Anda di halaman 1dari 34

RUMAH SAKIT PASIEN KONSUL

UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN Konsultasi adalah permintaan pendapat, saran dan instruksi lebih


lanjut yang dilakukan oleh dokter ahli lainnya sehubungan
denngan sakit yang diderita pasien yang dirawatnya dan
membutuhkan penanganan yang lebih khusus oleh dokter ahli
lainnya.

TUJUAN Memberikan pelayanan yang kompherensif dan holistik terhadap


pasien

KEBIJAKAN Kebijakan terhadap pelayanan di poliklinik

PROSEDUR

1. Dokter poliklinik melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan penunjang lain terhadap pasien untuk penegakan
diagnosis
2. Bila terdapat diagnosis lain diluar keahlian dokter dari poliklinik
Pusyansus, dokter poliklinik membuat surat konsul ke dokter
apesialis lain yang terkait yang terkait sehubungan dengan
diagnosis tersebut.
3. Dokter poliklinik memberikan pengobatan pengobatan sesuai
dengan hasil konsultandari dokter terkait
4. Konsultasi untuk tindakan medis dilakukan di SMF yang terkait
5. Pelayanan di poliklinik dilakukan oleh dokter spesialis dibantu
resident dan perawat

Unit Kerja Terkait SMF terkait, Rawat inap, Radiologi, laboratoriun PK dan
Mikrobiologi
RUMAH SAKIT PRINSIP PENGOBATAN TUBERKULOSIS
UMUM PUSAT PADA PASIEN HIV/AIDS DENGAN PROGRAM DOTS
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN Prinsip pengobatan TB HIV/AIDS sesuai dengan program


DOTS dimana pemberian therapi, sebelum pemberian ARV
TUJUAN Untuk mempercepat proses penanggulangan sumber infeksi dan
melaksanakan program hospital DOTS Linkage di RSUP HAM
KEBIJAKAN
Tuberculosis Coalition for Technical Assistance 2006
PROSEDUR 1. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa
jenis obat dalam jumlah cukup dosis tepat sesuai dengan
katagori pengobatan, jangan menggunakan OAT tunggal
(monotherapi).
2. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat dilakukan
pengasuhan langsung PMO.
3. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap yaitu tahap
Intensif dan lanjutan.
a. Tahap Awal (intensif), Pada tahap intensif atau awal
pasien mendapat pengobatan setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya
resistensi obat, bila pengobatan tahap intensif tersebut
diberikan secara tepat biasanya pasien menular
menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
b. Tahap Lanjutan Pada tahap Lanjutan pasien mendapat
jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu
yang lebih lama tahap lanjutan penting untuk
membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadi
nya kekambuhan
4. ARV Diberikan setelah OAT sudah dapat ditoleransi,
biasanya setelah mendapat setelah pemberian OAT 2
minggu

Unit Kerja Terkait Pemeriksaan Penunjang ( Radiologi, Laboratorium,PA )


BTA.Gen Expert (Mikro)
RUMAH SAKIT PENTATALAKSANAAN PASIEN IBU HAMIL HIV/AIDS
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN Prinsip penanganan ANC pada ibu hamil yang menderita


HIV/AIDS
TUJUAN Untuk melaksanaan program penanganan dan pengobatan
HIV/AIDS pada ibu hamil
KEBIJAKAN
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi Kemenkes 2011
PROSEDUR 1. Pasien ibu hamil dengan HIV dikirim/dikonsul ke poli
Obgyn
2. Dokter melakukan pemeriksaan fisik untuk menegakkan
diagnosa .
3. Setelah diagnosa ditegakkan dokter memberikan
pengobatan, baik mengenai ANC dan pengobatan terkait
HIV dan memberikan penjelasan tentang penyakitnya
kepada pasien
4. Obat terkait HIV diambil di bagian farmasi Pusyansus.
5. Setelah pasien siap diperiksa, pasien dianjurkan pulang
dan dianjurkan kontrol kembali pada waktu yang telah
ditentukan.
6. Pasien yang sudah inpartudilakukan tindakan
sectiocaesaria untuk melahirkan bayinya.
7. Setelah operasi selanjutnya dilakukan perawatan luka
pasca operasi

Unit Kerja Terkait Instansi Terkait


RUMAH SAKIT KONSELING PASIEN RAWAT JALAN VCT
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN Voluntary Conseling dan Testing (VCT), merupakan kegiatan


konseling bersifat sukarela dan rahasia, yang dilakukan sebelum
dan sesudah tes darah untuk HIV.
TUJUAN Menyediakan dukungan psikologis, mencegah penularan HIV,
memastikan pengobatan sedini mungkin dan untuk
mempromosikan perubahan perilaku yang mengurangi resiko
mendapat infeksi dan penyebaran infeksi HIV.
KEBIJAKAN Kebijakan tentang konselor terlatih yang telah dilatih oleh Dep.
Kes. No. 440.443/5935/VII/2009
PROSEDUR
1. Pasien yang datang langsung mendaftar pada petugas
administrasi atau tanpa rujukan untuk di registrasi
2. Konselor melakukan konseling pre test dan bila pasien
bersedia.
3. Konselor menuliskan surat permintaan Test HIV ke lab PK
4. Konselor melakukan konseling post test setelah menerima
hasil
5. Konselor merujuk ke CST apabila hasil test reaktif
6. Konselor melakukan konseling pra ARV bila sudah ada indikasi
7. Jika diperlukan melakukan konseling lanjutan.
8. Mengisi status dan rekam medik.
9. Mencatat data pasien ke buku konselor.

