Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Fibroma uteri, leimioma, atau mioma uteri adalah tumor padat yang paling
sering dijumpai dan mengenai lapisan otot rahim pada perempuan. Mioma uteri
adalah tumor jinak dengan struktur utamanya adalah otot polos rahim.(1) World
Heatlh Organization (WHO) mengatakan bahwa degenerasi dari mioma uteri
termasuk dari 10 juta kasus kanker pertahun.(2)
Mioma uteri terjadi pada 20%-25% perempuan di usia produktif.(3)Angka
kejadian mioma uteri pada usia 35 tahun mencapai 40% - 60% dan pada usia 50
tahun mencapai 70% - 80%.(3) Penelitian yang dilakukan Scwartz di Amerika
Serikat mengatakan bahwa 2-12,8 dari 1000 perempuan menderita mioma uteri
pertahun.(3) Insiden mioma uteri ditemukan 3-9 kali lebih banyak pada ras kulit
berwarna dibandingkan dengan ras kulit putih.(3)Presentasi penderita mioma uteri
di Indonesia sebesar 2,39% - 11,7% dari semua penderita penyakit ginekologi
yang dirawat dan angka kejadian mioma uteri menempati posisi kedua setelah
kanker serviks.(2)
Penyebab pasti mioma uteri belum diketahui. Mioma uteri jarang sekali
ditemukan sebelum usia menarche dan sangat dipengaruhi oleh hormon
reproduksi.(3) Mioma uteri jarang menyebabkan mortalitas, namun morbiditas
yang ditimbulkan mioma uteri cukup tinggi karena dapat menyebabkan terjadinya
nyeri perut, perdarahan abnormal, dapat menyebabkan komplikasi keganasan dan
dapat menyebabkan infertilitas. Pengobatan mioma uteri dengan gejala adalah
tindakan operasi berupa histerektomi (pengangkatan rahim) atau miomektomi
(pengangkatan mioma). Mioma uteri merupakan indikasi tersering untuk
dilakukan tindakan histerektomi.(2)
Berikut ini diajukan suatu kasus seorang wanita 43 tahun dengan diagnosa
mioma uteri degenerasi kistik yang selanjutnya ditatalaksana laparotomi
histerektomi. Selanjutnya akan dibahas apakah diagnosa, tindakan,
penatalaksanaan ini sudah tepat dan sesuai dengan literatur.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi
Uterus (rahim) merupakan organ yang tebal, berotot, berbentuk buah pir,
yang sedikit gepeng kearah muka belakang, terletak di dalam pelvis antara rektum
di belakang dan kandung kemih di depan. Ukuran uterus sebesar telur ayam dan
mempunyai rongga. Dindingnya terdiri atas otot polos. Ukuran panjang uterus
adalah 7-7,5 cm lebar di atas 5,25 cm, tebal 1,25 cm. Berat uterus normal lebih
kurang 57 gram. Pada masa kehamilan uterus akan membesar pada bulan-bulan
pertama dibawah pengaruh estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat.
Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertropi otot polos uterus,
disamping itu serabutserabut kolagen yang ada menjadi higroskopik akibat
meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin.
Setelah Menopause, uterus wanita nullipara maupun multipara, mengalami atrofi
dan kembali ke ukuran pada masa predolesen. (4)
Uterus terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
a. Fundus Uteri (dasar rahim) : bagian uterus yang proksimal yang terletak
antara kedua pangkal saluran telur.
b. Korpus Uteri : Bagian uterus yang membesar pada kehamilan. Korpus
uterimempunyai fungsi utama sebagai tempat janin berkembang. Rongga
yang terdapat pada korpus uteri disebut kavum uteri atau rongga rahim.
c. Serviks Uteri : Ujung serviks yang menuju puncak vagina disebut porsio,
hubungan antara kavum uteri dan kanalis servikalis disebut ostium uteri
yaitu bagian serviks yang ada di atas vagina. (4,5)
Uterus memiliki tiga lapisan yang berbeda struktur dan fungsinya. Lapisan itu
diantaranya:
a. Endometrium di korpus uteri dan endoserviks di serviks uteri.
Endometriumterdiri atas epitel kubik, kelenjar-kelenjar, dan jaringan
dengan banyak pembuluh-pembuluh darah yang berlekuk-lekuk. Dalam
masa haid endometrium untuksebagian besar dilepaskan, untuk kemudian
tumbuh menebal dalam masa reproduksi pada kehamilan dan pembuluh

