, apotek sebagai penyedia obat yang
sesuai dengan resep dokter. Dari pelayanan UKM yang dilakukan puskesmas
untuk menanggulangi gastritis dengan program PTM, alur pelaksanaanya
sesuai jadwal posbindu, dimana kita memberitahu kepada kader di setiap desa
yang akan kita lakukan kegiatan, nantinya kader atau bidan desa akan
memberitahukan kepada warga bahwa akan ada kegiatan P2 PTM, biasanya
akan dikabarkan melalui masjid atau secara langsung ke rumah kepala desa
atau kerumah-rumah warga, melakukan pendaftaran di meja pertama,
melakukan pengukuran TB dan BB, melakukan pengukuran tekanan darah,
dan dilakukan anamnesis kepada pasien, memberikan edukasi sesuai dengan
keluhan dan penyakit,.

Faktor pelayanan kesehatan yang dapat diambil dari kasus ini adalah
masih kurangnya promosi kesehatan terkait gastritis pada masyarakat
khususnya pada lansia.

4. Keturunan/Genetik

Potensi konstribusi faktor genetik juga mulai dipertimbangkan,


seiring dengan terdapatnya bukti-bukti penelitian yang menemukan adanya
interaksi antara polimorfisme gen-gen terkait respon imun dengan interaksi
infeksi Helicobacter Pylori pada pasien gastritis

13
BAB IV
PENUTUP
A.Kesimpulan
1. Telah ditegakkan diagnosis gastritis pada Ny. N 62 tahun atas dasar
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang serta telah
ditatalaksana dengan pemberian terapi medikamentosa, edukasi, dan
motivasi untuk melakukuan terapi non farmakologis.
2. Pasiaen dan keluarganya telah mengetahui penyakit yang dialami oleh
pasien serta mengetahui bahwa resiko komplikasi dan kematian akibat

14
penyakit gastritis dapat diturunkan dengan melakukan pengelolaan yang
baik terhadap penyakit gastritis itu sendiri.
3. Pasien telah mencoba menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan
sehari-hari seperti makan tepat waktu, dan menghindari makanan yang
dapat mengiritasi lambung
4. Keluarga pasien telah ikut berpartisipasi aktif dan mendukung pasien
dalam upaya pengelolaan penyakit gastritis

B.Saran

1. Perlu disusun suatu program yang efektif utamanya promosi kesehatan


dan penyuluhan dalam mengelola penyakit gastritis.

2. Melakukan kerjasama lintas sector dengan bagian gizi maupun promkes


dalam mengelola penyakit gastritis.

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009, Buku Kesehatan Ibu
dan Anak, Depkes RI, Jakarta.
2. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, 2016, Modul Tatalaksana
Standar Pneumonia,
3. UPTD Puskesmas Wani, 2016. Profil Kesehatan Puskesmas Wani.
4. Erlien, 2008, Penyakit Saluran Pernapasan, Sunda Kelapa Pustaka,
Jakarta.Depkes RI, Palu.
5. Behrman ER,dkk, 2000, Ilmu kesehatan anak vol.2, 15th edn, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

15
6. Bennett, N, J, et al, 2016, Pediatric Pneumonia, dalam Medscape, diakses
26 desember 2017, dari http://emedicine.medscape.com/article/967822-
overview#a3
7. Rahajoe, NN, Supriyatoni B, Setyanto DB, 2008, Buku Ajar Respirologi,
Badan Penerbit IDAI, Jakarta
8. Alsagaff, Hood, dkk. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Bagian
Penyakit Paru dan Saluran Nafas FK UNAIR. Surabaya
9. Shah, S, S, 2009, Pediatric Practice: Infectious Disease, McGraw Hill,
Philadelphia.
10. Bradley, J, S, et al, 2011, The Management of Community-Acquired
Pneumonia in Infants and Children Older Than 3 Months of Age: Clinical
Practice Guidelines by the Pediatric Infectious Diseases Society and the
Infectious Diseases Society of America, dalam Oxford Journals: Clinical
Infectious Diseases, diakses 26 desember 2017, dari
<cid.oxforjournals.org/content/early/2011/08/30/cid.cir531.full>

16
17
18