Unit Kerja Terkait SMF terkait, Rawat inap dan laboratoriun


RUMAH SAKIT PENGKAJIAN RESEP/ KARTU OBAT PASIEN
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN Proses menjamin penggunaan obat dan alat kesehatan sesuai


indikasi, efektif, aman dan terjangkau oleh pasien melalui
penerapan pengetahuan, keahlian, dan keterampilan
TUJUAN Meningkatkan mutu dan memperluas cakupan, memberikan SPO
Instalasi Farmasi yang dapat menjamin efektifitas, keamanan dan
efisiensi penggunaan obat, meningkatkan kerjasama pasien dan
profesi kesehatan
KEBIJAKAN SK Direktur Utama No. KF.01.04/IV.14/1313/2013 tentang Pelaya
nan Farmasi
PROSEDUR

1. Pelaksana farmasi mengkaji resep pasien meliputi seleksi


persyaratan administrasi, persyaratan farmasi, persyaratan
klinis baik untuk pasien rawat jalan dan pasien rawat inap.
2. Pelaksana farmasi mengkaji persyaratan administrasi
meliputi : nama, umur, jenis kelamin, berat badan pasien;
nama, nomor ijin, alamat, paraf dokter, tanggal resep;
ruangan/unit asal resep.
3. Mengkaji persyaratan administrasi meliputi : bentuk,
kekuatan sediaan, dosis dan jumlah obat, stabilitas dan
ketersediaan, aturan, cara dan teknik penggunaan.
4. Mengkaji persyaratan klinis meliputi : ketepatan indikasi,
dosis, waktu penggunaan obat, duplikasi pengobatan, alergi,
interaksi, efek samping, kontra indikasi dan efek aditif.

Unit Kerja Terkait 1. Instalasi User


RUMAH SAKIT PENYERAHAN OBAT ARV ANAK
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN Penyerahan obat adalah proses pemberian obat kepada pasien


setelah obat diracik/dikemas sesuai dengan permintaan dokter
TUJUAN Untuk kelengkapan pelayanan kesehatan sesuai dengan resep
dokter yang sudah selesai diracik dan diserahkan kepada pasien
KEBIJAKAN Penyerahan obat ARV oleh pelaksana farmasi setelah diperiksa
terlebih dahulu ketepatannya sesuai dengan resep dokter.
Pedoman ARV Kemenkes tahun 2011
PROSEDUR

1. Pasien anak sebelum mendapat obat ARV, orang tua atau


wali harus dikonseling terlebih dahulu untuk kepatuhan
makan obat dan makan obat seumur hidup.
2. Obat ARV anak diberikan dalam bentuk apa saja sesuai
resep dokter dalam satu tablet dan dalam jumlah dosis
tepat sesuai dengan kategori pengobatan.
3. Obat yang sudah diracik dicek kembali baik nama obat,
jumlah dan aturan pakainya sesuai dengan resep yang
benar.
4. Obat yang sudah sesuai diserahkan kepada orang tua/wali
dan diberi penjelasan sesuai dengan aturan makan dan
kegunaan obat tersebut.
5. Orang tua dan wali menandatangani tanda terima sebagai
bukti obat sudah diterima.

Unit Kerja Terkait Seluruh Instalasi terkait


RUMAH SAKIT PENYERAHAN OBAT ARV DEWASA
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN Penyerahan obat ARV adalah proses pemberian obat ARV


kepada pasien setelah obat diracik/dikemas sesuai dengan
permintaan dokter
TUJUAN Untuk kelengkapan pelayanan kesehatan sesuai dengan resep
dokter yang sudah selesai diracik dan diserahkan kepada pasien
KEBIJAKAN Penyerahan obat ARV oleh pelaksana farmasi setelah diperikasa
terlebih dahulu ketepatannya sesuai dengan resep dokter.
Pedoman ARV Depkes tahun 2011
PROSEDUR 1. Pasien yang mendapat ARV harus berdasarkan indikasi
CD4 < 350 cll pada pasien yang asimptomatis, tanpa
melihat CD4 pada TB HIV, Hepatitis-HIV, Ibu hamil, Std III,
Std IV
2. Jenis Obat ARV diberikan sesuai dengan resep dokter
3. Pasien sebelum mendapat obat ARV harus dikonseling oleh
konselor terlebih dahulu kapatuhan makan obat dan
menjelaskan efek samping obat.
4. Untuk menjamin kepatuhan makan obat dilakukan
pengawasan makan obat oleh keluarga atau LSM (Lembaga
Swadaya Masyarakat)
5. Obat ARV yang sudah diracik dicek kembali baik nama,
obat, jumlah dan aturan pakainya sesuai
dengan resep
6. Pasien menandatangani tanda terima sebagai bukti obat
sudah diterima

Unit Kerja Terkait Farmasi, Petugas LSM


PENYERAHAN OBAT ARV
RUMAH SAKIT
PROFILAKSIS BAYI
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Penyerahan obat ARV adalah proses pemberian obat ARV


PENGERTIAN kepada pasien setelah obat diracik/dikemas sesuai dengan
permintaan dokter.
Untuk kelengkapan pelayanan kesehatan sesuai den gan resep
TUJUAN dokter yang sudah selesai diracik dan diserahkan kepada pasien.

Penyerahan obat ARV oleh pelaksana farmasi setelah diperiksa


KEBIJAKAN terlebih dahulu ketepatannya sesuai dengan resep dokter.
Pedoman ARV Depkes tahun 2011

PROSEDUR
1. Obat ARV profilaksis bayi diberikan setelah bayi lahir
selambat-lambatnya ± 72 jam (3 hari)
2. Obat ARV yang diberikan zidovudin tunggal selama 6 minggu
dan nevirapine dosis tunggal (sekali minum)
3. Obat yang sudah diracik dicek kembali baik nama obat,
jumlah dan aturan pakainya sesuai dengan resep
4. Obat yang sudah sesuai diserahkan kepada orang tua/wali
dan diberi penjelasan oleh konselor dan sebelumnya telah
dikonsuling Pra ARV oleh konselor
5. Orang tua/wali menandatangani formulir sebagai bukti tanda
beri obat yang sudah diterima oleh pasien dalam keadaan
baik dan cukup

Unit Kerja Terkait Farmasi/ SMF Anak


RUMAH SAKIT PENERIMAAN PASIEN RAWAT JALAN CST
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Pelayanan pasien di Poliklinik Divisi Pusyansus merupakan


PENGERTIAN kegiatan penerimaan pasien rawat jalan yang mendapat perlakuan
khusus
TUJUAN Agar pelayanan pasien di Poliklinik berlangsung dengan lancar
dan efektif

