Anda di halaman 1dari 119

OTORHINOLARYNGOLOGY

Imaging in Otorhinolaryngology

Radiography of Radiography of
Sinus Paranasal Temporal Bone
• Waters View • Schuller
• Schedel View • Stenver
• Caldwell View • Towne
• Submentovertical
View

Sumber :
K. J. Lee: Essential Otolaryngology and Head and Neck Surgery (IIIrd Ed)
Radiography of Sinus
Paranasal
Waters View

• Proyeksi terbaik
untuk sinus
maksilaris
• Dapat
memperlihatkan
sinus sphenoid
dan septumnya
jika dilakukan
dengan
membuka
mulut
Radiography of Sinus
Paranasal
Schedel View

• Foto cranium AP
dan lateral
• Dapat
memperlihatkan
semua sinus
paranasal
• Pada proyeksi
lateral terbaik
untuk sinus
sphenoid
Radiography of Sinus
Paranasal

Caldwell View

• Terbaik untuk
memperlihatkan
sinus frontalis
• Beberapa struktur
maxillofasial
seperti maxilla,
mandibula, sutura
zygomaticofrontal,
dan zygoma
Radiography of Sinus
Paranasal

Submentovertical
View
• Sinar x ray
melalui basis
cranii
• Dapat berguna
untuk
mengevaluasi
kelainan di sinus
sphenoid
Radiography of Temporal
Bone
Towne View

• Memperlihatkan
struktur apex
petrosus, canalis
auditorius internus,
eminensia arcuata,
antrum et processus
mastoid
• Dipakai pada
evaluasi kondisi
apical petrositis,
acoustic neuroma
dan
cerebellopontine
angle tumor
Radiography of Temporal
Bone

Stenvers View

• Memperlihatkan
sebagian mastoid
dan telinga dalam
(vestibulum, cochlea,
canalis
semicircularis)
• Eksposur ringan akan
memperlihatkan
struktur mastoid
• Eksposur berat
memperlihatkan
apex petrosus
Radiography of Temporal
Bone
Schuller View

• Proyeksi lateral dari


mastoid dengan
angulasi 30 derajat
cephalocaudal
• Memperlihatkan
sebagian besar
mastoid dan telinga
tengah
• Pada evaluasi OMSK,
Schuller lebih unggul
dibandingkan Stenver
dalam menilai
kolesteatom
EAR

BACK
OTITIS EKSTERNA
Otitis Eksterna Furunkulosa (Sirkumskripta)
• Penyebab: Staph. Aureus, Staph. Albus.
• Terletak di folikel rambut atau gld.sebasea yang tersumbat.
• Hanya terjadi di 1/3 ext canal (part kartilaginosa)
• TRAUMA➔ ABRASION / MACERATION ➔ STAPHY. SP (DM) ➔
INFECTION ➔ SPONTANEUS / RECURRENCY

Otitis eksterna difusa (swimmer’s ear)


• Penyebab: Pseudomonas (usually), Staph albus, E. Coli.
• Mengenai seluruh CAE, menyebabkan penyempitan kanal
• Manipulasi liang telinga → hilangnya lapisan lemak→ muara kelenjar
terbuka → resorbsi cairan dari luar → oedem → sekresi kelenjar sebacea
& sudorifera  → permukaan kulit kering → rasa gatal pada liang telinga
→ ingin menggaruk & laserasi kulit → mempermudah invasi kuman
(Mawson 1974 )
Terapi OE
Furunkulosa/Sirkumskripta Difusa
Otitis eksterna sirkumskripta pada stadium Pada otitis eksterna difus dengan memasukkan
infiltrat diberikan salep ikhtiol atau antibiotik tampon yang mengandung antibiotik ke liang
dalam bentuk salep seperti polymixin B atau telinga supaya terdapat kontak yang baik antara
basitrasin. (PPM Puskesmas) obat dengan kulit yang meradang. Pilihan
antibiotika yang dipakai adalah campuran
polimiksin B, neomisin, hidrokortison dan
anestesi topikal. (PPM Puskesmas)

Kebanyakan furunkel direabsorpsi secara


spontan, namun jika dalam 24-48 jam bisulnya
belum pecah maka dilakukan insisi dan
drainase
Sistemik : Antibiotika diberikan dengan pertimbangan infeksi yang cukup berat. Diberikan pada
orang dewasa ampisillin 250 mg qid, eritromisin 250 qid. Anak-anak diberikan dosis 40-50 mg per
kg BB.
Topical antibiotics usually contains boric or acetic acid to decrease pH of the canal
neomycin, actives againts gram negative bacteria ex: Proteus sp., Klebsiella sp., and E.coli.
polymyxin B or E, active againts Pseudomonas sp., E. coli, and Klebsiella sp.
gentamicin, actives againts Pseudomonas sp.
newer quinolon preparations of ciprofloxacin and ofloxacin appear to equally efficacious in
controlling acute otitis externa
Malignant Otitis Eksterna
(Necrotizing OE)
• Merupakan komplikasi Otitis • Manifestasi Klinis:
eksterna bakterial → infeksi – Severe otalgia extend
menginvasi lebih dalam to
mengenai katilago, jaringan temporomandibular
lunak dan tulang → Selulitis,
chondritis, dan osteomyelitis joint → pain at
chewing
• Sering terjadi pada penderita
diabetes, usia tua atau – Purulent otorrhea
imunokompromised – Cranial nerve
• 95% kasus disebabkan oleh paralysis, most often
P.aeruginosa facial nerve paralysis
• Dapat mengenai saraf kranial • Terapi: antibiotik dan
terutama nervus VII debridement agresive
meskipun dapat juga – For adults,
mengenai nervus kranial yang ciprofloxacin (400 mg
lain kecuali nervus I, III, IV intravenously [IV]
• Kematian → jika terjadi every 8 hours; 750 mg
trombosis sinus lateralis orally every 12 hours)
remains the antibiotic
of choice

BACK
Herpes Zooster Oticus

The virus stays dormant in the sensory ganglia


(geniculate ganglion) & reactivates under conditions of
decreased immune competence.

The virus causes blisters on the auricle, the EAC, even on


the lateral surface of the tympanic membrane.

Involvement of the facial & cochleovestibular nerves ➔


facial palsy, with or without hearing loss & dizziness ➔
Ramsay Hunt syndrome.

Mostly self-limiting.

Pharmacologic Treatment
• Acyclovir 5x800mg 7-10 hari
• Valacyclovir 3x1000mg 7hari
©Bimbel UKDI MANTAP BACK
Cellulitis & Erysipelas of the
Auricle
CELLULITIS
• Penyebab: Staphylococcus or Streptococcus, Pseudomonas (jarang).
• Involves the deeper dermis and subcutaneous fat
• Clinical manifestation : Skin erythema, edema, warmth
• Faktor resiko : Infeksi bakteri aurikula ➔ abrasi, laserasi atau ear
piercing
• Pilihan antibiotik : Amoxicillin, Clindamycin, Cefadroxil, Dicloxacillin

ERYSIPELAS
• Penyebab: group A β-hemolytic Streptococcus
• Erysipelas has more distinctive anatomic features than cellulitis;
erysipelas lesions are raised above the level of surrounding skin, and
there is a clear line of demarcation between involved and
uninvolved tissue
• Pilihan antibiotik : Penicillin, Amoxicillin, Erythromycin
Perichondritis & Chondritis

Perichondritis / chondritis ➔ a bacterial infection of


perichondrium or cartilage of the auricle.

Etiologi: inadequately treated auricular cellulitis, acute


otitis externa, accidental or surgical trauma, or multiple ear
piercing in the scapha.

Sign: painful, red, swollen & drains serous - purulent


exudates. Extend to the surrounding soft tissues of the face
& neck. Usually ear lobe still intact (uninvolved)

The most common pathogen: Pseudomonas sp.

