Anda di halaman 1dari 76

PORTOFOLIO ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS

PORTOFOLIO ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS Disusun Oleh: M. Ilyas Saputera (41151096100074) Pembimbing UIN dr. Ahmad Azwar

Disusun Oleh:

M. Ilyas Saputera (41151096100074)

Pembimbing UIN

dr. Ahmad Azwar Habibi, M.Biomed

Pembimbing PKM Sukadiri

dr. Taufit Wirawan

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FKIK UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA PERIODE 28 AGUSTUS 29 SEPTEMBER 2017

LEMBAR PENGESAHAN PORTOFOLIO KEDOKTERAN KOMUNITAS

Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk ujian modul klinik Ilmu Kedokteran Komunitas

Pembimbing UIN

Disusun oleh:

M. Ilyas Saputera NIM: 41151096100074

Pembimbing PKM Sukadiri

dr. Ahmad Azwar Habibi, M.Biomed

Penguji

dr. Taufit Wirawan

(dr. Risahmawati, PhD)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FKIK UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2017

i

IDENTITAS DIRI

Nama

: M. Ilyas Saputera

NIM

: 41151096100074

TTL

: Negara, 15 April 1994

Alamat

: Jl. Gunung Indah VI B No. 11 A, RT 001 RW 03, Cirendeu,

Program Studi

Tanggerang Selatan : Pendidikan Dokter

Angkatan

: 2012

Rotasi Klinik

: Ilmu Kedokteran Komunitas

Periode

: 28 Agustus 29 September 2017

Jakarta, September 2017

ii

M. Ilyas Saputera

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN

i

IDENTITAS DIRI

ii

DAFTAR ISI

iii

RESUME PASIEN

iv

KEGIATAN INTERNAL

1. BP ANAK

1

 

1.1 Laporan Kegiatan

1

1.2 Refleksi Kegiatan

4

2. FARMASI

20

 

2.1 Laporan Kegiatan

20

2.2 Refleksi Kegiatan

22

KEGIATAN EKSTERNAL

3. PUSLING

29

 

3.1 Laporan Kegiatan

29

3.2 Refleksi Kegiatan

32

4. POSYANDU ANAK

39

 

4.1 Laporan Kegiatan

39

4.2 Refleksi Kegiatan

41

KEGIATAN MINI CEX

5.

MINI CEX

50

5.1 Laporan Kegiatan

50

5.2 Refleksi Kegiatan

53

KEGIATAN KESEHATAN PESANTREN

6.

PENYULUHAN KESEHATAN PESANTREN

60

6.1 Laporan Kegiatan

60

6.2 Refleksi Kegiatan

63

JADWAL KEGIATAN PUSKESMAS………………………………………. 71

iii

RESUME PASIEN

Kegiatan

Nama

Usia

Jenis

Diagnosis

Fokus Refleksi

 

Pasien

kelamin

 

Poli anak

An. SJ

4 tahun 2 bulan

P

Spondilitis

Terlambatnya

 

Tuberkulosis

penegakan diagnosis

 

pengobatan

karena

keterbatasan

pasien

terkait ekonomi

 

Farmasi

Ny. N

20

tahun

P

G1 hamil 16 minggu dengan flour albus e.c susp Kandidosis vulvoginalis

Kemampuan mencari

 

alternatif obat

dan

edukasi

cara

dan

lama

penggunaan

obat

Posyandu

An. AM

35

tahun

L

Imunisasi

Mengedukasi

ortu

 

MR

yang

tidak

mau

imunisai

Pusling

Tn. M

42

tahun

L

DM tipe 2 dengan overweight

Memaksimalkan kemampuan anamnesis pemeriksaan fisik

dan

Mini Cex

Ny. N

56

tahun

P

HT gr. II Dispepsia Psikosomatik

Pemeriksaan psikiatri dan pemeriksaan fisik LBP

Penyuluhan

Santri

13-18

-

Materi:

Tingkat Pengetahuan PHBS

pesantren

Pondok

PHBS dan

tahun

 

Daarul

keterampilan

Hikmah

klinis

iv

LAPORAN KEGIATAN KINERJA INTERNAL PUSKESMAS

Nama Kegiatan

: Poli Anak

Tempat

: Puskesmas Sukadiri

Hari/Tanggal

: Jumat, 08 September 2017

A. Deskripsi Kegiatan

Sekitar pukul 07.30, saya dan teman-teman tiba di Puskesmas Sukadiri. Di Puskesmas ini kami juga ditugaskan di poli anak, umum, KIA, TB/Kusta, farmasi, dan kegiatan di luar Puskesmas seperti Posyandu, Pusling, dan sebagainya . Waktu pelayanan mulai dari jam 08.00 WIB sampai dengan jam 15.00 WIB pada hari senin sampai kamis, sampai jam 13.30 WIB pada hari jumat, dan sampai jam 12.30 WIB pada hari sabtu. Hari ini saya bertugas di poli umum didampingi oleh salah satu dokter umum di Puskesmas ini. Penyakit yang terbanyak di poli ini antara lain ISPA, myalgia, hipertensi, DM, dan penyakit kulit. Sekitar pukul 10.00 WIB, datang salah satu teman saya untuk berdiskusi tentang sebuah kasus yang ia temui di poli anak. Saya pun menuju poli anak. Di sana saya menemui seorang anak perempuan bernama SJ berusia 4 tahun 2 bulan, yang dibawa oleh kakek dan neneknya. Pasien adalah anak pertama, orang tua pasien sudah bercerai dan ibu pasien bekerja sebagai TKW di Arab Saudi, sehingga pasien tinggal bersama nenek dan kakeknya. Kakek pasien bekerja sebegai nelayan dan nenek pasien sebagai IRT. Pasien datang dengan keluhan batuk dan pilek sejak 2 hari yang lalu, batuk berdahak encer, warna jernih, tidak kekuningan atau berwarna hijau. Keluhan juga disertai dengan demam yang timbul bersamaan dengan batuk pilek, temperatur tidak pernah diperiksa. Selain keluhan tersebut, pasien juga mengeluhkan tidak bisa berjalan sejak 6 bulan yang lalu, awalnya pasien terjatuh dan kemudian tidak bisa berjalan seperti sebelumnya. Pasien juga mengeluhkan terdapat benjolan pada tulang belakang yang diketahui sekitar 3 bulan terakhir. Riwayat batuk lama, demam hilang timbul, dan keringat malam hari tidak dirasakan oleh pasien, tetapi berat badan tidak meningkat bahkan cenderung menurun. Pasien dibawa oleh nenek pasien karena disarankan oleh tetangga yang melihat terdapat gangguan berjalan pada pasien, sekaligus mengobati batuk pilek pada pasien. Nenek pasien khawatir jika pasien tidak dapat berjalan, dan berharap pasien dapat berjalan dan menjadi sehat seperti anak lainnya. Riwayat kelahiran dan

1

persalinan dalam batas normal. Riwayat perkembangan sebelum sakit, secara rinci tidak diingat oleh kakek dan nenek pasien, namun sesuai dengan teman seumurannya. Riwayat nutrisi, pasien hanya meminum ASI sampai usia 4 bulan, kemudian dilanjutkan dengan susu sapi karena ibu pasien bekerja ke luar negeri, sekarang pasien makan seperti makanan keluarga. Pasien tidak pernah mengikuti imunisasi dasar sejak lahir. Pasien tinggal dengan nenek dan kakek di suatu rumah di kawasan yang padat penduduk dan pencahayaan yang kurang. Di sekitar lingkungan pasien tidak ada yang minum obat dengan durasi minimal 6 bulan, tetapi nenek pasien mengalami batuk yang lama dan penurunan berat badan. Nenek pasien sudah berobat ke poli umum untuk keluhan tersebut dan disarankan untuk memeriksan dahak dan rontgen paru, namun belum dilakukan oleh nenek pasien, karena keterbatasan ekonomi. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang, status gizi berdasarkan kurva WHO didapatkan pasien tergolong gizi kurang (BB: 12 kg; TB: 98 cm). Tanda vital nadi 102x/menit, napas 24x/menit, dn suhu 37,8° C. Hidung tampak konka hiperemis dan terdapat sekret, faring hiperemis, tonsil T2/T2. Pada vertebra terdapat gibbus setinggi T11-L1. Pada kedua tungkai terdapat atrofi pada otot-otot dan nilai motorik kedua tungkai adalah 2, didapatkan peningkatan refleks fisiologis pada patella serta klonus pada tendon Achilles. Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, saya menegakkan diagnosis berupa ISPA, spondilitis TB, Gizi kurang, dan imunisasi tidak lengkap. Berdasarkan diagnosis tersebut dan setelah diskusi dengan pembimbing, pasien diputuskan untuk dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk ditangani oleh dokter spesialis anak. Namun, setelah disampaikan ke nenek dan kakek pasien, mereka keberatan karena masalah biaya, mengingat pasien adalah pasien umum dan tidak memiliki kartu BPJS, serta ekonomi kelurga yang hanya bergantung pada pendapatan kakek pasien sebagai nelayan. Setelah didisikusikan, pasien akhirnya disarankan untuk segera mengurus BPJS dengan meminta bantuan Ketua RT atau RW terdekat untuk persiapan pengobatan spondilitis TB pada pasien. Sebelumnya pasien diberi obat untuk mengobati ISPA yang sekarang dialami, dan dikonsulkan ke poli TB dan diminta untuk datang hari selasa depan.

B. Nomor Rekam Medis 41123

C. Diagnosis Holistik

Aspek Personal

2

Pasien datang diantar oleh nenek dan kakek pasien dengan keluhan batuk, pilek, dan demam sejak 2 hari yang lalu. Selain itu pasien juga mengeluhkan tidak dapat berjalan sejak 6 bulan terakhir dan terdapat bejolan pada tulang belakang. Pasien dibawa oleh nenek pasien karena disarankan oleh tetangga yang melihat terdapat gangguan berjalan pada pasien dan sekaligus mengobati batuk pilek pada pasien. Nenek pasien khawatir jika pasien tidak dapat berjalan, dan berharap pasien dapat berjalan dan menjadi sehat seperti anak lainnya.

Aspek Klinis ISPA; Spondilitis TB dd/ Spondilitis septik fraktur vertebra; Gizi Kurang; dan Imunisasi tidak lengkap

Aspek Faktor Internal Anak perempuan, usia 4 tahun 2 bulan, gizi kurang, imunisasi tidak lengkap

Aspek Faktor Eksternal Nenek pasien diduga mendirita TB paru, tinggal di lingkungan padat dan pencahayaan kurang, ekonomi menengah ke bawah, orang tua bercerai, ibu bekerja sebagai TKW

Aspek Skala Fungsional Derajat 4 (sesuai usia pasien).

D.

Non Farmakologis

Tatalaksana

Meminta pasien dan keluarga untuk segera mengurus BPJS untuk persiapan rujukan ke RS terdekat

Datang pada hari selasa ke poli TB

Catch up imunisasi setelah pengobatan

Edukasi tentang

1. gizi untuk pasien

2. meningkatkan penerangan dan kebersihan di rumah

3. mengikuti pengobatan sampai tuntas

4. bagi keluarga, saat batuk menggunakan masker dan tidak membuang dahak sembarangan

3

Farmakologis R/ Paracetamol Syr 60 ml No. I

ʃ

3 dd I cth p.r.n

ɮ

R/ OBH Syr 100 ml No. I

ʃ

3 dd I cth PC

ɮ

R/ Klorfeneramin Maleat 1,5 mg m.f. pulv No.X

ʃ

3 dd pulv I PC

ɮ

E. Refleksi perbedaan antara teori dan praktek yang dilakukan

Tuberkulosis masih menjadi penyakit yang banyak dialami oleh masyarakat Indonesia, walaupun pola penyakit yang telah berubah dari dominansi penyakit infeksi atau kata lain menular, menjadi penyakit tidak menular atau non infeksi. Sedangkan spondilitis tuberkulosis adalah bentuk lain dari infeksi tuberkulosis selain tuberkulosis paru, mengingat vertebra adalah organ tersering yang mengalami infeksi tuberkulosis dalam hal ekstra paru. Hal ini juga dialami oleh masyarakat sekitar Puskesmas Sukadiri, tempat kami praktek kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas kali ini. Dalam pelajaran baik di preklinik ataupun di kepaniteraan klinik, kami sering mendapatkan kasus tentang tuberkulosis dengan berbagai bentuk, mulai dari tuberkulosis paru, tuberkulosis tulang atau spondilitis TB, hingga meningitis TB dan infeksi tuberkulosis di organ lain hampir di seluruh tubuh. Selain itu, masalah ekonomi yang menjadi penghambat dalam proses mendapatkan pengobatan masih menjadi hal yang sering didapati dalam praktek sehari-hari, walaupun Indonesia sudah menjalankan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diantaranya berupa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Mengingat pentingnya penyakit ini bagi masa depan saya sebagai dokter dan tingginya angka masyarakat yang tidak dapat mengakses kesehatan akibat ekonomi, maka saya mengangkat hal ini untuk direfleksikan, sehingga dapat menjadi referensi saya untuk ke depannya, jika saya mendapatkan kasus yang serupa. Tindakan yang menurut saya sudah sesuai yang saya lakukan dalam kasus ini antara lain datang tepat waktu untuk membantu dan belajar tentang pelayanan di Puskesmas Sukadiri pada hari ini. Kemudian yang membuat saya senang adalah saya dapat membantu teman saya dengan berdiskusi tentang penyakit yang ia dapatkan di poli anak, dan menurut saya ini adalah budaya yang baik, dimana kita dapat mendiskusikan dengan sejawat lain tentang penyakit atau kasus yang kita dapatkan, namun masih terdapat keraguan baik dalam hal diagnosis, terapi, tindak lanjut, dan sebagainya. Sehingga dapat menjadi second opinion, mengingat tidak semua kasus yang kita temui sebelumnya sama dengan kasus yang ditemui oleh sejawat dokter yang lain. Selanjutnya, yang menurut saya sudah benar adalah anamnesis dan pemeriksaan fisik yang kami lakukan sudah cukup untuk menegakkan diagnosis sehingga dapat menemukan diagnosis lain berupa spondilitis TB, gizi kurang, dan imunisasi tidak lengkap, walaupun sebenarnya pasien hanya datang dengan keluhan ISPA. Kami juga mendapatkan orang yang diduga menjadi sumber infeksi bagi pasien yaitu nenek pasien yang juga mengarah kepada diagnosis TB paru. Setelah berdiskusi dengan pasien dan dokter pembimbing, kami mendapatkan solusi tentang kendala pasien dalam hal

4

ekonomi yaitu dengan meminta pasien segera mengurus pembuatan kartu BPJS atau Kartu Indonesia Sehat (KIS), sehingga dengan kartu jaminan kesehatan tersebut pasien dapat mengakses pengobatan dengan gratis. Adapun hal yang sebenarnya dapat kami lakukan lebih antara lain pengobatan dini dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) bagi pasien dan nenek pasien yang diduga menderita TB paru. Namun, karena tidak dapat dilakukan tes mantoux dan tidak dapat dilakukan pemeriksaan dahak pada nenek pasien karena analis di Puskesmas ini sedang menjadi petugas haji, serta tidak adanya fasilitas radiologi sehingga harus diperiksa di tempat lain, sedangkan pasien tidak memiliki biaya untuk melakukan hal tersebut. Maka diagnosis belum dapat ditegakkan dan pengobatan OAT belum dapat diberikan. Dan juga seharusnya kita dapat memberikan tatalaksana secepat mungkin untuk spondilitis TB pada pasien dengan merujuk pasien pada Spesialis Anak Konsultan Neurologi dan Spesialis Ortopedi, namun hal ini juga terkendala dengan ekonomi yang ada pada pasien dan keluarga. Namun, hal ini sebenarnya dapat diteratasi jika nanti analis laboratorium sudah kembali bekerja dan pasien sudah memiliki kartu BPJS sehingga dapat melakukan pemeriksaan dengan gratis. Berdasarkan teori, spondilitis tuberkulosis adalah infeksi M. tuberkulosis yang menyerang vertebra. Hal ini terjadi sekitar 40% dari seluruh infeksi tuberkulosis pada tulang. Karena vertebra memiliki vaskularisasi yang baik. Namun kebanyakan pasien yang menderita spondilitis TB tidak memiliki infeksi aktif di tempat lain, hanya sekitar 20% pasien yang menderita spondilitis TB diserta dengan TB paru. 1-3 Adapun proses penjalanan infeksi tuberkulosis adalah sebagai berikut:

3 Adapun proses penjalanan infeksi tuberkulosis adalah sebagai berikut: Gambar 1. Perjalanan penyakit tuberkulosis 3 5

Gambar 1. Perjalanan penyakit tuberkulosis 3

5

Tuberkulosis pada anak didiagnosis pada anak ditegakkan berdasarkan alur diagnosis dan skoring sebagai berikut:

pada anak ditegakkan berdasarkan alur diagnosis dan skoring sebagai berikut: Gambar 2. Alur diagnosis TB pada

Gambar 2. Alur diagnosis TB pada anak 3

6

Tabel 1. Sistem skoring diagnosis tuberkulosis pada anak 3

Tabel 1. Sistem skoring diagnosis tuberkulosis pada anak 3  Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh

Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter.