KEBIJAKAN Kebijakan tentang pelayanan HIV/AIDS

PROSEDUR
1. Pasien yang datang ke Poliklinik, mendaftar pada petugas
administrasi dan menerima nomor urut dan memanggil pasien
2. Dokter Poliklinik melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang lain terhadap pasien untuk
penegakan diagnosa
3. Setelah diagnosis ditegakkan, dokter memberikan
pengobatan
4. Dokter memberikan penjelasan tantang penyakit yang
dideritanya serta pengobatan yang diberikan
5. Bila dari hasil Anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemerikasaan penunjang dijumpai indikasi untuk rawat inap,
maka dokter poliklinik menganjurkan pasien untuk dirawat
6. Pelayanan di poliklinik dilakukan oleh dokter spesialis dibantu
resident dan perawat
1. VCT / CST
2. Semua Unit Rawat Jalan
Unit Kerja Terkait
3. Instalasi Rawat Inap ( Rindu A1, VIP A, VIB B )
4. Pemeriksaan Penunjang ( Radiologi, Laboratorium,PA,
Mikrobiologi )
RUMAH SAKIT KONSELING PASIEN RAWAT INAP
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Voluntary Conselinng and Testing (VCT), merupakan konseling


PENGERTIAN bersifat sukarela dan rahasia, yang dilakukan sebelum dan
sesudah tes darah untuk HIV
Menyediakan dukungan psikologis, mencegah penularan HIV,
TUJUAN memastikan pengobatan yang efektif sedini mungkin dan untuk
promosikan perubahan perilaku yang engurangi resiko mendapat
infeksi dan penyebaran infeksi HIV.

KEBIJAKAN Kebijakan tentang Konselor terlatih Depkes tahun 2010

1. Mendapat rujukan dari dokter rawat inap


PROSEDUR
2. Petugas administrasi menerima permintaan konsul dan
menyerahkan surat konsul ke konselor
3. Konselor melakukan konseling pre test ke rawat inap dan
bila pasien bersedia konselor menulis surat permintaan
Test ke Lab. PK
4. Melakukan konseling post test ke rawat inap
5. Melakukan konseling pra ARV bila sudah ada indikasi
terapi ARV
6. Melakukan konseling lanjutan
7. Merujuk ke psikiater bila diperlukan
8. Mengisi status dan rekam medik
9. Mencatat data pasien ke buku konselor

Unit Kerja Terkait SMF terkait, Rawat inap dan laboratorium


RUMAH SAKIT MANAGER KASUS
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN Managemen Kasus adalah pelayanan yang mengkaitkan dan


mengkoordinasikan bantuan dari berbagai lembaga dan badan
penyedia dukungan medis, psikososial dan spiritual bagi individu-
individu yamg membutuhkan bantuan tersebut.

TUJUAN 1. Membangun kerjasama antar penyelenggara layanan ( klinik,


kelompok dukungan) melalui sistem rujukan yang saling
mendukung.
2. Menjembatani antara ODHA dengan Tim HIV/AIDS di Rumah
sakit.
3. Memberi informasi, edukasi tentang HIV/AIDS serta dukungan
kepada OHDA dan OHIDHA.

KEBIJAKAN Manager Kasus terlatih yang dilatih oleh Dep.Kes

1. Menerima rujukan dari konselorMelakukan konseling pre tes


PROSEDUR ke rawat inap
2. Mendampingi dan merujuk ke CSTMelakukan konseling pra
ARV
3. Mendukung pengobatan infeksi oportunistik dan ART
sehingga dapat berjalan dengan baik serta mengetahui efek
samping obat.Merujuk ke psikiater bila diperlukan
4. Mendukung ODHA dalam pengobatan IO dan ART
5. Memonitor pemakaian dan stok obat ARV pada ODHA
6. Memberikan dukungan spiritual bagi ODHA
7. Membuat laporan kegiatan setiap bulan serta hambatan yang
ditemui dilapangan

Unit Kerja Terkait SMF terkait, Rawat inap, Radiologi dan laboratorium
URAIAN TUGAS KEPALA VCT/CST
RUMAH SAKIT
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Kepala VCT/CST adalah seorang yang memiliki keahlian


PENGERTIAN manajerial dan program terkait dengan pengembangan
layanan VCTdan penanganan program program perawatan
dan dukungan pengobatan HIV/AIDS.
Kepala Klinik VCT/CST bertangungjawab kepada Direktur
Utama dan Direktur Pelayanan.
Kepala Klinik VCT mengelola pelaksanaan kegiatan
didalam/diluar unit serta bertanggung jawab terhadap
seluruh kegiatan yang berhubungan dengan institusi terkait.
Pedoman Penatalaksanaan HIV/AIDS Tahun 2013
KEBIJAKAN

Untuk kelancaran pelayanan di Pusyansus


TUJUAN

TUGAS 1. Menyususn perencanaan kebutuhan operasional


2. Mengawasi pelaksanaan kegiatan
3. Mengevaluasi kegiatan
4. Bertanggung jawab untuk memastikan bahwa layanan
secara keseluruhan berkualitas sesuai dengan pedoman
VCT Kemenkes RI
5. Mengkoordinir pertemuan berkala dengan seluruh staff
konseling dan testing, minimal satu bulan skali.
6. Melakukan jejaring kerja dengan rumah sakit, lembaga-
lembaga yang bergerak dalam bidang VCT untuk
memfasilitasi pengobatan , perawatan dan dukungan.
7. Berkodinasi dengan Dinas Kesehatan setempatdan
Departemen Kesehatan RI serta pihak terkait lainnya.
8. Melakukan monitoring internal dan [enilaian brkala kinerja
seluruh petugas layanan VCT, termasuk konselor VCT.
URAIAN TUGAS KEPALA VCT/CST
RUMAH SAKIT
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/1V.5/ … /2013 2 2/2