©Bimbel UKDI MANTAP BACK


Auricular Hematoma
• Etiologi: Trauma langsung pada auricula anterior dan merupakan cedera fasial
yang sering terutama pada pegulat.
• Trauma mengakibatkan terlepasnya perikondrium dan kartilagonya
• Hal ini mengakibatkan pecahnya pembuluh darah perikondrium dan terbentuknya
hematoma
• Komplikasi : Terkumpulnya darah di subperichondrial menstimulus timbulnya
kartilago baru yang asimetris akibat proses fibrosis (Cauliflower ear)
Pseudokista
Terdapat benjolan didaun telinga yang disebabkan
oleh adanya kumpulan cairan kekuningan diantara
lapisan perikondrium dan tulang rawan telinga

Manifestasi Klinis :
• Biasanya asymptomatic
• Rasa tidak nyaman
• Tidak ada atau minimal tanda inflamasi

Diagnosis didasarkan pada temuan klinis dan tidak


adanya bukti infeksi

Terapi : Insisi drainase diikuti pressure dressing atau


compression suture therapy
Cerumen Prop

Ear wax ➔ mixture of secretions of the ceruminose & pilosebaseus


glands, squames of epithelium, dust & other foreign debris located in
the cartilaginous portion of the ears canal.

Faktor Risiko
• 1. Dermatitis kronik liang telinga luar
• 2. Liang telinga sempit
• 3. Produksi serumen banyak dan kering
• 4. Adanya benda asing di liang telinga
• 5. Kebiasaan mengorek telinga
Tanda dan Gejala:
• Hearing impairment (deafness) → CHL
• Earache
• Reflex cough
• Fullness in the ear
• Tinitus – vertigo
Penatalaksanaan
• Menghindari membersihkan telinga secara berlebihan
• Menghindari memasukkan air atau apapun ke dalam telinga
• Serumen yang lembek, dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada pelilit kapas.
• Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait atau kuret.Apabila dengan cara ini
• Serumen tidak dapat dikeluarkan, maka serumen harus dilunakkan lebih dahulu dengan
tetes karbogliserin 10% selama 3 hari.
• Serumen yang sudah terlalu jauh terdorong kedalam liang telinga sehingga dikuatirkan
menimbulkan trauma pada membran timpani sewaktu mengeluarkannya, dikeluarkan
dengan mengalirkan (irigasi) air hangat yang suhunya disesuaikan dengan suhu tubuh.

Indikasi untuk mengeluarkan serumen


• Sulit untuk melakukan evaluasi membran timpani
• Otitis eksterna
• Oklusi serumen dan bagian dari terapi tuli konduktif.

Kontraindikasi dilakukannya irigasi adalah adanya perforasi membran timpani. Bila


terdapat keluhan tinitus, serumen yang sangat keras dan pasien yang tidak kooperatif
merupakan kontraindikasi dari suction

Serumen dianjurkan dikeluarkan setiap 6-12 bulan sekali


Keratosis Obturans
Penumpukan epitel skuamous dalam jumlah besar yang
susah di keluarkan

Sering terjadi pada usia muda

Akibat kegagalan migrasi sel epitel ke arah luar

Menyebabkan erosi tulang sirkumferensial

Manifestasi Klinis: tuli konduktif, nyeri, liang telinga lebih


luas, sekret telinga berkurang

Tx: aural drops, campuran dari alkohol/ gliserin dalam H2O2,


3x seminggu

Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003.


Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. BACK
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
Benda Asing Telinga
Prosedur Tindakan

• Untuk melihat CAE lebih jelas dan lebih lurus, pegang pinna dengan satu tangan dan tarik ke belakang dan
ke atas pada orang dewasa dan ditarik kebawah pada infant.
• Pada kebanyakan kasus, benda asing di CAE yang masih baru, dilakukan ekstraksi dalam anestesi lokal.
• Pada kasus-kasus benda asing yang tertanam dalam CAE
- Benda asing tidak dikeluarkan dengan kasar/keras karena dapat menyebabkan kerusakan
permukaan epitel CAE.
- Ekstraksi benda asing dapat dilakukan dengan alat pengait berlubang
- Apabila terdapat eritema atau eskoriasi yang luas setelah ekstraksi benda asing, digunakan
antibiotic tetes telinga dan gunakan tampon antibiotik, untuk mengurangi stenosis.
• Pada kasus-kasus benda asing yang tidak tertanam dalam CAE :
- Apabila pasien tersebut anak-anak : selama prosedur anak dalam pangkuan orang dewasa.
- Alat pengait kecil merupakan alat terbaik untuk ektraksi benda asing.
- Taruhlah alat pengait di belakang benda asing, diputar dan secara gentle ditarik keluar.
• Pada kasus benda asing berupa serangga :
- Ditetesi alkohol, khloroform, atau minyak mineral (PPK Puskesmas 2014: lidokain atau anestesi
lokal) supaya serangga tidak banyak bergerak sekaligus untuk lubrifikasi dinding kanalis.
- Ekstraksi dapat dengan mudah dikeluarkan dengan memegang serangga menggunakan forceps
alligator.
Otomycosis
Overview
• Otitis Eksterna yang disebabkan oleh jamur
• Mikosis →pembengkakan, → pengelupasan epitel superfisial →
penumpukan debris yang berbentuk hifa, disertai suppurasi, dan nyeri

Gejala
• Gatal Aspergillus niger:
• Otalgia dan otorrhea sebagai gejala yang paling banyak dijumpai, Newspaper mass
• Kurangnya pendengaran, like appearance
• Rasa penuh pada telinga

Faktor Resiko
• Cuaca yang lembab,
• Ketiadaan serumen,
• Instrumentasi pada telinga,
• Olah raga air
• Status pasien yang immunocompromised , Candida sp :
• Peningkatan pemakaian preparat steroid dan antibiotik topikal. Cotton wool
appearance
Pemeriksaan penunjang Manajemen

• Preparat langsung : • Ear toilet


• Skuama dari kerokan kulit liang telinga • Obat anti jamur topikal
diperiksa dengan KOH 10 % → • Nystatin → efektif untuk Candida sp.
• Aspergillus niger: hifa-hifa lebar, • Miconazole → efektif utk Aspergillus sp.
berseptum, dan dapat ditemukan • Asam asetat 2 % dalam alkohol → sebagai
spora-spora kecil. keratolytic
• Candida albicans: pseudohifa dan • Jaga telinga tetap kering dan cegah
manuver2 pada telinga
blastospora.
• Pembiakan :
• Skuama dibiakkan pada media Agar
Saboraud, dan dieramkan pada suhu
kamar. Koloni akan tumbuh dalam satu
minggu.

1. P Hueso Gutirrez, S Jimenez Alvarez, E Gil-carcedo Sanudo, et al. (2005). Presumed diagnosis :
Otomycosis. A study of 451 patients. Acta Otorinolaringol Esp, 56, 181-186.
Preaurikular fistule

Adanya lubang kecil di depan auricula (crux helix)


• Akibat tidak tertutupnya sulcus brachialis II → lubang
yang berlanjut sebagai saluran pendek/panjang, dpt
sampai kavitas tympani atau faring, dibatasi epitel
sehingga dari lubang dapat keluar hasil deskuamasi epitel
• Bila lubang tetap terbuka → tidak ada gangguan

Bila lubang tertutup → kista atau abses


• Pembengkakan hiperemis, purulent

Pemeriksaan radiologik : Fistulografi

Bila terjadi abses, incisi pada lubang, rekurensi


tinggi, sehingga harus ekstirpasi.
Miringitis Bulosa
Infeksi pada membran timpani terkait dengan
kejadian OMA, yang dikarakteristikkan dengan onset
cepat, nyeri sekali, dan ukuran bula yang bervariasi
pada membran timpani dan struktur tulang sekitar
kanalis

Terjadi pada 5% kasus OMA anak usia di bawah 2 tahun

Penyebab: virus, Mycoplasma, dan bakteria

Bula → cairan serosa dan hemoragic

Tx: Sama dengan terapi OMA tanpa disertai bullae


BACK
OTITIS MEDIA

The presence of inflammation


in the middle ear accompanied
by the rapid onset of signs and
symptoms of an ear infection
BACK
BACK
OTITIS MEDIA AKUT
Acute :
<3 minggu

Subacute :
3 minggu – 2
bulan

Chronic
> 2 bulan

BACK
Stadium Stadium Stadium Stadium Stadium
Oklusi Hiperemis / Supuratif Perforasi Resolusi
Presupuratif

