Anda di halaman 1dari 12

KARAKTERISTIK SASTRA ANAK

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata Kuliah Kajian Bahasa
Indonesia dengan dosen pengampu Anni Malihatul Hawa, M.Pd

Disusun Oleh:

1. Edwin Diki A. (130117A006)


2. Ega Meisa E.P (130117A007)
3. Sonia Lestari (130117A012)
4. Sulistiya Tri Ningsih (130117A013)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

TAHUN 2018

1
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadiran Allah


SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayahnya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini tidak akan terlaksana sesuai dengan harapan kami,
tanpa adanya pengarahan, bimbingan serta bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih yang
sebanyak banyaknya .
Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi adik-
adik maupun kakak-kakak semua. Kami menyadari bahwa makalah
ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang
sifatnya membangun sangat kami harapkan dari membaca karya tulis
ini demi kesempurnaan makalah ini.

Wassalamu`alaikum Wr Wb

Ungaran, 14 Mei 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................... i

KATA PENGANTAR ......................................................................... ii

DAFTAR ISI ........................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................... 1

A. Latar Belakang .............................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ..................................................................... 3

Karakteristik sastra anak ................................................................. 3

BAB III PENUTUP ............................................................................. 8

A. Kesimpulan ................................................................................... 8
B. Saran ............................................................................................. 8

DAFTAR ISI ........................................................................................ 9

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa seorang anak baik anak usia dini maupun anak sekolah
dasar merupakan masa yang paling penting berkaitan dengan
pertumbuhan dan perkembangan diri mereka dalam berbagai aspek, pada
masa ini juga sebuah dasar pembentuk karakter dan kepribadian mulai
dibangun. Karena itu, sangat penting untuk mempertimbangkan aspek-
aspek yang akan digunakan sebagai media pembelajaran mereka. Anak-
anak adalah peniru dan penyerap ilmu pengetahuan yang andal, karena
itu kita harus berusaha menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai yang
positif pada mereka.
Pembelajaran sastra pada anak-anak penting dilakukan karena
pada usia ini anak mudah menerima karya satra, terlepas itu masuk akal
atau tidak. Oleh karena itu anak-anak mudah untuk menerima nilai-nilai
kemanusiaan, adat istiadat, agama, dan juga kebudayaan yang
terkandung dalam karya sastra. Sastra juga mampu merangsang anak-
anak berbuat sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, adat istiadat agama
dan budaya. Selain itu anak-anak akan lebih peka terhadap lingkungan
karena dalam dirinya tertanam nilai-nilai kemanusiaan. Melalui karya
sastra anak-anak sejak dini bisa melakukan olah rasa, olah batin, dan olah
budi sehingga secara tidak langsung anak-anak memiliki perilaku dan
kebiasaan untuk membedakan sesuatu yang dianggap baik ataupun buruk
melalui proses apresiasi dan berkreasi dengan karya sastra.
Selain membentuk perilaku positif, pembelajaran sastra juga
mendidik anak untuk selalu berpikir kreatif untuk menciptakan hal-hal
baru. Pada umumnya anak mempunyai daya imajinasi yang tinggi.
Biasanya, dalam pembelajaran sastra pada anak-anak, mereka akan
diminta untuk membuat cerita atau puisi. Dari situlah sifat kreatif mereka
akan muncul. Karena dalam pembuatan cerita atau puisi anak akan mulai

1
berimajinasi. Mula-mula dari imajinasi, selanjutnya anak akan mulai
mempraktekkan imajinasinya. Dari imajinasi tersebut muncullah karya-
karya baru dari anak tersebut.
Tak dipungkiri bahwa saat ini berbagai media seperti televisi atau
internet pun dapat menjadi sarana bagi anak-anak untuk mencari
pengetahuan. Sayangnya, anak-anak yang terlanjur mengenal media
televisi atau gadget, cenderung lebih malas untuk membaca. Sehingga hal
ini akan berimplikasi pada saat anak-anak telah besar dan dewasa nanti,
mereka juga akan sulit untuk dapat akrab dengan buku bacaan. Karena
itu, sangat dianjurkan untuk mulai mengenalkan pengetahuan melalui
karya sastra sejak kecil.
Untuk dapat memahami dan mempelajari sastra anak secara
mendalam, perlu kita ketahui terlebih dahulu hakikat sastra anak itu
sendiri, apa manfaat, dan juga konstribusi sastra anak bagi seorang anak.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dalam makalah
ini dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa Karakteristik sastra anak bagi anak?