Unit Kerja Terkait 1. Direktur Utama


2. Direktur Medik dan Keperawatan
3. Direktur SDM dan Pendidikan
4. Direktur Keuangan
5. Direktur Umum dan Operasional
6. Para Kepala Instalasi dan Kepala SMF yang terkait
RUMAH SAKIT DPJP DI PUSYANSUS
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN DPJP adalah Dokter yang bertugas dan bertanggung jawab


terhadap pasien, mulai dari soal masuk, pemeriksaan dan rencana
penanganan pasien secara tuntas.
TUJUAN Untuk menentukan Dokter yang bertanggung jawab terhadap
pasien, sehingga pasien dapat ditangani secara komprehensif.
KEBIJAKAN Keputusan Direktur Utama RSUP HAM No :
YM.01.01/I.1.1/2954/2012
PROSEDUR 1. Pasien yang datang ke Poli/ VCT, setelah mendaftar
masuk ke ruang pemeriksaan.
2. DPJP melakukan Anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
3. DPJP menetapkan pasien perlu dilakukan pelayanan
rawat inap atau rawat jalan.
4. DPJP memutuskan surat pengantar ke ruangan bila
pasien perlu dirawat.
5. DPJP memutuskan resep obat yang diperlukan dan
memberikan advis dalam menggunakan obat maupun
hal-hal lain, yang perlu dalam penanganan pasien.
6. Memberikan Advis baik dalam penggunaan obat
maupun hal-hal yang perlu dalam penanganan pasien.
7. DPJP melakukan konsul kepada dokter ahli lain jika
diperlukan sehubungan dengan keluhan yang di
jumpai.

Unit Kerja Terkait Semua Unit Terkait


RUMAH SAKIT PASIEN TERINFEKSI HIV
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN Pasien terinfeksi Human Immuno Defisiensi Virus (HIV) adalah


pasien yang pada darahnya terdeteksi HIV atau antibodi terhadap
HIV
TUJUAN Untuk memberikan penanganan yang efektif terhadap pasien
yang mengalami infeksi HIV
KEBIJAKAN
Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral Kemenkes Tahun 2012
PROSEDUR
1. Pada saat awal kedatangan ODHA dilakukan pengkajian
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik lengkap, pemeriksaan
laboratorium ( darah rutin, fungsi hati, fungsi ginjal dan
CD4 )
2. Menilai stadium klinis infeksi HIV
3. Mengidentifikasi infeksi dan kebutuhan terapi infeksi
oportunistik dan ARV

Unit Kerja Terkait SMF terkait, Rawat inap, Radiologi dan laboratorium
RUMAH SAKIT PEMBERIAN OBAT PADA PASIEN TB-HIV
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN Pasien yang didiagnosis TB dan telah ditetapkan klasikfikasi serta


tipe nya, akan mendapat pengobatan dengan Obat Anti
Tuberculosis (OAT), baik mempergunakan OAT per resep maupun
OAT Program

TUJUAN 1. Menyembuhkan pasien TB


2. Mencegah kematian
3. Mencegah kekambuhan
4. Menurunkan risiko penularan

KEBIJAKAN Bahwa pengobatan pasien TB adalah mengacu pada


standar WHO dan ISTC (International Standard of
Tuberculosis Care):
1. Setiap praktisi yang mengobati pasien TB tidak hanya
wajib memberikan paduan obat yang memadai tapi
juga harus mampu menilai kepatuhan berobat pasien
dan dapat menangani ketidakpatuhan bila terjadi
2. Semua pasien TB (termasuk mereka yang terinfeksi
HIV/ AIDS) yang belum pernah diobati harus diberikan
paduan obat lini pertama yang disepakati secara
internasional menggunakan obat yang
bioavalibilitasnya telah diketahui, terdiri atas fase awal
(paduan: Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid dan
Etambutol selama 2 bulan) dan fase lanjutan (paduan:
isoniazid dan rifampisin selama 4 bulan)
3. Dosis obat anti TB yang digunakan harus sesuai
dengan rekomendasi internasional, dalam bentuk
kombinasi beberapa jenis dan sediaan kombinasi
dosis tetap sangat direkomendasikan terutama jika
menelan obat tidak diawasi
4. Untuk membina dan menilai kepatuhan pasien
dilakukan pengawasan langsung menelan obat
(directly observed theraphy – DOT) oleh Pengawas
Menelan Obat (PMO) yang dapat diterima dan dapat
dipercaya oleh pasien dan sistem kesehatan
RUMAH SAKIT PEMBERIAN OBAT PADA PASIEN TB-HIV
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi
OT.02.01/1V.5/ … /2013 2 Halaman
2/2

1. Pasien yang telah didiagnosis TB dan telah ditetapkan


klasifikasi serta tipenya kemudian diberikan pengobatan
PROSEDUR dengan obat anti TB, mempergunakan OAT Program
maupun OAT per resep dengan paduan regimen yang
sesuai

2. Paduan regimen OAT:


a. Kategori 1: 2 (RHZE)/ 4 (RH)
b. Kategori 2: 2 (RHZE) S / (RHZE) / 5 (RH) E
c. Kategori Anak: 2 (RHZ) / 4 (RH)
d. Kategori sisipan: RHZE
Kategori Pasien TB Paduan OAT
Kategori 1  Pasien baru  FDC: 2
TB BTA (+) (HRZE) / 4
 Pasien baru (HR)
TB BTA (-)
 Pasien TB
ekstra paru
Kategori 2  Pasien TB  FDC: 2
BTA (+) yang (HRZE) S / 1
sudah pernah (HRZE) / 5
diobati, yaitu: (HR) E
kambuh, gagal
atau setelah
putus (default)
Dengan dosis yang disesuaikan dengan berat badan
pasien
3. Prinsip: multi drug, 2 fase (fase intensif, minum OAT 1x/
hari dan fase lanjutan, minum OAT 1x/ hari) dan ada
pengawasan keteraturan serta kelengkapannya
4. Untuk pengawasan minum obat, selanjutnya ditunjuk
seorang PMO (keluarga/ tetangga) yang dapat membantu
melakukan pengawasan minum obat oleh pasien
5. Perjalanan pengobatan pasien TB selain dicatat dalam
rekam medik pasien juga dicatat dalam lembar
pengobatan TB (form TB 01).
6. HR dengan hasil BB > 54 KG R 620, WH406
BB < 54 KG R 450, WH306