Patofisiologi Fungsi tuba Patogen masuk ke Pus yang terbentuk Tekanan Fase
terganggu, telinga tengah, di telinga tengah semakin penyembuhan,
terbentuk tekanan terjadi respon semakin banyak meningkat penutupan
negatif di telinga inflamasi di telinga sehingga tekanan mengakibatkan kembali
tengah, memicu tengah di telinga tengah rupturnya membran
terjadinya efusi meningkat membran timpani
dan retraksi timpani
membran timpani

Symptoms • Penurunan • Nyeri telinga • Nyeri telinga • Nyeri telinga • Cairan dari
pendengaran • Penurunan semakin berkurang telinga
• Sensasi penuh pendengaran memberat • Anak-anak : berkurang
di telinga • Demam tinggi • Anak anak: lebih tenang • Penurunan
semakin rewel • Demam pendengaran
• Tidak ada
• Demam berkurang
demam
• Keluar cairan
dari telinga

Signs • Membran Membran timpani Membran timpani • Membran • Edem


timpani tampak hiperemis tampak menonjol timpani mukosa
retraksi, dan kongesti (bulging) dan tampak berkurang
tampak suram hiperemis perforasi • Discharge
• Tes penala : • Tampak berkurang
Tuli konduktif discharge • Perforasi
dari telinga semakin
tengah menutup
Stadium Stadium Stadium Stadium Stadium
Oklusi Hiperemis / Supuratif Perforasi Resolusi
Presupuratif
Terapi Perbaiki fungsi Antibiotik 10 -14 Miringotomi • Obat cuci Sekret tenang →
tuba : hari: (kasus rujukan) telinga observasi
tetes hidung HCl Ampisilin : Dewasa dan pemberian H2O2 3%
efedrin 0,5-1% 500 mg 4 x sehari; antibiotik. selama 3-5
(atau Anak 25 mg/KgBB Antibiotik yang hari
oksimetazolin 4 x sehari atau diberikan: • Antibiotik
0,025 – 0,05%) Amoksisilin: Amoxyciline adekuat
Dewasa 500 mg 3 x Erythromycine yang tidak
sehari; Anak 10 Cotrimoxazole ototoksik
mg/KgBB 3 x seperti
sehari atau ofloxacin
Eritromisin : tetes telinga
Dewasa 500 mg 4 x sampai 3
sehari; Anak 10 minggu
mg/KgBB 4 x
sehari
OTITIS MEDIA AKUT
Pengobatan Operatif
1. Myringotomy
– Indications :
– Insisi kecil melubangi • Suppurative stage:
gendang telinga extreme pain, bulging
– Fungsi: mengeluarkan cairan • Impending intracranial
dari telinga dalam dan complications
menghilangkan rasa sakit. • Perforated AOM with
insufficient drainage
– Lokasi insisi di kuadran • Secretory AOM
posterior inferior (Buku Ajar • Hemotimpanum
THT FK UI) • Unresolutive AOM

©Bimbel UKDI MANTAP


(Bhargava, 2002)
OTITIS MEDIA AKUT
2. Pemasangan Tube Ventilasi
(Grommet’s tube)
• Tube ventilasi ini dipasang
sifatnya sementara,
berlangsung 6 hingga 12
bulan di dalam telinga
hingga infeksi telinga bagian
tengah membaik dan
sampai tuba Eustachi
kembali normal.

3. Terapi pembedahan (operatif) →


faktor predisposisi (+) -
mungkin dibutuhkan
adenoidektomi, tonsilektomi
dan mencuci (membersihkan)
sinus maksillaris
©Bimbel UKDI MANTAP
OTITIS MEDIA AKUT
Komplikasi
Intra-temporal Intra-cranial
complications: complications:
• Mastoiditis • extradural
• Petrositis abscess
• Labyrinthitis • brain abscess
• Facial nerve • subdural abscess
paralysis • sigmoid sinus
thrombophlebitis
• otic
hydrocephalus
• meningitis

BACK
Petrositis

Inflammation of pneumatized
spaces of petrous portion of
temporal bone

Gradenigo Syndrome (Apical


Petrositis)
• Lateral rectus palsy (N.abducens palsy)
• Otorrhea
• Retroorbital, facial pain or headache (Vth
cranial nerve irritation)
Mastoiditis
Inflammation of the mastoid air Abses Mastoid
cells of the temporal bone

Acute mastoiditis
• associated with AOM.

Chronic mastoiditis
• most commonly associated with Chronic
suppurative otitis media (OMSK) and
particularly with cholesteatoma formation

Sign and Symptoms


• Fever, otalgia, pain behind ear, swelling,
redness, ear discharge
Abses Bezold
• Terjadi penjebolan nanah pada ujung
bawah dinding medial mastoid
• Abses didalam
M.Sternocleidomastoideus sehingga
terdorong keluar

Abses Citelli
• Abses terbentuk dibelakang mastoid
sampai ke os occipital

Abses Luc (Meatal)


• Pus menjebol dinding antara antrum
dan meatus acusticus externa
• Pus tampak di CAE
Labyrinthitis
Labyrinthitis is an inflammatory disorder of the inner ear, or labyrinth

Etiology
• Viral
• Prenatal : Rubella, CMV
• Postnatal : Mumps, measles, varicella zooster
• Bacterial
• Potential consequence of meningitis or otitis media. Labyrinthitis is the most common
complication of otitis media, accounting for 32%

Clinical Presentation
• Vertigo
• Hearing loss,
• Otitis media-induced labyrinthitis: mixed hearing loss
• Viral labyrinthitis : SNHL
• Tinnitus
• Fever
• Otalgia
• Facial weakness
BACK
Otitis Media
Efusi
Definisi
• Otitis Media Efusi adalah terdapatnya cairan
di telinga tengah tanpa adanya tanda dan
gejala dari infeksi akut (AAO 2016)

Etiologi
• Infeksi saluran napas atas
• Spontan karena buruknya fungsi tuba (alergi,
barotrauma)
• Sekuel dari OMA
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
Biasanya OMSK akibat campuran
Radang kronis telinga tengah dengan perforasi bakteri aerob dan anaerob:
membrane timpani dan riwayat keluarnya secret
dari telinga (otore) lebih dari 2 bulan, baik terus- Aerobic: Pseudomonas aeruginosa,
Staph. aureus and epidermidis,
menerus atau hilang timbul. proteus species, klebsiella, and E.
coli
Anaerobic:
prevotella and porphyromonas,
anaerobic Streptococci, Bacteroides
Secret mungkin encer atau kental, bening atau fragilis.
berupa nanah
P aeruginosa is the most commonly
recovered organism from the
chronically draining ear. Various
researchers over the past few
decades have recovered
OMSK : OMA + Perforasi memb. tympani > 2 pseudomonads from 48-98% of
bulan patients with CSOM.

BACK
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)

Faktor- faktor yang menyebabkan OMSA menjadi OMSK:


• Terapi terlambat diberikan
• Terapi tidak adekuat
• Virulensi kuman tinggi, infeksi persisten
• Daya tahan tubuh pasien rendah, gizi kurang
• Higiene buruk
• Gangguan fungsi tubuh oleh ISPA, obstruksi parsial/total → retraksi
membrane timpani
• Perforasi membrane telinga persisten
• Aerasi telinga tengah/mastoid yang mengalami obstruksi
• Skuestri atau osteomyelitis
• Alergi
• ISPA dengan sepsis atau obstruksi (adenoid, tonsillitis kronis, sinusitis)
Safe Dangerous/Unsafe
Perforasi Central Attic or marginal
Discharge Frekuensi Intermiten Kontinu
Mukus Mukopurulen/purulen Selalu purulent
Bau tidak enak +/- +
Warna Putih/kekuningan Kekningan/kecoklatan/kehijauan
Berdarah Jarang Bisa ada darah
Volume Banyak Sedikit
Hubungan ↑ Tidak berpengaruh
dengan URTI
Polyp Jarang Sering
Kolesteatoma Sangat jarang Hampir selalu ada
Tuli Konduksi – ringan sampai Konduksi atau mix – Ringan
sedang sampai berat
Complication Sangat jarang Sering
Radiograph mastoid Seluler or sklerotik Sklerotik with erosi

BACK
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
Prinsip Terapi
• OMSK benigna : konservatif atau medikamentosa
– Sekret aktif :
• Aural toilet H2O2 3% selama 3-5 hari.
• Setelah berkurang tetesi antibiotik lokal yang non ototoksik maksimal 2
minggu.
• Berikan pula antibiotik oral golongan penisilin, ampisilin, eritromisin
sebelum hasil tes resistensi diterima
– Sekret tenang:
• Observasi selama 2 bulan
• Bila membran timpani belum menutup, dilakukan miringoplasti atau
timpanoplasti
• OMSK maligna : pembedahan
– Mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti
– Bila terdapat abses subperiosteal retroaurikuler, dilakukan insisi abses
sebelum mastoidektomi
– Terapi medikamentosa hanyalah sementara sebelum pembedahan
(BUKU AJAR THT FK UI)
Timpanosclerosis
Timpanosklerosis merupakan sebuah kelainan proses penyembuhan dimana terjadi
penumpukan jaringan ikat kolagen pada telinga tengah (terutama pada membran timpani).