Bila dijumpai gambaran milier atau skrofuloderma, langsung didiagnosis TB.

Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname).

Demam dan batuk tidak memiliki respons terhadap terapi baku.

Foto toraks bukan merupakan alat diagnostik utama pada TB Anak.

*Gambaran sugestif TB, berupa: pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan/tanpa infiltrat; konsolidasi segmental/lobar; kalsifikasi dengan infiltrat; atelektasis; tuberkuloma. Gambaran milier tidak dihitung dalam skor karena diperlakukan secara khusus.

Mengingat pentingnya peran uji tuberkulin dalam mendiagnosis TB anak, maka sebaiknya disediakan tuberkulin di tempat pelayanan kesehatan.

Pada anak yang diberi imunisasi BCG, bila terjadi reaksi cepat BCG (<7 hari) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB Anak, BCG bukan merupakan alat diagnostik.

Diagnosis kerja TB anak ditegakkan bila jumlah skor >6 (skor maksimal 13). 3

7

Tatalaksana tuberkulosis pada anak secara garis besar sama dengan tatalaksana pada dewasa. Adapun dosis dan lama peemberian OAT pada anak sesuai dengan tabel di bawah ini:

Tabel 2. Dosis OAT pada anak 3

dengan tabel di bawah ini: Tabel 2. Dosis OAT pada anak 3 Tabel 3. Dosis OAT

Tabel 3. Dosis OAT KDT pada anak 3

2. Dosis OAT pada anak 3 Tabel 3. Dosis OAT KDT pada anak 3 Tabel 4.

Tabel 4. Panduan OAT dan lama pengobatan pada anak 3

2. Dosis OAT pada anak 3 Tabel 3. Dosis OAT KDT pada anak 3 Tabel 4.

8

Terkait Jaminan Kesehatan Nasional berdasarkan UU No. 24 tahun 2011 dinyatakan bahwa setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja minimal 6 bulan di Indonesia, wajib menjadi peserta program Jaminan Sosial yang didalamnya terkandung JKN. Dan bagi masyarakat yang tidak mampu akan masuk dalam golongan Penerima Bantuan Iuran (PBI), sehingga iuran akan dibayarkan oleh pemerintah. 4 Terdapat beberapa fakta yang terjadi dilapangan yang tidak sesuai dengan teori yang ada. Seharusnya saya sebagai dokter umum harus bisa menangani masalah tuberkulosis sampai tuntas karena termasuk dalam kategori 4A pada SKDI 2012. Dan menurut Panduan Teknis Manajemen dan Tatalaksana TB pada Anak, jika ditemukan spondilitis harus dikonsulkan kepada spesialis neurologi anak dan spesialis ortopedi untuk penanganan selanjutnya. Namun, akibat keterbatasan fasilitas dan pasien tidak memiliki kartu JKN, diagnosis dan tatalaksana pasien tidak dapat dilakukan segera. Namun hal ini dapat ditanggulangi dengan menyarankan pasien untuk membuat kartu JKN, sehingga pasien dapat mengakses kesehatan dengan gratis dan dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di tempat yang bekerjasama dengan BPJS. 1

F. Nilai agama dan profesionalisme yang terkait dengan kasus

Nilai agama yang dapat kita ambil terkait kasus yaitu pengasuhan yang baik terhadap anak itu penting untuk perkembangan dan kesehatan anak. Seperti pada kasus ini kita dapatkan bahwa pasien sudah mengalami keluhan tidak bisa berjalan sejak 6 bulan, namun baru berobat sekarang, salah satu faktor yang menyebabkan hal ini semua adalah perceraian dari orang tua pasien. Dalam agama sendiri, walaupun perceraian adalah hal yang diperbolehkan, namun menjadi hal yang paling dibenci oleh Allah SWT. Hal ini karena banyak efek dari sebuah perceraian diantaranya adalah kondisi anak yang menjadi terlantar, padahal agama sudah memperingatkan kita untuk menjadikan generasi penerus menjadi generasi yang kuat baik secara fisik ataupun jiwa. Di antaranya Surat An-Nisa ayat 9, yang berbunyi:

ادِ يْ دِِ س َ َ

َ

ل و ْ َق ا

و ْ ُ لو ُ قَي و َ َ َ

ْ

ل

الل او

َ

ُ ق َّ ت َي م ْ هيْ ِ ل

ْ

لَف َ

ع او

َ

ُ

فاخَ ا

فا ع ةَّي ر م هفِ

َ

ض َ

ِ

ِ

ْ ِ

ُ

ذ َ

ْ

لخَ

َنْ مِ

ا

و رَت و

ْ

َ

ْ

ُ

ك

َ

ل َنَ يْ ذِ

ْ

لا شخْ َ َي ل

َّ

َ

َ

و

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar" 5

9

Selain itu, nilai agama yang dapat kita petik dari kasus ini adalah tentang ketaatan pada kebijakan pemimpin. Selama itu tidak bertentangan dengan ajaran agama, kita wajib taat dengan kebijakan pemimpin termasuk menjadi peserta JKN. Dan kita sebagai seorang dokter sudah sewajarnya membantu aplikasi program pemerintah dalam hal ini tentang JKN dengan membantu sosialisasi dan mengajak pasien untuk mengikuti program ini. Karena secara umum, program ini bertujuan membantu dan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat Indonesia dengan prinsip gotong royong. Adapun nilai profesionalisme yang dapat diambil dari kasus ini antara lain yaitu sebagai seorang dokter, kita harus melakukan pelayanan secara komperhensif dan sesuai dengan ketentuan mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan sebagainya. Sehingga dapat menentukan diagnosis yang tepat dan menemukan diagnosis penting lain yang mungkin bukan menjadi keluhan utama pasien. Selain itu, kita sebagai seorang dokter kita harus menghormati nilai salah satu nilai bioetik yaitu autonomy pasien, yang artinya segala keputusan berada di tangan pasien, walaupun terdapat ketentuan yang ada, namun jika pasien menolak dengan berbagai alasan yang ada, seperti ekonomi, kita wajib menghormatinya. Dan juga kita berkewajiban memberikan alternatif pilihan dan membantu mencarikan solusi atas ketidaksesuaian dengan panduan yang ada.

G. Hal yang perlu dipelajari lebih lanjut

Hal yang perlu saya pelajari lebih lanjut tentunya terkait penyakit tuberkulosis sendiri, khususnya tentang alur diagnosis dan tatalaksana pada pasien dengan kondisi ketebatasan seperti pada kasus ini. Oleh karena itu, saya harus terus memperbaharui ilmu paengetahun saya tentang hal ini. Selanjutnya yang perlu saya pelajari lebih lanjut adalah proses pendaftaran pasien BPJS, khususnya bagi yang tidak mampu, meliputi alur, persyaratan, dan sebagainya. Sehingga jika saya mendapatkan kasus seperti ini, saya dapat memberikan informasi yang komperhensif dan dapat mempermudah pasien. Oleh karena itu, saya harus mempelajari lebih lanjut tentang perundang- undangan dan peraturan-peraturan terkait jaminan sosial ini.

10

H. Daftar Pustaka

1. Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Manajeman dan tatalaksana TB anak. Jakarta:

Kemenkes; 2016

2. Imboden J, Hellman D, Stone J. Mycobacterial and fungal infection of bone and joints. Dalam: Currebt diagnosis and treatment rheumatology. Edisi 3. Singapore: McGram-

Hill;2013

3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Respirologi Anak. Edisi 2. Jakarta: IDAI; 2012

4. Presiden Republik Indonesia. UndangUundang Republik Indonesia nomor 24 tahun 2011 tentang badan penyelenggara jaminan sosial. 2011

5. Al-Quran dan Hadist

11

Feedback dari pembimbing Puskesmas/kampus

 

Ditambahkan foto resep

 

Ditambahkan data identitas nenek dan kakek pasien

 

Ditambahkan tentang konsultasi ke poli TB Puskesmas

Kesalahan penulisan dan EYD diperbaiki

Nama Mahasiswa

M.

Ilyas Saputera

TTD

Nama Pembimbing

dr.

Ahmad Azwar Habibi, M.Biomed

TTD

 

dr.

Taufit Wirawan

TTD

TTD Nama Pembimbing dr. Ahmad Azwar Habibi, M.Biomed TTD   dr. Taufit Wirawan TTD 12

12

LAMPIRAN 1.1 DOKUMENTASI KEGIATAN POLI ANAK

LAMPIRAN 1.1 DOKUMENTASI KEGIATAN POLI ANAK Gambar 1.1. Gibbus pada pasien Gambar 1.2. Atrofi otot pada

Gambar 1.1. Gibbus pada pasien

KEGIATAN POLI ANAK Gambar 1.1. Gibbus pada pasien Gambar 1.2. Atrofi otot pada tungkai pasien Gambar

Gambar 1.2. Atrofi otot pada tungkai pasien

pada pasien Gambar 1.2. Atrofi otot pada tungkai pasien Gambar 1.3. Dokumentasi saat anamnesis Gambar 1.4.

Gambar 1.3. Dokumentasi saat anamnesis

pada pasien Gambar 1.2. Atrofi otot pada tungkai pasien Gambar 1.3. Dokumentasi saat anamnesis Gambar 1.4.

Gambar 1.4. Resep pasien

13

LAMPIRAN 1.1 KOPI REKAM MEDIS

I.

IDENTITAS

A.

Identitas Pasien No. RM Nama lengkap Tanggal lahir Usia Jenis Kelamin Alamat Suku bangsa Agama

: 41123 : An. SJ : Karang Serang, 12 Juli 2013 : 4 tahun 2 bulan : Perempuan : Karang Serang : Sunda : Islam

B.

Identitas Orang Tua/Wali

 

Nama

: Ny. R

Nama

Usia

Pendidikan

Pekerjaan

Hubungan

: Tn. N

Usia

: 50 tahun

: 52 tahun

Pendidikan

: SD

: SD

Pekerjaan

: IRT

: Nelayan

Hubungan

: Nenek Pasien

: Kakek Pasien

II.

ANAMNESIS

Dilakukan pada Jumat, 08 September 2017, dilakukan secara allo-anamnesis dengan nenek dan

kakek pasien di Poli Anak Puskesmas Sukadiri

A. Keluhan Utama

Pasien datang dengan keluhan batuk dan pilek sejak 2 hari yang lalu

B. Riwayat Penyakit Sekarang

Batuk berdahak encer, warna jernih, tidak kekuningan atau berwarna hijau. Keluhan juga disertai

dengan demam yang timbul bersamaan dengan batuk pilek, temperatur tidak pernah diperiksa. Selain keluhan tersebut, pasien juga mengeluhkan tidak bisa berjalan sejak 6 bulan yang lalu, awalnya pasien terjatuh dan kemudian tidak bisa berjalan seperti sebelumnya. Pasien juga

14

mengeluhkan terdapat benjolan pada tulang belakang yang diketahui sekitar 3 bulan terakhir.

Riwayat batuk lama, demam hilang timbul, dan keringat malam hari tidak dirasakan oleh pasien,

tetapi berat badan tidak meningkat bahkan cenderung menurun. Pasien dibawa oleh nenek pasien

karena disarankan oleh tetangga yang melihat terdapat gangguan berjalan pada pasien, sekaligus

mengobati batuk pilek pada pasien. Nenek pasien khawatir jika pasien tidak dapat berjalan, dan

berharap pasien dapat berjalan dan menjadi sehat seperti anak lainnya.

C. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat batuk pilek beberapa kali dirasakan oleh pasien dan sembuh dengan obat dari warung.

Riwayat alergi pada pasien tidak ada.

D. Riwayat Penyakit Keluarga

Keluhan serupa di keluarga tidak ada, namun nenek pasien mengalami batuk yang lama dan

penurunan berat badan. Nenek pasien sudah berobat ke poli umum untuk keluhan tersebut dan

disarankan untuk memeriksan dahak dan rontgen paru, namun belum dilakukan oleh nenek pasien,

karena keterbatasan ekonomi

E. Riwayat Kehamilan Dan Kelahiran

Kehamilan

Perawatan antenatal

Sakit saat kehamilan

Kelahiran

: 1x kontrol ke bidan

: Tidak pernah sakit selama hamil

Tempat kelahiran

: Klinik Bidan

Penolong persalinan

: Bidan

Cara bersalin

: Normal

Masa gestasi

: Cukup bulan

Keadaan bayi

: Berat badan lahir

: 3200 gr

Panjang badan lahir

:

52 cm

Lingkar kepala

: lupa

Langsung menangis

: langsung menangis

Pucat/biru/kejang/kuning

: tidak ada

Nilai APGAR

: tidak diketahui

Kelainan bawaan

: tidak ada

15

F. Riwayat Pertumbuhan Dan Perkembangan

Kakek dan nenek pasien tidak ingat, namun perkembangan sebelum sakit sama dengan anak

seumurannya

G. Riwayat Imunisasi Dasar

Tidak pernah imunisasi

H.

Riwayat Makanan

ASI diberikan sejak lahir sampai usia 4 bulan

Pasien kemudian minum susu sapi karena ibu pergi untuk menjadi TKW di luar negeri

Sekarang makan seperti makanan keluarga

III.

PEMERIKSAAN FISIK

A.

Pemeriksaan umum

Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Data antropometri :

- Berat badan

: 12

Kg

-

Panjang badan

: 98 cm

-

BB/U

: -3 ≤ Z Score ≤ -2

-

TB/U

: -2 ≤ Z Score ≤ -0

-

BB/U

: -3 ≤ Z Score ≤ -2

-

Kesan:

: Gizi kurang.

Frekuensi nadi

: 102 x/ menit, regular, isi cukup

Tekanan darah

:

-

Frekuensi nafas

: 24 x /menit

Suhu tubuh

: 37.8 o C (aksila)

B. Status generalis :

Kepala

Mata

: Normocephali, rambut hitam tersebar merata, wajah simetris

: Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil bulat isokor diameter

3mm/3mm, RCL +/+, RCTL +/+, gerakan mata ke segala arah, edem

palpebra -/-

16

Hidung

Mulut

Tenggorokan

Leher

Paru

:

: Septum deviasi (-), konka edema (+/+), mukosa hiperemis (+/+), sekret +/+, warna bening

: Mukosa bibir basah, atrofi lidah (-), gigi karies (-)

: Faring hiperemis (+), tonsil T2-T2, arcus faring simetris, uvula terletak ditengah

: Trakea terletak ditengah, KGB tak teraba

- Inspeksi : Pergerakan dada simetris saat statis dan dinamis, retraksi iga (-)

- : tidak dilakukan

Palpasi

- : todak dilakukan

- Auskultasi : Suara napas vesikular +/+, Rhonki +/+, wheezing -/-

Perkusi

Jantung

- Inspeksi

- Palpasi

-

- Auskultasi

Perkusi

Abdomen

Inspeksi

-

- Palpasi ballotement -/-

-

- Auskultasi

Perkusi

Ekstremitas atas

Ekstrimitas bawah

Genital

Kulit

Vertebra

: Ictus kordis tidak terlihat

: Ictuc kordis teraba ICS IV

: tidak dilakukan

: S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

: Datar

: Lemas, Nyeri tekan (-), Hepar dan lien tak teraba membesar,

: Timpani

: Bising usus positif normal

: Akral hangat, edema (-/-), CRT < 3 detik, atrofi otot (-/-)

: Akral hangat, edema (-/-), CRT < 3 detik, atrofi otot (+/+)

: Vulva tidak hiperemis

: lembab, ikterik (-), sianosis (-)

: Terdapat gibbus setinggti T11-L1

17

C.

