Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Salah satu fungsi manajemen adalah fungsi perencanaan. Bagi manajer keuangan fungsi
perencanaan ini berarti bahwa ia harus melakukan perencanaan keuangan. Dalam
kegiatan perencanaan harus didahului dengan kegiatan melakukan perkiraan tentang apa
yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang. Perencanaan keuangan
dimaksudkan untuk memperkirakan bagaimana posisi perusahan dimasa yang akan
datang, termasuk di dalamnya perkiraan tentang berapa banyak pendanaan yang harus
dicari. Analisis terhadap apa yang telah terjadi memang penting, tetapi perencanaan untuk
masa yang akan datang lebih penting lagi. Perencanaan mungkin dilakukan untuk jangka
pendek, mungkin pula untuk jangka panjang untuk pengambilan keputusan.

Keputusan pendanaan suatu perusahaan merupakan keputusan yang dilakukan oleh


manajer keuangan yang berkaitan dengan bagaimana membiayai keputusan investasi
yang akan dilakukan perusahaan.keputusan pendanaan itu sendiri meliputi : pertama,
berkaitan dengan dari mana dana perusahaan dipenuhi dan kedua, berkaitan dengan
analisis biaya dana/modal yang dipergunakan perusahaan.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa yang dimaksud dengan sumber dana menurut asalnya?

1.2.2 Apa Yang dimaksud dengan sumber dana menurut jangka waktunya?

1.2.3 Apa yang dimaksud dengan pendekatan praktis dalam pemilihan sumber dana
perusahaan?

1.2.4 Bagaimanakah contoh kasus analisis rentabilitas ekonomi dan rentabilitas


modal sendiri?

1.2.5 Bagaimanakah contoh kasus analisis dari sisi likuiditas?

1
1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Untuk Mengetahui apa yang dimaksud dengan sumber dana menurut asalnya?

1.3.2 Untuk mengetahui apa itu yang dimaksud dengan sumber dana menurut jangka
waktunya?

1.3.3 Untuk mengetahui apa itu yang dimaksud dengan pendekatan praktis dalam
pemilihan sumber dana perusahaan?

1.3.4 Untuk mengetahui bagaimana contoh perhitungan dari kasus analisis rentabilitas
ekonomi dan rentabiitas modal sendiri?

1.3.5 Untuk mengetahi bagaimana contoh perhitungan dari kasus anlisis dari sisi
likuiditas?

2
BAB II

ISI

2.1 Sumber Dana Menurut Asalnya

2.1.1 Sumber Intern

Riyanto (2001) mengungkapkan sumber dana ditinjau dari asalnya pada dasarnya
dibedakan menjadi sumber intern (internal sources) dan sumber ekstern (external sources).
Dana yang berasal dari sumber intern adalah dana atau modal yang dibentuk atau dihasilkan
sendiri di dalam perusahaan seperti laba ditahan (retained earning) dan penyusutan
(depreciation). Ditinjau dari penggunaan atau bekerjanya kedua dana tersebut di dalam
perusahaan tidak ada bedanya.

Besarnya laba ditahan/cadangan dipengaruhi oleh besarnya laba yang diperoleh selama
periode tertentu, dividend policy dan plowing back policy yang dijalankan oleh perusahaan.
Meskipun jumlah laba yang diperoleh selama periode tertentu besar, tetapi oleh karena
perusahaan mengambil kebijakan bahwa sebagian besar dari laba tersebut dibagikan sebagai
deviden, maka bagian laba yang ditahan akan kecil jumlahnya, dan sebaliknya laba ditahan
akan cenderung besar kalau perusahaan mengambil kebijakan penanaman kembali dalam
perusahaan yang besar.

Sumber intern selain berasal dari laba ditahan/cadangan juga berasal dari depresiasi.
Besarnya depresiasi yang digunakan oleh perusahaan yang bersangkutan. Sementara sebelum
depresiasi tersebut digunakan untuk menganti aktiva tetap yang akan diganti, dapat
digunakan untuk membelanjai perusahaan meskipun waktunya terbatas sampai saat
penggantian tersebut. Selama waktu itu depresiasi merupakan sumber dana atau modal di
dalam perusahaan sendiri.

2.1.2 Sumber Ekstern

Sumber ekstern (external sources) adalah sumber yang berasal dari luar perusahaan.
Dana yang berasal dari sumber ekstern adalah dana yang berasal dari para kreditur dan
pemilik, peserta atau pengambil bagian di dalam perusahaan. Dana atau modal yang berasal
dari para kreditur adalah merupakan hutang bagi perusahaan yang bersangkutan dan modal
yang bersala dari kreditur tersebut ialah apa yang disebut modal asing. Metode pembelanjaan

3
dengan menggunakan modal asing disebut pembelanjaan asing atau pembelanjaan dengan
hutang (debt financing).

Dana atau modal yang berasal dari pemilik, peserta atau pengambil bagian di dalam
perusahaan adalah merupakan dana yang akan tetap ditanamkan dalam perusahaan yang
bersangkutan, dan dana ini dalam perusahaan tersebut akan menjadi modal sendiri. Metode
pembelanjaan dengan menggunakan dana yang berasal dari pemilik atau calon pemilik
tersebut disebut pembelanjaan sendiri (equity financing). Dengan demikian maka dana yang
berasal dari sumber ekstern adalah terdiri dari modal asing dan modal sendiri.

Pada dasarnya pihak-pihak pemberi dana atau modal ekstern yang utama dapat terdiri
dari: 1) supplier, 2) Bank, dan 3) pasar modal.

Supplier memberikan dana kepada suatu perusahaan di dalam bentuk penjualan barang
secara kredit, baik untuk jangka waktu pendek (kurang dari 1 tahun), maupun untuk jangka
menengah (lebih dari 1 tahun dan kurang dari 10 tahun).

Bank adalah lembaga kredit yang mempunyai tugas utama memberikan kredit di
samping pemberian jasa-jasa lain di bidang keuangan. Pemberian kredit oleh bank bisa
jangka pendek (kurang dari satu tahun), jangka panjang (lebih dari 1 tahun dan kurang dari 10
tahun), dan jangka panjang (lebih dari 10 tahun).

Pasar Modal (capital market) adalah suatu sistem keuangan yang terorganisasi,
termasuk didalamnya adalah bank-bank komersial dan semua lembaga perantara dibidang
keuangan serta keseluruhan surat-surat berharga yang beredar. Dalam anti sempit, pasar
modal adalah suatu pasar (tempat, berupa gedung) yang disiapkan guna memperdagangkan
saham-saham, obligasi-obligasi, dan jenis surat berharga lainnya dengan memakai jasa para
perantara pedagang efek.