2
darah bertambah banyak yang diperlukan untuk memberi makanan pada
janin.
b. Miometrium (lapisan otot polos) di sebelah dalam berbentuk sirkuler, dan
disebelah luar berbentuk longitudinal. Diantara kedua lapisan ini terdapat
lapisan otot oblik, berbentuk anyaman. Lapisan otot polos yang paling
penting pada persalinan oleh karena sesudah plasenta lahir berkontraksi
kuat dan menjepit pembuluh-pembuluh darah yang ada di tempat itu dan
yang terbuka.
c. Lapisan serosa (peritoneum viseral) terdiri dari lima ligamentum yang
menfiksasi dan menguatkan uterus yaitu:
- Ligamentum kardinale kiri dan kanan yakni ligamentum yang
terpenting, mencegah supaya uterus tidak turun, terdiri atas jaringan
ikat tebal, dan berjalan dari serviks dan puncak vagina kea rah lateral
dinding pelvis. Didalamnya ditemukan banyak pembuluh darah, antara
lain vena dan arteria uterine.
- Ligamentum sakro uterinum kiri dan kanan yakni ligamentum yang
menahan uterus supaya tidak banyak bergerak, berjalan dari serviks
bagian belakang kiri dan kanan kearah sarkum kiri dan kanan.
- Ligamentum rotundum kiri dan kanan yakni ligamentum yang menahan
uterus agar tetap dalam keadaan antofleksi, berjalan dari sudut fundus
uteri kiri dan kanan, ke daerah inguinal waktu berdiri cepat karena
uterus berkontraksi kuat.
- Ligamentum latum kiri dan kanan yakni ligamentum yang meliputi
tuba, berjalan dari uterus kearah sisi, tidak banyak mengandung
jaringan ikat.
- Ligamentum infundibulo pelvikum yakni ligamentum yang menahan
tuba fallopi, berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis. Di
dalamnya ditemukan urat-urat saraf, saluran-saluran limfe, arteria dan
vena ovarika. (5,6)
2.2 Definisi
Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos uterus yang terdiri dari sel-sel
jaringan otot polos, jaringan pengikat fibroid dan kolagen. Mioma uteri disebut

3
juga dengan leiomioma uteri atau fibromioma uteri. Mioma ini berbentuk padat
karena jaringan ikat dan otot rahimnya dominan. Mioma uteri merupakan
neoplasma jinak yang paling umum dan sering dialami oleh wanita. Neoplasma
ini memperlihatkan gejala klinis berdasarkan besar dan letak mioma. (5)
2.3 Epidemiologi
Mioma uteri merupakan tumor pelvis yang terbanyak pada organ reproduksi
wanita. Jarang sekali ditemukan pada wanita berumur 20 tahun dan belum pernah
(dilaporkan) terjadi sebelum menarche, paling banyak ditemukan pada wanita
berumur 35-45 tahun (proporsi 25%). Setelah menopause hanya kira-kira 10%
mioma masih tumbuh. Proporsi mioma uteri pada masa reproduksi 20-
25%.Penelitian Nishizawa di Jepang (2008) menemukan insidens rates mioma
uteri lebih tinggi pada wanita subur yaitu 104 per seribu wanita belum menopause
dan 12 per seribu wanita menopause (P<0,001).(7)
Mioma uteri lebih banyak ditemukan pada wanita berkulit hitam, karena
wanita berkulit hitam memiliki lebih banyak hormon estrogen dibanding wanita
kulit putih. Pernah ditemukan 200 sarang mioma dalam satu uterus pada wanita
kulit hitam, dimana biasanya hanya 5-20 sarang saja. Penelitian Baird di Amerika
Serikat tahun 2003 terhadap 1364 wanita dengan usia 35-49 tahun, 478
diantaranya menderita mioma uteri yaitu dengan proporsi 35%.(5)
Penelitian Sela-Ojeme di London Hospital pada tahun 2008 melaporkan
proporsi penderita mioma uteri sebanyak 14,06% yaitu 586 orang dari 2.034 kasus
ginekologi.Management of Uterine Fibroid at The University of Nigeria Teaching
Hospital Enugu tahun 2006 melaporkan proporsi mioma uteri 9,8% dari seluruh
kasus ginekologi yaitu 190 kasus dari 1939 kasus ginekologi. Penelitian Gaym A
di Tikur Anbessa Teaching Hospital, Addis Ababa, Ethiopia tahun 2004 mencatat
penderita mioma uteri sebanyak 588 kasus. (8)
2.4 Etiologi
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga
merupakan penyakit multifaktorial. Mioma merupakan sebuah tumor monoklonal
yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik tunggal. Tumbuh
mulai dari benih multiple yang sangat kecil dan tersebar pada miometrium sangat

4
lambat tetapi progresif. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mioma
uteri:
a. Estrogen
Mioma uteri kaya akan reseptor estrogen. Meyer dan De Snoo mengajukan
teori Cell nest atau teori genitoblast, teori ini menyatakan bahwa untuk terjadinya
mioma uteri harus terdapat dua komponen penting yaitu: sel nest (sel muda yang
terangsang) dan estrogen (perangsang sel nest secara terus menerus).
Percobaan Lipschutz yang memberikan estrogen kepada kelinci percobaan
ternyata menimbulkan tumor fibromatosa baik pada permukaan maupun pada
tempat lain dalam abdomen.19 Hormon estrogen dapat diperoleh melalui
penggunaan alat kontrasepsi yang bersifat hormonal (pil KB, suntikan KB, dan
implan KB). Peranan estrogen didukung dengan adanya kecenderungan dari
tumor ini menjadi stabil dan menyusut setelah menopause dan lebih sering terjadi
pada pasien yang nullipara.
b. Progesteron
Reseptor progesteron terdapat di miometrium dan mioma sepanjang siklus
menstruasi dan kehamilan. Progesteron merupakan antagonis natural dari
estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan tumor dengan dua cara yaitu:
mengaktifkan 17-Beta hidroxydesidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor
estrogen pada tumor. Dalam Jeffcoates Principles of Gynecology, ada beberapa
faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu :
1) Umur
Proporsi mioma meningkat pada usia 35-45 tahun. Penelitian Chao-Ru Chen
(2001) di New York menemukan wanita kulit putih umur 40-44 tahun beresiko
6,3 kali menderita mioma uteri dibandingkan umur < 30 tahun (OR =6,3; 95%
CI:3,5-11,6). Sedangkan pada wanita kulit hitam umur 40-44 tahun beresiko 27,5
kali untuk menderita mioma uteri jika dibandingkan umur < 30 tahun (OR=27,5;
95% CI:5,6-83,6).
2) Paritas
Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relative infertile,
tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertilitas menyebabkan mioma
uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah

