Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KLINIS

Metabolisme: Pengaruh Puasa Terhadap Kadar Glukosa Darah


dan Kandungan Glikogen Hati Tikus

Dosen Pengampu:

Nurlaely Mida Rachmawati, M.Biomed. DMS

Dr. Endah Wulandari, S.Si., M.Biomed

Chris Adiyanto, M.Biomed

Drh. Rr.Bhintarti Suryohastari, M.Biomed

Lina Elfita, M.Si, Apt

Disusun oleh:
Kelompok 2D
Adinda Citra. A 11161020000076
Ade Lia Fitri 11161020000081
Nadhilah Oktafiani 11161020000078
Ari Dewiyanti 11161020000084
Siti Istiqlalia 11161020000092
Vicka Hendriyan 11161020000093
Siti Khadijah Kartini 11161020000087

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
OKTOBER/2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................................... 1


BAB I .................................................................................................................................... 2
PENDAHULUAN ................................................................................................................... 2
1.1. Latar Belakang..................................................................................................... 2
1.2. Tujuan ................................................................................................................. 3
BAB II ................................................................................................................................... 4
TEORI DASAR ....................................................................................................................... 4
BAB III .................................................................................................................................. 8
METODOLOGI...................................................................................................................... 8
3.1. Alat dan Bahan .................................................................................................... 8
3.2. Prosedur Kerja..................................................................................................... 8
BAB IV................................................................................................................................ 11
HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................................................. 11
4.1. Hasil ................................................................................................................... 11
4.2. Pembahasan ...................................................................................................... 11
BAB V................................................................................................................................. 14
PENUTUP ........................................................................................................................... 14
1.1 Kesimpulan ............................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 15

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Karbohidrat merupakan senyawa organik terdiri dari unsur karbon, hidrogen,
dan oksigen. Terdiri atas unsur C, H, O dengan perbandingan 1 atom C, 2 atom H,
1 atom O. Dua bentuk karbohidrat yang digunakan tubuh sebagai energi adalah
glukosa darah dan glikogen otot.Glikogen merupakan simpanan karbohidrat
dalam bentuk glukosa di dalam tubuh yang berfungsi sebagai salah satu sumber
energy tidak hanya bagi kerja otot namun juga merupakan sumber energi bagi
sistem pusat syaraf dan otak.. Di dalam tubuh, jaringan otot dan hati merupakan
dua komponen utama yang digunakan oleh tubuh untuk menyimpan
glikogen.Sintesis dan pemecahan glikogen berlangsung lewat jalan yang berbeda.
Tergantung pada proses yang mempengaruhinya. Molekul glikogen menjadi lebih
kecil atau lebih besar namun hal ini jarang terjadi. Apabila ada, molekul tersebut
dipecah sempurna, meski pada hewan kelaparan simpanan glikogen tidak pernah
kosong sama sekali. Sekitar 85% D-glukosa yang dihasilkan dari pemecahan
glikogen terdapat dalam bentuk 1-fosfatnya, sedang 15% dalam bentuk glukosa
bebas (Montgomery 1983).
Glikogen sewaktu-waktu diubah jadi glukosa sebagai sumber energi. Ketika
puasa lemak tubuh dirombak jadi asam lemak dan gliserol, lalu diubah menjadi
glukosa, untuk menjamin agar kadar gula darah tetap dan sumber energi bagi
metabolisme dan gerakan tubuh selalu cukup. Puasa merupakan salah satu kondisi
yang dapat menyebabkan stres oksidatif. Kebutuhan utama pada saat kelaparan
adalah senyawa penghasil energi. Jawaban fisiologis pertama terhadap
kekurangan pangan adalah mempertahankan kadar glukosa darah. Glikogen hati
hanya dapat menyediakan glukosa selama beberapa jam, dan setelah itu terjadi
proses glukoneogenesis dalam hati yang membutuhkan substrat dari jaringan lain.
Substrat ini berasal dari asam amino glikogenik dan lemak (Montgomery1983).
Di dalam tubuh, jaringan otot dan hati merupakan dua kompartemen utama
yang digunakan oleh tubuh untuk menyimpan glikogen. Pada jaringan
otot,glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 1% dari total massa otot

2
sedangkan di dalam hati glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 8-10% dari
total massa hati. Walaupun memiliki persentase yang lebih kecil namun secara
total jaringan otot memiliki jumlah glikogen 2 kali lebih besar di bandingkan
dengan glikogen hati (Anna Poedjiadi 1994).
Glukosa darah adalah gula yang terdapat dalam darah yang terbentuk dari
karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen di hati dan otot
rangka. Dalam ilmu kedokteran, gula darah adalah istilah yang mengacu kepada
tingkat glukosa di dalam darah. Konsentrasi gula darah atau tingkat glukosa
serum, diatur di dalam tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah
sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Umumnya kadar glukosa darah antara
4-8 mmol/l (70-150 mg/dl). Kadar glukosa meningkat setelah makan dan biasanya
kadar glukosa terendah pada pagi hari yaitu sebelum orang makan. Kadar glukosa
pada saat berpuasa (Anna Poedjiadi 1994).