Pasar Modal, adalah merupakan sumber dana ekstern bagi suatu perusahaan, dimana
secara abstrak yang mempertemukan dua kelompok yang saling berhadapan tetapi yang
kepentingannya saling mengisi, yaitu calon pemodal (investor) disatu pihak dan emiten yang
membutuhkan dana jangka menengah atau jangka panjang dilain pihak, atau dengan kata lain
adalah tempat (dalam artian abstrak) bertemunya penawaran dan permintaan dana jangka
menengah atau jangka panjang. Dimaksudkan dengan pemodal adalah perorangan atau
lembaga yang menanamkan dananya dalam efek, sedangkan emiten adalah perusahaan yang
menerbitkan efek untuk ditawarkan kepada masyarakat.
4
Fungsi dari pasar modal adalah mengalokasikan secara efisien arus dana dari unit
ekonomi yang mempunyai suplus tabungan (saving surplus unit) kepada unit ekonomi yang
mempunyai defisit tabungan (saving deficit unit). Dalam pasar modal dibedakan antara pasar
perdana dan pasar sekunder. Dimaksudkan dengan pasar perdana adalah pasar bagi efek yang
pertama kali diterbitkan dan ditawarkan dalam pasar modal, sedangkan pasar sekunder adalah
pasar bagi efek yang sudah ada dan sudah diperdagangkan dalam bursa efek. Definisi resmi
menurut Keputusan Menteri Keuangan RI tentang Emisi Efek melalui bursa menyatakan
bahwa Pasar Perdana adalah penawaran efek emiten kepada pemodal selama masa tertentu
sebelum efek tersebut dicatatkan di bursa, sedangkan pasar sekunder adalah perdagangan
saham setelah melewati masa penawaran pada Pasar Perdana. Dengan demikian maka pasar
modal dalam bentuk kongkritnya ialah bursa efek.

Dalam bursa efek, pemodal besar dan kecil, baik perorangan maupun lembaga-lembaga
seperti dana pensiun, perusahaan asuransi ataupun perusahaan-perusahaan lainnya dapat
membeli dan menjual saham atau efek-efek lainnya. Harga dari saham dan efek-efek lain
berubah-ubah sesuai dengan perubahan keseimbangan antara penawaran dan permintaan
terhadap efek yang bersangkutan. Harga dari efek-efek sebenarnya juga merupakan
barometer dari pandangan mereka mengenai masa depan industri dan ekonomi pada umunya.
Pasar modal merupakan sumber utama bagi perusahaan-perusahaan yang membutuhkan dana
dalam jumlah yang besar dan akan terikat untuk jangka waktu yang panjang.

Secara umum instrumen yang diperdagangkan di Pasar Modal, yang sering disebut efek
meliputi: saham dan obligasi. Masing-masing dijelaskan sebagai berikut:

1) Saham

Saham adalah tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu
perusahaan. Ada dua bentuk saham yaitu saham biasa dan saham preferen. Adapun perbedaan
dari kedua bentuk saham tersebut dijelaskan dibawah ini:

(1) Saham Preferen


Hak-hak yang melekat pada saham preferen:
a. Hak mendahului pembagian deviden dibanding saham biasa (besarnya
dividen biasanya tetap)
b. Hak mendahului dalam hal pembagian kekayaan perusahaan bila terjadi
likuidasi dibanding saham biasa
c. Secara teori tidak mempunyai hak suara

5
Macam-macam saham preferen:

a. Participating preferred, saham preferen dimana pemiliknya memiliki


partisipasi terhadap sisa laba setelah dibagi, baik kepada pemegang saham
preferen maupun saham biasa.
b. Non participating preferred, saham preferen dimana pemiliknya memiliki
partispasi terhadap sisa laba setelah dibagi, baik kepada pemegang saham
preferen maupun saham biasan.
c. Commulative preferred, saham preferen dimana pemiliknya mendapatkan
pembagian dividen yang dijumlahkan pada tahun berikutnya bila dalam
tahun yang bersangkutan belum dibayar.
d. Non Commulative preferred, saham preferen dimana pemiliknya tidak
mendapatkan pembagian dividen bila dalam tahun yang bersangkutan
dividennya tidak bisa dibayar.
e. Convertible preferred, saham preferen yang bisa ditukar dengan saham
biasa

Menurut James C. Van Horne dan John M. Wachhowicz. Jr (dalam Prinsip-


prinsip Manajemen Keuangan, edisi 13, 2012;87). Saham preferen adalah jenis saham
yang biasanya menjanjikan dividen tetap tetapi melalui perimbangan dewan direksi.
Saham ini memiliki kelebihan dari saham biasa dalam hal pembayaran dividen dan
klaim atas aaset. Kebanyakan saham preferen membayarkan dividen tetap dengan
interval tertentu. Saham preferen tidak memiliki tanggal jatuh tempo yang tertentu
yang tertulis dan hampir sama dengan obligasi perpetual, berdasarkan pembayarannya
yang bersifat tetap. Jadi tidaklah menunjukkan kedalam menilai saham preferen serta
menggunakan pendekatan umum yang sama dengan yang di aplikasikan untuk menilai
obligasi perpetual. Jadi nilai kini dari saham preferen adalah “V=Dp /Kp.”. Dp
deviden tahunan perlembar saham preferen dan Kp adalah tingkat diskonto yang tepat.

(2) Saham Biasa

Hak-hak yang melekat pada saham biasa:

a. Hak untuk memilih pengurus/pengawas (direksi dan komisaris) melalui


RUPS.
b. Hak memperoleh dividen melalui RUPS
c. Hak untuk mengalihkan kepemilikan
d. Hak untuk mengeluarkan pendapat

6
e. Hak untuk memperoleh sisa pembagian kekayaan perusahaan bila
dilakukan likuidasi.

Klasifikasi Saham:

a. Blue Chips, saham yang terkenal secara nasional dan memiliki catatan
usaha yang panjang tentang pertumbuhan laba, pembayaran dividen,
reputasi manajemen produk dan jasa serta bermutu serta memiliki
kapitalisasi relatif besar dan likuid.
b. Growth Stock, saham yang menunjukkan perolehan penghasilan yang
lebih cepat dari rata-rata selama beberapa tahun terakhir dan diharapkan
akan menunjukkan tingkat pertumbuhan laba yang lebih tinggi dalam
jangka panjang.
c. Income Stock, saham yang mempunyai pendapatan minimum relatif
terjamin dari kinerja perusahaannya.
d. Cyclical Stock, saham yang cenderung naik cepat bila keadaan ekonomi
membaik dan jatuh cepat saat ekonomi meburuk.
e. Speculative Stock, saham yang pergerakan harganya cenderung progresif
umumnya berkapitalisasi kecil
f. Defensive Stock, saham yang lebih stabil dari rata-rata dan memberikan
pendapatan yang aman.