5
keadaan ini saling mempengaruhi. Penelitian Okezie di Nigeria terhadap 190
kasus mioma uteri, 128 (67,3%) adalah nullipara.
Penelitian yang dilakukan di Nigeria terhadap wanita dengan usia rata 44,9
tahun, 40,8 % nullipara dan 35% melahirkan 1-2 kali. Demikian juga dengan hasil
penelitian Buttrum memperoleh dari 1.698 kasus mioma uteri, 27% diantaranya
infertile dan 31% melahirkan 1-2 kali.
3) Faktor Ras dan Genetik
Pada wanita tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian
mioma uteri lebih tinggi. Penelitian Baird di Amerika yang dilakukan terhadap
wanita kulit hitam dan wanita kulit putih menemukan bahwa wanita kulit hitam
beresiko 2,9 kali menderita mioma uteri (OR=2,9; 95%CI:2,5-3,4).21 Terlepas dari
faktor ras, kejadian mioma juga tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada
yang menderita mioma uteri. (5,9)

2.5 Klasifikasi Mioma Uteri


Berdasarkan letaknya mioma uteri diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu:
2.5.1. Mioma Uteri Subserosum
Lokasi tumor di sub serosa korpus uteri. Dapat hanya sebagai tonjolan saja,
dapat pula sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai.
Pertumbuhan kearah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum, dan disebut
sebagai mioma intraligamen. Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga
peritoneum sebagai suatu massa. Perlekatan dengan ementum di sekitarnya
menyebabkan sisten peredaran darah diambil alih dari tangkai ke omentum.
Akibatnya tangkai semakin mengecil dan terputus, sehingga mioma terlepas dari
uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam rongga peritoneum. Mioma jenis
ini dikenal sebagai mioma jenis parasitik.
2.5.2. Mioma Uteri Intramural
Disebut juga sebagai mioma intraepitalial, biasanya multiple. Apabila masih
kecil, tidak merubah bentuk uterus, tapi bila besar akan menyebabkan uterus
berbenjol-benjol, uterus bertambah besar dan berubah bentuknya. Mioma sering
tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya
massa tumor di daerah perut sebelah bawah.

6
2.5.3. Mioma Uteri Submukosum
Mioma yang berada di bawah lapisan mukosa uterus/endometrium dan
tumbuh kearah kavun uteri. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan bentuk
dan besar kavum uteri. Bila tumor ini tumbuh dan bertangkai, maka tumor dapat
keluar dan masuk ke dalam vagina yang disebut mioma geburt. Mioma
submukosum walaupun hanya kecil selalu memberikan keluhan perdarahan
melalui vagina. Perdarahan sulit dihentikan, sehingga sebagai terapinya dilakukan
histerektomi. (5,10)

Gambar 1. Klasifikasi Mioma Uteri

Perubahan Sekunder
1. Atrofi: sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma uteri menjadi
kecil.
2. Degenerasi hialin: perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita
berusia lanjut. Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat
meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil daripadanya, seolah-
olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.
3. Degenerasi kistik: dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian
dari mioma menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak
teratur berisi seperti agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas
dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi

7
yang lunak ini tumor sukar dibedakan dari kistoma ovarium atau suatu
kehamilan.
4. Degenerasi membatu (calcireous degeneration): terutama terjadi pada wanita
berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Dengan adanya
pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi
keras dan memberikan bayangan pada foto Rontgen.
5. Degenerasi merah (carneous degeneration): perubahan ini biasanya
terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis dari mioma degenerasi merah
diperkirakan karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi.
Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah
berwarna merah disebabkan oleh pigmen hemosiderin dan
hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan
muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus
membesar dan nyeri pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada
putaran tangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai.
6. Degenerasi lemak: jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin. (5)

2.6 Gejala Klinis


Gejala yang dikeluhkan sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini
berada (servik, intramural, submukus, subserus), besarnya tumor, perubahan dan
komplikasi yang terjadi. Keluhan yang dirasakan mioma uteri sebagai keluhan
utama pada umumnya adalah:
1) Perdarahan abnormal
Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenore,
menoraghi dan dapat juga terjadi metrorgia. Hal ini sering menyebabkan penderita
juga mengalami anemia dan perdarahan yang terus menerus.
Mekanisme terjadinya perdarahan abnormal ini sampai saat ini masih
menjadi perdebatan. Beberapa pendapat menjelaskan bahwa terjadinya perdarahan
abnormal ini disebabkan oleh abnormalitas dari endometrium. Tetapi saat ini
pendapat yang dianut adalah bahwa perdarahan abnormal ini disebabkan karena
pengaruh ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium sampai
adenokarsinoma, permukaan endometrium yang lebih luas, atrofi endometrium di