C. Tujuan
Berdasarkan beberapa rumusan masalah yang telah dirumuskan di
atas, maka tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk Mengetahui Karakteristik sastra anak bagi anak

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Karakteristik Sastra Anak

Karakteristik atau ciri-ciri sastra anak dapat dilihat dari beberapa


segi, setidaknya dari dua segi, yaitu :

1. Segi kebahasaan
a. Struktur kalimat
Cerita anak biasanya menggunakan kalimat
sederhana, dapat berupa kalimat tunggal, kalimat berita,
kalimat tanya, atau kaliamt perintah sederhana. Dalam sastra
anak lebih banyak dijumpai kalimat tunggal daripada kalimat
majemuk yang dapat berupa kalimat aktif maupun pasif,
negatif atau positif, serta kalimat dengan susunan beruntun
atau inversi.
b. Pilihan kata
Satra anak pada umumnya menggunakan kata-kata
ynag sudah dikenal oleh anak-anak dalam kehidupan sehari-
harinya, Kata-kata konkret lebih banyak digunkan daripada
kata abstrak. Istilah khusus dalam bidang ilmu tertentu juga
tidak banyak/ jarang digunakan.
c. Gaya bahasa atau majas
Sedikit sekali digunakan majas, hal ini berkaitan
dengan ciri pilihan kata yang telah dijelaskan sebelumnya
bahwa sastra anak lebih banyak mengunakan kata-kata
konkret. Kalaupun digunakan majas, majas yang digunakan
adalah majas yang sudah dikenal oleh anak. Misal
penggunaan majas personifikasi dalam certita tentang
binatang yang dapat berperilaku seperi manusia.

3
2. Segi kesastraan

Dapat dilihat dari unsur instrinsiknya, terutama pada


karya fiksi. Dalam hal ini ciri itu dilihat dari unsur intrisik
utama karya sastra, yaitu:

a. Alur cerita

Alur adalah rangkaian peristiwa yang disusun


secara kronologis menurut hukum kausalitas (sebab-
akibat). Cerita anak biasanya memiliki alur yang
sederhana dan berbentuk linear. Artinya pada cerita itu
hanya ada satu alur utama yang tidak bercabang dan alur
yang digunakan biasanya berupa alur maju atau linear.

b. Karakter/ tokoh cerita


Dilihat dari individunya, tokoh cerita anak dapat
berupa manusia, binatang, atau tanaman, bahkan benda
lain seperti peralatan rumah tangga. Apabila tokoh cerita
berupa manusia, biasanya yang menjadi tokoh utama
adalah anak-anak.
Dilihat dari kompleksitas karakter, cerita anak-
anak biasanya berisi tokoh yang berwatak datar. Watak
tokoh cerita itu dapat dikenali dengan jelas apakah itu
tokoh baik atau tokoh jahat. Pada cerita anak, jarang
dijumpai tokoh yang berwajah banyak, yaitu tokoh yang
memiliki unsur baik dan jahat sekaligus.
c. Tema
Cerita anak biasanya memiliki tema tunggal (satu
tema mayor) tanpa subtema (tema minor). Hal ini terkait

4
dengan kemampuan anak yang terbatas dalam menggali
tema dalam bacaan. Pada umumnya anak hanya mampu
menangkap tema yang transparan, sederhana, seperti
kebaikan akan mengalahkan kajahatan, orang jujur akan
mendapat kebahagiaan, dan pahlawan pasti menang.
Sarumpaet (1976) mengidentifikasi tiga ciri
pembeda antara sastra anak-anak dengan sastra dewasa,
tiga ciri pembeda itu andalah:
1. Unsur Pantangan
Unsur pantangan merupakan unsur ang secara
khusus berkenaan dengan tema dan amanat. Tema cerita
anak-anak ditentukan berdasarkan pertimbangan nilai
edukatif walaupun persoalan-persoalan cinta yang erotis,
seks, kebencian, kekejaman, kekerasan, dan prasangka
buruk, kecurangan yang jahat serta masalah hidup dan
mati sering menjadi fokus dalam isi sastra, pantang untuk
disajikan sebagai tema dalam sastra anak.
Apabila ada hal-hal buruk dalam kehidupan itu
yang diangkat dalam sastra anak, misalnya masalah
kemiskinan, kekejaman ibu tiri, dan perlakuan yang tidak
adil pada tokoh protagonis, biasanya amanatnya
disederhanakan dengan akhir cerita yang berbeda pada
tokoh jahat dan tokoh baik. Pada akhir cerita, tokoh jahat
akan mengalami kesengsaraan atau ketidakberuntungan,
sedangkan tokoh baik akan menemui kebahagiaan atau
keindahan. Contoh dalam kisah Bawang Merah dan
Bawang Putih, Putri Salju, dan Cinderella.
Tema-tema yang sesuai untuk sastra anak-anak
adalah tema-tema yang menyajikan masalah-masalah
yang sesuai dengan kehidupan anak, seperti
kepahlawanan, kepemimpinan, suka duka,