Harga saham di bursa merefleksikan informasi yang bersifat historis,


kejadian yang telah diumumkan tetapi belum dilaksanakan, dan prediksi atau
informasi masa yang akan dating. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham
adalah:

a. Persepsi pasar/calon investor terhadap keadaan fundamental perusahaan.


b. Prospek lingkungan bisnis dan ekonomi global.
c. Keadaan fundamental perusahaan.
d. Alternatif lain yang menarik.
e. Non ekonomi
Keuntungan memiliki saham adalah kita akan mendapatkan capital gain,
dividen, anggunan tambahan dan hak suara dalam RUPS sedangkan risikonya
adalah adalah: capital loss dan risiko likuidasi.
Menurut James C. Van Horne dan John M. Wachhowicz. Jr (dalam
Prinsip-prinsip Manajemen Keuangan, edisi 13, 2012;87). Saham biasa adalah
sekuritas yang mewakili posisi kepemilikan (resiko) atas suatu perusahaan. Teori yang
berkaitan dengan saham biasa telah melalui banyak perubahan selama beberapa

7
decade belakangan ini. Saham biasa telah menjadi subjek dari banyak kontroversi, dan
tidak ada satu metode penilaian pun yang diterima secara umum. Akan tetapi dalam
tahun-tahun belakangan ini makin banyak penerimaan atas ide bahwa saham biasa
harus dianalisis sebagai bagian dari protofolio total saham biasa yang dapat dibeli oleh
investor. Konsep ini memiliki implikasi penting dalam menetapkan tingkat imbal hasil
yang diminta atas sekuritas.

2) Obligasi

Obligasi merupakan surat hutang jangka panjang (min 3 tahun) yang diterbitkan oleh
perusahaan, lembaga, pemerintah dengan kewajiban membayar bunga tertentu secara
periodik serta pelunasan pokok pinjaman pada saat jatuh tempo.

Macam-macam obligasi yang ada adalah:

(1) Straight bond, obligasi dengan jumlah bunga tetap.


(2) Serial bond, obligasi yang pelunasannya dilakukan bertahap dan dikaitkan
dengan nomor seri
(3) Sinking fund bond, obligasi yang diterbitkan emiten dimana emiten wajib
menyisihkan sebagian keuntungannya untuk pelunasan obligasi tersebut.
(4) Secure Bond, obligasi yang dijamin oleh sebagian kekayaan emiten. Yang
terdiri dari:
a. Mortgage bond, jaminan berupa tanah, real estate dan bangunan
b. Collateral trust bond, jaminan berupa surat-surat berharga
c. Equipment trust bond, jaminan berupa peralatan
(5) Unsecure bond: obligasi tanpa jaminan
(6) Convertible Bond: obligasi yang dapat ditukar atau dikonversi dengan
saham biasa
(7) Callable bond: obligasi yang dapat dilunasi sebelum jatuh tempo

(1) Berdasarkan pembayaran bunga obligasi dapat dibagi menjadi:


a. Coupon bond: obligasi yang bunganya dibayar secara periodik
b. Zero coupon bond: obligasi yang tidak mempunyai kupon sehingga
investor tidak menerima bunga secara periodik namun langsung
dibayar saat pembelian
(2) Berdasarkan tingkat bunga obligasi dibedakan menjadi:
a. Obligasi dengan bunga tetap (fixed rate bond)
b. Obligasi dengan bunga mengambang (floating rate bond)
c. Obligasi dengan bunga campuran (mixed rate bond)
(3) Berdasarkan tempat penerbitan Obligasi terdiri dari:

8
a. Obligasi domistik, obligasi yang diterbitkan perusahaan/lembaga
dalam negeri dan dijual di dalam negeri
b. Obligasi asing, obligasi yang diterbitkan perusahaan/lembaga asing
pada suatu negara tertentu dimana obligasi tersebut dipasarkan.
c. Global Bond, obligasi yang diterbitkan untuk dapat diperdagangkan
dimanapun tanpa ada keterbatasan tempat penerbitan dan tempat
perdagangan.

Menurut James C. Van Horne dan John M. Wachhowicz. Jr (dalam Prinsip-prinsip


Manajemen Keuangan, edisi 13, 2012;87). Obligasi (bond) adalah sekuritas yang
mebayarkan sejumlah bunga pada investor, setiap periode hingga akhirnya ditarik oleh
perusahaan. Obligasi memiliki nilai nominal (face value) nilai ini biasanya sebesar $1000 per
obligasi di Amerika Serikat. Obligasi tersebut juga selalu memiliki waktu jatuh tempo atau
(maturity) yang merupakan waktu perusahaan wajib membayar pemegang obligasi nilai
nominal dari instumen tersebut. Terakhir tingkat bunga kupon atau coupon rate atau tingkat
bunga tahun nominal, dicantumkan pada permukaan obligasi, jika contohnya tingkat bunga
kupon sebesar 12% untuk obligasi per nilai nominal $1000, perusahaan akan membayar
pemegang obligasi $120 per tahun hingga waktu jatuh tempo obligasi

Menurut Dr. Suad Husnan, M.B.A (dalam Manajemen Keuangan Teori dan
Penerapan Keputusan Jangka Panjang, 2014;282). Obligasi merupakan surat tanda hutang,
dan umumnya tidak dijamin dengan aktiva tertentu. Karena itu kalau perusahaan bangkrut,
pemegang obligasi akan diperlakukan sebagai kreditor umum.

2.2 Sumber Dana Menurut Jangka Waktunya

2.2.1 Sumber Dana Jangka Pendek

Sumber dana pendek merupakan sumber dana yang tertanam di dalam perusahaan
maksimum satu tahun. Ada beberapa jenis sumber dana jangka pendek yang sering
dipergunakan oleh perusahaan seperti: accrual account, hutang dagang, hutang bank,
commercial paper, factoring, dan lain-lainnya (Sartono;2001).

1) Accrual Account, adalah merupakan jenis hutang bebas bunga, seperti misalnya
kebiasaan perusahaan membayar gaji karyawannya mingguan, atau bulanan.