8
atas mioma submukosa, dan miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena
adanya sarang mioma diantara serabut miometrium. Pada mioma uteri
submukosum diduga terjadinya perdarahan karena kongesti, nekrosis, dan ulserasi
pada permukaan endometrium.
2) Nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan
sirkulasi darah pada sarang mioma. Pada pengeluaran mioma submukosum yang
akan dilahirkan, pula pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis servikalis
dapat menyebabkan juga dismenore. Selain hal diatas, penyebab timbulnya nyeri
pada kasus mioma uteri adalah karena proses degenerasi. Selain itu penekanan
pada visera oleh ukuran mioma uteri yang membesar juga bisa menimbulkan
keluhan nyeri. Dengan bertambahnya ukuran dan proses inflamasi juga
menimbulkan rasa yang tidak nyaman pada regio pelvis.
3) Efek penekanan
Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri. Penekanan
oleh mioma uteri pada vesika urinaria menimbulkan keluhan-keluhan pada traktus
urinarius, seperti perubahan frekuensi miksi sampai dengan keluhan retensio urin
hingga dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis. (5,9)

2.6.1 Gejala akibat Komplikasi


1) Degenerasi ganas
Mioma uteri yang menjadi leimiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6%
dari seluruh kasus mioma uteri serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma
uterus. Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi
uterus yang telah diangkat. Komplikasi ini dicurigai jika ada keluhan nyeri atau
ukuran tumor yang semakin bertambah besar terutama jika dijumpai pada
penderita yang sudah menopause.
2) Anemia
Anemia timbul karena sering kali penderita mioma uteri mengalami
perdarahan pervaginam yang abnormal. Perdarahan abnormal pada kasus mioma
uteri akan mengakibatkan anemia defisiensi besi (Marjono, 2008)

9
3) Torsi
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan
sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian timbul sindroma
abdomen akut, mual, muntah dan syok

4) Infertilitas
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau
menekan pars interstisialis tuba, sedangkan mioma uteri submukosum juga
memudahkan terjadinya abortusoleh karena distorsi rongga uterus.
Penegakkan diagnosis infertilitas yang dicurigai penyebabnya adalah mioma
uteri maka penyebab lain harus disingkirkan (9)

2.7 Diagnostik
Untuk menegakkan diagnostik mioma uteri, dapat dilakukan anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
1) Anamnesis
Keluhan yang diakibatkan oleh mioma uteri sangat tergantung pada lokasi,
arah pertumbuhan, jenis, besar dan jumlah mioma. Hanya dijumpai pada 20-50%
penderita saja kasus mioma uteri menimbulkan keluhan, sedangkan sisanya tidak
mengeluhkan apapun. Adapun hasil anamnesis yang mungkin didapatkan yaitu
gejala seperti adanya perdarahan abnormal, nyeri, dan juga beberapa keluhan
miksi.
2) Pemeriksaan Fisik
Mioma uteri mudah ditemukan melalui pemeriksaan bimanual rutin uterus.
Diagnosa mioma uteri menjadi jelas bila dijumpai gangguan kontur uterus oleh
satu atau lebih massa yang licin, tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa
massa seperti ini adalah bagian dari uterus.
3) Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini
disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan
zat besi. Kadang-kadang mioma menghasilkan eritropoetin yang
pada beberapa kasus menyebabka polisitemia. Adanya hubungan
antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan

10
mioma terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan balik
ureter dan kemudian menginduksi pembentukan eritropetin ginjal.
b. Ultrasonografi
Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam
menetapkan adanya mioma uteri. Mioma uteri secara khas
menghasilkan gambaran ultrasonografi yang mendemonstrasikan
irregularitas kontur maupun pembesaran uterus. Adanya kalsifikasi
ditandai oleh fokus-fokus hiperekoik dengan bayangan akustik.
Degenerasi kistik ditandai adanya daerah hiperekoik.
c. Histeroskopi
Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya mioma uteri
submukosa, jika tumornya kecil serta bertangkai. Tumor tersebut
sekaligus dapat diangkat.
d. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
MRI sangat akurat dalam menggambarkan jumlah,ukuran dan lokasi
mioma, tetapi jarang diperlukan. Pada MRI, mioma tampak sebagai
massa gelap berbatas tegas dan dapat dibedakan dari miometrium
yang normal. MRI dapat mendeteksi lesi sekecil 3 mm yang dapat
dilokalisasi dengan jelas, termasuk mioma submukosa. MRI dapat
menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus -kasus yang tidak dapat
disimpulkan. (5,9)

Diagnosis banding

1.Adenomiosis
2.Neoplasma ovarium

2.8 Penatalaksanaan
Secara umum penatalaksaaan myoma uteri dibagi atas 2 metode :
1. Terapi medisinal (hormonal)
Saat ini pemakaian Gonadotropin releasing hormone (GnRH) agonis
memberikan hasil untuk memperbaiki gejala-gejala klinis yang ditimbulkan oleh
myoma uteri. Pemberian GnRH agonis bertujuan untuk mengurangi ukuran
myoma dengan jalan mengurangi produksi estrogen dari ovarium. Dari suatu