Unit kerja Terkait 1. Seluruh SMF yang terkait


RUMAH SAKIT PENGOBATAN PASIEN TB-HIV
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN Pelayanan kasus pasien koinfeksi tuberculosis dan HIV/ AIDS


(ODHA) secara bersama oleh Tim DOTS dan Tim VCT RS
TUJUAN 1. Memberikan pelayanan kepada pasien koinfeksi
tuberculosis dan HIV/ AIDS (ODHA) secara terpadu,
profesional dan menyeluruh
2. Acuan komunikasi dan koordinasi bagi Tim DOTS maupun
Tim VCT dalam melakukan penatalaksanaan pasien
koinfeksi tuberkulosis dan HIV/ AIDS (ODHA)
3. Monitoring, pencatatan dan pelaporan pasien koinfeksi
tuberkulosis dan HIV/ AIDS (ODHA) dengan tetap
menjamin hak pasien (voluntary and confidential)

KEBIJAKAN 1. Bahwa penatalaksanaan pasien koinfeksi tuberkulosis dan


HIV/ AIDS (ODHA) harus diselenggarakan secara terpadu,
profesional dan menyeluruh. Oleh karena itu perlu
diperlukan koordinasi antar unit pelayanan yang terkait
yaitu Tim DOTS dan Tim VCT
2. Ada monitoring, pencatatan dan pelaporan pasien koinfeksi
tuberkulosis dan HIV/AIDS (ODHA) dengan teetap
menjamin hak pasien (voluntary and confidential)

1.Pasien tuberkulosis yang dirawat Tim DOTS:


a. Pasien tuberkulosis yang dirawat oleh Tim DOTS di klinik
rawat jalan maupun rawat inap, apabila ditemukan oleh satu
PROSEDUR atau lebih indikasi terinfeksi HIV/ AIDS:
 Multi Drug Resistance / MDR
 Hasil terapi dengan OAT tidak memuaskan
 Perilaku beresiko tertular HIV/ AIDS
Maka pasien dibuatkan surat konsultasi kepada Tim VCT
b. Tim VCT melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang
dikonsultasikan oleh Tim DOTS:
 Apabila pasien positif selanjutnya dilakukan rawat bersama
antara Tim DOTS dengan Tim VCT dan masuk dalam
registrasi/ pencatatan pelaporan bersama Tim DOTS – Tim
VCT
 Apabila pasien sero negatif (negatif HIV) selanjutnya pasien
dikembalikan kepada Tim DOTS untuk penatalaksanaan
tuberkulosis dengan strategi DOT

RUMAH SAKIT PENGOBATAN PASIEN TB-HIV


UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi
OT.02.01/1V.5/ … /2013 2 Halaman
2/2

2. Pasien ODHA yang dirawat Tim VCT:

a. Pasien ODHA yang dirawat oleh Tim VCT di klinik rawat jalan
PROSEDUR maupun bangsal rawat inap, apabila ditemukan salah satu
atau lebih indikasi terinfeksi tuberkulosis:
 Batuk lebih dari 3 minggu
 Batuk darah
 Pembesaran kelenjar getah bening/ limfonodi
 Gambaran radiologi thorax mendukung
 Gambaran TB ekstra paru
 Tim VCT melakukan pemeriksaan terhadap pasien
 Apabila pasien positif tuberkulosis selanjutnya dilakukan
pengobatan sesuai DOTS dan masuk dalam registrasi/
pencatatan pelaporan bersama Tim VCT – Tim DOTS
 Apabila pasien negatif tuberkulosis, selanjutnya pasien
dievaluasi Tim VCT skrening TB sekali sebulan

Unit kerja Terkait 1. Tim DOTS


2. Seluruh SMF yang terkait
RUMAH SAKIT PEMERIKSAAN LABORATORIUM UNTUK TES HIV
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/1

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

PENGERTIAN Prosedur pemeriksaan laboratorium HIV sesuai dengan Panduan


Nasional dengan menggunakan strategi 3.
TUJUAN Untuk pemeriksaan tes dengan sensifitas tinggi.
KEBIJAKAN
Pedoman Penatalaksanaan HIV-AIDS tahun 2013
PROSEDUR 1. Pemeriksaan laboratorium HIV sesuai dengan panduan
nasional yang berlaku pada saat ini yaitu dengan
menggunakan strategi 3 dan selalu didahului dengan
konseling pra tes atau informasi singkat.
2. Ketiga tes tersebut dapat menggunakan reagen tes
cepat atau dengan elisa.
3. Untuk pemeriksaan pertama (A1) harus digunakan tes
dengan sensifitas yang tinggi ( >99 %) sedang untuk
pemeriksaan selanjutnya (A2 dan A3) menggunakan
tes dan sensifitas tinggi ( >99 %)
4. Antibodi biasanya baru terdeteksi dalam 2 minggu
hingga 3 bulan setelah terinfeksi HIV yang disebut
masa jendela.
5. Bila tes HIV yang dilakukan dalam masa jendela
menunjukkan hasil negatif maka perlu dilakukan tes
ulang terutama bila masih terdapat perilaku beresiko.

Unit Kerja Terkait Laboratorium


PRINSIP PENGOBATAN HIV/AIDS
RUMAH SAKIT
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Program penanggulangan AIDS di Indonesia mempunyai 4


PENGERTIAN pilar yang semuanya menuju pada paradigma Zero New
Infection, Zero AIDS – related death dan Zero Discrimination

Pedoman Penatalaksanaan HIV/AIDS Tahun 2013


KEBIJAKAN
1. Pencegahan (Prevention) yang meliputi pencegahan
TUJUAN penularan HIV melalui transmisi seksual dan alat
suntik, pencegahan di rumah tangga dari ibu ke bayi.
2. Perawatan, dukungan dan pengobatan yang meliputi
penguatan dan pengembangan layanan kesehatan
pengobatan IO, pengobatan ARV
Menurunkan angka kesakitan dan rawat inap, angka
kematian yang berhubungan dengan AIDS
3. Mitigasi dampak berupa dukungan psikososio-
ekonomi
4. Penciptaan lingkungan yang kondusif dengan
penguatan kelembagaan dan manajemen
5. Menyediakan pedoman Rumah sakit terapi ARV
6. Menyediakan pedoman layanan HIV sebagai bagian
dari rawatan HIV secara paripurna