9
Dengan demikian dalam neracanya akan tampak rekening upah sebagai hutang
gaji yang belum dibayarkan. Rekening ini akan meningkat secara otomatis jika
kegiatan perusahaan meningkat. Sebelum waktu pembayar gaji tersebut,
perusahaan dapat menggunakan dana tersebut tanpa biaya bunga, dalam arti
bahwa perusahaan tidak perlu membayar bunga atas hutang gaji.
2) Hutang dagang, adalah sumber pembiayaan jangka pendek yang paling besar
bagi perusahaan. Misalnya perusahaan seringkali dapat membeli persediaan yang
diperlukan secara kredit dari perusahaan lain, sebagai contoh misalnya perusahaan
melakukan pembelian setiap hari Rp 2.000.000,00 dengan syarat pembayaran net
30. Ini berarti bahwa perusahaan dapat membayar pada setiap akhir bulan. Dengan
demikian secara keseluruhan perusahaan akan memiliki hutang dagang sebesar
tiga puluh kali pembelian harian atau sebesar Rp 60.000.000,00
3) Hutang Bank, adalah sumber dana jangka pendek yang biasanya dikeluarkan
oleh bank-bank komersial. Biaya hutang jangka pendek ini sangat bervariasi untuk
berbagai peminjam pada suatu waktu tertentu. Secara teoritis tingkat bunga akan
cenderung tinggi bagi peminjam yang berisiko tinggi dan sebaliknya relatif rendah
untuk peminjam yang bonafide. Begitu juga tingkat bunga pinjaman untuk jumlah
yang kecil relatif lebih besar dibanding dengan tingkat bunga pinjaman dengan
jumlah yang besar karena biaya tetap berkaitan dengan pemerosesan pinjaman ini
adalah sama.
4) Commercial Paper, satu bentuk promissory note tanpa jaminan yang dikeluarkan
oleh perusahaan besar, profitable dan dijual kepada perusahaan lain seperti
asuransi, pensiun funds, money market mutual funds dan kepada bank.
Commercial paper ini biasanya dikeluarkan dalam satuan yang relatif besar
dengan bunga yang relatif rendah dari pada prime rate. Commercial paper ini
biasanya jatuh tempo dalam waktu satu hingga sembilan bulan. Di beberapa
negara maju commercial paper mendapat penilaian atau ranking dari rating
agencies. Setiap lembaga penilai mendasarkan pada standar penilaian yang
berbeda, namun karena pada umumnya perusahaan yang menjual commercial
paper adalah perusahaan yang solid, maka penilaian biasanya dititikberatkan pada
aspek likuiditas.
5) Factoring yang sering diterjemahkan dengan anjak piutang. Berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Keuangan No. 1251/KMK.013/1988 tanggal 20 Desember
1988,yang dimaksud dengan perusahaan anjak piutang adalah badan usaha yang
melakukan usaha pembiayaan dalam bentuk pembelian dan atau pengalihan serta
10
pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi
perdagangan dalam atau luar negeri, disamping penatausahaan penjualan kredit
serta penagihan piutang perusahaan nasabah. Kegiatan factoring bisa dilakukan
oleh perusahaan anjak piutang dan bank. Perusahaan anjak piutang harus
mendapat persetujuan Menteri Keuangan dan berbentuk perseroan atau koperasi.
Sedangkan bank jika akan melakukan pembelian anjak piutang harus melaporkan
aktivitasnya kepada Menteri Keuangan.

2.2.2 Sumber Dana Jangka Menengah

Sumber dana jangka menengah adalah merupakan sumber dana yang tertanam di dalam
perusahaan lebih dari 1 tahun dan kurang dari 10 tahun. Adapun jenis sumber dana jangka
menengah terdiri dari term loan, equipment loan, leasing, modal ventura, dan lain-lain.

1) Term loan
Term loan adalah merupakan salah satu jenis pembiayaan jangka menengah. Term
loan ini biasanya disediakan oleh bank komersial, perusahaan asuransi, dana pensiun,
lembaga pembiayaan pemerintah dan supplier perlengkapan. Dipandang dari biaya
modalnya, term loan ini memiliki biaya yang lebih rendah dari pada modal saham
ataupun obligasi. Hal ini disebabkan karena jika perusahaan harus mengeluarkan saham
atau obligasi, maka harus membayar biaya emisi, pendaftaran dan biaya lain yang
berkaitan pengeluaran saham atau obligasi. Selain itu tidak semua perusahaan
memenuhi persyaratan untuk menjual saham dan obligasi. Dengan demikian untuk
keperluan dana yang tidak terlalu besar, penjualan saham dan obligasi ini biayanya
terlalu besar.
Dibandingkan dengan hutang jangka pendek, term loan lebih baik karena tidak
segera jatuh tempo dan peminjam memberikan jaminan pembayaran secara periodik
yang mencakup bunga dan pokok pinjaman. Bagi kreditur jaminan atas pembayaran
secara periodik ini dapat diperjualbelikan kepada pihak lain biasanya lembaga
pengumpul piutang. Dengan term loan biasanya perjanjian mensyaratkan bahwa pokok
pinjaman dan bunganya dibayar dengan jumlah yang sama secara periodik.

Menurut Drs. Agus Sartono, M.B.A. (dalam Manajaemen Keuangan Soal dan
Penyelesainnya 2002;282) Utang jangka panjang atau long term loan adalah suatu
bentuk perjanjian antara peminjam dengan kreditur dimana kreditur bersedia

11
memberikan pinjaman sejumlah tertentu dan peminjam bersedia untuk membayar
secara periodik yang mencakup bunga dan pokok pinjaman.

2) Equipment loan
Equipment loan adalah pembiayaan yang dipergunakan untuk pengadaan
perlengkapan baru. Equipment loan biasanya diberikan untuk perlengkapan yang
dengan mudah diperjualbelikan, bukan perlengkapan yang terspesialisasi. Peminjam
biasanya menanggung beban lebih tinggi dari harga perlengkapan tersebut dan
selisihnya antara harga perlengkapan dengan beban total merupakan margin of safety
bagi kreditur. Besar kecilnya margin of safety berkisar antara dua puluh hingga tiga
puluh persen dari perlengkapan.
Equipment loan ini biasanya diberikan oleh bank komersial, penjual
perlengkapan, perusahaan asuransi, dana pensiun dan lembaga pembiayaan lainnya.
Ada dua instrumen yang dapat dipergunakan untuk membiayai equipment ini yaitu
melalui kontrak penjualan kondisional dan hipotek barang bergerak.
Jika perusahaan menggunakan kontrak penjualan kondisional untuk membiayai
pembelian perlengkapan, penjual akan menahan sebagian sampai pembeli melunasi
keseluruhan pembayaran sesuai dengan kontrak. Jadi pada saat perlengkapan dikirim
biasanya penjual menerima down payment dan pembeli bersedia untuk melunasi secara
periodik. Pada saat pelunasan berakhir maka penjual akan menyerahkan perlengkapan
yang ditahan atau mungkin surat-surat perlengkapan tersebut.
Hipotik barang bergerak lebih umum digunakan oleh bank komersial. Hipotik ini
sama halnya dengan pemberian gadai, di mana pemberian pinjaman memiliki atau
menguasai hak gadai atas suatu perlengkapan dana pinjaman akan melunasinya untuk
jangka waktu tertentu. Apabila dikemudian hari peminjam gadai untuk membayar
kembali pinjamannya, maka pihak pemberi pinjaman akan menjual perlengkapan yang
ditahan tersebut.
3) Leasing