11
penelitian didapati data pada pemberian GnRH agonis selama 6 bulan pada pasien
dengan myoma uteri didapati adanya pengurangan volume myoma sebesar 44%.
Efek maksimal pemberian GnRH agonis baru terlihat setelah 3 bulan.
Pemberian GnRH agonis sebelum dilakukan tindakan pembedahan akan
mengurangi vaskularisasi pada tumor sehingga akan memudahkan tindakan
pembedahan. Terapi hormona lainnya seperti kontrasepsi oral dan preparat
progesterone akan mengurangi gejala perdarahan uterus yang abnormal namun
tidak dapat mengurangi ukuran dari myoma.
2. Terapi pembedahan
Terapi pembedahan pada myoma uteri dilakukan terhadap myoma yang
menimbulkan gejala.MenurutAmericanCollegeof Obstetricians and gynecologist
(ACOG) dan American society for Reproductive Medicine (ASMR) indikasi
pembedahan pada pasien dengan myoma uteri adalah :
1. Perdarahan uterus yang tidak respon terhadap terapi konservatif
2. Sangkaan adanya keganasan
3. Pertumbuhan myoma pada masa menopause
4. Infertilitas karena gangguan pada cavum uteri maupun karena oklusi tuba
5. Nyeri dan nyeri tekan yang sangat mengganggu
6. Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius
7. Anemia akibat perdarahan
Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah miomektomi maupun histerektomi:
a) Miomektomi
Miomektomi sering dilakukan pada wanita yang ingin mempertahankan
fungsi reproduksinya dan tidak ingin dilakukan histerektomi. Dewasa ini ada
beberapa pilihan tindakan untuk melakukan miomektomi, berdasarkan ukuran dan
lokasi dari myoma. Tindakan miomektomi dapat dilakukan dengan laparotomi
histeroskopi maupun dengan laparoskopi. Pada laparotomi, dilakukan insisi pada
dinding abdomen untuk mengangkat myoma dari uterus.
Keunggulan melakukan miomektomi adalah lapangan pandang operasi
yang lebih luas sehingga penanganan terhadap perdarahan yang mungkin timbul
pada pembedahan miomektomi dapat ditangani dengan segera. Namun pada
miomektomi secara laparotomi resiko terjadi perlengketan lebih besar, sehingga

12
akan mempengaruhi factor fertilitas pada pasien. Disamping itu masa
penyembuhan paska operasi juga lebih lama, sekitar 4-6 minggu.
Pada miomektomi secara histeroskopi, dilakukan terhadap mioma
submukosa yang terletak pada cavum uteri. Pada prosedur pembedahan ini ahli
bedah memasukkan alat histeroskop melalui serviks dan mengisi cavum uteri
dengan cairan untuk memperluas dinding uterus.
Miomektomi juga dapat dilakukan dengan menggunakan laparoskopi.
Mioma yang bertangkai diluar cavum uteri dapat diangkat dengan mudah secara
laparoskopi. Myoma subserosum yang terletak didaerah permukaan uterus juga
dapat diangkat secara laparoskopi. Resiko yang terjadi pada pembedahan
laparoskopi termasuk perlengketan, trauma terhadaporgan sekitar seperti usus,
ovarium, rectum serta perdarahan. Sampai saat ini miomektomi dengan
laparoskopi merupakan standart bagi wanita dengan myoma uteri yang masih
ingin mempertahankan fungsi reproduksinya. (9,10,11)
b) Histerektomi
Tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus dapat dilakukan dnegan 3
cara yaitu: dengan pendekatan abdominal (laparotomi), vaginal dan beberapa
kasus dengan laparoskopi. Tindakan histerektomi pada pasien dengan myoma
uteri merupakan indikasi bila didapati keluhan menorrhagia, metrorrhagia,
keluhan obstruksi pada traktus urinarius dan ukuran uterus sebesar usia kehamilan
12-14 minggu.
Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu total
abdominal histerektomi (TAH) dan subtotal abdominal histerektomi (STAH).
Subtotal abdominal histerektomi (STAH) dilakukan untuk menghindari resiko
operasi yang lebih besar seperti perdarahan yang lebih banyak, trauma operasi
pada ureter, kandung kemih dan rectum. Namun dengan melakukan STAH, kita
meninggalkan serviks, dimana kemungkinan timbulnya karsinoma serviks dapat
trejadi.
Pada TAH, jaringan granulasi yang timbul pada tungkul vagina dapat
menjadi sumber timbulnya secret vagina dan perdarahan paska operasi dimana
keadaan ini tidak terjadi pada pasien yang menjalani STAH. (8,11)

13
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien

Nama : Ny. Y

Usia : 43 tahun

Tanggal Lahir : 06 Juli 1972

Pekerjaan : IRT

Alamat : Miruk Lam Reudeup

No. CM : 1-03-90-43

Tanggal Masuk : 14 Juni 2016[

Tanggal Pemeriksaan : 18 Juni 2016

3.2 Anamnesis

3.2.1 Keluhan Utama

Nyeri perut bawah.