Status Neurologis

GCS E4M6V5

TRM Kaku kuduk (-), Laseq > 70/> 70, Kerniq >135/>135, Brudzinski I dan II -/-

Nervus Kranialis (kesan tidak ada parese)

- Nervus I dan II tidak diperiksa

- Nervus V tidak diperiksa

- Nervus III, IV, VI Mata dapat bergerak ke segala arah

- Nervus VII Parese (-)

- Nervus VIII tidak diperiksa

- Nervus IX dan X uvula ditengah, arkus faring simetris

- Nervus XI tidak diperiksa

- Nervus XII Atrofi lidah (-), tremor (-), deviasi (-)

Kekuatan Motorik : kesan paraparese

5555 5555 2222 2222
5555
5555
2222
2222

Sensorik dan Otonom : kesan baik

 Reflek fisiologis +2 +2 +4 +4
 Reflek fisiologis
+2
+2
+4
+4

Reflek patologis : Babinski +/+, Klonus Patella dan Achiles +/+

IV. DIAGNOSIS HOLISTIK

Aspek Personal Pasien datang diantar oleh nenek dan kakek pasien dengan keluhan batuk, pilek, dan demam sejak 2 hari yang lalu. Selain itu pasien juga mengeluhkan tidak dapat berjalan sejak 6 bulan terakhir dan terdapat bejolan pada tulang belakang. Pasien dibawa oleh nenek pasien karena disarankan oleh tetangga yang melihat terdapat gangguan berjalan pada pasien dan sekaligus mengobati batuk pilek pada pasien. Nenek pasien khawatir jika pasien tidak dapat berjalan, dan berharap pasien dapat berjalan dan sehat seperti anak lainnya.

18

Aspek Klinis ISPA; Spondilitis TB dd/ Spondilitis septik, Fraktur vertebra Gizi Kurang, dan Imunisasi tidak lengkap

Aspek Faktor Internal Anak perempuan, usia 4 tahun 2 bulan, gizi kurang, imunisasi tidak lengkap

Aspek Faktor Eksternal Nenek pasien diduga mendirita TB paru, tinggal di lingkungan padat dan pencahayaan kurang, ekonomi menengah ke bawah, orang tua bercerai, ibu bekerja sebagai TKW

Aspek Skala Fungsional Derajat 4 (sesuai usia pasien).

V.

TATALAKSANA

Non Farmakologis

Meminta pasien dan keluarga untuk segera mengurus BPJS dan mengobati penyakit sesegera mungkin

Kontrol ke poli TB pada hari Selasa

Catch up imunisasi setelah pengobatan

Edukasi tentang

1.

2. meningkatkan penerangan dan

gizi untuk pasien

kebersihan di rumah mengikuti pengobatan sampai tuntas

3.

4. saat batuk menggunakan masker dan

tidak membuang dahak sembarangan

19

Farmakologis R/ Paracetamol Syr 60 ml No. I

ʃ

3 dd I cth p.r.n

ɮ

R/ OBH Syr 100 ml No. I

ʃ

3 dd I cth PC

ɮ

R/ Klorfeneramin Maleat 1,5 mg m.f. pulv dtd No.X

ʃ

3 dd pulv I PC

ɮ

LAPORAN KEGIATAN KINERJA INTERNAL PUSKESMAS

Nama Kegiatan

: Farmasi

Tempat

: Puskesmas Sukadiri

Hari/Tanggal

: Rabu, 06 September 2017

A. Deskripsi Kegiatan

Hari ini saya bertugas di bagian farmasi, setelah sebelumnya bertugas di poli umum, anak, dan KIA. Seperti biasa kami sampai di Puskesmas Sukadiri sekitar pukul 07.30 WIB. Kami pun bersiap-siap di poli masing-masing. Sekitar pukul 08.00 WIB proses pelayanan di mulai. Ruang farmasi di puskesmas ini terletak di sebelah selatan dari Puskesmas. Ukuran ruangan farmasi sekitar 5x3 meter, di dalamnya terdapat 3 lemari untuk penyimpanan obat, satu meja untuk meracik obat, dan satu meja untuk loket penyerahan resep dan obat. Ruang farmasi diketuai pada oleh seorang perawat, mengingat tidak adanya tenaga apoteker di Puskesmas ini. Ruang farmasi di Puskesmas ini menerima resep dari poli umum, anak, KIA, TB/kusta, dan gigi. Setiap pasien yang berasal dari poli tersebut akan menyerahkan resep pada tempat yang telah disediakan, selanjutnya obat pun disiapkan, dan kemudian diberikan kepada pasien sambil menjelaskan indikasi dari masing-masing obat, tata cara penggunaan, dan komplikasi atau efek samping yang perlu diperhatikan pada berbagai obat tertentu. Setiap hari terdapat sekitar 75-100 resep yang harus disiapkan dari berbagai poli di atas. Hari ini cukup banyak resep yang harus disiapkan, adapun obat-obat yang terbanyak meliputi obat ISPA, hipertensi, DM, antibiotik, analgesik, dan obat-obatan untuk ibu hamil yang berasal dari poli KIA. Di bagian farmasi ini saya banyak belajar tentang tata cara membaca resep, menyiapkan obat, menyerahkan obat, dan memberikan edukasi yang komperhensif, efektif, dan efisien kepada pasien tentang obat yang diberikan. Adapun hal yang membuat saya tertarik untuk dipelajari adalah tentang bentuk-bentuk sediaan serta dosis-dosis obat yang ada sesuai dengan sedian yang tersedia, karena selama ini hal inilah yang menurut saya perlu saya tingkatkan, mengingat selama di preklinik dan kepaniteraan klinik, kami lebih banyak belajar tentang dosis dari obat, dan kurang memperhatikan tentang sediaan yang ada.

20

Sekitar pukul 09.00 WIB, terdapat sebuah resep yang berasal poli KIA, resep tersebut milik seorang perempuan bernama Ny. N, usia 20 tahun, dari keterangan di resep diketahui bahwa pasien didiagnosis G1 hamil 16 minggu dengan flour albus susp kandidosis vulvovaginalis. Dalam resep itu pasien diberikan Flagystatin supp yang merupakan obat kombinasi antara metronidazol 500 mg dan nystatin 100.000 IU yang diberikan setiap hari. Resep tersebut disiapkan oleh petugas apotek, kemudian petugas tersebut mengatakan bahwa obat tersebut tidak tersedia di Puskemas ini. Mendengar hal tersebut, saya kemudian memberikan usulan untuk mengganti obat tersebut dengan Nystatin suppositoria yang saya ketahui tersedia di Puskesmas ini. Setelah berdiskusi dengan dokter yang meresepkan obat tersebut, akhirnya pasien diberikan Nystatin supposituria untuk 7 hari. Setelah obat disiapkan, saya kemudian menyerahkan obat tersebut sambil memberikan edukasi tentang manfaat dan cara pemakaian dari obat tersebut secara singkat di loket penyerahan obat.

Saya menjadikan kasus ini sebagai portofolio mengingat keputihan pada ibu hamil adalah hal yang sering terjadi dan memiliki dampak yang dapat mengancam kesejahteraan janin, misalnya premature labor. Oleh karena itu, tatalaksana yang tepat perlu diberikan sesuai dengan penyebab keputihan yang terjadi. Selain itu, masalah keterbatasan obat juga masih menjadi kendala di pelayanan seperti di Puskesmas, sehingga pemahaman terhadap obat penting dimiliki oleh setiap dokter. Saya berharap dengan portofolio ini saya menjadi lebih terampil dan mampu memberikan tatalaksana pada ibu hamil dengan keputihan secara tepat, dan saya berharap portofolio ini akan menjadi bahan rujukan bagi saya jika menemukan kasus seperti ini di kemudian hari.

B. Nomor Rekam Medis

41682

C. Diagnosis

G1 hamil 16 minggu dengan flour albus e.c susp Kandidosis vulvoginalis

D. Tatalaksana

Non Famakologis:

Menjaga kebersihan alat kelamin

21

Tidak mencuci organ genitalia eksterna dengan sabun antiseptik terlalu sering, cukup dengan air bersih

Mengobati keputihan sampai tuntas dan menggunakan obat secara rutin

Kontrol kehamilan secara rutin

Segera ke dokter atau bidan jika terdapat keluar air-air atau perdarahan.

Farmakologis:

R/ Nystatin supp 100.000 IU No. VII

ʃ 1 dd I supp intravagina

ɮ

E. Refleksi perbedaan antara teori dan praktek yang dilakukan

Bagian farmasi atau apotek adalah sarana yang penting dalam proses pengobatan, termasuk bagi sebuah Puskesmas. Karena di sinilah tempat penyediaan, penyimpanan, pengelolaan, penyiapan, dan pemberian obat, dimana obat bagaikan salah satu senjata bagi seorang dokter. Dalam pendidikan prekklinik ataupun kepaniteraan klinik, kami selalu diajarkan tentang ilmu farmasi, dalam hal ini dijelaskan tentang sekian banyak obat, meliputi nama, golongan, farmakokinetik, farmakodinamik, indikasi, kontraindikasi, komplikasi, dan berbagai hal tentang obat. Namun, pengalaman untuk membantu di bagian farmasi masih minim bagi kami, bagi saya sendiri bertugas di bagian farmasi kali ini baru merupakan kali kedua, sebelumnya saya juga pernah bertugas membantu di bagian farmasi di Puskesmas Kampung Sawah saat menjalankan modul IKK ketika masih di tahap preklinik. Di bagian farmasi ini, saya banyak belajar tentang obat-obat yang tersedia di Puskesmas, sediaan obat, penyimpanan obat, membaca resep, meracik puyer, menuliskan etiket, dan memberikan edukasi tentang obat yang diberikan. Dari pengalaman saya di bagian farmasi ini, hal benar yang menurut saya sudah dilakukan antara lain memulai tugas di bagian ini tepat waktu, sesuai dengan waktu pelayanan di Puskesmas yaitu pukul 08.00 WIB. Kemudian di bagian ini saya juga belajar sedian-sedian dari obat yang tersedia, yang sebelumnya saya hanya mengenal secara teori. Hal lain yaitu saya belajar menerima resep dari berbagai poli yang ada, membaca resep, menyiapkan obat, menyerahkannya, dan yang terpenting yaitu memberikan edukasi kepada pasien tentang obat yang diberikan secara lengkap,

22

efektif, dan efisien. Meliputi indikasi pemberian, dosis, cara pemakaian, efek samping, dan hal lainnya yang penting sesuai dengan obat yang diberikan. Adapun hal yang membuat saya senang dari pengalaman bertugas di bagian ini adalah dapat memberikan alternatif obat yang tidak tersedia di Puskemas saat ini, dengan obat lain yang serupa dan tersedia di bagian farmasi Puskesmas ini. Sehingga pasien dapat menerima obat yang sesuai dengan penyakitnya, tanpa harus membeli di apotek luar karena keterbatasan obat yang ada di Puskesmas. Hal ini menurut saya penting, mengingat keterbatasan obat yang ada di fasilitas kesehatan primer termasuk di Puskesmas, sehingga dengan kemampuan memilih alternatif obat dengan tanpa menurunkan efektivitas, pasien dapat diuntungkan dan proses pengobatan dapat berjalan dengan lancar walaupun dengan keterbatasan yang ada. Hal yang menurut saya masih harus saya tingkatkan terkait bagian farmasi antara lain pengetahuan tentang sediaan obat termasuk dosis yang tersedia dari setiap sediaan tersebut, sehingga dapat membantu saya saat akan meresepkan obat jika bertugas di poli pelayanan. Selain itu, terkait kasus klinis yang saya ambil berkaitan dengan tugas saya di bagian farmasi pada hari ini, hal yang menurut saya perlu saya tingkatkan adalah tentang edukasi obat, diantaranya yaitu tentang pemakaian obat yang sebaiknya diberikan saat ingin tidur dan tidak melakukan hubungan seksual setelah memberikan obat tersebut intravagina. Selanjutnya, hal yang menurut saya penting untuk saya edukasikan lebih lanjut adalah meminta pasien untuk kembali berobat, karena berdasarkan ketentuan Puskesmas, obat yang bisa diberikan hanya untuk 7 hari. Sedangkan berdasarkan teori pengobatan kandidosis vulvovaginalis diberikan selama 14 hari. Berdasarkan teori, dari PERMENKES No. 74 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, yang dimkasud dengan pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi 2 kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai, yang meliputi perencanaan, permintaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, pencatatan, dan pelaporan serta pemantauan dan evaluasi. Dan yang kedua yaitu kegiatan pelayanan farmasi klinik yang merupakan bagian dari pelayanan kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan dengan obat dan bahan medis habis pakai. 1 Adapun mengenai SDM penyelenggara pelayanan kefarmasian di Puskesmas sebagaimana yang tercantum dalam PERMENKES di atas, yaitu minimal harus dilaksanakan oleh 1 orang tenaga apoteker sebagai penanggung jawab, dan dapat dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian

23

sesuai kebutuhan. Dan rasio jumlah apoteker ditentukan dengan rasion 1 apoteker untuk 50 pasien perhari. 1 Sedangkan yang dimaksud dengan kandidosis vulvovaginalis adalah infeksi pada vagina yang disebabkan oleh jamur Candida. Kandidosis vulvovaginalis juga sering disebut dengan kandidiasis vagina atau vaginitis kandida. Candida sendiri adalah flora normal di kulit, mulut, tenggorokan, usus, dan vagina. 2 Pada pasien dengan kandidosis vulvovaginalis ditemukan gejala keputihan yang tidak normal disertai rasa gatal dan panas, terdapat nyeri saat berhubungan seksual, serta nyeri atau perasaan tidak enak saat BAK. 3-4 Adapun tatalaksana yang diberikan untuk pasien dengan kandodosis vaginalis adalah sebagai berikut: 5

Mikonazol atau Klotrimazol 200 mg intravagina setiap hari selama 3 hari, atau

Klatrimazol 00 mg intravagina dosis tinggal, atau

Nistatin 100.000 IU intravagina selama 14 hari.

Hal yang berbeda antara teori dan fakta yang didapati di lapangan yaitu di Puskesmas Sukadiri yaitu penyelenggara pelayanan kefarmasian yang berdasarkan Permenkes diharuskan adalah seorang apoteker dengan rasio 1 apoteker untuk 50 pasien perhari, sedangkan di Puskesmas ini tidak tersedia apoteker, sehingga penanggungjawab pelayanan kefarmasian adalah seorang perawat. Namun terlepas dari keterbatasan tersebut, secara garis besar sudah berjalan dengan baik dan ketersediaan obat cukup lengkap dan dapat memenuhi kebutuhan pengobatan sesuai dengan penyakit yang ditangani di Puskesmas. Adapun terkait diri saya sendiri, seharusnya saya memberikan edukasi kepada pasien tentang pemakaian obat yang sebaiknya diberikan saat ingin tidur dan tidak melakukan hubungan seksual setelah memberikan obat tersebut intravagina, dan karena kebijakan pemberian obat di Puskesmas Sukadiri yang hanya dapat diberikan selama 7 hari, saya seharusnya memberikan edukasi kepada pasien untuk datang kembali ke puskesmas setelah

obat habis untuk meminta obat kembali, karena pengobatan seharusnya selama 14 hari.