1.2.Tujuan
Mengukur dan membandingkan kadar glukosa darah dan kandungan glikogen
hati tikus puasa dan tidak puasa.

1.3.Prinsip
Pada keadaan puasa, kadar glikogen hati akan berkurang karena pecah
(glikogenolisis) untuk mempertahankan kadar glukosa darah.

3
BAB II

TEORI DASAR
II.I Glikolisis

Glikolisis merupakan suatu lintas pusat universal dari katabolisme glukosa,


tidak hanya di dalam hewan dan tumbuhan tetapi juga dalam banyak
mikroorganisme.Terdapat tiga jalur penting yang dapat dilalui oleh piruvat setelah
glikolisis. Pada organism eaerobik, glikolisis hanya menyusun pada tahap pertama
dari keseluruhan degradasi aerobik glukosa menjadi CO2 dan H2O. Lintas piruvat
yang kedua adalah reduksinya menjadi laktat. Jika dalam keadaan anaerobik,
glikolisis dalam sel otot akan nmenghasilkan laktat, sedangkan pada
mikroorganisme menghasilkan etanol dan CO2 (Lehninger 1994). Glikolisis
bersangkutan dengan pembentukan ATP, produksi piruvat, pembentukan senyawa
antara bagi proses-proses biokimiawi lain misalnya gliserol 3-fosfat untuk
biosintesis trigliserid dan fosfolipid dan sebagainya. Glikolisis dapat dipandang
berlangsung dalam tiga tingkat.Tingkat pertama berkenaan dengan pembentukan
D-glukose 6-fosfat, tingkat kedua dalam glikolisis mengakibatkan pemecahan
rantai 6-karbon D-glukose 6-fosfat menjadi dua molekul gliseraldehid 3-fosfat,
dan tingkat tiga glikolisis merupakan pembentukan piruvat dari oksidasi 3-fosfo
D-gliseraldehid (Montgomery et al. 1993).

II.II Glikogen

Glikogen merupakan simpanan karbohidrat dalam bentuk glukosa di dalam


tubuh yang berfungsi sebagai salah satu sumber energi.Terbentuk dari mokekul
glukosa yang saling mengikat dan membentuk molekul yang lebih
kompleks.Glikogen memiliki fungsi sebagai sumber energi tidak hanya bagi kerja
otot namun juga merupakan sumber energi bagi sistem pusat syaraf dan otak. Di
dalam tubuh, jaringan otot dan hati merupakan dua kompartemen utama yang
digunakan oleh tubuh untuk menyimpang glikogen. Pada jaringan otot, glikogen
akan memberikan kontribusi sekitar 1% dari total massa otot sedangkan di dalam
hati glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 8-10% dari total massa hati.

4
Walaupun memiliki persentase yang lebih kecil namun secara total jaringan otot
memiliki jumlah glikogen 2 kali lebih besar dibandingkan dengan glikogen hati.

Pada jaringan otot, glukosa yang tersimpan dalam bentuk glikogen dapat
digunakan secara langsung oleh otot tersebut untuk menghasilkan energi. Begitu
juga dengan hati yang dapat mengeluarkan glukosa apabila dibutuhkan untuk
memproduksi energi di dalam tubuh. Selain itu glikogen hati juga mempunyai
peranan yang penting dalam menjaga kesehatan tubuh yaitu berfungsi untuk
menjaga level glukosa darah (Anonim 2007).

Sintesis glikogen (glikogenesis) dan pemecahan glikogen (glikogenolisis)


berlangsung lewat jalur metabolik yang berbeda yang dikontrol dengan sangat
halus dengan cara saling berkaitan untuk menjamin 3 hal yaitu mempertahankan
kadar gula darah dan simpanan glikogen dalam hati dan sedikit dalam ginjal.
Dapat diperolehnya D-glukose 1-fosfat intrasel untuk glikolisis dan produksi
ATP. Penanggulangan keadaan hiperglikemia data dilakukan dengan biosintesis
glikogen. Namun, banyaknya glikogen yang dapat disimpan dalam jaringan
normal terbatas.Apabila batas ini terlampaui, kelebihan glucosa diubah menjadi
lemak, suatu simpanan yang batasnya tidak jelas (Montgomery et al. 1993).