Penyebab timpanosklerosis dapat berupa proses penyembuhan OMSK atau OME kronis yang
tidak sempurna, komplikasi dari operasi telinga dan pemasangan grommet tube.

Timpanosklerosis juga dapat disertai dengan kalsifikasi pada tulang-tulang


pendengaran → memperburuk penghantaran suara.

Gejala dan tanda klinis

• Penurunan pendengaran konduktif


• Riwayat infeksi telinga berulang, tindakan invasif pada membran timpani, atau trauma telinga
• Membran timpani terlihat berwarna putih, dengan plak sklerotik menyerupai kapur

Terapi
©Bimbel UKDI MANTAP
• Tymphanoplasty dan ossicular reconstruction BACK
Timpanosclerosis

Clinically, myringosclerotic lesions are seen as whitish, sclerotic plaques


(chalk patches) in the tympanic membrane (TM)
Otosclerosis
Otosklerosis merupakan penyakit pada kapsul tulang labirin yang mengalami spongiosis di daerah kaki
stapes sehingga stapes menjadi kaku dan tidak dapat menghantarkan getaran suara ke labirin dengan baik

Terjadi bilateral, perempuan lebih sering, usia 11-45 tahun

Penyebab belum dapat dipastikan, beberapa faktor yang mempengaruhi faktor keturunan dan
gangguan sirkulasi pada stapes

Gejala dan tanda klinis

• Penurunan pendengaran progresif


• Tinnitus dan Vertigo
• Membran timpani kemerahan akibat pelebaran pembuluh darah pada promontorium (Schwarte’s sign)
• Pasien merasa pendengaran lebih baik pada ruang bising (Paracusis Willisi)

Terapi

• Stapedektomi, stapes diganti bahan prostesa


• Pemberian Alat Bantu Dengar (ABD)
©Bimbel UKDI MANTAP BACK
• Suplemen flouride
Otosclerosis
Aerotitis (Barotrauma)
Disebabkan perubahan tekanan telinga tengah menjadi negatif dalam
waktu cepat

Mukosa tuba bersifat one way ball valve

Saat take off → tekanan telinga tengah > lingkungan luar → masih dapat
terkompensasi dengan absorpsi udara oleh mukosa telinga tengah

Saat landing → tekanan telinga tengah < lingkungan luar → Retraksi


membran timpani & resiko hemotympanum dan efusi

Pencegahan:

• Preflight dose of a 12 hour vasoconstricting nasal spray like oxymetazoline


• Oral decongestant
• Gum chewing while landing
BACK
Pemeriksaan Pendengaran
1. Sound resources → receiver Objektif
organ
2. Physical energy conversion • Audiometri Impedans
→ nerve impuls • OAE (Otoacoustic Emission)
3. Nerve impuls → hearing • BERA (Brainstem Evoked
cortex Response Audiometry)
Subjektif
• Tes Bisik
• Tes Garpu Tala
• Audiometri Nada Murni
• Audiometri Nada Tutur

BACK
Tes Pendengaran Objektif
Audiometri Impedans

• Terdiri dari pemeriksaan fungsi 3 komponen :


Timpanometri, Refleks stapedius, Tuba Eustachius

OAE (Otoacoustic Emissions)

• Tes ini mendeteksi getaran yang dihasilkan oleh sel


rambut luar saat distimulus oleh suara
• Sering dipakai untuk screening pendengaran pada bayi
baru lahir

BERA (Brainstem Evoked Response


Audiometry
• Menggunakan elektroda yang dipasang di kepala, tes ini
mendeteksi fungsi koklea dan jalur sensoris di otak
(brain pathway)
• Pasien diperiksa saat sedang tenang atau tidur
• Dapat digunakan juga untuk screening bayi baru lahir
Tes Pendengaran
Pemeriksaan Subjektif
Pendengaran
Suara berbisik, setengah ekspirasi, pemeriksa
Tes Bisik (Whispered mengucapkan materi tes.
Voice Test) Telinga tidak diperiksa ditutup & pasien tidak
melihat bibir pemeriksa (pemeriksa berdiri
sekitar 0.6m dibelakang pasien)
Syarat :
Tes Garputala 1. Ruangan cukup sepi, kebisingan
maksimal 40 dB.
2. Ruangan cukup lebar, jarak 6 meter.
Audiometri Nada 3. Materi tes disiapkan, diusahakan
Murni (Pure tone memakai perkataan
audiometry) yang digunakan sehari-hari.
4. Pemeriksa harus terlatih mengucapkan
materi tes.
Audiometri Nada
Tutur (Speech
audiometry) BACK
Tes Pendengaran
Pemeriksaan Subjektif
Pendengaran
Tes Bisik (Whispered
Voice Test) TES RINNE

Tes Garputala

TES WEBER
Audiometri Nada
Murni (Pure tone
audiometry)

Audiometri Nada TES SCHWABACH


Tutur (Speech
audiometry) BACK
Garpu tala 512 HZ!!!
TES RINNE WEBER SCHWABACH

TUJUAN AC VS BC BC Ka VS Ki BC Px VS Pasn

©Bimbel UKDI MANTAP


Tes Pendengaran
Pemeriksaan Subjektif
Pendengaran
Tes Bisik (Whispered
Voice Test)

Tes Garputala

Audiometri Nada
Murni (Pure tone
audiometry)

Audiometri Nada
Tutur (Speech
audiometry) BACK
Audiogram
• Tinta merah untuk telinga kanan, dan
tinta biru untuk telinga kiri
• Hantaran udara (Air Conduction = AC)
– Kanan = O
– Kiri = X
• Hantaran tulang (Bone Conduction =
BC)
– Kanan = C
– Kiri = ‫כ‬
– Hantaran udara (AC) dihubungkan
dengan garis lurus ( )
dengan menggunakan tinta merah untuk
telinga kanan dan biru untuk telinga kiri
– Hantaran tulang (BC) dihubungkan
dengan garis putus-putus ( - - - - - - - - ) Audiogram Normal (Telinga Kanan) :
dengan menggunakan tinta merah untuk AC dan BC sama atau kurang dari 25 dB
telinga kanan dan biru untuk telinga kiri AC dan BC berimpit, tidak ada air-bone
gap

©Bimbel UKDI MANTAP


Tuli Konduktif Tuli sensori neural
BC normal atau kurang dari 25 dB AC dan BC lebih dari 25 dB
AC lebih dari 25 dB AC dan BC berimpit, tidak ada air-
Antara AC dan BC terdapat air-bone bone gap
gap
Tuli Campur
BC lebih dari 25 dB
AC lebih besar dari BC, terdapat air-
bone gap

Disebut terdapat air-bone gap apabila


antara AC dan BC terdapat perbedaan
lebih atau sama dengan 10 dB,
minimal pada 2 frekuensi yang
berdekatan.
©Bimbel UKDI MANTAP
Tes Pendengaran
Pemeriksaan Subjektif
Pendengaran
Tes Bisik (Whispered
Voice Test)