F. Nilai agama dan profesionalisme yang terkait dengan kasus

Nilai agama yang dapat dipetik dari kasus ini antara lain tentang perjuangan seorang ibu saat sedang mengalami kehamilan, dimana terjadi banyak perubahan, baik fisik maupun secara mental. Salah satunya adalah perubahan hormon yang selanjutnya dapat menyebabkan perubahan

24

aktivitas flora normal pada genetalia ibu yang sedang mengalami kehamilan, dan dapat menyebabkan terjadinya kandidosis vulvovaginalis. Dengan adanya infeksi ini kesejahteraan janin dapat terganggu, yang kemudian dapat mengancam nyawa janin dan juga dapat mengancam nyawa ibu itu sendiri. Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita memberikan bakti kepada kedua orang tua, khususnya ibu yang mempertaruhkan nyawa selama proses kehamilan. Dalam hal ini Allah berfirman dalam Surat Luqman ayat 14, yang berbunyi: 6

يلِ رْ كُ شْ ا نِ

َ أ نيْ ماعَ

َ

ِ

يِف ُه ُ لاصَ

ِفوَ نهْ وَ ى لعَ

ٍ

َ

اًنهْ وَ ُه م ُ أ ُهْت محَ

ُّ

َ

ل

َ

هِ يْدَلِاوَِ ب نَ اسَ نلإا ا

ْ

نيْصَّ

َ

وَوَ

ُُ

َ

ري ص ِ َ لا ي ل

م

ْ

َّ

إ كَ يْدَلِاوَلِوَ

ِ

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. [9]Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu" Adapun nilai profesionalisme bioetik kedokteran yang dapat kita ambil dari kasus ini antara lain yaitu beneficience, yaitu dalam memberikan pelayanan kita harus mengutamakan nilai kebermanfaatan pada pasien. Dalam hal ini, pemilihan obat alternatif saat obat tertentu tidak tersedia di Puskesmas sangatlah penting, dengan tetap memperhatikan indikasi dan efektivitas dari obat tersebut, agar pasien tidak perlu membeli obat di luar dengan menggunakan uang sendiri.

G. Hal yang perlu dipelajari lebih lanjut

Hal yang penting dipelajari lebih lanjut terkait pengalaman saya di bagian pelayanan kefarmasian kali ini antara lain pengetahuan tentang sediaan obat dan dosis dari setiap sediaan yang ada, agar memudahkan saya dalam proses praktek nantinya saat ingin meresepkan obat. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pengetahuan tentang golongan obat beserta efektivitasnya, sehingga dapat menentukan alternatif obat yang dapat dipilih jika ternyata suatu obat tidak tersedia di tempat saya melakukan pelayanan kesehatan, mengingat terbatasnya obat- obatan di layanan kesehatan primer. Sehingga pasien mendapatkan pengobatan yang optimal, tanpa harus membeli obat sendiri di luar, yang tentunya menyulitkan bagi pasien itu sendiri.

25

H. Daftar Pustaka 1. Kemenkes. Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. 2. CDC. Vaginal candidasis. Atlanta; 2017. Available from:

2017)

3. Goncalves B, Ferreira C, Alves CT, Henriques M, Azeredo J, Silva S. Vulvovaginal candidiasis: Epidemiology, microbiology and risk factors. Critical reviews in microbiology

2016;42:905-27.

Sobel JD. Vulvovaginal candidosis. Lancet 2007;369:1961-71

4.

5. Kemenkes. WHO: Buku saku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan rujukan. Jakarta: Kemenkes; 2013.

6.

Al-Quran dan Hadist

26

Feedback dari pembimbing Puskesmas/kampus

 

Ditambahkan foto resep resep sebelum dan setelah diperbaiki

Kesalahan penulisan dan EYD diperbaiki

Nama Mahasiswa

M.

Ilyas Saputera

TTD

Nama Pembimbing

dr.

Ahmad Azwar Habibi, M.Biomed

TTD

 

dr.

Taufit Wirawan

TTD

27

LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN FARMASI

LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN FARMASI Gambar 2.1. Apotek di Puskesmas Sukadiri Gambar 2.2. Kegiatan saat bertugas di
LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN FARMASI Gambar 2.1. Apotek di Puskesmas Sukadiri Gambar 2.2. Kegiatan saat bertugas di

Gambar 2.1. Apotek di Puskesmas Sukadiri

KEGIATAN FARMASI Gambar 2.1. Apotek di Puskesmas Sukadiri Gambar 2.2. Kegiatan saat bertugas di Bagian Farmasi
KEGIATAN FARMASI Gambar 2.1. Apotek di Puskesmas Sukadiri Gambar 2.2. Kegiatan saat bertugas di Bagian Farmasi

Gambar 2.2. Kegiatan saat bertugas di Bagian Farmasi Puskesmas Sukadiri

Kegiatan saat bertugas di Bagian Farmasi Puskesmas Sukadiri Gambar 2.3. Gambar resep sebelum dan sesudah obat
Kegiatan saat bertugas di Bagian Farmasi Puskesmas Sukadiri Gambar 2.3. Gambar resep sebelum dan sesudah obat

Gambar 2.3. Gambar resep sebelum dan sesudah obat diganti

28

LAPORAN KEGIATAN KINERJA EKSTERNAL PUSKESMAS

Nama Kegiatan

: Puskesmas Keliling

Tempat

: Puskesmas Sukadiri

Tanggal

: Kamis, 07 September 2017

A. Deskripsi Kegiatan

Hari saya bertugas di kegiatan eksternal Puskesmas yaitu Pukesmas keliling. Sekitar pukul 08.00 WIB saya dan seorang bidan serta seorang karyawan yang bekerja sebagai sopir ambulan pergi ke sebuah desa yang bernama Pekayon menggunakan mobil ambulan Puskesmas keliling, disinilah tempat Puskemas keliling hari ini dilaksanakan. Kegiatan Puskesmas keliling hari ini dilaksanakan di teras rumah milik salah satu kader. Sesampainya di sana, saya dan salah satu bidan segera menyiapkan alat pemeriksaan tanda vital, obat-obatan, resep, dan berkas-berkas lain yang dibutuhkan untuk kegiatan hari ini. Kader yang berasal dari desa ini pun dengan sigap memanggil warga ke rumah-rumah dan mengumumkan dengan alat pengeras suara mesjid tentang adanya puskesmas keliling hari ini di rumah dia. Tidak berselang beberapa lama, beberapa warga sudah berkumpul di tempat kegiatan untuk berobat. Mayoritas pasien yang datang adalah pasien dengan usia di atas 40 tahun, walaupun ada beberapa yang dewasa muda, dan sebagian kecil anak. Saya dan bidan desa tersebut segera memulai kegiatan, saya melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan menuliskan resep untuk pasien-pasien yang ada, sedangkan bidan yang bersama saya mendata pasien, menyiapkan obat, dan menyerahkannya kepada pasien. Hal yang menjadi kendala dalam upaya kesehatan kali ini kembali pada terbatasnya fasilitas dan obat yang tersedia. Mulai hanya ada alat pemeriksaan untuk tanda vital, kemudian obat-obatan yang ada hanya obat untuk hipertensi, diabetes melitus, antibiotik, dan analgesik. Awalnya saya cukup kesulitan untuk menegakkan penyakit-penyakit pada pasien dengan keterbatasan pemeriksaan penunjang yang ada, misalnya saja untuk menegakkan diagnosis diabetes melitus, sekedar alat untuk memeriksa gula darah sewaktu saja tidak tersedia. Namun berbekal pengetahuan selama preklinik dan klinik, saya menyadari bahwa saya harus memaksimalkan kemampuan saya dalam hal anamnesis dan pemeriksaan fisik, sehingga pemeriksaan penunjang bukan lagi hal yang

29

terlalu dibutuhkan. Selain itu, jika memang pasien membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, pasien disarankan untuk datang ke Puskesmas Sukadiri atau melakukannya melakukan pemeriksaan di luar Puskesmas seperti tempat laboratorium klinik atau tempat praktek swasta di sekitar wilayah tersebut. Adapun pasien yang membutuhkan obat yang tidak tersedia, diusahakan dicarikan alternatif obat sesuai yang tersedia, namun jika tetap tidak ada, maka juga disarankan hal yang serupa yaitu datang ke Puskesmas Sukadiri atau klinik pengobatan yang terdekat Sekitar pukul 10.00 datang seorang laki-laki bernama Tn. M, usia 42 tahun, datang dengan keluhan sering lemas sejak sekitar 3 bulan yang lalu, keluhan pucat disangkal oleh pasien. Dari hasil anamnesis didapatkan bahwa pasien juga merasakan sering lapar dan haus sehingga lebih sering makan dan minum, namun berat badan tidak naik malah cenderung turun. Keluhan sering terbangun saat malam hari untuk buang air kecil juga dirasakan oleh pasien, sekitar 3-4 kali dalam satu malam. Pasien belum pernah memeriksaan gula darahnya. Keluhan berupa gangguan pada penglihatan, nyeri dada, kelemahan pada satu sisi, kebas atau baal pada ujung-ujung jari, serta gangguan pada ginjal disangkal oleh pasien. Keluhan penurunan kesadaran, mual, atau keringat dingin disertai jentung berdebar-debar juga disangkal oleh pasien. Pasien datang berobat karena takut menderita kencing manis, seperti yang dialami oleh ibu pasien sebelumnya. Dan jika benar mengalami kencing manis, berharap bisa diobat dengan segera. Pasien menyukai makanan dan minuman yang manis. Pasien bekerja sebagai karyawan di salah satu PT di daerah tersebut, pekerjaan itu menyebabkan aktivitas fisik jarang dilakukan. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan TD 120/80, Nadi 86x/menit, Napas 20x/menit. Berat badan termasuk overweight dengan IMT 23.8 Kg/m 2 (BB 65 kg, TB 165 cm). status generalis dalam batas normal. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik saya mendiagnosis Tn. M dengan suspek DM tipe 2, dengan overwieght. Namun diagnosis DM tipe 2 masih belum dapat ditegakkan karena tidak ada data gula darah pasien, dan kami tidak membawa alat pemeriksaan gula darah saat puskesmas keliling kali ini. Sehingga pasien disarankan untuk memeriksakan gula darah ke Puskesmas. Keesokan harinya pasien datang ke Puskesmas Sukadiri dan didapatkan gula darah sewaktunya sebesar 235 mg/dl. Dengan demikian pasien dapat ditegakkan menderita DM tipe 2 dengan overweight. Pasien pun diberikan obat metformin 2x500 mg disertai dengan edukasi sesuai dengan 5 pilar DM.

B. Nomor Rekam Medis: 41304

30

C.

Diagnosis

Aspek Personal Pasien datang diantar oleh nenek dan kakek pasien dengan keluhan batuk, pilek, dan demam sejak 2 datang dengan keluhan sering lemas sejak sekitar 3 bulan yang lalu. Pasien datang berobat karena takut menderita kencing manis, seperti yang dialami oleh ibu pasien sebelumnya. Dan jika benar mengalami kencing manis, berharap bisa diobat dengan segera.

Aspek Klinis DM tipe 2 dengan overweight.

Aspek Faktor Internal Laki-laki, usia 42 tahun, riwayat ibu dengan DM, menyukai makanan dan minuman yang manis

Aspek Faktor Eksternal Pekerjaan menyebabkan aktivitas fisik jarang dilakukan.

Aspek Skala Fungsional Derajat 1

D. Tatalaksana

Non Famakologis:

Saran dilakukan pemeriksaan HbA1C

Meningkatkan aktivitas fisik, minimal 3 kali perminggu selama 30 menit

Menguramngi makanan yang manis dan asin

Kontrol pengobatan secara rutin

Kalori perhari 1950 kalori

Menurunkan berat badan sampai mencapai normal

Farmakologis:

R/ Metformin tab 500 mg No. XXX

ʃ

2 dd tab I PO

ɮ

31

E. Refleksi perbedaan antara teori dan praktek yang dilakukan

Pengalaman mengikuti Puskesmas keliling hari ini adalah pengalaman pertama saya, walaupun sebelumnya sudah 2 kali praktek lapangan di Puskesmas, saat preklinik modul IKK Preklinik dan Modul Clinical Reasonning 4, namun pada saat itu, kegiatan lebih berfokus pada kegiatan internal Puskesmas. Setelah mengikuti kegiatan Puskesmas keliling, menurut saya program ini memerupakan kegiatan yang baik dilakukan oleh setiap Puskemas, dalam rangka mempermudah masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan, dan tentunya dengan tujuan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat. Dengan adanya Puskesmas keliling ini, masyarakat dipermudah untuk mengakses layanan kesehatan, karena hanya dengan datang ke Puskesmas keliling yang terdekat masyarakat sudah dapat mengakses layanan kesehatan dan tidak harus pergi ke Puskesmas yang mungkin saja jauh dari tempat tinggalnya. Dengan begitu banyak hal yang menjadi lebih efisien, diantaranya waktu, biaya, dan tenaga. Cakupan pelayanan Puskesmas pun secara tidak langsung menjadi lebih tinggi, dan kebermanfaatannya lebih dirasakan oleh masyarakat sekitar. Namun, masih banyak hal yang menurut saya perlu dibenahi, agar kebermanfaatan ini dapat lebih maksimal. Hal benar yang menurut saya sudah saya lakukan antara lain yaitu mengikuti kegiatan sesuai dengan jadwal yang kami bikin selama kepaniteraan klinik di Puskemas Sukadiri ini. Kemudian hal yang menurut saya sudah benar adalah kami melakukan kegiatan Puskesmas keliling sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh Puskesmas. Dengan berbekal pengetahuan selama menempuh studi di preklinik dan klinik, saya dapat melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, merencanakan pemeriksaan penunjang, dan merencanakan terapi kepada pasien. Adapun hal yang menurut saya penting, yang saya dapatkan hari ini adalah tentang memaksimalkan kemampuan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang saya miliki, sehingga dengan keterbatasan pemeriksaan penunjang, saya dapat menegakkan diagnosis, atau paling tidak merencanakan pemeriksaan penunjang yang sesuai dengan penyakit pasien. Dan hal inilah yang membuat saya semakin percaya dengan nasehat guru-guru saya selama menempuh pendidikan di kedokteran, bahwa senjata seorang dokter bukanlah pemeriksaan penunjang, namun anamnesis dan pemeriksaan fisik yang kita lakukan. Adapun hal yang perlu ditingkatkan dalam kasus ini masih terkait peralatan dan pengobatan yang masih terbatas. Sedangkan untuk diri saya sendiri, hal yang masih harus saya tingkatkan adalah kemampuan untuk memaksimalkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang saya

32

lakukan, agar keterbatasan pemeriksaan penunjang yang ada dapat diatasi dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik. Dan seperti saya bahas dalam refeksi pada saat bertugas di poli farmasi, hal yang perlu saya tingkatkan juga adalah kemampuan untuk mencari alternatif obat sesuai dengan kebutuhan yang tersedia. Berdasarkan teori, Permenkes RI No. 128/Menkes/SK/II/2004 mendefinisikan Puskesmas sebagai unit pelayanan teknis Dinas Kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Sedangkan Puskesmas keliling sendiri menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI no. 75 tahun 2014, merupakan jaringan pelayanan Puskesmas yang sifatnya bergerak (mobile), untuk meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan bagi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas yang belum terjangkau oleh pelayanan dalam gedung Puskesmas. Puskesmas keliling dilaksanakan secara berkala sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dengan memperhatikan siklus kebutuhan pelayanan. Tujuan dari Puskesmas Keliling adalah untuk meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat terutama masyarakat di daerah terpencil/sangat terpencil dan terisolasi baik di darat maupun di pulau-pulau kecil serta untuk menyediakan sarana transportasi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan. 1 Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. DM ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis sebagai berikut: 2

berdasarkan kriteria diagnosis sebagai berikut: 2 Tabel 1. Kriteria diagnosis DM 2 Adapun tatalaksana DM

Tabel 1. Kriteria diagnosis DM 2

Adapun tatalaksana DM didasarkan pada 5 pilar yaitu: 2

1. Edukasi

2. Terapi Nutrisi Medis

3. Aktivitas fisik atau jasmani

33

4.