1. Setelah dinyatakan terinfeksi HIV perlu dilakukan


penilaian stadium klinis, penilaian imunologis,
penilaian virologi
PROSEDUR 2. Menentukan apakah pasien sudah memenuhi syarat
untuk terapi antiretroviral
3. Menilai status supresi imun pasien
4. Menentukan IO yang pernah terjadi
5. Mengidentifikasi dan kebutuhan terapi IO
6. Menentukan panduan obat ARV yang sesuai

Unit Kerja Terkait Seluruh SMF terkait


PEMBERIAN OBAT ARV
RUMAH SAKIT
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Program penanggulangan AIDS di Indonesia mempunyai 4 pilar


PENGERTIAN yang semuanya menuju pada paradigma Zero New Infection, Zero
AIDS – related death dan Zero Discrimination salah satu
diantaranya dengan memberi obat Antoretroviral (ARV)

KEBIJAKAN Pedoman Penatalaksanaan HIV/AIDS Kemenkes 2011 dan


Guideline WHO 2010
1. Menekan replikasi virus serendah mungkin hingga tidak
TUJUAN terdeteksi
2. Meningkatkan imun respon (daya tahan tubuh)
3. Mengatasi infeksi oportunistik
4. Meningkatkan kualitas hidup
5. Mengurangi mortalitas
6. Mengurangi morbiditas
7. Upaya pencegahan penularan HIV
1. Syarat pasien mendapat terapi ARV :
a. Mulai terapi ARV pada semua pasien dengan jumlah CD4
<350 sel/mm3 tanpa memandang stadium klinisnya.
PROSEDUR b. Terapi ARV dianjurkan pada semua pasien dengan TB
aktif, ibu hamil dan koinfeksi Hepatitis B tanpa memandang
jumlah CD4.
2. Pemeriksaan penunjang sebelum mendapat ARV :
a. Dilakukan pemeriksaan darah lengkap
b. Pemeriksaan fungsi hati (SGOT, SGPT, Bilurubin)
c. Pemeriksaan fungsi ginjal (Ureum kreatinin)
d. Pemeriksaan Foto Thorax
e. Pemeriksaan BTA sputum 3 kali
f. Pemeriksaan status Hepatitis B dan C
a. Pemberian Cotrimoxazole, Cotrimoxazole diberikan selama 2
minggu sebelum mendapat ARV bila CD4 < 200
3. Obat ARV pilihan yang tersedia :
a. Lini Pertama :
AZT + 3TC + NVP (Zidovudine + Lamivudine + ATAU
Nevirapine)
AZT + 3TC + EFV (Zidovudine + Lamivudine + ATAU
Efavirenz)
TDF + 3TC (atau FTC) + NVP (Tenofovir + Lamivudine (atau ATAU
Emtricitabine) + Nevirapine)
TDF + 3TC (atau FTC) + EFV (Tenofovir + Lamivudine (atau Emtricitabine) +
Efavirenz)
RUMAH SAKIT PEMBERIAN OBAT ARV
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi
OT.02.01/1V.5/ … /2013 2 Halaman
2/2

b. Pemberian ARV lini kedua :


Syarat pemberian ARV lini kedua :
- Tidak respon dengan lini pertama yang ditandai dengan :
PROSEDUR i. CD4 tidak naik selama enam bulan
ii. Evaluasi viraload tidak menurun atau masih terdeteksi
iii. Muncul IO yang baru
- Muncul efek samping yang mengancam jiwa dengan pemberian
lini pertama
c. Lini kedua :
2 NRTI + boosted-PI
- Bila lini pertama menggunakan Zidovudine maka diganti denga
Tenofovir dan sebaliknya bila lini pertama menggunaka
Tenofovir diganti dengan zidovudine ditambah dengan Aluvia
- Control awal pemakaian ARV
RUMAH SAKIT PEMBERIAN OBAT ARV
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi
OT.02.01/1V.5/ … /2013 2 Halaman
2/2

- Pemberian ARV pada ibu hamil dengan berbagai situasi


klinis

PROSEDUR

Unit kerja Terkait 1. Seluruh SMF yang terkait


PERAWATAN PASIEN HIV/AIDS RAWAT INAP
RUMAH SAKIT
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Program penanggulangan AIDS di Indonesia mempunyai 4 pilar


PENGERTIAN yang semuanya menuju pada paradigma Zero New Infection, Zero
AIDS – related death dan Zero Discrimination salah satu
diantaranya dengan memberi obat Antoretroviral (ARV)

KEBIJAKAN Pedoman Penatalaksanaan HIV/AIDS Kemenkes 2011 dan


Guideline WHO 2010
1. Menekan replikasi virus serendah mungkin hingga tidak
TUJUAN terdeteksi
2. Meningkatkan imun respon (daya tahan tubuh)
3. Mengatasi infeksi oportunistik
4. Meningkatkan kualitas hidup
5. Mengurangi mortalitas
6. Mengurangi morbiditas
7. Upaya pencegahan penularan HIV
1. Konselor melakukan konseling pre test ke rawat inap dan bila
pasien bersedia konselor menulis surat permintaan Test ke Lab.
PK
PROSEDUR 2. Setelah mendapat hasil tes selanjutnya dokter mengevaluasi
apakah pasien menderita TB bila dijumpai IO TB pasien di
ruang khusus.
3. Pemberian Cotrimoxazole, Cotrimoxazole diberikan selama 2
minggu sebelum mendapat ARV bila CD4 < 200
4. Mulai terapi ARV pada semua pasien dengan jumlah CD4 <350
sel/mm3 tanpa memandang stadium klinisnya, Hepatitis, ibu
hamil.
5. Pemeriksaan penunjang sebelum mendapat ARV :
g. Dilakukan pemeriksaan darah lengkap
h. Pemeriksaan fungsi hati (SGOT, SGPT, Bilurubin)
i. Pemeriksaan fungsi ginjal (Ureum kreatinin)
j. Pemeriksaan Foto Thorax
k. Pemeriksaan BTA sputum 3 kali
l. Pemeriksaan status Hepatitis B dan C
Obat ARV pilihan yang tersedia :
AZT + 3TC + NVP (Zidovudine + Lamivudine + ATAU
Nevirapine)
AZT + 3TC + EFV (Zidovudine + Lamivudine + ATAU
Efavirenz)
TDF + 3TC (atau FTC) + NVP (Tenofovir + Lamivudine (atau ATAU
Emtricitabine) + Nevirapine)
TDF + 3TC (atau FTC) + EFV (Tenofovir + Lamivudine (atau Emtricitabine) +
Efavirenz)