5
pengembaraan, peristiwa sehari-hari, kisah-kisah
perjalanan seperti ruang angkasa, penjelajahan, dan
sebagainya (Sarumpaet, 1976; Huck, 1987; Mithell,
2003). Berkaitan dengan pemecahan masalah yang
disajikan dalam cerita, Sarumpaet (11976) berpendapat
bahwa akhir cerita anak-anak tidak selalu suka ataupun
indah. Walaupun cerita dapat berakhir dengan duka, yang
penting bersifat afirmatif (menimbulkan respons yang
positif)
2. Penyajian dengan Gaya Langsung
Penyajian dengan gaya secara langsung adalah sajian
cerita yang merupakan deskripsi secara singkat dan
langsung menuju sasaran, mengetengahkan gerak yag
dinamis, dan jelas sebab-musababnya. Penyajian gaya
langsung pada umumnya berkait dengan pengaluran,
penokohan, latar, pusat pengisahan dan gaya bahasa.
a. Alur cerita anak-anak seharusnya singkat dan
mengetengahkan jalinan peristiwa yang dinamis dan jelas
sebab-sebabnya,
b. Tokoh, melalui pengisahan dan dialog akan terwujudkan
suasana dan tergambar tokoh-tokoh yang jelas sifat,
peran, maupun fungsinya dalam cerita (Faris, 1993).
c. Latar cerita juga dapat memudahkan anak
mengidentifikasi cerita. Cerita dengan latar tempat dan
waktu yang dekat dengan kehidupan anak sehari-hari
dapat menarik perhatian anak.
d. Pusat pengisahan (sudut pandang) adalah posisi yang
diambil pengarang dalam menuturkan kisahnya dan
bergantung pada pusat pengisahannya. Pusat pengisahan
yang jelas akan dapat memperjelas amanat cerita.

6
e. Gaya bahasa dalam cerita anak umumnya dituturkan
secara langsung, tidak berbelit-belit (sederhana),
kalimatnya pendek-pendek, tetapi tetap mengacu pada
faktor keindahan.
3. Fungsi Terapan
Fungsi terapan adalah sajian cerita yang harus bersifat
informatif dan mengandung unsur-unsur yang
bermanfaat, baik untuk pengetahuan umum, keterampilan
khusus, maupun untuk perkembangan anak. Kebanyakan
bacaan anak ditulis oleh orang dewasa sehingga fungsi
terapan sering dimanfaatkan untuk menampung
kecenderungan penulisnya untuk menggurui (Sarumpaet,
1976). Fungsi terapan dalam hal ini untuk menambah
pengetahuan umum baik dalam bidang sosial, bahasa,
maupun sain sehingga hal-hal yang ditampilkan dapat
mengajarkan sesuatu.
Fungsi terapan dalam sastra anak ini ditunjukkan
oleh unsur-unsur instrinsik yang terdapat dalam teks
karya sastra anka itu sendiri, misalnya dari judul
Petualangan Sinbad akan memberi informasi tokoh asing.
Sinbad berasal dari Timur-Tengah, selain memberi
informasi nama tokoh, anak akan bertambah
pengetahuannya tentang negeri asal tokoh tersebut, letak
negeri itu, apa yang terkenal dari negeri itu, dan
sebagainya.

7
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Sastra anak adalah karya imajinatif dalam bentuk bahasa yang
berisi pengalaman, perasaan dan pikiran anak yang khusus ditujukan bagi
anak-anak. Ditulis oleh pengarang anak-anak maupun pengarang dewasa.
Sastra anak merupakan bagian dari sastra pada umumnya yang
dibaca oleh orang dewasa. Namun dalam beberapa aspek, sastra anak
memiliki ciri atau karakteristik khusus yang membedakannya dengan
sastra secara umum atau sastra orang dewasa. Itulah sebabnya, pengertian
sastra secara umum tidak serta merta dapat diberlakukan untuk
pengertian sastra anak.

B. Saran
1. Sebagai calon guru Sekolah Dasar, mahasiswa PGSD sebaiknya
banyak mempelajari jenis ragam sastra anak.
2. Mahasiswa PGSD sebaiknya termotivasi membuat satra anak
sehinggamemperkaya kesastraan Indonesia.

8
DAFTAR PUSTAKA

Prihantoro, eko. 2013. Satra anak. Diunduh dari


http://eckoprihantoro.blogspot.co.id/2013/12/sastra-anak.html. diakses
pada tanggal 14 mei 2018 pukul 13.29.

Susanti, desi. 2017. Maklah gandre sastra anak. Diunduh dari


http://fadhilabdillahpratama.blogspot.co.id/2017/12/makalah-gandre-
sastra-anak.html. diakses pada tanggal 14 mei 2018 pukul 13.37 WIB