Leasing adalah suatu kontrak antara pemilik aktiva yang disebut dengan lessor
dan pihak lain yang memanfaatkan aktiva tersebut yang disebut lessee untuk jangka
waktu tertentu. Salah satu manfaatleasing adalah lessee dapat memanfaatkan aktiva
tersebut tanpa harus memiliki aktiva tersebut. Sebagai kompensasi manfaat yang
dinikmati, maka lessee mempunyai kewajiban membayar secara periodik sebagai sewa
aktiva yang digunakan. Manfaat lain adalah bahwa lessee tidak perlu menanggung
biaya perawatan, pajak dan asuransi.

12
Bentuk-bentuk leasing adalah: 1) sale and leaseback, 2) operating leases, dan 3)
financial dan capital leases. Bentuk yang pertama sale and leases back dimana
perusahaan pabrik menjual aktiva tersebut kepada perusahaan lain dan sekaligus
menyewa kembali aktiva tersebut untuk periode tertentu. Pembeli aktiva tersebut bisa
sebuah bank, perusahaan asuransi, perusahaan leasing, pegadaian, atau investor
individu. Biasanya aktiva tersebut dijual dengan harga pasar. Manfaat dari sale and
lease back ini adalah penjual atau lessee menerima pembayaran segera sebagai
tambahan dana yang dapat diinvestasikan ke investasi lain; dan bersamaan dengan itu
lessee masih menggunakan aktiva yang dijualnya selama jangka waktu perjanjian
leasing. Lessee mempunyai kewajiban membayar secara periodik sebesar harga jual
ditambah dengan tingkat keuntungan yang disyaratkan lessor.

Bentuk leasing kedua adalah operating leasing yang sering disebut service leases
atau direct leases. Jenis ini pihak lessor menyediakan pendanaan sekaligus biaya
perawatan yang keseluruhannya tercakup dalam pembayaran leasing. Ciri utama bentuk
leasing ini adalah bahwa harga perolehan aktiva tersebut sebagai objek leasing tidak
diamortisasikan secara penuh. Dengan kata lain pembayaran yang disyaratkan tidak
cukup untuk menutup keseluruhan harga perolehan dan biaya perawatan aktiva. Namun
demikian jangka waktu operating leases ini biasanya lebih pendek dari pada umur
ekonomis yang diharapkan. Sehingga lessor berharap dapat menyewakan kembali
kepada pihak lain atau menjual aktiva tersebut untuk menutup harga perolehan, biaya
perawatan dan tingkat keuntungan yang disyaratkan.

Jenis leasing ketiga adalah financial leasing atau capital leasing. Bentuk leasing
ini berbeda dengan operating leases karena leasor tidak menanggung biaya perawatan,
tidak dapat dibatalkan dan diamortisasikan secara penuh. Dengan demikian lessor
menerima pembayaran sebesar harga perolehan aktiva ditambah tingkat keuntungan
yang disyaratkan. Pada umumnya lessee juga harus membayar pajak dan asuransi
aktiva objek leasing tersebut. Perbedaan utama antara financial leases dengan
operating leases adalah bahwa perusahaan memperoleh aktiva yang baru bukan aktiva
yang selama ini telah digunakan. Sering kali dalam bentuk leasing ini melibatkan pihak
ketiga yaitu pemberi pinjaman. Pihak ketiga ini memberi pinjaman kepada lessor untuk
membeli aktiva, misalnya 80% dibiayai dengan hutang sedangkan selebihnya dari
modal sendiri. Sebagai pemilik aktiva, lessor berhak mengalokasikan harga perolehan

13
aktiva sebagai depresiasi. Sementara itu lessor juga dapat membebankan pembayaran
bunga sebagai pengurang pajak.

4) Modal Ventura
Modal ventura adalah merupakan bentuk pembiayaan penyertaan modal yang
bersifat sementara ke dalam Perusahaan Pasangan Usaha (PPU). Setelah PPU tersebut
mandiri baik dari segi pasar, pengelolaan serta telah memiliki modal usaha yang cukup,
maka saham PPU yang dimiliki oleh Perusahaan Modal Ventura akan dijual kembali
kepada PPU atau pihak lain.
Karakteristik Modal Ventura:
(1) Pembiayaan modal ventura merupakan modal yang disertakan sebagai risk capital
kepada seorang pengusaha individu atau suatu perusahaan yang mempunyai
gagasan, akan tetapi tanpa disertai dengan jaminan seperti halnya pinjaman pada
lembaga perbankan. Dasar utama yang terpenting dalam pembiayaan tersebut
adalah keyakinan atas kemampuan seorang wirausaha dalam pengelolaan
usahanya, potensi serta prospek usaha di masa yang akan datang, serta memiliki
arah pengembangan usaha yang jelas.
(2) Pembiayaan oleh Perusahaan Modal Ventura bersifat aktif, artinya Perusahaan
Modal Ventura terlibat atau melibatkan diri dalam kegiatan bisnis yang dibiayai.
Jika perlu Perusahaan Modal Ventura ikut terlibat dalam unsur-unsur manajemen
yang dapat turut menentukan keberhasilan usaha.
(3) Pembiayaan yang dilakukan oleh Perusahaan Modal Ventura pada semua sektor
serta pada semua tingkatan pertumbuhan usaha tersebut.
(4) Penyertaan modal ini bersifat sementara namun berjangka panjang, berkisar
antara 3-10 tahun. Diharapkan pada kurun waktu tersebut perusahaan yang
menjadi partner (Perusahaan Pasangan Usaha) dapat mencapai tingkat
pertumbuhan yang diinginkan bersama baik dari segi pasar, pengelolaan, serta
keuangan, sehingga modal ventura dapat menarik diri dari kerjasama tersebut
dengan cara menjual saham PPU yang dimilikinya (diinvestasi).
(5) Keuntungan yang diperoleh perusahaan modal ventura adalah atas dasar bagi
hasil berdasarkan prosentase tertentu dari laba bersih perusahaan, bukanlah bunga
atas modal yang ditanamkan pada perusahaan tersebut.