II.III Glikogenolisis

Glikogenolisis berlangsung dengan jalur yang berbeda dengan


glikogenesis.Dengan adanya enzim fosforilase a, fosfat organik (Pi) melepaskan
sisa glukosa non pereduksi ujung dalam glikogen satu per satu untuk
menghasilkan D-glukosa fosfat 1-fosfat. Reaksi ini analog dengan hidrolisis
elemen fosfat sebagai ganti air yang ditambahkan pada ikatan glikosidik yang
dilepaskan, reaksi ini dinamakan fosforolisis. Kerja fosforilase a berhenti dekat
titik percabangan, rata-rata tiga sampai empat sisa D-glukosil dari percabangan
tersebut. Hasil antara ini disebut limit dekstrin. Sintesis dan pemecahan glikogen
berlangsung lewat jalan yang berbeda.Tergantung pada proses yang
mempengaruhinya, molekul glikogen menjadi lebih kecil atau lebih besar, namun
hal ini jarang terjadi. Apabila ada, molekul tersebut dipecah sempurna, meski
pada hewan kelaparan simpanan glikogen tidak pernah kosong sama sekali.

5
Sekitar 85% D-glukosa yang dihasilkan dari pemecahan glikogen terdapat dalam
bentuk 1-fosfatnya, sedang 15% dalam bentuk glukosa bebas (Montgomery et al.
1993).

II.IV Metode Follin Wu

Metode ini digunakan dalam analisis kuantitatif gula dalam darah.Prinsip


pengukuran kadar glukosa darah dengan metode Folin Wu adalah ion kupri akan
direduksi oleh gula dalam darah menjadi kupro dan mengendap menjadi Cu2O.
Penambahan pereaksi fosfo molibdat akan melarutkan Cu2O dan warna larutan
menjadi biru tua, karena ada oksida Mo. Dengan demikian, banyaknya Cu2O yang
terbentuk berhubungan linier dengan banyaknya glukosa di dalam darah. Filtrat
yang berwarna biru tua yang terbentuk akibat melarutnya Cu2O karena oksida Mo
dapat diukur kadar glukosanya dengan menggunakan spektrofotometer pada
panjang gelombang 420 nm (Kuswurj 2009).

II.V Fungsi Pereaksi

Na-tungstat dalam metode folin wu berperan untuk mengendapkan glukosa


yang terlarut di dalam air. Selain itu juga terdapat pereaksi H2SO4 yang berfungsi
sebagai sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pengendapan glukosa oleh
Na tungstat. Penambahan HCl pekat untuk menghidrolisis glikogen dimana
glikogen akan dihidrolisis dengan bantuan HCl pekat (Sumardji 1989). Pereaksi
NaOH yang digunakan pada ekstraksi glikogen untuk memberikan suasana basa
karena reaksi tidak dapat berlangsung dalam keadaan asam (Winarno 1984).

6
7
BAB III
METODOLOGI

3.1. Alat dan Bahan


 Hati tikus puasa dan tidak puasa
 Larutan Nacl 0,9 g/dL
 Etanol absolut
 HCl
 Larutan NaOH
 Larutan asam asetat 10%
 Karosel
 Kertas saring
 Tabung reaksi
 Gelas beker
 Tabung Folin Wu
 Kertas lakmus
 Pipet tetes
 Pipet ukur
 Batang pengaduk
 Sentrifus
 Spektrofotometri UV-Vis

3.2.Prosedur Kerja
3.2.1. Pengambilan Hati Tikus
Tikus dimatikan dengan menempatkannya dalam bejana kaca yang
telah berisi uap eter jenuh. Segera setelah mati, tikus dikeluarkan dan
ditelentangkan di atas papan gabus atau poliestiren. Rentangkan keempat
kaki sejauh mungkin dan fiksasi ke papan operasi dengan menggunakan
jarum pentul.
Basahi permukaan perut dengan alkohol, kemudian jepitlah
dinding perut di daerah median dengan pinset dan gunting dengan arah
melintang. Akan segera tampak peritonium. Gunting peritonium dalam

8
arah yang sama sejauh-jauhnya. Lakukan pengguntingan ke arah dada
sampai diafrgama. Gunting diafragma ke arah belakang. Lepaskan hati dan
jaringan sekitarnya. Jaringan hati direndam dalam larutan NaCl 0,9% g/dL
dengan suhu 4oC, hingga siap digunakan.
Setelah pengambilan hati, tetesi jantung dengan heparin dan segera
gunting bagian apeksnya. Ambil darah dari rongga dada dengan pipet
pateur dan tampung dalam tabung reaksi untuk penetapan kadar glukosa
darah.