Tes Garputala • Kata-kata ➔ sumber bunyi


• Kegunaan :
1. Mengetahui jenis & derajat ketulian
Audiometri Nada 2. Mengetahui lokasi kerusakan rantai
pendengaran
Murni (Pure tone 3. Mengetahui kenaikan ambang
audiometry) pendengaran post-timpanoplasti
4. Untuk pemilihan hearing aid
• SRT Speech Reception Threshold → menirukan secara
Audiometri Nada betul kata-kata yang disajikan sebanyak 50%.
• SDS Speech Discrimination Score → Diperoleh dg ↑
Tutur (Speech intensitas antara 25 – 40 dB diatas titik SRT →
audiometry) menirukan jumlah kata disajikan antara 90 – 100%.
BACK
Tuli Sensorineural Koklea
Gejala klinis
• Penurunan pendengaran progresif, simetris
• Tinnitus nada tinggi
• Pasien dapat mendengar suara percakapan tetapi sulit memahaminya, terutama bila diucapkan dengan
latar belakang bising (Cocktail party deafness)
• Bila intensitas ditinggikan akan timbul rasa nyeri di telinga (recruitment)

Diagnosis
• Tes penala didapat tuli sensorineural
• Pemeriksaan audiometri nada murni didapat hasil tuli saraf nada tinggi, bilateral dan simetris
• Pemeriksaan audiometri nada tutur menunjukkan gangguan diskriminasi wicara (speech discrimination)

PRESBIKUSIS NOISE INDUCED HEARING LOSS


•Tuli sensorineural •Akibat pajanan bising yang cukup keras dalam
•Usia > 65 tahun waktu yang cukup lama
•Bilateral •Pemeriksaan audiometri nada murni didapat tuli
•Akibat proses degenerasi sensori neural pada frekuensi 3000-6000 Hz,
terberat pada 4000 Hz

©Bimbel UKDI MANTAP BACK


Presbycusis

• Gradually slopping downward pattern


©Bimbel UKDI MANTAP BACK
Noise Induced Hearing Loss

• “Noise notch” at 4000 Hz


©Bimbel UKDI MANTAP BACK
Ototoxic Drug
Kerusakan yang ditimbulkan Aminoglikosida
• Degenerasi stria vaskularis (Streptomisin, Eritromisin
Terjadi pada hampir semua obat Neomisin, Kanamisin
ototoksik Gentamisin)
• Degenerasi sel epitel sensori pada
organon corti dan labirin Loop Diuretic
vestibular. Pada penggunaan Anti inflamasi
aminoglikosida (Furosemide,
• Degenerasi sel ganglion bumetanide, (Salisilat dan aspirin)
Sekunder akibat degenerasi sel ethycrinic acid)
epitel sensori

Anti Tumor
Anti Malaria
(Cisplatin
(Kina dan Klorokuin)
Karboplatin)

©Bimbel UKDI MANTAP BACK


NOSE
Rhinitis Alergi
• Rhinitis alergi adalah kelainan
pada hidung dengan gejala
bersin-bersin, rinorea, rasa gatal
dan tersumbat setelah mukosa
hidung terpapar alergen yang
diperantai oleh IgE. (WHO ARIA
tahun 2007)

BACK
Etiologi Rhinitis Alergi
Rhinitis alergi merupakan reaksi alergi hipersensitivitas tipe 1 yang
terjadi akibat paparan alergen. Berdasarkan cara masuknya alergen
dibagi atas:

Alergen • masuk bersama dengan udara pernapasan


• misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel, dan bulu
inhalan binatang serta jamur.

Alergen
• masuk ke saluran cerna berupa makanan seperti susu,
ingestan telur, coklat, ikan, udang.

Alergen • masuk melalui suntikan atau tusukan


injektan

Alergen • masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa, misal


bahan kosmetik atau perhiasan
kontaktan ©Bimbel UKDI MANTAP
How to diagnose?
Pemeriksaan Pemeriksaan
Anamnesis
Fisik Penunjang

• Serangan bersin
berulang
• Keluar ingus
(rhinorrhea) encer
dan banyak
• Hidung tersumbat
• Hidung dan mata
yg gatal
• Kadang2 disertai
dengan lakrimasi
• Riwayat alergi
BACK
Pemeriksaan Pemeriksaan
Anamnesis
Fisik Penunjang
• Rhinoskopi anterior: mukosa edem, basah, livid, sekret encer yang banyak

Cobblestone
Allergic Shiner Appearance Allergic Salute

Geographic Allergic Crease


Facies adenoid
tongue
BACK
Medikamentosa
1. H1-antagonist, • - Cetirizine 10mg, 1x1
generasi 2: • - Loratadine 10mg, 1x1

• Nasal: Phenylephrine 0,5% 4x2 tetes/hari (max 3-4 hari)


2. Decongestant • Sistemik: Pseudoepehdrine 60mg, 2x1

• - Fluticasone spray
3. Steroid • - Mometasone spray

4. Leukotriene • - Zafirlukast
inhibitor
BACK
Rhinitis non alergi
Rhinitis gustatory Rhinitis hormonal Rhinitis Medikamentosa

• Rhinitis terkait makanan. • Penyebabnya meliputi • Rinitis karena obat dapat


Minuman beralkohol dapat hypotiroid (myxedema), karena pemakaian obat
menyebabkan rinitis karena naiknya hormon esterogen sistemik dan topikal.
efek langsung dilatasi pada kehamilan, pemakaian • Pemakaian obat sistemik yang
pembuluh darah hidung. kontrasepsi oral dan siklus paling sering adalah obat
Makanan yang pedas dapat menstruasi. antihipertensi seperti reserpin
mengakibatkan rinore profus • Estrogen terbukti metildopa, beta bloker, ACE-I.
melalui mekanisme vagal. meningkatkan asam • Obat-obat topikal adalah
hyaluronat yg membuat cocain, nasal dekongestan.
edema dan nasal congestion

Non-allergic rhinitis with


Rhinitis vasomotor (idiopathic) Rhinitis Atrophy
eosinophilia (NARES)
• Keluhan utama pasien hidung • Secara klinis sangat serupa • Rinitis atropi atau rinitis sicca
tersumbat, bergantian kiri dan dengan Rinitis alergi. ditandai adanya atropi mukosa
kanan tergantung posisi tidur • Gejalanya berupa rinore yang septum, konka, dinding lateral
pasien. Pada pagi hari saat kronik, hidung gatal dan bersin. rongga hidung.
bangun tidur, kondisi memburuk • Pada pemeriksaan swab • Rinitis atropi dg ozaena ditandai
karena adanya perubahan suhu mukosa hidung banyak eosinofil. adanya krusta yg tebal berbau.
yang ekstrem, udara yang Tes alergi hasilnya negatif. Yang tanpa ozaena akan tampak
lembab, dan karena adanya asap mukosa atropi dfan kering
• Penyebabnya diduga
rokok.
berhubungan dengan intoleransi
• Dibagi menjadi tipe runner, aspirin.
sneezer, dan blocker
Rhinosinusitis

• Sinus paranasal adalah ruang berisi udara di dalam cranium


yang terhubung dengan cavitas nasal.
• Rinosinusitis adalah peradangan simtomatis mukosa sinus
paranasal & mukosa hidung (Clinical Practice Guideline Adult
Sinusitis AAO 2015)

BACK
S. Pneumonia
(30-50%), H.
Akut ≤4 minggu Influenzae
(20-40%), M.
Catarrhalis
Subakut 4-12 minggu
S. Aureus
(40%), P.
Aeruginosa
(10-25%), K.
Rhinosinusitis Kronis ≥12 minggu Pneumoniae,
P. Mirabilis,

≥4x/tahun, setiap episode ≥7-10 hari,


Rekuren
ada periode sembuh sempurna

Kronik
Perburukan RSK, namun kembali ke
eksaserbasi
baseline setelah terapi
akut ©Bimbel UKDI MANTAP
Patofisiologi
ostium KOM
tersumbat dan
Edema tekanan negatif
cilia tidak dapat
bergerak

RSA non transudasi


bisa self-limiting
bakterial serosa

pertumbuhan
Bila menetap RSA bakterial terapi antibiotik tidak berhasil
bakteri

Gangguan
hipertrofi, inflamasi,
patensi ostium-
polipoid, atau mukosa makin hipoksia, bakteri
ostium sinus dan
pembentukan bengkak anaerob, faktor
mucociliary
polip dan kista predisposisi
clearance
BACK
Acute Rhinosinusitis
• Rinosinusitis akut ditegakan jika terdapat sekret nasal purulen
yang disertai dengan obstruksi nasal, gejala nyeri/sensasi penuh
pada wajah atau keduanya dalam kurun waktu 4 minggu