Terapi Farmakologis

5. Pemantauan gula darah secara mandiri

Terapi farmakologi yang diberikan pada pasien dengan DM tipe 2 harus sesuai dengan algoritme pengololaan DM tipe 2 berikut ini:

sesuai dengan algoritme pengololaan DM tipe 2 berikut ini: Gambar 1. Algoritme Pengelolaan DM Tipe 2

Gambar 1. Algoritme Pengelolaan DM Tipe 2 2 Adapun pentingnya anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah menjadi hasil yang disepakati oleh sebagian besar dokter di dunia. Bahkan berdasarkan penelitian didapatkan bahwa hanya berdasarkan anamnesis yang benar, seorang dokter dapat menegakkan diagnosis sebesar 70-90% kasus. Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 94 orang mahasiswa kedokteran tahun ke 6 di Chiba University Jepang, didapatkan bahwa anamnesis berperan sebesar 71,7% dalam penegakan diagnosis, pemeriksaan fisik berperan sebesar 18,3%, dan pemeriksaan penunjang berperan sebesar 10%. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya anamnesis dan pemeriksaan fisik bagi seorang dokter dalam menegakkan diagnosis, apalagi mengingat terbatasnya pemeriksaan penunjang yang ada di Puskesmas. 3

34

Hal yang berbeda antara teori dengan fakta yang ada antara lain keterbatasan pemeriksaan yang ada dalam hal penegakan diagnosis, diantaranya seperti pada kasus yang ada, yaitu pada diagnosis DM tipe 2 dibutuhkan pemeriksaan gula darah, minimal yaitu pemeriksaan gula darah sewaktu, jika sudah ditemukan gejala klasik DM. sehingga kemampuan dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik sangat dibutuhkan dalam keadaan seperti ini. Selain itu, seharusnya dalam memulai pengobatan DM tipe 2 diperlukan data nilai HbA1C pada pasien, namun karena keterbatasan peemeriksaan yang ada dipuskesmas, pengobatan dimulai tanpa melihat data HbA1C.

F. Nilai agama dan profesionalisme yang terkait dengan kasus

Nilai agama yang dapat diambil dalam kasus ini antara lain yaitu upaya memaksimalkan pelayanan kesehatan dengan adanya Puskesmas keliling, hal ini sesuai dengan kaidah yang ada dalam islam, yaitu terus berusaha meningkatkan bermanfaatan diri kita bagi orang lain, sebagaimana hadist Rasulullah SAW yang berbunyi:

orang lain, sebagaimana hadist Rasulullah SAW yang berbunyi: “Sebaik - baik manusia adalah yang paling bermanfaat

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain” (HR. Ahmad, ath- Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no: 3289). 4 Meningkatkan kebermanfaatan diri kita untuk orang lain juga dapat kita lakukan dengan terus meningkatkan kemampuan mendiagnosis penyakit yang ada, khususnya dalam hal anamnesis dan pemeriksaan fisik. Mengingat keterbatasan pemeriksaan penunjang yang tersedia dalam pelayanan primer seperti Puskesmas, sehingga kemampuan ini penting karena dapat menegakkan diagnosis sekitar 90% hanya dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dengan demikian kebermanfaatan kita sebagai dokter akan menjadi lebih baik untuk meningkatkan kesehatan masyarakat sekitar. Nilai profesionalisme yang sesuai dengan kasus ini antara lain salah satu dari bioetik kedokteran yaitu beneficience, yaitu meningkatkan kebermanfaatan pasien. Hal ini tercermin dalam kegiatan Puskesmas keliling, yang dengan program ini diharapakan masyarakat lebih mudah mengakses layanan kesehatan. Selain itu, sebagai seorang dokter, kita juga harus terus meningkatkan kemampuan untuk menegakkan diagnosis, khususnya dalam hal anamnesis dan pemeriksaan fisik, hal ini dapat dilakukan dengan terus belajar dan mengupdate ilmu pengetahuan sepanjang hayat.

35

G. Hal yang perlu dipelajari lebih lanjut

Adapun hal yang perlu saya pelajari lebih lanjut antara lain kemampuan dalam hal anamnesis dan pemeriksaan fisik dari setiap penyakit yang ada, sehingga dapat membantu saya dalam hal penegakan diagnosis, khususnya pada keadaan-keadaan dimana pemeriksaan penunjang sangat terbatas, seperti saat berpraktek di Puskesmas nantinya. Dengan demikian kebermanfaatan diri saya sebagai dokter dapat meningkat, dan masyarakat dapat ditangani dengan baik dan benar.

I. Daftar Pustaka

1. Kemenkes. Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 tahun 2014 tentang Puskesmas.

2. PERKENI. Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. Jakarta. PB PERKENI; 2015.

3. Tsukamoto T, Ohira Y, Noda K, Takada T, Ikusaka M. The contribution of medical history for the diagnosis of stimulated cases by medical students. Japan. International Journal of Medical Student; 2012;3:78-82.

4. Al-Quran dan Hadist

36

Feedback dari pembimbing Puskesmas/kampus

 

Ditambahkan algoritme tatalaksana DM

Kesalahan penulisan dan EYD diperbaiki

Nama Mahasiswa

M.

Ilyas Saputera

TTD

Nama Pembimbing

dr.

Ahmad Azwar Habibi, M.Biomed

TTD

 

dr.

Taufit Wirawan

TTD

37

LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN PUSKESMAS KELILING

LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN PUSKESMAS KELILING Gambar 3.1. Ambulans yang digunakan untuk Puskesmas Keliling Gambar 3.2.

Gambar 3.1. Ambulans yang digunakan untuk Puskesmas Keliling

Gambar 3.1. Ambulans yang digunakan untuk Puskesmas Keliling Gambar 3.2. Proses Puskesmas Keliling 38 Gambar 3.3.

Gambar 3.2. Proses Puskesmas Keliling

38

3.1. Ambulans yang digunakan untuk Puskesmas Keliling Gambar 3.2. Proses Puskesmas Keliling 38 Gambar 3.3. Resep

Gambar 3.3. Resep Obat

LAPORAN KEGIATAN

KINERJA EKSTERNAL PUSKESMAS

Nama Kegiatan

: Posyandu Anak

Tempat

: Puskesmas Sukadiri

Tanggal

: Sabtu, 09 September 2017

A. Deskripsi Kegiatan

Hari ini saya bertugas di kegiatan eksternal Puskesmas dan kegiatan yang saya ikuti adalah Posyandu anak. Sekitar pukul 08.00 WIB, saya bersama satu teman saya dan seorang bidan desa pergi menggunakan sepeda motor ke Desa Karang Serang, di sinilah Posyandu Anak hari ini

dilaksanakan. Setelah menghabiskan sekitar 15 menit dalam perjalanan menuju lokasi, kami tiba

di salah satu rumah kader yang akan menjadi tempat Posyandu Anak hari ini. Adapun agenda hari

ini yaitu memberikan imunisasi MR sesuai dengan program Kemenkes dalam periode Agustus sampai dengan September 2017. Sesampainya di lokasi, kami segera menyiapkan alat-alat untuk imunisasi berupa kapas, air hangat, spuit 3 cc, dan vaksin MR beserta pelarutnya, serta berkas-berkas untuk pendataan pasien

yang mengikuti imunisasi. Kader Puskesmas pun dengan sigap menuju ke rumah-rumah warga dan mengumumkan kegiatan Posyandu Anak hari ini menggunakan pengeras suara mesjid terdekat. Tidak begitu lama, berdatangan beberapa ibu-ibu membawa anaknya untuk dilakukan imunisasi. Anak yang ingin diimunisasi pun didata, kemudian dengan dipangku ibunya, anak

disuntikkan vaksin MR di lengan sebelah kiri setelah sebelumnya dibersihkan menggunakan kapas dan air hangat. Kemudian anak yang sudah dilakukan imunisasi MR diberikan tanda berupa tinta

di jari kelingking tangan kirinya, serta diberikan edukasi tentang kemungkinan kejadian ikutan

pasca imunisasi (KIPI) dan cara menanggulanginya. Ada beberapa anak yang takut dan kemudian menangis, namun tidak sedikit anak yang tenang walaupun sudah disuntik vaksin tersebut. Terdapat beberapa anak yang tidak dapat imunisasi karena sedang demam atau sakit, dan beberapa masih belum memenuhi kriteria usia karena masih belum mencapai usia 9 bulan. Karena imunisasi MR hanya diberikan pada anak dari usia 9 bulan sampai 15 tahun. Terdapat pula anak- anak yang sudah diimunisasi sebelumnya di sekolah masing-masing, karena memang program

39

imunisasi ini tidak hanya diberikan pada saat Posyandu tetapi juga melalui sekolah-sekolah untuk memudahkan dan meningkatkan cakupan pemberian imunisasi. Sekitar pukul 10.00 WIB, tempat pemberian imunisasi sudah cukup sepi, sekitar 40 anak sudah dilakukan imunisasi MR. Sedangkan target pemberian imunisasi MR hari ini adalah sebanyak 45 anak. Kami pun memutuskan untuk pergi ke rumah-rumah warga untuk mencari anak-anak yang belum diberikan imunisasi. Di salah satu rumah kami mendapatkan seorang anak laki-laki bernama An. AM berusia 3 tahun belum diberikan imunisasi MR, hal ini terjadi karena ibu pasien tidak mau memberikan imunisasi dengan alasan kasihan pada anaknya, dan ia juga mendengar beberapa berita di media sosial tentang adanya anak yang autis atau lumpuh setelah pemberian imunisasi MR. kami pun memberikan penjelasan kepada ibu tersebut bahwa berita yang ada di media tersebut adalah berita bohong dan tidak ada bukti yang terpercaya tentang efek samping imunisasi MR sesuai dengan yang diberitakan. Edukasi kepada ibu anak ini juga dibantu oleh ibu-ibu yang lain, dan kata-kata penting yang diucapkan ibu-ibu tersebut yang menurut saya sangat benar yaitu memang kita kasihan saat anak kita disuntik imunisasi, namun lebih kasihan jika kita tidak memberikan imunisasi kepada anak kita, karena kita secara tidak langsung membiarkan anak kita terancam mengalami penyakit-penyakit yang sebenarnya bisa dicegah jika diberikan imunisasi. Setelah diberi penjelasan dari kami dan ibu-ibu yang lain, ibu dari anak ini pun setuju untuk diberikan imunisasi MR. Setelah An. AM diberikan imunisasi MR di lengan atas kirinya, ia pun diberikan tinta pada kelingking tangan kirinya tanda sudah diberikan imunisasi MR, ibu pasien juga diberikan edukasi yang benar tentang kemungkinan KIPI yang terjadi dan cara menanganinya. Sekitar pukul 11.30 WIB, kami pun bersiap-siap untuk pulang dan kembali melakukan pelayanan di Puskesmas. Tercatat sebanyak 53 anak telah dilakukan imunisasi MR dari kegiatan Posyandu hari ini. Kami pun berpamitan dengan kader-kader Pusekemas disana dan kemudian pulang ke Puskesmas kembali. Kami pun tiba di Puskesmas Sukadiri kembali sekitar pukul 12.00 WIB. Saya memutuskan untuk mengambil kasus imunisasi MR karena ini karena memang imunisasi ini adalah program dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada bulan Agustus dan September 2017 ini. Dan program ini pun masih akan diberlakukan di tahun depan yaitu Agustus dan September 2018 di beberapa bagian Indonesia. Namun sayangnya masih beberapa pihak yang

40

akti terhadap imunisasi ini dan terdapat beberapa berita-berita yang tidak terbukti kebenarannya beredar luas di media sosial, sehingga menghambat proses pelaksanaan imunisasi ini.

B. Refleksi perbedaan antara teori dan praktek yang dilakukan

Imunisasi MR adalah program yang digalakkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada periode Agustus sampai September 2017 dan Agustus sampai September 2018. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan cakupan imunisasi campak dan rubella. Program ini dilakukan di sekolah-sekolah dan Puskesmas, begitu juga dilakukan di Puskesmas Sukadiri. Imunisasi MR ini dimasukkan dalam kegiatan Posyandu Anak. Saya pun berkesempatan untuk ikut pada kegiatan Posyandu anak yang isinya yaitu imunisasi MR yang dilakukan di Desa Karang Serang. Hal yang menurut saya sudah benar yang lakukan antara lain mengikuti kegiatan di Puskesmas sesuai jadwal yang telah ditentukan sebelumnya, kemudian dalam pelaksanaannya saya membantu bidan desa untuk memberikan imunisasi MR kepada anak yang belum diberikan imunisasi. Saya membantu menganamnesis ibu pasien secara singkat mengenai usia anak yang akan diperiksan, dan memastikan tidak adanya kontraindikasi pada pasien, kemudian menyuntikkan vaksin yang sudah disiapkan oleh bidan dengan sebelumnya membersihkan lengan atas kiri dengan air hangat, bukan dengan alkohol, karena vaksin yang digunakan adalah vaksin hidup yang dilemahkan. Setelah selesai menyuntikkan vaksin di lengan kiri atas, saya memberikan tanda pada jari kelingking kiri pasien, tanda bahwa pasien sudah dilakukan imunisasi MR. Adapun hal yang menurut saya berharga dalam kasus ini adalah pengalaman untuk mengedukasi ibu pasien yang tidak mau memberikan imunisasi pada anaknya dan meyakinkan bahwa berita-berita tentang KIPI imunisasi MR yang beredar di media sosial tidak benar adanya, dan tidak terbukti dari penelitian yang ada. Adapun hal yang seharusnya bisa ditingkatkan dalam hal imunisasi MR ini adalah perlunya edukasi kepada ibu-ibu tentang manfaat dari adanya imunisasi MR ini, dan informasi tentang KIPI yang mungkin terjadi, sehingga dapat menangkal berita-berita yang mengklaim bahwa terdapat keluhan-keluhan yang dialami anak setelah imunisasi MR seperti autis dan kelumpuhan. Adapun untuk diri saya sendiri, hal yang perlu saya tingkatkan yaitu teknik memberikan edukasi dan informasi kepada pasien atau keluarga pasien secara baik dan benar,

41

terlebih dengan pesatnya kemajuan media informasi sekarang ini, dimana informasi dapat diterima oleh setiap orang dari berbagai sumber, baik itu hal yang benar ataupun sebaliknya. Secara teori, Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) menurut Kementrian Kesehatan RI adalah salah satu Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan oleh, dari, dan bersama masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi dan anak balita. Kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan/pilihan. Kegiatan utama Posyandu mencakup: 1

kesehatan ibu dan anak;

keluarga berencana;

imunisasi;

gizi;

pencegahan dan penanggulangan diare.

Sedangkan kegiatan pengembangan/pilihan, antara lain: 1

Bina Keluarga Balita (BKB)

Tanaman Obat Keluarga ( TOGA)

Bina Keluarga Lansia (BKL)

Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Berbagai program pembangunan masyarakat desa lainnya.

Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian rubella/Congenital Rubella Syndrome (CRS) pada tahun 2020. Berdasarkan hasil surveilans dan cakupan imunisasi, maka imunisasi campak rutin saja belum cukup untuk mencapai target eliminasi campak. Sedangkan untuk akselerasi pengendalian rubella/CRS maka perlu dilakukan kampanye imunisasi tambahan sebelum introduksi vaksin MR ke dalam imunisasi rutin. Untuk itu diperlukan kampanye pemberian imunisasi vaksin MR pada anak usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun. Kegiatan kampanye imunisasi MR ini akan dilaksanakan dalam dua fase yaitu fase I pada bulan Agustus - September 2017 di seluruh Pulau Jawa dan fase II pada bulan Agustus -September 2018 di seluruh Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. 2 Vaksin Measles Rubella (MR) adalah vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated) berupa serbuk kering dengan pelarut. Kemasan vaksin adalah 10 dosis per vial. Setiap dosis vaksin MR mengandung 1000 CCID50 virus campak dan 1000 CCID50 virus rubella. 2

42

Gambar 1. Manfaat Vaksin MR 2 Dengan pemberian imunisasi campak dan rubella dapat melindungi anak

Gambar 1. Manfaat Vaksin MR 2

Dengan pemberian imunisasi campak dan rubella dapat melindungi anak dari kecacatan dan kematian akibat pneumonia, diare, kerusakan otak, ketulian, kebutaan dan penyakit jantung bawaan. 2 Adapun kontraindikasi pemberian vaksin MR antara lain: 2

Individu yang sedang dalam terapi kortikosteroid, imunosupresan dan radioterapi

Wanita hamil

Leukemia, anemia berat dan kelainan darah lainnya

Kelainan fungsi ginjal berat

Decompensatio cordis

Setelah pemberian gamma globulin atau transfusi darah

Riwayat alergi terhadap komponen vaksin (neomicyn).