3.2.2. Pelumatan Hati


Hati dikeluarkan dari larutan NaCl dan dikeringkan menggunakan
kertas saring. Lalu timbang hati tikus baik puasa dan tidak puasa, serta
catat beratnya. Hati dilumatkan dengan ujung bawah tabung reaksi dalam
kaserol sambil ditambahkan sedikit demi sedikit 100 mL aquadest.

3.2.3. Ekstraksi Glikogen


Tikus
Bahan
Puasa Tidak Puasa
Lumatan Hati Didihkan
Larutan Asam Asetat 5 mL 5 mL
Didihkan hingga volume berkurang setengahnya
Saring dan dinginkan
Etanol absolut/ alkohol
4 kali volumenya 4 kali volumenya
95%

3.2.4. Pengukuran Kadar Glukosa Jaringan Hati


Tikus
Bahan
Puasa Tidak Puasa
Sentrifugasi lalu pindahkan ke gelas beker 50 mL
Aquadest 10 mL 10 mL
HCl pekat 10 tetes 10 tetes

9
Didihkan selama 10 menit
NaOH 10 tetes 10 tetes
Cek pH dengan kertas lakmus
Lakukan pemeriksaan kadar glukosa cara Folin-Wu

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Hasil
a) Berat hati tikus

Tikus puasa (g) Tikus tidak puasa


1,419 1,473

𝑹𝒖−𝑹𝒔 𝟏
b) Kadar glukosa hasil hidrolisis glikogen hati (mg/mL hati) = 𝑹𝒔−𝑹𝒃 x 𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 𝒉𝒂𝒕𝒊

Absorban glukosa hati ( 420 nm) = 0,1

𝑅𝑢−𝑅𝑠 1 0,337−0,174 1
Tikus puasa = 𝑅𝑠−𝑅𝑏 x 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 ℎ𝑎𝑡𝑖 = 0,174−0,017 x 1,419 = 0,7314 mg/mL

𝑅𝑢−𝑅𝑠 1 0,1−0,002 1
Tikus tidak puasa = 𝑅𝑠−𝑅𝑏 x 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 ℎ𝑎𝑡𝑖 = 0,174−0,002 x 1,473 = 0,38 mg/mL

4.2.Pembahasan

Kadar glukosa darah akan turun pada keadaan puasa atau keadaan kelaparan.
Berpuasa atau tidak adanya asupan makanan untuk memproduksi energi akan
menyebabkan tubuh memberikan sinyal rasa lapar dan merangsang rasa ingin
makan sehingga memacu terbentuknya glukagon.Apabila kadar glukosa darah
terus turun setelah makan, jaringan yang bergantung pada glukosa akan menderita
kekurangan energi. Apabila kadar glukosa turun secara mendadak, tubuh dan otak
tidak akan mampu membentuk ATP dalam jumlah memadai. Akan timbul pusing
dan kepala terasa ringan, diikuti oleh mengantuk, dan akhirnya koma.

Dalam praktikum penentuan kadar glukosa digunakan tikus sebagai hewan


uji. Penggunaan tikus ini dikarenakan ukurannya yang kecil, harganya relatif

11
murah, dan jumlah peranakannya banyak sehingga banyak digunakan untuk
penelitian (Marbawati & Bina 2009)

Pada praktikum kali ini, kami melakukan percobaan penentuan kadar


glikogen dilakukan untuk membedakan kadar glikogen pada hepar tikus yang
dipuasaka nselama 24 jam dengan kadar glikogen hepar tikus yang tidak
dipuasakan. Langkah awal yang dilakukan yakni melumatkan sampel hati
menggunakan ujung bawah tabung reaksi dalam kaserol sambil ditambahkan
sedikit demi sedikit aquadest ad 100 ml. Proses pelumatan ini bertujuan untuk
mendapatkan ekstrak glikogen secara optimal.

Tahap selanjutnya yaitu ekstraksi glikogen dengan memanaskan lumatan hati


di dalam kaserol hingga mendidih kemudian ditambahkan asam asetat sebanyak 5
ml. Penambahan asam asetat bertujuan untuk mengendapkan protein pada hepar
tikus. Pendidihan diteruskan hingga volume berkurang setengahnya. Setelah
volume berkurang, kemudian diangkat, saring dan didiamkan. Tahapan
selanjutnya yakni penambahan alcohol 95% / etanol absolute sebanyak 4x volume
sampel. Penambahan ini bertujuan agar semua glikogen yang terdapat dalam hati
terlarut sempurna. Kemudian sampel di sentrifuge dan diambil bagian endapannya
dan ditambahkan 10 ml aquades dan 10 tetes HCl untuk membentuk karbohidrat
asetal (glikosida), kemudian sampel dididihkan selama 10 menit dan ditambahkan
NaOH agar membentuk larutan netral. Dilakukan pembuktian kenetralan larutan
menggunakan kertas lakmus. Dilakukan penambahan aquadest kembali hingga
volume larutan = 10 mL. Setelah larutan netral, dilakukan pemeriksaan kadar gula
darah dengan metode Folin Wu.