Pada umumnya jenis pembiayaan Perusahaan Modal Ventura meliputi:

(1) Penyertaan saham langsung, jenis kemitraan ini adalah penyertaan langsung
dalam bentuk saham di Perusahaan Pasangan Usaha (PPU). Syarat dari

14
pembiayaan ini adalah PPU tersebut sudah berbentuk Perseroan Terbatas (PT).
Hasil yang diterima oleh Perusahaan Modal Ventura adalah dividen. Dividen
tersebut akan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara para pemegang saham.
(2) Penyertaan saham melalui obligasi konversi, jenis penyertaan ini adalah dalam
bentuk surat hutang atau obligasi yang dapat dikonversikan ke dalam saham yang
dikeluarkan oleh Perusahaan Pasangan Usaha (PPU), bila PPU tidak dapat
memenuhi kewajiban penyelesaian hutang.
(3) Penyertaan partisipasi terbatas (pola bagi hasil), jenis penyertaan ini yang biasa
dikenal dengan menentukan suatu prosentase tertentu dari keuntungan setiap
periode tertentu dari keuntungan setiap periode tertentu yang akan diberikan oleh
Perusahaan Modal Ventura. Pola hasil ini sudah dikenal dan banyak diminati oleh
beberapa pengusaha kecil.

Menurut James C. Van Horne dan John M. Wachhowicz. Jr (dalam Prinsip-prinsip


Manajemen Keuangan, edisi 12, 2007;342). Venture capital menunjukkan dana yang
diinvestasikan di perusahaan baru. Para investor kaya dan lembaga keuangan adalah sumber-
sumber utama modal ventura. Dana utang kadang diberikan, tetapi kebanyakan melibatkan
saham biasa. Saham ini hamper selalu awalnya ditawarkan secara terbatas. Aturan 144 dari
UU tahun 1933 saat ini mensyaratkan bahwa sekuritas yang baru diterbitkan dan ditawarkan
secara terbatas harus dimiliki paling tidak selama 2 tahun atau didaftarkan sebelum dapat
dijual kembali tanpa batasan. (Jumlah tertentu dari sekuritas yang ditawarkan secara terbatas
dapat dijual kembali mulai setahun setelah penerbitannya). Tujuan aturan ini adalah untuk
melindungi investor yang “kurang pengalaman” dari penawaran sekuritas yang tidak bagus.

2.2.3 Sumber Dana Jangka Panjang

Sumber dana jangka panjang adalah sumber dana yang tertanam dalam perusahaan
lebih dari 10 tahun. Terdapat berbagai jenis sumber dana jangka panjang yang tersedia bagi
perusahaan seperti misalnya long term debt, saham preferen dan saham biasa. Utang jangka
panjang ini dapat diperoleh melalui pinjaman di bank atau dengan cara menjual obligasi.
Obligasi dan saham preferen merupakan sumber dana dengan memberikan pendapatan yang
tetap kepada pemiliknya, sementara saham biasa merupakan surat berharga dengan
memberikan penghasilan tidak tetap kepada pemegangnya.

1) Hutang Jangka Panjang, terdapat beberapa alternatif hutang jangka panjang


seperti hutang bank, obligasi, hutang dengan tanpa jaminan, dan hutang jangka

15
panjang yang dapat diperjual belikan. Hutang jangka panjang atau long term loan
adalah suatu bentuk perjanjian antara peminjam dengan kreditur dimana kreditur
bersedia memberikan pinjaman sejumlah teretntu dan peminjam bersedia untuk
membayar secara periodik yang mencakup bunga dan pokok pinjaman. Hutang
jangka panjang ini dapat diperoleh melalui bank, perusahaan asuransi, atau dapat
juga ke dana pensiun. Hutang jangka panjang ini mempunyai tiga karakteristik
yaitu cepat, fleksible dan biaya yang rendah. Ini disebabkan karena peminjam ini
denegosiasikan langsung antara peminjam dengan kreditur. Biaya administrasi
menjadi relatif kecil, dan diperlukan adanya persetujuan dengan pengawasan
pasar modal seperti halnya jika perusahaan mengeluarkan obligasi.
2) Obligasi, yaitu surat tanda hutang yang dikeluarkan oleh perusahaan sejumlah
tertentu dan akan jatuh tempo pada waktu tertentu dan memberikan pendapatan
sebesar bunga tertentu. Jatuh tempo obligasi umumnya 10 sampai 30 tahun, tetapi
ada juga obligasi yang jatuh tempo 7 sampai 10 tahun. Obligasi sebenarnya sama
dengan hutang jangka panjang yang diperoleh bank, hanya saja obligasi ini
penjualannya dipublikasikan dan dijual kepada investor langsung. Tingkat bunga
obligasi biasanya tetap dan dibayarkan satu tahun sekali atau dua kali dalam satu
tahun.
3) Saham Preferen, sebagai sumber modal jangka panjang perusahaan, saham
preferen menduduki posisi antara long term debt dengan saham biasa. Seperti
halnya saham biasa, saham preferen juga merupakan bagian dari modal sendiri.
Seperti halnya long term debt, saham preferen juga memberikan pendapatan yang
relatif konstan di samping itu biaya modal saham preferen cenderung lebih tinggi
dari pada biaya hutang, karena risiko yang dihadapi pemegang saham preferen
lebih besar dari risiko pemegang obligasi. Pemegang saham preferen memiliki
preferensi atau prioritas dalam pembayaran deviden.
4) Saham Biasa, adalah merupakan sumber dana yang permanen, karena akan
tertanam dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak terbatas selama
perusahaan masih menjalankan kegiatan operasi. Pemegang saham biasa
merupakan pemilik perusahaan yang sebenarnya. Pendapatan yang diterima oleh
pemegang saham biasa adalah laba setelah dikurangi pajak dan dividen saham
preferen secara teoritis, hak-hak pemegang saham biasa adalah sebagai berikut:
(1) Hak suara dalam rapat umum pemegang saham. Dan hak tersebut,
pemegang saham memiliki hak untuk memilih direksi untuk mengendalikan
perusahaan.
16
(2) Hak memperoleh pembayaran dividen atas dasar per lembar saham yang
dimiliki dan menentukan dividen payout ratio.
(3) Hak untuk membeli tambahan saham baru yang dikeluarkan perusahaan
secara proprsional. Jadi setiap emisi saham baru maka pemegang saham
lama mempunyai hak untuk membeli sejumlah saham tertentu dijual ke
publik.
(4) Hak atas aktiva setelah pembayaran hak yang lebih senior dalam likuidasi.
Dengan demikian menerima bagian paling akhir.