Dan pemberian imunisasi MR ditunda jika terdapat demam, batuk pilek, dan diare. 2 Pelayanan imunisasi dilakukan di pos-pos pelayanan imunisasi yang telah ditentukan yaitu di Posyandu, Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Puskesmas pembantu, Rumah Sakit, di sekolah-

sekolah yaitu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), SD/sederajat dan SLTP/sederajat. 2

43

Gambar 2. Skema Pelayanan di sekolah 2 Gambar 3. Skema Pelayanan di Posyandu 2 Adapun

Gambar 2. Skema Pelayanan di sekolah 2

Gambar 2. Skema Pelayanan di sekolah 2 Gambar 3. Skema Pelayanan di Posyandu 2 Adapun Kejadian

Gambar 3. Skema Pelayanan di Posyandu 2 Adapun Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang mungkin terjadi setelah imunisasi MR yang terbukti secara penilitian adalah sebagai berikut:

Imunisasi (KIPI) yang mungkin terjadi setelah imunisasi MR yang terbukti secara penilitian adalah sebagai berikut: 44

44

Tabel 1. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi MR 2 Adapun menurut IDAI tentang isu adanya kelumpuhan

Tabel 1. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi MR 2

Adapun menurut IDAI tentang isu adanya kelumpuhan dan autisme setelah pemberian imunisasi MR adalah tidak benar dan sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung bahwa imunisasi jenis apapun dapat menyebabkan autisme. 3 Dan menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 4 tahun 2016, Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya penyakit tertentu. 3 Hal yang berbeda antara teori dan kenyataan di lapangan antara lain seharusnya masyarakat sudah mendapatkan informasi yang cukup tentang MR dan dengan senang hati mengantarkan anaknya untuk dilakukan imunisasi MR, namun di lapangan masih ada beberapa ibu-ibu yang takut memberikan imunisasi MR ke anaknya karena berita-berita yang mereka dapatkan di media sosial. Oleh karena itu, sebagai petugas kita perlu datang ke rumah-rumah warga untuk mencari anak yang belum diimunisasi dan memberikan edukasi kepada orang tua yang masih belum mengerti tentang imunisasi ini, walaupun idealnya orang tualah yang harusnya datang ke Posyandu-Posyandu yang ada.

C. Nilai agama dan profesionalisme yang terkait dengan kasus

Nilai agama yang dapat kita pelajari dalam hal program Posyandu yang kali ini diisi dengan imunisasi MR adalah tentang menyikapi berita atau yang informasi yang datang kepada kita. Mengingat semakin majunya teknologi dan informasi, sangat sulit untuk kita menyaring berita atau informasi yang beredar, tidak terlepas berita atau informasi tentang kesehatan. Pasien pun semakin mudah menemukan informasi tentang kesehatan, namun kita sebagai seorang dokter wajib memberikan penjelasan yang benar sehingga pasien tidak begitu saja percaya dengan adanya informasi yang beredar, terlebih jika berita tersebut tidak benar atau yang sekarang serimg disebut dengan "Hoax". Al-Qur'an sendiri sudah memperingatkan kita tentang menyikapi sebuah berita diantaranya yaitu sebagai berikut:

45

“ Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al- Hujurat:6]. 4 Adapun nilai profesionalisme yang perlu saya dapatkan dalam kasus ini yaitu tentang pentingnya komunikasi yang efektif kepada pasien, karena dengan komunikasi yang baik dan efektif kita sebagai dokter dapat memberikan edukasi yang benar kepada pasien. Serta dapat menyakinkan pasien akan suatu yang hal sudah teruji keabsahannya. Oleh karena itu, salah satu tanda five stars doctor yaitu communicator artinya untuk menjadi seorang dokter yang profesional perlu untuk memiliki kemampuan komunikasi yang efektif sehingga apa yang kita harapkan bisa tersampaikan kepada pasien secara baik.

D. Hal yang perlu dipelajari lebih lanjut

Hal yang perlu saya pelajari untuk mempersiapkan diri sebagai dokter adalah kemampuan berkomunikasi kepada pasien, karena dengan komunikasi yang efektif pesan yang ingin kita sampaikan dan tujuan dari pengobatan dapat terwujud. Namun sebaliknya, komunikasi pulalah yang menyebabkan adanya perseteruan antara dokter dan pasien yang tentunya tidak kita inginkan. Dengan demikian, saya harus terus berlatih untuk meningkatkan kemampuan saya dalam hal kemunikasi, dan saya juga perlu membaca beberapa literatur tentang komunikasi dokter dengan pasien atau keluarga pasien. Selain itu, hal yang penting saya pelajari terkait kasus ini adalah

pengetahuan tentang penyakit atau pengobatan itu sendiri, sehingga saya dapat menjelaskan hal- hal yang dibutuhkan oleh pasien dengan benar dan sesuai dengan teori yang ada.

46

E. Daftar Pustaka

1. Buku Saku Posyandu. (2012). [ebook] Jakarta: Promkes Kemenkes RI. Available at:

http://www.depkes.go.id/resources/download/promosi-kesehatan/buku-saku-

posyandu.pdf [Accessed 17 Sep. 2017].

2. Petunjuk teknis kampanye imunisasi measles rubella (MR). (2017). [ebook] Jakarta:

Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan RI.

Available

http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/petunjuk_teknis_kampanye_da n_introduksi_mr.pdf?ua=1 [Accessed 17 Sep. 2017].

at:

3. IDAI. (2017). Daftar Pertanyaan Seputar Imunisasi Campak/Measles dan Rubella (MR). [online] Available at: http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan- seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr [Accessed 17 Sep. 2017].

4. Al Badawi, A. (2017). Berita Dan Bahayanya. [online] Media Islam Salafiyyah, Ahlussunnah wal Jama'ah. Available at: https://almanhaj.or.id/2634-berita-dan- bahayanya.html [Accessed 17 Sep. 2017].

47

Feedback dari pembimbing Puskesmas/kampus

 

Ditambahkan isu yang terkait dengan imunisasi MR yang beredar di masyarakat

Kesalahan penulisan dan EYD diperbaiki

 

Nama Mahasiswa

M.

Ilyas S4aputera

TTD

Nama Pembimbing

dr.

Ahmad Azwar Habibi, M.Biomed

TTD

 

dr.

Taufit Wirawan

TTD

48

LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN POSYANDU ANAK

LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN POSYANDU ANAK Gambar 4.1. Proses Imunisasi MR 49
LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN POSYANDU ANAK Gambar 4.1. Proses Imunisasi MR 49

Gambar 4.1. Proses Imunisasi MR

49

LAPORAN KEGIATAN MINI CEX

Nama Kegiatan

: Mini Cex

Tempat

: KPKM Reni Jaya

Hari/Tanggal

: Jumat, 08 September 2017

A. Deskripsi Kegiatan

Hari ini saya dijadwalkan Mini Cex di KPKM Reni Jaya, walaupun seharusnya saya dan teman-teman sekelompok seharusnya melakukan Mini Cex pada hari Senin dan Selasa, namun karena menyesuaikan dengan jadwal pembimbing, maka dijadwalkan ulang yaitu hari Rabu dan hari Jumat. Pada hari Rabu kemarin teman-teman saya sudah melakukan Mini Cex, namun karena keterbatasan jumlah pasien pada hari Rabu, maka saya dijadwalkan Mini Cex pada hari Jumat. Pukul 07.30 WIB saya tiba di KPKM Reni Jaya, kemudian saya mempersiapkan diri untuk melakukan Mini Cex. Sekitar pukul 08.00 WIB, Ujian Mini Cex dimulai. Pasien saya adalah Ny. N, usia 56 tahun, pasien adalah IRT. Pasien datang dengan beberapa keluhan di antaranya nyeri punggung, batuk, pilek, nyeri lutut, perut kembung, mual, pandangan kabur, dan beberapa keluhan lainnya. Pasien datang ke KPKM dengan kekhawatiran bahwa ia menderita beberapa penyakit. Pasien tidak dapat menentukan keluhan utama yang membuat pasien datang ke KPKM. Selain itu, pasien juga merupakan orang yang banyak bicara, namun pembicaraan pasien tidak terstruktur dengan baik. Namun saya terus mencoba mengarahkan pembicaraan, karena pasien cenderung flight of idea. Dari anamnesis didapatkan bahwa keluhan nyeri punggung dirasakan hilang timbul dan memberat jika pasien membungkukkan tulang belakang, seperti setelah mencuci baju, keluhan tungkai seperti tersetrum atau baal disangkal oleh pasien. Selain itu didapatkan pula informasi bahwa pasien menderita hipertensi sejak sekitar 6 bulan yang lalu dan sering minum obat amlodipin 5 mg, dan pasien sudah meminum obat tersebut pagi ini. Namun pasien mengaku masih sering memakan makanan yang asin dan jarang malakukan aktivitas fisik. Pasien diketahui sering meminum banyak obat dengan beberapa keluhan yang ia rasakan, seperti obat nyeri, obat lambung, obat hipertensi, dan sebagainya. Selain itu, didapatkan pula informasi bahwa pasien sering merasa takut saat berada di rumah, dan pasien mengaku pernah melihat sosok perempuan berada di samping suaminya saat di tempat tidur dan hal itu hanya dilihat oleh dirinya. Riwayat mendengar

50

bisikan-bisikan yang tidak didengar oleh orang lain disangkal oleh pasien. Dan berdasarkan data rekam medis juga didapatkan bahwa pasien sering datang ke KPKM dengan keluhan yang berbeda-beda, bahkan 3 hari sebelumnya pasien juga sudah datang ke KPKM dengan keluhan sakit kepala, mual, dan beberapa keluhan lainnya. Dari riwayat keluarga tidak ditemukan keluhan seperti pasien. Selain itu, diketahui bahwa pasien baru menikah dengan suami baru sekitar 5 tahun terakhir, berpisah dengan suami sebelumnya, tetapi riwayat pernikahan sebelumnya tidak dapat digali lebih lanjut dari pasien. Pasien juga mengaku sering merokok, namun jumlah dan lamanya merokok tidak dapat digali lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan TD pasien yaitu 150/100, tidak didapatkan kelainan pada mata, THT, mulut, dan toraks pasien. Dari pemeriksaan abdomen didapatkan perut terlihat kembung, nyeri tekan tidak ada, dan bising usus dalam batas normal. Dari pemeriksaan lutut tidak didapatkan kemerahan, nyeri, dan krepitasi. Lain-lain dalam batas normal. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan, saya mendiagnosis pasien dengan hipertensi grade II tidak terkontrol dengan obat, dyspepsia fungsional, LBP, dan Susp. psikosomatik dengan psikotik. Dari diagnosis tersebut, saya meningkatkan dosis obat hipertensi yaitu amlodipin 1x10 mg, selain itu juga diberikan obat parasetamol 3x500 mg, dan domperidon 3x10 mg. Pasien juga diberikan edukasi untuk menghindari makanan yang asin, berhenti merokok, dan melakukan olahraga minimal 3 kali dalam seminggu dengan durasi 30 menit tiap olahraga. Edukasi lainnya yaitu untuk menghindari membungkukkan tulang belakang secara berlebihan dan dalam waktu lama, misalnya dengan menggunakan kursi saat menyuci. Pasien juga diberi psikoedukasi tentang melawan rasa takut pada dirinya, mengabaikan penglihatan-penglihatan yang tidak dilihat oleh orang lain, dan tidak meminum obat sembarangan sesuai keluhan yang ia rasakan.

B. Nomor Rekam Medis 41306

C. Diagnosis Holistik

Aspek Personal

51

Pasien datang dengan beberapa keluhan di antaranya nyeri punggung, batuk, pilek, nyeri lutut, perut kembung, mual, pandangan kabur, dan beberapa keluhan lainnya. Pasien datang ke KPKM dengan kekhawatiran bahwa ia menderita beberapa penyakit

Aspek Klinis Hipertensi grade II tidak terkontrol dengan obat, dyspepsia fungsional, LBP, dan Susp. psikosomatik dengan psikotik

Aspek Faktor Internal Perempuan, usia 56 tahun, sering merasa takut, sering mengkonsumsi makanan yang asin dan jarang berolahraga, merokok, sering membungkukkan badannya saat mencuci

Aspek Faktor Eksternal Riwayat berpisah dengan suami dan menikah dengan suami baru

Aspek Skala Fungsional Derajat 1

D.

Tatalaksana

 
 

Non Farmakologis Edukasi untuk:

Mengabaikan penglihatan- penglihatan yang tidak dilihat oleh

 

Menghindari makanan yang asin

orang lain,

Berhenti merokok

Tidak meminum obat sembarangan

Melakukan olahraga minimal 3 kali dalam seminggu dengan durasi 30 menit tiap olahraga.

sesuai keluhan yang ia rasakan.

Menghindari stress psikologis

Farmakologis R/ Amlodipin tab 10 mg No. X

Menghindari membungkukkan tulang belakang secara berlebihan dan dalam waktu lama Psikoedukasi tentang:

Melawan rasa takut pada dirinya, dengan ibadah dan zikir

52

ʃ

1 dd tab I PC

ɮ

R/ Paracetamol tab 500 ml No. X

ʃ

3 dd I cth PC

ɮ

R/ Domperidon tab 10 ml No. X

ʃ

3 dd tab I PC

ɮ

E. Refleksi perbedaan antara teori dan praktek yang dilakukan

Pelayanan primer merupakan ujung tombak dari pelayanan kesehatan di Indonesia, dan dokter umum adalah orang yang memiliki peran penting dalam efektivitas pelayanan primer, terutama di

jaman BPJS seperti sekarang ini. Sebagai seorang dokter umum yang berada di pelayanan primer tentunya akan bermacam-macam kasus yang akan temui, termasuk kasus psikiatri sebagaimana yang saya temukan dalam Mini Cex kali ini. Tindakan yang menurut saya sudah sesuai yang saya lakukan dalam kasus ini antara lain datang tepat waktu untuk melakukan Mini Cex di KPKM Reni Jaya hari ini. Kemudian terkait kasus yang saya lakukan, saya dapat melakukan anamnesis dan mendapatkan informasi dari

pasien, walaupun pasien termasuk pasien yang logorrhea dan mengarah ke flight of idea. Selain dari menganamnesis tentang keluhan fisik pasien, saya juga dapat menemukan keluhan atau gejala yang mengarahkan kepada gejala dan tanda penyakit kejiwaan atau psikiatri. Selain itu, saya dapat memberikan tatalaksana sesuai dengan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang saya lakukan dan sesuai diagnosis yang ditegakkan. Adapun hal yang perlu ditingkatkan terkait kasus ini yaitu kemampuan dalam wawancara kasus psikiatri yang harus lebih diperdalam, sehingga dapat menegakkan diagnosis psikiatri menggunakan 5 aksis psikiatri. Hal ini penting mengingat kasus psikiatri adalah kasus yang bisa sewaktu-waktu saya temui di layanan primer. Hal lain yang menurut saya perlu ditingkatkan yaitu tentang pemeriksaan fisik pada pasien LBP yang saya lewatkan pada Mini Cex kali ini, karena hal ini penting untuk memastikan keluhan pasien dan menentukan keparahan penyakit pada pasien. Berdasarkan teori, Mini Cex adalah salah satu metode penilaian yang dirancang untuk mengukur performa peserta didik dalam pendidikan klinik. Mini Cex terdiri dari 7 komponen yaitu: 1

1. Anamnesis

2. Pemeriksaan fisik

3. Profesionalisme

4. Clinical judgement

5. Keterampilan konseling

6. Organisasi atau efisiensi

7. Penilaian secara keseluruhan.

53

Adapun pada kasus psikiatri terdapat beberapa perbedaan dalam hal wawancara dan pemeriksaan fisik. Selain anamnesis dan pemeriksaan fisik seperti biasanya, pada kasus psikiatri terdapat pemeriksaan psikiatri yang meliputi: 2,3

Deskripsi umum : Penampilan, Perilaku dan aktivitas psikomotor, Sikap terhadap pemeriksa

Mood dan Afek : Mood, Afek, dan Keserasian Afek

Pembicaraan

Gangguan Persepsi

Pikiran : Proses dan Bentuk Pikir, Isi pikir

Sensorium dan Kognisi : Kesadaran, Orientasi dan Daya Ingat, Konsentrasi dan Perhatian, Kemampuan Membaca dan Menulis, Kemampuan Visuospasial, Pikiran Abstrak, Intelegensi dan Kemampuan Informasi, Bakat Kreatif, Kemampuan menolong diri sendiri

Pengendalian Impuls

Daya nilai dan tilikan

Taraf dapat dipercaya

Dari anamnesis dan pemeriksaan seperti pada penyakit organik lainnya, ditambah dengan pemeriksaan psikiatri, diagnosis psikiatri didiagnosis menggunakan diagnosis multiaksial, yaitu

sebagai berikut: 2,3

Aksis I :

Gangguan Jiwa

Kondisi lain yang mungkin menjadi pusat perhatian klinis

Aksis II

:

Gangguan ciri/kepribadian

Retardasi mental

Aksis III :

Kondisi Fisik/penyakit medik umum

Aksis IV :

Problem Psikososial/lingkungan

Aksis V

:

Global Assessment of Functioning

54

Adapun pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada pasien dengan kecurigaan mengalami LBP yaitu sebagai berikut: 4

Inspeksi (Look)

Lihat kurvatura tulang belakang, apakah terdapat gangguan berupa kifosis, lordosis, atau skoliosis

Palpasi (Feel)

Palpasi bagian tengah vertebra, apakah terdapat nyeri

Palpasi bagian paravertebra, apakah terdapat strain dari otot-otot paraspinal.