BACK
Chronic Rhinosinusitis
• Dalam jangka waktu 12 minggu atau lebih terdapat 2 atau lebih
tanda berikut
– Discharge nasal purulen
– Obstruksi nasal
– Nyeri atau sensasi penuh di wajah
– Menurunnya fungsi penghidu
• DAN terdapat minimal satu dokumentasi tanda inflamasi dari
pemeriksaan
– Mucus purulen atau edema pada meatus media/regio ethmoid
anterior
– Polip di cavum nasi atau meatus media
– Gambaran radiologis yang menunjukkan inflamasi dari sinus paranasal
• - CT scan: mucosal thickening, bone changes, air-fluid levels
• - Plain sinus Xray: air-fluid levels atau >5 mm opasifikasi pada ≥ 1 sinus

BACK
Treatment

©Bimbel UKDI MANTAP


©Bimbel UKDI MANTAP
Epistaksis
Epistaksis anterior Epistaksis posterior
• Perdarahan dari arteri • Perdarahan dimulai dari
eithmoidalis anterior atau arteri ethmoidalis posterior
pleksus kisselbach
atau arteri sphenopalatina
• Biasanya diawali oleh trauma
atau infeksi • Mempengaruhi pasien
• Penanganan awal berupa dengan hipertensi atau
penekanan digital selama 10- arteriosklerosis
15 menit. Jika perdarahan
terlihat dapat dikauter
• Terapi: aplikasi tampon
• Jika masih berdarah dapat
belloq/posterior selama 2-3
ditampon anterior 2x24 jam hari.

©Bimbel UKDI MANTAP


Buku ajar ilmu THTK&L FKUI edisi keenam
©Bimbel UKDI MANTAP
©Bimbel UKDI MANTAP
Polip Hidung
Massa lunak dan berwarna putih/ keabu-abuan
yang terdapat pada rongga hidung. Bertangkai
dengan permukaan licin.

Epidemiologi
• Biasanya timbul di dewasa usia >20 thn dan lebih sering di usia
> 40 thn
• menyerang pria 2-3 kali lebih besar dibandingkan dengan
wanita

Berasal dari kompleks ostio-meatal di meatus media


dan sinus ethmoid

Polip koana
• tumbuh kearah belakang dan membesar di nasofaring
• Berasal dari sinus maxillaris
• Disebut juga polip antro-koana
©Bimbel UKDI MANTAP BACK
Etiologi Polip Hidung
Inflamasi kronik : Sinusitis Kronis, Rhinitis allergi,
Asma

Fibrosis Kistik

Predisposisi genetik

Disfungsi saraf autonom

Intoleransi alkohol “Chronic inflammation causes a


reactive hyperplasia of the
intranasal mucosal membrane,
Intoleransi aspirin which results in the formation of
polyps.
The precise mechanism of polyp
Edema → Peningkatan tekanan cairan interstitial
sehingga timbul edema mukosa hidung
formation is incompletely
©Bimbel UKDI MANTAP
understood.” BACK
-
Polip Hidung
Anamnesis Pemeriksaan Fisik
– Gejala Utama • Rhinoskopi anterior → massa berwarna pucat,
berasal dari meatus medius dan mudah
• Hidung tersumbat digerakkan
• Rinore (dari jernih sampai Stadium polip(Mackay dan Lund ;1997)
purulen)
• Stadium 1→ polip masih terbatas di meatus
• Hiposmia / Anosmia medius
• Nyeri pada hidung • Stadium 2 → polip sudah keluar dari meatus
• Sakit kepala medius, tampak di rongga hidung tapi belum
memenuhi rongga hidung
– Gejala Sekunder • Stadium 3 → polip yang masif
• Bernafas melalui mulut Pemeriksaan Penunjang
• Suara sengau • Naso-Endoskopi
• Halitosis • Foto polos SPN (posisi Waters, AP, Caldwell dan
• Gangguan tidur lateral)
• CT Scan SPN
• Penurunan kualitas hidup
©Bimbel UKDI MANTAP BACK
Tatalaksana Polip Hidung

• Medikamentosa • Operasi
– Kortikosteroid – Indikasi: anak dengan multipel ,
benign polip nasi atau
• Intranasal rather than oral rhinosinustitis kronis yang
corticosteroids should be tidak membaik dengan terapi
medis maximum
used as first-line treatment.
Multiple randomized trials – Polipektomi
have found that fluticasone • Etmoidektomi
(200 mcg bid), budesonide intranasal/ekstranasal → polip
etmoid
(200 mcg twice daily), and
• Operasi Caldwell-Luc → sinus
mometasone (280 mcg maxilla
daily) are superior – ESS (Endoscopic sinus surgery)
• Melebarkan celah di meatus
– Antileukotriene media → rekurensi berkurang
– Antiallergi
– Daily lavage of the sinuses
©Bimbel UKDI MANTAP BACK
Nasal Foreign Bodies
• Intranasal foreign
bodies (FBs) occur
most commonly in
young children and
consist of a variety
of inorganic and
organic objects.

©Bimbel UKDI MANTAP


Nasal Foreign Bodies
CLINICAL MANIFESTATIONS
• History of nasal FB insertion
without symptoms (71 to 88
percent)
• Unilateral mucopurulent nasal
discharge (17 to 24 percent)
• Foul odor (9 percent)
• Epistaxis (3 to 6 percent)
• Nasal obstruction (1 to 3
percent)
• Mouth breathing (2 percent)

©Bimbel UKDI MANTAP


THROAT
TONSILITIS
peradangan tonsil palatina yang merupakan
bagian dari cincin waldeyer

Cincin waldeyer:

• tonsil pharyngeal (adenoid)


• tonsil palatina (faucial)
• tonsil lingual (tonsil pangkal lidah) dan
• tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding
faring/Gerlach’s tonsil)

Rute penyebaran infeksi: airborne droplets,


kontak langsung

Dapat terjadi pada semua umur, terutama


pada anak ©Bimbel UKDI MANTAP
• penularan mikroorganisme melalui droplet →
menginfiltrasi lapisan epitel jaringan tonsil →
Tonsilitis epitel terkikis → reaksi dari jaringan limfoid
superfisial → reaksi radang berupa keluarnya
leukosit polimorfonuklear → terbentuk detritus
akut (kumpulan leukosit, bakteri yang mati, dan epitel
yang terlepas) → mengisi kriptus tonsil dan
tampak sebagai bercak kuning

• Jika proses radang ini berulang → epitel mukosa

Tonsilitis dan jaringan limfoid akan terkikis → jaringan


parut→ pengerutan sehingga kripta tertarik dan
melebar → drainase kripta menjadi kurang baik →

kronis retensi debris sel → menembus kapsul tonsi →


perlekatan dengan jaringan di sekitar fossa
tonsilaris.

©Bimbel UKDI MANTAP


Tonsilitis Viral

Gejala yang tampak seperti common cold + nyeri tenggorok

Demam, nyeri menelan, sakit tenggorokan, oropharynx hiperemis,


biasanya tanpa eksudat

1. Coxsackie virus result in herpangina, which presents as


ulcerative vesicles over the tonsils, posterior pharynx, and palate
2. Consider infectious mononucleosis due to EBV in an
adolescent or younger child with acute tonsillitis, particularly
when it is accompanied by tender cervical, axillary, and/or
inguinal nodes; splenomegaly; severe lethargy and malaise; and
low-grade fever. A gray membrane may cover tonsils that are
inflamed from an EBV infection. This membrane can be removed
without bleeding.
©Bimbel UKDI MANTAP
Tonsilitis Fungal

Oropharyngeal candidiasis
(thrush) often presents in
• immunocompromised patients or
• in patients who have undergone
prolonged treatment with antibiotics.