2.3 Pendekatan Praktis Dalam Pemilihan Sumber Pendanaan Perusahaan

2.3.1 Analisis Rentabilitas Ekonomi dan Rentabilitas Modal Sendiri

Riyanto (2002) mengungkapkan konsep analisis rentabilitas ekonomi dan rentabilitas


modal sendiri didasarkan bahwa penggunaan leverage/hutang dapat dibenarkan di dalam
perusahaan sejauh penggunaan leverage tersebut diharapkan memberikan rentabilitas
ekonomi lebih besar dari bunga hutang tersebut. Hal itu disebabkan karena penggunaan
hutang tersebut diharapkan akan meningkatkan rentabilitas modal sendiri, yang menunjukkan
bagian keuntungan yang menjadi hak pemilik perusahaan. Untuk memudahkan penulisan,
Rentabilitas Ekonomi disingkat dengan RE dan Rentabilitas Modal Sendiri sebagai RMS,
dengan formula:

Sebagai contoh misalkan: perusahaan memerlukan tambahan dan sebesar Rp 500 juta.
Suatu bank mengatakan bersedia memberikan kredit dengan suku bunga 12% per tahun.
Apakah tawaran tersebut sebaiknya diterima?

Analisis RE mengatakan bahwa sejauh tambahan dana tersebut bisa memberikan


tambahan laba operasi lebih besar dari 12% x Rp 500 juta = Rp 60 juta dalam satu tahun,
maka penggunaan kredit bisa dibenarkan.

17
Dari perhitungan ini memberikan ilustrasi bahwa RE penggunaan hutang tersebut
adalah 12% (60 juta/500 juta). Dengan demikian berarti apabila tambahan laba operasi lebih
kecil dari 12% yang juga berarti RE kurang dari 12% maka tambahan dana yang bersumber
dari hutang tidak dibenarkan dalam arti menyebabkan perusahaan rugi. Sedangkan kalau
tambahan laba operasi atau RE sama dengan 12% atau sama dengan tingkat bunga pinjaman,
penggunaan hutang tersebut tidak menyumbang satu rupiah pun terhadap laba setelah pajak.
Dengan kata lain, seluruh laba yang diperoleh dari operasi tersebut habis dipergunakan untuk
membayar bunga. Karena itulah diperlukan memperoleh RE lebih besar dari 12%, atau lebih
dari bunga pinjaman.

Dipandang dari pertimbangan RMS penggunaan hutang dalan jumlah tertentu mungkin
menguntungkan, mungkin pula tidak. Dikatakan menguntungkan kalau RMS dengan
penggunaan hutang lebih besar dari pada RMS dengan menggunaan modal sendiri. Hal ini
akan tercapai tingkat keuntungan yang diperoleh dari penggunaan hutang tersebut adalah
lebih besar dari pada bunga yang harus dibayar. Dengan demikian analisis ini hanya
memperhatikan sumber dan dari faktor RMS saja.

2.3.2 Analisis dari Sisi Likuiditas


Analisis rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal sendiri menekankan dari sisi
profitabilitas penggunaan hutang tersebut. Disamping itu juga diketahui bahwa penggunaan
hutang akan menimbulkan kewajiban finansial, baik dalam bentuk pembayaran bunga
maupun angsuran pokok pinjaman. Karena itu tidak diinginkan penggunaan hutang akan
menimbulkan kesulitan likuiditas bagi perusahaan, dalam artian tidak mampu membayar
bunga dan angsuran pokok pinjaman. Untuk memperkirakan apakah penggunaan hutang akan
menimbulkan kesulitan likuiditas atau tidak, bisa ditaksir rasio keuangan yang disebut
sebagai debt service coverage (DSC). DSC dirumuskan sebagai berikut:

Dimana t = tarif pajak

2.3.3 Analisis Aliran Kas

18
Analisis aliran kas hanya mempertimbangkan dari segi kemampuan untuk membayar
pinjaman tersebut tepat pada waktunya. Dengan kata lain, hanya mempertimbangkan dari
segi likuiditas saja. Apabila perusahaan menggunakan hutang yang makin banyak, makin
besar pula beban tetap (yang berupa bunga dan angsuran pokok pinjaman) yang harus
dibayar. Dengan kata lain kas keluar ini merupakan komponen yang tetap sifatnya. Padahal
kas masuk yang diperoleh perusahaan semakin besar pula kas masuknya. Tetapi kas
keluarnya ternyata ada unsur-unsur yang tidak terpengaruh oleh kegiatan perusahaan. Dengan
demikian maka semakin besar beban finansiil yang tetap ini, semakin mudah perusahaan
menjadi tidak likuid (tidak mampu membayar kewajiban finansial tepat pada waktunya),
apabila kegiatan perusahaan menjadi makin berkurang (yang ditunjukkan dari menurunnya
kegiatan penjualan).

2.4 contoh kasus analisis rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal sendiri

19
Nb: Pajak Penghasilan nya sebesar 20% dari laba bersih sebelum pajak

SOAL :

20
Misalnya ada suatu proyek yang memerlukan dana sebesar Rp 2.000 juta. Berdasarkan laporan laba rugi
diatas diketahui EBIT sebesar Rp 521,8 juta setiap tahunnya. Perusahaan harus menanggung pajak
dengan tarif 10%. Untuk mendanai investasi tersebut tersedia dua alternatif pendanaan.

1) Didanai 100% oleh modal sendiri


2) 50% didanai dengan hutang dan 50% dengan modal sendiri

Jika perusahaan menggunakan hutang, diperkirakan bunga yang ditanggung adalah 10% per tahun.
Apakah perusahaan sebaiknya memilih alternatif pertama atau kedua ?

Jawab:

Keterangan Alternatif 1 Alternatif 2


EBIT 521,8 juta 521,8 juta
Bunga - 100 juta
EBT 521,8 juta 421,8 juta
Pajak (10%) 52,18 juta 42,18 juta
EAT 469,62 juta 379,62 juta

RMS 23% 38%


RE 26% 26%

Oleh karena RMS alternatif ke-2 > dari alternatif ke-1 yaitu 38% >23% maka penggunaan hutang
nampak lebih menguntungkan karena memberikan RMS lebih tinggi. Hal ini tidak mengherankan, karena
hutang tersebut bisa memberikan tingkat keuntungan 26%, sedangkan bunganya hanya 10%. Dengan
demikian penggunaan hutang bisa dibenarkan apabila dipandang dari segi RMS.

2.5 contoh kasus analisis dari sisi likuiditas

Misalkan perusahaan memerlukan tambahan dana sebesar Rp 400 juta, yang akan dipergunakan
untuk penambahan aktiva tetap Rp 240 juta dan modal kerja sebesar Rp 160 juta. Aktiva tetap tersebut
diperkirakan berusia 8 tahun, dan karenanya beban penyusutannya Rp 30 juta per tahun. Perusahaan
ditawari hutang dari suatu bank dengan bunga 16% per tahun, jangka waktu dua tahun, dan untuk tahun
pertama harus membayar sebesar 50% dari pokok pinjaman.