3.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan lemas, nyeri perut bagian bawah,menggil sejak ±1
jam sebelum masuk rumah sakit. Riwayat demam 2 hari yang lalu. Pasien pernah berobat
ke Sp.0G dan didiagnosa dengan mioma uteri dan direncanakan operasi bulan Mei tahun
ini. Mual (+), muntah (-), keluar darah dari jalan lahir tidak lagi dikeluhkan, terakhir
keluar darah dari jalan lahir 2 bulan yang lalu. Keputihan (-), gatal-gatal (-), bau (-).

3.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu

Hipertensi (-), DM (+), asma (-), alergi (-)

3.2.4 Riwayat Penggunaan Obat

Tidak ada

3.2.5 Riwayat Penyakit Keluarga

DM (+), Hipertensi (-), Asma (-), Alergi (-)

3.2.6 Riwayat Kebiasaan Sosial

14
1. Riwayat menarche : 13 tahun, 4-5 hari, GP 2-3x/hari

2. Riwayat menstruasi :

3. Riwayat pernikahan : pernikahan pertama, usia 22 tahun

4. Riwayat obstetrik : Anak I :laki-laki, 20 tahun, 3000

Anak 11 : perempuan, 18 tahun, 3200 gram.

5. Riwayat kontrasepsi : tidak ada

3.3 Pemeriksaan Fisik

3.3.1 Tanda-tanda Vital

Kesadaran : Compos Mentis

Keadaan umum : Baik

Tekanan darah : 120/80mmHg

Laju Nadi : 80 x/menit

Pernapasan : 20 x/menit

SuhuTubuh : 36.6 C

3.3.2 Pemeriksaan Fisik:

Status Generalisata

1. Kulit

1) Warna : Kecoklatan

2) Turgor : Cepat kembali

3) Sianosis : (-)

4) Ikterik : (-)

5) Edema : (-)

2. Kepala

1) Bentuk : Oval, simetris, normocephall

2) Rambut : Hitam, sukar dicabut

3) Wajah : Simetris, edema (-), deformitas (-), pucat (-), keringat (-)

15
4) Mata : Konj. Pucat (+/+), sklera ikterik (-/-), sekret (-/-), reflek cahaya
(+/+), pupil

isokor.

5) Telinga : Dalam batas mormal, serumen (-/-)

6) Hidung : Sekret (-). Napas Cuping Hidung (-)

7) Mulut

7.1 Bibir : Bibir kering (-), mukosa kering (-), sianosis (-)

7.2 Lidah : Tremor (-). hiperemis (-)

7.3 Tonsil : Hiperemis (-/-), T1-T1

3. Leher

1) Inspeks i : Simetris, retraksi (-), jejas (-), tumor (-), deviasi trakea (-)

2) Palpasi : Pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), distensi


vena jugularis (-).

4. Toraks (anterior-posterior) – Paru-paru

1) Inspeksi : Normochest, pergerakan dinding dada (statis-dinamis) simetris


kiri dan kanan

2) Palpasi : Nyeri tekan (-), pergerakan dinding dada (statis-dinamis)


simetris kanan dan kiri, stem fremitus dada kanan dan kiri normal.

3) Perkusi : Sonor pada seluruh lapangan paru.

4) Auskultasi : Bronkovesikuler (+/+), vesikuler (+/+), ronki (-/-) dan wheezing


(-/-)

5. Jantung

1) Inspeksi : Pulsasi iktus kordis tidak terlihat

2) Palpasi : Iktus kordis teraba di ICS V linea midklavikula sinistra

3) Perkusi : Batas jantung kanan pada ICS IV linea parasternal dekstra,


batas jantung kiri pada ICS V linea midklavikula sinistra, batas atas jantung pada
ICS III linea miklavikula sinistra.

4) Auskultasi : Bunyi jantung I > bunyi jantung II regular,.

6. Abdomen

1) Inspeksi : Simetris, tidak terdapat distensi, dinding perut tampak normal


(tidak ada sikatrik dan pelebaran vena), tidak tampak pergerakan pada dinding
perut.

2) Palpasi : Nyeri tekan, Hepar/Lien/Renal tidak teraba.

16
3) Perkusi : Suara timpani di seluruh lapangan abdomen, peranjakan batas
paru-hati relatif-absolut sebesar dua jari, undulasi (-), shifting dullness (-).

4) Auskultasi : Peristaltik usus normal

7. Ekstremitas

1) Superior : edema pada tangan kanan dan tangan kiri tidak ada pucat dan
kebiruan pada tangan kanan dan tangan kiri juga tidak ada.

2) Inferior : tidak terdapat edema serta pucat dan kebiruan pada kaki kanan
dan kaki kiri.

8. Genetalia

I : U/V tenang, perdarahan (-)

Io : perdarahan (-), valsava (-)

Vt : tidak teraba masa, cavum dauglass tidak menonjol

9. Anus

Tidak diperiksa.