Kadar gula yang didapatkan dari hasil pengujian Folin Wu terhadap hati tikus
tidak puasa adalah 0,38 mg/mL sedangkan kadar gula pada hati tikus puasa adalah
0,7314 mg/mL. Hasil ini berbanding terbalik dengan teori yang menyatakan
bahwa kadar glikogen pada hati orang puasa akan lebih sedikit daripada kadar
glikogen pada hati orang tidak puasa karena pada keadaan fasting state glikogen
pada hati akan diubah menjadi glukosa. Ketidaksesuaian hasil dengan teori ini

12
terjadi karena kesalahan praktikan saat melakukan proses pengukuran kadar
glukosa hati. Sebelum diukur kadar glukosanya, seharusnya dilakukan
penambahan aquades add 10 mL. Akan tetapi, alih-alih menambahkan aquadest,
praktikan malah menambahkan HCl pekat add 10 mL. Larutan yang seharusnya
netral menjadi sangat asam. Tentu saja kesalahan ini sangat mempengaruhi hasil
pengukuran kadar glukosa hati.

Pada tikus puasa, tikus tidak mengkonsumsi asupan karbohidrat yang


dibutuhkan sebagai energy utama. Sehingga, untuk mendapatkan energy bagi
tubuh, glikogen yang ada dalam hati dirombak menjadi glukosa yang
dapatdigunakan sebagai sumber energy melalui proses gluconeogenesis.

Glukoneogenesis adalah sintesis glukosa dari senyawa bukan karbohidrat,


misalnya asam laktat dan beberapa asam amino termasuk glikogen. Proses
glukoneogenesis berlangsung terutama dalam hati. Di sini senyawa-senyawa non
karbohidrat diubah menjadi glukosa kembali melalui serangkaian reaksi Glikogen
memiliki arti penting bagi manusia. Glikogen merupakan molekul yang sangat
baik sebagai system penyimpanan energy berlebih.Saat tubuh membutuhkan
energy sementara kadar karbohidrat dalam tubuh telah habis, maka glikogen
berperan penting sebagai cadangan yang dapat dirombak kembali menjadi
pengganti karbohidrat dengan mengubahnya menjadi glukosa.

13
BAB V
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah kami lakukan dapat disimpilkan bahwa kadar
glukosa hasil hidrolisis glikogen hati pada tikus puasa yaitu 0,7314 mg/ml
sedangkan kadar glukosa hasil hidrolisis glikogen hati pada tikus tidak puasa
yaitu 0,38 mg/ml mg/ml. Secara teoritis seharusnya kadar glikogen pada tikus
yang tidak puasa lebih besar daripada tikus puasa dikarenakan kandungan
glukosa pada tubuhnya masih normal dan belum memakai kadar glikogen
pada tubuhnya. Ketidaksesuaian ini terjadi akibat kesalahan praktikan selama
melakukan kegiatan percobaan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Glikogen. http://www.pssplab.com/id-carbohydrate03.php.


Diakses tanggal 1 Oktober 2018

Fung, J. 2015. Fasting Phycyology. Diakses melalui: Intensive dietary


management di https://idmprogram.com/
Guyton AC, Hall. 2006. JE Textbook of Medical Physiology, 11th ed.
ElsevierSaunders(US):Philadelphia
Indah sari. 2007. Reaksi-reaksi Biokimia sebagai Sumber Glukosa Darah.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1934/1/09E01867.pdf

Kuswurj R. 2009. Penentuan Kadar Gula Reduksi Nira Tebu.


http://www.risvank.com/tag/lane-eynon.

Lehninger, Albert. L. 1982. Principles of Biochemistry. Worth Publisher, New


York.
Montgomery et al. 1993. Biokimia Suatu Pendekatan Berorientasi Kasus.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Winarno.1984. Kimia Pangan dan Analisis. Yogyakarta : Liberty

15
LAMPIRAN

Proses pelumatan hati tikus

proses ekstraksi hati tikus

Proses pengukuran kadar glukosa hati

Anda mungkin juga menyukai