On exam:
• White cottage-cheese-like plaques over
the pharyngeal mucosa
• Plaques bleed if removed with a tongue
depressor
©Bimbel UKDI MANTAP BACK
Tonsilitis Bacterial
1. GABHS
– most common and important pathogen
causing acute bacterial pharyngotonsillitis.
– most commonly presents in children aged 5–6
– characterized by fever, dry sore throat, Strawberry tongue
cervical adenopathy, dysphagia, otalgia
(referred pain from n.IX) and odynophagia.
The tonsils and pharyngeal mucosa are
erythematous and may be covered with
purulent exudate; the tongue may also
become red ("strawberry tongue"). Tonsilitis folikularis
– Bentuk detritus:
• Jelas → tonsilitis folikularis
• Bercak detritus menjadi satu, membentuk
alur → tonsilitis lakunaris
• Melebar membentuk pseudomembrane
Tonsilitis lakunaris BACK
Patients with all four
of the classic
symptoms of Group
A Streptococcal
pharyngitis:

1. pharyngeal or
tonsillar exudate
2. swollen anterior
cervical nodes
3. a history of a fever
greater than 38°C
4. absence of cough
➔ a 44% chance
that they will not
have Group A
Streptococcal
pharyngitis. Modified Centor score and management options using clinical decision rule. Other factors
should be considered (e.g., a score of 1, but recent family contact with documented
streptococcal infection).
©Bimbel UKDI MANTAP (GABHS = group A beta-hemolytic streptococcus; RADT = rapid
antigen detection testing.)
2. Tonsillitis Difteri • Terapi
• Disebabkan oleh bakteri gram positif ✓ Anti difteri serum 20.000-
100.000 unit
Corynebacterium diphteriae.
✓ Antibiotik Penicillin atau
• Gejala: kenaikan suhu subfebris, nyeri kepala, Eritromisin 25-50 mg/kg dibagi 3
tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat dosis selama 14 hari
serta keluhan nyeri menelan. ✓ Kortikosteroid 1,2 mg/kgbb/ hari
• Pemeriksaan fisik: Tonsil membengkak ✓ Pengobatan simptomatis
(antipiretik)
ditutupi bercak putih kotor yang melekat erat
✓ Isolasi dan tirah baring selama 2-
dengan dasarnya, mudah berdarah, infeksi 3 minggu
yang menjalar ke kelenjar limfe bull neck (+)

©Bimbel UKDI MANTAP


Tonsilitis Kronis
• Defined by persistent sore throat,
anorexia, dysphagia, and
pharyngotonsillar erythema.

• It is also characterized by the


presence of malodorous tonsillar
concretions and the enlargement of
jugulodigastric lymph nodes.

• The organisms involved are usually Pada tonsilitis kronis, permukaan


both aerobic and anaerobic mixed tonsil tampak tidak rata, tampak
pelebaran kripta, dan beberapa
flora, with a predominance of
kripta dapat terisi oleh detritus.
streptococci.
©Bimbel UKDI MANTAP
Grading
Grading disusun berdasarkan rasio tonsil terhadap jarak antar arcus palatoglosus.
Grading pembesaran tonsil adalah:

©Bimbel UKDI MANTAP


Tonsillectomy Indications
Absolute Relative
• Enlarged tonsils that cause upper airway • Seven or more tonsil infections per year, five
obstruction, severe dysphagia, sleep or more per two consecutive years, three or
disorders, or cardiopulmonary complications more per three consecutive years despite
• Peritonsillar abscess that is unresponsive to adequate medical therapy
medical management and drainage
documented by surgeon, unless surgery is • Persistent foul taste or breath due to chronic
performed during acute stage tonsillitis that is not responsive to medical
• Tonsillitis resulting in febrile convulsions therapy
• Tonsils requiring biopsy to define tissue • Chronic or recurrent tonsillitis in a
pathology streptococcal carrier not responding to beta-
lactamase-resistant antibiotics
• Unilateral tonsil hypertrophy that is
presumed to be neoplastic

Tonsillectomy Contraindications
• Bleeding diathesis
• Poor anesthetic risk or uncontrolled medical illness
• Anemia
• Acute infection
ABSES PERITONSILER / ABSES QUINSY
Kumpulan pus di belakang tonsil palatina.
SIMPTOM SIGN
Demam Palatum molle
edematous, hiperemis;
deviasi uvula ke sisi
kontralateral;
pembesaran tonsil
Malaise Trismus
Nyeri tengorokan (lebih Drooling
pada satu sisi)
Dysphagia Hot potato voice
Otalgia (ipsilateral Halitosis
Cervical lymphadenitis
DIAGNOSIS
• Dibuat melalui anamnesis dan
pemeriksaan fisik

PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Aspirasi dengan jarum – pus
Pasien dengan PTA dextra
mengkonfirmasi diagnosis Tonsil displaced ke inferior dan
• Intraoral USG – cellulitis VS abses medial + deviasi kontralateral uvula
(Gallioto, 2008)
(Steyer, 2002)
• Suspek penyebaran infeksi selain
peritonsiler / komplikasi leher
lateral = CT/MRI diindikasi
TATALAKSANA ABSES PERITONSIL

Supportive (hydration
Drainage Antibiotics
dan kontrol nyeri)

• Pilihan Antibiotik

©Bimbel UKDI MANTAP


FARINGITIS
Etiologi Tatalaksana Clinical Manifestation
Viral (Rhinoviruses, Istirahat, minum cukup, • Pain in throat
Influenza, Parainfluenza,, kumur dengan air hangat, • Dysphagia
Coxsackie virus, Herpes analgetik jika perlu. • Headache
simplex etc) • Malaise
Streptococcal pharyngitis Penicilin G, Erythromycin • High fever
(Group A, Beta • Pharynx shows erythema, exudate
Haemolyticus)
Diphtheria Diphtheria antitoxin dan
penicillin/erythromycin
Gonococcal pharyngitis Conventional dose of
penicillin or tetracycline
Candida infection Nystatin

Chlamydia trachomatis Erythromycin or Culture of throat swab


• Diagnosis of bacterial pharyngitis
infection Sulphonamides
• Can detect 90% of Group A Streptococci

**Failure to get any bacterial growth


©Bimbel UKDI MANTAP suggests a viral aetiology
Faringitis Kronis
ETIOLOGY • Pathologically:
Persistent Ch. Rhinitis , Ch. Sinusitis, Hypertrophy of mucosa, seromucinous
infection in the Ch.Tonsillitis & Dental sepsis glands, subepithelial lymphoid follicles and
neighbourhood
muscular coat of pharynx
Faulty voice Excessive use of voice or faulty
production voice production where a person
resorts to constant throat • Symptoms :
clearing ✓ Discomfort or pain in the throat
Environmental Smoky or dusty environment or ✓ especially in the morning
pollution irritant industrial fumes ✓ Foreign body sensation in throat
has constant desire to swallow or clear his
Chronic irritants Excessive smoking, chewing throat to get rid of ‘foreign body’
tobacco, heavy drinking, highly ✓ Tiredness of voice
spiced food cannot speak for long, voice lose quality
Mouth breathing and may crack
✓ Cough
tendency to cough as throat is irritable

Chronic Catarrhal Chronic Hypertrophic
Pharyngitis (Granular) Pharyngitis
• Congestion of posterior • Pharyngeal wall
pharyngeal wall appears thick and
oedematous with
• Engorgement of vessels congested mucosa and
dilated vessels
• Thickened faucial pillars
• Post pharyngeal wall Chronic catarrhal pharyngitis
• Increased mucus may be studded with
secretion which cover reddish nodules
pharyngeal mucosa
• Lateral pharyngeal
bands became
hypertrophied

• Uvula may be
elongated and appears
oedematous Chronic Granular pharyngitis
Reddish nodules on the
posterior pharyngeal wall
ANGINA LUDWIG
• Infeksi ruang submandibula Gejala:
• Ditandai dengan pembengkakan • Demam
(edema) pada bagian bawah • Nyeri tenggorokan
ruang submandibular yang • Pembengkakan
mencakup jaringan yang • Drooling
menutupi otot2 antara laring dan • Trismus
dasar mulut. • Terjadi secara bilateral

• Peradangan → kekerasan
berlebihan jar. dasar mulut →
mendorong lidah ke atas dan
belakang → obstruksi jalan napas
• Penyebab:
– Infeksi gigi molar, premolar
– Tindik lidah → peradangan
kelenjar limfe servikal
LARYNGOPHARYNGEAL REFLUX (LPR)
Laryngopharyngeal reflux (LPR) is the retrograde Clinical
movement of gastric contents (acid and enzymes such as
pepsin) into the laryngopharynx leading to symptoms Manifestation
referable to the larynx/hypopharynx
• Dysphonia or
hoarseness
GERD involves lower esophageal sphincter dysfunction
• Cough
LPR involves both upper and lower esophageal sphincter • Globus
dysfunction • Throat clearing
• Dysphagia
Until recently, LPR often considered to be under-
diagnosed/under-treated