RUMAH SAKIT PERAWATAN PASIEN HIV/AIDS RAWAT INAP


UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi
OT.02.01/1V.5/ … /2013 2 Halaman
2/2

PROSEDUR
6. Dokter beserta resident dan perawat visite setiap hari ke pasien
dengan menggunakan APD
7. Dokter mengisi status, menulis resep dan membuat permintaan
laboratorium
8. Dokter melakukan konsultasi ke divisi lain bila dianggap perlu

Unit kerja Terkait 1. Seluruh SMF yang terkait


PENDISTRIBUSIAN ARV DI PUSYANSUS
RUMAH SAKIT
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Pendistribusian merupakan kegiatan dalam rangka


PENGERTIAN pengeluaran ARV ke pasien HIV/AIDS

SK Direktur Utama KF 01.04/IV.14/13.13/2013 tentang pelayanan


KEBIJAKAN farmasi

Untuk memenuhi kebutuhan ARV bagi pasien HIV/AIDS


TUJUAN
1. Pelaksana farmasi di Pusyans menerima resep dari
pasien/keluarga pasien rawat jalan dan dari perawat
ruangan pasien rawat inap.
PROSEDUR 2. Pelaksana farmasi menvalidasi resep,
meracik/mengemas dan membuat etiket
3. Menyerahkan ARV ke pasien/keluarga pasien rawat
jalan untuk kebutuhan 1 bulan disertai dengan bukti
serah terima ARV
4. Untuk pasien baru obat diberikan untuk kebutuhna 1
minggu selama 2 kali dan 2 minggu selama 3 kali.
5. Untuk pasien rawat inap ARV diberikan untuk
kebutuhan 1 minggu
6. Masukkan data penegeluaran ke komputer

Unit Kerja Terkait Intalasi terkait


PENERIMAAN PERBEKALAN ARV
RUMAH SAKIT DI INSTALASI FARMASI
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Merupakan kegiatan untuk menerima untuk menerima ARV


PENGERTIAN untuk digunakan pada pasien HIV/AIDS tanpa dikutip
bayaran.
SK Direktur Utama KF 01.04/IV.14/13.13/2013 tentang pelayanan
KEBIJAKAN farmasi

Sebagai pedoman dalam melaksanakan penerimaan ARV


TUJUAN
1. Pelaksana farmasi Pokja perbekalan memeriksa dan
meneliti ARV yang diterima apakah sesuai dengan :
a. Permintaan Rumah sakit untuk obat program
PROSEDUR b. Faktur/ Surat Pengiriman Barang
c. Kondisi fisik atau packing
d. Tanggal kadaluarsa
e. Nomor batch/ nomor lot
2. Bila memenuhi syarat ARV diterima oleh pelaksana
farmasi pokja perbekalan setelah disetujui perbekalan
dan diketahui instalasi farmasi
3. Bila tidak memenuhi syarat buat laporan ke sumber
bantuan
4. Memasukkan data ke komputer SIRS

Unit Kerja Terkait 1. Dinkes Provinsi Sumatera Utara


PERMINTAAN/ PENGADAAN OBAT ARV DI PUSYANSUS
RUMAH SAKIT
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Pengadaan / permintaan adalah pedoman kerja/ ketentuan


PENGERTIAN kerja dalam melaksanakan rangkaian klegiatan yang
dilaksanakan untuk mengadakan perbekalan farmasi untuk
pelayanan HIV/AIDS.
SK Direktur Utama KF 01.04/IV.14/13.13/2013 tentang pelayanan
KEBIJAKAN farmasi

1. Terlaksananya pengadaan ARV dengan cepat, tepat,


TUJUAN sesuai jenis dan jumlah berasal dari sumber resmi
yang dapat dipertanggungjawabkan
2. Menjamin ketersediaan, mutu, manfaat dan
keamanaan ARV sehingga selalu ada saat
dibutuhkan.
3. Memastikan kebenaran dan ketepatan ARV

1. Pelasana farmasi di Pusyansus melikhat stok ARV


dikomputer/ kartu stok fisik minimal untuk pemakaian
2 hari.
PROSEDUR 2. Membuat daftar permintaan
3. Kepala Puayansus memeriksa dan menandatangani
daftar kebutuhan tersebut
4. Pelaksana farmasi menyerahkan daftar kebutuhan ke
pokja pernekalan instalasi farmasi/ gudang farmasi
5. Pelaksana farmasi pokja perbekalan ARV
mempersiapkan ARV dan menyerahkan ARV ke
pelaksana farmasi di Pusyansus
6. Pelaksana farmasi Pusyansus memeriksa memeriksa
dan menandatangani serah terima barang.
7. Pelaksana farmasi pokja membalas permintaan
melalui SIRS

Unit Kerja Terkait 1. Instalasi Framasi


2. SIRS
PERMINTAAN/ PENGADAAN OBAT ARV DI
RUMAH SAKIT INSTALASI FARMASI
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Pengadaan / permintaan adalah pedoman kerja/ ketentuan


PENGERTIAN kerja dalam melaksanakan rangkaian klegiatan yang
dilaksanakan untuk mengadakan perbekalan farmasi untuk
pelayanan HIV/AIDS.
SK Direktur Utama KF 01.04/IV.14/13.13/2013 tentang pelayanan
KEBIJAKAN farmasi