Jawab:

Apabila kredit tersebut diambil akan menimbulkan beban financial:

Tahun Angsuran Pokok Pinjaman bunga

1 50% x Rp 400 juta = Rp 200 juta 16% x Rp 400 juta = Rp 64 juta

2 50% x Rp 400 juta = Rp 200 juta 16% x Rp 200 juta = Rp 32 juta

Misalkan rentabilitas ekonomi dari penggunaan hutang tersebut setiap tahun diharapkan sebesar 20%,
dan perusahaan membayar pajak penghasilan sebesar 20%. Apakah penggunaan hutang tersebut akan
menimbulkan beban financial yg lebih besar dari pemasukannya?

Jika rentabilitas ekonominya 20% maka laba operasi(EBIT) adalah:


21
EBIT = RE x Total Aktiva

= 0,20 x Rp 400 Juta

= Rp 80 juta

Maka besarnya DSC adalah:

DSC =

= 0,35

Rasio ini menunjukkan bahwa apabila penggunaan hutang tersebut diperlakukan sebagai suatu
cash flow yang terpisah dari cash flow perusahaan, maka penggunaan hutang tersebut akan
menimbulkan kesulitan likuiditas. Karena DSC < 1,00 berarti dana dari laba operasi dan
penyusutan tidak cukup untuk memenuhi kewajiban finansial perusahaan. Penyebabnya adalah
karena antara lain kredit tersebut harus diangsur dalam dua tahun sedangkan aktiva tetapnya
berusia 8 tahun

BAB III
PENUTUP

22
3.1 Kesimpulan

Sumber Dana Menurut Asalnya dibagi menjadi 2 yaitu Sumber Intern dan sumber
ekstern. menurut Riyanto (2001) mengungkapkan sumber dana ditinjau dari asalnya pada
dasarnya dibedakan menjadi sumber intern (internal sources) dan sumber ekstern (external
sources). Dana yang berasal dari sumber intern adalah dana atau modal yang dibentuk atau
dihasilkan sendiri di dalam perusahaan seperti laba ditahan (retained earning) dan
penyusutan (depreciation). Sumber ekstern (external sources) adalah sumber yang berasal
dari luar perusahaan. Dana yang berasal dari sumber ekstern adalah dana yang berasal dari
para kreditur dan pemilik, peserta atau pengambil bagian di dalam perusahaan, pada dasarnya
pihak-pihak pemberi dana atau modal ekstern yang utama dapat terdiri dari: 1) supplier, 2)
Bank, dan 3) pasar modal.

Sumber dana menurut jangka waktunya terdiri dari sumber dana jangka pendek, sumber
dana jangka menengah dan sumber dana jangka panjang. Sumber dana jangka pendek
merupakan sumber dana yang tertanam di dalam perusahaan maksimum satu tahun. Ada
beberapa jenis sumber dana jangka pendek yang sering dipergunakan oleh perusahaan seperti:
accrual account, hutang dagang, hutang bank, commercial paper, factoring, dan lain-lainnya
(Sartono;2001). Sumber dana jangka menengah adalah merupakan sumber dana yang
tertanam di dalam perusahaan lebih dari 1 tahun dan kurang dari 10 tahun. Adapun jenis
sumber dana jangka menengah terdiri dari term loan, equipment loan, leasing, modal
ventura, dan lain-lain. Sumber dana jangka panjang adalah sumber dana yang tertanam dalam
perusahaan lebih dari 10 tahun. Terdapat berbagai jenis sumber dana jangka panjang yang
tersedia bagi perusahaan seperti misalnya long term debt, saham preferen dan saham biasa.
Utang jangka panjang ini dapat diperoleh melalui pinjaman di bank atau dengan cara menjual
obligasi. Obligasi dan saham preferen merupakan sumber dana dengan memberikan
pendapatan yang tetap kepada pemiliknya, sementara saham biasa merupakan surat berharga
dengan memberikan penghasilan tidak tetap kepada pemegangnya.

Pendekatan Praktis Dalam Pemilihan Sumber Pendanaan Perusahaan terdiri dari


analisis Rentabilitas Ekonomi (RE) dan Rentabilitas Modal Sendiri (RMS) Riyanto (2002)
mengungkapkan konsep analisis rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal sendiri
didasarkan bahwa penggunaan leverage/hutang dapat dibenarkan di dalam perusahaan sejauh
penggunaan leverage tersebut diharapkan memberikan rentabilitas ekonomi lebih besar dari
bunga hutang tersebut. Hal itu disebabkan karena penggunaan hutang tersebut diharapkan

23
akan meningkatkan rentabilitas modal sendiri, yang menunjukkan bagian keuntungan yang
menjadi hak pemilik perusahaan. Analisis dari Sisi Likuiditas adalah analisis rentabilitas
ekonomi dan rentabilitas modal sendiri menekankan dari sisi profitabilitas penggunaan
hutang tersebut. Disamping itu juga diketahui bahwa penggunaan hutang akan menimbulkan
kewajiban finansial, baik dalam bentuk pembayaran bunga maupun angsuran pokok
pinjaman. Karena itu tidak diinginkan penggunaan hutang akan menimbulkan kesulitan
likuiditas bagi perusahaan, dalam artian tidak mampu membayar bunga dan angsuran pokok
pinjaman. Untuk memperkirakan apakah penggunaan hutang akan menimbulkan kesulitan
likuiditas atau tidak, bisa ditaksir rasio keuangan yang disebut sebagai debt service coverage
(DSC).

3.2 Saran

Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka dari itu penulis berharap kritik dan saran dari para pembaca agar
makalah selanjutnya akan lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para
pembaca untuk menambah wawasan.

24
DAFTAR REFERENSI

Wiagustini, Ni Luh Putu. (2014). Manajemen Keuangan. Denpasar. Udayana University


Press

Van Horne, James C and Wachowicz Jr, John M. (2012).Prinsip-Prinsip Manajemen


Keuangan Edisi 13. Jakarta. Salemba Empat

Van Horne, James C and Wachowicz Jr, John M. (2007).Prinsip-Prinsip Manajemen


Keuangan Edisi 12. Jakarta. Salemba Empat

Husnan, Suad. (2014). Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan (Keputusan Jangka
Panjang). Yogyakarta. BPFE.

Sartono, R.Agus. (2000). Manajemen Keuangan Soal dan Penyelesaian. Yogyakarta. BPFE.

25