Koufman (1991, 2000) reports


• LPR present in 4-10% of attendees of otolaryngology clinic (Koufman, 1991)
• LPR present in 55% of patients with hoarseness (Koufman, 2000)
GERD vs LPR
GERD LPR

Heartburn and/or regurgitation YES NO (minimal)

Hoarseness, dysphagia, globus, throat clearing, NO YES


cough etc

Endoscopic esophagitis YES NO

Laryngeal inflammation NO YES

Reflux on supine (nocturnal) YES Sometimes

Reflux on upright (awake) Sometimes YES


REFLUX SYMPTOM INDEX (RSI)

A score > 13 indicates LPR

REFLUX FINDING SCORE(RFS)

A score > 7 indicates LPR


Clinical Management LPR
LARYNGITIS
Inflammation of the larynx Sign and Symptoms
• An unnatural change of voice is usually the
Causes: most prominent symptom.
• Most commonly due to to a viral infection (viral • Volume is typically greatly decreased
laryngitis). (sometimes aphonia)
• Coughing-induced laryngitis may also occur in • Hoarseness
bronchitis, pneumonia, influenza, pertussis,
• A sensation of tickling, rawness, and a constant
measles, and diphtheria.
urge to clear the throat may occur.
• Excessive use of the voice (especially with loud
speaking or singing) • Symptoms vary with the severity of the
• Allergic reactions inflammation.
• Gastroesophageal reflux • Fever, malaise, dysphagia, and throat pain may
• Bulimia occur in more severe infections.
• Inhalation of irritating substances (eg, cigarette • Laryngeal edema, although rare, may cause
smoke or certain aerosolized drugs) can cause stridor and dyspnea.
acute or chronic laryngitis.
• Drugs can induce laryngeal edema, for example,
as a side effect of ACE inhibitors.
• Bacterial laryngitis is extremely rare. ©Bimbel UKDI MANTAP
Diagnosis Treatment

• Clinical evaluation • Symptomatic treatment (eg, cough


• Sometimes direct or indirect laryngoscopy suppressants, voice rest, steam
• Diagnosis is based on symptoms. inhalations)
• Indirect or direct flexible laryngoscopy is • No specific treatment is available for viral
recommended for symptoms laryngitis.
persisting > 3 wk • Cough suppressants, voice rest, and steam
• Findings include mild to marked inhalations relieve symptoms and
erythema of the mucous membrane, promote resolution of acute laryngitis.
which may also be edematous. • Smoking cessation and treatment of acute
• With reflux, there is swelling of the or chronic bronchitis may relieve
inner lining of the larynx and redness of laryngitis.
the vocal cords that extends above and • Depending on the presumed cause,
below the edges of the back part of the specific treatments to control
cords. If a pseudomembrane is present, gastroesophageal reflux, bulimia, or drug-
diphtheria is suspected. induced laryngitis may be beneficial.

©Bimbel UKDI MANTAP BACK


LARINGOMALASIA
Laringomalasia adalah kelainan kongenital dimana kartilago epiglotis lemah

Kelemahan epiglotis akan menyebabkan penyumbatan saluran pernafasan→ nafas


berbunyi/stridor terutama saat berbaring, no feeding intolerance, biasanya remisi
usia 2 tahun

Pada pemeriksaan dapat terlihat laring berbentuk omega

Bila sumbatan semakin hebat maka dapat dilakukan intubasi

©Bimbel UKDI MANTAP BACK


EPIGLOTITIS AKUT
Akibat Hib (Haemophilus influenzae type B)

Onset rapid, sorethroat,


odynophagia/dysphagia, muffled voice/hot
potato voice, adanya preceeding ISPA

Tripod position, drolling, stridor (late finding),


cervical adenopathy

X ray : thumb sign

©Bimbel UKDI MANTAP


NODUL PITA SUARA / VOCAL NODULE
Kelainan ini biasanya disebabkan oleh penggunaan suara
dalam waktu lama (seorang guru, penyanyi dll)

Keluhan: suara parau, batuk.

Pemeriksaan fisik: nodul pita suara, sebesar kacang hijau


berwarna keputihan. Predileksi di sepertiga anterior pita
suara dan sepertiga medial. Nodul biasanya bilateral.

Pengobatan:
• Istirahat bicara dan voice therapy.
• Bedah mikro - dilakukan bila dicurigai adanya keganasan atau
lesi fibrotik

©Bimbel UKDI MANTAP


Massa lain pada pita suara

Polip pita suara Keganasan Kista pita suara Granuloma pita Papilloma laring
• lesi bertangkai laring • kista retensi suara • Akibat infeksi
pada 1/3 Keganasan pada kelenjar • Akibat iritasi virus HPV
anterior, daerah laring, minor laring, pada laring subtipe 6 dan
sepertiga faktor risiko terbentuk (vocal abuse, 11.
tengah atau berupa perokok, akibat reflux disease, • Pertumbuhan
seluruh pita peminum tersumbatnya intubasi). massa
suara. alkohol dan kelenjar • Predileksi raspberry like.
•Pasien biasa terpajan sinar tersebut pada • Terjadi pada
mengeluhkan radioaktif. • Faktor risiko: posterior plica epitel plica
suara parau. iritasi kronis, vocalis. vocalis.
GERD dan • Lebih besar
infeksi. dari nodul.
ACHALASIA

ACHALASIA CAUSE
• In achalasia, nerve cells in the esophagus
degenerate for reasons that are not known.
The loss of nerve cells in the esophagus
causes two major problems that interfere SYMPTOMS
with swallowing • The most common symptom of achalasia is
1.The muscles that line the esophagus do not difficulty swallowing.
contract normally • Patients experience the sensation that
2.The lower esophageal sphincter (LES) fails swallowed material, both solids and liquids,
gets stuck in the chest.
to relax normally with swallowing. Instead,
the LES muscle continues to squeeze the • This problem often begins slowly and
progresses gradually.
end of the esophagus
• Other symptoms can include chest pain,
• Over time, the esophagus above the regurgitation of swallowed food and liquid,
persistently contracted LES dilates, and heartburn, difficulty burping, a sensation of
large volumes of food and saliva can fullness or a lump in the throat, hiccups, and
accumulate in the dilated esophagus. ©Bimbel UKDI MANTAP
weight loss
PEMERIKSAAN PENUNJANG TREATMENT
• Esophageal manometry (aka esophageal • The approach to treatment is to reduce the
motility study) measures changes in pressures pressure at the lower esophageal sphincter.
within the esophagus that are caused by the Therapy may involve:
contraction of the esophageal muscles. • Injection with botulinum toxin (Botox). This may
• The test typically reveals three abnormalities help relax the sphincter muscles, but any benefit
wears off within a matter of weeks or months.
in people with achalasia:
• Medications, such as long-acting nitrates
✓high pressure in the LES at rest,
or calcium channel blockers, which can be used
✓failure of the LES to relax after swallowing, to relax the lower esophagus sphincter
and • Surgery (called an esophagomyotomy), which
✓an absence of useful (peristaltic) may be needed to decrease the pressure in the
contractions in the lower esophagus lower sphincter
• X ray : Bird beak sign or Rat tail Sign • Widening (dilation) of the esophagus at the
location of the narrowing (pneumatic balloon
dilatation)

X-ray:
©Bimbel UKDI MANTAP
Bird beak sign or Rat tail Sign
MALIGNANCY IN ENT
Nasopharyngeal Carcinoma (NPC)
Physical Exam. Treatment
Symptoms : Neck Mass : metastasis limfonodi inferior Radiotherapy,
Nose Symptoms : Epistaksis, nose angulus mandibula dan jugularis superior chemoradiation,
obstruction surgery.
Ear Symptoms : Tinnitus, otalgia,
CHL
Others : Headache, cranial nerve
paralysis, diplopia, neuralgia
trigeminal, lump in neck

Risk factors : sex (men >>


women), race, age (>> 30-50),
EBV infection, family history,
history of smoking, preservative
food
Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma
History Physical Exam. Treatment

Male, young adult, with Anterior rhinoscopy: red shiny/bluish Surgery


recurrent epistaxis. mass. No lymph nodes enlargement.

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


©Bimbel UKDI MANTAP
TERIMA KASIH
BACK