1. Terlaksananya pengadaan ARV dengan cepat,


TUJUAN tepat, sesuai jenis dan jumlah berasal dari sumber
resmi yang dapat dipertanggungjawabkan
2. Menjamin ketersediaan, mutu, manfaat dan
keamanaan ARV sehingga selalu ada saat
dibutuhkan.
3. Memastikan kebenaran dan ketepatan ARV

PROSEDUR 1. Pelaksana farmasi merekapitulasi rencana kebutuhan


3 bulan dengan menggunakan form aplikasi IOMS
2. Kepala Instalasi farmasi menandatangani lampiran
surat permintaan ARV ke Dinas Provinsi Sumatera
Utara yang ditandatangani Direktur Utama
3. Dinkes Provisi Sumatera Utara membuat permintaan
ARV ke kimia farma medan sesuai dengan
permintaan Rumah sakit
4. Kimia farma medan mensuplai ARV sesuai dengan
permintaan Rumah Sakit dan diterima oleh pokja
perbekalan Instalasi Farmasi

Unit Kerja Terkait 1. Dinkes Provinsi Sumatera Utara


2. Kimia Farma
PERENCANAAN OBAT HIV/AIDS (ARV)
RUMAH SAKIT
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Perencanaan adalah pedoman kerja atau ketentuan kerja dalam


PENGERTIAN melaksanakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan untuk
menyusun rencana kebutuhan perbekalan farmasi untuk
pelayanan pasien HIV/AIDS
SK Direktur Utama KF 01.04/IV.14/13.13/2013 tentang pelayanan
KEBIJAKAN farmasi

1. Terlaksananya perencanaan obat HIV (ARV) dengan


TUJUAN cepat, tepat sesuai jenis dan jumlah serta dapat
dipertanggung jawabkan.
2. Mendapatkan obat HIV dengan kualitas dan spesifikasi
sesuai kebijakan.
1. Pelaksana farmasi di Pusyansus merekapitulasi/
menghitung obat HIV (ARV) jumlah kebutuhan ARV untuk
stok 3 bulan
PROSEDUR 2. Pelaksanaan farmasi mengurus cek dengan :
a. Sisa persediaan
b. Data pemakaian periode lalu
c. Jumlah pasien
d. Rejimen yang digunakan
3. Menyususn rencana kebutuhan untuk 3 bulan kedepan
dengan mengisi form aplikasi IOMS (Inventory and
Mnagement System) dari CHAI (Clinton Health Acces
Initiative) menggunakan internet …….
4. Dengan mengisis form aplikasi IOMS akan diperoleh
perkiraan kebutuhan ARV.
5. Perencanaan ini dikirim melalui internet pada akhir bulan
setiap tanggal 28 ke dinkes provinsi sumatera utara
6. Aplikasi IOMS di print untuk selanjutnya dibuat surat
pengantar untuk permintaan obat ARV yang ditanda
tangani oleh Direktur Utama
RUMAH SAKIT PERENCANAAN OBAT HIV/AIDS (ARV)
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK No. DOKUMEN No. Revisi
OT.02.01/1V.5/ … /2013 2 Halaman
2/2

PROSEDUR
7. Mengirim surat permintaan tersebut dengan tembusan :
a. Dirjen Bina Pelayanan Medik Kemenkes RI di Jakarta
b. Sekretasris Tim HIV/AIDS
c. Kepala Dinkes Kota Medan
d. Pertinggal

Unit kerja Terkait Seluruh SMF yang terkait


PUTUS OBAT ARV
RUMAH SAKIT
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Putus obat ARV ialah tidak mengkonsumsi obat ARV lebih dari 3
PENGERTIAN hari dalam sebulan

Guideline WHO 2010 dan Pedoman Nasional Therapi ARV


KEBIJAKAN Kemenkes 2011

TUJUAN Untuk mencegah terjadinya resistensi obat ARV

1. Petugas Pusyansus menghubungi ODHA yang putus obat


ARV melalui telepon
PROSEDUR 2. Bila tidak berhasil melalui telepon, petugas pusyansus
meminta bantuan dengan pendamping dan LSM untuk
menghubungi ODHA tersebut ke rumahnya
3. Setelah berhasil dihubungi, ODHA harus datang ke
Pusyansus untuk dilakukan konseling kepatuhan obat oleh
konselor
4. Setelah konseling dilakukan dan ODHA bersedia untuk
patuh minum obat dengan menandatanagani surat
perjanjian kepatuhan obat terlebih dhulu, maka dilakukan
tes CD4
5. Bila hasil tes CD4 > 350 cell/ul, maka obat ARV langsung
diberikan

Unit Kerja Terkait Laboratorium, LSM dan keluarga pasien


RAWAT JALAN
RUMAH SAKIT KEADAAN KHUSUS
UMUM PUSAT
H.ADAM MALIK
No. DOKUMEN No. Revisi Halaman
OT.02.01/IV.5/ ../2013 2 1/2

Ditetapkan
Direktur Utama,
SPO Tanggal Terbit
PUSYANSUS 14 Februari 2013

Dinyatakan keadaan khusus apabila pasien karena ada alasan


PENGERTIAN tertentu tidak dapat datang ke rumah sakit maka obat diambil oelh
keluarga/ orang dipercayai
Kebijakan Direktur tentang pelayanan HIV/AIDS
KEBIJAKAN

Untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap keteraturan


TUJUAN makan obat

1. Pasien yang berhalangan datang ke Pusyansus


untuk kontrol dan pengambilan obat dinyatakan
PROSEDUR dengan menghubungi petugas terlebih dahulu
(telepon) atau dinyatakan dengan
keluarga/pendamping
2. Keluarga/ pendamping diberikan penyuluhan agar
mengingatkan bahwa obat harus dimakan dan
dilakukan kontrol ke dokter tempat pasien berada.
3. Pasien diwakilkan maksimal 2 (dua) kali
4. Kepada keuarga pasien/ pendamping ditanyakan :
a. Keadaan pasien
b. Berat badan pasien
c. Apakah ada tanda-tanda infeksi (diare, batuk,
penurunan nafsu makan)
5. Kemudian petugas memasukkan data pasien ke
status pasien
6. Petugas menyarankan agar kunjungan berikutnya
pasien datang

Unit Kerja Terkait Pendamping