3.4 Pemeriksaan Penunjang

1. Hasil Pemeriksaan Laboratorium (16 Juni 2016)

Pemeriksaan Laboratorium Hasil Nilai Normal


Darah Rutin
Hb 8,2 gr/dl 14-17 gr/dl
Ht 35 % 45-55 %
Leukosit 11.600/mm3 4.500-10.500/mm3
Eritrosit 5,1x 106 /µL 4,7-6,1 jt/ µL
Trombosit 350.000 / mm3 150.000-450.000/mm3
Hitung Jenis
Eosinofil 6% 0-6 %
Basofil 2% 0-2 %
Netrofil segmen 54 % 50-70 %
Limfosit 31% 20-40 %
Monosit 7% 2-8 %
Diabetes
Glukosa Darah Sewaktu 253 <200mg/dL

17
2. Hasil Pemeriksaan Laboratorium (18 Juni 2016)

Pemeriksaan Laboratorium Hasil Nilai Normal

Darah Rutin
Hb 10,2 gr/dl 14-17 gr/dl
Ht 38 % 45-55 %
Leukosit 11.500/mm3 4.500-10.500/mm3
Eritrosit 5,9 x 106 /µL 4,7-6,1 jt/ µL
Trombosit 282.000 / mm3 150.000-450.000/mm3
Hitung Jenis
Eosinofil 4% 0-6 %
Basofil 1% 0-2 %
Netrofil segmen 69 % 50-70 %
Limfosit 20% 20-40 %
Monosit 6% 2-8 %
Gds 279

3. Hasil Pemeriksaan Laboratorium (21 Juni 2016)

Pemeriksaan Laboratorium Hasil Nilai Normal

Darah Rutin
Hb 11,8 gr/dl 14-17 gr/dl
Ht 41 % 45-55 %
Leukosit 13.500 /mm3 4.500-10.500/mm3
Eritrosit 6,3 x 106 /µL 4,7-6,1 jt/ µL
Trombosit 247.000 / mm3 150.000-450.000/mm3
Hitung Jenis
Eosinofil 1% 0-6 %

18
Basofil 0% 0-2 %
Netrofil segmen 85 % 50-70 %
Limfosit 10% 20-40 %
Monosit 4% 2-8 %
Glukosa
Gula darah sewaktu 230g/dl g/dl

Pemeriksaan USG

Pemeriksaan EKG

Kesimpulan : normal ekg

3.5 Diagnosis

Diagnosis Sementara:

19
Mioma Uteri + DM tipe II

3.6 Rencana Terapi

a. Terapeutik

Pembedahan : 1. Histerektomi total

Farmakologi : 1. Inj. Ceftriaxone 2 gr / 24 jam

3. Inj. Ranitidin 1 mg / 8 jam

4. Ketoprofen 100 mg supp 3 x 1

5. Inj. Ketorolac 30 mg/ 8 jam.

b. Diagnostik : USG Konfirmasi

c. Monitoring : 1. Keadaan umum

2. Tanda-tanda vital

3. Tanda-tanda perdarahan

d. Edukasi : 1. Diet tinggi kalori tinggi protein

20
2. Personal Hygiene

3.9 Diagnosis Kerja

Mioma Uteri

4.0 Prognosis

 Quo ad Vitam : Dubia ad bonam

 Quo ad Functionam : Dubia ad malam

 Quo ad Sanactionam : Dubia ad bonam

21
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada laporan kasus berikut diajukan suatu kasus seorang wanita berusia
43 tahun dengan diagnosa mioma uteri. Diagnosa ditegakkan berdasarkan
hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik-ginekologik, serta pemeriksaan penunjang
berupa USG dan pemeriksaan laboratorium.
Dari hasil anamnesis didapatkan keluhan nyeri perut bagian bawah dan
menggigil sejak kurang lebih 1 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien memiliki
riwayat demam dua hari yang lalu. Pasien pernah berobat ke Sp.0G dan
didiagnosa dengan mioma uteri dan direncanakan operasi bulan Mei tahun ini.
Pasien mengeluhkan mual, namun pasien tidak mengeluhkan muntah. Pasien
mengeluhkan keluar darah dari jalan lahir yang terakhir keluar 2 bulan yang lalu
namun pada saat pemeriksaan pasien tidak mengeluhkan keluar darah dari jalan
lahir. Pasien tidak mengeluhkan adanya keputihan yang gatal dan berbau.
Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat sarang mioma (serviks,
intramural,submukus, subserus), besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang
terjadi. Gejala yang ditimbulkan dapat digolongkan menjadi empat yaitu
perdarahan abnormal, rasa nyeri, gejala dan tanda penekanan, serta infertilitas dan
abortus.
Pada kasus ini, beberapa dari gejala tersebut didapatkan pada Ny.Y”.
Rasa nyeri yang dikeluhkan pasien dapat disebabkan oleh gangguan sirkulasi
darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis setempat dan peradangan.
Perdarahan abnormal dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain
pengaruh ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium, permukaan
endomerium yang lebih luas daripada biasa, atrofi endometrium diatas mioma
submukosum, miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanyasarang
mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh
diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah yang
melaluinya dengan baik. Namun pada kasus ini pasien sudah tidak mengalami
perdarahan abnormal sejak 2 bulan terakhir. Gejala penekanan berupa gangguan
BAB dan BAK tidak didapatkan pada pasien karena ukuran mioma yang tidak
terlalu besar.

22
Pemeriksaan status generalis menunjukkan keadaan umum serta vital sign
pasien dalam batas normal sehingga menunjukkan gangguan perdarahan serta
nyeri sudah berlangsung lama dan tubuh telah melakukan penyesuaian
diri.