Gerakan (Movement)

Lakukan gerakan fleksi, ekstensi, rotasi, dan lateral bending ke kanan dan ke kiri, apakah terdapat gangguan ROM

Pemeriksaan Provokatif

Straight leg test

Straight leg test variant

Tripod sign

Femoral Sreatch Test

Pemeriksaan Neurologis

Motorik

Sensorik

Refleks

Perbedaan antara teori dan fakta yang didapatkan dalam kasus ini antara lain yaitu pemeriksaan psikiatri yang belum dilakukan secara optimal, karena keterbatasan waktu dalam

pemeriksaan

ditanggulangi dengan menyempurnakan pemeriksaan psikiatri saat kunjungan pasien selanjutnya.

Hal kedua yaitu pemeriksaan fisik LBP yang masih belum sempurna. Pemeriksaan ini penting dalam menegakkan diagnosis LBP dan menentukan keparahan dari penyakit tersebut, serta mengevaluasi komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi.

yang kurang kooperatif. Namun hal ini dapat

pasien,

dan

keadaan

pasien

A. Nilai agama dan profesionalisme yang terkait dengan kasus

Nilai agama yang dapat diambil dari kasus ini adalah tentang pentingnya ketenangan jiwa pada seseorang. Karena sehatnya jiwa adalah salah satu komponen dalam sehatnya seseorang, dan

55

dari jiwa yang tidak sehat akan muncul keluhan yang tidak mengenakkan dan juga dapat mencetuskan penyakit-penyakit organik. Salah satunya adalah hipertensi yang cukup berkaitan dengan tingkat stres seseorang. Oleh karena itu, ketenangan jiwa adala hal penting dalam kesehatan seseorang dan Islam memberikan salah satu cara untuk mencapai ketenangan jiwa yaitu dengan zikir mengingat kepadaNya. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

mengingat kepadaNya. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi: "Orang-orang yang beriman dan hati-hati mereka tenteram

"Orang-orang yang beriman dan hati-hati mereka tenteram dengan berdzikir (mengingat) kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah, hati akan menjadi tenteram" (Ar-Ra'd (13): 28) 5 Nilai profesionalisme yang dapat dipelajari dari kegiatan ini yaitu sebagai seorang dokter umum yang akan menjadi ujung tombang di layanan primer harus terus meningkatkan kemampuan diri baik dalam hal anamnesis, pemeriksaan fisik, penegakkan diagnosis, penatalaksanaan, dan menentukan tindak lanjut bagi pasien, termasuk memberikan edukasi yang sesuai dengan keadaan pasien. Hal ini juga termasuk dalam kasus-kasus yang jarang kita temui, seperti kasus psikiatri. Namun, hal ini tidak boleh menjadi alasan untuk penanganan yang kurang komperhensif pada pasien. Oleh karena itu, kita perlu terus membaca dan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan profesi kita sebagai seorang dokter.

B. Hal yang perlu dipelajari lebih lanjut

Hal yang perlu saya pelajari lebih lanjut terkait kasus ini adalah tentang kemampuan menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan kesehatan jiwa, baik meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan khususnya pemeriksaan psikiatri. Selain itu, kemampuan tentang pemeriksaan fisik pada kasus khusus seperti LBP juga harus saya tingkatkan. Adapaun cara yang dapat saya lakukan antara lain membaca buku-buku terkait dan mengikuti pembaharuan-

pembaharuan dengan membaca jurnal terbaru terkait kasus ini. Dengan demikian diharapkan penanganan pasien dengan kasus psikiatri dapat dilakukan secara kemperhensif.

56

C.

Daftar Pustaka

1. Iryani D. Mini Cex: Metode penilaian pada pendidikan tahap klinik. Padang: Majalah Kedokteran Andalas. 2012.

2. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. EGC :

Penerbit Buku Kedokteran. 2010.

3. Elvira SD, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI, 2010

4. Approach to the low back exam. [online] Standford Medicine 25. Available at:

https://stanfordmedicine25.standford.edu/the25/BackExam.html [Accessed 22 Sep. 2017].

5. Al-Qur'an dan terjemah

57

Feedback dari pembimbing Puskesmas/kampus

 

Fokus pada masalah refleksi anamnesis dan pemeriksaan psikiatri

Ditambahkan foto rekam medis dan resep

Kesalahan penulisan dan EYD diperbaiki

Nama Mahasiswa

M.

Ilyas Saputera

TTD

Nama Pembimbing

dr.

Ahmad Azwar Habibi, M.Biomed

TTD

 

dr.

Taufit Wirawan

TTD

58

LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN MINI CEX

LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN MINI CEX Gambar 5 .1. Dokumentasi Kegiatan Mini Cex Gambar 5 .2. Kopi

Gambar 5.1. Dokumentasi Kegiatan Mini Cex

KEGIATAN MINI CEX Gambar 5 .1. Dokumentasi Kegiatan Mini Cex Gambar 5 .2. Kopi Rekam Medik

Gambar 5.2. Kopi Rekam Medik

59

KEGIATAN MINI CEX Gambar 5 .1. Dokumentasi Kegiatan Mini Cex Gambar 5 .2. Kopi Rekam Medik

Gambar 5.3. Kopi Resep

LAPORAN KEGIATAN PROGRAM KESEHATAN PESANTREN

Nama Kegiatan

: Promosi Kesehatan

Tempat

: Pesantren Modern Daarul Hikmah

Tanggal

: Kamis, 14 September 2017

D. Deskripsi Kegiatan

Hari ini saya dan teman-teman sekelompok seperti biasa datang ke Puskesmas Sukadiri sekitar Pukul 07.30 WIB. Namun kegiatan hari ini agak berbeda dengan kegiatan-kegiatan ang biasa kami lakukan di Puskesmas setiap harinya, karena hari ini kami akan melakukan promosi kesehatan di salah satu pondok pesantren yang termasuk dalam wilayah ruang lingkup Puskesmas Sukadiri, yaitu tepatnya di Desa Pekayon. Adapun nama pondok pesantren yang menjadi tempat pelaksanaan kegiatan program kesehatan pesantren yaitu Pondok Pesantren Modern Daarul Hikmah. Pondok Pesantren Daarul Hikmah didirikan sejak 20 tahun yang lalu dan merupakan pondok pesantren yang mengacu pada perpaduan antara kurikulum KMI (Kulliyatul Mu'alliminal Islamiyah) Pondok Modern Gontor dengan kurikulum pemerintah (Kemenang dan Kemendikbud) yang disusun secara terpadu dengan beberapa penyesuaian. Pondok Pesantren Dasrul Hikmah memiliki sekitar 800 santri dan santriwati yang termasuk didalamnya santri/wati MTs dan santri/wati SMA. Pondok pesantren ini menjadi tempat kegiatan kesehatan pesantren setelah berkonsultasi dengan penanggungjawab program promosi kesehatan Puskesmas Sukadiri. Setelah mendapatkan rekomendasi dari penanggungjawab program promosi kesehatan Puskesmas Sukadiri, kami melakukan survey ke pondok pesantren pada hari Sabtu, 09 September 2017. Pada kesempatan kali ini, kami bertemu dengan pendiri pondok pesantren yaitu Ust. Afif Afify. Kami membicarakan maksud kedatangan, dan tujuan dari program kesehatan pesantren ini. Dengan senang hati Ust. Afif memberikan izin untuk dilakukan program ini di pondok pesantren Daarul Hikmah. Kami juga membebicarakan tentang sasaran dan materi yang akan disampaikan. Berdasarkan keterbatasan tempat yaitu auditorium pondok yang hanya dapat menampung sekitar 100 orang, maka yang akan menjadi peserta kegiatan ini adalah pengurus Organisasi Santri Daarul Hikmah (OSDA) yang merupakan santri/wati kelas XII SMA. Dan dari data Pusat Kesehatan

60

Pesantren (Puskestren) penyakit terbanyak yang diderita oleh santri/wati di pondok ini yaitu GE (32%), ISPA (23%), Demam Thypoid (15%), Skabies (14%), Dermatitis (13%), Herpes Zooster (2%), dan penyakit lain (1%). Berdasarkan data tersebut, penyakit-penyakit yang ada dapat diatas dapat dicegah dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selain itu, berdasarkan permintaan Ust. Afif, kami juga diminta untuk menyampaikan materi tentang keterampilan klinis pertolongan utama terhadap kejadian sehari-hari seperti mimisan, terkilir, tersedak dan memindahkan orang yang pingsan. Dan demi memberikan informasi tentang pilihan profesi yang dapat dipilih oleh santri/wati saat nanti lulus dari pesantren dan masuk perguruan tinggi, khususnya memperkenalkan tentang kedokteran, maka materi tentang pendidikan kedokteran juga masukkan dalam materi kali ini. Oleh karena itu, disapakatilah bahwa materi yang akan disampaikan kepada santri/wati adalah tentang PHBS, pertolongan pertama, dan tentang pengenalan pendidikan kedokteran. Selasa, 12 September 2017 kami kembali pergi ke Pondok Pesantren Modern Daarul Hikmah untuk menyerahkan surat kegiatan yang dibuat dari Puskesmas Sukadiri, sekaligus bertemu dengan Direktur Pondok untuk membahas teknis kegiatan. Dari pertemuan ini ditetapkan bahwa kegiatan akan dilakukan pada Kamis, 14 September 2017 pukul 09.30-12.00 WIB. Pada hari Kamis, 14 September 2017 kami berangkat dari Puskesmas Sukadiri pukul 08.30 WIB, dan tiba di pondok pesantren sekitar pukul 08.45 WIB, kami pun menemui Direktur Pondok dan meminta izin untuk mempersiapkan acara yang akan dimulai pada pukul 09.30 WIB. Sebelum hari ini kami telah mempersiapkan beberapa hal antara kain: materi yang akan disampaikan, soal pre dan posttest, sertifikat untuk pondok pesantren, makanan bagi peserta, dan hal lainnya yang dibutuhkan untuk acara hari ini. Sekitar pukul 09.15 WIB para santri/wati sudah mulai berdatangan, mereka pun diminta untuk absen dan diberikan makanan. Setelah semua terkumpul, acara pun dimulai, tercatat peserta yang hadir pada acara ini berjumlah 105 santri/wati kelas akhir Pondok pesantren Daarul Hikmah. Acara mulai sedikit terlambat yaitu sekitar pukul 09.45 WIB yang seharusnya mulai pukul 09.30 WIB sesuai rencana. Acara dimulai dengan pembukaan yang dipimpin oleh pembawa acara yang pada hari ini bertugas yaitu Imtiyazi Nabila, acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci al-Qur'an yang dilantunkan oleh perwakilan santri. Selanjutnya, yaitu sambutan ketua acara, yang kebetulan saya ditunjuk teman-teman untuk memberikan sambutan pada acara ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan pimpinan pondok.

61

Setelah sambutan-sambutan, acara dilanjutkan dengan acara inti yaitu kegiatan promosi kesehatan hari yang terdiri dari 3 sesi, sesi pertama yaitu penyuluhan tentang PHBS yang

disampaikan oleh Sari Dewi Apriana, kemudian dilanjutkan dengan materi kedua yaitu tentang keterampilan klinis tentang pertolongan pertama yang disampaikan oleh Fiizhda Baqarizky, dan sesi terakhir yaitu talkshow tentang pendidikan kedokteran yang dimoderatori oleh Fakhri Muhammad. Ketiga materi sengaja dibuat dengan bentuk yang berbeda, agar tidak ada kebosanan di kalangan peserta, atas tujuan itu pula di antara sesi juga diberikan hiburan berupa ice breaking. Sebelum dan setelah materi, santri/wati diberikan tes untuk mengukur pengetahuan mereka sebelum kegiatan dan setelah diberikan promosi kesehatan. Dari hasil pretest didapatkan nilai rata- rata santri/wati sebesar 5.03, namun setelah kegiatan didapatkan hasil posttest santri/wati sebesar

9.12.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan kepada pondok pesantren dan dan pembagian hadiah bagi santri/wati yang memiliki nilai tertinggi pada saat pretest. Kemudian acara diakhiri dengan pembacaan doa dan penutup. Acara berakhir sekitar pukul 12.00 WIB sesuai dengan rencana awal. Santri kemudian meninggalkan auditorium tempat dilaksanakan acara untuk selanjutnya menjalankan ibadah sholah zhuhur berjamaah. Di akhir acara kami juga sempat meminta masukan dari santri/wati peserta kegiatan tentang kritik dan saran atas kegiatan pada hari tersebut. Dari hasil kritik dan saran peserta didapatkan bahwa peserta cukup antusias dan berterima kasih atas adanya kegiatan hari ini. Salah satu kritikan yang banyak disampaikan antara lain penyampaian materi yang sedikit terlalu cepat, sehingga terdapat beberapa santri/wati yang mengalami kesusahan untuk mengikuti materi yang diberikan. Namun, secara garis besar mereka menikmati acara ini, karena mereka mendapatkan pengetahuan tentang PHBS dan keterampilan klinis tentang pertolongan utama, serta pengetahuan tentang pendidikan kedokteran beserta teknik dan strategi yang harus disiapkan agar dapat masuk ke fakultas kedokteran. Kami kemudian membersihkan tempat acara, dan kemudian berpamitan kepada pimpinan pondok pesantren serta mengucapkan terima kasih atas bersedianya Pondok Pesantren Daarul Hikmah untuk menjadi tempat pelaksanaan kegiatan kesehatan pesantren.

62

E. Refleksi perbedaan antara teori dan praktek yang dilakukan

Kebersihan adalah kebutuhan primer bagi setiap orang dan merupakan hal yang penting bagi terwujudnya kesehatan yang optimal. Karena banyak penyakit yang disebebkan oleh kebersihan yang kurang. Dan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kebersihan dan kesehatan seseorang adalah perilaku dari orang tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya perilaku yang bersih dan sehat bagi setiap orang. Terlebih bagi orang-orang yang berada pada kawasan dimana berkumpulnya banyak orang dalam satu tempat, seperti halnya di pondok pesantren. Karena dengan berkumpulnya banyak orang pada satu kawasan atau tempat akan mempermudah penyebaran penyakit-penyakit menular dan yang berhubungan dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Oleh karena itu, sasaran kegiatan promosi kesehatan pada kali ini ditujukan pada pondok pesantren. Hal yang menurut saya sudah benar adalah pelaksanaan kegiatan kesehatan di pesantren sesuai dengan jadwal yang ada, dilakukan di pondok pesantren yang berada dibawah cakupan Puskesmas Sukadiri, dan terlaksana dengan baik. Kegiatan juga di awali dengan survey tempat terlebih dahulu sekaligus mencari masalah yang ada di pondok pesantren, sehingga materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan dan masalah yang ada di pondok pesantren. Materi yang diberikan cukup beragam dengan kemasan presentasi yang berbeda-beda, sehingga dapat meminimalisir kebosanan peserta. Selain itu, setiap anggota kelompok juga berkontribusi aktif dan dapat menjalankan tugas masing-masing secara baik, sehingga kegiatan dapat berjalan lancar, dan pengetahuan peserta tentang materi yang disampaikan menjadi meningkat, terlihat dari meningkatnya nilai posttest dibandingkan dengan nilai pretest yang dilakukan sebelum materi disampaikan. Adapun hal yang perlu ditingkatkan dalam hal kesehatan pesantren antara lain PHBS yang masih belum sempurna dilakukan oleh santri/wati di pondok ini, karena masih ada beberapa indikator PHBS yang tidak terpenuhi. Salah satu faktor rendahnya PHBS di pondok ini tentunya pengetahuan yang masih kurang, dibuktikan dengan nilai pretest yang hanya sekbesar 5.03. Hal lainnya yang perlu ditingkatkan terkait acara yang kami laksanakan yaitu penyampaian materi yang dianggap terlalu cepat. Hal ini terjadi karena beberapa faktor diantaranya waktu yang cukup sempit dan kebiasaan kami yang mempresentasikan sesuatu di depan teman-teman yang secara status adalah mahasiswa, sedangkan peserta program kali ini adalah santri/wati yang masih duduk di bangku SMA. Namun, hal ini terlihat tidak terlalu berpengaruh terhadap informasi dan pengetahuan yang tersampaikan kepada peserta, ditandai dengan meningkatnya angka posttest jika

63

dibandingkan dengan pretest. Dan rata-rata nilai akhirnya pun cukup tinggi yaitu sebesar 9.12 dari nilai sempurna yaitu 10. Berdasarkan teori, Istilah Pondok Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana terbuat dari bambu. Di samping itu, pondok mungkin berasal dari Bahasa Arab yaitu funduq yang artinya asrama atau hotel. Pondok pesantren di Indonesia memiliki peran yang sangat besar, baik bagi kemajuan pendidikan islam sendiri atau bagi bangsa Indonesia secara umum. Secara umum, pondok pesantren didefinisikan sebagai lembaga pendidikan yang memiliki 5 elemen, yaitu: 1

1. Pondok/asrama

2. Mesjid

3. Pengajaran kitab-kitab klasik

4. Santri

5. Kyai.

Sedangkan berdasarkan Kementrian Kesehatan RI, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas dasar kesadaran sehingga anggota keluarga

atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. PHBS memiliki ruang lingkup yang sangat besar. Adapun bagi rumah tangga terdapat 10 indikator yaitu: 2

1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan

2. Memberi bayi ASI eksklusif

3. Menimbang bayi dan balita

4. Menggunakan air bersih

5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun

6. Menggunakan jamban sehat

7. Memberantas jentik di rumah

8. Makan buah dan sayur setiap hari

9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari

10. Tidak merokok di dalam rumah

64

Gambar 1. Indikator PHBS di Rumah Tangga PHBS adalah salah satu faktor penting dalam menentukan

Gambar 1. Indikator PHBS di Rumah Tangga PHBS adalah salah satu faktor penting dalam menentukan kesehatan seseorang, karena berdasarkan segitiga epidemiologi, sebuah penyakit dapat terjadi pada seseorang tidak terlepas dari kontribusi 3 hal yaitu host atau diri diri individu tersebut, agent atau faktor-faktor penyebab penyakit, dan yang terakhir adalah lingkungan. Sehingga PHBS menjadi penting dalam mencegah munculnya sebuah penyakit. 3

Sehingga PHBS menjadi penting dalam mencegah munculnya sebuah penyakit. 3 Gambar 2. Segitiga Epidemiologi 3 65
Sehingga PHBS menjadi penting dalam mencegah munculnya sebuah penyakit. 3 Gambar 2. Segitiga Epidemiologi 3 65

Gambar 2. Segitiga Epidemiologi 3

65

Dan berdasarkan teori kesehatan dari Hendrik L Blum, kesehatan seseorang ditentukan oleh 4 hal yaitu genetik, lingkungan, perilaku kesehatan, dan pelayanan kesehatan. Dan berdasarkan teori ini, PHBS kembali menjadi penting dalam mempengaruhi kesehatan seseorang. 3

menjadi penting dalam mempengaruhi kesehatan seseorang. 3 Gambar 3. Teori Hendrik L Blum 3 Namun sangat

Gambar 3. Teori Hendrik L Blum 3 Namun sangat disayangkan PHBS di beberapa pondok pesantren cenderung rendah, dari beberapa penelitian didapatkan bahwa santri/wati cenderung mengabaikan perilaku hidup bersih dan sehat ini. Berdasarkan dari penelitian yang dilakukan oleh Ekaningtyas pada tahun 2011 di salah satu pondok pesantren di Jombang, didapatkan bahwa pada umunnya perilaku santri masih mengabaikan standart kesehatan seperti kurang menjaga kebersihan diri dan sering meminjam barang milik temannya. Dengan perilaku yang kurang baik ini, penyakit-penyakit menular seperti ISPA, diare, dan penyakit kulit menjadi lebih mudah menyebar. 4 Hal yang berbeda dengan teori hidup bersih dan sehat ini juga masih ditemukan di pondok pesantren tempat kami melakukan kegiatan promosi kesehatan kali ini yaitu Pondok Pesantren Modern Daarul Hikmah. Indikator PHBS masih belum tercapai secara sepenuhnya seperti halnya menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, dan mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. Hal tersebut juga dibuktikan tingginya angka penyakit akibat perlaku yang tidak bersih dan sehat di pesantren berdasarkan data Puskestren. Oleh karena itu, topik yang kami ambil untuk promosi kesehatan kali ini adalah tentang PHBS, agar menambah pengetahuan warga di pondok pesantren ini yang meliputi santri/wati, ustadz/ah, dan setiap orang yang berada di lingkungan pondok. Karena berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Purnamasari PM dan Megatsari H di pondok pesantren X di Jombang Jawa Timur, didapatkan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan kebersihan diri dengan tindakan kebersihan santri/wati. 4

66

F. Nilai agama dan profesionalisme yang terkait dengan kasus

Nilai agama yang dapat diambil dalam kegiatan promosi kesehatan kali ini adalah tentang pentingnya kebersihan diri dan lingkungan bagi kesehatan seseorang. Dalam agama Islam pun, kebersihan adalah hal yang sangat penting yang banyak dibahas dalam ajaran-ajarannya. Dan merupakan satu hal yang sangat diperhatikan, serta merupakan salah satu syarat sahnya sebuah ibadah. Bahkan dari sebuah hadist Rasulullah SAW berbunyi:

ibadah. Bahkan dari sebuah hadist Rasulullah SAW berbunyi: "Kebersihan sebagian dari iman" (HR. Imam Thobrany)

"Kebersihan sebagian dari iman" (HR. Imam Thobrany) 5 Begitu penting kesehatan dalam Islam, sampai dikatakan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman seseorang, artinya tidak akan sempurna iman seseorang jika ia tidak menjaga kebersihan. Hal ini tidaklah aneh, karena kebersihan adalah salah satu faktor yang menentukan kesehatan seseorang, dan hal ini merupakan salah satu dari tujuan agama atau biasa disebut dengan maqasidu syariah yaitu hifzun nafs atau menjaga diri yang di didalamnya terkandung menjaga kesehatan diri dan mental. Adapun nilai profesionalisme yang dapat dipelajari dalam kegiatan ini antara lain yaitu salah satu dari komponen five stars doctor yaitu komunikator dimana sebagai seorang dokter yang profesional dibutuhkan kemampuan komunikasi yang baik dan efektif, baik secara pendekatan personal ataupun pendekatan komunitas. Sehingga dengan kemampuan ini, informasi atau edukasi dapat tersampaikan dengan baik. Dan dengan kemampuan ini pula, kita dapat memberikan promosi kesehatan kepada masyarakat dimana kita bekerja nanti, karena tentunya dengan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, akan lebih banyak manfaat yang didapatkan dalam hal efisiensi dan efektivitas upaya kesehatan. Selain itu, komponen lain yang dapat dipelajari yaitu sebagai seorang dokter yang profesional kita harus dapat memiliki kemampuan sebagai manajer, baik dalam hal manajemen diri sendiri ataupun kemampuan memgatur atau manajemen orang lain secara personal atau secara pada tingkat komunitas. Dengan kemampuan ini diharapkan kita dapat memenajemen masalah kesehatan yang ada di masyarakat, sehingga dapat teratasi dengan baik dan akhirnya upaya kesehatan menjadi efektif yang apda akhirnya akan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat tersebut.

67

G. Hal yang perlu dipelajari lebih lanjut

Hal yang perlu saya pelajari lebih lanjut terkait kasus ini adalah tentang kemampuan menangani masalah kesehatan yang ada pada lingkungan tempat saya bertugas nantinya, dengan harapan masalah tersebut dapat teratasi dan upaya-upaya kesehatan yang dilakukan menjadi lebih efektif dan efisien. Selain itu, hal yang perlu dipelajari tentunya kemampuan dalam mengadakan kegiatan-kegiatan seperti penyuluhan promosi kesehatan dalam kegiatan ini, karena tentunya kegiatan seperti ini akan saya butuhkan dalam rangka promosi kesehatan nantinya. Adapun cara untuk meningkatkan hal ini semua adalah tentunya dengan membaca beberapa sumber yang membahas tentang hal baik baik dari buku-buku yang ada ataupun dari sumber-sumber yang tersedia di internet. Dan yang terpenting adalah terus belajar dari pengalaman mengadakan acara atau kegiatan seperti ini.

H. Daftar Pustaka

6. Kemenag. Analisis dan interpretasi data pada pondok pesantren, Madrasah Diniyah (Madin), Taman Pendidikan Qur'an (TPQ) tahun pelajaran 2011-2012. Available at:

http://www.pendis.kemenag.go.id/pontrenanalisis [Accessed 20 Sep. 2017].

7. 10 perilaku hidup bersih dan sehat di rumah tangga. [ebook] Jakarta: Promkes Kemenkes RI. Available at: http://www.depkes.go.id/site/depkes/pdf [Accessed 20 Sep. 2017].

8. Kuntari T. Social determinant of health. Yogjakarta. Depertemen Kesehatan Masyarakat. Available at: http://kuliah.fkuii.org [Accessed 20 Sep. 2017].

9. Purnamasari PM, Megatsari H. Determinan yang berhubungan dengan tindakan kebersihan

diri santriwati di pondok pesantren X di Jombang. Malang. Universitas Airlangga. 2017. Available at: http://www.e-journal.unair.ac.id/article/view [Accessed 20 Sep. 2017]. 10. Syukrillah. (2014). Hadis: kebersihan dari iman. [online] Abu Azzam el-Bimawy's Blog.

Available at: https://syukrillah.wordpress.com [Accessed 20 Sep. 2017].

68

Feedback dari pembimbing Puskesmas/kampus

 

Deskripsi kegiatan dipersingkat

Fokus pada masalah refleksi tingkat pengetahuan dengan PHBS

Kesalahan penulisan dan EYD diperbaiki

Nama Mahasiswa

M.

Ilyas Saputera

TTD

Nama Pembimbing

dr.

Ahmad Azwar Habibi, M.Biomed

TTD

 

dr.

Taufit Wirawan

TTD

69

LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN KESEHATAN PESANTREN

LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN KESEHATAN PESANTREN Gambar 6.1. Sambutan sebagai ketua acara Gambar 6.3. Talkshow pendidikan

Gambar 6.1. Sambutan sebagai ketua acara

KESEHATAN PESANTREN Gambar 6.1. Sambutan sebagai ketua acara Gambar 6.3. Talkshow pendidikan kedokteran Gambar 6.2.

Gambar 6.3. Talkshow pendidikan kedokteran

ketua acara Gambar 6.3. Talkshow pendidikan kedokteran Gambar 6.2. Simulasi keterampilan klinis Gambar 6.4.

Gambar 6.2. Simulasi keterampilan klinis

kedokteran Gambar 6.2. Simulasi keterampilan klinis Gambar 6.4. Penyerahan kenang-kenangan Gambar 6.5. Sesi

Gambar 6.4. Penyerahan kenang-kenangan

keterampilan klinis Gambar 6.4. Penyerahan kenang-kenangan Gambar 6.5. Sesi dokumentasi Gambar 6.6. Sertifikat untuk

Gambar 6.5. Sesi dokumentasi

klinis Gambar 6.4. Penyerahan kenang-kenangan Gambar 6.5. Sesi dokumentasi Gambar 6.6. Sertifikat untuk pondok 70

Gambar 6.6. Sertifikat untuk pondok

70

JADWAL KEGIATAN HARIAN DI PUSKESMAS SUKADIRI

MINGGU I

No

Kegiatan

 

Senin

 

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

28/08/2017

29/08/2017

30/08/2017

31/08/2017

01/09/2017

02/09/2017

1

BP Umum

   

Ilyas

Fakhri

 

Fiizhda

2

BP Anak

Dewi

Ilyas

Fakhri

3

BP KIA

Kegiatan

Orientasi

Fakhri

Dewi

Libur Idul

Ilyas

4

BP TB/Kusta

di

Kampus

Tya

Fiizhda

Adha

Dewi

5

Farmasi

   

Fiizhda

Tya

-

6

Kegiatan Eksternal

-

-

Tya

MINGGU II

 

No

Kegiatan

 

Senin

 

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

04/09/2017

05/09/2017

06/09/2017

07/09/2017

08/09/2017

09/09/2017

1

BP Umum

   

Dewi

Fakhri

Fakhri

Fakhri

2

BP Anak

Fakhri

Dewi

Ilyas

Fiizhda

3

BP KIA

Kegiatan

Kegiatan

Tya

Fiizhda

Dewi

Tya

4

BP TB/Kusta

di

Kampus

di

Kampus

Fiizhda

Tya

   

5

Farmasi

   

Ilyas

-

Tya

Dewi

6

Kegiatan Eksternal

-

Ilyas

Fiizhda

Ilyas

MINGGU III

 

No

Kegiatan

 

Senin

 

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

11/09/2017

12/09/2017

13/09/2017

14/09/2017

15/09/2017

16/09/2017

1

BP Umum

Tya

Fiizhda

Fakhri

   

Ilyas

2

BP Anak

Fiizhda

Tya

Dewi

Fakhri

Fakhri

3

BP KIA

Ilyas

Fakhri

Fiizhda

Dewi

Kegiatan

Dewi

4

BP TB/Kusta

 

Ilyas

Tya

 

di Kampus

 

5

Farmasi

Fakhri

Dewi

Ilyas

Fiizhda

Tya

6

Kegiatan Eksternal

Dewi

-

-

Ilyas

Fiizhda

1.

MINGGU IV

No

Kegiatan

 

Senin

 

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

18/09/2017

19/09/2017

20/09/2017

21/09/2017

22/09/2017

23/09/2017

1

BP Umum

   

Ilyas

Fakhri

Tya

Dewi

2

BP Anak

Fakhri

Ilyas

Fiizhda

Tya

3

BP KIA

Kegiatan

Kegiatan

Dewi

Fiizhda

Ilyas

Fiizhda

4

BP TB/Kusta

di

Kampus

di

Kampus

Tya

   

Ilyas

5

Farmasi

   

Fiizhda

Dewi

Fakhri

Ilyas

6

Kegiatan Eksternal

-

Tya

Dewi

Fakhri

71