Pada pemeriksaan abdomen, palpasi daerah suprapubik kesan uterus tidak


membesar. Pada mioma uteri, perlunakan tergantung pada derajat degenerasi dan
kerusakan vaskuler. Uterus sering dapat digerakan, kecuali apabila keadaan
patologik pada adneksa. Pada pemeriksaan pelvis, serviks dalam batas normal.
Namun, pada keadaan tertentu ,mioma submukosa yang bertangkai dapat
mengawali dilatasi serviks dan terlihat pada osteum servikalis. Hasil pemeriksaan
inspekulo didapatkan bentuk, warna dan permukaan porsio dalam batas normal,
tidak terlihat adanya fluksus yang berasal dari dalam (kanalis servikalis atau
kavum uteri). Didapatkan pula sekret/lendir berwarna putih pada forniks dan
dinding vagina.
Pada kasus ini dilakukan penatalaksanaan histerektomi perabdominal.
Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu total abdominal
histerektomi (TAH) dan subtotal abdominal histerektomi (STAH). Masing-masing
prosedur histerektomi ini memiliki kelebihan dan kekurangan. STAH dilakukan
untuk menghindari risiko operasi yang lebih besar, seperti perdarahan yang
banyak, trauma operasi pada ureter,kandung kemih dan rektum. Namun dengan
melakukan STAH akan menyisakan serviks,dimana kemungkinan timbulnya
karsinoma serviks dapat terjadi. Dengan menyisakan serviks, menurut
penelitian didapatkan data bahwa terjadinya dyspareunia akan lebih rendah
dibandingkan dengan yang menjalani TAH sehingga akan tetap mempertahankan
fungsi seksual. Pada TAH, jaringan granulasi yang timbul pada vagina dapat
menjadi sumber timbulnya sekret vagina dan perdarahan pasca operasi dimana
keadaan ini tidak terjadi padapasien yang menjalani STAH.Pada kasus ini
dilakukan penatalaksanaan laparotomi perabdominal. Pada saat dilakukan
pembedahan, ditemukan perlengketan sehingga dilakukan tindakan histerektomi
tota.l

23
BAB V
KESIMPULAN

Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos uterus yang terdiri dari sel-sel
jaringan otot polos, jaringan pengikat fibroid dan kolagen. Mioma uteri disebut
juga dengan leiomioma uteri atau fibromioma uteri. Mioma ini berbentuk padat
karena jaringan ikat dan otot rahimnya dominan. Mioma uteri merupakan
neoplasma jinak yang paling umum dan sering dialami oleh wanita. Neoplasma
ini memperlihatkan gejala klinis berdasarkan besar dan letak mioma. Mioma uteri
dapat diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan letak. Gejala klinis dari mioma
uteri bergantung pada letak, bebtuk, ukuran dan komplikasi yang sudah
dikeluhkan oleh pasien. Penatalaksanaa mioma data dilakukan secara farmakologi
dengan memberikan hormonal dapat pula dengan cara pembedahan baik
miomektomo maupun histerektomi.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Francisco Raga, et al. Cystic Degeneration of Uterine Leiomyoma


During Ulipristal Acetate Treatment. Uterus & Ovary.2016; 2: 1-5.
2. World Health Organization (WHO). The Global Burden of Disease :
2004 Update. Switzerland WHO press; 2008. P. 32-5.
3. Adriaansz G. Tumor Jinak Organ Genitalia. In: Anwar M, Baziad A,
Prabowo PR, editors. Ilmu Kandungan Edisi Ketiga. Jakarta: PT. Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2011. P. 274-279.
4. Manuaba IBG, Tumor Jinak pada Alat-alat Genital, Ilmu Kebidanan,
Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan,
EGC, Jakarta, p : 409-12.
5. Hanifa, dkk, 2008, Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUI. Jakarta.
6. Nierth-Simpson, E.; Martin, M.; Chiang, T.; Melnik, L.; Rhodes, L.;
Muir, S.; Burow, M.; McLachlan, J. “Human uterine smooth muscle and
leiomyoma cells differ in their rapid 17beta-estradiol signaling:
implications for proliferation”. Endocrinology, 2009. 150 (5): 2436–
2445.
7. Okolo, S. “Incidence, aetiology and epidemiology of uterine
fibroids”. Best practice & research. Clinical obstetrics & gynaecology,
2008. 22 (4): 571–588
8. Polena, V., et al. “Long-term results of hysteroscopic myomectomy in
235 patients.”European Journal of Obstetrics & Gynecology and
Reproductive Biology 130 (2007): 232–237.
9. Lacey, C.G., Benign Disorders of the Uterine Corpus, Current Obstetric
and Gynecologic. Diagnosa and Treatment, 6th ed, Aplleten & Lange,
Norwalk Connectient, California, Los Atlas, 2007, p : 657-62.
10. Marjono B. A. et all., 2008. Tumor Ginekologi. Available from :
http://www.geocities.com. (Accessed : November 21, 2008).
11. Sankaran, S.; Manyonda, I.”Medical management of fibroids”. Best
Practice & Research Clinical Obstetrics & Gynaecology, 2008. 22 (4):
655.

25

Beri Nilai